Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

KEKERASAN PADA WANITA DI BENUA AMERIKA


Untuk memenuhi salah satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas II
Dosen pembimbing: Vina Fuji Lastari S.Kep. Ners

Disusun Oleh:

KELOMPOK 3
Cintia Rindyantika (CKR0190089)
Dini Supandi (CKR0190092)
Fina Astuti Herfiana (CKR0190096)
Gita Sri Wahyuni (CKR0190099)
Indy Mutia Teguh Puspita (CKR0190100)
Nita Rihlatussalamah (CKR0190110)
Nuraini (CKR0190111)
Rika Ruslianawati (CKR0190115)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN
TAHUN AJARAN 2020-2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Makalah ini merupakan salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas II yang
diberikan oleh dosen pengampu Vina Fuji Lastari S.Kep. Ners. Dalam makalah ini
membahas menganai “Kekerasan pada wanita di benua Amerika”.

Dalam pembuatan makalah ini, kami menyadari adanya berbagai kekurangan baik
dalam isi materi maupun penyususan kalimat. Namun demikian, perbaikan merupakan hal
yang berlanjut sehingga kritik dan saran untuk menyempurnakan makalah ini sangat kami
harapkan.

Akhir kata banyak terima kasih, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua .Amin.

Kuningan, Juni 2021

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................i
DAFTAR ISI.........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................................4
1.3 Tujuan..........................................................................................................................4
BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.1 Definisi ........................................................................................................................5
2.2 Faktor Penyebab Kekerasan.....................................................................................6
2.3 Jenis-jenis kekerasan pada wanita............................................................................7
2.4 Perlindungan Bagi Wanita Terhadap Tindak Kekerasan.....................................7
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Perspektif Kekerasan Pada Wanita .........................................................................5
3.2 Sudut pandang kekerasan pada wanita di benua Amerika....................................6
3.3 Faktor pencetus kekerasan di benua Amerika .......................................................7
3.4 Tindakan kekerasan pada wanita di benua Amerika.............................................7
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan..............................................................................................................11
4.2 Saran.........................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kekerasan (violence) terhadap perempuan terjadi karena adanya perbedaan Gender,


kekerasan terhadap perempuan belakangan ini diduga meningkat (Irsyadunnas 2009).
Berbagai macam bentuk kekerasan menimpa perempuan mulai yang ringan hingga yang berat
(penganiayaan) sehingga terjadinya kekerasan pada perempuan yang ditimbulkan oleh
adanya budaya patriarki. Seringkali terjadi perbedaan peran dan tanggung jawab antara laki-
laki dan perempuan, kemudian pada akhirnya menimbulkan permasalahan kekerasan
terhadap perempuan yaitu, suatu pandangan yang membedakan kedudukan dan tanggung
jawab antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bahkan negara.
Permasalahan perbedaan ideologi antara laki-lakidan perempuan inilah yang pada akhirnya
melahirkan suatu hubungan yang timpang antara laki-laki dan perempuan sehingga terjadi
diskriminasi, marginalisasi terhadap perempuan, subordinasi, stereotipe, sehingga
meningkatnya tindakan kekerasan yang terjadi terhadap perempuan. Kekerasan terhadap
perempuan seringkali diabaikan oleh dunia internasional, bahwa ini juga merupakan sebuah
permasalahan yang terjadi di seluruh negara-negara oleh sebab itu setiap aktor tidak lagi
mengabaikan isu tentang perempuan karena isu perempuan pada saat ini sudah terjadi banyak
kasus kekerasan terhadap perempuan dan sistem hukum yang tidak dioptimalkan, sehingga
isu perempuan juga perlu menjadi fokus para aktor dalam menghentikan kasus terhadap
perempuan pada saat ini dengan begitu seluruh perempuan yang ada di seluruh dunia merasa
aman dan kehadiran mereka di tengah masyrakat dapat di terima.

Namun penyelesaian atas kasus kekerasan terhadap perempuan selalu terjadi hambatan
dilapangan. Padahal jika dilihat selama ini seringkali terjadi tindakan kekerasan terhadap
perempuan yang merupakan ancaman terus menerus bagi perempuan diseluruh dunia. Hal ini
merupakan akibat dari adanya pandangan di sebagian besar masyarakat yang menganggap
kedudukan perempuan yang tidak setara dengan laki-laki. Terlebih lagi, rasa takut kaum
perempuan terhadap kejahatan (fear of crime) jauh lebih tinggi dibandingkan dengan apa
yang dirasakan oleh laki-laki. Dan juga lain halnya berbeda dengan laki-laki, kekerasan yang
dialami oleh perempuan sehingga dari kejahatan tersebut perempuan seringkali mengalami
gangguan kesehatan (trauma) yang dialami dari bentuk berbagai kekerasan.

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui konsep kewirausahaan

2. Untuk mengetahui karakteristik kewirausahaan


3. Untuk mengetahui hakikat nilai kewirausahaan

4. Untuk mngetahui ciri watak kewirausahaan

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi

Kekerasan diartikan dengan perihal yang bersifat, berciri keras, perbuatan seseorang
yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik.
Dengan demikian, kekerasan merupakan wujud perbuatan yang lebih bersifat fisik yang
mengakibatkan luka, cacat, sakit atau unsure yang perlu diperhatikan adalah berupa paksaan
atau ketidakrelaan pihak yang dilukai. Kata kekerasan sepadan dengan kata “violence” dalam
bahasa inggris diartikan sebagai suatu serangan atau invasi terhadap fisik maupun integritas
mental psikologis seseorang. Sedangkan kata kekerasan dalam bahasa Indonesia umumnya
dipahami hanya menyangkut serangan fisik belaka. Dnengan demikian, bila pengertian
violence sama dengan kekerasan, maka kekerasan disini merujuk pada kekerasan fisik
maupun psikologis.

2.2. Faktor Penyebab Kekerasan

Kekerasan terhadap perempuan yang tbkan oleh terjadi pada masyarakat modern
dewasa ini berupa kekerasan seksual yang dikenal dengan pelecehan seksual, menurut
kriminolog, pada umumnya terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :

1. Pengaruh perkembangan budaya yang semakin tidak menghargai etika berpakaian


yang menurup aurat, yang dapat merangsang pihak lain untuk berbuat tidak senonoh
dan jahat.
2. Gaya hidup dan pergaulan di antara laki-laki dan perempuan yang semakin bebas,
tidak atau kurang bisa lagi membedakan antara yang seharusnya boleh dikerjakan
dengan yang dilarang dalam hubungannya dengan kaidah akhlak mengenai hubungan
laki-laki dengan perempuan sehingga sering terjadi seduktifrape.
3. Rendahnya pengalaman dan penghayatan terhadap norma-norma keagamaan yang
terjadi di tengah masyarakat. Nilai-nilai keagamaan yang semakin terkikis di
masyarakat atau pola relasi horizontal yang cenderung semakin meniadakan peran
agama adalah sangat potensial untuk mendorong orang lain.
4. Tingkat control masyarakat (sosial control) yang rendah, artinya berbagai perilaku
diduga sebagai penyimpangan, me;langgar hukum dan norma keagamaan kurang
mendapatkan respond an pengawasan dari unsur-unsur masyarakat
5. Putusan hakim yang cenderung tidak adil, misalnya putusan yang cukup ringan
dijatuhkan pada pelaku. Hal ini dimungkinkan dapat mendorong anggota masyarakat
lainnya untuk berbuat keji dan jahat. Artinya mereka yang hendak berbuat jahat tidak
merasa takut lagi dengan sanksi hukum yang akan diterimanya.
6. Ketidakmampuan pelaku untuk mengendalikan emosi dan nafsu seksualnya. Nafsu
seksualnya dibiarkan mengembara dan menuntutnya untuk dicarikan kompensasi
pemuasnya.
7. Keinginan pelaku untuk melakukan (melampiaskan) balas dendam terhadap sikap,
ucapan dan perilaku korban yang dianggap menyakiti dan merugikan sehingga
menimbulkan Ang Rape.

2.3 Jenis-jenis kekerasan pada wanita

a. Kekerasan dalam berumah tangga


Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dan Institut Keadilan Nasional
sekitar 1 dari setiap 4 wanita menderita setidaknya satu pengalaman serangan fisik dari
pasangannya selama masa dewasa. Sebuah laporan tahun 2007 menemukan bahwa
sekitar 64% pembunuhan perempuan dilakukan oleh pasangan atau anggota keluarga.
Pelecehan pasangan intim juga dapat mencakup jenis perilaku lain yang dianggap kasar.
Ini adalah contoh di mana satu pasangan berusaha mengendalikan keuangan, memaksa
isolasi dari teman dan keluarga dan mendominasi hubungan.Wanita yang telah
diidentifikasi memiliki risiko lebih tinggi untuk kekerasan dalam rumah tangga dan
seksual adalah wanita yang lebih tua, mereka yang tinggal di komunitas pedesaan, wanita
cacat dan imigran. Mengatasi dan mencegah kekerasan semacam itu mungkin sulit
karena beberapa perempuan tidak memiliki akses terdekat ke layanan korban. Seorang
wanita mungkin juga memiliki hambatan bahasa, ketergantungan ekonomi dan
psikologis pada pelaku. Dalam beberapa kasus kekerasan, seorang perempuan dan anak-
anaknya mungkin tidak dapat memperoleh perumahan selain dari pelaku. Antara 22-57%
dan dari wanita ini menjadi tunawisma . Karena peraturan perumahan yang menerapkan
kebijakan 'tanpa toleransi' yang mengharuskan pengusiran semua anggota rumah tangga
ketika bahkan satu orang dihukum karena kejahatan apa pun, akibatnya perempuan yang
dianiaya bisa menjadi tunawisma. Praktik ini pada dasarnya menciptakan disinsentif
untuk melaporkan kekerasan di rumah. Beberapa perempuan yang mengalami kekerasan
di rumah berisiko kehilangan pekerjaan terkait dengan kebutuhan mereka akan
perawatan medis, konseling, mencari tempat tinggal baru dan perlindungan hukum
b. Memperkosa
Persentase wanita yang telah diperkosa di Amerika Serikat adalah antara 15% dan 20%,
dengan berbagai penelitian tidak setuju satu sama lain. ( Survei Nasional Kekerasan
Terhadap Perempuan pada tahun 1995, tingkat 17,6%; sebuah studi Departemen
Kehakiman 2007 tentang pemerkosaan menemukan tingkat 18% . Sekitar 500
perempuan diperkosa per hari di Amerika Serikat pada tahun 2008. Sekitar 21,8%
perkosaan korban perempuan di Amerika Serikat adalah pemerkosaan berkelompok
.Sebuah Maret 2013 laporan dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat 's Biro
Statistik Keadilan , 1995-2010, tingkat tahunan diperkirakan pemerkosaan perempuan
atau kekerasan seksual telah menurun 58%, dari 5.0 korban kejahatan per 1.000
perempuan usia 12 atau lebih tua untuk 2,1 per 1.000. Namun, sebuah penelitian pada
tahun 2013 tentang pemerkosaan di Amerika Serikat menemukan bahwa kasus-kasus
tetap tidak dilaporkan. Penegakan hukum di Amerika Serikat juga memanipulasi statistik
pemerkosaan untuk "menciptakan ilusi keberhasilan dalam memerangi kejahatan
kekerasan" menurut sebuah studi tahun 2014. Ketika diselidiki, terdakwa jarang
dihukum.
c. Serangan seksual
Serangan seksual berbeda secara signifikan dari kejahatan penyerangan lainnya . Untuk
kekerasan seksual , tingkat keparahan kejahatan telah ditentukan dengan menetapkan
karakter moral korban , perilaku , tanda-tanda perlawanan dan ekspresi verbal partisipasi
non-konsensual. Kejahatan baterai, jenis penyerangan lain, ditentukan oleh tindakan dan
niat pelaku. Tanggapan korban terhadap jenis penyerangan ini tidak menentukan apakah
suatu kejahatan telah terjadi atau tidak. Korban tidak harus menunjukkan bahwa mereka
melawan, memberikan persetujuan atau memiliki riwayat pukulan. Selain itu, pertanyaan
tentang penyerangan yang terjadi setelah persetujuan diberikan memperumit pemahaman
tentang kekerasan dan cedera - bahkan jika seks dilakukan secara suka sama suka.
Perubahan undang-undang tentang beberapa tindakan seksual dapat "mengarah pada
pemuliaan kekerasan seksual".
d. Perwujudan
Sebuah studi tahun 2015 oleh University of Nebraska menemukan bahwa mahasiswi di
Amerika Serikat yang menjadi korban kekerasan seksual atau kekerasan pasangan mulai
mengobjektifikasi diri mereka sendiri dan merasa malu dengan tubuh. Wanita asli
Amerika telah menjadi objek dalam budaya populer di bawah stereotip "squaw seksi"
seperti yang terlihat oleh kostum Halloween seksi dan cara lain seperti peragaan busana
yang menggunakan estetika wanita Pribumi yang bebas secara seksual. Selain itu, wanita
asli Amerika sangat diobjektifkan oleh penjajah dan sering diperkosa sebagai metode
kontrol saat mendirikan Dunia Baru. Di bawah hukum Eropa, wanita penduduk asli
Amerika menjadi milik suami kolonis mereka yang mengarah pada kepemilikan literal
dan objektifikasi selanjutnya terhadap wanita Pribumi.
e. Sterilisasi paksa
Sterilisasi paksa diakui sebagai jenis kekerasan berbasis gender. Di Amerika Serikat,
penduduk asli Amerika , Meksiko Amerika , Afrika Amerika dan Puerto Rico-Amerika
perempuan dipaksa ke dalam program sterilisasi, dengan penduduk asli Amerika dan
Afrika Amerika terutama menjadi sasaran. Banyak dari proyek ini adalah hasil dari
rasisme dan eugenika di Amerika Serikat . Secara total, 31 dari 50 negara bagian
memiliki program eugenika resmi dengan puluhan ribu wanita disterilkan. Perang
Kemiskinan Presiden Lyndon B. Johnson, didukung oleh logika bahwa dunia tidak akan
memiliki sumber daya yang diperlukan untuk merawat seluruh populasi global seperti
yang dikemukakan oleh Dr. Barbara Gurr, seorang profesor di University of Connecticut,
mengarah pada penciptaan Dinas Peluang Ekonomi yang menangani pendidikan,
pelatihan, dan kontrasepsi bagi masyarakat miskin. Undang-Undang Keluarga Berencana
tahun 1970 disahkan hampir dengan suara bulat, diilhami oleh pemikiran eugenicist, dan
sterilisasi wanita meningkat 350% dengan hampir 1 juta wanita disterilisasi setiap tahun
dari 1970 hingga 1975.
Saya menganggap seorang wanita yang membawa seorang anak setiap dua tahun lebih
menguntungkan daripada pria terbaik di pertanian. Apa yang dia hasilkan adalah
tambahan modal, sementara tenaga kerjanya hilang hanya dalam konsumsi
Wanita asli Amerika tidak dapat membuka segel catatan pengadilan yang
mendokumentasikan praktik sterilisasi Layanan Kesehatan India (IHS) atas permintaan
pemerintah Amerika Serikat. Sebuah studi General Accounting Office (GAO) yang
dilakukan antara tahun 1973 hingga 1976 menemukan fasilitas IHS mensterilkan 3.406
wanita asli Amerika di Albuquerque, Phoenix, Oklahoma City, dan Aberdeen, South
Dakota. Sebagian besar wanita ini berusia antara 15 hingga 44 tahun. Ini adalah sejumlah
besar wanita asli Amerika yang disterilkan, setara dengan 452.000 wanita non-pribumi
Amerika. Banyak dari prosedur sterilisasi ini melanggar definisi persetujuan berdasarkan
informasi dari Pengadilan Distrik AS: "sukarela, mengetahui persetujuan dari individu
yang akan dilakukan sterilisasi."Seringkali ada kekurangan penerjemah untuk
menjelaskan tingkat keparahan prosedur kepada wanita asli Amerika dan dokter
menahan informasi tentang tidak dapat diubahnya sterilisasi atau bentuk pengendalian
kelahiran lainnya. Dokter di IHS meresepkan Depo-Provera, kontrasepsi kimia jangka
panjang, kepada wanita asli Amerika 20 tahun sebelum disetujui oleh Food and Drug
Administration pada tahun 1992. Kontrasepsi ini memiliki efek samping jangka panjang
seperti depresi, osteoporosis, kemandulan, dan kanker serviks. Banyak wanita asli
Amerika tidak menyadari efek samping ini. Sterilisasi sering menjadi solusi standar
untuk kontrasepsi bagi wanita asli Amerika, yang sering dipaksa melakukan prosedur
seperti itu oleh pejabat pemerintah. Pada tahun 2004, sekitar 1/3 wanita penduduk asli
Amerika menjalani ligasi tuba, tingkat yang 123% lebih besar daripada wanita kulit
putih.

2.4 Perlindungan Bagi Wanita Terhadap Tindak Kekerasan

Negara–negara didunia menggunakan strategi penanggulangan kekerasan terhadap


wanita atau strategi perlindungan bagi wanita terhadap kekerasan sebagai berikut :

1. Peningkatan kesadaran wanita terhadap hak dan kewajibannya di dalam hukum


melalui latihan dan penyuluhan (legal training). Pendidikan sebagai sarana
pemebrdayaan wanita dilakukan dalam tema yang universal (universal education for
woman).
2. Peningkatan kesadaran masyarakt (public awareness) betapa pentingnya usaha untuk
mengatasi terjadinya kekerasan terhadap wanita, baik dalam konteks individual, social
maupun institusional.
3. Mengingat masalah kekerasan terhadap wanita sudah merupakan masalah global,
maka perlu koordinasi antar Negara untuk melakukan kerjasama penanggulangan.
4. Meningkatkan kesadaran para penegak hukum, agar bertindak cepat dalam mengatasi
kekerasan terhadap wanita, dalam satu semangat bahwa masalahnya telah bergeser
menjadi masalah global (police sensitization)
5. Peningkatan bantuan dan konseling terhadap korban kekerasan terhadap perempuan
(support and conselling)
6. Meningkatkan peranan mass media
7. Perbaikan system peradilan pidana, dimulai dari pembaharuan hukum yang kondusif
terhadap terjadinya kekerasan
8. Secara terpadu meningkatkan program pembinaan korban dan pelaku

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Perspektif Kekerasan Pada Wanita

Dalam masyarakat posisi perempuan sulit mendapatkan kepercayaan dengan


kedudukan dalam sebuah posisi dalam dunia kerja, dikarenakan belum adanya kepercayaan
dalam sebuah tanggung jawab dan keputusan-keputusan yang akan diambil, ini juga menjadi
salah satu alasan bahwa perempuan hanya mendapatkan posisi tidak terlalu berisiko tinggi.
Sikap diam yang menutupi dari setiap perlakuan kekerasan yang disebabkan oleh laki-laki ini
membuat perempuan tidak dapat melakukan apapun atas kekerasan yang dialaminya. Padahal
manusia diciptakan oleh Tuhan dengan tugas dan kewajiban yang berbeda-beda sesuai
kodratnya masing-masing. Laki-laki bertanggung jawab sebagai kepala keluarga yang
berkewajiban untuk menafkahi keluarga, sedangkan perempuan diciptakan dengan kodratnya
sebagai pengurus rumah tangga. Tidak menjadi sebuah hambatan bagi keduanya, karena
perempuan mampu melakukan apa saja bukan hanya mengurus anak dirumah tetapi juga
mampu menjadi pemimpi dan juga dapat bertanggung jawab dalam perkerjaan apapun itu.

Ditengah-tengah masyarakat luas perempuan didefinisikan sebagai seorang korban atas


ketidakadilan dalam masyakarat. Terkadang dalam pasangan suami istri, posisi perempuan
selalu dibatasi oleh kaum laki-laki, contohnya dalam pendidkan perempuan cenderung
dibatasi, dalam posisi politik yang jarang juga terjadi bagi perempuan untuk mengambil
peran kemudian ditengah masyarakat perempuan seringkali mendapat perlakuan tindakan
kekerasan. Menurut buku yang berjudul “Keadilan Gender Perspeksif Feminis Muslim dalam
Karya Sastra Timur Tengah bahwa perempuan dipandang oleh laki-laki sebagai objek yang
menderita. Perempuan menjadi korban dari cara pandang yang cenderung menyalahkan
perempuan atas pelanggaran moral dan agama yang terjadi. Akibatnya “perempuan menjadi
korban” dianggap hanya sebagai konsekuensi logis dari cara perempuan yang tidak mengikuti
kontrol patriarki.

Seorang tokoh perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual dianggap merupakan
kesalahnya sendiri karena dianggap berperilaku dalam berpakaian tidak mengikuti norma
budaya patriarki. Tetapi lain halnya, jika suami yang berselingkuh itu hanya di anggap
sebagai kesalahan dari yang istri tidak mampu merawat dan melayani suaminya. Dan didalam
sebuah adat jika perempuan mengalami unsur kekerasan itu hanya dianggap sebagai
kesalahan dari perempuan oleh karena itu terjadi dan pantas mendapatkan hukuman
(dipukuli) maka sebab perempuan tidak dapat melawan hukum adat yang sudah ada sehingga
perempuan hanya dapat berdiam. (Hearty 2015, 51).
3.2 Sudut pandang kekerasan pada wanita di benua Amerika

Diskriminasi terhadap perempuan serta budaya dalam cara pandang perlakuan terhadap
kaum perempuan yang terjadi di setiap belahan bumi dan juga oleh budaya yang berbeda-
beda, seringkali perempuan akan tetap menjadi posisi yang tertindas dengan cara pandang
kaum laki-laki yang pada dasarnya menjadikan perempuan sebagai kaum subordinat.

Seringkali perempuan yang dianggap lemah sehingga terjadinya ketidakadilan bagi


perempuan, bahkan ketidakadilan tersebut juga telah melahirkan berbagai tindakan yang
merugikan bagi perempuan yaitu tindakan kekerasan. Ini merupakan suatu serangan terhadap
fisik maupun intergritas mental psikologi seorang perempuan. Kekerasan lahir karena adanya
otoritasnya kekuasaaan di mana kelompok masyarakat yang dalam posisi subordinat akan
selalu menjadi korban, kekerasan terhadap perempuan merupakan tindakan yang sangat
merugikan pihak perempuan baik secara fisik maupun non fisik daripada seorang laki-laki
kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi dimana saja dan kapan saja di area public
maupun domestic.

Feminism bahkan menganggap setiap kaum perempuan sebagai korban kekerasan dalam
peperangan yang disebabkan oleh militer dalam bukunya Gender, Justice and Wars (2006),
Laura Sjoberg mengatakan bawah setiap kaum perempuan dipandang sebagai kelompok
masyarakat sipil yang lemah, rentan, dan sulit untuk menyelesaikan berbagai masalah yang
dihadapi oleh setiap perempuan.

Penelitian oleh kaum feminis menunjukkan bahwa perempuan sering mengalami penderitaan
yang tidak proporsional dimana mereka sering menghadapi risiko permerkosaan dan berbagai
bentuk penyiksaan lainnya. Dalam kasus invasi militer Irak ke Kuwait pada awal 1990-an
misalnya, banyak perempuan Kuwait menjadi korban pemerkosaan bukan sekedar akibat
”kecelakaan peperangan“ (accident of war) tetapi strategi militer yang diterapkan oleh militer
Irak untuk melampiaskan kebencian etnis dan upaya menebar rasa takut pada kaum
perempuan di Kuwait. Kemudian peristiwa serupa yang terjadi terulang kembali di
Yugoslavia beberapa tahun kemudian dimana ribuan perempuan di Bosnia dan Koswo
menjadi korban pemerkosaan dengan alasan yang hampir sama. (Sjoberg 2006).

Dengan begitu kehadiran feminism mencoba untuk memberikan gambaran dari tiga aspek :

1. Secara empiris kaum feminis menyodorkan fakta bahwa kehadiran perempuan dalam
pengembangan Teori dan Praktik Hubungan Internasional (HI) (Soetjipto 1991)
ternyata masih sangat minim.
2. Secara analisis tampak bahwa sejumlah masalah struktural telah membatasi partisipasi
kaum perempuan dalam pengembangan teori dan praktik HI. Perempuan masih di
sampingkan karena adanya kesadaran yang salah (falseconsciousness). Bahwa
perempuan identik dengan sikap lemah-lembut, emosional, dan kepedulian yang tidak
cocok dengan hakikat politik internasional yang bernuansa perjuangan demi
kekuasaan.
3. Secara normatif kaum perempuan seringkali dicontohkan sebagai makhluk lemah
yang harus dilindungi hal ini tampil seperti dalam tokoh komik-komik superhero
seperti superman, batman, spiderman dan lain-lain sehingga akibatnya dalam cerita
tersebut perempuan lebih sering digarmbarkan sebagai korban bukan pelaku.

Dengan begitu kaum feminis hadir dalam studi Hubungan Internasional (HI) untuk mengubah
segala logika yang tampak merendahkan status perempuan. Peran suatu pemerintah
mempunyai kewajiban untuk melindungi masyarakat dan membuat suatu kebijakan dari
sebuah konflik yang terjadi di masyarakat, salah satu isu perempuan yang menjadi perhatian
di dunia internasional menjadi hal masih sangat kompleks. Pasalnya kasus yang banyak
terjadi seiring mengikuti perkembangan masa yang terus berjalan masalah internasional
bukan hanya saja tentang aktor-aktor dunia yang ingin saling menguasai melalui pasar
ekonomi untuk kepentingan nasional. Lalu kemudian juga beberapa kejahatan transnasional,
teroris, politik, dan masalah pendidikan tetapi juga masalah tentang gender menjadi salah satu
perdebatan di mata internasional dan menarik perhatian internasional sampai pada saat ini.

3.3 Faktor pencetus kekerasan di benua Amerika

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah kekerasan dan ketimpangan


sosial terhadap perempuan di setiap negara, banyak hal yang dapat mempegaruhi terjadinya
masalah perempuan yaitu, dalam sebuah faktor kebijakan suatu negara juga dapat berdampak
pada perempuan seperti di Indonesia contohnya hukum adat yang mengikat perempuan yang
mengharuskan untuk tetap mematuhi suaminya karena sudah dibayar sebelum menikah
seperti contohnya di Papua terdapat hukum adat yang mengikat perempuan sehingga apapun
yang dilakukan oleh suami sudah menjadi kewajiban untuk tetap mematuhi. Kemudian juga
di negara-negara timur tengah seperti Irak, Arab Saudi, Suriah, Yaman.

Sebuah laporan dari Perserikat Bangsa-Bangsa (PBB) (BBC 2013). Pada April
mengatakan 99,3% perempuan dan anak perempuan di Mesir menjadi korban pelecehan
seksual. Dengan ini mengatakan bahwa kejahatan seksual yang terjadi meliputi banyak faktor
yang melatarbelakangi yaitu dalam sosial, ekonomi, status pernikahan, cara berpakaian atau
perlakuan perempuan yang dianggap menjadi salah satu masalah. Posisi perempuan dalam
masyarakat hanya memiliki beberapa persen dalam dunia politik sebanyak persentasi hanya
30% tidak banyak dan masih dikuasai oleh laki-laki dalam parlemen.

Sedikit perempuan yang menjadi presiden belum banyak dari negara-negara yang mampu
percaya bahwa kaum perempuan untuk menduduki kursi penguasa di suatu negara, padahal
posisi perempuan mempunyai peran penting bagi suatu negara yang bertujuan melindungi
kaum perempuan dari masalah kekerasan dan pelecehan seksual dan hak-hak asasi manusia
bagi perempuan dalam masyarakat (BBC 2013). Pada tahun 2012 terjadi fenomena di
Argentina dimana ribuan orang menentang kekerasan terhadap perempuan di ibu kota
Argentina, para demonstrasi menentang femicide (penganiayaan perempuan) dan juga ini
terjadi dikota-kota lain dan di negara-negara tetangga. Proses yang dilakukan oleh para
demontrasi ini karena terjadi kekerasan pada guru Taman Kanak-Kanak, yang mana guru
tersebut di bunuh oleh suaminya di hadapan murid-murid kelasnya, dan ada pula kasus
pembunuhan gadis 14 tahun oleh pasangannya karena gadis tersebut hamil. Kemudian dari
kasus itu membangkitkan amarah rakyat Argentina lalu kelompok-kelompok pejuang hak
perempuan seperti, partai serikat buruh, partai-partai politik dan Gereja Katolik pun datang
mendukung pawai anti kekerasan terhadap perempuan. Di Buenos Aires, beberapa
demonstran bahkan datang menggunakan kaus berhiaskan foto-foto dari korban kekerasan
rumah tangga.

3.4 Tindakan kekerasan pada wanita di benua Amerika

Dengan begitu banyak yang mengecam kasus fenomena femicide, dalam Undang-
Undang Anti Kekerasan terhadap perempuan, pelaku yang melakukan pembunuhan terhadap
perempuan dalam kekerasan rumah tangga, pelecehan, dan diskriminasi dapat dihukum 12
tahun hingga 30 tahun kurungan penjara. Fenomena yang terjadi di Argentina pada masa
pemerintahan Presiden Cristina Fernandez de Kirchner, Presiden perempuan yang pertama
kali di Argentina ini juga mengecam budaya yang membinasakan perempuan (Patnistik
2015). Salah satunya presiden perempuan Cristina Fernandez de Kirchner berhasil
mengungguli para pesaing dari partai lainya dengan keunggulan cukup telak hanya dengan
satu putaran, sehingga dengan keunggulan itu tidak diperlukan lagi pemilu putaran kedua.
Kemenangan Cristina dalam pemilu tersebut merupakan sejarah baru sepanjang perjalanan
politik Argentina. Cristina terpilih sebagai presiden perempuan pertama dan first lady
Argentina yang benar-benar dipilih oleh rakyat melalui pemilu yang demokrasi, “Cristina
Fernandez de Kirchner”.

Pada tahun 2016 di Argentina hampir 2.638 korban yang dibunuh merupakan
perempuan dan 75% kematian disebabkan oleh laki-laki. Para pelaku yang melakukan
kejahatan ini merupakan orang terdekat mereka antara lain keluarga dan kerabat dekat.
Hampir setengah dari korbannya dekat dengan pembunuh (65% dari femicides yang
dilakukan di rumah korban). Femicide ini menunjukkan kesenjangan antara jenis kelamin dan
aspek sosial sehingga terjadinya kematian, karena femicide merupakan suatu tindakan jika
dianalisis berupa kejahatan gender karena dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan dalam
keinginan mereka untuk melakukan kekerasan dan meningkatkan dominasi kaum laki-laki.
Karena lebih mengacu pada pembunuhan yang dilakukan oleh pasangan suami istri dan juga
sebaliknya yang bukan pasangan suami-istri kemudian juga pembunuhan yang terjadi karena
mereka adalah perempuan (Matienzo 2017).

Femicide adalah pembunuhan yang sudah direncanakan kepada perempuan yang


disebabkan oleh kebencian, dendam, dan perasaan bahwa seseorang laki-laki menganggap
perempuan sebagai sebuah kepemilikannya sehingga dapat berbuat sesuka mereka. Kata
‘femisida’ dianggap berbeda dari pembunuhan biasa (homicide) karena menekankan pada
adanya ketidaksetaraan gender, perbedaan kedudukan dan kekerasan terhadap perempuan
yang sistematis sebagai penyebab pembunuhan terhadap perempuan. World Health
Organization (WHO) menyatakan sebagian besar pelaku femisida adalah pasangan atau
mantan pasangan korban. Selain itu, masyarakat dalam tradisi yang patriarkal juga dapat
mendorong seseorang untuk membunuh. Ada beberapa kasus contoh yang menggambarkan
bentuk femicide atau femisida terhadap perempuan. Hal serupa juga terjadi di Indonesia.
Pada tahun 2017, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap perempuan (Komnas
Perempuan) mencatat terjadinya beberapa kasus femisida di Indonesia.
Berdasarkan menurut klasifikasi World Health Organization (WHO) sebagian besar kasus
femisida di Indonesia diklasifikasikan dalam relasi intim (intimate femicide).

1. Kasus penganiayaan yang berujung kematian yang dialami seorang jurnalis perempuan
di Palu pada Maret 2017. Korban ditemukan dalam kamar kosnya dalam keadaan luka-
luka diseluruh tubuh dan sempat dilarikan ke rumah sakit namun tidak terselamatkan.
Pelaku adalah suaminya sendiri yang merasa terhina karena korban menampar dirinya
ketika bertengkar sebelumnya kejadian tersebut.
2. Pembunuhan terhadap istri dan anak perempuan juga terjadi pada Oktober 2017 di
Tangerang yang disebabkan faktor ekonomi. Pelaku kesal terhadap istrinya karena
menghabiskan uang Rp 30 juta untuk berbelanja, padahal uang tersebut ingin digunakan
untuk membayar hutangnya. Pelaku pun memukul dan menusukkan pisau hingga korban
meninggal. Kedua anak perempuan yang menjadi saksi peristiwa tersebut turut dibunuh
oleh pelaku.
3. Kemudian Letty pada Bulan November 2017 adalah seorang dokter di sebuah klinik di
Jakarta Timur Pelaku penembakan adalah suaminya sendiri yang kesal karena dr. Letty
menggugat cerai setelah bertahun-tahun mengalami KDRT dari pelaku fenomena
femicide (PBB 2015).

Dalam penelitian ini berfokus pada masa Pemerintahan Presiden Cristina Fernadez de
Kirchner dalam menanggani kasus femicide yang hanya memakan korban perempuan dengan
begitu dapat mengetahui kebijakan dan bentuk implementasi dalam menanggani fenomena
femicide. Argentina merupakan negara urutan ke-10 terbesar di dunia dan dapat dilihat
kondisi keadaaan politik dari sejarah yang menarik, dinamika masalah ekonomi yang sangat
kompleks pada masa lalu yaitu setiap kepala negara yang gagal karena kasus hutang, korupsi
dan juga intervensi para militer dalam dunia politik begitu berpengaruh dalam pemerintahan
di Argentina. Sehingga ini juga menimbulkan masalah ketimpangan terhadap perempuan.
Selain itu juga fenomena femicide yang menjadi perhatian dunia internasional, tetapi belum
banyak yang mengetahui kasus femicide dengan begitu peneliti berfokus pada fenomena
femicide yang terjadi pada tahun 2012-2015 pada pemerintahan Presiden Cristina Fernandez
de Kirchner.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kekerasan diartikan dengan perihal yang bersifat, berciri keras, perbuatan seseorang
yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik.
Dengan demikian, kekerasan merupakan wujud perbuatan yang lebih bersifat fisik yang
mengakibatkan luka, cacat, sakit atau unsure yang perlu diperhatikan adalah berupa paksaan
atau ketidakrelaan pihak yang dilukai.
Pada tahun 2016 di Argentina hampir 2.638 korban yang dibunuh merupakan
perempuan dan 75% kematian disebabkan oleh laki-laki. Para pelaku yang melakukan
kejahatan ini merupakan orang terdekat mereka antara lain keluarga dan kerabat dekat.
Hampir setengah dari korbannya dekat dengan pembunuh (65% dari femicides yang
dilakukan di rumah korban). Femicide ini menunjukkan kesenjangan antara jenis kelamin dan
aspek sosial sehingga terjadinya kematian, karena femicide merupakan suatu tindakan jika
dianalisis berupa kejahatan gender karena dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan dalam
keinginan mereka untuk melakukan kekerasan dan meningkatkan dominasi kaum laki-laki.

4.2 Saran

Dengan adanya pembahasan makalah keperawatan maternitas ini diharapkan dapat


menambah wawasan perawat tentang infertilitas dan klimakterium. Serta dapat memotivasi
semua orang agar bisa menjaga kesehatan pada daerah kelamin supaya terhindar dari
penyakit kelamin.