Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui arah penyebaran angin
sebagai faktor pencemaran lingkungan dan penyebaran
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Angin dan Kecepatan Angin


2.1.1 Angin
Angin adalah gerakan atau perpindahan masa udara pada arah horizontal
yang disebabkan oleh perbedaan tekanan udara dari satu tempat dengan
tempat lainnya. Angin diartikan pula sebagai gerakan relatif udara terhadap
permukaan bumi, pada arah horizontal atau hampir horinzontal. Masa udara ini
mempunyai sifat yang dibedakan antara lain oleh kelembaban (RH) dan
suhunya, sehingga dikenal adanya angin basah, angin kering dan sebagainya.
Sifat-sifat ini dipengaruhi oleh tiga hal utama, yaitu (1) daerah asalnya dan (2)
daerah yang dilewatinya dan (3) lama atau jarak pergerakannya. Dua
komponen angin yang diukur ialah kecepatan dan arahnya.
Arah angin adalah arah dari mana tiupan angin berasal. Bila angin itu
datang dari Selatan, maka arah anginnya adalah Utara, datangnya dari laut,
dinyatakan angin laut. Arah angin untuk angi di daerah permukaan biasanya
dinyatakan dalam 16 arah kompas yang dikenal dengan istilah Wind Rose,
sedangkan untuk angin di daerah atas dinyatakan dengan derajat dimulai dari
arah Utara bergerak searah jarum jam sampai di arah yang bersangkutan. Bila
tidak ada tiupan angin maka arah angin dinyatakan dengan kode 00 dan bila
angin berasal dari titik utara dinyatakan dengan 3600. Arah angin tiap saat
dapat dilihat dari posisi panah angin (Wind Vane), atau dari posisi kantong
angin (Wind Sack). Pengamatan dengan kantong umumnya dilakukan
dilapangan terbang. Untuk dapat memberikan petunjukan arah yang lebih
mudah dilihat maka panah angin dihubungkan dengan sistem aliran listrik
sehingga posisi panah angin langsung ditunjukan oleh jarum pada kotak
monitornya. Perkembangan lebih lanjut dari sistem ini menghasilkan rekaman
pada silinder berpias. Panah angin umumnya dipasang bersama dengan
mangkok anemometer dengan ketinggian 10 meter.

2.1.2 Kecepatan Angin


Kecepatan angin adalah jarak tempuh angin atau pergeraakan udara per
satuan waktu dan dinyatakan dalam satuan meter per detik (m/d), kilometer per
jam (km/j), dan mil per jam (mi/j). Satuan mil (mil laut) per jam disebut juga knot
(kn); 1 kn = 1,85 km/j = 1,151mi/j = 0,514 m/d atau 1 m/d = 2,237 mi/j = 1,944
kn. Kecepatan angin bervariasi dengan ketinggian dari permukaan tanah,
sehingga dikenal adanya profil angin, dimana makin tinggi gerakan angin makin
cepat. Kecepatan angin diukur dengan menggunakan alat yang disebut
Anemometer atau Anemograf.

2.2 Anemometer
Anemometer adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengukur
kecepatan angin, dan merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam
sebuah stasiun cuaca. Istilah ini berasal dari kata Yunani anemos, yang berarti
angin. Anemometer pertama adalah alat pengukur jurusan angin yang ditemukan
oleh oleh Leon Battista Alberti. Anemometer dapat dibagi menjadi dua kelas: yang
mengukur angin dari kecepatan, dan orang-orang yang mengukur dari tekanan
angin, tetapi karena ada hubungan erat antara tekanan dan kecepatan, yang
dirancang untuk satu alat pengukur jurusan angin akan memberikan informasi
tentang keduanya.
2.3 Pengaruh Angin terhadap Penyebaran Penyakit
Meningkatnya suhu, kelembaban, dan kecepatan angin dapat meningkatkan
populasi, memperpanjang umur, dan memperluas penyebaran vektor sehingga
berdampak terhadap peningkatan kasus penyakit menular seperti nyamuk, babi
dIntensitas curah hujan yang meningkn tikus.
Selain itu angin juga berpengaruh terhadap peningkatan temperatur udara
mengakibatkan semakin banyaknya volume genangan air. Hal ini dikarenakan semakin
cepat pergerakkan angin maka uap air cepat terkumpul pada atmosfer sering terjadinya
hujan. Padahal, genangan air merupakan tempat ideal berkembang biaknya nyamuk
Aedes aegypti yang berfungsi sebagai penyebar virus dengue. Virus dengue adalah
penyebab penyakit DBD. Semakin banyak tempat berkembang biak nyamuk,
bertambah banyak pula jumlah nyamuk.

1. Pengertian angin

Angin adalah gerakan atau perpindahan masa udara pada arah horizontal yang disebabkan

oleh perbedaan tekanan udara dari satu tempat dengan tempat lainnya. Angin diartikan pula

sebagai gerakan relatif udara terhadap permukaan bumi, pada arah horizontal atau hampir

horinzontal. Masa udara ini mempunyai sifat yang dibedakan antara lain oleh kelembaban

(RH) dan suhunya, sehingga dikenal adanya angin basah, angin kering dan sebagainya.

Sifat-sifat ini dipengaruhi oleh tiga hal utama, yaitu (1) daerah asalnya dan (2) daerah yang

dilewatinya dan (3) lama atau jarak pergerakannya. Dua komponen angin yang diukur ialah

kecepatan dan arahnya (Joytalita, 2010).

a. Kecepatan Angin

Kecepatan angin adalah jarak tempuh angin atau pergeraakan udara per satuan waktu

dan dinyatakan dalam satuan meter per detik (m/d), kilometer per jam (km/j), dan mil

per jam (mi/j). Satuan mil (mil laut) per jam disebut juga knot (kn); 1 kn = 1,85 km/j =

1,151mi/j = 0,514 m/d atau 1 m/d = 2,237 mi/j = 1,944 kn. Kecepatan angin bervariasi
dengan ketinggian dari permukaan tanah, sehingga dikenal adanya profil angin, di mana

makin tinggi gerakan angin makin cepat. Kecepatan angin diukur dengan menggunakan

alat yang disebut Anemometer (Joytalita, 2010).

Anemometer adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengukur kecepatan

angin, dan merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam sebuah stasiun cuaca.

Selain mengukur kecepatan angin, alat ini juga dapat mengukur besarnya tekanan angin

itu.

Anemometer dapat dibagi menjadi dua kelas: yang mengukur angin dari kecepatan, dan

orang-orang yang mengukur dari tekanan angin, tetapi karena ada hubungan erat antara

tekanan dan kecepatan, yang dirancang untuk satu alat pengukur jurusan angin akan

memberikan informasi tentang keduanya (Carolusspinola, 2010).

Kecepatan angin dapat ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:

a. Besar kecilnya gradien barometrik.

Gradien Barometrik, yaitu angka yang menunjukkan perbedaan tekanan udara

melalui dua garis isobar pada garis lurus, dihitung untuk tiap-tiap 111 km (jarak 111

km di equator 1( atau 1/360 x 40.000 km = 111 km). Menurut hukum Stevenson

bahwa kecepatan angin bertiup berbanding lurus dengan gradien barometriknya.

Semakin besar gradien barometriknya, semakin besar pula kecepatannya.

b. Relief Permukaan Bumi

Angin bertiup kencang pada daerah yang reliefnya rata dan tidak ada rintangan.

Sebaliknya bila bertiup pada daerah yang reliefnya besar dana rintangannya banyak,

maka angin akan berkurang kecepatannya.

c. Ada Tidaknya Tumbuh-tumbuhan


Banyaknya pohon-pohonan akan menghambat kecepatan angin dan sebaliknya, bila

pohon-pohonannya jarang maka sedikit sekali member hambatan pada kecepatan

angin.

d. Tinggi dari Permukaan Tanah

Angin yang bertiup dekat dengan permukaan bumi akan mendapatkan hambatan

karena bergesekan dengan muka bumi, sedangkan angin yang bertiup jauh di atas

permukaan bumi bebas dari hambatan-hambatan (Sarjani, 1999).

b. Arah Angin

Yang dimaksud dengan arah angin adalah arah dari mana tiupan angin berasal. Menurut

seorang ahli meteorologi bangsa Belanda yang bernama Buys Ballot mengemukakan

hukumnya yang berbunyi: Udara mengalir dari daerah maksimum ke daerah minimum.

Pada belahan utara bumi, udara/angin berkelok ke kanan dan di belahan selatan

berkelok ke kiri. Pembelokan arah angin terjadi karena adanya rotasi bumi dari barat ke

timur dan karena bumi bulat. Dalam mempelajari cuaca, diantaranya perlu mengetahui

arah angin. Arah angin dapat diketahui melalui arah baling-baling angin (Sarjani, 1999).

2. Kekuatan Angin (sarjani, 1999)

Kekuatan angin ditentukan oleh kecepatannya, makin cepat angin bertiup maka makin

tinggi/besar kekuatannya. Pada tahun 1804 Beaufort seorang Laksamana Inggris telah

membuat daftar kekuatan dan kecepatan angin yang digunakannya untuk pelayaran. Daftar

tersebut kini masih tetap digunakan secara internasional. Untuk lebih jelasnya silakan Anda

perhatikan tabel berikut ini.


BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu 12 Pebruari 2011 Pukul 09.30-selesai di
lingkungan kampus Fakultas kesehatan Masyarakat Unmul

3.2 Alat dan Bahan


- Anemometer
- Alat tulis
- Benang
3.2 Cara Kerja
1. Dari praktikum ini pilih tempat yang akan di ukur kecepatan anginnya
2. Benang digantungkan untuk mengetahui arah datangnya angin
3. Disiapkan alat tulis
4. Pada saat tertiup angin, baling-baling yang terdapat pada anemometer akan
bergerak sesuai arah angin. Makin besar kecepatan angin meniup baling-baling
tersebut, makin cepat pula kecepatan berputarnya piringan baling-baling. Dari
jumlah putaran dalam satu detik maka dapat diketahui kecepatan anginnya.
5. Angka yang muncul di monitor anemometer diamati dengan interval 5 detik
dilakukan selama 10 kali pengukuran.
6. Hasil pengamatan dicatat kemudian dianalisis

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Pengukuran Selang Kecepatan
Ke- waktu Angin
(secon) (m/s)
1 5 1.0
2 10 1.4
3 15 1.9
4 20 1.0
5 25 0.9
6 30 0.6
7 35 0.4
8 40 0.2
9 45 0.1
10 50 0.1

Hasil pengukuran di atas kemudian dihitung rata-ratanya dengan menggunakan rumus


Rata-rata kecepatan angin = total kecepatan angin (m/s)
Frekuensi pengukuran
= 1.0+ 1.4+1.9+1.0+0.9+0.6+0.4+0.2+0.1+0.1
10
= 0.76
Jadi rata-rata kecepatan angin di lokasi percobaan adalah 0.76 m/s

4.2 Pembahasan

Sebelum melakukan percobaan ini sebaiknya perlu menentukan arah angin


terlebih dahulu. Kecepatan angin dapat diukur dengan menggunakan bahan yang
bermassa ringan seperti benang atau kertas. Selanjutnya kipas anemometer
dihadapkan pada arah datangnya angin.
Posisi kipas harus berlawanan dengan arah angin agar angin yang berhembus
mengenai baling kipas anemometer. Apabila baling baling kipas telah berputar maka
kita dapat menentukan kecepatan angin dengan selang waktu interval 5 detik,
kemudian dilakukan 10kali pengukuran.

BAB V
KESIMPULAN
5.1 Simpulan
5.2 Saran