Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

“HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN


PANGAN DAN SAYURAN”

Oleh :

ANDI SITTI RAHIMI HL


NIM. D1E117023

PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Konda adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi


Tenggara, Indonesia. Kabupaten Konawe Selatan ibukotanya Andoolo, secara
geografis terletak di bagian Selatan Khatulistiwa, melintang dari Utara ke Selatan
antara 3°.58.56’ dan 4°.31.52’ lintang Selatan, membujur dari Barat ke Timur antara
121.58’ dan 123.16’ bujur Timur. Luas wilayah daratan Kabupaten Konawe Selatan,
451.420 Ha atau 11,83 persen dari luas wilayah daratan Sulawesi Tenggara.
Sedangkan luas wilayah perairan (laut) ± 9.368 Km2. Selain jazirah tenggara Pulau
Sulawesi, terdapat juga pulau kecil yaitu Pulau Cempedak. Permukaan tanah pada
umumnya bergunung dan berbukit yang diapit oleh dataran rendah yang sangat
potensial untuk pengembangan di sektor pertanian.
Berdasarkan garis ketinggian menurut hasil penelitian wilayah   Kabupaten
Konawe Selatan dapat dibedakan atas 5 kelas selain menurut ketinggian, dilakukan
juga pemetaan terhadap klasifikasi kemiringan dan jenis tanah. Jenis tanah di
Kabupaten Konawe Selatan meliputi Latosol dengan  luas 105.451,71 Ha atau 23,36
persen, Podzolik seluas 127.074,73 Ha atau 28,15 persen, Organosol seluas
21.261,88 Ha atau 4,71    persen, Mediteran seluas 15.303,14 Ha atau 3,39 persen,
Aluvial  seluas 21.668,16 Ha atau 4,80 persen serta tanah Campuran seluas
160.660,38 Ha atau 35,59 persen.
Konawe merupakan salah satu daerah pendukung produksi padi di Sultra.
Selain memiliki potensi lahan yang masih cukup luas, juga didukung oleh jaringan
irigasi yang mampu memenuhi kebutuhan air bagi petani padi pada setiap musim
tanam. Berdasarkan data yang dirilis Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan
Perkebunan Kabupaten Konawe, luas sawah produktif saat ini mencapai 42.750
Hektar. Mayoritas penduduk Desa Konda berprofesi sebagai petani, sehingga hal
tersebut yang menjadi alasan kenapa memilih Desa Konda sebagai tempat praktikum
lapangan hama penyaktit tanaman pangan dan sayuran.
Pada umumnya jenis tanaman sayur-sayuran yang diusahakan di kabupaten
konawe hanya disajikan 18 unit tanaman yaitu: bawang merah, bawang putih,
bawang daun, kubis, kentang, sawi, kacang merah, kacang panjang, cabe, wortel,
tomat, terong, buncis, ketimun, labu, bayam, semangka dan kangkung. Produksi
kacang panjang 10,217 kuintal, terung 4,687 kuintal, ketimun 7.749 kuintal, tomat
2,572 kuintal, kangkung 11,423 kuintal, bayam 4.014 kuintal, cabe 11,012 kuintal,
sawi 4,682 kuintal, bawang daun 818 kuintal, kubis 2.341 kuintal dan labu 2.107
kuintal.

1.2. Tujuan

Tujuan dari praktikum lapangan hama dan penyakit tanaman pangan dan
sayuran adalah
1. Mengetahui jenis-jenis hama dan penyakit yang sering meyerang tanaman
pangan dan sayuran,
2. Mengetahui gejala-gejala kerusakan yang ditimbulkan oleh hama dan penyakit
tanaman pangan dan sayuran, serta
3. Memberi pengalaman dan menambah wawasan serta pemahaman kepada
mahasiswa mengenai hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman
pangan dan sayuran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Hama merupakan suatu organisme yang mengganggu tanaman,merusak


tanaman dan menimbulkan kerugian secara ekonomi,membuat produksi suatu
tanaman berkurang dan dapat juga menimbulkan kematian pada tanaman,serangga
hama mempunyai bagian tubuh yang utama yaitu caput, abdomen ,dan
thorax.Serangga hama merupakan organisme yang dapat mengganggu pertumbuhan
tanaman dan mengakibatkan kerusakan dan kerugian ekonomi.  Hama dari jenis
serangga dan penyakit merupakan kendala yang dihadapi oleh setiap para petani yang
selalu mengganggu perkembangan tanaman budidaya dan hasil produksi pertanian. 
Hama dan penyakit tersebut merusak bagian suatu tanaman, sehingga tanaman akan
layu dan bahkan mati (Harianto, 2009).
Penyakit merupakan satu hal yang tidak dapat terpisahkan dalam usaha
budidaya tanaman di persemaian. Penyakit pada tanaman didefinisikan sebagai
penyimpangan dari sifat normal yang menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan
kegiatan fisiologisnya secara normal dengan sebaik-baiknya. Beberapa jenis penyakit
yang biasa menyerang tanaman di persemaian sehat terutama tidak terserang
penyakit pada saat di persemaian. menyampaikan bahwa tanaman di persemaian
lebih rentan terhadap serangan penyakit dibandingkan tanaman yang telah ditanam di
lapangan, sehingga jika tanaman di persemaian telah terserang penyakit maka
pertumbuhan tanaman tersebut akan terganggu dan selanjutnya dapat menyebabkan
kematian tanaman (Arif, 2015).
Tanaman pangan merupakan tanaman yang semusim, yang mempunyai
jangka waktu panen antara 3 bulan  atau  lebih sesuai dengan jenis tanaman yang
ditanami dan  memberikan nilai ekonomi yang baik bagi petani.  Tetapi tanaman
pangan juga membawa dampak yang merugikan petani, karena jangka waktu
menanam yang tidak serempak , Kebutuhan pangan yang semakin meningkat dari
tahun ke tahun menuntut diterapkannya teknik budidaya tanaman pangan yang tepat
dan benar, karena dengan teknik budidaya yang tepat dan benar diharapkan hasil
tanaman pangan akan meningkat seiring dengan kebutuhan masyarakat (Suwono,
2007).
OPT penting pada tanaman tomat antara lain adalah ulat buah tomat
(Helicoverpa armigera Hubn.), penyakit busuk daun atau buah
(Phytophthora infestans), penyakit layu fusarium (Fusarium sp), penyakit layu
bakteri (Pseudomonas atau Ralstonia solanacearum) dan Meloidogyne spp. Menurut
laporan Setiawati (1991), kehilangan hasil panen tomat karena serangan
hama H. armigera dapat mencapai 52%.Dalam usaha pengendalian hama tersebut,
petani banyak menggunakan fungisida sintetis karena cara ini lebih efektif dan
dianggap lebih menguntungkan dibandingkan cara lainnya. Walaupun demikian
ternyata kandungan bahan kimia sintetis berdampak negatif terhadap kesehatan
manusia dan mencemari lingkungan (Herlina et al. 2004).
Bakteri memiliki beberapa macam bentuk yaitu basil, coccus, dan spirilum.
Bakteri yang berbentuk tongkat maupun kokus dibagi menjadi beberapa macam.
Pada bentuk basil pembagiannya yaitu basil tunggal, diplobasil, dan
tripobasil.Sedangkan pada coccus dibagi menjadi monococcus, diplococcus, sampai
stophylococcus. Melihat dan mengamati bakteri dalam kedaan hidup sangat sulit,
karena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat
kecil. Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-
sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak
berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan.
Salah satu cara untuk mengamati sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi
ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan (Immanuel, 2007).
Penyakit busuk buah kakao belum dapat dikendalikan dengan baik.
Pengendalian secara kultur teknis, pembuangan buah yang terinfeksi, dan
penggunaan varietas tahan, ternyata tidak efektif untuk menekan kerugian akibat
penyakit ini , sedangkan penggunaan berbagai jenis fungisida tembaga, asam fosfat
dan metalaksil yang dilaporkan efektif ternyata menimbulkan dampak negative bagi
pengguna, konsumen dan lingkungan. Selain itu, harga pestisida yang semakin mahal
juga menjadi permasalahan bagi petani (Radix, 2011).
Padi merupakan komoditas tanaman pangan yang penting di Indonesia.
Penduduk Indonesia menjadikan beras sebagai bahan makanan pokok. Sembilan
puluh lima persen penduduk Indonesia mengkonsumsi bahan makanan ini. Beras
mampu mencukupi 63% total kecukupan energi dan 37% protein. Padi gogo adalah
salah satu jenis padi yang ditanam di daerah tegalan atau di tanah kering secara
menetap oleh beberapa petani. Padi gogo tidaklah membutuhkan air yang banyak
dalam penanamannya. Pada umumnya ditanam di daerah tanah kering sehingga
banyak kita jumpai di daerah yang berbukit-bukit (Norsalis, 2011).
Tanaman cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang
mempunyai nilai ekonomi penting di Indonesia. Seiring meningkatnya permintaan
cabai dikalangan masyarakat, sehingga mendorong para petani untuk
membudidayakan tanaman cabai. Salah satu macam cabai yang banyak
dibudidayakan oleh para petani adalah cabai rawit (Capsicum frutescens). Proses
budidaya tanaman cabai dapat mengalami beberapa kendala karena adanya
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Menurut berbagai jenis OPT yang dapat
menyerang tanaman antara lain: kapang, bakteri, nematoda serta virus dapat
mengganggu kesehatan tanaman. Beberapa spesies kapang patogen yang dapat
menginfeksi tanaman cabai antara lain: Colletotricum capsici, Cercospora capsici,
Fusarium oxysporum, Stemphylum solani, dan Leveillula taurica (Girsang, 2008).
Fusarium sp. merupakan jamur patogen tular tanah penyebab penyakit layu
fusarium pada tanaman tomat. Layu fusarium merupakan penyakit penting pada
budidaya tomat, dimana kerugian yang ditimbulkan dapat mencapai 20-30%.
Patogen Fusarium sp. dapat menular melalui tanah dan bahan tanam yang berasal
dari tanaman sakit serta dapat menginfeksi tanaman inang melalui luka pada
perakaran. Patogen ini mampu bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu lama
dalam bentuk klamidospora meskipun tidak terdapat tanaman inang (Semangun,
2009).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu

Praktikum lapangan ini dilaksanakan di beberapa tempat yang berada di


Kabupaten Konawe Selatan Kec. Konda. Tempat tersebut yaitu Jalan Poros Kec.
Konda, Kantor Subtation Kakao, Desa Alebo Jaya dan Desa Lamomea. Praktikum ini
dilaksanakan Pada hari Sabtu 4 Mei 2019 pukul 08:00-15:00 WITA.

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan ialah kamera Hp, alat tulis menulis dan
lembar kuisioner.

3.3. Prosedur Praktikum

Pada praktikum lapangan hama dan penyakit tanaman pangan dan sayuran ada
beberapa macam metode yang dilakukan sebagai berikut :
A. Pengamatan Langsung
Pengamatan dilakukan dengan mengamati secara langsung dengan turun ke
lapangan untuk mengamati gejala dan tanda dari serangan hama dan penyakit yang
ada pada tanaman.
B. Pengambilan Data dan Informasi
Pengambilan data dan informasi dilakukan dengan observasi dan wawancara
secara langsung pada petani menggunakan kuisioner yang telah disediakan.
C. Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara sederhana yaitu mengamati
tanaman yang ada di sekeliling kemudian mengambil tanaman yang menimbulkan
gejala serangan yang disebabkan oleh hama maupun penyakit.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Adapun hasil dari praktikum ini dapat dilihat pada tabel berikut:

No Nama
Nama Tanaman Gambar
. Hama/Penyakit
 

 Walang Sangit Padi


1. (Leptocorisa (Oryza sativa
oratorius Fabricius) L.) 

Penggerek Batang
 Padi
Padi
2. (Oryza sativa
(Scirpophaga
L.) 
incertulas Walker) 

Kepik Hijau  Padi


3.
(Nezara viridula) (Oryza sativa L.)

Hawar Daun Padi


 Padi
4. (Xanthomonas
(Oryza sativa L.)
oryzae)
Blas Padi
5.
(Pyricularia grisea) (Oryza sativa L.)

Antraknosa Cabai
6. (Colletotrichum (Capsicum
capsici) annum L.)

Gemini Virus Cabai


7. (Tomato Yellow (Capsicum
Leaf Curl Virus) annum L.)

Layu Fusarium Cabai


8. (Fusarium  (Capsicum
oxysporum) annum L.)
Tomat
Bercak Daun Tomat
9. (Lycopersicon
(Alternaria solani)
esculentum Mill)

10.
Tomat
Lalat Buah
(Lycopersicon
(Bactrocera sp.)
esculentum Mill)

4.2. Pembahasan

Berdasarkan hasil tabel diatas maka dapat kita ketahui bahwa hama dan
penyakit pada tanaman pangan dan sayuran sangat lah banyak. Adapun tanaman
pangan yang kami amati adalah komoditas tanaman padi, sedangkan tanaman
sayuran yang kami amati adalah komoditas tanaman cabai dan tomat. Tanaman yang
terserang oleh hama dan penyakit tersebut menunjukkan gejala yang berbeda-beda.
Padi (Oryza sativa L.) merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat
yang tergolong sebagai komoditas strategis. Disebut strategis karena dampaknya
langsung dirasakan masyarakat terutama jika terjadi kelangkaan beras akibat
terbatasnya jumlah produksi padi dan terjadinya perubahan harga yang menyebabkan
inflasi, untuk itu peningkatan produksi pertanian tanaman pangan dan
penganekaragaman jenis bahan pangan sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan
pangan dan memperbaiki keadaan gizi masyarakat. Adapun hama dan penyakit yang
menyerang tanaman padi adalah sebegai berikut.
Walang sangit (Leptocorisa spp.) merupakan salah satu hama utama yang
menyerang komoditas padi di seluruh dunia. Di Indonesia, hama ini menyerang buah
padi yang dalam keadaan matang susu. Tanaman inang selain padi yang disukai
walang sangit antara lain adalah sorghum, tebu, gandum dan berbagai jenis rumput,
di antaranya: Italica, Setaria, Panicum crus-galli, Panicum colonum, Panicum
flavidum, Panicum miliare, Eleusine coracana, Setaria glauca. Salah satu hama yang
dapat menjadi kendala dalam produksi padi ialah Walang sangit Leptocorisa spp.
(Hemiptera : Coreidae) merupakan hama utama dari kelompok kepik (Hemiptera)
yang merusak tanaman padi di Indonesia. Hama ini merusak dengan cara mengisap
bulir buah padi pada fase matang susu sehingga bulir menjadi hampa. Hama ini
bukan saja dapat menurunkan hasil tetapi juga menurunkan kualitas gabah seperti
bintik-bintik coklat pada gabah akibat isapan cairan dari hama tersebut. Serangan
berat dapat menurunkan produksi hingga tidak dapat di panen.Hama ini juga
memiliki kemampuan penyebaran yang tinggi, sehingga mampu berpindah ke
pertanaman padi lain yang mulai memasuki fase matang susu, akibatnya sebaran
serangan akan semakin luas. Selain itu, walang sangit mempunyai kemampuan
menghasilkan telur lebih dari 100 butir/betina.
Penggerek batang padi (Scirpophaga incertulas) adalah salah satu hama yang
palig sering menyerang tanaman padi dengan intensitas serangan sampai 90%. Hama
ini menyerang tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhan mulai dari fase
vegetatif sampai generatif. Gejala yang ditimbulkan dari serangan hama penggerek
batang secara umum ada 2 jenis, yaitu sundep dan beluk. Untuk gejala sundep,
serangan dimulai dengan larva ngengat merusak tanaman padi sebelum memasuki
fase vegetatif (masa pembungaan) dan gejalanya mulai terlihat ketika tanaman padi
berumur 21 hari setelah pindah tanam. Selanjutnya setelah 1 minggu, larva ngengat
akan bertelur dan meletakkannya pada batang tanaman padi, dan selang 4-5 hari telur
akan menetas sekaligus merusak sistem pembuluh tanaman yang terdapat pada
batang padi. Dampak visualnya yaitu pucuk batang padi menjadi kering kekuningan
serta mudah dicabut. Sedangkan untuk gejala beluk, serangannya terjadi pada fase
generatif (masa pembentukkan malai). Dampak serangan yang ditimbulkan
menyebabkan bulir padi menjadi hampa akibat proses pengisian bijinya tidak
berjalan sempurna karena kerusakan pada pembuluh batang padi. Kerugian hasil
yang disebabkan oleh gejala beluk berkisar 1-3% dengan rata-rata 1,2%
Hama pengisap polong ada tiga jenis yaitu kepik hijau Nezara viridula,
Imago dan nimfa merusak polong dan biji. Caranya dengan menusukkan stiletnya ke
kulit polong hingga mencapai biji kemudian mengisap cairan biji tersebut. Serangan
pada polong muda menyebabkan biji mengerut dan menyebabkan polong gugur.
Serangan pada fase pembentukan dan pertumbuhan polong menyebabkan biji dan
polong kempis kemudian mengering. Serangan pada fase pengisian biji
menyebabkan biji hitam dan busuk, dan serangan pada polong tua dan bijibijian telah
mengisi penuh menyebabkan kualitas biji turun oleh adanya bintik-bintik hitam pada
biji atau kulit biji menjadi keriput.
Penyakit hawar daun bakteri merupakan penyakit yang tersebar luas di
pertanaman padi sawah dan bisa menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit ini pada
umumnya terjadi pada musim hujan atau lembab >75%, terutama pada lahan sawah
yang selalu tergenang dengan pemupukan N yang tinggi. Hawar daun bakteri
merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv.
Oryzae Dye. yang dapat menginfeksi tanaman padi pada berbagai stadium
pertumbuhan. Gejala penyakit ini dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: (1).
Gejala layu (kresek) pada tanaman muda atau tanaman dewasa yang peka, (2). Gejala
hawar dan (3). Gejala daun kuning pucat.
Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Awalnya penyakit
ini berkembang di pertanaman padi gogo, tetapi akhir-akhir ini sudah menyebar di
lahan sawah irigasi. Di sentra-sentra produksi padi, penyakit blas banyak ditemukan
berkembang di pertanaman padi sawah. Jamur P. grisea dapat menginfeksi pada
semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang
panen. Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi, P.
grisea menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa
bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun. Pada fase
pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada
tangkai/leher malai disebut blas leher. Perkembangan parah penyakit blas leher
infeksinya dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah
sebagai patogen tular benih (seed borne).
Penyakit antraknosa pada cabai disebabkan oleh jamur Colletotrichum
capsici. Jamur ini berkembang pesat pada kelembaban di atas 90% dan suhu di
bawah 320C. Jamur Colletotrichum capsici dapat bertahan hidup di dalam tanah,
sisa-sisa tanaman atau buah yang telah terinfeksi. Sementara penularan penyakit
antraknosa dapat disebabkan oleh hembusan angin, alat-alat pertanian, percikan air
hujan dan penyemprotan pestisida, serta manusia. Antraknosa umumnya menyerang
hampir di semua bagian tanaman, mulai dari ranting, cabang, daun hingga buah. Fase
serangannya pun beragam, bisa dimulai dari fase vegetatif (perkecambahan) atau pun
fase generatif (pembuahan). Gejala yang terlihat apabila tanaman terinfeksi oleh
penyakit ini adalah pada buah terdapat tanda bercak melingkar cekung berwarna
coklat pada pusatnya serta berwarna coklat muda pada sekeliling lingkarannya. Pada
perkembangannya, bercak tersebut akan meluas kemudian menyebabkan buah
membusuk, kering dan jatuh.
Penyakit Gemini Virus/Virus Kuning. Penyebab: Geminivirus ”TYLCV”
(Tomato Yellow Leaf Curl Virus). Penyakit tidak ditularkan melalui biji, tetapi dapat
menular melalui penyambungan dan melalui serangga vektor kutu kebul. Kutu kebul
dapat menularkan geminivirus secara persisten (tetap; yaitu sekali makan pada
tanaman yang mengandung virus, selamanya sampai mati dapat menularkan). Gejala
serangan secara umum : Warna tulang daun berubah menjadi kuning terang, mulai
dari daun-daun pucuk, berkembang menjadi warna kuning yang jelas, tulang
daunmenebal dan daun menggulung ke atas (cupping). Infeksi lanjut, daun-daun
mengecil dan berwarna kuning terang, tanaman kerdil dan biasanya produksi buah
menurun/tidak berbuah.Gejala di lapangan di tiap daerah biasanya tidak sama,
tergantung dari jenis varietas cabai, ketinggian tempat dan lingkungan.
Penyakit layu fusarium ini disebabkan oleh Fusarium oxysporum var. vasinfe
ctum Shyder & Hausen. Selain cabai, tanaman inang lain dari penyakit ini, di
antaranya kacang panjang, bawang merah, tomat, dan mentimun. Inisiasi infeksi
terjadi pada leher batang bagian bawah yang bersinggungan dengan tanah. Bagian
tersebut membusuk dan berwarna cokelat. Infeksi menjalar ke akar sehingga
mengalami busuk basah. Apabila kelembapan tanah cukup tinggi, bagian leher
batang yang semula busuk kering tersebut berubah warna menjadi putih keabu-abuan
karena terbentuk massa sporangia. Gejala serangan layu fusarium pada bagian
tanaman di atas tanah berupa kelayuan daun-daun bagian bawah, lalu menjalar ke
ranting-ranting muda serta berakhir dengan kematian daun dan ranting yang ditandai
adanya warna cokelat. Cendawan tersebut berada di dalam pembuluh kayu. Serangan
lanjut mengakibatkan seluruh tanaman menjadi layu dalam waktu 14-90 hari sejak
infeksi.
Penyakit bercak daun tomat Penyebabnya adalah jamur Alternaria solani.
Jamur ini biasanya menyerang di saat musim hujan. Gejala awal tampak pada daun
berupa bercak kecil berwarna cokelat yang kemudian meluas. Bercak ini dicirikan
dengan adanya lingkaran yang konsentris. Bercak yang besar mempunyai bagian
tengah yang berlubang. Daun yang terserang berat akan cepat tua dan akhirnya
gugur. Selain menyerang daun, penyakit ini juga menyerang batang, bibit, dan buah.
Batang yang diserang umumnya bagian bawah sehingga mudah roboh. Demikian
pula, buah yang diserang akan membusuk, ditandai dengan adanya bagian yang
melekuk berwarna hitam. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan penyemprotan
fungisida. Jenis fungisida yang dapat digunakan antara lain Daconil 74 WP dengan
dosis 15 g/10 L air, Difolatan 4 F dengan dosis 2-3 cc/L air, atau Dithane M-45
dengan dosis 180-240 g/100 L air.
Lalat buah (Bactrocera sp.) panjang badannya sekitar 8 mm dengan sayap
transparan warna tubuhnya hijau kehitaman. Dalam bentuk belatung muda berwarna
putih, menjelang tua menjadi kekuningan panjangnya sekitar 1 cm. Belatung ini
terletak dalam daging buah. Buah tomat yang terserang lalat buah menjadi busuk,
bila dibuka terdapat belatung. Pupa lalat buah hidup dipermukaan tanah. Untuk
mengendalikan hama ini, adalah dengan melakukan pengolahan tanah yang benar.
Balik tanah dengan dicangkul atau dibajak, dan biarkan terkena sinar matahari
selama beberapa hari hingga pupua lalat mati. Bisa juga denngan membuat
perangkap untuk lalat jantan. Sehingga lalat betina tidak sempat dikawini dan
populasinya menurun drastis. Buah yang terserang segera dipetik dan dibakar.
Bersihkan gulma disekitar tanaman tomat.
BAB IV
PENUTUP

A.   Kesimpulan

Dari penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pada praktikum


lapangan yang telah dilakukan, bahwa hama dan penyakit tanaman pangan dan
sayuran sangat lah banyak. Adapun tanaman pangan yang kami amati adalah
komoditas tanaman padi, sedangkan tanaman sayuran yang kami amati adalah
komoditas tanaman cabai dan tomat. Tanaman yang terserang oleh hama dan
penyakit tersebut menunjukkan gejala yang berbeda-beda. Hama yang menyerang
tanaman padi yaitu walang sangit, penggerek batang padi, dan kepik hijau. Penyakit
yang tanaman padi yaitu penyakit hawar daun bakteri dan blas. Penyakit yang
menyerang tanaman cabai adalah antraknosa, gemini virus dan layu fusarium. Hama
yang menyerang tanaman tomat yaitu lalat buah dan penyakit yang menyerang tomat
adalah bercak daun tomat.

B.   Saran

Saran saya pada praktikum lapangan selanjutnya yaitu diharapkan kepada


semua mahasiswa agar ketika melakukan pengamatan harus serius agar data yang
didapatkan nantinya sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA

Arif I,. Illa A., dan Margaretta C. 2015. Identifikasi Penyebab Penyakit Bercak Daun
Pada Bibit Cempaka (Magnolia Elegans (Blume.) H.Keng) dan Teknik
Pengendaliannya. Jurnal Wasian. Vol. 2(2). Hal. 87-94.

Girsang, Febriana. 2008. Analisis Curah Hujan Untuk Pendugaan Debit Puncak
dengan Metode Rasional Pada DAS Belawan Kabupaten Deli Serdang.
Skripsi Sarjana. Medan. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Harianto, 2009. Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Kakao.


Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.Jember.

Herlina L, Dewi P & Mubarok I, 2004. Efektivitas biofungisida Trichoderma viride


terhadap pertumbuhan tomat. Laporan Penelitian. Semarang: FMIPA
UNNES

Immanuel, S. 2007. Patogenesis dan Diagnosis Laboratorik Sindrom Metabolik,


dalam Pendidikan Berkasinarnbungan Patologi Klinik, h:l-15.

Norsalis, E., 2011. Padi Gogo Dan Padi Sawah. Universitas Sumatera Utara. Diakses
dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/12 3456789/17659/4/Chapter
%20II.pdf. Pada 5 Desember 2011.

Radix Suharjo dan Titik Nur Aeny. 2011. Eksplorasi Potensi Gulma Siam
(Chromolaena Odorata) Sebagai Biofungisida Pengendali Phytophthora
Palmivora Yang Diisolasi Dari Buah Kakao. Jurnal HPT. Tropika, vol. 11
no. 2 : 201-209.

Semangun H. 2009. Penyakit-penyakit Tanaman Perkebunan Indonesia. Yogyakarta.


Gajah Mada Univ Press.