Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas


produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun
perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi
tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Organisme pengganggu tanaman merupakan
salah satu penghambat produksi dan penyebab ditolaknya produk tersebut masuk
ke suat negara, karena dikawatirkan akan menjadi hama baru di negara yang
ditujunya. Berdasarkan pengalaman, masih adanya permasalahan OPT yang
belum tuntas penanganannya dan perlu kerja keras untuk mengatasinya dengan
berbagai upaya dilakukan, seperti lalat buah pada berbagai produk buah dan
sayuran buah dan virus gemini pada cabai. Selain itu, dalam kaitannya dengan
terbawanya OPT pada produk yang akan diekspor dan dianalis potensial masuk,
menyebar dan menetap di suatu wilayah negara, akan menjadi hambatan yang
berarti dalam perdagangan internasional.
Petani sebagai pelaku utama kegiatan pertanian sering menggunakan
pestisida sintetis terutama untuk hama dan penyakit yang sulit dikendalikan,
seperti penyakit yang disebabkan oleh virus dan patogen tular tanah (soil borne
pathogens). Untuk mengendalikan penyakit ini petani cenderung menggunakan
pestisida sintetis secara berlebihan sehingga menimbulkan dampak buruk bagi
kesehatan dan lingkungan. Hal ini dilakukan petani karena modal yang telah
dikeluarkan cukup besar sehingga petani tidak berani menanggung resiko
kegagalan usaha taninya.
Dilema yang dihadapi para petani saat ini adalah disatu sisi cara
mengatasi masalah OPT dengan pestisida sintetis dapat menekan kehilangan hasil
akibat OPT, tetapi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Di sisi lain, tanpa
pestisida kimia sintetis akan sulit menekan kehilangan hasil akibat OPT. Padahal
tuntutan masyarakat dunia terhadap produk pertanian menjadi bertambah tinggi

1
terutama masyarakat negara maju, tidak jarang hasil produk pertanian kita yang
siap ekspor ditolak hanya karena tidak memenuhi syarat mutu maupun kandungan
residu pestisida yang melebihi ambang toleransi.
Penggunaan pestida yang kurang bijaksana seringkali menimbulkan
masalah kesehatan, pencemaran lingkungan dan gangguan keseimbangan ekologis
(resistensi hama sasaran, gejala resurjensi hama, terbunuhnya musuh alami) serta
mengakibatkan peningkatan residu pada hasil. Terdapat kecenderungan penurunan
populasi total mikroorganisme seiring dengan peningkatan takaran pestisida. Oleh
karena itu perhatian pada alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan
semakin besar untuk menurunkan penggunaan pestisida sintetis.
Pelaksanaan program pengendalian hama terpadu (Integreted Pest
Management) merupakan langkah yang sangat strategis dalam kerangka tuntutan
masyarakat dunia terhadap berbagai produk yang aman dikonsumsi, menjaga
kelestarian lingkungan, serta pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan
yang memberikan manfaat antar waktu dan antar generasi. Salah satu komponen
pengendalian hama terpadu (PHT) yang sesuai untuk menunjang pertanian
berkelanjutan pembangunan pertanian secara hayati karena pengendalian ini lebih
selektif (tidak merusak organisme yang berguna dan manusia) dan lebih
berwawasan lingkungan. Pengendalian hayati berupaya memanfaatkan pengendali
hayati dan proses-proses alami. Aplikasi pengendalian hayati harus kompatibel
dengan peraturan (karantina), pengendalian dengan jenis tahan, pemakaian
pestisida dan lain-lain. Berbagai kendala yang menyangkut komponen hayati
antara lain adalah adanya kesan bahwa cara pengendalian hayati lambat kurang
diminati. Oleh karena itu terasa pentingnya suatu komitmen untuk menentukan
suatu gerak terpadu melalui konsep pengendalian hayati yang menguntungkan dan
berkelanjutan dalam pemanfaatannya.
B. Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan OPT?


b. Organisme apa saja yang termasuk dalam pengganggu tanaman yang sering
menyerang di Desa Angata?
c. Apa saja keuntungan dan kerugian dari adanya OPT?

2
d. Bagaimana kebiasaan penduduk Desa Angata untuk mengendalikan OPT?

C. Tujuan

a. Mengetahui pengertian OPT secara mendalam.


b. Mengetahui organisme-organisme yang termasuk OPT yang sering
menyerang di Desa Angata.
c. Mengetahui keuntungan dan kerugian dari adanya OPT tersebut.
d. Mengetahui kebiasaan penduduk Desa Angata untuk mengendalikan OPT.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian OPT
Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah semua organisme yang
dapat merusak, menggangu kehidupan atau menyebabkan kematian pada
tumbuhan. Organisme penganggu tanaman merupakan faktor pembatas produksi
tanaman baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme
pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit
dan gulma. Organisme pengganggu tanaman merupakan salah satu penghambat
produksi dan penyebab ditolaknya produk tersebut masuk ke suat negara, karena
dikawatirkan akan menjadi hama baru di negara yang ditujunya. Masih banyak
permasalahan OPT yang belum tuntas penanganannya dan perlu kerja keras untuk
mengatasinya dengan berbagai upaya dilakukan, seperti lalat buah pada berbagai
produk buah dan sayuran buah dan virus gemini pada cabai. Selain itu, dalam
kaitannya dengan terbawanya OPT pada produk yang akan diekspor dan dianalis
potensial masuk, menyebar dan menetap di suatu wilayah negara, akan menjadi
hambatan yang berarti dalam perdagangan internasional.

B. Organisme-organisme yang termasuk Opt yang Sering Menyerang di


Desa Angata.

Beberapa filum yang anggotanya diketahui berpotensi sebagai hama


tanaman adalah Aschelminthes (nematoda), Mollusca (siput), Chordata (binatang
bertulang belakang), dan Arthropoda (serangga, tunggau, dan lain-lain). Dalam
uraian berikut akan dibicarakan secara singkat tentang sifat-sifat morfologi luar
anggota filum tersebut.
1. Filum Nematoda
Sastrosuwignyo (1990) menyatakan bahwa tidak semua anggota
Nematoda berperan sebagai hama tanaman atau bersifat parasitik, namun ada juga
yang bersifat saprofag yang tidak merugikan tanaman. Nematoda sering

4
ditemukan pada tempat-tempat atau habitat yang basah, misalnya dalam air, tanah,
tanaman, binatang, dan manusia. Nematoda berukuran sangat kecil, berbentuk
silindris, tidak berwarna (transparan), bilateral simetris, tidak beruas, mempunyai
rongga tubuh semu (pseudocoelomates), bagian kepala agak tumpul, sedangkan
bagian ekornya agak runcing. Selama hidupnya nematoda dapat mengalami
pegantian kulit sebanyak empat kali. Cara nematoda menyerang tanaman
bervariasi, yaitu :
a. Ektoparasit, yaitu menyerang dari luar jaringan tanaman, misalnya
Criconemoides sp dan Xiphinema sp.
b. Endoparasit, yaitu menyerang dari dalam jaringan tanaman. Ada yang
bersifat sedentary (menetap), misalnya nematoda puru akar
(Meloidogyne spp.), dan ada yang bersifat migratory (berpindah),
misalnya Pratylenchus sp.
c. Ektoendoparasit, yaitu setelah dewasa nematoda meletakkan sebagian
tubuhnya ke dalam tanaman, misalnya Rotylenchus sp.
d. Endoektoparasit, yaitu telur dan larva berkembang dalam tubuh tanaman,
kemudian sebagian tubuhnya keluar dari jaringan tanaman, misalnya
2. Heterodera sp.
Akibat serangan nematoda, maka tanaman akan mengalami gejala
kerusakan yang beragam, tergantung jenis nematodanya. Berdasarkan gejala
kerusakannya, nematoda dibedakan menjadi :
a. Nematoda puru/bengkak (gall nematodes), misalnya Anguina tritici
penyebab puru pada daun dan biji gandum.
b. Nematoda batang (stem nematodes), misalnya Ditylenchus dipsaci
yang      menyebabkan pembengkakan batang dan pembusukan umbi
lapis (bawang).
c. Nematoda daun (leaf nematodes), misalnya Aphelenchoides besseyi yang
menyebabkan pucuk daun memutih pada tanaman padi.
d. Nematoda puru akar (root-knot nematodes), misalnya Meloidogyne sp
yang      menyebabkan perakaran membengkak pada famili Solanaceae,
sehingga        pertumbuhan tidak normal.

5
Nematoda dapat berperan sebagai vektor penyakit, misalnya dari ordo
Dorylaimida yaitu nematoda jarum (Longidorus sp.) dan nematoda keris
(Xiphinema sp.). Keduanya bersifat ektoparasit dan dapat menularkan penyakit
virus. Nematoda ini menyerang tanaman dengan cara mencucuk dan mengisap
cairan sel akar. Luka tusukan tersebut sering diikuti oleh serangan
mikroorganisme sekunder (bakteri dan cendawan) sehingga menimbulkan
pembusukan. Akibatnya pertumbuhan tanaman merana dan perkembangannya
terhambat.
3. Filum Chordata
Filum Chordata mempunyai banyak anggota, namun tidak semuanya
berperan sebagai hama tanaman. Anggota filum ini yang banyak berperan sebagai
hama adalah Kelas Mamalia (hewan menyusui) dan kelas Aves (burung). Dari
kelas mamalia, ordo Rodentia (binatang mengerat) merupakan ordo yang paling
merugikan, misalnya tupai (Callosciurus notatus) dan tikus sawah (Rattus rattus
argentiventer). Disamping itu kelelawar, musang, landak, dan satwa liar seperti
gajah, kera, babi hutan, rusa, dan beruang juga dapat berperan sebagai hama yang
merugikan. Sedangkan dari kelas aves yang berperan sebagai hama misalnya
burung pipit (Lonchura leucogastroides (Horsf. dan Moore)). Mamalia yang
dianggap menjadi hama menyerang tanaman sebagai berikut:
a. Tikus (Rattus-rattus spp.)
Tikus merupakan hama paling penting dibandingkan dengan hama-hama
dari golongan mamalia lainnya. Perkembangbiakan tikus sangat cepat, dan
tanaman yang disukainya cukup banyak. Tikus dapat menyebabkan kerusakan
tanaman padi pada areal yang luas sejak di persemaian sampai menjelang panen.
Disamping itu tikus juga menyerang tanaman lainnya yaitu jagung, kedelai,
kacang tanah, ubi jalar, tebu, kelapa, dan kelapa sawit (Kalshoven,1981). Pada
umumnya tikus menyerang tanpa mengenal tempat, sejak di persemaian,
pertanaman sampai di tempat penyimpanan. Tikus aktif menyerang tanaman pada
malam hari. Tikus yang lapar akan memakan hampir semua benda yang
dijumpainya. Jika makanan cukup tersedia, tikus akan memilih jenis makanan
yang paling disukai, seperti padi yang sedang bunting, dan jagung muda. Pada

6
saat makanan banyak tersedia, perkembangbiakan tikus berlangsung sangat cepat
(Rukmana dan Saputra, 1997). Tiga jenis tikus yang sering merusak tanaman
pertanian menurut Kalshoven (1981) adalah sebagai berikut :
1) Tikus sawah (Rattus rattus argentiventer), tikus sawah mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut: panjang dari hidung sampai ujung ekor antara 270 mm – 370
mm, berat badan rata-rata ± 130 gram, panjang ekor ± 95 persen panjang badan
(dari kepala sampai pangkal ekor), tikus betina mempunyai 12 puting susu,
yaitu terdiri atas tiga pasang di bagian dada dan tiga pasang di bagian perut,
warna badan kelabu gelap, sedang bagian dada dan perutnya berwarna keputih-
putihan.
2) Tikus rumah (Rattus rattus diardi), tikus rumah mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut: panjang dari hidung sampai ujung ekor antara 220 mm – 370 mm,
panjang ekor sama atau lebih panjang 105 persen dari panjang badan (hidung
sampai pangkal ekor), tikus betina mempunyai puting susu 10 buah, yaitu
terdiri dari dua pasang di bagian dada dan tiga pasang di bagian perut, warna
bulu badan bagian atas dan bagian bawah cokelat tua kelabu, makanan tikus
rumah diperoleh dari sisa makanan manusia, atau makanan yang disimpan
tidak rapi, dan hasil pertanaman yang disimpan di gudang atau tanaman-
tanaman yang berada di kebun dekat rumah.
3) Tikus pohon (Rattus tiomanicus), ciri-ciri tikus pohon adalah sebagai berikut:
ekor lebih panjang 110 persen dari panjang badan (hidung sampai pangkal
ekor), jumlah puting susu betina 10 buah yaitu terdiri atas dua pasang di bagian
dada dan tiga pasang di bagian perut, warna bulu badan pada bagian punggung
kemerah-merahan, sedangkan pada bagian perut hampir seluruhnya putih dan
tikus ini sering menyerang buah kelapa, kakao, dan kopi.
b. Filum Arthropoda
Sebagian besar hama tanaman yang kita kenal merupakan anggota
filum Arthropoda. Filum ini mempunyai ciri yang sangat khas yaitu tubuh
terbagi menjadi 2 atau 3 bagian, tubuh dan kaki beruas-ruas, alat tambahan
beruas-ruas dan berpasangan dan dinding tubuh bagian luar berupa skeleton
yang secara periodik dilepas dan  diperbaiki/diganti. Anggota filum

7
Arthropoda yang berperan sebagai hama berasal dari Kelas Acharina dan
Insecta (serangga) (Ananda, 1983).
a. Kelas Arachnida
Menurut Ananda (1983), anggota kelas Arachnida ada yang berperan
sebagai hama tanaman, dan adapula yang berperan sebagai predator
hama tanaman. Salah satu contoh jenis yang berperan sebagai hama
tanaman adalah tungau merah Tetranichus bimaculatus yang menyerang
tanaman ketela pohon terutama pada musim kemarau. Gejala yang
ditimbulkannya berupa bercak-bercak kekuningan, karena cairan sel daun
diisapnya. Daun ini akhirnya kering dan rontok. Contoh yang berperan
sebagai predator adalah laba-laba. Ciri khas Arachnida adalah: kaki
empat pasang yang terdiri atas tujuh ruas, yaitu coxa, trochanter, patela,
femur, tibia, metatarsus dan tarsus, tubuh terbagi menjadi dua bagian,
yaitu gabungan kepala dan dada (cephalothorax) serta abdomen, tidak
bersayap dan memiliki alat tambahan berupa sepasang pedipalpus.
b. Kelas Insecta atau Hexapoda
Anggota kelas insecta disebut juga hexapoda karena memiliki 6 kaki.
Anggota kelas ini menempati peringkat paling atas dalam hal peranannya
sebagai hama tanaman. Ciri khas kelas insecta menurut Ananda (1983).
Adalah: tubuh terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala (caput), dada
(thorax) dan perut (abdomen), mempunyai 3 pasang kaki yang terdiri atas
6 ruas, yaitu coxa, trochanter, femur, tibia, metatarsus dan tarsus, sayap
satu pasang atau dua pasang dan adapula yang tidak bersayap dan
mempunyai satu pasang antena. Beberapa jenis ordo dari kelas insecta
atau hexapoda yang menjadi hama penting adalah sebagai berikut :
1) Ordo Orthoptera
Orthoptera berasal dari kata orthos yang berarti lurus dan pteron artinya
sayap. Golongan serangga ini pada waktu istirahat berperilaku khas, yaitu sayap
belakangnya dilipat lurus di bawah sayap depan. Alat mulut nimfa dan imagonya
penggigit-pengunyah. Perkembangan hidup hama ini termasuk tipe paurometabola
(telur-nimfa-imago). Nimfa dan imago hidup pada habitat yang sama. Stadium

8
nimfa dan imago bersifat merusak tanaman. Beberapa jenis serangga hama yang
termasuk ke dalam ordo Orthoptera adalah: Belalang kayu (Valanga nigricornis
Burn.), Belalang kembara (Locusta migratoria manilensis Mayen), Belalang
pedang (Sexava spp.), Belalang china atau belalang berantena pendek (Oxya
chinensis), Gangsir (Brachytrypus portentosus Linch), Jengkerik (Gryllus
mitratus Burn.) dan (Gryllus bimaculatus De G.) dan Anjing tanah (Gryllotalpa
africana Pal.).
2) Ordo Hemiptera
Hemi berarti setengah dan pteron artinya sayap. Golongan serangga yang
termasuk ordo Hemiptera ini mempunyai sayap depan yang mengalami
modifikasi sebagai hemelitron, yaitu setengah bagian di daerah pangkal menebal,
sedangkan sisanya berstruktur seperti selaput, dan sayap belakangnya mirip
selaput tipis (membran). Tipe perkembangan hidup ordo Hemiptera adalah
paurometabola (telur-nimfa-imago). Tipe alat mulut, baik nimfa maupun imago
pencucuk-pengisap, dan keduanya hidup dalam habitat yang sama. Stadium
serangga yang merusak tanaman adalah nimfa dan imago. Jenis serangga yang
termasuk ordo Hemiptera, antara lain: Hama pengisap daun teh, kina, dan buah
kakao (Helopeltis antonii), Kepik buah lada (Dasynus piperis), Kepik hijau
(Nezara viridula), Walang sangit (Leptocorixa acuta) (= Leptocorisa oratorius)
dan Kepik hijau Rhynchocoris poseidon Kirk.
3) Ordo Homoptera
Homo artinya sama dan pteron berarti sayap. Serangga golongan ini
mempunyai sayap depan berstruktur sama, yaitu seperti selaput (membran).
Sebagian dari serangga ordo Homoptera ini mempunyai dua bentuk, yaitu
serangga bersayap dan tidak bersayap. Misalnya, kutu daun Aphis sp. sejak
menetas sampai dewasa tidak bersayap. Tetapi bila populasinya tinggi sebagian
serangga tadi membentuk sayap untuk memudahkan pindah dari satu tempat ke
tempat lain. Tipe perkembangan hidup ordo Homoptera adalah paurometabola
(telur-nimfa-imago). Kutu daun bersifat partenogenetik, yaitu embrio berkembang
di dalam imago betina tanpa pembuahan terlebih dahulu. Jenis serangga dari ordo
Homoptera ini antara lain: Wereng hijau (Nephotettix apicalis), Wereng cokelat

9
(Nilaparvata lugens), Kutu loncat (Heteropsylla sp.) dan Kutu dompolan
(Pseudococcus citri Risso)
4) Ordo Lepidoptera
Lepidos berarti sisik dan pteron artinya sayap. Kedua pasang sayap ordo
Lepidoptera mirip membran yang penuh denagn sisik. Sisik-sisik ini sebenarnya
merupakan modifikasi dari rambut biasa. Bila sisik tersebut dipegang akan mudah
menempel pada tangan. Serangga dewasa dibedakan atas dua macam, yaitu kupu-
kupu dan ngengat. Kupu-kupu aktif pada siang hari, sedangkan ngengat aktif pada
malam hari. Perkembangbiakan serangga ordo Lepidoptera adalah holometabola
(telur-larva/ulat-pupa/kepompong-imago). Alat mulut larva tipe penggigit-
pengunyah, sedangkan alat mulut imagonya bertipe pengisap. Srtadium serangga
yang sering merusak tanaman adalah larva, sedangkan imagonya hanya mengisap
nektar (madu) dari bunga-bungaan. Jenis serangga hama yang termasuk ordo
Lepidoptera, antara lain: Ulat daun kubis (Plutella xylostella), Penggerek batang
jagung (Ostrinia furnacalis Guenee), Ulat penggulung daun melintang pada teh
(Catoptilia theivora Wls), Penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens
Walker) dan lain-lain.
5) Ordo Coleoptera
Coleoptera berasal dari kata coleos atau seludang dan pteron atau sayap.
Serangga dari ordo Coleoptera ini memiliki sayap depan yang mengalami
modifikasi, yaitu mengeras dan tebal seperti seludang. Sayap depan atau seludang
ini berfungsi untuk menutupi sayap belakang dan bagian tubuhnya. Sayap depan
yang bersifat demikian disebut elitron, sedangkan sayap belakang strukturnya tipis
seperti selaput. Pada saat terbang kedua sayap depan tidak berfungsi, namun pada
waktu istirahat sayap belakang dilipat di bawah sayap depan. Perkembangbiakan
hidup serangga ordo Coleoptera adalah holometabola (telur-larva-pupa-iamgo).
Tipe alat mulut larva dan imago memiliki struktur yang sama, yaitu penggigit-
pengunyah. Coleoptera adalah ordo serangga yang paling besar di antara ordo-
ordo serangga hama. Oleh karena itu, ordo serangga ini banyak bentuknya. Sifat
hidup serangga ordo Coleoptera sebagian ada yang merusak tanaman, namun
adapula yang bersifat predator. Serangga ordo Coleoptera yang berperan sebagai

10
hama/perusak tanaman, antara lain: Kumbang kelapa atau kumbang tanduk
(Oryctes rhinoceros L.), Penggerek buah kopi (Stephanoderes hampei),
Penggerek batang cengkeh (Nothopeus fasciatipennis Wat.)
6) Ordo Diptera
Di artinya dua dan pteron berarti sayap. Diptera artinya serangga yang
hanya mempunyai sepasang sayap depan sebab sepasang sayap belakangnya telah
berubah bentuk menjadi bulatan (halter). Sayap ini berfungsi sebagi alat
keseimbangan pada saat terbang, alat untuk mengetahui arah angin, dan juga alat
pendengaran. Stadium larva Diptera disebut tempayak atau belatung atau set.
Larva tidak mempunyai kaki, dan hidupnya menyukai tempat-tempat yang lembab
dan basah. Perkembangan hidup ordo Diptera adalah holometabola (telur-larva-
pupa-imago). Tipe alat mulut larva penggigit-pengunyah, sedang imagonya
memiliki tipe alat mulut penjilat-pengisap. Jenis serangga ordo Diptera yang
sering merusak tanaman antara lain adalah: Lalat bibit kedelai (Agromyza
phaseoli Tryon), Lalat buah (Bactrocera spp.), Lalat penggerek batang padi
(Atherigona exigua).
7) Ordo Thysanoptera
Thysanos artinya rumbai dan pteron berarti sayap. Serangga dari ordo
Thysanoptera ini berukuran sangat kecil. Sayapnya berjumlah dua pasang dengan
bentuk memanjang, sempit, membranus, dan pada bagian tepinya terdapat rambut-
rambut halus berumbai. Perkembangan hidup serangga Thysanoptera adalah
paurometabola (telur-nimfa-imago). Tipe alat mulut nimfa dan imago pencucuk-
pengisap. Serangga dari ordo ini dapat merusak daun, bunga, dan buah tanaman.
Daun yang terserang menjadi keriting atau salah bentuk. Bunga yang terserang
menjadi salah bentuk atau gugur, sedangkan serangan pada buah menyebabkan
bercak-bercak atau gugur. Jenis serangga dari ordo Thysanoptera yang sering
merusak tanaman antara lain: Thrips hitam pada tanaman jagung (Heliothrips
striatoptera Kob), Thrips pada bibit padi dan jagung (Thrips oryzae Will) dan
Thrips bawang (Thrips tabaci Lind).

11
Penyakit yang menyerang tanaman budidaya dan perkebunan di Desa
Angata yaitu kanker batang pada tanaman kakao.

C. Kerugian dari Adanya OPT

Kerusakan (kerugian) yang ditimbulkan oleh hama tanaman menurut


Rukmana dan Saputra (1997), antara lain sebagai berikut :
1. Kerugian secara kuantitas (berkurangnya hasil atau produksi) antara lain
sebagai berikut :
a. Serangan kumbang daun Aulacophora similis Oliver dengan cara
memakan daun dan bunga pada famili Cucurbitaceae (semangka, melon,
mentimun, dan pare) menyebabkan produksi tanaman tersebut menurun
(rendah).
b. Serangan kumbang penggerek buah kapas Amorphoidea sp. dapat
menyebabkan buah tersebut gugur sebelum masak.
c. Serangan serangga Amrasca flavescens F. atau Empoasca flavescens F.
pada tanaman kapas yang masih muda dapat menyebabkan pertumbuhan
tanaman tersebut tidak normal sehingga produksi menurun.
d. Serangan ulat tanah Agrotis ipsilon Hufn. yang memakan berbagai jenis
tanaman (polifag), terutama tanaman muda, dapat menyebabkan tanaman
terkulai (layu) atau mati.
2. Kerugian secara kualitas (menurunnya mutu hasil), antara lain sebagai
berikut :
a. Perubahan warna pada beberapa macam produk tanaman (ubi, daun,
bunga, maupun buah), misalnya: Ubi jalar Ipomoea batatas L. yang
terserang hama lanas Cylas formicarius Fabr. akan berwarna cokelat
kehitam-hitaman. Biji kedelai yang terserang kepik hijau Nezara viridula
L. dan kepik polong atau kepik cokelat Riptortus linearis F. akan
berwarna kehitam-hitaman.
b. Perubahan rasa, misalnya Ubi jalar yang terserang hama lanas Cylas
formicarius Fabr. rasanya menjadi pahit. Buah durian yang terserang

12
hama penggerek Tirathaba ruptilinea Wlk. rasanya menjadi kemasam-
masaman.
c. Bercak atau bintik-bintik hitam, misalnya daun kangkung yang terserang
walang sangit Leptocorisa oratorius Thumb. akan menunjukkan gejala
berbintik-bintik hitam atau kecokelat-cokelatan. Kulit biji kedelai
ataupun kacang hiaju yang terserang kepik hijau Nezara viridula L. akan
berbercak-bercak cokelat.  
d. Rusak atau abnormal, misalnya daun kedelai yang terserang ulat jengkal
Chrysodeixis chalcites Esp. akan menjadi berlubang-lubang. Umbi
kentang yang terserang nematoda Meloidogyne sp. akan berbintil-bintil
(abnormal), atau berlubang dan membusuk akibat serangan hama uret.
Organisme yang berperan sebagai hama tanaman menurut Rasdiman
(1994), meliputi filum Nemathelminthes/Aschelminthes termasuk nematoda,
Mollusca, Arthropoda, dan Chordata. Filum Nemathelminthes, Mollusca , dan
Arthropoda, karena tidak bertulang belakang dimasukkan ke dalam kelompok
Invertebrata, sedangkan filum Chordata yang bertulang belakang dimasukkan ke
dalam kelompok Vertebrata. Dari fila tersebut, maka filum Arthropodalah yang
paling berperan sebagai hama, terutama dari kelas insekta (serangga).
Serangga dan tanaman inang mempunyai hubungan yang erat sekali,
karena serangga membutuhkan tempat berlindung, kawin, meletakkan telur dan
nutrisi yang dapat diperolehnya dari tanaman. Kecenderungan serangga hama
dalam memilih tanaman sebagai inang sangat ditentukan oleh sifat-sifat yang
terkandung dalam tanaman tersebut. Apabila tanaman memiliki sifat-sifat yang
disukai oleh serangga hama, maka ada kecenderungan bahwa tanaman mengalami
kerusakan yang lebih berat.
Hama merusak tanaman secara langsung, yaitu menyerang bagian-bagian
tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, buah atau tanaman seluruhnya.
Pengertiannya adalah bahwa ada jenis hama yang menyerang satu bagian
tanaman, atau menyerang bagian tanaman tertentu, namun mengakibatkan
tanaman tidak dapat dipanen. Sebagai contoh adalah hama penggerek batang padi
kuning Tryporyza incertulas yang menyerang titik tumbuh tanaman padi.

13
Akibatnya akan timbul gejala mati pucuk (dead heart) atau sundep pada tanaman
padi pada fase pertumbuhan vegetatif. Pada fase generatif, hama ini menimbulkan
gejala beluk, yaitu bulir-bulir tanaman padi yang terserang akan tegak, kosong dan
berwarna keabu-abuan. Tanaman padi yang terserang hama tersebut tidak akan
pernah diharapkan hasilnya.
Tingkat kerusakan tanaman akibat serangan hama sangat dipengaruhi
oleh sifat-sifat hama dalam cara menyerangnya. Beberapa jenis hama hanya
menyerang sasaran utama bagian daun atau batang, dahan, akar, ubi, bunga, buah,
dan biji, namun ada pula hama yang menyerang lebih dari satu bagian tanaman.
D. Kebiasaan Penduduk Desa Angata Untuk Mengendalikan OPT
Macam pengendalian organisme pengganggu tanaman berapa teknik
pengendaliannya antara lain:
1. Pengendalian Secara Kultur Teknik
Pengendalian tersebut merupakan pengendalian yang bersifat preventif,
dilakukan sebelum serangan hama terjadi dengan tujuan agar populasi OPT
(Organisme Pengganggu Tanaman) tidak meningkat sampai melebihi ambang
kendalinya. Menurut Pedigo (1996) dalam Untung (2006) sebagian besar teknik
pengendalian secara budidaya dapat dikelompokan menjadi empat dengan sasaran
yang akan dicapai, yaitu 1) mengurangi kesesuaian ekosistem, 2) Mengganggu
kontinuitas penyediaan keperluan hidup OPT, 3) Mengalihkan populasi OPT
menjauhi tanaman, dan 4) Mengurangi dampak kerusakan tanaman. Beberapa
contoh dari pengendalian OPT secara kultur teknis:
a. Menggunakan varietas domestik yang tahan: karakteristik dari varietas
domestik adalah memiliki ketahanan yang lebih baik karena cocok
terhadap lingkungannya.
b. Rotasi Tanaman: pergiliran atau rotasi tanaman yang baik adalah bila
jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya, dan jenis tanaman
tersebut bukan merupakan inang hama yang menyerang tanaman yang
ditanam pada musim sebelumnya. Dengan pemutusan ketersediaan inang
pada musim berikutnya populasi hama yang sudah meningkat pada
musim sebelumnya dapat ditekan pada musim berikutnya. Rotasi

14
tanaman paling efektif untuk mengendalikan hama yang memiliki kisaran
makanan sempit dan kemampuan migrasi terbatas terutama pada fase
yang aktif makan.
c. Menghilangkan tanaman yang rusak. Tanamn yang terkena serangan
hama maupun patogen sebaiknya dibersihkan dari kawasan budidaya.
d. Pengolahan Tanah: pengerjaan tanah dapat dimanfaatkan untuk
pengendalian instar hama yang berada dalam tanah. Misal:
- Pengolahan tanah sangat efektif untuk membunuh telur belalang
kembara (Locusta migratoria) yang selalu diletakan di dalam tanah.
- Hama akar seperti lundi (Holotricia helleri) mempunyai fase larva dan
pupa di dalam tanah, sehingga pengolahan tanah dapat mengangkat
pupa dan memutus siklus perkembangannya.
e. Tumpang Sari dan variasi penanamn serta pemanenan: tumpang sari
dapat mengendalikan suatu opt akibat keberadaan tanaman yang bukan
inangnya. Sedangkan variasi waktu panen akan memutuskan siklus hidup
hama. Misalnya:
- Panen dilakukan secara bertahap dari satu lajur atau setrip ke lajur yang
lain pada hari berikutnya. Diharapkan populasi hama tidak keluar dari
petak hamparan tetapi pindah dari bagian yang telah dipanen ke
bagian pertanaman yang lebih muda dan belum dipanen.
- Tumpang sari antara kentang dan bawang daun, tagetes ataupun lobak
relatif dapat menekan populasi hama penting tanaman kentang
(Setiawati, 2005).
f. Pemangkasan dan Penjarangan: kegiatan pemangkasan terkait
dengan kebersihan tanaman. Sedangkan penjarangan terkait dengan jarak
tanam optimum suatu tanaman.
- Pemangkasan pada beberapa tanaman terutama bagian yang terkena
infeksi sehingga tidak menyebar ke bagian tanaman yang lain.
- Penjarangan tanaman dapat meningkatkan produktifitas. Jarak tanam
dapat pula mempengaruhi populasi hama. Pada tanaman padi, jarak

15
yang terlalu dekat menguntungkan perkembangan dan kehidupan
wereng coklat.
g. Pemupukan: tindakan pemupukan juga dapat mempengaruhi keberadaan
OPT. beberapa pengeruh pemupukan terhadap serangan OPT antara lain:
- Optimalisasi pemupukan N dapat mengurangi serangan OPT karena
pemupukan N yang berlebihan akan menjadikan tanaman sukulen dan
mudah terserang OPT.
- Pemberian pupuk mikro dapat meningkatkan ketahanan tanaman
terhadap serangan OPT.
2. Pengendalian Secara Hayati (Biological Methods)
Merupakan taktik pengelolaan hama yang dilakukan secara sengaja
memanfaatkan atau memanipulasikan musuh alami untuk menurunkan atau
mengendalikan populasi hama. Musuh alami yang berupa parasitoid, predator dan
patogen dikenal sebagai fator pengatur dan pengendali populasi serangga yang
efektif karena sifat pengaturannya yang tergantung kepadatan populasi inang atau
mangsa. Peningkatan populasi inang akan ditanggapi secara numerik (respon
numerik) dengan meningkatkan jumlah predator dan secara fungsional (respon
fungsional) dengan meningkatkan daya makan per musuh alami. Beberapa
tindakan antara lain:
a. pengendalian hayati dengan parasitoid dan predator.
b. Introduksi, perbanyakan dan penyebaran musuh alami.
c. perlindungan dan dorongan musuh alami.
3. Pengendalian Secara Mekanis dan Fisik.
Mengendalikan menggunakan tindakan-tindakan antara lain Mematikan
hama, Mengganggu aktivitas fisiologis hama yang normal dengan cara non-
pestisida, mengubah lingkungan sedemikian rupa sehingga lingkungan menjadi
kurang sesuai bagi kehidupan OPT. Beberapa tindakan tersebut yaitu:
a. penghancuran dengan tangan. Cara ini dailkukan dengan mencari adanya
hama dan selanjutnya dilakukan pemusnahan. Fase hidup hama yang
dikumpulkan dan dibunuh adalah yang mudah dtemukan seperti telur dan

16
larva. Atau dapat pula mengumpulkan bagian tanaman yang terserang
hama.
b. Menutup dengan jaring atau paranet. Dapat dilakukan untuk mencegah
masuknya atau mengganggunya ngengat yang akan berkembang biak
pada tanaman.
c. Perangkap. Menggunakan alat perangkap yang disesuaikan berdasarkan
jenis hama dan fase hama yang akan ditangkap.
4. Pengendalian Secara Genetik
Pengendalian ini lebih ditujukan terhadap usaha-usaha rekayasa genetik
untuk menciptakan tanaman yang tahan terhadap serangan OPT tertentu ataupun
dengan memanipulasi genetik OPT sehingga opt tersebut tidak dapat berkembang
biak. Beberapa tindakan yang termasuk kedalam pembahasan bab ini adalah:
a. Penggunaan varietas tahan. Merupakan pengendalian paling efektif,
murah dan kurang berbahaya bagi lingkungan. Varietas tahan diperoleh
melalui serangkaian penelitian dengan memecahkan kelemahan dari
hama tertentu. Teknik pengembangan tanaman tahan hama sengaja
memanfaatkan proses pembentukan sifat ketahanan dan perlawanan
tanaman terhadap serangan serangga herbivora yang terjadi secara
koevolusioner di alam. Beberapa contoh pengendalian ini adalah:
- penggunaan Varietas Unggul Tahan Wereng (VUTW) terbukti mampu
mengendalikan haam wereng coklat padi di Indonesia.
- Salah satu varietas jagung yang mengandung 2,4-hydroxy-7-methoxy-
2H-1,4-benxoaxazin-3(4H)-one (DIMBOA) pada jagung untuk
memperoleh ketahanan terhadap penggerek batang jagung Ostrinia
(Untung, 2006).
b. Pengendalian Dengan Serangga Mandul. Disebut juga teknik otosidal
merupakan teknik pengendalian hama dengan pemab\ndulan serangga
jantan, serangga betina atau keduanya. Serangga mandul sudah mulai
banyak diupayakan katrena efektifitasnya mengurangi populasi serangga
tersebut. Misalnya dengan melepas jantan atau betina mandul, maka
ketika terjadi perkawinan, tidak lah terbentuk keturunan dan dalam

17
jangka waktu tertentu akan sangat mengurangi populasi hama tersebut.
Beberapa contoh pengendalian dengan pemandulan hama:
- Teknik pelepasan jantan mandul secara besar-besaran pernah dilakukan
di Florida, Puerto Rico dan Amerika Selatan untuk pengendalian
“screwworm” Cochliomyia hominivorax yaitu lalat ayang menyerang
ternak.
- Dapat pula dipadukan dengan teknik pengendalian hayati, yaitu
pelepasan telur Habrobracon hebetor lebih efektif mengendalikan
hama Ephestia cautella bila jenis jantan dimandulkan terlebih dahulu.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengendalian secara hayati berupaya untuk mempertahankan dan


meningkatkan sumberdaya alam serta memanfaatkan proses-proses alami.
Penelitian tentang pengendalian OPT secara hayati tidak bertujuan untuk
meningkatkan produksi pertanian dalam jangka pendek, namun untuk mencapai
tingkat produksi stabil dan memadai dalam jangka panjang Pengetahuan dan
pemahaman yang cukup terhadap OPT dengan penyakit yang ditimbulkannya
terutama kalau dikaitan dengan tanaman inang, pola tanam, system pertanian,
daya dukung lahan dan system pengendalian pada waktu tertentu perlu
diantisipasi dengan cermat dan baik. Dalam menerapkan pengendalian hayati di
lapangan, keperdulian unsur-unsur terkait (peneliti/pakar, penyuluh/petugas
proteksi tanaman, petani, tokoh masyarakat, pengambil keputusan perlu terpadu
dengan aktif. Proses pengendalian hayati harus berkelanjutan dan kesempatan
sebagai komponen yang kuat dalam PHT akan terwujud dengan menggiatkan
koordinasi untuk melakukan eksplorasi, pengadaan agensia, penggunaan di
lapangan dan evaluasi terus menerus. Peluang dan prospek pengendalian hayati
penyakit tanaman cukup besar untuk dikembangkan di Indonesia.

B. Saran

Dalam penulisan makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan dan


kesalahan, baik dari segi penulisan maupun dari segi penyusunan kalimatnya. Dari
segi isi juga masih perlu ditambahkan. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kepada para pembaca makalah ini agar dapat memberikan kritikan
dan masukan yang bersifat membangun.

19
DAFTAR PUSTAKA

Guntur, Nova Dwi. Dkk. 2010. Pengaruh Atraktan Nabati Ekstrak Selasih
(Ocimum sanctum l.) Dan Daun Wangi (Melaleuca bracteata l.)
Terhadap Lalat Buah Jantan (Diptera: trypetidae) pada Tanaman
Mentimun. Universitas Lampung. Lampung
Setiawati, A. Dkk. 2005. Pengendalian Kutu Kebul dan Nematoda Parasitik
Secara Kultur Teknik pada Tanaman Kentang. J. Hort. 15(4):288-296.
Suhaendah, Endah. Dkk. 2008. Uji Ekstrak Daun Suren Dan Beauveria Bassiana
Terhadap Mortalitas Ulat Kantong Pada Tanaman Sengon. Balai
Penelitian Kehutanan Ciamis. Jawa Barat
Untung, Kasumbogo. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu (edisi kedua).
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Zulfitriany, D.M. dkk. 2004. Pemanfaatan Minyak Sereh (Andropogon nardus l.)
Sebagai Atraktan Berperekat Terhadap Lalat Buah (Bactrocera spp.)
Pada Pertanaman Mangga. J. Sains & Teknologi, Desember 2004,
Vol. 4 No.3: 123-129.

20