Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

Hama Dan Penyakit yang Sangat Berperan dalam Kehilangan


Hasil pada Tanaman Labu Kuning

NAMA KELOMPOK 4:

1. WAYAN WINARTA (D1E1 17 064)


2. ALFIAN SAFITRI (D1E1 17 001)
3. WARINI (D1E1 17 062)
4. WAHYUNI (D1E1 17 063)
5. YUSRIN BOBI (D1E1 17 067)

JURUSAN PROTEKSI TANAMAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Tanaman labu di Indonesia bisa tumbuh dan berkembang biak dengan


baik, tanaman labu mampu beradaptasi dengan iklim sub tropis panas maupun
dingin dan mampu beradaptasi dengan letak dataran rendah ataupun dataran
tinggi. Pembudidayaan labu secara khusus oleh petani memang jarang dilakukan,
selama ini tanaman labu lebih sering dibudidayakan di kebun, pekarangan ataupun
dilakukan secara tumpang sari. Tanaman labu bisa tumbuh dan berbuah walaupun
tanpa perawatan khusus, apabila dilakukan perawatan secara intensif maka
hasilnya bisa lebih baik lagi.
Labu merupakan buah yang dihasilkan oleh sejumlah anggota suku labu-
labuan (Cucurbitaceae), terutama yang berukuran cukup besar dan berbentuk
bulat atau memanjang. Tidak ada kriteria yang jelas mengenai pemanfaatannya,
sehingga labu dapat dimakan segar atau diolah terlebih dahulu; namun labu
biasanya tidak dimakan sebagai lalapan.
Di Indonesia hanya terdapat labu-labuan blingo/kundur (Benincasa
hispida), gambas/onyong (Acutangula), labu air (Legenaria leucantha), labu
siam/waluh Jepang (Sechium edule), mentimun (Cucumis sativus), parai/paria
(Momordica charantia), parai ular/parai belut (Trichosantres aguina), melon,
semangka, labu kuning.

1.2.  Tujuan

1. Mengetahui jenis-jenis labu di Indonesia


2. Mengetahui hama dan penyakit yang menyerang tanaman labu-labuan
3. Mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Labu Bligo


Labu Beligo atau Benincasa hispida adalah tanaman asli Asia Tenggara.
Tanaman ini tumbuh merayap dan merupakan tanaman tahunan dengan sulur
bercabang yang akan digunakan untuk memanjat, beberapa dijadikan menjadi
penutup pagar atau merata di permukaan tanah, yang jelas tentu memiliki nilai
"artistik" untuk taman. Tanaman ini merupakan tanaman pangan. Batang tebal,
berkerut, dan dilapisi oleh rambut (trikoma). Daun bertektur kasar dengan 5 lobus
dan berukuran 4-10 cm. Bunga berwarna kuning emas, muncul pada ketiak daun
pada awal musim panas. 
Hama dan penyakit
 Busuk daun
Busuk daun merupakan penyakit pertama yang umumnya menyerang labu-
labuan dan salah satunya tanaman beligo. Busuk daun menimbulkan gejala seperti
atas daun bercak-bercak kuning, sering agak tersudut karena dibatasi tulang daun.
Pada cuaca lembab bawah bercak akan muncul cendawan dan bulunya berwarna
keunguan. Jika terkena busuk daun tentu tanaman akan sakit bahkan mati. Karena
menjadi lemah dan kurangnya mutu dari buah yang diproduksi. Pengendaliannya
yaitu membongkar dan membakar tanaman yang terserang.
Jangan lupa menyemprotkan fungisida dan mengatur jarak antara drainase
air dan tanaman. Hal ini bisa jadi karena terlalu lembab dan tanaman beligo
menyukai sorotan matahari, hal ini justru mengurangi tumbuhnya cendawan.
 Antraknosa
Antraknosa menimbulkan gejala seperti bercak pada daun sama seperti
umumnya. Daun yang masih berkembang dapat menjadi tidak rata. Bercak pada
satu tempat akan bergerumul dan menyebabkan daun mati. Bercak pada tangkai
dan batang agak mengendap dan memanjang sehingga tentu akan membuat batang
ikut mati.
Antraknosa bisa muncul meluas pada cuaca lembab karena terbentuk oleh
masa spora. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletotrichum langenarium.
Pengelolaannya dapat dilakukan menanam benih yang sehat, melakukan pergiliran
tanaman dan menggunakan fungisida baik organik maupun non organik.
 Lalat buah
Lalat buah merupakan hama yang memiliki arti penting bagi pertanian.
Lalat buah dapat merusak buah-buahan yang ditimbulkan akibat gejala tusukan
lalat buah berupa titik hitam di bagian buah. Tentu hal ini akan mengganggu
kualitas dan kuantitas dari lalat buah. Selain itu lalat buah merupakan hama utama
tanaman yang menghasilkan buah-buahan.
Pengendaliannya dengan memberikan insektisida yang membuat lalat
jantan akan mengalami infertil (mandul) sehingga tidak akan memperbanyak
spesies lalat buah dan lalat buah betina tidak dapat bertelur di atas tanaman anda.
 Penggorok daun
Penggorok daun merupakan serangga yang dikenal sebagai hama utama
pada tanaman sayuran dan buah pada beberapa negara, khususnya Indonesia.
Hama ini tersebar di mana-mana bahkan di seluruh Indonesia. Biasanya hama ini
akan merusak tanaman seperti labu-labuan terutama mentimun dan kacang merah.
Hama ini mulai membuat liang dan korokan beralur warna putih bening pada
bagian daun. Sehingga larvanya aktif dan hidup serta ikut merusak daun juga.
Pada satu helai daun dapat dijumpai lebih dari satu lubang korokan.
Gejalanya berwarna putih beralir dan agak bening pada bagian mesofil dan
ditemukan pada daun tanaman. Menghambat kerja fotosintesis dan hama yang
paling mudah bertelur serta menyebar.
Pengendalian yang bisa dilakukan, membabat habis daun yang diserang
hama penggorok daun, setelah itu tanam serentak tanaman yang sama, pergiliran
tanaman seperti padi atau jagung dapat mematikan hama penggorong.
2.2. Labu Air
Ini adalah sejenis labu yang tergolong cukup langka untuk saat sekarang
ini, namun pada hakikatnya memiliki beragam manfaat yang sangat ramah untuk
kesehatan tubuh anda. Ini adalah tumbuhan labu yang termasuk rajin untuk
menghasilkan buah. Tanaman labu air sendiri sebenarnya memiliki ragam bentuk,
ada yang berbentuk bulat dan juga lonjong.
Labu air yang berbentuk bulat besar sering di juluki dengan labu kendi
sedangkan yang berbetuk lonjong panjang di kenal dengan nama labu belonceng.
Sebenarnya, masih banyak yang menanam labu air di pekarangan belakang
maupun di samping rumah, terutama pada daerah pedesaan. Tidak terlalu sulit
untuk memasarkan labu, karena masih banyak peminatnya.
Hama dan penyakit
 Hama Busuk Daun
Walaupun kondisi ini tidak terlalu sering terjadi dan menyerang labu air,
namun tetap ada laporan kasus tentang adanya serangan hama busuk daun pada
labu air. Jika menyerang tanaman labu air, jenis hama yang satu ini memang agak
sulit untuk di kendalikan, namun dengan mengendalikan sumber dari penyebaran
infeksi. Maka sudah di pastikan bahwa hama ini tidak akan kembali lagi untuk
menggangu buah labu air yang lainnya.
Ciri – ciri labu air yang terjangkit atau terkena infeksi hama busuk daun adalah :
1. adanya cendawan atau parang di bagian bawah permukaan daun, adanya
bercak – bercak berwarna kekuningan dan perubahan warna bulu halus daun.
2. Hama ini akan menyebabkan hasil panen yang tidak optimal hingga kematian
dari tanaman labu air.
3. Lakukan penyemprotan fungisida dan pembersihan menyeluruh pada tanaman
yang terinfeksi.
 Hama Embun Tepung
Tanda – tanda yang terlihat ketika labu air terkena serangan hama ini
adalah adanya lapisan tipis menyerupai tepung pada permukaan batang dan juga
daunnya. lama kelamaan bercak putih tipis tersebut akan mengering dan menebal
hingga menyebabkan kematian pada dedaunan muda tanaman labu air dan akan
menular kepada tanaman yang lainnnya jika mereka berdekatan.
Buah labu air yang mengalami matang dini juga merupakan salah satu
tanda dari serangan hama embun tepung ini. Pertumbuhan akan menjadi
terhambat dan tanaman labu air akan menjadi sangat lemah. Lakukan
penyemprotan peptisida untuk langkah penyembuhan namun cabut saja tumbuhan
labu air yang telah mengalami infeksi parah agar tidak melakukan penyebaran ke
tanaman yang lainnya.
 Hama Antraknosa
Jika anda menemukan tanda bercak coklat di sepanjang tulang daun ,
dengan pola agak bulat dan bersudut – sudut, maka ini adalah tanda dari tanaman
labu air anda terserang hama antraknosa. Lama – kelamaan bercak – bercak
tersebut akan menyatu dan berkumpul menutupi daun dan menyebabkan kematian
daun. Bercak ini juga akan di jumpai pada bagian buah dan menyebabkan
kerusakan pada buah.
Ini terjadi ketika lahan yang di gunakan untuk media adalah lahan yang
terlalu lembab. Penyemprotan dengan fungisida bisa menghentikan penyebaran
dari hama ini.
2.3. Labu Siam
Labu siam merupakan tanaman dengan daya tahan hidup yang tinggi.
Labu siam bisa ditanam didataran rendah maupun dataran tinggi. Tanaman ini
masuk dalam keluarga labu-labuan (Cucurbitaceae). Ia tumbuh dengan cara
merambat sebagaimana tanaman labu lainnya. Bagian tanaman ini yang bisa
dimakan ialah buah dan pucuk mudanya sehingga labu siam biasanya diolah
menjadi sayuran. Kadungan nutrisi dalam labu siam sangatlah banyak diantaranya
vitamin C, vitamin b Kompleks, Asam folat, fosfor, zat bes, seng, mangan dan
tembaga.

Jenis – Jenis Hama Labu Siam


Hama pada tanaman labu siam terdiri dari beberapa jenis, tentunya
memiliki cara penanggulangan yang berbeda-beda. Berikut adalah jenis – jenis
hama tanaman labu siam beserta cara menanggulanginya.
 Hama Jamur
Hama jamur biasa menyerang tanaman pada bagian akar maupun daun.
Beberapa hama jamur yang dapat menyerang ialah antraknosa, embun tepung, dan
busuk daun. Tanaman labu siam sebenarnya cenderung tahan terhadap serangan
jamur, namun jika terjadi serangan maka harus segera diatasi.
Ciri-ciri tanaman labu siam yang terserang jamur pada bagian akarnya
ialah tanaman akan layu disiang hari dan kembali segar pada sore harinya. Lama-
lama keadaannya semakin parah dan akan mati. Jika terdapat gejala ini maka
kocorkan fungisida pada bagian akar tanaman labu siam tersebut. Jika yang
terserang bagian daun maka semprot area yang terserang dan juga area sekitarnya
untuk mencegah penyebaran jamur.
 Hama Serangga
Hama serangga pada tanaman labu siam terdiri dari ulat grayak, lalat buah,
belalang, dan uret. Hama jenis serangga ini dapat dikendalikan dengan penggunan
insektisida secara semprot. Khusus uret maka penggunaan insektisida dilakukan
dengan cara dikocor ke akar.
 Hama Bakteri
Serangan hama bakteri patogen biasanya hanya ditemukan pada musim
hujan dimana kadar kelembaban tinggi. Bakteri akan berkembang secara pesat dan
dapat menyerang tanaman pada bagian akar dan buah. Gejala tanaman yang
terserang hampir mirip dengan serngan jamur namun tanaman akan lebih cepat
mati. Gunakan bakterisida untuk menanggulangi serangan bakteri patogen.
Itulah beberapa hama tanaman labu siam beserta cara menanggulanginya.
Setelah melalui langka cara menanam labu siam dan cara perawatan beserta
menanggulangi hamanya maka kita bisa memasuki tahap panen labu siam setelah
labu siam berusia sekitar 120 hari (4 bulan).
2.5. Mentimun
Mentimun merupakan salah satu sayuran yang hampir selalu hadir pada
makanan orang Indonesia. Baik sebagai hidangan di dalamnya maupun sebagai
pendamping atau bahkan jadi minuman, mentimun sangat mudah kita jumpai.
Hama Pada Tanaman Mentimun.
 Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver).
Kumbang daun berukuran 1 cm dengan sayap kuning polos. Gejala :
merusak dan memakan daging daun sehingga daun bolong; pada serangan berat,
daun tinggal tulangnya. Pengendalian : Natural BVR atau PESTONA.
 Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
Ulat ini berwarna hitam dan menyerang tanaman terutama yang masih
muda. Gejala: Batang tanaman dipotong disekitar leher akar.
 Lalat buah (Dacus cucurbitae Coq.)
Lalat dewasa berukuran 1-2 mm. Lalat menyerang mentimun muda untuk
bertelur, Gejala: memakan daging buah sehingga buah abnormal dan membusuk.
Pengendalian : Natural METILAT.
 Kutu daun (Aphis gossypii Clover)
Kutu berukuran 1-2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerahan atau
hijau gelap sampai hitam. Gejala: menyerang pucuk tanaman sehingga daun
keriput, kerititing dan menggulung. Kutu ini juga penyebar virus. Pengendalian :
Natural BVR atau PESTONA.
Penyakit Pada Tanaman Mentimun.
 Busuk daun (Downy mildew)
Penyebab : Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menginfeksi kulit
daun pada kelembaban udara tinggi, temperatur 16 – 22°C dan berembun atau
berkabut. Gejala : daun berbercak kuning dan berjamur, warna daun akan menjadi
coklat dan busuk. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.
 Penyakit tepung (Powdery mildew )
Penyebab : Erysiphe cichoracearum. Berkembang jika tanah kering di
musim kemarau dengan kelemaban tinggi. Gejala : permukaan daun dan batang
muda ditutupi tepung putih, kemudian berubah menjadi kuning dan mengering.
Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.
 Antraknose
Penyebab : cendawan Colletotrichum lagenarium Pass. Gejala: bercak-
bercak coklat pada daun. Bentuk bercak agak bulat atau bersudut-sudut dan
menyebabkan daun mati; gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah.
Bila udara lembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah
jambu. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.
 Bercak daun bersudut
Penyebab : cendawan Pseudomonas lachrymans. Menyebar pada saat
musim hujan. Gejala : daun berbercak kecil kuning dan bersudut; pada serangan
berat seluruh daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu,
mengering dan berlubang. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum
tanam.
 Virus
Penyebab : Cucumber Mosaic Virus, CMV, Potato virus mosaic, PVM;
Tobacco Etch Virus, TEV; otato Bushy Stunt Virus (TBSV); Serangga vektor
adalah kutu daun Myzus persicae Sulz dan Aphis gossypii Glov. Gejala : daun
menjadi belang hijau tua dan hijau muda, daun berkerut, tepi daun menggulung,
tanaman kerdil. Pengendalian: dengan mengendalikan serangga vektor dengan
Natural BVR atau PESTONA, mengurangi kerusakan mekanis, mencabut
tanaman sakit dan rotasi dengan famili bukan Cucurbitaceae.
 Kudis (Scab)
Penyebab : cendawan Cladosporium cucumerinum Ell.et Arth. Terjadi
pada buah mentimun muda. Gejala : ada bercak basah yang mengeluarkan cairam
yang jika mengering akan seperti karet; bila menyerang buah tua, terbentuk kudis
yang bergabus. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.
2.5. Labu Kuning
Waluh atau Labu Kuning (Cucurbita moschata Durch.) merupakan buah
dari tumbuhan merambat dari suku labu-labuan atau Cucurbitaceae. Banyak
orang yang menyukai waluh ini dan banyak memanfaatkannya sebagai bahan
makanan seperti sup, kue, bubur dan masih banyak yang lainnya. Karena manfaat
yang beragam dari waluh ini, banyak orang yang berusaha untuk melakukan
budidaya labu kuning ini.
Penyakit dan hama
1. Busuk Daun
Secara umum dapat dikatakan bahwa penyakit ini merupakan penyakit
yang terpenting pada labu-labuan dan dapat timbul pada macam-macam anggota
dari suku ini. Busuk daun tersebar di seluruh dunia. Penyakit ini sudah dikenal di
Jawa sejak tahun 1902. Menurut Suhardi (1988) di daratan rendah penyakit busuk
daun umum terdapat pada mentimun dengan intensitas penyakit 5-20%, sedang
pada gambas 2-40%.Penyakit ini juga dianggap sebagai penyakit penting di
Filipina, Malaysia, Thailand, Papua Nugini, Negara-negara Pasific, dan India .
Gejala penyakit ini terlihat dari permukaan atas daun yaitu bercak-bercak
kuning, sering agak bersudut karena dibatasi oleh tulang-tulang daun. Pada cuaca
lembap pada sisi bawah bercak terdapat parang (cendawan) seperti bulu yang
warnanya keunguan. Pada daun labu kuning yang sakit dapat mati. Pada tanaman
lain bercak pada daun yang berwarna kuning tadi dapat menjadi coklat, meskipun
tidak mati, tanaman sakit sangat menderita, menjadi lemah sehingga hasilnya
kurang dan mutunya tidak baik.
Penyebab penyakit ini adalah Pseudoperonospora cubensis yang saat ini
masih banyak disebut dengan nama Peronospora cubensis. Merupakan parasit
obligat. Cendawan memiliki miselium tidak bersekat, interseluler, dengan alat
penghisap (haustorium) kecil, jorong, kadang-kadang mempunyai cabang seperti
jari. Sporangiofor keluar melalui mulut kulit, dapat berkelompok sampai lima.
Sepertiga bagian yang paling atas dari sporangiofor bercabang, baik secara
dikotom atau antara dikotom dan monopodial. Sporangium ungu kelabu atau ungu
kecoklatan, bulat telur atau jorong, berdinding tipis, mempunyai papil pada
ujungnya. Sporangium berukuran 21-39 x 14-23 µm, berkecambah dengan
membentuk zoospore, flagel 2, yang setelah berhenti dan membulat bergaris tengh
10-13 µm. diragukan apakah cendawan ini dapat membentuk oospora . Daur
penyakit busuk daun ini mengingat Pseudoperonspora cubensis tidak dapat hidup
sebagai saprofit pda sisa-sisa tanaman, dan tidak membentuk spora atau alat tahan
lainnya, diduga bahwa cendawan bertahan pada tanaman labu-labuan yang selalu
ada. Spora dipancarkan oleh angin, dan infeksi terjadi melalui stomata.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit dintaranya kelembapan dan
akan berkembang hebat jika terdapat benyak kabut dan embun. Infeksi hanya akan
terjadi bila kelembapan udara 100%, suhu 10-20oC, dengan suhu optimum 16-
22oC.
Upaya pengelolaan untuk mengurangi sumber infeksi dianjurkan agar
tanaman yang terserang bert dibongkar kemudian dibakar atau dipendam. Sisa-
sisa tanaman lama dibersihkan dan jangan menanam di dekat tanaman tua.
Mengurangi kelembapan dalam pertanaman, misalnya dengan mengatur jarak
tanam dan drainasi yang baik. Busuk daun dapat dikendalikan dengan
penyemprotan fungisida nabam, zineb, atau maneb. Namun pada umumnya usaha
ini dianggap kurang menguntungkan, mengingat rendahnya nilai hasil tanaman.
Tanaman labu-labuan kurang tahan terhadap tembaga dan blerang, oleh karena itu
fungisida tembaga dan blerang tidak dianjurkan untuk pengendalian penyakit ini
(Knott dan Deanon, 1967; Tindall. 1987).
2. Embun Tepung
Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah permukaan daun dan
batang muda terdapat lapisan putih bertepung, yang terdiri atas miselium,
konidiofor dan konidium cendawan penyebab penyakit. Bercak kemudian menjadi
kering dan akhirnya mongering. Jika penyakit berat, daun dan batang muda dapat
mati. Jika semua daun pada tanaman bersangkutan terinfeksi, tanaman menjadi
lemah, pertumbuhan terhambat, dan buahnya dapat terbakar matahari, atau masak
sebelum waktunya.
Penyebab penyakit ini adalah Erysiphe cichoracearum, yang masih
dikenal stadium tidak sempurnanya denagn naman Oidium tabaci. Konidiofor
berbentuk tong (tabung), membentuk rantai-rantai berukurn lebih kurang 63,8 x
31,9 µm (Singh, 1969). Di daerah yang mempunyai musim dingin membentuk
askokarp yang membentuk kleistotekia, yang di dalamnya terdapat askus dengan
askospora. Cendawan bertahan dari musim kemusim pada tanaman hidup. Hal ini
karena cendawan tersebut memiliki kisaran inang yang luas, diantaranya selada,
tembakau, bunga matahari, mangga, bermacam-macam kacang-kacangan dan
gulma. Konidium dipencarkan oleh angin.
Konidium dapat berkecambah dan menginfeksi tanpa adanya air, dengan
kelembapan udara sedikit dibawah 100%. Lapisan putih mulai kelihatan setelah
baik  8-10 hari. Penyakit berkembang paling baik pada musim kemarau yang
sejuk pada suhu udara antara 20 dan 24oC dan bila tanah dalam keadaan kering.
Pengelolaan penyakit ini dengan cara tanaman yang sakit parah dicabut dan
dipendam untuk mengurangi sumber infeksi. Pengedalian gulma yang menjadi
tumbuhan inang, penyemprotan dinokap atau penyerbukan belirang, atau
menggunakan pestisida.
3. Antraknosa
Gejala yang pada daun umumnya bercak mulai dari tulang daun, yang
meluas menjadi bercak coklat, bersudut-sudut atau agak bulat, garis tengahnya
mencapai 1 cm atau bahkan dapat lebih. Daun yang masih berkembang dapat
menjadi tidak rata. Beberapa bercak dapat bersatu dan dapat menyebabkan
matinya seluruh daun. Bercak pada tangkai dan batang agak mengendap,
memanjang berwarna coklat tua. Bercak pada buah muncul pada saat buah mulai
masak. Di sini bercak berbentuk bulat, melekuk, tampak kebasah-basahan dan
dapat sangat meluas. Pada cuaca lembap di tengah bercak terbentuk masa spora
yang berwarna merah jambu.
Penyakit ini disebabkan oleh Colletotrichum langenarium. Konidium
hialin, bersel satu, jorong atau bulat telur, dengan ukuran 13-19 x 4-6 µm.
konidium membentuk massa sepertilendir berwarna merah jambu. Konidium
berkecambah dengan membentuk pembuluh kecambah, yang jika berkontak
dengan permukaan yang kuat akan membentuk apresorium bulat dengan dinding
tebal dan berwarna tua. Tubuh buah cendawan berbentuk aservulus, mempunyai
rambut-rambut kaku (seta) berwarna coklat, berdinding tebal, bersekat 2-3,
panjangnya 90-120 µm, jumlahnya tidak tentu.
Cendawan bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit, dan ada tanda-tanda
terbawa biji. Karena terikat dalam massa lendir, konidium dipencarkan oleh air.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit daintaranya cuaca lembap dengan
banyak hujan akan membantu pembentukan konidium, pemencaran konidium, dan
infeksi. Perkecambahan dan pertumbuhan paling baik terjadi pada suhu 22-27 oC.
Pengelolaan dapat dilakukan dengan cara menanam benih yang sehat,
mengadakan pergiliran tanaman, atau dengan penyemprotan fungisida.
4. Busuk Bunga
Gejala timbul sehabis berkembang mahkota bunga ditumbuhi oleh
cendawan putih yang lebat, yang terutama terdiri dari konidiofor yang masih
muda. “kepala-kepala” konidium berkembang dengan cepat, setelah masak
berwarna hitam ungu, berkilat seperti logam. Penyebab penyakit ini adalah
kapang Choanephora cucurbitarum, anggota dari suku Choanephoraceae.
Cendawan membentuk koidium dan sporangiofor. Konidiofor tidak bercabang,
mempunyai kepala yang bulat, dan muncul banyak kapitulum bulat membawa
sterigma. Sporangiofor tidak bercabang, pada ujungnya membengkok, membawa
sporangium denagn satu kolumela. Sporangiospora bulat telur atau membentuk
kumparan, bersel satu dan ujung-ujungnya  mempunyai seberkas rmbut halus.
Miselium juga membentuk klamidospora interkalar dengan dinding yang agak
tebal. Cendawan ini juda membentuk zoospora.
5. Layu Bakteri
Gejala pertama dari penyakit ini adalah menjadi lemasnya satu daun.
Kemudian lebih banyak lagi daun yang layu, sementara itu warnanya tetap hijau.
Akhirnya kelayuan menjadi lebih parah, tanaman keriput dan mati. Bekteri
menyumbat pembuluh-pembuluh kayu dalam batang. Jika batang yang layu
dipotong akan keluar lendir yang kental dan lekat dari daerah berkas
pengangkutan, sehingga dapat ditarik keluar menjadi benang yang panjang.
Penyebab penyakit ini adalah bakteri Erwinia tracheiphila. Berbentuk
batang, bergerak dengan 4-8 ulu cambuk peritrich. Bakteri membentuk kapsula,
konidia berbentuk jala, kecil, bulat, halus, mengkilat, putih dan lekat. Bakteri
dapat bertahan dalam badan kumbang mentimun, dan kumbang inilah yang
memencarkan penyakit. Pengelolaan dilakukan dengan pengendalian kumbang
mentimun.
6. Mosaik
Gejala pada tanaman sakit mempunyai daun-daun yang mempunyai belang
hijau tua dan hiaju muda, dengan bermacam-macam corak. Bentuknya dapat
berubah, berkerut, kerdil, atau tepinya menggulung ke bawah. Buah mengalami
bercak-bercak hijau pucat atau putih, bersaling dengan bercak tua yang agak
menonjol ke luar. Jika tanaman bertambah tua gambaran mosaik makin kabur.
Ruas-ruas yang muda terhambat pertumbuhannya, sehingga daun-daun ujung
membentuk roset. Gejala bervariasi tergantung strain virusnya, dan juga
dipengaruhi oleh tumbuhan inang, musim, suhu, dan penyinaran harian. Bahkan
ada kemungkinan adanay kombinasi RNA yag bersal dari dua atau lebih srtain.
Penyebab mosaik mentimun adalah virus misaic mentimun (Cucumber
Mosaic Virus, CMV) yang mempunyai banyak strain virus. Sifat fisik macam-
macam strain banayk persamaannya. Titik inaktivasi pemanasannya adalah 55-70
o
C, dapat bertahan dalam sap tumbuhan sakit 1-10 hari.
Virus dapat ditularkan secara mekanis dengan gosokan, atau lebih dari 60
serangga, khususnya kutu-kutu daun secara non persisten, dan sering kali dapat
terbawa olah biji. Penyakit mosaik mentimun sukar dikendalikan karena
banyaknya tumbuhan inang virus. Untuk mengurangi penularan secara mekanik
oleh manusia, diusahakan tidak memegang tanaman terlalu keras, khususnya
tanaman-tanaman yang masih kecil atau dengan mencuci tangan.
7. Hama Oteng-Oteng
Oteng-oteng lebih mirip kumbang namun ukurannya sangat kecil dan
lonjong dengan warna merah api. Nama lain serangga ini adalah kutu kuya
(Aulocophora similis Oliver) dan ia tergolong serangga perusak daun. Oteng-
oteng akan melakukan serangan dalam jumlah besar secara bersama-sama
sehingga daun tanaman anda akan cepat habis dimakan. Tanaman yang menjadi
kesukaannya rata-rata tanaman budidaya berdaun lebar seperti terong, semangka,
labu dan gambas. Yang unik dari oteng-oteng adalah ketika menyentuhnya maka
ia akan pura-pura mati dengan menjatuhkan diri dan diam saja (seolah sudah
mati).
Serangan Hama Oteng-Oteng
Gejala serangan oteng-oteng yang pertama terjadi ketika tanaman baru
pindah tanam. Larva oteng-oteng yang biasa disebut Jampang (mirip uret
berukurang sangat kecil) akan memakan akar tanaman muda sehingga tanaman
akan layu dan mati. Serangan hama oteng-oteng dewasa juga terjadi pada saat
tanaman masih muda (sebelum berusia 1 bulan) yaitu dengan memakan daunnya.
Hama oteng-oteng kurang menyukai akar ataupun daun tanaman dewasa
diatas 1 bulan sehingga jika tanaman anda bisa selamat hingga usia diatas 1 bulan
maka otomatis selamat dari serangan oteng-oteng
8. Hama lalat buah
Lalat buah merupakan hama serangga terbang berukuran kecil. Lalat buah
(Fruit Fly) jika diperhatikan secara seksama maka akan terlihat lebih mirip
dengan lebah daripada lalat. Namun tentu saja ia bukanlah keluarga tawon atau
lebah. Ada sekitar 10 jenis lalat buah yang kesemuanya memiliki ciri berbeda.
Namun yang jelas semuanya menyerang bagian buah tanaman. Tujuannya
sebenarnya bukan untuk menghisap buah tersebut, namun guna menyuntikkan
telurnya agar menetas dan hidup memakan daging buah. Banyak sekali buah yang
menjadi sasaran hama lalat buah. Lalat buah akan berkembang biak lebih pesat di
musim penghujan sehingga serangan lalat buah menjadi lebih hebat. Hingga kini
para petani terus mengembangkan metode guna mengatasi hama lalat buah
sehingga mereka bisa panen buah lebih banyak.
Mencegah Serangan Lalat Buah
Pada saat buah masih muda (pentil) maka langkah pencegahan lalat buah
sudah harus dilakukan, caranya ialah dengan menyamarkan aroma buah dengan
sesuatu yang beraroma menyengat. Anda bisa memanfaatkan insektisida berbahan
aktif dimetoat yang biasanya baunya sangat kuat sehingga serangga seperti lalat
buah tidak akan mendekat kelahan tanam anda. Penyemprotan harus mengenai
buah dan dilakukan 4 hari sekali di musim kemarau atau 2 hari sekali dimusim
hujan + pelekat agar bahan aktif tidak cepat luntur.
BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan

Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan labu kuning adalah salah
satu komoditas pertanian yang banyak mengandung beta karoten atau provitamin
A yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
penyakit daintaranya cuaca lembap dengan banyak hujan akan membantu
pembentukan konidium, pemencaran konidium, dan infeksi. Perkecambahan dan
pertumbuhan paling baik terjadi pada suhu 22-27oC. Pada saat buah masih muda
(pentil) maka langkah pencegahan lalat buah sudah harus dilakukan, caranya ialah
dengan menyamarkan aroma buah dengan sesuatu yang beraroma menyengat.
DAFTAR PUSTAKA

Suhardi (Ed.) (1988), Laporan Survei Hama dan Penyakit serta penggunaan
Pestisida pada Sayuran Dataran Rendah di Indonesia. Kerjasama Proyek
ATA-395 dan Balai Penel. Hortik., Lembang.
Tindal, H.D. (1987), Vegetables in the Tropics. MacMillan, London, 533 p.
Wahyuni, W.S. (1995), Cucumber mosaic virus (CMV). Gejala dan nama isolate.
Kongr. Nas.XII PFI, Yogyakarta, Sept. 1993 (II): 741-750
Weber, G.F. (1973), Bacterial and Fungal Disease of Plants in the Tropics. Univ.
Florida Press, Gainesville, 673 p.
Ziemmermann, A. 1902, Ueber einige an tropiscehen kulturpflanzen beobatch
Pilze.H. Centralblatt Bakt. Par. Kund. Inf. Krankh. 2. Abt., 8. Bd: 148-152