Anda di halaman 1dari 14

GEN BERPAUTAN DAN PEMETAAN KROMOSOM

(Laporan Praktikum Genetika)

Oleh

Jensa Yuswantoro
1917021036

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2021
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Percobaan : Gen Berpautan dan Pemetaan Kromosom

Tanggal Percobaan : 19 Mei 2021

Nama : Jensa Yuswantoro

NPM : 1917021036

Program Studi : Biologi

Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Kelompok : I (Satu)

Bandar Lampung, 19 Mei 2021


Mengetahui
Asisten

Dewi Sartika, S.Si.


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hukum kedua Mendel menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang
atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung
pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda
tidak saling memengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang menentukan tinggi
tanaman dengan warna bunga suatu tanaman, tidak saling memengaruhi. Hukum
Mendel II disimpulkan dari persilangan dihibrid. Hukum ini juga dinamakan Hukum
Penggabungan Bebas (the mendelian law of independent assortment). Hukum II
Mendel menyatakan bahwa pada waktu pembentukan gamet, alel-alel berbeda yang
telah bersegregasi bebas (misal alel A memisah dari a, serta alel B memisah dari b)
akan bergabung secara bebas membentuk genotip dengan dengan kombinasi alel yang
berbeda-beda.

Gen-gen yang mengalami tautan pada satu kromosom tidak selalu bersama-sama pada
saat pembentukan gamet melalui pembelahan meiosis. Gen-gen yang tertaut tersebut
dapat mengalami pindah silang. Gen berpautan dapat diibaratkan bahwa jika dua gen
atau lebih terletak pada kromosom yang sama.Gen-gen itu biasa bertautan menjadi
satu pada salah satu autosom atau dihubungkan menjadi satu di kromosom seks. Gen-
gen pada kromosom-kromosom yang berbeda didistribusikan menjadi gamet-gamet
secara bebassatu sama lain. Akan tetapi, gen-gen pada kromosom yang sama
cenderung tetap bersama saat pembentukan gamet.

Dengan demikian, hasil-hasil uji silang atas individu-individu dihibrid akan


memberikan hasil yang berbeda-beda, bergantung pada tertaut-tidaknya gen-gen itu
ataukah terletak dikromosom yang berbeda-beda. Pautan dari dua macam gen atau
lebih aka nmenghasilkan jumlah gamet yang lebih sedikit dibandingkan dengan gen-
gen yang tidak berpautan. Oleh karena itu, keturunan yang dihasilkan akan memiliki
perbandingan fenotip dan genotip yang lebih sedikit pula. Pemetaan kromosom
menjadi aspek penting dalam analisa genetik karena dapat menjadi suatu cara untuk
menentukan urutan gen-gen didalam suatu kromosom.

Selain itu, pemetaan kromosom juga digunakan untuk menentukan jarak relatif antara
suatu gen dengan gen yang lain. Dalam pementaan genetika, jarak antara lokus-lokus
yang berkombinasi akan menentukan frekuensi rekombinasi. Lokus-lokus yang
berpautan dimasukkan ke dalam satu kelompok pautan (linkage group) dan terletak
dalam satu kromosom.Sedangkan lokus-lokus yang saling bebas dimasukkan ke
dalam kelompok pautan yang berbeda dan dianggap terletak pada kromosom yang
berbeda atau pada kromosom yang sama tapi letaknya berjauhan. Pengujian k
eterpautan dapat dilakukan dengan menggunakan populasi F2 atau populasi hasil tes
cros (silang uji). Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hasl tersebut, dilakukan
praktikum ini yaitu mengenai gen berpaut dan pemetaan kromosom.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis data hasil uji untuk setiap dua lokus saling bebas atau terpaut
2. Menghitung koefisien rekombinan dan jarak antar lokus gen
3. Membuat peta genetik atau peta kromosom
4. Menganalisis hubungan pindah silang antar segmen kromosom yang
berdampingan saling bebas atau tidak
II. TINJAUAN PUSTAKA

Teori kromosom menyatakan bahwa kromosom adalah bagian dari sel yang
membawa gen-gen. Gen-gen tersebut selama meiosis mempunyai kelakuan
berdasarkan prinsip-prinsip Mendel, yaitu memisahkan secara bebas. Akan tetapi
prinsip mendel ini hanya berlaku apabila gen-gen letaknya lepas satu sama lain dalam
kromosom. Sehubungan dengan itu, maka pada sebuah kromosom tidak terdapat
sebuah gen saja, melainkan puluhan bahkan ratusan gen. Peristiwa bahwa beberapa
gen bukan alel terdapat pada satu kromosom yang sama dinamakan berangkai
(linkage). Gen-gennya dinamakan dengan gen-gen yang terangkai (Suryo, 2010).

Gen-gen yang mengalami tautan pada satu kromosom tidak selalu bersama-sama pada
saat pembentukan gamet melalui pembelahan meiosis. Gen-gen yang tertaut tersebut
dapat mengalami pindah silang. Pindah silang (crossing over) adalah peristiwa
pertukaran gen-gen suatu kromatid dengan gen-gen kromatid homolognya (Suryo.
2010)

Pindah silang (crossing over) adalah peristiwa penukaran segmen dari kromatid-
kromatid bukan saudara dari sepasang kromosom homolog. Peristiwa pindah silang
sangat umum terjadi pada saat pembentukan gamet pada kebanyakan makhluk.
Pindah silang terjadi pada akhir profase I atau awal metafase I yang terjadi pada saat
kromosom telah mengganda menjadi dua kromatid. Pindah silang umumnya terjadi
pada kromatid-kromatid tengah yaitu kromatid nomor dua dan tiga dari tetrad
kromatid. Tetapi tidak menutup kemungkinan adanya pindah silang pada kromatid-
kromatid yang lain (Campbell. 2004)
Selama meiosis, kromosom homolog saling berpasangan membentuk tetrad. Pada
keadaan ini, terjadi pertukaran materi genetik antara kromosom dan pasangan
homolognya. Menyebabkan gen-gen dapat berpindah dari satu kromosom ke
kromosom homolognya.Perpindahan ini dapat terjadi sepanjang pasangan kromosom.
Proses ini disebut juga pindah silang (crossing over). Pada proses meiosis, pindah
silang terjadi pada kiasma. Oleh karena materi serta susunan gen berubah akibat
pindah silang, proses ini disebut juga rekombinasi gen (Yatim. 1986).

Pemisahan bebas pasangan gen pada saat pembentukan gamet merupakan dasar
pengertian genetika. Jumlah gen dalam suatu organisme jauh melebihi jumlah
pasangan kromosom. Jadi tiap kromosom mengandung banyak gen, beberapa
diantaranya tidak memisah dengan bebas. Meskipun gen tersebut secara fisik saling
bertaut pada kromosom tetapi kombinasi baru dapat terjadi dengan adanya pindah
silang, yaitu pertukaran bahan ADN antara kromatid yang bukan berasal dari satu
kromosom (non-sister chromatids). Rekombinasi antara gen yang bertaut adalah
sumber utama keragaman genetik dalam suatu spesies (Tamarin, 2008).

Pemetaan genetik didasari pada prinsip bahwa gen (marka atau lokus) bersegregasi
melalui rekombinasi kromosom selama proses meiosis jadi memungkinkan pemulia
melakukan analisis segregasi gen pada individu-individu tetuanya Gen atau marka
DNA yang berdekatan (tightly-linked markers) diwariskan bersama dari tetua kepada
progeninya dengan frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan gen yang letaknya
berjauhan satu sama lain. Genotip tetua maupun genotip heterozigot (rekombinan)
akan diwariskan sebagai hasil persilangan dari kedua tetua. Maka dapat dihitung
fraksi rekombinasi dalam menghitung jarak genetik di antara marka DNA yang
dipetakan. Fraksi rekombinasi dikonversi menggunakan suatu fungsi (mapping
function) dalam satuan peta map yang dikenal dengan centiMorgan (cM). Nilai
frekuensi rekombinasi antara dua marka yang makin kecil menunjukan kedekatan
lokasi kedua marka dalam suatu kromosom. Marka atau gen dikatakan terpaut jika
memiliki nilai frekuensi rekombinasi kurang dari 50%, jika diatas 50% maka
dianggap tidak terpaut satu sama lain. Jumlah marka digunakan dalam mengonstruksi
peta genetik yang akan menentukan kelompok pautan yang dapat dikonstruksi. Marka
DNA dengan jumlah besar akan sangat membantu dalam kesuksesan konstruksi peta
genetik dengan kerapatan tinggi (Reflinur & Puji ,2015).

Peristiwa pindah silang diikuti oleh patah dan melekatnya kromatid pada waktu
profase dalam pembelahan meiosis. Pindah silang mengakibatkan rekombinasi
sehingga dihasilkan kombinasi parental dan rekombinasi pada fenotipenya. Dalam
menghitung presentase tipe rekombinan di antara keturunan dapat digunakan unit
peta, yaitu jarak antara gen-gen untuk menyatakan posisi relatifnya pada suatu
kromosom. Untuk menentukan unit peta antara gen-gen, terlebih dahulu dihitung nilai
pindah silang (NPS) = (jumlah tipe rekombinan / jumlah individu seluruhnya) x
100% (Hardjosubroto,1998).

Muller menegaskan bahwa suatu pindah silang yang terjadi pada suatu tempat tentu
menghambat terjadinya pindah silang lain yang berdekatan. Inilah yang dinamakan
interferensi. Untuk mencari besarnya interferensi harus dicari besarnya koefisien
koinsidens (KK) dahulu, yaitu perbandingan antara banyaknya pindah silang ganda
yang sesungguhnya dengan banyaknya pindah silang ganda yang diharapkan (Elrod
& Stansfield, 2002).
III. METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah data hasil
simulasi computer.

3.2 Cara Kerja


Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1. Hitung jumlah genotip hasil uji silang antar dua dan tiga lokus gen hasil
simulasi komputer yang telah disiapkan. Catat hasilnya ke dalam tabel yang
telah disediakan.
2. Dari hasil yang diperoleh uji apakah setiap pasang gen bebas atau tidak satu
sama lain. Jika gen tersebut berpautan, hitung koefisien rekombinan dan jarak
antar gen-gen tersebut.
3. Gambarkan peta kromosomnya
4. Untuk tiga gen, jika terjadi pindah silang antar dua ruas kromosom yang
berdampingan, hitung coincidence dan interferensinya.
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


A. Tabel Pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
No. Nama Pemetaan Hasil
1. Parent Gl Va Ba 103
al
gl va ba 91
2. PST I gl Va Ba 25

Gl va ba 6
3. PST II gl va Ba 6

Gl Va ba 26
4. PSG Gl Va Ba 48

Gl Va ba 46

B. Perhitungan
Adapun perhitungan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Jarak Gl-Va =

=
= 0,356 x 100%
Jarak Va-Ba =

= 0,356 x 100%

2. Jarak Gl-Ba =

=
= 0,179 × 100%

3. DCOo = ×100%

= ×100%

= 0,267
4. DCOe = (NPS Gl-Va) (NPS Va-Ba)
= 0,356 × 0,358 = 0,1274

5. C =

= ×100%

= 2,102
6. I = 1 – 2,102
= 1,102

4.2 Pembahasan
Replikasi DNA yaitu bagian penggandaan rantai ganda DNA. Pada sel, replikasi
DNA terjadi sebelum pembelahan sel. Prokariota bertali-tali memberlakukan replikasi
DNA. Pada eukariota, waktu terjadinya replikasi DNA sangatlah diatur, yaitu pada
fase S siklus sel, sebelum mitosis atau meiosis I. Penggandaan tersebut
memanfaatkan enzim DNA polimerase yang membantu pembentukan belitan sela
nukleotida-nukleotida penyusun polimer DNA. Bagian replikasi DNA dapat pula
dilakukan in vitro dalam bagian yang disebut reaksi berantai polimerase (PCR).

Replikasi DNA adalah proses penggandaan DNA yang terjadi sebelum sel membelah
diri. Replikasi terjadi di nukleus (inti sel) dan terjadi sebelum sel melakukan
pembelahan. DNA perlu digandakan agar sel baru hasil pembelahan memiliki DNA
yang sama dengan sel induk. Replikasi DNA terjadi secara semi konservatif yaitu
rantai ganda DNA akan terpisah dan masing-masing rantai induk akan menjadi
cetakan untuk rantai baru. Sehingga DNA hasil replikasi masing-masing memiliki
rantai induk dan rantai anak.

Tetrads adalah sekelompok dua kromosom homolog yang datang bersama-sama


untuk menjalani crossing over event di meiosis. Pada tahap interphase meiosis, DNA
telah digandakan dan terkondensasi menjadi kromosom. Setiap kromosom terdiri dari
dua kromatid saudara identik. Ketika mereka dipasangkan dengan kromosom serupa
yang juga terdiri dari dua kromatid identik, mereka dikenal sebagai homolog. Ini
berarti mereka serupa, tetapi tidak identik. Anda dapat menganggap ini sebagai warna
rambut yang berbeda. Kebanyakan manusia memiliki rambut, tetapi tidak semua
orang memiliki warna rambut yang sama. Misalnya, beberapa orang memiliki rambut
hitam, beberapa memiliki rambut cokelat, atau bahkan pirang. Tapi struktur
rambutnya sama untuk semua orang. Sehubungan dengan kromosom homolog, satu
kromosom homolog berasal dari ibu Anda dan yang lainnya berasal dari ayah Anda.
Ketika mereka berpasangan dalam persiapan untuk acara crossing over, mereka
membentuk sebuah tetrad. Tetrads tidak muncul dalam mitosis karena tidak ada
peristiwa penyeberangan. Pada mitosis, kromosom dibawa ke ekuator sel tanpa
menyeberang. Tidak ada pertukaran informasi genetik antara kromosom.

Koefisien koinsidensi adalah ukuran dari kekuatan interferensi dan merupakan nisbah
antara frekuensi pindah silang ganda yang diamati dan frekuensi pindah silang ganda
yang diharapkan. suatu pindah silang yang terjadi pada suatu tempat tentu
menghambat terjadinya pindah silang lain yang berdekatan. Inilah yang dinamakan
interferensi. Untuk mencari besarnya interferensi harus dicari besarnya koefisien
koinsidens (KK) dahulu, yaitu perbandingan antara banyaknya pindah silang ganda
yang sesungguhnya dengan banyaknya pindah silang ganda yang diharapkan.

Interferensi adalah suatu pindah silang yang terjadi pada suatu tempat tertentu
menghambat terjadinya pindah silang yang berdekatan. Untuk mencari besarnya
interferensi, terlebih dahulu dicari koefisien koinsidens (KK), yaitu perbandingan
antara banyaknya pindah silang yang sesungguhnya dengan banyaknya pindah silang
ganda yang diharapkan. Setelah koefisien koinsidens didapat, maka koefisien
interferensi dapat dihitung dengan menggunakan perhitungan 1-KK.

Pada hasil praktikum kali ini, tipe pindah silang tunggal baik I maupun II
menghasilkan gamet baru. Model pindah silang ini berpindah dari satu lengan dan
menghasilkan 4 gamet baru hasil dari proses crossing over.
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Proses replikasi DNA menggunakan enzim DNA polimerase.
2. Replikasi terjadi di nukleus (inti sel) dan terjadi sebelum sel melakukan
pembelahan.
3. Replikasi DNA terjadi secara semi konservatif.
4. Tetrads adalah sekelompok dua kromosom homolog yang datang bersama-
sama untuk menjalani crossing over event di meiosis.
5. Hasil pemetaan parental pada Gl Va Ba adalah 103 dan gl va ba adalah 91.
6. Hasil pemetaan pindah silang tunggal I pada gl Va Ba adalah 25 dan Gl va ba
adalah 6.
7. Hasil pemetaan pindah silang tunggal II pada gl va Ba adalah 6 dan Gl Va ba
adalah 26.
8. Hasil pemetaan pindah silang ganda pada Gl Va Ba adalah 48 dan Gl Va ba
adalah 46.
DAFTAR PUSTAKA

Andre, M. B. 2008. Bengkel Genetika. Jakarta: Erlangga.

Campbell, N. A. 2008. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Etikawati, N. dan Setyawan, A.D., 2000, Studi Sitotaksonomi pada Genus Zingiber, J.
Biodiversitas, 1 (1) : 8-13

Lusiyanti, Y & M. Lubis. 2013. Deteksi Aberasi Kromosom Pada Pembelahan


Pertama (M1) Dan Kedua (M2) Pada Sel Limfosit Perifer Pasca Irradiasi
Sinar X. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Nuklir. MIPA:
Bandung.

Muhlisyah, N., C. Muthiadin., B. F. Wahidah & I. R. Aziz. 2014. Preparasi


Kromosom Fase Mitosis Markisa Ungu (Passiflora edulis) Varietas Edulis
Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmiah Biogenesis. 2(1): 48-55.

Mulyani, S. 2006. Anatomi Tumbuhan. Kanisius: Yogyakarta

Suryo. 2008. Genetika Manusia. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

William. 2006. Biologi Molekuler dan Sel. Erlangga: Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai