Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kentang merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang bernilai


ekonomis tinggi. Sebagai sumber karbohidrat, kentang merupakan sumber bahan
pangan yang dapat mensubstitusi bahan pangan karbohidrat lain yang berasal dari
beras, jagung dan gandum (Samadi, 1997). Mengacu pada program pemerintah
akan diversifikasi sumber pangan karbohidrat non beras akhir-akhir ini, kentang
merupakan salah satu alternatif penting untuk keragaman bahan pangan non beras.
Usaha peningkatan produksi kentang dipengaruhi adanya faktor pembatas penting
di lapangan antara lain adanya serangan hama dan penyakit tumbuhan (Rukmana,
1997).
Penyakit busuk daun dan umbi tanaman kentang oleh cendawan patogen
Phytophthora infestans sejak lama menjadi masalah bagi para petani kentang dan
penyakit ini merupakan penyakit yang paling serius di antara penyakit dan hama
yang menyerang tanaman kentang di Indonesia (Katayama & Teramoto, 1997).
Penyakit ini tergolong sangat penting karena kemampuannya yang tinggi merusak
jaringan tanaman. Serangan patogen dapat menurunkan produksi kentang hingga
90% dari total produksi kentang dalam waktu yang amat singkat (Rukmana,
1997). Sampai saat ini kapang patogen penyebab penyakit busuk daun dan umbi
kentang tersebut masih merupakan masalah dan belum ada varietas kentang yang
benar-benar tahan terhadap penyakit tersebut (Rubatzky, 1998)
Menurut (Yamaguchi. 1998) kentang dibedakan menjadi 3 golongan
berdasarkan warna umbinya, yaitu : 1). Kentang putih, yaitu jenis kentang dengan
warna kulit dan daging umbi putih. Contoh varietas Marita, Donata, Radosa, dan
yang lainnya. 2). Kentang kuning, yaitu jenis kentang yang kulit dan umbinya
berwarna kuning. Contoh varietas Patrones, Thung, Rapan, Granola, dan lain-lain.
3). Kentang merah, yaitu jenis kentang dengan warna kulit dan daging umbi
merah. Contohnya varietas Desiree dan Arka.
Penyakit dapat berkembang biak dengan mudah pada daerah dingin serta
lembab karena kapang patogen yang menyebabkannya mudah tumbuh dan

1
berkembang baik pada kondisi dingin seperti di daerah Lembang serta di
Wonosobo (Djafaruddin, 2000).

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksut dengan tanaman kentang?


2. Hama utama apa saja pada tanaman kentang?
3. Penyakit utama apa saja pada tanaman kentang?

1.3.  Tujuan

Tujuan dilakukan penulisan makalah ini agar mahasiswa/i dapat mengetahui


hama dan penyakit yang terdapat pada tanaman kentang. Mahasiswa diharapkan
mampu memberi saran terhadap masalah yang dihadapi petani tersebut.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tanaman Kentang

Kentang merupakan tanaman hortikultura


yang memiliki potensi sebagai alternatif dalam
deversifikasi pangan. Kandungan karbohidrat
yang tinggi pada kentang membuat umbi ini bisa
dijadikan sebagai pengganti nasi. Di Indonesia
kentang menjadi salah satu komoditas utama yang
banyak dibudidayakan.
Akan tetapi pada proses budidaya sering kali mengalami kegagalan yang
disebabkan oleh hama dan penyakit. Hama dan penyakit merupakan suatu
ancaman serius pada proses budidaya umbi kentang. Untuk mengatasi hama dan
penyakit pada kentang kita harus tau jenis hama dan penyakit yang biasa
menyerang tanaman kentang.
2.2. Hama Utama Tanaman Kentang 
a) Trips (Trips palmi Karny)
Trips merupakan hama jenis kutu
dengan ukuran sangat kecil yaitu ( 1- 2 mm).
Hama ini menyerang dengan menghisap
cairan sel pada permukaan bawah daun.
Indikasi tanaman yang terserang hama trips
yaitu, daun berubah warna menjadi warna
keperakan atau kekuningan. Bentuk daun
juga berubah menjadi berkerut/ melinting.
Jika serangan berat pada permukaan bawah daun berwarna merah tembaga
dan mengkilat, setelah itu daun akan mengering dan mati. Untuk mengendalikan
hama trips kita dapat menyemprotkan insektisida berbahan aktif abamectin,
seperti domelish, bamex, atau pegasus.

3
b) Kutu daun (Myzuz persicae Sulzer)

Kutu daun merupakan hama yang


menyerang bagian daun. Hama ini
menyerang dengan cara menghisap cairan
sel daun yang masih muda ataupun tanaman
yang masih muda.
Indikasi dari tanaman yang terserang
yaitu pada daun dijumpai gerombolan kutu
yang mengakibatkan daun tampak bercak-
bercak. Jika seranganya berat daun tampak berkerut dan terpuntir dan keriting.
Cara pengenddalianya dengan cara menyeprotkan insektisida, seperti demolish,
numectin, curacron, atau alfamex.

c) Ulat pengerek daun (Phthorimaea operculella Zeller)

Ulat penggerek daun merupakan hama yang


merusak daun, dan sering dijumpai pada tanaman
kentang. Indikasi dari daun yang terserang ulat ini,
yaitu daun berubah menjadi warna merah tua dan ada
jalinan seperti benang yang membungkus ulat kecil.
Untuk mengendalikan serangan ulat tersebut,
yaitu dengan sanitasi lahan dan penyemprotan
insektisida, seperti curacron, regent, atau prevaton.

d) Nematoda (Meloydogyne sp. )

Nematoda merupakan hama dengan stilet


kecil, bentuk kepala oval, ekor tidak terlalu
runcing, dan bergerak dengan lambat. Indikasi
tanaman yang terserang neamtoda, yaitu
pertumbuhan tanaman kentang tidak normal,
kerdil, dan tanaman tampak layu. Apabila
perakaran digali akan dijumpai perakaran yang
bengkak terdapat benjolan- benjolan sperti kutil.

4
Selain akar, pada umbi kentang yang terserang juga tampak benjolan-
benjolan serupa dan mengakibatkan perubahan bentuk. Serangan nematoda sering
terjadi pada pH tanah yang rendah. Untuk pengendalian nematoda, yaitu dengan
cara mencabut tanaman yang terserang dan memusnahkanya secara dibakar.
Pencegahan nematoda akan lebih baik untuk mengantisipasi  kerugian
akibat serangan nematoda. Pencegahan antara lain, pemupukan secara berimbang,
sanitasi lahan, dan penggunaan bibit unggul yang sehat. Selain itu, juga dapat
menanam keningkir (Tagetes erecta) pada sekitar tanaman kentang.

e) Orong- orong (Gryllotalpa orientalis Burmeister)

orong- orong ialah serangga yang hidup di


dalam tanah dan aktif pada waktu malam hari.
Orong- orong atau yang biasa disebut dengan anjing
tanah ini berukuran sedang dan memiliki warna
coklat terang hingga gelap. Orong- orong memiliki
kulit pelindung yang tebal serta sepasang tungkai
berbentuk seperti cangkul yang berguna untuk
menggali tanah.
Hama ini menyerang bagian akar, umbi, pangkal batang, maupun tunas
muda tanaman dengan merusak atau memakanya. Indikasi dari serangan orong-
orong , yaitu tanaman layu, rebah dan umbinya busuk. Pencegahan orong- orong
pada budidaya tanaman kentang dengan cara menaburkan nematisida pada saat
penaburan pupuk dasar.
2.3 Penyakit Utama Tanaman Kentang 
a) Busuk daun (Phytophtora infestans (Mont.) se Bary)
Busuk daun merupakan jenis patogen yang
sering menginfeksi tanaman kentang.
Munculnya P. Infestans sangat dipengaruhi oleh
suhu, kelembaban, dan curah hujan. Penyebaran
patogen ini melalui angin, air, maupun serangga.
Penyakit ini akan berkembang dengan pesat pada kondisi lingkungan yang
mendukung, yaitu pada suhu rendah dan kelembaban tinggi.

5
Indikasi tanaman yang terserang penyakit ini, yaitu terdapat bercak-bercak
kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah. Dan bahkan hingga warna berubah
menjadi coklat dan hitam. Bercak dikelilingi spora berwarna putih. Pada
umumnya gejala akan nampak pada tanaman yang telah berumur 1 bulan.
Untuk pengendalian tanaman, yaitu dengan melakukan upaya sanitasi,
penggunaan bibit yang bebas dari penyakit, dan penyemprotan fungisida antracol,
score, atau starmly.

b) Layu bakteri ( Pseudomonas solanacearum Smith )

Layu bakteri disebabkan oleh bakteri


yang membuat kelayuan pada seluruh bagian
tanaman. Gejala layu bakteri pada umumnya
terjadi saat tanaman berumur kurang lebih 6
minggu.
Indikasi dari tanaman yang terserang
layu bakteri, yaitu tanaman layu dan apabila
batang ditekan akan mengeluarkan cairan berlendir. Pada cairan tersebut memiliki
warna keabu-abuan dengan bau yang busuk.
Untuk pengendalian tanaman yang terkena layu bakteri, yaitu dengan
pergiliran tanaman dan sanitasi lahan. Selain itu juga akan lebih efektif jika
menyemprotkan baterisida, seperti agrimicyn, plantomycin, atau agrept.
c) Layu cendawan ( Fusarium oxysporum Schlectendahl )
Layu cendawan merupakan salah satu
penyakit yang ditakuti oleh petani. Indikasi
tanaman yang terserang layu cendawan, yaitu
layu pada siang hari, dan terlihat segar pada
waktu pagi dan sore. Daun- daun menguning
dan rontok serta akar tanaman yang terinfeksi
membusuk berwarna hitam kecoklatan.
Untuk pengendalikan penyakit layu cendawan, yaitu melakukan pergiliran
tanaman, mencabut dan memusnahkan tanaman yang terserang. Selain itu kita

6
bisa memberikan fungisida berbaahan aktif propamokarb hidroklarida, metalaksil,
atau benomil.

d) Busuk lunak (Erwinia caratovora)


Busuk lunak merupakan bakteri yang
menyebabkan penurunan signifikan pada
produksi tanaman kentang. Penyakit ini
menyebar melalui umbi, atau dari sisa ranting-
ranting yang membusuk. Indikasi dari
penyakit busk lunak, yaitu tanaman segar tiba-
tiba mengering, terdapat bercak hitam pada
umbi, buah, maupun batang secara merata. Setelah itu batang yang terserang
dengan merata akan melunak.
Untuk pengendalian penyakit busuk batang, yaitu cabut dan musnahkan
tanaman yang terserang, dan juga lakukan penyemprotan fungisida Bion-
M. Pencegahan akan lebih baik untuk mengantisipasi kerugian yang disebabkan
penyakit busuk lunak. Pencegahanya antara lain, mengondisikan drainase, sanitasi
lingkungan, lakukan pembumbunan jagan sampai umbi kentang tidak tertutup
tanah. Selanjutnya lakukan rotasi tanam dengan jenis tanaman yang resisten
terhadap penyakit tersebut.
e) Burik (Streptomyces scabies)
Burik merupakan penyakit yang menyerang umbi kentang sehingga
membuat kentang tidak laku dipasaran. Indikasi
tanaman yang terserang, yaitu umbinya jadi
burik dan kulit umbi berkadas. Selain itu juga
mengakibatkan daging umbi menjadi bergabus.
Akan tetapi kita perlu tahu bahwa cendawan ini
tidak akan hidup pada pH tanah dibawah 5, 4
serta diatas 7, 0.

7
BAB III
PENUTUP

3.1.  Kesimpulan
Dari makalah yang telah di bahas dapat di simpulkan bahwa tanaman
kentang juga merupakan tanaman yang rentan terhadap serangan hama dan
penyakit. Untuk menghindari penurunan produksi pada tanaman kentang perlu
diperhatikan  beberapa faktor yaitu pada pemilihan benih, diharapkan
mengunakan varietas ungul Dan memperhatikan pemakaian pupuk yang sesuai.
Penerapan cara bercocok tanam yang baik untuk menghindari banyaknya serangan
hama dan penyakit pada tanaman budidaya.
Pada serangan hama diperlukan langkah terpadu yang tepat, karena
serangannya berfluktuasi dari waktu ke waktu. Mengatur waktu tanam bisa
menjadi salah satu alternatif untuk menghindari serangan hama ini. Waktu tanam
yang baik adalah pada awal musim hujan dan paling lambat empat minggu
sesudah mulai musim hujan.
3.2. Saran

Saran kami dalam pembuatan makalah ini gara para pembaca atau
mahasiswa dapat menegtahui hama utama dan penyakit penting yang terdapat
pada tanaman kentang