Anda di halaman 1dari 4

The Secret of Enlightening Parenting

1. Begitu banyak harapan ayah ibu kepada anak. Berharap anak tumbuh cerdas, sehat,
hebat, saleh, dan salihah, namun kerap kali lupa bertanya, apa harapan anak-anak
terhadap kita?
2. Manusia lahir dengan fitrah suci dan berpotensi baik. Manusia lahir bukanlah sebagai
kertas putih, Tuhan telah membekali dengan potensi-potensi baik. Maka tugas
orangtua untuk menjaga potensi baik anak agar tetap baik atau mengupayakan agar
menjadi lebih baik.
3. Tujuh fitrah atau potensi dasar manusia. Pertama fitrah iman. Kesaksian atas Keesaan
Tuhan adalah dasar dari tegaknya iman. Melalui iman yang sifatnya potensial inilah,
anak memerlukan contoh teladan agar potensinya mewujud menjadi nyata. Wujud
nyatanya adalah ketaatan hingga terjaga untuk mempertahankan sifat dan perilaku
yang sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan serta menghindari sifat dan perilaku
yang dilarang Tuhan.
4. Kedua fitrah bertahan hidup. Inisiasi untuk menyusu pada bayi yang baru saja lahir
adalah bukti konkret dari potensi bertahan hidup. Bayu lahir dibekali Tuhan dengan
berbagai macam reflek untuk bertahan hidup. Anak-anak juga memiliki sistem respon
terhadap rasa yang cukup baik. Bayi dan anak-anak akan segera menutup mulut jika
merasa kenyang. Namun seringkali reflek ini dirusak oleh orangtua dengan
memaksanya menghabiskan makanan meskipun sudah kenyang
5. Ketiga fitrah belajar hingga piawai. Tidak anak yang tidak suka belajar kecuali ketika
fitrahnya telah terkubur atau tesimpangkan. Potensi belajar hingga piawai inilah yang
menjadikan anak aktif bergerak dan bereksplorasi, namun orangtua kadang justru
lebih suka melihat anaknya duduk tenang dengan cara diberi gawai atau diberi
hukuman hingga akhirnya menjadi manusia yang apatis.
6. Fitrah kasih sayang. Dan ada fitrah interaksi.dari hasil interaksi inilah perilaku anak
terbentuk yaitu dengan meniru perilaku orang-orang di sekitarnya.
7. Fitrah seksualitas. Fitrah tanggungjawab.saat anak mencoba untuk jujur tentang apa
yang dikerjakannya, kadang amarah dari orangtua menjadikan mereka berpikir,
ernyata jujur itu berbahaya dan tanggungjawabnya tidak dihargai. Hingga kemudian
mereka memilih berbohong dan menyalahkan keadaan atau orang lain karena lebih
aman bagi mereka.
8. Tugas orangtua adalah menjadi teladan (contoh nyata dari perilaku), mengingatkan,
serta memperbaiki ketika anak melangkah di alur yang keliru, dengan segera anak
dibimbing untuk kembali ke jalan yang lurus.
9. Jika anda berteriak menyuurh anak untuk tidak berteriak, apa yang tengah anda
ajarkan? Jika anda meminta anak sabar dengan nada gertakan “sabar dong ah!!”, apa
yang tengah anda contohkan. Jika anda menasihati anak untuk pantang mengeluh
sambil berkata “sampai capek ayah ibu menasihati kamu”. Apa yang tengah anda
ajarkan? Banyak orangtua ingin anaknya sempurna, sementara dirinya lupa
berkaca
10. Anak dituntut cepat mandiri, cepat bicara, cepat rajin beribadah cepat pintar dan cepat
lain-lainnya untuk kepentingan orangtua, demi nama baik orangtua. Hingga tergesa-
gesa dalam memaksakan kehendaknya kepada anak dengan alih-alih kadang Tuhan
dijadikan alasan “ini peintah Tuhan, nanti Tuhan marah”. Nafsu dan ketergesa-gesaan
ini membuat orangtua menggunakan cara-cara yang justru menimbulkan kebencian
dan antipati dalam diri anak. Bayangkan objek kebencian anak adalah tuhan yang
digambarkan secara tidak proposional oleh orangtua sebagai Zat yang hanya suka
menghukum dan memasukkan dalam neraka. Orangtua lupa bahwa mengancam
dengan neraka kepada anak yang belum usia balig adalah kebohongan, karena mereka
belum menanggung dosa.
11. Menanamkan betapa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang serta menanamkan ibadah
adalah sebuah bentuk kecintaan, ketaatan dan kebersyukuran. Hal itu justru akan
memupuk rasa cinta yang mendalam dan kerinduan untuk selalu dekat kepada-Nya.
12. Kelembutan dan kasih sayang adalah dasar penanaman dan pembenahan akhlah anak.
13. Meski setiap pagi tangan tengadah dan berdoa “Jadikanlah anakku anak yang
menyejukkan” tetapi sepanjang siang mengeluh, baik terucap maupun dalam hati
“duh ! ini anak susah banget sih” hasilnya kesejukkan tak kunjung datang. Pantaskah
doa diminta jika kita meyakinin yang sebaliknya? Sangatlah penting menjaga
keselarasan antara doa dan ucapan sehari-hari.
14. Beberapa kesalahan yang sering dilakukan orangtua berakibat rusaknya fitraj anak.
Tidak membiasakan mengambil tanggung jawab. Misal saat anak jatuh biasanya yang
disalahkan adalah lantainya atau objek yang mengenai anak. Ini mengajarkan pada
anak untuk tidak bertanggungjawab atas peristiwa yang terjadi pada dirinya dan
mencari kambing hitam, menyalahkan orang lain dan sekaligus berbohong. Padahal
ucapan yang tepat adalah dengan nada ceria “ayo nak berdiri, kita obati bagian yang
sakit sambil main dokter2an yuk”. Setelah tangis reda anak bisa diajak evaluasi
persitiwa tadi “menurutmu apa yang perlu kamu lakukan supaya tidak jatuh seperti
tadi?”
15. Contoh lain adalah soal menghabiskan makanan. Anak harus menghabiskan makanan
yang porsinya ditentukan dan diambilkan oleh orangtuanya. Seharusnya
orangtuanyalah yang menghabikan. Ajari anak menghabiskan makanan yang
diambilnya sendiri. Mulai mengambil sedikit jika kurang baru mengambil lagi. Ini
konsep yang benar untuk bertanggungjawab dan menghindari perilaku mubazir. Alih-
alih mengharuskan anak bertanggungjawab atas hasil perbuatan orangtua.
16. Menanamkan keyakinan yang salah. Beberapa orangtua sering membuat pernyataan
yang tidak didasari oleh landasan riset ataupun dalil yang benat. Misal minum es
membuat sakit, lari-lari membuat jatuh, hujan menyebabkan masuk angin. Akhirnya
anak mengalami alergi buatan terhadap es dan hujan serta malas melakukan akivitas
fisik.
17. Kadangkala anpa disadari orangtua menularkan keyiknan yang tidak memberdayakan
kepada anak. Misal “ayo belajar, matematika itu susah loh”
18. Berbohong adalah sebuah kesalahan serius yang dianggap sepele. Misal orangtua
sering menyuruh anak berbohong kepada tamu bahwa orangtua tidak sedang di
rumah.
19. Labeling. Positif labeling seperti si pintar si cantik sama bahayanya dengan nehgative
labeling. Labeling positif membuat anak menjadi sombong, terlalu fokus pada hak.
Cara yang tepat adalah memuji yang efektif.
20. Pelit untuk melakukan minta maaf, berterimakasih, menunjukkan kasih sayang, dan
memuji.
21. Cara memuji yang efektif, puji perilaku, usaha dan sikapany bukan karakteristik
orangnya, nyatakan konsekuensi positif dari perilaku itu, nyatakan dalam kalimat
sederhana, tanamkan keimana untuk siapa/dia memelihara perilaku baik itu.
22. Anak yang dipuji kepintarannya mudah frustasi saat mengalami kegagalan dan tidak
berani mengambil resiko. Anak-anak yang dipuji usaha dan perilakunya justru cepat
bangkiy saat tidak berhasil menyelesaikan sebuah tugas dan mau berusaha lebih keras
pada kesempatan berikutnya.
23. Kesalahan pada fokus pada kekurangan, suka mencela dan doyan mengeluh. Ada cara
yang efektif dalam menegur anak.
a. Tegur perilakunya bukan karakteristik orangnya
b. Katakana secara tepat apa kesalahan perilakunya
c. Katakana pada anak bahwa dia mampu membuat perubahan atau pernah
bersikap lebih baik dari itu
d. Tidak mengungkit kesalahan yang lalu
e. Tetap cintai orangnya
24. Mencela sebagai pelupa, pemalas, akan melukai konsep dirinya dan membentuk
konsep diriyang buruk, seolah tiada harapan untuk diperbaiki.
25. Sering memberikan ancaman kosong (misal, akan ditinggal, diturunkan dari mobil
dan lain2) akan menghancurkan nilai anda dimata anak. Mereka akan tumbuh menjadi
anak yang abai, tidak sopan, dan suka melanggar aturan. Begitu juga dengan sering
menakuti2nya, anak akan tumbuh dengan rasa takut terhadap banyak hal.
26. Banyak kasus perilaku tidak pantas seperti berkata kotor atau makian, merusak,
mengambil hak orang lain, hingga penyimpangan seksual yang semua itu bermula
dari pembiaran sejak pertama kali perilaku tersebut muncul. Tegurlah secara tegas
namun tidak perlu marah berkepanjangan.
27. Bagaimana kita akan berhasil menjaga fitrah anak, jika ayah-ibunya sendiri justru
membelokkan cara pandangnya dari memandang hidup sebagai jalan mencari bekal
untuk kehidupan akhirat, menjadi berfokus pada dunia?
28. Dalam otak bayi terdapat jutaan neuron yang belum tersambung. Maka sangat
berbahaya apabila menerima stimulus yang berlebihan (sensory overload) baik secara
visual maupun audio.
29. Tahap perkembangan bahasa pada anak dimulai pada kisaran usia 2-7 tahun. Tahap
ini merupakan tahap emas untuk menanamkan keyakinan dan nilai-nilai kehidupan.
Hubungkan segala sesuatu dengan kasih sayang Tuhan bukan dengan rasa takut dan
seram akan Tuhannya. Bagaimana bisa menumbuhkan rasa cint pada Tuhan sehingga
kelak ia akan menjadi manusia yang beribadah karena cinta dan syukurnya atas kasih
saying Tuhan. Jika orangtua justru menanamkan keyakinan bahwa Tuhan adalah Zat
yang menakutkan?
30. Pada usia 7 hingga 10 atau 11 tahun kemampuan logika anak dalam belajar
memecahkan masalah sederhana, memahami hubungan sebab akibat, berinteraksi
dengan orang lain di luar keluarganya mulai berkembang, maka pada tahap iini nilai-
nilai dan keyakinannya akan mulai dipengaruhi oleh sumber-sumber lain di luar
keluarga. Oleh karena itu, ikatan dan kepercayaan anak pada orangtua pada tahap
sebelumnya sangat menentukan apakah anak akan lebih mendengarkan orangtuanya
atau malah orang lain
31. Pada usia 12 tahu ke atas, anak-anak sudah masuk dalam usia remaja dan sudah dapat
diajak berdiskusi hal yang lebih serius seperti masa depan, cita-cita dll. Jika orangtua
sudah memberikan contoh yang baik dalam berkomunikasi di tahapan sebelumnya.
Membangun kepercayaan dan kedekatan pada masa ini justru menjadi masa yang
menyenangkan
32.