Anda di halaman 1dari 21

Laporan Tutorial Skenario 1

Blok 15
Perawatan Penyakit & Kelainan Gigi

Dosen Tutor : drg. Supriyadi M.Kes


Anggota :
Fahmi Firdhaus E. D (171610101139)
Mahriana (171610101140)
Daragyta Purnama R (171610101141)
Iza Afkarina (171610101142)
Desy Sofyah H (171610101143)
Mulki Nur Majid (171610101144)
Kevin Justisio (171610101145)
Muhammad Rizki Y (171610101146)
Annisa Ayah Esa S (171610101147)
Maria Eklevina W (171610101148)

Fakultas Kedokteran Gigi


Universitas Jember
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tutorial Blok 15
Blok Perawatan Penyakit & Kelainan Gigi Skenario 1, Tutorial Blok Perawatan Penyakit &
Kelainan Gigi ini merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh di Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Jember. Dengan selesainya laporan tutorial ini, tidak terlepas
dari bantuan banyak pihak yang telah memberikan masukan-masukan kepada penulis. Untuk
itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :

1. Dosen Pembimbing Tutorial


2. Anggota Kelompok Tutorial 15

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan ini, baik dari materi
maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Minggu, 01 September 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………….. 2
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… 3
BAB I……………………………………………………………………………………… 4
PENDAHULUAN………………………………………………………………………… 4
BAB II…………………………………………………………………………………….. 5
PEMBAHASAN…………………………………………………………………………. 5
Step I. Mengklarifikasi Istilah Atau Konsep……………………………………….. 5
Step II. Menetapkan Permasalahan…………………………………………………. 5
Step III. Penyelesaian Masalah……………………………………………………… 6
Step IV. Pemetaan…………………………………………………………………… 8
Step V. Menentukan Objek Pembelajaran……………………………………………8
Step VII. Jawaban Objek Pembelajaran……………………………………………. 9
BAB III……………………………………………………………………………………. 19
KESIMPULAN…………………………………………………………………………… 19
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………... 20

3
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pulpa adalah organ formatif gigi dan membangun dentin primer selama perkembangan
gigi, dentin sekunder setelah erupsi, dan dentin reparative sebagai respon terhadap stimulasi
selama odontoblas masih utuh. Berbagai bacteria, injuri baik fisis maupun kimia dapat
menyebabkan terjadinya penyakit pulpa.
Salah satu penyakit pulpa adalah pulpitis reversible, suatu kondisi inflamasi pulpa ringan
sampai sedang yang disebabkan oleh stimuli noksius, tetapi pulpa masih mampu kembali pada
keadaan tidak terinflamasi setelah stimuli ditiadakan.
Perawatan yang dapat dilakukan untuk pulpitis reversible selain menghilangkan penyebab
adalah dengan pulp capping. Pulp capping dibagi menjadi dua, indirect pulp capping dan
direct pulp capping. Di dalam laporan tutorial kali ini akan dibahas tentang indikasi,
kontraindikasi, alat dan bahan, prosedur perawatan, factor kegagalan dan keberhasilan dari
masing-masing pulp capping.

Skenario 3
Pulp Capping
Seorang remaja usia 13 tahun datang ke RSGM bagian Konservasi Gigi ingin merawatkan
gigi belakang bawah kanan yang terasa berlubang sejak 5 bulan yang lalu. Awalnya gigi
tersebut berlubang kecil, dibiarkan akhirnya menjadi besar. Anak tersebut mengeluh gigi
terasa ngilu saat makan manis dan minum dingin, tetapi tidak pernah sakit spontan.. Hasil
pemeriksaan obyektif menunjukkan gigi 46 karies profunda, tes termal positif, tekanan dan
perkusi negatif. Hasil pemeriksaan radiografik tampak pada gambar di bawah, tinggal selapis
tipis dentin dekat atap pulpa, ruang pulpa lebar dan keadaan jaringan periodontal baik.
Diagnosa gigi 46 tersebut adalah pulpitis reversible , dan akan dilakukan perawatan
perlindungan pulpa terlebih dahulu sebelum dibuatkan restorasi.

4
BAB II

PEMBAHASAN

STEP 1 Mengidentifikasi kata sulit


1. Pulpitis reversible
 Inflamasi yang terjadi pada ruang pulpa, penyebab pulpitis dihilangkan maka, akan
menjadi normal kembali

 Suatu keradangan pada pulpa yang biasa terjadi karena rangsangan termal dan
bersifat sementara

Simpulan : inflamasi yang terjadi pada jar. pulpa dikarenakan rangsangan termal dan bersifat
sementara, dimana jika penyebabnya dihilangkan maka pulpa akan kembali normal

2. Konservasi gigi
 Mempertahankan gigi selama mungkin dari rongga mulut sehingga fungsi
mastikasinya bisa kembali normal
 Suatu perawatan pada gigi pada gigi berlubang, pada saraf gigi yang sudah mati,
perawatan pada akar gigi, pemutihan gigi
 Suatu cabang ilmu spesialis kedokteran gigi khusus penanggulangan karies, restorasi
dan memperbaiki estetika gigi

Simpulan : Suatu cabang ilmu spesialis kedokteran gigi yang bertujuan untuk
mempertahankan gigi selama mungkin dan memperbaiki estetika gigi sehingga fungsi-fungsi
gigi secara keseluruhan menjadi normal

3. Karies profunda
 Karies yang sudah mengenai lebih dari ½ dentin

4. Pemeriksaan radiografi
 Pemeriksaan menggunakan sinar X untuk membantu dokter mendiagnosa suatu
penyakit
 Suatu pemeriksaan penunjang apabila dokter ragu dan fungsinya untuk meyakinkan
diagnosa dan tindakan perawatan

Simpulan : pemeriksaan gigi dan mulut dengan menggunakan sinar x untuk menunjang
diagnosa dan menentukan tindakan serta evaluasi perawatan yang dilakukan oleh dokter

5. Restorasi gigi
 Perawatan untuk perbaikan gigi yang mengalami kerusakan dan kelainan untuk
mengembalikan fungsi gigi

6. Test thermal
 Test yang diberikan dengan memberikan suatu rangsang panas atau dingin pada gigi
 Test yang tujuannya melihat kevitalan gigi dan tingkat sensitivitas
Simpulan : Test yang diberikan dengan memberikan suatu rangsang panas atau dingin pada
gigi yang tujuannya melihat kevitalan gigi dan tingkat sensitivitas

5
7. Perkusi
 Test dengan cara menggunakan gagang instrumen dengan cara diketukkan untuk
memprediksi kerusakan jaringan periradikuler

8. Keluhan spontan
 Respon yang terjadi secara tiba-tiba
 Spontan : sertamerta dan tak dipikirkan, tidak direncanakan

Simpulan : Timbulnya suatu keluhan yang terjadi secara tiba-tiba tanpa ada rangsangan

9. Pulp cupping
 Perawatan endodontik (perawatan khusus saluran akar gigi) yang bertujuan
untuk mempertahankan vitalitas pada endodontium
 Aplikasi selapis atau lebih material pelindung atau bahan untuk perawatan pulpa
 Merupakan suatu perlindungan terhadap pulpa sehat untuk mempertahankan
vitalitas pulpa

Simpulan : Suatu perawatan berupa perlindungan terhadap pulpa sehat yang hampir terbuka
untuk mempertahankan vitalitas pulpa

STEP 2 Rumusan Masalah

1. Apa saja perawatan untuk kasus ini ?


2. Apakah tujuan dari pulp cupping ?
3. Apakah Indikasi dan kontra-indikasi dari pulp cupping ?
4. Ada berapa macam kah metode pulp cupping?
5. Bahan apa sajakah yang digunakan untuk pulp cupping ?
6. Bagaimanakah tahapan perawatan pulp cupping ?
7. Mengapa sebelum dilakukan tindakan restorasi perlu dilakukan perlindungan pulpa
terlebih dahulu ?

STEP 3 Brain Storming

1. Apa saja perawatan untuk kasus ini ?


 Pulp cupping : untuk mempertahankan vitalitas gigi
 PSA : apabila setelah dievaluasi, perawatan sebelumnya dinilai gagal
 Penambalan : untuk mempertahankan fungsi gigi

2. Tujuan pulp cupping


 Untuk mengurangi daya iritasi ke jar. Pulpa menjadi lebih ringan
 Untuk melindungi pulpa supaya bisa memperahankan vitalitasnya

6
3. Indikasi dan kontra-indikasi dari pulp cupping
Indikasi :

 Eksponasi karena terjadi kecelakaan


 Pulpa terbuka dimana apeks masih lebar
 Pulpa terbuka pada gigi immature dan akarnya sudah sempurna
 Pulpa masih dalam kondisi vital
 Pulpitisnya masih reversible

Kontra-indikasi :
 Pulpitis irreversible
 Perkusi positif
 Sakit spontan
 Adanya pembengkakan
 Lesi periapikal
 Pulpa sudah non-vital

4. Ada berapa macam pulp cupping


Ada 2,
1. Direct
Prosedur perawatannya secara mengaplikasikan bahan liner secara langsung pada
jaringan pulpa yang sudah terbuka
2. Indirect
Perawatan dimana pulpa masih dalam kondisi tertutup lapisan tipis dentin karena
karies profunda namun belum perforasi

5. Bahan apa saja yang digunakan untuk pulp cupping ?


 CaOH2
 Obat-obatan antiseptik atau sedatif *calaxyl kCL CaCl2 NaCl *Pulpd***
CaOH2 Metil selulosa
 Semen ZnOE
6. Tahapan perawatan pulp cupping
1. Membersihkan daerah kavitas
2. Isolasi daerah kerja
3. Asepsis kavitas
4. Pengaplikasian bahan pulp cupping (+)
5. Pengaplikasian bahan basis (+)
6. Pengaplikasian bahan tumpatan sementara (+)
7. Dilakukan evaluasi setelah minimal seminggu pengerjaan
7. Mengapa sebelum dilakukan tindakan restorasi perlu dilakukan perlindungan pulpa
terlebih dahulu
 Mempertahankan vitalitas pulpa sebelum dilakukan tindakan tumpatan
 Melindungi pulpa dari eksponasi
 Mencegah terjadinya penyakit agar tidak berkelanjutan ke pulpitis irreversible

7
STEP 4 Mapping

STEP 5 Learning Objective


1. Mahasiswa Mampu Memahami pemeriksaan Subjektif, Objektif, Penunjang serta ,
Indikasi dan kontra-indikasi dilakukannya Pulp Capping
2. Mahasiswa Mampu Memahami bahan yang digunakan untuk Pulp Capping
3. Mahasiswa Mampu Memahami Tahapan perawatan pulp capping
4. Mahasiswa Mampu Memahami Evaluasi perawatan pulp capping dan rencana
perwatan selanjutnya

8
STEP 7 Jawaban Learning Objective

1. Mahasiswa Mampu Memahami pemeriksaan Subjektif, Objektif, Penunjang


serta , Indikasi dan kontra-indikasi dilakukannya Pulp Capping
 Pemeriksaan Subjektif
setidaknya ada 7 hal yakni identitas pasien, keluhan utama, present illnes, riwayat
medik, riwayat dental, riwayat keluarga dan riwayat sosial.

a. Identitas pasien diperlukan sebagai pasca tindakan dapat pula sebagai data
mortem (dental forensic), data identitas pasien meliputi :

1. Nama lengkap panggilan 5. Status pernikahan


2. Tempat dan tanggal lahir 6. pekerjaan
3. Alamat tinggal 7. Pendidikan kewarganegaraan
4. Golongan darah 8. No. Telfon pasien

b. Keluhan utama (Chief Complaint CC)


Berkaitan dengan keluhan oleh pasien datang kedokter gigi keluhan utama pasien
akan berpengaruh terhadap pertimbangan dokter dalam menentukan tindakan yang
akan dilakuhkan kepada pasien. Contoh rasa sakit ataupun ngilu rasa tidak
nyaman, pembengkakan, perdarahan, halitosis, rasa malu karena penampilan.

c. Present illness (Present Illness PI)


Mengetahui keluhan utama saja tidak cukup, maka perlu dilakuhkan
pengembangan masalah yang ada dalam keluhan utama dan lain - lain. Mencari
tahu kapan pasien merasakan sakit/ rasa tidak nyaman sejak pertama kali terasa,
apakah bersifat berselang atau terus menerus, dilihat apakah terlalu pasien
merasakan sakit, dilihat faktor pemicunya contoh lokasi, faktor pemicu, karakter,
keparahan, penyebaran.

d. Riwayat medik (medikal history/ PMH)


Apakah pasien pernah rawat inap dirumah sakit karena dengan gejala umum
demam, penurunan berat badan serta gejala umum lainnya. Perawatan bedah,

9
radiologi, alergi obat dan makanan, anestesi, dan rawat inap dirumah sakit karena
penyakit riwayat umum. Jika pasien pernah rawat inap.
e. Riwayat dental (Post Medical History PDH)
Apakah pasien pernah datang kedokter gigi karena akan mempengaruhi seseorang
dokter gigi dalam meninjau tindakan perawatan pada pasien yaitu pasien rutin
kedokter gigi apa tidak, sikap pasien datang kedokter gigi saat dilakuhkan
perawatan, keluhan gigi pasien, perawatan restorasi, dll. Jika pasien pernah datang
kedokter gigi.

f. Riwayat keluarga (Famili History FH)


Ini berkaitan dengan problem herediter yang berkaitan dengan riwayat penyakit
keluarga, seperti ayah ibu pernah rawat inap dirumah sakit, ayah ibu pernah
berkunjung kedokter gigi memeriksakan keluhan.

g. Riwayat sosial (Sosial History SH)


Riwayat sosial yang dapat dipertimbangkan
1. Apakah pasien masih memiliki keluarga
2. Keadaan sosial ekonomi pasien
3. Pasien pergi kekeluar negeri
4. Riwayat seksual pasien
5. Kebiasaan merokok, minum alkohol, pengguna obat-obatan
6. Informasi tentang diet makan pasien

 Pemeriksaan Objektif
Pemeriksaan objektif yang dilakuhkan secara umum ada dua macam yaitu
pemeriksaan ekstraoral dan pemeriksaan intra oral.

a. Pemeriksaan ekstra oral


1. Pemeriksaan Limfonodi
2. Pemeriksaan otot mastikasi
3. Pemeriksan temporo mandibullar joint (TMJ)
b. Pemeriksaan Intra oral
1. Bentuk bibir 5. Palatum (keras dan lunak)
2. Mukosa labial 6. Ginggiva

10
3. Mukosa bukal 7. Gigi Geligi
4. Dasar mulut an bagian ventral lidah 8. Frenulum
Pemeriksaan obyektif gigi dapat dilakuhkan dengan pemeriksaan beberapa cara
antara lain sebagai berikut:
1. Inspeksi 5. Tes mobilitas
2. Sondasi 6. Tes suhu
3. Perkusi 7. Tes elektrik
4. Palpasi 8. transimulasi

 Diagnosis
Diagnosis adalah cara menentukan jenis penyaki berdasarkan gejala (simtom) dan
tanda (sign) yang ada. Macam macam diagnosis:
a. Diagnosis medis, yaitu proses penentuan jenis penyakit berdasarkan tanda dan
gejala menggunakan cara dan alat penunjang seperti laboratorium, foto dan klinik.
b. Diagnosis banding/ differential diagnostik (DD) yaitu diagnosis yang
dilakuhkan dengan membandingkan tanda klinis suatu penyakit dengan tanda
klinis penyakit lain.

 Pemeriksaan Penunjang
a. Radiografi
Dental radiografi memegang peranan penting dalam menegakkan diagnosis
dan merencanakan perawatan dan mengevaluasi hasil perawatan untuk melihat
keaadaan gigi secara utuh. Dalam mempelajari bidang radiologi oral ada 2 hal yang
peludiketahui, yakni :
1. tehnik dan cara mendapatkan hasil yang optimal
2. interprestasi dan menafsirkan radiogram yang telah dibuat
Ada dua macam dalam radiologi kedokteran gigi
1. radiologi intra oral : tehnik periapikal, tehnik bite wing atau saya gigit, tehnik
oklusal
2. radiografi ekstra oral : panoramik, oblique lateral, postero anterior PA jaw, reversi
town’s projection
Radiografi intraoral dibagi menjadi kedalam 3 kategori, yaitu
1. proyeksi periapikal memperlihatkan gambaran suatu gigi berikut tulang sekitarnya

11
Radiografi periapikal
Ada dua cara dalam radiografi periapikal yaitu :
a. tehnik kesejajaran (pararel)
b. tehnik bidang bagi (bisecting)

2. proyeksi sayap gigit (bitewing)


Proyeksi ini akan memperlihatkan bberapa mahkota gigi dan mahkota gigi – gigi serta
kista alveooralnya.

3. proyeksi oklusal
Menunjukan bagian lengkung gigi relatif luas, sementara diantaranya adalah palatum,
dan struktur jaringan keras pada lateral.
Indikasi
1. mencari dengan tepat letak akar, gigi supernumery, gigi tidak tumbuh dan impaksi
2. mencari benda asing dalam rahang, batu alam duktus glandula sublingualis dan
submandibularis.
3. memperlihatkan dan mengevaluasi keutuhan sinus maksilari bagian anterior medial
dan lateral
4. membantu pemeriksaan pasien dalam ksus trimus.
5menyediaan informasi tentang lokasi, sifat, perluasan dan perpindahan mandibula
maksila yang fraktur
6. menentukan perluasan penyakit kearah media dan lateral
Radiografi ekstra oral
Salah satunya adalah rongsen panoramik memperlihatkan maksila dan mandibula
secara luas.

Letak pasien
Untuk melihat gambar pada hasil lengkung maksila, kepala pasien ditegakkan dengan
bidang sagital arah vrtikal dan bidang oklusal horisontal. Untuk mandibulla sedikit
menengah untuk mengimbangi perubahan bidang oklusal pada saat bibir atas dab
bawah terbuka untuk melihat hasil.

12
 Prognosis
Prakiraan ramalan tentang jalannya penyakit. (sesudah diberikan pengobatan/
perawatan tertentu). Jenis prognosis :
1. Prognosis bona : ramalan baik
2. Prognosis dubia ad bona : ramalan ragu – ragu condong ke baik
3. Prognosis dubia ad mala : ramalan ragu – ragu condong keburuk
4. Prognosis mala : ramalan buruk

 Assessment
Assessment penilan terhadap status yang diperlakuhkan pasien, baik dalam hal ststus
gizi dan jaringan periodontal apakah bisa dirawat apa tidak, melihat pasien dengan
kondisi yang bisa mempengaruhi rencana perawatan dengan situasi dan keadaan
pasien apakah bisa dilakukan.

 Rencana perawatan
Rencana perawatan sangat perlu oleh seorang dokter gigi untuk membuat jadwal kerja
dan prioritas perawatan. Prinsip rencana perawatan yang dapat diaplikasikan sebagai
berikut :
1. Mengilangkan keluhan pada pasien.
2. Memberi edukasi
3. Ekstraksi gigi yang tidak dapat dirawat
4. Meningkatkan kondisi periodontal
5. Restorasi gigi yang mengalami karies
6. Prosedur perawatan yang lebih lanjut : Endodontik, Prostodontik, Orthodontik,
dan fase pemeliharaan

13
 Pulp Capping Indirect
Umumnya digunakan dalam preparasi kavitas dalam yang dekat dengan pulpa tetapi
tanpa terlihat pulpa yang terbuka.
 Indikasi
1. Kurangnya nyeri spontan atau sensitivitas terhadap palpasi dan perkusi
2. Pulpa belum terbuka (tidak terdapat pin point)
3. Pulpa vital
 Kontra-Indikasi
1. Gigi sulung; karena terjadi resorpsi akar
2. Tanda/gejala inflamatori
3. Perdarahan tidak terkontrol
4. Pulpa non vital

 Indikasi
1. Trauma spontan dan kurang dari 24 jam dengan pulpa vital terbuka kecil (pin
point) seujung jarum ± 1mm.
2. Terdapat sedikit perdarahan atau tidak sama sekali pada kavitas.
3. Pulpa vital
4. Tidak terjadi kalsifikasi pada pulpa

 Kontra-Indikasi
1. Gigi sulung; karena terjadi resorpsi akar
2. Tanda/gejala inflamatori
3. Perdarahan tidak terkontrol Pulpa non vital
4. Pulpa Non-Vital

14
2. Mahasiswa Mampu Memahami bahan yang digunakan untuk Pulp Capping

1. MINERAL TRIOXIDE AGGREGATE (MTA)


MTA merupakan semen silikat bioaktif menutup semua celah antara
sistem saluran akar dan permukaan luar gigi. Penggunaan MTA ditujukan
sebagai bahan perawatan pulp cupping, pulpotomi, pembentukan barier di
apikal pada apeks terbuka dan perawatan perforasi akar. (Parirokh dan
Torabinejad, 2010)

Bahan ini berbentuk bubuk yang terdiri dari partikel partikel halus hidrofilik
yang komponen utama:
-tricalcium silicate
-tricalcium aluminate
-tricalcium oxide
-silicate oxide
bersifat basa kuat dengan pH awal 10,2 dan akan menjadi 12,5 yang mengeras
dalam 3-4 jam setelah pencampuran.

15
2. ZINC OXIDE EUGENOL (ZOE)
Semen ZOE yang terdiri dari serbuk zinc oxide dicampur dengan cairan
eugenol, kemudian diaduk sehingga menghasilkan suatu massa dengan
konsistensi pasta. Komposisi bahan kimia yang terkandung dalam zinc oxide
eugenol adalah sebagai berikut (Trisna, 2005):

B. Powder A. Liquid
- Zink Oksida - Eugenol
- Rosin Putih - Olive Oil
- Zink Asetat
- Zink Stearat
- Magnesium Oksida

16
Dapat mengurangi rasa nyeri pada pulpitis karena dapat memblokir
transmisi impuls saraf
Konsentrasi rendah eugenol memberi efek anestesi antii-nflamasi dan lokal
pada pulpa gigi. Dengan demikian, pengguanaan ZOE dapat memfasilitasi
penyembuhan pulpa.

3. Kalsium Hidroksida / Ca(OH)2

Dalam bidang kedokteran gigi kalsium hidroksida merupakan bahan yang


dapat melindungi pulpa karena kemampuannya dalam penyembuhan jaringan.

Kalsium hidroksida merupakan bakterisid karena bersifat alkali dengan pH 11-13


(basa) dan berperan penting dalam inisiasi proses remineralisasi (Widyasri, 2010).

Peningkatan ion OH−, menjadikan kemungkinan bakteri untuk hidup sangat


rendah. Ion OH- bekerja dengan mendenaturasi protein dan menghidrolisis lemak
lipopolisakarida (LPS) seperti pirogenitas, toksisitas, aktivasi makrofag dan
komplemen, sehingga dinding sel bakteri rusak dan mengakibatkan kematian pada
bakteri, sedangkan ion Ca2+ dari kalsium hidroksida dipercaya memiliki khasiat
dalam merangsang pembentukan jembatan dentin dan memelihara vitalitas pulpa
(Hazrina, 2007).

Kekurangan dari Kalsium Hidroksida :

Pada pH 11-13 menyebabkan terjadinya nekrosis liquefaction terutama pada


lapisan superficial pulpa. Efek toksik dari kalsium hidroksida yang kelihatannya
dinetralisir pada lapisan pulpa yang lebih dalam, justru menyebabkan nekrosis
koagulasi yang berbatasan dengan jaringan vital, menyebabkan iritasi ringan pada
pulpa.

17
Pada proses penyembuhan, terjadi tunnel defect pada pembentukan jembatan
dentin yang akan memudahkan masuknya bakteri dan memperlambat proses
kesembuhan (Bogen et al., 2008).

4. Mahasiswa Mampu Memahami Tahapan perawatan pulp capping


 Pada Kunjungan Pertama :
1. Dilakukan isolasi ruang kerja dengan pemasangan rubber dam/cotton
roll untuk mencegah kontaminasi bakteri pada karies.
2. Membersihkan kavitas Karies dibuang dengan bor atau ekscavator
steril.
3. Lakukan asepsis kavitas dengan air calxyl.
4. Bagian yang tereksponasi ditutup dengan cotton pellet yang sudah
dibazahi dengan minyak cengkeh atau eugenol. Sebaiknya hindari
desinfektan yang kaustik seperti fenol, kresol dan alkohol.
5. Kalau ada perdarahan atau rasa sakit, kontrol dengan cotton pellet dan
eugenol yang dihangatkan.
6. Di atas pulpa yang masih terbuka, aplikasikan preparat Ca (OH)2 tanpa
tekanan dengan Ash 49 atau amalgam carrier. Kelebihan bahan dibuang
dengan ekscavator.
7. Di atasnya diaplikasikan ZOE kemudian dilapisi semen fosfat
kemudian dilapisi tambalan sementara.

 Pada Kunjungan Kedua :

Apabila tidak ada keluhan, dilakukan penambalan tetap, namun apabila


terdapat kegagalan dalam perawatan dilanjutkan dengan Perawatan Saluran
Akar / Root Canal Treatment.

5. Mahasiswa Mampu Memahami Evaluasi perawatan pulp capping


Secara umum evaluasi diartikan sebagai proses yang disengaja dan
sistematik dimana penilaian dibuat mengenai kualitas, nilai atau kelayakan dan
membandingkan pada kriteria yang diidentifikasi atau standar sebelumnya.
(Wilkinson, 2007)

18
 Kriteria kesuksesan scara klinis :
• Berkurang atau hilangnya rasa nyeri
• Tidak terjadinya keluhan sakit spontan
• Pulpa dalam keadaan vital setelah dilakukan test thermal
• Tidak terjadi rasa nyeri pada saat test perkusi, palpasi dan test sensitivitas
dingin
• Tidak adanya gejala patologis
• Tidak adanya fistula, odema, dan atau pergerakan gigi yang abnormal
 Kriteria kesuksesan scara Radiologis :
• Terdapat bentukan dentin reparatif
• Tidak terdapat bentukan odema atau abses
• Tidak ditemukan bayangan radioluusen disekitar area bahan capping dan bahan
restorasi
• Tidak ditemukan gambaran pelebaran ruang ligament periodontal yang
menandakan belum adanya penyebaran peradangan pulpa
Keadaan Gigi yang terlindungi dari kontaminasi bakteri menghasilkan prognosis
hasil perawatan yang baik dan pembentukan dentin reparatif yang berfungsi untuk
melindungi pulpa juga akan terbentuk. Indikasi keberhasilan secara klinis dan
radiografis ditunjukkan dengan tidak adanya tanda dan gejala patologis dan
tanggalnya gigi secara dini. (The American Academy Of Pediatric Dentistry, 2014)

BAB III
KESIMPULAN

Pulp Capping adalah tindakan mempertahankan vitalitas pulpa dengan menempatkan selapis
material proteksi / terapeutik yang sesuai, baik secara langsung pada pulpa yang terbuka
berdiameter kurang lebih 1 mm (direct) atau di atas lapisan dentin yang tipis dan lunak
(indirect). Direct digunakan ketika pulpa terlihat jelas (pulpa vital) akibat karies, trauma, atau
paparan yang tidak disengaja selama preparasi gigi. Indirect digunakan dalam preparasi
kavitas dalam yang dekat dengan pulpa tetapi tanpa terlihat pulpa yang terbuka. Pulp capping
di aplikasikan pada dasar kavitas yang bertujuan membantu membentuk dentin reparative

19
serta untuk mengurangi daya iritasi ke jaringan pulpa sehingga pulpa supaya bisa
memperahankan vitalitasnya.

DAFTAR PUSTAKA

 Sumawinata, N. (2004). Senarai Istilah Kedokteran Gigi Inggris-Indonesia.


 Rahmadhan, A. G. 2010. Serba Serbi Kesehatan Gigi dan Mulut.
 Torabinejad, M., & Walton, R. E. (2009). Endodontics: Principles and Practice. St.
Louis: Saunders.
 Hadriyanto wignyo, dkk. 2011. trioxide aggggregate (MTA). studi pustaka
 Clinical Evaluation Of Success Indirect Pulp Capping With Calcium Hydroxide
Material Type Of Hard Setting At The Dental Hospital Muhammadiyah University Of
Yogyakarta

20
 Radiographic Evaluation Of Indirect Pulp Capping With Hard Setting Calcium
Hydroxide In RSGM UNY

21