Anda di halaman 1dari 14

Makalah

HAMA PENYAKIT TANAMAN PANGAN DAN SAYURAN


“Hama dan Penyakit Utama pada Bawang Merah (Allium ascolonicum) ”

Oleh:
Kelompok 2

DJUANG MUHAJIRIN LAMBIYE D1E1 17 029


LAODE MUH. YUSRIL D1E1 17 036
LITA OKTAFIANA HUTTNI D1E1 17 037
MIKI ARDIANSYAH D1E1 17 039
MUH. ABDIL INSANI FARLI D1E1 17 040

JURUSAN PROTEKSI TANAMAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bawang merah (Allium ascolonicum) merupakan salah satu komoditas


sayuran yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Bawang merah termasuk
sayuran yang multiguna yang dimanfaatkan sebagai rempah-rempah pelengkap
bumbu masak, bahan untuk industri makanan dan dipakai sebagai obat tradisional
(Putrasamedja, 1996). Komoditas ini merupakan sumber pendapatan dan lapangan
kerja bagi masyarakat dan telah terbukti memberikan kontribusi cukup tinggi
terhadap perkembangan ekonomi wilayah dengan luas areal pertanaman secara
Nasional mencapai 91.780 ha dengan poduktivitas 8,98 ton/ha (Deptan, 2008).
Bawang merah dihasilkan di 24 dari 30 propinsi di Indonesia. Propinsi penghasil
utama bawang merah (luas areal panen > 1.000 hektar per tahun) diantaranya adalah
Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, D.I Yogyakarta, Sumatera Utara, Sumatera
Barat, Bali, NTB dan Sulawesi Selatan. Produksi Nasional pada tahun 2008 adalah
853.615 ton (BPS, 2009).
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan nasional.
Beberapa kendala produksi bawang merah diantaranya masih tingginya intensitas
serangan hama dan penyakit, ketersediaan benih bermutu belum mencukupi secara
tepat, belum tersedia varietas unggul yang tahan terhadap penyakit utama, penerapan
teknik budidaya yang baik belum dilakukan secara optimal, kelembagaan petani
belum dapat menjadi pendukung usahatani, skala usaha relatif masih kecil akibat
sempitnya kepemilikan lahan dan lemahnya permodalan (Baswarsiati et al, 1997,
2000; Setiawati et al, 2005). Menurut Kalshoven (1981), hama penting pada tanaman
bawang merah adalah Spodotera exigua (lepidotera: noctuidae), Thrips tabaci
(Thysanoptera: Thripidae) serta Agrotis ipsilon (Lepidoptera: Noctuidae).
Permasalahan penyakit bawang merah yang umum ditemukan di lapang adalah
penyakit bercak ungu (Altenaria porri), antraknos (Colletotricum gloeosporioides),
bercak daun cescospora (Cercospora duddiae), busuk daun (Peronospora destructor),
penyakit layu atau busuk umbi (Fusarium oxysporum) (Semangun, 2007).

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada makalah ini yaitu:

1. Apa saja hama dan penyakit utama bawang merah ?


2. PEMBAHASAN

A. Hama dan Penyakit Utama Bawang Merah

 Hama Bawang Merah

1. Ulat grayak Spodoptera exigua (Lepidotera : Noctuidae)

Ulat bawang merah sering menyerang bawang merah, bawang daun, bawang
daun, kucai, jagung, cabai dan kapri. Daun bawang merah yang terserang kelihatan
ada becak putih panjang atau menjadi seperti membran dan layu. Warna ulat mula-
mula hijau, kemudian menjadi cokelat tua dengan garis-garis putih. Panjang ulat lebih
kurang 2,5 cm.Siklus hidup sekitar 23 hari. Ngengat betina menghasilkan telur lebih
kurang 1000 butir. Telur diletakkan biasanya dalam kelompok-kelompok yang
berbentuk lonjong dan bulat. Warna telurnya putih dan ditutup dengan lapisan bulu-
bulu tipis. Sesudah menetas, ulat segera masuk ke dalam rongga daun bawang merah
sebelah atas. Mula-mula ulat berkumpul, setelah itu daun habis dimakan, ulat segera
menyebar. Jika populasi besar, ulat juga memakan umbi. Perkembangan ulat di dalam
daun lebih kurang 9-14 hari. Ulat kemudian berkepompong di dalam tanah.

 Pengendalian :
a. Kultur Teknis
 Menanam varietas toleran, seperti varietas Kuning dan Bima.
 Penerapan pola tanam yang meliputi pengaturan waktu tanam, pergiliran
tanaman, tanam serentak, dan tumpang sari.
 Sanitasi/pengendalian gulma disekitar pertanaman
 Pengolahan tanah yang sempurna
 Pengelolaan air yang baik
 Pengaturan jarak tanam
b. Fisik/Mekanik
 Mengumpulkan kelompok telur dan ulat bawang lalu dibutit (dimasukkan
dalam kantong plastik dan diikat), terutama pada saat tanaman bawang merah
berumur 7 – 35 hari kemudian dimusnahkan.
 Memasang lampu perangkap (neon 7 – 10 watt jumlah sekitar 25 – 30
buah/ha), mulai dari 1 minggu sebelum tanam sampai menjelang panen (± 60
hari), dari pukul 18.00 – 06.00. Ketinggian lampu 10 – 15 cm (dari
permukaan tempat air s.d. pucuk tanaman) sedangkan mulut bak perangkap
tidak boleh lebih dari 40 cm diatas pucuk tanaman. Jarak antar lampu 20 m x
15 m.
 Pemasangan perangkap feromonoid seks dipasang sebanyak 40 buah/ha untuk
menangkap ngengat S. exigua segera setelah tanaman bawang merah ditanam.
c. Biologi
Menggunakan parasitoid S. exigua seperti Telenomus spodopterae, Eriborus
sinicus, Apanteles sp., Trichogramma sp., Diadegma sp., Cotesia sp., Chaprops sp.,
Euplectrus sp., Stenomesius japonicus, Microsplitis similes, Steinernema sp., dan
Peribaea sp. Patogen serangga antara lain Mikrosporidia SeNPV, Bacillus
thuringiensis, Paecilomyces farinosus, Beauveria bassiana , Metarrhizium
anisopliae, Nomuraea rileyi, Erynia spp. Predator antara lain Carabidae.

2. Pengorok daun Liriomyza sp. (Diptera : Agromyzidae)

Hama pengorok daun termasuk hama baru di Indonesia. Hama ini merupakan
hama pendatang dari benua Amerika Latin yang masuk ke Indonesia sekitar tahun 90
an. Hama pengorok daun sebenarnya sejenis lalat termasuk dalam ordo Diptera,
famili Agromyzidae. Hewan ini memiliki satu pasang sayap sehingga disebut Diptera.
Beberapa spesies hama pengorok daun yang merusak tanaman sayuran diantaranya
Liriomyza huidobrensisyang menyerang sayuran kentang, Liriomyza trifolii yang
menyerang bunga krisan dan Liriomyza chinensisyang menyerang tanaman bawang.
Hama pengorok daun sangat ditakuti oleh petani sayuran, karena kerusakan yang
ditimbulkannya mencapai 60-100%.
Hama pengorok daun yang menyerang tanaman bawang merah termasuk
dalam spesies L. chinensis. Telur dari serangga ini berwarna putih bening berukuran
0,28 mm x 0,15 mm, dan lama stadium telur berlangsung antara 2-4 hari. Jumlah telur
yang diletakkan serangga betina selama hidupnya berkisar 50-300 butir, dengan rata-
rata 160 butir. Telur diletakkan dalam jaringan daun melalui ovipositor. Larva yang
baru keluar berwarna putih susu atau putih kekuningan, dan segera mengorok
jaringan mesofil daun serta tinggal dalam liang korokan selama hidupnya. Stadium
larva antara 6-12 hari, dan larva yang sudah berusia lanjut (instar 3) berukuran 3,5
mm. Larva instar 3 dapat mengorok jaringan 600 x lipat dari larva instar 1, dan larva
ini kemudian keluar dari liang korokan untuk berkepompong. Pupa lalat pengorok
daun ini umumnya ditemukan di tanah, tetapi pada tanaman bawang merah sering
ditemukan menempel pada permukaan bagian dalam dari rongga daun bawang.
Stadium pupa antara 11-12 hari, lalu keluar menjadi serangga dewasa / imago.
Imagobetina mampu hidup selama 6-14 hari dan imago jantan antara 3-9 hari. Lalat
L. chinensis pada bagian punggungnya berwarna hitam, sedangkan pada lalat L.
huidobrensis dan L. sativadi bagian ujung punggungnya terdapat warna kuning
(Samsudin et al, 2008).

 Pengendalian :
a. Kultur Teknis
 Penanaman varietas toleran; seperti varietas Philipine.
 Budidaya tanaman sehat; upayakan tanaman tumbuh subur melalui pengairan
yang cukup, pemupukan berimbang, dan penyiangan gulma. Tanaman yang
tumbuh subur lebih toleran terhadap serangan hama.
 Pergiliran tanaman; lalat L. chinensis baru diketahui hanya menyerang
tanaman golongan bawang, maka bila disuatu wilayah terjadi serangan berat,
sebaiknya satu musim berikutnya tidak menanam tanaman golongan bawang.
b. Fisik/Mekanik
 Penggunaan mulsa plastik; mulsa plastic berwarna perak dipasang sebelum
tanam, lalu diberi lubang disetiap titik jarak tanam dengan garis tengah lubang
yang cukup untuk berkembangnya tanaman bawang merah sampai panen akan
mematikan larva yang jatuh dari daun.
 Pengambilan daun yang menunjukkan gejala korokan dipotong dan dibutit
lalu dimusnahkan.
 Pemasangan kain kelambu
 Perangkap lampu neon (TL 10 watt) dengan waktu nyala mulai pukul 18.00 –
24.00 paling efisien dan efektif untuk menangkap imago.
c. Biologi
Pengendalian Biologis dengan menggunakan parasitoid Hemiptarsenus
varicornis, Opius sp, Neochrysocharis sp., Asecodes sp., Chrysocharis sp.,
Chrysonotomya sp., Gronotoma sp., Quadrasticus sp., Digyphus isaea, dan predator
Coenosia humilis.

3. Ulat tanah Agrotis ipsilon (Lepidotera : Noctuidae)

Warna ulatnya coklat tua sampai kehitaman, agak mengkilap, dan sering kali
ada garis coklat pada kedua sisinya. Biasanya pada sisi punggungnya ada kutil yang
dikelilingi bintik-bintik kecil berwarna cokelat muda. Sayap muka ngengat berwarna
coklat kelabu dengan bercak bebentuk ginjal di tengah. Selain itu, ada 3 bercak hitam
berbentuk baji dan garis melintang yang samar-samar. Sayap belakangnya pucat, jika
dibentangkan panjang sayap mencapai 40-50 mm.
Telurnya bulat putih diletakkan di atas tanah yang lembab, sekali bertelur
rata-rata mencapai 1.500 butir. Warna ulat yang baru saja menetas mula-mula abu-
abu kehijauan, kemudian berubah menjadi kelabu kecoklatan dan akhirnya menjadi
coklat tua kehitaman. Pada waktu siang ulat membuat lubang di dalam tanah dan
malam harinya keluar untuk mencari makanan. Mula-mula hidup menggerombol
tetapi sesudah tua menyendiri dan kadang-kadang memakan temannya sendiri.
Pupanya berada dalam tanah yang lembab dan berwarna coklat tua. Masa hidup satu
generasi lebih kurang 5-6 minggu.

 Pengendalian :
a. Kultur Teknis
 Penggunaan pupuk kandang yang matang dapat mengurangi serangan
Gryllotalpa sp.
 Menjaga kebersihan kebun (sanitasi) dapat mengurangi serangan Gryllotalpa
sp.
b. Fisik/Mekanik
Pemasangan umpan beracun yang terdiri dari 10 kg dedak dicampur dengan
100 ml insektisida yang dianjurkan kemudian campuran tersebut diaduk secara
merata dan disebar diatas bedengan pertanaman pada senja hari
c. Biologi
Pemanfaatan musuh alami seperti predator Chlaenius, Labidura riparia,
parasitoid Neothrombium gryllotalpae , dan pathogen serangga Beauveria bassiana,
Paecilomyces sp.

4. Tungau

Gejala yang ditimbulkan yaitu dari kejauhan daun terlihat berwarna abu-abu
karena cairan daunnya dihisap tungau. Bila musim kemarau lebih banyak lagi tungau
yang menyerang. Karena tak begitu berbahaya, hama ini kurang ditakuti.

 Pengendalian :
Penggunaan akarisida, seperti Meotrin 50 EC yang mengandung bahan aktif
fenpropatrin atau Roxion 40 EC yang mengandung bahan aktif dimetoat.
Konsentrasinya 2 ml/l air. Penyemprotan dimulai sejak tanaman berumur 9 minggu
hingga 2 minggu sebelum panen dengan selang waktu seminggu sekali.

5. Hama Bodas (Thrips tabaci)


Gejala serangan yaitu terlihat pada daun berupa bercak mengilap dan luka
bekas gigitan yang berbentuk bintik-bintik berwarna putih, lalu berubah menjadi abu-
abu perak dan mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda.
Perkembangan dan penyebaran hama ini cepat sekali.

 Pengendalian :
 Memangkas bagian daun yang terserang.
 Penggunaan insektisida fosfororganik, seperti Bayrusil 250 EC yang
mengandung bahan aktif kuinalfos, Mesurol 50 WP yang mengandung bahan
aktif merkaptodimetur, ataupun Azodrin 15 WSC dan Nuvacron 20 SCW
yang mengandung bahan aktif monokotofos.

 Penyakit pada Bawang Merah

1. Bercak Ungu disebabkan oleh Alternaria porri (Ell.) Cif

Pada daun terdapat bercak kecil, melekuk, berwarna putih atau kelabu. Jika
membesar, becak tampak bercincin-cincin, dan warnanya agak keunguan. Tepinya
agak kemerahan atau keunguan dan di kelilingi oleh zone berwarna kuning yang
dapat meluas agak jauh di atas atau di bawah bercak. (Samangun, 2007).
Konidium dan konidiofor berwarna hitam atau coklat. Konidium berbentuk
gada yang bersekat-sekat, pada salah satu ujungnya membesar dan tumpul, ujung
lainya menyempit dan agak panjang. Konidium dapat disebarkan oleh angin
menginfeksi tanaman melalui stomata atau luka-luka yang terjadi pada tanaman.
Patogen dapat bertahan dari musim ke musim pada sisa-sisa tanaman dalam bentuk
miselia. Keadaan cuaca yang lembab, suhu udara 30o-32oC, mendung, hujan rintik-
rintik dapat mendorong perkembangan penyakit. Pemupukan dengan dosis N yang
tinggi atau tidak berimbang, keadaan drainase tanah yang tidak baik, dan suhu antara
30-328 C merupakan perkembangan yang menguntungkan bagi patogen. Namun
konidia tidak mampu bertahan hidup lebih lama jika jatuh di atas tanah. Oleh karena
itu penyakit becak ungu adalah penyakit lahir (tular) udara dan lahir bibit (umbi)
(Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura, 2007).
 Pengelolaan penyakit :
 Bercak ungu dikendalikan dengan menanam bawang di lahan yang
mempunyai drainasi baik dan dengan mengadakan pergiliran tanaman (rotasi)
(Knot dan Deanon, 1967).
 Pada bawang daun pemberian pupuk organik yang terdiri atas casting (kotoran
cacing) dan mulsa jerami, secara terpisah maupun kombinasinya, dapt
mengurangi berca ungu, disamping juga mengurangi kutu daun (Handayati
dan Sihombing, 2000).
 Jika diperlukan penyakit dapat dikendalikan dengan penyemprotan fungisida.
Untuk keperluan ini dapat dipakai fungisida tembaga, ferbam, zineb, dan
nabam yang ditambah sulfat seng. Perlu diingat bahwa pemberian fungisida
berpengaruh negatif terhadap populasi mikoriza pada akar bawang putih.
Fungisida sistemik lebih meracun mikoroza ketimbang fungisida nonsistemik
(Suryanti, et. al, 1995).

2. Busuk Daun (Peronospora destructor)

Pada tanaman mulai membentuk umbi lapis, di dekat ujung daun timbul bercak
hijau pucat. Pada waktu cuaca lembab pada permukaan daun berkembang kapang
(mould.) yang berwarna putih lembayung atau ungu. Daun segera menguning, layu
dan menngering. Daun mati yang berwarna putih diliputi oleh kapang yang berwarna
hitam (Suhendro et al, 2000).
Patogen dapat bertahan pada biji, umbi dan di dalam tanah dari musim ke
musim. Pada cuaca lembab dan sejuk, patogen dapat berkembang dengan baik.
Penyebaran spora melalui angin. Penyakit ini berkembang pada musim hujan, bila
udara sangat lembab dan suhu malam hari rendah. Kelembaban tinggi, suhu sejuk
sangat menguntungkan perkembangan patogen. Kesehatan benih/ umbi yang ditanam
akan mempengarui serangan patogen di lapang. Penyakit ini bersifat tular udara (air
born), tular bibit (seed born), maupun tular tanah (soil born) khususnya jika lahan
basah dan drainase buruk (Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura, 2007).
 Pengendalian :
 Pemakaian benih yang sehat
 Jika penyakit banyak timbul, setelah panen, daun-daun dibakar. Tanah jangan
ditanami bawang selama 3 tahun.
 Tanaman disemprot dengan fungisida. Penambahan ppelekat dan perata akan
meningkatkan manfaat obat. Untuk keperluan ini dapat dipakai nabam yang
ditambah dengan sulfat seng, maneb, atau zineb. Penyemprotan dimulai 1
minggu sebelum tanaman dicabut dari pembibitan.

3. Antraknosa disebabkan oleh Colletotricum gleosporioides

Pada bagian daun terlihat adanya bercak cokelat, perkembangannya lebih


lanjut dapat menyebabkan daun patah dan gugur. Gejalanya pada umbi terjadi bercak
berwarna hijau tua atau hitam. Serangan pada umbi menyebabkan daun menjadi
berkelok-kelok atau terpuntir (terpilin), sehingga daun tidak berkembang ke atas
sepeti biasanya. Umbi yang terserang dapat membusuk (Suhardi,1991; Suhendro et
al., 2000).
Konidia membentuk apresoria yang dirangsang oleh keadaan suhu,
kelembaban dan nutrisi yang cocok. Saat perkembangan apresoria akan cepat dan
mudah menginfeksi inangnya. Perkembangan penyakit ini berkurang pada musim
kemarau, atau di lahan yang mempunyai draenase baik, dan gulmanya terkendali.
Apabila kelembaban udara tinggi terutama di musim hujan, miselium akan tumbuh
dari helai daun menembus sampai ke umbi menyebar ke permukaan tanah. Miselium
yang ada di permukaan tanah berwarna putih dan dapat menyebar ke tanaman
lainyang berdekatan. Daun menjadi kering, umbi membusuk, infeksi sporadis, dan
menyebabkan hamparan tanaman terlihat gejala botak dibeberapa tempat (Direktorat
Perlindungan Tanaman Hortikultura, 2007).
 Pengendalian :
 Karena infeksi terjadi lewat umbi benih, penyakit dapat dikurangi dengan
perawatan benih. Untuk keperluan ini dipakai 30 g bahan aktif difenokonazol
per 100 kg benih.
 Melakukan pergiliran tanaman (rotasi) meskipun C. Gloeosporioides kurang
dapat berthan lama dalam tanah.
 Memberantas gulma yang ddapat menjadi inang untuk bertahannya patogen.
 Memperbaiki aerasi dan drainasi agar tidak ada air yang tergenang dan
kelembaban pertanaman tidak terlalu tinggi. Memperlebar jarak tanam
terutama pada musim penghujan (Suhendro, et al., 2000).
 Penyemprotan fungisida dapat mengurangi penyakit.

4. Mati pucuk disebabkan oleh cendawan Phytoptora porri (Faister)

Ujung daun busuk kebasahan yang berkembang kebawah. Jika cuaca lembab
jamur membentuk massa jamur seperti beledu. Bagian tanaman yang sakit menjadi
mati, berwarna coklat, kemudian putih. Cendawan mempunyai miselium yang khas,
hifa tidak seragam kadang berbentuk elips dan berdiameter sekitar 8 μm.
Sporangiofora berbentuk hialin, bercabang tidak menentu, bentuknya mirip dengan
hifa biasa. Klamidospora pada media memiliki diameter rata-rata 30 μm. Oogonia
berdiameter sekitar 34 μm, berwarna kuning coklat terang dan berdinding lapis
dengan jumlah antara 4-5 lapis (Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura,
2007).

5. Bercak Daun Cercospora (Cercospora duddiae)

Penyebab penyakit :
Cercospora duddiae Welles. Jamur ini mempunyai konidium lurus atau agak
bengkok, pangkalnya tumpul, meruncing ke ujung, hialin, mempunyai banyak sekat
berukuran 48-99 x 6-8 µm. Konidiofor berwrna gelap, bersekat, berukuran 47-168 x
5-9 µm. Mungkin jamur ini identik dengan Mycospherella schoenoprasi Ferck. Yang
menyebabkan mati ujung daun pada Allim sp. di Irian Jaya.
Gejala :
Mula-mula terjadi bercak klorotis, bulat, berwarna kuning, dengan garis
tengah 3-5 mm. Bercak paling banyak terdapat pada ujung sebelah luar daun. Bercak-
bercak sering bersatu pada ujung daun, yang pada sebelah pangkalnya terdapat
banyak bercak yang terpisah, sehingga daun tampak belang. Ujung mengering dan
menjadi cokelat kelabu. Bercak-bercak yang terpisah mempunyai pusat yang terdiri
atas jaringan mati.

 Pengendalian :
Penyakit dapat dikendikan dengan cara seperti yang dipakai dalam
pengendalian bercak ungu.
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2009. Produksi Sayuran Indonesia : http://.bps.go.id

Baswarsiati, L. Rosmahani, B. Nusantoro, R.D. Wijadi 1997. Pengkajian paket teknik


budidaya bawang merah di luar musim. Prosiding Seminar Hasil
Penelitian/Pengkajian BPTP Karangploso.www.baswarsiati’sblog.com

Departemen Pertanian. 2008. Statistik Produksi hortikultura 2003-


2008.ww.hortikultura.deptan.go.id

Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura. 2007. Pengenalan dan Pengendalian


Penyakit Hortikultura Prioritas. Jakarta: Deptan.

Kalshoven, L.G.E. 1981. The pest of crop in Indonesia. Laan van der. Penerjemah.
Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen van de
Cultuurgewassen in Indonesia.

Putrasamedja, S. dan Suwandi. 1996. Monograf no. 5; Varietas Bawang Merah


Indonesia. A. H. Permadi, dan Y. Hilman (Eds.). Balitsa. Lembang-Bandung.

Rahayu, E. dan V.A. N. Berlian. 1998. Bawang Merah. Bogor: Penebar Swadaya.

Semangun H. 2007. Penyakit-penyakit Tanaman Hotikultura di Indonesia.


Yogyakarta: Gadjah Mada Univesity Press.

Suhendro, M. Kusnawira, I. Zulkarnain, dan A. Triwiyono. 2000. Hama dan Penyakit


Utama Tanaman Bawang dan Pengendalianya. Novartis Crop Prost.,47p.