Anda di halaman 1dari 10

Pembangunan Koperasi dan Perundang-Undangan, Tantangan, Kendala,

dan Peluang dalam Pembangunan dan Koperasi, Arahan, Sasaran, dan


Kebijaksanaan Pembangunan Koperasi Kebijaksanaan Pemerintah dalam
Pembangunan Koperasi di Indonesia.

NAMA ANGGOTA

KELAS G AKUNTANSI

1. I Made Merta Yasa (02/1902622010360)


2. I Wayan Yoga Pratama Putra (30/1902622010388)

UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PRODI AKUNTANSI

TAHUN 2020/2021
1.1. Pembangunan Koperasi dan Perundang-Undangan

Koperasi sesuai dengan watak sosialnya adalah wadah ekonomi untuk menanggulangi
kemiskinan dan keterbelakangan dalam upaya untuk menciptakan pembangunan yang
berkeadilan. Selain itu, koperasi juga merupakan organisasi ekonomi yang paling banyak
melibatkan peran serta rakyat. Oleh karena itu, koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat perlu
lebih banyak diikutsertakan dalam upaya pembangunan, untuk mewujudkan pembangunan
yang lebih merata, tumbuh dari bawah, berakar di masyarakat dan mendapat dukungan luas
dari rakyat. Pembangunan koperasi dalam Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP I)
telah menunjukkan berbagai keberhasilan yang sangat berarti, baik ditinjau dari jumlah
koperasi, jumlah anggota koperasi, maupun nilai usaha koperasi.

Koperasi juga telah berperan aktif dalam kegiatan ekonomi rakyat dan sekaligus mulai
dapat meningkatkan kesejahteraan para anggotanya. Keadaan tersebut tercermin, antara lain
dari peningkatan jumlah dan ragam koperasi, jumlah dan ragam dalam bidang koperasi,
jumlah simpanan anggota, jumlah modal usaha, serta jumlah nilai usaha koperasi. Kemajuan
pembangunan koperasi ini cukup menggembirakan karena telah menunjukkan bahwa
koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat dan badan usaha semakin berperan aktif dan terlibat
lebih luas dalam berbagai kegiatan ekonomi serta sekaligus telah meningkatkan kesejahteraan
para anggotanya yang pada umumnya masih terbatas kemampuan ekonominya.

Sesuai dengan tahapan pembangunan nasional dalam PJP I, peranan pemerintah dalam
pembangunan koperasi pada masa itu masih besar, terutama ada kegiatan yang bersifat
perintis dan kegiatan perekonomian lainnya yang belum sepenuhnya mampu dilaksanakan
sendiri oleh gerakan koperasi. Kebijaksanaan pembinaan usaha koperasi sejak Rencana
Pembangunan Lima Tahun Pertama, yang diprioritaskan untuk mendukung keberhasilan
program pengadaan pangan nasional melalui Koperasi Unit Desa (KUD), didukung dengan
pemberian kredit pengadaan pangan beserta penyediaan jaminan kreditnya yang kemudian
telah memberikan sumbangan besar bagi tercapainya swasembada beras sejak tahun 1984.

Sejalan dengan perkembangan pembangunan nasional yang ditandai oleh kemajuan yang
pesat di berbagai sektor di luar sektor pertanian, bidang usaha koperasi juga turut
berkembang. Dewasa ini, lingkup bidang usaha koperasi mencakup baik usaha pertanian
maupun usaha non-pertanian, seperti industri pangan, penyaluran pupuk, pemasaran kopra,
pemasaran cengkeh, pemasaran susu, pemasaran hasil perikanan, peternakan, pertambangan
rakyat, kerajinan rakyat, penyaluran BBM, penyaluran semen, usaha pakaian jadi, usaha
industri logam dan tambang rakyat, pemasaran jasa telekomunikasi, pemasaran jasa
kelistrikan pedesaan, penyaluran Kredit Candak Kulak (KCK) dan sebagainya. Sumbangan
koperasi secara nasional dalam pengadaan maupun penyaluran beberapa komoditas penting
cukup besar. Gerakan koperasi Indonesia juga telah memiliki organisasi tunggal, yaitu Dewan
Koperasi Indonesia (Dekopin) yang berfungsi sebagai wadah perjuangan dan membawa
aspirasi bagi kepentingan gerakan koperasi. Selain itu, selama PJP I juga telah terbentuk
prasarana penunjang bagi PJP II. Prasarana penunjang tersebut di antaranya adalah Institut
Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin) dan Akademi Koperasi (Akop) sebagai lembaga
pendidikan pencetak sarjana dan kader pembangunan koperasi yang ahli di bidang
manajemen koperasi. Pada saat itu, telah berdiri pula Koperasi Jasa Audit (KJA) yang tersebar
di 20 provinsi dan berfungsi sebagai pusat pelayanan jasa audit, jasa bimbingan dan
manajemen, serta jasa pelatihan. Di bidang asuransi, gerakan Koperasi juga telah memiliki
Koperasi Asuransi Indonesia (KAI). Di bidang keuangan, telah dibentuk Perusahaan Umum
Pengembangan Keuangan Koperasi (Perum PKK) yang merupakan penyempurnaan dari
Lembaga Jaminan Kredit Koperasi (LJKK) dan berfungsi memberikan jaminan atas kredit
kepada koperasi yang diberikan oleh bank. Selain itu, juga dibentuk Bank Umum Koperasi
Indonesia (Bank Bukopin) dan lembaga keuangan lainnya, seperti Koperasi Pembiayaan
Indonesia (KPI), Koperasi Bank Perkreditan Rakyat (KBPR), dan Koperasi Simpan Pinjam
(KSP).

Modal penting lainnya dalam pengembangan koperasi pada PJP II adalah UU Nomor 25
Tahun 1992 tentang Perkoperasian yang memberikan landasan hukum yang kuat bagi
pembangunan koperasi yang maju dan mandiri. Pada prinsipnya, UU perkoperasian yang baru
memberikan keleluasaan yang lebih besar kepada gerakan koperasi untuk menentukan arah
pengembangan usaha agar sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan para anggota.
Disamping itu, pemerintah tetap memberikan bimbingan, kemudahan, dan perlindungan
dalam rangka mendirikan koperasi.
1.2. Tantangan, Kendala, Dan Peluang Dalam Pembangunan Koperasi

A. Tantangan dalam Pembangunan Koperasi

Meskipun banyak hasil yang telah dicapai dalam pembangunan koperasi selama PJP I,
namun masih banyak masalah diselesaikan dan ditangani dalam PJP II. Hingga saat ini,
karena berbagai alasan ekonomi dan nonekonomi, koperasi pada umumnya belum dapat
melaksanakan sepenuhnya prinsip koperasi sebagaimana yang telah dicita-citakan,
sehingga koperasi sebagai badan usaha dan gerakan ekonomi rakyat belum dapat
mengembangkan seluruh potensi dan kemampuannya dalam memajukan perekonomian
nasional dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Di samping itu, berbagai kondisi
struktural dan sistem yang ada masih menghambat koperasi untuk sepenuhnya dapat
menerapkan kaidah ekonomi guna meraih dan memanfaatkan berbagai kesempatan
ekonomi secara optimal.

Sementara itu, terbukanya perekonomia nasioal terhadap perkembangan perekonomian


dunia diperkirakan akan menghadirkan perubahan – perubahan besar dalam tatanan
kehidupan ekonomi nasional. Persaingan usaha akan semakin ketat, peranan ilmu
pengetahuan dan teknologi meningkat, tuntunan akan sumber daya manusia yang
berkualitas untuk mengantisipasi dan merencanakan masa depan meningkat pula.
Kedudukan dan keberadaan koperasi makin terintegrasi dan berperan menentukan ke dalam
perekonomian nasional. Oleh karena itu, tantangan dalam pembangunan koperasi adalah
mengembangkan koperasi menjadi badan usaha yang sehat, kuat, maju, mandiri, dan
memiliki daya saing sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya yang
berujung pada meningkatnya perekonomia nasional.

Dengan memperhatikan kedudukan koperasi, baik sebagai sokoguru perekonomian


nasional maupun sebagai bagian integral dari tatanan perekonomian nasional, peran
koperasi sangat penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi
rakyat. Dalam hal ini, koperasi sebenarnya memiliki ruang gerak dan kesempatan usaha
yang luas, terutama dalam hal yang menyangkut kepentingan kehidupan ekonomi rakyat.
Namun dalam kenyataannya, koperasi masih menghadapi beberapa hambatan struktural
dan sistem untuk dapat berfungsi dan berperan sebagaimana yang diharapkan, antara lain
dalam memperkukuh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional.
Dengan demikian, yang menjadi tantangan adalah mewujudkan koperasi, baik sebagai
badan usaha maupun sebagai gerakan ekonomi rakyat agar mampu berperan secara nyata
dalam kegiatan ekonomi rakyat. Inti kekuatan koperasi terletak pada anggotanya yang
berpartisipasi aktif dalam organisasi koperasi dan kesadaran masyarakat untuk bergabung
dalam wadah koperasi. Sebagai gerakan ekonomi rakyat, koperasi masih harus
meningkatkan kemampuannya dalam menggerakan dan menampung peran serta
masyarakat secara luas, oleh karena itu, mewujudkan koperasi sebagai gerakan ekonomi
rakyat yang berakar dalam masyarakat juga merupakan tantangan dala pembangunan
koperasi di Indonesia.

B. Kendala dalam Pembangunan Koperasi

Pengalaman pembangunan koperasi dalam Pembangunan Jangka Panjang Pertama


telah memberikan petunjuk bahwa untuk menjawab berbagai tantangan dalam
Pembangunan Jangka Panjang Kedua, masih terdapat beberapa kendala yang membutuhkan
perhatian dalam rangka menggariskan kebijaksanaan dan menyusun program untuk
mencapai sasaran yang dikehendaki. Adapun kendala-kendala yang dimaksud, diantaranya
adalah sebagai berikut :

1. Tingkat kemampuan dan profesionalisme sumber daya manusia koperasi yang pada
umumnya belum memadai. Kendala ini menjadi faktor yang mempengaruhi
kemampuan koperasi dalam menjalankan fungsi dan peranannya yang berakibat
pada kurang efektif dan efisiennya or¬ganisasi dan manajemen koperasi. Hal ini
tercermin pada pengelolaan koperasi dan tingkat partisipasi anggota yang belum
optimal.
2. Lemahnya struktur permodalan koperasi dan terbatasnya akses koperasi ke sumber
permodalan dari luar.
3. Terbatasnya penyebaran dan penyediaan teknologi secara nasional bagi koperasi,
yang berpengaruh pada rendahnya kemampuan koperasi untuk meningkatkan
efisiensi dan produktivitas usahanya sehingga menyebabkan pula terbatasnya daya
saing koperasi.
4. Mekanisme kelembagaan dan sistem koperasi yang belum berjalan dengan baik. Hal
ini disebabkan oleb kurangnya kesadaran anggota akan hak dan kewajibannya serta
belum berfungsinya mekanisme kerja antar pengurus dan antar pengurus dengan
pengelola koperasi secara menyeluruh.
5. Masih kurangnya kepercayaan dalam bekerja sama bagi terwujudnya jaringan usaha
antara koperasi dengan pelaku ekonomi lainnya.
6. Kurang memadainya sarana dan prasarana yang tersedia di wilayah tertentu,
terutama kelembagaan keuangan baik bank maupun bukan bank, produksi dan
pemasaran, khususnya di daerah tertinggal.
7. Kurang efektifnya koordinasi dan sinkronisasi dalam pelaksanaan program
pembinaan koperasi antarsektor dan antardaerah.
8. Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang koperasi, serta kurangnya
kepedulian dan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi, yang tercermin pada
masih rendahnya peran serta dan dukungan masyarakat dalam pembangunan
koperasi.

C. Peluang dalam Pembangunan Koperasi


Selaras dengan perkembangan pembangunan yang dinamis dan pertumbuhan ekonomi
dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun Keenam, terbuka berbagai peluang usaha yang
dapat dimanfaatkan dalam pengembangan koperasi. Pembangunan nasional dalam
Pembangunan Jangka Panjang Kedua khususnya Rencana Pembangunan Lima Tahun
Keenam yang mendahulukan aspek pemerataan akan membuka peluang yang lebih besar
bagi pembangunan koperasi. Undang-undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian
sebagai landasan hukum baru, juga memberikan peluang yang diharapkan akan mampu
mendorong koperasi agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih kuat dan mandiri.
Koperasi primer yang berskala kecil diharapkan berhimpun dalam koperasi sekunder secara
lebih mantap, sehingga lebih terkonsolidasi menjadi kekuatan ekonomi yang besar dan
tangguh serta mampu memanfaatkan peluang keterbukaan perekonomian Indonesia
terhadap perekonomian dunia. Selain itu, terdapat juga berbagai peluang lainnya dalam
pembangunan koperasi dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun Keenam, di antaranya
adalah kemauan politik yang kuat dari pemerintah dan berkembangnya tuntutan masyarakat
untuk lebih banyak membangun koperasi dalam rangka mewujudkan perekonomian yang
sehat yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sebagai hasil pembangunan yang


berkelanjutan akan menciptakan peluang bagi berkembangnya usaha koperasi di masa
depan. Sementara itu, makin terbukanya perekonomian dunia turut pula menciptakan
berbagai peluang baru bagi koperasi, diantaranya adalah makin terbukanya pasar
internasional bagi hasil produksi koperasi Indonesia serta makin terbukanya kesempatan
kerja sama interna-sional antargerakan koperasi di berbagai bidang. Perubahan struktur
perekonomian nasional menciptakan peluang untuk lebih berkembangnya koperasi
pedesaan atau Koperasi Unit Desa (KUD) yang berusaha di bidang agrobisnis, agroindustri,
dan industri pedesaan lainnya. Sementara undangundang tentang sistem budidaya tanaman
akan mendorong diversifikasi usaha koperasi sesuai dengan kepentingan masyarakat
setempat. Dalam Pembangunan Jangka Panjang Kedua, tuntutan terhadap perlindungan dan
jaminan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi tenaga kerja, yang telah mulai dirasakan
saat ini, diperkirakan akan semakin meningkat. Di samping itu, akan diperkirakan pula
terjadi pertumbuhan yang pesat di sektor industri yang akan meningkatkan jumlah dan jenis
perusahaan. Keadaan ini menciptakan peluang bagi tumbuhnya peluang kerja bagi calon
karyawan baru.

1.3. Arahan, Sasaran, dan Kebijaksanaan Pembangunan Koperasi Kebijaksanaan


Pemerintah dalam Pembangunan Koperasi di Indonesia.

A. Arahan Pembangunan Koperasi Kebijaksanaan Pemerintah


Dalam
Pembangunan Koperasi di Indonesia.
Pembangunan koperasi sebagai wadah kegiatan ekonomi rakyat diarahkan agar
semakin memiliki kemampuan menjadi badan usaha yang efisien, menjadi gerakan rakyat
yang tangguh, dan berakar dalam masyarakat sehingga mampu memajukan kesejahteraan
ekonomi anggotanya. Pembangunan koperasi juga diarahkan menjadi gerakan ekonomi
rakyat yang didukung oleh jiwa dan semangat yang tinggi dalam mewujudkan demokrasi
ekonomi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Untuk mewujudkan hal tersebut,
khususnya koperasi di pedesaanperlu dikembangkan mutu dan kemampuannya serta
ditingkatkan peranannya dalam kehidupan ekonomi di pedesaan. Pelaksanaan fungsi dan
peranan koperasi dapat ditingkatkan melalui upaya peningkatan semangat kebersamaan,
meningkatkan peran aktif masyarakat dalam menumbuhkembangkan koperasi,
meningkatkan kesadaran, kegairahan, dan kemampuan berkoperasi di seluruh lapisan
masyarakat.

Fungsi dan peran koperasi juga menjadi tanggung jawab lembaga gerakan koperasi,
dimana lembaga tersebut merupakan wadah perjuangan kepentingan dan pembawa aspirasi
gerakan koperasi yang bekerja sama dengan pemerintah sebagai pembina dan
pelindungnya. Pengembangan koperasi didukung melalui pemberian kesempatan berusaha
seluas-luasnya di segala sektor kegiatan ekonomi, baik di dalam maupun luar negeri yaitu
dengan menciptakan iklim usaha yang mendukung kemudahan memperoleh permodalan.
Potensi koperasi untuk tumbuh menjadi usaha skala besar dapat terus ditingkatkan, salah
satunya melalui perluasaan jaringan usaha koperasi, pemilikan saham, serta keterkaitan
usaha dengan usaha hulu dan usaha hilir, baik dalam usaha negara maupun usaha swasta.

B. Sasaran Pembangunan Koperasi Kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan


koperasi di Indonesia.

Pelaksanaan pembangunan koperasi dalam era PJP II lebih banyak bertumpu pada
peningkatan produktivitas dan kreativitas sumberdaya manusia, dan pada penciptaan iklim
usaha yang sehat bagi perkembangan koperasi di pihak yang lain. Agar dapat bersifat
proakif, koperasi dituntut untuk memilki rumusan strategi yang jelas. Artinya, selain harus
memiliki tujuan dan sasaran usaha yang berorientasi ke depan, koperasi juga dituntut untuk
merumuskan strategi yang tepat dalam mencapai tujuan dan sasaran tersebut.Sehubungan
dengan hal tersebut maka beberapa sasaran utama pengembangan koperasi yang hendak
ditempuh pemerintah dalam era PJP II ini adalah sebagai berikut:

a. Pengembangan usaha.
Pengembangan usaha koperasi lebih ditekankan pada upaya peningkatan
kemampuan koperasi dalam menciptakan lapangan uasaha dan memanfaatkan peluang
usaha yang ada.

b. Pengembangan sumberdaya manusia.


Pengembangan sumberdaya manusia koperasi, dalam kaitannya dengan tantangan
yang dihadapi oleh koperasi dimasa depan adalah masalah utama. Karena itu koperasi
harus mampu mengantisipasi pola pendidikan dan latihan sumberdaya manusianya
yang paling sesuai dengan kebutuhan pengembangannya.

c. Peran pemerintah.
Pemerintah bekerjasama dengan gerakan koperasi selalu berupaya memainkan
peranan yang mendorong pengembangan koperasi. Peran pemerintah diperlukan untuk
menyelenggarakan pembinaan untuk mengembangkan prakarsa dan kreativitas
masyarakat.

d. Kerjasama internasional.
Kerjasama internasional dibidang perkoperasian dilakukan misalkan dalam bentuk
pertukaran tenaga ahli koperasi dengan negara-negara lain.

C. Kebijaksanaan Pembangunan Koperasi Kebijaksanaan pemerintah dalam


pembangunan koperasi di Indonesia.
Selama era pembangunan jangka panjang tahap pertama (PJP I) pembangunan koperasi
di Indonesia telah menunjukkan hasil-hasil yang cukup memuaskan. Walaupun demikian
pembangunan koperai selama PJP I masih jauh dari sempurna, berbagai kelemahan
mendasar masih mewarnai koperasi. Kelemahan mendasar itu misalnya: kelemahan
manajerial, kelemahan sumber daya manusia, kelemahan permodalan, dan kelemahan
pemasaran.

Pelaksanaan pembangunan koperasi dalam PJP II diharapkan dapat lebih ditingkatkan,


sehingga selain koperasi tumbuh menjadi perusahaan yang sehat dan kuat peranannya
dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dapat lebih ditingkatkan pula.Adapun kebijakan
pemerintah dalam pembangunan koperasi secara terinci adalah sebagai berikut:

1. Pembangunan sebagai wadah kegiatan ekonomi rakyat diarahkan agar makin


memiliki kemampuan menjadi badan usaha yang efisien dan menjadi gerakan
ekonomi rakyat yang tangguh dan berakar dalam masyarakat.

2. Pelaksanaan fungsi dan peranan koperasi ditingkatkan melalui upaya peningkatan


semangat kebersamaan dan manajemen yang lebih profesional.

3. Peningkatan koperasi di dukung melalui pemberian kesempatan berusaha yang


seluas luasnya di segala sektor kegiatan ekonomi, baik di dalam negeri maupun di
luar negeri, dan penciptaan iklim usaha yang mendukung dengan kemudahan
memperoleh permodalan.

4. Kerjasama antar koperasi dan antara koperasi dengan usaha negara dan usaha
swasta sebagai mitra usaha dikembangkan seacara lebih nyata untuk mewujudkan
kehidupan perekonomian berdasarkan demokrasi ekonomi yang dijiwai semangat
dan asas kekeluargaan, kebersamaan, kemitraan usaha, dan kesetiakawanan.
DAFTAR PUSTAKA

https://pdfcoffee.com/1-pembangunan-koperasi-dan-perundang-undangan-pdffree.html,

http://hanifahfebrillaa.blogspot.com/2016/10/v-behaviorurldefaultvmlo_13.html,

https://liasetianingsih.wordpress.com/2009/11/24/kebijakan-pemerintah-

dalampembangunankoperasi/, https://prezi.com/hcp37prmu2ez/kebijakan-pemerintah-dalam-

pembangunan-koperasi/ http://septianiputri05.blogspot.com/2016/11/kebijakan-

pembangunankoperasi.html,

Anda mungkin juga menyukai