Anda di halaman 1dari 765

PATOFISIOLOGI

Konsep Klinis Proses,Proses Penyakit


(P ath o p h ysi ol o gy : C I i n i c al C o n ce pts of Dr'sease Processes)

EDISI 6

Volume I
Sylvia Anderson Pricet RNr PhID
Professor (Retired)
College of Nursing
The lniversity of Tennessee Healfh Science Center
Memphis, Iennessee

Iorraine McGarty Wilsonr RNr PhIt


Professor
P athophysiology In stru ctor
Eastern Michigan U niversity
Ypsilanti, Michigan

llustrator: Margaret Group Brudon

Disertai 70 gambar berwama

Alih Bahasa:
dr. Brahm U. Pendit
dr. Huriawati Hartanto
dr. Pita Wulansari
dr. DewiAsih Mahanani

Editor Edisi Bahasa lndonesia:


dr. Huriawati Hartanto
dr. Natalia Susi
dr. Pita Wulansari
dr. Dew!Asih frfiahanani

PENERBIT BUKU KEDOKTERAN


flE
EGC 1526

This is a translation of
PATHOPHYSIOLOGY CLINICAL CONCEPTS OF DISEASE PROCESSES, 6/E
@ Elsevier Sciencq 2002
Published by arrangement with Mosby, a division of Elsevier Science.

PATOFISIOLOGI: KONSEP KLINIS PROSES-PROSES PENYAKIT E/5, Vol.1


Alih bahasa: dr. Brahm U. Pendit, dr. Huriawati Hartanto, dr. Pita Wulansari & dr. Dewi Asih Mahanani
Editor edisi bahasa Indonesia: dr. Huriawati Hartanto, dr. Pita Wulansari, dr. Natalia Susi & dr. Dewi Asih Mahanani

Hak cipta terjemahan Indonesia


O 2003 Penerbit Buku Kedokteran EGC
P.O. Box 4276lJakarta 10042
Telepon: 6530 6283

Anggota IKAPI

Desain kulit muka: Yohanes Duta Kurnia Utama

Hak cipta dilindungi Undang-Undang.


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa purL baik secara elektronik maupun
mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin
tertulis dari Penerbit.

Cetakan 2012

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Price, Sylvia Anderson


Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit / Sylvia Anderson price, Lorraine
McCarty Wilson ; alih bahasa, Brahm U. Pendit ... [et. a1.] ; editor edisi bahasa Indonesia,
Huriawati Hartanto ... [et al.]. Ed. 6 Jakarta : EGC, 2005.
xxv,734 hlm (Vol.1). ;21,x27 cm.
- -
judul asli: Pathophysiology : clinical concepts of disease processes. 6le
ISBN 979-448-732-5 (no. vol. lengkap)
ISBN 979-448-733,3 (vol. 1)

1. Patologi. I. Judul. II. Wilsoru Lorraine McCarty. III. pendit, Brahm U.


IV. Hartanto, Huriawati.

616.07

lsi di luar tanggung jawab percetakan


r;ili:: ':: ::{!!l' i

.j

=.iii-

CATHERINE M. BALDY, RN, MS, OCN The University of Tennessee Health Science Center
Clinical Nurse Specialist in Hematology Memphis, Tennessee
Henry Ford Hospital
Detroit, Michigan
LINDA COUGHLIN DeBEASI, MS, RN, CCRN
Cardiac Clinical Nurse Specialist
MARIORTE A. BOLDT, RN, MS, f D Milford Massachusetts
Former Head Nurse
Coronary Care Unit
LTNDA J. DENEKAMP, MS, RN, CS
Beth Israel Hospital
Nurse Manager, Vascular Unit
Bostory Massachusetts
Beth Israel Deaconess Medical Center
Boston, Massachusetts
cAROt T. BROWN, MN, RN, CS, ANP
Adult Nurse Practitioner i-r Cardiology susAN T. DiMATT!A, MSN, RN, NP
Massachusetts General Hospital
Cardiovascular Nurse Practitioner
Bostory Massachusetts
Beth Israel Deaconess Medical Center
Boston, Massachusetts
MARGARET CROUP BRUDON, BS
Former President
PATR|C|A HENRy FOLCARELLT, RN, phc, MA
Association of Medical Illustrators
Vascular unit
Staff Medical Illustrator and Assistant Professor of Medical
Beth Israel Deaconess Medical Center
and Biological Illustrations
Instructor in Surgery
University of Michigan
Harvard Medical School
Ann Arbor, Michigan
Boston, Massachusetts

PENNY FORD CARLETON, RN, MS, MPA BETTY B. GALLUCC|, PhD, RN


Cardiovascular Clinical Nurse Specialist
Professor
Anesthesia Bioengineering Unit
Biobehavioral Nursing and Health Systems
Massachusetts General Hospital
School of Nursing
Research Associate
University of Washington
Harvard Medical Center
Seattle, Washington
Bostory Massachusetts

REBECCA HARMSEN, RN, MN


MICHAEL A. CARTER, DNSc, FAAN Clinical Research Nurse
University Distinguished Professor Westat
College of Nursing Rockville, Maryland

vi
KONTRIBUTOR VII

MARY S. HARTWIG, RN, APN, PhD Massachusetts General Hospital


Director of Nursing Education Boston, Massachusetts
Area Health Educational Center-Northeast
University of Arkansas for Medical Sciences NANCY A. PRINCE, RN, MSN, WHNP, FNP
Jonesboro, Arkansas Extensive practice experience in Famili Planning and
Sexually Transmitted Disease clinics
KATHTEEN BRANSON HILLEGAS, RN, MS,PhD Assistant Professor
Associate Professor Eastern Michigan University
Maternal and Child Healt\ Ypsilanti, Michigan
Eastern Michigan University
Ypsilanti, Michigan DAVTD E. SCHTETNGART, MD
Professor of Internal Medicine
vtRGtNtA MACEDA LAN, RN, PhD University of Michigan
Associate Professor Medical Center
Eastern Michigan University Ann Arbor, Michigan
Ypsilanti, Michigan
wttLtAM R. sotoMoN, MD
GTENDA N. L|NDSETH, RN, PhD Professor of Internal medicine
Professor and Director of Research University of Michigan
College of Nursing Medical Center
University of North Dakota Ann Arbor, Michigan
Grand Forks, North Dakota
MARTLYN SAWYER SOMMERS, RN, PhD, FAAN
MARY CARTER LOMBARDO, RN, MSN, CEN Professor and Associate Dean
Clinical Nurse Specialists, Neurology College of Nursing
Howard County General Hospital University of Cincinnati
Columbia, Maryland Cincinnati, Ohio

MADELINE M. O',DONNELL, RN, MS MAREK A. STAWISK|, MD


Cardiac Clinical Specialist Associate Clinical Professor of Internal Medicine
Intensive Care Nursing Service Michigan State University
East Lansing, Michigan
:.::': .-::: L iir;::.:
: .i r: tiri:ji:=.:;itljl!.
,l
':I. I::':::::'
, ,,,,,1;1i:;'1, ;i1;., ; ,;,,::l!li

.Lt.r,li,.,-.:1tl :-,t:;:!l
::::r'11' ::ji::{ :::::!ri:i.:i
':
:;tr',ri:::=l :::=: '
.:ri ':iiliilrll ..::ii;iis:
l::::::::::rl ::::.=:
,

:
: :l:::=l ,::::l i ::::::::::::;;

.:l ':
::.:::r1:r:i::::::.=i t,= ::,;
tt:
::.,::::::1i,:,:::-lillil
'ltl ::irii::..=iiii:;:::!
,irtll l+:: -r)jl:.:li:::':
: :ll.: . :::,lil
,, illirt:::

ilrr !t :ii

Patofisiologi mempelajari aspek dinnmis proses


penyakit. Ilmu ini merupakan studi mengenai gang- Cambaran Utama
guan fungsi-mekanisme fisiologis yang terganggu r Mahasiswa biasanya menganggap patofisiologi
oleh penyakit yang terjadi dalam organisme hidup. sebagai pelajaran yang sangat kompleks dan
Patofisiologi memberikan hubungan dasar antara menakutkan. Oleh karena itu ditawarkan pem-
praktik klinis dan anatomi, fisiologi, serta biokimia. bahasan yang begitu ringkas dan terfokus jelas
Studi mengenai patofisiologi perlu dipahami untuk untuk membuat pembaca lebih mudah dalam
penegakan diagnosis dan intervensi terapeutik pada membaca danmenyintesisnya. Buku teks ini dibagi
penyakit. menjadi 13 bagian, dengan bagian pertama
Edisi ke-6 Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses membahas mengenai prinsip-prinsip patofisiologi
Penyakit tetapmemiliki filosofi dan kerangka kerja yang umum dan ke-12 sisanya dibagi menurut pende-
sama dengan kelima edisi sebelumnya. Fokus kami katan sistem tubuh tradisional. Lebih lanjut, buku
adalah pada perubahan proses penyakit yang mengenai ini dibagi menjadi 82 bab ringkas yang memuat
keseimbangan dinamis tubuh, atau homeostasis, pen mengenai konsep patofisiologi yang makin
dekatan konseptual yang dirancang untuk mengombi- menarik bagi para mahasiswa.
nasikan pengetahuan dari ilmu dasar dan klinis. r Program gambar terfokus, dengan lebih dari 725
Kerangka kerja konseptual awalnya dirancang foto dan gambar di seluruh buku teks memberikan
untuk menampilkan konsep umum proses penyakit. penjelasan untuk konsep-konsep yang lebih sulit
Berbagai disfungsi organ atau sistem organ kemudian dan memperlihatkan proses rrormal dan proses
diperiksa. Pemahaman etiologi dan patogenesis penyakit.
gangguan tertentu lebih ditekankan karena merupakan r Gambar berwarna secara jelas menunjukkan mani-
faktor penting dalam perkembangan pemahaman festasi penyakti tertentu dan memperkuat pemba-
klinis. hasan untuk mahasiswa. Gambar dikelompokkan
Di dalam seluruh edisi ke-6, kami (dan beberapa bersamaan dan dimuat dalam bagian depan teks
kontributor ahli) telah menggabungkan temuan dari untuk memudahkarr pembaca. Mahasiswa dapat
penelitian terbaru, prosedur diagnostik yang baru, secara cepat melihat gambar ketika mereka mem-
tindakan pengobatan terakhir, dan tindakan-tindakan baca pembahasan yang terkait dalam buku teks.
preventif. Banyak revisi dan pembaharuan men)'usun r Garis besar bab dan pertanyaan di akhir bab selalu
perubahan-perubahan signifikan yang diusulkan oleh menarik bagi para mahasiswa dan dosen. 'tidak
para dosen, mahasiswa, dan dokter. ada teks lain yang memberikan suatu "panduan
Gambaran utama buku teks ini termuat dalam edisi studi menyeluruh" seperti buku ini, dengan lebih
ini, dengan beberap a tambahan gamb ar baru, termasuk dari 3000 pertanyaan. Sekitar 1000 jawaban
konsep kunci di akhir bab dan situs baru: pendek, mencocokkan kalimat, benar,/salah, isian,
www.mosby.com /MERLIN /PriceWilson / dan pertanyaan pilihan ganda dapat ditemukan

viii
KATA PENGANTAR lx

di akhir bab dalam buku teks, sementara sekitar kan umpan balik segera, memampukan maha-
2000 pertanyaan dapat ditemukan dalam situs baru siswa untuk secara aktif berpartisipasi dalam
di www.mosbv.com / MERLIN /PriceWilson / proses pembelajaran dengan membaca, memberi-
kan alasan, dan memperlihatkan kepiawaiannya
mengenai konsep.
Bab Baru Buku teks ini memberikan mekanisme patofuiologi
dalam proses penyakit. Kami telah menekankan
r Faktor genetik dalam patogenesis penyakit konsep relevan yang akan memampukan dokter untuk
terdapat di seluruhbuku ini, termasuk pemahaman bekerja secara efektif dalam sistem layanankesehatan.
baru mengenai dasar genetik karsinogenesis. Tujuan kami adalah untuk menawarkan buku teks
I Temuan penelitian terbaru, prosedur diagnostik yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga akan
dan tindakan preventif, dan pengobatan terbaru menarik dan memperluas cakrawala para profesional
terdapat di seluruh buku ini untuk memperlihatkan layanan kesehatan.
aplikasi klinis pengetahuan. Buku teks patofisiologi ini dirancang untuk
r Bab yang direvisi sepenuhnya, termasuk Faktor memenuhi kebutuhan yang lebih rumit dari pasien
Keturunary Lingkungary dan Penyakit: Interaksi dan juga para profesional kesehatan. Perubahan
Antara Faktor Keturunan dan Lingkungan (Bab 2), dalam pola layanan kesehatan telah membuatnya
Penyakit Serebrovaskular (Bab 53), Insufisiensi menjadi lebih penting untuk dapat memahami alasan
Adrenal (Bab 62), dan Infeksi Saluran Genitalia (Bab pemberian layanan kesehatan. Kemajuan cepat dalam
66), danbab yangbanyak ditulis ulangkembali, ilmu biomedik, disertai dengan perubahan layanan
termasuk Gangguan Sel Darah Putih dan Sel kesehatan dan efeknya pada konsumerisme, membuat
Plasma (Bab 18), Anatomi Sistem Kardiovaskular perawat dan para profesional kesehatan menciptakan
(Bab 28), Fisiologi Sistem Kardiovaskular (Bab29), lingkungan yang mendukung layanan yang telpusat-
Disfungsi Mekanis Jantung dan Dukungan pasien dan berkualitas tinggi. Peranan dokter dalam
Sirkulasi (Bab 33), Gangguan Kejang (Bab 55), sistem layanari kesehatan, dan peranan pasiery terus
Pankreas: Metabolisme Glukosa dan Diabetes berubah. Para perawat berfungsi sebagai pemberi
Melitus (Bab 63), danGangguan Sistern Repro- layanan kesehatan yang tidak bergantung pada
duksi Perempuan (Bab 64), mencerminkan siapapun dalam berbagai layanan kesehatan, seperti
kemajuan dalam ilmu pengetahuan. di layanan kesehatan primer, dan bertanggung jawab
r Sejumlah 28 gambar berwarna baru, termasuk dalam mengatur layanan kesehatan holistik bagi
gambar gastritis hemoragik akut (utkus peptikum), pasien. Mereka bekerja sama dengan para profesional
apendisitis, pankreatitis akut, sifilis primer dan kesehatan dari disiplin ilmu lain untuk memberikan
sekunder, serta herpes primer telah ditambahkan layanan terbaik yang mungkin diberikan untuk
kebuku ini. Bagian Gambarberwama seluruhnya memenuhi kebutuhan pasien. Perlu diperhatikan
mencakup 70 gambar. bahwa para profesional kesehatan menyintesis konsep-
r Lebih dari 40 gambar dua warna telah ditambah- konsep patofisiologi untuk memahami alasan
kan, diperbaharui, atau diganti untuk meningkat- tindakan preventif dan pemberian terapi. Pasien juga
kan deskripsi mengenai konsep dan proses menjadi lebih bertanggung jawab untukberperan aktil
patofisiologi. dalam mempertahankan atau memperbaiki kese-
hatannya.

Gambaran Baru
Bagi Para Dosen
r Rangkuman konsep kunci komprehensif di akhir
setiap bab membantu mahasiswa dalam membaca. Situs baru di www.mosby.com/MERLIN/
r Kotak yang diberi nomor membantu mahasiswa PriceWilson/memungkinkan para dosen untuk
unfuk menemukan inJormasi secara lebih cepat dan mengakses Panduan Dosen dan Bank Soal melalui
lebihmudah. kode rahasi a (secure passcode).
r Situs baru di www.mosb)'.com/MERLIN/ P anduan Dosen rnerupakan alat untuk memberikan
PriceWilson / memu at pertanyaan-pertanyaan pengajaran dan pembelajaran untuk membantu para
tambahan, mempelajari tujuan, memilih istilah dosen dalam mengajar. Panduan ini dibagi menjadi
kunci menurut definisi, dan Weblinks untuk beberapa bab yang terkait dengan buku teks, setiap
mahasiswa. Pertanyaan o nline, alat yang memberi- bab Panduan Dosen mNrcakup garis besar bab lengkap
KATAPENGANTAR

dengan nomor halaman unfuk memudahkan referensi,


istilah kunci dengan definisi, dan daftar tujuan UCAPAN TERIMA KASIH
pembelajaran untuk setiap bab tertentu. Pemilihan
studi kasus juga termasuk dalam Panduan Dosen Penghargaan kamibagi Darlene Cono, Executif Editor,
untuk membantu dosen mengajar aplikasi klinis. Studi untuk kontribusinya selama perencanaan dan
kasus ini mencakup setiap sistem tubuh dan men- pelaksanaan revisi; bagi Laura Selkirk, Deaelopmental
cakup jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Editor, atas kualitas bantuan editorialnya yang sangat
Bank SoaI sangat bersifat komprehensif dan baik; bagi MNcSyp,Project Manager, atas perhatiannya
lengkap, memberikan banyak pertanyaan yang pada hal-hal yang rinci; bagi Marjorie Boldt atas
tercakup dalam pemeriksaannya. Bank SoaI rnencakup koordinasi dan kontribusinya pada bagian kardio-
sekitar 3000 pertanyaan. Semua pertanyaan adalah vaskular; dan bagi Margaret Croup Brudon atas
pilihan ganda, dan semua diberi kunci jawaban untuk ilustrasi kreatifnya yang dipersiapkannya untuk buku -
mempelajari tujuan setiap bab. edisi ini dan semua edisi sebelumnya. Kami berterima
Panduan Dosen dan Bank Soal juga tersedia dalam kasihpada Gerald D. Abrams, MD, Profesor patologi
CD-ROM untuk para dosen ini yang tidak tidak ingin dan Dosen di Universitas Michigary untuk bantuan-
mendapatkannya secara online. nya dalam buku ini. Dr. Abrams merupakan penulis
delapan bab pertama (mengenai prinsip-prinsip
patofisiologi) untuk lima edisi pertama. Yang terakhii,
kami juga menghargai ringkasan komprehensif dan
saran yang ditawarkan banyak pembaca untuk
perubahan naskah ini.

LORRAINE MCCARTY WILSON


SYLVIAANDERSON PRICE
BAGIAN SATU 11 DermatitisAtopikdanUrtikaria, 191
WilliamR. Solomon
PENDAHULUAN PATOTOCI UMUM:
72 Penyakityang Disebabkan oleh Autoimun dan
MEKANISME PENYAKIT Kompleks lmun, 198
WilliamR.Solomon
1 Konsep Umum Penyakit SehatVersus
Penyakit,2
13 Reaksi Merugikan Obat dan Substansi Lain, 2-l 1

WiIIinmR.Solomon
I-onaine M. Wilsn
2 Hereditas, Lingkungan, dan Penyakit lnteraksi
14 Pendekatan Keadaan Defisiensi lmun,2-17
WilliamR.Solomon
Hereditas dan Lingkungan, 9
Rebeccn Harmsen dan Betty B.Gullucci
15 HlVdan AIDS,224
Virginia Mncedal-an
3 Cederadan Kematian Sel,42
Lonaine M.Wilson
4 ResponsTubuhTerhadapCedera:Peradangan
BAGIAN TIGA
dan Penyembuhan, 56
Iarraine M.Wilsn GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI
5 ResponsTubuhTerhadapTantangan
16 Komposisi Darah dan Sistem Makrofag-Monosit,
lrnunologik, B1
247
Marilyn Sawyer Sommers
Catherine M. Baldy
6 ResponsTubuh TerhadapAgen Menular, 110
17 Gangguan Sel Darah Merah, 255
LmruircM.Wilson
Catherine M- Baldy
7 Gangguan Sirkulasi, 121
18 Gangguan Sel Darah Putih dan Sel Plasm4 268
ImraineM.Wilsn
Cathefine M. Baldy
I Gangguan Pertumbuhan, Proliferasi, dan
19 GangguanKoagulasi,292
Diferensiasi Sel, 139 C"atherine M" Baldy
I-orraine M-Wilsn

BAGIAN EMPAT
BAGIAN DUA
GANGGUAN CAIRAN DAN ELIKTROLIT
GANGGUAN SISTTM IMUN
20 KeseimLrangan Cairan dan Elektrolit, serta
9 GangguanAlergiUrnum(DiperantarailgE): Penilaiannya, 3O8
Anafilaksis dan Penyakit Atopik" 1 63 [-anaine M-Wilson
WillinnxR. Solaman 21 Gangguan Volume, Osmolalitas, dan Elektrolit
10 Asrna Bronkial: Alergi dan Lain-lain, 177 Cairan,328
WillinmR-Solaman Lorraine M.Wilstn

xi
xil DAFIAR ISI

22 Cangguan Asam-Basa, 374 BAGIAN ENAM


Lorraine M. Wilson
GANGCUAN SISTEM KARDIOVASKULAR

BAGIAN LIMA
28 Anatomi Sistem Kardiovaskular,5lT
Linda Coughlin DeBeasi
GANGGUAN SISTEM GASTROINTESTINAL 29 Fisiologi Sistem Kardiovaskular, 530
Linda Coughlin DeBeasi
23 CangguanEsofagus,404 30 ProsedurDiagnostikPenyakitKardiovaskular,
Lorraine M. Wilson dan Glenda N. Lindseth 547
24 GangguanLambungdanDuodenum,4lT SusanT.Dimattia
Glenda N. Lindseth 31 PenyakitAterosklerotikKoroner,5T6
25 Cangguan Usus Halus,437 CarolT. Brown
Glenda N. Lindseth 32 PenyakitKatupJantung,613
26 Gangguan Usus Besar,456 Madeline M. O'DonneII dan Penny Ford Carleton
Glenda N. Lindseth 33 Disfungsi Mekanis Jantung dan Bantuan
27 Cangguan Hati, Kandung Empedu, dan Sirkulasi, 630
Pankreas,472 Madeline M. O'DonneII dan Penny Ford Carleton
Glenda N. Lindseth 34 Penyakit Pembuluh Darah, 656
Linda l. Denekamp dan Patricia Henry Folcarelli

Jawaban,689

lndel<s,712
Cambar 1 Sarkoma Kaposi Gambar 35 Pankreatitis hemoragik akut
Gambar 2 Sarkoma Kaposi Gambar 36 Metastasis kanker ke tulang belakang
Gambar 3 Sarkoma Kaposi Garnbar 37 Aneurisma Berry
Gambar 4 Limfoma Gambar 38 Ulkus kaki diabetik
Gambar 5 Kandid iasis pseudomembranosa berat Gambar 39 Sifilis primer
pada lidah Gambar 40 Sifilis sekunder
Gambar 6 Kandidiasis lidah Gambar 41 Sifilis sekunder
Gambar 7 Kandidiasis lidah Gambar 42 Herpes primer
GambarB Leukoplakia berambut di mulut Gambar 43 Herpes primer
Gambar 9 Sel darah merah normal Gambar 44 Kondiloma akuminata
Gambar 10 Anisositosis dan poiki lositosis Gambar 45 Kondiloma akuminata
Gambar 11 Sferosit Gambar 46 Akne pustular
Gambar 12 Anemia defisiensi besi Gambar 47 Akne derajat lV
Gambar 13 Anem ia megaloblastik (makrositi k) Gambar 48 Akne rosasea
Garnbar 14 Neutrofil matur normal (PMN) Gambar 49 Eksema infantil
Gambar 15 Eosi nofi I Gambar 50 Poison ivy
Gambar 16 Basofi I Gambar 51 Eksema pada tangan
Gambar 17 Monosit Gambar 52 Urtikaria
Gambar 18 Limfosit Gambar 53 Vaskulitis
Gambar 19 Neutrofilbatang Gambar 54 Psoriasis
Gambar 20 Mieloblas pada leukem ia mielogenosa Gambar 55 Pityriasis rosea
akut Cambar 56 Herpes simpleks kronis
Gambar 21 Limfoblas pada leukemia limfositik akut Gambar 57 Herpes zoster
Gambar 22 Leukem ia granulositi k kron is Gambar 58 Tinea kruris
Gambar 23 Leukemia I imfositik kronis Gambar 59 Tinea versikolor
Gambar 24 Sel Reed-Sternberg Gambar 60 Kandidiasis intertriginosa
Gambar 25 Mieloma multipel Gambar 61 lmpetigo
Gambar 26 Platelet (Trombosit) Gambar 62 Erisipelas wajah
Gambar 27 Castritis hemoragik akut (ulkus akibat Gambar 63 Karsinoma sel basal
stres) Gambar 64 Karsinoma sel skuamosa awal
Gambar 28 Seliak sprue Gambar 55 Penyakit Bowen
Gambar 29 Apendisitis Cambar 66 Melanoma menyebar superfisial
Gambar 30 Divertikulum Meckel Gambar 67 Melanoma mal igna lentigo
Gambar 31 Kolitis ulseratif Gambar 68 Nevus biru
Gambar 32 Pioderma gangrenosum Gambar 69 Aktinik keratosis
Gambar 33 Adenokarsi noma kolon sigmoid Gambar 70 Hemangioma strawberi
Gambar 34 Sebukan lemak dalam hepar

xilt
SUMBER GAMBAR BERWARNA Saunders; atas sumbangan dari Dr. James Guljzia,
Brigham and Women's Hospital, Boston, Massachu-
Gambar l, 2, 3, 4, 5, 6, Z dan 8 dari Grimes DE, Grimes setts.
RMi AIDS andHM infection,st Louis, 1994 Mosby; atas
sumbangan dari The Centers for Disease Control and Gambar 30,33,35, dan 37 dariDamjanov I, LinderJ:
Prevention- Pathology: a color atlas, St Louis, 2000, Mosby.

Gambar 9, L0, lI, L4, 15, 16, 17, 18, 19, ZO, 21, 23, dan Gambar 31 dari DoughtyD: Gastrointestinal disorilers,
26 atas surrbangan dari Herminia Bigornia, MI, dan St Louis, 1993, Mosby.
Muhammad S. Shurafa M.D, Division of Hematology/
Oncology, Henry Ford Hospital, Detroit, Michigan.
Gambar 32 dan 38 dari HiIl M: Skin disorders, St Louis,
1994,Mosby
Gambar 12,22, dan24atas surnbangan dari Kolichi
Maeda, MD, Division of Hematolog;z/Oncology, Henry
Gambar 39, 41, 43, M, dan 45 dari Centers for Disease
Ford Hospital, Detroit, Michigan.
Control and Preventton: Sexually transmitted disense,
Centers for Disease Control and Preventiory Atlanta
Gambar 13 dan 25 atas sumbangan dari Sheikh Saeed, Georgia.
MD, Division Head of Hematopathology, Henry Ford
Hospital, Detroi t, Michigan.
Gambar 40, 42, 46,55, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 66, 68,
dan 70 dari Habif TP et at Ski4 disease: diagnosis and
Ganrbar 27, 29, A, danS6atas sumbangan dari Gerald tr eahnent,St Louis, 200 1, Mosby.
D. Abrams, MD, Department of Pathology, University
of Michigan, Ann Arbor, Michigan.
Ga:rlb ar 47, 48, 49, W, 51, 52, 53, 54, 56, 64, 65, 67, dan
69 atas sumbangan dari Marek A. Stawiski, MD, Asso-
Gambar 28 dari Cotran RS, KumarV, Collins T: Robbins ciate Clinical Professor of Internal Medicine, Michi-
pathologic basis of disease,ed 6, Philadelphia, 799ig,WB gan State University, East Lansing Michigan.

xlt
Gambar Berwarna

1 Sarkoma Kaposi pada tumit dan bagian lateral kaki. Sarkoma Kaposi pada rungkai bagian distal dan
pergelangan kaki.

% ;,,'s#Hb

Sarkoma Kaposi pada wa.iah

Kandidiasis Pseudomembranosa berat di lidah pada


A..*r Q;'l
${
penderita AIDS. \:, (/

?
,/ r.r
j' -.,;

Kandidiasis lidah pada pasien AIDS yang resisten terhadap


flukonazol.

Kandidi.asis lidah pada pasien terlihat pada Gambar


Berwarna 5 setelah 48 jam pengobatan dengan flukonazol.

Unfuksumber gomborbeMorno, lihothlm. XIV


Gambar Berwarna

Leukoplakia berambut di mulut sering terlihat sebagai Sel darah merah normal berbentuk bulat, memiliki daerah-
plak benrarna putih di sebelah lateral lidah dan disebabkan pucat di tengah, tampak agak lebih kecil daripada inti limfosit
oleh infeksi virus Epstein-Barr. matang (kanan bawah), dan ukuran kecilnya bervariasi.

6il9

10 Anisositosis dan poikilositosis, atau variasi ukuran dan 11 Sferosit berukuran lebih kecil daripada sel darah merah
bentuk sel darah merah. normal, tidak memiliki daerah pucat ditengah, dan cenderung
mudah mengalami hemolisis.

&s
12 Anemia defisiensi besi memiliki ciri khas sel darah merah 13 Anemia megaloblastik (makrositik) terlihat pada
hipokromik mikrositik. Terlihat adanya poikilositosis. temuan darah tepi. Terlihat adanya neutrofil hipersegmentasi
dan ovalosit (sel darah merah bentuk oval, dan besar).

xvt Unlr.rk sumber gombor beMorno. lihot hlm. XIV


Gambar Berwarna

?q b22
t, q[rf;
I
-,f*

14 Neutrofil matur normal (PMN). PMN memiliki nukleus 15 Eosinofil normal. Nukleus memiliki 2lofus, dan sitoplasma
bersegmen (dua sampai lima lobus) dengan kromatin yang mengandung granula-granula benvarna merah keunguan.
besar dan terkumpul; granula-granula neutrofilik yang halus
(warna lili) menyebar di seluruh sitoplasma.

;!.

,'{.j
b
, .+,
stt{ rP

16 Basolil normal mengandung granula-granula besar 17 Monosit normal merupakan sel besar dengan nukleus
berwarna biru gelap yang mengisi sel dan mengaburkan melipatataumelekukmengandungkromatinhaluimenyerupai
nukleus. benang; sitoplasma berwarna biru keabu-abujn dan
biasanya mengandung granula-granula azurofilik yang halus.

a
'?)
i l$-:

itlh b

18 Limlosit normal memiliki nukleus kecil yang bulat atau agak 1 9 Neutrof il batang adalah neutrof il yang agak imatur dengan
melekuk dengan banyak kromatin berwarna gelap. Yang nukleus mirip-batang, biasanya berOentut< seperti sepltu
terlihat hanyalah lingkaran tipis ekstemal dari sitoplasma agak kuda. Jumlahnya meningkat pada infeksi bakteri akut.
basolilik.

Unfuk sumber gombor beMorno, lihot hlm. XIV xvlt


Cambar Berwarna
r'-
rtr
,:,*i' qb i,,^or*
'ry}

rJ!
Mieloblas pada leukemia mielogenosa akut. Sel Limfoblas pada leukemia limlositik akut. Sel-
berrrukleus besar dengan kromatin inti yang halus, stoplasma bernukleus kromatin halus dengan sedikit sitoplasma dan
yang sangat sedikit, dan biasanya dua hingga lima nukleoli. biasanya satu atau dua nukleoli.

!li
-\ i*
? ..-
.n ot {i ..
r .d r-,\ ? "O
r{$
,t

:D-I.
6'
''..t q.' ot . ,'*'.,i
.; '-&'q'o .i.
-.
, " C;i#
- '-o- :''
j,
SI - li
-tu

Karakteristik sumsum tulang pada leukemia granulositik Leukemia limfositik kronis. Limfosit matur dengan
kronis. Sumsum hiperselular dengan peningkatan garis kromatin inti yang kasar dan sitoplasma yang tipis.
granulositik.

t;.: e JIb''.
c.
ft
a ? .
r'. S)
/,t.
..
o1?.

(F' .' F'


f;*'
t--

Sel Reed-Sternberg. Sel raksasa berinti dua (binukleasi)


terlihat pada penyakit Hodgkin. Limfosit kecil yang matur
;1

,- ,.-
.

Q
;'
:_

si+ ff.
A.
Aspirat sumsum tulang menggambarkan sel-sel pada
mleloma multipel.
terlihAt sebagai latar belakangnya. Di sebelah kiri sel Reed-
Sternberg adalah eosinolil yang mengandung granula
sitoplasma berwarna oranye kemerahan.

Platelet (trombosit) tidak memiliki nukleus karena berasal dari


tragmen sitoplasma megakariosit. Trombosit memperlihatkan regio
granular di daerah tengah dengan granula berwarna ungu yang
nyata dan daerah perifer yang tidak bergranula yang terwarnai
biru transparan pucat.

xvtlt Unfuk sumber gombor berworno, lihot hlm. XIV


Gambar Berwarna

..$
:'...- I

27 Gastritis hemoragik akut (ulkus akibat stres) yang 28 Seliak sprue (enteropati sensitif-gluten) (bawah)
dipersulit oleh perforasi lengkap melalui dinding lambung. dibandingkan dengan jejunum normal (atas). Pada sprue
Ulkus akibat stres ini diinduksi oleh lomba minum alkohol akut terdapat sebaran atrofi difus dan penumpulan vili, dengan
dan ingesti aspirin di antara mahasiswa-mahasiswa uni- sebukan peradangan kronik lamina propria.
versitas.

29 Apendisitis. Apendiks mengalami inflamasi dan distensi 30 Divertikulum Meckel. Lengkung usus buntu ileus, panjang
dengan pus kekuningan. sekitar 2 inci, ditemukan pada sekitar 2% populasi. Dapal
terjadi ulserasi, perdarahan, dan menyebabkan gejala serupa
dengan yang terjadi pada apendisitis akut pada 2% penderita
yang mengalaminya.
t.
,l
*l

32 Pioderma gangrenosum
tungkai pada penderita kolitis
ulseratif.

31 Kolitis ulseratif memperlihatkan edema mukosa berat dan


peradangan dengan ulserasi dan perdarahan.

Unfu k sumber gombor berworno, lihot hlm, XIV xlx


Cambar Berwarna

{r
si
33 Adenokarsinoma kolon sigmoid, membentuk massa 34 Sebukan lemak dalam hepar. lnfiltrasi lemak dalam sel_
sirkumferensial dan penyempitan lumen usus.
menyebabkan hati tampak lebih berwarna coklat kekuningan
daripada coklat gelap; hati membesar dan permukaan irisan
terlihat berminyak.

l '/j'

i"
l;:

35 Pankreatitis hemoragik akut. perdarahan, nekrosis 36 Metastasis kanker ke tulang belakang, berasal dari
lemak, dan pseudokista terisi darah pada potongan melintang. paru dan menyebar melalui aliran darah. Jaringan berwarna
keputihan adalah kanker yang mengerosi tuling vertebra,
yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur kompresi.

37 Aneurisma Berry sirkulus Willisi (tanda panah). J8 Ulkus kaki diabetik akibat distribusi tekanan abnormal pada
neuropati diabetik. Penyakit vaskular dengan terbatasnya
suplai darah juga menyebabkan terbentuknya lesi, dan lazim
terjadi infeksi.
XX Uniuk sumbergombor beMorno, lihat hlm. XIV
Gambar Berwarna

39 Sifilis primer. Chancre (ulkus keras yang tak terasa nyeri)


pada penis.
40
I
Sifilis sekunder. Fuam papuloskuamosa

lr:miF ffii
M
T
4.:,

41 Sililis sekunder. Lesi pada tangan

42 Herpes primer. Sekelompok vesikel yang terasa nyeri pada


: genitalia perempuan.
I
', 1
' ,#
44 Kondiloma akuminata.

J
Nodul basah verukosa
(mirip kutil) pada penis.

It

43
#
Herpes primer. Laki-laki.

Untuk sumber gombor Oeni/orno, nol h m. X V XXI


Gambar Berwarna

-.-**r*ruM,-' : ,'l '

45 Kondiloma akuminata. Vulva. Akne pustular. Lesi akne yang mengalami inflamasi klasik.
Mungkin terjadi pembentukan jaringan parut. pengobatan
topikal dan antibiotik oral merupakan pengobatan pilihan
pertama.

47 Akne derajat lV. Konglobata, kista, dan jaringan parut. 48 Akne rosasea. Eritema dan pustula wajah sentral

49 Eksema intantil, Ruam eritematosa, tangisan. 50 Poison ivy.Yesikel dalam konfigurasi berkelompok dan linear.

xxil Unfu k sumber gombor berworno, lihot hlm. XIV


Gambar Berwarna

51 Eksema pada tangan. Tangan bersisik dan berfisura. 52 Urtikaria. Wheal arsi'formis dan anula

,.". jr,
i,i
/. '.'t
,/.'
f,

[1
j,

tli
,: _ . -':t

tI
b

t'F

53 Vaskulitis. Papul dan bercak nekrotik dan hemoragik. Psoriasis. Plak berbatas tegas dengan sisik putih yang
tebal.

Pityriasis rosea. Sisik menyerupai jaringan berbentuk cincin Herpes simpleks kronis pada pasien AIDS. Ulserasi
yang melekat dengan tepi,bercak berbentuk oval berwarna kronis berdurasi 3 bulan dengan biakan herpes positif.
merah pada badan.

Unfuk sumber gombor berworno, lihot hlm. XIV xxilt


Gambar Berwarna

57 Herpes zoster. Vesikel bentuk linear pada dasar 58 Tinea kruris. Tinea pada selangkangan, mulai di lipatan
eritematosa sepanjang satu dermartom. Pasien usia tua atau kruris dan berlangsung ke arah perifer tetapi biasanya tidak
lemah dapat mengalami perjalanan kllnis yang sulit dan lama. mengenai skrotum.

lV

59 Tinea versicolor. Makula konfluen bersisik. dan 60 Kandidiasis intertriginosa. Plak berwarna merah yang
berwarna keputihan. berlanjut ke tepi semua lipatan tubuh yang berdekatan dengan
pustula satelit.

62 Erisipelas waiah
Lesi berwarna merah
61 lmpetigo terjadi paling sering di wajah. Lesi ini berada pada cerah, berbatas tegas,
semua stadium perkembangan. Perhatikan krusta tebal yang terasa nyeri, dan
melekat berwarna kekuningan. panas.

XXIV Untuk sumber gombor berworno, lihot hlm, XIV


Gambar Berwarna

p:'
[-
I
..

63 Karsinoma sel basal. Karsinoma sel skuamosa awal. Tumor yang mengalami
ulserasi, infiltratif, dan eritematosa pada area yang terpajan
sinar matahari.

:
I
i*
I',
{
:l
-4

3
T
t
*
,i[i
d

Penyakit Bowen. Bercak bersisik eritematosa dengan Melanoma menyebar superfisial. Warnanya bervariasi
konfigurasi iregular pada area yang terpajan sinar matahari. dengan infiltrasi ke kulit di sekitarnya dengan difusi pigmen.

ta
ti ' i.,

Melanoma maligna lentigo. Bercak hitam kecoklatan Nevus biru. Berwarna biru uniform pada nevus benigrra
dengan nodul hitam di tengah pada melanoma yang tumbuh. yang paling sering terjadi di kepala, leher, atau pantat.
Pewarnaan melengkapi melanosit yang sangat berpigmen
dalam dermis profunda.

70 Hemangioma strawberi.
Sebagian besar berukuran kecil,
merupakan tanda lahir yang tidak
berbahaya yang berproliferasi
h-s {
$
Aktinik keratosis.
pada plak.
Populasi
padat, eritematosa, dan bersisik
selama 8 hingga 18 bulan dan
kemudian mengecil secara perlahan
selama 5 hingga 8 bulan berikutnya.

Unfuk sumbergombor berworno, lihot hlm. XIV


#1, XXV
BAGIAN SATU

PENDAHULUAN
PATOLOGI UMUM:
MEKANISME PENYAKIT

a$ian Satu buku ini menjelaskan latar belakang mengenai pemahaman


proses penyakit. Jumlah dan jenis penyakit pada manusia sangat banyak, karena tiap
or$an atau si$tem di dalam tubuh dapat dikenai penyakit. Akan tetapi, cara mendasar
timbulnya penyakit pada suatu organ cukup terbatas, sefta susunan penyakit yang luas dan
membingungkan menunjukkan sejumlih proses biologik dasar yang lebih sedifit dengan
kombinasi dan permutasi berbeda yang mengarah pada perubahan struktur dan fungsi. Bagian
satu ini memfokuskan pada proses biologi dasar.
Patologi adalah ilmu atau studi mengenai penyakit. Dalam maknanya yang paling luas,
patologi secara hadiah adalah biologi abnormal, studi mengenai proses-proses biologik yang
tidak sesuai. atau studi mengenai individu yang sakit atau terganggu. Sebagai suatu ilmu
biologik dasar, patologi mencakup bidang-bidang seperti patologi tanaman, patologi
serangga, patologi kedokteran hewan dan patologi komparatif, serta patologi manusia.
Dalam konteks kedokteran manusia, patologi tidak hanya merupakan ilmu dasar atau
teoietik,:tetapi juga merupakah -pesialisasi kedokterah klinis. Ahli patologi adalah dokter yang
memiliki spesialisasi dalam kedokteran laboratorium; mereka berkonsultasi dengan dokter-
dokter lain, dengan demikian dapat membantu dalam diagnosis dan pengobatan penyakit.
Cakupan kedokteran laboratorium antara lain semua studi ying dilakukan pada sampel yang
diambil dari pasien, termasuk sampel jaringan, darah, dan cairan tubuh lainnya. Studi
laboratorium yang m,elibatkan patologi anatomi memeriksa dan menilai perubahan
morfologik:pada.:sel dan jaringan, Patologi::bedah;,:5i16patolo$i, dan.patologi otopsi termasuk
di dalam kategori ini. Banyak studi yang dilakukan dengan menggunakan sarana-sarana lain.
Area-area patologiklinis ini meliputi kimia klinis, mikrobiologi, liematologi, imunolog!, dan
im*nOhe#atolo$i, Patofisi;oloigi mernbahai aspek-aspek dinamik prosei penyakit;,fetofisiofogi
merupakan studi mengenai fungsi-fungsi yang terganggu atau berubah, contohnya,
pe.rilbahan-perubahan fisiologik ydng diakibatkan dari penyakit pada organisme,,hidup,
, Proses-propes penyakit lang mendasai; ,seperti peradahgan, neoptaiia,''dan cedera
imunologik, dijelaskan di dalam buku teks pada bagian ini. Rincian penyakit-penyakit spesifik
dib.ichral<andidaIamlrukuteksinipadabagian.bagianberikutnya.
BAB .I

KOhSep,: Umum
Pdnyokit
Sehat Versus Penyakit

LORRAINE M. WILSON

gARIS ,.BESAR BAB untuk tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah
diperoleh dari pengamatan banyak individu dan men-
KoNSEP TENTANC KENoRMALAN, 2 cakup sejumlah variasi tertentu.
KONSEP TENTANC PENYAKIT, 3 Variasi nilai-nilai normal terjadi karena beberapa
PERKEMBANCAN PENYAKIT, 4 alasan. Pertama, tiap orang berbeda dari yang lain
Etiologi, 4 dalam susunan genetik mereka. Dengan demikian, di
Patogenesis, 4 dunia ini tidak ada dua individu yang memiliki gen
Manifestasi, 4 benar-benar sama kecuali mereka berasal dari satu
KLASIFIKASI PE NYAKIT, 5 ovum yang sudah dibuahi. Kedua, tiap individu
memiliki perbedaan dalam pengalaman hidup dan
interaksi mereka dengan lingkungan. Ketiga, pada
tiap individu, terdapat variasi parameter fisiologik
karena cara mekanisme kontrol pada fungsi tubuh.
Sebagai contoh, konsentrasi glukosa darah pada
KONSEP TENTANG KENORMALAN
seorang yang sehat secara signifikan bervariasi pada
waktu yang berbeda dalam sehari, bergantung pada
Sebagian besar orang memiliki pendapat tertentu asupan makanan, aktivitas individu, dan sebagainya.
mengenai normol dan mendefinisikan penyakit atau Variasi ini umumnya terjadi dalam kisaran tertentu.
keadaan sakit sebagai suatu penyimpangan dari ke- Situasi ini dianalogkan dengan ruangan yang suhu-
adaan normal atau tidak adanya keadaan normal. nya dikontrol oleh termostat. Suhu dapat sedikit tumn
Akan tetapi, jika dilihat dengan lebih cermat, konsep di bawah tingkat yang diinginkan sebelum terdeteksi
kenormalan terlihat kompleks dan tidak dapat didefi- oleh termostat. Kemudian, tindakan korektif termostat
nisikan secara singkat dan jelas. Jadi, konsep penyakit dapat sedikit melebihi batas suhu yang diinginkan
tidak sederhana. sebeium asupan panas dihentikan. Memang variasi
Segala parameter pengukuran yang dipakai pada suhu tubuh semacam ini dapat teqadi pada semua
individu atau kelompok individu memiliki semacam orang, meskipun dalam keadaan normal. Akhirnya,
nilai rata-rata yang dianggap normal. Nilai rata-rata pada parameter fisiologik yang diukur dengan cara

2
Konsep Umum Penyokit BAB 1

yang cukup rumit, sejumlah variasi yang signifikan nuhi tuntutan-tuntutan dalam tubuh dan beradaptasi
daiam nilai-nilai yang diamati dapat diperoleh dari dengan tuntutan-tuntutan ini atau perubahan-
kesalahan atau ketidakcermatan yang menyertai perubahan pada lingkungan eksternal daiam rangka
proses pengukuran itu sendiri. mempertahankan kekonstanan yang layak pada
Karena pertimbangan-pertimbangan di atas, maka lingkungan intemai. Semua sel dalam tLrbuh memerlu-
menentukan kisaran variasi normal dari suatu nilai kan sejumlah tertentu oksigen dan nutrien untuk
rata-rata merupakan suatu masalah yang rumit' kelangsungan hidup dan fungsinya, dan sel juga
Kerumitan ini meliputi mengetahui derajat osilasi fisio- memerlukan lingkungan yang menyediakan kisaran
logik tindakan tertentu, menyebabkan derajat variasi suhu yang sempit, kandungan air, keasaman, dan
di antara individu normal bahkan dalam keadaan konsentrasi garam. Dengan demikian, pemeiiharaan
basal, dan kecermatan metode pengukuran. Akhimya, kondisi internal dalam batas yang cukup sempit
harus diperkirakan makna biologik pengukuran itu. merupakan gambaran penting tLrbuh normal. Penyakit
Pengukuran, pengamatan atau hasil-hasil laborato- dikatakan ada, jika beberapa struktur dan fungsi tubuh
rium tunggal yt g tampaknya menunjukkan kelainan menyimpang dari normal sampai pada suatu keadaan
harus selalu dinilai dalam konteks individu secara berupa rusak atau terancamnya kemampuan untuk
keseiuruhan. Peningkatan tekanan darah pada sekaii mempertahankan homeostasis normal atari individu
pemeriksaan tidak berarti orang terscbut menderita tidak dapat lagi menghadapi tantangan lingkungan.
hipertensi; peningkatan ringan kadar glukosa darah Pandangan subjektif seseorang mengenai penyakit
tidak berarti orang tersebut menderita diabetes; dan berkaitan dengan gangguan kemampuan untuk
kadar hemoglobin yang lebih rendah dari rata-rata melakukan aktivitas sehari-hari dengan nyaman.
pada sekali pemeriksaan tidak berarti menunjukkan Penyakit tidak melibatkan perkembangan suatu
adanya anemia. benluk kehidupan yang benar-benar baru, tetapi lebih
Untuk menempatkan semua pertimbangan itu merupakan perluasan atau distorsi proses kehidupan
dalam suatu perspektif, konsep-konsep kenormalan normal yang terdapat pada individu. Bahkan pada
dan bahkan penyakit, sampai pada taraf tertentu tidak kasus penya(it infeksi yang jelas, yang selama
pasti dan dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya serta menderita penyakit ini tubuh benar-benar terinvasi,
realita biologik. Sebagai contoh, pada kebr-rdayaan kita, agen infeksius itu sendiri bukan merupakan penyakit
suatu kelainan pada fungsi sistem saraf pusat dapat tetapi hanya mencetr-rskan perubahan-perubahan yang
mengakibatkan ketidakmampuan membaca yang akhirnya bermanifestasi sebagai penyakit. Dengan
signifikan dan dapat merupakan keiainan, sedangkan demikian, penyakit sebenarnya merupakan berbagai
kelainan yang sama mungkin tidak akan dijumpai proses fisiologik yang telah mengalami distorsi. UnbLrk
dalam suatu budaya yang membaca bukan merupakan memahami dan mengobati penyakit secara adekuat,
suatu aspek penting dalam kehidupan sehari-hari' harus memperhitungkan identitas proses-proses nor-
Lebih dari itu, suatu sifat yang mungkin rata-rata dan mal yang dipengaruhi, sifat-sifat gangguan, dan
dianggap normal dalam suatu populasi dapat di- akibat-akibat sekunder gangguan semacam itu pada
anggap abnormal dalam populasi lain. Sebagai contoh, proses vital yang lain.
bagaimana seseorang yang "normal" dari populasi Berdasarkan anamnesis, diyakini bahwa saat ini
kita akan dilihat oleh orang-orang pygmi di Afrika penyakit merupakan suatu bentuk kehidupan baru,
Tengah, atau sebaliknya, bagaimana seorang bayi dari semacam pemilikan tubuh oleh agen dari iuar. Dari
daerah belum berkembang yang diare kronis dan dugaan ini muncul bahwa bentuk "eksorsisme" ter-
penambahan berat badan yang relatif rendah dianggap tentu untuk menyingkirkan agen penyakit tersebut
"normal" untuk populasi itu, dapat dilihat dalam merupakan terapi yang sesuai. Namun, dalam ke-
salah satu kiinik bayisehat kita. adaan adanya agen infeksius yang invasif, usaha
pengobatan dengan antibiotik saja dapat tidak
menyembuhkan pasien jika perhatian yang semestinya
tidak ditujukan pada proses-proses intrinsik tubuh
KONSEP TENTANG PENYAKIT yang telah menjadi kacau.
Topik yang muncul kembali dengan variasi pada
Penyakit dapat didefinisikan sebagai perubahan pada volume ini adalahbahwa, di atas segalanya, penyakit
individu-individu yang menyebabkan parameter kese- merupakan "bagian dan bidang" pasien. Proses nor-
hatan mereka berada di bawah kisaran normal. Tolok mal dnn abnormal mewokili segi-segi ynng berbeda pada
ukur biologik yang paling berguna untuk kenormalan spektrum kontinu y ang sama. P ada kenyataarrrya, benih-
berkaitan dengan kemampuan individu untuk meme- benih penyakit sering terdapat di dalam mekanisme
4 slctAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM : MEKANISME PENYAKIT

adaptif tubuh itu sendiri, mekanisme yangmerupakan


liwa fenomena tertenhr dan aspek_aspek waktu timbul_
suatu,pedang bermata-dua yang poteniial. Sebagai
nya penyakit. Penyakit yang terjadi tidak bersifat
contoh, leu-kosit, yang penting dalam merespons statil<;
penyakit tersebut merupakan fenomena dinamik
serbuan mikroba, dapat menja.ll ug".r. pada cedera
dengan irama dan polanyi sendiri. Dengan demikian,
jarrngan. Mekanisme yang
-"^rrrgkinkan seseorang
menjadi kebal terhadap infeksi teitentu juga mem_
tiap penyakit memiliki riwayat penyaklt_suatu pola
evolusi, efek, durasi tipikal yang diamati kecualijika
bentuk dasar untuk reaksi alergik, sepertihay"feaer dan
terdapat intervensi yang berhasil mengubah penyakit.
asma. Dengan cara yang sama, mekanisme proliferasi
Dalam evaluasi diagnostik pasien"dan peniiaian
yang memungkinkan individu untuk memperbaiki
3e1 terapi, penting untuk tetap mengingat konsep riwayat
luka dan secara konstan memperbarui populisi sel
di alami dan kisaran variasi ferfag:ai p"r,yutit yur,g
dalam berbagai jaringan dapat menimbulkan sifat "riwaya
b erb eda dengan memp erhatikan
yang tidak terkontrol, mencetuskan kanker. i alamlnyal
Beberapa penyakit khususnya memiliki respons
cepat,
sedangkan yang lain memiliki gejala prodromal
lama.
Beberapa penyakit dapat sembuLseniiri;
yaitu, hilang
secara spontan dalam waktu singkat. yang
PERKEMBANGAN PENYAKIT laii
menjadi kronis, dan beberapa penyaklt lain cend"emng
sering kambuh dan mengalami eisaserbasi.
Etiologi
Etiologi, dalam definisinya yang paling umrlm, Manifestasi
merupakan penetapan penyebab atau alasan untuk
fenomena. Suatu gu-butur, mengenai penyebab Pada awal perkembangan suatu penyakit,
agen atau
penyakit meliputi identifikasi fa*or_faltol yang agen-agen etiologik dapat mencetuskan s-jumlah
menimbulkan penyakit tertentu. Dengan aemitcian n,eyUalS dalam proses biologik yang dapat dideteksi
basil tuberkulosis ditunjuk sebagai ajen penyebab oleh analisis laboratorium *utu"prli tidak memiliki
tuberkulosis. Faktor-faktor penyeUiU lain"paaa gejala-gejala subjektif. Dengan demikian, banyak
penyakit memiliki stadium subklinis,yang selama
l".k"Tlutrgan tuberkulosis meliputi usia, status gizi, sta_
dium ini fungsi pasien berjalan secari noimal, walau_
dan bahkanpekerl'aan orang teriebut. Bahkan p"ada
kasus penyakit infeksi, ,"p"iti tuberkulosis, agen pun proses penyakit itu sudah ditentukan dengan
itu
sendiri bukan merupakan penyakit. Agaknya semua baik. Fungsi dan struktur banyak organ menyedialan
respons terhadap agen itu, semua penyimpangan perlindungan atau batas ut run yun{luas, serta
gang_
proses guan fungsional dapat jelas hanya jika penyaklt
.liql:gik yang ditimbulkannya, *"..,pulun
penyakit. Oleh karena itu, pada etiologi suatu penyakit t:.r."?lt telah cukup lanjut. Sebagaicontoh, penyakit
tertentu, kisaran faktor-faktor ekstriniik ataulkstgen ginjal kronis dapat merusak situ ginjal satu dan
dalam lingkungan harus dipertimbangkan bersama merusak sebagian grnjal yang lain sebllum gejala_
gejala yang berkaitan dengan penurunan fungsi
9"ig?l berbagai sifat-sifat inrrinsik itau endogen
individu.
g^lut
dapat dirasakan. Akan tetapl, beberapa plr.,yutit
tampaknya mulai sebagai gangguan fungsionai
dan
sebenamya secara klinisi me"; aJlJ'eUs
Patogenesis -allupun
saat itu tidak terdeteksi adanya kelainan_kelainan
p ada

anatomis. Keadaan sakit semacam itu akhirnya


P ato genesis penyakit menunjukkan perkembangan dapat
atau mengakibatkan kelainan struktural sekunder.
evolusi penyakit. Untuk melanjutkan contoh sebelum_
Pada saat proses-proses biologis tertentu ter_
nya, patogenesis tuberkulosis meliputi mekanisme ganggu/ pasien secara subjektif mulai merasakan
invasi basilus tuberkulosis ke dalam tubuh yang ada
akhir- sesuatu yang tidak beres. perasaan subjektif ini
disebut
nya menyebabkan kelainan.
sef gS.al.qelala penyakir.
Menurut defini si, gej alabersifat
Analisis semacam ini berkaitan dengan proliferasi subjektif dan hanya dapat dilaporkan olJhpasien ke_
dan penyebaran basil-basil tuberkulisis^sehingga pada pengamat. Namun, jika pengamat secara
menimbulkan respons peradangan, pertahanin objektif
dapat mengidentifikasi manifestaii penyaki! maka
imunologik fubuh, dan rusaknya sel-sel dan jaringan. hal
ini disebut tonda-tandq penyakit. Mual, malese, dan
da1 luasnya kerusakan jaringan akhimya 6er_ nyeri me-rupakan gejala, sedangkan demam, ke_
fo]a
kaitan dengan manifestasi penyakil khnis yang jelas. merahan kulit, dan massa yang dapat diraba
-eris_ merupa_
Patogenesis juga merupakan zuatu rangkiian
kan tanda-tanda penyakit.-perubahan struktural
yang
Konsep Umum Penyokii BAB,!

dapat terlihat, yang ditimbulkan dalam perkembangan


penyakit disebut sebagai lesi. Lesi dapat jelas secara KLASIFIKASI PENYAKIT
makroskopis, mikroskopis, atau keduanya. Akibat
suatu penyakit kadang-kadang diseb ut sebagai sekuele. Terdapat banyak strategi untuk mengelompokkan
Sebagai contoh, sekuele proses peradanganpada suatu penyakit. Masing-masing strategi memiliki alasan dan
jaringan biasa dapat berupa parut pada jaringan itu. kelebihannya sendiri. Di antara ahli klinis, secara
Sekuele peradangan rematik akut pada jantung dapat tradisional penyakit dikelompokkan menurut sistem
berupa parut, katup jantung mengalami deformitas. organ yang terkena, dan rencana ini akan disertakan
Komplikasi penyakit merupakan suatu proses baru atau di dalam teks ini. Skema ini dapat menyesatkan sese-
proses tersendiri yang dapat timbul sekunder karena orang pada pemikiran bahwa penyakit terbatas pada
beberapa perubahan yang ditimbulkan oleh keadaan kompartemen-kompartemen di dalam tubuh, ketika
aslinya, Sebagai contoh, pneumonia bakteri dapat pada kenyataannya suatu gangguanpada satu sistem
merupakan komplikasi infeksi virus saluran organ cenderung menimbulkan ketidakseimbangan di
pemapasan. Untungnya, banyak penyakit juga dapat mana pun pada tubuh. Lebih dari itu, walaupun
mengalami yang dinamakan resolusi, dan pejamu ketidakseimbangan itu berasal dari sistem organ yang
kembali sepenuhnya pada keadaan normal, tanpa sama/ penyakit-penyakit seperti pneumonia, tuber-
sekuele atau komplikasi. Resolusi dapat terjadi secara kulosis, dan karsinoma bronkogenik memiliki aspek-
spontan, yaitu, karena pertahanan tubuh, atau dapat aspek patologik yang jelas berbeda dengan penyebab-
diakibatkan dari keberhasilan pengobatan. penyebab yangberbeda.
Akhirnya, penting untuk menekankan kembali Di samping klasifikasi menurut sistem organ, pola
bahwa penyakit bersifat dinamik bukannya statik. penyakit dapat juga diklasifikasikan menurut penye-
Manifestasi penyakit pada pasien tertentu dapat ber- bab (Tabel 1-1). Akan tetapi, di antara kategori yang
ubah darihari ke hari ketika terjadi pergeseran keseim- luas ini banyak yang saling berhubungan, dan hal ini
bangan biologik dan mekanisme kompensasi. tidak dapat terlalu ditekankan. Beberapa penyakit
Pengaruh lingkungan yang terjadi pada pasien juga termasuk di ddlam kategori multipel dan banyak
mempengaruhi penyakit. Oleh karena itu tiap penyakit penyakit yang tidak diketahui asalnya. Penjelasan
memiliki kisaran manifestasi dan spektrum ekspresi singkat diberikan untuk masing-masing kategori
yang dapat bervariasi pada pasien yang satu dan yang etiologik ini; informasi yang lebih terperinci akan
Iain. dicantumkan di dalam bab-bab berikutnya di dalam
teks ini.

Berlanjut
BAGIAN SATU PEN DAHULUAN PATOLOGI UMUM : ME KAN ISME PENYAKIT

K[a sif ika5i Etiolog i k p eny akit- Ia hi u ia n


qenyakittokqil< ',,, Disebabkan oleh ingesti racun. sebagai contoh: inhatasi karbon
:. r.: :r t:: _. ., monoksiJa oari bu"ngun
: :::,jl ili:: i :r':: kendaraan bermotor di daram garasi yang tertutup dapat menveb"ut""
nNor.ri"
jaringan dan kematian. Karbon monoksid*a diabsorpsi-.;";;;;;"-;i;ra"T""r,
tt' terikat dengan hemoglobin (membentuk karboksihemogr"bint
or"
.il,:t,1,,'. ,11,,r.',,'.,,., ;;;;;
afir1"!l"i,n o",i
-'
llll " t:,::r i],,:- '' : : 200,kali ariniras okaigen, Har ini membaiasi tcapaertas riemolw""Ggeri&-h
:::r1..:: ,:: :::,:'l
hemoglobin. .
..:iit:r tL r.r ,','r,,::' .

Penvakit infeksi Diakibatkan dari invasi organisme patogen hidup (misar, bakteri,
I
virus, lamur, p.,oro",
;- ,,' a-tl, ,, tl i ,,-.
cacing darah, cacing).
Potiriiirar,marr Disebabkan oreh cedera fisik. cedera mekanis kasar, panas
atau dingin yang ekstre;,
listrik, dan radiasi merupakan contoh-contoh agen fisik
V""n ;;;;- '-;ffi;;;
'
tiauma pada tubuh; Trauma yang diakibatkerr cari kecetikain_:t<enuaraan
leimotor
, merupakan pehvebab utama kbCacaian dan xematian aiir"iii'i s-r-fi!i'--i" "'"' ..
Pelyakit dggeneratif Kelainan primer adarah degenerasi berbagai bagian tubuh. penyakit
degeneratif
berkaitan dengan proses penuaan normal dan semakin sering
dengai meningratnya
rentang kehidupan di Amerika serikat. pada banyak kusrs,
r""sir"sio"s;r;i"iiilo1h
bersifat tanjut atau terjadi tebih cepat daripada jk"i#;;;;;#;i
Ving Oih;rapka"
'l
berkaitan densan usia. contoh-contoh penyakif oeleneratii
osteoartritis dan arteriosklerosis.
t;;d ,;;;;
i.ri.Ji"o"i"n
:::: ::li:]

Flnyeift imunorqsik sistem imun secara normar.bereaksi merindungi terhadap invasi


antigen asing dan
kanker. Hipersensitivitas (alergi), autoimunita's, Jan imunodefisiensi
tipe-reak_si imun dengan pengaruh yang membahayaka" p*r"r, *
merupakail tiga
n".p;;;j;;"'
(Tj."l: pi:" rebah) da[atrn"ru'tirun
ll{j,$j'Lj:tug:! "l?ls"nmeliputi hilahgnya toleranii
nrpersensrtrt. Autoimunitas
ousijnJi"iJu vung
terhadap antigen sendiii
sehingga reaksi imun dibentuk untuk merawan diri sendiri. #;"k
lupus eritematosus sistemik, miastenia gravis, dan glomerulonefritii#;y"kit,
I"p"rti
Jiv"r,l.i n.,!r,o"t-
-
kan autoimunitas. rmuno.defrsrensi dapai diwariskariatau dioapat
imunodefisiensi didapat [ArDS]) menyebabkan pejamu menladi
lrii."l, ,i.ir",
rentan ternaoap intetcsi
oportunistik dan keganasan.
'
Penyakit neoplastik Penyakit neoprastik ditandai dengan pertumbuhan ser abnormar yang
menyebabkan
berbagai jenis,tumor jinak dan ganas. Kbganasan merupakan-penyabao
morbiditas dan morrariias, mengenai lebiri dari ?0y, popirisi
utama , ,.:::

' ' ,,:::: t ,:: . ol Anierik; s";# ,


Penyakit yang berhubungan Defisiensi protein, karori, atau vitamin menyebabkan banyak penyakit,
dengan gizi terutama di
negara berkembang. Malnutrisi dan penyakit infeksi merupakan penyebab
.;;;g
kematian di negara-negara ini. Defisiensi zat gizi spesifit<,'seperti"rtirni. -c"r.".i*
babkan skorbut atau struma yang dlsebabkan'yoa1um,
karena kemajuan kita di bidang gizi.
laiB ,iariaoi.ol,Mii indusiri ,, :.:l

Penyakit metabolik Diakib.atkan oreh gangguan,paol bguer.ap-a,Rrorei *er"uoriqpa;iin*aio


sebasai contoh, tiroid dapat tidak mengaiur kecepatan
riliu[*.
,"[Joii.il" ;;[;;;;;"",
aiau ser-ser dapat tidak mensgunakan irul,or" #;;; ;";;;. riliri""r..Lr,fr""sl"' -'
oJaoetei melitus, d-an s"nsgr"n-;nJ"xri. r"i" r"'r*"rll'.ontor'-
::fl{a.".l",frotir
conron penyakit metabolik.
Penyakit molekular Diat<ioarkan oleh kelainan molekul tunggat
fang menyebabkan abnormaritas oroorr.
morekurar pada aktivitas serurar. Banyak penyakit oeiiitat genetik.
sebagai contoh,
anemia set sabit meribatkan urutan yang i"r"i' p"ou or"
";;;r;;;",,"iJ.rr
nemogrobrn yang menyebabkan bentuk abnormal (sabit) pada iarakteristik
sel darah
merah pada penyakit ini.
eenyat<it lsitogeniX o'Tr,l?,',oj^q:|1ry:g:1.,**saldari.emosiollr psikotogik 0"r"rn r."it"nny" o"nn"n
"t"udemensia. Fat<tor-taiior emosional*
suatu gejafa. contoh: skizofrenia, berbagai jenis
turut berkontribusi pada banyak penyakii organik. - - - -- -

Berlanjut
Konsep Umum Penyckit BAB {

$l a$ilj
re$ i iEllti
::::::::-:=:.
l$ ikrf,e ii va rilf nrut
:,jtit: ill:::ritt:
F.ryrdr:l.qllseilir. Suatu penyakit atau gangguan yang ditimbulkan secara tidak disengaja sebagai akibat

:a:-' :,1:1,
,,,,:,pengobatari Valg:idilakukan oleh,tenaga'perawatan kesehatan untuk,bebQrhpa- .. .
.. ' gangguan lain. lstilah tersebut menunjukkan bahwa efek-efdk seperti itu dapat
::t. ::,,-:. 1,: ,:,,:,::.= l dihihdari dengan perawatan yan$ tepat dan benar, Sebagai contohr efek samping
i::,tLlt
: r..1:r:,iti1. ::::::::,::
diuietik tiazid yang dikeiahui adalah hipokalemia, yang pada gilirannya, dapat
menyebabkan disritmia jantung serius. Pemantauan kadar kalium serum yang
meilyediakan:rnekanan y,,anglinggi kalium atau memberikan su,plbmen
-
=eksarna.dan
kal' d 'sriat diindil<hsikan dapat mbn$hindari efek samping ini. Tenaga $grawatan
iti,i
i.,, kebenatanAapat nencegah banyak inf6ksi luka yang didapat di rumah sakit me:lalui::::::. i

r perhatian yang behar pada teknik'aseptik dah steril. ::,:. .:,::....


.
: ,J::- . lil::r,.t.
Pentakit idiopatik Penyakii yang penyebabnya tidak diketahui. Penyebab banyak penyakit tidak dikotahui.
Pada lebih dari 90% kasus hipertensi, penyebabnya tidak diketahui; denSan demikian
diSebul hipertensi esdhsial atau idiopatik, , , . :,::..,, L,;,,
:,,,jli::
'::ii1.

.(orusrP KUNCT

t 'Patotoglmerupakan ilmu atau studi mengenai , pehcegahah secaia logis beikdtan':dengan


:,...'.. p,enyakit,,Patologi juga meiupakan spesiatitas pengeiahuah ini.
. r:;., klihi$,p,ada.kedbkteranmanusia.,.''' r Konsep-konsep normal dan penyakit begitu
Dua pembagian yang luas mengenai patologi kompleks dan sampai pada taraf tertentu iidak
,,.::,,. :,adalah'
:,:p'ato ! b g i,, i 4' _4ti9 m' ( be dah,, s ito I o g i, i pasti dan dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya,
ndkropS,i)., dah, pa| o;!,a'g i,., (l i np;,(ki mia., p in is, sertafaktor-faktorbiologik']j:l]:::.]:..:;:.;....
.',,,.. miklobi lbgi Rfinis; hematologii bank,dailh;
,,,::, e; e nyArtit AiaBat didef i n i sJkan sebag a i kegagih iiil,
imunologi). organisme untuk beradaptasi atau mempgr.' ,',r

rr1,iai,r,, Pato'log i,, m enet<ap,g6 g .pa da,.:as pe k-a sp e k tahankan homeostasis; penyakit sebenarnya
penyakit yang dapat diukur seperti perubahan merupakan berbagai proses fisjologik,yang .'
..., StlUkttti bel-5bl; jarin$an;'dah organ-organ men galami penyimpangan.
(makroskopik dan mikroskopik) serta temuan- Benih-benih penyakit sering terdapat di antara
temuan laboratorium. mekanisme adaptif tubuh yang potensial untuk
tolitf.oi edalahstr,,1di- ngenai,iungsi-fungsi menimbulkan akibat yang baik atau buruk.
=r,, -
,,=:,::,y5h rnEri$elarni,,$en$$uan ataU tun$Si-fungsi Contoh: kombinasi gen dari reproduksi seksual
yang berubah akibat proses penyakit. menin$katkan vaiiabilitas genetik'dan kesintasan
.r i:..pat6fis iolog i m efu pa.kan,.,il m u,,yan g be rsitat sp6sie5tetapidapatjugamengakibatkanpbnya' l

f,yang mqng$ambalkan,kons6p-konsep kit genetik; mekaniSme respons imun melindungi


i1II9$.
=iiiiiiiiii:-r.riiliiHntllhanyax',[mi] Qa$bf,,dan"'klinis,-,teimasuk
.''r
tubuh dari invasiantigen asing ieiapidapat juga
i- nqto, ii fisiologi; bjokimia,:rbiolo.gi sef oan menimbulkan penyakit-penyakit imunologik
iitii;..,riiiri lsKHt$,].ge*e$ka imakolo$iidanqatologi; seperti alergi atau penyakit autoimun. Tubuh
I iiiiiii1.ii,i,
p, $io:-ffiircmeo5dari:ilmu,6iomedit,hinyans hanya mem*liki,mekanisme'.1eSpon'e'.detam'
ri :"*-ihl9,'|!$$Hain p,ada me;kanilii Eb€n akil atau jumlah yang terbatas, yang jika menyaiu dalam
,1rr1,
'11,'''..'.pp39$,.ititar?ift.'yaii$,,rnbhampa[Iiah tanda- nda berba$ai kombi nasi meh im bul kan suatu peayaff it
dan gejala-gejala. Pemahaman mengenai meka- ,pada pejamu. Oengan demikianj ikatuUeiapa
nisme penyakit penting untuk praKisi perawatan mekanisme respons dasar telah dimengerti,
:.:!:::-r :,::::kesdhht{h.karena.,irntdrpretaSi tanda{anda dah mala pemahaman mdngenai pe,nyakit,menjadi _,
,' :='. $
eja.l *-0'dje!@6 n$0 balan j VhhA,s e.g1 ai, d a n mudah' .1.1 ,.'.,.,.1' "-''..,t.,.' ,t,t
febin ,.'...illl iiii
j::i:.:
BAGIAN sATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM: MEKANISMEPENYAKIT

Li r:;i friologl.meru$akan stuo i m:On gehai peh ye bab- t TandA-tanda adalah manifestasi penyakit yang
pehyebab atau alasan-alasan mengenai suatu ,..' dapAt diob'iervasi (obj-ektif ), seperr;'nsing iiahin*si i ll
fenomena. Etiologi merupakan suatu lionsep yang hipertensi, demam, atau massa yang dapat diiaba.
kompleks karena sebagian besar penyakit adalah ,,iGej&|.geialadOatahp'erasaah,tubjelaif iiatrylaaOa
multifaktorial dan diakibatkan oleh inteiaksi faktor- sesuatu yang salah dan dapat dilaporkan hanya
faktor intrinsik atau genetik dan lingkungan. ,,.,,,,.o1e,!,, 1asien k'epa'da pengamat, Contoh,:i nlo
Mengetahui penyeniO merupakan trat yang gejala adalah nyeri, mual, vertigo, atau leiargi.
penting;tanpa pengetahuan mengenai penyebab, t Sekietemenunjukkan akibat atau pengaruh se-
pencegahan akan menjadi sulit. telah suatu penyakit atau cedera. Sekuele demam
t Patogenesrs menunjukkan rangkaian kejadian rematik akut dapat berupa parut atau kelainan
dafam perkembangan penyakit dari permulaan pada katup jantung.
yang paling awal, meliputi faktor-faktor yang a'
','
kdmi. i k4sfn'ihtF| ; ny ar<rr aoararr rgaq3fl h=tA
$.'i'
memengaruhi perkembangannya. tidak diduga atau penyikit sekunder yang terjad-i
I Hiwayat pe nyakit,, menunjUkkan,,,pe rjala'nan :pe: dalam perjalanan proses primei. Sebagai Contoh
nyakit tersebut yang biasa terjadi dari mulai awal adalah peiitonitis yang diakibatkan dari apendiks
hingga akhir tanpa pengobatan. Praktisi kesehatan yang mengalami ruptur atau peradangan.
l. ...'hariis familiar. dengan riwayat penyakit untuk ,,,'- Pbhyakit'dapat,diklasif ikasikan m,On-iut sistem
penilaian yang benar dan evaluasi pengobatan. :., orgar atau oleh kategori pegbeb.$i$tem:.s-iarem
r Lesi adalah perubahan struktural yang dapat di- klasifikasi ini tidak sepenuhnya komprehensif, dan
lihat di dalam jaringan yang dihasilkan oleh penya- penyakit-penyakit dapat termasuk iebih dari satu
, ,.'.'kit.yanO jdlas terlihat seoara makroskopik (dapat , kategor:lpaoa'sbat yang sama. . .l] iirl;;,5
dilihat dengan mata telanjang) atau mikroskopik.

9rnrnruYAAN
Sampel pertanyaan untuk bab ini terdapat di sini. Lihat hhtp://www.mosby.com/MERLIN/PriceWilson/untuk pertanyaan
tambahan.

Jawablah pertanyaan di bawah ini pada lembar yang terpisah.


1, Rumuskandefinisipatologidanpatofisiologi. .). Apa yang dimaksud dengan patogenesis penyakit?
2. Jelaskan pebedaan antara patologi anatomik dan patologi klinis. 4. Gambarkan faktor-faktor kompleks yang berkaitan dengan
Berikan paling sedikit tiga contoh tipe-tipe studi yang termasuk di konsep kenormalan.
dalam masrng-masing kategori ini. 5. Jelaskan mengapa penyakit bukan merupakan fenomena klasik.
'=='',, t,, '-' t"''..''.
....ili.ii,'ia'..i
.
g.RudgdG
Pe yqkit
.',.
:, :,1r:
::::!:::ri:i

:
lnteraksi H1 ifibd:itdE d-n Ui ngku ngtd

REBECCA HARMSEN DAN BETTY B. GALLUCCI


,.

ult otacruosttr,:0' ,'; ,' , ":"="I'rn lr|l

Pemeriksaan Penapisan Fenotipe, 30


Pengambilan Sampel SelJanin, 30
Analisis Cenetik Molekular, 31
RIruCrcRsaN TERAPI UNTU K CANcCUAN
':
CENETIK,33
P.enaialaksanaaii,Fehotipe ., 33
Modifikasi Makanan, 3i
Ti*p1*titt; 33'1,., .'.', ':..,,,.1 ,,. 'i ' .lil,i
Surveilans,33
'Beeeh,Pr6ii aktikl t ,,E,:
, rCtlp@il;a+''tl.l'-"'',,1.1=.,'.,..:, ....'ii.,., ii*:
, FA 6"**tt16,...J5, :
"'=.r.iir,ii,. ,, ,;
'1.,"'.,
i,n@re'eluoMruaNuslR,:s "

ab ini berisi ulasan singkat genetika molekular


dan pengantar genetika manusia, termasuk
pola pewarisan dalam kaitannya dengan
penyakit manusia. Faktor intrinsik dan ekstrirsik y*g
ikutberperan dalam penyakit genetik dikaji. Walaupun
dibahas tentang konsep umum penyakit genetik,
namun sebagian dari penyakit ini ditelaah secara lebih
mendaiam di bab-bab lain. Bab ini tidak dimaksudkan
untuk memberikan bahasan lengkap mengenai
l0 BAG rAN sAru PENDAHUTUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

genetika molekular. Pembaca yang ingin mengetahui busi masing-masing faktor bervariasi. Mungkin faktor
rincian tambahan mengenai setiap topik seyogyanya intrinsik yang paling signifikan adaldh susunan
membaca buku-buku teks tentang genetika molekular genetik masing-masing orang. "Gene pool" yang
dan genetika keperawatan. Bab ini menyajikan diterima saat konsepsi menimbulkan pengaruh yang
kerangka untuk memahami penyakit pada manusia, kuat pada pertumbuhan dan perkembangan manusia.
yang merupakan alat penting untuk membantu dokter Walaupun tidak semua penyakit bersifat genetikper
dalam mendiagnosis, mengobati, dan memberi se, namun pada tahap tertentu semua penyakit pada
penyuluhan kepada pasien dan keluarganya. manusia dipengaruhi oleh genom. Sebagai contoh,
seseorang mungkin mengidap sakit akibat suatu
infeksi yang ditularkan melalui udara (faktor eks-
trinsik) yang tampaknya bukan penyakit genetik.
FAKTOR EKSTRINSIK DAN INTRINSIK Namun, susunan genetik orang tersebut akan sangat
menentukan respons imun terhadap ancaman
mikroorganisme tersebut.
Berbagai faktor ikut berperan menimbulkan penyakit
pada manusia. Faktor-faktor ini terdapat di lingkungan
dan masing-masing individu. Hanya sedikit penyakit
yang semata-mata disebabkan oleh salah satu faktor lnteraksi Antara Faktor Ekstrinsik
di atas. Pemahaman atas karakteristik faktor-faktor ini dan lntrinsik
akan membantu kita dalam mengobati dan mencegah
penyakit pada manusia. Mengetahui definisi sejumlah istilah kunci yang ber-
kaitan dengan penyakit merupakanhal yang esensial.
Kongenital mengacu pada penyakit atau anomali yang
terdapat sejak lahir; penyakit herediter mengacu pada
Faktor Ekstrinsik
penyakit yahg secara genetis diwarisi dari salah satu
Faktor ekstrinsik atau eksternal adalah faktor yang orang tua; dan p eny aki t famili aI adalah penyakit yan g
terdapat diluar individu. Sebagai contoh; faktor-faktor mengenai anggota keluarga yang sama tanpa harus
seperti asap rokok, regimen diet, obat, dan pajanan ke bersifat herediter.
polutan diketahui ikut berperan dalam timbulnya Dengan pengecualian kecelakaan seperti kece-
penyakit. Seberapa besar seseorang memiliki kendali lakaan lalu lintas, sebagian besar penyakit manusia
atas faktor-faktor inibervariasi, berkisar dari kemung- disebabkan oleh interaksi antara faktor ekstrinsik dan
kinan kontrol total terhadap diet sampai kontrol mini- intrinsik. Interaksi ini membentuk suatu kelanjutan,
mal terhadap polutan yang terdapat di air. Selain itu, dengan sebagian penyakit terutama disebabkan oleh
seberapa besar masing-masing faktor berperan dalam faktor ekstrinsik dan demikian sebaliknya. Sebagai
pembentukan dan perkembangan penyakit juga contoh, walaupun kontribusi genetik terhadap kanker
bervariasi. Sebagai contoh, makan makanan rendah- paru masih belum jelas sampai saat ini, namun
lemak membantu mencegah penyakit jantung; tetapi merokok adalahsuatu prediktor dan faktor risiko yang
makanan saja bukan satu-satunya prediktor timbulrya sudah terbukti untuk proses penyakit ini. Sebaliknya,
penyakit, dan mengkonsumsi makanan rendah-lemak walaupun faktor ekstrinsik dapat mempengaruhi
saja tidak mencegah semua kasus penyakit jantung. keparahan trisomi 21 (sindrom Down), namun
|elaslatr, setiap orang akan berespons secara berbeda penyakit ini disebabkan oleh adanya sebuah kromo-
terhadap tipe diet ini, bergantung pada kontribusi som 21 ekstra. Kontribusi susunan genetik disebut
intrinsik masin g-masing. sebagai heretrfuilitqs penyakit. Memahami hubungan
dan kontribusi faktor-faktor ini memungkinkan kita
memberikan pengobatan yang sesuai dan merancang
strategi untuk mencegahnya. Namun, masih banyak
Faktor lntrinsik yang belum diketahui tentang kontribusi f aktor-f aktor
Faktor intrinsik atar intemal adalah faktor-faktor yang ini pada sebagian besar penyakit. Interaksi faktor-
terdapat di dalam masing-masing orang dan jarang faktor ini menggarisbawahi perlunya dokter memper-
berada di bawah kontrol orang yang bersangkutan. oleh riwayat kesehatan keluarga yang akurat dan
Faktor-faktor ini mencakup usia, jenis kelamin, dan lengkap, serta rincian yang akurat mengenai riwayat
tinggi badan. Serupa dengan faktor ekstrinsik, kontri- atau aktivitas sosial dan lingkungan.
Hereditos, Lingkungon, don Penyokil eae z II

PENGETAHUAN DASAR RNA


RNA serupa dengan DNA yaitu bahwa molekul ini
Manusia memiliki sekitar 30.000 sampai 70.000 gen.
terdiri dari sebuah gula, gugus fosfat, dan sebuah basa
Sebuah gen adalah unit dasar hereditas dan terdiri
nitrogenosa. Namun, RNA berbeda dari DNA yaitu
dari asam deoksiribonukleat (DNA). Dogma sentral
gugus gulanya terdiri dari ribosa bukan deoksiribosa.
genetika adalah bahwo DN A ditrsnskripsikan menjadi asam
RNA juga memilikibasa nitrogenosa urasil (U) sebagai
ribonukleat ( RN A), y ang kemudian ditranslasiknn menj adi
sebuah rantai asam nmino (proteln). DNA berfungsi se- pengganti timin. Tidak seperti DNA, RNA biasanya
bagai cetakan yang menuntun semua proses perkem- beruntai tunggal. Untai RNA disatukan dengan cara
bangan dan fisiologi manusia. Untuk memahami yang sama seperti DNA, melalui ikatan fosfodiester
genetika diperlukan pengetahuan dasar tentang tiga antara karbon-S' satu nukleotida dan karbon-3'
molekul: DNA, RNA, danprotein. nukleotida yang lain.

DNA Protein
DNA terdapat di inti sel semua sel dan terdiri dari
Protein terdiri dari asam-asam amino yang dihubung-
sebuah gula lima-karbon (deoksiribosa), sebuah gugus
kan oleh ikatan peptida. Gugus karboksil dari satu
fosfat, dan satu dari empat tipe basa nitrogenosa. Setiap
asam amino berikatan dengan gugus amino asam
r;nit disebut sebagai nukleotida. Basa-basa nitrogenosa
amino yang lain. Dengan demikian, protein memiliki
dikelompokkan menjadi dua kategori: pirimidin dan
sebuah terminal karboksil bebas (C-) dan sebuah ter-
purin. Pirimidin terdiri dari satu cincin karbon, dan
minal amino (N-). Protein yang terbentuk ditentukan
purin terdiri dari satu cincin karbon ganda. Sitosin (C)
oleh rangkaian,asam aminonya. Sifat struktural pro-
dan timin (T) adalah basa pirimidtn; ndenin (A) dan
tein sedikit banyak juga ditentukan oleh rangkaian
guanin (G) adalah basa purin.
asam aminonya. Struktur primer protein berupa
DNA tersusun menjadi suatu rantai yang disatu-
lembaran heliks-alfa dan heliks-beta. Struktur-struktur
kan oleh ikatan-ikatan fosfodiester. Ikatan ini me-
nyatukan karbon-S' di satu molekul DNA ke karbon- primer ini membentuk unit-unit fungsional yang iebih
besar dan kompleks dengan berikatan dengan protein
3'molekul DNA yang lain. Dengan demikian, pada
lain. Protein memiliki banyak fungsi, termasuk sebagai
sebuah rantai yang panjang, satu karbon-S' dan satu
karbon-3' selalu tidak terikat. Dengan menggunakan komponen struktural sel, enzim yang mengkatalisis
orientasi ini, DNA dibaca dengan arah 3'-ke-5' (Gbr. reaksi kimia, atau molekul pengatur yang mengubah
2-1). tempat transkripsi DNA.
Pada tahun 1953, ]ames Watson dan Frances Crick Agar berfungsi sebagai komponen dasar kehi-
menentukan bahwa struktur dasar DNA adalah suatu dupan, maka DNA harus disalin secara akurat dan
heliks ganda. Untai DNA tunggal sangat jarang ditransmisikan ke sel anak, dan informasi yang ter-
dijumpai pada manusia; dalam keadaan normal, DNA kandung dalam DNA harus diekspresikan.
adalah suatu unit beruntai ganda. Setiap rantai atau Proses yang akhimya menyebabkan translasi DNA
untai DNA memiliki sebuah untai komplementer yang menjadi protein merupakan proses yang rumit. DNA
melekat padanya. Untai-untai ini disatukan dalam dan RNA ditulis dalam bahasa yang sama: asam
arah berlawanan 5'-ke-3'. Selain itu, untai-untai ini nukleat. Dengan demikian, proses perpindahan dari
disatukan oleh ikatan hidrogen basa-basa nitrogenosa DNA ke RNA disebu t tr anskr ip si, seperti proses tulisan
komplementer mereka: adenin selalu berpasangan tangan menjadi tulisan ketik dengan bahasa yang
dengan timin, dan guanin selaluberpasangan dengan sama. Sedangkan perpindahan dari RNA ke protein
sitosin. Struktur untai ganda dipertahankan oleh serupa dengan perubahan dari satu bahasa ke bahasa
pembentukan pasangan antara pirimidin dan purin. lain; asam-asam nukleat dikode untuk atar ditrans-
Setiap untai mengandunginformasi yang sama karena lasiknn menjadi asam amino, /aitu komponen dasar
pembentukan pasangan yang ketat ini, tetapi salah protein. Bagian ini membahas karakteristik-karak-
satu untai memiliki informasi dalam bentuk teristik dasar pada replikasi, transkripsi, dan translasi
"antisense", serupa dengan negatif sebuah foto. DNA.
12 BAGIAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

Replikasi DNA ini terbentuk dalam arah 5'-ke-3', y angb er arti bahwa
nukleotida-nukleotida bebas ditambahkan ke ujung
Gagasan bahwa sebuah sel dapat membelah diri men- 3'untai yangsedang terbentuk. Karena genom manusia
jadi manusia yang berfungsi penuh dengan bahan panjang, maka replikasi dimulai secara simultan di
genetik yang sama di seluruh selnya menunjukkan ribuan tempat (Gbr. 2-2).
bahwa replikasi DNA dari sel induk ke sel anak ber- Ketatnya pembentukan pasangan basa memasti-
langsung secara akurat dan jitu. kanbahwa setiap nukleotida di masing-masing untai
Replikasi DNA berlangsung di nukleus sel. Pada hanya akan menarik basa komplementer yang tepat.
awalnya, enzim-enzim, y arrg memungkinkan setiap DNA polimerase ju ga memiliki peran mempertahan-
untai berfungsi sebagai cetakan untuk replikasi, harus kan tingkat akurasi replikasi DNA. Enzim ini, sedikit
memufuskan ikatan hidrogen yang menyatukan DNA banyak, "mengoreksi" untai baru. Apabila ditemukan
untai ganda. Enzim DNA polimerase berperan mem- nukleotida yang salah, maka nukleotida tersebut _
bentuk untai baru. Sewaktu enzim ini bergerak di dipotong dan diganti dengan nukleotida komple-
sepanjang untai cetakan dalam arah 3'-ke'51, te4adi menter yang benar. Kesalahan replikasi terjadi dengan
penambahan nukleotida-nukleotida komplementer ke laju kurang dari 1 per sejuta nukleotida, Kesalahan-
untai baru DNA yang sedang terbentuk. Untai baru kesalahan ini, walaupun jarang, menyebabkan mutasi

3'

Kerangka gula

5, {--

Gbr. 2-1 Asam nukleat. A. Deoksiribonukleotida. B. Ribonukleotida. G. Polimer deoksiribonukleotida yang disatukan oleh ikatan-ikatan
fosfodiester. D. Asam deoksiribonukleat (DNA) beruntai ganda yang disatukan oleh ikatan hidrogen antara pasangan-pasangan basa
komplementer.
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit sre z l3
pada untai DNA. Mutasi DNA adalah salah satu adenin berikatan dengan nukleotida RNA urasil. RNA
penyebab penyakit genetik. Mutasi dibahas secara primer juga diapit oleh nukleotida-nukleotida tam-
lebih rinci di bagian lain bab ini. bahan: sebuah molekul guanin di ujung 5' (guanine
cap) danbeberapa molekul adenin di ujung3'(poly-A
tail) transkrip primer. Penambahan-penambahan ini
Transkripsi berfungsi meningkatkan stabilitas transkrip primer
sewaktu berpindah ke sitoplasma. Poly-A taillkhimya
Dengan menggunakan satu untai DNA sebagai cetakan, mengalami degradasi.
DNA ditranskripsikan menjadi RNA untai tunggal. Transkrip awal (RNA heteronukleus) terbentuk di
Enzim-enzim yang dikenal sebagai RNA polimerase inti sel dan bukan merupakan bentuk akhir RNA. pro-
melaksanakan proses ini. Enzim-enzim ini berikatan tein terbentuk di sitoplasma sehingga RNA harus
dengan untai cetakan DNA di tempat promotor dan berpindah dari nukleus. Proses ini melibatkan banyak
terlepas di tempat terminstor. Walaupun kedua untai tahapan kunci, yang salah satunya dikenal sebagai
pada DNA untai-ganda dapat berfungsi sebagai splicLng (penyambungan). Pada sebagian besar gen
cetakan, namun hanya satu untai yang digunakan. struktural, tahapan ini melibatkan proses ekiisi
Enzim memisahkan atau menarik keluar satu bagian rentang-rentang (stretches) RNA yang dikenal sebagai
dari kompleks untai-ganda, sehingga salah satu untai in t r o n (p enghamb at ran gkaian) d an me ny atukan ekso n
DNA yang terpajan dapat berfungsi sebagai cetakan (rangkaian yang diekspresikan) yang tertinggal. RNA
untuk menghasilkan untai RNA. Enzim-enzim ber- messenger/ atau mRNA, adalah hasil dari peng-
gerak di sepanjang untai cetakan DNA dengan arah gabungan dan proses pengolahan lainnya. proses
3' -ke-S', yang menghasilkan transkripsi RNA primer penggabungan ini diatur secara ketat, sehingga pada
yang terbentuk dalam arah5'-ke-3' (Gbr.2-3). Seperti mRNA terakhir dapat ditemukan ekson-ekson yang
telah dinyatakan, pada RNA basa nitrogenosa timin berbeda dan dapat dibentuk produk protein yang
diganti dengan urasil, sehingga suatu nukleotida DNA berlainan dari gen yang sama (Gbr. 2-4). RNA matang

Untai baru

Arah enzim
CG C A
aaa lla
A
tif{

i'li'.lii
aaa aa la ::aa
GCGTT
)::

lA I

Gambar 2-2 DNA polimerase melakukan replikasi DNA.

T
CGCAAaa Uit ril€ $ iGii :l
oaa aaa tta
GCGTT
aa l*::
At'
lii, ta aaa
I: :r': utn
,*;;f,
cc l
AA .J\-UL-

:---:--_---->-
iwg,Effiffi Aran enztm

Gbr. 2-3 Asam ribonukleat (RNA) polimerase yang membentuk RNA dengan melakukan
transkripsi atas sebuah cetakan DNA.
14 BAG IAN SATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

kemudian dapat meninggalkan inti sel dan berpindah ikatan dengan DNA untuk memberi sinyal agar
ke sitoplasma. polimerase mulai melakukan transkripsi. Protein lain
juga dapat berikatan dengan penguat, yang meningkat-
kan ekspresi suatu gen. Sebaliknya, terikatnya tempat-
Translasi tempat lain yang dikenal sebagai peredam akan
menurunkan trarskripsi. Efek kombinasi penguat dan
Setelah berada di dalam sitoplasma, mRNA berfungsi peredam mengendalikan penentuanwaktu dan spe-
sebagai cetakanuntuk membentuk rantai asam amino' sifisitas ekspresi sebagian besar gen. Kelainan pengen-
Namun, mRNA tidak mampu berikatan secara dalian suatu gen dapat mempengaruhi organisme
langsung dengan asam-asam amino. Karena itu, sama parahnya seperti pengaruh gen abnormal.
translasi berlangsung di organel khusus yang disebut
ribosom. RNA ribosom (rRNA) dan protein membentuk
suatu kompleks dengan mRNA dan RNA transfer Gen dan Terminologi Genetik
(IRNA). IRNA mengambil satu asam amino spesifik
dan mengangkutnya ke ribosom. Sewaktu bergerak di Genom manusia terdiri dari 3 milyar nukleotida per
sepanjang mRNA, ribosom "membaca" transkrip sel. Gen adalah suatu unit transkripsional, suatu
dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari tiga basa bagian dari DNA yang akan ditranskripsikan untuk
nukleotida. Rangkaian tiga-basa ini disebut kodon' menghasilkan RNA. Sebagian besar transkrip RNA
Rangkaian tiga-basa di mRNA dan IRNA berikatan ditranslasikan menjadi protein. Gen-gen yang akhir-
secara komplementer. Sewaktu rangkaian dibaca, nya ditranslasikan menjadi protein disebut gen
asam-asam amino di ujung IRNA saling dikaitkan fungsional.
untuk membentuk rantai asam amino yang semakin Untuk memahami genetika klinik, pembacaharus
panjang. Rantai ini dibebaskan dari ribosom dikodon terbiasa dengan beberapa istilah kunci. lstilah lokus
berhenti.Korespondensi sebuah kodon dengan sebuah mengacu kepada lokasi sebuah gen di kromosom.
asam amino spesifik dikenal sebagai kode genetik. Untuk semua orang, sebuah gen dalam keadaan
Terdapat dua puluh asam amino yang berbeda, normal ditemukan di lokus yang sama dari suatu
dengan 64 kemungkinan kombinasi nukleotida (4 x 4 kromosom. Namun, apabila gen-gen dari berbagai
x 4). Jelaslah, lebih dari satu kodon dapat mengkode orangdiperbandingkan, maka salinan dari gen tertentu
suatu asam amino tertentu. Sebagai contoh GCC dan kemungkinan besar memiliki rangkaian nukleotida
GCU mengkode untuk asam amino alanin. Kode yang sedikit berbeda. Rangkaian-rangkaian yang
genetik memperlihatkan sif at berlebihan, memperkecil berbeda ini disebut alel. Polimorfisme didefinisikan
kemungkinan bahwa perubahan atau substitusi sebagai suatu alel bersama yang terdapat pada lok
sebuah asam amino akan menyebabkan defisit atau lebih populasi. Apabila seseorang memiliki alel
fungsional. Terdapat tiga kodon yang tidak mengkode yang sama pada sepasang kromosom, maka ia dikata-
asam amino tetapi dianggap sebagai kodon berhenti: kanhomozigof, dan seseorang yang alelnya berbeda di
UAA, UGA, dan UAG. AUG, yang mengkode asam masing-masing kromosom disebut he terozigot.
amino metionin, juga berfungsi sebagai kodon mulsL Genotipe adalah representasi alel yang sebenarnya
Protein yang terbentuk ditentukan oleh urutan asam- bagi seseorang, baik di lokus tertentu maupun genom
asam amino. keseluruhan . Fenotipemengacu kepada ciri khas yang
sebenarnya diamati sebagai hasil suatu genotipe.
Sebagai contoh, seorang pasien memiliki dua varian
alelik di lokus tertentu di kromosom tertentu: alel"B"
Pengendalian
di salah satu pasangan kromosom dan alel "b" di
Mengendalikan gen-gen mana yang diekspresikan di pasangan yang lain. Genotipe orang ini untuk lokus
setiap sel pada waktu tertentu merupakan hal penting tertentu tersebut adalah Bb. Ia adalah heterozigot untuk
bagi suatu organisme. Pengendalian ini menentukan lokus tersebut. Misalnya "B" rr.ertyebabkan mata
gen-gen mana yang diekspresikan di sebuah sel dan berwama coklat dan "b"menyebabkan mata berwama
gen-gen mana yang diinaktifkan. Sebagai contoh, sel biru dan bahwa "8" adalalt alel dominan, maka ia
otot harus memproduksi protein aktin dan tidak meng- akan secara fenotipis mengekspresikan sifat fisik mata
hasilkan hemoglobin. Pengendalian dapat mempe- coklat yang dominan, walaupun genotipenya
ngaruhi setiap bagian dari proses ini, dari awal mengandung satu alel mata biru ("b"). Contoh ini
transkripsi sampai modifikasi pascatranslasi. Faktor- menggarnbarkan kenyataan bahwa genotipe tidak
faktor transkripsi adalah protein-protein yang ber- selalu berkorespondensi dengan fenotipe.
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit ene z t5

Kromosom Setiap kromosom dalam pasangan memiliki gen-gen


yang sama. Selain itu, sel manusia mengandung dua
Struktur dan Karakteristik kromosom seks. Perempuan memiliki dua kromosom
X, dengan masing-masing kromosom mengandung
DNA untai-ganda, atau heliks-ganda, membentuk apa gen yang sama. Di pihak lain, laki-laki memiliki satu
yang dikenal sebagai kromosom (chro ma = warna; soma kromosom X dan satu Y.sehingga gen-gen di
= badan). Namun, strukfur suatu kromosom lebih dari kromosom-kromosom seks ini berbeda. Dalam
sekedar heliks-ganda. Apabila diregangkan, DNA tatanama kromosom, haploid menunjukkan sel yang
dalam sebuah sel akan memiliki panjang hampir 2 memiliki satu salinan dari masing-masing kromosom;
meter, Untuk mengemas DNA ke dalam nukleus, DNA diploid menunjukkan dua salinan dari satu kromosom
membentuk kumparan mengelilingi protein-protein dalam sebuah sel. Sel somatik normal adalah sel dip-
yang dikenal sebagai histon untuk membentuk nukleo- loid (2N = 46 kromosom).
som. Kromatin adalah istilah yang digunakan untuk Pada sel yang sedang membelah, setiap kromosom
menjelaskan kombinasi asam nukleat dan protein terdiri dari dua kromatid (satuan DNA yang identik).
terkait seperti yang terlihat dengan mikroskop cahaya. Kromatid-kromatid ini menyatu di sentromer (Gbr.2-
Kromosom tampak sebagai struktur-struktur 5). Sentromer adalah struktur penting dalam pemi-
diskret hanya pada sel yang sedang membelah se- sahan kromatin selama pembelahan sel. Sebagai
wakfu kromosom berkondensasi. Struktur diskret ini contoh, trisomi 21 (sindrom Dovrn) sering terjadi akibat
sering dianggap sebagai kromosom. Secara klinis, tidak terpisahnya kromosom 21; yaitu, sewaktu sel
kromosom-kromosom ini digunakan untuk meng- membelah, kromatin gagal memisah secara benar, yang
identifikasi jumlah dan jenis kromosom dalam analisis menyebabkan adanya kromosom 21 tambahan.
genetik. Sentromer juga merupakan lokasi di dalam kromosom
Kecuat gamef (sperma dan or.rrm), setiap sel somatik yang memisahkan dua lengan: lengan pendek (p) datt
(sel nongamet) manusia yang normal mengandung lenganpanjang (q).
total46 kromosom. Empat puluh empat dari kromosom- Dengan derhikian, DNA memiliki banyak tingkat
kromosom ini dikenal s ebagai auto som, y ang tersusun organisasi. Pada tingkat yang paling sederhana, DNA
menjadi pasangan-pasangan homolog. Setiap sel adalah sebuah rantai linear tunggal nukleotida-
memiliki dua salinan kromosom 1 dan seterusnya. nukleotida. Sebagian besar defek gen sekarang dike-

Penggabungan

mRNA no. 1 Ekson 1 M Ekson 2 *W Ekson 3


M ,.il#ffiffisq{sq}krxs

mRNA no. 2 Ekson 1 WA= Ekson 2 ltjrl

mRNA no. 3 Ekson 1

Gbr. 2-4 Dalam konversi mRNA heteronukleus menjadi mRNA, penggabungan


akan mengeluarkan intron-intron (lihat teks).
16 BAG IAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENVAKIT

tahui disebabkan oleh perubahan-perubahan diskret demikian, kromosom 1 adalah yang terbesar, dan
dalam urutan spesifik nukleotida. Pada tingkat berikut- kromosom 22 adalah y ang terkecil. Setiap kromosom
nya, DNA adalah molekul untai-ganda linier yang ter- dibedakan berdasarkan ukuran dan pola spesifik
diri dari basa-basa komplementer, yang secara spasial pembentukan pitanya saat diwarnai. Cara ini me-
membentuk suatu untai-ganda. Pada tingkat yang mungkinkan kita mengamati kromosom pada metafase
lebih tinggi, DNA berikatan dengan protein untuk untuk menentukan apakah ada kromosom yang
membentuk kromatin. Gangguan kromosom (misalnya, hilang atau sebaliknya berjumlah berlebihan. Kariotipe
sindrom Down) sering didiagnosis berdasarkan per- juga dapat dinyatakan sebagai suatu ekspresi tertulis.
ubahan dalam jumlah kasar kromosom atau adanya Sebagai contoh, perempuan normal akan memiliki
pemutusan drn penyusunan ulang kromosom- kariotipe 46,XX, yang menunjukkan bahwa ia memiliki
kromosom. total 46 kromosom, dan dua X sebagai kromosom
Kariotipe adalah set lengkap kromosom di dalam seksnya. Demikian juga, kariotipe seorang laki-laki -
sebuah sel somatik. Jaringan hidup (misalnya, darah) normal dinyatakan sebag ai 46,K{ . Kemampuan meng-
diberi suatu pewarrra untuk memperlihatkan kromo- interpretasikan ekspresi tertulis ini sangat berguna
som selama sel membelah (metafase). Pasangan- untuk kepentingan klinis, karena banyak penyakit
pasangan kromosom diurutkan berdasarkan tinggi, genetik terjadi akibat perubahan jumlah kromosom.
dari yang terbesar hingga terkecil (Gbr. 2-6). Dengan Dalam contoh trisomi yang digambarkan sebelumnya,
orang yang mengidap penyakii ini akan memiliki
kariotipe 47,XX+21,, yang menunjukkan bahwa ia
Sentromer adalahperempuan dan memiliki 47 kromosom akibat
penambahan sebuah kromosom 21.

Pembelahan Sel
Sel mengalanii dua jenis pembelahan: mitosis danmeio-
sls. Sebelum sel membelah, bahan genetik di dalam sel
mengalami duplikasi sehingga setiap sel mengandung
dua salinan identik masing-masing kromosom, yang
disebut seba gai sister chromstids.
Semua sel somatik mengalami pembelahan mitotik.
Pada mitosis, dua set sister chromatids memisah ke sel
anak yang mengandung informasi genetik yang identik
dengan sel induk; yaitu, kromatid terdistribusi secara
Gbr. 2-5 Struktur kromosom merata di antara sel-sel anak.

lr(
1
JIfr fiT
34
IIfr r{}
56
l{( t( ll( fir
1
rlff
456
il) ltfi
A78
)tfi llI
I
ltr ilt\
[rr '11
fi ll
10 12
)rfi
7
ffi lilr lil
8 10
[t
11
t( tf
12 B

[[13 [l' ll[15 trir it[17 rr


14 16 18
Il
13
tr Ill
14
[[ ilir rr
15 16 17
Itt
'18

xfi
19
x l(
20
r)t
21
xl(
22
lh
XY
Xt(
19
XX A^6
20 21
Ah
22 lf
XX
lt
Gbr, 2-€ A. Contoh kariotipe laki-laki normal yang diperlihatkan d_alam format standar, B. Kariotipe seorang perempuan dengan sindrom
Down. Di posisi yang secara konvensional diberi nomor 21 , terdapattiga kromosom dari yang seharusnya dua (trisomi 21).
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit ere z 17

Sel germinativum (sperma dan ovum) mengalami masing-masing kromosom terpisah, dan kgdua sel
meiosis. Saat konsepsi, DNA sperma dan ovum anak menerima informasi genetik yang sama. Dengan
berkombinasi untuk membentuk satu sel. Apabila tidak demikian, sperma dan ovum masing-masing memiliki
terjadi meiosis, maka masing-masing sel ini akan 23 kromosom dan menyatu untuk menghasilkan 46
memiliki 46 kromosom, dan zigot akan memiliki 92 kromosom (Gbr.2-7).
kromosom! Meiosis adalah proses yang menyebabkan Salah satu unsur kunci pada meiosis adalah tukar-
DNA di sel-sel germinativum ini berkurang menjadi silang. Selama fase pertama meiosis, kromosom-
separuhnya, menghasilkan sel-sel anak yang masing- kromosom homolog berjajar dan saling bertukar
masing memiliki 23 kromosom. Meiosis berlangsung informasi genetik. Sebagai contoh, kromosom 4 ibu
dalam dua fase. Fase pertama menyebabkansetiap sel menerima sebagian gen dari kromosom 4 ayah dan
anak memiliki salah satu dari masing-masing set sebaliknya. Proses ini menghasilkan kromosom yang
kromosom (dua kromatid) dari sel induk. Fase ini memiliki informasi genetik asli dan "baru,,, yanf
disebut fase pembelahsn reduksi. Fase kedua disebut kemudian diwariskan ke semua sel anak. Mekanisme
pembelahan penyamaan karena sister chromatids dari ini sangat meningkatkan keberagaman genetik pada

t\ t\
/ \ / \ / \ / \

Gbr. 2-7Pemisahan kromosom dan kromatid


sewaktu meiosis. A. Pemisahan sederhana
kromosom menjadi sel-sel anak. B. Pemisahan dan
ffi ffi ffi ffi ffi ffi ffi ffi
rekombinasi meiotik. A B
I8 BAGIAN SATU PEN DAHULUAN PATOLOGI U M UM : ME KANISME PENYAKIT

;.l;lMgtCsi FasCngiin*Ba$a,Tung gbl

Frtnllqhir, nNA,4sli'; 5' AUq AAA GUG UAG a 3',,-::::::::,., .:: ll:;iilll
: :::::::::.:::
: r :::::,:: i:r',,:::': i : ':::::.:=:::
,=m9!
pt*
'li,;ece: lta-= val i stot ::i I
.: :',:=li
"' ':::::::::::ll:l :i:r

,:NFaif$'n*.u*in:
.uua*i fi?l*9ffiiii'.,i .51 . nue
.
:ti.
l;::':GPA
'
UAA GUG
.qAf'
_*_ili,iu_
. :::::::'i::r ::: ;iiii:rlllll

.. Rryase:1'.. I

1;:Pet'
: ' P,r0ii:: stoip,
lllo :,.: .iil ,i
Mutasi missense: ':
,:5:,t- i AUG. :,1:,t,,:GCA AAA GUG yo* rr

li lilr i,j:,: : : :l :
ilr','r ::::l::::: t, :::;']:!tl!li iiliii
.::., HAntAiAsemaminA : ,.met:i- .. ala tr;.,ii Val: atop ::::::.': :::r::::11
lii
il iti':.:. lti : .;j:.
:,tr:,il
M uta:il
i,:::::::::-,.

S 6li,ift=:"
,AuG,
.:"i:,c€C AAA .AGU
:j..,,,r
quA G=3-,-:
':ir:
i,i.
r lllti.
I
:,::::-:=, ':
,,,,,-
Ranuiasamamino i.:met,: ,,, ala': ly,st,'rl 96f ,:: val + G t4rnl.ahAh::::r

keturunan. Sebagai contoh, dengan pengecualian kromosom juga dapat mempertukarkan sebagian
kembar, anggota satu keluarga memiliki ciri khas fisik bahan genetik dengan kromosom lain yang bukan
yang berbeda. Tukar silang adalah salah satu cara pasangannya (nonhomolog). Pertukaran ini disebut
untuk meningkatkan keberagaman dalam sifat sebagai trqnsloknsi. Salah satu contoh translokasi yang
manusia. umum adalah translokasi antara kromosom 9 dan22,
yang dikenal sebagai kromosom Philadelphia (Ph1),
yaitu sebagian dari kromosom 9 berpindah ke
kromosom 22, demikian sebaliknya. Kromosom yang
Variasi Genetik mengalami translokasi ini berkaitan dengan leukemia.
Terdapat variasi genetik yang cukup besar. Ketidak- Sekitar 70% sampai 90% pen-gidap leukemia mielo-
miripan ini mudah terlihat hanya dengan mengamati genosa kronik (LMK) memperlihatkan translokasi ini.
orang-orang dan melihat ciri fisik yang beragam dan Informasi genetik dapat ditambahkan ke sebuah
khas. Dengan pengecualian kembar identik, tidak ada kromosom (insersi), dieksisi dari sebuah kromosom
(delesi), dan disusun ulang (inaersl). Sebuah gen juga
dua manusia yang benar-benar sama; yaitu, tidak ada
dua manusia yang sama-sama memiliki genom dapat mengalami mutasi. Nukleotida lain dapat
identik. Variasi genetik ini dapat menghasilkan sifat menggantikan sebuah pasangan basa. Makna suatu
yang tidak membahayakan, misalnya variasi wama mutasi terutama ditentukan oleh efeknya pada produk
rambut, atau menyebabkan kerugian, misalnya protein yang dihasilkan. Sebagai contoh, lihatlah
penyakit. Variasi adalahhasil dari perubahan di DNA, transkrip mRNA (Kotak 2-1):
suatu fenomena yang dikenal sebagai mutasi. Mutasi 5'* AUG CCA AAA GUG UAG - 3'
jarang dijumpai dan terjadi pada kurang dari \"h
populasi. Mutasi umumnya mengubah ekspresi suatu Rangkaian asam amino yang terbentuk dari
gen. transkrip mRNA asli adalah metionin-prolin-lisin-
Diperkirakan bahwa sebuah mutasi terjadi dengan valin-STOP. Substitusi sebuah pasangan basa dapat
kecepatan satu per sel per pembelahan sel. Baik sel menyebabkan mutctsi nonsensei kodon berhenti yang
somatik maupun sel germinativum dapat terkena. muncul prematur atau hilangnya kodon berhenti. Pada
Mutasi dapat mengenai genom keseluruhan, sebuah contohini, rangkaian asam amino terhenti terlalu dini
kromosom tertentu, atau sebuah gen. Trisomi 2L adalah dan protein menjadi lebih pendek. Substitusi satu
salah satu contoh yang mengenai genom keseluruhan' pasanganbasa juga dapat mengubah satu asam amino
Akibat kromosom 21, yang tidak membelah saat menjadi asam amino lain. Mutasi missense mengacu
pembelahan sel, hampir semua sel tubuh memiliki kepada mutasi yang mengubah rangkaian asam amino
tambahan kromosom 21(47 kromosom di setiap sel). semula. Istilah mutasi titik rrrengacu kepada semua
Sel yang tidak memiliki kelipatan 23 kromosom substitusi satu pasangan basa ini. Makna mutasi
memperliha tkan aneupl old L Monos omi (tidak adanya semacam ini bergantung pada bagaimana protein yang
sebuah kromosom) dan trisomi (penambahan sebuah terbentuk terpengaruh. Perubahan urutan asam amino
kromosom) adalah suatu keadaan aneuploidi. Sebuah tanpa menimbulkan efek yang bermakna dapat terjadi
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit ere z l9

apabila asam amj,no yangbersangkutan tidak penting Secara klinis, prinsip-prinsip ini mengisyaratkan
dalam menentukan bentuk atau fungsi protein. bahwa setiap orang tua mewariskan salah satu dari
Apabila terjadi penambahan atau pengurangan setiap pasangan kromosom kepada keturunan mereka,
sebuah nukleotida, maka terjadi pergeseran kodon- dan kromosom mana yang diterima oleh anak-anak
kodon. Seperti tampak di Kotak 2-1, terjadimutasiframe- mereka bersifat acak dan independen. Pemisahan acak
shift selap kali te4adi insersi (penambahan) atau delesi gen-gen ini dapat diperkirakan dan dinyatakan sebagai
(pengurangan) yangbukan kelipatan tiga. Pada contoh probabilitas serta dapat dipahami secara visual
di Kotak 2-1, sebuah nukleotida G ditambahkan ke dengan menggunakan bagan Punnett (Gbr. 2-8).
untai asli di posisi nukleotida ke-4. Rangkaian asam Apabila asumsinya adalah bahwa sebuah gen memiliki
amino berbeda dari rangkaian asli, seolah-olah pem- dua alel yangberbeda, A dana, dan apabila individu
bacaan naskah bergeser satu atau dua nukleotida. bersifat homozigot untuk A (AA), maka semua gamet
Mutasi frameshift selalubermakna secara klinis karena individu tersebut akan menerima alelA ini. Individu
menghasilkan protein yang sama sekali berbeda. lain yang homozigot untuk alel a (aa) akan hanya meng-
Terdapat banyak jenis mutasi. Sebagian contoh hasilkan gamet yang memiliki alel a. Apabila kedua
mencakup duplikasi gen keseluruhan dan pening- individu ini kawin, dengan masing-masing memberi
katan jumlah pengulangannukleotida di dalam gen. satu alel unLuk gen tertentu ini, maka semua ketumnan
Mutasi terjadi melalui sejumlah mekanisme, dari mereka akanheterozigot (Aa) untuk gen ini. Pada ke-
kesalahan replikasi DNA yang tidak dikoreksi sampai adaan yang lain, saat dua individu heterozigot untuk
pengaruh eksogen (ekstemal) misalnya merokok, sinar gen yang sama (Aa) kawin, maka dengan melihat
ultraviolet, atau infeksi virus. bagan Punnett kedua individu tersebut dapat memberi-
kan alel A dan a. Gbr.2-8, C memperlihatkan bagan
Punnett untuk perkawinan tipe ini. Pada contoh ini,
Konsep Mendelian seperempat keturunan akan homozigot untuk alel ,4
(AA), seperempat yang lain akan homozigot untuk alel
Gregor Mendel (1822-7884) disebut sebagai bapak n (aa), danseparuh keturunan akan heterozigot (Aa).
genetika. Walaupun ia melakukan eksperimen dengan Dengan demikian, probabilitas bahwa perkawinan
menggunakan kacang polong, banyak prinsip yang ia heterozigot akan menghasilkan keturunan heterozigot
amati juga berlaku pada gen-gen manusia: adalah dua dari empat, atau 50%.
L. Prinsip Pemisahan. Organisme yang mampu mela- Bagan Punnett juga dapat digunakan untuk mem-
kukan reproduksi memiliki sepasang kromosom, perkirakan probabilitas pemisahan untuk gen-gen
yaitu dua untuk setiap gen, satu dari ayah dan satu yang terletak di kromosom X. Dengan mengingat
dari ibu. Selama reproduksi, hanya salah satu dari bahwa perempuan memiliki dua kromosom X (XX),
dua gen tersebut diwariskan ke keturunannya. sedangkan laki-laki hanya satu (XY), maka selama
2. Prinsip Independent Assortment. Gen-gen di dua pembelahan sel kromosom Y bertindak sebagai kro-
lokus yang berbeda terdistribusikan ke anak-anak mosom homolog bagi X. Apabila sebuah gen di kromo-
mereka tanpa berganfung satu sama lain. som X memiliki dua alel, B dan b, rnaka perempuan

Gamet orang tua no.1 Gamet orang tua no.1 Gamet orang tua no.1
.AA
4
Aa
c! c! ol
o
c
.= o o
c C
(U
Ad o 6
f :::ia f, f
o)
c 1fffia (t)
co o)
c
g g
o o
(l)
Aa Aa o o
E
(5
E E
(u (g
(t i (, o
A

Gbr. 2-8 Contoh bagan Punnett. A. Orang tua yang homozigot untuk alel yang berbeda (AA dan aa) akan menghasilkan keturunan
heterozigot (Aa).8. Orang tua heterozigot (Aa) dan homozigot (aa) akan menghasilkan separuh keturunan homozigot (aa) dan separuh
heterozigot (Aa). C. Orang tua yang dua-duanya heterozigot (Aa) akan menghasilkan separuh keturunan homozigot (AAalau aa) dan
separuh heterozigot (Aa).
20 BAGIAN sATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM:MEKANISMEPENYAKIT

dapat bersifat homozigot atau heterozigot untuk alel


ini, sedangkan laki-laki akanhemizigof (memiliki satu
salinan gen) karena ia hanya memiliki satu kromosom
X. Apabila seorang perempuan yangheterozigot untuk .'T,ool**l"lsil'lFh,., E *.,i: = :=
==,,"-
..i,p.:rii;*pua": i, ii,
gen ini (XBXb) kawin dengan seorang laki-laki yang -Grii-lati
memiliki satu salinan gen resesif (XbY), maka perem- ,'|:;=.pdld pil y 'reik;ha - =G51iiii1atgr,f
puan tersebut dapat menyumbangkan alel B atau b " l
kepada masing-masing anaknya. Pihak laki-laki O =Jeni. kelamintidakdiketahui
hanya dapat menyumbangkan alel b apabila ia me-
wariskan kromosom X, atau ia dapat menyumbang-
kan kromosom Y. Anak perempuan dapat bersifat
homozigot untuk gen b (XbX) atau heterozigot (XBXb).
Anak laki-laki dapat menerima alel B atau b dari ibu
mereka dan akan memiliki XBY atau XbY. Karena hemi-
zigositas ini, maka fenotipe laki-laki akan ber-
korespondensi dengan genotipe kromosom X-nya.
Karena itu,laki-laki lebih sering terkena oleh penyakit- Kewaspadaan pada Pewarisan
penyakit genetik yang terkait-X. Mendelian
Seperti digambarkan di bagan Punnett, varian- Walaupun konsep pewarisan Mendelian menjelaskan
varian alelik secara fenotipis dapat bersifat dominan
berbagai penyakit pada manusia, namun selalu terjadi
terhadap yang lain. Alel yang diekspresikan apabila
pengecualian-pengecualian terhadap aturan tersebut.
ada di genotipe, walaupun hanya terdapat dalam satu
Pewarisan tidak selalu mudah dipahami. Istilah
salinan, dian ggap seba gai alel d ominan dan umumnya
penetransi mengacu kepada proporsi orang dengan
dinyatakan dengan huruf besar. Sebagian besar alel
genotipe penyakit tertentu yang benar-benar meng-
dominan biasanya mengkode atau memiliki sifat
ekspresikan fenobipe penyakit. Penyakit genetik sering
positif. Sifat juga dapat memperlihatkan kodominansi,
memperlihatkan penurunan penetransi; individu tidak
seperti pada kasus golongan darah ABO, dengan alel
A maupunB diekspresikan dalam fenotipe. Alelresesif, mengekspresikan fenotipe yang diperkirakan ber-
di pihak lain, tidak diekspresikan apabila terdapat alel dasarkan genotipenya. Yang penting, walaupun
dominan. Individu yang heterozigot untuk sifat-sifat seseorang mungkin memperlihatkan penurunan
resesif disebut carrier (pembawa sifat) karena mereka penetransi untuk suatu penyakit, namun ia tetap dapat
membawa mutasi tanpa mengekspresikannya. Agar mewariskan alel penyakit kepada keturunannya.
mutasi dapat diekspresikan, maka harus terdapat Penyakit genetik juga dapat memperlih atkan aarinsi
kedua salinan alel resesif tersebut. Huruf kecil umum- ekspresiaitns, dengan penetransi suatu penyakit genetik
nya menyatakan alel resesif. Pada contoh sebelumnya, mungkin lengkap tetapi ekspresi klinis penyakitber-
individu dengan genotipe AA jelas akan mengeks- variasi keparahannya dari satu individu ke individu
presikan fenotipe dominan. Individu heterozigot (Aa) lain. Fibrosis kistik memperlihatkan ekspresivitas yang
juga mengekspresikan fenotipe dominan karena bervariasi. Cejala-gejala pada pasien berkisar dari
adanya satu alel dominan. Hanya individu dengan ringan sampai parah, walaupun semua pasien memi-
genotipe aa yang mengekspresikan sifat resesif (aa). liki suatu defek di gen yangbersangkutan (Gbr.2-9).
Prinsip ini berlaku baik pada sifat fuik manusia mau- Lingkungan mungkin berperan penting dalam variasi
pun penyakit. Sebelum mengkaji karakteristik penyakit ekspresivitas. Selain itu, penyakit genetik mungkin
autosom dan penyakit terkait-X, pembaca seyogyanya juga memperlihatkan usia nwitsn yang tertunda.
terbiasa dengan pemakaian dan arti suatu silsilah. Sebagian penyakit genetik biasanya memiliki awitan
Silsilah adalah alat visual untuk meneliti hubungan pada masa dewasa (misal penyakit Huntington).
suatu penyakit atau sifat di antara anggota keluarga.
Alat yang sering digunakan ini adalah representasi
visual riwayat medis keluarga dan mencerminkan
fenotipe anggota-anggota keluarga. Notasi-notasi
PENYAKIT GENETIK
dasar dalam silsilah terdapat di Kotak 2-2. Peng-
amatan terhadap silsilah adalah kunci r,rntuk menentu- Penyakit Gen Tunggal
kanbagaimana suatu sifat atau penyakit diwariskan.
Bagi perawat, terbiasa menulis dan membaca silsilah Saat ini, diketahui terdapat lebih dari 3000 penyakit
merupakan hal yang bermanfaat secara klinis. gen tunggal yang berbeda-beda. Semua jaringan dan
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit eae 21

H
t/\
v ) tv l'-r-:
:
- B
f-.,

[-lurc-utt Q P"'"*puun f O O Rentangfenotip

Gbr. 2-9 Silsilah khas untuk suatu alel dominan yang penetransinya berkurang {Laki-lakiFl (A} dan
suatu alel dominan dengan ekspresivitas yang bervariasi (B).

sistem organ dapat terkena oleh penyakit gen tunggal menerima dua genotipe: Dd atatt dd. Masing-masing
dan penyakit ini dijumpai pada sekitar 1"/" darikela- genotip memiliki kemungkinan yang sama untuk
hiran hidup. Karena itu, para penyedia layanan kese, muncul; dengan demikian, sifat dominan autosomal
hatan di segala bidang spesialisasi akan menemukan memiliki probabilitas rekurensi 50%. Penvakrt-
penyakit-penyakit gen tunggal, sehingga kita perlu penyakit dominan autosomal sering memiliki awitan
memahami berbagai konsep dan prinsip pada penyakit pada saat dewasa; penyakit vang sudah tampak sejak
ini. Kotak 2-3 berisi daftar beberapa penyakit gen dini sering disebabkan oleh mutasi baru.
Lunggal, yang sebagian di antaranya dijelaskan di
bagian ini. Penjelasan singkat mengenai pilihan
pengobatan bagi penyakit genetik disajikan di bagian ---_-
lain bab ini. KgfAK 2-3 ,:

Contoh Penfakit Gen Tunggal


Penyakit Dominan Autosomal
DOMINAN AUTOSOMAL
Penyakit dominan autosomal diekspresikan baik oleh Akondroplasia
Hiperkolesterolemia familial
heterozigot maupun hornozigot. Orang yang horno-
Sferositosis herediter
zigot untuk alel yang bermutasi umumnya memper- Penyakit Huntington
lihatkan fenotipe yang lebih ekskim. Penyakit dominan Sindrorn Marfan
autosomal umumya memiliki ekspresivitas yang ber- Neurofibromatosis tipe I
Osteogenesis imperfekta
variasi dalam keparahan fenotipe. Kotak 2-Amencan-
Penyakit ginjal polikistik dewasa
tumkan ciri khas yang berkaitan dengan pewarisan Penyakit von Willebrand
dorninan autosomal.
BESESIF AUTOSOMAL
Laki-laki dan perernpuan sama-sama mampu Albinisme
memiliki dan mewariskan suatu alel dominan autoso- Buta warna
mal. Tidak ada generasi yang terlewatkan) yalttr, Fibrosis kistik
apabila seseorang memiliki suatu sifat dominan auto- Galaktmemia
Penyakit penimbunan glikogen
somal, maka salah satu orang tuanya juga harus rne- Mukopolisakaridosis
miliki sifat tersebut, kecuali apabila terjadi penurul;rn Fenilketonuria (PKU)
penetransi. Transrnisi vertikal juga jelas, dari orang Anemia sel sabit
tua kepada anak. Karakteristik umum lain yang juga Penyakit Tay-Sachs

penting pada pewarisan dorninan autosornal adalah TERKA'T-X


bahwa semu a keturunan dari p asien dengan penyakit Distrofi otot Duchenne
Hemolilia A dan B
dorninan autosomal akan memiliki probabilitas 50% Defisjensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase
terjangkit penyakit yang sama (Gbr, 2-10). Sebagai H ipogamaglobulinemia Bnrton
contoh, suah-r gen merniliki dua alel, D dan d, dengan
TERKA'T-Y
d adalah alel normal dan D adalah alel yang telah Disgenesis gonad, tipe XY
berrnutasi dan menentukan sifat suatu penyakit. Dua
MTTOKONDRIA
individu kawin, masing-rnasing dengan genotipe Dd Neuropati optik herediter Leber
dan dd. Dengan menggunakan bagan Punnett, Sindrom Kearns-Sayre
keturunan mereka akan rnemiliki kernungkinan
22 BAGIAH sATu PENDAHULUANPATOLOGIUMUM:MEKANISMEPENYAKIT

Diperkirakan bahwa sekitar 1 dari setiap 200 orang langsing dan panjang, skoliosis, pektus karinatum
mengidap penyakit dominan autosomal, walaupun ("pigeon chest"), dan jari tangan yang panjang dan
masing-masing penyakit itu sendiri relatif jarang kurus. Periosteum adalah jaringan ikat fibrosa yang
dalam populasi umum. menutupi tulang. Pada pasien-pasien ini, periosteum
Neurofibromntosis 1 (NF1) mengenai sekitar 1 dari lebih elastis daripada seharusnya sehingga pertum-
3000 sampai 1 dari 5000 orang dan merupakan salah buhan tulang meningkat. Pada mata, sebagian besar
satu penyakit dominan autosomal yang paling sering. pasien akan mengalami miopia, dan banyak yang
Walaupun penyakit ini diperkirakan memiliki lensanya terlepas. Yang paling penting adalah bahwa
penetransi hampir 100% (gen secara fenotipis tampak sebagian besar pasien (90%) mengalami dilatasi aorta.
pada orang yang memilikinya), ekspresivitas penyakit Dengan meningkatnya dilatasi, aorta rentan meng-
sangat bervariasi. Gen NF1 terletak di kromosom 17 alami ruptur, terutama pada saat-saat curah jantung
dan mengkode suatu protein (neurofibromin) yang tinggi misalnya olah raga berat. Kardiomiopati adalah-
bekerja menekan tumor. Gen ini sangat besar dan, temuan janbung yangberkaitan dengan dilatasi aorta.
karenanya, memperlihatkan angka mutasi yang tinggi. Sebagian pasien memperlihatkan prolaps mitralis
Walaupun diwariskan sesuai prinsip Mendelian, sehingga terjadi regurgitasi darah dari ventrikel kiri
namun penyakit ini juga timbul sebagai mutasi baru; ke atrium kiri.
yaitu, individu mengalami mutasi pada gen NF1-nya, Penyakit Huntington, suatu penyakit dominan
walaupun kedua orang tuanya tidak memiliki gen autosomal, terjadi akibat ekspansi ulangan nukleotida
yang bermutasi tersebut. Gambaran klinis NF1 triplet dan dibahas di bagian lain bab ini.
mencakup bercak cnf6-au-lait (bercak kulit hiper-
pigmentasi), nodus-nodus jinak di iris (nodus Lisch),
neurofibroma (tumor jinak saraf perifer), glioma optik,
Penyakit Resesif Autosomal
hipertensi, dan bahkan tumor ganas. Penyakit ini Penyakit resesif autosomal umumnya tampak pada
memiliki ekspresi yang sangat bervariasi. orang yang homozigot untuk alel yang mengalami
Sindrom Mnrfan mengenai sekitar 1 dari 10.000 mutasi, sedarlgkan heterozigot jarang memperlihatkan
orang Amerika Utara dan disebabkan oleh suatu fenotipe penyakit. Pewarisan resesif autosomal
mutasi di kromosom 15, di sebuahgenyartgmengkode memiliki beberapa persamaan dengan pewarisan
protein jaringan ikat, fibrilin. Protein ini ditemukan di dominan autosomal; yaitu, laki-laki dan perempuan
lensa, periosteum, dan aorta. Sampai saat ini, lebih sama seringnya terkena. Namun, terdapat perbedaan
dari 100 mutasi di gen ini yang telah diketahui dan di antara kedua tipe pewarisan ini. Sebagai contoh,
mencakup missense, nonsense, danframeshift alterstions. apabila dua individu, keduanya heterozigot (Cc) unhrk
Gambaran klinis penyakit ini antara lain adalah gen tertentu, kawirl keduanya tidak mengekspresikan
kelainan tulang, mata, dan kardiovaskular. Karak- sifat resesif tetapi berfungsi membawa alel resesif
teristik fisik mencakup lengan dan lungkai yang sangat tersebut. Keturunan mereka mungkin CC, Cc, atau cc.
Karena itu, risiko munculnya cc adalah 25ok atatt
probabilitas seperempat. Heterozigot untuk suatu
penyakit gen resesif jauh lebih sering dijumpai dalam
populasi daripada individu homozigot unluk penyakit
Karakteristik Pewarisan Dominan nutoiomit
r:Gen adblah suatu autosomal ,.,,'

I Diekspresikan baik pada heterozigot (Aa) maupun


homozigot (AA)
r Lakirlaki dan perempuan sama seringnya terkena
r Riwayat keluarga vertikal dijumpai pada bagan silsilah
(penyakit muncul di seiiap generasi;
r Dari satu orang tua normal dan satu orang tua
heterozigoi, setiap anak memiliki probabilitas 50%
mengidap penyakit
I Usia awitan penyakit sering lambat
r Ekspresi klinis sangat bervariasi
r , I lafi-tafi I atau lTerdapat fenotip
Perretransi mungkin tidak komplit ,. :

-t .sering, mel ibatkan def ek protei n struktu rq! ( reseptor


membran, kolagen)
Q P"r"rpr"n
;, Serilg ter.iadi mutasi $en baru : ,::,::,: , , , l

i Cendertrhg lebih ringan daripada penyakit resesif ',': ,

Gbr.2-10 Silsilah khas untuk alel dominan.


Hereditos, Lingkungon, don Penyokit eae z 23

l-l lrti-tat i I Homozigot; mengidap

Q P"r"rpu"nQ Hetero.igot; karier

Q ruormal

Gbr. 2-11 Silsilah khas untuk alel resesif.

resesif tersebut. Dengan demikian, pada silsilah untuk alel tersebut kepada anak-anaknya, tetapi ia sendiri
suatu sifat resesif autosomal tampak transmisi horr- tidak mengidap penyakit sel sabit. Sejarah yang
zontsl. Individu yang mengidap penyakit jarang memi- mengaitkan sifat sel sabit dengan penyakit sel sabit
liki orang tua berpenyakit sama, walaupun kedua menimbulkan banyak diskriminasi dalam populasi
orang tua dari individu tersebut pastilah heterozigot pasien ini. Untuk mencegah diskriminasi lebih lanjut
untuk gen tersebut. Silsilah jarang memperlihatkan perlu dilakukan peningkatan kewaspadaan. Anemia
transmisi dari orang tua ke anak, walaupun beberapa sel sabit disebabkan oleh terjadinya sebuah mutasi
saudara kandung mungkin terkena (Gbr. 2-11). Penya- satu-titik di gen beta-globin. Gen ini terletak di
kit resesif autosomal sering timbul akibat perkawinan kromosom 11. Dalam pembentukan hemoglobin,
antara anggota keluarga (konsanguinitas). Kotak 2-5 rantai-rantai globin berikatan dengan rantai-rantai
memperlihatkan ciri khas hansmisi resesif autosomal. hem. Hemogiobin adalah molekul yang bertanggung
Sebagian besar penyakit resesif autosomal jarang jawab mengangkut oksigen ke seluruh tr-rbuh. Mutasi
dijumpai pada populasi umum, sedangkan sebagian pada gen ini menyebabkan molekul hemoglobin
lainnya timbul dengan frekuensi yang lebih tinggi berubah bentuk sehingga eritrosit berbentuk seperti
pada populasi tertentu, misalnya penyakit sel sabit. sabit. Perubahan bentuk menjadi seperti sabit (sick-
Fibrosis kistik (FK) adalah salah satu penyakit genetik ling) menyebabkan kelenturan eritrosit berkurang
yang paling sering pada populasi Kaukasia, mengenai sehingga eritrosit tidak dapat melewati kapiier dan
sekitar 1 dari 3300 orang. Frekuensi pembawa sifat jaringan tidak mendapat oksigen. Selain itu, sel-sel
penyakit ini cukup tinggi, yaitu sekitar 1 dari25 orang. sabit mengalami destruksi secara prematur sehingga
FK adalah penyakit akibat gangguan transportasi ion terjadi anemia. Gambaran klinis ASS adalah anemia,
klorida melewati membran sel yang menyebabkan gangguan tumbuh-kembang pada bayi, nyeri pada
sekresi menjadi lebih kental dan lengket. Penyakit ini ekstremitas akibat oklusi kapiler, splenomegali, dan
biasanya terdiagnosis pada tahun pertama kehidupan. infeksi berulang. Bab 17 memberikan rincian tambahan
Namun, gambaran penyakit sangat bervariasi. Gen mengenaiASS.
cystic fibrosis transmembrane conductance regulator Fenilketonuria (PKLI) mengenai sekitar 1 dari 10.000
(CFTR), yang terletak di kromosom 7, berhasil diklona orang Kaukasian. PKU dianggap sebagai suatu
pada tahun 1989 dan berperan dalam pengendalian kelainan bawaan metabolisme. Fenilalanin adalah
aktivitas saluran klorida. Sampai saat ini telah berhasil asam amino esensial yang diperlukan untuk tumbuh-
diidentifikasi lebih dafi 700 mutasi di gen ini pada kembang normal. Fenilalanin diuraikan oleh enzim
para pengidap FK. Patofisiologi, gambaran klinis, dan fenilalanin hidroksilsse (P AH).Proses ini penting karena
terapi penyakit ini dijelaskan di Bab 38. peningkatan kadar fenilalanin dalam darah menye-
Anemia sel sabit (ASS) adalah suatu penyakit yang babkan kerusakan saraf. Individu dengan PKU
mengenai hemoglobin dan mengenai sekitar 1 dari 400 memiliki mutasi di gen PAH sehingga kadar fenila-
sampai 1 dari 600 orang Amerika keturunan Afrika. lanin sangat meningkat. Apabila tidak segera dikoreksi,
Tingginya prevalensi penyakit ini memiliki makna kadar yang sangat tinggi ini dapat menyebabkan
klinis. Homozigot untuk alel mutan menyebabkan retardasi mental bprat. Di negara-negara barat, PKU
timbulnya penyakit sel sabit, sedangkan heterozigot saat ini didiagnosis dengan pemeriksaan penapisan
menimbulkan sifut sel sabit. Pembedaan ini sangat pada neonatus. Apabila pada pemeriksaan penapisan
penting. Individu dengan sifat sel sabit adalah terdeteksi adanya PKU, maka terapi adalahmodifikasi
pembawa satu alel mutan dan mampu mewariskan dan penatalaksanaan makanan secara dini.
24 BAGIAN sATU PENDAHULUAN PATCLOGIUMUM; MEKANISMEPENYAKIT

KOrAK 2-5 vang asimtornatik. Laki-laki pengidap dapat mewaris-


kan kromosom X-nya han1.a kcpada anak perempuan;
Karakteristik Pewarisan Resesif Autosomal karena itu pada penvakit resesif terkait-X tidak tampak
r penlrrtlnan ayah ke anak laki-lakin,va. Laki-iaki
Gen yang terlibat adalah suatu autosomal
r Hanya terekspresikan pada homozigot (aa); heterozigot pengidap akan mcr.t'ariskan kromosom X-nya yang
iAa) secara ienotipe adalah pembawa yang normal berr-nutasi kepada semua anak perempuannya (Gbr.
r Lakilaki dan perempuan terkena sama sering 2-12). Kotak ?-6 rnerir-rgkaskan beberapa karakteristik
r Pola pewarisan horizontal tampak pada bagan silsilah
pervarisan resesif terkait-X.
(muncul pada saudara kandung tetapi tidak pada orang
tua) Cangguarr terkait-X memperliha tkan ekspresirzitas
r Sering terdapat konsanguinitas orang tua yang 1'ang beragam, terutama pada perempuan karena ada-
heterozigot {yang merupakan pembawa) nva fenomena yang discbut sebagai X inoctiz,ntion.
r Apabila kedua orang tua adalah pembawa, maka setiap Apabila perempLran memiliki dua saiinan kromosom-
anak memiliki probabilltas 50% men.jadi pembawa,
probabilitas 25% mengidap penyakit, dan probabilitas X dan laki-laki hanya satu, apakah perempuan memi-
25o/o normal (bukan pembawa) liki prodr"rk protein yang lebih banyak daripada laki-
r Penyakit umumnya memiliki awitan dini laki? Jar.vaban pertanyaan ini adalah tidak; Iaki-iaki
r Defek gen sering menyebabkan defisiensi enzim dan pcrempuan memiliki produk protein dari kromo-
(kelainan bawaan metabolisme)
r Mutasi gen baru jarang terjadi. som X sama banyaknya. Bagaimana mungkin? Pada
tahun 1960an, Marv Lvon menawarkan suatu hipo-
tesis (ftipofcsis Ltlon) vang menyiratkan bahwa pada
perempuan, salah satu kromosom X di sel somatik
Gangguan Terkait-Seks
mengalami inaktivasi, sehingga hanya sahl kromosom
Cangguan-ganggrlan yang dikode oleh kromosom X X yang aktif. lnaktivasi X ini menyebabkan penyetaraan
disebut terkait-X dan yang dikode di kromosom Y gen-gen terkait-X pada laki-laki dan perempuan.
disebut terksit-Y. Prinsip-prinsip pada pewarisan I mktfu ns i -X terj adi p ad a aw al perkerribangan mudigah,

terkait-seks berbeda dari prinsip pada pervarisan dan di semua sel, X rnaktif secara acak dapat berasal
autosomal. Semua perempuan normal memiliki dua dari ibu atau avah. Setelah terjadi inaktivasi-X di
kromosom X, dan laki-laki normal satu krontosom X sebuah sel, maka semua sel anak vang terbentuk akan
dan sahl kromosom Y. Karena itu, kromosom Y, vang memiliki kromosom X (baik dari ibu maupun ayah)
mengandungbeberapa gen, mengkodc l-ranya sifat vang inaktif yang sama. X yang inaktif tersebut akan meng-
khas bagi laki-laki dan tidak dapat mengkode fungsi alami pemadatan dan tampak di bagian perifer inti sel
yang diperlukan untuk r.ariabilitas. Perempuan sebagai kromatin seks aian badat Bnrr.
menerima satu kromosom X dari kedua orang tr'la dan Distro.fiotot Dttchentrc (DOD), bentuk distrofi otot
sama kemungkinannva mewariskan ked rra kromosom yang paling parah dan mer-rgenai sekitar 1 dari setiap
X kepada anaknya. Laki-laki hanva dapat menerima 3500 laki-laki, ditandai dengan menyusutnya secara
kromosom X dari ibunva dan tidak dapat meu,aris- progresif otot rangka. Gen DOD, yang terletak di kro-
kannya kepad a putrinya. mosom X, adalah gen terbesar vang diketahui, men-
Salah satu konsekuensi hemizigositas iaki-laki cakup lebih dari 2;'uta pasangan basa. Produk gen,
adalah bahwa setiap alel di kromosom X akan dieks- dis trofi n, berperan mempertahankan in tegritas struk-
presikan pada lakiJaki seolah-olah alel itu dominan. tural sel otot. Apabila tidak memiliki distrofin, maka
Perempuan memfiki dua kromosom X dan dapat meng- sel otot secara perlahan akan mabi saat n-rengalami skes,
ekspresikan fenotipe dominan atar.r resesif. Karena itr-r, seperti saat kontraksi otot. Membr-rmknya keadaanotot
gangguan terkait-X diekspresikan dengan frekuensi rangka dimulai sejak arvai kehidupan, dan sebagian
yang jauh lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan besar pasien DOD harus menggunakan kursi roda
dengan pada perempuar, walaupun pada kasus gang- pada usia I I tahun. Para pasien ini juga mcngalami
guan dominan terkait-X perempuan dapat meng- kardiomiopati dan penyulit pernapasan, yang akhir-
ekspresikan penyakit sama seringnya seperti laki-laki. nya memeriukan ventilasi mekanis karena mereka
Cangguan resesif terkait-X iebrh sering dijumpai tidak memiliki kekuatan untuk bernapas sendiri.
daripada gangguan dominan terkait-X. Perempuan Kematian biasanya disebabkan oleh kega gaian perna-
memerlukan alel homozigot agar gangguan dapat pasan atau jantung dan biasanva teriadi sebelum usia
muncul. Dengan demikian, per,varisan penyakit resesif 25 tahun. Saat ini belurn ada terapi yang efektif untuk
terkait-X pada perempuan serupa dengan pervarisan penyakit ini, walaupun terus dilakukan riset secara
resesif autosomal. Laki-laki menerima sifat terkait-X aktif tentang terapi gen bagi populasi ini. Terapi gen
dari ibunya, yangbiasanya merupakan pembawa sifat dibahas kemtrdian di bab ini.
Herediios, Lingkungon, don Penyokit eae z 25

,i:::,t:,:::,::t:::,::!',.: :::tlli:::. ,,,,:,:::::12,,,1i:!/,ll1l:ljj;:ii,;:.


., r . K OTAK 24 i:.:,'..i11,i?l1V,i?.7/1,|tli,t
.1, '.:::::::::a:::a

Nr;i=

Karakteristik Pewarisan Resesif Terkait-X


r Gen mutan terletak di kromosom X
r Laki-laki lebih sering terkena daripada perempuan;
pada laki-laki (hemizigot) dip6rlukan hanya satu
salinan gen mutan untuk ekspresi penyakit; pada
perempuan diperlukan dua salinan gen mutan untuk
Gbr.2-12 Silsilah penyakit terkait-X yang khas untuk suatu alel ekspresi penyakit.
resesif. Perempuan C adaiah pembawa sifat yang asimtomatik. r lnaktivasi-X yang tidak seimbang dapat menyebabkan
timbulnya gejala pada perempuan.
r lbu pembawa sifat dan ayah normal akan menghasil-
kan putra dengan probabilitas 50% mengidap
Cangguan resesif terkait-X lainnya, henofrlia A, di penyakit dan putri dengan probabilitas 50% menjadi
seluruh dunia mengenai hampir 1 dari setiap 10.000 pembawa sifat (secara rata-rata).
laki-laki. Hemofilia A ditandai dengan defisiensi faktor r Semua anak perempuan dari ayah pengidap penyakit
dan ibu normal akan menjadi pembawa sifat
VIII, suatu protein penting dalam jenjang pembekuan I Tidak terjadi pewarisan ayah-ke-putra
darah. Pasien memperlihatkan pemanjangan waktu
perdarahan (bleeding time). Genyang mengkode faktor
VIII terletak di lengan distal kromosom X. Telah
diketahui beragam mutasi, dan sifat mutasi sering me-
nenbukan keparahan penyakit. Sebagai contoh, mu tasi memperlihatkan pewarisan matemal. Sperma men gan-
nlnsense menghasilkan fenotipe yang lebih parah dung sedikit molekul mLDNA, sehingga mtDNA pada
daripad a mu tasi m issens e, karena terjad i pemendekan keturunan diwariskan dari ibu. Perempr-ran dapat
protein. Keparahan penyakit berkorelasi dengan kadar menurunkal penyakit mitokondria baik kepada putra
faktor VIII yang dimiliki masing-masing pasien. maLrpLln ptrtrirtya, walaupun hanya putri yang, pada
Variasi di dalam korelasi genotipe-fenotipe tampak gilirannya, mervariskan penyakit tersebut.
jelas secara klinis, dari serangan-serangan perdarahan
yang jarang dan ringan sanrpai serangan yang paral1
dan sering. Gambaran klinis hemofilia A antara lain Genomic lmprinting
adalah memar dan hemartrosis, yaitr,r perdarahan ke Genomic im.printing didefinisikan sebagai ekspresi
dalam sendi yang menyebabkan nyeri (lihat Bab 19). snatu alel, bergantung pada dari orang tua mana alel
tersebr,rt berasal. Sindrom Angelrnnn dan sindrom Prnder-
Wll/l adalah contohgerzornic irnprhtinq. Retardasi men-
Pola Pewarisan Non-Mendelian tal berat, tidak mampu berbicara, kejang, serta ayunan
langkah yang tidak stabil dan canggung menandai
Pewarisan Mitokondria sindrom Angelman. Sebaliknya, sindrom Prader-Wiili
lnti sel bukan satu-satnnya organel di
tubr-rh yang ditandai dengan retardasi mental ringan-sampai-
mengandung DNA. Mitokondria mengandung suatu sedang, perawakan pendek, kegemukan, serta kaki dan
kromosom melingkar yang terdiri dari DNA mito- tangan yang kecil. Yang menarik, kedua gangguan
kondria (mtDNA). Setiap sel mengandung beberapa disebabkan oleh suatn delesi di rcgio yang sama di
salinan dari kromosom ini per mitokondrianva. kromosom 15. Perbedaan antara kedua penyakit ini
Sejumlah kecil gen terletak di mtDNA. Gangguan bergantung pada dari orang tlla mana delesi tersebut
genetik mitokondria cukup jarang dijLLmpai, walaupun diperoleh. Pewarisan delesi parental menyebabkan
gangguan-gangglran ini memiliki dampak pada sindrom l'rader-Willi, sedangkan pewarisan deiesi
populasi. Penqnkit Lcbcr (neuropati optikus herediter dari ibu menycbabkan sindrom Angelman.
Leber) adalah suatu penyakit mitokondria yang
ditandai dengan gangguan penglihatan sentral bila-
teral akibat kematian saraf optikus. Penyakit ini didiag-
Ekspansi Pengulangan Triplet
nosis pada golongan dewasa muda dan biasanya Kategori lain penyakit genetik adalah yang ditandai
ireversibel. Penyakit mitokondria yang lain adaiah dengan peningkatan jrimlah pengulangan triplet
sindrom Kearns- Snyre, y ang ditandai dengan degenerasi ntrkleotida (nucleotide triplet repeats). Penyakit Hun
retina,blok jantung, dan kelemahan otot. Silsilahpada tirtgtott (PH) adalah suatrl penyakit ner.rrodegeneratif
penyakit-penyakit genetik mitokondria secara eksklusiJ yang ditandai dengar peningkatan pengulangan trip-
26 BAGIAN SATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM:MEKANISMEPENYAKIT

let. PH mengenai sekitar 1 dari 20.000 orang. Gen PH spontan (keguguran). Kelainan kromosom dapat ber-
terletak di kromosom 4. Mutasi di gen ini menyebabkan sifat struktural atau berkaitan dengin jumlah
peningkatan jumlah pengulangan CAG. Individu yang (numeris). Kelainan struktural, misalnya translokasi
tidak terkena penyakit ini memiliki 11 sampai 35 peng- Robertsonian, melibatkan delesi, duplikasi, insersi, atau
ulangan CAG, sedangkan pengidap PH memiliki lebih translokasi sebagian dari satu atau lebih kromosom.
dari 36 pengulangan CAG, kadang-kadang dengan Kelainan j umlah adalah penyakit-pe ny aklt nneuplo idi.
lebih dari 100 pengulangan. Usia awitan yang lebih Penyebab utama aneuploidi adalah nondisjunction
dini dan keparahan penyakit yang lebih tinggi secara (kelainan pemisahan kromosom) saat meiosis atau
umum berkorelasi positif dengan peningkatan jumlah setelah pembuahan sewaktu mitosis. Nondisjunction
pengulangan. Mutasi diwariskan secara dominan dapatmengenai autosomal atau kromosom seks. Noi,l-
autosomal. disjunction saat meiosis menghasilkan gamet-gamet
PH adalah penyakit yang memiliki awitan saat haploid yang memiliki kelainan komplemen kromo--
dewasa, dengan usia awitan rata-rata sekitar 40 tahun, som. Apabila gamet tersebut kemudiandibuahi, maka
walaupun usia awitan bervariasi cukup luas. Gejala semua sel anak akan terkena dan memiliki kelainan
PH mencakup gerakan-gerakan korea (gerakan spas- kromosom yang sama (sering menimbulkan monosomi
modik involuntar), hilangnya daya ingat, danberku- dan trisomi). Banyak dari gamet abnormal ini tidak
rangnya neuron di otak. Gejala-gejala ini bersifat mampu berperan dalam pembuahan, dan apabila
progresif; yaitu, gejala memburuk seiring dengan pembuahan tetap terjadi, maka janin akan meninggal
waktu. Interval rata-rata dari diagnosis sampai in utero dan secara spontan dikeluarkan (abortus).
kematian adalah sekitar 15 tahun. Kematian biasanya Adanya gangguan dalam pemisahan kromosom
disebabkan oleh pneumonia aspirasi. Belum tersedia yang berasal dari mudigah setelah pembuahan
pengobatan kuratif untuk PH. Protokol terapi yang sewaktu mitosis diwariskan hanya kepada sel-sel anak
sekarang berlaku ditujukan untuk menangani gejala- yang terbentuk setelah kelainan tersebut terjadi.
gejala penyakit. Dengan demikian, mudigah yang terbentuk mengan-
PH berbeda dari gangguan dominan arltosomal dung paling sedikit dua turunan sel dan disebut
lainnya yaitu bahwa penyakit ini memperlihatkan sebagai mossik. Mosaikisme mungkin melibatkan
penetransi hampir 100%, yang berarti bahwa hampir kelainan pada autosomal (misal, sindrom Down) atau
100% orang yang mengalami mutasi ini akan men- kromosom seks (misal, sindrom Turner). Mosaikisme
derita PH. Sebagian besar gangguan genetik tidak sering ditemukan pada sindrom-sindrom kromosom,
memiliki penetransi 100%. Untuk individu dengan dan derajat kelainan klinis yang diderita pasien
riwayat PH pada keluarga, tersedia uji-uji genetik bergantr,rng pada persentase sel yang memfiki susunan
prediktif. Pemeriksaan prediktif dan prasimtomatik kromosom yang cacat. Kotak 2-7 mencantumkan
untuk suatu penyakit yang fatal dan memiliki beberapa kelainan kromosom.
penetransi hampir total memicu timbulnya banyak isu.
Sebagai contoh, individu yang memberi hasil positif
pada pemeriksaan terhadap mutasi tersebut sering
Kelainan f umlah (Aneuploidi)
merasa sangat bersalah, karena memiliki kemungkinan
Sindrom Dozun
507o mewariskan mutasi tersebut kepada anak-
anaknya. Demikian juga, bukan pembawa sifat Sindrom Down (SD) atau trisomi 21 (47,XX, + 21 atau
(noncarrier) sering mengaku merasa bersalah karena 47,XY, + 21) adalah gangguan kromosom tersering
tidakmemiliki mutasi sementara anggota keluarga lain pada kelahiran hidup. Sekitar 1 dari 800 sampai 1 dari
mungkin tidak seberuntung dirinya. Kompleksitas 900 kelahiran hidup mengidap SD. Nondisjunction
yang mengelilingi uji prasimtomatik kembali menekan- kromosom 21 saat meiosis adalah penyebab SD pada
kan pentingnya peny-uluhan genetik yang menyeluruh 95% kasus. Dari kasus-kasus ini, 95"h dari kromosom
dan suportif, sebelum dan sesudah uji genetik. 21 tambahan berasal dari ibu. Usia ibu adalah suatu
faktor risiko yang besar pada SD. Sebagai contoh,
perempuan berusia kurang dari 30 tahun memiliki
Kelainan Kromosom risiko 1 dalam 1000 mengandung janin dengan trisomi
21 dibandingkan dengan perempuan berusia 40 tahun,
Kelainan kromosom merupakan penyakit genetik yang yang risikonya adalah 1 dalam 100. Salah satu hipo-
proporsinya cukup bermakna, dijumpai pada hampir tesis untuk menjelaskan fenomena ini adalah kenya-
1 dari setiap 150 kelahiran hidup. Pada kenyataannya/ taan bahwa semua oosit perempuan terbentuk saat
kelainan kromosom adalah penyebab utama abortus lahir. Sel-sel ini terhenti dalam meiosis sampai saat
Heredilos, Lingkungon, don Penyokit eae z 27

kromosom klasik 47,XXY atau mosaikisme 46,XY/


: j,iiiri::i
r- . r: r":,:::i::i: :: - i!
iir I 47,XXY . Bentuk klasik diseb ab kan oleh no n disj un c t io n
K€iieihail,Kt6mobom meiotik saat gametogenesis-sekitar 60o/o saat
oogenesis dan 40% saat spermatogenesis. Bentuk
r Trisomi 21 (sindrom Down)
mosaik dipercaya terbentuk akibat nondisjunction
r Trisomi 13 (sindrom Patau)
r Trisomi 18 (sindrom Edwards) meiotik kromosom setelah pembuahan di zigot dan
r Monosomi kromosom X; 46,X0 (sindrom Turner)
'
dapat berlangsung pada zigot 46,Xy alau47,XXY.
':|::lliri4TaxxYt{sindiomlKlin.efelter} '-1;,, -.,,,,, ,1 ;,1 ,,, ,, Sindrom Klinefelter jarang didiagnosis sebelum pu-
I Kromosom Philadelphia (translokasi 9;22)
bertas saat pasien mulai memperlihatkan gangguan
t Ci du chat (delesi di 5p)
perkembangan karakteristik seks sekunder-testis
yang kecil dan rambut tubuh yang jarang. Karakteristik
lain adalah meningkatnya luteinizing hormone (LH) dan
ovulasi, saat mana sel-sel tersebut menyelesaikan follicle stimtrlating hormone (FSH), ginekomastia (mem-
pembelahan meiotiknya. Meningkatnya usia oosit besarnya payudara), azoospermia dan infertilitas,
mungkin berperan menimbulkan nondisjunction. defisiensi mental ringan, meningkatnya tinggi tubuh
Pengidap SD memperlihatkan gambaran wajah rata-rata (akibat lengan dan tungkai yang lebih
yang khas, berupa mata menyipit ke atas, wajah rata, panjang) dan kontur tLrbuh yang keperempuan-perem-
lipatan epikantus, dan membesamya lidah, Populasi puanan. Ciri-ciri ini disebabkan oleh kurangnya
pasien ini memperlihatkan retardasi pertumbuhan dan testosteron. Cejala dan tanda sindrom Klinefelter
mental dengan derajat bervariasi. Pasien SD juga berisiko biasanya lebih ringan pada bentuk mosaikisme yang
mengidap penyakit lairg seperti cacat jantung bawaan, ginekomastia dan infertilitasnya lebih jarang dijumpai
gangguan pendengaran, stenosis duodenum, dan daripada pada bentuk klasik 47,XXY. Risiko kanker
peningkatan kerentanan terhadap infeksi. payudara 20 kali lebih tinggi pada pasien dengan
sindrom Klinefeiter daripada pada laki-laki lain.
Sindrom Turner Penyakit ini dapat diterapi dengan testosteron sedang-
kan ginekomastia diterapi secara bedah.
Sindrom Turner (45,X atau 45,X0) mengenai sekitar 1
dari 5000 kelahiran hidup perempuan; namun, Kelainan Struktur Kromosom
diperkirakan bahwa sebagian besar (samp ai 99%)
janin dengan kariotipe ini mengalami aborlus spontan. Kromosom Phiktdelphic merupakan suatu kelainan
Sekitar separuh memiliki kariotipe 45,X,25% memiliki struktur kromosom yang disebabkan oleh translokasi
mosaikisme (46,XX/ 45,X), dan sisanya memiliki antara kromosom 9 dut22,yang ditulis sebagai t(9;22).
kromosom X yang secara struktural abnormal dengan Kelarnan ini terdapat pada hampir 90% pasien leuke-
atau tanpa mosaikisme. Pada individu dengan mosai- mia mielogenosa kronik. t(9;22) juga dijumpai pada
kisme atau kelainan struktur kromosom X, fenotipe 15% kasus leukemia limfositik akut (LLA) dan pada
biasanya memiliki keparahan antara varian 45,X dan 5% kasus leukemia nonlimfositik akut.
normal. N ondisj unction patemal selama spermatogen- Sindrom cri du chst adalah salah satu contoh dari
esis merupakan penyebab pada sekitar 80% kasus suatu kelainan struktur kromosom yang jarang yang
sindrom Turner, yang berarti bahwa para pasien ini disebabkan oleh delesi sebagian dari lengan pendek
tidak menerima satupun kromosom seks dari ayah. kromosom 5 ,yangditulis sebagai 46,XY,del(5p) pada
Individu dengan sindrom Tumer memiliki tubuh anak laki-laki atau 46,XX,del(5p) pada anak perem-
pendek, wajah segitiga, dan leher bersayap tetapi puan. Cri du chnt dttandai dengan mikrosefalus, hipo-
umurnnya tidak mengalami retardasi mental; mereka tonia otot, retardasi mental berat, dan tangisan yang
sering mengidap cacat jantung bawaan. Selain itu, para melengking yang timbul akibat kelainan perkembang-
perempuan ini sering tidak memiliki ovarium, tidak an pita suara posterior. Hal inilah yang menyebabkan
mengalami perubahan seks sekunder, dan mandul. pemberiannarnacri du chat (bhs. Perancis) yangberarti
'tangisan kucing'. Usia harapan rata-rata para bayi
ini hanya beberapa minggu.
Sindrom Klinefelter
lnsiden sindrom Klinefelter (47,XXy) adalah sekitar 1
dari 500 kelahiran hidup laki-laki, sehingga sindrom
Pewarisan Multifaktor
ini adalah kelainan diferensiasi seks yang paling Sebagian besar gangguan genetik dan penyakit
sering dijumpai. Kariotipe yang umum adalah pola manusia tampaknya tidak mengikuti salah satu dari
28 BAGIAN SATU PENDAHU LUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

pada luas defek dan kerusakan pada jaringan di


susunan saraf pusat.
Gangguan Multifaktor Di Amerika Serikat, NTD mengenai sekitar 1 dari
1000 orang. Pada populasi umum, risiko memiliki
r Alkoholisme l Nyeri kepala migren
seorang anak yang mengidap NTD cukup rendah.
r Penyakit Alzheimer t Neural tube defects
r Kanker (semua jenis) r Kegemukan Namun, risiko memiliki anak lain yang sakit serupa
r Bibir dan langit-langit sumbing r Osteoporosis meningkat m enladi 2'h sampai 5% pada keluarg a y ar.g
r Penyakit jantung koroner r Penyakit Parkinson sudah memiliki satu anak pengidap NTD dan sampai
r Diabetes (tipe 1 dan 2) r Skizofrenia
10% untuk yang memiliki dua anak pengidap NTD.
r Hipertensi
Hubungan familial ini mengisyaratkan adanya kausa
genetik, walaupun jelas kausa ini bukan satu-satunya
yang menentukan terjadinya NTD. Defisiensi asam -
folat juga terbukti merupakan kor-rtributor timbulnya
poia-pola pewarisan atau kelainan struktural seperti NTD, yang mengisyaratkan adanya faktor ekstrinsik
dijelaskan di bab ini. Berbagai penyakit seperti penyakit pada penyakit ini.
jantung koroner, kanker payudara, neural tube defects, Riset untuk memahami penyakit-penyakit multi-
dan skizofrenia cenderung terjadi dalam sabu keluarga, faktor merupakan hal yang sangat penting. Karena
walaupun penyakit-penvakit tersebut tidak ganggllan-gangguan ini banyak yang merupakan
memperlihatkan pola pewarisan yang spesifik. penyakit umum, maka kemajuan dalam diagnosis dan
Ketidakjelasan ini kemun gkinan besar mencerminkan pengobatannya akan mempengaruhi sistem pela-
kuabnya pengaruh faktor ekstemal pada perkembang- yanan kesehatan dan kesehatan populasi secara
an penyakit, serta prasyarat poligenik (banyak gen) keseluruhan. ldentifikasi faktor-faktor intrinsik yang
yang mendasari penyakit-penyakit ini. Mungkin mendasari suatu penyakit akan menghasilkan alat
diperlukan banyak gen untuk menghasilkan sttatu diagnostik untuk mendorong perubahan perilaku dan
fenotipe akhir. Karena gen-gen ini mungkin terletak di intervensi lain yang dapat mencegah atau menunda
kromosom yang berbeda, maka keterkaitan gen-gen timbulnya penyakit.
tersebut pada setiap orang sulit diperkirakan. Selain
itu, penyakit multifaktor mungkin juga memerlukan
suatu lingkungan atau pengaruh spesifik sebagai Gangguan Kongenital yang Dipicu
pemicu, sehingga penyakit-penyakit tersebut hanya oleh Lingkungan
muncul setelah suatu pajanan tertentu.
Risiko penyakit multifaktor bervariasi dari satu Sebagian besar dari bab ini difokuskan pada dasar
keluarga ke keluarga lain. Dalam sebuah keluarga, genetik penyakit pada manusia. Namun, subset-sub-
risiko meningkat seiring dengan semakin banyaknya set tertentu anomali kongenital terjadi akibat faktor
anggota keluarga yang terkena. Demikian juga, risiko ekstrinsik.
yang dialami anggota keluarga meningkat seiring Istilah kongenitnl didefinisikan sebagai sudah ada
dengan keparahan penyakit. Selain rtu, apabila sejak lahir. Dengan demikian, anomali kongenital
seorang anak menderita suatu penyakit, maka risiko adalah gangglran perkembangan yang sudah ada
saudara kandung juga terkena meningkat menjadi 3% sejak lahir. Anomali kongenital dapat bersifat
sampai 5%. Berdasarkan variabel-variabel ini, maka struktural atau fungsional dan disebabkan oleh kausa
memprediksi kejadian penyakit-penyakit ini serta genetik (intrinsik) dan kausa lingkungan (ekstrinsik).
mengapresiasi kontribusi genebik dasamya merupakan Anomali-anomali ini dapat dibagi menjadi empat
hat yang pblik. Namun, sebagian besar dari penyakit- subtipe yang secara klinis signifikan: malformasi,
penyakit umum ini memang bersifat multifaktor. Kotak displasia, deformasi, dan disrupsi (disruption).
2-8 menyajikan sebagian penyakit yang bersifat t Malformosi adalah suahr defek morfologik suatu
multilaktor. organ atau bagian tubuh yang lebih besar akibat
Neursl tube defects (NTD) ditandai dengan kegagal- kelainan intrinsik proses perkembangan, misalnya
anneursl f menutup secara efektif sewaktu perkem-
ube kelainan kromosom
bangan masa mudigah. Tipe-tipe NTD mencakup t Displasin didefinisikan sebagai kelainan susunan
an ens efal u s (keti adaan p arsial otak), e n s efal okel (celah atau organisasi sel
kongenital di tengkorak dan herniasi jaringan otak), t Deformasl adalah kelainan bentuk atau posisi suatu
danspina bifida (kegagalan arkus vertebra menutup). bagian tubuh akibat gaya mekanis, seperti
Keparahan gambaran klinis terutama bergantung penekanan intrauterus
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit sae z

i!i:=t,':''
t Disrupsi adalah defek morfologik pada sebuah
"ili;Wgf
ilt:,.::..::..:...:?::1, :a.::::=,.,.'.:li:/i/i::1;,,;a:

Al(tt&:g=,l"ti:.'.i',tt":":.:',/iiiiii ::-)
lilili::;:..:=:.:.::a../,1:?.!.f;,i,;/iiii::i,

organ atau bagian tubuh yang lebih besar akibat ):,i..,1/;ilil:t:... :l)ttl,i::,:::..:::::.4.-:.::tzr,.;i :a,:.:a:.::a:::a::a:t1't:::tia:i-: . :..:::t:Strtjt:,, l::.a;:;a.::;:='...1

gangguan ekstrinsik pada pertumbuhan dan Teratogen yang Sudah Diketahui


perkembangan normal. Disrupsi terjadi akibat
OBAT
pajanan lingkungan dan merupakan fokus dari r Alkohol
bagian ini. r Kokain
Worid Health Organization mendefinisikan ferafo- r Fenrtoin
gen sebagai suaLr.r substansi, organisme, agen fisik, atau r Asam retinoat
keadaan defisiensi yang terdapat pada masa gestasi
r Talidomid
r Warfarin
yang dapat menyebabkan efek samping. Diperkirakan
7o/' sarnpat 10% dari semua anomali kongenital terjadi ZAT KIMIA
r Metilmerkuri
akibat teratogen lingkungan. Teratogen mencakup obat
(termasuk alkohoi), bahan kimia, proses infeksi pada INFEKSI

ibu, radiasi, dan bahkan keadaan gizi dan penyakit


r Sitomegalovirus
r Virus Epstein-Barr
pada ibu. Walaupun pajanan ke suatu teratogen r Virus Herpes-Simpleks
berkaitan dengan cacat kongenital, namun tidak r Virus imunodefisiensi manusia
semua janin yang terpajan terkena (Kotak 2-9). r Rubela

Teratogenisitas berkaitan erat dengan waktu


r Toksoplasmosis
r Varisela
pajanan. Masa-masa kritis dalam perkembangan jauin
PENYAKIT IBU
berpusat pada masa perkembangan jaringan dan r Diabetes melitus
organ, dan setiap sistem organ memiliki periode kritis- r Hipertensi
nya masing-masing. Sebagai contoh, masa kritis untuk r Fenilketonuria
pembentukan ekstremiias adalah sekitar 3,5 sampai 5
minggu. Pajanan ke teratogen pada masa kritis ini
dapat menimbulkan malformasi anggota badan,
seperti pada kasus pajanan talidomid.

Obat, Alkohol, dan Bahan Kimia Proses Infeksi


Sekitar 2% dari anomali kongenital terjadi akibat obat Organisme yang menginfeksi ibu dapat menembus
dan bahan kimia. Beberapa obat jelas merupakan ter- plasenta dan kemudian menginfeksi janin. Banyak
atogen, walaupun efek masing-masing sangat ber- mikroorganisme menimbr"rlkan efek teratogenik. Salah
variasi. Sebagian besar efek teratogenik obat-obat satu mikroorganisn-re tersebut adalah rubela, yang
tersebut disebabkan oleh jumlah dan saat pajanan. nama lainnya adalah campak Jerman. Akibat penu-
Salah satu dari obat tersebut adalah talidomid, tran- laran transplasenta, janin mengalami sindrom rubela
quilizer dan sedativa yang menimbulkan malformasi kongenital yang ditandai dengan cacat jantung, tuli,
anggota badan dan anomali organ lain. Asam retinoat, katarak, dan sering defisit mental. Saat pajanan meru-
atau vitamin A, adalah contoh lain teratogen. Ibu hamil pakan hal yang sangat penting pada proses infeksi,
yang terpajan obat ini dapat mengalami abortus dan pada kasus sindrom rubeia kongenital, anomali
spontan, Iangit-langit sumbing dan cacat lain pada terjadi apabila janirr terinfeksi dalam 5 minggu setelah
bayinya. Obat jerawat, seperti Acclltane, mengandung pembuahan. Defek juga dapat terjadi walaupun
retinol dalam jumlah besar dan pajanan ke obat,obat pajanan terjadi pada tahap kehamilan lebih lanjtit.
ini merupakan salah satu penycbab cacat bawaan Pajanan ke agen infcksiosa pada a'"rral kehamilan
akhir-akhir ini. Vitamin A adalah nutrien yang penting menyebabkan cacat jantung, saraf, dan pendengararl;
selama kehamilan, walaupnn dosis besar bersifat pajanan yang lambat dapat n-renvebabkan cacat
teratogenik. Merokok jelas berkaitan dengan intrsuter, nellrosensorik. Keparahan defek dan jumiah bavi yang
ine growthretsrdation (IL'tGR) yang menyebabkan berat terkena berkurang seiring dcngan meningkatnya usia
lahir rendah . Fetal slcohol syndrome (FAS) terjadi akibat gestasi saat pajanan. TORCH adalah akronim yang
konsumsi alkohol oleh ibu hamil dan ditandai dengan bermanfaat trntuk n-rengingat beberapa teratogen
retardasi mental dan anomali lain. Keparahan FAS infeksiosa:
sebanding dengan jumlah asupan alkohol. FAS T-toksoplasmosis
diperkirakan merupakan salah satu penyebab utama O-others (lain-lain; yaitu hepatitis B, gondongan,
retardasi mental. virus imunodefisiensi manusia)
30 BAGTAN sAru PE NDAHULUAN PATOLOGI UMUM : MEKANISME PENYAKIT

R-rubela menyebabkan peningkatan kadar alfafetoprotein


C-sitomegalovirus (AFP). AFP adalah suatu protein yang hanya dijumpai
H-herpes simpleks pada jaringan janin. Neural tube defect menyebabkan
organ-organ internal janin berada dekat dengan cairan
amnion sehingga kadar protein ini meningkat. Dalam
Radiasi keadaan normal, kadar AFP di dalam cairan amnion
Pajanan radiasi dosis tinggi dapat menyebabkan gang- meningkat sampai sekitar usia gestasi 14 minggu dan
guan pertumbuhan fisik janin, retardasi mental, dan kemudian turun dengan cepat. AFP berdifusi
leukemia. menembus plasenta r.rntuk masuk ke dalam serum ibu;
karena itu, kadar AFP dan AFP serum ibu (MSAFP)
Penyakit pada Ibu sebanding. MSAFP dapat diukur untuk menentukan
status janin dengan tingkat invasi'ritas yang minimal*
Banyak penyakit pada ibu dapat berfungsi sebagai ter- dibandingkan dengan pengambilan sampel cairan
atogen. Sebagai contoh, kadar fenilalanin yang tidak amnion.
terkendali pada ibu dengan fenilketonuria dapat Nilai prediksi positif MSAFP rendah, yangberarti
menyebabk an mikrosefalus (kepala kecil), retardasi bahwa peningkatan kadar tidak 100% akurat untuk
mental, dan bahkan cacat jantung pada janinnya. mendiagnosis neural tube defect. MSAFP dapat mening-
kat oleh sebab lain, termasuk kembar, kematian janin,
trisomi 13, dan kelainan kromosom lainnya. Sebalik-
nya, MSAFP sering rendah pada pasien dengan
UJI DIAGNOSTIK sindromDown.
Ultrasonografi adalah metode lain untuk melihat
Kemajuan dalam pemahaman tentang genetik kelainan perkembangan. Banyak gangguan struktural,
molekular manusia akan menggeser perawatan sepertt anmsefalus (tidak adanya otak) dan cacat jantung
kesehatan dari terapi terhadap gejala penyakit menjadi kongenital secara umum dapat dilihat pada trimester
prediksi dan pencegahan penyakit. Teknologi- kedua.
teknologi yang ada memungkinkan kita membuat di-
agnosis secara dinipada orang dewasa dan melakukan
pemeriksaan penapisan pranatal untuk mendeteksi Pengambilan Sampel Sel fanin
kemungkinan penyakit pada janin. Diagnosis pranatal
Salah satu dari beberapa metode yang tersedia untuk
memungkinkan orang tua membahas abortus, mem-
diagnosis pranatal adalah amniosentesis. Amnio-
buat rencana penatalaksanaan neonatus yang
sentesis adalah penggunaan jarum untuk menyedot
diperkirakan mengidap penyakit tertentu, atau bahkan
(aspirasi) sekitar 20 sampai 30 ml cairan dari kantong
merencanakan perubahan gaya hidup untuk meng-
hilangkan atau memperkecil gejala penyakit genetik amnion perempuan hamil, biasanya pada trimester
pada neonatus. Selain itu, tersedia uji diagnostik untuk
kedua. Cairan amnion mengandung sel-sel yang
calon orang tua yang dapat memberikan tambahan berasal dari janin dan urin jarin. Pemeriksaan sitogenetik
informasi mengenai risiko pada kehamilan yang akan (yaitu, penentuan kariotipe) dilakukan pada sel-sel ini
datang. dan memerlukan waktu sekitar 2 sampai 3 minggu
untuk memperoleh hasil. Amniosentesis dianjurkan
bagi perempuan hamil berusia lebih dari 35 tahun,
perempuan yang pernah melahirkan anak dengan
Pemeriksaan Penapisan Fenotipe kelainan kromosom, dan perempuan dengan riwayat
Banyak gangguan genetik dapat didiagnosis berdasar- cacat genetik dalam keluarganya. Amniosentesis
kan fenotipe yang dihasilkannya (misalnya, manifes- bukan tidak memiliki risiko; prosedur ini menyebabkan
tasi klinis penyakit). Fibrosis kistik dapat didiagnosis kematian janin dengan angka sekitar 0,5%.
dengan menggunakan uji klorida dalam keringat Pengambilan sampel ailus korionik (CVS) adalah
(kon{irmasi genetik adanya gen CFTR yang bermutasi pengambilan langsung sel-sel trofoblastik janin (vilus
juga dilakukan), dan fenilketonuria dapat didiagnosis korionik bantalan plasenta). CVS dilakukan pada akhir
dengan menentukan kadar fenilalanin dalam darah trimester pertama sehingga dapat memberikan diag-
neonatus. nosis yang lebih dini dibandingkan dengan amnio-
Beberapa gangguan dapat didiagnosis secara sentesis. CVS dilakukan dengan memasukkan sebuah
pranatal. Sebagai contoh, neural tube defect sering jarum melalui abdomen atau sebuah kateter melalui
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit ene z 3r

serviks. Sel-sel yang diambil dengan CVS cepat meng- BRCA1, yangberperan dalam sekitar separuh kanker
alami pembelahan, dan pada sebagian kasus kariotipe payudara herediter, memiliki panjang sekitar 5600
sudah dapat diketahui dalam 48 jam sementara pada pasangan basa. Penentuan sekuensi secara langsung
kasus yang lain dapat mencapai 2 minggu. CVS akan mengidentifikasi nukleotida mana yang terdapat
memiliki risiko angka kematian janin yang lebih tinggi di setiap posisi di sepanjang gen. Proses ini mahal
dibandingkan dengan amniosentesis, y aitu 7"/. sampai dan memakan waktu.
1,,5o/". Interpretasi hasil penentuan sekuensi secara lang-
Pengambilan sampel darah umbilikus perkutis (PUBS) sung tidak sulit apabila gen normal atau apabila gen
adalah suatu metode untuk mengakses aliran darah memiliki satu atau dua mutasi yang sudah diketahui
janin. Darah janin diambil dari tali pusat di bawah yang mengganggu fungsi proteinnya. Interpretasi
tunfunan ultrasonografi. PUBS dilakukan setelah usia menjadi lebih sulit apabila ditemukan polimorfisme
gestasi 16 minggu dan digunakan untuk menganalisis atau mutasi yang jarang di mana belum atau hanya
secara cepat sitogenetika janin. Hasilnya tersedia ada sedikit data yang mengaitkan perubahan genetik
dalam2sampai3hari. tersebut dengan kanker payudara.
Suatu teknik yang masih eksperimental adalah Untuk menjamin hasil yang lebih definitif, sekuensi
analisis mudigah praimplantasi. Dalam teknik ini, gen pertama-tama dilakukan pada satu anggota
diambil beberapa sel dari embrio/mudigah 8-sel yag keluarga yang telah menderita penyakit untuk
dihasilkan melalui pembuahan in vitro. Sel-sel ini menenlukan mutasi keluarga. Anggota keluarga yang
dianalisis untuk defek genetik, termasuk gangguan lain dan sanak saudara yang berisiko dan ingin
gen-tunggal dan aneuploidi. Apabila terbukti bebas menjalani uji genetik kemudian dapat diperiksa untuk
mencari ada tidaknya mutasi keluarga tersebut dalam
dari penyakit genetik, maka sel tersebut ditanam di
genmereka.
uterus perempuan sehingga kemudian dapat
Protein truncation fesf mengevaluasi ukuran suatu
berkembang menjad i jan in.
protein, bukan perubahan nukleotidanya. Apabila
mutasi menyebabkan suatu protein menjadi lebih
pendek daripada seharusnya protein nonmutasi
Analisis Genetik Molekula r (mut nsi nonsense), maka protein tersebut akan memper-

Reaksi Rantai Polimerase lihatkan sifat kimia yang berbeda. Panjang rantai
ditentukan dengan eiektioforesis gel, yaitu protein
Walaupun analisis kimiawi terhadap sampel cairan diisolasi dan diletakkan pada sebuah gel untuk kemu-
dan jaringan memberi arti penting bagi analisis dian dialiri arus listrik. Fragmen-fragmen yang lebih
pranatal, namun strategi diagnostik yangberkembang kecil akan bergerak lebih jauh daripada fragmen besar.
paling pesat dan memberi harapan paling besar adalah Uji ini dapat digunakan apabila mutasi yang pasti
metode-metode yang didasarkan pada genetika mole- tidak diketahui; namun, teknologi ini tidak dapat men-
kular. Reaksi rantai polimerase (PCR) memperbanyak deteksi mutasi yang tidak menyebabkan pemendekan,
DNA yang diperoleh dari darah atau jaringan lain rnisa\ny a mut lsi mis s ens e.
dan merupakan langkah awal untuk banyak uji
genetik molekular lainnya. Prosedur laboratorium ini
Restriksi Polimorfisme
mirip dengan cara sel menyalin DNA. DNA untai-
ganda dipisahkan dan masing-masing untai disalin Paniang Fragmen
sehingga dihasilkan dua untai baru. Langkah ini Apabila penentuan sekuensi secara langsung tidak
diulangi sampai 30 kali sehingga terjadi amplifikasi mungkin dilakukan, maka dapat digunakan penanda-
DNA secara eksponensial (Gbr. 2-73). Dua untai penanda genetik yang berkaitan dengan gen tertentu.
menghasilkan4 untai,4 untai menghasilkan 16 untai, Petanda genetik adalah polimorfisme yang tersebar di
dan demikian seterusnya. PCR memperbanyak seluruh genom. Manfaat penanda genetik ini didasar-
sejumlah kecil DNA menjadi jumlah yang dapat kan pada prinsip pemisahan. Apabila sebuah
terdeteksi, menghasilkan salinan DNA asli dalam penanda dan sebuah gen terletak berdekatan di sebuah
jumlah hampir tidak terbatas. Distrofi otot Duchenne kromosom, maka besar kemungkinan bahwa kedua-
dideteksi dengan menggunakan PCR. nya akan memisah secara bersama-sama sehingga
Penentuan sekuensi secara langsung suatu gen diwariskan bersama atau "terkait". Apabila suatu
merupakan baku emas untuk analisis molekular penanda berkaitan dengan fenotipe penyakit tertentu,
genetik, yaitu dilakukan identifikasi gen dari nukleo- maka penanda tersebut dapat digunakan sebagai
tida pertama sampai terakhir. Sebagai contoh, gen penanda untuk kerentanan terhadap penyakit tersebut.
32 BAGIAN SATU PE NDAHU LUAN PATOLOGI U M UM ; ME KAN ISM E PENYAKIT

1 Komponen Campuran Melebur dan menguat 3 Memperluas ujung 3'


.

A
'W ? A 8 C D E F G ?ABcDEFG
Polimerase TAQ
tr
E
? A B C D E F G A

?,4 BC'D'gF,G ?'ABCD'E'F'G ?'ABC'D'E'F'G

4 Berulang beberapa kali Menghasilkan banyak salinan ABCDE

?ABCDEFG ABCDE ABCDE ABCDE


a*@---t
h AB'CDE' AB'C'D'E' AB'C'D'E'
- A ABCDE ABCDE ABCDE
t"*I* t**=*-.....^*"^..".",'-" m...--.-*,..
,J:= --,'-*-"""-*',"-l'"-"'1 ^*--""*"--(J
<_ E AB'CD'E AB'CD'E' AB'C'D'E'
----->
./4W ABCDE ABCDE ABCDE
n*.,,--.*-'.** -^***--*--,C)*..*-2*2*1-1
*"*--ffi
E' AB'CDE' AB'CD'E AB'C'D'E'
A
-/
--*^*-r3
ABCDE ABCDE ABCDE
ffil*'., .,"..."^_ -,. l::f,.""._"-__,,,
'-^^*--^* -*T:S _"_ ra._-,._.-.."...."."."..__..-"-
........-

?AB'C'D'E'F'G' AB'C'DE' AB'CD'E' AB'C'D'E'

Gbr. 2-13 Amplifikasi DNA oleh reaksi rantai polimerase (PCR)

Restriksi polimorfisme panjang frngmen (RFLP) adalah nukleotida tunggal. Sebagian dari perbedaan atau
salah satu teknik paling sering digunakan unluk men- varian DNA ini mungkin merupakan penanda untuk
deteksi keterkaitan walaupun saat ini mulai diganti- penyakit atau terletak di dalam gen tertentu yang ikut
kan oleh teknologi-teknologi yang lebih baru. RFLP berperan dalam perkembangan penyakit. Dasar
menggunakan segolongan enzim yang dikenal dengan pemikiran ini disebut common disease anriant hypoth-
namarestriction endonuclensss yang memotong DNA di esls. Varian tertentu seperti alel apolipoprotein E4 (Apo
interval-interval tertentu berdasarkan sekuensi DNA. E4) (4 varian atau polimorfisme pada enzim apolipo-
Apabila terjadi suatu mutasi, maka enzim sering tidak protein) berkaitan dengan penyakit Alzheimer. Varian
dapat memotong untai di tempat-tempat yang sama nukleotida mengubah sekuensi asam amino pada pro-
seperti yang dilakukannya pada untai DNA normal, tein danmungkin memodifikasi fungsi protein.
sehingga dihasilkan fragmen-fragmen yang ukuran- DNA microsrrays, atau chips DNA, saat ini digr-rna-
nya berbeda. Fragmen-fragmen DNA dikelompokkan kan untuk mendeteksi SNP atarr polimorfisme. Di
berdasarkan ukuran dengan metode elektroforesis gel. semlra array, diletakkan sekuensi nukleotida atau gen
yang diketahui. Terdapat cukup banyak sekuensi untuk
mengidentifikasi gen, mutasi, atau polimorfisme.
Polimorfi sme Nukleoti da Tunggal Fragmen-fragmen DNA di chip hanya mengikat untai
rfisme n ukl e o t i d s t wt g g al (SN P, d iuc a pkan snip)
P ol imo DNA dari pasien yang komplementer dengan sekuensi
secara teoritis serupa dengan RFLP. Namun, teknologi yang sudah diketahui. Setiap chip DNA, yang walau-
ini tidak menggunakan enzim untuk memotong- pun besamya seukuran perangko, dapat mengidentifi-
motong DNA tetapi secara langsung mengidentifikasi kasi ratusan sampai ribuan polimorfisme dan gen.
banyak polimorfisme di dalam genom mannsia. Teknologi ini memberikan harapan sangat besar
Variasi dalam sekuensi nukleotida genom manusia untuk mendeteksi penyakit dan akan semakin sering
adalah sekitar 1 dalam 1250 nukleotida. Karena di digunakan untuk mendeteksi faktor risiko untuk
seluruh genom terdapat 3 milyar nukleotida, maka.. penyakit multifaktor dan multigenik seperti penyakit
dalam populasi terdapat beberapa juta perbedaan kardiovaskular dan kanker.
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit els z 33

RINGKASAN TERAPI UNTUK Terapi Sulih


GANGGUAN GENETIK Penyakit-penyakit genetik yang menyebabkan ber-
kurang atau tidak adanya produk protein diterapi
dengan mengganti protein tersebut (terapi sulih).
Banyak terdapat modalitas terapi untuk mengobati Sebagai contoh, pasien hemofi{ia A kekurangan faktor
gangguan genetik atau gejala yang ditimbulkanny+ VIII dengan derajat bervariasi. Faktor VIII dapat
dari surveilans sampai terapi gen. Penatalaksanaan ditransfusikan ke pasien dengan menggunakan
penyakit genetik bergantung pada masing-masing plasma donor atau faktor VIII rekombinasi.
penyakit; tidak ada terapi universal yang secara
komprehensif dapat mengatasi semua penyakit
genetik. Dalam penatalaksanaan penyakit dilakukan Surveilans
rnodifikasi terhadap faktor intrinsik dan ekstrinsik. Di
bagian ini disajikan beberapa metode penata- Uji genetik prasimtomatik bagi sejumlah penyakit
laksanaan. menyebabkan individr.r menyadari risiko mereka untuk
suatu penyakit. Intervensi pada situasi ini bukanlah
suatu pengobatanper se; surveilans dilakukan secara
teliti untuk mendeteksi penyakitpada tahapnya yang
Penatalaksanaan Fenotipe paling dini dan kemudian mengobati penyakit sejak
dari awitannya. krdividu dengan mutasi BRCA1 (brenst
Yang lebih banyak ditangani umurnnya adalah mani- cancer gerLe 1) yarrg tidak terkena penyakit seyoryanya
festasi penyakit genetik, bukan kelainan penyebab. menjalani surveilans yang lebih ketat. Karena risiko
Bagi banyak penyakit geneLik, satu-satunya terapi mereka mengalami kanker payudara lebih besar
yang tersedia adalah penatalaksanaan fenotipe daripada populasi umurn, maka surveilans dimulai
penyakit. Pengidap FK sering mengalami infeksi pada usia lebih'dini. Sebagai contoh, apabila kanker
pernapasan dan diterapi dengan antibiotik. Drainase payudara timbul pada sebuah keluarga dengan
postural dan terapi fisik mengurangi kekentalan BRCA1 pada usia 35 tahun, maka surveilans (termasuk
sekresi, dan enzim-enzirn pankreas mengatasi rnamografi, pemeriksaan payudara sendiri atau secara
insufisiensi pankreas yang dialami pasien fibrosis klinis) harus dimulai pada usia 25 tahun bagi anggota
kistik. Pada penyakit yang lain, rnungkin dapat keluarga yang Lidak terkena yang memiliki mutasi
dilakukan intervensi bedah unluk mengatasi anomali BRCA1. Uji prasimtomatik tersedia untuk beberapa
kongenital, seperti sumbing langit-langit dan cacat penyakit genelik seperLi HD, tapi hdak ada pengobatan
jantungbawaan. medis yang diketahui. Bagaimanapury pemantauan
yang cermat untuk mencari ada-tidaknya gejala
membantu pemberian terapi paliatif.
Modifikasi Makanan
Bedah Profilaktik
Bagi sebagian penyakit genetik yang menyebabkan
penimbunan komponen rnetabolik yang tidak dimeta- Individu yang tidak terkena namun berisiko tinggi
bolisme, pengobatan didasarkan pada modifikasi menderita penyakit tertenhr juga dapat diterapi secara
makanan. Fenilketonuria (PKU) adalah salah satu profilaksis untuk rnemperkecil kemungkinan timbul-
contohnya. Pengidap PKU diterapi dengan diet nya penyakit tersebut. Adenapoliposis familial (ApF)
rendah-fenilalanin yang ketat untuk mempertahankan adalah suatu penyakit genetik yang ditandai dengan
agar kadar fenilalanin dalam tubuh sesuai kebutuhan, pertumbuhan kolon, yang disebut polip, secara difus
brsufisiensi fenilalanin menghambat tumbuh-kembang dan dalam jurnlah banyak. Para individu ini secara
normal" sedangkan fenilalanin yang berlebihan berrnakna mengalami peningkatan risiko terjangkit
rnenyebabkan retardasi rnental. Modifikasi rnakanan kanker kolon dibandingkan dengan populasi umurn.
dilakukan segera setelah diagnosis ditegakkan, Terapi standar pada keadaan ini adalah pengangkatan
biasanya dalam beberapa rninggu setelah lahir, dan kolon secara bedah (kolektorni) untuk rnengurangi atau
dilanjutkan seumur hidup. Walaupun efektif, namun rnencegah tirnbulnya kankerkolon. Modalitas ini juga
modalitas terapi ini bukannya tidak menimbulkan tersedia unluk kanker genetik lain, terrnasuk kanker
beban, baik secara finansial maupun emosional. paprdara (pengangkatan pal,rrdara atau ovarium atau
34 BAGIAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGIUMUM:MEKANISMEPENYAKIT

keduanya secara bedah) dan kanker kolorektum dan keamanan yang terjaga. Belum ada suatu bentuk
nonpoliposis herediter (kolektomi), walaupun umum- terapi gen yang bersifat universal. HGT dilakukan
nya pembedahan tidak mengurangi risiko penyakit dengan memasukkan suatu gen yang benar ke dalam
hingga 100%. genom manusia. Langkah awal ini dapat diselesaikan
Semua modalitas ini serupa yaitu bahwa efek melalui dua cara: ex uilto, yaitu sel-sel yang sedang
penyakit diatasi atau dicegah, tetapi keiainan genetik- berproliferasi dikeluarkan dari pasien dan dibiak di
nya tidak dikoreksi. Faktor-faktor ekstrinsik juga dapat laboratorium, disuntik dengan gen yang terkait, dan
dimodulasi atau dimanipulasi untuk mengobati dikembalikan ke pasien menggunakan infus IV
penyakit. Terapi gen adalah usaha untuk mengoreksi standar; atau in aiuo, yaitu gen disalurkan secara
defek di tingkat genetik unbuk memodifikasi kontribusi langsung ke dalam pasien dengarr menggunakan
faktor intrinsik pada penyakit. suatu vektor untuk menyampaikan gen ke sasarannya.
Masalah pertama pada terapi gen adalah bagai-'
mana memasukkan gen ke dalam sel. Penyampaian
Terapi Gen gen bergantung pada vektor, termasuk bentuk virus
maupun nonvirus. Virus, misalnya retrovirus dan ade-
Padatuapi gen manusin (HGT), dilakukan insersi sebuah
novirus, sering digunakan karena sifat-sifatnya. Virus
atau satu set gen fungsional ke dalam sel-sel somatik
mampu secara efektif masuk ke dalam sel, meng-
untuk menghasilkan respons terapetik. Tujuan HCT integrasikan dirinya ke dalam genom pejamu, dan
adalah mengganti gen yang bermutasi atau hilang di
menggunakan perangkat pejamu untuk memper-
dalam sel dengan gen yang benar, serta untuk meng-
banyak diri. Virus merupakan salah satu cara untuk
ubah fungsi sel. Karena terapi sel-sel germinativum
memasukkan sebuah gen ke dalam sel pejamu untuk
berpotensi mengubah seluruh tatanan genetik sese-
dapat diekspresikan. Namun, virus bukanlah suatu
orang serta keturunannya, maka terapi sel germina- vektor yang sempurna. Timbul kekhawatiran bahwa
tivum saat ini belum diizinkan. HGT dengan meng- penggunaan virus sebagai vektor untuk memasukkan
gunakan sel-sel somatik tidak mengubah tatanan sebuah gen ke dalam inti sel dapat menyebabkan
genetik keseluruhan dari seseorang, hanya sel-sel yang infeksi virus, walaupun virus sudah diubah untuk
berkaitan. Keunggulan HGT yang jelas dibandingkan mencegahnya menimbulkan penyakit.
dengan modalitas lain yang disebut di atas adalah Sel-sel bakal (stem cells) sering digunakan sebagai
penargetan secara spesifik yang ditujukan kepada sasaran untuk terapi gen karena sifabnya yang selalu
sumber penyakit di tingkat genetik. HGT masih berproliferasi. Sel tumor, otot, dan hati juga dapat
merupakan terapi eksperimental dan sedang diteliti menjadi sasaran untuk HGT (Tabel2-1).
secara aktif untuk digunakan, di antaranya, pada Setelah dimasukkan ke dalam sel, maka gen harus
kanker, penyakit kardiovaskular, penyakit imuno- terintegrasikan ke dalam genom pejamu, dan harus
defisiensi, dan sindrom imunodefisiensi didapat terjadi ekspresi normal dari gen tersebut. Sampai saat
(ArDS). ini uji-uji klinis belum memberi hasil konklusif tentang
Keberhasilan HGT bergantung pada penentuan efektivitas HGT. Aplikasi terapi gen tidaklah mudah
gen yang sesuai, adanya sistem penyaluran yang tepat, dan dibatasi oleh banyak kendala. Sebagai contoh, satu

cohtoh sasaran untuk Teiapi Gen pada:, Penyakii,Terlentu

F,,ibrgsis k!,9,,!ik ,:lirr


:r
li ::: .,, r' i::1 .,' : :,
Sel paru
, kistik (CFJR) ,-..,,,-., - ;, ..,,:.

H iperkolesterolemia familial Gen reseptor llnolroteln Censitas:rendah Sel hati :::::,:: :: :r:,

Anemia sel sabit cer1 Oiooln.beta .,', , ,:


.',,,.,,
,
set,bard
lematonoletik
Defisiensi adenosin deaminase (imuno- Gen::adenoSindeaminass,(ADA),,,'. timfoSit,,:::r,. :::::.
oelrsrensr)
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit sne z 35

kali infus produk gen yang stldah dikoreksi mungkin Famili gen sitokrom p450 berperan dalam meta-
tidak bertahan lama, dan diperlukan pemberian bolisme sebagian besar obat. Salah satu gen dalam
berulang. Demikian juga, kehandalan dalam me- famili ini, CYP2D6, bertanggung jawab untuk meta-
masukkan gen yang sudah diperbaiki ke dalam genom bolisme antidepresan, turunan morfin, dan sebagian
sel pejamu jauh lebih kecil dari 100% sehingga ekspresi obat kardiovaskular. Walaupun sebagian besar orang
produk gen rendah. tidak mengalami masalah dengan metabolisme obat-
Masalah keamanan juga menjadi perhatian. obat ini, namun terdapat suatu subpopulasi yang
Walaupun profil keamanan HGT secara keseluruhan dianggap "poor metabolizers" karena polimorfisme di
baik, namun beberapa kematian pernah dikaitkan gen CYP2D6. Poor metabolizers tidak dapat mengurai-
dengan terapi gen. Risiko lain pada terapi gen adalah kan obat secepat orang dengan varian biasa gen
ekspresi berlebihan gen yang dimasukkan yang tersebut. Para individu ini akan memperlihatkan
menimbulkan kerugian bagi pasiery reaksi peradangan
peningkatan reaksi simpang obat dengan dosis standar
dan imun sebagai respons terhadap dimasukkannya
akibat berkurangnya waktu bersihan.
virus (sebagai vektor), dan insersi gen yang benar ke
Sebaliknya, variasi lain mungkin menimbulkan efek
dalam tempat yang salah di dalam genom pejamu yang
yang berlawanan. Sebagai contoh, orang-orang tertenbu
dapat menimbulkan kanker.
dapat menerima kodein untuk mengatasi nyeri.
Uji-uji klinis pertama yang melibatkan HGT dan
Apabila orang-orang ini memiliki polimorfisme
penyakit pertama yang disetujui untuk diterapi dengan
tertentu pada gen CYP2D6, maka mereka tidak dapat
HGT adalah defisiensi adenosin deaminase (ADA),
mengubah kodein menjadi bentuk aktifnya sehingga
yang menimbulkan sindrom imunodefisiensi. Uji klinis
pertama dilakukan pada tahun 1990, ketika dua anak
tidak mengalami pengurangan nyeri. Walaupun
perawat mungkin menganggap respons ini sebagai
dengan defisiensi ADA diobati dengan terapi gen. Gen
yang benar dimasukkan ke dalam limfosit pasien (ex
perilaku selalu menginginkan obat, namun pada
aiao), dan limfosit-limfosit
kenyataannya respons ini mungkin disebabkan oleh
ini diinfuskan kembali ke
pasien (Gbr. 2-1\. Fungsi imun subjek berespons, variasi genetik pasien.
walaupun durasi efek singkat saja sehingga diperlu- Manfaat klinis f armakogenetik adalah kemampuan
kan pemberian terapi tambahan. Walaupun pasien untuk memprediksi respons seseorang terhadap obat
mendapat HGT, namun kebutuhan untuk obat dan dengan demikiankita dapatmemberi terapi yang
sesuai; tujuannya adalah untuk meresepkan obat yang
suplemen untr-rk mengendalikan penyakit mereka tetap
tepat dengan dosis dan waktu yang juga tepat. DNA
ada. Pasien harus melanjutkan pengobatan mereka
microarray, atau teknolo gr chip DNA merupakan alat
untuk mengendalikan penyakit, walaupun dengan
yang bermanfaat unluk mengidentifikasi polimorfisme
dosis yang lebih rendah.
Terapi gen memberi banyak harapan, walaupun individual sehingga kita dapat membuat rencana
pengobatan yang disesuaikan setiap pasien.
pemakaian praktis, efektivitas, dan aplikasinya masih
Tanggung jawab perawat dalam farmakogenetik
perlu diwujudkan.
yang perannya semakin besar ini adalah menjelaskan
kepada pasien mengenai alasan di balik pemilihan,
penentuan dosis, dan penentuan waktu pemberian
obat serta mengantisipasi kemungkinan perubahan
FARMAKOGENETIK metabolisme obat dalam populasi pasien tertentu.

Farmakogenetik adalah suatu bidang penelitian yang


menarik dengan potensi aplikasi klinis yang luas.
Farmakogenetik adalah ilmu yang mempelajari PROYEK GENOM MANUSIA
bagaimana perbedaan genetik individual mempe-
ngaruhi respons terhadap pengobatan. Respons pasien Genetika sedikit banyak menyentuh dan mempe-
terhadap pengobatan tertentu sering sangat bervariasi. ngaruhi semua penyakit puda *a.rusia. Banyak
Variasi respons ini mungkin sebagian besar perhatian dan kegairahan mengenai genetika berasal
disebabkan olehpolimorfisme di dalam gen-gen yang dari Proyek Genom Msnusis (HGP ). Upaya intemasional
terlibat dalam penyerapan, metabolisme, dan eliminasi ini dimulaipada tahun 1990 dengan tujuanmencakup
suatu obat. Farmakogenetik tidak memberi tahu dokter konstruksi sebuah peta fisik semua gen manusia,
mengenai status penyakit; bidang ini memprediksi penentuan sekuensi lengkap genom manusia, dan
responsivitas seseorang terhadap obat tertentu. pengembangan teknologi-teknologi baru.
36 BAGIAN SATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM MEKANISME PENYAKIT

Gen ADA yang diklon


bergabung ke dalam firus

t
--4**-
YV
->5li::?;:1
Sel yang berubah
dari pasien
nt {t\.
\"1 ?
secara genetik
diinfuskan ke pasien
'-YA
I
I
Retrovirus
I mentransfer
I oen nDA ke sel
f
Jr 1"f,
- Sel bedumbuh dalam biakan I
I

Gbr. 2-14 Gen ADA dimasukkan ke dalam sebuah virus vektor, kemudian virus menginJeksi sel darah putih yang
telah diambil dari pasien. Sel-sel darah puiih iersebut ditumbuhkan di dalam biakan untuk mencapai jumlah sel yang adekuat.
Setelah tercapai, sel-sel dinrasukkan kembali ke pasien melalui infus lV (Dimodifikasi dari Klug WS, Cummings MFI:- Essentials of genetics,
ed- 4. New Jersey, Prentice Hall, 2000).

Pada bulan Februari 2001 disampaikan pengumurn- ini. Samanthh tidak ingin satupun anggota keluarga-
an bahwa sekuensi genom manusia sudah berhasil nya meng€tahui hasil uji genetiknya. Apakah
diketahui. Apa arti hal ini? Urutan nukleotida dari kewajiban penyedia layanan kesehatan meffrper-
genom manusia keseluruhan telah diketahui. Walau- tahankan keputusan otonomi dan kerahasiaan
pun hal ini sendiri merupakan pencapaian yang luar Samantha atau memberi tahu anggota keluarga lain?
biasa, namun masih banyak yang perlu dikerjakan. Bagaimana dengan penentuan status BRCA1 pada
Sekuensi DNA mungkin diketahui, tetapi makna dan anak di bawah umur saat penyakit belum diharapkan
funpionalitas sebagian besar genom masih belum jelas. mnncul sampai anak tersebut mencapai masa dewasa?
Salah satu aspek pada HGP adalah pengembangan Dalam hal ini, pemeriksaan pada anak tidak dianjur-
suatu program yang disebut ELSI: Ethicnl, kgal, nnd kan sampai merekamenjadi dewasa secaralegai, tetapi
Socinl trssues yang berkaitan dengan genetika. Tujuan anak dari keluarga dengan adenopoliposis farnilial
EISI adalah rneneliti dampak HGP dan meningkatnya dapat diperiksa pada usia yang lebihdini karena poiip
pengetahuan tentang genetik dalam konteks etika, dapat tumbuh pada usia remaja. Risiko memberi cap
hukurn, dan rnasyarakat. Uji genetik menyebabkan mutasi pada seorang anak harus dipertimbangkan
timbulnya banyak pertanyaan dan isu mengenai aspek terhadap manJaat interyensi dan pemantauan yang
tersebut. lersedia.
Informasi genetik bersifat unik dibandingkan Masalah rumit lainnya, seperti pengungkapan
dengan informasi medis lain yaitu bahwa informasi hasil uji genetik, dan diskriminasi genetik, rnisalnya
ini memiliki dampak penting bagi keluarga, bukan yang berkaitan dengan pekerjaan dan asuransi, sering
hanya pasien yang bersangkutan. Salah satu aspek dijumpai individu dan keluarga yang menghadapi
dalarn praktik kedokteran Barat adalah kerahasiaan kemungkinan pemeriksaan genetik. Perawat dapat
pasien dan otonomi pasien. Frinsip etis ini mendapat mengan;'urkan bahwa individu yang berisiko untuk
tantangan oleh uji genetik. Contoh berikut memberi suatu rnutasi mengikuti asuransi kesehatan, jiwa, dan
gambaran masalah ini: hendaya sebelum mernulai proses pemeriksaan
Samantha adalah seorang perernpuan dewasa genetik"
yang baru-baru ini diketahui memiliki rnutasi di gen Kornpleksitas ini menekankan perlunya para
tsRCA1, yang berkaitan dengan peningkatan risiko penyedia layanan kesehatan rnengantisipasi dan
untuk kanker payudara. Ia rnemiliki saudara kandung mernbahas masalah-rnasalah ini sebelum pemeriksaan
dan anak yang juga berisiko untuk mutasi herediter genetik, serta perlunya rujukan untuk penyuluhan
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit ele z 37

genetik. Peyuluhan genetik adaiah suatu pendekatan tentang genetik dan masalah-masalah seputar revolusi
tanpa menggiring yang memberikan informasi dan genetik ini.
dukungan bagi individu dan keluarganya yang Informasi genetik meningkat pesat. Karena itu,
sedang menjalani pemeriksaan genetik. Penyuluhan sumber-strmber gene tik o n-line :meny ediakan informasi
dilakukan oleh penyuluh genetik yang sudah memiliki terkini dan mutakhir:
sertifikat dan perawat genetik yang sudah ber- National Human Genome Research Institute
pengalaman. ht tp / /zuww.nhgri.nih. gou /
:

Perawat berperan penting dalam suatu tim antar- Gene Clinics


disiplin untuk menyebarluaskan informasi genetik http : //wwzu. g ene clinics. com/
kepada pasien dan keluarganya. Untuk menjawab Online Mendelian Inheritance in Man
pertanyaan pasien mengenai HGP untuk mengobati ht tp : //wwu.ncbi.nlm.nih. g ou /Omim /
penyakit genelik, perawat perlu memiLiki penge tahuan

.(orvsrP KUNCt

Faktor intrinsik (di dalam individu) dan faktor ngan yang asli. Fembentukan pasangan basa
ekstrinsik (lingkungan) sa1'a tidak dapat men- kemudian diperiksa dan dikoreksi sesuai kebu.
jelaskan penyakit. Penyakit hampir setalu terjadi tuhan. Replikasi berlangsung didalam nukleus
karena interaksi Antara hereditas dan lingkungan. sel. .
Spektrum penyakit atau gangguan terletak di DNA polimqrase adalah enzim penting yang
sepanjang suatu kontinum yang mencerminkan berperan dalam replikasi DNA;enzim ini berjalan
interaksi antara hereditas dan lingkungan. Di di sepanjang untai DNA, menambahkan
titik-titik eiistrim rertetak penyakit yJng teiutama nukleotida yang tepat k6 ujung bebas untai bhru
ditentukan oleh laktoi genetik (misalnya,,sindrom danmemeriksanya. . " , ,:,rr,1.

Down) atau oleh faktor lingkungan (misalnya, Gen adalah unit dasar hereditas yang terdapat
teftabrak truk) di kromosom. Gen terdiri dari sekuensi (rang-
DN-A, bahan genetik utama, ditemukan di kaian) DNA yang mengandung informasi yang
nukleus semua sel; DNA terdiri darisubunit-sub- diperlukan untuk mengendalikan produk fung-
unit yang disebut nukleotida yang menyatu sional, seperti RNA atju polipeptida (protein)l
membentuk suatu heliks ganda (tangga ber- G e n m e n go nt rol tid ak saj a pewarisa n, tetapi juga
bentuk spiral) fungsi sehari-hari se/. Setiap gen memberi
Nukleotida terdiri dari tiga molekul dasar: instruksi mengenai sintesis suatu prolein: enzim,
deokSiiibosa, fosfat, dan basa nitrogenosa. Dua hormon, antigen, dan reseptor di membran sel.
basa purin mencakup adenin'dan guanin. Dua Melalui pengendalian terhadap sintesis protein,
basa pirimidin adalah timin dan sitosin gen mengatur aktivitas seltubuh.
Struktur DNAserupa dengan tangga berbentuk 'Dogma sential pada jenetlke mote;kutar AdAi,lah
spiral, dengan ikatan kimiawi sebagai anak bahwa DNA membuat RNA dan RNA membuat
tangganya. Sepasang tiang tangga terdiri dari Protein. ' :' "::

molekul deoksiribosa dan fosfat, Setiap anak Pada dasarnya, slnfesr's proteinadalah proses
tangga terdiri dari dua paruhan yang terdiri dari sekuensi basa di DNA menghasilkan sekuensi
salah satu,dari empat basa yang disatukan asam amino yang sesuai di rantai polipeptida
dengan ikatan hidrogen;A selalu berpasangan yang dihasilkan. Sekuensitiga basa di DNA, atau
dengan T dan G dengan C. Struktur ini adalah kodon, menentukan satu asam amino.
rahasia dari kbakuratan replikasiDNA. Saat Sinfesis protein yang diarahkan oteh DNA
Sebuah sel membelAh, untai ganda DNA.nya berlangsung melalui dua proses: transkr:ipsi .d.ii
membuka dan terbagi di tengah- masing-masing nukleus dan translasi di sitoplasma.
anaktangga, Daridua paruhan ini, sel menghasil: Transkripsi adalah proses sintesis mRNA
kan dua tangga yang lengkap yang identik de- komplementerdari cetakan DNA $ehingg *ode,:
38 BAG IAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

genetik untuk sintesis protein dipindahkan dari Genotipe adalah representasi alelik lang
DNA ke mRNA, dibantu oleh RNA polimerase. sebenarnya dari seseorang, baik untuk lokus
FNA secara kimiawiserupa dengan DNA kecuali tertentu maupun untuk genom keseluruhan
bahwa struktur ini memiliki untai tunggal (dan Fenotipe adalah karakteristik seseoran$ yang
bukan untai-ganda), moiekul gula ribosa (bukan dapatterlihat,yaituekspresigenotipe.,,::,
deoksiribosa), dan urasil (bukan timin) sebagai Kromosomlerdiri dari dua kromatid (untai OtrtR
salah satu dariempat basanya. identik) yang disatukan di tengah-tengah oleh,:
Translasiadalah proses sintesis asam amino sentromer, yang memisahkan lengan pendek(p)
pada polipeptida tertentu dari cetakan mRNA, darilengan panjangnya (q). ,

asam-asam amino diletakkan dalam suatu Ka riot ipe adalah f otom krog raf sus
i u nan pasangan
sekuensi berurutan seperli yang ditentukan oleh kromosom sesegrang berdasarkah posisi,
sekuensi basa mRNA. Penyusunan polipeptida sentromer dan panjang (dari terbesar sampa!
(protein) berlangsung di ribosom dengan bantuan terkecil). Kariotipe perempuan normal ditutis
RNA ribosomal (rRNA) dan RNA transfer (IRNA). 46,XX dan laki-laki normal 46,XY. Kariotipe
Walaupun semua nukleus selmemilikikode gene- bermanfaat untuk mengungkapkan kelainan
tik yang sama, namun hanya sebagian dari gen kromosom yang menyebabkan berbagai penyakit
iniyang diekspresikan pada suatu saaI. Gen-gen Mutasi dapat didefinisikan sebagai perubahan
regulatoikmenentukan gen-gen mana yang di- permanen pada DNA. Mutasi yang terjadi di
aktifkan (diekspresikan) dan yang mana yang di- gamet diwariskan ke keturunan dan dapat
inaktifkan. Dengan demikian, sebuah selotot dapat menyebabkan penyakit herediter; mutasi yang
mensintesis protein aktin tetapi tidak insulin. timbul di sel somatik penting dalam pemben-
Didalam nukleus sel, DNA melekaterat menge- tukan kanker dan sebagian malformasi kongenital.
lilingi suatu protein berbentuk batang (histon) Mutasi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga
uniuk memh enluk kromosom. kategori, didasarkan pada luasnya perubahan
Gamet (ovum atau sperma) memiliki 23 genetik: (1) mutasigenom, berupa pengurangan
kromosom, yailu jumlah haploid (N=23) yang atau penambahan kromosom keseluruhan
dihasilkan oleh suatu jenis pembelahan selyang sehingga terjadi monosomi atau trisomi; (2)
disebut merbsis. Penyatuan ovum dan sperma mutasi kromasom, terjadi akibat penyusunan
dalam reproduksi akan menghasilkan iumtah ulang bahan genetik sehingga terjadi perubahan
d iploi d (2N=46) kromosom. struktur kromosom yang dapat dilihat; dan (3)
Manusia memiliki46 kromosom (23 pasang)di mutasi gen, mutasititk (substitusi satu basa),
semua seltubuh somatik. Salah satu anggota dan mutasi frameshift akibat delesi atau insersi
dari masing-masing pasangan berasal dari ibu kecil yang mengenai sekuensi pengkode.
dan yang lain dari ayah. Dua puluh dua pasang Penyakit genetik biasanya diklasifikasikan ke
adalah otosom dan pasangan sisanya adalah dalam tiga kelompok penyakit gen tunggal yang
'kromosom seks yang menentukan sifat diwariskan secara Mendelian, penyakit multi-
perempuan (XX)atau laki-laki (XY) faktor, dan kelainan kromosom.
Lokus menunjukkan tempat suatu gen (satuan Bagan silsilah atau bagan Punnett adalah alat
itranskripsional
DNA) berada di sebuah kromo. analisiS genetik yang digunakan untuk mem-
som. Sebuah gen dalam keadaan normalterletak lruktikan atau memperkirakan pola pewarisan
di lokus yang sama pada sebuah kromosom. dalam keluarga.
Aletadalahsalah satu daridua atau lebih bentuk Penyakit gen tunggal memiliki pola pewarisan
alternatif gen yang terletak di lokus yang sama. Mendelian yang berlainan dan dapat diklasi-
Satu alet untuk setiap lokus diwarisidari masing- fikasikan berdasarkan apakah gbh abnoimal
masing orang tua terletak di salah satu dari 22 autosamalata8.:di
Homozigatadalah individu yang memitiki dua alel kromosom seks (ferkarT-seks).
identik p,ada suatu lokus tertentu pada sepasang Pe nyakit re sesif autosomal hanya diekspresi kan
kromosom homolog pada homozLgot(dua salinan darigen abnormal
Heterozigotadalah individu yang memiliki dua [aa], satu di masing-masing pasan$an,kromo-
beibeda pada suatu lokus tertentu pada
,.alel: som), Heterozigot yang memiliki hanya satu
sepasang kromosom homolog salinan gen abnormal disebut pembawa sifat
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit eaa z 39

(carrien Aa) dan dapat mewariskan penyakit orang tua adalah pembawa sifat, maka setiap
kepada keturunan tetapi tidak mengekspresikan anak memiliki probabilitas 50%,:menjadi
penyakit pembawa sifat, probabilitas 25% mengidap
Penyakit dominan autosomal dapat timbul pada penyakit, dan probabilitas 25% tidak terkena;
,hetdrozigot{satu salinan gen abnormal [Aa] di (7)awitan penyakit sering pada usia muda; (B)
pasangan,kromosom, sedangkan gen yang lain gen mutan sering menyebabkan defisiensienzim
normal) atau pada homozigot(dua salinan dari (kelainan metabolisme herediter); dan (9) mutasi
gen abnormal [AA], satu di masing-masing gen baru jarang terjadi
kromosom) Contoh gangguan resesif autosomal adalah
Penetransi mengacu kepada proporsi orang albinisme. fibrosis kistik, fenilketonuria, penyakii
dengan genotipe penyakit tertentu yang benar- sel sabit, penyakit Tay-Sachs, pbnyakit
benai mengekspresikan fenotipe penyakit., penimbunan glikogen, dan buta warna.
Penurunan penetransi berarti bahwa individu yang Karakte risti k penyakit reses if te rkait-X adalah
memiliki mutasi tersebut tidak selalu meng- sebagai berikut: (1) gen mutan terletak di kro-
ekspresikan fenotipe mutan. mosom X; (2) laki-laki lebih sering terkena
Ekspresivitas adalah tingkat penampakan daripada perempuan; (3) diperlukan hanya satu
karakteristik suatu gen yang terdapat pada salinan gen mutan untuk ekspresipada laki.laki
seseorang. Apabila suatu gen memiliki eks- (hemizigot); (4) unluk ekspresi pada perempuan ,

presivitas yang bervariasi, maka sifat yang timbul biasanya dibutuhkan dua salinan gen mutan; (5)
dapat bervariasidari ringan sampai parah inaktivasi-X yang tidak seimban g menyebabkan-
Karakteristik penyakit dominan autosomal ekspresi penyakit pada perempuan pembawa
adalah sebagai berikut: ('1) diekspresikan pada sifat; (6) ibu pembawa sifat dan ayah normal
heterozigot (ser:ing) atau homozigot fiarang); (2) akan menghasilkan putra dengan probabilitas
laki-laki dan perempuan sama seringnya terkena; 50% terkenq dan putridengan probabilitas 50%
(3)sering dijumpai riwayat keluarga vertikal pada menjadi pembawa sifat; (7) semua putrf daiiayih
bagan silsilah (penyakit tampak di setiap yang mengidap penyakit dan ibu normal akan
generasi); (4) setiap anak dari satu orang tua menjadi pembawa sifat; dan (B) tidak terjadi
normal dan satu heterozigot memiliki kemung- pewarisan dariayah ke putranya.
kinan 50% terkena; (5) usia awitan penyakit Contoh gangguan resesif terkait-seks adalah
sering tertunda; (6) ekspresi klinis biasanya distrofi otot Duchenne, hemofilia A dan B,
sangat bervariasi: (7) penetransi mungkin defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase
inkomplit; (B) sering terjadi defek protein (GOPD), dan hipogamaglobulinemia Bruton
struktural (misal, reseptor membran, protein Beberapa gangguan gen tunggal memilikipo/a
struktural kunci seperti kolagen); (9) sering terjadi pewarisan nonMendelian yang tidak lazim,
mutasigen baru; dan (10) kecenderungan lebih termasuk mutasi mtDNA, genomic imprinting,
ringan dibandingkan dengan penyakit resesif, dan ekspansi triplet nukleotida
Contoh gangguan dominan autosomal antara lain Walaupun sebagian besar bahan genetik ter-
adalah hiperkolesterolemia familial, penyakit dapat di nukleus sel, namun DNA juga ditemukan
ginjai polikistik dewasa, penyakit von Willebrand, di mitokondria. DNA mitokondria (mtDNA,)
neurof ibromatosis, retinoblastoma, dan sindrom diwariskan ke keturunan laki-laki dan perempuan',:,,,
Marfan hanya melalui pewarisan maternal (karena
Karakteristik gangguan resesif autosomal mitokondria pada mudigah berasal dari ovum).
adalah sebagai berikut: (1) diekspresikan hanya Penyakit Leber dan si nd rom Kearn s-Sayre, y ang
pada homozigot (aa) (2) heterozigot (Aa) secara menyebabkan gangguan penglihatan, .adAlah
fenotipe adalah normal (pembawa sifat); (3) laki- penyakit mitokondria yang diwarisidari ibu ,, ',
lakidan perempuan sama seringnyaterkena; (4) Genomic i mprinti ng adalah perbedaan ekspresiriiiiirjrr
tampak pola pewarisan horizontal (terdapat pada sebuah gen pada seorang anak, bergantung pada
saudara kandung tetapi biasanya tidak pada orang tua dari mana alel,tersebut bera5al.
orang tua); (5) sering terjadi konsanguinitas (per- Sindrom Prader-Willi dan sindro,m Angelman
kawinan sedarah) orang tua yang keduanya keduanya disebabkan oleh delesidi kromosbm ;
merupakan pembawa sifat; (6) apabila kedua 15. Penyakit pertama diekspresikan apanita
40 BAGIAN sATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM:MEKANISMEPENYAKIT

diwarisi dar,i ayah ; penyakit yang terakh i r apabila sering dijumpai dan'disebabkan oleh delesi
diwarisi dari ibu. sebagian dari kromosom 5.
Penyakit Huntington aOatafr suatu contoh Penyakit multifaktor sering :dijUmpai'dan
pbnyakit genetik yang diketahui:terjadi akibat diperkirakan melibatkan dua atau lebih gen
terbentuknya banyak pengulangan triplet dan mutan, serta pemicu dari lingkungan; contohnya
diwariskan secara dominan autosomal. adalah hipertensi, diabetes,:kanker, dan penyakit
Duatipe uta.ma kelainan kromosom berdasarkan Alzheimer
analisis sitogenetik adalah aneuploidi atau Faktor-faktor yang memicu kelainan perkem-
kelainan jumlah kromosom individual dan ke- bangan mudigah dikenal sebagai teratogen.
lainan strukturat pada masing-masing Faktor teratogenik terpenting adalah obat dan
lr:omosom. ,, ,, bahan kimia (misal, talidomid, atkohol), radiasi
SebUah gamet:naptoiO normal (ovum atau pengion (misal, pajanan sinar-X), dan infeksipada
sperma)memiliki22 otosom dan satu kromosom ibu (misalrubela)
Seks, Namun, pemisahan kromosom yang bb- U lt rason ag rafi, am nbs entesis,, dan pengArmbitan
normal sewaktu meiosis dapat menyebabkan sampel vilus korion: adalah metode-metode
delesi, nondisjunction, atau translokasi bahan utama pada penilaian pranatal penyakit-penyakit
kromosom baik di autosomal maupun kromosom genetik
seks. Penyakit genetik sekarang dapat diidentifikasi
Kelainan terpenting pada jumlah kromosom dengan teknik-teknill: genetik molekular,
adalah trisomi. Pada sindrom Down (trisomi2l ), termasuk reaksi rantai polimerase (pCR),
tambahan kromosom 21 biasanya terjadi akibat restriksi polimorlisme panjang f ragmen (RFLp)
nondisjunction sewaktu pembentukan ovum ibu polimodisme nukleotidatunggal (SNP) , -
haploid. Terapigen adalah terapi penyakit gehetik yaitu,
Gangguan jumtah kromosom seks terjadi akibat gen yang cacat diganti oleh gen normal
nondisjunction. Sindrom-sindrom penting aOatatr Proyek Genom Manusia, yaitu pemetaan dan
sindrom Turner (46,X0) dan sindrom Klinefelter penentuan sekuensi genom manusia kese-
(47,Xn1 luruhan, memberikan harapan bagi kemajuan
Pemutusan dan penyambungan kembali bahan terapi sulih gen untuk beragam penyakit, kema-
kromosom (detesi, translokasi, inversi) menye- j uan di bidang f armakogeneli ka, dan peni n gkatan
babkan kela inan struldur kromasom^ Cri du chat pemahaman dasar-dasar genetik berbagai
adalah salah satu sindrom delesi yang paling penyakit.

SDrnrnruYAAN

Beberapa contoh pertanyaan untuk bab initercantum di sini. Kunjungi htlp://www.mosby.com/MERL|N/PriceWilson/ untuk
pertanyaan tambahan.

Jawablah pertanyaan berikut di lembar 3. Apa yang menentukan apakah suatu alel Mengapa translokasi sering berkaitan
terpisah bersifat dominan atau resesif? dengan kanker hematologik?
1 . Jelaskan aliran informasi genetik dari sel 4, Buatlah sebuah bagan Punnett untuk 7. Apa keuntungan dan kerugian peng-
ibu ke sel anak di tingkat molekular perkawinan dua heterozigot (Bb dengan ambilan sampel vilus korion (CVS)
(replikasi) dan selular (meiosis dan Bb); B adalah alel normaldan b adalah dibandingkan dengan amniosentesis
mitosis) alel mutan resesif. Berapa probabilitas Bagaimana sebuah gen anllsense
2, Jelaskan aliran inlormasi genetik dari seorang anak untuk memiliki fenotipe digunakan untuk memperbaiki penyakit
DNA ke RNA (transkripsi) dan protein mutan? dominan?
(translasi), termasuk enzim-enzim kunci, Bagaimana inaktivasi kromosom-X
tempat spesifik, dan regulator berperan dalam variasi ekspresivitas
pada perempuan?
Hereditos, Lingkungon, don Penyokit ene z 4l

Cocokkan penyakit genetik di kotom A dengan tipe defek di kolom B

Kolom A Kolom B
L NeuropatioptikherediterLeber a. Translokasi
10. Sindrom Klinefelter b. Mitokondria
11. _ Leukemia c. Genomicimpinting
12. Sindrom Down d. Aneuploidi
13. - Sindrom Prader-Willi
14. Sindrom Anqelman
-
-
-
Cocokkan penyakit genetik di kolom A dengan tipe pewarisan di kolom B

A
Kolom Kolom B
15. _ Fenilketonuria a, Terkait-X
16. _ GolongandarahABO b, Dominanautosomal
17 ._ Anemia sel sabit c. Dominan resesif
18. Fibrosis kistik d. Kodominan
19. _ Neurofibromatosis tipe 1

20. _
-
DistrofiototDuchenne
BAB 3

Cedero cion Kemotion Selulor


LORRAINE M. WILSON

air, dan sarana pembuangan sampah. Sel secara


6lARrS BESAR BAB harafiah merupakan trnit kehidupan, entitas terkecil
yang memiliki manifestasi berbagai fenomena yang
ORCANISASISELULAR,42
berkaitan dgngan kehidupan. Dengan demikian sel
MODALITAS CEDERA SELULAR, 43
juga merupakan unit dasar penyakit.
SELYANC DISERANC,44
Organisasi sel "tipikal" hipotetik digambarkan
PTNUBNHNN UORTOIOCIK PADA SEL YANC
pada Cambar 3-1. Sel dibatasi oleh membran sel, yang
CEDERA SUBLETAL, 44
memberi bentuk sel dan melekatkannya pada sel-sel
KEMATIAN SELU LAR, 47
lain. Membran sel merupakan pintu gerbang ke dan
,:,,' Perubahan Morfologik pada Nekrosis, 4/
dari sel, memr-rngkinkan hanya zat-zat tertentu saja
Apoptosis: Kematian Sel yangTerprogram, 49
lewat dengan dua arah, danbahkan secara aktif meng-
Pengaruh Nekrosis,50
angkut zat-zat tertentu secara selektif. Membran sel
NASIB JARINCAN NEKROTIK, 50
juga menerima banyak sinyal kendali dari sekitar
KALSIFI KASI PATOLOC I K, 5 1
tubuh dan menghantarkan sinyal-sinyal ini kebagian
Kalsifikasi Distroiik, 5 1
dalam sel.
Kalsifikasi Metastatik, 5 1
Di dalam sel terdapat ntLkleus, yang bertindak
Pembentukan Batu,52
sebagai pttsat pengaturan karena asam deoksiribo-
KEMATIAN SOMATIK,52
nukleat (DNA) terpusat di dalamnya. Instruksi yang
Perubahan Postmortem, 53
dikodekan di dalam DNA nuklear sebenarnya dilak-
sanakan di dalam sitoplnsma, merupakan bagian sel
yang berada di luar nukleus. Sitoplasma merupakan
medium berair yang mengandung banyak struktur
yang sedemikian kecil sehingga struktur-struktur
tersebut hanya dapat diamati dengan mikroskop
ORGANISASI SELULAR elektron. Organ-organ ultramikroskopik ini disebut
orgnnel, dan memiliki fungsi yang sangat khusus
Walaupun tubuh mengandung banyak jenis sel yang bahkan dalam batas sebuah sel.
berbeda dengan fungsi-fungsi yang sangat spesifik, Mit okondr il adalah organel yan g bertugas mempro-
semua sel, sampai pada taraf tertentu, memiliki gaya dr.rksi energi di dalam sel; mitokondria merupakan
hidup dan unsur struktural yang serLrpa. Sel-sel ini sumber tenaga suatu sel. Di dalam mitokondria, ber-
memiliki kebutuhan yang sama akan oksigen dan bagai zat makanan dioksidasi untuk menghasilkan
suplai zat-zat makanan, suhu yang konstan, suplai tenaga penggerak bagi aktivitas-aktivitas selular

42
Cederc don Kemotion Selulor BAB 3 43

lainnya. Retikulum endoplnsma dan aparattts Golgi dalam sel, seperti memberi kekakuan dan gerakan
merupakan semacam sis tem pembuatan, pemrosesan, dengan cara sistem muskuloskeletal. Berbagai organel
danpenyaluran di dalam sitoplasma. ReLikulum endo- merupakan organisme utuh di dalam mikrokosmos,
plasma merupakan jaringan yang terdiri atas tubuli dan aktivitas organel-organel tersebut harus diatur
dan sistema yang salingberhubungan satu sama lain, dan dikendalikan secara ketat untuk manjaga inte-
sedangkan kompleks Golgi merupakan susunan gritas sel.
sisterna pipih dan vesikel-vesikel terkait yang ber- Setiap sel berhubungan antara satu dengan yang
hubungan erat. Sintesis protein dilakukan di sepan- iain melalui berbagai cara seperti cara sei-sel tersebut
jang retikulum endoplasma di bawah kendali asam membentuk jaringan dan organ. Beberapa jaringan,
ribonukleat (RNA) di dalam ribosom. DNA nuklear seperti epitel pembatas atau epitel penutup, terdiri atas
menghasilkan dan mengarahkan RNA sitoplasmik sel-sel yang tersusun padat yang secara langsung dan
untuk bertindak sebagai semacam tim perakit dalam ketat menempel satu sama lain dengan sedikit ruang
kaitannya dengan peran khusus DNA. Ribosom di antaranya. Kelompok sel-sel tipe ini lunak dan lenbur
melakukan sintesis protein dengan merakit asam-asam serta tidak dapat mempertal-rankan bentuk berbagai
amino menjadi molekul-molekul kompleks menurut organ atau kekuatan seluruh tubuh. Sebenarnya
petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh DNA. Aparatus jaringan ikat menjaga kesatuan tubuh karena jaringan
Golgi merupakan alat pengemas yang membungkus ini memiliki substansi antarsel-yang secara harafiah,
produk-produk sel untuk dikeluarkan (sekresi) atau merupakan zat di antara sel.Zat ini meliputi kolngen,
untuk disimpan di dalam sel. Kompleks glikoprotein merupakan suatu protein yang dihasilkan dalam
tertentu juga dihasiikan di dalam aparatus Golgi. bentuk serabut sangat kuat (sama seperti tendo dan
Lisosom merupakan kemasan enzim pencernaan yang ligamentum), dan elastin, yang jtga merupakan pro-
dibatasi membran yang disiapkan oleh sel dan tetap tein yang dibentuk menjadi serabut, tetapi juga
dibiarkan tidak aktif sampai dibutuhkan. Masih ada memiliki sifat-sifat eiastik. Di antara serabut-serabut
organel lain yang tidak ditunjukkan pada Gambar 3- elastik ini terdapat matriks gelatinosa, atauzat dasar.
1 berperan dalam fungsi-fungsi khusus tambahan di Kombinasi serabut kuat dan elastik serta matriks
memberikan kekuatan, bentuk, dan gaya pegas pada
tubuh. Di dalam rangka, zat antarsel ini terisi dengan
garam-garam kalsium, menghasilkan sokongan tulang
yang kaku pada tubuh.
Sitoplasma

MODALITAS CEDERA SELULAR


Mitokondria
Sel-sel dapat mengalami cedera atau mati dengan
berbagai cara, tetapi tipe-tipe cedera yang penting
cenderung hanya masuk dalam sedikit kategori. Salah
Aparatus Golgi satu faktor tersering pada cedera selular defisiensi
oksigen atnu zat gizi penting ynng lain. Sel-sel bergantung
pada suplai oksigen yang kontinu, karena oksigen
Membran sel
merupakan energi pada reaksi-reaksi kimia oksidatif
yang menggerakkan mesin sel dan mempertahankan
integritas berbagai komponen sel. Oleh karena itu
tanpa oksigen berbagai aktivitas pemeliharaan dan
Retikulum penyintesis sel berhenti dengan cepat.
endoplasma Tipe kedua cedera adalah fisik,yangmeliputi gang-
Ribosom guan sel yang sebenarnya atau paling sedikit gang-
guan hubungan spasial yang biasa di antara berbagai
organel atau integritas strukturai satu atau lebih tipe
Gbr. 3-1 Diagram sel tipikal hipotetik. Ditunjukkan dasar struktural organel. Dengan demikian, cara cedera mekanis dan
pembagian kerja di dalam sel. Sebaiknya diperhatikan bahwa di
dalam tubuh yang hidup, membran sel tidak hanya mengikat sel
termal merupakan penyebab signifikan penyakit pada
dan mengendalikan akses kontrol ke bagian dalam tetapi juga manusia. Perubahan mendadak tekanan, radiasi, dan
menggabungkan sel dengan sel-sel lain untuk membentuk jaringan. kejutan listrik merupakan cara cedera fisik yang jarang.
44 BAGIAN SATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM:MEKANISMEPENYAKIT

Agen infeksius yang hidup merupakan cara ketiga sional terganggu dapat tidak memberikan bukti
cedera selular, dan organisme-organisme tertentu gangguan secara morfologik.
menyebabkan cedera sel dengan berbagai cara. Reqksi- Akibat suatu serangan pada sebuah sel tidak selalu
reaksi imunologik merupakan cara keempat cedera mengakibatkan gangguan fr,rngsi. Pada kenyataannya,
selular. Walaupun secara normal sistem imun ber- terdapat mekanisme adaptasi selular terhadap ber-
tindak sebagai pertahanan terhadap antigen asing, bagai macam kesulitan. Sebagai contoh, suatu reaksi
reaksi imun dapat juga menyebabkan cedera sel. Reaksi pada sel otot yang sering terjadi yang berada di bawah
anafilaktik terhadap sengatan lebah atau obat tekanan abnormal adalah meningkatkan kekuatan
merupakan contoh utama (Iihat Bab 9). dengan pembesaran, suatu proses yang disebut
Akhirnya, ag en- a g en kimia merup akan cara cedera hipertrofi. Dengan demikian, sel-sel otot jantung pada
selular yang sering terjadi. Tidak hanya zat-zat toksik seseorang dengan tekanan darah tinggi mengalami
yang masuk ke dalam sel-sel dari lingkungan tetapi pembesaran untuk menanggulangi tekanan memompa -
juga penimbunan substansi endogen (seperti yang saat menghadapi tahanan yang meningkat. Jenis
secara genetik "kelainan" metabolik) dapat men- adaptasi serupa terladi berkenaan dengan tantangan
cederai sel. kimiawi tertentu. Barbiturat danzat-zat tertentu lain
biasanya dimetabolisme di dalam sel-selhati, dibawah
pengaruh sistem enzim yang ditemukan di dalam sel-
sel ini dalam kaitannya dengan retikulum endo-
SEL YANG DISERANG plasma. Seseorang yang mengonsumsi barbiturat
sering mengalami peningkatan mencolok jumlah
Jika stimulus yang menimbulkan cedera diberikan retikulum endoplasma di dalam sel-sel hati, yang
pada sebuah sel, efek pertama yang penting adalah berkaitan dengan peningkatan kandungan enzim
lesibiokimia. Proses ini meliputi perubahan kimia pada dalam sel-sel ini dan peningkatan kemampuan untuk
salah satu atau lebih reaksi metabolik di dalam sel. memetabolisme obat ini.
Pada tingkat awal ini hanya sedikit tipe cedera yang
benar-benar dipahami. Walaupun dapat terlihat
adanya perubahan kimia pada sel-sel yang mengalami
cedera, kelainan yang sering tercatat adalah dengan PERUBAHAN MORFOLOGIK PADA SEL
cara kedua atau ketiga bukannya petunjuk adanya lesi YANG CEDERA SUBLETAL
biokimiawi primer. Bila kerusakan biokimiawi sudah
terjadi, sel dapat memiliki manifestasi atau tidak
Jika sel-sel mengalami cedera tetapi tidak mati, sel-sel
memiliki manifestasi kelainan fungsional. Pada kasus
tersebut sering menunjukkan manifestasi perubahan-
banyak cedera, sel memiliki cukup cadangan tanpa
perubahan morfologik yang dapat dikenal dengan
menimbulkan gangguan fungsional; pada keadaan
mudah. Perubahan-perubahan subletal ini paling
lain, dapat terjadi kegagalan kontraksi, sekresi, atau
tidak secara potensial reversibel, yaitu, jika rangsang
aktivitas-aktivitas sel yang lain. Pembeda yang yang menimbulkan cedera dapat dihentikan, sel-sel
terutama penting berkaitan dengan hal ini adalah tersebut kembali pada sehat seperti sebelumnya.
luasnya gangguan produksi energi (disertai deplesi Sebaliknya, perubahan-perubahan ini dapat merupa-
adenosin trifosfat [ATP]) dan luasnya gangguan fungsi kan suafu langkah menuju kematian sel jika pengaruh
membransel. berbahaya ini tidak dapat diatasi. Perubahan subletal
Suatu sel dengan kelainan biokimiawi dan fung- pada sel secara tradisional disebut degenerasi atau
sional dapat atau tidak dapat menunjukkan per- tiap sel di dalam
perubahan degeneratif. Walaupun
ubahan morfologik yang dapat dideteksi. Keterbatasan tubuh dapat menunjukkan perubahan:perubahan
keadaan ini adalah pada segi teknis. Perubahan- semacam itu, sel-sel yangsecara metabolik aktif, seperti
perubahan yang jelas pada pemeriksaan mikroskopik sel hati, ginjal, dan jantung, secara tipikal terlibat.
rutin umumnya adalah perubahan-perubahan lambat, Perubahan-perubahan degeneratif cenderung melibat-
karena banyak kelainan biokimia dan fungsional kan sitoplasma sel, sedangkan nukleus mempertahan-
dapat terjadi sebelum kelainan anatomik menjadi jelas. kan integritas selama sel tidak mengalami cedera letal.
Dengan ditemukannya mikroskop elektron semakin Walaupun terdapat agen-agen yang menimbulkan
memungkinkan deteksi lebih awal lesi mikroskopik cedera atau cara-cara spesifik dalam jumlah yang
berbagai organel. Akan tetapi, dengan teknik yang sangat banyak untuk menyerang sel, kumpulan
tersedia sekarang ini, banyak sel yang secara fung- ekspresi morfologik cedera sebenamya cukup terbatas.
Cederc don Kemotion Selulor BA B 3 45

Bentuk perubahan degeneratif sel yang paling oleh peningkatan sedang berat badan. Jika pengaruh
sering dijumpai adalah penimbunan alr di dalam sel- buruk yang menimbulkan pembengakkarl selular
sel yang terkena. Sebenamya, cedera menyebabkan dapat dihilangkan, setelah beberapa saat sel-sel
hilangnya pengaturan volume pada bagian-bagian sel. biasanya mulai mengeluarkan natrium, dan bersama-
Untuk mempertahankan kekonstanan lingkungan sama dengan air,volumenya kembali menjadi normal.
internalnya, suatu sel harus menggunakan energi Perubahan ini hanya merupakan gangguan ringan
metabolik untuk memompa ionnatrim keluar dari sel. pada keadaan normal.
Proses ini terjadi pada tingkat membran sel. Apa pun Jika terdapat aliran masuk air yang hebat, sebagian
yang mengganggu metabolisme energi di dalam sel organel sitoplasma, seperti retikulum endoplasma
atau sedikit saja mencederai membran sel dapat dapat diubah menjadi kantong-kantong yang berisi-
menyebabkan sel tidak mampu memompa keluar ion air. Pada pemeriksaan mikroskopik, terlihat sitoplasma
natrium dalam jumlah yang cukup. Akibat osmosis sel yang bervakuola (Gbr. 3-2). Keadaan ini disebut
alami pada peningkatan konsentrasi natrium di dalam perubahan hidrofik atau kadang-kadang disebut
sel adalah masuknya air ke dalam sel. Akibatnya perubahan vakuolar. Tampilan makroskopik dan
adalah perubahan morf ologik yang disebut p emb en g - makna perubahan yang terjadi pada organ-organ yang
knksn selulqr. Perubahan ini dulu disebulpembengknkan terkena identik dengan perubahan yang terjadi pada
keruh (cloudy swelling), karena suatu organ yang pembengkakan selular.
mengalami perubahan ini secara makroskopis sel- Perubahan yang lebih signifikan daripada pem-
selnya memiliki gambaran setengah matang, dan sel- bengkakan selular sederhana adalah penimbunan
sel yang terkena secara mikroskopis sitoplasmanya lipid intraselular di dalam sel-sel yang terkena. ]enis
terlihat granular. Bila air tertimbun di dalam sito- perubahan ini biasanya terjadi pada ginjal, otot
plasma, organel sitoplasma menyerap air ini, menye- jantung, dan khususnya hati. Secara mikroskopis,
babkan pembengkakan mitokondria, pembesaran sitoplasma dari sel-sel yang terkena tampak ber-
retikulum endoplasma, dan sebagainya. vakuola dengan cara yang sama seperti yang terlihat
Secara mikroskopis perubahan pembengkakan pada perubahatr hidrofik, tetapi isi vakuola itu adalah
selular cukup sedikit dan hanya melibatkan pembeng- lipid bukannya air. Di hati, banyaknya lipid yang
kakan sel serta perubahan ringan pada teksturnya. tertimbun di dalam sel sering relatif banyak, dengan
Secara makroskopis terlihat pembesaran jaringan atau demikian inti sel terdesak ke satu sisi dan sitoplasma
organ yang terkena, yang biasanya dapat dideteksi sel diduduki oleh satu vakuola berisi-lipid (Gbr. 3-3).
Secara makroskopis perubahan pada jaringan yang
terkena meliputi pembengkakan jaringan, penam-
bahan berat pada organ-organ yang terkena, dan
sering terlihat silinderberwarna kekuningan yang jelas
pada jaringan akibat adanya kandungan lipid. Hati
yang berat terkena sering berwama kuning cerah dan
terasa berlemak jika disentuh. Jenis perubahan ini
disebrt perubahan berlemak atau stentosis (atau kadang-
kadang degenerasi lemak atau infiltrasi lemak).
Steatosis sering terjadi karena dapat ditimbulkan
oleh banyak mekanisme yang berbeda, terutama di hati.
,1" & Hepatosit (dan jenis sel lain), secara normal terlibat
dalam pertukaran metabolisme aktif lipid. Zat-zat ini
secara konstan dimobilisasi dari jaringan adiposa ke
dalam aliran darah r f ang kemudian zat-zat tersebut
diekstrak oleh sel-sel hati. Sebagian lipid yang
diabsorpsi oleh sel dioksidasi, sedangkan sebagian
lagi dikombinasi dengan protein yang disintesis oleh
sel dan kemudian dikeluarkan dari sel (yaitu, ke dalam
aliran darah) dalam bentuk lipoprotein.
Gangguan proses pertukaran biasa yang terjadi
Gbr. 3-2 Perubahan hidropik pada epitel tubulus ginjal. Sel-sel
pada beberapa tempat dapat menimbulkan akumulasi
epitel membatasi tubulus kontortus membesar dan bervakuolisasi,
sitoplasma terlihat seperti-renda karena penimbunan air intraselular. lemak di dalam sel. Sebagai contoh, jika terdapat
(Fotomikrograf, 500X.) kelebihan lipid pada sel hati, maka kemampuan
46 BAGIAN sATu PENDAHULUANPATOLOGIUMUM:MEKANISMEPENYAKIT

metabolisme dan sintesis sel tersebut akan dapat Respons lain pada sel-sel yang terkena adalah sel-
terlampaui, dan lipid akan tertimbun di dalam sel. sel tersebut mengalami pengurangan massa, secara
Sebaliknya, jika lipid mencapai se1 dalam jumlah harafiah mengalami penyusutan. Kelainan didapat
normai tetapi oksidasi terganggu oleh cedera selular, berupa berkurangnya ukuran sel, jaringan, atau organ
maka lipid akan tertimbun. Akhirnya, jika proses dtsebutntrofi. Sel atau jaringanyang alrofik tampaknya
sintesis lipoprotein dan pengeluarannya terganggu di mampu mencapai keseimbangan di bawah keadaan
beberapa tempat, maka lipid juga akan tertimbun. berlawanan yang dipaksakan padanya dengan
Karena sebab-sebab inilah perlemakan hati dapat mengurangi permintaan total yang harus dipenuhinya.
ditemukan pada berbagai keadaan yang berbeda mulai Secara makroskopik, jaringan atau organ yang atrofik
dari malnutrisi, yang mengganggu sintesis protein, lebih kecil dari normal.
sampai makan berlebihan, yang akan mengakibatkan Dalam perjalanannya menjadi atrofi, sel harus
hati dibanjiri oleh lipid. Hipoksia cukup mengganggu mengabsorpsi sebagian unsur-unsumya. Hal ini meli--
metabolisme selular unbnk menimbulkan penimbunan puti nut ofa g o s i t o s is atau nut ofa gi,sec ara haraf iah meru-
lemak, dan berbagar zat toksik dari lingkungan pakan proses makan diri sendiri (self-eating), yang
mempengaruhi sel-sel sedemikian rupa sehingga selama proses ini, bagian-bagian yang mencema enzim
mempermudah penimbunan lipid. Salah satu toksin pada sel terdapat di dalam vakuola sitoplasma. Proses
yang paling kuat dan tersebar luas di lingkungan yang yang sama ini tidak hanya terjadi di dalam sel yang
menimbulkan perlemakan hati adalah alkohol. Zatini mengalami atrofi tetapi juga pada keberadaan selular
secara langsung bersifat toksik terhadap sel-sel hati, sehari-hari yang "aus dan rusak." Bila organel sito-
serta secara tidak langsung dapat menimbulkan plasma rusak, organel tersebut diasingkan di dalam
kelainan pada individu-individu yang mengonsumsi vakuola sitoplasma dan dicernakan secara enzimatis.
banyak alkohol, terutama karena hal ini sering Proses pencernaan cenderung meninggalkan bekas-
menimbulkan malnutrisi. Perubahan lemak secara bekas sisa zatyang tidak dapat dicerna, yang sedikit
potensial bersifat reversibel tetapi sering mencermin- demi sedikit tertimbun di dalam sel. Zat ini berasal
kan cedera berat pada sel dan dengan demikian dari sebagian besar struktur membran di dalam sel
merupakan langkah menuju kematian sel. dan ttmumnya berwarna coklat tua. Sejalan dengan
sel-sel yang semakin bua, sel-sel tersebut mengakumu-
lasi pigmen intrasitoplasma yang semakin lama
semakin banyak, disebut sebagai lipofnsin, pigmen
penLtaan, ataupigmen aus-robek. Sewaktu se1 mengalami
atrofi,lipofusin menjadi lebih pekat karena mening-
katnya aktivitas autofagositik. Kadang-kadang jaring-
an yang atrofi berpigmen, bahkan kasar; proses yang
menyebabkan keadaan ini disebut atrofi coklat.Bahan-
bahan sisa yang tidak larut dapat juga berakumulasi
sebagai akibat heterofagositosls atau heterofagi, yang
merupakan ambilan zat-zat selular dari luar sel.
Pembicaraan mengenai perubahan-perubahan
degeneratif tidak dapat dielakkan harus menyinggung
masalah penuaan. |elas', penuaan merupakan proses
yang sangat kompleks dan melibatkan banyak faktor
genetik, endokrin, imunologik, dan lingkungan. Proses
ini kurang dipahami denganbaik padasemua lingkat,
mulai dari tingkatindividu secara utuhhingga turun
ke tingkat sel-sel tunggal. Teori-teori menunjukkan
bahwa penuaan disebabkan oleh pembatasan genetik
yang nyata pada kemampuan sel untuk bereplikasi,
dibarengi dengan akumulasi progresif cedera-cedera
Gbr.3-3 Perubahan lemak pada hati. Banyak sel-sel hati memiliki kecil pada sel yang tidak lagi berproliferasi. Akan tetapi,
beberapa "lubang" kecil di dalam sitoplasmanya atau satu vakuola mengidentifikasi gambaran sel yang spesifik pada
besar yang mengubah keseluruhan sel. Ruang yang tampaknya
proses penuaan masih belum mungkin dilakukan, dan
kosong ini sebelumnya mengandung banyak lipid, yang melarut
selama pembuatan sediaan histologik. Sel-sel hati di bagian kiri bahkan implikasi sebenarnya mengenai perubahan
bawah hampir normal. (Fotomikrograf. 500X.) nonspesifik tidak dike tahui.
Cedero don Kemotion Selulor BA B 3 47

yang tidak dapat balik tersebut mulai mengalami


KEMATIAN SELULAR perubahan morfologik yang dapat dilihat.
-

Bila sebuah sel, sekelompok sel, atau jaringan pada


Jika pengaruhburuk pada sebuah sel cukup hebat atau pejamu yang hidup diketahui mati, maka sel atau
terus berlangsung cukup lama, maka sel akan jaringan tersebut disebut nekrotik. Dengan demikian
mencapai suatu titik hingga sel tidak lagi dapat nekrosis merupakan kematian sel lokal.
mengompensasi dan tidak dapat melanjutkan meta-
bolisme. Pada beberapa poinhipotetik yang tidak dapat
dibantah, proses-proses tersebut menj adi ireversibel, Perubahan Morfologik pada Nekrosis
dan sel praktis mati. Pada hipotetik kematian cepat
ini, sewaktu sel benar-benar mencapai titik yang tidak Umumnya, walaupun perubahan-perubahan lisis
dapat balik, secara morfologis tidak mungkin yang terjadi dalam jaringan nekrotik dapat melibatkan -
mengenali apakah sel tersebut sudah mati secara sitoplasma sel, perubahan-perubahan paling jelas
ireversibel. Namun, jika sekelompok sel yang sudah bermanifestasi pada inti, menunjukkan kematian sel.
mencapai keadaan ini masih tetap tinggal di dalam Secara tipikal, inti sel yang mati akan menyusut,
hospes yang hidup bahkan selama beberapa jam saja, memiliki batas yang tidak teratur, dan bent'arna gelap
terjadi hal-hal tambahan yang memungkinkan untuk dengan zat warna yang biasa digunakan oleh para
mengenali apakah sel-sel atau jaringan tersebut sudah ahli patologi. Proses ini dinamakanpiknosis, dan inti
mati. Semua selmemilikiberbagai enzim di dalamnya, disebut piknof ik. Kemungkinan lairg inti dapat hancur,
banyak di antaranya bersifat litik. Sewaktu sel hidup,
enzim-enzim ini tidak menimbulkan kerusakan pada
sel, tetapi enzim-enzim ini dilepaskan pada saat sel
mati, dan mulai melarutkan berbagai unsur selular.

ffiffiffi
Selain itu, pada saat sel mati berubah secara kimiawi,
jaringanhidup yang tepat di sebelahnya memberikan
respons terhadap perubahan-perubahan itu dan
menimbulkan reaksi peradangan akut (lihat Bab 4).
Bagian dari reaksi yang terakhir ini adalah pengirim-
an banyak leukosit atau sel darah putih ke daerah
tersebut, dan sel-sel leukosit inimembantu pencemaan
Grr. 3-4 Perubahan inti pada sel mati. Perubahan-perubahan
sel-sel yang sudah mati. Jadi, karena enzim-enzim morfologik hampir jelas menunjukkan kematian sel yang melibatkan
pencernaan tersebut atau sebagai akibat proses inti. A. lnti normal; B. inti piknotik; C. inti kariorektik dan; D. inti yang
peradangan, maka sel-sel yang sudah mencapai titik telah mengalami kariolisis.

Gbr.3-5 Nekrosis koagulatif. Pada


potongan dekat permukaan ginial ini, terdapat
tiga daerah nekrosis pucat yang dapat terlihat
kira-kira di tengah lapangan pandang.
Gambaran struktural secara umum diper-
tahankan secara jelas pada jaringan mati,
dengan demikian menunjukkan nekrosis
koagulatif. (Karena papila renalis terlibat,
keadaan ini secara khas disebut nekrosis
papila renalis.)
48 BAG IAN SATU PE N DAHU LUAN PATOLOGI U M UM : MEKANISME PENYAKIT

Gbr.3-8 Gangren. Jari pada kaki ini telah menjadi nekrotik karena
buruknya suplai darah. Mikroorganisme saprofitik tumbuh pada
jaringan mati yang menghitam. Pada ekstremitas, jenis gangren ini
sering disebut kerlng.

Gbr. 3-6 Nekrosis likuefaktif. Tedihat defek yang besar pada


potongan otak bagian kiri ini. Substansi otak di daerah ini menjadi
nekrotik karena hilangnya suplai darah. Karena umumnya hal ini kondisi-kondisi lokal, sel-sel nekrotik akan memper-
secara umum terjadi pada organ ini, jaringan nekrotik perlahan- tahankan bentuk dan jaringan akan mempertahankan
lahan melunak, kemudian mencair, menimbulkan defek yang ciri-ciri arsitekturnya selarna beberapa waktu. Jenis
permanen.
nekrosis ini disebut nekrosis koagulatif dan terutama
sering dijumpai jika nekrosis disebabkan oleh
hilangnya suplai darah (Gbr. 3-5). Umumnya,
dan membentuk fragmen-fragmen materi kromatin nekrosis koagulatif merupakan jenis nekrosis yang
yang tersebar di dalam sel. Proses ini disebut sebagai paling sering dijumpai. Pada beberapa keadaan,
karioreksis. Akhimya, padabeberapa keadaan, inti sel- jaringan nekrotik secara bertahap mengalami
sel yang mati tidak dapat diwarnai lagi dan benar- pencairan akibat kerja enzim; proses ini disebut
benar hilang, proses ini disebut s ebagaiknriolisls (Gbr. nekrosis liquefaktif . Keadaan ini tampaknya terjadi di
3-4). daerah otak yang nekrotik, dan akibatnya secara
Tampilan morfologik j aringan nekrotik bervariasi, harafiah adalah adanya sebuah lubang di dalam otak
bergantung pada hasil aktivitas litik di dalam jaringan yang terisi cairan (Gbr.3-6). Pada keadaan-keadaan
mati. Jika aktivitas enzim-enzim litik dihambat oleh lain, sel-sel nekrotik itu hancur, tetapi pecahan-

Gbr. 3-7 Nekrosis kaseosa. Daerah


nekrotik besar jelas terdapat pada batang
otak di bagian tengah kiri. Pada keadaan ini
jaringan yang mati hancur tetapi tidak
mencair. Karena secara makroskopis
menyerupai keju, nekrosis tipe ini disebut
kaseosa. (Lesi khusus ini akibat tuberkulosis,
salah satu dari banyak penyebab pengijuan.)
Cedero don Kemotion Selulcr BA B 3 49

pecahan sel yang terbagi menjadi fragmen-fragmen oleh kerja enzimatik dan asam-asam lemak ini diga-
halus itu tetap berada di daerah ini selama berbulan- bungkan dengan cepat dengan kation (misa1, ion,ion
bulan atau bahkan bertahun-tahun, hampir tidak dapat kaisium) di daerah itu, menimbulkan deposit-deposit
dicerna. Nekrosis jenis ini disebut nekrosis kaseosa sabun. Nekro sis lemak enzimatik (atau pilnkreatik) secara
karena jika dilihat secara makroskopik daerah yang luas terbatas di rongga abdomen, karena daerah ini
terkena tampak seperti keju yang hancur (Gbr. 3-7). merupakan daerah yang terpajan dengan kebocoran
Keadaan standar yang menimbulkan nekrosis kaseosa enzim-enzim pankreas. Jika jaringan adiposa di tempat
adalah hrberkulosis, walaupun jenis nekrosis ini dapat lain menjadi nekrotik, lipid yang keluar dari sel-sel
ditemukan pada banyak keadaan lain. mati dapat menimbulkan respons peradangan, tetapi
Keadaan lokal khusus tertentu dapat menimbulkan tidak ada pembentukan endapan-endapan kuning
nekrosis jenis lain. Gangren didefinisikan sebagai berkapur yang khas untuk nekrosis lemak enzimatik.
nekrosis koagulatif, biasanya oleh berkurangnya
suplai darah" disertai pertumbuhan bakteri saprofit
berlebihan. Gangren terjadi di jaringan nekrotik yang Apoptosis: Kematian Sel yang
terpajan bakteri hidup. Keadaan ini sering terjadi pada
ekstremitas (Gbr. 3-8) atau pada segmen usus yang
Terprogram
menjadi nekrotik (Gbr. 3-9). Jaringan yang mengerut, Pada tahun*tahun belakangan ini, dikenal pola lain
berwarna hitam di daerah gangren pada ekstremitas kematian sel yang disebut apopfosis. Bentuk kematian
sering digambarkan sebagai golongan grz ngren kering, sel ini sebenarnya diprogram oleh informasi genetik
sedangkan daerah bagian dalam yang tidak dapat yang telah ada di dalam sel; dengan aktivasi gen atau
kering disebut gargren basah. Pada kedua keadaan ini pelepasan beberapa proses dari inhibisi normal men-
proses meLibatkan pertumbuhanbakteri saprofit di atas cetuskan kejadian-kejadian yang menyebabkan
jaringan nekrotik. kematian sel. Berbagai stimulus pencedera ekstrinsik
jaringan adiposa yang nekrotik merupakan kasus dapat mencetuskan apoptosis, tetapi apoptosis dapat
khusus lain. Jika sistem saluran pankreas mengalami juga mempakan bagian dari hubungan fisiologik pada
ruptur, baik akibat trauma atau perjalanan penyakit populasi sel. Proses tersebut biasanya melibatkan sel-
pankreas yang spontary enzim-enzim pankreatik yang sel tunggal atau kelompok-kelompok beberapa sel, dan
biasanya mengalir di dalam duktus dapat keluar ke seiring dengan sel-sel tersebut mati, sel-sel tersebut
jaringan di sekitarnya. Sekresi pankreas mengandung membentuk fragmen menjadi potongan-potongan
banyak enzim hidrolisis yang kuat, termasuk lipase yang terikat-membran yang dengan cepat difagositosis
yang memecah lipid dari jaringan adiposa. Jika peme- oleh sel-sel di sebelahnya atau oleh makrofag. Proses
cahan ini terjadi, maka asam-asam lemak dibentuk tersebut secara morfologis tidak nyata, dengan sedikit

Gbr. 3-9 Gangren. Pada keadaan ini


sebagian besar usus halus kehilangan suplai
darahnya. Lengkung usus yang mengalami
gangren di sebelah kanan atas dibandingkan
dengan lengkung usus yang masih hidup di
sebelah kanan bawah. Saprofit tumbuh pada
jaringan nekrotik. Gangren internal tipe ini
pasti /embab seperti yang yang terlihat pada
ekstremitas.
50 BAG IAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

atau tidak ada sama sekali respons peradangan jelas kinkan intervensi terapeutik pada penyakit-penyakit
yang diamati bersamaan dengan berbagai pola mayor seperti kanker, autoimunitai, AIDS; penyakit-
nekrosis. penyakit degeneratif, dan lain-lain.
Kematian sel yang terprogram atau apoptosis
diperlukan untuk perkembangan yang benar seperti
pada mitosis. Contoh-contoh meliputi berikut ini: (1) Pengaruh Nekrosis
pembentukan jari-jari tangan dan kaki pada janin
meliputi pembuangan oleh apoptosis pada jaringan Pengaruh nekrosis yang paling jelas adalah hilangnya
di antara jari-jari tersebut; (2) pengelupasan en- fungsi pada daerah yang mati. ]ika jaringan nekrotik
dometrium pada saat awal menstruasi terjadi akibat merupakan fraksi kecil sebuah organ dengan
apoptosis; dan (3) pembentukan hubunganyang sesuai cadangan yang besar (misal, ginjal), maka tidak
(sinaps) di antara neuron di dalam otak memerlukan terdapat pengaruh fungsional pada tubuh, sedangkan _

penghilangan kelebihan sel oleh apoptosis. jika daerah nekrosis merupakan bagian di otak, maka
Kematian sel yang terprogram juga diperlukan dapat mengakibatkan defisit neurologik berat atau
untuk menghancurkan sel-sel yang merupakan bahkan kematian. Selain itu, pada beberapa keadaan,
ancaman bagi integritas organisme, seperti berikut ini: daerah nekrotik dapat menjadi fokus infeksi yang
(1) sel-sel terinfeksi oleh virus; (2) sel-sel sistem imun; merupakan medium pembiakan yang sangat baik bagi
(3) sel-sel dengan kerusakan DNA; dan (4) sel-sel perhrmbuhan organisme tertentu yang kemudian dapat
kenker. Salah satu metode pembunuhan sel-sel yang menyebar ke tempat lain di dalam tubuh. BahLan tanpa
terinfeksi virus oleh sel-sel T sitotoksik adalah dengan infeksi pun, adanya jaringan nekrotik di dalam tubuh
menginduksi apoptosis (lihat Bab 5). Beberapa virus dapat mencetuskan perubahan sistemik tertentu
juga meningkatkan balasan untuk menghalangi (misal, demam), peningkatan jumlah leukosit di dalam
apoptosis. Seiring dengan semakin berkurangnya sirkulasi, dan berbagai gejala subjektif. Akhirnya,
respons imun yang dimediasi-sel, sel-sel T sitotoksik enzim-enzim yang dikandung di dalam jaringan
saling menginduksi apoptosis satu sama lain dan nekrotik sering bocor ke dalam aliran darah seiring
bahkan pada sel-sel itu sendiri untuk menghindari dengan matinya sel dan meningkatnya permeabilitas
serangan pada bagian-bagian tubuh.. Apoptosis membran sel. Menganalisis spesimen darah dan
tampaknya merupakan mekanisme yang menyebab- menentukan kadar berbagai enzim seperti kreatinin
kan berkurangnya sel-sel CD4+ (limfosit T helper) fosfokinase (CPK), laktat dehidrogenase (LDH), atau
secara progresif pada in-feksi HIV (Human Immunodefi' aspartat aminotransferase (AST), mungkin dapat
ciency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syn- dilakukan. Kemudian, peningkatan salah satu enzim
dr ome) (lihat Bab 1 5). Kelainan-kelainan p ada struk tur atau enzim lain dapat menunjukkan bahwa pasien
apoptosis berkaitan dengan penyakit-penyakit memiliki daerah nekrosis yang tersembunyi jauh di
autoimun seperti lupus eritematosus sistemik dan dalam jaringan. Prinsip ini menimbulkan bidang
artritis reumatoid. Kerusakan pada DNA sel dapat diagnostik yang pentin g, enzimologi klinis.
menyebabkan sel mengalami gangguan pada perkem-
bangan embrionik yang benar atau menjadi kanker.
Sebagai respons terhadap kerusakan DNA, sel-sel
secara normal meningkatkan produksi p53nya yang
NASIB JARINGAN NEKROTIK
merupakan suatu penginduksi poten apoptosis. Tidak
mengejutkanbahwa mutasi pada gen p53 menimbul- ]ika suatu daerah jaringan mengalami nekrosis, maka
kan kelainan protein yang sering ditemukan pada sel- kejadian ini biasanya mencetuskan respons peradangnn
sel kanker yang merupakan ancaman letal terhadap dari jaringan yang berdekatan (lihat Bab 4). Sebagai
organisme jika dapat terus hidup. Dengan kata lain, akibat respons peradangan ini, jaringan yang mati
apoptosis tidak terjadi pada sel dengan DNA yang akhimya hancur dan hilang, memberi j alan bagi proses
rusak dan sel yang menjadi ganas. perbaikan yang mengganti daerah nekrotik dengan'
Mekanisme molekular yang menyebabkan sel-sel yang beregenerasi demikian yang hilang atau,
apoptosis saat ini merupakan pusat penelitian yang pada beberapa keadaan, dengan jaringan parut. |ika
intens. Kematian sel yang merupakan bagian dari jaringannekrotik terletak di permukaan tubuh (misal,
proses biologik normal semakin jelas. Hingga sekarang di sepanjang lapisan saluran cema), maka jaringan
kenyataan ini masih belum dimengerti, dan pema- itu dapat terkelupas, menimbulkan celah pada
haman mengenai kematian semacam ini dan suatu permukaan kontinuitas permukaan, yang disebut
kemampuan untuk memanipulasinya dapat memung- sebagai ulkus. Akhirnya, jika daerah yang nekrotik
Cedero don Kemotion Selulcr BAB 3 5l

tidak dihancurkan atau dibuang, maka daerah itu dijumpai adanya kerusakan jaringan atau nekrosis.
sering diselubungi oleh jaringan ikat fibrosa dan Tipe kalsifikasi ini disebu tknlsifiknsi metsstatik. Proses
akhirnya akan terisi dengan garam-garam kalsium ini terjadi bukan karena kelainan jaringan, tetapi
yang diendapkan dari sirkulasi darah di daerah karena konsentrasi garam kalsium dan fosfor yang
nekrosis. Proses kalsifikasi ini menyebabkan daerah abnormal di dalam sirkulasi darah. Khususnya, jika
nekrotik menjadi sekeras batu dan tetap demikian konsentrasi zat-zat ini meningkat sampai melebihi
seumur hidup individu tersebut. tingkat kritis tertentu, maka daya larulnya terlampaui,
dan terjadilah pengendapan di berbagai jaringan,
terutama paru, ginjal, lambung, dan dinding
pembuluh darah. Aktivitas kelenjar paratiroid, fungsi
KALSIFIKASI PATOLOGIK ginjal, aslrpan kalsium dan vitamin D di dalam
makanan, serta integritas rangka dapat memengaruhi
konsentrasi kalsium dan fosfat di dalam darah.
Pengendapan garam-garam kalsium yang tidak larut Dengan demikian, kalsifikasi metastatik dapat terlihat
dari aliran darah, yang menyebabkan jaringan menjadi pada hiperparatiroidisme, penurunan fungsi Sinjal,
kaku dan keras, tentu saja normal pada pembentukan diet abnormal, dan lesi destruktif sistem rangka yang
tulang dan gigi. Jika fenomena ini terjadi di tempat membebaskan garam-garam kalsium dalam jumlah
lain, maka hal ini abnormal dan disebut kalsifikasi besar dari lulang-tulang tersebut.
patologik atathlsifikasi heterotopik Keadaan ini dapat
terjadi pada beberapa keadaan.

Kalsifikasi Distrofik
Seperti yang telah sebelumnya, jaringan yang terluka
atau jaringan nekrotik yang tidak cepat dihancurkan
sering dapat menjadi tempat kalsifikasi. Bentuk
kalsifikasi yang khusus ini disebut distrofik. Karena
daerah nekrosis kaseosa yang akibat sifat alaminya
tetap tidak dicema dalam waktu lama, makabiasanya
akan mengalami kalsifikasi. Dengan demikian, karena
fokus-fokus tuberkulosis kecil atau infeksi-infeksi lain
terjadi di paru dan di kelenj ar ge tah bening yang meng-
alirkan getah bening paru, di daerah ini sering timbul
fokus-fokus kecil kalsifikasi distrofik. Secara biologis
kalsifikasi ini tidak penting, tetapi sering tampak pada
radiograf karena opasitas deposit padat garam
kalsium. Tempat lain yang sering mengalami kalsifi-
kasi distrofik adalah pada dinding arteri yang sudah
menjadi aterosklerotik (lihat Bab 7). Sebenarnya, tekslur
"pengerasan arterl" ini disebabkan oleh pengendapan
kalsium. Garam-garam kalsium juga cenderung
mengendap, dengan bertambahnya usia, di daerah
yang sebelumnya merupakan tulang tawan seperti
rawan iga. Akhirnya, endapan kalsifikasi distrofik di
tempat-tempat ini dapat mengalami perubahan nyata
menjadi tulan& proses ini disebut osifiknsiheterotopik.

Gbr. 3-10 Batu empedu di dalam kandung empedu. Kalkuli pada


Kalsif ikasi Metastatik tipe ini sebagian besartersusun dari pigmen empedu dan kolesterol.
Tampaknya bahwa batu seukuran ini dapat terdorong masuk ke
Garam-garam kalsium juga dapat diendapkan di dalam dalam duktus koledokus komunis, tempat batu tersebut dapat
jaringan-jaringan lunak tubuh yang sebelumnya tidak menyumbat aliran empedu.
52 BAG IAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

Gbr. 3-11 Kalkuli ginjal. Banyak terdapat batu-


batu besar di dalam kaliks dan pelvis pada potongan
setengah ginjal. Sumbatan pada aliran urine dan
infeksi menyebabkan hilangnya parenkim ginjal
secara nyata.

Pembentukan Batu definisi kematian somatik relatif sederhana. Seseorang


dinyatakan meninggal jika "fungsi vital" seperti kerja
Garam-garam kalsium dapat juga diendapkan dalam jantung dan respirasi berhenti tanpa ada kemungkinan
bentuk batu atau kalkuli, di dalam sistem duktus untuk berfurigsi kembali. ]adi, jika seseorang berhenti
berbagai organ. Kalkuli dapat dibentuk dari kalsium bernapas dan tidak dapat diresusitasi, maka jantung
atau berbagai zat lain yang tersedia secara lokal di dengan cepat berhenti berdenyut sebagai akibat
dalam sekresi organ-organ tertentu. Dengan demikian, anoksia, dan orang tersebut tidak dapat disangkal lagi
walaupun batu-batu tersebut sering mengandung akan mati. Saat ini, dengan kemajuan teknologi,
kalsium sebagai salah satu unsurnya, banyak kalkuli seorang pasien dapat dibantu dengan ventilator
pada awalnya tidak kalsifik. Beberapa kalkuli ter- mekanis jika pernapasanberhenbi. Jika denyut jantung
bentuk sebagai akibat enkrustasi debris nekrotik di pasien mulai lemah, maka dapat dipasang alat picu
dalam duktus, sedangkan yang iain terbentuk akibat jantung elektronik. Dengan tersedianya peralatan
ketidakseimbangan unsur-unsur sekresi tertentu untuk "mempertahankan hidup" semacam ini, maka
sehingga terjadi pengendapan unsur yang biasanya
definisi kematian menj adi berbeda. Sebenamya, tidak
larut. Karenaberbagai alasan, kalkuli sering ditemukan
semua sel tubuh mati secara serentak. Sudah dibuat
di dalam saluran empedu (Gbr. 3-10), pankreas, jaringan hidup dari jaringan-jaringan yang diambil
kelenjar saliva, prostat, dan sistem kemih.
dari mayat. Dewasa ini, di rumah sakit, definisi umum
Meskipun kalkuli sering tidak memberikan gejala
dan ditemukan secara kebetulan, banyak kalkuli yang mengenai kematian somatik memberi perhatian pada
bergerak disepanjangsistem duktus organ tertentu dan aktivitas sistem saraf pusat, khususnya otak. Jelas, jika
menyebabkan nyeri serta perdarahan. Kalkuli dapat otak akhirnya mati, tidak ada kesempatanbagi orang
tersangkut di bagian yang sempit pada sistem duktus tersebut untuk kembali lagi ke keadaan sadar.
dan menimbulkan obstruksi saluran keluar sekresi "Kematian otak" seperti ini meliputi hilangnya
tertentu, yang sering menyebabkan infeksi pada organ responsivitas yang ireversibel, termasuk refl eks-refleks
yang terobstruksi dan atrofi pada parenkim (Gbr. 3-11). kunci tertentu, hilangnya aktivitas listrik ireversibel
seperti yang ditunjukkan pada pembacaan elektro-
ensefalogram (EEG) yang isoelektrik atau "datar." Jika
hilangnya aktivitas listrik terjadi selama jangka waktu
KEMATIAN SOMATIK yang sudah ditentukan secara ketat, maka para dokter
berwenang menganggap pasien meninggal, walaupun
Kematian seluruh individu, berbeda dengan kematian paru dan jantung masih dapat terus bekerja secara
lokal atau nekrosis, disebut kematian somatik. Dahulu buatan untuk beberapa waktu.
Cedero don Kemotion Selulor BAB 3 53

Perubahan Postmortem karena tiap jaringan pada mayat telah mati, enzim-
enzimnya dilepas secara lokal, dan mulai terjatli reaksi
Setelah kematian, terjadilah perubahan-perubahan Iitik. Reaksi-reaksi ini, disebut outolisis postmortem
tertentu yang disebut perubahan postmortem. Karena (secara harafiah disebut pencairan-diri), sama dengan
reaksi kimia pada otot orang mati, timbul kekakuan perubahan yang diamati pada jaringan nekrotik tetapi,
yang disebut rigor mortis. istilah algor mortis tentu saja, tidak disertai reaksi.peradangan. Akhimya,
menunjukkan mendinginnya orang yang sudah mati jika tidak dicegah dengan tindakan-tindakan tertentu
karena suhu tubuh mendekati suhu lingkungan. (misal, pembalseman), akan terjadi pertumbuhan
Perubahan lain disebut sebagai liaor mortis atau bakteri secara berlebihan dan pembusukan. Kecepatan
lividitas postmortem. Secara umum, lividitas ini terjadi mulai timbulnya berbagai perubahan postmortem
karena pada saat sirkulasi berhenti, darah di dalam sangat beruariasi, bergantung pada individu dan sifat-
pembuluh mengambil tempat menurut daya tarik sifat lingkungan sekitarnya. Dengan demikian,
gravitasi, dan jaringan-jaringan tubuh yang terletak penentuan waktu kematian yang tepat oleh dokter
paling bawah berubah warna menjadi ungu karena dalam cerita fiksi detektif-memang hanya merupakan
bertambahnya kandungan dara]-r. Secara mikroskopik, fiksi.

.(orusrP KUNct

,$ebuah sef manusiatipikal dibatasi oteh membran kelainan-kelainan geneiik (misal, banyaknya
seldengan sitoplasma akuosa yang didalamnya kelainan metabolisme bawaan yang berasaldari
mengandung nukleuS dah berbagai organel. kelainan enzimatik).
Membran se/ memberi bentuk sel dan melekat- Susunan peiurbahan pada suatu sel yang
kan sel pada sel-sel lain. Fungsi membran sel mengalami cedera, pada awalnya, biokimia,
sebagai pintu gerbang, yang memungkinkan kemudian fungsional, dan akhirnya perubahan
transpor selektif zal-zal makanan dan produk morfologik (lesi).
buangan ke dalam dan ke luar sel, membangkit- Perubahan-perubahan subletal atau reversibel
kan potensial membran, dan bekerja sebagai pada sel^sel yang cedera meliputi :pembeng-
saluran komunikasi untuk kontrol sinyal dari kakan selular dan perubahan hidropik (draplet
sekitar tubuh. air) didalam sitoplasma yang disebabkan oleh
Nukleus mengandung genom DNA, yang kegagalan pompa Na+/K+ di dalam membran
mengode untuk sintesis protein. , ,,, sel. Lemak dapat juga tertimbun di dalam sel
Fungsi'.ietikulum'endoplasmlk dan aparatus (inlilirasi atau degenerasi lemak) dalam keadaan
Golgl bersama-sama menyintesis protein di makan berlebihan, kelaparan, atau alkoholisme.
bawah kontrol RNA di dalam ribosom menurut Nekrosis merupakan jenis kematian sel ire-
perintah DNA. versibel yang terjadi ketika terdapat cedera berat
Mitokondria merupakan organel yang terlibat atau lama hingga suatu saat sel tidak dapat
dalam produksi ATP, sirkulasi energi di dalam 'beradaptasi-atau memperbai ki dirinya sendiri.:,lnti i

sel. sel mengalami penghancuran progresif ying


Lisosom merupakan kemasan enzim-enzim diketahui sebagai piknosis, karioreksis, dan
pencernaan yang dibatasi-membran yang akhirnya kariotisis.
memecah debris intraselular dan bahan-bahan Jaringan yang berbeda secara tipikal menun-
yang difagositosii. jukkan pola nekrosrs morfologis yang berbeda:
Cara cedera pada set meliputi kekurangan koagulatif $antun g,
E injal, limpa) ; iikuef aKif (otak
okSigen {hipoksia) atau,,zat-zat makanan,yang dan medula spinalis); kaseosa (paru);gangren
penting, agen-agen fisik (misal, trauma mekanis, kering (ekstremitas); gangren basah (usus); dan
panas atau dingin yang jelas, radiasi, syok nekrosis lemak enzimatis {pankreas}.:,. ,,,t. i
is!iik), agen;ageh kimia dan obat-obatan, agen'
f lndikator lokal cian sistemik pada nekrosis adatah
agen infeksius, reaksi-reaksi imunologik, dan hilangnya f ungsi organ (jika cukup luas),
54 BAGIAN sATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM:MEKANISMEPENYAKIT

peradah$an di sekitar daerah nekrosis, demam, mengakibatkan peradangan, berbeda"dengan


maleSe,, eukoS itosis, dah pen ihg katan 6n zim - nekrosis, yang biasanya mengenai jalur-jalur sel-
f

enzim serum. seldi sebelahnya dengan daerah yang dikelilingi


Telah dikenal tiga jenis utama kalsifikasi oleh peradangan.
patologi k: kg,lsif ikasi dist rofik teijadi di daerah Apoptosis terlibat dalam organogenesis; homeo-
nekrosis walaupun kalsium serum normal dan stasis jaringan seperli deslruksi sel-sel yang
tidak adanya gangguan metabolisme kalsium; terinfeksioleh viius, sel-sel kanker, atau keru-
katsifikasi metastatik terdiri atas penimbunan sakan DNA; dan perbaikan sistem imun untuk
garam.garam kalsium di dalam jaringan lunak men gangkat klon-klon autoreaktif .

pada tubuh dan hampir selalu terjadi pada ke- Kiteria untuk kematian somatik adalah terhenti-
adaan adanya gangguan metabolisme kalsium nya fungsi sirkulasi secara ireversibel (denyut
( m s a l, h p e rp a rat ro d s m e) ; dan ka I k u I i adalah
i i i i i jantung), fungsi pernapasan (bernapas), dan
batu, biasanya mengandung kalsium, yang {ungsi otak (tidak ada semua tanda-tanda
membentuk sistem duktus pada suatu organ. responS;rteimasuk refleks-refleks batan$ otak
Apoftosis (diuCapkan ap-atow'-sis) adalah jenis dan ele ktroensef alog ram isoe lektri k [datar] ).
kematian atau bunuh diri sel terprogram yang Perubahan-peiubahan postmortem meliputi rgor
dimediasi sel yang merupakan bagian pusat mortis (kekakuan), livoir mortis (Warna ungu
perkembangan normal, berbeda dengan nekro- kebirUan), algor mortis (pendinginan), dan
sis, yang tidak terdapat pada perkembangan autolisis (pencai ran-diri).
normaf dan merupakan respons terhadap cedera Penentuan waktu kematian secara pasti oleh
atau kerusakan toksik. Apoptosis secara khas dokter Secara,tuas maSifr 111s1 ,,,,,,',. .r ,. :

mengenaisel-sel individu yang tersebar dan tidak

PrnrnnYAAN
Sampel pertanyaan untuk bab ini terdapat di sini. Lihat hhtp//www.mosby.com/MERLIN/PriceWilson/untuk pertanyaan
tambahan.
Lengkapi bagian yang kosong dengan jawaban yang tepat.
1. Rangkaian kejadian yang terlibat dalam degenerasi selular meliputi
, dan akhirnya perubahan

2. Kematian somatik meliputiaktivitas sistem terutama

3. Dua kategori utama kalsifikasi patologik adalah dan

4. Setelah kematian, reaksi kimia di dalam otot yang menyebabkan


CederodonKemotionSelulor BAB3 55

Cocokkan tipe nekrosis di dalam kolom A dengan manifestasi atau gambaran


khasnya di dalam kolom B.

Kolom A Kolom B
5. Nekrosiskoagulatif a. Nekrosis masif yang dilapisi oleh
6. likuefaktif
Nekrosis pefiumbuhan bakteri
7. Pengijuan b, Khasuntukinfelaituberkulosisataujamur
8. Nekrosis lemak enzimatik c. Kejadian-kejadian yang menyebabkan
L Gangren kematian seldipicu oleh akivasi gen
10. _ Apoptosis d, Nekrosis yang khas pada jantung dan
ginjal disebabkan oleh iskemia
e. Berkaitan dengan ruptursistem duktus
pankreas
f. Khas pada otak

Cocokkan tipe kematian sel di dalam kolom B dengan ciri-ciri khasnya di dalam
kolon A,

Kolom A Kolom B
11. _ Kematian sel yang a. Nekrosis
terprogram secara genetis b. Apoptosis
12. _ Diinduksi oleh cedera
mekanis atau toksik
13. _ Hanya melibatkan sedikit
sebaran sel-sel
14. _ Respons peradangan di
sekelilingnya
15. SedikitatautidakadaPera-
dangan
16. _
-
Bagian hubungan fisiologik
sel normal
17. _ Melibatkan sel-sel di
sekitarnya dengan daerah
yang luas
.4"
BAB

urusp'Gn3 [U'bU H=Tdrh o d q p


= ='CEd6++.t
:i::::li

Ilji::

l::::. I ii lr' Pei'ad h,gan,dah"PdnVdrn bu nan

: .;,:]l:lri::'
:::::: ll:it IORRAINE.:M. WILSON
.l:::: .::,::::

jY#$ri$'*. ,:i AR BAB 1,.,, ,.., PO:I.A:POLA PERADANGAN;:67 ll r , ,, ,,,,,

REAKST prnRonNGAN, s6
,r. .: Ekiudat Nbnselular, 6 7, , ,,,,,-,t,',t,t. ,.',:,t,,.'

Eksudat Selular, 68
CAMBARAN MAKROSKOPI K PERADANGAN Peradangail Granulomatora, i0' , .,,,,
,'.' t i , .,::,
AKUT,57 NASIB REAKSI PERNO,CNCAN, TJ
,...,:' in-bor,,{Ka*eiahinl,S/ :,::..:':,,,,,
Penyembuhan Luka, 23
Kalor (Panas), 5Z FAKIOR-FAKTOR YA N C I,,trME N C NN U H.i-]
Dolor (Nyeri), 58 , P'EnRuRrl'caN on,N prNfrMAuHAN;'zo
,.;..;ji'Tu'moi{Penlbengkakan),.s8"'.' :,,,, :,:. .,...,,KomplikasiPenyembuhanrT6',,1,,,1'r-"' i.
Fungsio Laesa (Perubahan Fungsi), 5B
ASPEK-ASPEK CAI RAN peDn
ASpEK-ASpEr srsrrMr rpe,Rno;*NCAN;
::,::,: rl ,- ,:::::,
i7 ..

PERADANGAN,58 :

Eksudasi, 58
Limfatik dan Aliran Limf, 60
ASPEK-ASPEK SELU LAR PERADANCAN, 61 REAKSI PERADANGAN
Marginasi dan Emigrasi, O1
Kemotaksis, 61
MEDIAS| PERADANGAN, 61 Bila sel-sel atau jaringan-jaringan tubuh mengaiami
. Histamin, 62 cedera atau mali, selama pejamu masih bertahan hidup,
jaringan hidup di sekitarnya membuat suatu respons
i Faktor-Faktor elasma, OZ
Metabolit Asam Arakhidonat, 63 mencolok yan g disebut peradang an. Yang lebih khusus,
Produk-Produk Sel yang Lain, 63 peradangan adalah reaksi vaskular yang menimbulkan
trNtS oaN FUNGSI LEUKostr,63
pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut, dan sel-sel
Cranulosit,64 dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstisial
Mohosit dan Makrofag, 65 di daerah cedera atau nekrosis.
Limfosit, 67 Kecenderungan alami adalah yang memandang
peradangan sebagai sesuatu yang tidak diinginkan,

56
ResponsTubuhTerhodopCedero BAB 4 57

karena peradangan pada tenggorok, kulit, atau dapat dipelajari sebagai fenomena umum, dan variasi
jaringan lunak dapat menyebabkan rasa tidak nyaman. kuantitatif dapat muncul kemudian.
Akan tetapi, peradangan sebenarnya merupakan
fenomena yang menguntungkan dan defensif,y^g
menghasilkan netralisasi dan eliminasi agen
penyerang, penghancuran jaringan nekrotik, dan GAMBARAN MAKROSKOPIK
terbentuknya keadaan yang diperlukan untuk
PERADANGAN AKUT
perbaikan dan pemulihan. Kejadian-kejadian yang
terjadi pada saat tubuh tidak dapat menghasilkan
reaksi peradangan yang diperlukan secara dramatis Peradangan akut merupakari respons langsung fubuh
menunjukkan ciri khas yang menguntungkan, sebagai terhadap cedera atau kematian sel. Gambaran makros-
contoh, pada saat perlu untuk memberikan obat-obat kopik peradangan digambarkan pada 2000 tahun lalu
dosis tinggi yang juga menekan reaksi-reaksi semacam dan masih dikenal sebagai tanda-tsnda pokok
itu. Pada keadaan-keadaan ini, mikroorganisme yang peradangan; yang mencakup kemerahary panas, nyeri,
biasanya tidak berbahaya dapat menyebabkan dan pembengkakan, atau dalam bahasa Latin klasik,
tingginya insidensi infeksi yang sangat berat, cepat rubor, kalor, dolor, dan tumor. Pada abad terakhir
menyebar, atau bahkan infeksi letal. ditambahkan tanda pokok yang kelim a, yaittr
Reaksi peradangan sebenarnya merupakan suatu perubahan fungsi, ataufungsio laesa.
proses yang dinamik dan kontinu pada kejadian-
kejadian yang terkoordinasi dengan baik. Untuk
memunculkan manifestasi suatu reaksi peradangary Rubor (Kemerahan)
sebuah jaringan harus hidup, dan, khususnya harus
Rubor, atau kemerahan, biasanya merupakan hal
memiliki mikrosirkulasi fungsional. Jika daerah
jaringannekrosis luas, maka reaksi peradangan tidak pertama yang terlihat di daerah yang mengalami
peradangan. Seiring dengan dimulainya reaksi
ditemukan di bagian tengah jaringan, tetapi pada
peradangan, arteriol yang memasok daerah tersebut
bagian tepinya, yaitu di antara jaringan mati dan
jaringan hidup yang memiliki sirkulasi uttrh. Selain berdilatasi sehingga memungkinkan lebih banyak
darah mengalir ke dalam mikrosirkulasi lokal. Kapiler-
itu, jika cedera tertentu segera menyebabkan kematian
kapiler yang sebelumnya kosong, atau mungkin hanya
pada pejamu, maka tidak ada bukti reaksi peradangan
sebagian meregang, secara cepat terisi penuh dengan
karena untuk timbulnya respons memerlukan waktu.
darah (Gbr. 4-1). Keadaan ini, disebut hiperemia atau
Penyebab-penyebab plradangan banyak dan
kongesti, menyebabkan kemerahan lokal pada pera-
bervariasi, dan penting untuk memahami bahwa
dangan akut. Tubuh mengontrol produksi hiperemia
peradangan dan infeksi tidak sinonim. Dengan demikian,
pada awal reaksi peradangan, baik secara neurologis
infeksi (adanya mikroorganisme hidup di dalam
jaringan) hanya merupakan salah satu penyebab maupun kimiawi melalui pelepasan zat-zat seperti
histamin.
peradangan. Peradangan dapat terjadi dengan mudah
dalam keadaan yang benar-benar steril, seperti pada
saat sebagian jaringan mati karena hilangnya suplai
darah. Karena banyaknya keadaan yang mengakibat-
Kalor (Panas)
kan peradangan, maka pemahaman proses ini Kalor atau panas, terjadi bersamaan dengan ke=
merupakan dasar ilmu biologi dan kesehatan. Tanpa merahan pada reaksi peradangan akut. Sebenarnya,
memahami proses peradangan kita tidak mungkin panas secara khas hanya merupakan reaksi pera-
mengerti prinsip-prinsip penyakit infeksi; prinsip- dangan yang terjadi pada permukaan tubuh, yang
prinsip pembedahan, penyembuhan luka, dan respons secara norrnal lebih
dingin dari 37' C yang merupakan
terhadap berbagai trauma; atau prinsip-prinsip suhu inti tubuh. Daerah peradangan di kulit menjadi
bagaimana tubuh menanggulangi bencana kematian lebih hangat dari sekelilingnya karena lebih banyak
jaringan seperti cedera serebrovaskular (CVA, stroke), darah (pada suhu 37o C) dialirkan dari dalam tubuh
"serangan janLung," dan hal-hal serupa. ke permukaan daerah yang terkena dibandingkan
Walaupun terdapat banyak penyebab peradangan dengan ke daerah yang normal. Fenomena hangat
dan berbagai keadaan yang menimbulkannya, lokal ini tidak terlihat di daerah-daerahmeradangyang
kejadian-kejadian ini secara garis besar cenderung terletak jauh di dalam tubuh, karena jaringan-jaringan
sama, dengan berbagai jenis peradangan yang berbeda tersebut sudah memiliki suhu inti 37' C dan hiperemia
secara kuantitatif. Oleh karena itu, reaksi peradangan lokal tidak menimbulkan perbedaan.
58 BAG IAN SATU PE N DAH U LUAN PATOLOGI U M U M : ME KAN ISM E PENYAKIT

Kapiler lepuhan setelah luka bakar ringan pada kulit. Kemu-


dian, sel-sel darah putih atau leukosit, meriinggalkan
aliran darah dan tertimbun sebagai bagian eksudat.

Fungsio laesa (Perubahan Fungsi)


Fungsio laesa, atau perubahan fungsi merupakan
bagian yang lazim pada reaksi peradangan. Sepintas
mudah dimengerti, bagian yang bengkak, nyeri disertai
sirkulasi abnormal dan lingkungan kimiawi lokal
yang abnormal, seharusnya berfungsi secara abnor- -
mal. Akan tetapi, cara bagaimana fungsi jaringan yang
meradang itu terganggu tidak dipahami secara
terperinci.

ASPEK-ASPEK CAIRAN PADA


Gbr. 4-1 Mekanisme hiperemia pada peradangan akut. Ukuran PERADANGAN
arteriol mengontrol volume aliran darah ke dalam bantalan kapiler.
Dalam keadaan normal, A, aliran sedemikian hingga beberapa
kapilertampak kolaps dan yang lain sangat sempit. Dengan dilatasi
arteriol, B, peningkatan volume darah yang mengalir ke dalam
Eksudasi
kapiler melebarkan kapiler dan menghasilkan perubahan warna
merah-ungu secara makroskopis pada jaringan akibat peningkatan Untuk mem:ihami aliran cairan yang cepat melalui
jumlah darah. dinding pembuluh ke jaringan yang mengalami
peradangan, perlu untuk mengingat kembali prinsip-
prinsip yang mengatur transpor cairan normal.
Biasanya, dinding saluran pembuluh darah yang
terkecil (misal, kapiler dan venul) memungkinkan
Dolor (Nyeri) molekul-molekul kecil lewat, tetapi menahan molekul-
Dolor, atau nyeri, pada suatu reaksi peradangan molekul besar, seperti protein plasma tetap di dalam
tampaknya ditimbulkan dalam berbagai cara. lumen pembuluh darah. Sifat pembuluh darah yang
Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion semipermeabel ini menimbulkan tekanan osmotik yang
tertenhr dapat merangsang ujung-ujung sar#. Hal yang cenderung menahan cairan di dalam pembuluh darah.
sama, pelepasan zat-zat kimia tertentu seperti Kejadian ini diimbangi oleh dorongan ke luar tekanan
histamin atau zat-zat kimia bioaktif lain dapat hidrostatik di dalam pembuluh darah. Diagram
merangsang saraf. Selain itu, pembengkakan jaringan keseimbang an gay a-gay a y ar.g disederhanakan ini
yang meradang menyebabkan peningkatan tekanan ditunjukkan pada Gbr. 4-2-. Limfatik memindahkan
lokal yang tidak diragukan lagi dapat menimbulkan cairan yang mencapai calah jaringan, dan demikian
nyeri. kesetaraan secara normal dipertahankan.
Pergeseran cairan yang terjadi secara bertahap pada
reaksi peradangan berlangsung sangat cepat, seperti
Tumor (Pembengkakan) yang digambarkan sebelumnya dengan contoh lepuh
yang terjadi setelah cedera termal. Eksudat peradangan
Aspek paling mencolok pada peradangan akut semacam itu mengandung protein plasma dalam
mungkin adalah tumor, atau pembengkakan lokal jumlah yangcukup signifikan. |adi, peristiwa penting
yang dihasilkan oleh cairan dan sel-sel yang berpindah pada peradangan akut adalah perubahan permea-
dari aliran darah ke jaringan interstisial. Campuran bilitas pembuluh-pembuluh yang sangat kecil di
cairan dan sel-sel ini yang tertimbun di daerah daerah peradangan tersebut, yang mengakibatkan
peradangan disebut eksudat. Pada awal perjalanan kebocoran protein. Proses ini kemudian diikuti oleh
reaksi peradangan, sebagian besar eksudat adalah pergeseran kesimbangan osmotik, dan air keluar
cairan, seperti yang terlihat secara cepat di dalam bersama protein, menimbulkan pembengkakan
ResponsTubuhTerhodopCederc BAB 4 59

A.. .
Tekanan osmotik
vano disebabkan
6leh"protein plasma

Tekanan hidrostatik

Tekanan hidrostatik Tekanan osmotik


B yang disebabkan
oleh eksudat

l; lr,.: rrE;' ;',,,,-i,t, ,:,,r.r,,1,-:; :,,i"


,: .,:;,,1,,

Gbr. 4-2 Faktor-faktor yang terlibat dalam pedukaran cairan antara pembuluh darah dan jaringan. Dalam keadaan normal atau istirahat,
A, tekanan hidrostatik cenderung mendorong cairan ke dalam ruang interstisial. Hal ini secara luas diimbangi oleh tekanan osmotik yang
dikeluarkan oleh protein plasma (titiklitik) yang biasanya tidak lewat melalui dinding pembuluh darah. Cairan yang tidak melewati
interstisial keluar melalui limtatik. Pada peradangan akut, B, protein keluar dari pembuluh darah karena permeabilitas meningkat. Hal ini,
bersama dengan kontribusi yang lebih kecil dari peningkatan tekanan hidrostatik yang berkaitan dengan hiperemia, menyebabkan fluks
cairan yang signifikan. Aliran limfatik meningkat secara sesuai.

jaringan. Dilatasi arteriol yang menimbulkan serllm atau partikel-partikel penanda besar yang
hiperemia lokal dan kemerahan juga meniml)ulkan disuntikkan dalam uji coba untuk merangsang
peningkatan tekanan intravaskular lokal karena molekul-molekul protein. Biasanya, molekul-molekul
pembuluh darah membengkak. Aksi ini juga mening- atau pertikel-pertikel besar ini tidak dapat menembus
katkan pergeseran cairan (Gbr. +-2). Namun, faktor taut antarsel. Namun, jika terjadi reaksi peradangan
utama adalah peningkatan permeabilitas pembuluh lokal, timbul pemisahan yang sebenarnya di antara
darah terhadap protein. sel-sel endotel yang berdekatan pada daerah tersebut
Sel-sel endotel yang melapisi pembuluh kecil dan pertikel-partikel penanda (dan mungkin molekul-
menyebabkan timbulnya sifat semipermeabel yang molekul protein) ke luar dari lumen (Gbr.4-3, B).Iika
biasa pada pembuluh darah, dan sel-sel inilah yang pada uji coba tersebut menggunakan partikel penanda
mengubah hubungannya antara satu dengan yang lain yang berpigmen, seluruh pembuluh darah menjadi
pada peradangan akut, menimbulkan kebocoran pro- berubah warna dan memungkinkan untuk mengamati
tein dan cairan. Pada pembuluh darah kecil yang nor- bagian mana pada mikrosirkulasi yang sebenarnya
mal (Gbr. 4-3, A), sel-sel yang melapisi endotel saling mengalami kebocoran pada perjalanan peradangan.
berikatan dengan erat. Titik-titik di dalam lumen Pada sebagian besar keadaan yang dipelajari dengan
menunjukkan molekul-molekul besar, seperti protein cara ini, kebocoran tampaknya terutama terjadi pada
60 BAG IAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

ujung venul pada mikrosirkulasi, bukannya di dalam Sebaliknya, peningkatan aliran bahan-bahan ini
kapiler sejati (Gbr. +-3,C). melalui limfatik menguntungkan, karena-cenderung
meminimalkan pembengkakan pada jaringan yang
meradang dengan mengeluarkan sebagian eksudat.
Limfatik dan Aliran limf Namun, limfatik dapat membawa agen-agen yang
menimbulkan cedera dari tempat peradangan primer
Kejadian-kejadian pada sistem limfatik sejalan dengan sampai ke tempat yang jauh dari tubuh. Dengan cara
yang terjadi di dalam sistem pembuluh darah pada seperti ini, agen infeksius dapat menyebar. Akan tetapi,
reaksi peradangan akut. Biasanya, cairan interstisial kerja penyaringan kelenjar getahbening regional yang
secara perlahanmenembus ke dalam saluran limfatik menyaring aliran limf sering membatasi penyebaran
dan limf yang terbentuk dibawa ke sentral ke dalam ini, tetapi agen atau bahanyang dibawa di dalam limf
tubukq akhirnya bergabung kembali dengan darah dapat melewati kelenjar dan akhirnya mencapai aliran-
vena. ]ika suatu daerah meradang, biasanya terjadi darah.
peningkatan mencolok pada aliran limf yang keluar Karena alasan-alasan ini, harus selalu dipertim-
dari daerah itu. Pada perjalanan peradangan akut, sel- bangkan kemungkinan terkenanya sistem limfatik
sel pelapis yang berdekatan pada limfatik terkecil agak pada peradangan dengan berbagai penyebab. Limfa-
terpisah, sama seperti yang terjadi di dalam venul, ngitis adalah peradangan pada pembuluh limfatik;
memungkinkan akses yang lebih cepat bagi zat-zat limfadenitis adalah peradangan pada kelenjar getah
dari celah jaringan untuk masuk ke dalam limfatik. bening. Limfadenitis regional sering menyertai pera-
Saluran limfatik tampaknya dipertahankan dalam dangan. Satu contoh yang lazim adalah pembesaran
posisi terbuka karena sebuah jaringan membengkak kelenjar getahbening servikal yangnyeri, yang terlihat
akibat suatu sistem serabut jaringan ikat yang ter- pada getah bening tonsilitis. Istilah yang lebih umum
tambat pada dinding limfatik. Pada semua keadaarL adalah limfadenopatl digunakan untuk menggambar-
tidak hanya aliran limf yang meningkat tetapi juga kan sebenamya segala kelainan pada kelenjar getah
kandungan protein dan selpada limf juga meningkat bening. Dalam praktik, istilah tersebut tidak hanya
selama peradangan akut. menunjukkan limfadenitis, tetapi juga setiap pembe-

Gbr. tl-3 Mekanisme peningkatan permeabilitas vaskular pada peradangan akut. Pada pembuluh darah normal, A, taut antara sel-sel
endotel cukup kuat untuk tetap mempertahankan molekul-molekul besar di dalam lumen (titiklitik). Pada peradangan akut, B, kontraksi
sel-sel endotel menimbulkan celah yang memungkinkan kebocoran makromolekul. Seperti yang terlihat pada C, perubahan permeabilitas
pada sisi venul bantalan mikrosirkulasi.
ResponsTubuhTerhodopCedero BAB 4 6l

saran kelenjar getah bening, karena sebagian besar berkembangnya fenomena ini, leukosit yang
reaksi-reaksi kelenjar disertai dengan pembesaran. bermarginasi mulai melekat pada endotel,
menimbulkan gambaran yang mengingatkan kita
pada jalan berbatu, sehingga memunculkan istilah
p na eme ntin g. Marginasi dan p aa emenf lng mendahului
ASPEK.ASPEK SELULAR emigrasi leukosit dari pernbuluh darah ke jaringan di
PERADANGAN sekelilingnya.
Leukosit bergerak secara ameboid (Gbr. a-a, C);
leukosit terlihat memiliki kemampuan mengr-rlurkan
Marginasi dan Emigrasi pseudopodi ke dalam ruang yang mungkin ada di
antara dua sel endotel dan kemudian secara bertahap
Ketika arteriol berdilatasi pada awal peradangan akut, mendorong dan muncul di sisi lain, suatn proses-
aliran darah ke daerah yang meradang meningkat. disebut emigras i atau diapedesls-memerlukan waktu
Akan tetapi, sifat aliran darah segera berubah. Karena beberapa menit. Akibalnya, karena kejadian ini terjadi
cairan bocor keluar dari mikrosirkulasi dengan berulang kali di dalam venul dengan jumlah tidak
peningkatan permeab ilitas, unsur-unsur darah dalam terhitung dan karena banyak leukosit yang dikirimkan
jumlah banyak (eritrosi t, trombosit, dan leukosit) tetap ke daerah tersebut meialui sirkulasi darah, maka sel-
tertinggal, dan viskositas darah meningkat. Sirkulasi sel dalam jumlahyang sangatbanyak masuk ke dalam
di daerah yang terkena kemudian melambat, menye- daerah peradangan dalam waktu yang relatif singkat.
babkan beberapa akibat penting. Secara normal, aliran Berjuta-juta sel beremigrasi ke dalam daerah pera-
darah kurang lebih lancar (Gbr. 4-4, A) dan unsur- dangan yangbahkan kecil dalam waktu beberapi jam.
unslrr darah tidak membentur dinding pembuluh
darah. Ketika viskositas darah meningkat dan aliran
lambat, leukosit mulai mengalami marginasi; yaitu Kemotaksis
bergerak ke bagian perifer arus, di sepanjang lapisan
pembuluh darah (Gbr. 4-4, B). Seiring dengan Pergerakan ieukosit di interstisiai pada jaringan yang
meradang setelah leukosit tersebut beremigrasi
tampaknya tidak secara acak tetapi terarah pada
berbagai "sinyal" kimia. Fenomena ini disebut se6agai
kemotnksis. Berbagai agen dapat memberikan sinyal
kemotaktik unLr-rk menarik leukosit, meliputi agen-agen
infeksius, j aringan rusak, dan zat-zat yang diak tif kan
di dalam fraksi plasma yang bocor dari aliran darah.
Dengan demikian, kombinasi yang mulus antara
peningkatan pengiriman leukosit ke daerah tersebut
(sebagai akibat hiperemia), perubahan-perubahan
dalam aliran darah yang mengakibatkan marginasi
dan pnztementing, serta orientasi kemotaktik gerakan
leukosit mengakibatkan akumulasi cepat komponen
leukosit yang signifikan di dalam eksudat.

MEDIASI PERADANGAN

Fenomena vaskLrlar, cairan, dan selular yang dramatik


pada peradangan jelas di bawah pengawasan yang
ketat. Meskipun beberapa cedera secara langsung
merusak endotel pembuluh dan dengan demikian
Gbr. 4-4 Aliran darah dan fenomena selular pada peradangan
akut. Secara normal, A, diperlihatkan unsur-unsur darah, terutama rnenimbuikan kebocoran protein dan cairan di daerah
leukosit, dibawa ke dalam aliran utama. Karena sirkulasi melambat, cedera, pada sebagianbesar kasus cedera mencetuskan
B, terjadi marginasi leukosit. Hal ini mendahului emigrasi leukosit di pembentukan dan,/atal pelepasan zat-zat kimia di
antara sel-sel endotel, C" dalarn tubuh, dan mediator-mediator ini *r 1.', r.. .
Fr en i 1
^
62 BAG IAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

peradangan. Banyak tipe cedera dapat mengaktifkan dikenal sebagaisel-sel mast,yangtersebar luas di dalam
mediator-mediator endogen yang sama, yang mungkin tubuh (histamin juga terdapat di dalam basofil dan
menjelaskan sifat stereotipik respons peradangan trombosit). Histamin yang disimpan tidak aktif dan
terhadap stimulus yang berbeda. Periode laten di mengeluarkan efek vaskularnya hanya jika dilepas.
antara stimulus cedera dan berkembangnya respons Banyak cedera fisik menyebabkan degranulasisel mnst
peradangan juga menunjukkan peran mediator-me- dan pelepasan histamin. Cedera tertentu awalnya
diator; kemampuan unbuk mengelakkan aspek-aspek mencetuskan aktivasi sistem komplemen serum
tertentu pada reaksi dengan agen-agen penghambat (dijelaskan kemudian dan di dalam Bab 5), komponen
farmakologik menekankan pentingnya mediator. tertentu yang kemudian menyebabkan pelepasan
Banyak zalyang dilepas secara endogen dikenal histamin. Beberapa reaksi imunologik (dirinci di
sebagai mediator respons peradangan. Pengetahuan dalam Bab 5) juga mencetuskan pelepasan mediator
semacam ini, pada satu sisi memberikan pengertian ini dari sel mast. Histamin terutama penting pada awal -
yang lebih baik mengenai defisiensi dan gangguan peradangan dan merupakan mediator utama dalam
respons peradangan dary pada sisi lain, menunjukkan beberapa reaksi alergik yang sering. Antihistamin
cara menekan peradangan yang tidak dikehendaki merupakan obat yang dibuat untuk menghambat efek
saat terjadi secara klinis. Walaupun daftar mediator mediator histamin.
yang diajukan panjang dan kompleks, mediator-me-
diator yang lebih dikenal dengan baik digolongkan
menjadi kelompok-kelompok berikut ini: Faktor-Faktor Plasma
L. Amin-aminvasoaktif
2. Zat-zatyang dihasilkan oleh sistem-sistem enzim Plasma darah merupakan sumber yang kaya akan
plasma sejumlah mediator-mediator penling. Mediator-media-
3. Metabolit asam arakhidonat tor ini dibentuk melalui kerja enzim proteolitik tertentu
4. Produk-produk sel lain yang membangun semacam sistem pertahanan yang
saling berhu,bungan. Agen utama yang mengatur
sistem-sistem nn adalahfaktor Hageman (fnktor XII),yang
Histamin terdapat di dalam plasma dalam bentuk inaktif dan
yang dapat diaktivasi oleh berbagai cedera. Faktor
Amin vasoaktif yang paling penting adalah histamin, Hageman yang telah diaktivasi mencetuskan kaskade
yang mampu menghasilkan vasodilatasi dan pening- pembekuan, menyebabkan pembentukan fibrin (lihat
katan permeabilitas vaskular. Sejumlah besar histamin Bab 19). Pembekuan, dengan sendirinya merupakan
disimpan di dalam granula sel-sel jaringan ikat yang reaksi pertahanan yang penting terhadap cedera, tetapi

Fosfolipid

I
w
Asam arakhidonat

Jalur siklooksigenase
w
Jalur lipoksigenase
u t
& t
w
rnJo peroksidase Asam hidrof,eroksi dan
I
a
asam hidroksi-lemak
I e

/ b
&

to^o%r"n w

Leukotrien (leukotrien,
(r romboksan Ar)
Ao, Bo, zat-zat anafilaksis
yang bereaksi-lambat
atau LTC., LTD.)

Gbr. 4-5 Metabolisme asam arakhidonat dan mediator-mediator peradangan


ResponsTubuh Terhodop Cedero BAB 4 63

produk-produk tertentu yangberasal dari fibrin juga makrofag, kandungan lisosomal sel-sel ini (setelah
bertindak sebagai mediator vasoaktif pada pera- pembahasan), dan sitokin dilepaskan oleh'berbagai
dangan. Faktor Hageman juga mengaktivasi sistem sel, terutama limfosit dan makrofag yang teraktivasi.
plasminogen, membebaskan plasmin atau fibrinolisin. Sitokin yang berperan penting dalam memediasi
Protease ini tidak hanya memecahkan fibrin tetapi juga peradangan adalah interleukin 1 dnn B (IL-1,IL-8) dan
mengaktivasi sistem komplemen. Beberapa komponen faktor nekrosis tumor (tumor necrosis factor,TNF). Nitric
sistem komplemen berfungsi sebagai mediator oxide (NO) merupakan mediator lain yang berasal dari
peradangan yang penting. Sebagai contoh, derivat sel yang ditemukan dalam beberapa tahun terakhir.
komponen ke$ga dan kekna, anaflato,ksln, melepaskan Zattni, dihasilkan oleh makrofag, sel-sel endotel, dan
histamin dan memengaruhi permeabilitas vaskular. sel-sel lain, dapat memiliki efek-efek vasomotor
Derivat komponen kelima dan kompleks komponen penting, memengaruhi fu ngsi trombosit, dan bahkan
kelima, keenam, dan ketujuh merupakan agen bertindak sebagai suatu radikal bebas sitotoksik.
kemotaktik yang kuat jika diaktifkan di dalam jaringan. Akhirnya, mediasi adhesi dan transmigrasi leukosit
Pengaruh-pengaruh ini penting pada banyak contoh melibatkan pengikatan molekul-molekul yang saling
peradangan, tidak hanya pada reaksi-reaksi yang melengkapi pada permukaan sel-sel endotel dan
leukosit. Molekul-molekul ini meliputi selektin, molekul-
dirangsang secara imunologis (walaupun, seperti yang
molekul adhesi endotel, dan integrin. Mediator-mediator
dijelaskanpada Bab 5, penyatuan antigen dan antibodi
tertentu merupakan aktivator penting pada sistem tertentu seperti histamin dan sitokin-sitokin tertentu
komplemen). Faktor Hageman yang telah diaktivasi dapat merangsang keluarnya selektin dan molekul-
jugamengub ahpreknlikrein (suattzat inaktif di dalam molekul adhesi lainnya (misal, molekul adhesi antarsel
1 [ICAM-1], molekul adhesi sel vaskular [VCAM-1])
plasma) menjadi kttlikrein (suatu enzim proteolitik),
pada permukaan endotel. Kemudian, seiring dengan
yang kemudian pada gilirarrrya, bekerja pada kinino-
leukosit yang diaktivasi, integrin pada permukaan
gen plasma untuk membebaskan brsdikinil4, suatu
leukosit berinteraksi dengan molekul adhesi endotel,
peptida yang melebarkan pembuluh darah dan
dan hasil akhiinya adalah ekstravasasi leukosit.
meningkatkan permeabilitas.
Dengan demikian, daftar keseluruhan mediator-
mediator peradangan yang dikemukakan begitu luas,
dan pengetahuan mengen ai zat-zat mana yang secara
Metabolit Asam Arakhidonat signifikan terlibat dalam reaksi yang ada masih cukup
terbatas. Cukup banyaknya tumpang tindih dan
Pada beberapa tahun terakhir ini, perhatian ditujukan kelebihan tampaknya terlibat dalam penghambatan
pada metabolit asam arakhidonat sebagai mediator reaksi peradangan secara efektif.
peradangan penting. Asam arakhidonat berasal dari
fosfolipid padabanyak membran sel ketika fosfolipase
diaktivasi oleh cedera (atau oleh mediator-mediator
lain). Kemudian, dua jalur yang berbeda dapat JENIS DAN FUNGSI LEUKOSIT
memetabolisme asam arakhidonat ; i alur siklooksigenase
dan jalur lipooksigenase, menghasilkan berbagai pros-
taglandin, tromboksan, dan leukotrien (Gbr.4-5). Zat- Leukosit dalam sirkulasi darah dan yang beremigrasi
zat ini menunjukkan kisaran luas efek-efek vaskular ke dalam eksudat peradangan berasal dari sumsum
dan kemotaktik pada peradangan, dan beberapa di tulang, tempat eritrosit dan trombosit juga dihasilkan
antaranya juga penting dalam hemostasis. Aspirin dan secara terus-menerus (lihat Bab 16). Dalam keadaan
banyak obat-obat antiinflamasi nonsteroid sekarang normal, di dalam sumsum tulang dapat ditemukan
dikenal sebagai penghambat j alur siklooksigenase. berbagai jenis leukosit imatur dan "kumpulan"
leukosit matur disimpan sebagai cadangan untuk
dilepaskan ke dalam sirkulasi darah. fumlah tiap jenis
Ieukosit dalam sirkulasi darah perifer sangat terbatas
Produk-Produk Sel yang Lain (lihat Bab 18) tetapi berubah "sesuai kebutuhan" jika
timbul proses peradangan. Artinya, dengan
Di samping mediator-mediator yang telah disebutkan, dimulainya respons peradangan, sinyal umpan balik
berbagai zatyangberasal dari sel dapat juga penting pada sumsum tulang mengubah laju produksi dan
dalam peradangan. Sebagian di antaranya meliputi pelepasan satu jenis leukosit atau lebih ke dalam
metabolit oksigen yang dihasilkan oleh neutrofil dan aliran darah.
d4 BAG IAN SATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

Granulosit sel matur, siap dilepas jika ada sinyal. Walaupun


sumsum tulang secara harafiah mengganti miliaran
Granulosit, suatu kelompok leukosit yang terdiri atas neutrofil per hari, produksi dan pelepasan neutrofil
neutrofil, eosinofil, dan basofil, diberi nama demikian diatur dengan cukup ketat.
karena adanya granula di dalam sitoplasma yang Ketika dilepas ke dalam aliran darah, PMN biasa-
terlihat setelah diberi zat warna tertentu. Dua jenis nya tidak mampu melakukan pembelahan sel lebih
leukosit lain, monosit dan limfosit, tidak mengandung lanjut atau menyintesis enzim-enzim selular yang
banyak granula sitoplasmik yang menandai sel-sel signifikan. Banyak granula terlihat di dalam sito-
yang disebutkan sebelumnya. Walaupun masing- plasma neutrofil, namun sebenarnya merupakan
masing jenis sel tersebut terdapat di dalam sirkulasi paket-paket enzim yang terikat memb r an (lisosom) y ang
darah, leukosit tidak secara acak terlihat di dalam dihasilkan selama pematangan sel. Enzim,enzim ini
eksudat, tetapi tampaknya sebagai akibat sinyai-sinyal terdiri atas berbagai hidrolase, termasuk protease, li- -
kemotaktik khusus yang timbul dalam berkembangnya pase, dan fosfatase. Selain itu, granula memiliki
proses peradangan. hubungan dengan berb agai zatantimikroba. Dengan
Sel-sel yang pertama kali timbul dalam jumlah besar demikian, dalam praktiknya, PMN matur merupakan
di dalam eksudat pada jam-jam pertama peradangan kantong yang mengandung banyak enzim dan
adalah neutrofil. Inti sel-sel ini memiliki lobus yang partikel-partikel antimikroba.
tidak teratur atau polimorf (Gbr. 4-6). OIeh karena itu, PMN mampu bergerak aktif seperti amuba dan
sel-sel ini dis ebut n eu t r ofil p olimo rfonukl ear, P MN, atau mampu menelan berbagai zat melaiui suatu proses
"poli." Sel-sel ini memiliki urutan perkembangan di yang disebutfagositosis. Seperti yang dilukiskan pada
dalam sumsum tulang yang kira-kira memerlukan Gbr. 4-7 ,neutrofil mendekati pertikel (misal, bakteri)
waktu 2 minggu untukberkembang lengkap. jika sel- yang akan difagositosis, mengalirkan sitoplasmanya
sel ini dilepas ke dalam sirkulasi darah, maka waktu di sekeliling partikel tersebut, dan akhirnya
paruhnya di dalam sirkulasi adalah 6 jam atau sekitar memasukkan partikel tersebut ke dalam sitoplasma
6 jam. Kira-kira terdapat 5000 neutrofil per milimeter yang terbun$kus di dalam vesikel terikat-membran
kubik darah yang ada di dalam sirkulasi pada setiap yang menonjol ke luar dari membran sel neutrofil. Zat-
waktu, dengan 100 kali jumlah ini tertahan di dalam zat tertentu yang membungkus objek yang diingesti
sumsum tulang sebagai cadangan dalam bentuk sel- dan menyebabkannya lebih mudah dimasukkan oleh

a
t*3
:,i

'* W,r
t'Lry tl
3, fig6*"4i.

t#l#r;: €f.ffi*, S.*i%*i


Gbr. 4-6 Makrofag dan neutrofil pada jaringan ikat. Sel-sel ini merupakan bagian dari banyak eksudat yang dalam keadaan ini terbentuk
sebagai respons terhadap infeksi bakteri. Sebagian besar sel yang diperlihatkan adalah neutrofil. Granula sitoplasmanya tidak dapat
dilihat pada pembesaran ini, tetapi intinya yang berlobus secara iregular (polimorf) jelas terlihat. Makrofag beberapa kali lebih besar dan
pada eksudat ini ierlihat sitoplasma yang seperti busa. Neutrofil ini tersebar, tetapi tampak menonjol pada pertengahan bawah dan kiri
lapangan pandang. (Fotomikrograf, 500X.)
ResponsTubuhTerhodopCedero BAB 4 65

leukosit membantu proses fagositik trti. Zat-zat yang ini diikuti oleh pecahnya fagolisosom); hal irri terjadi
mempermudah-leukositosis semacam ini, disebut op- jika neutrofil berusaha mengingesti kompleks-
sonin, termasuk imunoglobulin (antibodi) dan kompleks imun dalam keadaan-keadaan tertentu.
komponen-komponen sistem komplemen (lihat Bab 5). Jenis-jenis keadaan ini diuraikan tebih lengkap di
Setelah mengingesti sebuah partikel dan memasuk- dalam Bab 5 dan 12.
kannya ke dalam sitoplasma ke dalam aakuolafagositik Eosinofil merupakan jenis granulosit lain yang
atau fagosom, tugas leukosit berikutnya adalah dapat ditemukan di dalam eksudat peradangan,
membunuh partikel tersebut jika partikel itu merupa- walaupun biasanya dalam jumlah yang relatif sedikit.
kan agen mikroba yang hidup, dan mencernanya. Eosinofil memiliki inti iregular yang mirip dengan
Agen hidup dibunuh dengan berbagai cara, termasuk neutrofil, tetapi granula sitoplasmanya berwarna
mengubah pH intraselular setelah fagositosis, melepas merah cerah jika diwarnai dengan eosin dan jauh lebih
zat-zat antibakteri ke dalam vakuola fagositik, dan mencolok daripada granula neutrofil yuttg ter*urrru
menghasilk an zat-zat antibakteri seperti hidrogen lembayung. Granula eosinofil sebenamya merupakan
peroksida (dan metabolit oksigen lain yang sangat paket-paket enzim yang cukup mirip dengan neutrofil.
reaktif) sebagai akibat proses-proses metabolik selular Pada kenyat aanny a, eosinofi I memiliki banyak fu ngsi
yang dimulai setelah peristiwa fagositik. Partikel- yang sama: eosinofil berespons terhadap rangsang
pertikel yang difagositosis umumnya dicerna dan kemotaktik; eosinofil memfagositosis berbagai jenii
sekarang diaktivasi di dalam fagolisosom ini, meng- partikel; dan bahkan membunuh mikroorganisme
akibatkan pencemaan enzimatik objek tersebut. tertentu. Akan tetapi, hal yang berbeda adalah bahwa
Dalam keadaan tertentu, enzim-enzim pencemaan eosinofil berespons terhadap stimulus kemotaktik khas
dan metabolit-metabolit oksigen pada neutrofil dapat tertentu yang timbul selama reaksi-reaksi alergik dan
dilepaskan ke dalam jaringan pejamu bukannya ke eosinofil mengandung zat-zat yang toksik terhadap
dalam fagolisosom intraselular. Jika hal ini terjadi, parasit-parasit tertentu dan zat-zat yang memediasi
maka neutrofil menjadi agen yang poten pada cedera reaksi peradangan. Selain itu, eosinofil cenderung
jaringan. Pelepasan ekstraselular ini terjadi pada berkumpul dalhm konsenterasi yang signifikan d1
kematian dan disintegrasi neutrofil; pelepasan ini tempat infestasi parasit dan reaksi-reaksi alergik.
terjadi setelah fagositosis kristal-kristal tertenflr, seperti Jenis granulosit ketiga adalah basofil, yang sito-
urat oleh neutrofil (karena fagositosis kristal-kristal plasmanya dipenuhi oleh granula besar yang ber-
warna tua jika diwarnai dengan pewarnaan dasar.
Walaupun sel-sel ini berasal dari sumsum tulang
Nukleus
seperti granulosit yang lain, basofil cenderung
memiliki banyak gambaran yang sama dengan sel-sel
, =>\ tertentu pada jaringan ikat yang disebut sel most atau
basofil jaringan. Granula pada kedua jenis sel ini
mengandung berbagai enzirn,heparin, dan histamin.
Bnsofil darah tampaknya memberi respons terhadap
I
sinyal kemotaktik yang dilepaskan dalam reaksi
Bakteri imunologik tertentu dan biasanya terdapat dalam
jumlah sangat kecil di dalam eksudat. Basofil darah
dan sel mast jaringan dirangsang untuk melepaskan
kandungan granulanya ke lingkungan sekelilingnya
pada berbagai keadaan cedera, termasuk baik reaksi
imunologik maupun reaksi nonspesifik. Sel-sel mast
merupakan sumber utama histamin pada awal reaksi
peradangan akut. Sarana imunologik yang merang-
sang pelepasan granula oleh sel-sel mast atau basofil
dibahas di dalam Bab 5.

Gbr. 4-7 Diagram fagositosis. Neutrofil dan monosit mengingesti


partikel-pertikel dengan mengalirkan sitoplasmanya di sekeliling Monosit dan Makrofag
objek dan memasukkan objek tersebut ke dalam pembungkus
membran sel, fagosom. Kemudian enzim-enzim pencernaan Monosit merupakan suatu bentuk leukosit yang ber-
lisosom dilepaskan ke dalam fagolisosom. beda dari granulosit karena morfologi intinya dan sifat
66 BAGIAN sATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM: MEKANISMEPENYAKIT

sitoplasmanya yang relatif agranular (lihat Gbr. tt-6). taan ini telah diketahui beberapa tahun lalu dan istilah
Monositjugaberasal dari dalam sumsum tulang, tetapi sistem retikuloendotelial (RES) digunakan untuk
siklus hidupnya 3 sampai 4 kali lebih lama daripada menunjukkan sel-sel mononuklear yang juga mem-
granulosit. Pada perjalanan reaksi peradangan akut, punyai sifat-sifat yang sama, yaitu fagositosis. Saat
monosit mulai beremigrasi dalam waktu yang kira- ini sistem monosit-makrofag merupakan istilah yang
kira sama dengan neutrofil, tetapi jumlah monosit jauh digunakan untuk RES karena istilah ini sebenarnya
lebih sedikit dan kecepatannya lebih lambat. Oleh lebih deskriptif. Seperti yang telah diketahui, RES atau
karena itu, pada jam-jam pertama peradangan, di sistem monosit-makrofag tidak saja mencakup
dalam eksudat terdapat sel-sel monosit dengan jumlah monosit darah dan histiosit jaringan atau makrofag
yang relatif sedikit. Namun, seiring dengan semakin yang mengembara, tetapi juga sekelompok besar sel-
lamanya usia eksudat, persentase sel-sel ini biasanya sel fagositik mononuklear yang kurang lebih terfiksasi
meningkat. Sel yang sama, yaitu disebut monosit, di yang berkaitan erat dengan anggota-anggota sisterru
dalam sirkulasi darah disebutmakrofng jika terlihat di yang lebih mobil. Populasi sel-sel yang kurang mobil
dalam eksudat. Ternyata, jenis sel yang sama ditemu- ini meliputi sel-sel pembatas di sepanjang saluran-
kanmengembara dalam jumlah kecil melalui jaringan saluran darah di dalam limpa, hati (tempat sel-sel itu
ikat tubuh, bahkan dalam keadaan tidak adanya dikenal sebagai sel-sel Kupffer), dan sumsum tulang.
peradangan yang berlebihan. Makrofag yang mengem- Makrofag terfiksasi yang sama juga terdapat di
bara di dalam jaringan ikat ini dikenal s ebagaihistiosit. sepanjang banyak saluran limfatik di dalam kelenjar
Makrofag mempunyai fungsi yang sama dengan getah bening tubuh. Selain itu, terdapat banyak
PMN yaitu bahwa makrofag merupakan sel yang makrofag dalarn rongga-rongga serosa tubuh, di dalam
bergerak aktif yang berespons terhadap rangsang paru (makrofag alveolar), dan bahkan di dalam sistem
kemotaktik, yang secara aktif bersifat fagositik aktif, saraf pusat (sel-sel mikroglia).
dan mampu membunuh serta mencema berbagai agen. Fungsi penting sistem ini meliputi aktivitas fago-
Terdapat beberapa perbedaan penting antara makrofag sitik yang kuat pada sel-sel komponennya. Sel-sel ini
dan PMN. Pertama, makrofag dapat bertahan membersihkan darah, limf, dan ruang-ruang inter-
berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan di stisial dari benda asing, sehingga merupakan fungsi
dalam jaringan, berlainan dengan PMN yang memiliki pertahanan yang penting. Bahkan saat jutaan mikro-
siklus hidup pendek. Kedua, saat monosit keluar dari organisme disuntikkan ke dalam sirkulasi darah,
sumsum tulang, memasuki aliran darah, dan kemu- sebanyak jutaan makrofag menempati lokasi secara
dian memasuki jaringan, monosit tersebut belum strategis di sekeliling tubuh untuk menyingkirkan
sepenuhnya matur seperti halnya neutrofil. Ketiga, mikroorganisme dalam waktu beberapa jam. Sifat ini
PMN tidak mampu melakukan pembelahan lebih sangat penting, karena minimal ada sedikit organisme
lanjut dan juga bidak mampu menyintesis enzim-enzim akan masuk ke dalam cairan sirkulasi tubuh pada saat
pencernaan. Sebaliknya, monosit dapat dirangsang menggosok gigi secara kasar, defekasi, atau manipu-
unlukmembelah di dalam jaringan dibawah keadaan lasi tertentu yang berkaitan dengan medis atau gigi.
tertentu, dan monosit mampu menyintesis berbagai Karena aktivitas fagositik sistem makrofag, episode
enzim intraselular, sehingga berespons terhadap bakteremia semacam ini bersifat sementara dan ringan.
kondisi-kondisi lokal. Kemampuan untuk menjalani Makrofag di dalam rongga tubuh dan jaringan ikat
"pelatihan sewaktu keqa" merupakan sifat penting melakukan fungsi yang mirip polisi. Selain itu, ambilan
makrofag, terutama pada reaksi-reaksi imunologik benda-benda asing oleh makrofag merupakan langkah
tertentu yang makrofagnya dilatih oleh limfosit- pertama yang penting dalam rantai peristiwa yang
limfosit. Pada keadaan-keadaan semacam itu makrofag menyebabkan induksi respons imun (lihat Bab 5).
meningkatkan aktivitas metaboliknya, dan menjadi Fungsi sehari-hari yang penting pada sistem
lebih efektif dalam membunuh dan mencema mikroba- monosit-makrofag meliputi pemrosesan hemoglobin
mikroba tertenbu. Makrofag dapat juga berubah bentuk pada eritrosit yang sudah mencapai akhir siklus
karena mengalami perubahan-perubahan semacam hidupnya. Makrofag memerangkap dan mendaur
itu, memunculkan sel-sel yang dikenal sebagaisel-sel ulang kembali komponen-komponen zat yang penting
epitelioid. Makrofag juga dapat menyatu bersama untr"rk ini dengan memecahkan hemoglobin menjadi satu
membentuk sel-sel raksssayang berinti banyak. Benllrk- bagian yang mengandung-besi dan satu bagian yang
bentuk ini akan dilukiskan pada Gb. 4-13 dan4-14' tidak-mengandung-besi. Besi didaur ulang untuk
Walaupun makrofag merupakan komponen membangun sel-sel darah merah lain di dalam
penting berbagai eksudat, makrofag juga tersebar sumsum tulang; bagian yang tidak-mengandung-besi
secara luas di tubuh dalam keadaan normal. Kenya- diproses lebih lanjut, membebaskan suatu zat yang
ResponsTubuhTerhodopCedero BAB 4 67

dikenal seba gaibilirubin, yang dibawa ke dalam aliran akut jka ada bukti awal p erb aikan bersama dengan
sub
darah menuju hati, tempat bilirubin diekstrak oleh eksudasi. Lokasi reaksi peradangan diriamakan
hepatosit dan disekresikan sebagai bagian empedu. menurut nama organ atau jaringan, yang ditambahkan
akhiran-lfls (misal, apendisitis, tonsilitis, artritis).

Limfosit
Eksudat Nonselular
Satu jenis leukosit, yaitu limfosit, belum dibicarakan.
Limfosit umumnya terdapat di dalam eksudat dalam Eksudat Serosa
jumlah yang sangat sedikit hingga waktu yang cukup
Pada beberapa keadaan radang, eksudat hampir
lama, yaitu, sampai reaksi-reaksi peradangan menjadi
seluruhnya terdiri atas cairan dan z at-zatyangterlarut
kronis. Karena fungsi-fungsi limfosit yang diketahui
dengan sangat sedikit leukosit. Jenis eksudat non-
semuanya berada dalam bidang imunologik, sel-sel
selular yang paling sederhana adalah eksudat serosa,
ini akan lebih lengkap diuraikan di dalam Bab 5.
yang pada dasarnya terdiri atas protein yang bocor
Masing-masing komponen pada respons pera-
dari pembuluh-pembuluh darah yang permeabel di
dangan mempunyai satu kepentingan yang unik.
daerah peradangan bersama dengan cairan yang
Vasodilatasi pada awal peradangan akut menyebab-
menyertainya. Contoh eksudat serosa yang paling
kan "bahan-bahan baku" dibawa ke daerah tersebut
dikenal adalah cairan pada luka lepuh. Penimbunan
untuk melakukan reaksi. jika dilatasi arteriol dan
eksudat serosa yangserupa sering ditemukan di dalam
peningkatan aliran darah dihalangi oleh kondisi lokal
rongga bubuh, seperti rongga pleura atau rongga peri-
atau pemberian obat-obat tertentu, maka aspek pera-
toneum dan, walaupun tidak mencolok, eksudat se-
dangan selanjutnya terhambat. Peningkatan permea-
rosa sering menyebar melalui jaringan ikat.
bilitas vaskular tidak hanya mengakibatkan mengalir-
Kadang-kadang terjadi pengumpulan cairan di
nya cairan ke luar, yang dapat mengencerkan agen-
dalam rongga tubuh yang bukan karena peradangan,
agen berb ahaya, te tapi j u ga mengangkut z at-zat pr o-
biasanya karena peningkatan tekanan hidrostatik atau
tein penting seperti opsonin atau antibodi lain ke
"tempat pertempuran." Selanjutnya, salah satu pro-
penurunan kadar protein plasma. Pengumpulan
bukan karena peradangan semacam ini disebut
tein yang bocor ke daerah peradangan adalahfibrino-
transudnt dan sedikit protein dan sel dibandingkan
gen, yang secara cepat diubah menjadi fibrin, yang
dengan eksudat.
dapatbertindak sebagai semacam penutup atau "lem"
pada luka. Karena sifat fibrilnya, fibrin dapat bertindak
sebagai sarana untuk migrasi leukosit fagositik dan Eksudat Fibrinosa
akhimya untuk sel-sel yang membentuk jaringan parut jenis kedua eksudat nonselular adalah eksudatfbrinosa,
pada fase perbaikan. Leukosit yang telah dimobilisasi
yang terbenftrk saat protein yangkeluar daripembuluh
tidak hanya menangkap mikroba yang menginvasi darah di daerah peradangan mengandung banyak fi-
tetapi juga menghancurkan debris jaringan sehingga brinogen. Fibrinogen ini diubah menjadi fibrin, berupa
proses perbaikan dapat dimulai. jalinan yang lengket dan elastik (mungkin lebih dikenal
sebagai bagian utama bekuan darah) . Eksudat
fibrinosa sering dijumpai di atas permukaan serosa
yang meradang seperli pleura dan perikardium, tempat
POLA.POLA PERADANGAN
fibrin yang diendapkan mengeras menjadi lapisan di
atas membran yang terkena (Gbr. -8). Jika lapisan
Walaupun reaksi peradangan cenderung terjadi fibrin yang tebal semacam ini tertimbun di atas
setelah mekanisme seperti yang sudah diuraikan permukaan serosa, sering disertai dengan gejala rasa
sebelumnya, berbagai pola peradangan dapat timbul nyeri jika satu permukaan bergesekan dengan
berdasarkan atas jenis eksudat yang terbentuk, organ permukaan yang lain. jadi, misalnya, pasien pleuritis
atau jaringan tertentu yang terlibat, dan lamanya merasa nyeri saat bernapas ketika permukaan yang
proses peradangan. Tata nama proses peradangan kasar itu saling bergesekan selama inspirasi. Gesekan
memperhitungkan masing-masing variabel ini. pada permukaan-permukaan kasar juga menimbulkan
Berbagai tipe eksudat diberinama deskriptif. Lamanya suatu tanda yang disebut friction rub, yang dapat
respons peradangan disebut sebagai akut selamafase didengar melalui stetoskop di atas daerah yang
eksudasi aktif; disebut kronis jlka ada bukti perbaikan terkena, apakah itu pleura, perikardium, atau struktur
yang sudah lanjut disertai eksudasi, dan disebut lain yang sejenis.
68 BAG IAN SATU PE N DAHULUAN PATOLOGI U MUM : ME KANISME PENYAKIT

respons terhadap infeksi bakteri; eksudat ini juga


terdapat dalam respons terhadap bany?k cedera
aseptik dan secara mencolok terjadi hampir di semua
tempat pada tubuh yang jaringannya telah menjadi
nekrotik.
Infeksi bakteri sering menyebabkan konsentrasi
PMN yang sangat tinggi yang tertimbun di dalam
jaringan, danbanyak sel-sel ini mati serta membebas-
kan enzim-enzim hidrolitiknya yang kuat ke sekitar-
nya. Dalam keadaan ini, enzim-enzim PMN secara
harafiah mencema jaringan di bawahnya dan men-
cairkannya. Kombinasi agregasi neutrofil dan -
pencairan jaringan-jaringan di bawahnya ini disebut
nLptlas[ dandengan demikian eksudat yang terbentuk
disebut eksr dnt supuratif, atau lebih sering disebutpus.
Jadi, pus terdiri atas PMN yang hidup, mati, dan yang
hancur; jaringan yang mencair dan tercerna; cairan
eksudat pada proses peradangan; dan seringbakteri-
bakteri penyebabnya. Perbedaan signifikan antara
peradangan supuratif dan purulen adalah bahwa pada

Gbr. 4-8 Eksudat f ibrinosa pada permukaan jantung. Perikardium


sudah dibuka, dan lapisan fibrin yang kasar jelas terlihat
menggantikan permukaan epikardium yang secara normal licin.
Lapisan ini terbentuk dari fibrinogen yang dikeluarkan dari
pembuluh-pembuluh darah di bawahnya. Secara klasik, keadaan
ini disebut sebagai "bread-and-butter heart."

Eksudat Musinosa
Eksudat nonselular yang lain adalah eksudatmusinosa
ataukntttrsl. jenis eksudat ini hanya dapat terbentuk
di atas permukaan membran mukosa, tempat sel-sel
yang dapat menyekresi musin. Jenis eksudat ini
berbeda dari eksudat lain karena eksudat ini merupa-
kan sekresi selular bukarrrya dari sesuatu yang keluar
dari aliran darah. Sekresi musin merupakan sifat nor-
mal membran mukosa, dan eksudat musinosa tidak
lebih merupakan percepatan proses fisiologis dasar.
Contoh eksudat musin yang paling dikenal dan
sederhana adalah pilek yang menyertai berbagai
infeksi pernapasan bagian atas.

Eksudat Selular
Eksudat Neutrofilik
Gbr.4-9 Eksudat purulen di dalam selaput otak. Membran yang
Eksudat yang paling sering dijumpai terutama terdiri menutupi otak secara harafiah mengandung berjuia-juta neutrofil
atas PMN, dalam jumlah yang begitu banyak sehingga yang membentuk eksudat purulen. Bercak-bercak eksudat seperti
krim terutama menonjol di bagian bawah. Girus-girus di tengah-
lebih menonjol daripada bagian cairan dan proteinosa.
tengah foto berwarna gelap karena kongesti vaskular yang nyata,
Eksudat neutrofilik semacam ini disebut purulen. sebagai bagian dari respons peradangan. (Gambar ini adalah
Eksudat purulen (Gbr. 4-9) biasanya terbentuk sebagai meningitis pneumokokus.)
ResponsTubuhTerhodopCedero BAB 4 69

peradangan supuratif te4adi nekrosis liquefaktif pada yang berhubungan dengan permukaan disebut sinus.
jaringan di bawahnya (Gbr. 4-10). (Walaupun terdapat Sebaliknya, jika abses meluas ke dua permukdan yang
perbedaan signifikan antara peradangan purulen dan terpisah, maka dapat menimbulkan saluran abnormal
supuratif, sayangnya banyak yang mencampur- yang menghubungkan dua organ atau menghubung-
adukkan istilah ini.) kan lumen organ berongga dan permukaan tubuh.
jika terjadi supurasi lokal di dalam jaringan padat, Hubungan abnormal semacam ini disebftfistula. (Fis-
lesi yang diakibatkan disebut abses. .\bses secara tula itu diberi nama sesuai dengan hubungannya
harafiah adalah sebuah lubang berisi nanah yang [misal, gastrokolika, bronkopleura, kolokutaneus].)
terdapat di dalam jaringan yang terkena (lihat Gbr.4- Contoh lain peradangan supuratif yang lazim
10). Abses merupakan lesi yang sulit diatasi oleh tubuh adalah furunkel, atau bisul, yang merupakan pem-
karena kecenderungannya untuk membesar dengan bentukan abses kutaneus di dalam suatu folikel rambut
pencairan jaringan yang lebih luas, kecenderung- sebagai akibat infeksi bakteri. Knrbunkel adalah daerah
annya untuk membentuk lubang, dan resistensinya supurasi yang lebih dalam yang melibatkan jaringan
terhadap penyembuhan. Jika terbentuk abses, maka subkutan, dengan daerah discharge multipel di atas
obat-obat terapeutik yang diberikan, seperti antibiotik permukaankulit.
melalui aliran darah sulit masuk ke dalam abses. Bila peradangan purulen meluas secara difus
Umumnya, penanganan abses oleh tubuh sangat melalui jaringan, maka proses tersebut dinamakan
dibantu oleh proses pengaliran keluar abses tersebut flegmonus; istilah selulitis lebih sering digunakan
secara pembedahan, sehingga memungkinkan secara klinis untuk manggambarkan daerah pera-
ruangan terlutup yang sebelumnya terisi nanah akan dangan flegmonus. Penyebaran proses purulen
mengecil dan sembuh. Jika jalur yang dipilih oleh semacam ini biasanya terlihat sebagai akibat infeksi
dokter bedah secara pembedahan tidak mengalirkan bakteri pada saat agen tertentu mampu menyebar
abses keluar, maka abses cenderung meluas, merusak secara cepat melalui jaringan ikat longgar tubuh.
struktur lain yang dilalui oleh abses tersebut. Suatu
abses di dalam paru dapat membentuk terowongan
sampai abses tersebut menembus rongga pleura, dan Eksudat Campuran
jika isi keluar ke dalam rongga pleura serta infeksinya
akan menyebar, sehingga dapat mengakibatkan Seperti yang diduga, sering terjadi campnran eksudat
empiema, y ang merupakan proses peradangan purulen selular dan nonselular, dan dinamakan sesuai dengan
yang mengenai seluruh rongga pleura. Kadang- campurannya. Campuran ini meliputi eksudat
kadang abses pecah pada permukaan dan menim- fibrinopurulen,ymgterdiri atas fibrin dan PMN; eksudat
bulkan saluran keluar yang berakhir begitu saja di mukopurulen terdiri atas musin dan PMN; eksudat
dalam ruang abses. Setiap saluranbuntu semacam itu ser ofibrinosa; dan seterusnya. Eksudat-eksudat tertentu,

Gbr. 4-10 Abses otak. Sebagai akibat


infeksi bakteri pada hemisfer serebrum di
sebelah kanan, sejumlah besar neutrofil
beremigrasi ke daerah tersebut. Pencairan
jaringan regional oleh enzim lisosom neutrofil
menimbulkan kelainan seperti yang tampak
pada gambar.
70 BAGIAN SATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM:MEKANISMEPENYAKIT

seperti eksudat musinosa dan mukopurulen khas ini adalah pengum-


matosa. Sifat khas peradangan
unfuk membran mukosa. pulan makrofag dalam jumlah besar dan agregasi
Kadang-kadang, pada kerusakan membran makrofag menjadi gumpalan-gumpalan nodular yang
mukosa, daerah nekrotik dapat mengelupas, menim- disebut granuloma. Walaupun banyak eksudat
bulkan celah pada permukaan mukosa. Defek se- peradangan mengandung makrofag yang cukup, pada
macam ini disebut ulkus. Palins sering, eksudat peradangan granulomatosa, lapangan pandang
fibrinopurulen yang berasal dari pembuluh darah di didominasi oleh lapisan sel-sel makrofag atau derivat-
bawahnya membenbuk permukaan dasar ulkus (Gbr. nya, seperti sel-sel epitelioid atau sel-sel raksasa berinti
4-11). Kadang-kadang daerah membran mukosa yang banyak. Granuloma memerlukan waktu unfuk tumbuh
luas akan mengalami nekrotik dan sel-sel yang mati dan umumnya melalui tahap-tahap agak kurang akut
dapat terperangkap di dalam jala yang dibentuk oleh yang terdapat eksudasi cairan, neutrofil, dan protein.
eksudat fibrinopurulen, yang melapisi permukaan Emigrasi monosit yang terus-menerus dan proliferasi-
mukosa. Daerah seperti ini umumnya menyerupai lokal sel-sel ini menyebabkan pembentukan massa
membran mukosa yangkasar, dan oleh karena ifu jenis sebagai granuloma. Granuloma biasanya terbentuk
proses ini disebut sebagai per adangan p seudomembranosa karena adanya beberapa agen penyerang yang
(Cbr. -12). Contoh klasik peradangan pseudo- menetap di dalam jaringan yang resisten terhadap
membranosa pada masa lampau adalah pseudo- usaha tubuh untuk membuangnya. Agen-agen
membran pada difteri di saluran pernapasan. Dengan semacam itu dapat berupa bahan-bahan tidak larut
demikian membran semacam ini kadang-kadang tetapi steril atau khususnya mikroorganisme yang
disebut sebagai difteritik. Peradangan pseudomem- resisten. Bentuk asli mikroorganisme yang menimbul-
branosa dapat dijumpai di dalam saluran cerna, kan pembentukan granuloma adalah Mycobacterium
khususnya kolon, sebagai akibat gangguan ekologi tuberculosis, atau basil tuberkel. Respons terhadap
mikroba saluran cerna, biasanya disebabkan oleh organisme ini adalah khas granulomatosa, dan
pemberian antibiotik. makrofag biasanya berkumpul di dalam agregat sel-
sel epiteloid dan sel-sel raksasa. Sel-sel epitelioid dalam
bentuk massa nodular ini disebut seb agaituberkel (Gbr.
Peradangan Cranulomatosa 4-13). Granuloma juga terbentuk sebagai respons
terhadap benda asing seperti benang jahit (Gbr. -14).
Suatu pola peradangan khas dan berbeda yang dapat Umumnya, adanya granuloma merupakan tanda
terjadi di mana saja adalah peradangan granulo- "pencernaan jaringan." Pada beberapa keadaan,

Gbr. 4-11 Ulkus lambung. Celah seperti ini pada permukaan yang utuh disebut u/kus. Di bagian dasarnya selalu terjadi reaksi peradangan.
Pembuluh darah dapat mengalami erosi, menimbulkan perdarahdh, atau seluruh ketebalan dinding dapat mengalami perforasi.
I?espons Tubuh Terhodop Cedero BA B 4 7t

Gbr.4-12 Kolitis pseudomembranosa. Lesi-lesi menyerupai plak yang banyak pada permukaan mukosa kolon ini merupakan bercak-
bercak pseudomembran yang mengandung eksudat fibrinopurulen dan debris epitel nekrotik.

r!:
rri t
,r
.{.
r*
**-
*r,

Gbr.4-13 Tuberkel epitelioid. Tuberkel adalah massa makrofag yang memiliki tampilan menyerupai epitel. Zona yang tidak berbatas
jelas, sel-sel berwarnaterang di bagian perifer lapangan pandang (sepertiga bagian luar) terdiri atas mekrofag epitelioid dan sel-sel
raksasa berinti banyak (pada jam 3 dan jam 7). Pusat tuberkel telah mengalami proses nekrosis kaseosa. Sel-sel kecil yang berwarna
gelap adalah limfosit. (Fotomikrograf, 315X.)

seiring dengan timbulnya granuloma, makrofag


mampu mengatasi agen-agen penyerang yang dalam
NASIB REAKSI PERADANGAN
keadaan ini agen-agen tersebut dihilangkan. Pada
keadaan lain agen tersebut tetap refrakter, dan Dengan adanya reaksi peradangan, dapat dicapai
pengaruh pembentukan granuloma adalah untuk hasil terbaik jika terjadi sedikit atau tidak ada sama
melindungi agen itu dari bagian tubuh lain. sekali kerusakan jaringan di bawahnya. Pada keadaan
PENDAHU LUAN PATOLOGI U MUM : ME KANISME PENYAKIT

hilang. Pembuluh darah kecil di daerah tersebut


memperoleh semipermeabilitasnya kembali seperti
yang semula, aliran cairan berhenti, dan emigrasi
leukosit dengan cara yang sama juga berhenti. Cairan
yang sudah dikeluarkan sedikit demi sedikit diabsorpsi
oleh limfatik, dan sel-sel eksudat mengalami dis-
integrasi, keluar melalui limfatik, atau benar-benar
dihilangkan dari tubuh (misal, eksudat paru yang
dibatukkan keluar). Hasil akhir proses ini adalah
jaringan yang sebelumnya meradang kembali seperti
keadaan semula sebelum reaksi peradangan dimulai.
Fenomena ini disebut resolusi.
Sebaliknya, jika jumlah jaringan yang dihancurkan
cukup signifikan, maka resolusi tidak terjadi. ]aringan
yang rusak harus diperbaiki oleh proliferasi sel-sel
pejamu di dekatnya yang masih hidup. Perbaikan
sebenarnya melibatkan dua komponen yang terpisah
tetapi terkoordinasi. Pertama, regenerasi,sebenarnya
Gbr. t1-14 Granuloma benda asing. Pada keadaan ini granuloma
melibatkan proliferasi unsur-unsur parenkim yang
merupakan massa makrofag yang telah menyatu membentuk identik dengan unsur-unsur yang hilang, hasil akhir-
banyak sel raksasa. Banyak sel ini telah menelan fibril, yang nya adalah penggantian unsur-unsur yang hilang
merupakan fragmen-fragmen bahan sutura. (Fotomikrograf, 200X.) dengan jenis sel-sel yang sama. Komponen kedua
perbaikan meliputi proliferasi unsur-unsur jaringan
ikat yang menyebabkan pembentuk an jaringanparut.
Pada sebagianbesar jaringan, terjadi kombinasi kedua
seperti itu, jika agen penyerang sudah dinehalkan dan aktivitas ini.
dihilangkan, maka rangsang untuk melanjutkan Kemampuan berbagai sel dan jaringan untuk
eksudasi cairan dan sel-sel sedikit demi sedikit meng- beregenerasi bervariasi secara luas. Sebagian besar

-a r
?r'
&"'*'\ I
I ..1t -,

Gbr' 4-15 Organisasi dini. Gambar ini memperlihatkan jaringan granulasi yang sedang tumbuh ke daerah perbaikan. Sel-sel yang
memanjang berbentuk kumparan adalah fibroblas. Ujung-ujung kapiler yang tumbuh dikenal sebagai struktur tubular, bulat pada potongan
melintang (seperti yang terlihat di bagian kanan bawah). Sel-sel yang hitam kecil adalah leukosit, dan ruang interstisial berisi cairan
eksudat dan zat dasar jaringan ikat. Bandingkan dengan Gbr. 4-16. (Fotomikrograt, 315X.)
ResponsTubuh Terhodop Cedero BAB 4 v3

jaringan epitel, seperti yang menutupi kulit dan secara bertahap semakin matang menjadi jaringan ikat
melapisi mulut, faring, dan saluran cerna mengalami kolagen yang agak padat atau jaringan parut (Gbr. 4-
regenerasi dengan mudah setelah sebagian jaringan 16). Walaupun jaringan parut telah menjadi cukup
hilang. Sel-sel epitel lain" seperti sel-sel perenkim hati, kuat setelah kira-kira dua minggu, proses remodeling
tubulus ginjal, atau unsur-unsur sekretorik kelenjar- masih terus berlanjut serta densitas dan kekuatan
kelenjar tertentu beregenerasi dengan baik, memberikan jaringan parut ini juga meningkat terjadi setelah
gambaran bahwa jaringan dipertahankan tanpa berminggu-minggu. Jaringan granulasi, yang pada
kolaps yang luas selama proses peradangan. Struktur awalnya cukup selular dan vaskular, lambat laun
khusus yang kompleks seperti glomerulus ginjal, jika kurang selular dan kurang vaskular serta menjadi
rusak tidak mengalami regenerasi. Beberapa jenis sel kolagen yang lebih padat. Imbangan kasar evolusi ini
beregenerasi sangat buruk atau tidak sama sekali. telah dikenal pada keadaan penyembuhan insisi,
Regenerasi yang bermanfaat sangat terbatas pada otot sedangkan jaringan parut yang dihasilkannya mula-
involuntar dan voluntar jika terdapat perbaikan, dan mula agak lunak dan cukup merah muda karena
sayangnya tidak terjadi regenerasi sarna sekali pada vaskularitas, akhirnya menjadi lebih padat dan lebih
otot janhrng yang sering mengalami nekrosis. Akhimya pucat karena pembuluh darah mengalami regresi.
dan hal yang penting adalah bahwa tidak terjadi
regenerasi neuron atau sel-sel saraf di dalam sistem
saraf pusat. Bila sel-sel ini hilang, maka kehilangan Penyembuhan Luka
tersebut bersifat permanen.
Perbaikan melalui pembentukan jaringan parut Koordinasi pembentukan parut dan regenerasi
merupakan proses yang efisien pada tiap jaringan mungkin paling mudah dilukiskan pada penyem-
tubuh. Pembentukan jaringan parut melibatkan buhan luka di kulit. Jenis penyembuhan yang paling
proliferasi jaringan ikat mulai dari daerah-daerah yang sederhana terlihat pada penanganan luka oleh tubuh
berbatasan dengan jaringan nekrotik meluas ke dalam seperti pada insisi pembedahary yang tepi lukanya
daerah yang telah jaringannya dihancurkan oleh dapat saling didekatkan untuk dimulainya proses
reaksi peradangan. Pertumbuhan ke dalam pada penyembuhan. Penyembuhan semacam itu disebut
jaringan ikat muda yang sedang berproliferasi ke penyembuhnn primer atauhealing by first intention.Segera
dalam daerah peradangan disebut sebagai organisasi, setelah terjadi luka, tepi luka disatukan oleh bekuan
dan jaringan ikat itu sendiri disebutlaringan granulasi. darah yang fibrinnya bekerja seperti lem (Gbr.4-I7,
Komponen-komponen jaringan granulasi sebenamya itu terjadilah reaksi peradangan akut
,4,). Segera setelah
meliputi fibroblas, tunas-tunas kapiler yang berproli- pada tepi luka itu, dan sel-sel radang, khususnya
ferasi (sel-sel endotel kadang-kadang disebut sebagai makrofag, memasuki bekuan darah dan mulai meng-
angioblas),berbagai jenis leukosit dari proses peradang- hancurkannya. Setelah reaksi peradangan eksudatif
arybagian cairan eksudal, danzal dasar jaringan ikat ini, dimulai pertumbuhan jaringan granulasi ke arah
longgar setengah cair. Organisasi terjadi jika banyak dalam pada daerah yang sebelumnya ditempati oleh
sekali jaringan menjadi nekrotik, jika eksudat pera- bekuan-bekuan darah. Dengan demikian setelah
dangan menetap dan tidak menghilang dan jika massa beberapa hari,luka tersebut dijembatani oleh jaringan
darah (hematom) atau bekuan-bekuan darah tidak cepat granulasi yang disiapkan untuk matang menjadi
menghilang. Fibroblas dan angioblas pada jaringan sebuah parut. Sementara proses ini terjadi (Gbr. 4-17 ,
granulasi yang berasal dari fibroblas dan kapiler di B), epitelpermukaan di bagian tepi mulai melakukan
sekelilingnya yang sebelumnya ada, serta migrasinya regenerasi, dan dalam waktu beberapa hari lapisan
terarah sedemikian hingga jaringan ini secara bertahap epitel yang tipis bermigrasi di atas permukaan luka.
meluas ke dalam daerah yang sesuai (Gbr. tt-15). Seiring dengan jaringan parut di bawahnya menjadi
Bukti organisasi yang paling awal biasanya terjadi matang, epitel ini juga menebal danmatang, sehingga
beberapa hari setelah dimulainya reaksi peradangan. menyerupai kulit di dekatnya. Hasilnya (Gbr. +-17,C)
Setelah kira-kira satu minggu, jaringan granulasi adalah terbentuknya kembali permukaan kulit dan
masih cukup longgar dan selular. Pada saat ini, fibro- dasar jaringan parut yang tidak nyata atau hanya
blas jaringan granulasi sedikit demi sedikit mulai terlihat sebagai satu garis yang menebal. Banyak luka
menyekresikan prekursor protein kolagen yang larut, di kulit yang sembuh dengan cara seperti ini tanpa
zat ini sedikit demi sedikit akan mengendap sebagai perawatan medis. Pada luka lain, diperlukan jahitan
fibril-fibril di dalam interstisial jaringan granulasi. untuk mendekatkan kedua tepi luka sampai terjadi
Setelahbeberapa waktu, semakin banyak kolagen yang penyembuhan. Jahitan dapat diangkat jika sudah
tertimbun di dalam jaringan granulasi, yang sekarang terjadi organisasi dan regenerasi epitel hingga pada
74 BAG IAN SATU PEN DAHU LUAN PATOTOGI U M UM : ME KAN ISME PENYAKIT

l.*.:,' ,
lo ,.",
.*
.#.

{ /,"
.- lt
't
rti ;
|

;f "lt*'
a.
'l
a't ,
'l "r/I
j
It
Gbr.4-15 Jaringan parut matang. Sewaktu jaringan granulasi menjadi matang, fibroblas menyintesis kolagen, membentuk parut yang
keras. Pada gambar ini, zat interstisial memiliki gambaran seperti "benang," karena banyaknya kolagen dalam bentuk fibrilar. Seiring
dengan parut yang semakin tua, parut tersebut menjadi semakin kurang selular dan densitas kolagen bertambah. (Fotomikrograf, 315X.)

Jaringan granulasi
yang tumbuh ke arah dalam
Luka insisi

.o,o",...',"

f ';Y... t
Reaksi
peradangan
Dermis

A B

Gbr. 4-17 Penyembuhan luka insisi, terutama Iuka tertutup. Tepi luka awalnya ditahan oleh bekuan darah, A, dan mungkin juga oleh
jahitan. Suatu respons peradangan akut dibentuk pada jaringan di sebelahnya, yang menimbukan pertumbuhan jaringan granulasi ke
darah dalam setelah beberapa hari, B. Pada stadium ini, berlangsung regenerasi epidermis. Akibat yang lazim adalah regenerasi
epidermis sempurna dan parut demis yang padat, yang terbentuk waktu jaringan granulasi menjadi matang, C.

suatu saat tepi luka tidak akan membuka lagi jika tidak dapat saling didekatkan selama proses penyem-
benang dilepas. Jadi, di daerah kulit yang relatif buhan. Keadaan ini disebut sebagai healing by second
terdapat sedikit tegangan, jahitan dapat diangkat intention atau kadang disebut penyembuhan dengan
dalam beberapa hari, jauh sebelum tercapai kekuatan grnnulasi (Gbr. a-18). Jenis penyembuhan ini secara
parut dan sebelum terbimbunnya kolagen dalam jumlah kualitatif identik dengan yang diuraikan di atas.
yang cukup. Di daerah yang teregang, jahitan hams Perbedaannya yaitu hanya lebih banyak jaringan
dibiarkan di tempatnya lebih lama untuk menahan granulasi yang terbentuk, dan biasanya terbentuk
jaringan sampai dapat terbentuk jaringan parut yang jaringan parut yang lebih luas. Tentu saja, seluruh
kuat. proses tersebut memerlukan waktu penyembuhan
Pola kedua penyembuhan terjadi jika kuiit yang yang lebih lama daripada penyembuhan primer. Pada
mengalami luka sedemikian rupa sehingga tepinya luka besar yang terbuka semacam itu, sering dapat
ResponsTubuhTerhodopCedero BAB 4 75

Bekuan darah
Reaksi peradangan

Parul
J

Gbr' 4-18 Healing by second intention pada luka terbuka. Secara kualitatif proses tersebut serupa dengan yang diperlihatkan pada
Gb.4-17 tetapi melibatkan regenerasi epitel yang lebih luas dan pembentukan jaringan parut yang lebih banyak. A, Keadaan segera
setelah terjadi luka; B, penyembuhan di bawah keropeng; C sebuah luka terbuka dengan jaringan granulasi yang dapat dilihat. D, Hasil
akhir berupa sebuah parut besar dan sering daerah epidermis "baru" tipis yang tidak berambut dan apendiks kulit yang lain.

terlihat jaringan granulasi yang menutupi dasar luka Sebenarnya penyembuhan pada setiap jaringan
seperti sebuah karpet yang lembut, yang mudah tubuh terjadi dengan proses yang berjalan sesuai
berdarah jika disentuh. Pada keadaan lain, jaringan dengan yang digambarkan untuk kulit, dengan
granulasi sebenamya tumbuh dibawah keropeng dan variasi-variasi lokal, bergantung pada kemampuan
regenerasi epitel tampaknya terjadi di bawah keropeng. jaringan untuk beregenerasi, dan sebagainya.
Akhirnya pada keadaan ini, keropeng terlepas setelah Sebutan suatu proses peradangan sebagai akut,
penyembuhan lengkap. Sebagian besar orang dapat subakut, atau kronis mencerminkan lamanya per-
mengingat kembali betapa tidak sabamya menunggu baikan. Peradangan akut, rnenurut definisi tidak
keropeng tersebut terlepas pada stadium yang kira- memiliki segi-segi perbaikan; proses ini hanya terdiri
kira ditunjukkan pada Gb. 4-18, B, memperlihatkan atas fenomena peradangan eksudatif. Pada pera-
adanya titik-titik perdarahan di tengah jaringan dangan subakut, adapermulaan pertumbuhan ke arah
granulasi tempat regenerasi epitel masih belum dalam jaringan granulasi dan mungkin permulaan
lengkap. Walaupun dalam banyak hal identik dengan regenerasi. Pada peradangarr. krcnis, bukti adanya
penyembuhan primer, penyembuhan sekunder kr-rrang perbaikan lanjut berdampingan dengan berlanju tnya
diharapkan (bukan karena suatu pilihan yang sering eksudasi. Bukti perbaikan lanjut meliputi proliferasi
ada) karena memerlukan waktu yang lebih lama dan regeneratif yang luas dan pembentukan parut yang
jaringan parut yang terbentuk sangat buruk. luas disertai banyak kolagen.
76 BAGTAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

FAKTOR.FAKTOR YANG sebagai akibatnya. Sifat jaringan parut adalah


memendek dan menjadi lebih padat serta kompak
I PERADANGAN
M EMENGARU H setelah beberapa lama. Kadang-kadang, akibatnya
DAN PENYEMBUHAN adalah kontraktur, yang dapat membuat daerah
menjadi cacat, pembatasan gerak pada persendian.
Jika jaringan parut melingkari struktur berbentuk tu-
Padabeberapa keadaan, proses peradangan sejak awal bulus (misal, uretra), akibalnya dapatberup astriktur,
dapat terganggu, yaitu pada stadium eksudatif. yang menyempitkan struktur itu sendiri dan dapat
Seluruh proses peradangan bergantung pada sirkulasi menimbulkan kesulitan-kesulitan yang berat. jika
yang utuh ke daerah yang terkena.Jadi,jika suplai permukaan serosa meradang dan eksudat tidak
darah ke suatu daerah berkurang, akibatnya dapat mengalami resolusi, maka jaringan granulasi dan
berupa proses peradangan yang sangat lambat, in-feksi jaringan parut akhimya dapat merekatkan permukaan -
yang menetap, dan penyembuhan yang buruk. Syarat serosa, membentukadhesi. Pada banyak daerah, seperti
lain agar peradangan eksudatif efisien adalah suplai pleura dan perikardium, adhesi umumnya memiliki
leukosit yangbebas di dalam sirkulasi darah. Pasien- pengaruh kecil pada fungsi organ. Akan tetapi, adhesi
pasien yang mengalami kerusakan atau depresi di dalam rongga peritoneum, apakah antara lengkung
sumsum tulang (misal, akibat penyakit keganasan atau usus atau antara visera abdomen dan dinding tubuh,
efek samping obat-obatan) tidak mampu memproduksi dapat menghasilkan selaput/jaringan yang dapat
eksudat selular dengan fungsi normal dan sebagai mempersempit bagian saluran pencernan atau akhir-
akibatnya adalah rentan terhadap infeksi berat. Yarg nya dapat memerangkap organ-organ tersebut,
lebih jarang, fungsi leukosit dapat terganggu, walau- membentuk hernia interna yang dapat mengalami
pun jumlahnya normal (misal, kemotaksis abnormal, strangulasi dan menjadi gangren. Komplikasi lain
fagositosis abnormal, atau pembunuhan intraselular yang kadang-kadang terdapat pada proses
dan pencernaan abnormal), dan pasien dengan cara penyembuhan luka pada dinding tubuh adalahher-
yang sama menjadi rentan terhadap infeksi agresif. nia insisional. Pada keadaan ini, jaringan granulasi dan
Karena fungsi leukosit dibantu oleh antibodi tertentu parut yang menjembatani defek pembedahan pada
(lihat Bab 5), maka reaksi peradangan juga secara nor- dinding tubuh secara bertahap menimbulkan tekanan
mal kurang efektif pada pasien-pasien imunodefi- intraperitoneum dan membentuk kantong yang
siensi. Akhimya, obat-obatan tertentu dalam dosis menonjol di dalam insisi. Komplikasi lokal ringan lain
yang cukup tinggi dapat menghambat aspek-aspek pada penyembuhan adalah penonjolan sebagian kecil
penting respons peradangan. Sebagai contoh, jika jaringan granulasi di atas permukaan luka yang
seorang pasien menerima kortikosteroid dosis tinggi sedang sembuh, membentuk apa yang kadang-kadang
atau obat-obatan antiinflamasi lain, peradangan dan disebut "proud flesh." Penyembuhan umumnya
penyembuhan dapat terganggu. berjalan baik jika pertumbuhan berlebihan yang ab-
Banyak faktor dapat memengaruhi penyembuhan normal semacam itu dikauter atau dipotong.
luka atau daerah cedera jaringan atau peradangan Komplikasi penyembuhan yang kadang-kadang
lain. Proses penyembuhan, karena kebergantungannya dijumpai ad alah. amputasi atau neuroma traumatik,yang
pada proliferasi selular dan aktivitas sintetik, terutama secara sederhana merupakan proliferasi regeneratif
sensitif terhadap defisiensi suplai darah lokal (dengan serabut-serabut saraf ke dalam daerah penyembuhan
akibat gangguan pengiriman bahan baku), dan juga tempat serabut-serabut saraf terjerat di dalam jaringan
sensitif terhadap keadaan gizi pasien. Pada pasien- parut yang padat. Neuroma semacam itu dapat
pasien yang sangat kekurangan gizi, penyembuhan merupakan sebuah gumpalan yang tidak enak untuk
luka tidak optimal. Penyembuhanluka juga diganggu dilihat atau bahkan menimbulkan nyeri di dalam
oleh adanya benda asing atau jaringan nekrotik di parut. Akhirnya, beberapa individu, tampaknya
dalam luka, adanya infeksi pada luka, dan imobilisasi berbasis genetik, menangani produksi dan/atal re-
serta pendekatan tepi luka yang tidak sempuma. Pada modeling kolagen dalam luka yang sedang sembuh
kasus yang nyata, dengan kegagalan pengobatan, luka secara abnormal sehingga terbentuk kolagen yang
bedah mungkin mengalarni dehisensi, atau terbuka. berlebihan, mengakibatkan suatu penonjolan yang
disebut keloid. Keloid sedikit lebih sering dijumpai
pada Afro Amerika dan orang Asia serta pada pasien-
Komplikasi Penyembuhan pasien muda. Secara biologis keloid bukan merupakan
Bahkan jika penyembuhan terjadi sesuai pada tingkat hal yang serius tetapi secara kosmetik dapat dianggap
selular, kadang-kadang dapat terjadi komplikasi sangat penting.
Respons Tubuh Terhodop Cedero BA B4 77

ASPEK.ASPEK SISTEMIK pelepasan dari sumsum tulang. Reaksi fase akut lain
adalah peningkatan sintesis "protein fase-akul" di hati
PERADANGAN seperti protein C-reaktif dan protein serum nmyloid-as-
sociated (SAA), dan komponen-komponen koagulasi
serta sistem komplemen. Peningkatan ini pada bebe-
Penekanan pembahasan sebelumnya adalah pada rapa proteinberkaitan dengan peningkatan laju endap
aspek-aspek lokal respons terhadap cedera. Akan darah (LED), menyebabkan timbulnya peradangan
tetapi, penting untuk memperhatikan efek-efek sistemik pada suatu tes darah yang kadang-kadang berguna
yang penting dan menonjol yang menyertai reaksi secara klinis. Cedera berat dapat menyebabkan per-
peradangan lokal. Reaksi fase akut ini tampaknya ubahan-perubahan metabolik dan endokrin yang jelas.
diperantarai oleh sitokin yang dihasilkan oleh leukosit Reaksi-reaksi peradangan lokal disertai berbagai
yang berperan dalam reaksi peradangan. Satu reaksi "gejala-gejala konstitusional" yang tidak jelas, ter-
yang telah dikenal adalah demam,yangdihasilkan oleh masuk malese, anoreksia atau kehilangan nafsu
kerja sitokin pada pusatpengatur suhu di hipotalamus. makan, dan berbagai derajat kecacatan atau bahkan
yaitu peningkatan jumlah leukosit di
Leukositosis, kelelahan yang luar biasa. Mungkin, zat-zatyang di-
dalam sirkulasi darah, diakibatkan dari stimulasi lepas dari daerah peradangan juga memediasi gejala-
maturasi leukosit yang diperantarai-sitokin dan gejala hi.

rKonseP KUNct
. ee,raaangan adalah raaksi fokaf faOa vaskutar :,:,::::: pemasokan zat.zat makanan ke sel-$di dan.
pemOuangan produk-produk buangan dari sel-
cedera yang mengakibatkan, pembentukan l.i.ii.:;.r;:,i;
$el, Sstem timlatit< membuang Segaia kei66ihahr.i
eksudat kaya-protein; peiadangan rnerupakan cairan yang tersisa di dalam ruang interstisial.
respons protektif sistem imun nonspesi{ik yang Ppruhahan fasb..ya,shihr pAlda peradayngan akut,...
1 ;,7".
:

: bekerja untuk melokalisasi, menetralisasi, atau meliputi vasokonstriksi sementara sebagai


: menghancurkan agen pencedera dalam :, I r.,t,respdns tgrhadap c'6dbra, diikUti,dengan vqso- . .
persiapan untuk pioses penyembuhan.
., l ii,, iifui
ua:tanda utama pe'iaoan gan adaian ruoor, ..",, yang menQalami cedera (mdngakibatkan ke-
(ke me rah an ), kalor (panas), do I o r (ny eri), t u m o r ,,,. fieiahan dan:panas). Pelepasan histamin dari
(pemben gkakan), dan fungsiolaesa (hilangnya sel-sel mast menyebabkan peningkatan per-
fungsi). : meabilitas kapiler, memungkinkan iairan yang
r Penyebab-penyebabp€radangan meliputiagens- 1,,,.ka!a-protein bocor ke luar, masuk ke,.dafam.
r

' agen lisik, kimia, reaksi imunologik, dan infeksi daerah cedera (mengakibatkan pembengkakan
, i

oleh organisme-organisme patogenik, jaringan dan nyeri). Aliran limfatik meningkat


Perhatikan bahwa infeksitidak sama dengan :
,sejalan dengan pehing[atan afiran darah.
,: pendangii dii inteksi hanya merupakan s;hh s
Perubahan fas;e selutar pada peradangan akut'
: satu penyebab peradangan. meliputi marginasi leukosit (pau"mehting) di
:,,r'"
)Hukum Starling pada Kapiiler menentukan :::-,'.. :,, n-U-Unnjang dindihg kapiler.kaiena ialiibn darah
:rq. , gerakan normalcairan diantara endotel kapiler melambat (cairan dan protein bergerak t<e luar,
.: semipermeabeldanruangan-ruanganjaringan. :,,,:;,,.,,', rneillebabkan pengendapan darah). Leukosit
Arah difusi secara keseluruhan ditentukan oleh t' .,i: :,: beremigrasi keluar dari pembul uh d ardl {diaped:,
::: tekanan hidrostatik darah yang cenderung men- esrs) dengan membentuk pseudopodia dan
,,, dorong cairan ke luar, berlawanan dengan gaya tertarik ke arah daerah peradangan (kemotaksisl.
-...,,,,..,,-q.smo
.
ti mole f
ku'i::,p,l$te.i'h' Ta h g ], c en de ru.nE =-., .,$ l-;etvangioilinatoiiiAm rcai'peraoanga;i =.
i1;i;inl$Janan,*gan,,di
#amkpilen [dsaim$n$a1. adatan leukosit fagositik (neutrofit atau PMN,
=l
,,,,..,"",,,.
g.gyqs,qya illi 9e.c-,,aF,no,mal mernbahtu eksUdasi
ii, .r Aaitafag, aii.u:egsin otti4, trombosit, oan rimi-ip,,.1="'
cairan di akhir arteri dan reabsorpsi cairan di Keluarnya sel-sel dari pembuluh daiah pada
,.,;.'=1,
ti.iiiiiit<nii qe*i pa-a Kiprai k madiln sk ln t<a n peradangan akut terdapat dalam dua stadium:
:.
78 BAG IAN sATtj PENDAHULUAN PATOLCGI UMUM: I\,lEKANISME PENYAKIT

neutrofil atau PMN mendomlnasi pada awal sebut sebagaiflegmon atau se/u/ifis. Eksudat
pembentukan eksudat dan kemudian didominasi hemoragik mengandung sel-sel darah merah.
oleh makrofag (monosit yang keluar dari pem- Akumulasi pus didalam sebuah kantong pada
buluh darah). Limfosit dan sel-sel plasma (diakti- jaringan lunak disebut abses, dan saluran yang
vasi oleh limfosit B) ditemukan dalam peradangan berasal dari abses ke permukaan kulit disebut
kronis. sebagai saluran sinus. Fistuta merupakan
Sel-sel fagositik mengingesti partikel-partikel saluran yang berasal dari rongga atau tabung
dengan mengalirkan sitoplasmanya ke sekeliling normal ke permukaan tubuh atau ke rongga lain;
objek dan memasukkan objek tersebut ke dalam fislula ini diberi nama sesuai dengan hubungan-
selubung membran sel (fagosom)^ Hnzim-enzim nya (misal, rekto-Vag inal, kolo kutane 0s). F u ru n -
pencernaan tisosomkemudian dilepas ke dalam kelatau blsulmerupakan suatu abses kutaneus.
fargesom4 membunuh partikel itu jika partikel Suatu abses yang terletak lebih dalam dengan
tersebut merupakan organisme hidup. daerah dischargemultipel disebut karbunkel.
Makrofag merupakan fagosit yang hidup lebih Manifestasi lokal peradangan akut meliputi
lama dan lebih poten daripada PMN yang hidup tanda-tanda utama peradangan, variasi tipe
lebih singkat dan mati setelah fagositosis. eksudat dan lesi, serta pembesaran kelenjar
Kemajuan respons peradangan akut di bawah getah bening regional (limfadenopatr) pada
kendali sekelompok sistem molekular yang kasus-kasus berat. Man if estasi sistem ik meliputi
diketahui sebagai mediator kimiawi, yang bekerja malese, anoreksia, demam, leukositosis,
secara lokal. Histamrn, amin vasoaktif terpenting peningkatan protein serum tertentu (misal, pro-
yang dilepas pada awal peradangan, meningkat- tein C-reaktif dan gamma globulin) serta LED,
kan permeabilitas vaskular. Faktor Hageman Peradangan kronis terjadi saat menetapnya
memulai mekanisme koagulasi intrinsik yang stimulus cedera dan ditandai dengan sebuah lesi
menimbulkan bekuan darah fibrin; faktor disertai penyembuhan parsial dan buktiadanya
Hageman ini juga mengaktivasi sr'stem iibrino- perbaikan fibrosa (parut), makrofag dan limfosit
/isin (menCairkan bekuan darah) dan meng- dalam jumlah yang lebih besar, serta peradangan
aktivasi sisfem kalikrein-kinin, menyebabkan persisten (misal, dasar ulkus lambung kronis).
pelepasan bradikinin (yang menyebabkan Peradangan granulomatosa merupakan suatu
dilatasi pembuluh darah dan meningkatkan proses yang berbasis pada kerja sistem imun
permeabilitas). Beberapa komponen sisfem selular dan melibatkan proses yang pada dasar-
komp! emenbertindak sebagai agen kemotaktik, nya berbeda dari peradangan akut dan kronis,
opsonin (meningkatkan fagositosis), atau ditandai dengan pembentukan lapisan se/-se/
sebagai anafilatoksin(menyebabkan pelepasan epitelioid (agregat makrofag yang: kehilangan:
histamin). Mediator kimia asam arakhidonat kemampuan fagositiknya) dan selse I raksasa
meliputi prosta$landin, tromboksan, dan leuko- berinti banyak (makrofag yahg menyatu)ldisebut
trien. Sitokin dilepas oleh berbagai sel yang granuloma. Granuloma biasanya terbentuk
memiliki peran penting dalam peradangan sebagai respons terhadap menetapnya agen
termasuk TNF, lL-1 , dan lL-8. penyerang yang tidak bisa disingkirkan (misal,
Pola-pola peradangan akut ditandai dengan tipe tuberkel pada tubdrkulosis, jahitan bedah yang
eksudat. Eksudat nonselular dapat bersifat se- tidakdapatdiabsorpsi). ,', ,, ,,,

rosa (misal, lepuh), fibrinosa (yaitu, tinggi pada Resolusi merupakan proses penyembuhan
{ibrinogen) atau musrnosa (misal, pada pilek yang normal yaitu jaringan:kembali ke normal setelah
menyertai selesma). Eksudat purulen biasanya peradangan akut dengan sedikit atau tanpa ke-
dibentuk sebagaf respons terhadap inteksi bakteri rusakan jaringan di bawahnya. Saat terjadi ke-
dan mengandung pus. Pustersusun dari air dan rusakan jaringan yang lebih luas, jaringan dapat
zat-zat leilaiut, PMN mati dan sakit, jaringan diperbaiki dengan penggantian sel-sel dengan
nekrotik, dan debris jaringan. Kombinasi penim- jenis yang sama (regenerasi) atau penggantian
br,nan PMN dan pencairan jaringan di bawahnya oleh jaringan parut, atau keduanya. l
disebut sebagai supurasi. Peradangan purulen Kemampuan regenerasi jaringan bervariasi^ Sel
yang meluas secara difus melaluijaringan di- se//abilseperti pada epitel, sumsum tulang, dan
jaringan limfoid cepat bereproduksi sebagai
ResponsTubuhTerhodopCedero BAB 4 79

bagian dari aktivitas normalnya. Sel:sel stabil, usia muda (anak-anak sembuh iebih cepat),
seperti sel-sel hati, epitel tubulus ginjal, dan nutrisiyang baik (protein, vitamin C, dan seng
tulang dapat beregenerasi, yang bentuk dasar- yang adekuat), pendekatan tepi luka yang baik,
nya tetap dipertahankan. Sel-se/ permanen dan fungsi leukosit serta respons peradangan
seperti pada otot jantung (dan sebagian besar yang normal. Penyembuhan luka dapat ter-
otot lain), glomerulus ginjal, atau neuron-neuron ganggu atau lambat jika ada pemberian korti-
siqt6m saraf ,pusat jika rusak tidak memitiki kosteroid atau adanya benda asing, jaringan
kemampuan beregenerasi, dengan demikian sel- nekrotik atau infeksi pada luka; hal ini merupakan
sel tersebut harus diperbaiki melalui pem- ,, alasan sering dilakukannya insisidan drainase
bentukan jaringan parut. abses atau debridemen luka untuk mempercepat
Penyembuhan pada insisi luka secara pem- penyembuhan.
bedahan dengan tepi yang didekatkan dikatakan r Komplikasi penyembuhan luka meliputi proud
merupakan penyembuhah primer; pembentukan f/esh (jaringan parut yang menonjol di atas
parut minimal. Sebaliknya, luka yang kasar dan permukaan luka), pembentukan keloidfi aringan
bgicelah dengan banyak kerusakan jaringan parut yang meluas melebihi batas luka asli),
(misal, ulkus pada kulit) mengakibatkan proses kontraktur luka yang /uas yang mengganggu
penyembuhan lebih lambat dengan pemben- mobilitas jika terdapat di atas sebuah sendi, dan
tukan parut yang jauh lebih banyak dan disebut stenosis atau konstriksi yang menyebabkan
sebagai penye mbuhan seku nde r alau penyem- terbentuknya parut di sekeliling struktur tubular
buhan disertai granulasi. seperti tuba fallopi atau ureter. Pita fibrosa
Penyembuhan luka merupakan serangkaian (menyerupai jaring laba-laba) dapat membentuk
langkah tr4ang ,berurutan paling baik diikuti permukaan serosa (adhesi) di dalam rongga
dengan perbaikan luka jaringan lunak yang peritoneum jika eksudat tidak dibersihkan secara
sederhana, insisional: (1) luka insisi; (2) per- benar dan dapat mengakibatkan obstruksi usus.
darahan, hemostasis, pembentukan bekuan- Serat-serat saraf perifer yang beregenerasi dan
permukaar.r menjadi kering, membentuk keropeng; terperangkap di dalam jaringan parut setelah
(3) respons peradangan akut; (4) kontraksi tepi amputasi anggota gerak disebut neuroma
luka; (5) debridemen-pembersihan darah dan traumatik. Dehiscence adalah terpisahnya
debris lain oleh fagosit; (6) stadium organisasi hingga terbuka suatu luka pembedahan.
atau proliferasi, membentuk jaringan gran ulasi Eviserasiadalah pecahnya hingga terbuka luka
'untuk mengisi luka {pembentukan pucuk kapiler pada abdomen disertai keluarnya usus dan me-
dari angioblas, kolagen dari fibroblas, dan migrasi rupakan keadaan gawat darurat yang serius.
sel-sel epitel daritepi luka di bawah keropeng Akhirnya, tekanan intraabdominal yang ber-
menuju tengah luka); (7) maturasi kolagen dan lebihan dapat menyebabkan timbulnya hernia
kontaksi parut; dan (8) remodeting parut. insisionaljaringan parut yang membonjol pada
Faktor-faktor yang memicu penyembuhan I uka dinding abdomen.
meliputisuplaidarah yang baik ke daerah cedera,
BAG IAN SATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM : MEKANISME PENYAKIT

PrnrnruYAAN
Sampel pertanyaan untuk bab ini terdapat di sini. Lihat hhtp://wwwmosby.com/MERLIN/PriceWilson/untuk pertanyaan
tambahan.

Cocokkan jenis eksudat berikut ini pada kolom A dengan pernyataan pada kolom B.
Kolom A Kolom B
1. Katarhal a. Penyebaran luas atau peradangan difus.
2. Supuratif b. Terjadi hanya pada membran mukosa
3. Flegmon (selulitis) dan mengandung musin
4. Serosa c. Termasukjaringaneksudatfibrinopurulen
5. Pseudomembranosa yang melapisipermukaan mukosayang
nekrotik
d. Mengandung sangat sedikit sel (misal,
cairan lepuh)
e. Mengandung banyak neutrofil hidup dan
mati serta debris yang dicairkan oleh
enzim-enzim yang dilepas dari neutrofil-
neutrotilyang mati.

Lengkapi bagian yang kosong dengan jawaban yang tepat.


6. adalah suatu lesi di dalam jaringan padat dan mengandung
sel-selmati, jaringan yang mencair, neutrofil, dan sering bakteri.
7. adalah celah lokal pada permukaan mukosa yang kontinJ.
B. Akumulasi pus didalam rongga pleura disebut
9. Hubungan saluran abnormal di antara dua organ atau lumen pada organ berongga dan
permukaan tubuh disebut
10. Akhiran untuk peradangan adalah
1t. adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan gerakan
leukosit darialiran sumbu ke perifer pada lumen pembuluh darah.
12, merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan
leukosit yang memasukkan pseudopodia di dalam taut antarsel serta meluncur dan
menggeliat melalui ruang ekstravaskular.
13. Resorpsi eksudat dengan kembalinya daerah tersebut menjadi normal disebut

14, merupakan penggantian jaringan matiatau cedera oleh sel-


sel baru yang berasal dari parenkim atau stroma.
15. Peradangan pada kelenjar getah bening disebut
16. Urutan yang benar kejadian-kejadian dibawah inisepertiyang terjadipada proses
peradangan adalah
a. Cedera jaringan
b. Peningkatan aliran darah lokal, menyebabkan panas dan kemerahan
c. Emigrasileukosit
d. Melambatnya aliran darah; marginasi leukosit
e. Peningkatanpermeabilitasvaskular
'''

Respons Tubuh Terhodop


Tdfttd6$on ho-ibgik I
MARIIYN SAWYERSOMMERS

afungsi sistem imun pada tubuh manusia


\'lGants
BEsAR BAB t iP adalah membedakan "diri sendiri" dari
IMUNITAS: cAMBARAN SI NCKAT DAN V "astng". Semua organisme adalah integrasi
rumitberagam,sel, jaringan, dan organ, yang masing-
DEFINISI, B1
masing diperlukan demi kelangsungan hidup. Untuk
Diri Sendiri Versus Riing, 82
l menunjang kehidupan, suatu organisme harus
..l,',:,,,;,Pe'ranAntigen {lmunogenl,.B2',:r:i:"::;' i
mampu melindungi diri dari ancaman terhadap jati
cRMenRAN st NC KAT SrsrEM rvuN,s:
gg.:.'-' i..,.,,,,.i.' dirinya. Ancaman ini dapat datang dari luar (misal,
=.'i.,,S.iit"*1.iiimioid lm,un),, serpihan kayrr menusuk kulit, virus atau bakteri yang
Organ Limfoid Primer, 84
., terhirup atau tertelan) atau dari dalam tubuh
;i,,::.,, ,,qt*"n l-imfoid Sekunder.,86 ,,:l
(misalnya, neoplasma atau tumor yang berasal dari
Lalu-Lintas Limfosit di dalam Tubuh, 88
sel tubuh sendiri).
lmunitas Selular, 88
, lmunitas Humoral, g3
Struktur dan Fungsi Komplemen, 97
KOMPLEKS H ISTOKOMPATI BI LITAS IMUN ITAS: GAMBARAN SINGKAT
' MAYoR, gB
DAN DEFINISI
Kelas Antigen MHC,98

Untuk melindungi diri dari ancaman terhadap jati


:RANGKUMAN: RESPONS IMUN, 1OO. dirinya, tubuh manusia telah mengembangkan reaksi
'- CaUangAferen dan Eferen Respons lmun, 100 pertahanan selular yang disebu t respons imun. Kata-
Respons lmun Primerdan Sekunder, 100 kata imunologi dan imunitas berasal dari kata Latin
TIPE IMUNITAS, 101 immunitas, yang pada zaman Romawi digunakan
.F]SIOLOCt REAKSI HIPERSENSITIVITAS, 1 02 untuk menjelaskan adanya perlindungan terhadap
':r Reaksi Tipe I (Anafilaktik), 102 tugas-tugas kemasyarakatan dan tuntutan hukum bagi
Reaksifipell(siiotOkik),tOt';, :
para senator Romawi semasa mereka menjabat. Secara
ReaksiTipe lll {Komfleks lmun), 1A4 '
historis, istilah ini kemudian digunakan untuk men-
ReaksiTipe tV 1Selula4, 10+ -. , '
jelaskan perlindungan terhadap penyakit infeksi.
IMUNODEFTSIENSl; 104 Untuk melindungi dirinya, tubuh memerlukan
FAKTOR USIA, 105 mekanisme yang dapat membedakan sel-sel sendiri
(selfl dari agen-agen penginvasi (nons elfl .

8l
82 BAG IAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

Mekanisme-mekanisme ini dapat disebut sebagai Molekul MHC kelas II ditemukan di monosit, makrofag
imunitas tubuh, yaitu suatu keadaan perlindungan dan sel sistem imun lainnya dan aktif selAma proses
(terutama terhadap infeksi) yang ditandai dengan fagositosis. FungsimolekulMHC kelas I,II, danIII dan
daya ingat dan spesifisitas. Daya ingat adalah fagositosis akan dibahas secara lebih rinci dalam bab
meningkatnya kemampuan suatu organisme untuk ini.
berespons terhadap suatu nntigen (suatu sel atau Sistem penentuan diri sendiri versus asing pada
molekul yang memicu respons imun, juga dikenal tubuh manusia melibatkan banyak mekanisme, yang
sebagai imunogen) karena pernah terpajan ke antigen sebagian di antaranya dilaksanakan oleh sistem
tersebut. Spesifisitas adalah sifat yang diperlihatkan Iimfoid. Sistem limfoid mempertahankan tubuh dari
oleh sel-sel sistem imun sebagai kemampuan untuk agen penginvasi melalui dua lengan: imunitas selular
bereaksi terhadap hanya satu determinan antigen. dan imunitas humoral. Imunitas selular adalah
Imunitas memiliki tiga fungsi utama: (1) perannya respons imun yang terutama dilaksanakan oleh-
dalam pertahanan adalah menghasilkan resistensi limfosit T, atau sel T. Saat tubuh terpajan ke suatu
terhadap agen penginvasi seperti mikroorganisme; (2) patogen, maka sel-sel T berproliferasi, dan terjadi
perannya dalam suraeilans adalah mengidentifikasi interaksi selular langsung yang spesifik terhadap an-
dan menghancurkan sel-sel tubuh sendiri yang tigen yang memicu respons tersebut. Suatu epitop
bermutasi dan berpotersi menjadi neoplasma (tumor); (determinan antigen) adalah suatu gugus kimia kecil,
dan (3) perannya dalam homeostasis adalah mem- biasanya terdiri dari lima asam amino atau gula, pada
bersihkan sisa-sisa sel dan zat-zatbuangan sehingga antigen yang memicu pembentukan dan bereaksi
tipetipe sel tetap seragam dan tidakberubah. dengan suatu imr"rnoglobulin (antibodi). Imunitas yang
diperantarai oleh antibodi, di pihak lain, adalah
imunitas spesifik yang diperantarai oleh produksi
Diri Sendiri Versus Asing imunoglobulin oleh limfosit B sebagai respons
terhadap suatu epitop.
Suatu kunci penting bagi kemampuan tubuh untuk
membedakan diri sendiri dari asing adalah kompleks
histokompatibilitas mayor (MHC), suatu kelompok gen Peran Antigen (lmunogen)
di lengan pendek kromosom keenam. Kelompok gen
MHC mengendalikan produksi satu rangkaian Walaupun kata antigen dan imunogen sering diperhrkar-
molekul khusus yang berfungsi sebagai antigen sel, kan, namun keduanya memiliki sedikit perbedaan.
"petanda-diri" untuk menunjukkan bahwa semua sel Antigen adalah suatu molekul atau sel yang bereaksi
milik satu organisme tertentu. Antigen-antigen dengan sntibodi (juga dikenal sebagai imunoglobulin,
permukaan ini diwariskan dan khas untuk setiap yaitu glikoprotein plasma yang disekresikan oleh
orang, dan berfungsi sebagai label sel; pengenalan limfosit B aktif). Imunoglobulin mampu berikatan
antigen MHC oleh sistem imun tubuh menyebabkan dengan antigen spesifik yang memicu pembentukan-
terbentukny a toler nnsi- dirl (kemampuan sistem imun nya. Suatu imunogen adalah molekul atau sel yang
menahan diri untuk tidak menyerang sel-sel tubuh menginduksi respons imun. Umumnya kedua kata
sendiri). Pada manusia, antigen-antigen MHC sering (antigen atau imunogen) sudah memadai kecuali
disebvt antigen leukosit manusia (HLA) karena pertama apabila molekul yang terlibat adalah suafii hapten
kali ditemukan di sel-sel darah putih (SDP). (sebuah antigen yang bukan imunogen kecuali apabila
Molekul-molekul MHC ditemukan di permukaan berikatan dengan molekul pembawa yang lebih besar).
hampir semua selberinti dan dibagi menjadi tiga kelas. Dengan demikian, hapten tidak dapat memicu respons
Dua akan dibahas secara singkat di sini dan yang imunogenik sendirian; hapten adalah antigen tetapi
ketiga di bagian mengenai Komplemen. Molekul MHC bukan imunogen. Penisilin G adalah suatu contoh obat
kelas I, yang ditemukan di permukaan semua sel yang berfungsi sebagai hapten dan menyebabkan
berinti dantrombosit (kecuali spermatozoa dan ovum), reaksi alergi yang parah pada sebagian orang. Hap-
berinteraksi dengan sel-sel yang terinfeksi oleh virus. ten lain adalah toksin dan hormon tertentu. Walaupun
Apabila suatu sel terinfeksi oleh virus, maka molekul sebagian besar hapten adalah molekul kecil, namun
kelas I berinteraksi dengan mikroorganisme yang sebagian asam nukleat berberat molekul tinggi juga
bereplikasi di dalam sel dan membantu menirnbulkan merupakan hapten.
destruksi pada sel yang terinfeksi. Molekul MHC kelas Beberapa ciri yang terdapat pada suatu, molekul
II berperan dalam tipe-tipe reaksi selular yang berasal menentukan kemampuan molekul tersebut memicu
dari patogen yangbereplikasi di luar sel, sepertibakteri. respons imun. Molekul yang asing jelas berbeda dari
Respons Tubuh Terhcdop Tontongcn lr,rLrnologik BAB s 83

ulang. Epitop biasanya nrc.miliki ukuran sekitar lima


asam amino atau gula. Spesifisitas respons imun
bergantung pada respons terhadap epitop-epitop.
Imunoglobulin yang diproduksi bersifat spesifik
terhadap epitop-epitop cl a n bukan terh a dap molekul
atau sel imunogen keselr-rruhan. Dengan demikian,
imunoglobulin tidak berikatan dengan sel atau
I +
molekul keseluruhan tetapi dengan epitop di per-
mukaanimunogen.
Imunogen asing yang umum adalah mikro-
organisme seperti bakteri, virus, dan ftrngus serta bahan
organik misalnya serbuk sari atau debu rumah.
Apabila organ, jaringan, sel, ata u molekul dari orang
lain atau bahkan dari spesies lain dinrasukkan ke
dalam tubtrl, seseorang melalui bedah transplantasi,
transftisi da r ,rh, atau vaksinasi, maka organ, jaringan,
sel, atau mciekul tersebut juga berltrngsi sebagai
imunogen. hi i unogen asli juga dapat memicu respons
imun, terut;rrna apabila sel-sel tubuh mengalami
mutasi dan nrlnjadi sel kanker.
Antigen

Gbr. 5-1 Antigen, molekul yang memicu respons imun, masing-


masing memiliki serangkaian epitop (determinan antigen). Epitop
pada satu antigen (491, Ag2) biasanya berbeda daripada epitop
di antigen lain, walaupun antigen seperti Ag3 mungkin memiliki GAMBARAN SINGKAT SISTEM IMUN
pengulangan epitop. Epitop adalah bentuk molekul yang dikenali
oleh antibodi dan reseptor sel T pada sistem imun adaptif.
Sistem limfoid tubuh manusia bekerja sama dengan
sistem monosit-makrofag (fagositosis terkait-per-
tahanan; lihat Bab 4) untuk membedakan diri sendiri
sel-sel tubuh sendiri. Dengan demikian, sifat asing dari asing. Sistem limfoid mempertahankan tubuh dari
molekul adalah karakteristik penting dari molekul agen penginvasi melalui dua respons imun: imunitas
yang memicu respons imun. Ukuran molekul juga selular dan imunitas humoral. Imunitns selular, atatr
penting. Imunogen-imunogen yang paling kuat adalah respons imun selular, adalah respons imun yang
protein dengan berat molekul lebih dari 100.000 dalton. dilaksanakan oleh limfosit T. Saat tubuh terpajan ke
Molekul dengan berat molekul yang rendah (kurang suatu imunogery sel-sel T berproliferasi dan mengarah-
dari 10.000 dalton) bersifat imunogenik lemah, dan kan interaksi selular dan subselular pejamu untuk
molekul yang sangat kecil seperti hapten memerlukan bereaksi terhadap epitop spesifik. Imunoglobulin dan
suatu protein pembawa untuk menjadi imunogenik. sel T dapat mengenali epitop. Imtmitas humoral, atau
Kompleksitas kimiaw i juga perlu dipertimbangkan. imunitas yang diperantarai oleh antibodi, adalah
Molekul-molekul kompleks seperti polimer (zat yang imunitas spesifik yang diperantarai oleh produksi
terbentuk dari kombinasi dua atau lebih molekul dari imunoglobulin (antibodi) oleh limfosit B yang
bahan yang sama) lebih imunogenik daripada asam terstimtrlasi, atau sel plasmn, sebagai respons terhadap
amino tunggal. Selain itu, konsentrasi imunogen harus suatu epitop. Imunitas humoral juga dibantu oleh
memadai untuk dapat memicu respons imun. sistem komplemen, suatu sistem amplifikasi yang
Ciri penting terakhir dari irnunogen adalah adanya melengkapi kerja imunoglobulin untuk mematikan
epitop (sebaeian penulis menyebut epitop sebagai imunogen asing dan menyebabkan lisis patogen
determinsn antigen). Sebuah epitop adalah satu gugus tertentu dan sel.
kimia kecil pada imunogen yang memicu respons imun
dan dapat bereaksi dengan suatu imunoglobulin (Gbr.
5-1). Sebagianbesar imunogen memiliki lebih dari satu Sistem Limfoid (lmun)
tipe epitop dan dianggap "multivalen" (yaitu, mampu
bereaksi dengan lebih dari satu tipe tempat peng- Sistem limfoid (imun)
terdiri dari berbagai sel, jaringan,
ikatan). lmunogen lain memiliki epitop yang berulang- dan organ yang merupakan tempat prekursor dan
84 BAGIAN sATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM: MEKANISME PENYAKIT

Sel bakal
Trombosit pluripotensial
hematopoietik
GRANULOSIT
r\
""Fffo

Megakariosit

Lffi:.,\
l:.::w::::t
6
\ S*dF.:.:f
U Er::7
E

i$

Sel mast

Sel pembentuk antibodi


(AFc)
Turunan atau sel plasma
Makrofag (stadium terminal)
sel dendritik

Gbr. 5-2 Semua sel yang berperan dalam respons sistem imun berasal dari sel-sel bakal pluripotensial hematopoietik di sumsum tulang.
Sel-sel bakal menghasilkan dua turunan utama: sel limfoid dan sel mieloid. Progenitor limfoid bersama berdiferensiasi menjadi sel T atau
sel B; progenitor mieloid berdiferensiasi menjadi sel-sel yang diperlihatkan di sisi kiri. lstilah granulosit kadang-kadang digunakan untuk
neutrofil, eosinofil, dan basofil. Perhatikan: Sel bakal pluripotensial adalah sel embrionik yang dapat membentuk beragam sel hematopoietik.
Sel progenitor adalah sel induk, atau nenek moyang (Ih, sel T penolong; Ic, sel T sitotoksik; NK sel natural killer).

turunan limfosit berasal, berdiferensiasi, mengalami tiation (CD) membantu membedakan ketiga jenis sel
pematangan, dan tersangkut. Semua sel darah berasal ini. Protein-protein CD digunakan unhrk membedakan
dari prekursorbersama, yailu sel bakal pluripotensial. sel T, sel NK, dan sel B satu sama lain dan juga ber-
Sel baknl pluripotensial adalah sel-sel embrionik yang manfaat untuk mengetahui subset-subset sel T.
dapat membentuk bermacarn-macarn sel hematopoietik
dan dapat membelah diri. Sel-sel ini ditemukan di
sumsum tulang dan jaringan hematopoietik lain serta Organ Limfoid Primer
menghasilkan semua komponen darah (misalnya,
eritrosit, trombosit, granulosit, monosit, limfosit) (lihat Walaupun terdapat di semua bagian tubuh, namun
Bab 16). Sel-sel bakal berdiferensiasi dan mengalami limfosit cenderung terkonsentrasi di beberapa organ
pematangan menjadi sel darah spesifik (Gbr. 5-2) di limfoid, termasuk sumsum tulang, timus, limpa,
bawah tuntunan berbagai faktor perangsang koloni kelenjar getah bening, dan di jaringan limfoid terkait-
(sekelompok zat yang meningkatkan produksi organ (Gbr. 5-3). Sumsum tulang dan timus dianggap
berbagai tipe sel hematopoietik) dan faktor sebagai organ limfoid primer. Pada tahap-tahap awal
pertumbuhan yang berasal dari sel. Terdapat tiga jenis perkembangan limfosit dari sel bakal di sumsum
limfosit yang berasal dari sel bakal limfosit T (dikenal tulang, limfosit tidak menghasilkan reseptor untuk
sebagai sel T),limfosit B (dikenal sebagai sel B), dan sel bereaksi dengan imunogen. Seiring dengan proses
natural klller (NK) (Tabel5-1). SeI NK kadang-kadang pematangan karena pengaruh faktor-faktor perang-
diklasifikasikan sebagai sel T karena keduanya sang koloni, limfosit mulai mengekspresikan (yaitu,
memiliki beberapa kesamaan. Petanda-petanda pro- menyajikan di permukaan selnya) reseptor imunogen
tein di permukaan sel yang disebut clusters of dffiren' dan menjadi peka terhadap rangsangan imunogenik;
ResponsTubuhTerhodopTontongonlmunologik BAB 5 85

TipeLimlosit
q'. 3ei T "i iL%iltirt

Asal .i .l Sel bakal $el bakal


Pematan0an. , Timus ?Sumsum tulang '
?Aliran darah
Tempat di periler r:, , Keleniar getah bening {daerah Kelenjar getah bening Aliran darah
parakorteks), (korteks),
t,i.r
': rj:::: -t, , ,:: limpa (pulpa putih), Limpa (pulpa putih dan merah),
GALT,, atau bercak Peyer, GALT, BALT
:::::::..ti,,,:,,,,.'
BALT
Fersentise dari limfosit 65-80 20-30 5-l 5 . ., :,,

:6si6h t6lal::,:,,.,-..
Tipe Selular
:" : :,:
Humoral Nonspesifik ,
imunqtas '
:
:.
Subpbpulasi,., CD4 (penolong),:.:. . ', Sel plasma Tidakada :
,
CDB (sitotoksik), Sel B pengingat :1, . l
,,'.: : l:
CDB (penekan),
,, " ,',,':,,' sel T pengingat
Produk ':,. Limfokin lmunoglobulin, Perforin (zat kimia yang
tL-2, lL-3, lL-4, lL-5, lL-6, Limfokin: lL-6 menyebabkan perforasi
tl-g, tL-10, sel)
lnterferon gamma,
Faktor perangsang koloni,
TNF
Perforin
Perlind terhadap Virus (intrasel), Bakteri Virus (ekstrasel),
1,1Oan
Fungus Virus $eltumor
Parasit otonrut ., ,r
Sel tumor
Alograf (jaringan transplantasi)
Kaiaktbiistik lain ....:, ,
',::,Fl6septor imunogen di :' Ya tu, Tidak : :'
:':
, P9fi'Dukaan':' : " .

,:, Daya'ingat Ya Ya Tidak


,,,,Protein GD di permukaan Ya: CD3 dan yang lain Tidak Ya: CD2 dan CD16
lmunoglobulin di ' Tidak Ya lrclak
,i., permukaan ,:'

BALf , bronchus-associated lymphold tlssue (jaringan limfoid terkait-bronkus) cALT, gul-associated lymphoid tissue (jaringan limfoid terkait-usus);
lL, interleukin; NK, natural kil/ef TNF, tumor necrosis factor (faklot nekrosis tumo0.

sel-sel ini juga berkembang menjadi tiga subkelas yang masa dewasa dan usia lanjut, timus mengalami
berbeda. Sel-sel T bermigrasi dari sumsum tulang ke involusi sampaiberabrya kurang dari 15% ukuran saat
kelenjar timus untuk proses pematangan Iebih lanjut pubertas. Timus adalah organ yang memiliki banyak
dan dianggap limfosit yang "dependen-timus". Sel B pembuluh darah dan pembuluh limfatik yang
kemungkinan besar tetap berada di sumsum tulang mengalirkan isinya ke kelenjar-kelenjar getah bening
dan dianggap limfosit yang "independen-timus". Sel mediastinum. Timus memiliki korteks di sebelahluar
NK adalah limfosit yang memiliki sebagian petanda dan medula di sebelah dalam (Gbr. 5-a). Korteks
sel T. Namun, perbedaan utama antara sel NK dan sel mengandun gbanyaktimoslf (limfosit T yang ditemukan
T adalah bahwa sel NK bersifat "pratimus"; yaitu, sel di timus), sedangkan medula lebih jarang terisi oleh
ini tidak melewati timus untuk menjadi matang. sel. Badnn Hasssll, yaitu kelompok-kelompok sel epitel
Timus adalah sebuah organ berlobus dua yang yang tersusun rapat yang mungkin merupakan tempat
terletak di mediastinum anterior dan di atas iantung. degenerasi sel, ditemukan di medula. Timosit adalah
Saat lahir, berat timus adalah 10 sampai 15 g dan limfosit T yang datang dari sumsum tulang melalui
meningkat ukurannya sampai maksimum pada saat aliran darah dan berada dalam berbagai stadium
pubertas, saat beratnya sampai sebesar 40 g. Selama perkembangan.
86 BAG IAN SATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM : MEKANISME PENYAKIT

Pembuluh darah
Eladan Hassall

Tonsil

Timus.

Jaringan limfoid
terkait-bronkus
(BALT)
lh=
:::aa:.:::a

Sumsum
tulang ir#'1ri

limfoid Kelenjar
S timus
(GALT; bercak Peyer)

Gbr. 5-4 Diagram sepotong lobus kelenjar timus. Di korteks,


Kelenjar
getah bening limfosit-limfosit terbagi; bermigrasi ke medula tempat sel-sel ini
berdiferensiasi dan menjadi matang; dan akhirnya masuk ke
sirkulasi.

Gbr. 5-3 Organ dan jaringan limfoid primer dan sekunder.


B). Pulpa putih limpa adalah jaringan limfoid padat
yang tersusun mengelilingi arteriol sentral. Susunan
Organ Limfoid Sekunder ini sering disebut sebagai selubung limfoid periarteriol
(PALS) (Gbr. 5-5). PALS mengandung daerah-daerah
Organ limfoid sekunder rnencakup limpa, kelenjar getah sel T dan B, yang tersusun membentuk folikel-folikel
bening, dan jaringan tidak berkapsul. Contoh-contoh atau agregat sel.
jaringan tidak berkapsul adalah tonsil, adenoid, dan Limpa adalah tempat utama respons imun
bercak-bercak jaringan limfoid di lamina propria terhadap imuno gen dalam darah, sedangkan kel enj ar
(jaringan ikat fibrosa yang terletak tepat di bawah getah bening bertanggung jawab memproses imunogen
epitel permukaan selaput lendir) dan di submukosa di limf yang berasal dari jaringan regional. Kelenjar-
saluran cerna (GI), saluran napas, dan saluran kelenjar getah bening membentuk suatu jaringan yang
genitourinaria (GU). Limparnemlliki berat sekitar 150 berperan menyaring imunogen dari limf dan cairan
g pada orang dewasa dan terletak di kuadran kiri atas yang mengalir dari ruanginterstisium (ruang antarsel).
abdomen di belakang lambung. Aliran darah datang Kelenjar getahbening, yang merupakan struktur kecil
melalui arteria lienalis, yang bercabang-cabang secara berbentukbulat atau seperti ginjal dengan garis tengah
progresif menjadi pembuluh-pembuluh yang lebih 1 sampai 20 mm, umumnya terletak di percabangan
halus. Saat terbagi menjadi arteriol, cabang-cabang pembuluh limfatik. Kelompok-kelompok kelenjar getah
tersebut mengalirkan isinya ke dalam sinusoid-sinu- bening ditemukan di leher, ketiak, lipat pah4 mediasti-
soid vaskularyangkemudian mengalir ke sistem vena. num, dan rongga abdomen (Gbr. 5-6). Limf mengalir ke
Disain limpa yang sangat vaskular ini menghasilkan dalam kelenjar getah bening melalui pembuluh limfatik
keterkaitan yang erat antara darah dan jaringan limpa aferen (inflowing) ke dalam sinus subkapsular (Gbr. 5-
sehingga terjadi interaksi yang erat antara imunogen- 7).Lirnf kemudian mengalir menuju hilus (suatu ter-
imunogen di dalam darah dan sel-sel sistem imun. minal sentral untuk darah dan limfe) dan kemudian
Pada dasamya, darah mengalir melalui limpa dan keluar melalui pembuluh limfe eferen (outflowing).
berkontak dengan sejumlah besar makrofag (SDP Kelenjar getah bening dikelilingi oleh kapsul
fagositik) dan limfosit,yarrg memicu respons imun. jaringan ikat dan tersusun menjadi tiga bagian utama:
Limpa mengandung dua jenis jaringan utama: pulpa korteks, parakorteks, dan medula. Korfeks mengandung
merah dan pulpa putih. Pulpa merah terutama berperan kelompok-kelompok sel B yang disebfifolikel limfoid
dalam destruksi eritrosit (sel darah merah, SDM) yang (folikel primer). Saat tubuh terpajan ke sualu imunogery
sudah tua, walaupun bagian ini juga mengandung maka sel-sel B di bagian ini akan memb entuk sentrum
makrofag, trombosit, dan limfosit (terutama limfosit germinatiaum (folikel sekunder). Di dalam pusat-pusat
Respons Tubuh Terhodcp Tontongon lmunologik BA Bs 87

Sinus vena
di pulpa merah

Zona
marginalis

Pembuluh arteri
yang berakhir
or zona margrnalts

Vena pulpa Nodus limfe

Folikel sekunder
dengan sentrum
Arteria sentralis germinativum
Folikel orimer (daerah sel B)
(daerah'sel B)
Zona limfoid
marginal
Limfoid
(daerah sel T) Kapiler arterial

Sinus pulpa

Korda pulpa

Gambar 5-5 Struktur limpa. A. Pulpa putih terdiri dari selubung limfoid periarteriol (PALS), yang mengandung sentrum-sentrum
germinativum disedai zona-zona mantel. Pulpa merah mengandung sinus-sinus vena yang dipisahkan oleh genjel-genjel lien. B. Di pulpa
putih, daerah sel B adalah folikel primer dan sekunder dan zona limfoid marginal, sedangkan daerah sel T adalah sel-sel limfoid di sekitar
folikel dan kapiler arterial. (B digambar ulang dari Videback A et al. Ihe Spleen in Health and Disease. Chicago, Mosby, 1982).

aktif ini, sel-sel B membelah, berproliferasi, dan meng- terminal sehingga limf dapat mengalir keluar dari
alami pematangan pesat menjadi sel-sel penghasil kelenjar limfe danmasuk ke sirkulasi limfatik umum.
imunoglobulin. Sel-sel T dan makrofag terutama meng- Terdapat beberapa jaringan limfoid tidak-berkapsul
huriparakorfeks, atau korteks bagian dalam. Makrofag, di dalam tubuh. Jaringan ini, yang sering disebut se-
sel fagositik lain, dan sel B juga dikenal sebagai sel bagai jaringan limfoid terknit-mukosa (MALT), tersusun
penyaji antigen (APC) karena sel-sel ini menelan dan membentuk kelompok-kelompok sel atau nodus difus
menguraikan imunogen dan menyajikan epitop- yang mengandung sentrum germinativum (folikel
epitopnya di permukaan sel untuk mengaktifkan sekunder) mirip denganyang terdapat dilimpa. MALT
limfosit T. Parakorteks adalah suatu bagian penting berfungsi sebagai penjaga untukmelindungi tubuh di
tempat imunogen disajikan oleh makrofag untuk beberapa tempat masuk submukosa di saluran GI,
mengaktifkan sel T. Medula, bagian terkecil pada napas/ dan GU serta kulit. MALT dibagi-bagi lagi ber-
kelenjar getah bening, mengandung sel B dan T. Sinus- dasarkan let akny a. J aringan limfoid terknit-usus (GALT)
sinus medula mengalirkan isinya ke dalam sinus-sinus mencakup tonsil, yang memiliki letak strategis untuk
88 BAGIAN sATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM:MEKANISMEPENYAKIT

mencegat imunogen yang masuk melalui inhalasi atau


ingesti. Bercak Peyer (nodus-nodus jaringan limfoid
di dinding luar usus) dan apendiks memiliki daerah-
daerah sel T dan sel B serta juga dapat berespons ter-
hadap imunogen saluran cerna. Imunoglobulin yang
dihasilkan oleh GALT bermigrasi ke saluran cerna,
saluran air mata, dan kelenjar liur untuk melindungi
tubuh dari penetrasi benda asing melalui permukaan subklavia kiri
epitel. laringan limfoid terksit-bronkus (BALT) mirip
dengan GALT dan ditemukan di percabangan-
percabangan saluran napas ukuran besar. lnringan
Iimfoid terknit-kulit (SALT) ditemukan di epidermis kuli!
tempat limfosit mengidentifikasi agen-agen penginvasi
di epidermis serta mengangkut epitop ke kelenjar getah
bening regional untuk diproses (lihat Gbr. 5-3).

Lalu-Lintas Limfosit di dalam Tubuh


Berbagai komponen sistem limfoid digabungkan oleh
semacam sistem "pipa ganda" darah
-sistemvaskular
dan sistem limfatik (Gbr. 5-8). Setiap saat, jutaan
limfosit bergerak di dalam darah dan limf. Berbagai
saluran limfatik di tubuh mengalirkan cairan dari
celah organ dan jaringan. Limf disalurkan ke dalam
saluran-saluran sentral yang lebihbesar yang menyatu
dan masuk ke dalam aliran darah melalui duktus
torasikus. Dengan demikian terjadi aliran limf kembali
ke darah yang konstan dan pembentukan terus-
menerus limf oleh gerakan cairan dari darah ke dalam
jaringan. Demikian juga, limfosit secara terus menerus
mengalami resirkulasi. Limf di dalam duktus torasikus
mengandung banyak limfosit. Limfosit, dalam jumlah
memadai, mengalir melalui duktus torasikus untuk
menggantikan jumlah total dalam sirkulasi darah Gbr. 5-6 Sistem limfatik. Kelenjar getah bening ditemukan di
beberapa kali sehari. persimpangan pembuluh-pembuluh limfatik dan membentuk suatu
Sebagian besar limfosit yang mengalir melalui jaringan yang lengkap, mengalirkan dan menyaring limf yang
duktus torasikus mengalami "daur-ulang". Limfosit berasal dari rongga di jaringan. Kelenjar limf dapat terletak
superfisial atau viseral, mengalirkan limfe dari kulit atau jaringan
meninggalkan aliran darah melalui venula-venula dalam dan organ internal tubuh. Limf akhirnya mencapai duktus
khusus di dalam jaringan limfoid,berdiam dijaringan torasikus, yang mengalirkan isinya ke dalam vena subklavia kiri
limfoid dengan lama bervariasi, dan kemudian beredar sehingga limf kembali masuk sirkulasi darah.
melalui limf untuk kembali menyatu dengan limfosit
lain di darah. Limfosit berbeda satu sama lain dalam
kaitannya dengan pergerakan mengitari tubuh, daerah lain. Makna biologik dari kenyataan ini adalah
Sebagian limfosit memiliki umur yang sangat panjang bahwa anggota dari suatu klona limfosit yang pada
(berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun) dan meng- awalnya berproliferasi di suatu lokasi mungkin
alami daur ulang secara ekstensif. Limfosit lain hidup beredar ke seluruh tubuh dan dapat berinteraksi
relatif singkat dan tidak terlalu sering beredar. dengan imunogen di semua lokasi.
Kelompok-kelompok tertentu limfosit juga tampaknya
memiliki pola "homing" tertentu dalam kaitannya lmunitas Selular
dengan berbagai bagian sistem limfoid. Hal pokok
adalah di dalam sistem limfoid terdapat suatu cara Peran sel T dapat dibagi menjadi dua fungsi utama:
untuk menggerakkan limfosit dari satu daerah ke fungsi regulator dan fungsi efektor. Fungsi regulator
ResponsTubuhTerhodopTontongonlmunologik BAB 5 89

Sentrum germinativum t,g

Daerah medula

Trabekula
'r,,.t Daerah
Gbr. 5-7 Struktur sebuah kelenjar getah bening. parakorteks
Kelenjar getah bening terbagi menjadi tiga daerah
utama: korteks di getah bening luar, tempat sel,sel B W? ?.);N';! -.-
berproliferasi dan mengalami pematangan;
parakorteks di sebelah dalam, yang terutama
ditempati oleh makrofag dan sel T; dan medula di
bagian dalam, yang mengandung sel B dan sel T. \;1,3
Makrofag, sel B, dan sel T saling berinteraksi, sering Pembuluh \'. i
dengan keberadaan antigen yang tersaring melalui limfatik eferen
kelenjar yang menyebabkan terjadinya fase induksi \
respons imun.

terutama dilakukan oleh salah satu subset sel T, sel T epitop antigenik. Peran protein CD4 dan CD8 pada sel
penolong (juga dikenal sebagai sel CD4 karena petanda T matang adalah untuk menstabilkan interaksi antara
cluster of dffirentiation di permukaan sel diberi nomor sel T dan sel lain (Gbr. 5-9). Dengan demikian, sel T
4). Sel-sel CD4 mengeluarkan molekul yang dikenal matang yang meninggalkan timus memiliki reseptor
dengan nama sitokin (protein berberat molekul rendah untuk mengikat suatu epitop dan protein CD4 (menye-
yang disekresikan oleh sel-sel sistem imun) untuk me- babkannya menjadi sei T CD4, atau dikenal sebagai sel
laksanakan fungsi regulatornya. Sitokin-sitokin dari T penolong) atau protein CD8 (menyebabkannya
sel CD4 mengendalikan proses-proses imun seperti
menj adi sei T CD 8, atau s el T s it o t oksik atau p en ekan).
pembentukan imunoglobulin oleh sel B, pengaktivan
Apabila sel T harus siap melaksanakan fungsinya
sel T lairr, dan pengaktifan makrofag. Fungsi efektor
saat meninggalkan timus, maka sel tersebut pertama-
dilakukan oleh sel T sitotoksik(dahulu dikenal sebagai
tama perlu mengenai epitop-epitop asing dan kedua
sel T pembunuh tetapi jangan dikacaukan dengan sel
memiliki protein CD4 atau CD8 yang fungsional.
NK; saat ini dikenal sebagai sel CD8 karena cluster of
Dengan demikian, pendidikan di timus menghasilkan
dffirentiation diberi nomor 8). Sel-sel CD8 mampu
sel T CD4 atau CD8 dengan fungsi berikut: (1) sel yang
mematikan sel yang terinfeksi oleh virus, sel tumor,
dan jaringan transplantasi dengan meny-untikkan zat mengenali sel diri lainnya dari antigenMHC dan tidak
kimia yang disebutperforlzr ke dalam sasaran " asing" . berikatan dengan sel tersebut (yaitu, reseptor protein
sel T tidak akan "cocok" dengan sel diri lainnya); (2)
sel yang menandai sel asing sebagai penyerang; dan
Pendidikan Timus (3) sel yang dapat berikatan dengan sel asing dengan
Baik sel CD4 maupun CD8 menjalani "pendidikan protein CD4 atau CD8 fungsional untukmenstabilkan
timus" di kelenjar timus untuk belajar mengenai fungsi. interaksi antara dua sel (lihat Gbr.5-9). Sel-sel yang
Teori delesi klonal memberikan salah satu penjelasan berpotensi reaktif terhadap antigen-diri dar komponen
bagaimana cara sel T mempelajari fungsinya. Saat MHC juga mungkin dihasilkan tetapi di timus sel-sel
mencapai timus, sel-sel T imatur tidak memiliki tersebut dihilangkan; sel ini mungkin dibunuh oleh
reseptor pengikat epitop dan protein CD4 atau CD8. sel lain atau dibuat mengalarniapoptosls (kematian sel
Peran reseptor epitop di sel T imatur adalah mengikat telprogram).
90 BAG IAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

Fungsi Regulator Sel CD4 dan sel limfoid ini adalah suatu keterkaitan esensial
yang memungkinkan tubuh bertahan terhadap
Sel-sel CD4 terutama terdapat di medula timus, tonsil, serangan benda asing. Interaksi antara sel fagositik
dan darah, membentuk sekitar 65'/' dari seluruh dan sel limfoid menyatukan dua sistem tubuh yang
limfosit T yang beredar. Sel CD4 memiliki empat fungsi kuat, menjadi suatu sistem pertahanan yang melin-
utama: (1) sel CD4 memiliki fungsi regulatorik yang dungi diri dari asing seumur hidup orang yang
mengaitkan sistem monosit-makrofag ke sistem limfoid; bersangkutan. Interaksi antara APC dan sel CD4
(2) sel CD4berinteraksi dengan APC untuk mengen- menghasilkan fungsi regulator tambahan. Sel-sel CD4
dalikan pembentukan imunoglobulin; (3) sel CD4 dalam reaksi ini mengeluarkan interferon-gama (y)
menghasilkan sitokin-sitokin yang memungkinkan sel (suatu sitokin) setelah APC dan sel CD4 menyatu.
CD4 dan CD8 tumbuh, dan (4) sel CD4 berkembang Pengeluaran interferon-y oleh sel CD4 menarik
menjadi sel pengingat. makrofag lain ke lokasi, mengaktifkan makrofag-
Salah satu fungsi regulatorik esensial pada selCD4 tersebut, dan memperkuat reaksi jaringan terhadap
adalah perannya mengaitk an sistem monosit-makrofag antigen asing.
(sistem pertahanan tubuh yang mengandung SDP Sel-sel CD4 memiliki fungsi regulatorik penting
fagositik seperti monosit dan makrofag) dengan sistem lainnya, terutama berkaitan dengan pembentukan
limfoid. Apabila makrofag menelan suatu imunogen imunoglobulin. Saat menyajikan epitop, APC ber-
misalnya bakteri, maka makrofag tersebut akan interaksi dengan selCD4 dan mengaktifkannya. Sel-
menguraikan imunogen melalui proses-proses yang sel CD4 yang sudah diaktifkan akan menghasilkan
diterangkan di Bab 4. Epitop-epitop bakteri adalah zal-zat kimia atau limfokin misalnya interleukin 2, 4,
salah satu produk destruksi bakteri tersebut. Sebuah dan 5 (IL-2, IL-4, IL-5). Sitokin-sitokin ini dan berbagai
epitop berikatan dengan antigen MHC makrofag interaksi lain merangsang sel B untuk membelah dan
(MHC kelas II), yang menyebabkan berkibarnya berdiferensiasi menjadi sel plasma, yaitu sel B matang
kompleks MHC-epitop "seperti bendera" di permu- yang mampu menghasilkan imunoglobulin. Dengan
kaan sel makrofag. "Bendera" ini mengaktifkan sel demikian, sel CD4 esensial untuk merangsang sel B
CD4, yang reseptor antigennya juga berikatan dengan menghasilkan imunoglobulin. Selain itu, pola sitokin
kompleks epitop-MHC. Interaksi antara sel fagositik

Jantung

Kulit Limfatik aferen

Kelenjar g"tal' uening 1-; A


\-/
Kelenjar getah
bening perifer
mesenterium \-/
Bercak Pever
YYV
Limfatik eferen

Gbr. 5-8 Lalu-lintas limfosit di dalam tubuh. (Dimodifikasi dari Mudge-Groui CL. lmmunologic disorders, St. Louis, 1 992, Mosby).
ResponsTubuhTerhodcpTontongon lmunologik BAB 5 9l

sel T pengingat, yang mampu segera aktif-apabila


terpajan ke epitop di kemudian hari.
Terdapat siiang-pendapat mengenai apakah
terdapat subset-subset sel CD8 yang memiliki fungsi
regulatorik di tubuh. Sebagian ahli imunologi
menyarankanbahwa sel CD8 tertentu memiliki fungsi
MHC kelas ll
penekan yang memodulasi atau "mematikan" kerja
sel T penolong (CD4) dan sitotoksik (CD8), sehingga
Antigen keduanya tidak menyebabkan kerugian bagi tubuh.
Namun, saat ini para ahli imunologi belum mampu
TCR mengrdentifikasi adanya sualu subset spesifik sel CD8
penekan yang memiliki peran "meredakan', ini. Walau-
pun sel CD8 memang memiliki fungsi penekan, namun
pendapat yang sekarang berlaku adalah bahwa sel
CD8 penekan dan sel CD8 sitotoksik tidak dapat
dibedakan.

Fungsi Efektor Sel CD8


Limfosit CD8, yang ditemukan terutama di sumsum
tulang dan GALT, membentuk sekitar 35% dari seluruh
limfosit T ya.g beredar. Sel-sel CDS melakukan dua
TCR fungsi efektor utama: hipersensitivitas tipe lambat dan
sitotoksisitas. Hipersensitiaitas tipe lambat terjadi saat
imunogen orgdnisme intrasel seperti fungus atau
Protein CD8 MHC kelas I
mikobakteri menimbulkan suatu respons alergi.
Sitotoksisitss terutama berperan dalam menghancur-
kan sel yang terinfeksi virus, penolakan cangkokan,
dan destruksi sel tumor. Semua sel di dalam tubuh
memiliki salah satu tipe antigen MHC (MHC kelas I)
yang dapat memperlihatkan epitop virus di permukaan
sel. SelCD8 mengenali kompleks MHC-epitop tersebut
dan, dengan bantuan sel CD4, membentuk klona sel
CD8 spesifik untuk epitop virus tersebut. Sel CD8
kemudian mengeluarkan perforin (zat kimia toksik
Gbr. 5-9 Pengaktivan sel T terhadap sel yang terinfeksi oleh yang merusak membran luar sel yang terinfeksi) dan
virus. Sel penyaji antigen (APC) menghidangkan antigen melalui granzymes (enzim-enzim protease). Perforin mem-
MHC kelas ll kepada selT penolong. Reaksi distabilkan oleh protein bentuk sebuah lubang menembus membran sel
CD4. Sel T penolong diaktifkan untuk menghasilkan interleukin-2
(lL-2), yang berikatan dengan reseptornya dan semakin sehingga cairan ekstrasel dapat masuk ke dalam sel.
mengaktifkan sel. Sel yang terinfeksi virus menyajikan antigen Selain itu, DNA sel mengalami penguraian, memicu
melalui MHC kelas I kepada sel T sitotoksik, dan dengan bantuan terjadinya apoptosis, atau kematian sel terprogram
lL-2 yang dihasilkan oleh sel T penolong, sel T sitotoksik diaktifkan (Gbr. F-10). Saat sel yang terinfeksi oleh virus mati, sel
untuk menghancurkan sel yang terinfeksi oleh virus. Reaksi ini
CD8 tidak terpengaruh dan terus mematikan sel-sel
(fCF, reseptor sel T)
distabilkan oleh protein CD8
lain di sekitarnya yang juga terinfeksi oleh virus yang
bersangkutan.
Apabila dilakukan transplantasi organ atau jaring-
kepada sel B yang terpajan memengaruhi susunan gen an asing, maka sel CD8 resipien (penerima trans-
yang menentukan tipe antibodi yang akan dihasilkan. plantasi) akan mengetahui bahwa antigen MHC di
Sel-sel CD4 memiliki fungsi regulatorik lain. permukaan sel transplan bukanlah antigen-diri.
Sebagai contoh, saat berinteraksi dengan APC, Dengan bantuan sel CD4, sel CD8 membentuk klona
produksi IL-2 juga penting untuk pertumbuhan sel CD4 sel yang spesifik untuk menghancurkan epitop asing
dan CD8 yang lain; peran ini menghasilkan imunitas di permukaan sel transplan. Sel CD8 mematikan sel di
selular. Selain itu, sebagian sel T berkembang menjadi jaringan asing dengan mengeluarkan perforin. Proses
92 BAG IAN SATU PEN DAHULUAN PATOLOGI UMUM : MEKANISME PENYAKIT

Epitop virus
M,tlm
D8
iifcR

Epitop virus
TCR
I

-O
7.
Granzyme
Granula yang mengandung
Apoptosis sel perforin, granzymes,
dan kemokin
Sel ierinfeksi virus Sel T sitotoksik

Gbr.5-10 Mekanisme destruksi sel target yang terinfeksi virus oleh sel T sitotoksik (pemusnah) (Tc). (1) Sewaktu virus bereplikasi di
dalam sel pejamu, proteosom menguraikan sebagian dari protein virus menjadi epitop-epitop peptida; (2) epitop virus kemudian masuk ke
retikulum endoplasma (RE) tempat epitop berikatan dengan molekul MHC-1; (3) molekul MHC-1 yang berikatan dengan epitop virus
kemudian dipindahkan ke membran sel pejamu, (4) sel Tc aktit berikatan dengan molekul MHC-1 yang mengikat epitop virus melalui molekul
CDB-TCR; (5) pengikatan sel Tc ke sel yang terinfeksi memicu sel Tc mengeluarkan perforin (protein pembentuk pori-pori) dan enzim-
enzim proteolitik yang disebut gra nzymes;(6) granzryesmasuk melalui pori-pori dan mengaktifkan enzim-enzim yang akhirnya menyebabkan
apoptosis (kematian sel terprogram atau bunuh diri) sel yang terinfeksi melalui destruksi sitoskeleton struktural dan degradasi kromosom.
Akibatnya sel terpecah menjadi kepingan-kepingan yang kemudian dibersihkan melalui fagositosis (ICfl reseptor sel T; CDB, petanda
pada sel T sitotoksik).

serupa terjadi terhadap sel tumor. Seiring dengan memengaruhi jaringan secara langsung, tetapi juga
tumbuhnya tumor, sering terbentuk imunogen-imuno- mengaktifkan sel lain seperti APC
gen baru (berbeda dari komponen diri sel tubuh 3. Sel T memiliki kemampuan untuk mengingat . SelT
normal) di permukaan sel tumor. Epitop yang relevan pengingat memungkinkan akselerasi respons imun
akan dikenali oleh sel CD8, yang membentuk suatu apabila tubuh terpajan untuk kedua kalinya ke
klona untuk melakukan surveilans terhadap tumor, imunogen yang sama walaupun dalam interval
yang idealnya dapat mematikan neoplasma saat yang lama dari pajanan awal.
neoplasma tersebut terbentuk. 4. Sel T juga memiliki peran penting dalam regulasi
atau pengendalian. Sel CD4 dan CD8 meningkatkan
atau menekan (atau keduanya) respons imun
Fungsi Utama Imunitas Selular selular dan humoral.
Secara singkat, imunitas selular memiliki empat fungsi
yang sering dikutip:
SelNatural Killer
1. Sel T CD8 memiliki fun gsi sitotoksik. Sel CD8 menye-
babkan kematian secara langsung sel sasaran Walaupun bukan sel T sejati, namun sel NK juga
seperti sel yang terinfeksi virus atau sel tumor. Sel melaksanakan fungsi-fungsi efektor yang penting. Sel
CD8 melakukan fungsi ini dengan mengikat sel NK mengkhususkan diri menghancurkan sel yang
yang terinfeksi virus atau sel tumor dan mengeluar- terinfeksi virus dan neoplasma dengan mengeluarkan
kan perforin yang mematikan sel sasaran. perforin yang serupa dengan yang dihasilkan oleh sel
2. Sel T juga menyebabkanreaksihipersensitiaitas tipe CDS.Selnnturalkiller diberi nama demikian karena sel
Iambat saat menghasilkan berbagai limfokin yang ini aktif tanpa perlu terlebih dahulu "disensitisasi"
menyebabkan peradangan. Limfokin tidak saja oleh epitop; sel NK mengenali sel asing melalui cara-
ResponsTubuhTerhodopTontongonlmunologik BAB 5 93

cara nonimunologik misalnya muatan listrik yang pertama pematangan sel B bersifat independen-antigen.
tidak lazim di permukaan sel. Perbedaan utama antara Pada fase ini, yang mungkinberlangsung di sumsum
sel CD8 dan sel NK adalah bahwa sel NK tidak spesifik tulang, sel bakal mula-mula berkembang menjadi sel
untuk epitop dan tidak bertambah kuat oleh pajanan pra-B dan kemudian menjadi sel B yang memperlihat-
sebelumnya. Namun, sel NKmelakukan suatu fungsi kan imunoglobulin M (IgM) di permukaannya.
penting; sel-sel ini selalu ada untuk menyerang sel-sel Pembentukan IgM permukaan ini tidak bergantung
yang memperlihatkan petanda-petanda "asing" tanpa pada imunogen (yaitu, bukan merupakan hasil dari
perlu mengalami sensitisasi dan kemungkinan me- reaksi dengansuatu epitop). Baik IgM maupunimuno-
matikan sel-sel asing ini sebelum imunitas selular globulin D (IgD) di permukaan sel B dapat merupakan
benar-benar teraktifkan. reseptor epitop.
Sekitar 5% sampai 15'k dari semua limfosit dalam Pada fase kedua, atau fase dependen-antigen, selB
sirkulasi adalah sel NK. Walaupun memiliki beberapa berinteraksi dengan suatu imunogen, menjadi aktif,
petanda sel T, namun lirnfosit ini tidak melewati timus danmembentuk sel plasma yang mampu mengeluar-
untuk menjalani pematangan, tidak memiliki ingatan kan antibodi. Seleksi klonnl adalah suatu teori yang
imunologik, dan tidak memiliki reseptor selT. menjelaskan bagaimana imunoglobulin diproduksi.
Setiap orang memiliki sekitar 107 sel B, masing-masing
memiliki IgM atau IgD di permukaannya yang dapat
bereaksi dengan salah satu imunogen (atau kelompok
lmunitas Humoral imunogen yang berkaitan erat). Suatu imunogen
Sel B memiliki dua fungsi esensial: (1) berdiferensiasi bereaksi dengan sel B yang imunoglobulin permukaan-
menjadi sel plasma yang menghasilkan imuno- nya paling "pas" dengan imunogen tersebut. Saat
globulin, dan (2) merupakan salah satu kelompok APC. diaktifkan oleh reaksi ini, sel B terangsang untuk ber-
Pada masa janiry prekursor sel B pertama kali ditemu- proliferasi dan membentuk suatu klona sel. Sel-sel
kan di hati kemudian bermigrasi ke dalam sumsum klona ini mengalami pematangan menjadi sel plasma,
tulang. SelB mengalamipematangan dalam dua tahap yang mengeluarkan imunoglobulin yang spesifik
tetapi, tidak seperti selT, tidakmatang di timus. Fase untuk imunogen yang pertama kali memicu perubahan
ini. Pada fase kedua (dependen-antigen) ini, sel B ber-
interaksi dengan suatu imunogen, menjadi aktif, dan
Tempat pengikatan membentuk sel plasma yang mampu menghasilkan
aniigen
Rantai berat
imunoglobulin.
t Kompleks imunogen-imunoglobulin permukaan
.o sel B juga dapat mengalami endosifosls (ingesti benda
G
t! asing oleh sel). Sel B kemudian menyajikan epitop di
c Rantai ringan
o
E
clt
permukaannya di celah pengikatan antigen MHC.
g Kompleks epitop-MHC dikenali oleh sel T CD4 (T
L
penolong), yang menghasilkan interleukin untuk
I merangsang pertumbuhdan dan diferensiasi sel B.
Daerah engsel
t Terbentuk sebuah klona sel B yang menghasilkan
o imunoglobulin yang spesifik bagi epitop tersebut.
lJ-
co Tempat pengikatan Selain itu, sebagian sel B yang sudah diaktifkan
komplemen
E
o) berubah menjadi sel B pengingat, yangberada dalam
d
L keadaan inaktif selama berbulan-bulan atau bertahun-
tahun sampai kembali terpajan ke imunogen yang
{ sama. Sebagian besar respons sel B memerlukan
bantuan sel T.
Gbr.5-11 Struktur sebuah molekul antibodi yang memperlihatkan
dua rantai polipeptida ringan (L) dan dua rantai polipeptida berat
(H) yang disatukan oleh ikatan disulfida (SS). Molekul memiliki Imunoglobulin
bagian variabel fy), konstan (C), dan regio engsel yang fleksibel,
yang pada eksperimen dapat diputuskan oleh enzim papain. Bagian Imunoglobulirz (antibodi), yang membentuk sekitar 20%
variabel atau regio pengikat antigen (Fab)berikalan dengan epitop dari semua protein dalam plasma darah, adalah
antigen. Bagian ini juga disebut sebagai ujung-N imunoglobulin. produk utama sel plasma. Selain di plasma darah,
Regio konstan atau ujung-C imunoglobulin disebut f ragmen Fc dan
berfungsi sebagai tempat untuk beragam interaksi nonspesifik, imunoglobulin juga ditemukan di dalam air mata; air
misalnya fiksasi komplemen dan pengikatan reseptor sel. liur; sekresi mukosa saluran napas, cema, dan kemih-
94 BAG IAN SATU PE NDAHU LUAN PATOLOGI UMUM : MEKANISME PENYAKIT

Rantai J
lgA sekretorik
(dimer dengan
secretory piece)

(monomer)

Rantai

lgD
(monomer)

Gambar 5-12 Struktur lima kelas imunoglobulin. lgG, lgD, dan lgE adalah monomer. Sebagai suatu pentamer yang disatukan oleh
sebuah rantai J, lgM adalah imunoglobulin terbesar. lgA memiliki beberapa bentuk. lgA serum adalah monomer, tetapi lgA yang terdapat
dalam sekresi (lgA sekretorik) dapat berupa suatu dimer atau trimer yang disatukan oleh rantai J. Secretory piece yangheiingiari dimer
lgA berperan dalam transportasi antibodi ini ke dalam sekresi dan melindunginya dari serangan enzim proieolitik.

kelamin; serta kolostrum. Banyak imunoglobulin memiliki satu bagian variabel dan tiga bagian konstan.
spesifik-epitop diperlukan untuk mengikat beragam Tabel 5-2 meringkaskan karakteristik dan fungsi
epitop; dengan demikian, harus diproduksi berbagai kelima kelas imunoglobulin, dan Gbr. 5-12 memper-
imunoglobulin dengan bagian variabel yang berbeda- lihatkan struktur imunoglobulin.
beda untuk mengikat jutaan epitop yang berlainan. Bagian variabel pada struktur Ig (di "puncak"
Imunoglobulin bereaksi dengan imunogen spesifik struktur Y) terdiri dari sekuensi asam amino tertentu
yang merangsang pembentukannya. Walaupun yang membentuk tempat mengikat epitop. Bagian ini
imunoglobulin dari semua kelas tidak memiliki memiliki variabilitas molekular karena spesifisitas
struktur yang persis sama, namun banyak yang sistem imun. Tubuh memerlukan sejumlah besar
memiliki strukfur dasar serupa dengan yang diperlihat- im unoglobulin spesifik-epitop untuk dapat mengikat
kan di Gbr. 5-11, dengan bentuk khas seperti huruf Y. jutaan epitop yang berlainan; dengan demikian, harus
Imunoglobulin tersusun oleh rantai polipeptida berat dihasilkan beragam imunoglobulin untuk menghadap
molekul rendah (L) dan berat molekul tinggi (H). jutaan epitop yang berlainan. Bagian variabel pada
Walaupun terdapat beberapa perbedaan, namun imunoglobulin merupakan salah satu aspek spesifisi-
semua imunoglobulin memiliki dua rantai H dan dua tas sistem imun karena besamya variasi sekuensi asam
rantai L yang disatukan secara bervariasi oleh ikatan amino. Bagian konstan memiliki sekuensi asam amino
disulfida. Rantai L biasanya memiliki satu bagian yang konsisten di antara antibodi-antibodi yang spesi-
variabel dan satu bagian konstan; rantai H biasanya fisitas pengikatannya berbeda-beda. Bagian variabel
Respons Tubuh Terhodop Tontongon lmunologik BA Bs 95

dan bagian konstan yang membentuk masing-masing miliki fleksibilitas fisik yang besar. Lengan-lengan
lengan bentuk Y tersebut disebuty'rzgmen Fab, yang imunoglobulin dapat berputar sampai 180 derajat
fungsinya adalah mengikat epitop. untuk mengikat sebuah imunogen.
Bagian bawah imunoglobulin penting untuk
bermacam-macam fungsi biolo grk, misalnya mengikat
reseptor sel dan memfiksasi komplemen. Bagian dasar
Fungsi Imunoglobulin
struktur Y disebutfragmen Fc dan terbentuk dari empat Imunoglobulin memilikr lima ftrngsi efektor:
bagian konstan. Terdapat suatu regio engsel fleksibel 1. Imunoglobulin menyebabkan sitotoksisitas yang
(regio Hi) di perpotongan antara fragmen Fab dan diperantarai oleh sel yang dependen antibodi
fragmen Fc yang menyebabkan imunoglobulin me- (ADCC).

:1 rr;; ' "-'; 1:


..:::::::+ 1tf,#ftlii tit'i;;ij:a;:::;,:;, ti{:l@iiiiii
. . "!I-4:

Klasifika5i lmunoglobulin

5751 0%; 8t1170 mgl:.:::'Serum, besar Berperan dalam respons primer


lg paling primitif dan paling
:i, dl , , Permukaan sel B dengan waktu-paruh singkat lg paling efisien dalam aglutinasi dan
Beredar sebagai suatu pentamer fiksasi komplemen
(kelompok lima) Berikatan dengan imunogen di
Yang pertama kali terbentuk permukaan sel B
sebagai respons terhadap lg yang terbentuk terhadap
infeksi bakteri atau virus imunogen pada sel darah asing
lg yang pertama dibentuk oleh (reaksi transfusi)
janin

tsc 75Ye'€,0"/"', 700*1700 Serurn r,:' ,: lg'yang paling banyakdidalam


Berperan dalam respons sekunder
: mddl Cairan darah Menghasilkan imunitas pasif bagi
interstisium Satu-satunya lg yang menembus bayi baru lahir
plasenta Penting pada opsonisasi, presipitasi,
Memiliki empat subkelas dan aglutinasi
Memiiksasi komplemen ,,,

fsA 10e/q*154/q; 1 70*280 lg utama dalam Monomer dalam serum (Y Menetralisasikan toksin dalam darah
!.:: mddl sekresi; tunggal) tetapi berbentuk Pertahanan primer terhadap invasi di
kolostrum, air dimer (ganda) atau trimer selapui lendir; mencegah
: liur, air mata, (tripel) dalam sekresi melekatnya bakteri dan virus ke, :

dan'sekresi Berikatan dengan secretory mukosa


saluran napas, piece dati sel epitel untuk Berikatan dengan polipeptida untuk
G!, dan GU dapat lewat di antara sel-sel dapat melewati permukaan
Serum epitel dan masuk ke dalam mukosa
cairan serosa
Disintesis oleh jaringan limioid di
dekat selaput lendir

w <1ol9'...,:.: Seqrn ,, Ditemukan dalam konsentrasi Fungsi tidak jelasl:, mungkin berf ungsi
lI:fi9/d Permykaan sel B sangat rendah dalam darah sebagai reseptor imunogen atau
,, dalam dife'iensiasi sel :B :
j ,:,:,:::

@ <1%i,,;;:::,;: Serum ':i,, ' " Mampu berikatan dengan Bekerja sebagai reseftor untuk ],,
,kl mg/dl Cairan reseptor di sel mast dan alergen saat tubuh melakukan
. interstisium basofil respons alergi; memicu pelepasan
Sekresi eksokrin histamin dan mediatorlain selama
respons alergi
Terlibat dalam hipersensitivitas tipe I
Pertahanan terhadap, infeksi paiasit

G/, gastrointestinal; GU, genilourinaria, /9, imunoglobulin


q6 BAG TAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

Molekul toksin

{{
co)
.9
{{
c {}

Determinan
+ + antigen
+
$&
E \"/ tY tr4 {L ,ttrA
r
-o

kWtu Krtu M
C

+ +
E (\
o \\ A,
@€
OC
-o-9
EC
:o
E-\
;r
t4
\_

r
v.s,
C
(!

Netralisasi dan Netralisasi dan Oosonisasi


presipitasi toksin aglutinasi virus 'bakteri

Gbr. 5-13 Metode untuk menghancurkan agen penginvasi. Antibodi dapat menetralkan eksotoksin bakteri, menetralkan virus, dan
menyebabkan opsonisasi bakteri.

2. Imunoglobulin memungkinkan terjadinya imuni- Proses lain yang terjadi dengan keberadaan imuno-
sasi pasif (timbulnya imunitas karena menerima globulin antara lain adalah aglutinasi, netralisasi, dan
imunoglobulin yang sudah terbentuk). lisis. Aglutinssi adalah proses yang menyebabkan
3. Imunoglobulin meningkatkan opsonisasi (pengen- imunoglobulin dan imunogen menggumpal. Imuno-
dapan komplemen pada suatu antigen sehingga globulin dapat secara langsung menyerang imunogen
kontak lekat dengan sel fagositik menjadi lebih. dengan aglutinasi, suatu proses yang dapat menyebab-
stabil). kan netralisasi (inaktivasi) dan lisis imunogen.
4. Imunoglobulin mengaktifkan komplemen (kum- Imunoglobulin juga dapat menyebabkan netrslisasi
pulan glikoprotein serum). toksin (racun) yang dikeluarkan oleh bakteri dengan
5. Imunoglobulin juga dapat menyebabkan ana- mengikat toksin tersebut. Toksin dan imunoglobulin
filaksis. berikatan, suatu proses yang menyebabkan toksin
Terikatnya imunoglobulirq yang ditujukan kepada tidak dapat mengikat sel jaringan dan menimbulkan
sel sasaran misalnya sel yang terinfeksi virus, dengan efek merugikan. Apabila telah terbentuk kompleks,
reseptor sel NK dapat membunuh sel pada proses maka kompleks tersebut mengalami presipitasi (suatu
ADCC. Dalam proses ini, sel NK menimbulkan proses yang menyebabkan kompleks mengendap
kematian melalui apoptosis. Imunitas pasif adalah dalam larutan). Sel-sel fagositik menghancurkan
resistensi relatif yang bergantung pada produksi produk dari semua proses ini, dan pengikatan
imunoglobulin orang atau pejamu lain. Imunitas pasif imunoglobulin meningkatkan proses penguraian ini.
dapat terjadi secara alami saat IgG ibu masuk ke janin Proses opsonisnsi adalah fungsi penting lain
atauneonatus mendapat IgA melalui kolostrum. imunoglobulin. Opsonin adalah suatu bahan yang
Respons Tubuh Terhcdop Tontongon lmunologik BA B 5 97

menyebabkan bakteri "terasa lebih lezat" bagi sel Jalur Klasik Jalur Alternatif
fagositik, yang sering memiliki reseptor permukaan cl c3
,.,. :
untuk mengikat IgG. Setelah imunoglobulin (terutama AKivator ::.::- t lit HrO
IgG) melapisi bagian eksterior suatu imunogen dengan
mengikat epitop-epitop permukaan imunogen tersebut,
maka fagosit dapat dengan mudah menelan imunogen.
Imunoglobulin juga dapat mengaktifkan jenjang c4, c2
l-Till li.--Tl
Permukaan
komplemen (C). Metode destruksi antigen oleh imuno- yang mengaKifkan
C4a, C2b faktor B, faKor D
globulin digambarkan pada Gbr. 5-13.
Imunoglobulin dapat mengaktifkan anafilaksis IFffiffi'I
(reaksi alergi sistemik pada individu yang pernah I cgusu I
tersensitisasi) dengan membebaskan histamin dan c3 ii
c3
mediator proinflamasi lainnya ke dalam cairan
jaringan di sekitarnya dan darah setelah pejamu C3a .. C3a

terpajanke suatu imunogen. Reintroduksi suatu sensl, I

tizer (pemeka) juga dapat memicu reaksi hiper-


sensitivitas dalam bentuk yang lebih terbatas. Reaksi
ini menyebabkan dibebaskannya berbagai mediator
@
dari sel mast dan basofil saat pejamu terpajan ke suatu
c5
alergen. Sel-sel fagositik menelan dan cepat mengurai-
kan kompleks imunoglobulin-imunogen dengan atau C5a
tanpa respons hipersensitivitas yang nyata.

c6, c7
Struktur dan Fungsi Komplemen c8, c9

Pada manusia, sistemkamplemen (C) terdiri dari sekitar '.---"=Y


20 protein yang terdapat di serum dan cairan jaringan.
l Membrane aftack comp|ex

Pada awalnya, Paul Ehrlich menyebut istilah


komplemen untuk menjelaskan kemampuan protein- i{.[pi*ia1sn
protein ini menyelesaikan atau memperkuat kerja
imunoglobulin menghancurkan bakteri. Sebagian
besar protein komplemen dihasilkan oleh hati. Sistem Gbr. 5-14 Jalur klasik dan alternatif pada jenjang komplemen.
C memiliki tigaperanbiologik utama: (1) menyebabkan
lisis imunogen seperti bakteri, alograf (tranplan
jaringan dari spesies yang sama), dan sel tumor; (2)
menghasilkan mediator atau fragmen protein yang dalam membran sel imunogen. Membran sel kemudian
memodulasi respons imun dan inflamasi di tubuh; dan mengalami kerusakan sehingga air dan elektrolit
(3) menyebabkan opsonisasi, yang bersifat memper- masuk ke dalam sel yang rnenyebabkan sel sasaran
kuat efek yang dihasilkan oleh imunoglobulin. Peran pecah dan mati.
keseluruhan sistem C adalah sebagai penguat (ampli- Fungsi kedua komplemen, pembentuknn berbagai
fier) dari semua reaksi imun yang terjadi sebagai mediator imun, berperan penting dalam respons
respons terhadap invasi benda asing. peradangan imun. Protein-protein sistem C menyebab-
kan vasodilatasi di tempat peradangan. Apabila suatu
jaringan mengalami vasodilatasi, maka akan lebih
Fungsi Komplemen
banyak darah dan sel imun yang beredar ke jaringan
Fungsi utama sistem C adalah menyebabkan /lsls sel; tersebut. Selain itu, fragmen-fragmen C (terutama C5a
perannya dalam lisis bakteri terjadi karena peng- dan kompleks C567) menarik neutrofil dan makrofag
aktivan jenjang C. Setelah mengalami pengaktivan ke tempat kejadian untuk meningkatkan fagositosis.
secara sekuensial (Gbr. 5-14), komponen-komponen Proses menarik sel-sel fagositik ke tempat peradangan
C berinteraksi satu sama lain untuk mernbentukmem- disebut kemotaksis. Beberapa fragmen (C3a, C4a, C5a)
brqne attack complex (MAC) di permukaan se1 sasaran. menyebabk an degranulasl (pengosongan vesikel yang
MAC memasukkan molekul-molekul pembuat pori ke mengandung histamin) sel mast dan basofil. Histamin
98 BAG IAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

yang dibebaskan kemudian menyebabkan peningkat- untuk memicu jalur klasik belum terbenhrk. Baik jalur
an permeabilitas vaskular dan kontraksi otot polos. klasik maupun alternatif menyebabkan terbentuknya
Karena perubahan-perubahan ini mirip dengan efek molekul C sentral, C3b, yang memiliki dua fungsi
jaringan setelah reaksi dependen-IgE seperti ana- penting: opsonisasi dan pembentukan MAC.
filaksis, maka fragmen-fragmen C tersebut sering
disebut s eb a gat an afil a toksin.
Fungsi ketiga sistem C adalah opsonisasi. Sel-sel KOM PLE KS H ISTOKOM PATI BI LITAS
fagositik sering lebih mampu menelan bahan apabila
bahan imunogen ini dilapisi oleh komplemen (ter- MAYOR
utama C3b). Banyak sel fagositik memiliki reseptor C3b
di permukaan selnya. Apabila imunogen dilapisi oleh MHC, yang juga dikenal sebagai kompleks HLA, ber-
komplemen, maka reseptor sel fagositik untuk komple- gantung pada suafu regio di lengan pendek kromosom-
men dapat mengikat imunogen dan fagositosis dapat 6 (Cbr. 5-15). Setiap orang memiliki dua set gen ini
berlangsung cepat. (haplotipe): satu dari kromosom ibu dan sahr dari ayah.
Kelompok gen ini bertanggun g jaw ab menghasilkan
Pengaktivan Komplemen aloantigen (antigen yang membedakan organisme-
organisme dari spesies yang sama), yang sebagian di
Sistem C dapat diaktifkan melalui dua cara. Peng- antaranya ditemukan di permukaan semua sel berinti.
aktivan dapat terjadi karena terbentuknya kompleks Aloantigen-aloantigen ini mengidentif ikasi setiap sel
imunogen-imunoglobulin IgG atau IgM (j alur klasik) berinti dalam tubuh seseorang sebagai sel diri.
atau karena berbagai molekul (j tilur tilternntifl , misalnya
endotoksin (lipopolisakarida bakteri Gram-negatif),
dinding sel fungus, dan selubung luar virus. Dari Kelas Antigen MHC
kedua jalur ini, jalur alternatif lebih penting bagi
pertahanan pejamu saat pertama kali seseorang Protein yang dikode oleh MHC umumnya dibagi
terinfeksi karena imunoglobulin yang diperlukan menjadi tiga kelas: antigen MHC kelas I, kelas II, dan

\---v-
Antigen kelas ll Antigen Antigen
kelas lll kelas I

Gbr. 5-15 Kompleks histokompatibilitas mayor (MHC), atau kompleks antigen leukosit m anusia (HLA),lerletak di lengan pendek kromosom
6. lni adalah tempat gen-gen yang mengkode antigen HLA. Kompleks gen ini penting untuk pengenalan imun, interaksi antarsel, dan
pengkodean antigen histokompatibilitas permukaan sel yang penting untuk memicu respons imun. Antigen-aniigen kompleks HLA dibagi
menjadi tiga kelompok. Antigen kelas I (lokus: HLA A, B, dan Q ditemukan di permukaan sebagian besar sel di tubuh dan penting dalam
pengenalan imun, penolakan tandur jaringan, dan eliminasi sel yang terinleksi virus. Antigen kelas ll ditemukan di sel-sel imunokompeten
(sel B, sel T, makrofag, monosit) dan penting untuk komunikasi antara sel-sel ini. Antigen kelas lll berperan dalam jalur klasik dan alternatif
pada sistem komplemen.
ResponsTubuhTerhodopTontongonlmunologik BAB s 99

Gbr. 5-16 Rangkaian proses imunitas selular dan


kerja antibodi terhadab infeksi virus. Virus yang
dibebaskan oleh sel yang terinfeksi ditelan dan
diproses oleh sebuah sel penyaji antigen (ApC)
Epitop virus (misalnya, makrofag). Epitop virus disajikan dalam
ikatan dengan suatu protein MHC kelas ll ke reseptor
Epitop virus sel f [CR) spesifik-virus pada sel CD4. Makrofag
membuat lL-1, yang membantu mengaktifkan sel CD4.
TCR Sel CD4 yang sudah diaktifkan menghasilkan
interleukin (misalnya, I L-2, yang mengaktifkan sel CDg
lL-2 untuk menyerang sel yang terinfeksi virus, serta /L_
4 dan IL-S, yang mengaktifkan sel B agar mempro-
duksi antibodi). Spesifisitas respons siiotoksik yang
dilakukan oleh sel CDB ditentukan oleh TCR-nya, yang
mengenali epitop virus yang disajikan (bersama
dengan protein MHC kelas l) oleh sel yang terinfeksi
Antibodi
virus.

kelas III. Antigen MHCkelas I ditemukan di permukaan


semua sel berinti dan trombosit kecuali sperma tozoa.
Peran Antigen MHC dalam
Saat suatu sel terinfeksi oleh virus, maka epitop virus Transplantasi dan Autoimunitas
akan disajikan di permukaan sel oleh molekul MHC
kelas I. Dalam ikatan ini, sel T CD8 (sel T sitotoksik) Se tiap o rang m ein i llki dua h ap I o t ip e (k ombtna s i b eb e-
yang memiliki reseptor sel T (TCR) yang sesuai akan rapa alel dalam sebuah kelompok gen ; alel adalal salah
mengenali epitop tersebut (Gbr. 5-16). Protein CDS di satu dari dua atau lebih gen yang berbeda yang mengan-
sel CD8 menstabilkan interaksi, dan sel CD8 menjadi dung karakteristik spesifik yang dapat diwariskan dan
aktif untuk melanjutkan respons imun. menempati posisi yang sama pada sepasang kromo-
Molekul MHC kelas 11 berperan dalam jenis-jenis som) MHC. Masing-masing orang tua mewariskan
reaksi selular yangberbeda dari yang diperankan oleh haplotipenya kepada ketumnannya, yang berbagi satu
komponen MHC kelas I. Apabila suatu APC seperti haplotipe dengan masing-masing orang tua. Semakin
makrofag menyajikan epitop yang sudah diproses di mirip susunan MHC antara dua orang, semakinbesar
permukaannya, maka epitop tersebut dikaitkan ke kemungkinan keberhasilan tranplantasi jaringan di
antigen MHC kelas II. Sel T CD4 (sel T penolong) akan antara keduanya. Penentuon tipe jaringan, suatu proses
mengenali epitop tersebut dan mengikat kompleks yang digunakan dalam uji paternitas dan seleksi do-
MHC-imunogen melalui kompleks TCR-nya. protein nor untuk transplantasi jaringan, adalah mekanisme
CD4 dari sel T CD4 menstabilkan interaksi, dan sel yang digunakan untuk mengidentifikasi spesifisitas
CD4 menjadi aktif untuk melanjutkan respons imun. selular individual pada MHC (lihat Bab 48).
Semua sel berinti memiliki antigen MHC kelas I. Autoimunit as didefinisikan sebagai terjadinya keru-
Dengan demikian, saat suatu sel terinfeksi oleh virus, sakan struktural atau fungsional sel akibat reaksi
antigen MHC kelas I menyajikan imunogen virus di limfosit atau imunoglobulin dengan komponen tubuh
permukaan sel untuk mengaktifkan sel CD8. Namun, yang tampak normal. Banyak penyakit autoimun yang
antigen MHC kelas II berkaitan dengan APC seperti lebih sering terjadi pada orang dengan gen MHC ter-
makrofag, monosit, dan sel B. Saat suatu antigen tentu. Penyebab keterkaitan yang sering kuat ini masih
disajikan oleh APC melalui antigen MHC kelas II, maka belum diketahui pasti. Namurt produk-produk gen
yang diaktifkan adalah sel CD4. MHC tertentu (bukan gen yang lain) tampaknya dapat
Antigen MHC kelas 111 sebenarnya adalah bagian menyajikan imunogen (termasuk antigen diri) yang
dari jenjang C (C2 dan C4) dan berperan dalam jalur memicu respons imunologik.
klasik dan alternatif sistem C. Dua rnediator, faktor Seseorang biasanya toleran terhadap imunogen
nekrosis tumor (TN F ) dan limfotoksin, sertabeberapa zat jaringan yang dikenali sebagai diri. Namun, pada ke-
yang tampaknya tidak berkaitan, juga dikode oleh adaan tertentu, toleransi terhadap diri mungkin hilang
regio MHC kelas IIL dan dapat timbul reaksi imun terhadap imunogen diri.
r00 BAG IAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

Bakteri, virus, dan obat dilaporkanberkaitan dengan mencerminkan reaksi yang diperantarai imuno-
penyebab perubahan jaringan yang memicu peng- globulin yang menyebabkan aglutinasi, presipitasi,
aktifan sel T dan B untuk menyerang sel-sel tubuh netralisasi, opsonisasi, dan pengaktivan enzim-enzim
sendiri. C dan lisis sel. Sel T dan B pengingat terbentuk untuk
Istilah mimikri molekzl digunakan untuk menjelas- menyebabkan respons yang lebih cepat terhadap
kan situasi ini. Bakteri atau virus pemicu sangat mirip imunogen bila bertemu di kemudian hari.
dengan suatu komponen tubuh sehingga serangan
imun malah ditujukan kepada komponen tersebut dan
bukan bakteri atau virus pemicu. Banyak penyakit Cabang Aferen dan Eferen
autoimun memperlihatkan insiden familial yang tinggi
(predisposisi genetik) yangdapat dikaitkan dengan an- Respons lmun
tigen MHC. Penyakit autoimun yang dapat disebabkan
oleh fenomena mimikri molekul antara lain adalah Respons imun dapat dijelaskan dalam dua fase:
penyakit jantung rematik, lupus eritematosus sistemik, cabang aferen dan cabang eferen. Cabang aferen juga
artritis rematoid, diabetes melitus tipe 1, miastenia dikenal sebagaifase induksi, adalah bagian dari respons
gravis, sklerosis multipel, dan penyakit Graves. Bab imun yang menghasilkan pengenalan imunologik dan
12 membahas mekanisme-mekanisme lain yang dapat
pembentukan unsur-unsur responsif. Sel-sel yang
memicu autoimunitas. berperan pada tahap ini adalah limfosit (sel T dan B)
dan APC, yang berproliferasi selama cabang aferen.
Cabang eferen, yang juga dikenal sebagaifase efektor,
terjadi saat sel-sel imunokompeten dan antibodi reaktif
RANGKUMAN: RESPONS IMUN sudah tersebar ke seluruh tubuh. Peran komponen
respons imun yang menetap dan beredar ini adalah
Respons imun adalah suatu interaksi kompleks (Gbr. untuk bereaksi dengan imunogen dan menyebab-
5-17) antara APC, sel-sel sistem imun, dan protein lain kannya inaktif. Sel-sel efektor atau molekul imuno-
seperti sistem C dan sejumlah sitokin (protein berberat globulin ikut serta pada cabang eferen di hampir
molekul rendah yang dikeluarkan oleh sel yang ikut seluruh tubuh.
serta dalam respons irnun). Tubuh memiliki beberapa
mekanisme untuk meningkatkan fagositosis imunogen
asing. Walaupun APC dapat menelan bakteri atau Respons lmun Primer dan Sekunder
virus tanpa opsonisasi, namun apabila suatu imuno-
gen dilapisi oleh komplemen atau imunoglobulin, Perbedaan penting terakhir pada respons imun adalah
maka proses fagositosis menjadi lebih kuat. Apabila sudahberapa kali tubuh "bertemu" dengan imunogen.
suatu APC atau sel yang terinfeksi virus menyajikan Saat tubuh pertama kali bertemu dengan suatu
sebuah epitop di permukaan sel, maka sel T akan imunogen, terjadi proses imunologik yang disebut
mengikat epitop tersebut sehingga terjadi pengaktivan respons primer. Munculnya antibodi spesifik biasanya
sel T. Antigen MHC kelas I dan kelas II sangat penting terjadi dalam 7 sampai 10 hari, yang mencerminkan
untuk menyajikan epitop dan menstabilkan interaksi produksi oleh suatu klona sel B dan sel plasma untuk
antarsel, yang menyebabkan terbenbuknya klona sel T imunogen tertentu tersebut. Kadar imunoglobulin
CD8 atau CD4. Antigen MHC kelas I menstabilkan spesifik dalam serum terus meningkat selama sekitar
reaksi dengan sel yang terinfeksi virus dan sel T CD8 4 minggu dan kemudian menurun secara bertahap.
(sitotoksik), sedangkan antigen MHC kelas II Imunoglobulin yang pertama kali muncul adalah IgM,
menstabilkan reaksi dengan APC dan sel T CD4 diikuti oleh IgG dan IgA (Gbr. 5-18).
(penolong). APC menghasilkan IL-1 untuk membantu Beberapa bulan atau bahkan tahun setelah indi-
pengaktivan sel T, dan sel T, sebaliknya, menghasilkan vidu terpajan ke imunogen, apabila terjadi pajanan
interleukin lain untuk memicu diferensiasi dan kedua, individu yang bersangkutan mengalami re spons
proliferasi sel T. Interleukin juga merangsang sel B sekunder. Respons sekunder berlangsung lebih cepat
untuk menghasilkan imunoglobulin dan meme- daripada respons primer karena adanya sel-sel peng-
ngaruhi tipe imunoglobulin yang dihasilkan. ingat dari kontak pertama dengan imunogen. Sel-sel
Komplemen memperkuat respons untuk membanhr pengingat berproliferasi untuk membentuk klona sel
lisis dan destruksi imunogen. Imunogen "penginvasi" dalam jumlahbesar yang mampu menghasilkan IgM
dihancurkan karena efek sitotoksik langsung dari sel seperti pada respons primer. Namun, produksi IgG
T CD8. Destruksi dan netralisasi juga dapat jauh lebih banyak daripada yang terjadi pada respons
ResponsTubuhTerhodopTontongonlmunologik BAB s t0t

VirusB
(imunogen)
o -e 15"? r'

x$$Itakroras
TCR I Pengolahan
antigen
f
Epitop
virus
IL-2R
Sitotoksin
..l{t-z X-/ -- Penolons

!Selr"ou' {*ilre".",
"i
\*yAv,"*
t [:l";')]tco+
.;\ I
sitotoksik*.
{ lgM 1}f+
:J Kematian

AI
sel
ffi*,, "}ilonomer

/\/{roHiion"'
oi"d,il.,

)+\t
cD8
{rnk
ily"
/ Diferensiasi
Proliferasi
\

Sel Tc
pengingat 16" e.
}Yffln1.n'' * nn*ooi

Gbr, 5-17 Gambaran singkat proses induksi respons imun selular dan humoral.

primer, dan kadar imunoglobulin ini cenderung terjangkit penyakit yang spesifik untuk spesies lain,
bertahan lebih lama daripada saat pertama kali ber- seperti sapi, babi, dan kuda.
kontak dengan imunogen. Selain itu, imunoglobulin Imunitns didnpat terjadi setelah tubuh terpajan ke
cenderungsecara lebih kuat mengikat imunogen dan suatu imunogen setelah lahir. Imunitas didapat dapat
lebih efektif menginaktifkan atau membersihkarulya bersifat aktif atau pasif. Imunitas aktif adalahresistensi
dari tubuh dibandingkan dengan saat kontak pertama. terhadap suatu imunogen yang terjadi akibat kontak
dengan imunogen asing. Kontak dapat terjadi dalam
bentuk infeksi, imunisasi dengan imunogen hidup
atau yang sudah dimatikan, pajanan ke produkbakteri
TIPE IMUNITAS misalnya endotoksin atau eksotoksin, atau trans-
plantasi sel atau organ asing. Pada imunitas aktif,
Sepanjang hidup seseorang terdapat beberapa tipe individu secara aktif menghasilkan imunoglobulin
imunitas yang bergantung pada usia dan penanganan atau limfosit peka atau keduanya sebagai respons
penyakit, Imunitas alnmi (natiae immunity, resistensi terhadap imunogen spesifik. Keunggulan utama imu-
bawaan) adalah potensi untuk menolak " agen" asing nitas aktif adalah resistensi bersifat jangka-panjang;
tanpa pernah berkontak. Imunitas alami dianggap kekurangan utamanya adalah bahwa imunitas aktif
"nonspesifik" karena dipertahankan oleh sel NK, memiliki awitan yang relatif lambat. Imunitas aktif
jenjang C, interferon, serta kulit dan selaput lendir terjadi apabila seseorang berkontak dengan suatu virus
tanpa bergantung pada mekanisme imun spesifik. seperti virus penyebab cacar air; virus merangsang
Proses-proses di dalam tubuh seperti fagositosis dan respons yang menyebabkan orang tersebut kemudian
peradangan juga berperan menghasilkan imunitas resisten atau kebal terhadap pajanan berikutnya.
alami. Imunitas dependen-spesies juga merupakan Sebagian atau seluruh virus yang dilemahkan atau
salah satu aspek imunitas alami. Manusia tidak dimatikan, produk-produk toksiknya, atau antigen
t02 BAG IAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

Pajanan pertama ke antigen Pajanan kedua ke antigen

+ +

o
cn
tr
z
-
1
f
a

HARI

Gbr.5-18 Respons imun primer dan sekunder. lntroduksi antigen memicu suatu respons yang didominasi oleh dua kelas antibodi, lgM
dan lgG. lgM merupakan imunoglobulin yang predominan dan pertama kali muncul pada respons primer, sedangkan lgG muncul belakangan.
Setelah sistem imun pejamu tersensitisasi, pajanan ke antigen yang sama akan memicu respons sekunder; pada keadaan ini diproduksi
sedikit lgM tetapi sejumlah besar lgG.

yang direkayasa secara genetis misalnya antigen per- imun adapbif ini adalah bahwa interaksi imunoglobulin
mukaan hepatitis B juga dapat menimbulkan imunitas atau sel T dengan imunogen kadang-kadang dapat
aktif melalu i vaksinasi. menyebabkan cedera pada tubuh. Reaksi yang merugi-
Imunitas pasif adalah resistensi relatif yang ber- kan ini disebut sebagai reaksi hipersensitiaitas. Kata
gantung pada produksi imunoglobulin oleh orang atau alergi juga digunakan untuk menjelaskan reaksi hiper-
pejamu lain. Imunitas pasif dapat terjadi secara sensitivitas tertentu yang sering dijumpai pada manusia.
alamiah saat IgG ibu masuk ke janin atau neonatus Dahulu, reaksi hipersensitivitas yang diperantarai
menerima IgA dari kolostrum. Imunitas pasif juga oleh imunoglobulin disebut reaksi hipersensitivitas f lpe
dapat diinduksi secara buatan dengan serum imun cepat (atauhumornl), sedangkan yang diperantarai oleh
untuk mencegah atau mengobati infeksi (misal, cacar, mekanisme imun selular disebut reaksi hiper-
rabies, campak) atau untuk menetralkan toksin (misal, sensitivitas tipe Inmbat (atav cell-mediated). Walaupun
difteria, tetanus, botulisme, bisa ular). Keunggulan istilah-istilah ini masih digunakan saat ini, namun
utama imunitas pasif adalah dapat segera ditimbulkan adanya tumpang tindih yang cukup banyak dalam
dengan memberikan sejumlah besar imunoglobulin. kecepatan munculnya berbagai reaksi menyebabkan
KekurangarL utamanya adalah bahwa imunitas pasif ketepatan kedua istilah menjadi berkurang. Klasifikasi
memiliki umur yang singkat dan dapat menimbulkan cedera imunologik yang lebih bermanfaat yang
reaksi alergi, terutama apabila berasal dari sumber- dikembangkan oleh Gel danCoombs membagi reaksi
sumber bukan manusia. ilI, dan IV
hipersensitivitas menjadi reaksi tipe I, II,
(Tabel 5-3).

FISIOLOGI REAKSI Reaksi Tipe I (Anafilaktik)


H IPERSENSITIVITAS
Pada reaksi tipe I (reaksr tipe anafilaktik, reaksi hiper-
sensitivitas tipe cepat), individu tersensitisasi oleh
Imunitas humoral dan selular jelas memiliki nilai imunogen tertentu melalui pajanan sebelumnya. Pada
adaptif bagi tubuh. Istilah imunitas secara umum kontak awal yang diproduksi adalah IgE yang
mengacu l<epada fenomena yang bermanfaat yang kemudianberedar ke seluruh tubuh dan terfiksasi ke
diperantarai oleh sistem imun. Namury 'harga' yang permukaan sel mast dan basofil. Saat tubuh kembali
harus dibayar oleh manusia untuk memiliki perangkat berkontak dengan imunogen yang sama, interaksi
Respons Tubuh Terhodop Tcntongon lmunologik BA Bs 103

antara imllnogen dengan antibodi yang sudah melekat Rangkaian kejadian ini disebabkan oleh pembebasan
ke sel mast menyebabkan pelepasan secara mendadak berbagai mediator dari sel mast yang kemudian
dan besar-besaran zat-zat proinflamasi, seperti memengarllhi otot polos vaskular dan jalan napas.
histamin, yang terkandung di dalam sel-sel tersebut. Reaksi yang lebih ringan mencakup rinitis alergi (hay
Apabila jumlah imunogen yang masirk sedikit dan di fever), angioedema, dan urtikaria (biduran).
daerah yang terbatas, maka pelepasan mediatornya
lokal. Pada siLr-rasi ini, akibah-rya adalah terjadinya
jr-rga
vasodilatasi lokal disertai peningkatan permeabilitas Reaksi Tipe ll (Sitotoksik)
danpembengkakan. Reaksi ini juga menjadi dasarbagi
Renksi tipe ll bersifat sitotoksik. IgG atau lgM dalam
uji kulit oleh para ahli alergi. Namun, apabila
imunogen masuk daiam jumlah lebih besar dan secara darah berikatan dengan epitop di permukaan imuno-
intravena ke dalam orang yang sudah peka, maka gen atau antigen MHC yang disajikan di permukaan
pelepasan mediator-mediator dapat sangat banyak sel. Akibat dari interaksi ini mungkin adalah perce-
dan meluas dan menimbulkan reaksi anafilaktik. Yang patan fagositosis sel sasaran atau lisis sel sasaran
sering menjadi penyebab reaktivitas tipe I adalah bisa setelah terjadi pengaktivan sistem C. Apabila sel
serangga, serbuk sari, alergen hewan, jamur, obat, dan sasaran adalah agen penginvasi, misalnya bakteri,
makanan. maka hasil akhir dari reaksi ini bermalfaat bagi tubuh.
Contoh klasik reaksi anafilaktik tipe generalisata Apabila sel sasaran adalah sel rubuh sendiri, misaklya
ini dijumpai saat seseorang yang sudah tersensitisasi erihosit, maka akibahrya mungkin adalah suatubentuk
mendapat infus intraveua suattt alergen seperti anemia hemolitik. Jenis lain reaksi tipe II adalah sito-
penisilin. Tanda-tanda distres muncttl dalam beberapa toksisitas yang diperantarai oleh sel yang dependen-
menit atau kurang, dan orang tersebut dapat meninggal antigen (ADCC). Pada reaksi tipe ini, imunoglobulin
dengan cepat setelah mengalami serangan agitasi, yang ditujukan terhadap antigen-antigen permukaan
kejang, bronkospasme, atall kolaps sirkulasi. Reaksi suatu sel berikatan dengan sel tersebut. Leukosit seperti
anafilaktik seperti ini terjadi karena obstruksi bronkus, neutrofil dan makrofag yang memiliki reseptor untuk
yang menyebabkan terperangkapnya udara inhalasi bagian tertentu (bagian Fc) molekul imunoglobulin
di dalam paru, gagal napas, dan defisit okgigen atau tersebut kemudian berikatan dengan sel dan
karena faktor-faktor misalnya hipotensi berat, menghancurkannya. Contoh yang umum unLuk reaksi
pembengkakan laring, atalL ganggr-ran irama jantung. tipe Il adalah destruksi eritrosit sewaktu transfusi

TABEL 5-3
Ringkasan Reaksi Hipersensitivitas
,'::.+t':::::a.... -:::
Meka n isrne .r.",.
:.
::.: :::,r,,llir::,=
:.. ;.::
jiir,,l:rr,.:=:::# Contoh
.ia . ."
*.W "&
1,l1lr,]1,-;s1;;Gt.ri4 n;&i. ^.;
' :": r Tipe l: Analilaktik Antigen bereaksi dengan antibodi lgE yang terikat Uji gores alergi yang positif
ke permukaan sel mast; menyebabkan pelepasan Anafilaksis
mediator dan efek mediator Alergi saluran napas
Bisa serangga

Tipe ll:Sitotoksik Antibodi berikatan dengan antigen yang merupakan Anemia hemolitik imun
bagian dari sel atau jaringan tubuh; teriadi Sindrom Goodpasture
pengaktivan komplemen; atau fagositosis sel '
sasaran dan mungkin sitotoksisitas yang
diperantarai oleh sel yang dependen-antibodi ' :

Tipe lll: Kompleks imun Penyatuan antigen dan antibodi membentuk suatu Serum sickness
''
kompleks yang mengaKifkan komplemen, menarik Beberapa bentuk glomorulonefritis
rleukosit, dan menyebabkan kerusakan jaringan Lesi pada lupus eritemalosus slst6mik
oleh produk-produT leukosit
l, ,,,,,- ,

..,
Tipe lVr Diperantarai sel Reaksi limfosit T dengan antigen menyebabkan D"rmutilskonrakatergi ',:::':1r.'t ii ii'
pelepasan limfokin, sitotoksisitas langsung, dan Penotat<an alograf : .-:..r':; ,' .'.1,,.
pengerahan sel-sel reaktff Lesi/uji kulit tuberkulosis

/gE lmunoglobulin E
t04 BAG IA N sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

darah yang golongan ABO-nya tidak cocok, miastenia


gravis, dan sindrom Goodpasture (serangan pada
Reaksi Tipe lV (Selular) :
membran basal ginjal dan paru). Resksi tipe IV (reaksi yang diperantarai oleh sel, reaksi
hipersensitivitas tipe iambat) diperantarai oleh kontak
sel-sel T yang telah tersensitisasi dengan imunogen
Reaksi Tipe lll (Kompleks lmun) yang sesuai. Reaksi ini cenderung terjadi 12 sampai
24 jam setelah pajanan awal ke imunogen. Sel-sel CD4
Reaksi tipe Illmemiliki beberapa bentuk tetapi akhimya
(sel T penolong) melepaskan sitokin yang menarik dan
akan diperantarai oleh kompleks imun (kompleks
merangsang makrofag untuk membebaskan mediator-
imunogen dengan imunoglobulin, biasanya IgG) yang
mediator peradangan. Apabila imunogen menetap,
mengendap di jaringan, arteri, dan vena. Contoh reaksi
maka kerusakan jaringan yang disebabkan oleh proses
tipe ini yang banyak dipelajari adalah reaksi Arthus. ini dapat berkembang menjadi reaksi granulomatosa-
Secara klasik, reaksi ini ditimbulkan mula-mula kronik misalnya berkumpulnya sel-sel mononukleus
dengan mensensitisasi seseorang dengan protein
di daerah kerusakan jaringan.
asing. Kemudian orang tersebut diberi suntikan Berbagai imunogen, seperti virus, bakteri, fungus,
imunogen yang sama secara intradermis. Reaksi
hapten, dan obat, dapat memicu reaksi tipe iV. Basil
muncul dalam beberapa jam, dengan awal berupa
tuberkel tampaknya menyebabkan respons selular
pembengkakan dan kemerahan di tempat suntikan
yang menyebabkan limfotoksisitas. P oison izty, deterlen,
yang akhirnya mengalami nekrosis dan hemoragi
danparfum juga dapat menyebabkan dermatitis kontak
pada reaksi yang parah.
alergi. Reaksi tipe IV juga merupakan penyebab utama
Mekanisme dasar unhlk perubahan-perubahan ini
penolakan yang terjadi pada beberapa transplantasi
adalah pembentukan kompleks imunogen-imuno-
organ. Apabila jaringan hidup dari satu orang
globulin di dinding pembuluh. Unsur kunci dalam
ditandur ke orang lain, baik berupa sepotong kulit atau
reaksi ini adalah pengaktivan jenjang C oleh kompleks
suatu organ keseluruhan, maka kecuali apabila donor
imun yang mengendap di dinding pembuluh darah,
dan resipien identik secara genetis, jaringan yang
walaupun sel-sel vaskular bukan merupakan sumber
ditandur akan dianggap oleh sistem imun resipien
imunogen; imunogen berdifusi ke dalam dinding
sebagai benda asing dan nonself. Setelah suatu fase
pembuluh dari darah. Pengaktivan C menyebabkan
induksi yang singkat, limfosit yang secara spesifik
terbentuknya f aktor-faktor kemotaktik yang menarik
tersensitisasi ke antigen MHC dari donor akan
neutrofil dari sirkulasi. Kerusakan pembuluh berlanjut
menyerbu tandur. Limfosit-limf osit ini menyebabkan
apabila neutrofil mengalami degranulasi (melepaskan
destruksi atau penolakan tandur melalui sejumlah
enzim-enzim litik) ke daerah sekitar. Kerusakan di mekanisme yang melibatkan limfositotoksisi tas lang-
jaringan sekitar disebabkan oleh pembentukan
sung atau rekrutmen makrofag. Walaupun sel T ber-
mikrotrombus, peningkatan permeabilitas vaskular,
peran penting dalam menolak tandur, namun pada
dan pelepasan enzim-enzim yang menyebabkan beberapa keadaan imunoglobulin juga berperan
peradangan, kerusakan jaringan, dan bahkan kema-
penting. Tipe reaksi penolakanini membatasi kemam-
tian jaringan. Reaksi tipe III berbeda dari reaksi tipe II.
puan kita mengganti organ yang cacat pada seseorang
Kerusakan sel selama reaksi tipe II terbatas pada tipe
dengan organ yang diambil dari orang lain.
sel tertentu yang merupakan "sasaran" spesifik,
sedangkan reaksi tipe III menghancurkan jaringan
atau organ di mana saja tempat kompleks imun
mengendap. Sebagai contoh, glomerulonefritis dapat
terjadi saat kompleks imun mengendap di ginjal, serta
IMUNODEFISIENSI
lupus eritematosus sistemik dan artritis dapat terjadi
apabila kompleks imun mengendap di kulit dan sendi. Adanya sistem imun yang kompeten merupakan hal
Contoh lain reaksi tipe III adalah serum sickness, yang esensial bagi individu untuk dapat menahan serangan
timbul 1 sampai 2 minggu setelah seseorang disuntik antigen asing. Dengan demikian, seseorang dapat
dengan suatu serum asing. Kompleks imun mengalami penyakit apabila ia menderita defisiensi
mengendap di dinding pembuluh, menyebabkan salah satu komponen sistem imun. Penyakit jenis ini
komplemen terfiksasi dan timbul edema, demam, dan bermanifestasi secara klinis sebagai peningkatan
peradangan. kerentanan terhadap infeksi, yang mungkin sedemi-
ResponsTubuhTerhodopTontongonlmunologik BAB 5 105

kian parah sehingga mematikan. Pola infeksi ber- melalui trarsfer IgG menembus plasenta sebelum lahir.
gantung pada tipe defisiensi spesifik. Mekanisme protektif lain untuk neonatus' adalah
Defisiensi imunologik dapat bersifat primer atau besarnya jumlah IgA dalam kolostrum, yang melin-
sekund er. D efi si en si imu n ol o gik pr im er memiliki dasar dungi neonatus dari infeksi saluran napas dan GL
genetik, dan berbagai bagian dari sistem imun dapat Namun, pada usia 3 sampai 6 buian, hanya sedikit
terlibat. Salah satu contoh defek pada imunitas hu- IgG ibu yang tersisa, dan risiko infeksi meningkat.
moral adalah ngamnglobulinemia terknit-X yang ]anin dan neonatus memang memiliki kemampuan
disebabkan oleh defisiensi sel B. Penyakit ini menye- untuk menghasilkan imunoglobulin. Janin dapat
babkan pasien hampir sama sekali tidak memproduksi menghasilkan IgM sebagai respons terhadap imuno-
imunoglobulin, dengan konsekuensi infeksi rekuren gen tertentu, misalnya organisme yang menyebabkan
atau kronik yangpaling sering disebabkan olehbakteri sifilis kongenital. Segera setelah lahir, neonatus juga
piogenik misalnya Haemophilus influenzae, Str ep tococ- mulai menghasilkan IgG dan IgA, dan kadar imuno-
cus pneumoniae, dan stafllokokus. Imunodefisiensi hu- globulin-imunoglobulin ini meningkat secara
moral dapat hanya mengenai imunoglobulin tertentr-r, progresif setelah 4 sampai 6 bulan.
misalnya defisiensi lgA terisolasl; individu dengan Pada orang berusia lanjut, kemampuan menghasil-
penyakit ini memperlihatkan peningkatan angka kan respons imun umumnya menurun oleh sebab-
infeksi saluran napas dan GI dan mungkin mengalami sebab yang belum jelas. Timus, yang ukurannya men-
reaksi anafilaksis berat apabila ditransfusi dengan capai maksimum saat pematangan seksuaf mengalami
darah normal (karena mereka mungkin memiliki involusi dan pada usia 50 memiliki ukuran hanyaT5'/.
antibodi terhadap IgA dalam jumlah cukup besar). dari ukuran maksimumnya. Kadar hormon timus juga
Defisiensi primer sistem sel T (misalnya, sindrom menurun, dan timus tidak mampu memerantarai
DiGeorge) atau bahkan seaere combined immunodeficiency diferensiasi sel T. Selain invoiusi timus, orang berusia
disesse (SCID) juga dapat terjadi. SCID melibatkan lanjut mengalami penurunan kemampuan menghasil-
gangguan fungsional imunitas humoral dan selular. kan IgG sebagai respons terhadap imunogen; mereka
Bayi dengan penyakit ini rentan terhadap infeksi juga memiliki lebih sedikit sel T dan mengalami
bakteri, fungus, dan virus dan sering meninggal dalam perlambatan atau hilangnya respons hipersensitivitas.
tahun pertama kehidupannya. Kelainan komplemen Riset-riset mengisyaratkan bahwa vaksinasi kurang
adalah kategori lain imunodefisiensi (sebagian dari efektif pada orang berusia lanjut. Yang lebih mem-
penyakit imunodefisiensi primer dibahas di Bab 14). perumit keadaan, orang berusia lanjut memperlihatkan
peningkatan kadar imunoglobulin darah yang
dituiukan kepada antigen diri (autoantibodi).
Orang berusia lanjut mengalami penurunan fungsi
FAKTOR USIA surveilans sistem imun. Apabila sel T dan sel NK
kurang mampu mengidentifikasi dan menghancurkan
Kemampuan untuk mempertahankan fungsi sistem se1 yang bermutasi, maka sel-sel tumor dapat berpro-
imun berkurang pada awal dan akhir rentang liferasi dan risiko kanker meningkat. Karena ifu, infeksi
kehidupan. Walaupun timbul pertanyaan-pertanyaan pada neonatus atau usia lanjut memperlihatkan
mengenai respons imun yang relatif rendah pada peningkatan frekuensi dan keparahan. Orang berusia
neonatus, namun ftrngsi sel T tampaknya adekuat. lanjut juga berisiko lebih tinggi mengalami keganasan
Neonatus terutama mengandalkan imunitas pasif agar dan neoplasma dibandingkan dengan periode lain
tetap sehat. Antibodi terutama diberikan oleh ibu dalam rentang kehidupan.
t06 BAGIAN SATU PEN DAHULUAN PATCLOGI U MU M : MEKANISME PE NYAKIT

*(olrstP KUNcr

Jaringan limfoid sekunder mencakup kelenjar


Untuk mempertahankan kehidupan, suatu getah bening, tonsil, limpa, dan jaringan terkait-
organisme harus mampu melindungi diri dari mukosa di kulit, saluran.napas, saluran Gl, dan
ancaman terhadap individualitasnya dan saluran GU. Respons imun adaptif dihasilkan di
mengenali perbedaan anlara diri sendiri dan kelenjar getah bening, limpa, dan jaringan limfoid
asing. Kunci bagi kemampuan tubuh untuk terkait-mukosa. Di limpa dan kelenjar limfe,
membedakan diri dariasing adalah kompleks pengaktivan limfosit oleh antigen terjadi di
histokompatibilitas mayar (MHC), suatu kompartemen sel B dan sel T yang tersendiri.
kelompok gen di lengan pendek kromosom 6 Respons imunitas selular, alau cell-mediated
yang mengendalikan produksi sekelompok immunity, adalah respons imun yang dilaksana-
tertentu molekul. yan g berf ungsi sebagai antigen kan oleh limfosit T
selatau penanda diri. Peran sel T dapat dibagi menjadi dua fungsi
Tiga fungsi sistem imun adalah: (1) pertahanan utama: fungsi pengendali dan fungsi pelaksana.
(destruksi 2at asing seperti virus atau bakteri, Fungsi pengendali terutama dilakukan oleh salah
untuk mencegah infeksi oleh patogen); (2) ho- satu subset selT se/ T penolong (juga dikenal
meostasis (membersihkan bahan-bahan yang sebagai sel CD4 karena petanda CD di
tidak bermanfaat daritubuh misalnya selyang permukaan sel diberi nomor4).
rusak; mencegah sisa sel berkembang menjadi Sel CD4 memiliki empat fungsi primer: (1) sel
ancaman);dan (3) surveilans (mengenali dan CD4 memiliki fungsi pengendali, mengaitkan
menghancurkan sel yang bermutasi, misalnya sistem monosit-makrofag ke sistem limfoid; (2)
sel kanker). sel CD4 berinteraksi dengan sel penyaji antigen
Antigen alau imunogen adalah suatu molekul (APC) untuk mengendalikan produksi imuno-
atau selyang mampu merangsang respons imun. globulin; (3) selCD4 menghasilkan sitokin yang
Karakteristik suatu bahan yang dapat berfungsi memungkinkan tumbuhnya sel CD4 dan CDB;
sebagai antigen antara lain adalah: (1) harus dan (4) sel CD4 berkembang menjadi sel
cukup besar, kompleks, dan asing bagipejamu; pengingat.
(2) terdapat dalam jumlah memadai; (3) epitopnya Fungsi efektor imunitas selular dilakukan oleh
harus dapat diakses;dan (4) biasanya merupa- sel T sitotoksik (pemusnah) (.luga dikenal sebagai
kan protein dengan berat molekul >10.000 dalton. sel CDB karena cluster of differentiatian-nya
Hapten adalah antigen yang sendirian terlalu diberi nomor B). Sel CD8 mampu mematikan sel
kecil untuk memicu respons imun sehingga yang terinfeksl virus, sel tumor, dan jaringan
harus menyatu dengan protein tubuh untuk transplantasi dengan menyuntikkan perforin
merangsang reaksi imun. (bahan kimia pembentuk pori-pori) ke sasaran
Antibodi (atau imunoglobulin) adalah glikoprotein "asing" dan memasukkan granzymes (enzim-
plasma yang disekresikan oleh limfosit B (sel enzrm proteolitik) melalui pori sehingga sel
plasma) yang bereaksi dengan antigen asing. sasaran mengalami apoptosis (kematian sel
Semua sel darah berasal dari sel bakal pluri- terprogram atau bunuh diri).
potensial. Sel bakal pluripotensial adalah sel lmunitas selular memiliki empat fungsi yang
embrionik yang dapat membentuk beragam sel sering dikutip: (1) sel T CD8 menyebabkan ke-
,hematopoietik dan dapat membetah diri. Sel matian secara langsung sel sasaran misalnya
bakal pluripotensial ditemukan di sumsum tu lan g sel yang terinJeksi virus atau sel tumor. Sel T
dan jaringan hematopoietik lain dan menghasil- CD8 melakukan fungsi ini dengan mengikat sel
:kan semua komponen darah. , sasaran dan mengeluarkan perforin untuk
Sistem limfoid mempertahankan tubuh dari agen mematikan sel melalui proses apoptosis. (2) Sel-
pqnginvasi melalui pemanfaat dua respons imun : sel T juga menyebabkan reaksi hipersensitivitas
imunitas selular dan imunitas humoral. tipe lambat saat menghasilkan sitokin yang
Organ timfoid primer adalah sumsum tutang menyebabkan peradangan. Sitokin tidak saja
,tempat perkembangan',sel B dituntaskan dan secara langsung memengaruhi jaringan tetapi
timiis tempat perkembangan selT dituntaskan. juga mengaktifkan sel lain misalnya APC. (3)
ResponsTubuhTerhodopTontongcnlmunologik BAB s 107

SetT memiliki kemampuan menghasilkan sel ini dapat menimbulkan respons peradangan:
pengingat. Sel T pengingat memungkinkan Jenjang komplemen dapat diaktif kan melaluijalur
terjadinya akselerasi respons imun apabila tubuh klasik (lgG atau lgM) atau jalur alternatif
terpajan imunogen yang sama untuk kedua Beberapa efek dari komponen komplemen adalah
kalinya yang sering terjadi lama setelah pajanan kemotaksis (CSa; C5b67); anafitatoksin atau
pertama. (4) Sel T juga memiliki peran penting pelepasan histamln (C3a; CSa, C4a); opsonisasi
dalam pengendalian atau kontrol. SelCD4 dan (C3b); sitolisis sel sasaran oleh membrane at-
CD8 memfasilitasi dan/atau menekan respons tack complex (C5-C9)
imun selular dan humoral. lgA dapat berada dalam bentuk monomer, dimer,
Sel n atu rat ki tt er (NK) men g kh ususkan di ri dalam atau trimer dan memiliki sebuah secretory piece.
menghancurkan sel yang terinfeksi virus dan lgA terutama terdapat dalam sekresi tubuh:
neoplasma dengan mengeluarkan perforin seperti kolostrum, air mata, air liur, dan dalam sekresi
yang dihasilkan oleh selCD8. Perbedaan utama saluran napas, Gl, dan GU. Fungsi utama lgA
antara sel CD8 dan sel NK adalah bahwa yang adalah mempertahankan permukaan mukoia
terakhir tidak spesifik untuk epitop tertentu dan terhadap invasi oleh bakteri atau virus.
tidak bertambah kuat oleh pajanan sebelumnya. lgE adalah suatu lg sitofilik dan terutama
Se/ f siiotaksik (sel CDB) dapat mengenali ditemukan melekat ke sel mast dan basofil. lgE
hanya antigen yang berikatan dengan molekul terlibat dalam reaksi hipersensitivitas tipe L
MHC kelas I lmunoglobulin memiliki lima fungsi efektor utama:
Set T penotong (sel CD4) dapat mengenali hanya (1) imunoglobulin menyebabkan ADCC; (2)
antigen yang berikatan dengan molekul MHC imunoglobulin memungkinkan terjadinya imuni-
kelas ll sasi pasif (akuisisi imunitas karena mendapat
Respons imun humoral bersifat tidak langsung imunoglobulin yang sudah terbentuk); (3) imuno-
dan dilaksanakan oleh imunoglobulin spesifik globulin meningkatkan opsonisasi (pengendapan
(antibodi) yang dihasilkan oleh sel B aktif (sel komplemen pada suatu antigen, yang mendo-
plasma) rong kontak lekat stabil dengan sel fagositik);
Struktur dasar suatu imunoglobulin memiliki (4) imunoglobulin mengaktifkan komplemen
bentuk Y khas (dua rantai polipeptida berat dan (sekelompok gli koprotein serum); dan (5) imuno-
dua rantai ringan yang disatukan oleh ikatan globulin juga dapat menyebabkan anafilaksis.
disulfida). Regio variabel atau pengikat antibodi Kompleks MHC atau HLA adalah sekelompok
(Fab) di ujung Y mengikat epitop antigen. Regio gen yang terletak di lengan pendek kromosom
konstan atau fragmen Fc di batang Y penting 6 yang mengkode antigen-antigen HLA. Antigen
untuk memfiksasi komplemen dan merupakan HLA dibagi menjaditiga kelompok: Antigen kelas
tempat lgE mengikat basofilatau selmast. I (HLA lokus A, B, dan C) ditemukan di
lgG (globulin gama)adalah imunoglobulin yang permukaan sebagian besar sel didalam tubuh;
paling banyak ditubuh serta banyak dijumpai di antigen kelas ll (lokus DR, DQ, DP)ditemukan
dalam darah. lgG adalah satu-salunya lg yang terutama di permukaan sel imunokompeten,
menembus plasenta dan penting untuk termasuk monosit, makro{ag, sel B, dan selT.
melindungi tubuh dari serangan bakteri Antigen kelas I dan ll penting untuk menentukan
lgM adalah imunoglobulin paling besar, beredar kecocokan jaringan yang ditransplantasikan.
sebagaipentamer, dan bertanggung jawab dalam Antigen kelas lll berperan dalam jalur klasik dan
respons imun primer alternatif pada jenjang komplemen.
lmunitas humoralyang melibatkan lgG atau lgM Respons imun primer terjadi setelah pajanan
dapat dibantu oleh sistem komplemen, suatu awal ke suatu antigen; respons berlangsung
sistem amplifikasi yang menuntaskan kerja lambat dan pada awalnya yang mendominasi
imunoglobulin dan menyebabkan lisis patogen adalah lgM diikutioleh lonjakan ringan lgG. Pada
dan seltertentu. pajanan kedua ke antigen yang sama, sel
Komplemen adalah sekelompok protein (yang plasma menghasilkan terutama lgG dan respons
terdiri dari 9 atau iebih protein) yang dalam yang l;*5u' jauh lebih kuat dan lebih cepat
keadaan normal beredar dalam darah dalam dibandingkan dengan pajanan pertama karena
bentuk inaKif. Apabila diaktifkan, protein-protein adanya sel-sel B pengingat
108 BAGIAN sATu PENDAHULUANPATOLOGIUMUM; MEKANISMEPFNYAKIT

Terdapat dua kelompok besar imunitaS didapat: berlangsung perlahan dan memerlukan waktu
1. lmunitas didapat alami: (a) aktif : antibodi beberapa minggu untuk timbultetapi bertahan
dihasilkan setelah mengidap dan sembuh dan lama (tetapi mungkin memerlukan "boosted'
penyakit (misalnya, cacar air) atau (b) pasif: atau penguat); imunitas pasil bersifat segera
antibodiyang sudah jadi diperoleh bayi dari tetapi temporer, bertahan hanya beberapa
ibu melalui plasenta atau kolostrum bulan.
2. lmunitas didapat artifisial: (a) aktif: pem- Penyakit imunologik dapat dibagi menjadi tiga
bentukan antibodi secara aKif oleh individu kelas: (1) penyakit imunode{isiensi: primer atau
setelah vaksinasi (mis. organisme hidup yang sekunder (misalnya, AIDS); (2) penyakit hiper-
::' sudah dilemahkan, misalnya rabies, campak, sensitivitas (misalnya, alergi); dan (3) penyakit
'",' gondongan; organisme yang'sudah mati, autoimun (misalnya, lupus eritemalosus
misalnya tifoid, pertusis, vaksin polio Salk; sistemik).
modif ikasi eksotoksin, misalnya toksoid teta- Penyakit hipersensitivitas dibagi menjadi empat
:nus); atau (b) pasif: peminjaman imunitas tipe: reaksi tipe I (anafilaktik); reaksi tipe ll
yang sudah jadi melalui penyuntikan serum (sitotoksik); reaksitipe lll (kompleks imun); dan
imun (mis. antitoksin tetanus). lmunitas aktif reaksitipe lV (diperantarai oleh sel).

prnrnruYAAN

Beberapa contoh pertanyaan untuk bab initercantum di sini. Kunjungi http://www.mosby.com/MERLIN/PriceWilson/ untuk
pertanyaan tambahan,

Cocokkan istitah di kotom A yang berkatitan dengan struktur dasar suatu


imunoglobulin dan sistem komplemen dengan penjelasan di kolom B.

Kolom A Kolom B
1. Regio Fab a. Hanya diaktifkan oleh kompleks imun
2. Regio Fc lgE dengan lgG dan lgM
J. Jalur klasik pengaktivan Tidak memerlukan reaksi anttgen-
komplemen antibodi untuk mengaKrfkannya (mrsalnya,
Jalur altematif pen gaktivan dapat diaktifkan oleh endotoksrn bakeri)
komplemen c. Tempat mengikat antibodi pada interaksi
antigen-antibodi
Reseptor membran sel terdapat di sel
mast dan basofil darah

Cocokkan imunoglobulin (lg) di kolom A dengan penjelasannya di kolom B.

Kolom A Kolom B
6 lgA a. lg paling primitif dan paling besar;
o. lsD berperan dalam respons imun primer
7. lgE b. Memperantarai anaf ilaksis
8. lgG Fungsitidak jelas
o lgM d. lg paling banyak di dalam darah;
berperan dalam respons imun sekunder
e. lg utama dalam sekresi misalnya air mata,
air liur, serta sekresi saluran Gl dan GU
ResponsTubuhTerhodopTontongonlmunologik BAB 5 t09

Jawablah pertanyaan berikut di lembar terpisah.

10. Sebuldan jelaskan semua komponen 12. Bandingkan paling sedikit lima perbedaan
dan respons sistenn imun, sefia sebutkan antara sistem imun humoraldan selular.
tiga fungsinya. 13. Sebutkan tiga kelas penyakit imunologik.
11. Sebutkan fungsi imunoglobulin (anti- 14. Sebutkan empat tipe reaksi hipersen-
bodi). Sebutkan lima tipe dan masing- sitivitas, sistem imun yang terlibat,
masing fungsinya. kemungkinan mekanisme imun yang
memerantarai reaksi, dan satu contoh
prototipe penyakit bagi masing-masing
tipe.
BAB 6

Respons Tubuh Terhodop


Agen Menulor
LORRAINE M. WILSON

membuat daftar banyaknya infeksi khusus yang


$innts BEsAR BAB menyerang manusia, tetapi untuk membicarakan
,I1O secara umum prinsip-prinsip biologis yang ber-
FAKTOR HOSPES PADA INFEKSI.
pengaruh terhadap hubungan hospes dan agen
Kulit dan Mukosa Orofaring, 1 10
menular. Sasaran bab ini secara khusus adalah men-
Saluran Pencernaan, 1 1 2
jelaskan keadaan yang tepat dari berbagai infeksi, yaitu
Saluran Pernapasan, 1 1 2
menegaskan bahwa penyakit menular itu hanya suatu
Sawar Penahanan Lain, 1 1 2
keadaan hasil interaksi antara hospes dan mikroba
Radang Sebagai Pertahanan, 113
yang berlangsung secara kebetulan.
Pembuluh Limf pada lnfeksi, 1 13
Pertahanan Terakhir, I 13
FAKTOR MIKROBA PADA INFEKSI, ] 14
Daya Transmisi, 1 14 FAKTOR HOSPES PADA INFEKSI
Daya lnvasi, 1 14
Kemampuan untuk Men imbulkan Syarat timbulnya infeksi adalah bahwa organisme
Penyakit, 1 15 yang menular harus mampu melekat, menduduki, atau
CARA INTERAKSI HOSPES DAN memasuki hospes dan berkembang biak paling tidak
MIKROBA, 11' sampai taraf tertentu. Karena itu tidaklahmengheran-
't '16
INFEKSf OPORTUNTSTTK, kan, bila dalam perjalanan evolusi, spesies hewan
FLORA MIKROBA NORM AL, 117
termasuk manusia, sudah mengembangkan meka-
nisme pertahanan tertentu pada berbagai tempat yang
berhubungan dengan hngkungan.
nfeksi merupakanbagian dari kehidupan yang
universal. Tumbuhan dan hewan dari segala Kulit dan Mukosa Orofaring
ukuran dan bentuk pernah diduduki oleh
berbagai mikroba hidup, tidak terkecuali manusia. Batas utama antara lingkungan dan tubuh manusia
Tujuan dari pembahasan berikut ini bukan untuk adalah kulit. GBR. 6-1 menunjukkan struktur yang

lt0
Respons Tubuh Terhodop Agen Menulor BA B 6 lll

''#,.,.LA.
;,*t*
{, w

i..

" t', . "'

Gbr. 6-2 Usus halus. Lapisan epitel yang memisahkan isi usus
Gbr. 6-1 Kulit. Epidermis (terlihat pada dua pertiga dari lapang darijaringan halus di bawahnya, bukan merupakan barier mekanis
pandang) terdiri atas sel berlapis banyak, lapisan paling luar yang sangat baik. Bagian permukaan dilindungi oleh mukus, yang
merupakan sel gepeng yang mengalami keratinisasi dan tidak disekresi oleh "sel-sel goblet" yang berwarna pucat, oleh antibodi
memiliki inti. Lapisan-lapisan ini merupakan barier mekanis yang
yang dihasilkan jaringan limfoid di bawahnya, dan oleh gaya
kuat sekali (Fotomikrograf , 31 5X.)
peristaltik sewaktu terjadi pengosongan usus halus.
(Fotomikrograf , 200X.)

khas kulit manusia. Jelas terlihat bahwa kulit yang


utuh memiliki lapisan keratin atau lapisan tanduk
pada permukaan luar, dan epitel berlapis gepeng
sebagai barier mekanis yang baik sekali terhadap
infeksi. Biasanya sulit sekali bagi jasad renik untuk
menembus barier mekanis ini. Namun jika terjadi luka
iris, abrasi atau maserasi (seperti pada lipatan tubuh
yang selalu basah) dapat memungkinkan agen menular
masuk. Selain sebagai barier sederhana, kulit juga
mempunyai kemampuan tertentu untuk melakukan
dekontaminasi terhadap dirinya sendiri. Jadi orga-
nisme yang melekat pada lapisan luar kulit (dengan
anggapan bahwa organisme tidak mudah mati bila
menjadi kering) akan dilepaskan pada waktu lapisan
kulit mengelupas. Selain dekontaminasi fisik, juga
terdapat dekontaminasi kimiawi yang terjadi dengan
cara berkeringat dan sekresi kelenjar sebasea yang
membersihkan permukaan kulit. Akhimya, kulit juga Gbr. 6-3 Kolon. Epitel ini mengandung banyak sel yang
menyekresi mukus. Selama hidup, permukaannya dipenuhi oleh
memiliki flora normal yang dapat berpengaruh mukus, tetapi setelah proses yang terjadi pada jaringan, hanya
terhadap dekontaminasi biologis (hal ini akan dijelas- sedikit mukus yang menetap di atas permukaan mukosa (kanan
kan lebih lanjut dalam bab ini) dengan menghalangi atas). Flora mikroba yang jumlahnya banyak dan "melindungi" kolon
tidak terlihat pada sediaan ini. (Fotomikrograf, 315X.)
pembiakan organisme-organisme lain yang melekat
pada kulit.
Lapisan mulut dan sebagian besar faring serupa
dengan kulit karena terdiri dari epitel berlapis yang hanyutkan partikel-partikel yang ada. Selain itu,
merupakan bagian dari barier mekanis untuk men- terdapat zat-zat dalam saliva yang menghambat
cegah invasi mikroba. Namun, barier mekanis ini mikroorganisme tertentu. Akhimya, mulut dan faring
sebenarnya memiliki kelemahan di sepanjang gusi dan juga memiliki banyak flora normal yang dapat bekerja
di daerah tonsil. Mukosa orofaring juga didekonta- untuk menghalangi perttr mbuhan beberapa kuman
minasi oleh aliran saliva yang dengan mudah meng- yang potensial.
tt2 SAGtAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISMEPENYAKIT

Saluran Pencernaan tidak cepat dan ternyata terdapat stagnasi relatif dari
isi usus. Di tempat ini, pertahanan utamd melawan
Mukosa lambung adalah tipe kelenjar dan bukan mikroba adalah dengan banyaknya flora "normal"
merupakan barier mekanis yang baik. Sering terjadi yang menghuni usus besar dan hidup berdampingan
luka-luka kecil atau erosi pada lapisan lambung, tetapi bersama hospes. Bakteri normal yang jumlahnya
tidak mempunyai arti pada proses infeksi, sebab banyak ini mempunyai berbagai cara ekologis untuk
suasana lambung sendiri sangat tidak sesuai untuk dapat menghalangi kerja kuman, salah satu caranya
banvak mikroorganisme. Hal ini sebagian besar adalah berkompetisi untuk mendapatkan makanan
disebabkan oleh keasaman lambung yang tinggi. Selain atau benar-benar mengeluarkan zat-zat antibakteri
itu, lambung cenderung memindahkan isinya ke usus (antibiotik).
halus dengan proses yang relatif cepat. Lapisan usus
halus (Gbr. 6-2) juga bukan barier mekanis yang baik,
dan secara mudah dapat ditembus oleh banyak Saluran Pernapasan
bakteri. Namnn, gerakan peristaltik untuk mendorong
isi usus berlangsung cepat sekali, sehingga populasi Gambar 6-4 merupakan gambar mikroskopik per-
bakteri dalam lumen dipertahankan tetap sedikit. Bila mukaan mukosa yang khas untuk bagian-bagian
motilitas usus terganggu, maka jumlah jasad renik saluran pemapasan misalnya, lapisan hidung, lapisan
dalam usus halus akan meningkat dengan tajam, dan nasofaring, trakea, dan bronkus. Epitel terdiri dari sel-
kemudian dapat menginvasi mukosa. Ada beberapa sel tinggi, beberapa di antaranya mengeluarkan
hal lain yang membantu proses pendorongan jasad mukus, tetapi sebagian besar dilengkapi dengan silia
renik secara cepat melewati usns halus. Sel-sel lapisan pada permukaan lumennya. Silia-silia ini bergetar
usus halus secara terus-menerus mensekresi mllklrs seperti cambuk dengan gerakan yang mengarah ke
yangbanyak sekali, sehingga membenfr"rk selimrit yang mulut, hidung, dan ke arah luar tubuh. Sel-sel yang
kental pada permukaan uslls, menangkap bakteri dan mengeluarkan mukus tersebut menghasilkan selimut
mendorongnya ke distal oleh gerakan peristaltik. lengket yang bergerak di atas silia dan meiuncur secara
Selain itu, adanya antibodi di dalam sekret usus halus kontinu ke atas. Jika terhirup, mikroba cenderung akan
akan menghambat perlekatan bakteri pada permukaan mengenai selimut mukosa tersebut, dan kemudian
mukosa. Lapisan dalam usus besar (Gbr. 6-3) secara digerakkan keluar dengan cara dibatukkan atau
mekanis juga tidak baik. Pada tempat ini pendorongan ditelan. Antibodi yang terdapat di dalam sekresi akan
meningkatkan kerla perlindungan ini. Jika beberapa
agen terhindar dari pertahanan ini dan mencapai
ruang-ruang udara dalam paru, maka akan selalu
terdapat makrofag yang merupakan barisan
pertahanan lain.

Sawar Pertahanan Lain


Permu,kaan lain dalam tubuh dilengkapi dengan
mekanisme-mekanisme pertahanan yang sempa.
Dalam saiuran kemih, lapisan epitelnya adaiah epitel
berlapis banyak yang memiliki barier mekanis, tetapi
salah satu pertahanan utama saluran kemih adalah
kerja aliran kemih dalam menghalau mikroba keluar.
Semua hal yang mengganggu kelancaran aliran kemih
yang normal, apakah itu penyumbatan ureter atau
hanya kebiasaan buruk menahan kencing dapat mem-
I permudah terjadinya infeksi. Konjungtiva mata
sebagian dilindungi secara mekanis dan yang lain oleh
air mata. Mukosa vagina merupakan epitel yang kuat,
Gbr.6-4 Trakea. Jenis epitel ini dilengkapi silia, tampak sebagai
tepi yang berjumbai sepanjang permukaan atas. Silia bertanggung
berlapis banyak, dan sifat pertahanan mekanisnya
jawab atas gerakan selimut mukosa pelindung di atas permukaal diperkuat oleh adanya flora normal y*g berjumlah
jalan udara yang terbuka. (Fotomikrograf, 315X.) banyak dan sekresi mukus.
Respons Tubuh Terhodop Agen Menulor B aB 6 I13

Radang Sebagai Pertahanan Pertahanan Terakhir


Jika agen yang menular berhasil menembus salah satu Jika penyebaran agen menular tidak terhenti pada
barier tubuh dan memasuki jaringan, maka barisan kelenjar limfe atau jika agen tersebut langsung
p ertahanan b eriku tnya adal ah r e aks i p e r a d nn g an akut. memasuki vena pada saat pertama kali, maka dapat
Dari pembicaraan di dalam Bab 4, arti reaksi pera- terjadi infeksi pada aliran darah. Ledakan bakteri
dangan akan lebih dijelaskan. Reaksi peradangan dalam aliran darah dapat terjadi, dan peristiwa yang
adalah suatu keadaan saat aspek humoral (antibodi) dinamakan bakteremia ini biasanya ditangani secara
dan aspek selular pertahanan tubuh bersatu. Efek cepat dan efektif oleh makrofag dari sistem monosit-
opsonisasi antibodi dan komponen-komponen makrofag. Namun, jika organisme yang masuk itu
komplemen misalnya, akan meningkatkan aktivitas berjumlah sangat besar dan jika organisme tersebut
fagosit antimikroba. Contoh lain, mekanisme keke- cukup resistery maka sistem makrofag dapat ditakluk-
balan selular dapat meningkatkan kerja pertahanan kan. Hal ini mengakibatkan organisme tersebut dapat
yang dimilikimakrofag (lihat Bab 5). menetap di dalam darah, dan menimbulkan gejala-
jika reaksi peradangan akut tidak sanggup meng- gejala malese, kelemahan, dan tanda-tanda demam,
atasi kuman itu, infeksi tersebut dapat menyebar lebih menggigil, dan sebagainya. Keadaan ini dinamakan
luas ke seluruh tubuh. Biasanya penyebaran terjadi septiknin atattsepsis, atau sering juga disebr-rt "kerscttnnn
secara pasif bila dipandang dari kerja mikroba, dan dnrnh" . Akhirnya, pada beberapa keadaan, organisme
biasanya organisme tersebut dibawa oleh cairan tubuh. tersebut dapat mencapai jr"rmlah yang sangat besar,
Pengeluaran cairan eksudat dapat memindahkan sehingga mereka bersirkulasi dalam bentuk grrmpalan-
infeksi. Sebenarnya fagosit juga dapat menjadi sarana gumpalan, tersangkut pada banyak organ, dan menim-
penyebaran jika fagosit tersebut tidak langsung bulkan banyak sekali mikroabses (Gbr. 6-5). Keadaan
membunuh kuman tetapi berkelana terlebih dahulu seperti ini dinamakan septikoytiemis, atau singkatnya
ke tempat lain dalam tubuh. Penyebaran cenderrlng piemia.
terjadi pada ruang yang berdekatan. Misal"nya, jika
ada bagian saluran gastrointestinal yang mengalami
perforasi, dan organisme di dalamnya memasuki ruang
peritoneum maka organisme itu dapat menyebar ke
seluruh permukaan peritoneum. Jika beberapa agen
mencapai suatu permukaan jaringan ikat, seperti
sepanjang otot, maka agen tersebut dapat menyebar
dengan cepat sepanjangpermukaan itu. Jika organisme
yang menular itu dapat mencapai selaput otak (selaput
yang meliputi seluruh sistem saraf pusat), maka
organisme ilu dapat menyebar dengan cepat ke seluruh
poros serebrospinalis.

Pembuluh Limf pada lnfeksi


Karena alasan-alasan yang penting dalam Bab 4, maka
aliran limf dipercepat pada keadaan radang akut.
Sayangnya, hal ini berarti bahwa agen-agen menular
kadang-kadang juga ikut menyebar dengan cepat
sepanjang pembuluh limf bersamaan dengan aliran
limf tersebut. Kadang-kadang mengakibatkan terjadi-
nya limfangitis, tetapi lebih sering agen-agen menular
itu langsung terbawa ke kelenjar limf; di sini agen
tersebut dengan cepat difagositosis oleh makrofag.
Gbr. 6-5 Septikemia ginjal. Lesi berwarna pucat yang tersebar
Pada keadaan ini, maka cairan limf yang mengalir pada permukaan korteks sebenarnya merupakan abses-abses
tanpa melewati kelenjar limfe mungkin dapat terbebas yang terbentuk sebagai akibat bersarangnya bakteri yang dibawa
dari agen-agen menular tersebut. oleh darah.
l14 BAGIAN sATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM:MEKANISMEPENYAKIT

FAKTOR MIKROBA PADA INFEKSI Daya lnvasi .

Sekali masuk ke dalam hospes baru, agen mikroba


Daya Transmisi harus mampu bertahan pada atau di dalam tubuh
hospes tersebut untuk dapat menimbulkan infeksi.
Terdapat banyak cara yang digunakan oleh berbagai
Faktor yang penting dalam terjadinya infeksi adalah
agen menular agar dapat hidup pada atau dalam
cara masuknya agen menular hidup ke dalam tubuh.
Cara pemindahan infeksi yang mungkin paling jelas tubuh hospes. Misalnya kolera, disebabkan oleh
adalah pemindahan secara langsung dari satu orang organisme yang tidak pernah memasuki jaringan,
ke orang lain, misalnya melalui batuk, bersin, dan tetapi hanya menduduki epitel usus, melekat dengan
berciuman. kuat pada permukaan sehingga tidak terhanyut olelr-
Secara tidak langsung organisme dipindahkan gerakan usus. Beberapa organisme lain, misalnya yang
dengan berbagai cara. Individu yang terinfeksi menimbulkan disentri basiler, hanya memasuki
mengeluarkan organisme ke lingkungan sekitar dan lapisan superfisial usus, tetapi tidak pernah masuk
akan mengendap pada berbagai permukaan, kemu- lebih jauh ke dalam tubuh. Kemudian terdapat
dian organisme tersebut dapat dilepaskan kembali ke organisme lain seperli agen penyebab tifoid, yang tidak
udara, sehingga menyebar secara tidak langsung saja memasuki lapisan superfisial usus tetapi juga
kepada hospes lain. Dengan cara serupa, organisme mencapai aliran darah danmenyebarke seluruh tubuh.
dapatsampaike dalam tanah, air, makanan ataurantai Penyebaran yang serupa dapat dilakukan oleh
pemindahan tidak langsung lainnya. Di rumah sakit,
spiroketa sifilis, yang dapat menembus membran
infeksi juga dapat disebarkan melalui eksudat-eksudat
mukosa atau kulit sebagai pintu masuknya dan
dan ekskreta. Transfusi darah dapat juga menjadi
disebarkan melalui aliran darah dengan sangat cepat.
sarana penyebaran infeksi, seperti pada kasus hepati-
Beberapa organisme, setelah memasuki jaringan
tis virus. Jenis pemindahan tidak langsung yang lebih
kompleks melibatkan vektor-vektor seperti serangga. dan mendudukinya tidak pernah menyebar sama
Serangga dapat bekerja secara mekanis saja, yaitu sekali. Organisme yang menimbulkan tetanus, misal-
dengan membawa jasad renik dari satu tempat ke nya, tidak menyebar ke seluruh tubuh. Sewaktu tumbuh
tempat lainnya, atau dapat pulabekerja secara biologis, secara lokal, orgenisme ini mengeksresikan racun yang
yaitu berperan sebagai hospes perantara dalam dapat dibawa oleh darah dan menimbulkanefek yang
beberapa bagian penting siklus hidup agen menular tersebar luas yang menandai adanya penyakit ini.
tersebut. Alasan tentang adanya perbedaan daya invasi dari
Sifat intrinsik mikroorganisme tertentu jelas meme- berbagai organisme ini tidak diketahui dengan pasti,
ngaruhi daya transmisi atau daya komunikasi. tetapi tidak diragukan lagi bahwa semua ini berkaitan
Organisme yang sangat tahan terhadap kekeringan, dengan kebutuhan kimia spesifik organisme tersebut
seperti organisme yang membentuk spora, dengan dan perluasan kebutuhan ini dapat dipenuhi pada
mudah dapat dipindahkan melalui lingkungan' beberapa tempat.
Sebaliknya, beberapa organisme, misalnya spiroketa Mikroorganisme mempunyai cara-cara tertentu
penyebab sifilis, sangat sensitif terhadap kekeringan untuk menerobos barier hospes atau menghindari
dan perubahan suhu, dua faktor yang jelas membatasi mekanisme pertahanan hospes. Misalnya, beberapa
cara transmisi kuman tersebut. Faktor seiektif alamiah
organisme membentuk kapsul berlendir sehingga sel-
lain yang memengaruhi daya komunikasi mikroba
sel fagositik hospes tidak dapat menelan secara efisien.
adalah daya tahannya terhadap antibiotika. Sering
Organisme lain dapat membentuk enzimatik yang
ditemukan keadaan yang mengkhawatirkan yaitu
menyebar melalui zat dasar jaringan ikat melalui
timbulnya strain mikroorganisme yang tahan
proses pencernaan kimia. Organisme yang lain
terhadap antibiotika dan kemudian bergerak dengan
menyekresi racun yang mematikan leukosit, dengan
relatif bebas di dalam lingkungan rumah sakit. Satu
keprihatinan timbul ketika strain mikroorganisme demikian organisme ini tidak tertangkap. Berbagai
yang tahan terhadap antibiotika muncul dan menyebar organisme bahkan membentuk daya tahan terhadap
dalam lingkungan masyarakat, khususnya akibat lingkungan intraselular di dalam fagosit, dan orga-
penggunaan regimen pengobatan yang tidak optimal nisme ini (misalnya, basil tuberkulosis) cenderung
yang diperbolehkan jika dalam keadaan darurat. menetap sebagai parasit intraselular.
Respons Tubuh Terhodop Agen Menulor BA B 6 lr5

Kemampuan untuk Menimbulkan CARA INTERAKSI HOSPES


Penyakit DAN MIKROBA
Pengetahuan kita tentang bagaimana suatu agen
menular dapat menimbulkan penyakit secara kimiawi Sering dianggap bahwa interaksi antara hospes dan
maupun molekular relatif masih sedikit dan baru agen menular merupakan suatu peperangan dengan
sekarang ini mulai berkembang. Yang paling banyak seluruh kemampuan yang ada atau "pertarungan
dimengerti adalah keadaan bahwa agen menular sampai mati". Ada kecenderungan besar yang meng-
sebenarnya mengeluarkan eksotoksin yang dapat larut anggap agen menular sebagai benda yang "buruk,,
yang kemudian bersirkulasi dan menimbulkan per, secara intrinsik, karena ditakdirkan unfr-rk menimbul-
ubahan-perubahan fisiologis yang nyata yang bekerja kan penyakit. Namun secara biologi, sebenamya setiap
pada sel-sel tertenhr. Jadi mekanisme kimia timbulnya agen yang hidup bukan untuk menimbulkan penyakit,
penyakit pada tetanus dan difteri secara relatif sudah melainkan untuk menghasilkan lebih banyak agen
diketahuidengan baik. yang jenisnya sama. Secara singkat, agen mikroba
Banyak mikroorganisme lain seperti bakteri gram tertentu "tidak dapat diremehkan" dalam menimbul-
negatif, sebagian dari strukturnya mengandung kan penyakit pada hospes. Ternyata, agen menular
endotoksin kompleks yang dilepaskan waktu mikro- yang ideal dengan mudah dapat berkembang biak di
organisme tersebut mengalami lisis. Walaupun dalam hospes tertentu (yang merupakan penyuplai
peranan biologis endotoksin semacam itu belum makanan) dan tidak membahayakan hospes atau
dimengerti dengan sempurna, tetapi sudah diketahui "merusak" hospes.
bahwa pelepasan endotoksin ada hubungannya Dipandang dari segi evolusi, bila agen menular
dengan timbulnya demam dan dalam keadaan-ke- tertentu menjadi sangat efektif menimbulkan penyakit
adaan yang lebih ekstrim, seperti septikemia gram sehingga dapat mematikan setiap hospes yang
negatif, dengan timbulnya sindrom syok. dimasukinya, organisme itu dengan cepat akan ke-
Beberapa organisme sebenarnya menyebabkan habisan suplai makanan dan mati. Segi lainnya adalah
cedera pada hospes, sebagian besar melalui cara jika spesies hospes tertentu tetap hidup dalam per-
imunologis. Misalnya, basil tuberkulosis yang tidak jalanan evolusi, maka agen-agen menular di dalam
memiliki toksin sendiri. Agaknya penderita alergi lingkungan itu akan dapat dikontrol dengan baik.
terhadap basil tuberkel (mekanisme imun yang Seleksi alamiah jelas akan menguntungkan hospes
diperantarai oleh sel) dan nekrosis kaseosa yang khas yang lebih kuat. Oleh karena itu, dalam perjalanan
terjadi pada penyakit ini timbul akibat proses imuno- evolusi, hospes yang lebih resisten dan agen yang
logis. Dengan cara yang serupa, beberapa organisme kurang mematikan cenderung lebih berkembang.
merusak hospes dengan membantu pembentukan Dengan demikian, ketentuan-ketentuan berevolusi
kompleks antigen-antibodi yang selanjutnya dapat kebanyakan interaksi antara hospes dan agen menular
menimbulkan kelainan, seperti melalui timbulnya akhirnya berubah menjadi sesuatu yang agak
kompleks imun glomerulonefritis. menyenangkan, karena tidak menimbulkan bahaya
Ujung akhir dari spektrum adalah virus yang bagi kedua belah pihak. Jika hubungan antara hospes
merupakan parasit obligat intraselular. Secara singkat, dan agen menular tidak saling merugikan, maka jenis
virus adalah potongan sederhana bahan genetik (DNA, interaksi itr-r disebut seba gaikomensnlisrue. Jika interaksi
RNA) yang mempunyai alat untuk menyusupkan memberikan beberapa keuntungan bagi kedua pihak,
dirinya ke dalam sel hospes. Sel ini mengalami cedera maka interaksi itu disebut sebagai mutuslisme.
ftila ada) akibat informasi genetik baru yang diwujud- Komensalisme dan mutualisme merupakan hasil
kan pada fungsi sel yang diubah. Satu wujud informasi interaksi infeksi di alam yang paling sering terjadi,
genetik tambahan semacam itu adalah replikasi virus dan timbulnya penyakit menular dalam arti evolusi
menular, yang dapat disertai oleh lisis sel-sel yang (yang ternyata banyak sekali) merupakan penyim-
terkena. Sel dapat juga berubah tanpa menjadinekrotik. pangan dari keadaan ini.
Ternyata, sel bahkan dapat dirangsang untuk Dengan alasan ini, mudah didugabahwa sebagian
berproliferasi, seperti pada kasus tumor yang diin- besar penyakit menular adalah ringan atau bahkan
duksi oleh virus. Virus juga dapat mencederai hospes sebagian besar infeksi tidak sampai menimbulkan
dengan menimbulkan berbagai reaksi imunologi; pada penyakit. jadi pada keadaan yangnormal, keberadaan
keadaan ini; bagian dari virus tersebut atau sel yang "patogerr" mikroba pada atau di dalam hospes tidak
terinfeksi virus bertindak sebagai antigen. berarti atau tidak terlihat, dan bila sampai terjadi
l16 BAG IAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

penyakit berarti terjadi suatu pengecualian dari ke- berubah dan menimbulkan penyakit menular. Orga-
adaan yang normal. Jadi untuk setiap individu yang nisme-organisme semacam itu disebut sebagai opor-
menderita penyakit menular tertentu, kemungkinan tunistik, sebab kelihatannya mengambil keuntungan
adajuga beberapa orang di sekitarnya yang telah ter- pada keadaan tertentu dari hospes. Sebagian besar
infeksi tetapi tidak menjadi sakit sama sekali. Pneu- oportunistik adalah organisme yang secara tetap
mokokus, stafilokokus, meningokokus dan banyak tinggal dalam hospes, dan keadaan ini kadang-kadang
patogen lain dapat ditemukan dengan mudah pada disebut sebagai agen mentilar endogen. Beberapa agen
individu yang sangat sehat dalam populasi. eksogen juga bertingkah laku oportunistik.
Tentu terdapat pengecualian-pengecualian ter- Infeksi oportunistik timbul jikabeberapa faktor atau
hadap prinsip yang menyatakan bahwa infeksi pada sekelompok faktor membahayakan mekanisme
umumnya ringan atau tidak tampak. Pengecualian- pertahanan intrinsik hospes atau dengan cara
pengecualian ini biasanya dapat diterangkan dengan mengubah ekologi mikroba penghuni normal (lihat-
dasar-dasar evolusi. Misalnya rabies, hampir 100% pembicaraan selanjutnya).
B anyak in{eksi op orlunistik
mematikan bagi manusia. Spesies manusia tidak menyerang pasien yang sedang dirawat di rumah
mengalami evolusi dengan virus ini, tetapi secara sakit yang keadaannya memburuk akibat penyakit-
kebetulan masuk pada rantai infeksi yang biasanya penyakit gangguan gizi, reaksi imunologis, atau
melibatkan spesies mamalia lain yang beradaptasi kemampuan untuk menghasilkan leukosit yang
lebih baik terhadap infeksi tersebut. Terjadi hal yang berfungsi secara efektif telah terganggu. Leukemia dan
sama pada banyak penyakit hewan lain yang dapat berbagai bentuk kanker lainnya tercantum dalam
menulari manusia, penyakitnya dapat menjadi jauh urutan atas daftar penyakit-penyakit akibat infeksi
lebih hebat dibandingkan pada spesies hewan tertentu oportunistik. Demikian pula dengan agen farmakologi
yang sudah beradaptasi untuk infeksi ini. Jenis yang dipakai untuk mengobati penyakit-penyakit
pengecualian evolusi lain terlihat apabila organisme tertentu dapat memiliki efek samping yang tidak
"baru" dimasukkan ke dalam populasi manusia yang diinginkan yaitu berupa penekanan kekebalan atau
sebelumnya terasing. Dengan demikian, apabila suku penekanan rbaksi peradangan, sehingga memudah-
primitif dengan tiba-tiba diserbu oleh individu dari kan timbulnya infeksi oportunistik. Kortikosteroid
dunia luar atau apabila penduduk pulau terkena agen adrenal yang dalam beberapa hal memiliki efek anti
yang biasa kita temukan (misalnya, campak), maka radang dan merupakan agen sitotoksik yang dibe-
laju serangan dan laju kematian dapat terlihat rikan untuk kemoterapi kanker atau terapi imuno-
menyolok. Prinsip evolusi yang sama ini juga berperan supresif, menduduki tempat yang tinggi dalam daftar
dalam penyebaran strain virus influenza tertentu di ini. Terapi antimikroba kadang-kadang juga dapat
seluruh dunia. Pada keadaan yang terakhir ini virus menimbulkan infeksi oportunistik, terlihat dengan
bertindak seakan-akan seperti "b aru" karena perkem- adanya supresi sebagian flora mikroba normal. Terapi
bangan sifat-sifat antigenik yang tidak dikenal oleh antimikroba juga dapat mengubah keseimbangan
populasi yang menanggung risiko itu. ekologi yang kritis sehingga anggota lain dari flora
Hanya dengan mengetahui cara pemindahan tersebut dapat muncul dan tumbuh melebihi flora
penyakit menular dari hospes ke hospes lain, tidak lainnya, dan dengan demikian timbul penyakit. Terapi
bisa menerangkan sepenuhnya insiden penyakit antimikroba dapat juga membuat hospes lebih mudah
menular. Untuk memahami epidemiologi penyakit terkena beberapa agen yang biasanya tidak men-
semacam itu secara lengkap, kita harus mengetahui dapatkan tempat berpijak akibat adanya flora mikroba
segi-segi interaksi antara hospes dan jasad renik yang normal.
mengubah infeksi biasa yang tidak berbahaya atau Banyak hal lain terjadi pada pasien rawat inap
tidak terlihat menjadi penyakit menular yang secara yang cenderung lebih mudah terkena infeksi organisme
klinis bermakna. menular, termasuk fenomena yang berhubungan
dengan anestesia, syok, dan luka bakar. Banyak
penyakit yang menjadi predisposisi bagi individu
tertentu untuk menimbulkan penyakit menular.
INFEKSI OPORTUNISTIK Misalnya, jenis kanker tertentu yang menyerang
kelenjar limf tubuh menyebabkan penekanan reaksi
Konsep infeksi oportunistik menunjukkan kenyataan kekebalan selular. Individu dengan defisiensi seperti
bahwa banyak organisme yang tidak terpikirkan akan ini akan terserang penyakit menular yang disebabkan
berbuat banyak terhadap individu sehat, tetapi dengan oleh agen-agen yang biasanya dikendalikan sistem
adanya lingkungan yang sesuai, organisme itu akan limfosit-makrofag. Akhirnya, satu penyakit menular
ResponsTubuhTerhodopAgenMenulor BAB 6 tt7
dapat menjadi faktor predisposisi bagi penyakit diperkirakan kepadatannya lebih dari 10.000 orga-
menular lainnya. Misalnya, seorang penderita "flu" nisme per sentimeter persegi kulit. Organisme ini
karena virus dapat mudah terserang penyakit pneu- bukan yang melekat pada kulit yang kotor, tetapi
monia bakteri sebagai komplikasinya. organisme yang hidup jauh di dalam berbagai strukbur
Terdapat banyak faktor lingkungan di dalam epitel kulit (dan temyata dikeluarkan dalam jumlah
masyarakat luas yang cenderung lebih menguntung- yang lebih besar jika kulit digosok). Sejumlah besar
kan organisme tertentu daripada hospesnya. Contoh organisme juga hidup di dalam mulut. Kerokan yang
dari faktor lingkungan semacam itu adalah penderita diambil dari permukaan gigi atau gusi dapat mengan-
penyakit akibatkerja, sepertipajanan debu silika mem- dung berjuta-juta organisme per miligram bahan
buat penderita tersebut mudah menderita tuberkulosis. kerokan, dan saliva dapat mengandung sgbanyak 100
Seluruh populasi masyarakat dapat pula terserang juta organisme per mililiter.
secara bersamaan, misalnya pada keadaan keku- Flora mikroba yang banyak ini bukan populasi
rangan makanan, depresi yang merupakan respons yang sembarangan. Dari banyak spesies mikroba yang
hospes dapat mengakibatkan epidemi berbagai dijumpai dalam lingkungan tempatkita bergerak setiap
penyakit seperti tuberkulosis. Akhirnya, perubahan hari, relatif hanya sedikit yang dapat menyesuaikan
cuaca dapat juga memengaruhi insiden penyakit diri dalam proses evolusi dengari lingkungan yang
menular. Bermacam-macam studi telah mengindikasi- kita berikan pada berbagai jaringan. Oleh karena itu,
kanbahwa agen-agen menular tertentu dapat ditemu- dalam batas-batas tertentu flora spesies binatang
kan dalam populasi manusia sepanjang tahun, tetapi tertentu dapat diramalkan, dan pada spesies tertentu
infeksi simtomatik oleh karena agen tersebut timbul seperti manusia, flora jaringan tertentu dapat diramal-
secara musiman, kemungkinan berkaitan dengan kan dengan mudah. Pada kebanyakan jaringan yang
cuaca. sudah diselidiki dengan teliti, kelihatannya bakteri
Tidak ada satu pun pembicaraan-pembicaraan di anaerobik melebihi bakteri aerobik. Hal ini khususnya
atas yangbermaksud untuk mengecilkan arti penting- terlihat pada usus, yang perbandingannya adalah
nya kuman pada penyakit atau untuk mematahkan sebesar 1000: 1:
semangat dalam memutuskan rantai penularan agen Para ahli biologi sudah mengetahui adanya flora
menular di antara individu. Namun, yang harus mikroba normal selama puluhan tahun, tetapi
ditekankan di sini adalah bahwa organisme tertentu pendapat-pendapat mengenai makna flora tersebut
mungkin membutuhkan syarat-syarat untuk menim- sangat berbeda-beda. Pada awal abad dua puluh bebe-
bulkan suatu penyakit tanpa harus berada dalam rapa ahli mempunyai pandangan yang sangat kabur
keadaan yang sesuai. Interaksi yang kompleks dari tentang flora. Mereka berpendapat bahwa paling baik,
hospes dan faktor-faktor lingkungan yang akhirnya flora dianggap sebagai hal yang netral, dan paling
menentukan timbulnya infeksi. Karena alasan-alasan buruk sebagai penyebab penyakit degeneratif pada
ini, harus mempertimbangkan "virulensi" atau " pato- orang tua. Lambat laun pandangan ini berubah dengan
genisitas" mikroorganisme tertentu, dalam kaitannya semakinbertambahnya pengetahuan bahwa tidak ada
dengan status hospes tersebut pada waktu itu. satu spesies hewan pun yangberevolusi dengan flora
tertentu dalam hubungan yang merugikan. Sebaliknya,
orang akan meramalkanbahwa akan timbul hubungan
yang saling menguntungkan.
FLORA MIKROBA NORMAL
Jelas bahwa, mikroba asli banyak menguntungkan
manusia. Misalnya, banyak reaksi kimia dalam lumen
Pada pembicaraan di atas, telah disebut tentang flora usus sebetulnya dilakukan oleh mikroba penghuni
normal atau flora mikroba. Perlu ditekankan bahwa usus. Fungsi ekologi mikroba semacam itu dalam
hospes bersama dengan mikroba ini merupakan menghalau penyerang yang potensial sudah dijelas-
ekosistem yang keseimbangannya merupakan bagian kan sebelumnya. Sebagai akibat adanya mikroba
penting dari keadaan sehat. tertentu, banyak keturunan spesies manusia telah
Secara kuantitatif, flora mikroba normal pada mengalami evolusi seperti yangsebagian telah mereka
hospes hewan (termasuk spesies manusia) merupakan lakukan. Ini berarti bahwa sejumlah sifat anatomi dan
beban yang memberatkan. Misalnya, sebagian besar fisiologi hospes yang kita anggap normal dan alami,
dari berat tinja kering sebenamya terdiri dari bakteri sebenarnya timbul sebagai respons adanya flora itu.
mati. Setiap hari manusia mengeluarkan bertrilyun- Dengan kata lain, agar dapat mencapai keadaan
trilyun organisme dari saluran cerna. Kulit juga normal, tubuh manusia sampai taraf tertentu bergan-
mempunyai flora penghuni yang jumlahnya besar, tung pada flora mikroba. Misalnya, sudah diketahui
I l8 BAG IAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

bahwa struktur dan fungsi epitel saluran cerna dipe- dalam kenyataannya, identitas beberapa komponen
ngaruhi oleh adanya flora, pergerakan saluran dipe- flora manusia belum jelas diketahui. Sekarang baru
ngaruhi oleh flora dan banyak reaksi dalam saluran mulai dimengerti oleh para profesional bidang
disesuaikan dengan cara yang serupa oleh flora. kesehatan, apa yang mengontrol keseimbangan ekologi
Walaupun keadaan semacam itu barangkali lebih dari flora itu sendiri: kombinasi dari faktor-faktor yang
terlihat dalam saluran cema, pengaruh langsung dan menyangkut interaksi mikroba dengan mikroba, dan
tidak langsung flora asli tidak terbatas pada daerah interaksi hospes dengan mikroba. Namun, yang jelas
itu. Ada alasan untuk mempercayai, bahwa flora juga pada segi ini adalah, jika ada yang merusak ekologi
memengarllhi fungsi imunologi dan ftingsi leukosit. normal dari flora mikroba, akan menimbrrlkan risiko
Bagaimana cara sebenarnya flora mikroba bekerja yang besar bagi hospes.
pada hospes tidak diketahui dengan baik, bahkan

.(or,rsrP KUNcr

I nf eksi dapaltimbul bila beberapa agen mi kroba infeksi. Makrofag alveolus yang memilikidaya
telah melekat pada beberapa permukaan tubuh gerak dan antibodi yang terdapat pada sekresi
atau masuk dan menyerang jaringan hospes saluran pemapasan mampu membunuh mikroba.
untuk kemudian tumbuh dan menjadi banyak, Epitel berlapis dan pancaran dari aliran urine
lnfeksiadalah satu keadaan yang sering timbul, memberikan perlindungan dalam melawan infeksi
biasanya tanpa gejala, oan larani meni;bulkan pada traktus urinarius.
penyakit yang khusus. Aliran air mata darimata merupakan satu pefta-
Garis pertahanan pertama yang melawan hanan dalam melawan infeksi, dan antibodi
serangan agen penginfeksi yang potensial terdapat dalam air mata.
menyebabkan penyakit adalah sawar fisik, Garii pertahanan keduadalam melawan infeksi
kimia, dan biologi tubuh. mikroba adalah reaksi peradangan yang
Epitel, lapisan keratin yang kering dan peng- bertindak dalam membatasi, menetiatisir, Oai
gantian sel-sel kulit membuat satu perlindungan membunuh organisme yang menyerang.
mekanik bagi infeksi. Sifat kimia keringat dan Jika agen infeksius tidak dapat dikendalikan oleh
kelenjar sebasea memiliki efek pembunuh bakteri respons peradangan atau kelenjar getah bening
yang ringan, dan flora normal pada kulit mem' setempat, mikroorganisme tersebut dapat masuk
berikan perlindungan biologi. ke dalam darah (septikemia atau sepsis) dan
Saluran pencernaan yang dilapisioleh membran dapat menyebar ke seluruh tubuh. Selfagositik
mukosa dan lapisan pelindung mukus, dalam srsfem monosit-makrofag dan imunitas
memberikan perlindungan mekanik dari serangan khusus, terutama dalam hatidan limpa, mem-
mikroba. Aliran air liur membersihkan banyak berikan garis pertahanan akhirdalam membunuh
mikroba secara mekanik. Gerakan peristaltis mikroorganisme.
yang cepat pada lambung dan usus kecil mem- Cara-cara infeksi termasuk melalui kontak per-
berikan pertahanan mekanik yang lain. Ke. mukaan (kulit atau membran mukosa), dan
asaman yang tinggi pada lambung memberikan melalui inhalasi atau menelan mikroorganisme.
peftahanan secara kimia. Pada akhirnya, flora Cara-cara ini termasuk juga transmisi langsung
normal di mulut, tenggorokan, dan usus besar dariorang ke orang atau [engiriman tidalilang-
memberikan pertahanan secara biologi bagi per- sung melalui kontak dengan objek, air, makanan,
kembangbiakan mikroba. Mukus pada saluran tanah, atau vektor yang sudah terkontaminasi.
pencernaan mengandung antibodi yang mem- Walaupun penyakit yang spesifik disebabkan
berikan pertahanan imunologik. :
oleh invasi organisme yang patogen, namun
Mukosiliaris yang bergerak pada saluran perna- tetap bergantung pada interaksi karakteristik
pasan memberikan pertahanan mekanis bagi organisme itu sendiri, keganasan, dan
ResponsTubuh Terhodop Agen Menulor BAB 6 ll9

kemampuan menyebabkan penyakit, jaringan


: $ehi n gga keti ka antibioti k atau -korti kbsteroid
.,,, dan pertahanan humoial, serta keadaah umum tertentu diberikan untukwaktu yang lama, mlkio-
,,kesehatan pejamu Banyak orang yan$ dalam organisme tertentu yang dalam keadaan berbeda
tubuhnya mehgandUng Pneumokokus, tidak bersifat patogen, menjadi patogen karena
meningokokus, dan patogen lain, namun sangat penekanan flora normal dan pertahanan imun.
semacam itu ada, namun tidak lnfeksi oportunistik Ceringkali timbul pada pasien
",,
:- menyebabkan
sehat. lnfeksi
uitu.k penyakit infeksi, ':'. ntos.
,cukup
s .:",4nfekii opiortinisrik timbul akibat kesempatan
yang disediakan oleh keadaan fisiologis hospes.

9rnrnruYAAN
Beberapa contoh pertanyaan untuk bab ini tercantum di sini. Kunjungi http://www.mosby,com/MERLIN/PriceWilson/ untuk
pertanyaan tambahan.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan Jelaskan sifat pertahanan dari masing- Keadaan-keadaan yang bagaimanakah
berikut ini pada sehelai kertas yang masing tempat masuk ini. yang dapat mengubah infeksi yang tidak

terpisah. 3. Jelaskan dengan singkat apa yang dapat nampak menjadi penyakit menular?
1. Kriteria apa yang digunakan untuk terjadijika reaksi peradangan akut tidak Jelaskan dengan singkat interaksi antara
menentukan bahwa hospes terinfeksi? dapat menahan mtkroorganisme, hospes manusia dengan bakteri yang
Apakah hospes yang terinfeksi selalu penyerbu lokal. menjadi llora normal pada permukaan
menderita penyakit menular? 4, Apakah garis perlahanan akhir melawan tubuh. Apakah manfaat yang diperoleh
2. Sebutkan paling sedikit lima buah tempat penyebaran agen menular di dalam hospes dari hubungan ini?
masuk agen menular ke dalam tubuh. tubuh? Tuliskan beberapa mekanisme yang
5. Apakah yang dimaksudkan dengan istilah diketahui tentang bagaimana agen
infeksi oportunistik itu? menular dapat menimbulkan cedera
jaringan.

Cocokkantah organisme yang terdapat dalam kolom A dengan silat invasif khasnya
yang terdapat dalam kolom B.

Kolom A Kolom B
o Vibrio cholera a. Menembus membran mukosa atau kulit
10. Basiltifoid dan memasuki aliran darah; menyebar
14
tl. spiroketa sifilis secara luas didalam tubuh
12. Basiltetanus Menyerbu lapisan usus dan memasuki
aliran darah
Membentuk koloni pada lumen usus; tidak
pernah menembus
d. Tetap lokal, tetapi mengeluarkan sekret
berupa toksin yang disebarkan melalui
aliran darah
12O BAG IAN SATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

Cocokkan istilah dalam kolom A yang menuniukkan hubungan antara dua


organisme yang tidak serupa yang hidup saling berhubungan erat (misalnya,
manusia dan mikroorganisme) dengan penjelasan yang benar pada kolom B.

A
Kolom Kolom B
13. _ Komensalisme a. Hubungan menguntungkan bagi sese-
14. _ Parasitisme orang tetapimerugikan bagiyang lain.
15. _ Mutualisme b. Hubungan tanpa cedera pada orga-
ntsme apa pun.
c. Hubungan menguntungkan bagi
keduanya.
BAB 7.

Gongguon. Sirkulosi
LORRAINE M. WILSON

-gAB. ,',, KoNGEST| (HtPEREMtA)


Ei,Ant,.,.s BEsA'R
KoNCESTT (utprnrutR), i zr
Kongesti AWrt,121 Kongesti adalah berlimpahnya darah dalam pembuluh
'Kongesti Pasif, 122, ::;":" di regio tertentu. Kata lain untuk kongesti adalah
EDEMA, 123 hiperemia. Jika dilihat dengan mata telanjang, maka
.123
Etiologi dan Patogenesis, daerah jarrngan atau organ yang mengalami kongesti
Transudat dan Eksudat, 1 24 berwarna lebih merah (ungu) karena bertambahnya
Morfologi, 124 darah di dalam jaringan tersebut. Secara mikroskopis,
Efek,124 kapiler-kapiler dalam jaringan yang hiperemia terlihat
PERDARAHAN, 1 25 melebar dan penuh berisi darah. Pada dasarnya
Etiologi, 125 kongesti dapat terjadi dengan dua mekanisme: (1)
Efek, 125 kenaikan jumlah darah yang mengalir ke daerah
,I27 jaringan atau organ dan (2) penurunan jumlah darah
TROMBOSIS,
Etiologi dan Patogentesi,s, 1 27 yang mengalir dari daerah jaringan atau organ.
Morfologi dan Perjalanan Trombus, 127
Efek,130
EMBOLISME, 130 Kongesti Aktif
Definisi dan Jenis, 1 30
Patogenesis, Perjalanan dan Efek, 1 30 jika aliran darah ke dalam daerah jaringan atau organ
ARTERIOSKLEROSIS, 132 bertambah dan menimbulkan kongesti, maka feno-
Aterosklerosis, 132 mena ini disebut kongesti aktif, artinya iebih banyak
Mor{ologi, 132 darah mengalir secara aktif ke dalam daerah jaringan
Etiologi dan lnsiden, 132 atau organ itu. Kenaikan aliran darah lokal ini
Efek, 1 33 disebabkan oleh adanya dilatasi arteriol yang bekerja
ISKEMIA DAN INFARK, 135 sebagai katup yang mengatur aliran darah ke dalam
mikrosirkulasi lokal. Contoh kongesti aktif yang sering

t2t
122 BAG IAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

dijumpai adalah hiperemia yang menyertai radang menekan aliran vena lokal dari suatu daOrah. Selain
akut, hal ini yang menerangkan terjadinya kemerahan sebab-sebab lokal, kongesti pasif dapat jdga disebab-
seperti yang sudah dijelaskan dalam Bab 4 (lihat Gbr. kan oleh sebab-sebab sentral atau sistemik yang dapat
4-1). Contoh kongesti aktif lain adalah warna merah mengganggu drajnase vena. Kadang-kadang jantung
padam pada wajah, yang pada dasarnya adalah gagal memompa darah (lihat Bagian Enam), yang
vasodilatasi yang timbul akibat respon terhadap stimu- dapat mengakibatkan gangguan drainase vena.
lus neurogenik. Contoh fisiologi kongesti aktif adalah Misalnya, kegagalan jantung kiri mengakibatkan
pengiriman darah yang lebih banyak sesuai dengan aliran darah yang kembali ke jantung dari paru akan
"kebutuhan" jaringan yang sedang bekerja, seperti otot terganggu. Dalam keadaan ini darah akan terbendung
yang sedang berkontraksi aktif. Keadaan ini disebut dalam paru, menimbulkan kongesti pasif pembuluh
hiperemia fungsional. Karena sifatnya yang sangat darah paru. Dengan cara yang serupa maka jika terjadi
alamiah, kongesti aktif sering terjadi dalam waktu kegagalan jantung kanan, bendungan darah akan
singkat. Bila rangsangan terhadap dilatasi arteriol memengaruhi aliran vena sistemik sehingga banyak
berhenti, aliran darah ke daerah tersebut akan jaringan di seluruh tubuh mengalami kongesti pasif.
berkurang, dan keadaan menjadi normal kembali. Ternyata, sangat sering penderita mengalami ke-
gagalan jantung kanan dan kiri secara bersamaan.
Kongesti pasif mungkin relatif berlangsung dalam
Kongesti Pasif wakLu singkat, dalam hal ini diberi istilah kongestipasif
akut, atau dapat juga berlangsung lama, keadaan ini
Sesuai dengan namanya, kongesti pasif tidak menyang- diberi nama kongesti pasif kronik. jika kongesti pasif
kut kenaikan jumlah darah yang mengalir ke suatu berlangsung dalam waktu singkat, maka tidak ada
daerah, tetapi lebih merupakan gangguan aliran darah pengaruh pada jaringan yang terkena. Namun,
dari daerah tersebut. Semua yang menekan venula- kongesti pasif kronik dapat menyebabkan perubahan-
venula dan vena-vena yang mengalirkan darah dari perubahan yang permanen pada jaringan. Perubahan-
jaringan dapat menimbulkan kongesti pasif. Jika perubahan ini biasa terjadi pada daerah yang meng-
torniket elastis dipasang di lengan sebelum terjadi alami kongesti pasif dan bila perubahan pada aliran
aliran darah dari vena, terjadilah bentuk kongesti pasif darah ini cukup nyata, maka terjadi hipoksia jaringan
artifisial. Suatu perubahan yang serupa tetapi yang yang menyebabkan menciutnya jaringan atau bahkan
lebih berarti dapat terjadi, misalnya oleh tumor yang hilangnya sel-sel dari jaringan yang terkena tersebut.

Gbr.7-1 Kongesti pasif paru yang kronis. Septa alveolarnyaterlihat menebal Qelas pada sebelah kanan), dan banyak ruang udara
berisi makrofag yang sangat berwarna mengandung hemosiderin. (Fotomikrograf, 200X.)
Gongguon Sirkulosi BAB 7 123

permukaan hati yang mirip dengan potongan permu-


kaan buah pala.
Akibat lain dari kongesti pasif kronik adalah di-
latasi vena di daerah yang terkena. Akibat teregang
secara kronik, dinding veniyang terkena menjadi"agal
fibrotik, dan vena-vena itu cenderung memanjang.
Karena terfiksasi pada berbagai tempat sepanjang
perjalanannya, maka vena menjadi berkelok-kelok di
antara titik-titik fiksasi. Vena-vena yangmelebar, agak
t;:r; berkelok-kelok, berdinding tebal itu disebut uena
, ' . .1,'r.w 19,
49'." aarikoss atau aarises. Varises pada tungkai sering
" " t i Ft - :
terlihat. Juga sering dijumpai hemoroid yang
sebenarnya merupakan varises pada anus (pada
pleksus vena hemoroidalis). Yang lebihpenting adalah
sering terbentuk varises vena di bagian bawah eso-
fagus pada kasus penyakit hati kronik (lihat Bab 23
danBab 27), dan bila varises yang mengalami kongesti
sepertiini pecah, maka dapat mengakibatkan per-
darahan yang mematikan.
Gbr. 7-2 Kongesti pasif hati yang kronis.Daerah yang terlihal
gelap pada potongan permukaan ini adalah daerah sentrolobular
yang hiperemis, dan daerah yang terlihat terang adalah daerah
perifer yang hanya sedikit terpengaruh. Akibatnya adalah
terbentuk pola "nutmeg" yang khas. EDEMA

Edemn adalah penimbunan cairan yang berlebihan di


antara sel-sel tubuh atau dalamberbagai rongga tubuh.
(Beberapa ahli juga memasukkan dalam definisi
Pada organ-organ tertentu, hal ini juga mengakibatkan tersebut penimbunan cairan yang berlebihan di dalam
kenaikan jumlah serabut fibrosa jaringan ikat. Pada sel). Cairan yang mengumpul dalam sebuah rongga,
banyak daerah juga terdapatbukti adanya pemecahan biasanya din amakan efusl, misalnya efusi perikardium
sel darah merah lokal, yang mengakibatkan pengen- dan efusi pieura. Penimbunan cairan di dalam rongga
dapan pigmen yangberasal dari hemoglobin di dalam peritoneum biasanya diseb:ut asites.Edema umum yang
jaringan. masif sering disebut rmasarkn. Hidrops dan dropsi
Pengaruh kongesti pasif kronik khususnya dapat adalah istilah yang dulu dipakai untuk menyatakan
terlihat pada paru dan hati. Pada paru yang terserang edema.
(Gbr. 7-1) dinding ruang udara cenderung menebal,
dan banyak sekali makrofag yang mengandung
pigmen hemosiderin, pigmenini terbentuk sebagai Etiologi dan Patogenesis
hasil pemecahan hemoglobin dari sel-sel darah merah
yang lolos dari pembuluh darah yang mengalami Timbulnya edema dapat diterangkan dengan memper-
kongesti ke dalam ruang udara. Makrofag yang timbangkanberbagai gaya yang pada keadaan normal
mengandung hemosiderin itu disebut sel gngal jantung mengatur pertukaran cairan melalui dinding
dan dapat ditemukan dalam sputum penderita gagal pembuluh (lih at Gbr. L-2 dan Bab 4). Faktor-f aktor lokal
jantung kiri kronik. Pada hati yang terserang, kongesti mencakup tekanan hidrostatik dalam mikrosirkulasi
pasif kronik mengakibatkan dilatasi yang nyata dari dan permeabilitas dinding pembuluh. Kenaikan
pembuluh darah di sentral tiap lobulus hati, disertai tekanan hidrostatik cenderung memaksa cairan masuk
penyusutan sel-sel hati di daerah ini. Akibat dari ke dalam ruang interstisial tubuh. Karena alasan yang
keadaan ini adalah penampilan kasar yang mencolok sederhana ini, kongesti dan edema cenderung terjadi
dari hati (Gbr . 7 a) yang d itimbulkan oleh hiperemia secara bersamaan. Seperti yang sudah diterangkan
daerah sentrolobular diselingi daerah-daerah perifer dalam pembicaraan peiadangan, maka kenaikan iokal
tiap lobulus yang lebih sedikit terpengaruh. Penam- permeabilitas dinding pembuluh terhadap protein
pilan secara makroskopik ini kadang-kadang disebut memungkinkan molekul-molekul besar ini lolos dari
sebagai "nutmeg liaer" karena gambaran potongan pembuluh, dan secara osmotik cairan akan
124 BAG IAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

menyertainya. Oleh karena itu, edema adalahbagian cenderung mempunyai berat jenis yang lebih besar.
yang mencolok dari reaksi peradangan akut. Penyebab Selain itu, protein eksudat sering menganddng fibrino-
Iokal lain pembentukan edema adalah obstruksi gen, yang akan mengendap sebagai fibrin, sehingga
saluran limfatik, yang pada keadaan normal ber- dapat menyebabkan pembekuan cairan eksudat.
tanggung jawab atas pengaliran cairan interstisial. Jika Transudat umumnya tidak membeku. Akhirnya,
saluran ini tersumbat karena alasan apa pun, maka eksudat biasanya mengandung leukosit sebagai
jalan keluar cairan yang penting ini akan hilang, bagian dari proses peradangan, sedangkan transudat
mengakibatkan penimbunan cairan, yang disebut cenderung tidak banyak mengandung sel.
Iimfedema. Limfedema terdapat pada berbagai
peradangan yang mengenai pembuluh limfatik,
mungkin paling sering dijumpai secara tidak sengaja Morfologi
setelah eksisi atau iradiasi limfatik lokal sebagai bagian
dari terapi kanker. Contoh khas jenis edema ini adalah Morfologi edema secara sederhana menyangkut
pembengkakan pada ekstremitas atas yang kadang- pembengkakan bagian yang terkena pengaruh karena
kadang terlihat setelah mastektomi radikal dengan terlalu banyak cairan yang terkandung dalam ruang
pemotongan kelenjar getah bening aksila. interstisial. Pembengkakan tersebut umumnya lunak
Faktor-faktor sistemik dapat juga mempermudah dan dapat digerakkan, kecuali jika cairannya sebagian
pembentukan edema. Karena keseimbangan cairan besar berada dalam ruang intraselular. Ciri yang
bergantung pada sifat-sifat osmotik protein serum, terakhir ini digunakan secara klinis dalam menentu-
maka keadaan yang disertai oleh penurunan kon- kan diagnosis derajat edema yang tidak jelas. Walau-
sentrasi protein ini dapat mengakibatkan edema. Pada pun mata kaki yang bengkak secara masif mudah
sindrom nefrotik, sejumlahbesar protein hilang dalam didiagnosis hanya dengan inspeksi, edema ringan
urine, dan penderita menjadi hipoproteinemia dan mungkin dapat juga ditemukan tanpa penglihatan
edema. Hipoproteinemia pada penyakit hati tahap khusus. Pada keadaan ini, tekanan ringan ibu jari pada
lanjut juga dapat mempermudah pembentukan edema. sisi mata kakihkan memindahkan sedikit cairan edema
Dalam keadaan kelaparan edema masif sering me- untuk sementara, dan jika ibu jari dilepaskan akan
nyertai hipoproteinemia akibat kekurangan gizi. terlihat lekukan pada jaringan yang berlangsung
selama beberapa saat. Keadaan ini disebut pitting
edema. Mobilitas cairan edema yang sama di dalam
Transudat dan Eksudat jaringan interstisial bertanggung jawab atas efek pos-
Lural tertentu. Kadang-kadang, pada saat dimasukkan
Cairan yang tertimbun di dalam jaringan atau ruangan ke dalam rumah sakit untuk pertama kalinya, pasien
karena bertambahnya permeabilitas pembuluh terlihat menderita edema mata kaki, sebab selama
terhadap protein dise-buieksu dat. Jadi, p".u- penderita masih berjalan edema akan bergerak menurut
dangan merupakan eksudat. Cairan yang "d"*u
tertimbun gravitasi sehingga terkumpul pada ekstremitas bawah.
di dalam jaringan atau ruangan karena alasan-alasan Namun, jika penderita sudah berada di tempat tidur
lain dan bukan akibat dari perubahan permeabilitas untukbeberapa lama, dengan ektremitas bawah tidak
pembuluh d isebut transudat. Gagal janbung merupakan lagi berada pada posisi terendah, maka edema mata
penyebab utama pembentukan transudat. Kadang- kaki akan mengecil, dan dapat terlihat edema di sekitar
kadang penting secara klinis untuk menentukan sakrum.
apakah penimbunan cairan tertentu itu merupakan
transudat atau eksudat. Sebagai contoh, bila terdapat
cairan eksudat di rongga pleura (misalnya sebagai Efek
komplikasi abses paru atau kanker paru) dapat
menyebabkan fibrotoraks (yaitu pleura parietal dan Edema adalah suatu indikator penting untuk mengeta-
pleura visceral menyatu karena melekatnya fibrosa; hui ada sesuatu yang salah. Dengan kata lain, mata
dengan demikian untuk mengalirkan eksudat dibutuh- kaki yang membengkak tersebut tidak membahayakan
kan slang drainase). Komplikasi itu tidak terjadi bila pasien, mungkinhanya tidak indah dipandang, tetapi
cairan pada pleura adalah transudat (misalnya akibat keadaan ini dapat menjadi indikator akan adanya pro-
gagal jantung kongestif) dan biasanya tidak tein yang hilang atau gagal jantung kongestif. Pada
memerlukan slang drainase. Eksudat dengan sifatnya tempat-tempat tertentu, edema itu sendiri sangat
yang alami cenderung mengandung lebih banyak pro- .
penting. Edema paru yang hebat, seperti pada gagal
tein daripada transudat dan oleh karena itu eksudat jantung kiri, merupakan keadaan darurat medis akut.
Gongguon Sirkulosi BAB z r25

iika cukup banyak ruangan udara di dalam paru terisi Sejumlah mekanisme terdapat dalam tubuh untuk
cairan edema, maka secara harfiah penderita itu akan menekan perdarahan (lihat Bagian Tiga). Salah satu
mati tenggelam. Edema paru yang masif dapat mekanisme hemostasis melibatkan trombosit darah
mematikan dalam beberapa menit. Derajat edema paru yang dibuat dalam sumsum tulang dan beredar dalam
yang lebih ringan yang masih dapat ditoleransi kerja darah dengan jumlah yang besar. Trombosit bekerja
ventilasinya dapat membahayakan pasien yang harus secara langsung menyumbat.kebocoran kecil dalam
telentang di tempat tidur. Pada keadaan ini cairan pembuluh dengan beragregasi di daerah tersebut dan
dapat terkumpul di bagian posterior basis paru dan menghambat aliran kebocorannya. Trombosit juga
berperan sebagai fokus berkembangnya bakteri pneu- mengakibatkan hemostasis dengan mencetuskan
monia, disebut pneumonia hipostatik. Edema juga mekanisme pembekuan darah. Komponen utama
membahayakan nyawa jika mengenai otak karena bekuan darah adalah fibrin, yang dicetuskan dari
tengkorak merupakan suatu ruangan tertutup tanpa prekursornya yang beredar bersama dalam sirkulasi
ruangan cadangan. Ketika terjadi edema, otak yaitu fibrinogen. Pengendapan fibrin diatur oleh
membengkak dan tertekan pada tulang pembatas sejumlah faktor pembekuan yang diaktifkan dalam
tengkorak. Padabeberapa segi, pada kasus yangberat, keadaan tertentu (lihat Bab 19).
peningkatan tekanan intrakranial akan memba- Perdarahan mungkin disebabkan oleh kelainan
hayakan aliran darah dalam otak dan mengakibatkan mekanisme hemostasis ini. Misalnya, perdarahan
kemabian. yang menyertai sua tu keadaan t r omb o sit op enia, y aitu
defisiensi jumlah trombosit dalam sirkulasi. Trombo-
sitopenia dapat timbul karena perusakan atau pene-
kanan pada sumsum tulang, (misalnya, karena
PERDARAHAN keganasan atau beberapa macam obat) yang berakibat
kegagalan pembentukan trombosit. Trombositopenia
juga dapat terjadi jika trombosit yang beredar
Perdarahan adalah keluamya darah dari sistem kardio- dihancurkan dehgan cepat, seperti yang terjadi pada
vaskular, disertai penimbunan dalam jaringan atau beberapa penyakit tertentu. ]ika jumlah trombosit
dalam ruang tubuh atau disertai keluarnya darah dari dalam darah perifer turun sampai di bawah batas
tubuh. Untuk menyatakan berbagai keadaan per- tertentu, penderita mulai mengalami perdarahan
darahan digunakan istilah-istilah deskriptif khusus. " sp ontan", yang berarti bahwa trauma akibat gerakan
Penimbunan darah pada jaringan disebut hemntoma. normal dapat mengakibatkan perdarahan yang luas.
iika darah masuk ke dalam berbagai ruang tubuh, maka Defisiensi salah satu faktor pembekuan dapat juga
dinamakan menurut ruangannya, misalnya hemoperi- mengakibatkan perdarahan. Defisiensi semacam ini
kardium, hemotoraks (perdarahan ke dalam ruang dapatherediter (misalnya, hemofiLia), tetapi dapat juga
pleura), hemoperitoneum, hematosalping (perdarahan karena didapat. Beberapa faktor pembekuan darah
ke dalam tuba Fallopii). Titik-titik perdarahan yang dapat disintesis dalam hati, dan pada penyakit hati yang
dilihat pada permukaan kulit atau pada permukaan lanjut maka kadar faktor tersebut dalam darah dapat
mukosa atau pada potongan permukaan organ disebut lurun dengan cepat. Sebaliknya, pada keadaan tertentu
petekia. Bercak perdarahan yang lebih besar disebut pembekuan darah yang berlebihan dapat mengakibat-
ekimosis dan keadaan yang ditandai dengan bercak- kan defisiensi trombosit, dan/atau faktor-faktor
bercak perdarahan yang teisebar luas dise\utpurpura. pembekuan yang bersifat didapat. Biasanya hal ini
menyangkut pembentukan banyak sekali bekuan-
bekuan kecil di seluruh tubuh, yang dinam akan dis-
Etiologi seminated intraoasculor coagulation (DIC), dan keadaan
defisiensi yang bersifat didapat itu kadang-kadang
Penyebab perdarahan yang paling sering dijumpai disebut dengan istilah umum, koagulopati konsumtif
adalah hilangnya integritas dinding pembuluh darah, (lihat Bab 19).
yang memungkinkan darah keluar. Keadaan ini paling
sering disebabkan oleh trauma eksternal seperti cedera
yang pernah kita alami yang disertai memar. Efek
Perubahan wama pada memar disebabkan oleh darah
yang terkumpul dalam ruang interstisial jaringanyang Efek I oknl p erdarahan berkaitan dengan adanya darah
terkena trauma. Dinding pembuluh darah dapat pecah yang keluar dari pembuluh di dalam jaringan, dan
sebagai akibat suatu penyakit serta trauma. pengaruhnya dapat berkisar dari yang ringan hingga
126 BAGIAN sATu PENDAHULUANPATOLOGIUMUM: MEKANISMEPENYAKIT

yang mematikan. Barangkali pengaruh lokal yang kematian. Sama halnya jika beberapa rafus mililiter
paling ringan adalah memar, yang mungkin hanya darah teraspirasi ke dalam cabang-cabang trakeo-
mempunyai arti kosmetik. Perubahan warna memar bronkial, maka pasien dapat tercekik. Daerah lain yang
yang kebiru-biruan secara langsung berkaitan dengan dengan volume perdarahan yang relatif kecil sudah
adanya eritrosit yang keluar dan terkumpul dalam dapat menimbulkan kematian adalah kantong perikar-
jaringan. Eritrosit yang keluar dari pembuluh ini dium. jika hemoperikardium timbul dengan cepat dan
dipecahkan dengan cepat dan difagosit oleh makro- kuat, maka kantong fibrosa perikardium tidak mem-
fag yang ada sebagai bagian kesatuan dari respons punyai kesempatan untuk meregang, sehingga
peradangan. Makrofag ini memproses hemoglobin tekanan di dalam kantong meninggi dengan cepat
dengan cara yang sama seperti yang digunakan pada sewaktu darah tertimbun. Kadang-kadang dengan
resiklus normal eritrosit tua, namun dengan cara yang tertimbunnya darah hanya beberapa ratus mililiter,
iebih cepat dan terpusat. Pada saat hemoglobin dimeta- tekanan yang timbul sudah cukup r.rntukmengganggu-
bolisme dalam sel-sel makrofag ini, terbentuk suatu pengisian diastolik jantung, sehingga dapat menye-
kompleks yang mengandung besi yang dinamakan babkan kematian akibat tnmponade jnntung.
hemosider in, bersamaan pula dengan terbentuknya zat Pengaruh sistemik akibat kehilangan darah ber-
yang tidak mengandung besi yang dalam jaringan kaitan langsung dengan volume darah yang keluar
dinamakan h emstoidin (walaupun secara kimia identik dari pembuluh. Ketika sebagian besar volume darah
dengan bilirubin). Hemosiderin berwama coklat-karat dalam sirkulasi hilang, seperti pada trauma masif,
dan hematoidin berwarna kuning muda. Interaksi penderita dapat sangat cepat meninggal karena
pigmen-pigmen ini berpengaruh pada perubahan perdarahan. Penderita dapat mengalami perdarahan,
warna memar yang berkisar dari "biru kehitaman" tanpa ada petunjuk perdarahan eksternal sama sekali.
kemudian memudar menjadi coklat dan kuning, dan Ini terjadi jika darah yang keluar dari pembuluh
akhimya menghilang karena makrofag mengembara terkumpul dalam rongga tubuh yang besar seperti
dan pemulihan jaringan yang sempurna. Kadang- rongga pleura atau rongga peritoneum. jenis
kadang, jika hematoma bervolume besar, hematoma perdarahan intemal yang mernatikan ini sering sekali
tersebut lebih dapat mengalami organisasi dan bukan terjadi pada cedera yang berat akibat kecelakaan ken-
resolusi sempurna, sehingga meninggalkan sedikit daraan bermotor, yaitu jika iga yang patah mengoyak
parut. paru atau jika trauma abdomenmengakibatkan rupfur
Pada keadaan ekstrim lain, perdarahan lokal dapat limpa atau hati. (Pada ruang gawat darurat,
mematikan jika terdapat di tempat yang salah walau- perdarahan internal semacam itu diidentifikasikan
pun volumenya kecil. Dengan demikian, seperti yang dengan aspirasi jarum pada rongga tubuh yang
terlihat pada Gambar 7-3, volume perdarahan yang dicurigai terdapat perdarahan). Volume perdarahan
relatif kecil di daerah vital otak dapat menimbulkan juga dapat memberikan pengaruh yang berkaitan
dengan laju terladinya kehilangan darah, kehilangan
volume darah yang lebih besar dapat ditoleransi lebih
baik jika terjadi sedikit demi sedikit daripada terjadi
secara cepat dalam jumlah yang besar.
Bila tidak mematikan, kehilangan volume darah
yang cukup banyak dan cepat dapat menimbulkan
syok. Keterangan yang terperinci dari berbagai sindrom
syok berada di luar pembicaraan ini, namun perlu
ditekankan bahwa syok dapat disebabkan tidak saja
oleh hilangnya volume darah tetapi juga oleh sebab-
sebab neurogenik, sebab-sebab jantung, atau bahkan
menyertai sepsis sistemik. Walaupun berbagai sindrom
syok berbeda penyebabnya, tetapi sindrom tersebut
pada dasarnya disertai dengan penurunan tekanan
darah dan dengan hilangnya unsur yang mengontrol
pengaturan aliran darah, sehingga akhirnya meng-
akibatkan jaringan-jaringan vital tubuh tidak men-
Gbr. 7-3 Perdarahan otak. Pada keadaan seperti ini, jumlah dapatkan perfusi dan oksigenasi yang memadai.
perdarahan yang relatif sedikit dapat menyebabkan kematian Jika seorang pasien dapat bertahan akibat kehi-
karena efek dekstruktif lokal. langan volume darah yang akut, maka volume darah
Gongguon Sirkulcsi BAB 7 r27

yang beredar dapat diperoleh kembali dalam waktu terlempar ke permukaan dinding pembuluh. Faktor
singkat dengan memasukkan cairan ke dalam sistem ketiga, mekanisme pembekuan (lihat Bab 19) mem-
kardiovaskular. Hal ini mengakibatkan pengenceran punyai sejumlah pengaturan dan keseimbangan kimia
relatif dari massa eritrosit yang tersisa, dan pada saat untuk mengontrol pembentukan bekuan. Maka sesuai
itu penderita ditemukan sedikit anemis. Pada keadaan dengan hal tersebut, bekuan terbentuk secara tidak
tersebut sumsum tulang dirangsang untuk normal berdasarkan tiga keadaan yaitu: (1) terdapat
memproduksi eritrosit lebih cepat, dan sedikit demi kelainan dinding dan lapisan pembuluh; (2) kelainan
sedikit anemia dapat diatasi. Pada keadaan kehi- aliran darah; (3) peningkatan daya koagulasi darah
langan darah kronik dengan volume yang relatif itu sendiri.
sedikit, kemampuan kompensasi sumsum tulang Aliran darah pada sirkulasi arteri merupakan aliran
dapat terlewati, danpenderita secara progresif menjadi dengan tekanan dan kecepatan yang tinggi, dan arteri
lebih anemis. Pasien yang kehilangan darah secara itu sendiri berdinding agak tebal dan tidak mudah
kronik lebih menunjukkan tanda-tanda dan gejala- berubah bentuk. Karena alasan inilah maka penyebab
gejala anemia daripada tanda dan gejala karena kehi- tersering trombosis arteri adalah penyakit pada
langan darah itu sendiri. Dengan demikian, banyak lapisan dan dinding arteri, khususnya aterosklerosis
penderita kanker kolon yang tanpa sadar sudah (lihat pembicaraan selanjutnya). Pada sirkulasi vena,
berbulan-bulan mengeluarkan darah di dalam aliran darahnya merupakan aliran bertekanan rendah
tinjanya, mencari pengobatan karena cepat lelah, dengan kecepatan yang relatif rendah. Vena ber-
pucat, atau tidak bertenaga. ]adi, kehilangan darah dinding cukup tipis sehingga mudah berubah bentuk
yang tidak disadari dan bersifat kronik merupakan oleh tekanan-tekanan dari luar. Karena alasan ini,
sebuah pertimbangan yang harus dipikirkan dalam penyebab tersering trombosis vena adalah akibat
menyelidiki berbagai kasus anemia. berkurangnya aliran darah. Pada akhimya, perubahan
kimia dalam darah pasien dengan berbagai variasi
penyakit, mengakibatkan hiperkoagulasi yang dapat
menjadi komplikasi pada keadaan yang sudah
TROMBOSIS diterangkan di atas.

Proses pembentukan bekuan darah atau koagulum


dalam sistem vaskular (yaitu, pembuluh darah atau Morfologi dan Perjalanan Trombus
jantung) selama manusia masih hidup disebut
tr omb o sis. Koa gulum d arah d inam akan t r omb us. Aku-
Trombus terdiri dari berbagai kombinasi agregasi
mulasi darah yang membeku di luar sistem vaskular trombosit, endapan fibrin, serta eritrosit dan leukosit
(misalnya, hematoma), tidak disebut sebagai trombus. yang terjaring. Konfigurasi yang tepat dari trombus
Selain itu, bekuan yang terbentuk di dalam sistem kar-
bergantung pada keadaan tempat trombus tersebut
diovaskular setelah manusia meninggal tidak dinama- terbentuk. Jika trombus mulai terbentuk dalam aliran
kan trombus tetapi disebut bekuan postmortem. darah, unsur pertama yang sering adalah gumpalan
Trombosis jelas memiliki nilai adaptif yang ber- trombosit yang melekat pada endotel. Hal ini dapat
harga dalam kasus perdarahan, trombus bekerja efektif terjadi karena aliran darah yang abnormal
sebagai sumbatan hemostasis. Namun, trombosis memungkinkan trombosif berdiam pada endotel atau
dapat menjadi masalah jika mekanisme pengaturan terlempar ke endotel; hal ini dapat terjadi karena
normal terganggu dan keadaan ini terbukti sangat lapisan endotel menjadi kasar, sehingga akan men-
berbahaya. ciptakan tempat untuk agregasi trombosit. Sewaktu
mengalami agregasi, trombosit melepaskan zat-zat
yang mendorong terjadinya pengendapan fibrin,
sehingga dengan segera agregasi trombosit tersebut
Etiologi dan Patogenesis
dikelilingi oleh fibrin dan menjaring eritrosit.
Terdapat tiga kelompok faktor yang dapat mencegah Gelombang peristiwa yang berturut-lurut semacam ini
pembentukan trombus yang tidak normal. Faktor dapat mengakibatkan struktur trombus menjadi
pertama, sistem pembuluh normal mempunyai lapisan kompleks dan berangka. Sebaliknya, jika trombus
sel endotel yang lunak dan licin sehingga trombosit terbentuk dalam pembuluh yang aliran darahnya
dan fibrin tidak mudah melekat. Faktor kedua, aliran lambat, maka bekuan darahnya hanya terdiri dari
darah normal dalam sistem pembuluh merupakan jalinan difus fibrin yang menangkap unsur-unsur
aliran yang cukup deras sehingga trombosit tidak darah yang kurang lebih sama. Tetapi, berbeda dengan
128 BAGIAN SATU PE N DAHULUAN PATOLOGI UMUM : ME KANISME PE NYAKIT

Gbr. 7-4 Trombus vena. Trombus ini diambil dari vena di tungkai ketjka autopsi. Keadaan seperti ini cukup sering ditemukan dan
berhubungan dengan banyak keadaan yang buruk. Skala menekankan besarnya bekuan.

proses yang baru saja dijeiaskan, bekuan postmortem


terbentuk agdk lambat sehingga unsur-unsur darah
yang terbentuk berlapis-lapis sebelum bekuan menge-
ras, menyebabkan eritrosit, leukosit, dan fibrin terpisah.
Bekuan postmortem semacam itu cenderung lebih
elastis dari trombus sejati dan sangat jarang melekat
pada dinding pembr-rluh. Perbedaan ini dapat menjadi
penting pada saat autopsi.
Trombus dapat terjadi dalam tiap bagian sistem
kardiovaskular akibat berbagai macam sebab. Gambar
7-4 menggambarkan trombus dalam sebuah vena pro-
funda yang besar pada tungkai. Trombus semacam
itu sering sekali dijumpai pada pasien yang harus
terlentang lama di tempat tidur. Trombus ini timbul
umumnya akibat laju aliran darah dalam vena-vena
menurun, dan akibat kehilangan daya pompa aktivitas
otot. Keadaan ini diperberat oleh melambatnya
sirkulasi perifer akibat kegagalan jantung kronik.
Flebotrombosis yaitu pembentukan trombus dalam vena,
merupakan bahaya yang selalu ada bagi pasien yang
hams berbaring di tempat tidur atau bagi pasien yang
tidak dapat dirnobilisasi. Trombus semacam ini relatil
tenang atau dapat disertai dengan tanda-tanda dan
gejala-gejala peradangan dinding pembuluh vena yang
diduga akibat sekunder dari adanya trombus. Jika
tanda-tanda peradangan menyolok, maka disebut
tromboflebitis. Akibat yang paling ditakutkan dari
Gbr. 7-5 Trombus atrium. Bentuk trombus yang besar pada trombus vena semacam itu adalah bila sebagian
atrium kiri ini akibat tidak berfungsinya katup mitral. Posisi bekuan trombus terlepas kemudian terbaw.a daiam aliran
ini potensial dapat menyebabkan bahaya yang besar. darah dan tersangkut di tempat yang jauh.
Gcngguon Sirkulosi BAB 7 129

Gbr. 7-6 Endokarditis infektif. Vegetasi yang


terlihat gelap pada katup mitral adalah bentuk
sebenarnya dari massa trombus yang
mengelilingi fokus infeksi bakteri pada katup.
Pada awalnya katup tersebut memilikijaringan
parut (penebalan lapisan fosfolipid dan korda)
sehingga mudah terinfeksi selama terjadi
bakteremia yang banyak.

Gbn7-7 Trombus mural pada jantung. Pada


potongan tranversal, trombus mural yang
besar menutupi daerah pada dinding ventrikel
kiri yang awalnya adalah nekrosis miokardial.

Gambar 7-5 melukiskan lrombus dalam atrium kiri infeksi bakteri pada katup tersebut, dan trombus itu
jantung. Pada keadaan ini, trombus terbentuk karena disebut uegefnsl. Vegetasi endokarditis infektif sangat
aliran abnormal dan pola sirkulasi melaiui atrium berbahaya karena kerusakan lokal pada katup, dan
yang dihubungkan dengan stenosis katup mitral. karena fragmen dapat didorong ke tempat-tempat lain
Kadang-kadang, trombus atrium semacam ini dapat dalam tubuh sehingga pembuluh-pembuluh lain
bersifat seperti "katup bola" yang mendadak dapat tersumbat dan terinfeksi.
menyumbat lubang atriovenkikular dan menimbulkan Gambar 7-7 menggambarkan sebuah trombus
kematian mendadak. Trombus semacam ini lebih dalam ventrikel kiri jantung. Trombus seperti ini yang
sering bertindak sebagai sumber fragmen yang melekat pada dinding sistem kardiovaskular tetapi
didorong ke distal aliran darah. yang tidak menyumbat daerah tersebut dengan
Gambar 7-6 menggambarkan sebuah trombus pada sempurna disebut sebagai trombus mursl. Penyebab
katup jantung. Pada keadaan ini penyebabnya adalah pembentukan trombus mural ventrikel adalah
r30 BAGIAN SATU PE N DAHULUAN PATOLOGI UMU M : MEKANISME PENYAKIT

Efek :
Akibat trombosis yang palingnyata mungkin terdapat
pada kasus trombosis arteri. Jika arteri tersumbat oleh
trombus, maka jaringan yang disuplai oleh arteri itu
akan kehilangan suplai darah. Akibatnya dapat timbul
kelainan fungsi jaringan hingga kematian jaringan
atau kematian pasien. Akibat dari trombus vena agak
berbeda. Jika salah satuvena tersumbat, kemungkinan
darah akan dapat menemukan jalan kembali ke
iantung melalui beberapa saluran anastomosis. Hanya,
jika vena besar yang tersumbat oleh trombus baru
timbul gangguan lokal disertai kongesti pasif. Gang-
guan yang paling tidak menyenangkan akibat trombus
vena adalah pemecahan trombus dan perjalanannya
ke bagian distal tubuh. Demikian juga, pengaruh
Gbr. 7-8 Trombus pada arteri yang sklerotik. Arteri yang terletak trombus jantung sebagian besar merupakan akibat
di atas batang olak (sebelah kiri dari pusaf) mengalami sklerotik
perpindahan ke tempat lain dalam sistem kardio-
dan berbenjol-benjol. Lumen arteri tersebut tersumbat oleh trombus
yang terlihat menonjol pada pemotongan sebelah kiri. vaskular.

hipokinesis dinding jantung yang disebabkan oleh EMBOLISME


penyakit atau kematian dari miokardium yang ada di
bawahnya.
Gambar 7-8 menggambarkan sebuah trombus di
dalam arteri. Dalam gambar ini jelas tampak penebalan
Definisi dan fenis
dinding arteri dan dinding arteri yang kasar yang Transportasi massa fisik yang terbawa dalam aliran
menjadi dasar terjadinya trombus. Dinding arteri yang darah dari satu tempat ke tempat lain dan tersangkut
kasar disebabkan oleh penyakit (aterosklerosis) dan di tempat baru dinamakanembolisme. Massa fisik itu
merupakan faktor yang mempercepat terjadinya sendiri dinam akan embolus. Emb oli p ada manusia yang
trombosis. paling sering dijumpai berasal dari trombus dan
Seringkali, ketika pembentukan trombus tidak dinamakan tromboemboll. Namun, banyak zat atau
menimbulkan kematian, trombus dapat mengalami benda lain yang dapat menjadi emboli. Pecahan
resolusi. Tubuh memiliki mekanisme fibrinolisis yang jaringan dapat menjadi emboli bila memasuki sistem
bersamaan dengan kerja leukosit dapat mengakibat- pembuluh darah, biasanya terjadi pada trauma. Sel-
kan disolusi bekuan. Setiap individu dapat mem- sel kanker dapat menjadi emboli, dan merupakan cara
bentuk trombus kecil dan mengalami resolusi tanpa penyebaran penyakit yang memperburuk keadaan
pernah menimbulkan gejala klinis. Sebaliknya, bebe- pasien(lihat Bab 8). Benda asing yang disuntikkan ke
rapa trombus besar mengalami organisasi, disertai dalam sistem kardiovaskular dapat menjadi embolus.
pertumbuhan jaringan granulasi yang masuk dari Tetesan cairan yang terbentuk dalam sirkulasi akibat
endotel pembuluh darah yang berdekatan. Pada dari berbagai keadaan atau yang masuk ke dalam
keadaan ini, pembuluh yang terlibat dapat tersumbat sirkulasi melalui suntikan dapat menjadi embolus,
secara permanen oleh jaringan parut. Kadang-kadang bahkan gelembung gas dapat juga menjadi embolus.
pembuluh darah yang terdapat dalam jaringan
granulasi muda yang membentuk trombus, berorgani-
sasi dan beranastomosis sedemikian rupa sehingga
Patogenesis, Perjalanan, dan Efek
terbentuk saluran baru melalui tempat yang ditempati
oleh trombus. Fenomena ini disebut rekanslisasi. Emboli dalam tubuh terutama berasal dari trombus
Sayangnya, sebelum trombus mengalami organisasi vena, paling sering pada vena profunda di tungkai
atau resolusi, terdapat bagian trombus yang terlepas atau di panggul. Jika fragmen trombus vena ini terlepas
dan terdorong dalam aliran darah yang akhirnya ter- dan terbawa aliran darah, maka fragmen tersebut akan
sangkut di tempat lain dan menyumbat pembuluh lain. masuk ke vena cava dan kemudian ke jantung kanan.
Gongguon Sirkulosi BAB 7 l3l

Fragmen ini tidak tersangkut selama dalam perjalanan


karena pembuluh dan ruangan jantung berukuran
besar. Darah akan meninggalkan ventrikel kanan dan
mengalir ke cabang utama arteria pulmonalis,
kemudian ke cabang arteria pulmonalis kanan dan
kiri, untuk selanjutnya ke cabang-cabang pembuluh
darah yang lebih kecil. Karena keadaan anatomis ini,
emboli yang berasal dari trombus vena biasanya
berakhir sebagai emboli arteria pulmonalis. Jika
fragmen trombus yang sangat besar menjadi embolus,
maka sebagian besar suplai arteria pulmonalis dapat
tersumbat dengan mendadak (Gbr. 7-9). Hal ini dapat
menimbulkan kematian mendadak. Sebaliknya, em-
boli arteria pulmonalis yang lebih kecil dapat tanpa
gejala, atau dapat mengakibatkan perdarahan
sekunder pada paru karena kerusakan vaskular atau
dapat mengakibatkan nekrosis sebagian dari paru.
Emboli paru dengan berbagai ukuran dapat ditemukan Gbr.7-9 Emboli paru masif. Arteria pulmonalis yang terbuka
menyebabkan paru terlihat di bagian tengah foto. Beberapa massa
pada sejumlah besar pasien yang meninggal setelah silindrik gelap adalah emboli yang berasal dari trombus vena di
beberapa lama berbaring di tempat tidur; kadang- tungkai, serupa dengan yang diperlihatkan dalam Gbr. 7-4. Pasien
kadang emboli paru mempercepat kematian pasien, meninggal saat emboli iersangkut.
kadang-kadang hanya bersi fat kebetulan. Penyebaran
emboli kecil paru yang berlangsung lama dapat menim-
bulkan penyumbatan pada pembuluh darah paru
sehingga timbul pembebanan yang berlebihan dan timbul keadaan yang sama jika udara atmosfer
kegagalan janlung kanan. memasuki pembuluh vena akibat kesalahan infus
Emboli yang tersangkr"rt pada sirkulaEi arterial intravena atau pemasangan kateter, atau kadang-
berasal dari "bagian kiri" sistem sirkulasi, baik dalam kadang pada tindakan pembedahan jika harus
ruang-ruang jantung kiri atau arteri yang besar. Satu- memotong pembuluh darah besar. I'ada embolisme
satunya jalan bagi emboli yang berasal dari sirkulasi udara masif , boltts udara yang besar dapat masuk ke
vena unhrk tersangkut pada arteri adalah menghindari bagian kanan janbung, dan pada ar,rtopsi terlihat massa
paru melalui defek dalam septum interatrial atatt busa udara yang besar dan darah yang meregangkan
interventrikular jantung. Keadaan ini dinamakan jantung dan pembr"rluh paru.
embolisme parsdoks, dan jarang sekali ditemukan. Em- Suatu contoh embolisme tetesan cairan adalah
boli arteri paling sering ditemukan berasal dari embolisme lemnk trsumnflk. Sesuai dengan namanya,
trombus intrakardium atau lebih jarang dari trombus emboli ini terdiri dari butir-butir lemak, cenderung
mural dalam aorta atau salah satu cabangnya yang terbentuk di dalam sirkulasi setelah teqadi trauma.
besar. Tempat penyumbatan yang sering adalah mikro-
Gelembung gas pada berbagai keadaan dapat sirkulasi paru. Embolisme iemak ringan sebagian besar
menjadi emboli. Salah satu keadaan dinamakan dapat timbul setelah tindakan pembedahan tempat
penyakit cnisson,lebih dikenal sebagai "kejang urat" . jaringan iemak diinsisi, hal tersebut memungkinkan
Keadaan ini timbul jika seseorang tinggal di bawah bahan lipid masuk pembuluh darah. Pada keadaan
tekanan atmosfir yang meningkat, seperti dalam seperti ini emboli kecil yang tersebar dan tersangkut
sebuah caisson bertekanan atau di bawah air dengan dalam paru tidak menimbulkan gejala dan dapat
perlengkapan penyelam. Pada keadaan ini makin diabaikan. Keadaan serllpa timbul jika tuiang patah,
banyak gas atmosfer yang terlarut dalam darah. Jika dan jelas disertai dengan pembebasan lipid masuk ke
terjadi dekompresi yang mendadak, maka akibatnya dalam sinusoid srlmsum tulang. Sekali lagi, emboli
sama seperti apa yang terlihat jika sebuah botol soda lemak paru yang tersebar seperti ini tidak menimbul-
hangat tiba-tiba dibuka. Banyak sekali gelembung gas kan gejala dan dapat diabaikan. Namun, kadang-
kecil timbul dalam sirkulasi dan dibawa ke berbagai kadang setelah cedera akibat trauma, embolisme lemak
tempat dalam tubuh tempat gelembung-gelembung dapat masif. Tidak jelas apakah dalam keadaan ini
tersebut tersangkut dalam mikrosirkulasi, dan semua tetesan lemakberasal dari trauma pada sel-sel
menyumbat aliran darah ke jaringan. Kadang-kadang lemak. Beberapa bukti menunjukkan bahwa pada
r32 BAGIAN sATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM: MEKANISMEPENYAKIT

keadaan ini lipid yangbiasanya terbawa dalam aliran sekunder garam kalsium dan produk-produk darah.
darah bergabung menjadi satu. Pada setiap keadaan Bercak aterosklerotik mulai pada lapisan intima atau
saat terdapat embolisme lemak yang cukup masif, lapisan dalam dinding pembuluh tetapi dalam
dapat timbul gejala kesukaran bernapas, biasanya pertumbuhannya dapat meluas sampai melewati
dalam satu atau dua hari pertama setelah trauma. Pada tunika media atau bagian muskuloelastika dinding
keadaan berat, emboli tersangkut pada berbagai tempat pembuluh.
dalam tubuh di luar paru, termasuk kulit, dan yang
lebih penting, pada sistem saraf pusat. Pada kedua
daerah terakhir tersebut, embolus lemak mikroskopik Morfologi
disertai dengan perdarahan petekia. Di otak, fokus kecil
nekrosis mengelilingi setiap pembuluh yang tersumbat. Gambaran kasar yang khas dari aterosklerosis yang
Pada keadaanyang jarang terjadi ini, embolisme lemak cukup berat, diperlihatkan dalam Gbr. 7-10. Lapisan-
dapat mematikan, biasanya karena kerusakan otak. endotel yang licin pada pembuluh darah merupakan
perlindungan penting melawan pembentukan
trombus, sehingga mudah dimengerti mengapa
aterosklerosis mempunyai kecenderungan besar
ARTERIOSKLEROSIS menjadi trombosis arteri. Gambaran mikroskopik
ateroma dilukiskan dalam Gbr. 7-11. Dominasibahan
Arteriosklerosis atau "pengerasan arterl" merupakan fibrosa dan lemak pada lesi ini tampak jelas (istilah
fenomena penyakit yang sangat penting di sebagian atero menyatakan seperti bubur dan sklerosis
besar negara maju. Istilah arteriosklerosls sebetulnya menyatakan sifat keras dari lesi tersebut). Pada pem-
meliputi setiap keadaan pada pembuluh arteri yang buluh besar seperti aorta, ateroma yang banyak dan
mengakibatkan penebalan atau pengerasan berat umumnya tidak mengakibatkan penyumbatan
dindingnya. Ada tiga keadaan yang umumnya Iumen tetapi hanya menyebabkan permukaan endotel
tercakup di dalam topik pembahasan ini: sklerosis menjadi kasar. Dalam pembuluh yang lebih kecil,
Monckeberg, arteriolosklerosis, dan aterosklerosis. ateroma dapat benar-benar berupa lingkaran yang
Sklerosis Mdnckeberg melibatkan pengendapan mengakibatkan penyempitan lumen yang nyata. (Gbr.
garam-garam kalsium dalam dinding muskular arteri 7-12.)
yang berukuran sedang. Walaupun keadaan ini dapat
dideteksi secara kasar dan bahkan dapat dilihat pada
film rontgen, bentuk arteriosklerosis ini secara klinis Etiologi dan lnsiden
tidak penting karena endotel pembuluh yang terlibat
tidak menjadi kasar dan lumennya tidak menyempit. Perkembangan aterosklerosis disebabkan oleh banyak
Arteriolosklerosls menyatakan penebalan arteriol; faktor, dan karena itu tidak mungkin menyebut faktor
keadaan ini sering terdapat pada penderita tekanan etiologi tunggal atau dominan. Berbagai faktor yang
darah tinggi dan dalam taraf tertentu berhubungan menyokong perkembangan aterosklerosis tersebar luas
dengan usia tua. Jenis arteriosklerosis yang paling pada penduduk di negara-negara maju, sehingga
penting adalah aterosklerosis, dan jika digunakan hanya anak-anak yang dapat terhindar dari penyakit
istilah arteriosklerosis, maka umumnya istilah ini ini. Ternyata,pada autopsi yang dilakukan pada or-
sinonim dengan aterosklerosis. ang dewasa muda yang meninggal akibat trauma
sering menunjukkan adanya lesi aterosklerosis, yang
kadang-kadang sudah sangat berat. Endapan lemak
Aterosklerosis paling dini dapat terlihat pada anak-anak kecil dan
cenderung bertambah dengan meningkatnya usia.
Aterosklerosis merupakan penyakit yang melibatkan Laju peningkatan ukuran dan jumlah ateroma dipe-
aorta, cabang-cabangnya yang besar dan arteri ngaruhi olehberbagai faktor. Faktor genetik penting,
berukuransedang, seperli arteri yang menyuplai darah dan aterosklerosis serta komplikasinya cenderung
ke bagian-bagian ekstremitas, otak, jantung dan organ terjadi dalam keluarga. Seseorang dengan kadar
dalam utama. Aterosklerosis tidak menyerang arteriol, kolesterol serum yang tinggi dan pada penderita dia-
dan juga tidak melibatkan sirkulasi vena. Penyakit ini betes melitus akan lebih mudah mendapatkan atero-
multifokal, dan lesi unit , atau aterornc (uga dinamakan sklerosis. Tekanan darah merupakan faktor penting
bercak aterosklerosis), terdiri dari massa bahan lemak bagi insiden dan beratnya aterosklerosis. Pada
dengan jaringan ikat fibrosa. Sering disertai endapan umumnya penderita hipertensi akan menderita
Gongguon Sirkulosi BAB 7 133

Gbr. 7-10 Aterosklerosis aorta. Foto ini menggambarkan permukaan intima (pelapis) pada aorta abdominalis terbuka. Sebagai pengganti
permukaan yang halus dan seperti mutiara, pada keadaan ini permukaan merupakan massa plak aterosklerotik kasar.

;ir.

.b,- ',

*f. w;::::a:r:::: :1t

:.!
alr'it.
:* :1

:+:,.:!=
f,j

Gbr. 7-11 Plak aterosklerosis. Celah di kedalaman plak menggambarkan deposit kolesterol besar. Bahan gelap di kanan adalah deposit
kalsifik distrofi, dan pita horizontal yang melewati ujung adalah "cap" fibrosa lesi. Lesi kasar yang meninggi pada Gbr.7-10 mempunyai
gambaran mikroskopik ini.

aterosklerosis lebih awal dan lebih berat; dan beratnya


Efek
penyakit berhubungan dengan tekanan darah,
walaupun dalam batas normal. Aterosklerosis tidak Akibat aterosklerosis sebagian berganlurrg iratr.,
terlihat pada arteria pulmonalis (biasanya bertekanan ukuran arteri yang terserang. Jika arteri bernkuran
rendah) kecuali jika tekanannya meningkat secara sedang, seperti cabang utama arteria koronaria.
abnormal, keadaan ini dinamakan h ip ertens i p ul mon nl. dengan garis tengah lumenbeberapa milimeter, ateros,
Faktor risiko lain di dalam perkernbangan atero- klerosis lambat laun dapat mengakibatkan penvem-
sklerosis adalah merokok. Merokok merupakan faktor pitan atau obstruksi total lumen.
lingkungan utama yang menyebabkan aterosklerosis Berbeda dengan perkembangan pen)'Llmbatan yang
menjadi semakin buruk. Cara yang tepat untuk lambat ini, komplikasi aterosklerosis dapat meng-
mengetahui berbagai faktor penyokong patogenesis akibatkan penyumbatan mendadak. Salah satu
lesi aterosklerosis belum diketahui sepenuhnya. keadaan seperti ini adalah pembentr-rkan h'ombus rrang
134 BAG IAN SATU PE NDAHULUAN PATOLOGI U MU M : MEKANISME PENYAKIT

Gbt. 7-12 Arteria koronaria aterosklerotik. Ateroma sirkumferensial hanya tertinggal lumen yang tipis (di jam 8) pada potongan
melintang arteria koronaria ini. Akibatnya aliran darah tidak jelas.

.*e , --l.
---s , , *il

Gbr. 7-13 Aneurisma aterosklerotik. Aneurisma besar mendistorsi aorta distal dan masing-masing arteria iliaca. Dinding aneurisma ini
mudah ruptur.

bertumpuk pada lapisan intima yang kasar, yang sklerosis adalah perdarahan di pusat plak yang lunak.
ditimbulkan oleh plak aterosklerosis. Trombosis Pada sebuah pembuluh dengan ukuran sebesar arteria
cenderung menimbulkan penyrrmbatan dalam arteri koronaria perdarahan tersebut dapat mengakibatkan
ukuran kecil atau ukuran sedang, tetapi mungkin juga pembengkakan plak disertai penyurnbatan lumen yang
terdapat dalam bentuk endapan tipis pada dinding mendadak. Komplikasi lain yang dapat mengakibat-
pembuluh besar seperti aorta. Komplikasi lain atero- kan peny"umbatan arteri akut adalah ruptur bercak
Gongguon Sirkulosi BAB 7 135

Gbr.7-14 lnfark miokardium. lskemia miokardium telah menyebabkan nekrosis koagulatif (daerah terang) pada banyak septum dan
dinding ventrikel.

disertai pembengkakan kandungan lipid yang lunak buruk mungkirr juga berperan dalam rnenyebabkan
ke dalam lumen dan penyumbatan pada bagian bawah kerusakan jaringan. Setiap hal yang memengaruhi
pembuluh yang lebih sempit. Akhirny4 jika cukup luas aliran darah dapat menimbulkan iskemia jaringan.
dan berat, lesi aterosklerosis itu dapat menembus Penyebab yang paling jelas adalah obstruksi lokal
dinding muskularis dan dinding elastis (tunika me- arteri akibat aterosklerosis, trombosis, atau embolisme.
dia) dinding arteri, sehingga melemahkan dinding Pada keadaan yang lebih jarang, obshuksi vena dapat
tersebut. Pada aorta abdominalis, tempat yang paling mengakibatkan iskemia, jika aliran darah yang melalui
sering terjadi aterosklerosis yang berat, kerusakan jaringan benar-benar berhenti. Bahkan iskemia
tunika media seperti ini dapat mengakibatkan terben- jaringan dapat juga disebabkan oleh penyebab
tuknya nneurisma aterosklerosis yang merupakan sistemik. Misalnya, jika terjadi gagal jantung yang
penggelembungan dinding arteri yang lemah (Gbr. 7- cukup berat, jaringan akan dengan mudah mengalami
13). Walaupun trombus dapat terbentuk dalam iskemia karena tingkat perfusi jaringan yang rendah.
aneurisma seperti ini akibat pusaran abnormal dari Begitu juga bila terjadi syok yang lama akan dapat
darah dan akibat intima yang kasar, tetapi komplikasi mengakibatkan iskemia jaringan yang bermakna.
aneurisma yang paling berbahaya adalah terjadinya Pengaruh iskemia bervariasi bergantung pada
ruptur disertai perdarahan. intensitas iskemia, kecepatan timbul, dan kebutuhan
metabolik dari jaringan itu. Pada beberapa keadaan
iskemia, biasanya yang mengenai jaringan otot, rasa
sakit dapat merupakan gejala penurunan suplai darah.
ISKEMIA DAN INFARK Misah'rya, seorangberusia lanjut dengan aterosklerosis
arteri di tungkai akan mengalami penurunan aliran
Iskemin adalah suplai darah yang tidak adekuat ke darah. Suplai darah waktu istirahat cukup, tetapi tidak
suatu daerah. ]ika mengalami iskemik, jaringan cukup selama melakukan aktivitas. Jika orang tersebut
tersebut akan kehilangan suplai oksigen danzat-zat berjalan cepat, kebutuhan metabolisme otot tungkai
makanan yang dibutuhkan. (Berbeda dengan iskemia, akan meningkat, dan iskemia relatif yang timbul dapat
hipoksia adalah suatu keadaan hanya kekurangan menyebabkan rasa sakit sehingga harus berjalan
oksigen sehingga produksi energi glikolitik dilanjut- perlahan. Keadaan yang sama juga terjadi pada otot
kan dengan metabolisme anaerob). Penimbunan sisa- jantung dengan penyempitan sirkulasi arteria
sisa metabolisme dalam jaringan dengan perfusi yang koronaria. Pada keadaan ini, bila seorang pasien
I36 BAG IAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: N/EKANISN/E PENYAKIT

melakukan aktivitas, dapat timbul perasaan sakit infark hemoragik maupun infark pucat-penyebab
seperti ditekan atau diperas pada dada, fenomena ini dasar kerusakan adalah iskemia jarinSan. Pada
disebut angina pektoris. Biasanya, sakit pada angina kebanyakan infark, nekrosis yang ditimbulkan oleh
pektoris tersebut dapat mereda jika penderita ber- iskemia adalah jenis koagulatif, dan batas luar
isiirahat karena dalam keadaan istirahat kebutuhan jaringan tetap dipertahankan (Gbr.7-1.4). Pada paru,
metabolisme otot jantung akan berkurang sampai gambaran infarknya didominasi oleh perdarahan,
keadaan kebutuhan metabolisme tersebut dapat sedangkan pada otak, daerah infark lambat laun
dipenuhi oleh sirkulasi arteria koronaria yang sudah melunak dan mencair, sehingga menimbulkan lubang
menyempit, dalam jaringan (lihat Gbr.3-6).
Efek lain adalah jika iskemia timbul perlahan- Adanya jaringan infark menimbulkan reaksi
lahan dan berlangsung lama maka jaringan yang peradangan pada daerah perbatasan antara jaringan
terkena iskemia akan menjadi atrofi atau menyusut. infark dengan jaringanhidup. Neutrofil danmakrofag -
Suatu contoh yang sering dijumpai adalah pada dengan cepat memasuki daerah yangmati danmulai
penderita aterosklerosis yang sirkulasinya ke ekstre- melakukan penghancuran. Selanjutnya, daerah ini
mitas bawah berkurang, seringkali tungkai menunjuk- lambat laun mengalami organisasi sebagai hasil dari
kan massa otot yang berkurang, kulit daerah tungkai proses penghancuran, dan hasil akhir yang biasanya
menjadi halus, tipis, dan tidak berambut, semua ini terjadi adalah timbul parut pada daerah infark ter-
akibat iskemia kronik. sebut. Padabanyak organ, infark tidak terlalu penting
Akibat iskemia yang paling parah adalah kematian karena organ tersebut memiliki cadangan. Dengan
jaringan yang iskemik. Daerah yang mengalami demikian, maka infark ginjal yang cukup luas tidak
nekrosis iskemik dinamakan infark, dan proses membahayakan hidup penderita kerena sebuah ginjal
pembentukan infark disebut infarksi. Apakah daerah ataubahkanbagian dari satu ginjal mampu memper-
iskemik akan benar-benar menjadi infark atau tidak, tahankan homeostasis. Hal yang sama, terjadi juga
beigantung pada berbagai faktor lokal dan sistemik. pada infark paru. Infark ini tidak membahayakan
Misalnya, derajat penyumbatan arteri akan lebih dipandang dhlam segi fungsi ventilasi. Namury pada
mudah ditoleransi jika berlangsung lambat, jika keadaan yang terakhir ini, adanya infark paru sedikit
kebutuhan metabolisme jaringan rendah, dan jika mengkhawatirkan karena pada keadaan ini dapat
terdapat sirkulasi kolateral (yaitu, suplai tambahan terjadi emboli paru. Dengan demikian selalu ada
pada daerah yang terlibat oleh cabang-cabang arteri kekhawatiran bahwa emboli yang lebih besar dan
yang berdekatan). Selain itu, pengaruh pada iskemia lebih membahayakan dapat terjadi dari tempat
memburuk jika transpor oksigen dalam darah terjadinya embolus yang pertama. Pada otak dan
berkurang karena semua penyebab. miokardium, akibat infark jauh lebih bermakna, sebab
Gambaran morfologis infark berbeda-beda pada cadangan dari organ-organ ini lebih kecil, dan masing-
setiap organ, tetapi nekrosis jaringan akibat iskemia masing daerah mempunyai fungsi penting;
umumnya disertai perdarahan dari pembuluh- khususnya karena kedua organ ini tidak mungkin
pembuluh yang rusak di tepi daerah infark tersebut. mengalami regenerasi pada unsur-unsur yang
Pada jaringan longgar, seperti paru, terjadi perdarahan mengalami infark. Akhirnya, pada beberapa tempat
yang luas, dan daerah infark terlihat penuhterisi darah, yang mudah terkena bakteri, jaringan infark akan
sehingga menimbulkan infark hemoragik atau infark berperan sebagai fokus pertumbuhan jasad renik
merah. Padaorganlain (misalnya, ginjal atau jantung), saprofit. Dengan demikian, infark usus dengan cepat
perdarahan yang menyertai in{ark hanya minimal dan menjadi gangren, dan infark bagian-bagian ekstre-
infark yang terjadi cenderung terlihat pucat. Pada mitas pada awal:rya dikenal sebagai daerah gangren.
Gongguon Sirkulosi BAB 7 137

.(ot'rstP KUNcr

Ko;ngesti {hipe remi a\ adaIah,:Suatu keadaan jaiingan lunak; rongga tubuh, atau keluar dari
berlebihnya darah dalam jaringan yang dapat tubuh dan disebabkan oleh dinding vaskular yang
-
bersifat aktif maupun pasif . pecah atau kelainan mekanismJfremostaiit<.
Kon g esti aktifadalah pen in g katan j u m lah darah Efek lokal dan sistemik perdarahan bergantung
yanQ mengalir ke suatu daerah karena dilataSi pada lokasi, jumlah dan cepatnya darah yang
arteri. Contohnya adalah hiperemia yang hi lang,,,Flilan$nya sej umlah keci I darah secara
menyertai radang akut atau peningkatan aliran lokal, seperti pada memar, mungkin menimbul-
dar.ah kG otot',yang sedang berkontraksi kan akibat ringan atau mematikan bila terjadl
(hiperemia f ungsional). dalam otak (perdarahan serebral), kantong peri-
Kong eiti p asif ti mbu I bi la terjadi ke rusakan pada kardium (menyebabkan tamponade jantung),
sistem aliran darah darijaringan. Contohnya ter- atau pada paru (meyebabkan sesak napas).
masuk kongesti paru pada kegagalan ventrikel Kehilangan darah:dalam jumlah yang besaidan
kiri, serta kongesti hepar dan sistemik pada cepat, dapat menimbulkan syok sirkulasi,'dan
kea.daan,adanya kegagalan ventrikel kanan. kematian; kehilangan darah dalam jumlah yang
Kongesti pasif kronik dapat menimbulkan lebih sedikit dan dalam waktu yang lama dapat
perubahan pada jaringan yang terkena, seperti mengakibatkan anemia.
atrofi, fibrosis, dan pengendapan pigmen tertentu Trombosisadalah proses pembentukan bekuan
(misal, hemosiderin). darah yang tidak sesuai di dalam sistem vaskular
Edema adalah pengumpulan cairan yang ber- manusia hidup, dan bekuan darah tersebut
lebihan di antara sel-sel (kompartemen cairan dinamakan trombus. Jika radang mendominasi,
interstisial) atau di dalam berbagai rongga tubuh. disebut t romboflebitis. Trombus dapat terbentuk
Empat mekanisme dasar yang menyebabkan dalam sistem arteri maupun sistem vena.
edemadapat diperoleh dengan melihat kekuatan Pembentukan trombus timbul bila terjadi
hormal peh$ontiolan pertukarah cairan melewati peningkatan kemampuan: darah membeku atau
dinding-dinding pembuluh darah: (1 ) peningkatan bila terdapat kelainan aliran darah maupun
tekanan., hidrostatik (misal, $agal jantung dinding pembuluh darah.
kongestif); (2) peningkatah permeabilitas pem- Bagian daritrombus (embolus) dapat menerobos
buluh darah (misal, radang akut); (3) penurunan dan tersangkut di ujung cabang-cabang kecil
tekanan osmotik koloid (misal, hipoalbumine- pembuluh darah, yang dalam keadaan inidisebut
mia); dan (4) obstruksi limfatik (misal, mastek- embolisme. (Bahan-bahan lain seperti lemak,
tomi dengan pengangkatan kelenjar getah ben ing sel-sel kanker, bahan-bahan asing atau gelem-
aksila). bung udara juga dapat berlaku sebagai emboli).
Pengumpulan eksudat karena peningkatan Emboti arteri lerbentuk di bagian kiri sistem
permeabilitas vaskular. Eksudat mengandung sirkulasi, baik di bilik jantung kiri atau arteri
leukosit dan protein yang lebih banyak, serta besar. Trombus venaierbentuk di bagian kanan
memiliki berat jenis yang lebih tinggi daripada sistem sirkulasi, baik di bilik jantung lianan atau
transudat. Eksudat juga dapat mengandung f i- yang lebih sering di vena-vena dalam petvis itau
brinogen, yang menyebabkan pembekuan. tungkai.
Sebaliknya, transudat yang terkumpul dalam Akibat dari embolus arteri yang tersangt<ui Oi
jaringan atau ruangan untuk alasan selain pening- pembuluh darah serebral bisa merupakan stroke
katan permeabititas vaskular dan mengandung atau kehilangan tungkai, bila embolusnya ter-
sedikit protein, memiliki berat jenis yang lebih sangkut pada cabang arteria femoralis. Embo-
rendah, merupakan sel buruk, dan tidak lus besar yang berasal dari venadalam pelvi5
membeku. maupun tungkaiyang menyumbat arteri utama
Pengumpulan cairan edema yang bermakna paru dapat menyebabkan kematian.
dalam paru atau otak dapat menyebabkan Arteriosklefasls adalah istilah umum yang
kematian seseorang. memiliki arti "pengerasan:,arteri" dan terma5uk
Perdarahanadalah proses keluarnya darah dari juga skleros is Monckeberg (pen umpukan garam
sistem kardiovaskular, dengan pengumpulan di kalsium pada dinding arteril, arteriotoskterosii
r38 BAGIAN sATu PENDAHULUANPATOLOGIUMUM: MEKANISMEPENYAKIT

(penebalan dinding:arteriol akibat hipertensi) dan ,. oksigen maupun zAl.zat makanah, dan ha!
, . ltemk/erosis {pemhentUkan plak |emak pada
. tersdbut rnerupakan Behyebab'1ar$diing keru-
dinding arteri). sakan sel. lskemia cenderung merusak jaringan
i I $atu plak atsrosklerptik rnempersemp.it lumen lebih cepat daripada hipoksi a(hanya kekurangan
arteridan membantu pembentukan trombus pada : oksfgen), l6p6ns jeringqn kekurangan substrat
p"rrnuk"un dinding arteri yang kasar. Trombus ',',: gBlul(
t1l|(olis!.s Sehingga menghentikan meiai
:-,:,Vann, nieny'u mbat arte ri beru [<U ran,. sddang ; bolisme anaerobik.
seperti arteria koronaria aterosklerotik, akan r Akibat yang ditimbulkan iskemia bervariasi
mengakibatkan trom bosi s ko ron a ia ("seran gan bergantung pada luasnya. Pada arteria koronaria
:iant g n gtrl
r,,$te.ro"skl e ros
is pada a rtef i y.a n g be r- , yang:,, menyernBit aklbat ateroskleiosis, jika
:, ,,tJ'kuran,be$ai seperti borta; dapat mehgurangi seseorang mulai meningkatkan kerja kebutuhan
.: :. kqglaStisan dan fapisan oto!, yang,menyebabkan metabolik, otot jantung yang mengalami iskemik,
,,-.. anduiigma (pengembungah dinding Arteii). dapat menyebabkan nyeri dada (an'gi4q
t lskemiaadalah suplai darah yang tidak adekuat , ,,pektorfs), Akib;a! iskemia yang paling parah
ke jaringan, sehingga jaringan kekurangan ,adatah kematian jaiingan iskemik, yang disebut
infark alau nekrosls iskemik.

PrnrnruYAAN
Beberapa contoh pertanyaan untuk bab initercantum di sini. Kunjungi http://www.mosby.com/MERLIN/PriceWilson/ untuk
pertanyaan tambahan.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan 4. Definisiedema. 9. Sebutkan beberapa penyebab lokal


berikut ini pada sehelai kertas terpisah. 5. Apakah penyebab perdarahan yang iskemia.
1. Jelaskan perbedaan mekanisme pada paling sering dijumpai? 10, Jelaskan pengaruh iskemia yang
kongesti aktif dan kongesti pasif. 6. Apakah dua mekanisme dasar untuk mungkin terjadi,
2. Terangkan bagaimana kongesti dapat menghentikan perdarahan?
ditimbulkan oleh gangguan jantung, 7. Jelaskan pengaruh lokal dan sistemik
3. Apakah pengaruh kongesti pasif akut dan perdarahan.
kongesti pasif kronik pada jaringan yang 8. Jelaskan dua implikasi klinis trombosis.
terserang?
BAB 8

:
-Pe
:: ::::::::::i : !ii: $H ngg U.Un rtu m bU hd fi ;
PE$lit Si , do.n Diferdhsios'i,,,,$'b[

LORRAINE M. WILSON

sl s A..B . 1
KARSINOGINESIS, 150, .., :,:,
l.t.it$'*'n 1
E .E A..R=',.B
... ,'.',,',,,
Pengaturan Replikasi Sel, 150
.,,,;..

]iiii;i,.,oR$Ax DAN l.dRtNcAN YA,NC trBtH rrctI Proloonkogen dan Onkogen, 151
DARI NORMNI, I+O Cen-Cen Supresor Tumor, 152
'
.-,
r
,,,,.,
Agenesis dan Aplasia, 140 Cen-Cen yang Mbngatur Apoptosis, 1-53 l:.,,'t,

Hipoplasia,l40 Cerr-Cen Perbaikan DNA, 154


: Atrofi, 140 Telomer, Telomerase, Penuaan, dan Kanker, t 5l
ORCAN DAN JARINCAN YANC LEBIH BESAR Sifat Alami Multilangkah pada
NARI NORMAL, 140 Karsinogenesis, 155
ASPEK KLtNtSN[OpLASlA, 156 ' ':,. ,,i,,=
Hiperplasia,l40
DIFERENSIASI NSNORN4AL: DEFINISI, 1 41
Metaplasia,l4l
Displasia, 141
.NEOPLASIA,142 ab ini terfokus pada berbagai keadaan
SI FAT-SI FAT' N EOPLASMA, 1 42 ekstrim yang mempunyai etiologi dan akibat
Neoplasma jinak, 142 yang berlainan bagi hospes. Kesatuan konsep-
NeoplasmaCanas, 143 nya adalah bahwa masing-masing keadaan yang
INTERAKSI NcOPnSUA DENCAN dibicarakan dalam bab ini ditandai oleh kelainan
dalam (1) ukuran atau jumlah sel dalam jaringan (2)
cara proliferasi sel, atau (3) sifat diferensiasi sel. Ke-
Terhadap Hospes, 145 lainan-kelainan ini d.apat mengakibatkan jaringan
',,:.'., Fenga+1$".lflospqs:Terhadap,,Necp|aima, 1 46 menjadi lebih kecil atau lebih besar dari normal dan
STRurru R NEOPLASM A, 1 47 mempunyai fungsi spesialisasi yang abnormal. Pada
KLASIFIKASI DAN TATA NAMA keadaan yang berat, sel abnormal dapat membentuk
NEOPLASMA,148 massa yang pada umumnya memiliki kebiasaan di
luar pengaruh pengaturan homeostasis normal.

139
t40 BAGIAN sATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM: MEKANISMEPENYAKIT

mamae terhenti. Penyebab atrofi yang sering dijumpai


ORGAN DAN JARINGAN YANG LEBIH
adalah iskemia kronik. Penyebab atroff lain yang
KECIL DARI NORMAL sering dijumpai, terutama yang menyerang otot rangka,
adalah disuse atrofi. lika tungkai yang patah diletakkan
Kadang-kadang kita menemukan jaringan, organ atau dalam pembalut dari gips yang tidak dapat digerakkan
bagian tubuh yang lebih kecil daripada normal. dalam jangka waktu beberapa minggu atau beberapa
Keadaan ini dapat timbul melalui dua macam cara: bulan, maka massa ekstremitas tersebut akan ber-
organ atau jaringan tersebut tidak pernah tumbuh kurang secara bermakna disebabkan oleh atrofi otot-
sampai ke ukuran yang normal, atau organ tersebut otot yang tidak digunakan. Pada keadaan ini sel-sel
dapat mencapai ukuran normal dan kemudian otot individu ukurannya berkurang, tetapi keadaan
mengisut. ini bersifat reversibel. Pada keadaan atrofi lain akan
benar-benar terjadi kehilangan unsur-unsur sel.

Agenesis dan Aplasia


Dalam perjalanan perkembangan, organ embrional ORGAN DAN JARINGAN YANG
rudimenter dapat tidak terbentuk. Fenomena ini di- LEBIH BESAR DARI NORMAL
sebut a g en es is, dan akibatnya organ tertentu tidak ter-
bentuk; misalnya, beberapa individu dapat dilahirkan
hanya dengan satu ginjal. Suatu keadaan lain yang Hipertrofi
berkaitan dengan keadaan di atas adalahaplasia,yalttt
gagal berkembangnya organ rudimen embrional yang Hip er tr ofi didefinisikan sebagai pembesaran jaringan
sudah terbentuk (beberapa orang menggunakan istilah atau organ karena pembesaran setiap sel. Hipertrofi
agenesis dan aplasia secara terbalik dan memang dapat terlihat pada berbagai jari^g*, tetapi khusus-
karena perbedaannya praktis kecil). nya terlihat'mencolok pada berbagai jenis otot.
Peningkatan beban pekerjaan pada otot merupakan
rangsangyang sangat kuatbagi otot unbuk mengalami
Hipoplasia hipertrofi. Penonjolan otot pada atlet angkat besi
merupakan contoh hiperhofi otot yang nyata. Hal yang
Kadang-kadang, rudimen embrional terbenbuk tetapi sama terjadi akibat respons adaptasi yang penting
tidak pemah mencapai ukuran definitif atau ukuran pada miokardium. Jika seseorang mempunyai katup
dewasa, akibatnya organ tersebut menjadi kerdil. jantung abnormal yang menyebabkan beban mekanik
Fenomena ini disebut hipoplasia. Seperti agenesis dan pada ventrikel kiri, atau jika ventrikel memompa dan
aplasia, hipoplasia dapat juga mengenai semua bagian melawan tekanan darah sistemik yang meninggi,
tubuh, dapat mengenai salah satu dari sepasar'.g organ, akibatnya hipertrofi miokardium disertai penebalan
atau bahkan dapat mengenai kedua organ yang dinding ventrikel. Fenomena yang serupa dapat terjadi
berpasangan. Hipoplasia ringan yang terjadi pada pada otot polos yang dipaksa bekerja melawan beban
beberapa organ dapat ditoleransi untuk waktu yang yang meningkat. Dengan demikian, dinding kandung
lama. Pengaruhnya berupa gangguan terhadap tingkat kemih dapat menjadi hipertrofi jika terjadi obstruksi
cadangan organ tersebut. pada aliran keluar urine. Pada masing-masing keadaan
ini, pembesaran sel yanghipertrofi sebenamya disertai
penambahan unsur kontraktil jaringan, sehingga
Atrofi merupakan respons sifat adaptasi. Hipertrofi terjadi
akibat rangsangan, sehingga cenderung mengalami
Organ yang dalam perkembangannya mencapai regresi paling sedikit sampai taraf tertentu, hingga
ukuran definitif dan kemudian secara sekunder beban kerja yang abnormal hilang.
menyusut disebut atrofi. Atrofi mempunyai banyak
penyebab, dalam beberapa keadaan atrofi sebetulnya
normal atau fisiologis, misalnya atrofi bagian tertentu
Hiperplasia
dari embrio atau fetus selama perkembangannya.
Beberapabentuk atrofi tidak dapat dielakkanpada usia Hiperplasia adalah kenaikan jumlah sel yang nyata
lanjut, seperti atrofi endokrin yang terjadi jika dalam jaringan yang mengakibatkan pembesaran
pengaruh hormonal terhadap jaringan seperti kelenjar jaringan atau organ tersebut. Hiperplasia hanya dapat
Gongguon Pertumbuhcn, Proliferosi, don Diferensiosi Sel BAB 8 l4l

terjadi pada jaringan yang mampu melakukan Jika sistem diferensiasi sel jenis ini berada dalam
pembelahan sel. Dalam jaringan semacam ini hiper- lingkungan yang tidak cocok, maka pola difefensiasi-
plasia dapat juga disertai oleh hipertrofi sel. Hiper- nya dapat berubah sehingga sel yang membelah mulai
plasia terjadi pada berbagai jaringan dalam berbagai melakukan diferensiasi menjadi sel yang biasanya
keadaan, beberapa di antaranya bersifat benar-benar tidak ditemukan pada daerah itu, tetapi dapat ditemu-
fisiologis. Misalnya, rangsangan hormon pada kan di bagian tubuh lain. Fenomena ini disebutmeta-
kehamilan dan laktasi menimbulkan proliferasi yang plasia.Misalnya, jika lapisan serviks uteri mengalami
luas pada unsur-unsur epitel kelenjar mamae disertai iritasi kronik, maka bagian epitel kolumnar diganti
pembesaran jaringan kelenjar malnae yang disebabkan oleh epitel skuamosa yang mirip epidermis (Gbr. 8-1).
oleh hiperplasia. Contoh hiperplasia nonfisiologis Diduga, "metaplasia skuamosa" ini adalah sifat
adalah pembesaran kelenjar prostat pada pria lanjut adaptasi, yaitu epitel skuamosa lebih tahan terhadap
usia dan contoh hiperplasia non fisiologis lainnya iritasi dibandingkan dengan epitel kolumnar. Proses
adalah kalus, yang merupakan penebalan kulit akibat metaplasia kelihatannya berada di bawah pengawas-
rangsangan mekanik. Pemeriksaan mikroskopik pada an yang ketat; yaitu jenis diferensiasi yang "baru"
kalus menunjukkan kenaikan nyata jumlah sel epi- benar-benar teratur serta bersifat adaptasi. Metapla-
dermis dan jumlah lapisan sel di dalam epidermis, sia kemungkinanbesar reversibel, sehingga jika penye-
dan jelas merupakan respons adaptasi. bab perubahan dapat dihilangkan, maka sel induk
Banyak contoh hiperplasia menggambarkan dalam populasi itu sekali lagi akan mengadakan
respons yang "rasiortal" dari Lubuh terhadap beberapa diferensiasi membentuk sel tertentu yang biasanya
permintaan yang ditanggungnya. Seperti pada terdapat di tempat itu.
hipertrofi, jika keadaan yang abnormal hilang maka
sinyal agar sel berproliferasi akan berhenti, dan terjadi
regresi sehingga kembali ke kondisi yang lebih normal. Displasia
Pada contoh di atas, kelenjar mamae yang membesar
akan menyusut sampai ke ukuran yang normal setelah Displasin adalah kelainan diferensiasi sel-sel yang
berhenti meny.usui, dan kalus sedikit demi sedikit akan sedang berproliferasi, sehingga ukuran, bentuk dan
menghilang jika tidak ada lagi rangsang mekanis pada penampilan sel menjadi abnormal disertai gangguan
kulit tersebut. Sayangnya, rangsang yang menye- pengaturan dalam sel (Gbr. 8-2). Pada displasia ter-
babkan hiperplasia prostat tidak diketahui dan dapat kehilangan pengawasanpada populasi sel yang
jaringan yang berlebihan tersebut seringkali harus terserang. Displasia ringan kemungkinan besar rever-
dioperasi. sibel jika rangsang iritasi dapat dihilangkan. Namun
pada beberapa keadaan, rangsang yang mengakibat-

DIFERENSIASI ABN0RMAL: DEFINISI

Metaplasia
Sifat diferensiasi sel pada jaringan tertentu dapat juga
berubah pada keadaan abnormal. Diferensiasi adalah
proses mengkhususkan keturunan sel-sel induk yang
sedang membelah untuk melakukan tugas tertentu.
Misalnya, sel-sel yangmembelah yang terdapat pada
lapisan terdalam epidermis sedikit demi sedikit ber-
migrasi ke atas. Sewaktu melakukan ini, selmemper-
olehsifatprotektif khusus dari sel-sel epidermis bagian
luar dan menghasilkan zat protein yang dikenal
sebagai keratin. Dengan cara yang serupa, dalam
lapisan sistem pernapasan, sebagian sel epitelium Gbr, 8-1 Metaplasia skuamosa. Pada lapisan epitel serviks uteri
ini, epitel umumnya berjenis kolumnar, seperti tampak di sebelah
yang membelah berkembang menjadi sel kolumnar kanan. Sebagian besar epitelnya sudah mengalami diferensiasi
tinggi dengan silia pada permukaan sel yang meng- menjadi epitel skuamosa yang mirip epidermis (Fotomikrograf,
hadap permukaan lumen. 200x).
142 BAGIAN SATU PE N DAHULUAN PATOLOGI UMUM : ME KANISME PENYAKIT

Gbr. 8-2. Displasia dan sel-sel normal. A, Pada epitelium normal, sel-selnya tersusun sangat teratur dan lapisannya juga teratur. pada
displasia, B, terdapat perubahan morfologis yang nyata pada sel dan lapisan selnya juga terganggu (Fotomikrograf, 2O0X).

kan displasia itu tidak dapat ditemukan, dan per- yang menyebabkan neoplasma telah dihilangkan,
ubahan menjadi lebih parah secara progresif, yang neoplasma terus tumbuh dengan progresif.
akhimya berkembang menjadi penyakit ganas. Pada Istllah tumor kurang lebih merupakan sinonim dari
serviks uteri, displasia sering terjadi dan perjalanan istlla}r neoplnsmo. Sernulaistilah tumor diartikan secara
alamiahnya telah dipelajari dengan seksama. sederhana sebagai pembengkakan atau gumpalan, dan
Displasia pada serviks uteri disebut n eoplasia intraepitel kadang-kadang istilah "tumor sejati" dipakai untuk
seruiks (CIN). Displasia dapat berjalan dari ringan ke membedakan neoplasma dengan gumpalan lainnya.
sedang sampai derajatberat (CIN I ke CIN II atau CIN Neoplasma dapat dibedakan berdasarkan sifat-
III), displasia yangberat menyerupai kanker prainvasif. sifatnya; ada yang jinak, ada pula yang ganas. Knnker
Penghancuran iari pusat displasia serviks dapat adalah istilah umum yang dipakai untuk menunjuk-
mencegah perkembangan kanker invasif . kan neoplasma ganas, dan ada banyak tumor atau
neoplasma lain yang tidak bersifat kanker.

NEOPLASIA
SIFAT-SIFAT NEOPLASMA
Neoplasma, secara harafiah berarti "pertumbuhan
baru" , adalah massa abnormal dari sel-sel yang meng- Neorrlasma Jinak
alami proliferasi. Sel-sel neoplasma berasal dari sel-
sel yang sebelumnya adalah sel-sel normal, namun Neoplasma jinak (yaituL, yangbukan kanker) adalah
selama mengalami perubahan neoplastik mereka peristiwa lokal semata. Sel-sel yang berproliferasi yang
memperoleh derajat otonomi tertentu yaitu sel neo- merupakan neoplasma cenderung sangat kohesif,
plastik tumbuh dengan kecepatan yang tidak terkoor- sehingga waktu massa sel neoplastik itu tumbuh,
dinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang terjadi perluasan massa secara sentrifugal dengan
sangat tidak bergantung pada pengawasan homeo- batas yar,g sangat nyata. Karena sel-sel yang berproli-
stasis sebagianbesar sel tubuh lainnya. Pertumbuhan ferasi tidak saling meninggalkan, tepi neoplasma
sel neoplastik biasanya progresif, yaitu tidak mencapai cenderung bergerak ke luar dengan bebas sambil
keseimbangan, tetapi lebih banyak mengakibatkan mendesak jaringan yang berdekatan. Dengan demi-
penambahan massa sel yang mempunyai sifat-sifat kian, neoplasma jinak mempunyai kapsul jaringan ikat
yang sama. Neoplasma tidak melakukan tujuan yang padat yang memisahkan neoplasma dari sekeliling-
bersifat adaptasi yang menguntungkan hospes, tetapi nya. Di atas semua itu, seperti diperlihatkan dalam
lebih sering membahayakan. Akhirnya, oleh karena Gbr. 8-3A, neoplasma jinak tidak menyebar ke tempat
sifat otonom sel neoplastik, walaupun rangsengan ya,ng jauh. Laju pertumbuhan neoplasma jinak sering
Gongguon Pertumbuhon, Proliferosi, don Diferensicsi Sel BAB 8 143

Gbr. 8-3 Diagram pertumbuhan neoplasma jinak dan ganas. A, Ciri "khas" neoplasma jinak adalah kohesif , meluas secara sentrif ugal,
berbatas tegas, dan sering kali diselubungi oleh kapsul. Jaringan sekitarnya tertekan. B, Suatu neoplasma ganas kurang kohesif, batas
tidak teratur, dan menginvasi jaringan di sekitarnya. Sel-sel ganas juga mampu melakukan metastasis (panah terputus-putus).

Neoplasma Ganas
Ban-rak sifat neoplasma ganas yang sangat ber-
lawanan dengan sifat-sifat neoplasma jinak. Neo-
plasrna ganas umumnya tumbuh lebih cepat dan
hampir selalu tumbuh secara progresif, jika tidak
dibuang. Sel neoplasma ganas tidak memiliki sifat
kohesif, akibatnya pola penyebaran neoplasma ganas
sering kali sangat tidak teratur (Gbr. 8-3, B). Neoplasma
ganas cenderung tidak berkapsul, dan tidak seperti
sel jinak, biasanya tidak mudah dipisahkan dari
sekitarnya. Neoplasma ganas bersifat menyerbu
masuk ke daerah sekitar dan bukan mendesak ke
samping. Sel-sel ganas apakah dalam bentuk
kelompok, benang, atau tunggal, kelihatannya mencari
jalan melalui jaringan sekitarnya dengan cara
destruktif. Gambaran makroskopik neoplasma jinak
dan ganas dibedakan dalam Gbr. 8-4 dan Cbr. 8*5.
Sel-sel neoplasma ganas yang berproliferasi
mampu melepaskan diri dari tumor induk (tumor
primer) dan memasuki sirkulasi untuk menyebar ke
tempat lain. Jika tersangkut, sel-sel kanker embolik
semacam ini mampu keluar dari pembuluh,
Gbr. 8-4 Neoplasma jinak. Pada irisan uterus ini, separuh bagian melanjutkan proliferasi, dan membentuk tumor
kanan normal. Di sebelah kiri terdapat neoplasma jinak yang besar sekunder. Satu fokus kanker primer dapat menimbul-
(leiomioma). kan banyak fragmen embolik yang selanjutnya dapat
membentuk lusinan atau bahkan ratusan nodul
agak lamban, dan beberapa neoplasma tampaknya sekunder di tempat yang sangat jauh dari fokus primer.
tidak berubah dan kurang lebih tetap pada ukuran Proses terputusnya penyebaran neoplasma ganas
yang stabil selama berbulan-bulan atau bertahun- dtsebutmetastasis, dan anak fokus atau daerah pertum-
tahun. buhan sekunder disebut d serah metqstctsis.Jadi, untuk
144 BAG IAN SATU PENDAHU LUAN PATOLOGI U MU M : ME KAN ISME PENYAKIT

Gbr.8-5. Neoplasma ganas. Pada irisan kelenjar mamae ini, terlihat


jaringan keputih-putihan menginfiltrasi payudara ke kiri tengah. Gbr, H. Metastasis pada vertebra. Nodul keputih-putihan di dalam
Gambaran ini merupakan gambaran neoplasma ganas, terutama tulang merupakan karsinoma meiastatik yang tumbuh dari sel-sel
karsinoma. Bandingkan gambaran makroskopis neoplasma ganas yang berasal dari paru dan menyebar secara hematogen.
ini dengan neoplasma jinak pada Gbr. 8-4.

membedakan kanker atau neoplasma ganas dari yang menyebar bersama aliran limf. Pada keadaan ini, me-
bukan kanker atau neoplasma jinak dapat dilihat dari tastasis dapat diharapkan terlihat pada kelenjar getah
kemampuannya menginvasi jaringan normal dan bening regional yang menyaring limf yang keluar dari
membentuk metastasis. Neoplasma jinak tidak memi- organ tertentu. Jadi, metastasis limfogen ciari kanker
liki satu pun dari kemampuan ini. primer kelenjar mamae dapat diketahui Ci kelenjar
Metastasis dapat terjadi melalui berbagai cara. getah bening aksila, dan metastasis limfogen kanker
Invasi pembuluh darah menimbulkan metastasis primer dalam rongga mulut danat dicari pada kelenjar
hematogen dalam pola yang dapat diramalkan limfe servikal. Bersamaan dengan tumbuhnya kanker,
sebelumnya. Artinya, misalnya, jika berasal dari sel-sel ganas dapat menembus kapiler dan kelenjar
tempat primemya yaitu dalam dinding saluran cerna getah bening regional dan menyebar secara luas.
kemudian memasuki aliran vena saluran cerna, sel Lokasi metastasis yang tepat bergantung pada
kanker sangat mungkin tersangkut dalam hati, karena "kesesuaian" anttara kebutuhan metabolik sel-sel
darah vena porta harus mengalir melalui organ kanker embolik dengan lingkungan yang diberikan
tersebut sebelum kembali ke jantung. Sebaliknya, sel oleh jaringan tertentu. Metastasis dapatmenetap pada
yang secara hematogen berasal dari neoplasma ganas organ apapun dalam tubuh. Selain metastasis melalui
dalam tungkai akan mengalir melalui vena cava ke pembuluh darah dan pembuluh limfe, sel kanker dapat
jantung kanan dan kemudian ke paru, tempat fokus bermetastasis langsung melalui rongga tubuh (misal,
sekunder dapat lumbuh. Dengan cara yang sama, sel-. rongga peritoneum) dan berimplantasi pada permu-
sel ganas dapat menginvasi pembuluh limfatik dan kaan yang jauh dari rongga tersebut. Dengan cara ini,
Gongguon Pertumbuhon, Proliferosi, don Diferensiosi Sel BAB 8 145

Gbr. 8-8 Metastasis ke hati. Banyak neoplasma menyebar ke


hati, khususnya seperti pada kasus ini, berasal dari saluran cerna.
Jaringan yang keputih-putihan adalah karsinoma metastatik.

karakteristik metastasis yang menjadi penting dalam


diagnosis dan pengobatan.

INTERAKSI NEOPLASMA DENGAN


HOSPES

Akibat yang Ditimbulkan Neoplasma


Terhadap Hospes
Gbr. &7 Metastasis ke paru. Paru ini secara ekstensif diganti
(seperti paru kontralateralnya) oleh neoplasma ganas yang berasal Neoplasma memengaruhi hospes melalui berbagai
dari ginjal.
cara. Karena neoplasma jinak tidak melakukan invasi
atau metastasis, maka kesulitan yang ditimbulkan
umumnya bersifat lokal berkisar dari yang ringan
sampai yang fatal. Misalnya, tumor jinak kecil yang
neoplasma ganas yang melakukan invasi ke seluruh sangat lunak dalam jaringan ikat longgar subkutan
dinding tebal organ abdomen dapat "menyebarkan" lengan hanya menimbulkan masalah kosmetik yang
sel-sel ganas pada seluruh rongga peritoneum, ringan. Pada ujung spektrum yang lain, sebuah tumor
sehingga secara harafiah menimbulkan ratusan me- jinak yang tumbuh sempuma di daerah vital seperti
tastasis secara langsung. Dengan cara yang serupa, rongga tengkorak dapat benar-benar mematikan
jika sel ganas terbawa oleh alat pembedahan selama pasien karena terdapat penekanan pada beberapa
tindakan pembedahan, maka sel ganas tersebut dapat bagianvital otak sewaktu neoplasma tersebut tumbuh
terimplastasi pada tempat insisi, dan akhimya tumbuh secara lokal. Karena alasan-alasan itu, "jinak" tidak
menjadi fokus metastasis. Gbr. 8-6 sampai Gbr, B-8 berarti tanpa akibat.
melukiskan metastasis yang dijumpai pada autopsi. Masalah lokal yang disebabkan oleh neoplasma
Mungkin sekali, sebagian besar sel kanker yang jinak dapat menyebabkan penyumbatan berbagai
memasuki sirkulasi darah atau limfatik atau berbagai bagian tubuh. Sebuah vena atau bagian dari saluran
rongga tubuh gagal untuk dapat membentuk metasta- pencernaan dapat tersumbat oleh neoplasma jinak
sis yang tumbuh secara progresif. Hal ini sebagian yang tumbuh didalamnya. Neoplasma jinak dapat
disebabkan oleh berbagai pertahanan tubuh (yaitu, menj adi tukak dan terinfeksi, dan dap at menimbulkan
pertahanan imunologik) yang menghambat pertum- perdarahan yang berarti. Akhirnya, tumor jinak
buhan sel dan juga oleh karena di tempat yang baru mampu menimbulkan efek mencolok yang tidak
itu syarat untuk tumbuh tidak dipenuhi, sehingga bersifat mekanik, tetapi lebih berkaitan dengan sifat
tidak cocok bagi sel metastasis tersebut. Dengan dasar metabolik sel tumor itu. Misalnya, sel-sel pulau Langer-
dugaan ini banyak sel-sel kanker memiliki pola hans di pankreas dapat menimbulkan neoplasma jinak
146 BAG IAN SATU PE NDAHULUAN PATOLOGI UMUM : ME KANISME PENYAKIT

neoplasma tidak memberikan respons yang semesti-


nya terhadap sinyal homeostasis, neopla'sma pulau
Langerhans seperti ini dapat menghasilkan insulin
yang sangatberlebihan, menyebabkan kadar gula yang
rendah. Penderita neoplasma seperti ini menunjukkan
berbagai tanda dan gejala sistemik hipoglikemia.
Neoplasma ganas dapat melakukan apa pun yang
dilakukan oleh tumor jinak, tetapibiasanya jauh lebih
agresif dan destruktif oleh karena laju pertumbuhan
neoplasma ganas yang umumnya lebihcepat, kemam,
puannya untuk menginvasi dan merusak jaringan-
jaringan lokal, dan menyebar untuk membentuk me- -
tastasis yang jauh. Pasien dengan kanker stadium
lanjut sering tampak seperti menderita malnutrisi
." !. -! berat, keadaan ini disebut knkeksia tumor. Kumpulan
'\r' keadaan ini mungkin akibat efek sitokinin yang di-
{.,., ',a
hasilkan dalam tumor atau sebagai bagian dari
respons tumor. Biasanya seorang pasien dengan
Gbr. 8-9 Strukturmikroskopikneoplasma. Gumpalan-gumpalan kanker stadium lanjut yang sudah lemah ini akhimya
sel yang gelap adalah sel-sel karsinoma yang sebenarnya (yaltu, meninggal akibat pneumonia atau sepsis sistemik.
sel-sel dari klonus ganas) sedangkan jaringan sisanya adalah
stroma fibrovaskular yang disuplai oleh jaringan hospes.
Pengaruh Hospes Terhadap
Neoplasma
berdiameter beberapa milimeter yang tidak akan
pernah menimbulkan kelainan mekanik. Namun, Walaupun peristiwa pokok riwayat hidup setiap
kadang-kadang sel neoplastik seperti ini menguasai neoplasma adalah pembentukan klonus sel-sel
fungsi sel induk dan menghasilkan insulin. Karena proliferatif "yung tidak dapat dikendalikan", yffig
tidak memberikan respons terhadap sinyal-sinyal ho-
meostasis dalam tubuh, maka neoplasma yang sangat
ganas sekalipun sama sekali tidak autonom. Neo-
plasma membutuhkan suplai oksigen dan zat-zat
makanan bagi proliferasi sel-sel neoplastik, dan ini
harus disediakan oleh tubuh. Sel-sel neoplastik itu
mampu memengaruhi jaringan non-neoplastik di
dekatnya guna menghantarkan makanan untuk sel-
sel tumor tersebut. Jadi, kerangka kerja pendukung
ataLt stroma neoplasma tidak hanya berupa jaringan
ikat fibrosa tetapi juga banyak sekali pembuluh darah
berdinding tipis, dan bercabang-cabang halus (Gbr.
8-9). Sel-sel jaringan ikat dan pembuluh-pembuluh
darah sebenarnya bukan merupakan bagian klonus
sel-selneoplastik, tetapi merupakan sel-sel hospes non-
neoplastik yang proliferasinya dirangsang oleh zat-
zat y ang dikeluarkan oleh sel-sel tumor.
Berbagai proses dalam tubuh dapat mengatur
pertumbuhan sel neoplastik dan berakibat sebagai
pertahanan antineoplastik. Banyak sel neoplastik
merupakan antigen yang cukup berbeda dengan sel
hospes normal, sehingga tubuh mengerahkan reaksi
Gbr. 8-10 Adenokarsinoma berdiferensiasi baik. Karsinoma koion imunologik untuk melawan neoplasma itu. Walaupun
ini menyerupai jaringan induk yang membentuk kelenjar-kelenjar
yang dapat dikenali dengan mudah (lihat Gbr. 6-3);jadi, merupakan terdapat pertahanan imunologik seperti ini, tetapi
jenis yang "berdiferensiasi baik". (Fotomikrograf, 200X). sampai sekarang, tingkat pengetahuan tentang perta-
Gongguon Pertumbuhon, Prolifercsi, dcn Diferensiosi Sel BAB I 147

hanan imunologik belum memungkinkan peng- kemiripannya dengan jaringan normal. Jika secara
gunaan tindakan imunoterapeutik secara rutin dan mikroskopik sel-sei lumor dengan sel leluhurhya yang
luas. Telah ada pengobatan imunologik terhadap normal sangat mirip, neoplasma itu sering disebut
neoplasma tertentu yang cukup memberikan harapan, berdiferensiasi bnik (Gbr. 8-10). Jika kemiripan sel
dan keadaan imunologik hospes dipertimbangkan neoplasma dengan leluhur mereka itu sangat sedikit,
juga dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai sehingga tumor tersebut sebagian besar terdiri dari
cara pengobatan antineoplastik, dan bahkan dengan unsur-unsLlr berproliferatif yang tidak spesifik, maka
memanipulasi sistem imun untuk menekan pertum- neoplasma ini sering diberi istilah berdiferensiasi burtLk,
buhan neoplastik. tidnk berdiferensiasi, atau anaplasflk. Neoplasma pada
Gbr. 8-9 berdiferensiasi buruk. Tingkat diferensiasi
dapat dinyatakan dalam struktur setiap sel, dalam
beberapa hasil produksi sel seperti musin atau kera-
STRUKTUR NEOPLASMA tin, atau dalam susunan sel neoplastik dalam
hubungannya satu dengan lainnya. Jadi, neoplasma
Neoplasma terdiri dari sel neoplastik yang berproli- berdiferensiasi baik yang berasal dari epitel kelenjar
ferasi dan berhubungan dengan sistem penyokong yang menghasilkan musin dapat tersusun dari sel-sel
yang disebutstroma.Pengaturan sel tumor dan stroma tumor yang secara individual menyerupai jaringan
sangat berbeda antara neoplasma, dengan unsur- kelenjar yang non-neoplastik, tersusun dalam pola
unsur stroma yang dalam kenyataannya relatif tubuli atau kelenjar seperti jaringan induk dan dapat
seimbang, sehingga dapat memberi sifat tersendiri memperlihatkan adanya sekresi musin. Tumor
pada neoplasma. Tumor yang sangat keras mengan- anaplastik yang berasal dari jaringan seperti ini
dung stroma fibrosa yang sangat padat dan kadang- mungkin tidak mempunyai kemiripan dengan setiap
kadang diseb rt terdiri
scirrhous. Tumor yang terutama sel, mungkin tidak mempunyai susunan kelenjar, atau
dari sel-sel neoplastik dengan stroma yang relatif mungkin tidak menunjukkan adanya sekresi musin.
sedikit akan bersifat jauh lebih lunak dan kadang- Umumnya, neoplasma jinak berdiferensiasi baik;
kadang disebut medu laris. sangat menyerupai jaringan induk. Diferensiasi
Karena berasal dari populasi sel yang sebelumnya neoplasma ganas menduduki spektrum yang lebih
normal, sel neoplastik secara metabolik dan lebar. Banyak kanker destruktif yang sangat agresif
mikroskopik dapat memiliki banyak sifat populasi sel berdiferensiasi buruk atau secara mikroskopik bersifat
normal. Akan tetapi tumor berbeda dalam derajat anaplastik, tetapi pada beberapa keadaan, neoplasma

"'*-".*%=*t'{ ffil,l',lt:*
:::::: ',,..t?tw?j
-)
l.

#,)
} NL

'8*
iWhL *, #
Gbr. 8-11 Seljinak dan sel ganas pada pulasan sitologik vagina. Pada A, sel-sel jinak. Ratio intiterhadap sitoplasma kecil dan inti-intinya
teratur. Pada B, diambil dari penderita karsinoma serviks uteri, ratio inti terhadap sitoplasma bertambah dan inti-intinya tidak teratur;
gambaran ini menunjukkan keganasan. (Fotomikrograf, 800X.)
148 BAG IAN sATu PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

yangberdiferensiasi baik pun dapat bertindak seperti asal neoplasma. Pengalaman selama bertahun-tahun
neoplasma ganas. menunjukkan bahwa tumor dengan penampilan sel-
Pada banyak kasus neoplasma ganas, masing- sel tertentu, tingkat diferensiasi tertentu, tersusun
masing sel menunjukkan kelainan morfologis yang dengan cara tertentu, dan berasal dari organ tertentu
kelihatannya mencerminkan potensi sel ganas. Banyak akan bersifat sesuai dengan derajat yang sudah
sel kanker mempunyai perbandingan volume nukleus diramalkan. Hal ini memungkinkan regu kesehatan
terhadap volume sitoplasina yang sudah berubah, merencanakan pengobatan yang didasarkan atas
bentuknukleus yang tidak teratur, danpola kromatin pengetahuan tentang apa yang sudah terjadi pada
yang tidak teratur. Setiap manifestasi sitologi banyak penderita neoplasma yang serupa di masa
keganasan ini adalah dasar pemeriksaan sitopato- yang silam.
logis, yang merupakan pemeriksaan setiap sel yang Klasifikasi seperti ini menggunakan sistem pem-
sudah mengelupas atau terlepas dari permukaan berian nama yang berperan seperti sejenis steno,-
jaringan dan bercampur dengan sekret yang mem- keterangan yang banyak ini disingkat menjadi istilah
basahi jaringan itu atau yang telah tersapu dari yang relatif pendek. Seluruh sistem tata nama tumor
permukaan tumor atau teraspirasi dari massa melalui tidak akan dibicarakan sekarang, akan tetapi beberapa
jarum halus. Pemeriksaan Pap smear, dinamakan generalisasi akan dibahas sebagai dasar untuk
menurut penemu metode ini, George Papanicolaou, pembahasan selanjutnya. lnformasi spesifik yang lebih
adalah pulasan yang dibuat dari sediaan mukus banyak akan diberikan pada bab-bab selanjutnya.
servikovaginal. Bahan untuk pemeriksaan sitologi Banyak neoplasma berasal dari epitel yang
sering dapat diperoleh dengan menimbulkan sedikit merupakan sel-sel yang menutupi permukaan, Img
rasa tidak enak pada penderita dan hasihrya akan melapisi organ-organ dan membentuk berbagai
dapat memberikan informasi diagnostik yang sangat kelenjar. Kata dasar a deno-digunakan untuk menyata-
berharga, jika ditemukan sel-sel yang ganas secara kan sel yang berasal dari kelenjar. .\khiran -oma
morfologis pada pulasan itu. Gbr. 8-11 memberi menyatakan neoplasma (dengan beberapa penge-
ilustrasi sel-sel jinak daa sel-sel ganas pada pulasan cualian). Jadi, dalam sistem tata nama yang sering
sitologi. Sel displastik pun dapat diidentifikasikan digunakan, adenoma adalah neoplasma jinak yang
dengan Pap smear. berasal dari epitel kelenjar. Contoh neoplasma seperti
ini adalah adenoma dari kelenjar tiroid, kelenjar adre-
nal, atau dari lapisan epitel kelenjar dalam saluran
pencernaan. Pada neoplasma yang berasal dan
KLASIFIKASI DAN TATA NAMA terbentuk dari lapisan epitel, kadang-kadang hanya
sedikit menggunakan istilah topografis khusus. Jadi,
NEOPLASMA adenoma epitel lapisan kolon yang menonjol dalam
lumen baik yang mempunyai alas lebar atau yang
Klasifikasi neoplasma membantu meramalkan menggantung pada "tangkai" dalam lumen, sering
kemungkinan penyebab penyakit pada pasien tertentu disebut sebagai polip. Suatu pertumbuhan yang
dan karena itu dapat membantu merencanakan cara menonjol seperti jari-jari dalam lumen organ, sering
pengobatan yang rasional. Klasifikasi neoplasma yang disebul papiloma. Akan tetapi, istilah-istilah topografis
saat ini sering digunakan memakai berbagai kriteria, ini tidak terbatas ha4ya dalam penggunaan ini,
yang paling penting adalah perbedaan antara sifat sehingga misalnya, polip hidung yang sering
biologis neoplasma jinak dan ganas. Neoplasma ditemukan, sama sekali bukan neoplasma melainkan
tertentu yang sudah menginvasi jaringan non- lipatan polipoid mukosa hidung yang membengkak.
neoplastik yang berdekatan atau sudah menimbulkan Neoplasma ganas yang berasal dari epitel disebut
metastasis, jelas bersifat ganas. Akan tetapi, walaupun karsinoma. Berbagai awalan dan kata sifat dapat
tidak terdapat invasi atau metastasis yang sudah ditambahkan kemudian pada nama tersebut. Suatu
ditentukan, ahli patologi dapat mengklasifikasikan keganasan dari epitel kelenjar disebu t adenoknrsinoma,
neoplasma bersifat ganas jika potensi sifat ganas dapat sedangkan neoplasma ganas yang berasal dari epitel
diramalkan. Artinya, neoplasma tertentu dinamakan skuamosa disebut karsinoma sel skuamosa. Sebutan
ganas berdasarkan gambaran mikroskopiknya semata, neoplasma dapat juga mencakup beberapa komentar
jika pengalaman menunjukkan bahwa neoplasma tentang tingkat diferensiasi, contohnya, "adenokarsi-
sejenis ini akan menginvasi dan bermetastasis jika noma pembentuk musin yang berdiferensiasi baik"
tidak diobati. Bagian lain dari klasifikasi memper- atau "karsinoma sel skuamosa yang membentuk kera-
hitungkan jenis sel asal dari neoplasma dan organ tin dan berdiferensiasi baik". Selain itu, dapat
Gongguon Pertumbuhon, Proliferosi, don Diferensiosi Sel BAB 8 149

rAEft. 8:,1 :;,::::tt.i

Klasifikasi Neoplasma
Sel atau Jaringan Asal Jinak Ganas

Epitel-berlapis, skuamosa Papiloma skuamosa Karsinoma sel skuamosa (karsinoma epidermoiC)


Kelenjar (melapisi ruang berisi cairan) Adenoma (kistadenoma) Adenokarsinoma (kistadenokarsinoma)
Melanosit Nevus Melanoma
Jaringan ikat
Fibrosa Fibroma Fibrosarkoma
Adiposa Lipoma Liposarkoma
Tulang rawan Kondroma Kondrosarkoma
Tulang Osteoma Osteosarkoma
Otot
Polos Leiomioma Leiomiosarkoma
Lurik Rhabdomioma Rhabdomiosarkoma
Endotel
Pembuluh darah Hemangioma Hemangiosarkoma
Limfatik Limfangioma Limfangiosarkoma
Jaringan sara{
Selubung saraf Neurofibroma rkoma
N e u rof ib rosa
$el glia Glioma, glioblastoma
Meningen Meningioma
Jaringan limfoid/sumsum tulang
Jaringan limf oid hematopoietik
Jaringan limfoid Limtoma, penyakit Hodgkin
Leukemia limfositik
Plasmasitoma (mieloma multipel)
Sumsum tulang Granulositik (mielogenosa, monositik,
eritroleukemia, polisitemia rubra vera)
Jaringan germinal Teratoma Teratoma maligna, teratokarsinoma, seminoma,
karsinoma embrional

digunakan gambaran topografis seperti "adenokarsi- sinonim dengan limfoma maligna. Limfoma dapat
noma papilaris" atau "karsinoma fungus" (artinya berasal dari setiap kelenjar limfe yang terletak di mana
membentuk jamur) untuk karsinoma yang lesinya saja dalam tubuh, sehingga bukan saja berasal dari
menonjol. kelenjar getah bening dan limpa tetapi dapat juga
Neoplasma yang berasal dari jaringan penyokong berasal dari sel-sel limfoid sebiap organ. Limfoma dapat
tubuh dinamakan menlrrut jenis asal jaringan. Jadi, menyerang sumsum tulang secara luas, dan sel
neoplasma jinak dari jaringan fibrosa dinamakanf- limfoma bersirkulasi bersama darah dalam jumlah
bro ma, neoplasma jinak dari tulang d inamakan o steoma, yang besar, dan menimbulkan leukemia pada banyak
neoplasma jinak dari tulang rawan disebut kondroms. pasien. Istilah leukemin secara harafiah berarti "darah
Suatu neoplasma ganas yang berasal dari jaringan putih" dan tidak hanya menyinggung keganasan
penyokong dinamakan sarkoma. Jenis jaringan asal limfoid, tetapi juga keganasan sel-sel sumsum tulang
dipakai sebagai awalan pada istilah ini. jadi sebuah dengan unsur-unsrlr ganas dalam sirkulasi. Tata nama
neoplasma ganas yang berasal dari jaringan fibrosa leukemia dan limfoma akan dibahas dengan lebih
adalah fibrosarkoms, yang berasal dari tulang adalah lengkap pada Bagian Tiga.
ostelsarkoma, dan yang berasal dari tulang rawan Banyak nama khusus digunakan untuk neoplasma
adalah kondrosnrkoms. yang berasal dari tempat-tempat khas dan dari
Neoplasma yang berasal dari jaringan limfoid jaringan-jaringan khusus tertentu. jadi, glioma berasal
dinamakan limfomn. Neoplasma seperti ini umumnya dari sel-sel penyokong glia dalam sustman saraf pusat,
bersifat ganas, sehingga istilah limfoma umumnya mesotelioma berasal dari sel lapisan rongga-rongga
150 BAGIAN sATU PENDAHULUANPATOLOGIUMUM: MEKANISMEPENYAKIT

FpKor pertumbuhan
tubuh, retinoblastoma berasal dari dalam mata, dan
sebagainya. Suatu ringkasan sederhana dari klasifi kasi Reseptor permukaan sel
neoplasma disajikan dalam Tabel 8-1.
Transduksi sinyal

FaKor transkripsi nuklear

KARSINOGENESIS Hasil gen

t-=.- , Go
Dalam kondisi normal, pembelahan, proliferasi, dan
diferensiasi sel dikontrol secara ketat. Terdapat kese-
ll
imbangan antara proliferasi dan kematian sel, dan
-'\
, Titik
pembelahan selular hanya diaktifkan bila sel mati atau Titik : pemeriksaan G1
'
:

kebuLLrhan fisiologik memerlukan lebihbanyak sel jenis pemeriksaan M2 G1 -"


tertenLr-r (misalnya, pada infeksi akut, dibuturhkan lebih Tltik restriksi
banyak perkembangan leukosit). Sistem sinyal /\ """4"^
interselular khusus berfungsi untuk meregulasi repli-
kasi sel-sel seseorang dalam tr.rbuh. Proliferasi sel seba-
G2
\./
gian besar dikontrol oleh faktor kimia dalam lingkung-
S
an, yang dapat meningkatkan pertumbuhan jaringan
tertentu dan secara bersamaan menghambat pertum-
buhan sel lain yang tidak diinginkan. Satu golongan
protein yaitu faktor pertumbuhan yang pertama kali Gbr. 8-12 Siklus replikasi sel dimulai dalam fase G1 (gap 1)
diperkenalkan sebagai contoh jalur sinyal transduksi setelah sel dalam keadaan tidak aktif (Go) merespons terhadap
adalah penting untuk meningkatkan atau menahan rangsangan tertentu dan berkembang melalui fase S (sintesis),
pembelahan sel. Faktor pertumbuhan bekerja sebagai- G2 (gap 2) dan M (mitosis). Titik pengawasan mengontrol pesanan
dan waktu transisi siklus sel dan dapat menahan siklus sel dalam
mana nama yang diberikan; faktor tersebut merang- merespons terhadap deteksi kerusakan DNA.
sang mitosis seiular sehingga jaringan tumbuh. Jenis
sel-sel yang berlainan menyekresikan berbagai faktor
pertr-rmbuhan. Sebagai contoh, sel-sel kulit menyekresi-
kan apa yang disebut faktor pertumbuhan epidermal (Gbr. 8-12). Siklus sel dapat ditetapkan sebagai
(EGF). Faktor pertumbuhan fibroblas (FGF) mening- duplikasi komponen intraseluler yang lebih awal,
katkan mitosis sel jaringan ikat yang disebut fibrosit termasuk sel genom (DNA), diikuti dengan pembe-
(sel yang membuat kolagen dan protein jaringan ikat lahan sel menjadi dua. Siklus sel tersebut dibagi
lain) dan sel endotelial. Faktor pertumbuhan yang menjadi empat fase: G1 (gap7), S (sintesis), G2(gap2),
berasal dari trombosit (PDGF) mengaktifkan fibroblas dan M (mitosis). Sel tidak aktif yang terdapat dalam
dalam daerah luka, tempat trombosit akan ditemukan keadaan tidak membelah disebut Go. Beberapa sel
sebagai akibat trauma pembuiuh darah. sering membelah (sel labil, seperti sel epidermal kulit
dan usus); sel yang lain jarang membeiah (sel stabil,
seperti sel parenkim organ glandula), sedangkan sel
Pengaturan Replikasi Sel permanen tidak pernah membelah sejak terbentuk
(misalnya, nellron CNS atau otot jantung). Selama
Dalam kondisi fisiologis normal, mekanisme sinyal siklus sel G1, disintesis enzim dan zat untuk replikasi
sel yang memulai proliferasi sel dapat dibagi menjadi DNA. Selama siklus sel fase S, terjadi sintesis DNA,
langkah-langkah sebagai berikut: (1) satu molekul, menghasilkan kromosom yang telah bereplikasi.
sering sebagai sat:u fnktor pertumbuhan, terikat pada Peristiwa ini dipicu oleh sel-sel yang bersangkutan,
reseptor khtrsus pada permukaan seli (2) reseptorfaktor yang kelihatannya kadang-kadang untuk mengeva-
pertumbuhnn diaktifkan yang sebaliknya mengaktifkan luasi sel-sel itu sendiri dalam fase C1 (titik restriksi
beberapa protein transduser; (3) sinyal ditansmisikan G1) dan r-rntuk menentukan apakah sel-sel tersebut
melewati sitosol melafui second messenger menuju inti memiliki sumber untuk membelah. Sekali dimulai,
sel; (4) fnkt o r tr anskrip si int i y ang rnemulai pengaktif an proses pembelahanini tidak dapat mundur; sel tersebut
transkripsi asam deoksiribonukleat (DNA). sudah mulai membelah. Sintesis asam ribonukleat
Ketika keadaan menguntungkan untuk pertum- (RNA) dan protein dibubuhkan untuk terjadinya mito-
buhan sel, sel terus melalui fase siklus replikasi sel sis selama fase G2 bersiap untuk mitosis. Titik
Gongguon Perfumbuhon, Proliferosi, don Diferensiosi Sel BAB I r5l

pemeriksaan penting untuk mengontrol mekanisme


muncul lebih lanjut dalam G1 dekat dengan titik
restriksi dan pada batas G2lM yang dapat menahan
siklus sel bila terdeteksi kerusakan DNA. Setelah Mutasi diturunkan
menyelesaikan titik pemeriksaan ini, bila semuanya dalam:
dalam keadaanbaik, mitosis atau fase pembelahan sel o Gen-gen yang
menyerang
dimulai dan diakhiri dengan hasil dua sel anak. perbaikan DNA
Siklus replikasi sel dan pengaturannya telah men- o Gen yang
menyerang sel
jadi subjek studi terus menerus selama tahun-tahun pertumbuhan
terakhir karena kepentingannya dalam memahami atau apoptosis
Bukti-
karsinogenesis (proses perkembangan kanker).
bukti yang meningkat menyatakan bahwa kanker
adalah gangguan genetik, walaupun kebanyakan Mengaktifan N4enonaktifkan
gen supresor
onkogen yang
kanker tidak diturunkan. Proses dasar yang sering meningkatkan kanker
terdapat pada semua neoplasma adalah perubahan pertumbuhan

gen yang disebabkan oleh mutasi pada sel somatik.


Bukti terbam unhrk dasar kanker secara genelikberasal
dari penelitian bahwa banyak agen seperti radiasi, Mernperlihatkan hasil gen
yang sudah diganti dan hasil
kimia tertentu, dan virus-virus (karsinogen) mampu gen pengatur yang hilang
memulai kanker pada binatang percobaan jika diberi-
kan secara tepat. Apa yang sering dimiliki oleh karsi- Peluasan salinan
nogen adalah mutagenik (yaitu, mampu menyebabkan
mutasi genetik). Lebih jelas lagi dalam sebagianbesar
t
Mutasi tambahan (progresif)
kanker yang sangat luas, mungkin pada semua kanker,
terdapat mutasi (misalnya, perubahan dalam
t
Heterogeniti
rangkaian nukleotida DNA) dan menyebabkan
keadaan yang gawat. Transformasi sel (mutasi)
menghasilkan klon keganasan yang tidak tahan lama
dalam merespons pengaturan normal mekanisme dan Gbr. 8-13 Diagram yang rhenggambarkan Skema dari molekul
memulai proliferasi tanpa memperhalikan kebutuhan dasar kanker yang sudah disederhanakan. (Digambar ulang dari
tubuh. Cotran RS, Kumar V, Collins T
Robbin's pathologic basic of
Telah diidentifikasi empat golongan gen yang disease, ed 6, Philadelphia, 1999, WB Saunders.)
memainkan peranan penting dalam mengatur sinyal
mekanisme faktor pertumbuhan dan siklus sel itu
sendiri, termasuk protoonkogen, gen supresi tumor, dalam jumlah yang terbatas. Kira-kira diketahui 100
gen yang mengatur apoptosis, dan gen yang memper- onko gen yang telah dikenali. Ke tika bermu tasi menjadi
baiki DNA. Mutasi tersebut dalam gen pengaturan ini onkogen karsinogenik,protoonkogen normal menjadi
bertanggung jawab terhadap patogenesis kanker yang "aktif" dan mengakibatkan multiplikasi sel yang
sekarang merupakan fakta yang sudah diketahui berlebihan. Istilahonkogen berasal dari bahasa Yunani
dengan baik walaupun tidak semua seluk beluk dike- onc o s y angberar ti tumor.
tahui. Gbr. 8 -13 memberikan suatu pandangan dari Kode protoonkogen untuk protein terlibat dalam
interaksi gen-gen ini dalam patogenesis kanker. proliferasi yang diaktifkan oleh reseptor dan jalur
diferensiasi seperti yang telah disebutkan sebelumnya,
termasuk juga faktor pertumbuhan, reseptor faktor
Protoonkogen dan Onkogen pertumbuhan, protein yang terlibat dalam sinyal
transduksi, protein pengaturan inti, dan pengaturan
Protoonkogen adalah gen selular yangberfungsi unbuk siklus sel. Protoonkogen yang mengkode berbagai
mendorong dan meningkatkan pertumbuhan normal komponen dalam aliran tersebut dapat bermutasi
dan pembelahan sel. Gen tersebut ditunjukkan oleh menjadi onkogen (menghasilkan onkoprotein yang
tiga nama huruf seperti ctnyc atau erb-87. Sel yang abnormal) yang tetap mengaktifkan jalur itu secara
memperlihatkan bentuk mutasi dari gen ini disebut terus-menerus ketika sebaliknya alirannya berhenti.
onkogen dan memiliki kemungkinan yang besar unbuk Onkoprotein abnormal t yang menyerupai produk
berkembang menjadi ganas setelah pembelahan sel onkogen normal tanp a elemen penga turan penting d an
152 BAG IAN sATU PENDAHULUAN PATOLOGI UMUM: MEKANISME PENYAKIT

produksinya tidak bergantung pada faktor pertum- kan jukstaposisi gen yang normalnya berjauhan
buhan atau sinyal ekstemal lain. Dapat mengakibatkan satu dengan yang lain. Pertumbuhari dan diferen-
produksi yang berlebihan dari faktor pertumbuhan, siasi sel berjalan normal jika protoonkogen yang
membanjiri sel tersebut dengan sinyal replikasi, berdekatan berfungsi bersamaan dalam cara yang
stimulasi jalur intermedial yang tidak terkontrol, atau biasa namun mungkin dapat disusun kembali jika
menggerakkan faktor perlumbuhan yang tidak terken- hubungan ini terganggu. Translokasi dapat
dali dengan meningkatkan kadar faktor transkripsi. membawa protoonkogen ke tempat kromosom lain
Selain itu, mutasi siklin dan kinase bergantung siklin yang merangsang fungsinya. Secara bergantiary
(CDK), yang secara normal berkembang melalui siklus translokasi dapat membawa gen ke tempat baru
replikasi sel dapat menyebabkan disregulasi. yang bebas dari gen-gen inhibitor yang lebih dulu
Selain ciri khas fungsional onkogen yang telah mengontrol fungsinya. Kromosom Philadelphia
disebutkan, onkogen juga memperlihatkan fenotip yang merupakan ciri khas dari leukemia mielo-
dominan pada tingkat selular, dengan hanya satu genosa kronik adalah contoh prototip suatu
salinan onkogen aktif yang cukup unh-rk menghasilkan onkogen yang terbentuk dari penyatuan dua gen
efek karsinogenik. Onkogen dapat dipindahkan dari yang terpisah. Pada kasus ini, kromosom 9 rusak
generasi ke generasi jika mutasi protoonkogen dalam pada bagian gen yang disebut abl, kemudian dikirim
satu garis kuman. Tindakan iniberakibat diturunkan ke poin yang rusak pada kromosom 22 yang berisi
secara dominan seb agai pr e disp o sisi kanker. Biasanya gen bcr sehingga gen nbl dan bcr bersatu. Contoh
lebih dari satu mutasi pada kelompok gen ini diperlu- yang lain adalah translokasi gerr c-myc, yang
kan untuk mengubah suatu garis sel normal menjadi normalnya pada kromosom 8 menuju kromosom
Lumor atau neoplasma. 14 yang diikuti dengan gen imunoglobulin (Ig). Gen
Protoonkogen dapat diubah menjadi onkogen Ig tersebut meningkatkan aktivitas gerr c-myc yang
dengan empat mekanisme dasar: mutasi point, ampli- akhirnya menyebabkan limfoma Burkitt.
fikasi gen, pengaturan kembali kromosom, dan insersi 4. Insersi genom airus. Insersi genom virus ke dalam
genom virus. Mutasi ini menyebabkan perubahan genom'sel hospes menyebabkan kekacauan
struktur gen, menyebabkan sintesis produksi gen ab- struklur kromosom nornal dan disregulasi genetik.
normal (onkoprotein) dengan fungsi yang berbeda, Banyak virus telah diketahui bersifat onkogenik
atau perubahan dalam pengaturan ekspresi gen, pada hewan. Beberapa jenis virus, kebanyakan
menyebabkan sekresi yang tidak adekuat atau pening- dalam bentuk vims DNA telah terlibat dalam
katan protein yang meningkatkan pertumbuhan nor- menyebabkan kanker pada manusia. HPV khusus-
mal secara struktural. nya tipe 16 dan 18 yang ditularkan melalui
1. Mutnsi poin.Mekanisme ini melibatkan substitusi hubungan seksual memiliki hubungan dengan
berdasar tunggal dalam rantai DNA yang meng- kanker serviks uterus. Hepatitis B dan C (HBV dan
akibatkan kesalahan mengkode protein yang HCV) memiliki hubungan dengan karsinoma
memiliki satu asam amino substitusi unbuk yang hepatoselular. Virus Epstein-Barr (EBV) terlibat
lain. Mutasi poin telah terdapat dalam proporsi dalam patogenesis empat jenis kanker: linfoma
tumor pemb aw a ger. r as yang besar, termasuk karsi- Burkitt, limfoma sel-B, karsinoma nasofaringeal,
noma kolon, pankreas, dan tiroid. Protein ras danbeberapa kasus limfoma Hodgkin. Hanya satu
normal terlibat dalam pengatnran jalur transduksi tipe virus RNA yaiftr virus leukemia T-selmanusia
sinyal sitosol dan dalam pengaturan siklus sel. tipe 1 (HTLV-1) yang benar-benar sering terlibat
2. Amplifiknsi gen. Mekanisme ini menyebabkan sel dalam menyebabkan bentuk limfoma atau leuke-
memerlukan peningkatan jumlah salinan mia sel-T diJepang.
protoonkogen yang menyebabkan ekspresi ber-
lebihan dari hasil produksinya. Dua contoh yang
menarik adalah neuroblastoma yaitu sel-sel tumor
Gen-Gen Supresor Tumor
yang berisi banyak salinan gen N-myc dan pada
beberapa kanker payudara dengan banyak salinan Kebalikan dari protein pengubah protoonkogen yang
gen c-erb-U2. Lebih banyak salinan gen yang meningkatkan perbumbuhan sel, gen-gen supresor tu-
terdapat dalam sel, lebih ganas tumomya dan lebih mor menghambat atau "mengambil kerusakan" pada
buruk prognosisnya. pertumbuhan sel dan siklus pembelahan. Nama jenis
3. Pengatursn kembali kromosomal. Translokasi satu gen-gen ini kadang-kadang menyesatkan karena fungsi
fragmen kromosom ke kromosom lainnya, atau normalnya untuk mengatur pertumbuhan sel dan
penghapusan satu fragmen kromosom, menyebab- bukan untuk mencegah pembentukan tumor. Satu
Gongguon Pertumbuhon, Proliferosi, don Diferensiosi Sel BAB I 153

manifestasi penghambat dalam biakan sel-sel normal (lihat Gbr. 8-12) disebut msster brslce. Pada titik
di laboratorium adalah p enghambnt konfck. Sel-sel nor- pemeriksaan ini, sel tersebut bekerja untuk replikasi
mal berhenti bereplikasi ketika kontak dengan sel-sel DNA lain atau untuk periode yang tidak aktif atau
lain, umumnya membentuk satu lapisan ketika diferensiasi (atau keduanya), bergantr.rng pada kese-
tumbuh dalam biakan piring. Sebaliknya, sel-sel imbangan antara peningkatan pertumbuhan dan
kanker terus tumbuh dan terakumulasi pada bagian hambatan sinyal. Perkernbangan dalam siklus sel
atas setelah membentuk satu lapisan yang menyatu. diperantarai oleh berbagai siklin, yang dikombinasi
Dengan kata lain, sel kanker menjadi autonom, gagal dengan kinase bergantung-sikiin (CDK). Protein pRb
untuk merespons pertumbuhan normal dan sinyal dapat menghambat pembelahan sel dengan mengikat
penghambat dalam komunitas sel. faktor transkripsi, mencegahnya dari kanskripsi faktor
Mutasi pada gen supresor tumor menyebabkan sel pertumbuhan. Satu mutasi gen Rb yang tidak aktif
mengabaikan satu atau lebih komponen jaringan sinyal memindahkan salah satu dari kendali Lltama
penghambat, memindahkan kerusakan dari siklus sel pembelahan sel. Mutasi gen Rb ini ditemukan dalam
dan menyebabkan angka yang tinggi dari pertum- tulang, kandung kemih, sel kecil kanker paru, dan
buhan yang tidak ierkontrol-kanker. Pada cara yang kanker payudara, serta retinoblastoma. Cen yang
menyerupai onkogen, hasil protein dari gen supresor mengatur pengontrolan siklus sel seringkali
fumorberhrngsi dalam semua bagian sel, pada permu- mengacaukan sel kanker.
kaan sel, dalam sitoplasma, dan nukleus. Jika gen Rb adalahmsster brnke darr siklus sel, maka
Gen supresor tumor ditetapkan oleh pengaruh gen TP53 (yang mengkode untuk protein p53) adalah
yang kuat dari tidak adanya gen dan kecenderungan emergency brnke. Protein p53 diketahui sebagai penjaga
menjadi resesif. Kedua alel normal harus bermutasi titik pemeriksaan G1-S namun biasanya tidak dalam
sebelum tr,rmbuh berkembang menjadi ganas. Jadi, neo- perjalanan replikasi sel normal. Tapi bila terjadi
plasia adalah akibat dari hilangnya fungsi kedua gen kerusakan DNA, p53 akan memengaruhi transkripsi
slrpresor tumor. Hilang atau tidak aktifnya gen untuk menghentikan siklus sel (melalui ekspresi p21,
sllpresor normal dapat diperoleh secara somatik dalam suatu penghambat CDK) dan memberikan sinyal
satu salinan sel atau secara langsung terdapat dalam kepada gen perbaikan DNA untuk memperbaiki
garis germinal. Hipotesis menlrnjukkan bahwa kerusakan. Jika kerusakan terlalu berat, maka p53
perkembangan neoplasma membutuhkan dua merangsang apoptosis (kematian atau bunuh diri sel)
kejadian mutasi yang terpisah. Salah satu kejadian yang terprogram. Jika gen supresor tumor TP53
dapat terjadi dalam garis germinal dan dapat dinonatifkan oleh suatu mutasi, maka pertahanan
diturunkan; yang lainnya muncul secara somatik. utama yang melawan propagasi sel dengan merusak
Secara bergantian, dua kejadian mutasi dapat terjadi DNA (menyebabkan satu salinan ganas) akan hilang.
hanya dalam sel somatik yang bersangkutan. "Dua Kira-kira 50% kanker pada manusia berkaitan dengan
benturan hipotesis" ini telah membantu dalam mutasi TP53 termasr-rk kanker payudara, kolon, paru,
menjelaskan riwayat asal retinoblastoma dan telah kandung kemih dan kulit. Fungsi TP53 jr-rga penting
meluas ke neoplasma yang lain. dalam banyak pengobatan kanker yang membunuh
Gen Rb adalah gen supresor tumor yang pertama sel. Radiasi dan kemoterapi sebagian bekerja dengan
kali ditemukan. Retinoblastoma adalah tumor ganas memicu apoptosis sebagai respons terhadap keru-
mata pada anak-anak yang timbul secara herediter dan sakan DNA. Respons terhadap terapi yang berhasil
dalam benhrk sporadik. Bentuk herediter ini memper- ini sangat menurun pada keganasan yang TP53-nya
lihatkan hilangnya segmen lengan panjang kromosom merupakan mutan, membuatnya sulit diobati.
13 tempat gen Rb berada. Jika hanya satu salinan yang Contoh lain gen supresor tumor adalah BRCA1 dan
hilang, pertumbuhan sel masih normal, bersandar BRCA2 yang berkaitan dengan kanker payudara dan
pada saiinan gen yang masih bertahan. Bila sisa ovarinm. Gen APC berhubungan dengan poliposis
salinan ini mengalami mutasi atau hilang, maka tumor adenomatosa familial kolon dan gen NF1 berhubungan
akan muncul pada retina, menyebabkan kebutaan dengan neurofibromatosis.
pada kedua mata. Pada retinoblastoma sporadik, anak
tersebut akan lahir dengan dua alel normal. Namun,
bila kedua alel mengalami mutasi karena beberapa
faktor eksogen dan kedua gen Rb hilang, retinoblas- Gen-Gen yang Mengatur Apoptosis
toma akan muncul. Tumor ini biasanya unilateral.
Kode gen Rb unhrk protein pRb penting untuk Apoptosis (lihat Bab 3), atau kematian sel terprogram,
mengontrol siklus sel pada titik pemeriksaan G1-S adalah suatu proses aktif menyingkirkan sel-sel dari
154 BAGIAX SATU PE NDAHULUAN PATOLOGI UMUM : MEKANISME PENYAKIT

Telomer

Telomer

Telomer

Gbr. 8-14 Ujung penutup kromosom disebuttelomer (analog dengan ujung plastik pada tali sepatu). Padasebagian besar sel somatik,
telomer menjadi lebih pendek dengan setiap replikasi sel hingga tercapai panjang kritis yang menginduksi senescence rcplikatif . Sebagian
besar sel kanker menyekresi telomerase yang dapat memulihkan panjang telomer dan memungkinkannya untuk bereplikasi secara tidak
terbatas.

organisme. Seperti pertumbuhan dan diferensiasi sel, dalam menentukan apakah sei akan merespons
apoptosis juga membutuhkan pengatlrran yang terhadap rangsangan apoptotik.
terkoordinasi dan aktif dengan gen-gen khustrs. Telah
ditemukan keluarga besar gen yang mengatur
apoptosis. Beberapa dari gen ini menghambat apop- Gen-Gen Perbaikan DNA
tosis, mirip dengan gen bcl-2, sedangkan yang lain
menin gkatkan apop tosis (seperti seb a gai b ad atau b nx) . Penyebab kerusakan DNA mencakup radiasi, bahan
Keyakinannya adalah bahwa anggota proapoptosis kimia, sinar ultraviolet, dan "kesalahan acak dalam
dan antiapoptosis dari keluarga gen ini bekerja sebagai replikasi DNA. Gen Perbaikan DNA mengode untuk
reostat dalam mengontrol apoptosis. Ekspresi protein (fungsi normal untuk mengoreksi kesalahan
berlebihan dari gen bcl-2 yang disebabkan oleh yang timbul keLika sel mendupLikasi DNA-nya sebelum
translokasi kromosomal berkaitan dengan mayoritas pembelahan sel). Mutasi dalam gen perbaikan DNA
limfoma sel-B tipe folikular. Selain itu, kegagalan sel- dapat menyebabkan kegagalan perbaikan DNA, ya.g
sel tersebut untuk mati sebagaimana yang seharusnya pada gilirannya memungkinkan mutasi selanjutnya
(karena apoptosis ditekan oldnbcl-2 yang bermutasi) pada gen supresor tumor dan protoonkogen untuk
' menumpuk. Gen perbaikan DNA (serupa dengan gen
menyebabkan penumpukan limfosit B dalam kelenjar
getah bening dan limfoma. supresor tumor) terdapat dalam pasangan kromosom
Selain peran keluarga gen bcl-2 dalam mengafur homolog, dan keduanya harus tidak berfungsi sebelum
apoptosis, setidaknya terdapat dua gen yang berkaitan fungsi perbaikan yang diregulasi oleh gen terganggu
dengan kanker dapat memicu apoptosis: gen TP53 (yaitu, pola ekspresi resesif autosomal).
supresor tumor seperti yang sudah dijelaskan Individu yang lahir dengan mutasi herediter gen
terdahulu, dan protoonkogen yaihr c-myc. Gen-gen ini perbaikan DNA memiliki risiko yang iebih tinggi
berinteraksi dengan gen yang mengatur apoptosis untuk menderita kanker karena jika terjadi suatu
Gongguon Pertumbuhon, Proliferosi, don Diferensiosi Sel BAB 8 155

mutasi spontan pada alel normal lain, sel yang terkena menyintesis telomerase sehingga mampLr mencegah
tidak mampu memperbaiki kesalahan replikasi DNA. pemendekan telomernya. Akhir-akhir ini, telomerase
Misalrrya, kanker kolon nonpoliposis herediter (heredi- merupakan penanda sel kanker yang terbaik dan
tary nonpolyposis colon cancer, HNPCC) terjadi akibat tersering. Di dalam setiap kategori tttama neoplasia
ketidakcocokan gen perbaikan DNA yang termutasi ganas manusisa yang diperiksa, terdeteksi adanya
dan merupakan 10% dari seluruh kanker kolon. Gen aktivitas dan memperlihatkan prevalensi keseluruhan
ini normalnya beraksi sebagai "spell checkers sebesar 85% (Meeker dan Coffey,7997).
(pemeriksa ej " untuk memastikan bahwa urutan
aan)
DNA benar sebagaimana duplikasi gen selama siklus
sel. Terdapat riwayat keluarga yang positif mengidap Sifat Alami Multilangkah pada
kanker kolon pada individu penderita HNPCC dan Karsinogenesis
usia rata-rata saat didiagnosis adalah 45 tahun
(dibandingkan dengan usia 65 tahun untuk kanker Suatu neoplasma terbentuk dari proliferasi klonal sel
kolon dalam populasi umum). yang mengalami transformasi tunggal (termutasi).
Seperti yang telah diketahui, peristiwa awal yang
mengubah sel normal menjadi sel abnormal yang
Telomer, Tetomerase, Penuaan, termutasi mungkin inerupakan permulaan dari suatu
dan Kanker onkogen, inaktivasi gen slrpresor tlrmor, atau kega-
galan untuk memperbaiki DNA atau menginduksi
Telomer adalah pengulangan untai DNA (TTAGGG) apoptosis sel yang mengalami kerusakan. Namun
yang membentuk ujung penutup kromosom (Cbr. 8- demikian, transformasi awal ini tidak cukup memadai
14). Telomer memiliki arti penting untuk kestabilan untuk menyebabkan timbulnya tumor maligna yang
kromosom karena melindungi terhadap fusi ujung-ke- lengkap. Sel yang mengalami mutasi harus bereplikasi
ujung dan degradasi selama replikasi sel. Telomer sendiri dan menjalani banyak mutasi untuk mencapai
selama ini merupakan fokr.rs perhatian dalam pene- keganasan penuh dengan kemampuan untuk meng-
litian beberapa tahun terakhir ini karena kemungkinan infiltrasi jaringan lokal, memasuki pembuluh darah,
memi