Anda di halaman 1dari 4

PENANGANAN BIOMASSA MIKROALGAE JENIS Spirulina platensis SEBAGAI BAHAN BAKU

PANGAN

Sugiyono dan Sri Amini


Peneliti Balai Besar Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan Perikanan Jakarta 2008

ABSTRAK

Mikroalgae jenis Spirulina platensis merupakan ganggang halus dari kelas Cyanophyceae, sel
berbentuk spiral dengan warna hijau kebiru-biruan. Mempunyai nilai gizi tinggi sebagai bahan baku pangan.
Produksi mikroalgae sebagai bahan baku pangan telah dilakukan didalam bak-bak fiber ukuran 0,5 ton sebanyak
4 buah. Hasil panen biomassa Spirulina platensis diperlakukan penanganannya sebagai bahan baku pangan
dengan cara pengeringan menggunakan sinar matahari, menggunakan kelembaban udara (humidifier) dan kering
beku (freezdryer). Hasil pengeringan biomassa Spirulina platensis dengan menggunakan sinar matahari
memerlukan waktu 2 hari , humidifier selama 3 hari dan freezdryer selama 3 hari pengeringan. Hasil analisa
nilai gizi secara proksimat dari ketiga perlakuan tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata.

PENDAHULUAN optimal 25°C. Unsur nutrien yang diperlukan alga


dalam jumlah besar adalah karbon, nitrogen, fosfor,
Mikroalga Spirulina platensis merupakan sulfur, natrium, magnesium dan kalsium. Sedangkan
mikroorganisme atau jasad renik dengan tingkat unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah relatif
organisasi selnya termasuk ke dalam tumbuhan tingkat sedikit adalah besi, tembaga(Cu), mangan (Mn), seng
rendah. mikroalga dikelompokkan ke dalam Filum (Zn), silicon (Si), boron (B), molibdenum (Mo),
Talofita karena tidak memiliki akar, batang dan daun vanadium (V) dan kobalt (Co) ( Manahan,1984; dan
sejati (semu). Namun mikroalga ini memiliki zat Chumadi,2004).
warna hijau daun (pigmen klorofil) yang mampu Mikroalgae banyak kegunaannya sebagai
melakukan fotosintesis dengan bantuan air (H2O), CO2 pakan digunakan dipanti-panti perbenihan ikan
dan sinar matahari yang dapat mengubah energi sedangkan sebagai pangan yaitu merupakan produk
kinetik menjadi energi kimiawi dalam bentuk suplemen atau makanan kesehatan seperti Sun
biomassa atau yang lebih dikenal dengan karbohidrat. Chlorella yang banyak diimport dari negara-negara
Bentuk sel mikroalga Spirulina platensis memanjang maju seperti Amerika,Jepang,Jerman dllnya
seperti benang, bercabang umumnya disebut (Amini,2005, 2004). Oleh sebab itu perlu dilakukan
fitoplankton adalah plankton yang berklorofil dan proses penanganan hasil pasca panen Spirulina
hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. platensis untuk penyediaan bahan baku pangan.
Fitoplankton adalah mikroorganisme nabati yang
hidup melayang-layang di dalam air, relatif tidak BAHAN DAN METODE
mempunyai daya gerak sehingga keberadaannya
dipengaruhi oleh gerakan air serta mampu Kultur massal mikroalgae dilakukan di bak-
berfotosintesis. Dalam struktur piramida makanan, bak fiber ukuran 0,5 ton sebanyak 4 buah dengan
fitoplankton sangatlah penting karena menempati pencahayaan sinar matahari untuk proses fotosintesis,
posisi sebagai produksi primer mengandung nutrisi media air laut bersalinitas 10 – 15 ppt.
yang tinggi terdiri dari protein, karbohidrat dan lemak. Pupuk sebagai faktor penunjang
Sebagai dasar mata rantai pada siklus makanan di laut, pertumbuhan sel secara normal diperlukan minimal
fitoplankton menjadi makanan alami bagi zooplankton 16 unsur di dalamnya dan harus ada 3 unsur mutlak,
baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa. yaitu nitrogen, fosfor dan kalium (Adhikari,2004,
Selain itu fitoplankton juga digunakan sebagi Higgins,2004). Disini yang digunakan adalah pupuk
indikator kesuburan suatu perairan (Kabinawa,2001). anorganik merupakan pupuk buatan, urea, NPK dan
Pertumbuhan mikroalga biasanya diukur dari TSP. Dosis pupuk yang digunakan terdiri dari Urea
kepadatan selnya pada setiap volume kulturnya 150 ppm, NPK 10 ppm,, ZA 10 ppm dan Fe Cl3 3
(sel/mL). Dengan menggunakan pengukuran ppm. (Amini, 2005, Kadek, 1999 dan Sapto, dkk,
kepadatan sel pada selang waktu yang tetap, maka 2003).
kurva pertumbuhan mikroalga dapat dibuat. Tingkatan Sterilisasi media air laut dilakukan dengan
pertumbuhan yang terdapat pada kurva pertumbuhan menggunakan kaporit sebanyak 10 ppm diaerasi terus
ini adalah fase adptasi, fase eksponensial, fase menerus selama 24 jam, kemudian baru digunakan
stasioner, dan fase kematian. sebagai media kultur dengan inokulasi biakan murni
Perkembangbiakan mikroalgae terjadi secara Spirulina platensis yang diperoleh dari hasil kultur
aseksual. dapat tumbuh dalam berbagai media yang skala laboratorium (in door culture). Untuk
mengandung cukup unsur hara, seperti N, P, K dan
unsur mikro lainnya dan tumbuh baik pada temperatur

III - 68
menghomogenkan media kultur diberi aerator Sebagai perlakuan pengeringan digunakan
secukupnya. alat pengering sebagai berikut :
Pertumbuhan kepadatan sel dihitung 1. Pengeringan sinar matahari
dengan menggunakan SRC (Sedwigt Raffter Counter) 2. Pengeringan dengan menggunakan kelembaban
diletakkan didalam mikroskop, rata-rata ukuran udara (humidifier)
panjang Spirulina platensis berkisar antara 10 – 20 3. Pengeringan secara suhu beku (Freezdryer)
um. Laju Pertumbuhan sel dapat dihitung dengan Analisa proksimat meliputi : Protein,
menggunakan rumus Oh-Hama dan Miyachi (1992 ) karbohidrat, air dan abu menggunakan metoda AOAC
sebagai berikut : ( 1999 ), lemak menggunakan metoda Bligh and Dyer
Log 10 N/No dalam Parsons, dkk (1984).
k = ___________ X 3.22
HASIL PENELITIAN
T - To
Biomassa Spirulina platensis yang telah
Dimana N adalah jumlah sel pada waktu T berumur 10 hari dipanen dengan menggunakan kain
dan No adalah jumlah sel awal, nilai 3,22 merupakan satin (gambar 1) kemudian baru dikeringkan dengan 3
factor koreksi. perlakuan yaitu 1. Pengeringan dengan Sinar
Pemanenan Spirulina platensis dilakukan matahari, 2. Pengeringan dengan kelembaban udara
pada umur 10 hari kultur dengan cara (humidifier) dan 3. Pengerigan dengan kering beku
menggunakan saringan kain satin kemudian (Freezdryer).
biomassa yang diperoleh dikeringkan dengan
menggunakan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan.

Gambar 1. Skema Teknik Pemanenan

Bak kultivasi Spirulina


0,5 ton ( 4 bak) berumur 10 hari

Disaring menggunakan kain satin


dengan menggunakan Pompa air

Endapan Biomassa Spirulina dicuci air


tawar 3 kali

Perlakuan Pengeringan
1. Kering Matahari 2. Humidifier 3. Freezdryer

Persentase rendeman berat kering Spirulina protein, karbohidrat,lemak, air dan abu dengan hasil
platensis : sebagai berikut pada tabel 1.
1. Pengeringan Matahari : 10 – 17 %
Hasil analisis kandungan protein,
2. Pengeringan Kelembaban udara (humidifier) : 10
karbohidrat dan lemak menunjukkan hasil tidak
– 15 %
berbeda nyata pada semua perlakuan. Sehingga
3. Pengeringan kering beku (freezdryer) : 10 – 20 %.
biomassa Spirulina platensis dapat dikeringkan
Lama pengeringan biomassa Spirulina platensis
dengan cara yang mudah dan biaya yang murah yaitu
den gan ketebalan 1 – 2 cm pada ketiga
dengan pengeringan sinar matahari.
perlakuan hasilnya sebagai berikut :
1. Pengeringan dengan Sinar Matahari
Pertumbuhan Spirulina platensis selama
memerlukan waktu 2 hari.
umur kultivasi 10 hari menunjukkan laju
2. Pengeringan dengan humidifier memerlukan
pertumbuhan tertinggi terjadi pada hari ke 5 dan 6
waktu 3 hari.
pemeliharaan yaitu k =.0,12 (Gambar 2). Sedangkan
3. Pengeringan dengan freezdryer memerlukan
kepadatan sel tertinggi terjadi pada umur 7 hari
waktu 3 hari
kultivasi yaitu log 4,7 sel/ml. Ukuran panjang sel (
Hasil pengeringan biomassa Spirulina
1 cocoid) Spirulina platensis berkisar antara 10 – 20
platensis dianalisis kandungan gizinya meliputi
um. Hal ini mempermudah proses pemanenan

III - 69
dibandingkan jenis mikroalgae lain yang rata-rata berukuran 3 – 5 um.

Tabel 1. Persentase rata-rata kandungan gizi Spirulina platensis


Parameter Perlakuan
Matahari Humidifier Freezdryer
Kadar air 10,96 6,21 8,18
Kadar abu 10,36 13,79 16,88
Protein 31,59 36,15 26,45
Total Karbohidrat 35,07 36,90 42,08
Lemak 0,10 0,13 0,70

Gambar 2. Pertumbuhan Spirulina platensis

5
4,5
4
3,5
Log cell/mL

3
2,5
2
1,5
1
0,5
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Hari

Kepadatan sel Laju pertumbuhan (k )

KESIMPULAN UCAPAN TERIMA KASIH

1) Penelitian penanganan biomassa Spirulina Pada rekan-rekan analis kimia khususnya


platensis dengan perlakuan pengeringan Nanik Dolaria diucapkan terima kasih atas bantuannya
menggunakan sinar matahari, kelembaban udara selama penelitian berlangsung.
(humidifier) dan freezdryer paling cepat terdapat
pada pengeringan sinar matahari yaitu 2 hari.
Hasil rendeman biomassa berkisar antara 10 – 20 DAFTAR PUSTAKA
%.
2) Kualitas gizi dari protein,karbohidrat dan lemak Adhikari, 2004. Fertilization, soil and water quality
pada perlakuan pengeringan tidak menunjukkan management in small scale ponds:
hasil yang berbeda nyata. Fertilization requirements and soil properties:
3) Umur kultivasi sel Spirulina platensis tertinggi 3 hlm.
terdapat pada hari ke 7 yaitu log 4,7 sel/ml http://www.enach.org/aquaculture/article/oct-
dengan ukuran panjang sel berkisar antara 10 – Des-2003/fertilizeation.pdf:Diakses tanggal
20 um. 26 Juli 2003.

Amini,S. 2004. Pengaruh umur ganggang halus laut


jenis Chlorella,sp dan Dunaliella,sp.
terhadap pigmen klorofil dan karotenoid

III - 70
sebagai bahan baku makanan kesehatan. Oh-Hama, T. And S. Miyachi., 1992. Chlorella.
Seminar Nasional & Temu Usaha,Fakultas Micro-Algal Biotechnology. Edited by
Pertanian Universitas Sahid, Jakarta. M.A.Borowitzka and L.J.Borowitzka
P.229 – 238. Cambridge. Univ. Press. 25 p.

Amini, S. 2005, Studi kimia anorganik media


Parsons,T. R., Maita, Y., Lalli, C. M., 1984. A manual
budidaya mikroalgae jenis Spirulina,sp
of Chemical and Biological Methods for
sebagai pakan alami biota perairan laut. Buku
Seawater Analysis. Pergamon Press.Oxford.
Perikanan Budidaya Berkelanjutan.
p. 75 – 80.
Pusat Riset Perikanan Budidaya. Jakarta.
P.233-246.
Sapto, A. I. M., 2003. Teknik Penyimpanan dan
Kegunaan Nata de Nanno. Pertemuan
AOAC, 1999.Official Methods of Analysis.13rd ed.
Lintas UPT Ditjen Perikanan Budidaya,
Association of Official Analytical
Yogyakarta 11 – 14 September. 12 p.
Chemists. Washington D.C..

Chumadi,S. Ilyaas, Yunus, M.Sahlan, R. Utami, A.


Priyadi, P. T. Imanto, S. Hartati, Bastiawan,
Z. Jangkaru dan R. Arifudin. 1992. Pedoman
teknis budidaya pakan alami ikan dan
udang. Pusat Pengembangan Perikanan.
Jakarta. 84 p.

Higgins, J. 2004. Are fertilizers polluting our water


supply. http://www.agosa.org/agcsaarticles
4.htm. Diakses tanggal 26 Juli 2004.

Kabinawa. I. N. K. 2001 Mikroalga Sebagai Sumber


Daya Hayati (SDH) Perairan dalam
Perspektif Bioteknologi.Puslitbang
Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia. Bogor. Hlm. 5 – 13.
Kadek, 1999. Kajian Pendahuluan Pembuatan Nata de
Chlorella. Balai Budidaya Laut
Lampung.Ditjen Perikanan-Deptan. 5 hal.
Manahan, E.S.1984. Environmental chemistry. 4 th
Edition.Brooks/Cole.Publishing Company.
Monterey. 612 p.

III - 71