Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH KLINIK TANAMAN

“Hama Pada Tanaman Kubis/Sawi”

Oleh:

KELOMPOK 5 :

HASRIANI D1F1 16 004


HASYATI KHARUN NISA D1F1 16 005
HUSNA HASRAD DHAMAYANTI D1F1 16 008
INAL D1F1 16 009

PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN

JURUSAN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami hantarkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat dan
rahmatnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Hama dan Penyakit
Pada Tanaman Kubis/Sawi”. Makalah ini diajukan guna untuk melengkapi tugas
mata kuliah Klinik Tanaman. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan
makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat
untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi kita semua.

Kendari, April 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................ ii
BAB I  PENDAHULUAN
Latar Belakang......................................................................................3
A. Rumusan Masalah.......................................................................4
B. Tujuan Penulisan.........................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
C. Hama pada Tanaman Kubis/Sawi...............................................4
D. Penyakit pada tanaman Kubis/sawi.............................................4
BAB III PENUTUP
E. Kesimpulan..................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu langkah yang perlu diperhatikan dalam mempertahankan atau


mengurangi masalah kehilangan produktivitas pertanian adalah pengendalian hama
yang merupakan masalah yang dapat merugikan. Karena keberadaan hama tanaman
dapat mengurangi jumlah ketersediaan produksi tanaman pangan yang merupakan
bahan pangan bagi manusia.
Penduduk dunia setiap tahun selalu bertambah. Dengan melihat pertambahan
penduduk dunia yang melonjak, manusia mulai menghadapi berbagai masalah yang
pelik, di antaranya adalah penyediaan pangan. Indonesia sebagai negara yang sedang
berkembang dan penduduk padat, sangat merasakan pentingnya program penyediaan
pangan, terutama beras, karena beras merupakan bahan makanan pokok. Dengan
berbagai upaya, misalnya intensifikasi yang berjalan dengan langkah pasti.
Peningkatan produksi sayuran di Indonesia sangat diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri guna mengimbangi laju pertambahan penduduk
yang semakin meningkat pula. Selain itu, penting juga adanya upaya peningkatan
produksi sayuran untuk keperluan ekspor dan substitusi. Hal ini sesuai dengan tujuan
utama pembangunan nasional di sektor pertanian yaitu menaikkan produksi pertanian.
Di antara berbagai jenis hasil pertanian, sayuran merupakan bahan pangan
penting bagi penduduk Indonesia yang diperlukan setiap hari. Di antara sayuran yang
ditanam, kubis (Brassica oleracea var. capitata L.) banyak diusahakan dan
dikonsumsi karena sayuran tersebut dikenal sebagai sumber vitamin (A, B dan C),
mineral, karbohidrat, protein dan lemak yang amat berguna bagi kesehatan. Seperti
beberapa jenis sayuran lainnya, kubis memiliki sifat mudah rusak, berpola produksi
musiman dan tidak tahan disimpan lama. Sifat mudah rusak ini dapat disebabkan oleh
daun yang lunak dan kandungan air cukup tinggi, sehingga mudah ditembus oleh
alat-alat pertanian dan hama/penyakit tanaman. Hama ulat daun kubis Plutella
xylostella L. (Lepidoptera: Plutellidae) merupakan salah satu jenis hama utama di
pertanaman kubis. Apabila tidak ada tindakan pengendalian, kerusakan kubis oleh
hama tersebut dapat meningkat dan hasil panen dapat menurun baik jumlah maupun
kualitasnya. Serangan yang timbul kadang-kadang sangat berat sehingga tanaman
kubis tidak membentuk krop dan panennya menjadi gagal.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja hama dan penyakit dari tanaman tanaman kubis/sawi ?


2. Bagaimana bioekologi dari hama tanaman kubis/sawi ?
3. Bagaimana gejala serangan yang diakibatkan dari hama tanaman kubis/sawi ?
4. Bagaimana cara mengendalikan hama yang menyerang tanaman kubis?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui berbagai jenis hama dan penyakit dari tanaman tanaman
kubis/sawi.
2. Untuk mengetahui bioekologi dari hama tanaman kubis/sawi.
3. Untuk mengetahui gejala serangan yang diakibatkan dari hama tanaman
kubis/sawi.
4. Untuk mengetahui hama yang menyerang tanaman kubis
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hama pada Tanaman Kubis/Sawi

1. Hama Ulat Daun Kubis (Plutella xylostella)


o Bioekologi
Telur kecil bulat atau oval ukuran 0,6 x 0,3 mm, berwarna kuning, diletakkan
secara tunggal atau berkelompok di bawah daun kubis. Namun, di laboratorium bila
ngengat (dewasa) betina dihadapkan pada tanaman muda maka mereka bertelur pada
bagian batang. Stadium telur antara 3-6 hari.

Larva (ulat) terdiri dari 4 instar, berwarna hijau, lincah, dan bila tersentuh
larva akan menjatuhkan diri. Larva instar pertama setelah keluar dari telur segera
menggerek masuk ke dalam daging daun. Instar berikutnya baru keluar dari daun dan
tumbuh sampai instar keempat. Pada kondisi lapangan, perkembangan larva dari
instar I-IV selama 3-7; 2-7; 2-6; dan 2-10 hari. Larva atau ulat mempunyai
pertumbuhan maksimum dengan ukuran panjang tubuh mencapai 10-12 mm. Prepupa
berlangsung selama lebih kurang 24 jam, setelah itu memasuki stadium pupa.
Panjang pupa bervariasi sekitar 4,5-7,0 mm dan lama umur pupa 5-15 hari.

Serangga dewasa berupa ngengat (kupu-kupu) berukuran kecil, berbentuk


ramping, berwarna coklat kelabu, panjangnya ±1,25 cm, sayap depan bagian dorsal
memiliki corak khas yaitu tiga titik kuning seperti berlian, sehingga hama ini terkenal
dengan nama ngengat punggung berlian (diamondback moth). Nama lain dari
serangga tersebut adalah ngengat tritip dan ngengat kubis (cabbage moth). Aktif pada
malam hari (nocturnal), dapat berpindah-pindah dari satu tanaman ke tanaman lain
atau daerah ke daerah lain dengan bantuan hembusan angin. Siklus hidup berlangsung
sekitar 2-3 minggu mulai dari telur hingga menjadi dewasa.
o Gejala serangan
Larva Plutella xylostella memakan bagain bawah daun sehingga tinggal
epidermis bagian atas saja. Gejala serangan hama ini yang terlihat pada daun sangat
khas dan tergantung dari instar larva yang menyerang. Larva instar I memakan daun
kubis dengan jalan membuat lubang ke dalam permukaan bawah daun. Setelah itu
larva membuat liang-liang korok ke dalam jaringan parenkim sambil memakan daun.

Larva instar II keluar dari liang-liang korok yang transparan dan memakan
jaringan daun pada permuakaan bawah. Demikian juga dengan larva instar III dan IV
memakan daun dalam jumlah yang lebih banyak sehingga meninggalkan cirri yang
khas, yaitu lapisan epidermis tipis pada permukaan atas bekas gigitan ulat akan pecah
dan menimbulkan lubang besar pada daun. Bila populasi tinggi, kerusakan berat pada
daun sering terjadi, yaitu hamper seluruh daun dimakan larva dan hanya
meninggalkan tulang-tulang daun. Biasanya hama ini menyerang tanaman yang
masih muda, yaitu sebelum tanaman membentuk krop dan paling banyak muncul
pada pertanaman berumur 2-6 minggu setelah tanam.

o Upaya Pengendalian

Membersihkan gulma yang menjadi inang untuk meletakkan


telur. Mengumpulkan telur, larva, pupa lalu dimusnahkan. Menggunakan perangkap
air atau perangkap lekat (perekat) sebanyak satubuah/10 m²dapat digunakan untuk
memantau populasi ngengat jantan. Aplikasi pestisida kimia sintetik yang terdaftar
dan diizinkan oleh Menteri Pertanian apabila pengendalian lain tidak dapat
mengurangi intensitas serangan hama, misalnya yang berbahan aktif alfa-spermetrin,
asefat, abamectin, asetamifrid, bacillus thuringiensis, dan bensultap.

2. Ulat Krop Kubis (Crocidolomia pavonana F.)


o Bioekologi
Telurnya diletakkan di balik daun secara berkelompok, jumlah tiap kelompok
sekitar 11 - 18, dan setiap kelompok berisi sekitar 30 - 80 butir telur. Telur berbentuk
pipih dan menyerupai genteng rumah, berwarna jernih. Diameter telur berkisar antara
1-2 mm. Stadium telur berlangsung selama 3 hari.

Larva yang baru menetas hidup berkelompok di balik daun. Sesudah 4 - 5


hari, mereka bergerak ke titik tumbuh. Ulat yang baru menetas berwarna kelabu,
kemudian berubah menjadi hijau muda. Pada punggungnya ada 3 baris putih
kekuning-kuningan dan dua garis di samping, kepalanya berwarna hitam. Panjang
ulat sekitar 18 mm. Punggungnya ada garis berwarna hijau muda. Sisi kiri dan kanan
punggung warnanya lebih tua dan ada rambut dari kitin yang warnanya hitam. Bagian
sisi perut berwarna kuning. Ada juga yang warnanya kuning disertai rambut hijau.
Pupa terletak dalam tanah di dekat pangkal batang inang. Panjang pupa sekitar
8,5 - 10,5 mm, berwarna hijau pudar dan coklat muda, kemudian berubah menjadi
coklat tua seperti tembaga.
Imago jantan lebih besar dan lebih lebih panjang sedikitdaripada yang betina.
Warna sayap muka krem dengan bercak abu-abu coklat. Ngengat jantan berambut
hitam berumbia-rumbia di tepi masing-masing sayap muka di samping kepala, yang
betina kurang rimbun. Lama hidup untuk ngengat betina sekitar 16 - 24 hari. Daur
hidupnya sekitar 22 - 30 hari. Panjang larva dapat mencapai 18 - 25 mm.
o Gejala serangan

Ulat Crop kubis (Crocidolomia binotalis Zell.) sering menyerang titik tumbuh
sehingga sering disebut ulat jantung kubis. Larva kecil memakan bagian bawah daun
dengan meninggalkan bekas berupa bercak putih. Lapisan epidermis permukaan atas
daun biasanya tidak ikut dimakan dan akan berlubang setelah lapisan tersebut kering
serta hanya tinggal tulang-tulang daunnya. Bila bagian pucuk yang terserang maka
tanaman tidak dapat membentuk krop sama sekali.
Larva instar II mulai memencar dan menyerang daun bagian lebih dalam dan
sering kali masuk ke dalam pucuk tanaman serta menghancurkan titik tumbuh.
Apabila serangan terjadi pada tanaman kubis yang telah membentik krop, larva yang
telah mencapai instar III akan menggerek ke dalam krop dan merusak bagain
tersebut, sehingga dapat menurunkan nilai ekonominya. Tidak jarang juga akan
sering terjadi pembusukan krop karena serangan tersebut yang diikuti oleh serangan
skunder yaitu oleh jamur. Ulat krop kubis lebih banyak ditemukan pda pertanaman
yang telah membentuk krop, yaitu pada tanaman berumur 7- 11 minggu setelah
tanam.
Tanaman kubis atau sawi yang diserang ulat ini selain rusak dan daunnya
habis dimakan, tanaman juga menjadi rusak dengan adanya sisa-sisa kotoran bekas
ulat makan. Bila telur dalam kelompok menetas, sekitar 300 ulat akan makan titik
tumbuh sempurna. Ulat akan menyerang dengan cepat pada tanaman lainnya
sehingga ulat ini merupakan hama yang berbahaya bagi tanaman sawi besar dan kol.
o Upaya pengendalian
Melakukan sanitasi kebersihan kebun, yaitu dengan membersihkan kebun dari
bahan-bahan organic yang bisa membusuk yang dapat menjadi sarang tempat hama
ini bertelur. Melakukan pola tanam dan pengaturan jarak tanam, jangan menanam dua
jenis tanaman yang disukai ulat crop berdekatan. Membuat persemaian di tempat
yang tidak terlindung atau mengurangi naungan. Secara mekanis dengan menangkapi
langsung hama ini dan dimusnahkan. Dengan menggunakan perangkap yaitu berupa
perangkap cahaya. Secara kimia, yaitu dengan penggunaan insektisida alami seperti
akar tuba, daun pucung tembakau dan lengkuas dan disemprotkan pada pada daun,
batang dan bagian lainnya yang belum terserang.

3. Ulat Grayak (Spodoptera litura)


o Bioekologi
Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian dasar melekat pada daun
(kadang- kadang tersusun dua lapis), berwarna coklat kekuningan, . Telur diletakkan
pada bagian daun atau bagian tanaman lainnya, baik pada tanaman inang maupun
bukan inang. Bentuk telur bervariasi. Kelompok telur tertutup bulu seperti beludru
yang berasal dari bulu- bulu tubuh bagian ujung ngengat betina, berwarna kuning
kecoklatan. Produksi telur mencapai 3.000 butir per induk betina, tersusun atas 11
kelompok dengan rata-rata 25-200 butir per kelompok. Stadium telur berlangsung
selam 3 hari (2;10;12). Setelah telur menetas, ulat tinggal untuk sementara waktu di
tempat telur diletakkan. Beberapa hari kemudian, ulat tersebut berpencaran.
Larva mempunyai warna yang bervariasi, memiliki kalung (bulan sabit)
berwarna hitam pada segmen abdomen keempat dan kesepuluh. Pada sisi lateral
dorsal terdapat garis kuning. Ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian
sisi coklat tua atau hitam kecoklatan, dan hidup berkelompok. Beberapa hari setelah
menetas (bergantung ketersediaan makanan), larva menyebar dengan menggunakan
benang sutera dari mulutnya. Pada siang hari, larva bersembunyi di dalam tanah atau
tempat yang lembap dan menyerang tanaman pada malam hari atau pada intensitas
cahaya matahari yang rendah. Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara
bergerombol dalam jumlah besar.
Stadium ulat terdiri atas 6 instar yang berlangsung selama 14 hari. Ulat instar
I, II dan III, masing-masing berlangsung sekitar 2 hari. Ulat berkepompong di dalam
tanah. Stadia kepompong dan ngengat, masing-masing berlangsung selama 8 dan 9
hari. Ngengat meletakkan telur pada umur 2-6 hari. Ulat muda menyerang daun
hingga tertinggal epidermis atas dan tulang-tulang daun saja. Ulat tua merusak
pertulangan daun hingga tampak lobang-lobang bekas gigitan ulat pada daun.
Warna dan perilaku ulat instar terakhir mirip ulat tanah Agrothis ipsilon,
namun terdapat perbedaan yang cukup mencolok, yaitu pada ulat grayak terdapat
tanda bulan sabit berwarna hijau gelap dengan garis punggung gelap memanjang.
Pada umur 2 minggu, panjang ulat sekitar 5 cm. Ulat berkepompong di dalam tanah,
membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon), berwarna coklat kemerahan dengan
panjang sekitar 1,60 cm. Siklus hidup berkisar antara 30-60 hari (lama stadium telur
2-4 hari). Stadium larva terdiri atas 5 instar yang berlangsung selama 20-46 hari.
Lama stadium pupa 8-11 hari.
o Gejala serangan
Merupakan salah satu hama yang menyerang pada malam hari, sedangkan
pada siang hari ulat ini bersembunyi di bawah tanaman, mulsa atau dalam tanah.
Larva yang masih muda merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis
bagian atas (transparan) dan tulang daun. Larva instar lanjut merusak tulang daun dan
kadang-kadang menyerang polong. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun
dan menyerang secara serentak dan berkelompok. Serangan berat menyebabkan
tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat.
Serangan berat pada umumnya terjadi pada musim kemarau, ketika ulat yang
masih kecil sangat aktif makan yang mengakibatkan bagian daun tanaman yang
tersisa tinggal epidermis bagian atas dan tulang daunnya saja, kemudian jika ulat
sudah besar akan memakan semua tulang daun sehingga menyebabkan tanaman
menjadi gundul dan menyebabkan defoliasi daun yang sangat berat.
o Upaya pengendalian
Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang. Pengolahan tanah yang baik
untuk mematikan larva/pupa dalam tanah. Secara kimia dengan penggunaan
insektisida bila pengendalian mengurangi serangan hama ini contohnya Azodrin,
Thiodan 35 EC, Dipterex 95 SP dan Tokuthion 500 EC.
Penanganan hama dengan cara kimia memang lebih cepat dan efektif. Namun
tetap mengikuti aturan dan dosis yang disarankan ya Sobat Quick. Agar lingkungan
tetap terjaga dan tidak tercemar.

4. Kumbang Anjing (Phyllotreta vittata)


o Bioekologi
Serangga yang termasuk dalam family Chrysomelidae pada fase larva maupun
imago umumnya bersifat fitofag, namun banyak dari anggotanya yang termasuk
dalam spesies hama serius. Perilaku yang umum dari serangga Chrysomelidae adalah
mengumpulkan dedaunan.
Serangga hama ini dikenal dengan kumbang anjing atau leaf beetle,
mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. Kumbang ini berwarna coklat
kehitaman dengan sayap bergaris kuning. Panjang kumbang 2 mm. Telur diletakkan
berkelompok pada kedalaman l-3 cm di tanah.Panjang larva 3-4 mm. Pupanya berada
pada kedalaman tanah 5 cm. Daur hidupnya 3-4 minggu.
o Gejala serangan
Bentuk serangan hama kumbang anjing ini diantaranya adalah larvanya
seringkali merusak bagian dasar tanaman dekat dengan permukaan. Sementara itu
untuk serangan kumbangnya sendiri dapat menyebabkan daun tanaman berlubang-
lubang kecil. Sehingga apabila tingkat serangan sudah melebihi 70 % dapat
menyebabkan daun tanaman berlubang.
o Upaya pengendalian
Mempersiapkan persemaian agar kondisi pupuk dan air tercukupi. 
Pengolahan tanah yang baik untuk membunuh telur dan pupa yang ada di dalam tana
h dan membersihkan lahan dari gulma. Pada fase awal, penyiraman dilakukan tiap
hari (terutama untuk penanaman musim kemarau) untuk menjaga agar pertanaman
tidak mengalami kekeringan. Dilakukan aplikasi insektisida kimia sintetik yang
terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian jika pengendalian lain tidak bisa
mengurangi intensitas serangan hama.

5. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)


o Bioekologi
Telur diletakkan satu-satu atau dalam kelompok. Bentuk telur seperti kerucut
terpancung dengan garis tengah pada bagian dasarnya 0,5 mm. Seekor betina dapat
meletakkan 1.430-2.775 butir telur. Warna telur mula-mula putih lalu berubah
menjadi kuning, kemudian merah disertai titik coklat kehitam-hitaman pada
puncaknya. Titik hitam tersebut adalah kepala larva yang sedang berkembang di
dalam telur. Menjelang menetas, warna telur berubah menjadi gelap agak kebiru-
biruan. Stadium telur berlangsung 4 hari.
Larva menghindari cahaya matahari dan bersembunyi di permukaan tanah
kira-kira sedalam 5-10 cm atau dalam gumpalan tanah. Larva aktif pada malam hari
untuk menggigit pangkal batang. Larva yang baru keluar dari telur berwarna kuning
kecoklat-coklatan dengan ukuran panjang berkisar antara 1-2 mm. Sehari kemudian
larva mulai makan dengan menggigit permukaan daun. Larva mengalami 5 kali ganti
kulit. Larva instar terakhir berwarna coklat kehitam -hitaman. Panjang larva instar
terakhir berkisar antara 2 -50 mm. Bila larva diganggu akan melingkarkan tubuhnya
dan tidak bergerak seolah-olah mati. Stadium larva berlangsung sekitar 36 hari.
Pembentukan pupa terjadi di permukaan tanah. Pupa berwarna cokelat terang atau
cokelat gelap. Lama stadia pupa 5 – 6 hari.

Imago. Umumnya ngengat Famili Noctuidae menghindari cahaya matahari


dan bersembunyi pada permukaan bawah daun. Sayap depan berwarna dasar coklat
keabuabuan dengan bercak-bercak hitam. Pinggiran sayap depan berwarna putih.
Warna dasar sayap belakang putih keemasan dengan pinggiran berenda putih.
Panjang sayap depan berkisar 16-19 mm dan lebar 6-8 mm. Ngengat dapat hidup
paling lama 20 hari. Apabila diganggu atau disentuh, ngengat menjatuhkan diri pura-
pura mati. Perkembangan dari telur hingga serangga dewasa rata-rata berlangsung 51
hari.
o Gejala Serangan

Larva aktif pada malam hari untuk mencari makan dengan menggigit pangkal
batang. Pangkal batang yang digigit akan mudah patah dan mati. Di samping
menggigit pangkal batang, larva yang baru menetas, sehari kemudian juga menggigit
permukaan daun. Ulat tanah sangat cepat pergerakannya dan dapat menempuh jarak
puluhan meter. Seekor larva dapat merusak ratusan tanaman muda.

o Upaya pengendalian

Dilakukan penyemprotan di sekitar tanaman, hingga bisa menyasar pada


hamanya. Pestisida yang digunakan adalah Bayrusil 0,3% dan Phasvel dengan
konsentrasi 0,1%. Secara mekanis, dilakukan pembongkaran pada tanah tersebut
kemudian ulatnya dibunuh. Penggunaan musuh alami misalnya Tritaxys braurei,
Cuphocera varia dan jamur misalnya Botrytis sp.
B. Penyakit Pada Tanaman Kubis
1. Akar Gada

Clubroot atau Akar Gada merupakan penyakit terpenting pada tanaman kubis-
kubisan yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae. Penyakit ini
menyebar merata diseluruh areal pertanaman kubis di seluruh dunia khususnya di
Eropa dan Amerika Utara. Penyakit ini sering dijumpai pada daerah dataran rendah
dan dataran tinggi. Hampir seluruh tanaman kubis-kubisan misalnya kubis, sawi
putih, dan brussels sprout sangat rentan terkena akar gada.

o Penyebab Penyakit

Akar gada menyebabkan kerusakan yang parah pada tanaman rentan tumbuh
pada tanah yang terifeksi. Hal ini disebabkan patogen yang menginfeksi tanah ini
tetap menjadi saprofit pada tanah sehingga kubis-kubisan kurang cocok lagi untuk
dibudidayakan di tempat tersebut . Plasmodiophora brassicae yang menyerang kubis
ini termasuk dalam kelas plasmodiophoromycetes. Fase somatiknya berupa
plasmodium. Plasmodium tumbuh menjadi zoosporangium atau spora rehat. Pada
saat perkecambahan, patogen ini membentuk zoozpora yang dapat berasal dari spora
rehat. Zoospora tunggal dari spora rehat kemudian memenetrasi akar inang dan
tumbuh menjadi plasmodium. Setelah beberapa hari, plasmodium membelah menjadi
beberapa multinukleat yang dibungkus oleh membran sehingga sel-sel akar akan
bertambah besar. Masing-masing bagian tumbuh menjadi zoosporangium. Setiap
zoosporangium terdiri dari empat hingga delapan zoospora yang segera dilepaskan
melalui pori-pori pada dinding sel tanaman inang. Beberapa dari zoospora kemudian
bersatu untuk memproduksi zigot diploid yang dapat menyebabkan infeksi baru dan
plasmodium baru. Zigot ini terdiri dari nucleus yang dikaryotik. Selanjutnya nukleus
ini mangalami fusi (karyogami) yang diikuti meiosis. Akhirnya plasmodium menjadi
spora rehat yang akan disebarkan ke tanah dan dapat menginfeksi tanaman
selanjutnya.

o Gejala Penyakit
Gejala yang khas pada tanaman yang terifeksi Plasmodiophora brassicae
adalah pembesaran akar halus dan akar sekunder yang membentuk seperti gada.
Bentuk gadanya melebar di tengah dan menyempit di ujung. Akar yang telah
terserang tidak dapat menyerap nutrisi dan air dari tanah sehingga tanaman menjadi
kerdil dan layu jika air yang diberikan untuk tanaman agak sedikit. Bagian bawah
tanaman menjadi kekuningan pada tingkat lanjut serangan penyakit. Spora dapat
bertahan di tanah selama 10 tahun, dan bisa juga terdapat pada rumput-rumputan.
o Kondisi yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Penyakit akar gada berkembang dengan baik pada pH tanah 5,7. Menurun
dengan drastis pada pH tanah 5,8-6,2 dan gagal berkembang pada pH 7,8.
Perkecambahan spora terjadi pada pH 5,7-7,5 dan tidak akan berkecambah pada pH
8. Tetapi pH tanah yang rendah tidak menjamin terjadinya infeksi untuk semua
kejadian. Kisaran temperatur yang optimum untuk bagi perkembangan P. brassicae
adalah 17,8-25 oC dengan temperature minium 12,2-27,2 oC. Kelembaban optimum
selama 18-24 jam mengakibatkan perkecambahan dan penetrasi pathogen ke dalam
inang kubis kemudian infeksi hanya terjadi jika kelembaban tanah di atas 45 % dan
kelembaban di atas 50 % akan menyebabkan penyakit bertambah cepat. Kelembaban
tanah di bawah 4 % dapat menyebabkan terhambatnya infeksi. Kelembaban yang
tinggi dapat disebakan dengan meningkatnya curah hujan. Intensitas cahaya sangat
berpengaruh pula terhadap perkembangan penyakit. Intensitas cahaya yang tinggi
menyebabkan serangan pathogen akan menurun, sebaliknya intensitas cahaya yang
rendah dapat menyebabkan berkembangnya patogen dengan cepat sehingga penyakit
akibat serangan patogen juga semakin besar. Jumlah spora rehat akan menentukan
tingkat infeksi pada inang.
o Siklus Penyakit

Perkembangan penyakit atau siklus penyakit dapat dijelaskan sebagai berikut.


Plasmodium yang berkembang dari zoospora sekunder memenetrasi jaringan akar
muda secara langsung. Hal ini dapat mempertebal akar dan batang luka yang terletak
di bawah tanah. Setelah itu, plasmodium menyebar ke sel kotikal hingga ke
kambium. Setelah seluruh kambium terserang, plasmodium kemudian menyebar ke
korteks kemudian ke xilem. Patogen ini kemudian berkelompok membentuk
gelendong yang meluas dan berangsur-angsur menyebar. Jumlah sel kemudian
bertambah banyak dan membesar. Infeksi ini dapat menyebabkan sel 5-12 kali lebih
besar dari sel yang tidak terinfeksi. Sel yang berkembang abnormal ini dapat menjadi
stimulus bagi patogen untuk menyebar lebih cepat dan bahkan dapat menyebabkan
sel yang awalnya tidak terifeksi menjadi terifeksi. Sel yang tumbuh abnormal ini
dapat digunakan oleh plasmodium sebagai sumber makanannya.

o upaya Pengendalian

Penyakit ini memiliki berbagai bentuk gejala serangan sehingga mendorong

untuk memuliakan tanaman yang tahan terhadap penyakit ini. Pengendalian

dilakukan dengan menggunakan bibit yang bebas hama dan penyakit. Pergiliran

tanaman kurang sesuai diterapkan untuk kasus ini karena sporanya dapat bertahan

lama serta gulma yang dapat menyebabkan penyakit ini. Pengapuran tanah untuk

meningkatkan pH menjadi 7.2 sangat efektif untuk mengurangi perkembangan

penyakit. Penyiraman fungisida Promefon 250EC pada lubang tanam yang dicampur

dengan air saat tanam juga dapat mengurangi perkembangan penyakit. Tanaman yang

tahan haruslah diuji di beberapa lokasi karena jenis serangannya yang berbeda-beda

di setiap lokasi (Arismansyah, 2010). Selain itu, penggunaan tanaman perangkap dan
perlakuan tanah pembibitan dengan teknik solarisasi juga teruji mengurangi penyakit

dan meningkatkan hasil panen.

2. Busuk Hitam

Penyakit busuk hitam adalah salah satu penyakit yang paling merusak kubis
dan silangan lain. Kembang kol, kubis, dan kale adalah salah satu silangan paling
rentan terhadap busuk hitam. Brokoli, kecambah brussels, kubis cina, collard,
kohlrabi, mustard, rutabaga, dan lobak juga rentan. Beberapa gulma silangan juga
dapat menjadi inang patogen. Penyakit ini biasanya paling lazim di daerah yang
rendah dan dimana tanaman tetap basah untuk waktu yang lama. Kondisi yang
menguntungkan untuk tersebarnya bakteri menyebabkan kerugian total tanaman
crucifer . Bakteri banyak terdapat pada serasah dari tanaman yang terinfeksi, tetapi
akan mati jika serasah tadi melapuk. Bakteri ini juga terdapat pada tanaman kubis-
kubisan yang lain dan tanaman rumput-rumputan serta dapat pula terbawa benih.
Bakteri ini berada pada tetesan butir air dari tanaman yang terluka serta dapat
menyebar ke seluruh tanaman melalui manusia ataupun peralatan yang sering
bergerak melintasi lahan saat kondisi tanaman sedang basah.

o Penyebab Penyakit

Penyebab penyakit busuk hitam adalah Xanthomonas campestris pv.


Campestris. Bakteri ini bersel tunggal, berbentuk batang, 0,7-3,0 x 0,4-0,5 µm,
membentuk rantai, berkapsula, tidak berspora, bersifat gram negatif, bergerak dengan
satu flagel polar.
o Gejala Penyakit

Tanaman dapat terserang busuk hitam pada setiap tahap pertumbuhan. Pada
pembibitan, infeksi yang pertama kali muncul dengan menghitamkan sepanjang
kotiledon. Bibit terserang patogen akan berwarna kuning sampai coklat, layu, dan
runtuh. Pada tanaman yang memasuki pertumbuhan vegetatif lanjut akan
menunjukkan gejala kerdil, layu, daun yang terinfeksi berbentuk wilayah-V. Wilayah
V ini kemudian membesar dan menuju dasar daun, berwarna kuning sampai coklat,
dan kering. Gejala ini dapat muncul pada daun, batang, akar, dan berubah menjadi
hitam akibat patogen yang berkembang biak. Daun muda yang terinfeksi mengalami
pertumbuhan yang terhambat, warna kuning sampai coklat, layu, dan mati sebelum
waktunya. Kadang-kadang, tanaman berpenyakit gundul memiliki panjang tangkai
atasnya dengan seberkas kecil daun.

o Siklus Penyakit

Sumber utama bakteri untuk pengembangan busuk hitam di bidang produksi


benih penuh, transplantasi terinfeksi, dan gulma silangan terinfeksi. Bakteri ini
disebarkan dalam panen terutama oleh angin-angin dan percikan air dan oleh para
pekerja, mesin, dan kadang-kadang serangga. X. campestris dapat bertahan hidup
pada permukaan daun selama beberapa hari sampai tersebar ke hidatoda atau luka di
mana infeksi dapat terjadi. Bakteri masuk ke daun melalui hidatoda saat
memancarkan air melalui pori-pori di tepi daun pada malam hari, ditarik kembali ke
dalam jaringan daun pada pagi hari. Bakteri dapat masuk ke daun dalam 8 sampai 10
jam, dan gejala yang terlihat layu secepat 5-15 jam kemudian. Luka, termasuk yang
dibuat oleh serangga makan pada daun dan cedera mekanik ke akar selama tanam,
juga menyediakan situs masuk. Gerakan bakteri ke tanaman melalui hidatoda dibatasi
dalam varietas tahan; akibatnya, ada situs infeksi yang lebih sedikit dan / atau bagian
yang terkena jauh lebih kecil dalam varietas tahan daripada varietas rentan.

o Kondisi yang Mendukung Perkembangan Penyakit


Pada kondisi yang hangat dan basah kerugian busuk hitam dapat melampaui
50% karena penyebaran penyakit ini. Hujan dan kabut tebal atau embun dan suhu hari
75° sampai 95° F yang paling menguntungkan bagi patogen. Di bawah dingin,
kondisi basah infeksi dapat terjadi tanpa gejala perkembangan. Akibatnya,
transplantasi tumbuh pada temperature rendah mungkin terinfeksi tetapi tanpa gejala.
Bakteri tidak menyebar di bawah 50° F atau selama cuaca kering.

o Upaya Pengendalian Penyakit

Pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman yang bukan jenis


kubis-kubisan, sehingga akan memberikan waktu yang cukup bagi serasah dari
tanaman kubis-kubisan untuk melapuk. Lalu menggunakan benih bebas hama dan
penyakit yang dihasilkan di iklim yang kering. Hindari untuk bekerja di lahan saat
daun tanaman basah. Tanamlah varietas kubis yang tahan terhadap busuk hitam.
Penyemprotan bakterisida Kocide 77 WP sangat dianjurkan, terutama untuk budidaya
di musim penghujan. Tanaman dan daun sakit dipendam dalam tanah. Menutup tanah
dengan jerami untuk mengurangi penyakit. Perlakuan benih dengan cara merendam
benih dalam air hangat bersuhu 52ºC selama 30 menit. Tanaman yang terserang
bakteri busuk hitam dicabut dan dimusnahkan. Dalam pemanenan kubis
diikutsertakan dua helai daun hijau untuk melindungi krop. Pemanenan harus
dilakukan dengan hati-hati, agar tidak terjadi luka. Daun-daun yang terinfeksi
dikumpulkan untuk dimusnahkan.

3. Busuk Basah
Bakteri penyebab busuk basah mempunyai kisaran inang yang luas di
antaranya kubis, kentang, wortel, turnip, seledri, tomat, dan lain-lain. Panyakit ini
dapat ditemukan di seluruh dunia dan dapat menyebabkan gejala serius pada krop di
lapangan, di pengangkutan dan di penyimpanan. Perkembangan serangannya lebih
banyak terjadi pada tempat penyimpanan atau pascapanen dari pada di lapangan.
Pada penyimpangan, tanaman krop sehat yang mangalami kontak langsung dengan
tanaman yang sakit dapat dalam beberapa jam saja dapat tertular penyakit busuk
basah ini. Penyakit busuk lunak ini telah menyebkan kerugian ekonomi yang besar
akibat berkurangnya jumlah produksi yang dapat terjual: rendahnya kualitas; dan
besarnya biaya pengendalian. Bakteri ini dapat mempertahankan diri dalam tanah dan
sisa-sisa tanaman di lapangan.

o Penyebab Penyakit
Erwinia carotovora merupakan bakteri berbentuk batang, bersifat gram
negatif, umumnya berbentuk rantai, tidak berkapsul dan tidak berspora, dapat
bergerak aktif dengan 2-5 flagella. Ukuran selnya 1,5-2,0 x 0,6-0,9 mikron (Permadi
dan Sastroosiswojo, 1993). Suhu minimum untuk bakteri ini adalah 5oC, optimum
220C, maksimum 37oC dan akan mati pada suhu 500C.

o Gejala Penyakit

Gejala awal yang mucul pada tanaman berupa lesio gejala basah yang kecil
dan diameter serta kedalamannya melebar secara cepat. Bagian tanaman yang terkena
menjadi lunak dan berubah warna menjadi gelap apabila serangan terus berlanjut.
Warna pada permukaannya menjadi hijau pucat dan mengkerut. Pada jaringan yang
terinfeksi akan berwarna buram dan kemudian akan berubah menjadi krem dan
berlendir. Jika hal ini terjadi, maka pada permukaan akan tampak cairan berwarna
keruh. Perkembangan penyakit hingga tanaman membusuk hanya butuh waktu 3-5
hari. Tanaman yang terkena busuk lunak kemudian menimbulkan bau yang khas yang
dimungkinkan oleh adanya perkembangan organisme lain setelah pembusukan
terjadi. Jika akar krop telah terserang, gejala kemudian dapat muncul pada batang
berupa batang yang berair, hitam, dan berkerut. Hal ini juga menyebabkan tanaman
kerdil, layu dan mati. Bakteri busuk lunak dapat timbul dari seresah tanaman yang
telah terinfeksi, melalui akar tanaman, dari tanah, dan beberapa serangga. Luka pada
tanaman seperti stomata pada daun, serangan serangga, kerusakan mekanis, ataupun
bekas serangan dari patogen lain merupakan sasaran yang empuk untuk serangan
bakteri.

o Siklus Penyakit

Siklus penyakit atau perkembangan penyakit dapat dijelaskan sebagai berikut.


Bakteri pada awalnya masuk ke luka pada tanaman. Luka ini dapat disebabkan oleh
serangga tersebut mengimpan telurnya pada tanaman kubis sehingga menyebabkan
luka. Bakteri setelah masuk akan makan dan membelah diri dengan cepat serta
merusak sel di sekitarnya. Hal ini menyebabkan terbentuknya cairan. Selain tiu,
bakteri ini menghasilkan enzim pektinase dan selulase. Enzim peptinase dapat
menguraikan peptin yang berfungsi untuk merekatkan dinding sel yang
berdampingan. Dengan terurainya peptin, sel-sel akan terdesintegrasi. Enzim selulase
menyebabkan merusak selulosa dan melunakkan dinding sel. Akibatnya air dari
protoplasma berdifusi ke ruang antar sel. Sel kemudian mengalami plasmolisis,
kolaps, dan mati. Bakteri selanjutnya bergerak menuju ruang antarsel dan membelah
diri sambil mengeluarkan enzimnya sehingga infeksi semakin besar.
Akibat dari hal tersebut di atas, jaringan yang terserang kemudian melunak, berubah
bentuk, dan berlendir. Massa dari bakteri yang terdapat pada cairan dalam sel sangat
banyak. Akibatnya jaringan gabus yang banyak terserag penyakit ini pun rusak
sehingga lendir yang mengandung banyak bakteri tersebar ke dalam tanah atau dalam
penyimpanan pasca panen. Hal ini memungkinkan bakteri mengadakan kontak
dengan tanaman yang sehat sehingga tanaman sehat pun akan mengalami sakit.

o Kondisi yang Mendukung Perkembangan Penyakit

Terdapat beberapa hal yang dapat mendukung perkembangan penyakit


diantaranya drainasi yang buruk pada pertanaman, kelembaban yang tinggi, curah
hujan tinggi yang dapat menyebabkan bakteri tersebar dengan cepat, adanya sisa-sisa
tanaman terinfeksi di sekitar daerah penanaman dan suhu yang rendah.
Kondisi yang menyebabkan perkembangan penyakit pada pasca panen adalah luka
pada kubis. Jika luka ini mengadakan kontak dengan tanaman yang terserang, maka
dengan mudah kubis yang luka ini akan terinfeksi E. carotovora.

o Upaya Pengendalian

Pengendalian secara preventif bisa ditempuh melalui kebersihan lingkungan


dan sistem budidaya. Menunggu tanah melapukkan sisa-sisa tanaman lama di lahan
sebelum menanam tanaman selanjutnya sangat dianjurkan untuk mengatasi hal ini.
Lahan harus memiliki drainase yang baik untuk mengurangi kelembaban tanah serta
jarak tanamnya harus cukup memberikan pertukaran udara untuk mempercepat proses
pengeringan daun saat basah. Pembuatan pelindung hujan dapat pula menghindari
percikan tanah dan pembasahan daun yang akan mengurangi gejala busuk lunak.
Penyemprotan bacterisida seperti Kocide 77WP dengan interval 10 hari sangat
dianjurkan terutama saat penanaman musim hujan. Sanitasi, jarak tanam tidak terlalu
rapat. Menghindari terjadinya luka yang tidak perlu dan pengendalian pasca panen.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Tanaman kubis bersifat mudah rusak ini dapat disebabkan oleh daun yang
lunak dan kandungan air cukup tinggi, sehingga mudah ditembus oleh alat-alat
pertanian dan hama/penyakit tanaman. Hama-hama pada tanaman kubis/sawi adalah
hama ulat daun kubis (Plutella xylostella), ulat tanah (Agrotis ipsilon), ulat krop kubis
(Crocidolomia pavonana F.), kumbang anjing (Phyllotreta vittata), dan ulat grayak
(Spodoptera litura). Serangan yang timbulkan pada hama kadang-kadang sangat berat
sehingga tanaman kubis tidak membentuk krop dan panennya menjadi gagal.

DAFTAR PUSTAKA
Noorbetha Julaily, Mukarlina, Tri Rima Setyawati. 2013. Pengendalian hama pada
tanaman sawi (Brassica juncea L.) menggunakan ekstrak daun pepaya (Carica
papaya L.). Jurnal Protobiont, 2 (3): 171-175.

Pracaya. 1993, Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta

Sartono & Sumarmi, 2007, Kajian insektisida hayati terhadap daya bunuh ulat
Plutella Xylostella dan Crocidolomia binotalis pada tanaman kubis krop.
Fakultas Pertanian.

Semangun, H. 2007. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia (Revisi).


Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Susniahti, N Sumeno, H Sudarjat. 2005. Bahan Ajar Ilmu Hama Tumbuhan. Jurusan
Hama dan Penyakit Tumbuhan. Faperta Unpad: Bandung