Anda di halaman 1dari 11

TUGAS TOKSIKOLOGI

KARSINOGENIK DAN TERATOGENIK

Disusun oleh:
KELOMPOK 4
1. Rikah krisdiasih (07307144007)
2. Rio Dwi Andrianto (07307144011)
3. Risca Yuniwati (07307144015)
4. Anindita Satiti P (07307144017)
5. Ririt Morani (07307144023)
6. Yani Ulfah F (07307144042)

PROGRAM STUDI KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010
A. BENZENE SEBAGAI SENYAWA KARSINOGENIK
Karsinogen adalah zat yang menyebabkan penyakit kanker. Zat-zat
karsinogen menyebabkan kanker dengan mengubah asam deoksiribonukleat
(DNA) dalam sel-sel tubuh, dan hal ini mengganggu proses-proses biologis.
Sifatnya yang mengendap dan merusak terutama pada organ paru-paru karena zat-
zat yang terdapat pada rokok. Sehingga paru-paru menjadi berlubang dan
menyebabkan kanker. Karsinogen kimiawi yang pertama kali diidentifikasi adalah
senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik.
Benzene adalah hidrokarbon aromatik (senyawa kimia organik) dengan
rumus molekul C6H6. Senyawa ini bersifat larut air, tidak berwarna dan mudah
terbakar. Benzene merupakan konstituen alami minyak bumi dan dapat disintesis
dari senyawa-senyawa lain yang ada dalam minyak bumi. Akhir-akhir ini benzene
diketahui bersifat karsinogen sehingga penggunaannya sebagai bahan aditif dalam
bensin dibatasi. Walaupun demikian, benzene memegang peranan penting di
dalam industri, yaitu sebagai pelarut dalam produksi obat, plastik, karet sintetis
dan pewarna.
Perkembangan pesat dalam sampling udara, ditambah dengan fakta bahwa
benzene meracuni darah (hematotoksik), maka nilai ambang batas benzene
ditekan terus menerus. Di Indonesia sesuai dengan Surat Edaran Menteri Tenaga
Kerja Nomor SE 01/Men/1997 nilai ambang batas benzene adalah 10 ppm. Risiko
tubuh terhadap pemaparan benzene adalah sebagai berikut :
1. Metabolisme
Keracunan benzene umumnya terjadi melalui inhalasi uap, walaupun
benzene dapat berpenetrasi melalui kulit. Gejala keracunan hebat adalah kejang-
kejang, koma dan akhirnya meninggal. Benzene apabila tidak segera dikeluarkan
melalui ekspirasi maka akan diabsorpsi ke dalam darah. Benzen larut dalam cairan
tubuh dalam konsentrasi sangat rendah dan secara cepat berakumulasi dalam
jaringan lemak karena kelarutannya yang tinggi dalam lemak. Apabila benzene
tertelan atau terinhalasi, maka 50% akan keluar melalui ekspirasi atau keluar
bersama urin.
Metabolisme terjadi di dalam hati, benzene dioksidasi menjadi hidroksi
benzene, 1,2-dihidroksi benzene atau 1,4-dihidroksi benzene. Hidroksi benzene
(fenol) kemudian mengalami konjugasi dengan sulfat anorganik menjadi fenil-
sulfat dan hidroksi benzene lain yang akhirnya diekskresi melalui urin, jalur ini
disebut Major Pathway. Ekskresi fenil-sulfat mencapai puncaknya 4-8 jam setelah
pemaparan benzene.
a) Reaksi terhadap pemaparan akut benzene
• Keracunan melalui mulut
Tertelannya 9-12 gram benzene melalui mulut akan menimbulkan tanda-
tanda seperti: jalan sempoyongan, muntah, denyut nadi cepat, delirium,
pneumonitis, hilang kesadaran, kehilangan kestabilan, dan koma. Sedangkan
pada konsentrasi sedang, benzene dapat menyebabkan pusing, lemah, mual,
sesak napas, dan rasa sesak di dada.
• Keracunan melalui kulit
Bila benzene terpapar di kulit, maka akan diabsorpsi, tetapi lebih kecil jika
dibandingkan dengan absorpsi mukosa saluran napas. Secara lokal, benzene
merupakan iritan kuat menimbulkan bercak merah dan terbakar serta
menghilangkan lemak pada lapisan keratin yang menyebabkan dermatitis
kering serta bersisik.
• Keracunan inhalasi
Penguapan benzene dalam konsentrasi tinggi akan menyebabkan keracunan,
paling banyak akibat penghirupan/inhalasi. Pada tingkat permulaan, benzene
terutama berpengaruh pada susunan saraf pusat. Tanda-tanda utamanya ialah
perasaan mengantuk, pusing, sakit kepala, vertigo, delirium, dan kehilangan
kesadaran. Pada pemaparan akut tingkat sedang dapat menyebabkan
sindrom prenarkosis yang khas ialah sakit kepala, perasaan pusing, atau
mabuk, dan kadang-kadang mengalami iritasi ringan pada saluran napas dan
cerna. Pemaparan akut dengan konsentrasi tinngi dapat menyebabkan sesak
napas, euphoria, tinitus, dan anestesia yang dalam. Bila tidak segera
ditolong, dapat terjadi kegagalan pernapasan , dan kejang.
• Pengaruh terhadap sel
Benzene mempengaruhi sel hemopoetik darah tepi dan sumsum tulang.
Otopsi menunjukkan adanya tanda-tanda perdarahan di otak, perikardium,
saluran kemih, membran mukosa dan kulit.
b) Reaksi terhadap pemaparan kronis benzene
Pemaparan benzene kronis secara inhalasi pada manusia dengan kadar
rendah menyebabkan gejala psikologis. Gejala tersebut dipengaruhi oleh
variasi individu, antara lain keadaan gizi, faktor genetik, keadaan imunologis
tertentu, dan penggunaan alkohol atau obat-obatan. Tanda-tanda yang
dihubungkan dengan pemaparan benzen kronis secara inhalasi berupa sakit
kepala, pusing, kelelahan, anoreksia. dispnea, gangguan penglihatan, pucat,
vertigo dan hilang kesadaran.
Pemeriksaan laboratorium dapat menunjukkan beberapa pengaruh
seperti hiperbilirubinemi, splenomegali, adrenomegali, anemia hemolitik,
anemia aplastik, gangguan sistem limfatik, retikulositosis, leukopeni,
pansitopeni, eosinofili, basofili, trombositopeni, monositosis, hiperplasi
sumsum tulang dan penyimpangan kromosom. Pengaruh pemaparan kronis
melalui inhalasi mempunyai tiga tingkatan, ialah :
• Pemaparan konsentrasi rendah, menghasilkan perubahan
sangat sedikit, hampir tidak jelas pada sistem hemopoetik.
• Pemaparan konsentrasi sedang akan mempengaruhi
sintesis enzim tertentu, sensitisasi dan anemia.
• Pemaparan konsentrasi tinggi dapat menimbulkan
gangguan sel darah yang irreversibel.
Pengaruh utama keracunan benzen kronis adalah terhadap susunan
saraf pusat yang mungkin tidak dapat segera dikenali karena gejalanya tidak
spesifik seperti sakit kepala, anoreksia, vertigo, dan sebagainya. Sedangkan
konsentrasi yang sangat tinggi menyebabkan sensitisasi jantung terhadap
katekolamin dengan gejala denyut nadi cepat, sakit kepala, muntah,
kehilangan kesadaran. Pada penelitian terakhir ternyata benzen menurunkan
tekanan darah arteri dan perifer. Gejala ini akan hilang bila pemaparan
dihentikan.
2. Pengaruh Pada Kulit
Pemaparan benzene pada kulit akan mengakibatkan kulit menjadi peka
(dermal sensitizer). Pemaparan jangka lama dapat menimbulkan luka bakar. Bila
kulit terkena benzen terus menerus, maka lemak kulit akan hilang, menyebabkan
eritema, kulit bersisik dan kering. Pada beberapa kasus terjadi pembentukan
vesikula, dan papula.
3. Pengaruh Hematologis
Pengaruh benzene terhadap sistem hemopoetik telah lama diketahui;
gejalanya dapat dibagi atas tiga golongan sebagai berikut :
• Tingkat awal
Pada tingkat awal dapat terjadi gangguan pembekuan darah yang disebabkan
oleh perubahan fungsi, morfologi dan jumlah trombosit, juga dapat
menurunkan pembentukan semua komponen darah. Jika dapat didiagnosis
dan segera diobati, dapat sembuh sempurna (reversibel).
• Tingkat lebih lanjut
Pada tingkat lanjut, sumsum tulang menjadi hiperplastik kemudian
hipoplastik, metabolisme besi terganggu, terjadi perdarahan sistemik.
Diagnosis dan pengobatan harus cepat dan tepat dan hindari pemaparan
selanjutnya. Dalam pemeriksaan jumlah eritrosit kurang dari 3,5 juta,
leukosit kurang dari 4500, jumlah trombosit menurun, besi meningkat. Bila
tidak segera ditangani berlanjut ke fase ketiga.
• Fase ketiga
Dalam fase ini dapat terjadi aplasi sumsum tulang yang progresif. Mungkin
ada penekanan regenerasi sumsum tulang dengan adanya kerusakan sel
darah tepi, yang akhirnya mengakibatkan kelambatan daya regenerasi.
4. Pengaruh Pada Sub Sel
Pada pekerja yang terpapar benzen bertahun-tahun akan terjadi
penyimpangan kromosom dalam limfosit darah tepi.

B. EFEK TERATOGENIK PADA KEHAMILAN


Teratogenik atau teratogenis adalah istilah medis yang berasal dari bahasa
Yunani yang berarti membuat monster. Dalam istilah medis, berarti
perkembangan tidak normal dari sel selama kehamilan yang menyebabkan
kerusakan pada embrio. Ada sejumlah bahan bersifat teratogenik antara lain
infeksi virus rubella, konsumsi alkohol selama kehamilan, merokok selama
kehamilan, paparan radiasi sinar X dan sejumlah obat-obatan seperti warfarin dan
Roaccutane
Berbagai obat neuro aktif terlibat dalam efek teratogenik maupun induksi
pasif, yang paling jelas adalah efek teratogenik dari beberapa antikonvulsan,
alkohol dan analog vitamin A; sedangkan adiksi pasif khususnya menonjol pada
analgetik narkotik dan sedatif hipnotik tertentu. Pemakaian antikonvulsan pada
ibu dapat menimbulkan efek pada janin berupa konstelasi kerusakan spesifik,
gangguan koagulasi dan adiksi pasif; mekanismenya belum jelas, mungkin
melibatkan gangguan metabolisme asam folat, produksi metabolit obat yang
bersifat teratogen oleh plasenta, gangguan sistem transport elektron dan
perubahan biosintesa poliamina.
Pada ibu peminum alkohol kronis pertumbuhan bayi yang lahir sangat
terlambat, kepala kecil, kelainan fasial dan depresi neonatus. Waktu lahir
hambatan pertumbuhan lebih besar pada panjang badan dibandingkan dengan
pada bobot badan bayi, selanjutnya pertambahan bobot badan lebih terhambat
daripada pertumbuhan linier. Pengurangan/penghentian konsumsi alkohol selama
hamil memberikan efek preventif yang menguntungkan dan bila dilakukan pada
masa dini kehamilan, hambatan pertumbuhan dan kelainan bawaan dapat dicegah.
Bila penghentian konsumsi dilakukan pada pertengahan kehamilan, retardasi
mental dicegah tetapi kelainan bawaan tidak. Karena derajat penurunan konsumsi
alkohol yang dibutuhkan untuk mencegah efek yang tidak diharapkan tidak
diketahui dan data klinis menunjukkan hubungan yang bergantung pada dosis,
maka dianjurkan penghentian konsumsi alkohol secara mutlak.
Masalah analog vitamin A yang bersifat teratogenik, isotretinoin, timbul
karena banyak digunakan oleh wanita usia muda (13-19 th) untuk penatalaksanaan
akne berat, dengan gejala kelainan jantung dan kraniofasial. Efek pemaparan
prenatal analgetik narkotik (heroin,kodein, methadon) yang paling jelas adalah
adiksi pasif dan sindrom withdrawal pada neonatus dengan gejala klinis utama
bobot badan lahir rendah (kurang dari 2,5 kg) akibat hambatan pertumbuhan
intrauterin. Kemungkinan terjadinya gejala withdrawal bergantung pada dosis ibu,
durasi adiksi ibu, tenggang waktu dari dosis terakhir sampai saat kelahiran dan
kecepatan eliminasi obat oleh bayi. Pads golongan barbital-kerja-cepat gejala
withdrawal terutama ditandai oleh gejala SSP pada awal kehidupan, sedangkan
pada barbitalkerja-panjang gejala mungkin barn timbul waktu bayil keluar dari
rumah sakit dan mungkin berlanjut dalam beberapa minggu bahkan beberapa
bulan dalam bentuk hiperaktif, gangguan tidur dan menyusu serta tangis berlebih.
Pemakaian diazepam dalam kehamilan disertai oleh terjadinya hipotermia,
hiperbilirubinemia dan depresi SSP dengan gejala mirip dengan analgetik-
narkotik. Karena molekulnya kecil dan mudah larut dalam lemak, diazepam dapat
menembus plasenta dan berakumulasi dalam jaringan adipose fetus. Di samping
itu kemampuan bayi yang terbatas untuk mobilisasi, metabolisme dan ekskresi
diazepam mengakibatkan adanya metabolit obat dalam urine untuk beberapa
minggu dan mungkin menyebabkan lamanya gejala tersebut. Pada pemakaian
anastetik lokal efek samping yang umum adalah bradikardia fetus dan depresi,
sedangkan lithium khas menyebabkan kelainan jantung bawaan sebelah kanan dan
gondok.

C. KESIMPULAN
Senyawa benzene merupakan toksikan yang bersifat karsinogenik dapat
menyebabkan penyakit kanker
D. DAFTAR PUSTAKA
• http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/17_ResikoPemajananBenzen
.pdf/17_ResikoPemajananBenzen.html

Badan pelayanan kesehatan dan manusia Amerika Serikat mengelompokan
benzena sebagai zat karsinogen bagi manusia. Pajanan benzena di udara
dalam jangka lama dapat menimbulkan leukemia yang dapat berupa
leukemia mielositik akut dan leukemia non limfositik akut.
Bahan teratogenik adalah berbagai bahan di alam ini yang menyebabkan
terjadinya cacat lahir / cacat fisik pada bayi yang terjadi selama bayi dalam
kandungan. Bahan teratogenik dapat menimbulkan bayi lahir dengan cacat lahir
berupa cacat fisik yang nampak maupun tidak nampak. Contoh kecacatan fisik
yang nampak misalnya bibir sumbing, keanehan bentuk anggota gerak, kelainan
bentuk kepala, tubuh maupun organ lain yang nampak dari luar. Sedangkan cacat
lahir yang tidak nampak misalnya kelainan otak, penurunan kecerdasan/IQ,
kelainan bentuk jantung, pembentukan sekat jantung yang tidak sempurna,
gangguan reaksi metabolisme tubuh, kelainan ginjal atau bahkan kelainan organ
reprodu ksi.
Adanya kecacatan pada bayi secara fisik dapat menyebabkan bayi tumbuh
tidak sempurna, gangguan pada masa pertumbuhan, kecacatan, dan bahkan
kematian. Bila bayi dapat tumbuh dewasa, kecacatan yang dibawanya sejak lahir
tentu akan memperngaruhi performa dirinya, misalnya kecerdasan lebih rendah,
kurang berprestasi, kurang percaya diri, dan bahkan ketergantungan mutlak
kepada orang lain.
Selama kehamilan, janin akan tumbuh dan berkembang dari hanya satu sel
menjadi banyak sel. Proses pembentukan jaringan dan organ tubuh selama janin
dalam kandungan dikenal dengan istilah organogenesis. Proses ini berlangsung
terutama pada saat kehamilan trisemester pertama dan akan selesai pada awal
trisemester ke dua atau sekitar 16 minggu. Adanya bahan-bahan yang bersifat
teratogenik akan menimbulkan gangguan pada sel-sel tubuh janin yang sedang
melakukan proses pembentukkan organ tersebut. Akibat adanya gangguan
tersebut, maka sel tidak dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana seharusnya
dan menimbulkan berbagai cacat lahir yang dapat terjadi pada organ luar maupun
organ dalam.
Bahan teratogenik tidak hanya dapat menyebabkan kecacatan fisik. Bahan
tersebut juga dapat menimbulkan kelainan dalam hal psikologis dan kecerdasan.
Hal ini berhubungan dengan adanya gangguan pada pembentukan sel-sel otak
bayi selama ia dalam kandungan.
Bila bayi terlahir dengan cacat fisik yang nampak dan mungkin diperbaiki
atau diterapi dengan cara pembedahan (misalnya bibir sumbing dan kelainan
katub jantung) maka mungkin kecacatan anak dapat tertutup begitu anak
menginjak dewasa dan mencegah terjadinya gangguan-gangguan yang mungkin
muncul saat bayi dewasa. Namun hingga kini belum ditemukan cara untuk
membalikkan gangguan yang terjadi pada sel-sel otak, maupun kelainan pada
metabolisme anak sehingga bila sudah terjadi gangguan otak atau gangguan
metabolisme maka akan sulit bagi bayi untuk tumbuh dan berkembang dengan
baik.
Hingga kini belum ditemukan cara untuk mengobati efek yang timbul akibat
paparan bahan teratogenik pada ibu hamil. Oleh karena itu, satu-satunya jalan
yang dapat dilakukan oleh ibu hamil dalam mencegah efek bahan teratogenik
adalah dengan menghindari paparan bahan tersebut pada dirinya. Untuk itu perlu
bagi ibu hamil untuk mengetahui dan memahami bahan-bahan apa saja yang dapat
memberikan efek teratogenik.
Umumnya bahan teratogenik dibagi menjadi 3 kelas berdasarkan golongan
nya yakni bahan teratogenik fisik, kimia dan biologis.
1) Bahan teratogenik fisik adalah bahan yang bersifat teratogen dari unsur-
unsur fisik misalnya Radiasi nuklir, sinar gamma dan sinar X (sinar
rontgen). Bila ibu terkena radiasi nuklir (misal pada tragedi chernobil) atau
terpajan dengan agen fisik tersebut, maka janin akan lahir dengan berbagai
kecacatan fisik. Tidak ada tipe kecacatan fisik tertentu pada paparan ibu
hamil dengan radiasi, karena agen teratogenik ini sifatnya tidak spesifik
karena mengganggu berbagai macam organ.
Dalam menghindari terpajan agen teratogen fisik, maka ibu sebaiknya
menghindari melakukan foto rontgen apabila ibu sedang hamil. Foto rontgen
yang terlalu sering dan berulang pada kehamilan kurang dari 12 minggu dapat
memberikan gangguan berupa kecacatan lahir pada janin.
2) Bahan teratogenik kimia adalah bahan yang berupa senyawa senyawa
kimia yang bila masuk dalam tubuh ibu pada saat saat kritis pembentukan
organ tubuh janin dapat menyebabkan gangguan pada proses tersebut.
Kebanyakan bahan teratogenik adalah bahan kimia. Bahkan obat-obatan
yang digunakan untuk mengobati beberapa penyakit tertentu juga memiliki
efek teratogenik.
Alkohol merupakan bahan kimia teratogenik yang umum terjadi terutama
di negara-negara yang konsumi alkohol tinggi. Konsumsi alkohol pada ibu
hamil selama kehamilannya terutama di trisemester pertama, dapat
menimbulkan kecacatan fisik pada anak dan terjadinya kelainan yang dikenal
dengan fetal alkoholic syndrome . Konsumsi alkohol ibu dapat turut masuk
kedalam plasenta dan memperngaruhi janin sehingga pertumbuhan otak
terganggu dan terjadi penurunan kecerdasan/retardasi mental. Alkohol juga
dapat menimbulkan bayi mengalami berbagai kelainan bentuk muka, tubuh
dan anggota gerak bayi begitu ia dilahirkan.
Paparan rokok dan asap rokok pada ibu hamil terutama pada masa
organogenesis juga dapat menimbulkan berbagai kecacatan fisik. Ada baiknya
bila ibu berhenti merokok (bila ibu seorang perokok) dan menghindarkan diri
dari asap rokok. Ada baiknya bila sang ayah yang perokok tidak merokok
selama berada didekat sang ibu dalam kehamilannya. Asap rokok bila terpapar
pada janin-janin yang lebih tua (lebih dari 20minggu) dapat menyebabkan
bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, atau bayi kecil.
Obat-obatan untuk kemoterapi kanker umumnya juga bersifat teratogenik.
Beberapa jenis obat anti biotik dan dan penghilang rasa nyeri juga memiliki
efek gangguan pada janin. Obat-obatan yang menimbulkan efek seperti
narkotik dan obat-obatan psikotropika bila dikonsumsi dalam dosis besar juga
dapat menimbulkan efek serupa dengan efek alkohol pada janin. Untuk itu ada
baiknya bila selama kehamilan terutama trisemester pertama agar ibu berhati-
hati dalam mengkonsumsi obat dan hanya mengkonsumsi obat-obatan yang
dianjurkan oleh dokter.
Beberapa polutan lingkungan seperti gas CO, senyawa karbon dan
berbagai senyawa polimer dalam lingkungan juga dapat menimbulkan efek
teratogenik. Oleh karena itu ada baiknya bila ibu membatasi diri dalam
bepergian ke tempat-temapat dengan tingkat polusi tinggi atau dengan
mewaspadai konsumsi makanan dan air minum tiap harinya. Hal ini karena
umumnya bahan tersebut akan mengendap dan tersimpan dalam berbagai
makanan maupun dalam air minum harian.
3) Agen teratogenik biologis adalah agen yang paling umum dikenal oleh ibu
hamil. Istilah TORCH atau toksoplasma, rubella, cytomegalo virus dan
herpes merupakan agen teratogenik biologis yang umum dihadapi oleh ibu
hamil dalam masyarakat. Infeksi TORCH dapat menimbulkan berbagai
kecacatan lahir dan bahkan abortus sampai kematian janin. Selain itu,
beberapa infeksi virus dan bakteri lain seperti penyakit sifilis/raja singa
juga dapat memberikan efek teratogenik.
Ada baiknya bila ibu sebelum kehamilannya melakukan pemeriksaan
laboratorium pendahuluan untuk menentukan apakah ia sedang menderita infeksi
TORCH, infeksi virus atau bakteri lain yang berbahaya bagi dirinya maupun
kehamilannya. Bila dari hasil dinyatakan positif, ada baiknya bila ibu tidak hamil
lebih dulu sampai penyakitnya disembuhkan dan telah dinyatakan fit untuk hamil.