Anda di halaman 1dari 28

KONSEP DASAR

KEWARGANEGARAAN
O leh :
Machmud Al Rasyid
Pendidikan Kewarganegaraan
Tahun Ajaran
2008/2009
Semester : Gasal
Jumlah SKS : 2
A. PENDAHULUAN

 Warganegara atau Citizens dan Sifat-2 nya


 Warganegara, Pendidikan Demokrasi, Civic
Education, &Citizenship Education
 Tujuan dan Isi Ilmu Kewarganegaraan
 Konsep Kewarganegaraan sebagai Status
Nasionalitas & sebagai Ilmu (harus dibedakan)
WARGANEGARA
Warganegara: warga suatu negara yg ditetapkan berdasarkan
peraturan perundang-undangan (supaya dibedakan dg kewarganega-
raan & pewarganegaraan) pasal l UU No 12 Tahun 2006 Tentang
Kewarganegaraan RI

Warganegara Indonesia menurut Pasal 4 UU No. 12


Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan RI adalah:

a.Setiap orang yg berdasarkan peraturan per - undang-undangan dan


atau berdasarkan perjanjian pemerintah RI dg negara lain sblm UU ini
berlaku sdh menjadi WNI
b.Anak yg lahir dr perkawinan yg sah dr seorang ayah & ibu WNI
c.Anak yg lahir dr perkawinan yg sah dr seorang ayah WNI dan ibu WNA
d.Anak yg lahir dr perkawinan yg sah dr seorang ayah WNA dan ibu WNI
e.Anak yg lahir di luar perkawinan yg sah dr seorang ibu WNI; ttp
ayahnya tdk mempunyai kewarganegaraan atau hukum negara ayah
nya tdk memberikan kewarganegaraan kepada anak tsb.
f. Anak yg lahir dlm tenggang waktu 300 hari
setelah ayahnya meninggal dr perkawinan yg sah
dan ayahnya WNI
g. Anak yg lahir diluar perkawinan yang sah dr
seorang ibu WNI
h. Anak yg lahir di luar perkawinan yg sah dr
seorang ibu WNA yg diakui oleh seorang ayah
WNI sbg anaknya dan pengakuan itu dilakukan
sblm anak tsb berusia 18 th dan atau blm kawin
i. Anak yg lahir di wilayah negara RI yg pdktu lahir
tdk jelas status kewarganegaraan ayah & ibunya
j. Anak yg baru lahir dan ditemukan di wlayah
negara RI selama ayah & ibunya tdk diketahui
j. Anak yg baru lahir dan ditemukan di wlayah negara RI selama ayah
& ibunya tdk diketahui
k. Anak yg lahir di wilayah negara RI apabila ayah & ibunya tdk
mempunyai kewarganegaraan atau tdk diketahui keberadaannya
l. Anak yg dilahirkan di luar wilayah negara RI dr seorang ayah & Ibu
WNI yg karena ketentuan dr negara tempat anak tsb dilahirkan
memberikan kewarganegaan kpd anak ybs
m. Anak dr sorang ayah atau ibu yg telah dikabulkan permohonan
kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia
sebelum mengucapkan sumpah atau mwnyatakan janji setia
SIFAT-SIFAT WARGANEGARA
Sifat – sifat Warganegara menurut Cogan & Derriot (l988) dalam Sapriya
dan Udin S. Winataputra (2004: 9) :
a.Kemampuan mengenal dan mendekati masalah sebagai masyarakat global;
b.Kemampuan bekerjasama dengan orang lain dan memikul tanggungjawab
atas peran atau kewajibannya dalam masyarakat;
c.Kemampuan untuk memahami, menerima, dan menghormati perbedaan-
perbedaan budaya;
d.Kemampuan berpikir kritis dan sistematis;
e.Kemauan menyelesaikan konflik dengan cara damai tanpa kekerasan;
f.Kemauan mengubah gaya hidup dan pola makanan pokok yang sudah biasa
guna melindungi lingkungan ;
g.Memiliki kepekaan terhadap dan mempertahankan hak azasi manusia
(seperti hak kaum wanita, minoritas etnis, dsb);
h.Kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan politik pada
tingkatan pemerintahan lokal, nasional, dan internasional.
Pada konteks ini Rocky Gerung (2007: 1) mengatakan
bahwa pemahaman tentang ide dan sifat warganegara ini
lebih ditekankan pada “bahasa politik” bersama untuk
mengatur “cara hidup bersama” dalam sebuah
masyarakat majemuk. Kaitannya dg Demokrasi adalah
kesepakatan cara menyelenggarakan hidup bersama,dan
bukan tentang upaya menyamakan tujuan hidup
warganegara. Menurutnya sifat warganegara itu termasuk:”

i.Kepekaan tentang pengaturan keadilan, yaitu tuntutan pada


negara untuk memperhatikan distribusi kemakmuran dan
representasi plitik identitas.
j.Aktif dalam memelihara keadilan dan stabilitas politik
sebagai kewajiban sosialindividu untuk mengembangkandan
memelihara solidaritas sosial global (2007:6).
KEWARGANEGARAAN MULTIDIMENSI (Dasim Budimansyah & Karim
Suryadi 2008: 42-54)

a.Dimensi Pribadi :
1. Kapasitas berpikir secara kritis dan sistematis;
2. Pemahaman dan kepekaan thp masalah perbedaan budaya;
3. Pilihan pemecahan dan penyelesaian masalah yg
bertanggungjawab, kooperatif dan tanpa kekerasan;
4. Kesediaan melindungi lingkungan, membela hak asasi
manusia, dan ikut serta dalam kehidupan masyarakat.

b.Dimensi Sosial :
1. Keterlibatan individu dalam urusan masyarakat dan
komunitasnya berupa : pemikiran, “pelayanan masyarakat”,
tindakan sosial, dan pertimbangan.
c.Dimensi Spasial :
Kedudukan individu sbg anggota komunitas yang tumpang
tindih antara Lokal, Regional, Nasional, dan Multinasional.
Seperti kedudukan mahasiswa sbg Orang Solo dg Budaya
Solonya bahkan dg agama tertentu mungkin sekaligus dg
komunitas atau organisasi tertentu ,tetapi tidak boleh lupa
juga sebagai orang Jawa Tengah, Orang Indonesia, dan bagian dari dunia
Global.

d.Dimensi Temporal :
Dimensi pribadi dan sosial pada dasarnya dikondisikan oleh historis oleh
karena itu pemahaman thp masa lalu sangat dibutuhkan agar supaya
lebih memahami dg seksama tentang kondisi sekarang. Tetapi untuk
menghadapi problema sekarang dibutuhkan kearifan karena langkah
yang diambil akan berdampak pd masa depan.
WARGANEGARA, PENDIDIKAN DEMOKRASI,
CIVIC EDUCATION & CITIZENSHIP EDUCATION

Civic Education (Cogan, l999:4)”…..reffers generally to the kinds


of course work taking place within thw context of the formalized
schooling structure”. Seperti “Civics” di klas 9 dan “problems of
democracy” di klas 12. Artinya Civic Education diperlakukan sbg:
“……the foundational course work in school designed to prepare
young citizens for an active role in their communicatiesin their
adult lives”, yaitu ….mata pelajaran dasar yang dirancang untuk
mempersiapkan warganegara muda untuk dapat melakukan
peran aktif dalam masyarakat setelah dewasa.
Citizenship Education atau Education for Citizenship (Cogan, l999:4)
dipandang sbg “…..the more inclusive term and encompasses both
these in-school experiences as well asout-of-school or ‘informal/non
formal’ learning which takes pleces in the family, the religious
organization, community organization, the media etc, which help to
shape the totality of the citizen. Ini berarti merupakan istilah generik
yg mencakup pengalaman belajar di sekolah dan di luar sekolah,
seperti di lingkungan keluarga, organisasi keagamaan, organisasi
kemasyarakatan, media dll. Jadi Citizenship Education adalah
konsep yg lebih luas dan Civic Education menjadi bagian penting di
dalamnya.
Pendidikan Demokrasi (Udin S. Winataputra & Dasim
Budimansyah, 2007: 210) adalah usaha sistematis yg
dilakukan negara & masyarakat untuk memfasilitasi
individu warganegara agar memahami, menghayati,
mengamalkan, dan mengembangkan konsep, prinsip, dan
nilai demokrasi sesuai dg status dan peranannya dalam
masyarakat.

Jadi Pendidikan Demokrasi yang berupa Civic Education


sebagai bagian dari Citizenship Education dimaksudkan
untuk pengembangan watak dan karakter warganegara yg
peka, tanggap, dan bertanggungjawab terhadap
masyarakat, bangsa, dan negaranya
TUJUAN & ISI CIVICS (ILMU
KEWARGANEGARAAN)
Tujuan Kewarganegaraan: adalah partisipasi yang bermutu dan
bertanggungjawab dari warganegara dalam kehidupan politik dan
masyarakat baik pada tingkat desa atau komunitasnya, lokal,
maupun nasional, maka partisipasi tersebut memerlukan
penguasaan sejumlah kompetensi kewarganegaraan, yaitu:
a.Penguasaan thd pengetahuan & pemahaman ttt;
b.Pengembangan kemampuan intelektual & partisipatif;
c.Pengembangan karakter &sikap mental ttt;
d.Komitmen yg benar thd nilai & prinsip demokrasi konstitusional
Isi Kewarganegaraan (Branson, l998: 5) :
a. Civic Knowledge: kandungan atau apa yg harus diketahui
warganegara;
b.Civic Skill: kecakapan warganegara dlm mempraktekkan
hak-haknya dan menunaikan kewajibannya sebagai anggota
masyarakat yg berdaulat yang berupa kecakapan
intelektual dan partisipatoris yg relevan;
c.Civic Virtue: nilai-nilai yang harus dipunyai warganegara
yang meliputi Civic Disposition (karakter kewarganegaraan)
dan Civic Commitment (komitmen kewarganegaraa).
KEWARGANEGARAAN SEBAGAI
NASIONALITAS & ILMU
 Kewarganegaraan & Nasionalitas: Istilah kewarganegaraan
seringkali dipakai sbg terjemahan dari nasionalitas (nasionality).
Nasionalitas merupakan pengikat hubungan antara individu dan
negara. Tanpa nasionalitas individu tdk akan memperoleh
perlindungan negara, sehingga nasionalitas berfungsi sbg simbol
identifikasi individu dlm kaitannya dg negara tertentu dalam
lingkungan internasional. Bukti nasionalitas adalah Paspor.
 Kewarganegaraan & Ilmu : Kewarganegaraan
dalam mata kuliah ini dimaksudkan dg Ilmu
Kewarganegaraan sebagai terjemahan dari
CIVICS atau Ilmu Civic. Sama dengan istilah
Politics yg diterjemahkan dengan Ilmu Politik,
tetapi populer dg istilah Politik saja walaupun
yang dimaksud adalah politik sbg ilmu, bukan
politik sebagai fenomena praktis.
Kewarganegaraan sbg ilmu karena memenuhi
syarat Epistimologi, Ontologi, dan Aksiologi.
B.CIVIC VIRTUE (NILAI-NILAI
KEWARGANEGARAAN)
 1.CIVIC-DISPOSITION (KARAKTER
KEWARGANEGARAAN)

 Sikap dan kebiasaan warganegara dlm bidang privat


& publik yg kondusif bagi berfungsi & berlangsungnya
sistem demokrasi konstitusional secara sehat.
 Karakter privat meliputi tanggungjawab moral, disiplin
diri, penghargaan thd harkat dan martabat manusia
dr setiap individu.
 Karakter publik meliputi kepedulian sbg warganegara,
kesopanan, mengindahkan aturan main (rule of law),
berpikir kritis, kesediaan mendengar, bernegosiasi,
dan berkompromi
 Karakter Kewarganegaraan tsb adalah:
 Keadaban atau civility (kesopanan yg mencakup penghormatan
dan partisipasi aktif dalam interaksi manusiawi);
 Tanggungjawab individu & kecenderungan untuk menerima
tanggungjawab pribadi & konsekuensi dr tindakan pribadi;
 Disiplin diri & penghormatan thd peraturan untuk pemeliharaan
pemerintahan konstitusional tanpa perlu paksaan dari otoritas
eksternal;
 Rasa kewarganegaraan (civic- mindedness) dan kehendak untuk
mendahulukan kepentingan bersama diatas kepentingapribadi.
Sehingga ada kepedulian dan peka thp masalah kewargaan & thd
masyarakat, serta keterbukaan pikiran yang mencakup
keterbukaan, skeptisisme, & pengenalan thd kemenduaan atau
ambiguitas;
 Kemauan untuk berkompromi (ttp hrs
disadari bahwa nilai-nilai & prinsip-prinsip
kadang saling bertentangan sehingga
mengakui bahwa tdk semua nilai & prinsip
bisa dikompromikan, krn kadang-kadang
kompromi bisa mengancam
keberlangsungan demokrasi);
 Toleransi thd keberagaman (tolerantion of
diversity);
 Kesabaran & ketabahan untuk mencapai
tujuan politik (konsisten)
 Kasih sayang thd yg lain (keharuan);
 Murah hati (solidaritas &
kedermawanan thd yg lain & kpd
masyarakat pd umumnya);
 Loyalitas pd negara, nilai, &
prinsipnya (setia thd bgs & segala
aturannya)
 2.CIVIC – COMMITMENT (KOMITMEN KEWARGANEGARAAN)
 Artinya kesediaan warganegara untuk mengikatkan diri dg
sadar kpd ide & prinsip serta nilai fundamental demokrasi
konstitusional negara.
 Identitas pribadi nilai-nilai kewarganegaraan tsb sangat
dipengaruhi civic culture, krn civic culture merupakan
seperangkat ide yg dpt diwujudkan secara efektif dlm
representasi kebudayaan. Jadi sbg hasil pemikiran berkenaan
adaptasi psiko sosial individual dr ikatan budaya komunitas
(keluarga, suku, masyarakat lokal) ke dlm ikatan budaya
kewargaan suatu negara atau kewarganegaraan.
 Disamping civic culture, juga dipengaruhi
politic culture (budaya politik) atau
pemikiran yg khas & terpolakan ttg bgmn
kehidupan politik & ekonomi seharusnya
diselenggarakan juga sbg perangkat
pemikiran yg memberi kontribusi dlm
membangun konteks sosial, politik,
ekonomi, & kultural yg memungkinkan
warganegara secara perorangan &
kelompok mau & mampu berpartisipasi
secara cerdas & bertanggungjawab dlm
kehidupan ber bgs & ber negara
 PRINSIP PEMERINTAHAN DEMOKRASI
KONSTITUSIONAL:
 Rule of Law atau Negara Hukum;
 Pemisahan Kekuasaan (bandingkan &
bedakan dg Pembagian Kekuasaan);
 Hak Minoritas dlm Pemerintahan Mayoritas;
 Kontrol Sipil thd Militer;
 Pemisahan Negara & Agama (bandingkan/
bedakan dg Pembagian Kekuasaan & Agama)
 Kekuasaan Anggaran Belanja;
 Kekuasaan pengawasan pd wakil rakyat yg
paling dekat dg (kesatuan atau federalisme)
rakyat – kedaulatan rakyat.
 NILAI FUNDAMENTAL PEMERINTAHAN
DEMOKRASI KONSTITUSIONAL:
 Kepentingan publik (umum/bersama)
 Hak Individual: hak hidup, kebebasan
ekonomi, politik & personal,
kebahagiaan/ kesejahteraan
 Keadilan
 Kesetaraan/persamaan (dlm bidang
ekonomi, hukum, sosial, & politik)
 Kebenaran
 Patriotisme
 Kebhinekaan
3.CIVIC CULTURE, POLITIC CULTURE, & CIVIC EDUCATION
Civic Culture merupakan budaya yg menopang kewarganegaraan yg
berisikan ….. a set of ideas that can be embodied effectively in
cultural representation for the purpose of shoping civic identities
(Udin S. Winataputra & Dasim Budimansyah,2007:219); atau
seperangkat ide yg dpt diwujudkan secara efektif dlm representasi
kebudayaan untuk tujuan pembentukan identitas kewarganegaraan.
Civic Culture terkait erat pd perkembangan democratic civil society yg
mempersyaratkan warganyauntuk melakukan proses individualisasi,
yaitu setiap orang harus belajar bgmn melihat dirinya & orang lain
sbg individu yg merdeka & tdk terikat oleh atribut khusus dlm konteks
etnis, agama, atau kelas dlm masyarakat. Karena itu pula negara
harus mempunyai komitmen untuk memperlakukansemua
warganegara sbg individu & memperlakukan individu secara sama.
 Politic Culture diartikan sebagai distinctive and
patterned way of thinking about how political and
economic life ought to be carried out (Udin S.
Winataputra & Dasim Budimansyah, 2007:220) atau
pemikiran yg khas & terpolakan ttg bgmn kehidupan
politik & ekonomi seharusnya diselenggarakan.
 Ini berarti civic culture berada dlm domain sosio
kultural yg berorientasipd pembentukan kualitas
personal-individual warganegara. Jadi bersifat
psikososial. Sedangkan political culture berada dlm
domain makro masyarakat negara, jadi bersifat sosio
politis dlm konteks kehidupan demokrasi.
 Civic culture memberi kontribusi dlm membangun identitas
kewarganegaraan atau ke-Indonesiaan setiap
warganegara, termasuk pelaku politik dlm semua tingkat.
 Politic culture memberi kontribusidlm membangun konteks
sosial, politik, ekonomi, & kultural yang memungkinkan
warganegara secara perorangan maupun kelompok mau &
mampu berpartisipasi secara cerdas & bertanggungjawab
dlm kehidupan berbangsa & bernegara.
 Identitas pribadi warganegara yg bersumber dari civic
culture perlu dikembangkan melalui Civic Education atau
Pendidikan Kewarganegaraan dlm berbagai bentuk dan
latar. Elemen civic culture yg paling sentral dan sangat
perlu dikembangkan adalah civic virtue.
 Pengembangan dimensi civic virtue merupakan
landasan bagi pengembangan civic participation yg
memang merupakan tujuan akhir dari civic education.
Untuk dapat berperan serta (civic participation) ini
diperlukan pengetahuan ttg konsep fundamental,
sejarah, isu, & peristiwa aktual, & fakta yg berkaitan
dg substansi & kemampuan untuk menerapkan
pengetahuan itu secara kontekstual, &
kecenderungan untuk bertindak sesuai dg watak dr
warganegara (yaitu konteks nilai ideologi dan
konstitusi negara).