Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA DASAR

Penentuan Kadar Vitamin C

OLEH :

VADIANDA BASTIAN
KELOMPOK 6

1. FANY DESFINOZA (20036139)


2. INDAH HUMAIRA (20036142)
3. SEPTYA ANGGRAINI (18036146)
4. SHABRINA DINI ALIFAH.S (18036147)
5. SUCI PUSPITA ANGGRAINI (18036149)
6. VIRA AMANDA (18036151)

DOSEN PENGAMPU

Dra. Iryani, M.S.

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN


ALAM UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020
PENENTUAN KADAR VITAMIN C

A. TUJUAN
1. Mengetahui cara kerja metoda analisa Vitamin C

2. Menentukan kadar Vitamin C secara Spektrofotometri UV-Vis

3. Menentukan kadar Vitamin C secara Iodometri

B. DASAR TEORI
Pada dasarnya konsep analisis kimia dapat dibagi atas 2 bagian, yakni analisis
kualitaif dan analisis kuantitatif. Ada 2 aspek penting dalam analisis kualitatif yaitu
pemisahan dan identifikasi. Kedua aspek ini dilandasi oleh kelarutan, keasaman
pembentukan senyawa kompleks, oksidasi-reduksi, sifat penguapan, dan ekstraksi. Sifat-
sifat ini sebagai sifat periodic menunjukkan kecenderungan dalam kelarutan klorida,
sulfide, hidroksida, dan karbonat sulfat dan garam-haram lainnya dari logam. Analisis
kimia kuantitaif menyangkut analysis gravimetric dan titirimetri. Dalam analysis
gravimetri, zat yang akan ditentukan diubah ke dalam bentuk endapan yang sukar larut,
selanjutnya dipisahkan dan ditimbang. Sedangkan analisis titrimetri yang sering disebut
analisis volumetric, zat yang akan ditentukan dibiarkan berekasi dengan suatu perekasi
yang diketahui sebagai larutan standar (baku). Kemudian volume larutan tersebut yang
diperlukan untuk dapat bereaksi sempurna tersebut diukur (Barsasella, 2012 ).
Iodin adalah salah satu reagen yang paling populer pada analisis kimia. Pada
iodimetri, iodin digunakan sebagai titran pada titrasi langsung, dan juga pada titrasi tidak
langsung, berdasarkan pada reaksi antara agen pengoksidasi kuat dan ion iodida berlebih
untuk menghasilkan jumlah iodin yang equivalen dengan analit. Iodin kemudian dititrasi
dengan larutan standar dari agen pereduksi. Kondisi dari larutan juga memainkan peranan
penting selama tirasi iodimetri. Untuk menunjukkan reaksi yang cepat dan tepat dari
oksidan dengan potensial reduksi yang relatif rendah (contohnya natrium tiosulfat,
hidrogen sulfida), larutan asam dari iodin harus digunakan. Bagaimanapun, untuk
mengoksidasi agen pereduksi lemah (arsenic (III) atau ion antimonium (III) dengan iodin,
salah satu dari medium alkaline netral diperlukan. Potensial normal redoks dari pasangan
reversible I2/I adalah 0,535 V. Nilai ini tidak berpengaruh pada pH larutan sampai pH 9.
Pada pH yang lebih tinggi, iodin bereaksi dengan ion hidroksida untuk memproduksi ion
iodida dan iodat (Ciesielski, 2006)
Iodimetri merupakan titrasi langsung dengan menggunakan baku iodin (I2) dan
digunakan untuk analisis kuantitatif senyawa-senyawa yang mempunyai potensial
oksidasi lebih kecil daripada system iodium-iodida sebagaimana persamaan di atas atau
dengan kata lain digunakan untuk senyawa-senyawa yang bersifat reduktor yang cukup
kuat seperti vitamin C. Titrasi iodimetri adalah titrasi berdasarkan reaksi oksidasi antara
iodin sebagai pentiter dengan reduktor yang memiliki potensial oksidasi lebih rendah dari
sistem iodin-iodida. Persamaan reaksi yang terjadi antara iodin dengan vitamin C adalah:
I3- + 2ē ⇌ 3IC6H6O6 + 2 H+ + 2ē → C6H8O6

Titik ekuivalen dalam titrasi kali ini ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi
ungu kehitaman, yang menandakan bahwa vitamin C telah habis bereaksi dengan iodin,
dan kemudian iodin bereaksi dengan larutan kanji sehingga menghasilkan warna ungu
kehitaman (Masitoh, 2014).

Vitamin C adalah vitamin yang larut dalam air, vitamin C bermanfaat untuk
memperkuat daya tahan tubuh dan menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh, serta
mampu menyerap zat besi dari makanan yang dibutuhkan untuk mencegah anemia.
Untuk menentukan kadar vitamin C digunakan metode iodimetri. Dasar dari metode
iodimetri adalah bersifat mereduksi vitamin C (asam askorbat). Asam askorbat
merupakan zat pereduksi yang kuat dan secara sederhana dapat dititrasi dengan larutan
baku iodium. Metode iodimetri (titrasi langsung dengan larutan baku iodium 0,1 N) dapat
digunakan pada asam askorbat murni atau larutannya (Agustina, 2014).

Perbedaan teknik pengukuran dan proses pemerasan juga berpengaruh pada


kandungan vitamin C dalam jus buah. Faktor iklim, temperature dan jumlah pupuk
nitrogen yang digunakan pada penumbuhan tanaman dan kondisi iklim seperti cahaya
berpengaruh pada konsentrasi AA buah. Contohnya, peningkatan jumlah pupuk nitrogen
dari 80-120 kg/ha menurunkan kandungan vitamin C sebanyak 7% pada kembang kol.
Jumlah kandungan vitamin C pada jus buah juga bisa dipengaruhi oleh jenis
penyimpanan. Jus buah harus disimpan pada suhu dingin. Ketika jus buah ditempatkan
pada suhu dingin, kandungan vitamin C akan berkurang, bagaimanapun penyimpanan
vitamin C pada suhu yang dingin akan mengurangi kandungan vitamin C. Hal ini karena
vitamin C sangat sensitive terhadap temperature dan sangat mudah dioksidasi (Bekele,
2015).
Terdapat beberapa metode untuk mengetahui kadar vitamin C pada suatu bahan pangan
yaitu metode titrasi Iodometri dan metode spektrofotometri.
a. Metode Titrasi Iodometri

Metode ini paling banyak digunakan, karena murah, sederhana, dan tidak memerlukan
peralatan laboratorium yang canggih. titrasi ini memakai Iodium sebagai oksidator yang
mengoksidasi vitamin C dan memakai amilum sebagai indikatornya. Metode titrasi iodometri
langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi
iodometri tak langsung (iodometri) adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan
dalam reaksi kimia. Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri
adalah natrium tiosulfat. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara
langsung, tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Larutan natrium thiosulfat tidak
stabil untuk waktu yang lama. Tembaga murni dapat digunakan sebagai standar primer
untuknatrium thiosulfat dan dianjurkan apabila thiosulfat harus digunakan untuk penentuan
tembaga. Menggunakan metode iodometrik kita menggunakan indikator kanji dimana warna
dari sebuah larutan iodin 0,1 N cukup intens sehingga iodin dapat bertindak sebagai indikator
bagi dirinya sendiri. Iodin juga memberikan warna ungu atau violet yang intens untuk zat-zat
pelarut seperti karbon tetra korida dan kloroform. Namun demikan larutan dari kanji lebih
umum dipergunakan, karena warna biru gelap dari kompleks iodin–kanji bertindak sebagai
suatu tes yang amat sensitiv untuk iodine. Dalam beberapa proses tak langsung banyak agen
pengoksid yang kuat dapat dianalisis dengan menambahkan kalium iodida berlebih dan
mentitrasi iodin yang dibebaskan. Karena banyak agen pengoksid yang membutuhkan larutan
asam untuk bereaksi dengan iodin, Natrium tiosulfat biasanya digunakan sebagai titrannya
[ CITATION Day81 \l 1057 ].

b. Spektrofotometri

Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran


serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang
spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum
phototube atau tabung foton hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu
alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun
kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi
dari konsentrasi. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang
tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau
diabsorbsi.
Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu
dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi.
Kelebihan spectrometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih
dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah
optis. Pada fotometer filter berbagai filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi
melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter tidak mungkin
diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek
panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang
benar-benar terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma.
Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu,
monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk
mengukur perbedaan absorbsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding. Pengertian
spektrofotometri lebih spesifik atau pengertiannya lebih sempit karena ditunjukan pada
interaksi antara materi dengan cahaya (baik yang dilihat maupun tidak terlihat), sedangkan
pengertian spektroskopi lebih luas misalnya cahaya maupun medan magnet termasuk
gelombang elektromagnetik [ CITATION Eka07 \l 1057 ].
C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS IODOMETRI

Alat Bahan Alat Bahan

Gelas ukur100 mL Serbuk Vitamin C Buret 50 mL Amilum 1%

Pipet takar 10 mL Sampel Vitamin C Corong Larutan I2 0,01 N

Pipet tetes Aquadest Erlenmeyer 100 mL Sampel Vitamin C

Pipet mikro Beaker Glass 100 mL Na2S2O3.5H2O

Labu ukur 50 mL Beaker Glass 250 mL

Bulp Gelas Ukur 100 mL

Spatula Kaca Arloji

Kertas saring Labu Ukur 50 mL

Kaca arloji Pengaduk Kaca

Timbangan digital Pipet Tetes

Erlenmeyer 250
Pipet Ukur 10 mL
mL

Beaker Glass 250


Pipet Ukur 5 mL
mL

Pipet Ukur 1 mL

Propipet

Spatula

Statif dan Klem

Lumpang dan Alu

Botol aquadest
D. PROSEDUR KERJA
SPEKTROFOTOMETER UV-Vis
1. Penentuan Kadar Larutan Standar

2. Penentuan Kadar Vitamin C


IODOMETRI

1. Pembakuan Larutan Standar I2

2. Penentuan Kadar Vitamin C


E. Tabel Pengamatan dan Perhitungan

SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

Konsentrasi larutan induk = 25 mg/0,05 L


= 500 ppm

Standar 1 Standar 2
V1 N1 = V2 N2 V1 N1 = V2 N2
V1 500 ppm = 10 mL x 1 ppm V1. 500 ppm = 10 mL x 2 ppm
V1 = 20 μL V1 = 40 μL

Standar 3 Standar 4
V1 N1 = V2 N2 V1 N1 = V2 N2
V1 .500 ppm = 10 mL x 4 ppm V1 .500 ppm = 10 mL x 5 ppm
V1 = 80 μL V1 = 100 μL

Standar 5 Standar 6
V1 N1 = V2 N2 V1 N1 = V2 N2
V1 .500 ppm = 10 mL x 6 ppm V1 .500 ppm = 10 mL x 8 ppm
V1 = 120 μL V1 = 160 μL

Standar 7
V1 N1 = V2 N2
V1 .500 ppm = 10 mL x 10 ppm
V1 = 200 μL

Kurva kalibrasi standar

Konsentrasi Absorban
(ppm)
1 0,085
2 0,092
4 0,38
5 0,417
6 0,445
8 0,762
10 1,002
sampel 1 0,368
sampel 2 0,352
sampel 3 0,365
Persamaan regresi yang diperoleh adalah y = 0,1368x – 0,2179

Kurva Persamaan Regresi

f(x) = 0.14 x − 0.22


R² = 0.93 0.76
ABSORBAN

0.42 0.45
0.38

0.09 0.09
0
KONSENTRASI (ppm)

Pengukuran Kadar Sampel Vitamin C

Konsentrasi sampel = mg sampel/mL sampel

= 50 mg/0,1 l

= 500 ppm

Factor pengenceran = 100 x 0,1 mL larutan yang dipipet dari larutan sampel induk yang
dilarutkan dalam labu 10 mL

1. Absorbansi sampel 1 adalah 0,368

y = 0,1368x – 0,2179

0,368 = 0,1368x – 0,2179

x = 1,0972 ppm

Konsentrasi vitamin C yang sebenarnya adalah

= factor pengenceran x konsentrasi sampel

= 100 x 1,0972

= 109,72 ppm

Kadar vitamin C dalam sampel :


= (konsentrasi vitamin C dalam sampel / konsentrasi sampel) x 100%
= (109,72 / 500) x 100% = 21,94 %

2. Absorbansi sampel 2 adalah 0,352

y = 0,1368x – 0,2179

0,352 = 0,1368x – 0,2179

x = 0,9803ppm

Konsentrasi vitamin C yang sebenarnya adalah

= factor pengenceran x konsentrasi sampel

= 100 x 0,9803

= 98,03 ppm

Kadar vitamin C dalam sampel :


= (konsentrasi vitamin C dalam sampel / konsentrasi sampel) x 100%
= (98,03/500) x 100% = 19,61%

1. Absorbansi sampel 3 adalah 0,365


y = 0,1368x – 0,2179

0,365 = 0,1368x – 0,2179

x = 1,0753 ppm

Konsentrasi vitamin C yang sebenarnya adalah

= factor pengenceran x konsentrasi sampel

= 100 x 1,0753

= 107,53 ppm

Kadar vitamin C dalam sampel :


= (konsentrasi vitamin C dalam sampel / konsentrasi sampel) x 100%
= (107,53/500) x 100% = 21,51 %

Kadar sampel rata-rata = 21,94 % + 19,61% + 21,51 % / 3

= 21,02%
IODOMETRI

Massa Na2S2O3.5H2O = 0,2468 gram

Massa sampel Vitamin C = 0,2002 gram

V Na2S2O3
Percobaan V I2 (mL) Percobaan V Sampel (mL) V I2 (mL)
(mL)
1 10 10,20 1 10 10,20
2 10 10,00 2 10 10,00
3 10 10,10 3 10 10,10
V rata-rata 10 10,10 V rata-rata 10 10,10
Tabel Hasil Titrasi Standardisasi Larutan I2 dan Penentuan Kadar Vitamin C

1. Konsentrasi Tepat Larutan Na2S2O3.5H2O 0,01 N

2. Standardisasi Larutan I2 0,01 N

3. Penentuan Kadar Vitamin C

Batas kadar Vitamin C yang diperbolehkan menurut Farmakope Indonesia (FI) adalah 30-180
mg ( ± 70–90 % ).
E. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yang berjudul penentuan Kadar Vitamin C bertujuan Mengetahui
cara kerja metoda analisa Vitamin C, Menentukan kadar Vitamin C secara Spektrofotometri
UV-Vis dan secara Iodometri.Dalam praktikum ini kandungan vitamin C akan ditentukan
panjangnya gelombang maksimum dengan spektrofotometri. Larutan asam askorbat standar
digunakan untuk membuat kurva kalibrasi. Sampel dilarutkan dalam air , dan kemudian larutan
standar diperoleh dengan mengukur kadarnya dengan spektrofotometer ultraviolet. Dalam
praktiknya, sinar ultraviolet digunakan. penggunaan spektrofotometri untuk menentukan kadar
vitamin C sangat lemah, dengan penurunan 0,81%. Vitamin C sangat mudah larut dalam air
(1g dapat larut sempurna dalam 3 ml air), sedikit larut dalam alkohol (1 g larut dalam 50 ml
alkohol absolut atau 100 ml gliserin) dan tidak larut dalam benzena, eter, kloroform, minyak
dan sejenisnya. Vitamin C tidak stabil dalam bentuk larutan, terutama jika terdapat udara, serta
logam-logam seperti Cu, Fe, dan cahaya. Rumus bangun vitamin C dapat dilihat yaitu :

Vitamin C merupakan asam gula yang banyak terdapat pada buah-buahan dan sayur-
sayuran segar. Kegunaan vitamin C adalah sebagai antioksidan dan berfungsi penting dalam
pembentukan kolagen, membantu penyerapan zat besi, serta membantu memelihara pembuluh
kapiler, tulang, dan gigi. Konsumsi dosis normal vitamin C adalah 60-90 mg/hari.

Untuk menjaga stabilitas asam askorbat, larutan buffer pH 5,4 harus ditambahkan ke
sampel. Karena pada pH ini vitamin C terbentuk selama 30 menit pada suhu kamar. PH asam
juga akan mencegah terjadinya reaksi oksidasi , yang juga dapat mengurangi kadar vitamin C
yang dapat diukur. Selain itu, pengukuran suhu asam askorbat dijaga pada suhu ruang, dan
sampel harus diletakkan di atas es (ditutup dengan es) untuk menurunkan suhu yang dapat
menyebabkan kerusakan asam askorbat. . Dari pengukuran standar, didapatkan kurva kalibrasi
dengan persamaan y = 0,1368x - 0,2179 dan absorbansi sampel vitamin c totalnya 0,361, dan
terlihat kandungan asam askorbat pada sampel vitamin c adalah 1,0509 ppm. Volume yang
diukur akan dikalikan dengan faktor pengenceran (100x) sehingga volume sebenarnya adalah
105,09 ppm, yang diperoleh dari larutan vitamin 100 ppm. Diukur sebagai persentase,
mengandung 21,02% kandungan asam askorbat vitamin C.
Yang kedua Penentuan kadar vitamin C dalam suatu sampel dapat dilakukan dengan
iodimetri. Iodimetri adalah oksidasi kuantitatif dari senyawa pereduksi dengan menggunakan
iodium. Iodimetri ini terdiri dari 2 jenis yaitu: (a) Iodimetri metode langsung, merupakan
titrasi iodimetri dimana bahan pereduksi langsung dioksidasi dengan larutan baku Iodium.
Contohnya pada penetapan kadar asam askorbat atau vitamin C dan (b) Iodimetri metode
residual (titrasi balik), merupakan titrasi bahan iodimetri dimana bahan pereduksi dioksidasi
dengan larutan baku iodium dalam jumlah berlebih, dan kelebihan iod akan dititrasi dengan
larutan baku natrium tiosulfat.

Pada praktikum ini jenis titrasi iodimetri yang digunakan adalah jenis pertama yaitu
metode titrasi langsung yang digunakan untuk menentukan kadar vitamin C . Titrasi iodimetri
adalah titrasi berdasarkan reaksi oksidasi antara iodin sebagai pentiter dengan reduktor yang
memiliki potensial oksidasi lebih rendah dari sistem iodin dengan menggunakan indikator
amilum (kanji). Titrasi ini dilakukan dalam suasana netral sedikit asam yaitu sekitar pH 5-8.
Dalam titrasi iodimetri, iodin digunakan sebagai agen pengoksidasi, namun dapat dikatakan
bahwa hanya sedikit saja substansi yang cukup kuat sebagai unsur reduksi yang dititrasi
langsung dengan iodin. Dalam hal ini vitamin C merupakan pereduksi yang sangat kuat, maka
vitamin C tepat jika digunakan sebagai sampel dalam titrasi iodimetri pada praktikum ini.

Dalam titrasi iodimetri, iodin akan mengoksidasi senyawa-senyawa yang mempunyai


potensial reduksi yang lebih kecil dibandingkan potensial reduksi iodin . Oleh karena itu, tidak
mungkin mereduksi oksidator atau oksidator. Dalam metode analisis ini, sampel direduksi oleh
I2, sehingga I2 direduksi menjadi ion iodium. Kadar vitamin C ditentukan oleh yodium secara
kuantitatif. Yodium adalah oksidan lemah, sehingga agen pereduksi kuat dapat dititrasi.
Vitamin C dalam sampel adalah agen pereduksi kuat, yang melepaskan I2 ke atmosfer asam,
dan kemudian I2 direduksi menjadi ion yodium. Pertama, validasi I2 dapat menentukan
konsentrasi sebenarnya. Ini karena ion I2 dapat dioksidasi menjadi O2 di luar angkasa. Udara
bekerja dengan cepat dalam suasana asam atau ringan, tetapi juga melambat di atmosfer netral.

Titrasi dilakukan dengan menggunakan pati sebagai indikator, yang menentukan akhir
titrasi dengan adanya cairan biru tua. warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan.
Pengenceran kompleks pati dalam air sangat kecil, sehingga ditambahkan pada akhir reaksi.
Hasil titrasi lengkap menunjukkan kandungan vitamin C 88,02%. Respon sebenarnya terhadap
vidio diperbolehkan sesuai dengan kadar vitamin C (30-180 mg (± 70-90%)) yang ditentukan
oleh Farmakope Indonesia (FI).
F. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa
kadar vitamin C yang terdapat pada sampel adalah :
1. Kadar asam askorbat vitacimin apabila diukur dalam persen akan berjumlah sebesar
21.02%.
2. Hasil titrasi yang telah dilakukan sebesar 88,02%, sesuai batas kadar vitamin c yang
ditentukan menurut Farmakope Indonesia (FI) adalah 30-180 mg ( ± 70–90 % ).

I. LINK VIDIO

https://www.youtube.com/watch?v=LnsZM-vOBMQ&feature=youtu.be
DAFTAR PUSTAKA

Agustina, A dan Rahmi, N. 2014. Penetapan Kadar Vitamin C pada Buah Belimbing Wuluh
Averrhoa Bilimbi L.) secara Iodimetri. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Obat dan Obat Tradisional : Karanganyar.

Barsasella, D. 2012. Buku Wajib Kimia Dasar. Jakarta : TIM.

Bekele, D.A. dan Girma, S.G. 2015. Iodometric Determination of the Ascorbic Acid (Vitamin
C) content of some Fruits consumed in Jimma Town Community in Ethiopia. Ethiopia:
Jimma University.

Ciesielski, W dan Robert, Z. 2006. Iodimetric Titration of Sulfur Compounds in Alkaline


Medium. Polandia : University of £ódz.

Eka. (2007). Metode Analisa Kimia-Spektrofotometri. Jakarta.: Gramedia

JR, R.A. Day dan A.L. Underwood. 1981. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga.

Masitoh, S.,dkk. 2014. Titrasi Iodimetri Penentuan Kadar Vitamin C. Jakarta : Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Anda mungkin juga menyukai