Anda di halaman 1dari 42

TUGAS PEMERIKSAAN PARAMETER AIR DAN UDARA

MIKROORGANISME AIR DAN PM10

PARAMETER AIR DAN UDARA MIKROORGANISME AIR DAN PM10 KELOMPOK 7 Neisa N H E2A006014 Novi Maulina

KELOMPOK 7

Neisa N H

E2A006014

Novi Maulina W

E2A006078

Pipit Yuli A

E2A006086

Ra’fiu R D

E2A006090

Yunita S N

E2A006119

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

2009

A. MIKROORGANISME AIR

1. Parameter

2. Bentuk di Alam 2.1 Ganggang Alga (jamak Algae) atau ganggang adalah sekelompok organisme autotrof yang

tidak memiliki organ dengan perbedaan fungsi yang nyata. Alga bahkan dapat dianggap tidak memiliki organ seperti yang dimiliki tumbuhan (akar, batang, daun dan sebagainya). Karena itu, alga digolongkan pula sebagai tumbuhan talus. Ganggang meliputi organisme bersel satu (uniselular) maupun bersel banyak (multiselular). Jenis-jenis Ganggang

a. Ganggang prokariotik

Ganggang hijau-biru atau Cyanobacteria masuk ke dalam kelompok bakteri.

Cyanobacteria memiliki struktur sel prokariotik seperti halnya bakteri, dan bisa

melakukan

ganggang ini dikenal dengan sebutan Cyanophyta dan bersama bakteri masuk ke dalam kingdom Monera. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya, diketahui bahwa ganggang ini memiliki karakteristik bakteri sehingga dimasukkan ke dalam kelompok bakteri (Eubacteria).

langsung

karena

memiliki

Sebelumnya,

b. Ganggang eukariotik

Ganggang lainnya memiliki struktur sel eukariotik dan mampu berfotosintesis melalui kloroplas. Ganggang eukariotik meliputi:

Jenis Ganggang menurut pigmen yang dikandungnya:

a. Ganggang Coklat

menurut pigmen yang dikandungnya: a. Ganggang Coklat Ganggang coklat atau Phaeophyceae adalah adalah salah satu

Ganggang coklat atau Phaeophyceae adalah adalah salah satu kelas dari dari

Pigmen yang lebih

dominan adalah pigmen xantofil yang menyebabkan ganggang berwarna coklat.

Pigmen lain yang terdapat dalam Phaeophyceae adalah klorofil dan karoten. Semua ganggang coklat berbentuk benang atau lembaran, bahkan ada yang

menyerupai tumbuhan tingkat tinggi dengan bagian-bagian serupa akar, batang,

dan

mencapai ukuran lebih dari 30 meter, dan mempunyai gelembung-gelembung udara yang berfungsi sebagai pelampung. Hampir semua ganggang coklat terdapat di laut terutama di laut yang dingin. Perkembangbiakan ganggang coklat ada 2 cara, yaitu:

dan

dapat

coklat

ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya.

Umumnya

ganggang

bersifat

makroskopis,

dan

Perkembangbiakandaun . Umumnya ganggang bersifat makroskopis, dan vegetatif (aseksual) dengan fragmentasi pembentukan spora

vegetatif

(aseksual)

dengan

pembentukan spora (aplanospora dan zoospora). Zoospora yang dihasilkan memilki 2 flagel yang tidak sama panjang dan terletak di bagian lateral.

Perkembangbiakan generatif (seksual) dengan isogami , anisogami , atau oogami . Contoh ganggang coklat: isogami, anisogami, atau oogami. Contoh ganggang coklat:

Fucus vesiculosus, banyak terdapat di laut dalam. Ganggang ini berkembangbiak secara oogami dengan menghasilkan sel gamet , banyak terdapat di laut dalam. Ganggang ini berkembangbiak secara oogami dengan menghasilkan sel gamet betina (ovum) dan sel gamet jantan (spermatozoid) . Sel gamet jantan dan betina masing-masing dihasilkan oleh tumbuhan yang berbeda. Sel gamet dihasilkan oleh alat pembiak yang disebut konseptakel. Konseptakel ini berkumpul dalam badan penghasil alat pembiak yang disebut reseptakel. Reseptakel dibentuk di ujung lembaran/talus fertil.

Sargasum siliquosum, hidup dengan baik di tepi laut yang dangkal. Umumnya menempel pada batu karang. Di , hidup dengan baik di tepi laut yang dangkal. Umumnya menempel pada batu karang. Di pantai yang bersuhu sedang, Sargasum tumbuh subur sehingga menutupi permukaan laut. Laut yang demikian disebut laut sargaso.

Turbinaria australis, hidup dengan baik di tepi laut yang dangkal. Umumnya menempel pada batu karang. , hidup dengan baik di tepi laut yang dangkal. Umumnya menempel pada batu karang.

Fucus distichustepi laut yang dangkal. Umumnya menempel pada batu karang. Laminaria Macroystis b. Ganggang hijau Ganggang hijau

Laminariadangkal. Umumnya menempel pada batu karang. Fucus distichus Macroystis b. Ganggang hijau Ganggang hijau atau

MacroystisUmumnya menempel pada batu karang. Fucus distichus Laminaria b. Ganggang hijau Ganggang hijau atau Chlorophyceae adalah

b. Ganggang hijau

Fucus distichus Laminaria Macroystis b. Ganggang hijau Ganggang hijau atau Chlorophyceae adalah salah satu kelas

Ganggang hijau atau Chlorophyceae adalah salah satu kelas dari dari ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Ganggang hijau ada yang bersel tunggal dan ada pula yang bersel banyak berupa benang, lembaran, atau

membentuk koloni. Spesies ganggang hijau yang bersel tunggal ada yang dapat berpindah tempat, tetapi ada pula yang menetap. Sel-sel ganggang hijau bersifat

eukariotin (materi inti dibungkus oleh membran inti). Pigmen klorofil terdapat dalam jumlah terbanyak sehingga ganggang ini berwarna hijau, pigmen lain yang dimiliki adalah karoten dan xantofil. Klorofil dalam pigmen lain terdapat dalam kloroplas yang bentuknya bermacam-macam antara lain mangkuk, gelang, pita spiral, jala dan bintang. Di dalam kloroplas terdapat butiran padat yang disebut pirenoid yang berfungsi untuk pembentukan tepung. Ganggang hijau merupakan golongan terbesar di antara ganggang dan kebanyakan hidup di air tawar. Sebagian lagi hidup di darat, di tempat yang lembab, di atas batang pohon, dan di laut. Beberapa genus dari ganggang hijau mempunyai alat gerak berupa flagel dan bintik mata (stigma) Perkembangbiakan ganggang hijau ada 2 cara:

o Vegetatif (aseksual), yaitu: pembelahan sel, fragmentasi, pemisahan koloni dan pembentukan spora.

o Generatif (seksual), yaitu: isogami, anisogami, oogami. Beberapa contoh ganggang hijau:

Ganggang hijau bersel tunggal: Chlamydomonas , Chlorococcum , Chlorella dan Euglena viridis . Chlamydomonas, Chlorococcum, Chlorella dan Euglena viridis.

Ganggang hijau berbentuk, Scenedesmus , Pediastrum dan Dictyosphaerium . Oedogonium , filament: Spirogyra , Ulothrix , Derbesia

filament:

Ganggang hijau berbentuk lembaran atau tumbuhan tinggi: Ulva , Halimeda , Ulva, Halimeda,

c. Ganggang merah

c. Ganggang merah Ganggang merah atau Rhodophyta adalah salah satu kelas dari ganggang berdasarkan zat warna

Ganggang merah atau Rhodophyta adalah salah satu kelas dari ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Warna merah pada ganggang ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin dalam jumlah banyak dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil.

makroskopis.

Ganggang ini dapat mencapai panjang antara 10 sentimeter sampai 1 meter dan berbentuk benang atau lembaran. Sebagian besar ganggang merah hidup di laut, banyak terdapat di laut tropika. Sebagian kecil hidup di air tawar yang dingin dengan aliran deras dan banyak oksigen. Selain itu ada pula yang hidup di air payau. Ganggang merah yang banyak ditemukan di laut dalam adalah Gelidium dan Gracilaria, sedang Euchema spinosum ditemukan di laut dangkal.

ini

pada

umumnya

banyak

sel

(multiseluler)

dan

Ganggang

merah

berkembangbiak

secara

vegetatif

dan

generatif.

Perkembangbiakan

ganggang

merah

berlangsung

dengan

pembentukan spora haploid yang dihasilkan oleh sporangium atau talus ganggang yang diploid. Spora ini selanjutnya tumbuh menjadi ganggang jantan atau betina yang sel-selnya haploid. Perkembangbiakan generatif ganggang merah dengan oogami, pembuahan sel kelamin betina (ovum) oleh sel kelamin jantan (spermatium). Alat perkembangbiakan jantan disebut spermatogonium yang menghasilkan spermatium yang tak berflagel.

Sedangkan alat kelamin betina disebut karpogonium, yang menghasilkan ovum. Hasil pembuahan sel ovum oleh spermatium adalah zigot yang diploid. Selanjutnya, zigot itu akan tumbuh menjadi ganggang baru yang menghasilkan aplanospora dengan pembelahan meiosis. Spora haploid akan tumbuh menjadi ganggang penghasil gamet. Jadi pada ganggang merah terjadi pergiliran keturunan antara sporofit dan gametofit.

Ganggang merah dapat menyediakan makanan dalam jumlah banyak bagi ikan

dan hewan lain yang hidup di laut. Jenis ini juga menjadi bahan makanan bagi

Porphyra. Chondrus crispus dan Gigortina mamilosa menghasilkan karagen yang dimanfaatkan untuk penyamak kulit, bahan pembuat krem, dan obat pencuci rambut. Ganggang merah lain seperti Gracilaria lichenoides, Euchema spinosum, Gelidium dan Agardhiella menghasilkan bahan bergelatin yang

misalnya

Chondrus

crispus

beberapa

dikenal sebagai agar-agar. Gelatin ini digunakan oleh para peneliti sebagai medium bakteri, untuk pengental dalam banyak makanan, perekat

d. Ganggang Keemasan

dalam banyak makanan , perekat d. Ganggang Keemasan Nama Chrysophyceae diambil dari bahasa Yunani , yaitu

Nama Chrysophyceae diambil dari bahasa Yunani, yaitu Chrysos yang berarti emas. Ganggang keemasan atau Chrysophyceae adalah salah satu kelas dari ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Ganggang ini berwarna keemasan karena kloroplasnya mengandung pigmen karoten dan xantofil dalam jumlah banyak dibandingkan dengan klorofil. Kloroplas ganggang ini berbentuk

cakram, pita, atau oval. Sel-sel ganggang keemasan memiliki inti sejati (eukarion), dinding sel umumnya mengandung silika (SiO 2 ) atau kersik. Tubuh

ganggang ini ada yang terdiri atas satu sel (uniseluler) dan ada yang terdiri atas banyak sel (multiseluler). Ganggang yang bersel satu bisa hidup sebagai komponen fitoplankton yang dominan. Ganggang yang multiseluler berupa koloni atau berbentuk filamen. Ganggang ini ditemukan di air tawar, di laut, dan di tanah yang lembab. Perkembangbiakan ganggang keemasan ada 2 cara. Perkembangbiakan vegetatif (aseksual) dengan pembelahan sel, fragmentasi, pemisahan koloni,

dan

Perkembangbiakan

generatif (seksual) dengan konjugasi, isogami, anisogami, dan oogami.

pembentukan

atau

Contoh ganggang keemasan:

( aplanospora atau zoospora ) . Contoh ganggang keemasan: Ganggang keemasan bersel tunggal Ochromonas Sel tubuhnya

Ganggang keemasan bersel tunggal Ochromonas

Sel tubuhnya berbentuk bola yang dilengkapi dengan 2 flagel sebagai alat gerak. Kedua flagel tersebut tidak sama panjang. Di dalam sitoplasmanya terdapat beberapa organel penting, seperti kloroplas yang berbentuk

lembaran

berkembangbiak dengan membelah diri. Navicula sp Ganggang ini dikenal sebagai diatomae atau ganggang kersik karena dinding sel tubuhnya mengandung zat kersik. Kersik merupakan komponen penting dalam plankton. Navicula sp hidup di air tawar dan di laut. Tubuh Navicula sp terdiri atas dua bagian yaitu kotak (hipoteka) dan tutup (epiteka). Di antara kotak dan tutup terdapat celah yang disebut rafe. Perkembangbiakan Navicula sp:

Perkembangbiakan vegetatif Navicula dengan membelah diri. Setiap inti diatomae membelah menjadi dua, diikuti pembagian sitoplasma menjadi dua bagian. Selanjutnya, dinding sel Navicula memisah menjadi kotak dan tutup.

Ochromonas

melengkung,

dan

Pada sel anakan, baik kotak maupun tutup akan berfungsi menjadi tutup, dan masing-masing akan membentuk kotak baru. Dengan demikian setiap sel anakan yang berasal dari kotak akan mempunyai ukuran lebih kecil daripada sel asalnya. Peristiwa ini berlangsung berulang kali. Perkembangbiakan generatif Navicula berlangsung dengan konjugasi. Bila ukuran tubuh Navicula tidak memungkinkan untuk mengadakan pembelahan lagi, inti selnya akan mengalami meiosis dan menghasilkan gamet. Gamet itu kemudian akan meninggalkan sel dan setelah terjadi pembuahan di dalam air akan menghasilkan zigot. Zigot selanjutnya tumbuh menjadi sel Navicula baru dan membentuk tutup dan kotak baru. Bila Navicula mati, dinding selnya akan mengendap membentuk tanah diatom yang kaya zat kersik. Tanah ini merupakan bahan dinamit, isolator, dan bahan gosok penghalus.

bahan dinamit , isolator , dan bahan gosok penghalus. Ganggang keemasan berbentuk filamen Vaucheria Tubuhnya

Ganggang keemasan berbentuk filamen Vaucheria Tubuhnya berupa benang bercabang-cabang dan tidak bersekat, memiliki inti sel banyak, dan menyebar. Vaucheria tumbuh melekat pada substrat dengan menggunakan alat yang berbentuk akar. Habitatnya di air tawar maupuan di air payau. Perkembangbiakan Vaucheria:

Perkembangbiakan vegetatif Vaucheria berlangsung dengan pembentukan zoospora yang berkumpul dalam sporangium pada ujung filamen.

dan

Selanjutnya,

menghasilkan zoospora. Zoospora tersebut berinti banyak dan mempunyai flagel yang tumbuh di seluruh permukaannya. Setelah sporangium masak, zoospora akan keluar dan tumbuh menjadi Vaucheria baru. Perkembangbiakan generatif Vaucheria berlangsung dengan pembuahan

ovum

sedang

spermatozoid dibentuk dalam anteridium, keduanya terdapat pada benang

inti

di

dalam

sporangium

membelah

secara

oleh

spermatozoid.

dibentuk

di dalam

yang sama (homotalus). Zigospora hasil pembuahannya akan membelah secara meiosis dan menghasilkan spora yang selanjutnya terlepas dari induknya dan tumbuh menjadi ganggang baru.

2.2 Bakteri Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain . Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada tempat-tempat yang ekstrim. Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri memiliki ciri- ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup yang lain. Bakteri adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik (mikroskopis). Ciri-ciri Bakteri Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannnya dengan mahluk hidup lain yaitu :

1. Organisme multiselluler.

2. Prokariot (tidak memiliki membran inti sel).

3. Umumnya tidak memiliki klorofil.

4. Memiliki ukuran tubuh yang bervariasi antara 0,12 s/d ratusan mikron umumnya memiliki ukuran rata-rata 1 s/d 5 mikron.

5. Memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam

6. Hidup bebas atau parasit

7. Yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas,kawah atau gambut dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan

8. Yang hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung peptidoglikan

Struktur Bakteri

Struktur bakteri terbagi menjadi dua yaitu:

1. Struktur dasar (dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri) Meliputi: dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA dan granula penyimpanan.

2. Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu) Meliputi kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, Vakuola gas dan endospora.

Struktur dasar sel bakteri

Vakuola gas dan endospora. Struktur dasar sel bakteri Struktur sel bakteri : 1. Dinding sel tersusun

Struktur sel bakteri :

1. Dinding sel tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan polisakarida (ketebalan peptidoglikan membagi bakteri menjadi bakteri gram positif bila peptidoglikannya tebal dan bakteri gram negatif bila peptidoglikannya tipis).

2. Membran plasma adalah membran yang menyelubungi sitoplasma tersusun

atas lapisan fosfolipid dan protein.

3. Sitoplasma adalah cairan sel.

4. Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun atas protein dan RNA.

5. Granula penyimpanan, karena bakteri menyimpan cadangan makanan yang dibutuhkan.

Granula Struktur tambahan bakteri : 1. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding

Granula

Struktur tambahan bakteri :

1. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu, bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air.

2. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel.

3. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel, pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek, kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus.

4. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.

5. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis.

6. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi

genetik, dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi dan zat kimia. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru.

Bentuk Bakteri

Bentuk dasar bakteri terdiri atas bentuk bulat (kokus), batang (basil),dan spiral (spirilia) serta terdapat bentuk antara kokus dan basil yang disebut kokobasil. Berbagai macam bentuk bakteri:

1. Bakteri Kokus :

kokobasil. Berbagai macam bentuk bakteri: 1. Bakteri Kokus : a. Monokokus yaitu berupa sel bakteri kokus

a. Monokokus yaitu berupa sel bakteri kokus tunggal

b. Diplokokus yaitu dua sel bakteri kokus berdempetan

c. Tetrakokus yaitu empat sel bakteri kokus berdempetan berbentuk segi empat.

d. Sarkina yaitu delapan sel bakteri kokus berdempetan membentuk kubus

e. Streptokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan membentuk rantai.

f. Stapilokokus yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan seperti buah anggur.

2. Bakteri Basil :

a. Monobasil yaitu berupa sel bakteri basil tunggal. b. Diplobasil yaitu berupa dua sel bakteri

a. Monobasil yaitu berupa sel bakteri basil tunggal.

b. Diplobasil yaitu berupa dua sel bakteri basil berdempetan.

c. Streptobasil yaitu beberapa sel bakteri basil berdempetan membentuk rantai.

3. Bakteri Spirilia :

basil berdempetan membentuk rantai. 3. Bakteri Spirilia : a. Spiral yaitu bentuk sel bergelombang b. Spiroseta

a. Spiral yaitu bentuk sel bergelombang

b. Spiroseta yaitu bentuk sel seperti sekrup

c. Vibrio yaitu bentuk sel seperti tanda baca koma

Alat Gerak Bakteri

Alat gerak pada bakteri berupa flagellum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. Flagellum memungkinkan bakteri bergerak menuju kondisi lingkungan yang menguntungkan dan menghindar dari lingkungan yang merugikan bagi kehidupannya. Flagellum memiliki jumlah yang berbeda-beda pada bakteri dan letak yang berbeda-beda pula yaitu:

1. Monotrik : bila hanya berjumlah satu

2. Lofotrik : bila banyak flagellum disatu sisi

3. Amfitrik : bila banyak flagellum dikedua ujung

4. Peritrik : bila tersebar diseluruh permukaan sel bakteri

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri Pertumbuhan pada bakteri mempunyai arti perbanyakan sel dan peningkatan

ukuran populasi. Faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri atau kondisi untuk pertumbuhan optimum adalah :

1. Suhu

2. Derajat keasaman atau pH

3. Konsentrasi garam

4. Sumber nutrisi

5. Zat-zat sisa metabolisme

6. Zat kimia

Hal tersebut diatas bervariasi menurut spesies bakterinya. Cara Perkembangbiakan bakteri:

Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual (vegetatif = tak kawin) dengan membelah diri. Pembelahan sel pada bakteri adalah pembelahan biner yaitu setiap sel membelah menjadi dua. Reproduksi bakteri secara seksual yaitu dengan pertukaran materi genetik dengan bakteri lainnya. Pertukaran materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA. Rekombinasi genetik dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:

1. Transformasi adalah pemindahan sedikit materi genetik, bahkan satu gen saja dari satu sel bakteri ke sel bakteri yang lainnya.

gen saja dari satu sel bakteri ke sel bakteri yang lainnya. 2. Transduksi adalah pemindahan materi

2. Transduksi adalah pemindahan materi genetik satu sel bakteri ke sel bakteri lainnnya dengan perantaraan organisme yang lain yaitu bakteriofage (virus bakteri).

organisme yang lain yaitu bakteriofage (virus bakteri). 3. Konjugasi adalah pemindahan materi genetik berupa plasmid

3. Konjugasi adalah pemindahan materi genetik berupa plasmid secara langsung melalui kontak sel dengan membentuk struktur seperti jembatan diantara dua sel bakteri yang berdekatan. Umumnya terjadi pada bakteri gram negatif.

Peranan Bakteri Dalam kehidupan manusia bakteri mempunyai peranan yang menguntungkan maupun yang merugikan. Bakteri yang

Peranan Bakteri

Dalam kehidupan manusia bakteri mempunyai peranan yang menguntungkan maupun yang merugikan. Bakteri yang menguntungkan adalah sebagai berikut :

1. Pembusukan (penguraian sisa-sisa mahluk hidup contohnya Escherichia colie).

2. Pembuatan makanan dan minuman hasil fermentasi contohnya Acetobacter pada pembuatan asam cuka, Lactobacillus bulgaricus pada pembuatan yoghurt, Acetobacter xylinum pada pembuatan nata de coco dan Lactobacillus casei pada pembuatan keju yoghurt.

3. Berperan dalam siklus nitrogen sebagai bakteri pengikat nitrogen yaitu Rhizobium leguminosarum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman kacang-kacangan dan Azotobacter chlorococcum.

4. Penyubur tanah contohnya Nitrosococcus dan Nitrosomonas yang berperan dalam proses nitrifikasi menghasilkan ion nitrat yang dibutuhkan tanaman.

5. Penghasil antibiotik contohnya adalah Bacillus polymyxa (penghasil antibiotik polimiksin B untuk pengobatan infeksi bakteri gram negatif, Bacillus subtilis penghasil antibioti untuk pengobatan infeksi bakteri gram positif, Streptomyces griseus penghasil antibiotik streptomisin untuk pengobatan bakteri gram negatif termasuk bakteri penyebab TBC dan Streptomyces rimosus penghasil antibiotik terasiklin untuk berbagai bakteri.

6. Pembuatan zat kimia misalnya aseton dan butanol oleh Clostridium acetobutylicum.

7. Berperan dalam proses pembusukan sampah dan kotoran hewan sehinggga menghasilkan energi alternatif metana berupa biogas. Contohnya methanobacterium.

8. Penelitian rekayasa genetika dalam berbagai bidang.sebagai contoh dalam bidang kedokteran dihasilkan obat-obatan dan produk kimia bermanfaat yang disintesis oleh bakteri, misalnya enzim, vitamin dan hormon.

2.3 Fungi Fungi Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Fungi memiliki bermacam-macam bentuk. Awam mengenal sebagian besar anggota fungi sebagai jamur, kapang, khamir, atau

ragi, meskipun seringkali yang dimaksud adalah penampilan luar yang tampak, bukan spesiesnya sendiri. Kesulitan dalam mengenal fungi sedikit banyak disebabkan adanya pergiliran keturunan yang memiliki penampilan yang sama

sekali

Perbanyakan seksual dengan cara dua hifa dari jamur berbeda melebur lalu

berbeda.

Fungi

memperbanyak

diri

secara

dan

membentuk

zigot

lalu

zigot

tumbuh

menjadi

tubuh

buah,

sedangkan

perbanyakan

aseksual

dengan

cara

membentuk

bertunas

atau

fragmentasi hifa. Jamur memiliki kotak spora yang disebut sporangium. Di dalam sporangium terdapat spora. Fungi hidup dengan cara menyerap zat organik dari lingkungannya. Berdasarkan cara memperoleh makannya, fungi mempunyai sifat saprofit, parasit dan mutual. Fungi hidup pada lingkungan yang beragam namun sebagian besar jamur hidup di tempat yang lembab. Habitat fungi berada di darat (terestrial) dan di tempat lembab. Meskipun demikian banyak pula fungi yang hidup pada organisme atau sisa-sisa organisme di laut atau di air tawar, juga dapat hidup di lingkungan yang asam.

Fungi melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan kuncup atau tunas pada jamur uniseluler serta pemutusan benang hifa (fragmentasi miselium) dan pembentukan spora

aseksual (spora vegetatif) pada fungi multiseluler. Reproduksi jamur secara seksual dilakukan oleh spora seksual. Spora seksual dihasilkan secara singami. Singgami terdiri dari dua tahap, yaitu tahap plasmogami dan tahap kariogami.

Jamur Air

Jamur air atau Oomycota adalah kelompok protista uniseluler yang berfilamen. Jamur air secara fisik mirip dengan fungi. Mereka mikroskopik. Nama jamur air yang diberikan berdasarkan fakta bahwa mereka tumbuh dengan baik dalam kondisi kelembaban yang tinggi dan berair. Jamur air pada awalnya dikelompokkan sebagai fungi, tetapi sekarang diketahui telah berkembang terpisah dan menunjukkan banyak perbedaan. Dinding sel mereka tersusun atas selulosa, bukan chitin. Juga, dalam reproduksi vegetatif, mereka memiliki nuklei diploid, sedangkan fungi memiliki nuklei haploid. Jamur air memiliki hubungan dengan organisme seperti ganggang coklat dan diatom, membuat suatu kelompok yang dikenal dengan heterokon. Namanya berasal dari susunan umum dan struktur sel yang mampu bergerak, yang berciri memiliki dua flagella tidak sama. Di antara jamur air, ini diproduksi sebagai spora aseksual yang disebut zoospora. Mereka juga memproduksi spora seksual yang disebut oospora. Jamur air secara ekonomi dan sains berguna sebab mereka adalah patogen tumbuhan yang agresif. Secara umum dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu:

Kelompok Phytophthora adalah genus yang menyebabkan penyakit seperti dieback , potato blight , sudden oak

Kelompok Phytophthora adalah genus yang menyebabkan penyakit seperti dieback, potato blight, sudden oak death dan rhododendron root rot.

Kelompok Phythium adalah genus yang lebih mudah ditemui di mana-mana daripada Phytophthora.

Kelompok Phythium adalah genus yang lebih mudah ditemui di mana-mana daripada Phytophthora.

Kelompok ketiga adalah downly mildews , yang dapat dengan mudah dikenali karena fisik "mildew" putih

Kelompok ketiga adalah downly mildews, yang dapat dengan mudah dikenali karena fisik "mildew" putih pada permukaan daun.

ketiga adalah downly mildews , yang dapat dengan mudah dikenali karena fisik "mildew" putih pada permukaan

2.4 Mikroalgae

2.4 Mikroalgae Mikroalga adalah mikroorganisme fotosintetik dengan morfologi sel yang bervariasi, baik uni-selular maupun

Mikroalga adalah mikroorganisme fotosintetik dengan morfologi sel yang bervariasi, baik uni-selular maupun multiselular (membentuk koloni kecil). Sebagian besar mikroalga tumbuh secara fototroflk, meskipun tidak sedikit jenis yang mampu tumbuh secara heterotrofik

2.5 Protozoa

Ciri-ciri Protozoa sering dianggap " hewan " bersel tunggal, berinti sejati ( eukariot ), dan tidak Protozoa sering dianggap " hewan " bersel tunggal, berinti sejati ( eukariot ), dan tidak memiliki dinding sel. Beberapa protozoa memiliki pelikel, yaitu suatu lapisan protein yang dapat meningkatkan rigiditas membran sel. Selain bertindak sebagai pelindung sel dari tekanan osmotik, pelikel juga berperan dalam menentukan morfologi protozoa. Filum protozoa mencakup lima ribu jenis yang tersebar baik di dalam air tawar, air laut, maupun di tanah. Walaupun kebanyakan protozoa hidup soliter, beberapa ada yang hidup membentuk koloni. Ukuran protozoa bervariasi antara 2µm - 20.000µm ( 2cm ).

Morfologi Kebanyakan protozoa bersifat polimorfisme, yaitu memiliki bentuk yang berbeda- beda pada fase yang berbeda dalam Kebanyakan protozoa bersifat polimorfisme, yaitu memiliki bentuk yang berbeda- beda pada fase yang berbeda dalam siklus hidupnya. Beberapa protozoa memiliki fase vegetatif yang bersifat aktif yang disebut tropozoit dan fase dorman dalam bentuk sista. Tropozoid akan aktif mencari makanan dan bereproduksi selama kondisi lingkungan memungkinkan. Bila kondisi tidak memungkinkan dan mengancam kehidupan tropozoid maka protozoa akan membentuk sista. Dalam bentuk sista, protozoa mampu bertahan hidup dalam lingkungan

kering maupun basah yang tersebar pada jarak yang sangat luas. Sista dapat terbentuk dalam kondisi lingkungan yang kekurangan nutrisi, kekeringan temperatur yang tinggi, maupun pH yang rendah. Namun, tidak semua protozoa membentuk sista, contohnya Trichomonas vaginalis yang merupakan organisme patogen pada organ seksual. Beberapa protozoa ada yang bersifat pleomorfik, artinya memiliki bentuk tropozoid yang berbeda- beda. Umumnya, organisme dengan banyak sel inang bersifat pleomorfik, tergantung pada jenis inangnya. Morfologi tropozoid dapat berbeda- beda di dalam jaringan tubuh yang berbeda walaupun dalam inang yang sama. Misalnya, di dalam cairan tubuh, organisme tersebut dapat memiliki flagela, sedangkan di dalam jaringan hati, flagela tersebut dapat hilang.

Nutrisi dan Cara Makandi dalam jaringan hati, flagela tersebut dapat hilang. Protozoa bersifat kemoheterotrof dan mendapatkan nutrisinya

Protozoa bersifat kemoheterotrof dan mendapatkan nutrisinya melalui salah satu dari dua cara, yaitu sebagai berikut :

Osmotrof, yaitu menyerap nutrien terlarut langsung melalui membran sel.

Fagotrof, yaitu menelan materi organik atau partikel makanan dengan

membentuk vesikel intra sitoplasma yang disebut vakuola makanan. Mekanisme pengolahan makanan seperti ini dikenal sebagaifagositosis, contohnya : Amoeba. Pada paramecium terdapat struktur yang disebut sitostoma, yang mirip seperti struktur dan fungsi mulut. Enzim yang tersimpan dalam lisosom akan dikeluarkan ke dalam vakuola untuk membantu mencerna partikel tersebut sehingga nutrien yang terkandung dalam makanandapat diserap ke dalam sitoplasma, sedangkan sisa- sisa makanan yang tidak tercerna di dalam vakuola akan dikeluarkan dari dalam sel melalui proses ekositosis. Pada proses tersebut, membran vakuola akan melebur dengan membran plasma dan mengeluarkan isi vakuola ke luar sel.

Reproduksi Umumnya, protozoa dapat melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual. Namun, beberapa protozoa tidak memiliki Umumnya, protozoa dapat melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual. Namun, beberapa protozoa tidak memiliki siklus dan sekelompok

lainnya memiliki siklus seksual, meskipun tidak berkaitan dengan kelangsungan hidupnya. Reproduksi aseksual dan seksual dapat terjadi di dalam sel inang yang berbeda. Pada dasarnya, reproduksi aseksual dilakukan dengan pembelahan ( fission ) yang akan menghasilkan dua atau lebih sel anakan. Beberapa protozoa lain melakukan pembelahan berulang kali ( multiple fission ). Sebelum sel membelah masing- masing akan mendapatkan inti sel yang sama. Sejumlah kecil protozoa memperbanyak diri dengan cara membentuk tunas ( budding ) seperti yang dilakukan oleh sel khamir. Reproduksi seksual terjadi melalui proses pembuahan yang ditandai dengan meleburnya sel reproduktif atau inti sel. Kemudian, sel hasil peleburan akan membelah menghasilkan sel- sel anakan. Klasifikasi Protozoa Protozoa secara tradisional dibagi atas empat kelompok filum berdasarkan kemmpuan gerak serta tipe alat geraknya. Keempat kelompok tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sporozoa (tidak bergerak aktif)

Semua anggota filum sporozoa tidak memiliki alat gerak dan bersifat parasit intraseluler. Sporozoa memiliki pergiliran antara fase seksual dan aseksual.

Beberapa jenis sporozoa melangsungkan siklus aseksual dan seksual pada satu inang yang sama dan beberapa lainnya membutuhkan inang yang berbeda. Secara umum, siklus hidup sporozoa dapat dibagi atas tiga stadium, yaitu :

Skizogoni, yaitu tahap perbanyakan secara aseksual yang terjadi setelah

yaitu tahap perbanyakan secara aseksual yang terjadi setelah menginfeksi inang.  Gamogoni, yaitu tahap pembentukan

menginfeksi inang.

Gamogoni, yaitu tahap pembentukan sel- sel gamet, dan

Sporogoni, yaitu pembentukan spora di luar inang dan merupakan stadium infektif.

Berikut ini beberapa contoh sporozoa.

1. Toxoplasma gondii

2.

Jenis ini melakukan fase seksual hanya pada keluarga kucing ( Felidae )

yang merupakan hospes definitif. Fase aseksual berkembang pada

tubuh menusia atau mamalia lainnya yang merupakan hospes perantara.Biasanya invasi dari parasit terjadi di usus dan menyebar diseluruh sel atau jaringan tubuh hospes kecuali sel darah merah ( yang tidak berinti ). Infeksi oleh T. gondii pada kehamilan muda menyebabkan keguguran atau lahir dengan kematian. Parasit ini menyerang saraf pusat dan mata yang mengakibatkan kerusakan permanen. Plasmodium Hospes perantaranya manusia, sedangkan hospes definitifnya nyamuk Anopheles betina. Ada empat jenis yang dapat menyebabkan penyakit malaria, yaitu sebagai berikut :

P. vivax, menyebabkan malaria vivaks yang disebut pula malaria tersiana. Demam penyakit ini biasanya terjadi pada interval 48 jam.

P. falciparum, menyebabkan malaria falciparumyang dapat pula disebut sebagai malaria tersiana. Demam penyakit ini tidak teratur dengan periodisitas yang tidak jelas.

P. malariae, menyebabkan malaria malariae atau malaria kuartana karena serangan demam berulang pada tiap hari keempat.

P. ovale, menyebabkan malaria ovale dengan gejala mirip malaria

vivaks. Malaria ini merupakan jenis ringan dan dapat sembuh sendiri.

2. Sarcodina (bergerak dengan kaki semu/pseudopodia) Filum ini lebih dikenal umum sebagai Amoeba. Jenis ini dapat ditemukan

di perairan tawar maupun di tanah. Ciri kelompok ini bergerak dengan kaki semu atau palsu yang disebut pseudopodia. Reproduksi dilakukan secara aseksual melalui pembelahan biner ( binary fission ), tidak memiliki dinding sel, serta tidak melakukan reproduksi aseksual. Kaki semu pada Amoeba merupakan penjuluran dari sitoplasma yang dapat digunakan sebagai alat gerak atau untuk menelan partikel makanannya. Gerak dari kaki palsu dibantu oleh struktur mikrofilamen dari aktin dan miosin, seperti yang terdapat pada otot.

Beberapa Amoeba membentuk sista dan di dalam sista terjadi pembelahan mitosis yang akan menghasilkan empat, delapan, atau lebih sel Amoeba. Proses tersebut terjadi di dalam saluran pencernaan sel

inang. Sista akan dikeluarkan bersama feses ( tinja ), kemudian tersebar pada makanan dan minuman, akhirnya disebarkan oleh lalat maupun kontak langsung.

3. Mastigophora (bergerak dengan flagela) Kelompok filum ini bergerak dengan flagela atau bulu cambuk sehingga sering disebut sebagai flagelata. Beberapa anggota filumnya ada yang membentuk sista dan reproduksi secara aseksual melalui pembelahan longitudinal. Umumnya anggota mastigophora hidup bebas dan beberapa lainnya bersifat sebagai parasit serta dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Ada dua golongan parasit, yaitu sebagai berikut :

Flagelata yang hidup pada saluran pencernaan ( rongga usus dan mulut ) dan yang hidup pada saluran urogenital ( vagina, uretra, dan prostat ).

Flagelata yang hidup di dalam darah dan di jaringan tubuh terutama

organ- organ tubuh bagian dalam. Giardia lamblia merupakan parasit penyebab penyakit giardiasis pada manusia. Organisme ini mampu membentuk sista yang dikeluarkan bersama fases dan dapat mengontaminasi makanan maupun minuman yang dihinggapi oleh lalat. Jenis ini hidup pada rongga usus kecil, yaitupada duodenum dan bagian proksimal jejenum, tetapi kadang berada di saluran dan kantong empedu.

4. Ciliophora (bergerak dengan silia) Sifat khas dari kelompok ini adalah memiliki bulu getar seperti rambut yang selain berfungsi sebagai alat gerak juga untuk menangkap makanannya, tetapi kadang- kadang hanya untuk menimbulkan arus air bagi pernapasan. Struktur silia mirip seperti flagela, namun lebih pendek dan jumlahnya lebih banyak. Pada Paramecium, silia tersebar di seluruh

permukaan tubuh. Pada jenis ini, silia berkumpul, dan terbatas pada satu bagian atau silia bergabung membentuk struktur yang disebut cirri. Sebagian besar anggota ciliata hidup bebas di air tawar maupun di air laut. Ciliata memiliki keunikan dibandingkana dengan protozoa lain karena sel memiliki dua macam inti. Makronukleus mengandung banyak kopi dari setiap gen yang ada dan bertanggung jawab dalam pertumbuhan serta reproduksi aseksual. Micronukleus mengandung satu sel materi genetika dan tidak ditranskripsi atau berperan dalam proses rekomendasi genetika melalui peristiwa konjugasi.

3. Metode Pemeriksaan Istilah bakteri indikator sanitasi dikenal dalam bidang mikrobiologi pangan. Bakteri indikator sanitasi adalah bakteri yang keberadaannya dalam pangan menunjukkan bahwa air atau makanan tersebut pernah tercemar oleh kotoran manusia yang mengingat banyaknya jumlah mikroorganisme ini, maka perlu dilakukan suatu uji pemeriksaan terhadap bahan pangan tersebut agar aman dikonsumsi. Bakteri-bakteri indikator sanitasi umumnya adalah bakteri yang lazim terdapat dan hidup pada usus manusia sehingga dengan adanya bakteri tersebut pada air atau makanan dapat menunjukkan bahwa dalam satu atau lebih tahap pengolahan air atau makanan pernah mengalami kontak dengan kotoran yang berasal dari usus manusia dan oleh sebab itu kemungkinan terdapat bakteri patogen lain yang berbahaya. Ada tiga jenis bakteri yang dapat digunakan untuk menunjukkan adanya masalah sanitasi, yaitu Escherichia coli, kelompok Streptococcus (Enterococcus) fecal, dan Clostridium perfringens (Anonim, 2002). Terdapat berbagai macam cara untuk menghitung jumlah mikroorganisme, akan tetapi secara mendasar, ada dua cara yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Ada beberapa cara perhitungan secara langsung, antara lain adalah dengan membuat preparat dari suatu bahan (preparat sederhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan penggunaan ruang hitung (counting chamber). Sedangkan perhitungan cara tidak langsung hanya untuk

mengetahui jumlah mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viabel count). Dalam pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu : perhitungan pada cawan petri (total plate count / TPC), perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah terkecil atau terdekat (MPN methode), dan kalorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri) (Cappuccino & Natalie, 1983). Uji bakteriologik terhadap air minum bisa dilakukan dengan metode MPN (Most Probable Number). Pengujian bakteri Coliform yang berasal dari cemaran tinja (faecal coliform) secara serentak dengan uji penegasan yang menggunakan media BGLB, maka dilakukan juga hal yang sama yaitu 1 ose kultur yang positif dari LST Broth atau LB, dipindahkan ke dalam tabung EC medium yang baru. Semua tabung MC medium yang telah diinokulasikan oleh kultur dari LST-Broth, kemudian diinkubasikan pada suhu 45,5°C selama 24 jam dan hasil pembentukan gas dicatat. Kerapatan bakteri faecal coliform diperkirakan dengan tabel MPN. Diferensiasi bakteri coliform dapat diarahkan ke dalam reaksi IMVIC (Buckle, 1987). Standar plate Count adalah menentukan jumlah bakteri dalam suatu sampel. Dalam test tersebut diketehui perkembangan banyaknya bakteri dengan mengatur sampel, di mana total bakteri tergantung atas formasi bakteri di dalam media tempat tumbuhnya dan masing-masing bakteri yang dihasilkan akan membentuk koloni yang tunggal (Pelczar & Chan, 1986). Metode MPN (Most Probable Number) untuk uji kualitas mikrobiologi air dalam praktikum digunakan kelompok Coliform sebagai indikator. Kelompok Coliform mencakup bakteri yang bersifat aerobik dan anaeorobik fakultatif, batang gram negatif dan tidak membentuk spora. Coliform memfermentasikan laktosa dengan pembentukkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35°C (Hadioetomo, 1993). Coliform total ditentukan dengan teknik MPN (Most Probable Number) atau JPT (Jumlah Perkiraan Terdekat) dan dengsan metode penyaring membran. MPN merupakan metode penentuan jumlah bakteri yang tumbuh pada pengenceran beberapa seri tabung dengan tabel MPN coliform. Metode MPN ini lebih baik bila dibandingkan dengan metode hitung cawan, karena lebih

sensitif dan dapat mendeteksi coliform dalam jumlah yang sangat rendah di dalam sampel air (Supardi dan Sukamto, 1999). Uji kualitas Coliform terdiri dari tiga tahap, yaitu: (1) Uji pendugaan, (2) Uji penegasan, (3) Uji lengkap. Menurut fardiaz (1993), uji kualitas koliform tidak harus dilakukan swecara lengkap seperti di atas. Hal ini twergantung dari berbagai faktor, seperti waktu, mutu, sampel yang diuji, biaya, tujuan analisis, dam faktor-faktor lainnya. Metode MPN ini menggunakan medium cair di dalam tabung reaksi, yang perhitungannya dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif setelah diinkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas pada tabung Durham untuk mikroba pembentuk gas, seperti E. coli. Metode MPN ini biasanya dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam sampel cair, dapat pula dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba untuk sampel yang bentuknya padat, dengan terlebih dahulu membuat suspensi 1:10 dari sampel tersebut (Siswandi, 2000).

Perhitungan jumlah bakteri coliform dilakukan dengan rumus :

MPN mikroba = Nilai MPN X 1/pengenceran tabung di tengah.

Peralatan yang diperlukan dalam perhitungan MPN coliform ini adalah:

1. Botol sampel steril

2. Pipet ukur 10 ml dan 1 ml steril

3. Pipet filler

4. Pembakar bunsen

5. Inkubator

6. Tabung reaksi

7. Tabung durham

8. Rak tabung reaksi

9. Timbangan

Bahan yang dibutuhkan:

1. Sampel makanan dan minuman

2. Media Lactosa Broth (LB)

3. Media Brillian Green Bile Lactose Broth (BGLB)

4. Alkohol

5. Kapas

6. Karet

7. Label

8. Kertas payung

9. Kertas aluminium foil

10. Korek api

Cara Kerja :

a. Uji Duga

1. Mensterilkan tangan, alat dan tempat kerja.

2. Bila sampel padat maka harus dilakukan pengenceran. Menimbang sampel sebanyak 10 gram memasukkannya ke dalam air pengencer 90 ml, sebagai pengenceran 10-1.

3. Mengambil sampel masing-masing 10 ml masukkan ke dalam kelompok tabung 1/LBDS (double strenght lactose broth/laktosa cair konsentrasi 2 x lipat).

4. Mengambil sampel masing-masing 1 ml masukkan ke dalam kelompok tabung 2/LBSS (single strength lactose broth/laktosa cair konsentrasi normal).

5. Mengambil sampel masing-masing 0,1 ml masukkan ke dalam kelompok tabung 3/LBSS (single strength lactose broth/laktosa cair konsentrasi normal).

6. Menghomogenkan dan membungkusnya dengan kertas pembungkus.

7. Menginkubasi semua piaraan pada suhu 370C selama 2 x 24 jam.

8. Mengamati piaraan itu setiap 24 jam. Apabila timbul gas dalam 24 jam menunjukkan uji positif dan apabila dalam 24 jam belum timbul gas dilanjutkan sampai dengan 2 x 24 jam. Apabila setelah 2 x 24 jam tidak

terbentuk gas maka uji ini dikatakan hasilnya negatif yang berarti pula bahwa makanan atau minuman tidak tercemar coliform. Uji Penegasan

1. Mensterilkan tangan, alat dan tempat kerja.

2. Mengambil tabung yang positif (adanya gelembung gas yang tertangkap oleh tabung durham) maupun yang meragukan.

3. Inokulasikan dengan jarum ose dari kelompok tabung 1/LBDS yang positif ke kelompok tabung 1/BGLB.

4. Inokulasikan dengan jarum ose dari kelompok tabung 2/LBSS yang positif ke kelompok tabung 2/BGLB.

5. Inokulasikan dengan jarum ose dari kelompok tabung 3/LBSS yang positif ke kelompok tabung 3/BGLB.

6. Menghomogenkan dan bungkus dengan kertas pembungkus.

7. Menginkubasi semua piaraan pada suhu 370C selama 2 x 24 jam.

8. Mengamati piaraan itu setiap 24 jam. Apabila timbul gas dalam 24 jam menunjukkan uji positif dan apabila dalam 24 jam belum timbul gas dilanjutkan sampai dengan 2 x 24 jam. Apabila setelah 2 x 24 jam tidak

terbentuk gas maka uji ini dikatakan hasilnya negatif yang berarti pula bahwa makanan atau minuman tidak tercemar coliform.

9. Catat angka kombinasi MPN dan MPN tabelnya.

10. Masukkan ke dalam rumus MPN sebenarnya. MPN sebenarnya = MPN tabel x 1/faktor pengenceran n dari tabung tengah

Analisis Mikrobiologi Air

air

tersebut bebas dari kontaminan. Bisa saja air ini terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Mikroorganisme kontaminan tersebut dapat dideteksi dengan menggunakan metode-metode laboratorium. Pengujian macam-macam mikroorganisme patogen dalam air minum tidaklah praktis (langsung).

Permukaan air

yang

kelihatannya

jernih

dan

bersih,

belum

tentu

Analisis yang digunakan dalam pemeriksaan mikrobiologi antara lain:

1. Total Count Total count bakteri Total Count Total count bakteri ditentukan berdasarkan penanaman bahan dalam jumlah dan pengenceran tertentu ke dalam media yang umum untuk bakteri. Setelah diinkubasikan pada suhu kamar selama waktu maksimal 4 x 24 jam, dilakukan perhitungan koloni. Total count fungi, dilakukan dengan metode yang sama kecuali suhu inkubasi 28 ± 1ºC. Pada permukaan media pertumbuhan untuk fungi ditambahkan asam laktat 3% sebelum memasukkan sampel untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

2. Penentuan Nilai IPB (Indeks Pencemar Biologis). Makin tinggi nilai IPB, maka makin tinggi kemungkinan deteriosasi/korosi materi di dalam sistem pabrik (logam-logam yagn mengandung Fe dan S) ataupun terhadap kemungkinan adanya kontaminasi badan air oleh organisme patogen.

4. Standar Baku Mutu Air (Kepmenkes Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002)

 

Parameter

 

Satuan

Kadar Maksimum yang Diperlukan

Keterangan

 

1

 

2

3

4

a.

Air Minum

     

E.

coli atau Fecal Coli

Jumlah per

0

b.

Air yang masuk

100

ml sampel

sistem distribusi

 

E.

coli atau Fecal Coli

0

 

Jumlah per

Total Bakteri Coliform

100

ml sampel

0

Jumlah per

c.

Air pada sistem

100

ml sampel

distribusi

 

0

E.

coli atau Fecal Coli

 

Jumlah per

Total Bakteri Coliform

0

100

ml sampel

Jumlah per

100

ml sampel

5. Dampak terhadap Lingkungan

6. Dampak terhadap Kesehatan a. Bakteri Bakteri patogen Merupakan kelompok bakteri parasit yang menimbulkan penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan. Bakteri penyebab penyakit pada manusia:

No.

Nama bakteri

Penyakit yang ditimbulkan

1.

Tifus

2.

Disentri basiler

3.

Kolera

4.

Influensa

5.

Pneumonia (radang paru-paru)

6.

TBC paru-paru

7.

Tetanus

8.

Meningitis (radang selaput otak)

9.

Gonorrhaeae (kencing nanah)

10.

Sifilis atau Lues atau raja singa

11.

Lepra (kusta)

12.

Puru atau patek

b.

Protozoa Protozoa menyebabkan

Penyakit-penyakit yang disebabkan Protozoa antara lain :

Disentri - Entamoeba histolytica

Diare (Balantidiosis) - Balantidium coli

Penyakit tidur (Afrika) - Trypanosoma gambiense

Toksoplasmosis (kematian janin) - Toxoplasma gondii

Malaria tertiana - Plasmodium vivax

Malaria quartana - Plasmodium malariae

Malaria tropika - Plasmodium falciparum

Kalaazar Leishmani

penyakit pada manusia

dan

hewan

ternak.

B. PARTICULATE MATTER 10 ( PM 10 )

Polusi udara berasal dari berbagai sumber, dengan hasil pembakaran bahan bakar fosil merupakan sumber utama. Contoh sederhana adalah pembakaran mesin diesel yang dapat menghasilkan partikulat (PM), nitrogen oksida, dan precursor ozon yang semuanya merupakan polutan berbahaya. Polutan yang ada diudara dapat berupa gas (misal SO 2 , NO x , CO, Volatile Organic Compounds) ataupun partikulat. Polutan berupa partikulat tersuspensi, disebut juga PM (Particulate Matter) merupakan salah satu komponen penting terkait dengan pengaruhnya terhadap kesehatan. PM dapat diklasifikasikan menjadi 3; yaitu coarse PM (PM kasar atau PM 2,5-10 ) berukuran 2,5-10 μm, bersumber dari abrasi tanah, debu jalan (debu dari ban atau kampas rem), ataupun akibat agregasi partikel sisa pembakaran. Partikel seukuran ini dapat masuk dan terdeposit di saluran pernapasan utama pada paru (trakheobronkial); sedangkan fine PM (<2,5 μm) dan ultrafine (<0,1 μm) berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan dapat dengan mudah terdeposit dalam unit terkecil saluran napas (alveoli) bahkan dapat masuk ke sirkulasi darah sistemik. Klasifikasi berdasar ukuran ini juga terkait dengan akibat buruk partikel tersebut terhadap kesehatan sehingga WHO dan juga US Environmental Protection Agency menetapkan standar PM dan polutan lain untuk digunakan sebagai dasar referensi.

Standar polutan udara menurut EPA

Pollutan

Waktu

PM 10 (μg/m3) PM 2,5 (μg/m3) Ozone (ppm) NO 2 (ppm) SO 2 (ppm)

150 (/24jam) 65 (/24 jam) 0.12 (/1jam)

50 (/tahun) 15 (/tahun) 0.08 (/8 jam) 0.053 (/tahun) 0.03 (/tahun)

0.14 (/24 jam)

Partikulat adalah padatan atau likuid di udara dalam bentuk asap, debu dan uap, yang dapat tinggal di atmosfer dalam waktu yang lama. Di samping mengganggu estetika, partikel berukuran kecil di udara dapat terhisap ke ke dalam sistem pernafasan dan menyebabkan penyakit gangguan pernafasan dan kerusakan

paru-paru. Partikulat juga merupakan sumber utama haze (kabut asap) yang menurunkan visibilitas. 1. SIFAT FISIKA DAN KIMIA Partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM) merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa organik dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan maksimal 500 mikron. Partikulat debu tersebut akan berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayanglayang di udara dan masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Selain dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia di udara. Partikel debu SPM pada umumnya mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda, dengan berbagai ukuran dan bentuk yang berbada pula, tergantung dari mana sumber emisinya. Karena Komposisi partikulat debu udara yang rumit, dan pentingnya ukuran partikulat dalam menentukan pajanan, banyak istilah yang digunakan untuk menyatakan partikulat debu di udara. Beberapa istilah digunakan dengan mengacu pada metode pengambilan sampel udara seperti : Suspended Particulate Matter (SPM), Total Suspended Particulate (TSP), balack smake. Istilah lainnya lagi lebih mengacu pada tempat di saluran pernafasan dimana partikulat debu dapat mengedap, seperti inhalable/thoracic particulate yang terutama mengedap disaluran pernafasan bagian bawah, yaitu dibawah pangkal tenggorokan (larynx ). Istilah lainnya yang juga digunakan adalah PM-10 (partikulat debu dengan ukuran diameter aerodinamik <10 mikron), yang mengacu pada unsur fisiologi maupun metode pengambilan sampel. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara, baku mutu udara ambien nasional untuk PM10 adalah sebesar 150 µg/m3 (24 jam), untuk PM2,5 adalah sebesar 65 µg/m3. Perubahan lingkungan hidup pada umumnya disebabkan oleh pencemaran udara dimana masuknya zat pencemar (berbentuk gas dan partikel kecil yang dinamakan aerosol) ke dalam udara [6]. Aerosol didefinisikan sebagai partikel cair

maupun padat yang t ersuspensi di dalam gas [7]. Ukuran partikel aerosol antara 0,001 dan 100 µm. Karakteristik partikulat debu termasuk diantaranya ukuran, distribusi ukuran, bentuk kepadatan, kelengketan, sifat korosif, reaktivitas dan toksisitas. Salah satu karakteristik yang paling penting dari suspensi partikel debu adalah distribusi ukuran partikel aerosol. Ukuran partikel merupakan parameter terpenting untuk memberi ciri perilaku aerosol. Semua sifat aerosol sangat bergantung pada ukuran partikel. Partikel yang berdiameter kurang dari 2,5 µm umumnya dianggap halus dan yang lebih besar dari 2,5 µm dianggap kasar. Aerosol dapat digolongkan menjadi aerosol primer dan sekunder. Aerosol primer adalah aerosol yang dipancarkan langsung dari berbagai sumber, seperti debu yang terbawa oleh udara sebagai akibat adanya angin atau partikel asap yang dipancarkan dari cerobong. Aerosol sekunder merujuk pada partikel yang dihasilkan di dalam atmosfir yang mengalami reaksi kimia dari komponen gas.

2. SUMBER DAN DISTRIBUSI Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin atau berasal dari muntahan letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon akan murni atau bercampur dengan gas-gas organik seperti halnya penggunaan mesin disel yang tidak terpelihara dengan baik. Partikulat debu melayang (SPM) juga dihasilkan dari pembakaran batu bara yang tidak sempurna sehingga terbentuk aerosol kompleks dari butir-butiran tar. Dibandingkan dengan pembakaraan batu bara, pembakaran minyak dan gas pada umunya menghasilkan SPM lebih sedikit. Kepadatan kendaraan bermotor dapat menambah asap hitam pada total emisi partikulat debu. Demikian juga pembakaran sampah domestik dan sampah komersial bisa merupakan sumber SPM yang cukup penting. Berbagai proses industri seperti proses penggilingan dan penyemprotan, dapat menyebabkan abu berterbangan di udara, seperti yang juga dihasilkan oleh emisi kendaraan bermotor. Partikulat diemisikan dari berbagai sumber, termasuk pembakaran bahan bakar minyak, (gasoline, diesel fuel), pencampuran dan penggunaan pupuk dan

pestisida, konstruksi, proses-proses industri seperti pembuatan besi dan baja, pertambangan, pembakaran sisa pertanian (jerami), dan kebakaran hutan. Hasil data pemantauan udara ambient di 10 kota besar di Indonesia menunjukan bahwa PM10 adalah parameter yang paling sering muncul sebagai parameter kritis. 3. DAMPAK TERHADAP KESEHATAN Inhalasi merupakan satu-satunya rute pajanan yang menjadi perhatian dalam hubungannya dengan dampak terhadap kesehatan. Walau demikian ada juga beberapa senjawa lain yang melekat bergabung pada partikulat, seperti timah hitam (Pb) dan senyawa beracun lainnya, yang dapat memajan tubuh melalui rute lain. Pengaruh partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada di udara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada diudara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 10 mikron. Pada umunya ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang dapat langsung masuk kedalam paru-paru dan mengendap di alveoli.

Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi. Keadaan ini akan lebih bertambah parah apabila terjadi reaksi sinergistik dengan gas SO2 yang terdapat di udara juga. Selain itu partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata (Visibility) Adanya ceceran logam beracun yang terdapat dalam partikulat debu di udara merupakan bahaya yang terbesar bagi kesehatan. Pada umumnya udara yang tercemar hanya mengandung logam berbahaya sekitar 0,01% sampai 3% dari seluruh partikulat debu di udara Akan tetapi logam tersebut dapat bersifat akumulatif dan kemungkinan dapat terjadi reaksi sinergistik pada jaringan tubuh, Selain itu diketahui pula bahwa logam yang terkandung di udara yang dihirup mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan dosis sama yang besaral dari

makanan atau air minum. Oleh karena itu kadar logam di udara yang terikat pada partikulat patut mendapat perhatian. Penelitian epidemiologis pada manusia dan model pada hewan menunjukan PM 10 (termasuk di dalamnya partikulat yang berasal dari diesel/DEP) memiliki potensi besar merusak jaringan tubuh. Data epidemiologis menunjukan peningkatan kematian serta eksaserbasi/serangan yang membutuhkan perawatan rumah sakit tidak hanya pada penderita penyakit paru (asma, penyakit paru obstruktif kronis, pneumonia), namun juga pada pasien dengan penyakit kardiovaskular/jantung dan diabetes. Anak-anak dan orang tua sangat rentan terhadap pengaruh partikulat/polutan ini, sehingga pada daerah dengan kepadatan lalu lintas/polusi udara yang tinggi biasanya morbiditas penyakit pernapasan (pada anak dan lanjut usia) dan penyakit jantung/kardiovaskular (pada lansia) meningkat signifikan. Penelitian lanjutan pada hewan menunjukan bahwa PM dapat memicu inflamasi paru dan sistemik serta menimbulkan kerusakan pada endotel pembuluh darah (vascular endothelial dysfunction) yang memicu proses atheroskelosis dan infark miokard/serangan jantung koroner. Pajanan lebih besar dalam jangka panjang juga dapat memicu terbentuknya kanker (paru ataupun leukemia) dan kematian pada janin. Penelitian terbaru dengan follow up hampir 11 tahun menunjukan bahwa pajanan polutan (termasuk PM 10 ) juga dapat mengurangi fungsi paru bahkan pada populasi normal di mana belum terjadi gejala pernapasan yang mengganggu aktivitas. PM10 diketahui dapat meningkatkan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung dan pernafasan, pada konsentrasi 140 µg/m3 dapat menurunkan fungsi paru-paru pada anak-anak, sementara pada konsentrasi 350 µg/m3 dapat memperparah kondisi penderita bronkhitis. Toksisitas dari partikel inhalable tergantung dari komposisinya.

4. PENGENDALIAN 4.1. Pencegahan a) Dengan melengkapi alat penangkap debu ( Electro Precipitator ). b) Dengan melengkapi water sprayer pada cerobong.

c) Pembersihan ruangan dengan sistim basah.

d) Pemeliharaan dan perbaikan alat penangkap debu.

e) Menggunakan masker.

4.2. Penanggulangan

a) Memperbaiki alat yang rusak

5. STANDAR BAKU MUTU KUALITAS UDARA PERKOTAAN Baku mutu udara ambien adalah batas maksimum mutu udara ambien untuk mencegah pencemaran udara yang standarnya berpedoman pada ketentuan yang telah ditetapkan pada masing-masing daerah. Kementrian lingkungan hidup telah mengeluarkan Keputusan Mentri dalam hal Ambang Batas Baku Mutu Kualitas Udara Ambien Nasional (BMUAN yang menentukan nilai ambang batas serta metode analisis yang dapat digunakan untuk parameter pencemar udara kriteria yang utama/umum yaitu SO2, CO, NO2, O3, HC, PM10, PM2,5, TSP, Pb, debu jatuh, Fluor, Cl dan ClO2, dan sulfat index (Peraturan Pemerintah RI No.41 tahun 1999. PP No.41/1999), tingkat kebauan untuk parameter NH3, CH3SH, H2S, (CH3)2S, C6H5CHCH2 (Kep- 50/MENLH/11/1996). BMUAN ini perlu digunakan sebagai acuan awal untuk menentukan tujuan kualitas udara yang ingin dicapai. Tetapi, dengan adanya perbedaan kondisi dan karakteristik alam dan perkotaan, di beberapa daerah mungkin diperlukan peraturan baku mutu yang sesuai dengan kondisi daerah. Baku Mutu daerah dapat berbeda dari Baku Mutu Nasional, bila hal ini terjadi, maka ambang batas yang ditetapkan harus lebih ketat dari ambang batas nasional. Pada saat ini, belum banyak daerah yang memiliki Baku Mutu Daerah. Penyusunan baku mutu tersebut akan membutuhkan informasi dari studi-studi dan pengkajian hasil-hasil studi mengenai analisis resiko dan hubungan dosis- respons antara pencemar udara dan kesehatan manusia,tanaman pertanian, dan ekosistem. Data-data tersebut pada umumnya belum banyak tersedia.

Asosiasi antara efek pencemar secara umum dengan Kategori ISPU

Kategori dan Warna

Skala

Efek

a. Baik

0 50

Tidak ada efek bagi kesehatan dan pada lingkungan Tidak ada efek kesehatan tapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif. Merugikan manusia dan hewan yang sensitif dan kerusakan pada tumbuhan dan nilai estetika. Tingkat kualitas yang merugikan kesehatan

b. Sedang

51-100

c. Tidak Sehat

101-199

Sangat

d. Tidak

200-299

Sehat

e.

Berbahaya

 

>300

pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Secara umum berbahaya dan merugikan kesehatan yang serius pada populasi.

 
 

BAKU MUTU UDARA AMBIEN NASIONAL

 

No

Parameter

Waktu

Baku Mutu

Metode

Peralatan

Pengukuran

Analisis

1.

Sulfur

1

jam

 

900

µg/Nm³

Pararosalin

Spectrofotometer

dioksida

24

jam

365

µg/Nm³

(SO2)

1 tahun

60

µg/Nm³

2.

Karbon

1 jam

 

30.000

µg/Nm³

Spektometri

NDIR Analyser

monoksid

24m jam

10.000

µg/Nm³

a (CO)

1 tahun

3.

Nitrigen

1 jam

 

400

µg/Nm³

Pembentukan

Spectrofotometer

dioksida

24

jam

150

µg/Nm³

kompleks

(NO2)

1

tahun

100

µg/Nm³

dengan

 

pereaksi

Saltzman

4.

Ozon (O3)

1jam

 

235

µg/Nm³

Chemilumine

Spectrofotometer

1tahun

50

µg/Nm³

s Cent

5.

Hidrokarb

3jam

 

160

µg/Nm³

Flame

Kromatografi Gas

on (HC)

   

Ionisation

6.

PM10

24jam

150

µg/Nm³

Gravimetri

Hi Volume

PM2,5

24jam

65

µg/Nm³

Gravimetri

High Volume

1tahun

15

µg/Nm³

Sampler

8.

Total

24jam

230

µg/Nm³

Gravimetri

High Volume

Partikel

1tahun

90 µg/Nm³

 

Sampler

Tersuspen

si (TSP)

9. Timbal

24jam

2 µg/Nm³

Gravimetrik

Hi Volume

(Pb)

1tahun

1 µg/Nm³

Ekstraktif

AAS

Pengabuan

10. Gas Fall

30hari

10ton/km²/bl

Gravimetri

Cannister

(Debu

(pemukiman)

Jatuh)

20ton/km²/bl

(industri)

11. Total

24jam

3

µg/Nm³

Spesifik ion

Impinger atau

Flourides

90hari

0,5 µg/Nm³

Elektrode

Continous

(asF)

Analyser

12. Flour

30hari

40µg/100cm²

Colourimetric

Limed Filter

Indeks

dari kertas

Paper

limed filter

13. Clorine

24jam

150 µg/N³

Spesifik ion

Impinger atau

dan

Elektrode

Continous

Clorina

Analyser

dioksida

14. Sulfat

30hari

1mgSO/100c

Colourimetric

Lead Peroksida

Indeks

m² dari lead peroksida

Candle