Anda di halaman 1dari 21

BAB II

LANDASAN TEORI

1.1. Pengertian Pelaksanaan

Pelaksanaan adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana

yang sudah disusun secara matang dan terperinci, implementasi biasanya

dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap siap (Angraini, 2016).

Menurut Westra (Hertanti et al., 2019) “Pelaksanaan sebagai usaha-usaha

yang dilakukan untuk melaksanakan semua rencana dan kebijaksanaan yang telah

dirumuskan dan ditetapkan dengan melengkapi segala kebutuhan dan alat-alat

yang diperlukan, dimana tempat pelaksanaannya dan kapan waktu dimulainya”.

Menurut Tjokroadmudjoyo (Evani Oktabela, 2019) “Pelaksanaan adalah

proses dalam bentuk rangkaian kegiatan, yaitu berawal dari kebijakan guna

mencapai suatu tujuan maka kebijakan itu diturunkan dalam suatu program dan

proyek”.

Menurut Goerge R. Terry (Lisa Agustrian et al., 2018) “Pelaksanaan

merupakan usaha menggerakan anggota kelompok sedemikian rupa hingga

mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan

sasaran anggota perusahaan”.

1
Menurut Wibowo (Abdullah, 2017) “Pelaksanaan merupakan

implementasi dari apa yang telah direncanakan dengan memanfaatkan persiapan

yang sudah dilakukan”.

1.1.1 Fungsi Pelaksanaan

Dalam pelaksanaan terdapat 4 fungsi. Adapaun nya sebagai berikut (Evani

Oktabela, 2019) :

1. Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan

pemberian motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara

efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan.

2. Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan.

3. Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan.

4. Proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak

dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut

dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan

produktifitas yang tinggi.

Dari pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan pelaksanaan merupakan

implementasi dari rencana suatu perusahaan, yang disusun dengan baik dan pada

proses pelaksanaannya memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan,

agar berjalan dengan lancar guna mencapai tujuan perusahaan.

2
1.2. Pengertian Pelayanan

Pelayanan sebagai salah satu tumpuan dalam upaya pemuasan pelanggan

dan menjadi sebuah keharusan untuk dimaksimalkan oleh individu maupun

organisasi, dengan demikian pelayanan yang diberikan bisa berkualitas.

Menurut Haksever (Fikri et al., 2016) “Pelayanan didefinisikan sebagai

kegiatan ekonomi yang menghasilkan waktu, tempat, bentuk dan keguanaan

psikologis”.

Pelayanan adalah tindakan atau perbuatan yang ditawarkan oleh satu pihak

kepada pihak lain yang bersifat tidak kasat mata (intangible) dan tidak

menghasilkan sesuatu (Zulkarnain & Bambang Sumarsono, 2018).

Pelayanan merupakan segala tindakan usaha penyediaan fasilitas dalam

rangka mewujudkan kepuasan para calon pembeli atau pelanggan sebelumnya

atau sesudah terjadinya transaksi (Suratriadi & Suparman, 2018).

Menurut Moenir (Rahayu, 2017) “Pelayanan adalah kegiatan yang

dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materi

melalui sistem prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi

kepentingan sesuai dengan haknya.

3
Menurut Barata (Frimayasa & Kamal, 2017) “Pelayanan adalah suatu

kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara

seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasan

pelanggan”.

Menurut Goonroos dalam Ratminto (Karlina et al., 2019) “Pelayanan

adalah aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata yang

terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara konsumen dan karyawan atau hal-

hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan

untuk permasalahan konsumen atau pelanggan”.

Pelayanan dapat diartikan sebagai aktivitas yang diberikan untuk

membantu, menyiapkan, dan mengurus baik itu berupa barang atau jasa dari satu

pihak ke pihak lain (Hardiansyah, 2018).

1.2.1 Unsur-unsur Pelayanan

Terdapat unsur-unsur kualitas pelayanan yang mempengaruhi perasaaan

pelanggan, yaitu (Maulana, 2016) :

1. Perasaan puas terhadap bukti fisik (tangibles)

2. Perasaan puas terhadap empati (emphaty)

3. Perasaan puas terhadap daya tanggap (responsiveness)

4. Perasaan puas terhadap kehandalan (reliability)

5. Perasaan puas terhadap jaminan (assurances)

4
Menurut H.A.S Moenir (Purnomo Kusumo, 2017) terdapat beberapa unsur

yang berpengaruh terhadap kegiatan pelayanan, yaitu :

1. Sistem, prosedur, dan metode.

Dalam pelayanan perlu adanya informasi, prosedur dan metode yang

mendukung kelancaran dalam memberikan pelayanan.

2. Personil

Personil lebih ditekankan pada perilaku aparatur dalam pelayanan.

3. Sarana dan Prasarana

Dalam pelayanan diperlukan peralatan dan ruang kerja serta fasilitas

pelayanan.

4. Masyarakat sebagai pelanggan

Dalam pelayanannya, masyarakat selaku pelanggan sangatlah

heterogen yaitu tingkat pendidikannya maupun perilakunya.

1.2.2 Ciri-ciri Pelayanan yang baik

Terdapat beberapa ciri-ciri pelayanan yang baik menurut Kasmir (Uli Sari

Sianipar, 2018) antara lain :

1. Tersedianya Karyawan yang baik

Kenyamanan pengunjung sangat tergantung dari karyawan harus

ramah, sopan dan menarik. Disamping itu, karyawan harus cepat

tanggap, pandai berbicara, menyenangkan serta pintar. Karyawan juga

harus mampu memikat dan mengambil hati pengunjung sehingga

pengunjung semakin tertarik. Demikian juga dengan cara kerja

karyawan harus rapi, cepat dan cekatan

5
2. Mampu Berkomunikasi dengan baik

3. Berusaha Memahami Kebutuhan Pengunjung

Berusaha memahami kebutuhan pengunjung artinya para karyawan

khususnya customer service harus cepat tanggap terhadap apa yang

diinginkan oleh para pengunjung. Karyawan yang lamban akan

membuat pengunjung lari. Usahakan mengerti dan memahami

keinginan dan kebutuhan pengunjung secara cepat.

4. Mampu Melayani secara Cepat dan Tepat

Mampu melayani secara cepat dan tepat artinya dalam melayani

pengunjung diharapkan para karyawan harus melakukannya sesuai

dengan prosedur. Layanan yang diberikan sesuai jadwal untuk

pekerjaan tertentu dan jangan membuat kesalahan dalam arti pelayanan

yang diberikan sesuai dengan standar perusahaan dan keinginan

pengunjung.

1.2.3 Kualitas Pelayanan

Menurut Lovelock dalam Fandy Tjiptono (Rahmawati, 2017) “Kualitas

Pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas

tingkat keungulan tersebut untuk memenuhi harapan pelanggan”.

Kualitas layanan terdiri dari lima unsur penting yaitu, Bukti Fisik,

Jaminan, Empati, Daya Tanggap, dan Keandalan. Untuk mewujudkan layanan

yang berkualitas positif perusahaan harus mampu memenuhi layanan yang

diharapkan konsumen (Permatasari, 2018):

6
Menurut Tjiptono kualitas layanan (Ermawati, 2017) “Merupakan suatu

kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, sumber daya manusia,

proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Dengan demikian

kualitas pelayanan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan dan keinginan

pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan

pelanggan”.

Dari pendapat beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pelayanan

adalah segala bentuk aktivitas yang tidak dapat dimiliki namun dapat

menghasilkan keuntungan melalui usaha pemenuhan kebutuhan seperti

penyediaan fasilitas sebagai bentuk penyelesaian permasalahan konsumen atau

pelanggan.

1.2.4 Dimensi Kualitas Pelayanan

Menurut Parasuraman, dkk dalam Tjiptono (Ermawati, 2017)

mengidentifikasi sepuluh dimensi pokok kualitas jasa sebagai berikut :

1. Reliabilitas, meliputi dua aspek utama, yaitu konsisten kinerja

(performance) dan sifat dapat dipercaya (dipendability). Hal ini berarti

bahwa perusahaan mampu menyampaikan jasanya secara benar sejak

awal (right the first time), memenuhi janjinya secara akurat dan andal.

2. Responsivitas atau daya tanggap, yaitu kesediaan dan kesiapan para

karyawan untuk membantu para pelanggan dan menyampaikan jasa

secara tepat. Beberapa contoh diantaranya kecepatan waktu layanan,

7
pengiriman slip transaksi secepatanya, kecepatan menghubungi

kembali pelanggan, dan peyampaian layanan secara cepat.

3. Kompetensi, yaitu penguasaan ketrampilan dan pengetahuan yang

dibutuhkan agar dapat menyampaikan jasa sesuai dengan kebutuhan

pelanggan. Termasuk didalamnya adalah pengetahuan dan

ketrampilan karyawan kontrak, pengetahuan dan ketrampilan personil

dukungan operasional, dan kapabilitas riset organisasi.

4. Akses, meliputi kemudahan untuk dihubungi atau ditemui

(approachability) dan kemudahan kontak. Hal ini berarti lokasi

fasilitas jasa mudah dijangkau, waktu mengantri atau menunggu tidak

terlalu lama, saluran komunikasi perusahaan mudah dihubungi

(contohnya telepon, surat, email, fax, dan seterusnya), dan jam operasi

nyaman.

5. Kesopanan (courtesy), meliputi sikap santun, respect, atensi, dan

keramahan para karyawan kontak (resepsionis, operator telepon, bell

person, teller bank, dan lain-lain).

6. Komunikasi, artinya menyampaikan informasi kepada para pelanggan

dalam bahasa yang mudah mereka pahami, serta selalu mendengarkan

saran dan keluhan pelanggan. Termasuk di dalamnya adalah

penjelesan mengenai jasa/layanan yang ditawarkan, biaya jasa,

tradeoff antara jasa dan biaya, serta proses penanganan masalah

potensial yang mungkin timbul.

7. Kredibilitas, yaitu sifat jujur dan dapat dipercaya. Kredibilitas

mencakup nama perusahaan, reputasi perusahaan, karakter pribadi

8
karyawan kontak, dan interaksi dengan pelanggan (hard selling versus

soft selling approach).

8. Keamanan (security), yaitu bebas dari bahaya, resiko atau keragu-

raguan. Termasuk didalamnya adalah keamanan secara fisik (physical

safety), keamanan finansial (financial security), privasi, dan

kerahasiaan (confidentiality).

9. Kemampuan memahami pelanggan, yaitu berupaya memahami

pelanggan dan kebutuhan spesifik mereka, memberikan perhatian

indivudual, dan mengeanl pelanggan regular.

10. Bukti fisik (tangibles), meliputi penampilan fasilitas fisik, peralatan,

personil, dan bahan-bahan komunikasi perusahaan (seperti kartu

bisnis, kop surat, dan lain-lain).

1.3. Pengertian Jasa

Menurut Kotler dalam Tjiptono (Nining Catur Pawestriningtyas dkk,

2016) “Jasa merupakan setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh

suatu pihak kepada pihak lain seperti penjual dengan pembeli dan pada dasarnya

bersifat tidak berwujud fisik (intangible) dan tidak menghasilkan kepemilikan

sesuatu sehingga jasa tersebut tidak dapat dilihat”.

Menurut Kotler dalam Arief (Yafie et al., 2016) “Jasa adalah sesuatu yang

tidak berwujud yang merupakan tindakan atau unjuk kerja yang ditawarkan oleh

satu pihak ke pihak lain dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan

apapun“.

9
Jasa adalah aktivitas yang tidak memberikan kepemilikan tetapi

menghasilkan kegiatan ekonomi dengan hasil keluaran yang tidak berwujud dan

memberikan keuntungan bagi pelanggan sebagai akibat dari pertukaran yang

diharapkan dan dalam proses produksinya melibatkan langsung pihak pelanggan

(Muawanah, 2020).

Menurut Lupiyoadi (Afrizal & Suhardi, 2018) “Jasa merupakan aktivitas

ekonomi yang hasilnya tidak merupakan produk dalam bentuk fisik atau kontruksi

yang umumnya dikonsumsi pada saat yang sama dengan waktu yang dihasilkan

dan memberikan nilai tambah.

Jasa merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi manfaatnya dapat

dirasakan, produk yang ditawarkannya tidak berwujud (intangible) (Wulansari,

2017).

Jasa atau pelayanan merupakan suatu kinerja yang tidak berwujud dan

cepat hilang serta pelanggan dapat berpartisipasi aktif dalam proses

mengkonsumsi jasa tersebut. Namun kondisi cepat atau lambatnya pertumbuhan

jasa sangat tergantung pada penilian pelanggan terhadap kinerja atau penampilan

yang ditawarkan oleh perusahaan (Ermawati, 2017).

Menurut Gonroos dalam Jasfar (Bariroh, 2017) “Jasa diartikan sebagai

palayanan yang diberikan oleh manusia, baik yang dapat dilihat (eksplisit)

10
maupun yang tidak dapat dilihat, yang hanya bisa dirasakan (implisit service)

sampai pada fasilitas-fasilitas pendukung yang harus tersedia dalam penjualan jasa

dan benda-benda lainnya”.

1.3.1 Karakteristik Jasa

Menurut Hurriyati (Suhada & Putra, 2016) karakteristik sebagai berikut :

1. Jasa tidak dapat disimpan dan pada umunya dikonsumsi pada saat

dihasilkan.

2. Jasa bergantung pada waktu, secara umum, pelanggan sering kali

cenderung memanfaatkan jasa secara lebih sering pada waktu tertentu.

3. Jasa bergantung pada tempat.

4. Konsumen selalu terlibat dalam proses produksi jasa, karena

konsumen merupakan bagian integral dari proses tersebut.

5. Perubahan pada konsep kemanfaatan berarti perubahan proses

produksi yang terlihat maupun tidak.

6. Setiap orang dan apapun yang berhubungan dengan konsumen turut

juga mempunyai andil dalam memberikan peranan.

7. Karyawan penghubung (contract employee) merupakan bagian dari

proses produksi jasa.

8. Kualitas jasa tidak dapat diperbaiki pada saat proses produksi karena

produksi jasa terjadi secara real time, dan konsumen terlibat pada

proses produksinya. Jika terjadi kesalahan pada saat produksi maka

terlambat bagi bagian pengendalian kualitas untuk memperbaikinya.

Menurut Tjiptono karakateristik jasa adalah sebagai berikut :

1. Intangibility

11
Jasa berbeda dengan barang. Bila barang merupakan suatu obyek, alat,

material, atau benda, maka jasa justru merupakan perbuatan, tindakan,

pengalaman, proses, kinerja, atau usaha. Hal tersebut yang

menyebabkan jasa tidak dapat dilihat, dirasa, dicium, didengar, atau

diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi.

2. Variability

Jasa sangat variabel, karena merupakan non-standardized output,

artinya, terdapat banyak variasi bentuk, kualitas, dan jenis, tergantung

pada siapa, kapan, dan dimana jasa tersebut diproduksi.

3. Inseparability

Barang biasanya diproduksi terlebih dahulu, kemudian dijual, lalu

dikonsumsi. Sedangkan jasa pada umunnya dijual terlebih dahulu,

baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi pada waktu dan tempat

yang sama.

4. Perishability

Jasa merupakan komoditas yang tidak tahan lama, tidak dapat

disimpan untuk pemakaian ulang diwaktu datang, dijual kembali atau

dikembalikan.

1.3.1 Klasifikasi Jasa

Menurut Hurriyati (Suhada & Putra, 2016) klasifikasi sebagai berikut :

1. Berdasarkan sifat tindakan jasa (the nature of the service act),

merupakan kelompok jasa yang sifat penyampaiannya dapat

berhubungan dengan tubuh atau pikiran dari pihak penerima jasa, serta

12
dapat juga berkaitan dengan benda atau kekayaan dan kepentingan

bagi pihak penerima jasa.

2. Berdasarkan hubungan dengan pelanggan (relationsif with customer),

kelompok jasa yang sejenis hubungan dengan pelanggan dalam

penyampaiannya jasanya dilakukan secara berkesinambungan atas

dasar kebijaksanaan yang bersifat sesaat, dengan memperhatikan

hubungan secara formal.

3. Berdasarkan tingkat kustomisasi dan keputuasan dalam penyampaian

jasa (customization and judgement in service delivery), kelompok jasa

yang ditinjau dari segi tinggi rendahnya keseragaman atau yang lebih

terbiasa secara umum dari jasa yang disajikan menurut pandangan

pihak penyedia jasa yang disediakan.

4. Berdasarkan sifat permintaan dan penawaran jasa (nature of demand

and supply for service), kelompok jasa yang ditinjau dari tingkat

permintaan dikaitkan dengan kapasitas jasa yang disediakan atau

kemampuannya untuk melayani permintaan pasar.

5. Berdasarkan metode penyampaiannya (method of service delivery),

kelompok jasa yang ditinjau dari cara interaksi dengan banyaknya

tempat yang disediakan oleh pihak penyedia jasa.

1.3.2 Macam-macam Jasa

Menurut Hurriyati (Suhada & Putra, 2016) macam-macam jasa sebagai

berikut :

1. Barang berwujud murni

13
Yaitu hanya terdiri dari barang berwujud. Tidak ada jasa yang

menyertai produk tersebut.

2. Barang berwujud yang disertai jasa

Yaitu terdiri dari barang berwujud yang disertai dengan satu atau lebih

jasa untuk mempertinggi daya tarik pelanggan.

3. Campuran

Yaitu terdiri dari barang dan jasa dengan proporsi yang sama.

4. Jasa utama yang disertai barang dan jasa tambahan

Yaitu terdiri dan atau barang pelengkap

5. Jasa murni

Yaitu hanya terdiri dari jasa.

1.3.3 Kualitas Jasa

Menurut Zeithaml et al (Maulana, 2016) “mengidentifikasikan lima

dimensi kualitas jasa yang tidak berwujud (intangible), yaitu :

1. Bukti fisik (tangible) merupakan aspek perusahaan jasa yang mudah

terlihat dan ditemui konsumen, yaitu dalam wujud sarana dan

prasarana, alat komunikasi dan tampilan personil

2. Empati (emphaty) meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan

dengan konsumen, komunikasi yang baik, perhatian dan memahami

pelanggan.

3. Daya tanggap (responsivness) adalah kemauan untuk memberikan

pelayanan dan membantu konsumen dengan segera, dalam hal ini yang

penting adalah standar-standar yang digunakan harus sesuai dengan

14
permintaan atau harapan, kecepatan tanggapan yang diingatkan

konsumen serta persepsi konsumen tentang kecepatan bukan

didasarkan atas persepsi perusahaan.

4. Kehandalan (reliability) merupakan kemampuan perusahaan

menyampaikan jasa yang akurat dan konsisten.

5. Jaminan (assurance) adalah kompentensi, sopan santun, kredebilitas,

dan keamanan yang akan membantu keyakinan konsumen bahwa akan

mendapatkan jasa yang diharapkan.

Dari penjelasan itu dapat disimpulkan bahwa jasa adalah segala tindakan

atau usaha yang dilakukan oleh penjual untuk memenuhi kebutuhan calon pembeli

dalam bentuk tidak berwujud (intangible).

1.4. Pengertian Biro Perjalanan

Biro Perjalanan adalah sebuah perusahaan khusus untuk melakukan

pengaturan dan penyelenggaraan perjalanan seseorang maupun kelompok dari

suatu tempat ketempat lain beserta kelengkapan perjalanannya (Yahya

Niamuddin, 2021).

Menurut Holloway dan Humphreys (Solaiman & Rosalia, 2016) “Biro

perjalanan wisata adalah seseorang atau organisasi yang menjual dan

menyediakan jasa dari pemasok (suppliers), perantara perjalanan wisata, dan

15
organisasi destinasi kepada pelanggan perorangan dan kelompok, serta menerima

imbalan berupa komisi dari layanan jasa”.

Menurut Yoeti (Dhiasti, 2017) “Biro Perjalanan Wista adalah saranan

kepariwisataan yang melayani kebutuhan wisatawan antara lain dokumen

perjalanan, transportasi, makanan, panduan jadwal perjalanan, tiket masuk wisata

hingga pemandu wisata”.

Menurut Utama (Jericho, 2017) “Biro perjalanan wisata adalah kegiatan

usaha yang bersifat komersial yang mengatur, menyediakan dan

menyelenggarakan pelayanan bagi seseorang atau sekelompok orang untuk

melakukan perjalanan dengan tujuan utama berwisata”.

Menurut Foster (Humaidy BJ, 2017) “Biro Perjalanan (travel) adalah

sebuah perusahaan yang menjual rancangan perjalanan secara langsung pada

masyarakat dan lebih khusus lagi menjual transportasi udara, darat, laut,

akomodasi penginapan, pelayanan wisata, wisata paket, asuransi perjalanan, dan

produk lainnya yang berhubungan”.

Menurut Ismayanti (Nelfiany, 2020) “ Biro Perjalanan Wisata merupakan

perusahaan yang mengatur aktivitas suatu wisata dan jasa yang berhubungan

dengan wisata yang terjadi di luar negeri ke dalam negeri maupun dari dalam

negeri ke luar negeri”.

16
Biro Perjalanan Wisata (BPW) adalah perusahaan yang bersifat komersial

yang mengatur, dan menyediakan pelayanan bagi seseorang ataupun sekelompok

orang untuk melakukan perjalanan dengan tujuan utama berwisata. Biro

perjalanan Wisata (BPW) juga berperan sebagai penghubung wisatawan dengan

berbagai penyedia jasa dalam bidang industri pariwisata lainnya, seperti:

transportasi, akomondasi, restoran dan pihak pengelolaan daya tarik wisata (Putu

Superyadi et al., 2018).

Menurut Suwantro (Mude, 2018) “Pariwisata berhubungan erat dengan

pengertian perjalanan wisata yaitu sebagai sesuatu perubahan tempat tinggal

sementara seseorang diluar tempat tinggalnya karena suatu alasan dan bukan

untuk melakukan kegiatan untuk menghasilkan upah dengan demikian dapat

dikatakan bahwa perjalanan wisata merupakan suatu perjalanan yang dilakukan

seseorang atau lebih dengan tujuan antara lain untuk mendapatkan kenikmatan

dan memenuhi hasrat ingin mengetahui sesuatu”.

1.4.1 Fungsi Biro Perjalanan

Biro pejalanan wisata (BPW) memiliki fungsi ganda baik sebagai

organizer dan intermediary yaitu (Yosiane Kartika, 2017):

1. Sebagai organizer yaitu pada prinsipnya Biro Perjalanan Wisata

memiliki dua fungsi ganda baik sebagai penyusun dan penjual paket

wisata yang terdiri dari komponen-komponen jasa angkutan,

penginapan, makanan, dan lain-lain dengan satu kesatuan harga dengan

perhitungan yang pasti.

17
2. Sebagai intermediary yaitu dapat pula sebagai penjualan jasa dari

penyediaan jasa angkutan, akomodasi, dan lain-lain dengan imbalan

komisi

1.4.2 Bentuk-bentuk Perjalanan

Menurut Mangembulude (Satria, 2017), terdapat berbagai macam bentuk

perjalanan wisata yang dilihat dari berbagai macam sisi, yaitu :

1. Dari segi jumlahnya, wisata dibedakan atas :

a. Individual Tour (Wisata Perorangan), yaitu suatu perjalanan yang

dilakukan oleh satu orang atau sepasang suami istri.

b. Family Group Tour (Wisata Keluarga), yaitu suatu perjalanan

wisata yang dilakukan oleh serombongan keluarga, yang masih

mempunyai hubungan kekerabatan satu sama lain.

c. Group Tour (Wisata Rombongan), yaitu suatu perjalanan yang

dilakukan bersama-sama dengan pimpinan oleh seseorang yang

bertanggung jawab atas keselamatan dan kebutuhan seluruh

anggotanya.

2. Dari segi kepengaturannya, wisata dibedakan atas :

a. Pre-arranged Tour (Wisata Berencana), yaitu suatu perjalanan

wisata yang jauh hari sebelumnya telah diatur segala sesuatunya,

baik transportasi, akomondasi, maupun objek-objek yang akan

dikunjungi.

b. Package Tour (Wisata Paket), suatu produk wisata yang

merupakan suatu komposisi perjalanan yang disusun dan dijual

18
guna memberikan kemudahan dan kepraktisan dalam melakukan

perjalanan.

c. Coach Tour (Wisata Terpimpin), yaitu suatu paket perjalanan

ekskursi yang dijual oleh biro perjalanan dengan dipimpin oleh

seorang pemandu wisata dan merupakan perjalanan wisata yang

diselenggarakan secara rutin, dalam jangka yang telah ditetapkan

dan dengan rute perjalanan yang tertentu pula.

d. Special Arranged Tour (Wisata Khusus), yaitu suatu perjalanan

wisata yang disusun secara khusus guna memuji permintaan

seorang langganan atau lebih sesuai dengan kepentingannya.

e. Optional Tour (Wisata Tambahan), yaitu suatu perjalanan wisata

tambahan diluar pengaturan yang telah disusun dan diperjanjikan

pelaksanaannya, yang dilakukan atas permintaan pelanggan.

3. Dari segi maskdu dan tujuannya, wisata dibedakan atas :

a. Holiday Tour (Wisata Liburan), suatu perjalanan wisata yang

diselenggarakan dan diikuti oleh anggotanya guna berlibur,

bersenang-senang dan menghibur diri.

b. Familiarization Tour (Wisata Pengenalan), yaitu suatu perjalanan

anjangsana yang dimaksudkan guna mengenal lebih lanjut bidang

atau daerah yang mempunyai kaitan dengan pekerjaannya.

c. Education Tour (Wisata Pendidikan), yaitu suatu perjalanan wisata

yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran, studi

perbandingan ataupun pengetahuan mengenai bidang kerja yang

dikungjunginya.

19
d. Scientific Tour (Wisata Pengetahuan), yaitu perjalanan wisata yang

tujuan pokoknya adalah memperoleh pengetahuan atau

penyelidikan suatu bidang ilmu pengetahuan.

e. Pilgrimage Tour (Wisata Keagamaan), perjalanan wisata guna

melakukan ibadah keagamaan.

f. Special Mission Tour (Wisata Kunjungan Khusus), yaitu perjalanan

wisata dengan suatu maksud khusus, misalnya misi dagang, misi

kesenian dan lain-lain.

g. Special Program Tour (Wisata Program Khusus), yaitu suatu

perjalanan wisata untuk mengisi kekosongan khusus

h. Hunting Tour (Wisata Perburuan), yaitu suatu kunjungan wisata

yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan pemburuan binatang

yang diijinkan oleh penguasa setempat, untuk hiburan semata.

4. Dari segi penyelenggaraannya, wisata dibedakan atas :

a. Excursion (Ekskursi), yaitu suatu perjalanan wisata jarak pendek

yang ditempuh kurang dari 24 jam guna mengunjungi satu atau

lebih objek wisata.

b. Safari Tour (Wisata Safari), yaitu suatu perjalanan wisata yang

diselenggarakan secara khusus dengan perlengkapan atau peralatan

khusus pula.

c. Cruise Tour (Wisata Pelayaran), yaitu perjalanan wisata yang

menggunakan kapal pesiar mengunjungi objek-objek wisata bahari,

dan objek wisata di darat tetapi menggunakan kapal pesiar sebagai

basis pemberangkatannya.

20
d. Youth Tour (Wisata Remaja), yaitu suatu kunjungan wisata yang

penyelenggaraannya khusus diperuntukan bagi para remaja menurut

golongan umur yang ditetapkan oleh hukum negara masing-masing.

e. Marine Tour (Wisata Bahari), yaitu suatu kunjungan objek wisata

khususunya untuk menyaksikan keindahan lautan.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan biro perjalanan atau travel

merupakan sebuah organisasi yang mengatur dan menyelenggarakan perjalanan

seseorang maupun kelompok ketempat tujuan sesuai dengan paket yang dipilih,

berujuan untuk berwisata.

21