Anda di halaman 1dari 72

Lembar Judul

FARMAKOTERAPI DASAR (FA-4141)


INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS (ISPA)

Disusun Oleh :
Kelompok 2

Stephanie Natalia (10711002) Budi Gunawan (10711078)


Gery (10711017) Vania Christianti (10711090)
Ocviana Utomo (10711019) Devi Permatasari (10711102)
Joanne Angelina (10711026) Esther Sefiany (10711104)
Agnes Virginia (10711037) Yurika Johan (10711106)
Margaretha Leo (10711046) Yulia Lie Yanda (10711107)
Willy Kurniawan (10711050) Tasha Vania (10711116)
Yenita Fangny Cietra (10711061) Septian Johanka (11611021)
Amelia Hidayat (10711077)

LABORATORIUM FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


PROGRAM STUDI SAINS DAN TEKNOLOGI
SEKOLAH FARMASI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014
DAFTAR ISI

- Untuk Rhinosinusitis bakteri akut.....................................................................................27


IX. Penanganan Farmakologi.................................................................................................28
9.1. Berdasarkan Gejala.......................................................................................................28
9.1.1. Otitis Media..........................................................................................................28
9.1.2. Sinusitis/Rhinosinusitis.........................................................................................29
a. Rhinosinusitis non-bakteri (virus).................................................................................29
b. Rhinosinusitis bakteri akut...........................................................................................30
9.1.3. Faringitis...............................................................................................................30
9.2. Berdasarkan Penyebab.................................................................................................31
9.2.1. Otitis Media..........................................................................................................31
9.2.2. Sinusitis.................................................................................................................43
9.2.3. Faringitis...............................................................................................................50
X. Interaksi Obat...................................................................................................................56
XI. Studi Kasus.......................................................................................................................64
XII. Daftar Pustaka..................................................................................................................66

i
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Perbedaan Tuba Eustachius Anak dan Dewasa....................................................6


Gambar 2. Bagian Koronal dan Sagital..................................................................................7
Gambar 3. Patofisiologi Rhinosinusitis..................................................................................7
Gambar 4. Terapi first-line untuk Sinusitis Akut yang disebabkan oleh Bakteri.................21
Gambar 5. Guidelines untuk Sinusitis Akut..........................................................................22
Gambar 6. First-line Therapy untuk Sinusitis Berdasarkan Tempat Infeksi........................22
Gambar 7. Antibiotik dan dosis yang diberikan pada pasien faringitis................................25
Gambar 8. Perbedaan Telinga Normal dan Otitis Media......................................................28

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Antibiotik Pilihan Pertama 34


Tabel 2. Interaksi Obat..........................................................................................................56

ii
INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS (ISPA)

I. Definisi Penyakit

Berdasarkan beberapa referensi yang digunakan, ISPA memiliki beberapa


definisi, antara lain:
 Berdasarkan Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut menurut
Kementerian Kesehatan RI (2012), ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan
Akut merupakan suatu infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau
lebih dari saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga alveoli, termasuk
sinus rongga telinga tengah, dan pleura.
 Berdasarkan Pedoman dari Interim WHO (2008) tentang pencegahan dan
pengendalian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang cenderung menjadi
epidemi dan pandemi di fasilitas pelayanan kesehatan. ISPA adalah penyakit
saluran pernapasan atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat
menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa
gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan,
tergantung pada patogen penyebabnya dan faktor lingkungan. Secara ringkas,
ISPA adalah penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh agen
infeksius yang ditularkan dari manusia kepada manusia lainnya.
 Berdasarkan Dipiro (2008), ISPA disebut sebagai Infeksi Saluran Pernapasan
Atas, yang mencakup otitis media, sinusitis, faringitis, laringitis, rhinitis, dan
epiglottitis. Otitis media, sinusitis dan faringitis merupakan penyakit-penyakit
yang menjadi perhatian utama, karena merupakan penyakit yang paling sering
terjadi akibat infeksi bakteri, sehingga dengan pengobatan yang tepat dapat
meminimalkan penyebaran penyakit ini serta dapat mencegah komplikasi
lebih lanjut.
 Otitis media merupakan inflamasi pada telinga bagian tengah.

1
 Sinusitis merupakan inflamasi atau infeksi pada mukosa sinus pranasal.
 Rhinosinusitis merupakan istilah sinusitis yang melibatkan mukosa
nasal.
 Faringitis merupakan infeksi akut dari orofaring dan nasofaring.

II. Insidensi dan Prevalensi

Indonesia merupakan daerah beriklim tropis yang berpotensi menjadi daerah


endemik dari beberapa penyakit infeksi yang setiap saat dapat menjadi ancaman bagi
kesehatan masyarakat. ISPA merupakan salah satu kasus penyakit yang sering dijumpai
pada anak-anak, dengan keadaan ringan sampai berat. ISPA yang berat dapat
mempengaruhi jaringan paru-paru yang dapat menyebabkan terjadinya pneumonia
(infeksi yang dapat menyebabkan kematian).
Berdasarkan data terbaru hasil riset kesehatan dasar tahun 2013, berikut adalah
prevalensi ISPA di Indonesia pada tahun 2013:

2
Keterangan:
D = Responden pernah didiagnosis menderita penyakit tertentu oleh tenaga kesehatan.
G = Responden yang pernah/sedang menderita gejala klinis spesifik penyakit tersebut.
D/G = Responden ditanya apakah pernah didiagnosis menderita penyakit tertentu oleh
tenaga kesehatan atau pernah/sedang menderita gejala klinis spesifik penyakit tersebut.
Berdasarkan data tersebut, lima provinsi dengan ISPA tertinggi adalah Nusa
Tenggara Timur (41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%),
dan Jawa Timur (28,3%). Sedangkan, secara keseluruhan, prevalensi ISPA di Indonesia
berdasarkan % pasien didiagnosa ISPA adalah 13,8% dan berdasarkan persentase
pasien didiagnosa ISPA atau mengalami gejala ISPA adalah 25,0%.
Berdasarkan karakteristik pasien yang diteliti, berikut adalah prevalensi ISPA di
Indonesia:

3
Keterangan:
D = Responden pernah didiagnosis menderita penyakit tertentu oleh tenaga kesehatan.
G = Responden yang pernah/sedang menderita gejala klinis spesifik penyakit tersebut.
D/G = Responden ditanya apakah pernah didiagnosis menderita penyakit tertentu oleh
tenaga kesehatan atau pernah/sedang menderita gejala klinis spesifik penyakit tersebut.
Berdasarkan data karakteristik tersebut, karakteristik penduduk dengan ISPA yang
tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun (25,8%). Menurut jenis kelamin, tidak
berbeda antara laki-laki dan perempuan. Penyakit ini lebih banyak dialami pada
kelompok penduduk dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah dan menengah bawah.
Oleh karena itu, faktor risiko dari ISPA adalah umur dan kuintil indeks kepemilikan.

III. Patofisiologi

III.1. Otitis Media

4
Otitis Media merupakan suatu infeksi saluran pernapasan bagian atas
yang disebabkan karena masuknya virus pada apparatus mukosiliar, yang
menyebabkan terjadinya gangguan pada saluran Eustachius di telinga bagian
tengah. Telinga tengah biasnya steril, meskipun terdapat mikroba di
nasofaring dan faring. Secara fisiologik, terdapat mekanisme pencegahan
masuknya mikroba ke dalam telinga tengah oleh silia mukosa saluran
eustachius, enzim dan antibodi. Terganggunya fungsi saluran eustachius
menyebabkan pencegahan infeksi kuman dalam telinga tengah juga
terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi
peradangan. Selain itu, otitis media juga dapat disebabkan oleh bakteri yang
berkolonisasi pada nasofaring, dan masuk ke dalam telinga bagian tengah.
Akibat proses pembersihan yang kurang baik oleh sistem mukosiliar, maka
bakteri dapat berproliferasi dan menyebabkan terjadinya infeksi.
Pada otitis media, telinga bagian tengah mengalami sumbatan akibat
adanya cairan, sehingga menggembung dan membran timpani mengalami
eritema. Telinga yang tidak terinfeksi memiliki membran timpani yang lebih
tipis dan lebih bersih. Otitis media lebih sering terjadi pada anak-anak
daripada orang dewasa, karena anak-anak memiliki saluran Eustachius yang
lebih pendek dan letaknya lebih horizontal dibandingkan dengan orang
dewasa, sehingga memfasilitasi masuknya bakteri ke dalam telinga bagian
tengah. Puncak terjadinya infeksi otitis media pada anak-anak adalah pada
usia 3-24 bulan, dimana pada usia ini juga merupakan puncak terjadinya
infeksi virus pada anak-anak.
Otitis media sering diawali dengan infeksi saluran napas seperti radang
tenggorokan/pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran eustachius.
Saat bakteri masuk melalui saluran eustachius, bakteri tersebut akan
menyebabkan infeksi sehingga terjadilah pembengkakan, peradangan pada
saluran tersebut. Proses peradangan yang terjadi pada saluran eustachius
menyebabkan stimulasi saluran minyak untuk menghasilkan sekret yang

5
terkumpul di belakang membran timpani. Jika sekret bertambah banyak,
maka akan terjadi penyumbatan pada saluran eustachius, sehingga
pendengaran menjadi terganggu karena membran timpani dan tulang osikel
(maleus, inkus, stapes) yang menghubungkan telinga bagian dalam tidak
dapat bergerak bebas. Sekret yang terlalu banyak akhirnya dapat merobek
gendang telinga karena tekanannya. Selain mengalami gangguan
pendengaran, penderita juga akan mengalami nyeri pada telinga.

Gambar 1. Perbedaan Tuba Eustachius Anak dan Dewasa

III.2. Sinusitis

Sama halnya seperti otitis media akut, sinusitis juga sering diawali oleh
infeksi virus pada saluran pernafasan. Sinusitis adalah keradangan pada satu
atau lebih mukosa sinus paranasal dengan gejala berupa hidung buntu, nyeri
fasial dan pilek kental/purulent. Pada tahun 1996, American Academy of
Otolaryngology – Head and Neck Surgery mengusulkan untuk mengganti
terminology sinusitis dengan rhinosinusitis karena istilah ini dianggap lebih
tepat menggambarkan proses penyakit. Selain itu, perubahan ini juga didasari
bahwa membrane mukosa hidung dan sinus secara embriologis berhubungan

6
satu sama lain dan sebagian besar penderita sinusitis juga akan mengalami
rinitis; gejala pilek, hidung buntu, dan berkurangnya penciuman ditemukan
baik pada sinusitis maupun rinitis; dan foto CT scan penderita menunjukkan
inflamasi mukosa yang melapisi hidung dan sinus paranasal secara simultan.
Beberapa fakta ini menunjukkan bahwa sinusitis merupakan kelanjutan dari
rinitis. Hal ini mendukung konsep “one airway disease”, yaitu penyakit di
salah satu bagian saluran napas akan cenderung berkembang ke bagian lain.
Inflamasi di mukosa hidung akan diikuti inflamasi mukosa sinus paranasal
dengan atau tanpa disertai cairan sinus. Keadaan ini menunjukkan
rhinosinusitis sebenarnya merupakan kondisi atau manifestasi suatu respon
inflamasi mukosa sinus paranasal.

Gambar 2. Bagian Koronal dan Sagital

Kegagalan transport mukus dan menurunnya ventilasi sinus merupakan


faktor utama berkembangnya sinusitis. Patofisiologi rhinosinusitis adalah
sebagai berikut.

Inflamasi mukosa Pembengkakan (udem) Obstruksi (blokade)


hidung dan eksudasi ostium sinus

Gangguang ventilasi Hipoksi (oksigen


Permeabilitas kapiler
dan drainase, resorpsi menurun, pH
meningkat, sekresi
oksigen yang ada di menurun, tekanan di
kelenjar meningkat
rongga sinus darah menurun)

Peningkatan eksudasi
Retensi sekresi di sinus
serus, penurunan 7 a pertumbuhan kuman
fungsi silia
Gambar 3. Patofisiologi Rhinosinusitis

Sebagian besar kasus rhinosinusitis disebabkan karena inflamasi akibat


dari infeksi virus dan alergi rinitis. Infeksi virus yang menyerang hidung dan
sinus paranasal menyebabkan udem mukosa dengan tingkat keparahan yang
berbeda. Selain jenis virus, tingkat keparahan udem mukosa bergantung juga
pada kerentanan individu. Udem mukosa akan menyebabkan obstruksi
ostium sinus sehingga sekresi sinus normal menjadi terjebak (sinus statis).
Pada keadaan ini, ventilasi dan drainase sinus masih mungkin dapat kembali
normal, baik secara spontan atau efek dari obat-obat yang diberikan. Apabila
obstruksi ostium sinus tidak segera diatasi, maka dapat terjadi pertumbuhan
bakteri sekunder pada mukosa dan cairan sinus paranasal. Pada saat respon
inflamasi terus berlanjut dan respon bakteri mengambil alih, lingkungan sinus
berubah ke keadaan yang lebih anaerobik. Flora bakteri akan menjadi
semakin banyak dengan masuknya kuman anaerob. Perubahan lingkungan
bakteri ini dapat menyebabkan peningkatan organisme yang resisten dan
menurunkan efektivitas antibiotik akibat ketidakmampuan antibiotik
mencapai sinus. Infeksi akan menyebabkan 30% mukosa kolumnar bersilia
mengalami perubahan metaplastik menjadi mucus secreting goblet cells,
sehingga efusi sinus makin meningkat.
Pada pasien alergi rinitis, alergen menyebabkan respon inflamasi dengan
memicu rangkaian peristiwa yang berefek pelepasan mediator kimia dan
mengaktifkan sel inflamasi. Limfosit T-helper 2 menjadi aktif dan
melepaskan sejumlah sitokin yang berefek aktivasi sel mastosit, sel B, dan
eosinofil. Berbagai sel ini kemudian melanjutkan respons inflamasi dengan

8
melepaskan lebih banyak mediator kimia yang menyebabkan udem mukosa
dan obstruksi ostium sinus. Rangkaian reaksi ini akan membentuk
lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan bakteri sekunder seperti
halnya pada infeksi virus.

III.3. Faringitis

Faringitis adalah peradangan pada mukosa faring dan sering meluas ke


jaringan sekitarnya yang disebabkan oleh bakteri atau virus tertentu.
Faringitis biasanya timbul bersama-sama dengan tonsilitis, rhinitis, dan
laringitis. Faringitis banyak diderita anak-anak usia 5-15 tahun, di daerah
beriklim panas. Faringitis juga dijumpai pada dewasa yang masih memiliki
anak usia sekolah atau bekerja di lingkungan anak-anak.
Pada faringitis yang disebabkan oleh infeksi, baik bakteri maupun virus,
dapat secara langsung menginvasi mukosa faring, menyebabkan suatu respon
inflamasi lokal dengan gambaran inflamasi seperti tumor. Kuman
menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian bila epitel terkikis maka jaringan
limfoid superfisial bereaksi, terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi
leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian
edema, dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa menjadi
menebal, kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada
dinding faring. Dengan hiperemi pembuluh darah dinding faring menjadi
lebih lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning putih atau abu-abu
terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Apabila tidak terdapat tonsil,
perhatian biasanya difokuskan pada faring dan tampak bahwa folikel atau
bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral,
menjadi meradang dan membengkak sehingga timbul radang pada tenggorok
atau faringitis. Virus-virus seperti rhinovirus dan coronavirus dapat
menyebabkan iritasi sekunder pada mukosa faring akibat sekresi nasal.

9
Infeksi yang disebabkan Streptococcus ditandai oleh pelepasan dan invasi
toksin ekstraselular lokal dan protease.
Mekanisme faringitis yang disebabkan oleh GABHS (Group A Beta-
Hemolytic Streptococci) belum diketahui. Pembawa/carrier faring
asimtomatik pada organisme mungkin menyebabkan perubahan dalam
kekebalan inang dan bakteri dari orofaring dapat bermigrasi dan
menyebabkan infeksi. Selain itu, faktor patogen seperti toksin pirogen,
hemolisin, streptokinase dan proteinase yang terkait dengan organisme juga
dapat berperan dalam menyebabkan faringitis.

IV. Etiologi Penyakit

ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut dapat disebabkan oleh berbagai
macam bakteri dan virus. Beberapa contoh bakteri-bakteri penyebab ISPA antara lain
bakteri dari genus Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Haemophilus,
Bordetella, dan Corynebacterium. Sedangkan virus-virus penyebab ISPA antara lain
golongan Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, dan
Herpesvirus.

IV.1. Otitis Media

Penyebab utama otitis media adalah disfungsi saluran Eustachius akibat


inflamasi membran mukosa pada nasofaring yang umumnya disebabkan oleh
bakteri Streptococcus pneumonia (20-30%), Haemophilus influenza (20-
30%), Moraxella catarrhalis (20%), Staphylococcus aureus, Streptococcus
pyogenes, dan bakteri basilus gram negatif seperti Pseudomonas aeruginosa.
Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri gram positif dan merupakan
penyebab utama penyakit otitis media yang terjadi.
Selain bakteri, otitis media juga dapat disebabkan akibat infeksi virus.
Virus yang paling sering menyebabkan infeksi otitis media adalah

10
Adenovirus dengan persentase kejadian 70%. Virus-virus lainnya yang juga
dapat menyebabkan infeksi ini adalah Rhinovirus, Enterovirus, Coronavirus,
Parainfluenza, RSV (Respiratory Syncytial Virus), dan Influenza A dan B.

IV.2. Sinusitis

Berdasarkan penyebabnya, sinusitis dapat dikategorikan menjadi viral


sinusitis dan bacterial sinusitis. Sinusitis dapat disebabkan oleh infeksi virus
(penyebab utama), seperti Rhinovirus (mayoritas pada kasus viral sinusitis),
Koronavirus, Virus Influenza A dan B, dan virus Parainfluenza, yang
merupakan patogen utama pada 3-15% pasien sinusitis akut.
Sinusitis dapat juga disebabkan oleh infeksi bakteri seperti
Streptococcus pneumoniae (70% kasus), Haemophilus influenzae (70%
kasus), Moraxella catarrhalis (2-10% kasus), Streptococcus pyogenes, serta
Staphylococcus aureus (<10% kasus). Streptococcus pneumoniae merupakan
bakteri gram positif, katalase negatif, berbentuk kokus, anaerob fakultatif,
memiliki kemampuan resistensi antimikroba yang cukup baik, sehingga
menjadi pertimbangan dalam pemilihan antibiotik.
Viral sinusitis dan bakterial sinusitis seringkali sulit dibedakan, karena
pada kebanyakan kasus memberikan manifestasi klinis yang mirip. Namun
pada umumnya, manifestasi klinis infeksi sinusitis akibat virus akan hilang
dalam rentang waktu 7 hingga 10 hari, sedangkan infeksi akibat bakteri lebih
bersifat persisten atau dapat memburuk selama rentang waktu tertentu.
Sinusitis digolongkan ke dalam golongan kronis apabila terjadi inflamasi
hingga lebih dari 3 bulan, dengan gejala respiratori yang persisten.
Selain virus dan bakteri, sinusitis juga dapat disebabkan oleh jamur
(fungal sinusitis), walaupun cukup jarang ditemukan. Jamur yang dapat
menyebabkan sinusitis diantaranya Aspergillus, Alternaria, Bipolaris dan
Curvularia. Faktor pendukung sinusitis diantaranya adalah rhinitis, polip

11
nasal, imunodefisiensi, dan faktor lingkungan (paparan terhadap polusi udara
seperti asap).

IV.3. Faringitis

Faringitis dapat disebabkan oleh faktor infeksi maupun non-infeksi.


Faktor infeksi diklasifikasikan menjadi infeksi virus (viral faringitis) dan
infeksi bakteri (bakterial faringitis). Viral faringitis lebih umum terjadi (25-
45%) dibandingkan bakterial faringitis. Virus yang dapat menyebabkan
faringitis antara lain Rhinovirus (20%), Koronavirus (≥5%), Adenovirus
(2%), dan virus Epstein-Barr (<1%). Pada bakterial faringitis, umumnya
disebabkan oleh Streptococcus beta-hemolitik grup A seperti S. pyogenes
(10-30%), Streptococcus grup C dan G, Corynebacterium diphteriae,
Neisseria gonorrhoeae, dan Chlamydia pneumoniae. Faktor non-infeksi dari
faringitis antara lain iritasi bahan kimia seperti asap, alergi, rhinitis alergi,
dan neoplasma pada kepala dan leher.

V. Manifestasi Klinik dan Diagnosa

V.1. Otitis Media

Otitis media akut menunjukkan gejala-gejala seperti demam,


otalgia/nyeri pada telinga, iritabilitas, nafsu makan turun dan kebiasaan
menarik-narik telinga. Selain itu, disertai juga dengan membengkaknya
membran timpani. Otitis media yang disebabkan oleh bakteri biasanya
menunjukkan tanda-tanda seperti infeksi pada saluran pernapasan atas akibat
virus, yaitu pilek, hidung memerah, dan batuk-batuk. Otitis media akut dapat
menyebabkan nyeri, hilangnya pendengaran, demam, dan leukositosis.
Manifestasi otitis media pada anak-anak kurang dari 3 tahun seringkali
bersifat non-spesifik seperti iritabilitas, demam, terbangun pada malam hari,

12
nafsu makan turun, pilek, dan tanda rhinitis serta konjungtivitis. Demam yang
terjadi pada pasien otitis media biasanya terjadi selama 2 hingga 3 hari.
Otitis media dengan efusi disebabkan akibat infeksi oleh virus.
Diagnosis antara otitis media akut dan otitis media efusi seringkali
membingungkan, dan perlu diperhatikan tanda-tanda yang ditunjukkan
pasien, serta perlu juga diperhatikan sejarah/riwayat penyakit pasien. Otitis
media efusi lebih sering terjadi pada musim semi atau musim gugur, dan
cenderung sering disebabkan karena alergen dan virus. Pada otitis media
efusi juga tidak terjadi pembengkakan pada gendang telinga. Otitis media
efusi ditandai dengan adanya cairan di rongga telinga bagian tengah, tanpa
disertai tanda peradangan akut.
Otitis media kronik terbentuk sebagai konsekuensi dari otitis media akut
yang berulang, meskipun hal ini dapat pula terjadi paska trauma atau
penyakit lainnya. Manifestasi otitis media kronik adalah dijumpainya cairan
(otorrhea) yang purulent sehingga diperlukan drainase. Otorrhea semakin
meningkat pada saat infeksi saluran pernafasan atau setelah terekspos air.
Nyeri jarang dijumpai pada otitis kronik kecuali pada eksaserbasi akut.
Hilangnya pendengaran disebabkan oleh adanya destruksi membran timpani
dan tulang rawan. Otitis media kronik juga disebabkan karena adanya lubang
pada gendang telinga/perforasi. Perforasi ini disebabkan karena adanya
penyumbatan pada saluran, masuknya benda asing ke dalam telinga,
perubahan tekanan udara secara tiba-tiba, luka bakar karena panas atau zat
kimia, dan karena bakteri seperti Streptococcus, Staphylococcus.
Diagnosis otitis media sangat bergantung pada pengujian dengan
menggunakan otoskopi, dimana pengujian tersebut harus dapat membedakan
antara otitis media akut, otitis media efusi, dan otitis media kronik. Otitis
media akut biasanya diperparah oleh infeksi pernafasan atas yang disebabkan
oleh virus yang menyebabkan edema pada tuba eustachius. Hal ini berakibat
pada akumulasi cairan dan mukus yang kemudian terinfeksi oleh bakteri.

13
Metode diagnosis lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan
mengukur kelenturan membran timpani dengan timpanometer. Dari tes ini,
akan terlihat ada tidaknya akumulasi cairan di telinga bagian tengah.
Pemeriksaan dengan menggunakan X-ray dan CT-scan juga ditujukan untuk
mengkonfirmasi adanya mastoiditis dan nekrosis tulang pada otitis media
kronik.

V.2. Sinusitis

Pasien penderita sinusitis akan memberikan gejala-gejala seperti berikut.


 Hidung bagian depan (arterior) mengeluarkan nanah
 Hidung bagian belakang (posterior) mengeluarkan nanah atau
mengalami perubahan warna
 Hidung tersumbat
 Wajah terasa penuh dengan cairan
 Wajah terasa nyeri karena ada tekanan
 Demam, sakit kepala, sakit gigi, batuk
 Telinga terasa nyeri karena ada tekanan
 Halitosis/bau nafas tidak sedap
 Sering merasa kelelahan
Cara mendiagnosis seorang pasien menderita sinusitis adalah dengan
melakukan tusukan sinus (Sinus puncture) dengan rekoveri bakteri dalam
densitas tinggi (107 CFU/Lt). Cara ini bersifat invasif, menyakitkan, dan
membutuhkan biaya cukup mahal, sehingga jarang digunakan. Dokter-dokter
akan lebih memilih untuk melihat gejala yang timbul untuk menentukan
diagnosa.
Untuk membedakan Rhinosinusitis Bakteri Akut yang disebabkan oleh
virus, dapat dilihat dari:

14
 Onset dengan gejala yang kompatibel dengan Rhinosinusitis akut yang
berlangsung selama lebih dari 10 hari tanpa pemulihan.
 Onset dengan gejala yang parah yaitu demam tinggi sampai 39°C, dan
keluarnya nanah dari hidung serta wajah terassa nyeri yang berlangsung
selama 3-4 hari berturut-rutur pada awal penyakit.
 Onset yang memburuk dengan gejala demam dengan onset yang baru,
sakit kepala, meningkatnya jumlah nanah yang keluar dari hidung diikuti
sebuah tipe virus URI selama 5-6 hari terakhir.

V.3. Faringitis

Berdasarkan gejala yang diberikan, faringitis dapat dibedakan menjadi


faringitis yang disebabkan oleh GABHS (Grup A beta-hemolitik
Streptococcus Faringitis) dan faringitis yang disebabkan oleh virus. Kedua
jenis faringitis ini dapat dibedakan dari gejala yang ditimbulkan, yaitu :
a. Gejala yang ditimbulkan oleh Faringitis yang disebabkan oleh GABHS
 Sakit tenggorokan dan sakit saat menelan
 Demam, sakit kepala
 Mual, muntah, sakit perut
 Peradangan pada tonsil dan faring tanpa atau dengan adanya eksudat
yang menyumbat
 Pembesaran kelenjar getah bening
 Anak tekak bengkak dan berwarna kemerahan
b. Gejala yang ditimbulkan oleh Faringitis yang disebabkan oleh virus
 Konjungtivitis
 Coryza (inflamasi pada membrane mukus di dalam hidung)

15
 Batuk

Untuk keperluan diagnosa faringitis, dapat dilakukan tes laboratorium


dengan cara berikut.
a. Throat swab and culture : merupakan standar utama yang hasilnya
diperoleh selama 24-48 jam.
b. RADT (Rapid Antigen-Detection Test) : merupakan prosedur yang
hasilnya cepat diperoleh dan lebih murah dibandingkan metode
culture. Jika hasil RADT positif, maka tidak perlu melakukan
metode culture, tetapi bila hasil RADT negatif, maka perlu dilakukan
metode culture.

VI. Faktor Resiko

VI.1. Otitis Media

Otitis Media rentan terjadi pada anak-anak berusia sekitar enam hingga
tiga puluh enam bulan. Hal ini disebabkan karena ukuran saluran
eustachiusnya lebih pendek dan lebih horizontal sehingga mempermudah
bakteri untuk masuk ke dalam telinga bagian tengah. Selain itu, bayi yang
tidak diberikan air susu ibu (ASI) atau waktu pemberian ASI yang sangat
singkat (kurang dari enam bulan) akan menyebabkan bayi menjadi lebih
rentan terkena otitis media. Sistem imun yang lemah akan mengakibatkan
anak lebih mudah terpapar.
Faktor tempat dan lingkungan yang kumuh dan tidak bersih juga
menjadi penyebab terjadinya otitis media. Tempat penitipan anak juga rentan
menyebabkan anak terkena otitis media, karena semakin banyak jumlah anak
yang dititipkan, maka semakin banyak juga pathogen yang terpapar pada
anak dan akan semakin tinggi pula tingkat kemungkinan terjadinya infeksi

16
saluran pernapasan. Anak yang dibesarkan di lingkungan perokok dan polusi
memiliki kemungkinan terkena otitis media lebih tinggi, karena asap dapat
menyebabkan hiperplasia sel goblet dan hipersekresi mucus pada saluran
respirasi siliostatis, menurunkan transport mukosiliar, dan dapat berperan
dalam mengubah sistem imun pada saluran respirasi. Paparan terhadap asap
tembakau berhubungan dengan meningkatnya pengangkutan Streptococcus
pneumonia pada anak usia 1-59 bulan.
Berdasarkan hasil penelitian, pria memiliki kecenderungan lebih tinggi
terkena otitis media. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan hormon,
aktivitas, dan gaya hidup antara pria dan wanita. Umumnya, estrogen turut
berperan dalam menstimulasi sistem imun, dengan mengatur imunitas selular
dan hormonal. Selain itu, pria juga memiliki kecenderungan merokok yang
lebih tinggi dibandingkan wanita.

VI.2. Sinusitis

Sinusitis banyak menyerang golongan remaja dan geriatrik, terutama


wanita. Hal ini disebabkan karena terjadinya pemaparan infeksi respirasi
yang lebih tinggi pada saat mengurus anak dan terjadi penebalan mukosa oleh
estrogen yang menyebabkan obstruksi ostial dan infeksi sinus. Ketika berada
di daerah dengan perbedaan ketinggian yang tidak seperti biasanya juga dapat
menyebabkan terjadinya sinusitis, misalnya ketika sedang berada dalam suatu
penerbangan atau scuba driving. Pada ketinggian diatas normal, tekanan
udara di dalam sinus dan hidung menjadi sama, ketika terjadi perbedaan
tekanan, maka udara di dalam sinus akan berusaha untuk keluar dan
menyeimbangkan lagi. Tetapi jika saluran antara sinus dan hidung terhambat,
maka udara akan susah untuk melewati dan akhirnya menyebabkan rasa sakit.
Polusi udara dan reaksi alergi juga dapat berujung pada terjadinya
sinusitis. Misalnya, polusi udara, asap rokok, juga dapat menyebabkan
terjadinya iritasi pada hidung dan menyebabkan inflamasi. Jika merokok

17
tetap dilakukan pada saat terjadi infeksi sinus, maka orang tersebut dapat
terkena sinusitis kronik. Imunodefisiensi dapat menyebabkan seseorang lebih
mudah terkena penyakit sinusitits karena lemahnya sel-sel imun dalam
melawan patogen.

VI.3. Faringitis

Kasus faringitis banyak ditemukan pada anak-anak berusia di atas lima


tahun, remaja, dan geriatrik yang berusia di atas 65 tahun. Salah satu faktor
penyebab terkenanya faringitis pada seseorang adalah adanya kontak
langsung dengan penderita sakit tenggorokan dan infeksi lainnya, yang
menyebabkan terjadinya paparan dengan patogen dari penderita. Penderita
faringitis cenderung mengalami peningkatan pada musim dingin dan musim
semi. Hal ini disebabkan karena kecenderungan orang-orang untuk
berkumpul di tempat dengan aliran udara kurang baik, sehingga
menyebabkan virus dapat menyebar dengan mudah.
Faktor lain yang juga menyebabkan terkenanya faringitis adalah
lingkungan sekitar yang terlalu padat dan ramai, karena meningkatkan
kemungkinan terpaparnya patogen akibat kontak dengan orang banyak.
Sistem imun juga berperan penting dalam mempertahankan tubuh untuk
melawan patogen-patogen penyebab faringitis.

VII. Guideline Pengobatan dan First Line Therapy

VII.1. Otitis Media

Diagnosis otitis media akut (AOM) membutuhkan 3 elemen, yaitu onset


gejala akut, keberadaan middle ear effusion, serta tanda dan keberadaan
middle ear inflammation. Pada bayi hingga usia 8 minggu yang mengalami
demam disertai otitis media akut sebaiknya dilakukan pemeriksaan sepsis

18
secara menyeluruh. Inisiasi antibiotic secara langsung direkomendasikan
untuk anak dibawah usia 2 tahun, dengan otitis media bilateral, serta anak
yang mengalami otitis media dan otorrhea.
Observasi tanpa penggunaan antibakteri pada anak dengan
uncomplicated otitis media merupakan pilihan pada anak tertentu,
berdasarkan kepastian diagnosis, umur, keparahan penyakit, dan kepastian
follow-up. Observasi adalah menunda pengobatan antibakteri selama 48-72
jam. Pilihan ini hanya digunakan untuk anak berusia 6 bulan hingga 2 tahun
dengan kondisi penyakit yang tidak parah dan diagnosis tidak pasti, serta
untuk anak yang berusia lebih dari 2 tahun tanpa gejala yang parah atau
dengan diagnosis yang tidak pasti. Observasi memberikan kesempatan pada
pasien untuk meningkatkan kondisinya tanpa pengobatan antibakteri.
Amoksisilin dengan dosis 80-90 mg/kg/hari direkomendasikan sebagai
pengobatan lini pertama untuk otitis media akut. Apabila tidak terjadi respon
terhadap terapi antibiotic awal selama 48-72 jam, pasien harus diperiksa
kembali untuk memastikan diagnosis dan dapat diberikan amoksisilin-
klavulanat.
Ceftriaxone (Rocephin) dapat diberikan sebagai pengobatan lini kedua
atau untuk anak yang mengalami otitis media akut dan muntah. Trimetoprim-
sulfametoksazol dan eritromisin-sulfisoksazol tidak efektif untuk pengobatan
otitis media akut. Pemakaian antibiotik jangka panjang (lebih dari 7 hari)
memiliki derajat kegagalan yang lebih rendah dibandingkan pemakaian
jangka pendek.
Anak yang mengalami otitis media akut harus dievaluasi ulang setelah 3
bulan untuk pembersihan middle ear effusion. Terapi antibiotik jangka pajang
menurunkan jumlah munculnya otitis media akut, tapi tidak dianjurkan
karena berisiko terjadi resistensi antibiotik. Antibiotik tidak
direkomendasikan untuk pengobatan otitis media dengan effusion karena
hanya mempunyai keuntungan jangka pendek.

19
VII.2. Sinusitis

First-line therapy yang dapat digunakan untuk sinusitis umumnya adalah


dengan penggunaan antibiotik. Namun, perlu diperhatikan apakah penyebab
dari sinusitis disebabkan karena infeksi bakteri atau virus. Tujuan first-line
therapy adalah:
 Mengurangi gejala sinusitis dan meredakan gangguan/symptom
Terapi utama sinusitis bertujuan untuk meredakan gejala dan rasa
nyeri yang diderita oleh pasien. Pertama dapat digunakan nasal
decongestant untuk mengurangi inflamasi yang terjadi pada sinus
paranasal melalui vasokonstriksi. Obat yang digunakan dapat berupa
phenylephrine dan oxymetazolline. Penggunaan obat ini harus
diperhatikan agar tidak menimbulkan rebound congestion/rhinitis
medicamentosa (kondisi peningkatan sekresi akibat penggunaan
dekongestan berlebih). Selain itu, dapat dilakukan irigasi rongga nasal
dengan inhalasi uap atau larutan saline untuk meningkatkan kelembapan
mukosa. Alternatif lain adalah penipisan saluran mukosa dengan
menggunakan mucolytic seperti guaifenesin, untuk menurunkan
viskositas sekresi nasal.
Untuk sinusitis akut, tidak dapat digunakan antihistamin, karena
efek antikolinergik dari antihistamin menyebabkan sekresi mukosa yang
menurun dan menyebabkan pengeringan membrane mukosa pada rongga
nasal. Namun untuk sinusitis yang disebabkan oleh alergi dapat
digunakan antihistamin generasi kedua (antagonis reseptor H1), karena
antihistamin akan menginhibisi ikatan histamin dengan reseptor,
terutama pada mast cell yang melepaskan histamin.

 Memperpendek durasi sinusitis

20
 Eliminasi bakteri, penggunaan antibiotik
Amoksisilin adalah first-line therapy untuk sinusitis akut yang
disebabkan oleh bakteri. Amoksisilin telah memberikan hasil efikasi dan
keamanan yang terbukti, dan merupakan antibiotik spektrum relatif
sempit yang meminimalisir risiko resistensi. Selain itu, amoksisilin juga
memiliki tolerabilitas yang baik dan harga yang terjangkau.

Gambar 4. Terapi first-line untuk Sinusitis Akut yang disebabkan oleh


Bakteri
Apabila pasien mengalami alergi terhadap penisilin, maka dapat
digunakan antibiotik trimethoprim-sulfametoksazole (sulfonamida),
doxycycline, azithromycin atau clarithromycin. Pada pasien dewasa,
antibiotik florokuinolon seperti levofloksasin atau gatifloksasin dapat
digunakan juga sebagai alternatif penisilin.
Pada kasus dimana terapi dengan amoksisilin gagal meredakan
gejala setelah 72 jam pemberian, atau pada kasus dimana pasien telah
menerima terapi antibiotik selama 4-6 minggu sebelum terapi, maka
penggunaan antibiotik perlu dibatasi. Dapat digunakan penyesuaian obat
amoksisilin dengan kombinasi asam klavulanat atau β-lactamase-stable

21
cephalosporine untuk bakteri S. pneumoniae. Durasi terapi untuk
sinusitis belum dapat ditentukan secara pasti, namun normalnya
pengobatan pada pasien dilakukan pada rentang 10-14 hari atau 3 hari
pada kasus akut. Dosis penggunaan antibiotik dan penyesuaian pada
anak dapat dilihat pada tabel berikut:

Gambar 5. Guidelines untuk Sinusitis Akut


Dapat dilihat bahwa pada
sinusitis akut yang disebabkan oleh
bakteri, dapat digunakan antibiotik
β-laktam seperti amoksisilin
tunggal maupun kombinasi dengan
asam klavulanat, dengan dosis:
 Tunggal dewasa: 500 mg, 3x
sehari
 Anak: 40-50mg/kg,3x sehari

Antibiotik golongan
sulfonamide seperti trimethoprim-
sulfametoksazole yang merupakan
agen bakteriostatik dapat
digunakan pada dosis:
 Tunggal dewasa: 160/800 mg,
setiap 12 jam
 Anak: 6-8 mg/kg trimetoprim +
30-40 mg/kg sulfametoksazole
setiap hari dibagi dua dosis.

22
Gambar 6. First-line Therapy untuk Sinusitis Berdasarkan Tempat Infeksi

Pengobatan sinusitis dapat dibedakan berdasarkan lokasi situs


infeksi.
 Pada situs sinus maxillary, gejala pasien adalah nyeri infraorbital
unilateral atau bilateral apabila kepala condong ke arah depan,
kadang berdenyut dan memuncak pada sore dan malam hari. Obat
yang dianjurkan adalah kombinasi amoksisilin dan asam klavulanat
disertai dengan sefalosporin generasi dua dan tiga, cefuroxime-
axetil, cefpodoxime-proxetil, pristinamycin, ceoftiam-hexetil.
 Pada situs sinus frontal, gejala pasien adalah nyeri kepala
supraorbital. Obat yang dianjurkan sama pada kasus sinus
maxillary, dan dapat ditambahkan florokuinolon (levofloxacin,
moxifloxacin).
 Pada situs fronto-ethmoidal, terjadi penumpukan cairan pada sudut
dalam mata, dan terjadi edema palpebral (ruang elips antara medial
dan lateral canthi pada kelopak mata), nyeri retro-orbital. Obat
yang dianjurkan sama pada kasus sinus maxillary, dan dapat
ditambahkan florokuinolon (levofloxacin, moxifloxacin).
 Pada situs sinus sphenoidal, nyeri retro-orbital pada kepala
menyebar dan terfokus pada vertex, menstimulasi nyeri permanen
karena hipertensi intrakranial. Nanah terbuang pada dinding
posterior faring. Obat yang dianjurkan sama pada kasus sinus
maxillary, dan dapat ditambahkan florokuinolon (levofloxacin,
moxifloxacin).

23
 Mencegah terjadinya komplikasi dan mencegah berkembangnya
penyakit sinusitis akut menjadi kronis

VII.3. Faringitis

Terapi faringitis secara umum memiliki beberapa tujuan, diantaranya


untuk meredakan gejala dan meningkatkan rasa nyaman pasien,
meminimalisir adverse drug reaction, mencegah demam akut rematik dan
komplikasi lain seperti abses peritonsiliar, cervical lymphadenitis (perbesaran
nodus limfa) dan mastoiditis (menumpuknya udara pada tulang di belakang
telinga). Terapi dilakukan secara hati-hati, dan perlu didukung data
laboratorium yang jelas. Hasil laboratorium harus menunjukkan hasil positif
Streptococcus sebelum dilakukan terapi antibiotik.
 Mengurangi gejala dan meningkatkan rasa nyaman pasien
Pasien faringitis mengalami rasa nyeri pada tenggorokan sehingga
diperlukan obat untuk meredakan rasa nyeri yaitu analgesik. Analgesik
yang diberikan umumnya adalah acetaminophen atau Non-Steroidal Anti
Inflammatory Drug/ NSAID, untuk membantu meredakan rasa nyeri dan
meredakan inflamasi pada tenggorokan. Namun, penggunaan NSAID
yang berlebihan akan menyebabkan toxic shock syndrome, sehingga
perlu dibatasi penggunaannya. Alternatif lain adalah menggunakan
analgesik topikal dan antipiretik, serta didukung oleh peningkat rasa
nyaman lain seperti istirahat, lozenges, dan obat kumur (larutan garam).
Gejala akan membaik dalam 1-2 hari.

 Terapi Antimikroba-Antibiotik
Terapi hanya dilakukan apabila hasil laboratorium menunjukkan
adanya infeksi bakteri Streptococcus. Tujuan terapi adalah untuk

24
meredakan gejala dan meringankan rasa nyeri selama 1-2 hari, serta
menurunkan tingkat keparahan penyakit dalam waktu 2-3 hari setelah
terapi dimulai. Eliminasi bakteri dimulai dalam 48-72 jam, menurunkan
risiko komplikasi dan penyebaran bakteri dari faring menuju lokasi lain.
Antibiotik rujukan utama yang digunakan adalah penisilin, yang
memiliki spektrum kerja yang sempit, efektif, aman dan harga
terjangkau. Hasil studi menunjukkan terapi dengan penisilin prokain dan
benzathine penisilin berhasil mencegah komplikasi lanjut dan mencegah
demam rheumatis. Pemberian penisilin tidak dipengaruhi rute
pemberian. Amoksisilin dapat digunakan untuk pasien anak karena
amoksisilin dapat dibuat suspensi. Untuk pasien dengan alergi penisilin,
antibiotik makrolida seperti eritromisin atau sefalosporin generasi
pertama (sefalexin) dapat digunakan karena tidak memicu
hipersensitivitas IgE. Alternatif terbaru penelitian adalah menggunakan
azithromycin dan clarithromycin yang tidak menyebabkan efek samping
pada saluran GI. Sefalosporin generasi dua dan tiga lebih digunakan
untuk kasus resisten terhadap enzim β-laktamase. Namun, penggunaan
tetrasiklin dan sulfonamida tidak dianjurkan, karena sebagian besar galur
bakteri Streptococcus telah resisten terhadap golongan tersebut. Terapi
dilanjutkan selama 10 hari untuk eliminasi total bakteri.

25
Gambar 7. Antibiotik dan dosis yang diberikan pada pasien faringitis
VIII.
Penanganan Non-Farmakologi

Penanganan atau terapi non-farmakologi merupakan suatu terapi yang digunakan


dalam pengobatan, untuk meringankan gejala suatu penyakit tertentu, tetapi bukan

26
untuk menyembuhkan penyebab utama dari penyakit tersebut. Terapi non-farmakologi
untuk penyakit ISPA meliputi :

VIII.1. Bayi mendapat asupan air susu ibu (ASI) minimal 6 bulan
Sistem imun bayi masih belum berkembang sempurna, sehingga sangat
rentan terhadap infeksi penyakit. ASI yang diberikan oleh ibu mengandung
antibody (IgA) yang berperan dalam pertahanan tubuh untuk mencegah bayi
terjangkit infeksi penyakit tertentu. Asupan ASI yang kurang menyebabkan
kurangnya sistem pertahanan tubuh bayi untuk mengeliminasi patogen, baik
berupa virus maupun bakteri penyebab ISPA.

VIII.2. Menjaga kebersihan dan higienitas


Penyebab utama penyakit ISPA adalah virus dan bakteri yang mudah
berkembang biak pada tempat yang kotor. Oleh karena itu, jika kebersihan
tubuh dan higienitas tempat tinggal dapat dijaga, maka perkembangbiakan
virus dan bakteri dapat diminimalisir. Selain itu, diusahakan agar bayi tidak
sering dititipkan pada tempat penitipan bayi, karena kebersihan tempat
tersebut belum tentu terjamin, sehingga bayi akan lebih rentan terserang
penyakit.

VIII.3. Hindari asap rokok dan berhenti merokok


Asap rokok dan senyawa dalam rokok dapat memicu ISPA.

VIII.4. Hindari kontak langsung dengan penderita


Penyakit ISPA dapat tertular melalui udara, sehingga kontak langsung
dengan penderita dapat menyebabkan orang lain ikut terinfeksi. Penggunaan
masker dianjurkan jika harus berkontak langsung dengan penderita.

27
VIII.5. Irigasi
- Untuk Rhinosinusitis non-bakteri
Irigasi merupakan suatu proses pengaliran uap atau larutan garam (saline)
pada rongga hidung dengan menggunakan alat atau “neti pot”. Irigasi nasal
digunakan untuk meningkatkan kelembaban dinding mukosa sehingga
meningkatkan kenyamanan pasien, mengeluarkan mukosa yang berlebih,
memperbaiki aliran udara yang melalui hidung, dan mengurangi bengkak
pada hidung.

- Untuk Rhinosinusitis bakteri akut


Pada rhinosinusitis bakteri akut, tidak dianjurkan untuk dilakukan terapi
menggunakan dekongestan dan antihistamin. Hal ini disebabkan karena
kedua obat ini akan menyebabkan mukosa menjadi kering dan mengganggu
pengeluaran mukosa dari rongga hidung. Terapi yang dapat dilakukan adalah
irigasi intranasal dengan larutan garam fisiologis (0,9%) atau hipertonis (3%).
Penggunaan larutan garam isotonis ini ditujukan untuk meningkatkan
kelembaban mukosa hidung yang kering. Tetapi, cairan ini tidak mampu
mengeluarkan mukosa jika hidung sangat tersumbat atau bengkak. Oleh
karena itu, diperlukan larutan garam yang bersifat hipertonis, karena
memiliki sifat sebagai dekongestan alami. Cairan hipertonis mampu menarik
air keluar dari membran melalui proses osmosis yang menyebabkan
berkurangnya inflamasi jaringan yang menyumbat rongga hidung. Larutan
hipertonis juga dapat mengencerkan mukosa yang kental, sehingga menjadi
lebih mudah dikeluarkan, serta dapat meningkatkan kerja silia dalam
mengeluarkan mukosa dan kotoran. Namun demikian, perlu diperhatikan
penggunaan cairan hipertonis tidak boleh melebihi 3%, karena dapat
menyebabkan efek yang berlawanan dan iritasi.

28
IX. Penanganan Farmakologi
Penanganan Farmakologi untuk penyakit ISPA ditujukan pada 2 hal, yaitu
penanganan terhadap gejala yang diberikan dan penanganan terhadap penyebab
penyakit ISPA itu sendiri.

IX.1. Berdasarkan Gejala


IX.1.1. Otitis Media
Pasien yang menderita otitis media akut perlu diberikan
acetaminophen atau obat-obatan antiinflamasi non-steroid, seperti ibuprofen.
Hal ini bertujuan untuk meredakan rasa sakit yang dialami pasien.

Gambar 8. Perbedaan Telinga Normal dan Otitis Media


Dari
gambar di atas, dapat dilihat bahwa pasien yang mengalami otitis media akut
akan mengalami infeksi pada telinga bagian tengah (terjadi invasi dan
multiplikasi mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan parasite, yang secara
normal tidak ditemukan di dalam tubuh). Akibatnya, tubuh memberikan
respon dengan memicu terjadinya inflamasi, dimana dalam reaksi inflamasi
ini terlibat prostaglandin. Pelepasan prostaglandin yang terjadi akan
menyebabkan timbulnya rasa sakit, karena pelepasan prostaglandin dapat
meningkatkan stimulus rasa sakit/nyeri. Oleh karena itu, pasien diberikan
acetaminophen/paracetamol sebagai analgesik, atau ibuprofen sebagai
antiinflamasi.

29
Selain itu, dapat juga dilakukan pemberian anestesi lokal seperti
ametokain, benzokain, atau lidokain, yang berupa obat tetes, bersamaan
dengan pemberian analgesik oral pada pasien anak-anak berumur 3-18 tahun.
Anestesi lokal dapat dipilih karena mekanisme kerjanya yang mampu
menghambat konduksi dari nosiseptik secara reversible, sehingga rasa nyeri
menghilang.
Metode terapi ini memberikan sedikit keuntungan dengan efek
samping yang meningkat, sehingga perlu dianjurkan atau diberikan
dekongestan atau antihistamin pada pasien penderita otitis media. Pemberian
obat ini diperlukan untuk menghindari terjadinya penumpukan dan proliferasi
bakteri yang berasal dari nasofaring pada bagian telinga tengah akibat tidak
bekerjanya sistem mukosiliari secara maksimum, dan bukan tidak mungkin
bakteri tersebut juga menuju kembali ke nasofaring sehingga memicu
terjadinya infeksi pada daerah tersebut, dimana infeksi ini dapat
menyebabkan terjadinya dekongesti hidung. Oleh karena itu, pasien perlu
diberikan dekongestan yang bekerja menimbulkan vasokonstriksi dalam
mukosa hidung, sehingga mengurangi volume mukosa dan mengurangi
penyumbatan hidung. Selain itu, dapat juga diberikan antihistamin yang
berfungsi untuk memicu perubahan lapisan epitel yang dapat menyebabkan
peningkatan produksi mukus.

IX.1.2. Sinusitis/Rhinosinusitis
a. Rhinosinusitis non-bakteri (virus)
Terapi yang dapat dilakukan antara lain :
- Nasal decongestant spray
Obat ini digunakan untuk mengurangi inflamasi dengan
mempersempit kembali pembuluh darah yang melebar
(vasokonstriksi). Akibatnya, saluran udara menjadi terbuka dan
terbebas dari sumbatan lendir. Penggunaan obat ini tidak boleh lebih

30
dari tiga hari, untuk menghindari terbentuknya kembali sumbatan
lendir. Contoh obat yang digunakan adalah phenylephrine dan
oxymetazoline.
- Dekongestan oral
Obat ini digunakan untuk mengurangi edema, sehingga
mempermudah keluar masuknya udara. Dekongestan oral memiliki
efek samping meningkatkan tekanan darah dan mempercepat detak
jantung, sehingga penggunaannya perlu diperhatikan untuk penderita
penyakit jantung dan hipertensi. Contoh obat yang digunakan adalah
ephedrine.
- Mukolitik
Obat ini digunakan untuk mengurangi viskositas dari mukosa,
sehingga mempermudah pengeluaran mukosa. Contoh obat yang
digunakan adalah guaifenesin.

b. Rhinosinusitis bakteri akut


Terapi yang dapat dilakukan adalah dengan penggunaan
kortikosteroid intranasal, terutama untuk pasien yang memiliki alerfi
rhinitis (inflamasi pada membran mukosa hidung akibat infeksi virus atau
alergi). Kortikosteroid digunakan untuk mengurangi terjadinya inflamasi.

IX.1.3. Faringitis
Pasien yang menderita Faringitis biasanya diberikan obat antipiretik.
Hal ini disebabkan karena ketika terjadi infeksi maka sel mast akan
melepaskan Histamin, dimana Histamin akan meningkatkan permeabilitas
pembuluh, sehingga sel-sel fagosit menuju tempat infeksi. Sel fagosit tersebut
akan teraktivasi ketika bertemu patogen, kemudian akan melepaskan sitokin
yang dapat memicu demam.

31
Selain itu, diberikan juga analgesik seperti obat-obatan NSAIDs
ataupun anestesi topikal. Hal ini disebabkan karena adanya infeksi pada
orofaring atau nasofaring yang memicu terjadinya reaksi inflamasi yang
melibatkan pelepasan prostaglandin. Selain obat-obatan yang telah
disebutkan, lozenges atau spray yang mengandung mentol juga dapat
diberikan.

IX.2. Berdasarkan Penyebab


IX.2.1. Otitis Media
Tujuan pengobatan otitis media akut adalah mengurangi rasa dan
simptom sakit, eradikasi infeksi, dan mencegah terjadinya komplikasi. Terapi
farmakologi dalam menangani otitis media dibagi menjadi 3 cara, yaitu :
a. Terapi Antimikroba Tertunda (Delayed Antimicrobial Therapy)
Penggunaan antibiotik ini masih dalam pertimbangan, dan biasanya
digunakan untuk mengurangi rasa sakit selama sekitar 1 hari.
Penggunaan antibiotik dapat menimbulkan efek pada pendengaran dan
dapat menyebabkan resistensi. Pasien yang biasanya cocok dengan terapi
ini adalah anak-anak berusia 6 bulan – 2 tahun. Pada terapi ini,
penggunaan obat analgesik seperti ibuprofen atau asetaminofen
disarankan. Evaluasi dilakukan selama 42-78 jam, apabila pasien tidak
menunjukkan kemajuan, maka harus dilakukan pemberian antibiotik.
 Asetaminofen
Golongan obat : analgesik
Mekanisme kerja : menghambat sintesis prostaglandin di sistem
saraf pusat dan memblok impuls sakit di perifer.
Indikasi : analgesik
Dosis : 10-15 mg/kg/hari setiap 4-6 jam untuk anak dibawah 12
tahun.
Efek samping :

32
 Dermatologis : ruam
 Endokrin dan metabolik : dapat meningkatkan klorida, asam
uraat, glukosa, dan dapat mengurangi natrium, bikarbonat,
kalsium
 Hematologi : anemia, diskrasiasis darah (neutropenia,
pansitopenia, leukopenia)
 Hepatik : meningkatkan bilirubin dan alkalin fosfatase
 Ginjal : meningkatkan amonia, nefrotoksik dengan overdosis
kronik, nefropati analgesik
 Lainnya : reaksi hipersensitivitas (alergi)

 Ibuprofen
Golongan obat : oral NSAIDs, parenteral NSAIDs
Mekanisme kerja : menghambat sintesis prostaglandin di sistem
saraf pusat dan memblok impuls sakit di perifer.
Indikasi : anti-inflamatori dan reumatoid termasuk reumatoid
artritis, sakit sedang sampai parah, panas dan dismenorea
Dosis : 4-10 mg/kg/dosis selama 6-8 jam
Efek samping :
 Kardiovaskular : edema
 Sistem saraf pusat : mengantuk, sakit kepala, kegugupan
 Dermatologis : ruam, gatal
 Gastrointestinal : sakit epigastrik, nyeri di jantung, mual,
sakit perut, nafsu makan berkurang, konstipasi, diare,
dispepsia, perut kembung, muntah
 Endokrin dan metabolik : dapat meningkatkan klorida, asam
urat, glukosa, dan dapat mengurangi natrium, bikarbonat,
kalsium
 Telinga : tinitus

33
 Lainnya : gagal ginjal akut, agranulosit, alergi rinitis,
alopesia, konjungtivitis, pendarahan pada GI

b. Terapi Antimikroba (Antimicrobial Therapy)


Amoksisilin merupakan antibiotik pilihan pertama untuk
pengobatan otitis media akut. Amoksisilin dengan dosis tinggi (80-90
mg/kg/hari) direkomendasikan selama pasien tidak memiliki resiko
resistensi penisilin infeksi Pneumococcus. Amoksisilin dipilih karena
memiliki spektrum sempit dan harganya tidak mahal. Apabila
pengobatan dengan amoksisilin gagal, maka harus dipilih antibiotik lain
yang memiliki aktivitas melawan produksi β-laktam H. influenzae dan
M. catarrhalis. Pilihan lain selain amoksisilin adalah sefuroksim,
sefdinir, sefpodoksim, sefprozil, dan seftriakson intramuskular.
Seftriakson hanya digunakan sebagai cadangan untuk infeksi berat atau
untuk pasien yang tidak dapat menerima pemberian oral, seperti muntah,
diare, atau ketidakpatuhan pasien. Kelemahannya adalah mahal dan sakit
karena pemberiannya secara intramuskular. Apabila pemberian
dilakukan secara intravena, harus mempertimbangkan risk-benefit
rationya. Klindamisin digunakan apabila terjadi resistensi penisilin S.
pneumoniae. Pasien yang mengalami alergi penisilin dapat diobati
dengan beberapa antibiotik alternatif. Jika alergi yang terjadi bukan
merupakan reaksi hipersensitivitas tipe 1, maka dapat digunakan
sefdinir, sefpodoksim, atau sefuroksim. Jika reaksi yang terjadi
merupakan reaksi tipe 1, maka dapat digunakan antibiotik makrolida
seperti azitromisin atau klaritromisin.

34
Pilihan pertama Alergi penisilin Gagal terapi
Non tipe 1
Sefdinir
Sefuroksim
Amoksisilin klavulanat
Sefpodoksim
Amoksisilin Sefprozil
Tipe 1
Azitromisin
Seftriakson
Klaritromisin
Simptom parah
(otalgia parah) Klindamisin
Amoksisilin klavulanat

Tabel 1. Antibiotik Pilihan Pertama

 Antibiotik β-laktam
Mekanisme kerja : Amenghambat sintesis dinding sel melalui
pengikatan satu atau lebih PBP (Penicillin Binding Protein) dalam
rangka menghambat tahap transpeptidasi akhir sintesis peptidoglikan
pada dinding sel bakteri, kemudian menghambat biosintesis dinding

35
sel. Bakteri secara bertahap akan mengalami lisis karena aktivitas
enzim autolitik dinding sel (autolisin dan murein hidrolase) sehingga
penyusunan dinding sel terhambat.
Indikasi : Otitis media
 Amoksisilin
Dosis : 80-90 mg/kg/hari dibagi menjadi 2 dosis
Efek samping :
 Sistem saraf pusat : perubahan sikap, sakit kepala, insomnia,
seizure, hiperaktivitas
 Dermatologis : pustulosis eksantematosa akut, eritema
makulopapular, eritema multiformis, dermatitis eksfoliatif,
kandidiasis mukokutaneus, sindrom Steven-Johnson,
hipersensitivitas vaskulitis, nekroisis epidermal toksik,
urtikaria
 Gastrointestinal : lidah kehitaman, diare, colitis haemoragik,
mual, kolitis pseudomembran, kolitis, perubahan warna gigi,
muntah
 Hematologi : agranulositosis, anemia, eosinophilia, anemia
hemolisis, leukopenia, trombositopenia, trombositopenia
purpura
 Hepatik : hepatitis akut, jaundice kolestatik, peningkatan
SGOT dan SGPT, kolestatik hepatik
 Ginjal : kristaluria
 Lainnya : anafilaksis, serum sickness-like reaction

 Golongan Sefalosporin
Mekanisme kerja : menghambat sintesis dinding sel melalui
pengikatan satu atau lebih PBP (Penicillin Binding Protein) yang
menghambat tahap akhir transpeptidase sintesis peptidoglikan dalam

36
sintesis dinding sel, kemudian menghambat biosintesis dinding sel.
Bakteri akhirnya lisis akibat aktivitas enzim autolitik di dinding sel
(autolysin dan murein hidrolase).
Indikasi : otitis media akut
 Sefdinir
Dosis : 7 mg/kg/dosis sehari selama 5-10 hari atau 14
mg/kg/dosis sehari selama 10 hari (maksimum 600 mg/hari)
Administrasi : oral
Efek samping :
 Sistem saraf pusat : sakit kepala
 Dermatologis : ruam
 Gastrointestinal : mual, sakit perut, muntah
 Urinari : vaginal moniliasis, meningkatkan leukosit urin,
meningkatkan protein urea, vaginitis
 Hematologi : meningkatkan eosinofil
 Hepatik : meningkatkan alkalin fosfatase, meningkatkan
platelet
 Ginjal : mikrohematuria
 Lainnya : meningkatkan limfosit, meningkatkan GGT,
meningkatkan laktat dehydrogenase, mengurangi bikarbonat,
mengurangi limfosit, perubahan PMN, anoreksia, konstipasi,
kelelahan, dispepsia, kelemahan

 Sefuroksim
Golongan obat : sefalosporin generasi kedua.
Indikasi : Otitis media akut yang diakibatkan oleh Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae dan M. catarrhalis, dan
Streptococcus pyogenes
Dosis :

37
 Suspensi : 30 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis
 Tablet : 250 mg setiap 12 jam
 IM, IV : 75-150 mg/kg/hari dibagi setiap 8 jam (dosis
maksimum 6 g/hari)
Efek samping :
 Frekuensi > 10% : diare (4-11%)
 Frekuensi 1-10% :
 Dermatologik : kemerahan (3%)
 Metabolik dan endokrin : alkalin fosfatase meningkat
(2%), laktat dehidrogenase meningkat (1%)
 Gastrointestinal : mual/muntah (3-7%)
 Genitourinaria : vaginitis (≤ 5%)
 Hematologi : eosinofilia (7%), hemoglobin dan
hematokrit menurun (10%)
 Hepatik : enzim transaminase meningkat
 Lokal : tromboflebitis
 Frekuensi < 1% : anafilaksis, angioedema, BUN meningkat,
nyeri dada, kolestatis, kreatinin meningkat, dyspnea, eritema
multiformis, demam, pendarahan gastrointestinal, anemia
hemolitik, hiperbilirubinemia, leukopenia, neutropenia,
colitis pseudomembran, urtikaria.

 Sefpodoksim
Golongan obat : sefalosporin generasi ketiga.
Indikasi : otitis media
Dosis : anak-anak (2 bulan – 12 tahun) : 10 mg/kg/hari dibagi
setiap 12 jam selama 5 hari (maksimum 200 mg/dosis)
Administrasi : oral
Efek samping :

38
 Frekuensi > 10% : diare (16%)
 Frekuensi 2-10% : nyeri abdomen, mual, pusing, perut
kembung
 Frekuensi < 2% : gagal ginjal akut, reaksi anafilaksis,
kreatinin meningkat, pusing, demam, eritema, sakit kepala,
hepatitis, hiperbilirubin, leukopenia, urtikaria

 Golongan Makrolida
Mekanisme kerja : berikatan dengan subunit 50s ribosom bakteri
sehingga menghambat sintesis proteinnya.
Indikasi : otitis media akut yang disebabkan H. influenzae, M.
cattarhalis, atau S. pneumonise.
 Azitromisin
Dosis : 10 mg/kg/hari, kemudian 5 mg/kg/hari selama 2-5 hari
Efek samping :
 Frekuensi 1-10% : sakit kepala (pada anak-anak 2%), ruam
kemerahan pada kulit (3%), ketidaknormalan perasa (3-7%),
diare (3-6%), muntah (6%), mual (3%), nyeri abdomen (2-
3%), pusing (2%)
 Frekuensi < 1% : peningkatan alkalin fosfat, perubahan
tingkah laku, timbul rasa cemas, peningkatan bilirubin,
halusinasi, pendengaran dan penciuman berkurang, hepatitis,
insomnia, urtikaria, vertigo, jumlah sel darah putih menurun.

 Klaritromisin
Dosis : 15 mg/kg/hari dibagi 2x sehari
Efek samping :

39
 Frekuensi 1-10% : sakit kepala (pada anak-anak 2%), ruam
kemerahan pada kulit (3%), ketidaknormalan perasa (3-7%),
diare (3-6%), muntah (6%), mual (3%), nyeri abdomen (2-
3%), pusing (2%)
 Frekuensi < 1% : peningkatan alkalin fosfat, perubahan
tingkah laku, timbul rasa cemas, peningkatan bilirubin,
halusinasi, pendengaran dan penciuman berkurang, hepatitis,
insomnia, urtikaria, vertigo, jumlah sel darah putih menurun.

 Terapi Kombinasi Amoksisilin-Klavulanat


Golongan obat : antibakteri; antibiotik β-laktam; antibiotik
kombinasi yang mengandung amoksisilin (aminopenisilin) dan
kalium klavulanat (inhibitor β-laktamase)
Mekanisme kerja : Asam klavulanat akan berikatan dan
menghambat β-laktamase yang menginaktivasi Amoksisilin,
sehingga meningkatkan spektrum aktivitas Amoksisilin. Amoksisilin
menghambat sintesis dinding sel melalui pengikatan satu atau lebih
PBP (Penicillin Binding Protein) dalam rangka menghambat tahap
transpeptidasi akhir sintesis peptidoglikan pada dinding sel bakteri
kemudian menghambat biosintesis dinding sel. Bakteri secara
bertahap akan mengalami lisis karena aktivitas enzim autolitik
dinding sel (autolisin dan murein hidrolase) sehingga penyusunan
dinding sel terhambat.
Indikasi : Otitis media yang diakibatkan oleh bakteri penghasil β-
laktamase seperti Haemophilus influenzae dan Moraxella
catarrhalis.
Dosis : untuk anak-anak dengan berat badan < 40 kg, dosis 25
mg/kg/hari dibagi setiap 12 jam atau 20 mg/kg/hari dibagi setiap 8
jam.

40
Administrasi : oral
Efek samping :
 Frekuensi > 10% : diare (3-34%, insidensi terkait dosis dan
regimen yang digunakan)
 Frekuensi 1-10% :
 Dermatologis : kemerahan kulit, urtikaria
 Genitourinaria : vaginitis, mikosis vaginal
 Lainnya : moniliasis
 Frekuensi < 1% : alkalin fosfatase meningkat, jaundice
klestatik, flatulens, sakit kepala, disfungsi hepatik, uji fungsi
hati meningkat, waktu protrombin meningkat, tombositosis,
vaskulitis.

 Klindamisin
Golongan obat : antibiotik
Mekanisme kerja : berikatan dengan subunit 50s ribosom bakteri
sehingga menghambat sintesis proteinnya. Bersifat bakteriostatik /
bakteriosidal tergantung konsentrasinya.
Indikasi : untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri anaerob,
Streptococcus, Pneumococcus, dan Staphylococcus.
Dosis : 30-40 mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis
Efek samping : diare, ruam pada kulit, nyeri abdomen, muntah,
esofagitis, vaginitis, mual, trombositopenia, ketidaknormalan fungsi
hari.

c. Terapi Pendek (Short Courses Therapy)


Dari percobaan yang dilakukan, telah dibuktikan bahwa tidak
terdapat perbedaan efek (kecepatan sembuh) antara waktu yang pendek
(< 7 hari) dan waktu pengobatan biasa (≥ 7 hari) pada terapi antibiotic

41
pada anak-anak. Keuntungan dari terapi ini adalah meningkatkan
kemungkinan kepatuhan pasien, mengurangi efek samping dan biaya,
dan mengurangi tekanan bakterial selektif. Namun, data dari percobaan
ini masih terbatas, karena jumlah sampel belum cukup, kurangnya
kriteria penggunaan diagnosis yang terstandarisasi dan dosis
subterapetik. Terapi pendek pada anak-anak (< 2 tahun) tidak
direkomendasikan, sedangkan pada anak-anak (± 6 tahun) yang
menderita otitis media ringan ke berat, dapat dilakukan pengobatan 5-7
hari.
Evaluasi terapi dilakukan untuk melihat kegagalan pengobatan,
yaitu kurangnya perbaikan klinis setelah 3 hari, dengan melihat simptom
infeksi, seperti sakit, demam, kemerahan/menonjol pada bagian
membran timpani. Reevaluasi awal pada gendang telinga ketika tanda
dan simptom dapat meningkatkan kesalahan karena effusion persist.
Reevaluasi tepat dilakukan ketika terjadi kehilangan pendengaran
persisten dari telinga tengah akibat terjadinya infeksi. Hal yang dapat
diperhatikan selanjutnya adalah kemungkinan timbulnya resistensi.
Selain dikarenakan bakteri, otitis media juga dapat disebabkan oleh
virus. Oleh karena itu, pengobatan untuk pasien yang terkena otitis
media dikarenakan virus tidak dapat menggunakan antibiotik. Terapi
yang dapat dilakukan adalah:
 Vaksinasi
Vaksinasi dapat digunakan untuk melawan influenza dan
Pneumococcus, sehingga dapat mengurangi resiko otitis media akut.
Imunisasi dengan vaksin influenza menyebabkan pengurangan 36%
infeksi otitis media. Vaksin influenza dapat diberikan ke orang sehat
tanpa kontraindikasi, terutama individu dengan penyakit kronik yang
kurang lebih berusia 6 bulan.

42
Vaksin Pneumococcus konjugat yang diindikasikan untuk bayi
dan anak memberikan pengurangan sebesar 6% untuk otitis media
akut dan pengurangan 20% dalam kebutuhan penempatan T-tube.
Vaksin juga mengurangi 10-20% jumlah anak yang terinfeksi otitis
media yang terkena selama 3-10 infeksi per tahun. Anak lebih dari 1
tahun yang tidak divaksinasi dan baru sembuh dari otitis media tidak
akan memperoleh keuntungan dari vaksinasi.

 Viral Immune Globulin


Penelitian dilakukan pada anak-anak (rata-rata 6 bulan) yang
menderita otitis media dan diberikan imun globulin RSV. Hasilnya
adalah anak-anak yang diberikan dosis tinggi memiliki kemungkinan
lebih rendah terkena otitis media dibandingkan dengan kontrol.
Adanya potensi efek pengganggu dari tympanostomy tube,
profilaksis antibiotik, dan adanya antibodi antibakteri dalam
pembuatan imun globulin perlu dipertimbangkan. Selain itu, terapi
ini harus diberikan dengan rute pemberian secara intravena, yang
sulit dilakukan untuk pengobatan klinis sehari-hari.

 Terapi Antivirus
Antivirus dapat digunakan untuk pencegahan dan pengobatan
infeksi virus. Tujuan penggunaan antivirus adalah melemahkan virus
dengan obat antivirus dan menekan respon inflamasi. Terapi
antivirus spesifik untuk virus pernapasan hanya tersedia untuk virus
influenza. Terdapat penelitian yang mengevaluasi penggunaan
oseltamivir dapat mencegah terjadinya otitis media akut pada anak-
anak. Masalah dalam penggunaan antivirus adalah manifestasi klinik
dari infeksi virus yang berbeda biasanya dibedakan, khususnya pada
anak-anak, dan harus sudah diidentifikasi positif terhadap virus yang

43
spesifik yang menyebabkan infeksi; dan terapi antivirus harus segera
memberikan efikasi ketika sampai pada onset (maksimal 48 jam).
 Oseltamivir
Golongan obat : antivirus, inhibitor neuraminidase
Mekanisme kerja : Prodrug, terhidrolisis dalam bentuk aktifnya
menjadi oseltamivir karboksilat (OC). OC akan menghambat
neuraminidase virus, enzim yang dikenal dengan pemecahan
calon virus dari penempelan selular (asam neuraminat) sebelum
dikeluarkan.
Indikasi : infeksi virus influenza (A atau B) pada anak berusia 1
tahun dan dewasa yang sudah terinfeksi lebih dari 2 hari.
Dosis :
 Profilaksis oral 75 mg sehari selama 10 hari dan ditingkatkan
menjadi 75 mg sehari selama 6 minggu untuk dewasa.
 Pengobatan oral 75 mg 2x sehari selama 2 hari (lama
pengobatan selama 5 hari) untuk dewasa.
 Profilaksis oral selama 10 hari untuk anak-anak usia 1-12
tahun dengan berat badan:
 15 kg : 30 mg sekali sehari
 15-23 kg : 45 mg sekali sehari
 23-40 kg : 60 mg sekali sehari
 > 40 kg : 75 mg sekali sehari
 Profilaksis oral selama 5 hari untuk anak-anak usia 1-12
tahun dengan berat badan:
 15 kg : 30 mg 2x sehari
 15-23 kg : 45 mg 2x sehari
 23-40 kg : 60 mg 2x sehari
 > 40 kg : 75 mg 2x sehari
Efek samping :

44
 Pencernaan : muntah, mual, sakit perut
 Lain-lain : anemia, angina, pneumonia, pireksia

IX.2.2. Sinusitis
Penanganan secara farmakologi yang dapat dilakukan untuk penderita
sinusitis antara lain adalah dengan pemberian:
a. Golongan β-laktam
Mekanisme kerja : mengikat satu atau lebih PBP (Penicillin Binding
Protein) dengan tujuan untuk menghambat tahap transpeptidase akhir
sintesis peptidoglikan pada dinding sel bakteri yang kemudian
menghambat biosintesis dinding sel. Bakteri secara bertahap akan
mengalami lisis karena aktivitas enzim autolitik dinding sel (autolysin
dan murein hidrolase), sehingga penyusunan dinding sel terhambat.
 Amoksisilin
Indikasi : sinusitis
Dosis : 500 mg 3x sehari (dewasa) dan 40-50 mg/kg/hari dibagi
dalam 3 dosis (anak-anak).
Efek Samping : Frekuensi tak terdefinisi.
- Sistem syaraf pusat : Perubahan sikap, sakit kepala, insomnia,
seizure, hiperaktif.
- Dermatologis : Pustulosis eksantematosa akut, eritema
makulopapular, eritema multiformis, dermatitis eksfoliatif,
kandidiasis mukokutaneus, sindrom Steven-Johnson,
hipersensitivitas vaskulitis, nekroisis epidermal toksik, urtikaria.
- Gastrointestinal : Lidah kehitaman, diare, kolitis hemorhagik,
mual, kolitis pseudomembran, kolitis, perubahan warna gigi,
muntah.

45
- Hematologi : Agranulositosis, anemia, eosinophilia, anemia
hemolisis, leukopenia, trombositopenia, trombositopenia
purpura.
- Hepatik : Hepatitis akut, peningkatan SGOT dan SGPT,
kolestatik hepatik.
- Ginjal : Kristaluria.
- Lainnya : Anafilaksis, serum sickness-like reaction.

b. Golongan Sefalosporin
 Sefuroksim
Mekanisme kerja : Sefuroksim memiliki mekanisme kerja yang
sama seperti antibiotik golongan β-laktam lainnya, yaitu dengan
menghambat biosintesis dinding sel.
Indikasi : sinusitis maksilari akut akibat Streptococcus pneumoniae
atau Haemophilus influenzae (non β-laktamase).
Dosis : 250-500 mg 3x sehari (dewasa) dan 20 mg/kg/hari dibagi
dalam 3 dosis (anak-anak).
Efek samping :
- Frekuensi > 10% : diare (4-11%)
- Frekuensi 1-10% :
 Dermatologik : kemerahan (3%)
 Metabolik dan endokrin : alkalin fosfatase meningkat
(2%), laktat dehidrogenase meningkat (1%)
 Gastrointestinal : mual/muntah (3-7%)
 Genitourinaria : vaginitis (≤ 5%)
 Hematologi : eosinofilia (7%), hemoglobin dan
hematokrit menurun (10%)
 Hepatik : enzim transaminase meningkat
 Lokal : tromboflebitis

46
- Frekuensi < 1% : anafilaksis, angioedema, BUN meningkat,
nyeri dada, kolestatis, kreatinin meningkat, dyspnea, eritema
multiformis, demam, pendarahan gastrointestinal, anemia
hemolitik, hiperbilirubinemia, leukopenia, neutropenia, colitis
pseudomembran, urtikaria.

 Cefixime
Golongan obat : sefalosporin generasi ketiga.
Indikasi : untuk infeksi saluran urinasi, otitis media, infeksi saluran
pernafasan yang disebabkan oleh S. pneumoniae dan S. pyogenes, H.
influenzae, dan enterobacter.
Dosis : 200-400 mg 2x sehari (dewasa) dan 8 mg/kg/hari dibagi
dalam 2 dosis (anak-anak).
Efek samping : menyebabkan diare (insiden yang terjadi mencapai
16%), nyeri abdomen, mual, kembung (insiden kejadian 2-10%),
kejadian yang jarang terjadi (< 2%) antara lain reaksi anafilaksis,
angioedema, demam, sakit kepala, hepatitis, muntah, urtikaria,
vaginitis, leukopenia, neutropenia, colitis pseudomembran, dan
kejang.

c. Golongan Makrolida
Mekanisme kerja : berikatan dengan subunit 50s ribosom bakteri,
sehingga menghambat sintesis proteinnya.
 Clarithromycin
Indikasi : sinusitis akut yang disebabkan oleh S. pneumoniae dan H.
influenzae.
Dosis : 250 – 500 mg 2x sehari (dewasa) dan 15 mg/kg/hari dibagi
dalam 2 dosis (anak-anak).
Efek samping :

47
- Frekuensi 1 – 10 % : sakit kepala (pada anak-anak 2%), ruam
kemerahan pada kulit (3%), ketidaknormalan perasa (3-7%),
diare (3-6%), muntah (6%), mual (3%), nyeri abdomen (2-3%),
pusing (2%).
- Frekuensi < 1% : peningkatan alkalin fosfat, perubahan tingkah
laku, timbul rasa cemas, peningkatan bilirubin, halusinasi,
pendengaran dan penciuman berkurang, hepatitis, insomnia,
urtikaria, vertigo, jumlah sel darah putih menurun.

 Azithromycin
Indikasi : sinusitis akut yang disebabkan oleh bakteri; infeksi
saluran pernafasan atas dan bawah.
Dosis : 500 mg/hari (dewasa) dan 10 mg/kg/hari dibagi dalam 3
dosis (anak-anak).
Efek samping :
- Frekuensi > 10% : diare, mual
- Frekuensi 2 – 10 % : ruam kemerahan, nyeri abdomen, muntah,
vaginitis, inflamasi
- Frekuensi < 1% : gagal ginjal akut, anemia, reaksi alergi,
anafilaksis, nyeri dada, konjungtivitis, konstipasi, dehidrasi,
pembengkakan kulit.

d. Kombinasi Obat
 Amoksisilin-Asam Klavulanat
Golongan obat : antibiotik kombinasi yang mengandung amoksisilin
(aminopenisilin) dan kalium klavulanat (inhibitor β-laktamase).
Mekanisme kerja : Asam klavulanat akan berikatan dan
menghambat β-laktamase yang menginaktivasi Amoksisilin,
sehingga meningkatkan spektrum aktivitas Amoksisilin.

48
Indikasi : sinusitis akut akibat patogen penghasil β-laktamase seperti
Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis, Haemophilus
influenzae, Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus.
Dosis : 125 mg 3x sehari (dewasa) dan 40-50 mg/kg/hari dibagi
dalam 3 dosis (anak-anak).
Efek samping :
- Frekuensi > 10% : Diare (3-34%, insidensi terkait dosis dan
regimen yang digunakan).
- Frekuensi 1-10% :
 Dermatologik : kemerahan kulit, urtikaria.
 Genitourinaria : vaginitis, mikosis vaginal.
 Lainnya : Moniliasis.
- Frekuensi < 1% : Alkalin fosfatase meningkat, jaundice klestatik,
sakit kepala, disfungsi hepatik, uji fungsi hati meningkat, waktu
protrombon meningkat, tombositosis, vaskulitis.

 Trimethoprim-sulfamethoxazole
Golongan obat : antibiotik
Mekanisme kerja : aktivitas antimikroba kombinasi antara
trimethoprim dan sulfamethoxazole dihasilkan dari kerjanya pada
dua tahap jalur enzimatik untuk sintesis asam tetrahidrofolat.
Sulfonamida menghambat penggabungan asam para-aminobenzoat
(PABA) ke dalam asam folat dan trimethoprim mencegah reduksi
dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat. Tetrahidrofolat merupakan
senyawa folat yang penting bagi reaksi transfer satu karbon.
Toksisitas selektif untuk mikroorganisme dicapai melalui dua cara,
yaitu sel mamalia menggunakan senyawa folat dari makanan dan sel
mamalia tidak mensintesis senyawa ini. Selain itu, trimethoprim

49
merupakan inhibitor dihidrofolat reduktase yang sangat selektif pada
organisme tingkat rendah.
Indikasi : infeksi saluran urin, infeksi bateri pada saluran cerna,
infeksi bakteri pada saluran pernafasan, infeksi oleh Pneumocystis
carinii, dan profilaksis pada pasien neutropenia.
Dosis : 160 mg setiap 12 jam (dewasa); 6-8 mg/kg/hari
Trimethoprim dan 30-40 mg/kg/hari Sulfamethoxazole dibagi dalam
2 dosis (anak-anak).
Efek samping : tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kombinasi
ini pada dosis anjuran akan menginduksi defisiensi folat pada
individu normal. Meski demikian, batas antara toksisitas untuk
bakteri dan untuk manusia relatif sempit jika sel-sel pasien
mengalami defisiensi folat. Pada kasus semacam itu, trimethoprim-
sulfamethoxazole dapat menyebabkan atau mempercepat timbulnya
megaloblastosis, leukopenia, atau trombositopenia. Dapat juga
menyebabkan dermatitis eksfoliatif, sindrom Steven-Johnson, dan
nekrolisis epidermis toksik jarang ditemukan, namun manifestasi ini
muncul terutama pada pasien lanjut usia. Mual dan muntah
merupakan reaksi pada saluran cerna yang paling sering terjadi,
sedangkan diare jarang terjadi. Kerusakan permanen fungsi ginjal
dapat terjadi setelah penggunaan trimethoprim-sulfamethoxazole
pada pasien yang menderita penyakit ginjal. Pasien AIDS sering
mengalami efek samping jika diberi kombinasi antibiotik ini untuk
mengobati infeksi P. carinii. Efek samping yang muncul meliputi
ruam, neutropenia, sindrom Steven-Johnson, sindrom Sweet, dan
infiltrasi pulmonal.

e. Clindamycin
Golongan obat : antibiotik

50
Mekanisme kerja : berikatan dengan subunit 50s ribosom bakteri
(mekanismenya tau ga?), sehingga formasi ikatan peptida tidak terbentuk
dan menghambat sintesis protein dari bakteri tersebut. Antibiotik ini
dapat bersifat bakteriostatik ataupun bakteriosidal, tergantung pada
konsentrasi penggunaan.
Indikasi : untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri anaerob,
Streptococcus, Pneumococcus, dan Staphylococcus.
Dosis : 150-450 mg setiap 6 jam (dewasa) dan 30-40 mg/kg/hari dibagi
dalam 3 dosis (anak-anak).
Efek samping : diare, ruam pada kulit, nyeri abdomen, muntah,
esophagitis, vaginitis, mual, trombositopenia, ketidaknormalan fungsi
hati (frekuensi tidak diketahui).

f. Levofloxacin
Golongan obat : antibiotik
Mekanisme kerja : menghambat girase DNA dalam organisme
sehingga relaksasi DNA terhambat dan terjadi kerusakan untai DNA
pada organisme tersebut.
Indikasi : otitis media akut yang disebabkan H. influenzae, M.
catarrhalis, atau S. pneumoniae; pneumonia yang disebabkan
Mycoplasma pneumoniae; faringitis/tonsillitis yang disebabkan oleh S.
pyogenes; sinusitis akut yang disebabkan oleh bakteri; infeksi saluran
pernafasan atas dan bawah; infeksi pada kulit.
Dosis : 500 mg/hari (dewasa)
Efek samping :
 Frekuensi 1-10% : nyeri dada, edema, sakit kepala, insomnia,
mual, diare, ruam kemerahan, konstipasi, nyeri abdomen,
muntah.

51
 Frekuensi < 1% : gagal ginjal akut, reaksi alergi, angioedema,
pneumonitis, aritmia, gagal jantung, hepatitis, pembengkakan
lidah, tremor, urtikaria, ketidaknormalan sel darah putih.

IX.2.3. Faringitis
Tujuan pengobatan faringitis adalah untuk mengurangi gejala klinis,
mengurangi efek obat yang merugikan, mencegah penyebaran penyakit, dan
mencegah terjadinya komplikasi seperti peritonsillar abscess, limpadenitis
serviks, dan mastoiditis. Pada umumnya, faringitis disertai dengan rasa nyeri,
sehingga dibutuhkan asetaminofen atau obat golongan NSAIDs lainnya untuk
menghilangkan rasa nyeri tersebut. Terapi antimikroba hanya digunakan
untuk faringitis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus berdasarkan hasil
uji laboratorium.

a. Terapi Antimikroba
Penanganan faringitis yang disebabkan oleh bakteri S. pyogenes
(kelompok Streptococcus A-β-hemolitik). Penisilin merupakan pilihan
obat yang paling sering digunakan. Penisilin memiliki spektrum kerja
yang sempit, efektif, aman, dan relatif murah. Penisilin yang digunakan
bisa berupa penisilin V dengan administrasi oral, maupun penisilin G
benzatidin yang diadministrasikan secara intramuscular (jika pasien
tidak dapat menelan obat). Penggunaan penisilin ini juga terbukti dapat
mencegah terjadinya rheumatic fever.
 Golongan β-laktam
Mekanisme kerja : menghambat sintesis dinding sel melalui
pengikatan satu atau lebih PBP (Penicilin Binding Protein).
Indikasi : faringitis yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes.
 Penisilin V

52
Administrasi : oral
Dosis :
- Anak-anak : 250 mg, 2-3x sehari selama 10 hari
- Remaja ≥ 12 tahun : 500 mg, 2-3x sehari atau 250 mg, 3-4x
sehari selama 10 hari
- Dewasa : 500 mg, 2-3x sehari atau 250 mg, 3-4x sehari
selama 10 hari
Efek samping : mual, muntah, diare, reaksi hipersensitivitas
(demam, eosinophilia, urtikaria).

 Penisilin G benzatidin
Administrasi : intramuscular
Dosis :
- Anak-anak ≤ 27 kg : dosis tunggal 600.000 unit
- Anak-anak ≥ 27 kg : dosis tunggal 1,2 juta unit
- Dewasa : dosis tunggal 1,2 juta unit
Efek samping : iritasi, tinnitus, halusinasi, reaksi
hipersensitivitas (kemerahan pada kulit, urtikaria, serum
sickness), efek lokal.

Pada pasien anak-anak, amoksisilin lebih dipilih dibandingkan penisilin,


karena suspensi amoksisilin memberikan rasa manis dan lebih disukai oleh
anak-anak.

 Amoksisilin
Administrasi : oral
Dosis :
- Anak-anak : 45 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis atau 40
mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis selama 10 hari.

53
- Dewasa : 500 mg 3x sehari atau 750 mg 1x sehari selama 10
hari.
Efek samping : mual, muntah, diare, reaksi hipersensitivitas
(kemerahan pada kulit).

Untuk pasien yang hipersensitif terhadap penisilin, antibiotik golongan


sefalosporin dan makrolida cenderung digunakan sebagai alternatif.
Eritromisin yang merupakan golongan makrolida biasanya digunakan
sebagai alternatif utama untuk penanganan faringitis yang disebabkan oleh
bakteri Streptococcus. Golongan makrolida lainnya seperti azitromisin dan
klaritromisin memiliki keefektifan yang sama dengan eritromisin dan
memiliki efek samping yang lebih sedikit pada gastrointestinal.

 Golongan Makrolida
Mekanisme kerja : berikatan pada subunit 50s ribosom bakteri dan
menekan sintesis protein.
Indikasi : faringitis yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes.
 Eritromisin
Administrasi : oral
Dosis :
- Anak-anak : 30-50 mg/kg/hari dibagi dalam 2-4 dosis
- Dewasa : 250 mg (tiap 6 jam), 333 mg (tiap 8 jam), 500 mg
(tiap 12 jam) selama 10 hari
Efek samping : nyeri abdomen, mual, muntah, diare, anoreksia.

Golongan sefalosporin generasi pertama seperti sefaleksin digunakan


jika reaksi hipersensitif tidak diperantarai oleh IgE. Sedangkan sefalosporin
generasi kedua seperti sefuroksim dan sefprozil, atau generasi ketiga seperti
sefpodoksim dan sefdinir, yang stabil terhadap enzim β-laktamase, terbukti
dapat menggantikan kegagalan terapi dengan penisilin.

54
 Golongan Sefalosporin
Mekanisme kerja : menghambat sintesis dinding sel melalui
pengikatan satu atau lebih PBP (Penicilin Binding Protein).
Indikasi : faringitis yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes.
 Sefaleksin
Golongan obat : sefalosporin generasi pertama
Administrasi : oral
Dosis :
- Anak-anak : 25-50 mg/kg/hari dibagi dalam 3-4 dosis selama
≥ 10 hari
- Dewasa : 500 mg (tiap 12 jam) selama ≥ 10 hari
Efek samping : diare, mual, muntah, dispepsia, gastritis, nyeri
abdomen.

 Sefuroksim
Golongan obat : sefalosporin generasi kedua
Administrasi : oral
Dosis :
- Anak-anak (3 bulan – 12 tahun) : 20 mg/kg/hari (maksimum
500 mg) dibagi dalam 2 dosis selama 10 hari
- Remaja (≥ 13 tahun) : 250 mg 2x sehari selama 10 hari
- Dewasa : 250 mg 2x sehari selama 10 hari
Efek samping : diare, mual, muntah, reaksi hipersensitivitas

 Sefpodoksim
Golongan obat : sefalosporin generasi ketiga
Administrasi : oral
Dosis :
- Anak-anak (2 bulan – 12 tahun) : 5 mg/kg/12 jam selama 5-
10 hari

55
- Remaja (≥ 12 tahun) : 100 mg (tiap 12 jam) sehari selama 5-
10 hari
- Dewasa : 100 mg (tiap 12 jam) selama 5-10 hari
Efek samping : diare, mual, muntah, loose strools.

Antibiotik β-laktam, kombinasi amoksisilin (aminopenisilin) dan kalium


klavulanat (inhibitor β-laktamase) digunakan untuk pasien dengan faringitis
yang berulang-ulang terjadi akibat S. pyogenes. Kombinasi ini bukan
merupakan pilihan dalam pengobatan faringitis, tetapi merupakan satu dari
alternatif yang direkomendasikan ketika faringitis terjadi berulang-ulang dan
pasien gagal diobati dengan penisilin ataupun amoksisilin. Jika faringitis ini
terjadi selama beberapa bulan hingga beberapa tahun, dapat diindikasikan
bahwa penyebabnya adalah mikroba golongan nonStreptococcus, seperti
virus. Oleh karena itu, pengobatan dengan antibiotik tidak dapat digunakan.

 Kombinasi Amoksisilin-Kalium Klavulanat


Mekanisme kerja : asam klavulanat akan berikatan dan
menghambat β-laktamase yang menginaktivasi Amoksisilin,
sehingga meningkatkan spektrum aktivitas Amoksisilin.
Indikasi : pasien dengan gejala faringitis yang berulang-ulang, yang
disebabkan oleh Streptococcus pyogenes.
Administrasi : oral
Dosis :
- Anak-anak : 40 mg/kg/hari (maksimum 750 mg) dibagi
dalam 3 dosis selama 10 hari
- Dewasa : 500 mg 2x sehari selama 10 hari
Efek samping : diare, mual, muntah, reaksi hipersensitivitas
(kemerahan pada kulit, urtikaria). Efek samping penggunaan

56
kombinasi lebih sering terjadi dibandingkan efek samping
penggunaan tunggal Amoksisilin.

Jika terjadi kasus resistensi terhadap antibiotik makrolida, klindamisin


juga dapat dijadikan sebagai alternatif untuk pengobatan pasien dengan
faringitis yang terjadi berulang-ulang, yang disebabkan oleh bakteri S.
pyogenes.

 Klindamisin
Golongan obat : antibakteri, turunan dari linkomisin
Mekanisme kerja : Klindamisin berikatan secara ekslusif pada
subunit 50s ribosom bakteri dan menekan sintesis protein.
Indikasi : alternative pengobatan pasien faringitis yang berulang,
yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes.
Administrasi : oral
Dosis :
- Anak-anak : 20-30 mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis selama
10 hari
- Dewasa : 600 mg/hari dibagi dalam 2-4 dosis selama 10 hari
Efek samping : mual, muntah, diare, ruam pada kulit, nyeri
abdomen, tenesmus.

X. Interaksi Obat

Tabel 2. Interaksi Obat

Kombinasi Terapi Hasil Interaksi Penanganan


Sefdinir + garam besi Garam besi dapat mengikat Sefdinir pada Risk D:
lambung dan usus, mencegah tubuh mempertimbangkan
mengabsorbsi Sefdinir.Jumlah Sefdinir dalam modifikasi terapi (cegah
darah dapat menurun dan kurang efektif kombinasi, modifikasi

57
melawan infeksi. Kombinasinya menyebabkan dosis)
terlihat kemerahan.
Amoksisilin + Menaikkan konsentrasi MTX dan resiko Risk C: Memonitor gejala
Methotrexate (MTX) toksisitasnya dan menurunkan ekskresi MTX. toksisitasnya, memonitor
Antibiotik penisilin dapat mengurangi konsentrasi MTX,
kemampuan ginjal untuk mengeksresi MTX menggunakan antibiotik
dari tubuh.Penisilin merupakan asam lemah alternatif seperti
yang mampu berkompetisi dengan MTX di Seftazidime
tubulus ginjal untuk diekskresi, mengurangi
sekresi tubular sehingga retensi pada MTX.
Amoksisilin + Menurukan atau memperlambat absorpsi oral Penisilin di
makanan penisilin pada saluran cerna. administrasikan minimal 2
jam sebelum atau sesudah
makan
Amoksisilin + asam Asam Klavulanat meningkatkan aktivitas Lebih baik dikombinasikan
klavulanat amoksisilin karena dapat memproteksi cincin
beta laktam dari amoksisilin.
Amoksisilin + Meningkatkan efek warfarin (menaikkan Memonitor INR,
warfarin waktu protrombin) bila dosis IV penisilin mengurangi dosis warfarin
besar, INR naik dengan komplikasi
pendarahan. Mekanismenya dapat disebabkan
karena menurunnya pembentukan vitamin K
pada gut menyebabkan defisiensi vitamin K.
Amoksisilin + Frekuensi ruam kulit, alergi atau reaksi Risk C: terapi monitor
Allopurinol hipersensitifitas bertambah. Mekanisme
kemungkinan karena hiperurikaemia yang
menyebabkan reaktivitas imunologi.
Amoksisilin + Acacia Absorpsi amoksisilin dapat berkurang secara Amoksisilin diberikan 4
/ Guar gum signifikan ketika diberikan dalam atau 2 jam jam sebelum atau sesudah
setelah pemberian acacia. Guar gum pemberian acacia
menyebabkan reduksi kecil absorpsi

58
phenoxymethylpenicillin.
Amoksisilin/Cefixim Meningkatkan absorpsi amoksisilin/sefiksim
e + Nifedipine (Ca dari gut karena nifedipine menstimulasi
channel blocker) transpor aktif.
Amoksisilin/sefuroksi Menurunkan eksresi penisilin / cephalosphorin. Risk C : monitor terapi
m / sefaklor / Probenesid menghambat eksresi renal anion
cefixime / organik dan mengurangi reabsorpsi tubular
sefpodoksim / asam urat. Probenesid juga mengobati pasien
Sefdinir + agen dengan kerusakan renal dan karena
uricosuric (contoh mengurangi eksresi renal tubular obat lain,
probenesid) digunakan sebagai adjust terapi antibakteri.
Sefuroksim + Menaikkan resiko nefrotoksisitas. Memonitor konsentrasi
Aminoglikosida aminoglikosida dan fungsi
(amikasin, ginjal
gentamisin,
kanamisin, neomisin)
Sefuroksim / H2 bloker dan proton pump inhibitors (PPIs) Risk C: monitor terapi,
Sefpodoksim + H2 dapat mengubah pH saluran GI dan dapat pisahkan dosis oral
antagonis mengurangi jumlah absorpsi sefuroksim / minimal 2 jam
sefpodoksim ke dalam darah.
Sefuroksim + alkohol Bioavaibilitas dan level serum naik jika Absorpsi optimum
/ makanan dikonsumsi dengan makanan. Dapat sefuroksim diberikan
disebabkan penundaan pengosongan gastrik ketika setelah makan
dan transit yang diikuti disolusi dan absorpsi
lebih baik.
Clarithromycin Penelitian pada subjek sehat menunjukkan Hati-hati jika digunakan
(makrolida) + bahwa hipoglikemia dapat terjadi jika bersamaan.
antidiabetes tolbutamina diberikan dengan Clarithromycin.
sufonilurea
Clarithromycin + Ca- Efek dan toksisitas felodipin, nifedipin, Monitor jika digunakan
channel blokers verapamil meningkat karena semua Ca- bersamaan. Kurangi dosis

59
channel blokers dimetabolisme oleh CYP3A4, Ca-channel blokers.
sehingga berpotensial untuk saling
berinteraksi.
Clarithromycin + Menyebabkan kegagalan kontrasepsi hormonal Pengguna kontrasepsi oral
kontrasepsi kombinasi. kombinasi yang
menggunakan antibakteri
dalam jangka panjang
hanya perlu menggunakan
proteksi kontrasepsi
tambahan selama 3 minggu
pertama, selanjutnya flora
normal menjadi resisten
pada antibakteri.
Clarithromycin + Clarithromycin meningkatkan level Monitor level
karbamazepin karbamazepin hingga 20%-50%, walaupun karbamazepin selama 3-5
dosisnya dikurangi hingga 40%. Juga terdapat hari sejak menggunakan
beberapa kasus toksisitas : pusing, muntah, Clarithromycin, dan
ataksia, mengantuk. sesuaikan dosisnya.
Direkomendasikan untuk
mengurangi dosis
karbamazepin 30%-50%.
Azithromycin/ Pada sedikit pasien, efek antikoagulan warfarin Penggunaan dosis rendah
Clarithromycin + meningkat, kadang timbul pendarahan, antikoagulan paling
warfarin dan interaksi timbul selama lebih dari 7 hari. berisiko, pertimbangkan
antikoagulan oral peningkatan frekuensi
lainnya monitoring INR
Sefdinir + garam besi Garam besi dapat mengikat sefdinir pada Mencegah kombinasinya,
lambung dan usus, mencegah tubuh memisahkan dosis Risk D:
mengabsorbsi sefdinir. Jumlah sefdinir dalam mempertimbangkan
darah dapat menurun dan kurang efektif modifikasi terapi

60
melawan infeksi. Kombinasinya menyebabkan
terlihat kemerahan.
Acetaminophen + Dapat menaikkan metabolisme acetaminophen, Risk C : monitor terapi
Carbamazepine / dapat mengurangi efek acetaminophen, dan
antikonvulsan / menaikkan resiko kerusakan hati.
barbiturat
Acetaminophen + Dapat menurunkan absorpsi acetaminophen. Risk D :
resin kolestiramin Efek minimal bila kolestiramin mempertimbangkan
diadministrasikan 1 jam setelah modifikasi terapi
acetaminophen.
Acetaminophen / Acetaminophen dapat menaikkan efek Risk C : monitor terapi
ibuprofen + antagonis antikoagulan dari vitamin K.
vitamin K (contoh:
warfarin)
Acetaminophen / Mengonsumsi etanol berlebihan dapat Batas konsumsi etanol < 3
ibuprofen + etanol menaikkan resiko induksi hepatotoksik, dapat gelas / hari
menaikkan resiko iritasi gastrik.
Acetaminophen / Kecepatan absorpsi dapat berkurang bila Obat diberikan 2 jam
ibuprofen + makanan diberikan bersama makanan. sebelum / sesudah makan
Ibuprofen + bloker NSAID dapat mengurangi efek terapeutik dari Risk C: monitor terapi
reseptor angiotensin bloker reseptor angiotensin II. Kombinasiya
II dapat mengurangi filtrasi glomerular dan
fungsi renal secara signifikan.
Ibuprofen + agen NSAID dapat menaikkan efek samping / toksik Risk C: monitor terapi
antiplatelet / herbal agen antiplatelet. Kenaikan resiko pendarahan
yang mengandung dapat terjadi. NSAID dapat mengurangi efek
antiplatelet (contoh : kardioprotektif dari agen antiplatelet. Interaksi
Alfalfa, Anise, ini spesifik untuk aspirin.
Bilberry)
Ibuprofen + beta NSAID dapat mengurangi efek antihipertensi Risk C: monitor terapi
bloker dari beta bloker kecuali levobunolol,
metipranolol.

61
Kombinasi Risiko toksisitas terhadap hati meningkat pada Total sel darah harus
Trimethroprim dan pasien transplantasi ginjal, terutama jika dimonitor jika
Sulfamethoxazole jangka waktu panjang. Namun, kombinasi ini dikombinasikan
(co-trimoxazole) + umum digunakan dan aman. Azathioprine
azathioprine dengan cepat dan banyak, dimetabolisme
menjadi merkaptopurin.
Co-trimoxazole + Level digoksin dalam serum meningkat sekitar Monitor efek digoksin dan
digoksin 22% karena trimethroprim, namun pada level digoksin, terutama
beberapa individu meningkat lebih tinggi pada lanjut usia. Sesuaikan
dosis jika perlu.
Co-trimoxazole + Kombinasi menyebabkan penurunan fungsi Total sel darah harus
MTX sumsum tulang belakang, dan beberapa di dimonitor.
antaranya berefek fatal.
Co-trimoxazole + Level fenitoin dalam serum dapat meningkat Monitor level fenitoin,
fenitoin dengan adanya co-trimoxazole. Toksisitas kemudian sesuaikan
fenitoin dapat meningkat pada beberapa kasus. dosisnya. Indikator
Resiko toksisitas kecil dan sebagian besar toksisitas fenitoin:
kenaikan level serotonin pada plasma berada pandangan kabur,
pada batas atas rentang. nystagmus, ataksia, atau
mengantuk.
Co-trimoxazole + Trimetroprim menyebabkan kenaikan level Harus dilakukan penurunan
prokainamida prokainamida dan metabolit aktifnya, N- dosis prokainamida terlebih
asetilprokainamida pada plasma. dahulu jika pasien
diberikan trimethroprim.
Co-trimoxazole + Rifampisin mengurangi AUC trimethropim Sebaiknya dilakukan
rifampisin dan sulfamethoksazol sebanyak 56% dan 28%. pengecekan fungsi hati,
Co-trimoxazole dapat meningkatkan level sehingga tidak perlu
rifampisin dalam darah hampir sepertiga pada pencegahan lainnya.
pasien tuberkulosis. Efikasi co-trimoxazole
profilaksis mungkin dikurangi untuk pasien
positif HIV yang menggunakan rifampisin.

62
Risiko hepatotoksik mungkin meningkat
dengan meningkatnya level rifampisin.
Co-trimoxazole + Efek antikoagulan warfarin, asenokoumarol, Untuk mencegah
warfarin/antikoagulan dan fenprokoumon meningkat dengan pendarahan, INR sebaiknya
lain penggunaan co- trimoxazole. Pendarahan dapat dimonitor dengan baik dan
terjadi jika dosis antikoagulan tidak dikurangi dosis warfarin,
dengan tepat. asenokoumarol, atau
fenprokoumon sebaiknya
dikurangi. Atau, hindari
penggunaan co-
trimoxazole. Gunakan
antibakteri yang tidak
berinteraksi jika perlu,
misalnya fenindion.
Levofloksasin Fero fumarat, glukonat, sulfat, dan senyawa Fe Jangan mengonsumsi
(kuinolon) + Fe lainnya dapat mengurangi absorpsi kuinolon bersamaan
Levofloksasin. dengan Fe, karena
kuinolon cepat diabsorpsi,
kuinolon dikonsumsi 2 jam
sebelum mengonsumsi Fe.
Levofloksasin Level kuinolon dalam serum dapat berkurang Kuinolon harus dikonsumsi
(kuinolon) + antasid dengan adanya antasid Al/Mg. minimal 2 jam sebelum,
dan tidak kurang dari 4-6
jam setelah mengonsumsi
antasid Al/Mg.
Penisilin + warfarin Efek antikoagulan oral diubah secara tidak Monitor penggunaan
dan koagulan lainnya normal oleh penisilin, namun peningkatan bersama untuk mencegah
kasus peningkatan protombin yang berkali efek peningkatan atau
lipat dan/atau pendarahan dilaporkan pasien penurunan antikoagulan.
yang menggunakan amoksisilin, Perubahan signifikan

63
ampisilin/flukloksasilin, benzilpenisilin, co- muncul setelah 4 hari
amoxiclav, atau talamposilin. Karbenisilin, penggunaan kombinasi
tanpa keberadaan antikoagulan, dapat obat.
memperlama prothrombin times. Namun,
kasus penurunan efek warfarin muncul dengan
penggunaan bersama dengan dikloksasilin,
nafsilin, dan mungkin amoksisilin
Penisilin G Pemberian Penisilin G Benzhatine + Penisilin Kombinasi Penisilin G
benzhatine + G prokain sebaiknya tidak diberikan secara IV Benzhatine + Penisilin G
Penisilin G prokain atau dicampur dengan larutan injeksi IV prokain hanya
karena ketidaktelitian administrasi IV dapat diadministraskan secara
menyebabkan kegagalan kardioresipirasi dan injeksi IM.
kematian. Hati-hati untuk pasien yang Kontra indikasi pada
hipersensitif terhadap penisilin, sefalosporin. pasien yang hipersensitif
Terdapat bukti klinis dan laboratorium terhadap penisilin.
terhadap alergi silang antar penisilin dan beta
laktam lainnya termasuk sefalosporin dan
sefamisin.
Eritromisin + Eritromisin meningkatkan level ebastin, Dilarang menggunakan
antihistamin ebastin sehingga menyebabkan interval QT lebih erithromosin,
dan mizolastin panjang. Eritromisin juga meningkatkan level klarithromisin, dan
mizoblastin, walaupun tidak memberikan efek josamisin bersamaan
pada interval QT. dengan ebastin.
Kontraindikasi pada
penggunaan mizoblastin
bersamaan dengan
makrolida.
Eritromisin + Ca Erithromisin hampir melipatgandakan AUC Dosis awal dari fenacin 7.5
channel blockers dari fenasin dengan menghambat mg per hari untuk pasien
metabolismenya oleh CYP3A4. Senyawa yang menggunakan

64
inhibitor CYP3A4 lainnya, seperti diltiazem inhibitor CYP3A4 sedang,
dan verapamil dapat berinteraksi dengan sama. dan meningkatkan dosis
menjadi 15 mg per hari jika
dosis dapat ditolerir.

XI. Studi Kasus

XI.1. Jacob Rodriguez adalah anak laki-laki etnis hispanik berusia 26 bulan yang
dibawa oleh ibunya ke dokter anak pada senin pagi di akhir Januari. Ibunya
menceritakan pada hari pertama ketika telinga kanan anaknya disentak,
anaknya menangis. Pada hari kedua, anaknya mengalami penurunan nafsu
makan, tidak begitu aktif bermain, dan kesulitan tidur. Ibu menyatakan
bahwa semalam suhu tubuhnya normal dengan termometer elektronik
(37°C). Jacob belum diberikan obat analgesic apapun. Ketika anaknya
ditanya apakah ada sesuatu yang menyakitkan, anaknya menunjuk telinga
kanannya, dan berkata “boo-boo”.
Riwayat keluarga : orang tua memiliki kondisi yang sehat, dan memiliki 1
saudara yang berusia 4 tahun dan dalam kondisi sehat juga.
Riwayat medis : 38 minggu yang lalu, bayi sehat dengan bobot 3.5 kg,
diberikan ASI selama 3 bulan. Imunisasi yang diberikan adalah yang
terbaru, termasuk vaksin 7-valensi pneumokokus (Prevnar). Pertama kali
mengalami otitis media akut pada usia 11 bulan, namun telah berhasil
diobati dengan amoksisilin tanpa adanya efek samping. Jacob mendapatkan
pengobatan luka sekitar 3 bulan yang lalu setelah dia jatuh di perapian dan
melukai pipinya. Kini lukanya telah sembuh tanpa meninggalkan bekas luka
apapun.
Riwayat sosial : Jacob tinggal bersama orang tua dan saudara
perempuannya. Ayahnya adalah seorang pekerja, dan ibunya adalah ibu
rumah tangga yang mengurus anak. Kedua orang tua adalah perokok aktif.

65
Mereka memelihara seekor anjing. Jacob terbiasa menggunakan dot agar
dapat tertidur, tetapi tidak digunakan ketika siang hari.
Alergi : tidak ada alergi obat yang dikenal.
Kondisi telinga : Kedua membran timpani eritematosa (dengan R > L);
membran timpani kanan tidak bengkak dan kotoran telinga banyak, terdapat
nanah; kedua membran timpani terlihat normal termasuk parsflaccida,
malleus, dan refleks ringan di bawah umbo. Namun, membran timpani kiri
lebih bersih dan jelas dibandingkan yang kanan.
Penanganan :
- Menggunakan analgesik untuk menghilangkan nyeri seperti
ibuprofen atau asetaminofen.
- Antibiotik : amoksisilin dosis tinggi (80-90 mg/kg/hari). Dipilih
antibiotik amoksisilin karena antibiotik ini memiliki profil
farmakodinamik yang paling baik dibandingkan antibiotik dan obat
lainnya, terutama untuk melawan bakteri S.pneumoniae. Selain itu,
amoksisilin juga telah dibuktikan aman, memiliki spektrum sempit
dan memiliki harga yang terjangkau.

XI.2. James Hershey (14 tahun) adalah seorang anak laki-laki yang sehat.
Kemudian ia datang ke Unit Gawat Darurat karena sakit leher, sakit kepala,
demam, dan lemas. 24 jam sebelum gejala-gejala tersebut muncul, ia
menolak untuk makan makanan yang berbentuk padat, karena terlalu sakit
untuk menelan. Di samping itu, ia juga menolak untuk beranjak dari tempat
tidur, kecuali untuk ke toilet. Ia tidak memiliki keluhan batuk, nafas pendek,
atau kesulitan bernafas. Ia juga tidak merasa mual, ingin muntah dan sakit di
bagian abdominal. Ibunya mengatakan tidak ada anggota keluarga yang sakit
dalam waktu dekat, tetapi ada tetangga yang sakit belum lama ini.

66
Riwayat medis : pasien adalah remaja yang sehat. Ibunya mengatakan
bahwa James sudah memenuhi semua vaksin terbaru. James terkadang
mengalami alergi musiman yang dapat diatasi dengan anti histamin.
Riwayat keluarga : tidak berkontribusi.
Riwayat sosial : James adalah anak tunggal dan hidup dengan orang tuanya.
Ia adalah murid kelas 8 di sekolah umum.
Obat-obatan : Loratadin 10 mg/hari jika diperlukan (saat ini pasien tidak
mengkonsumsi loratadin).
Alergi : tidak ada alergi pada obat-obatan tertentu.
Kesimpulan dari sistem : negatif, kecuali keluhan pada sejarah awal medis.
Pemeriksaan fisik :
- Penampilan luar : berkembang dan memenuhi gizi dengan baik, berusia
14 tahun, kelelahan
- Tanda vital : tekanan darah 118/4, denyut nadi 84, kecepatan respirasi
15, suhu tubuh 38.5°C, berat 71 kg, tinggi 5’8”
- Kulit : pucat, hangat, tidak ada tanda-tanda inflamasi

Penanganan :

- Diberikan Penicillin secara oral dengan dosis 250 mg 2-3x sehari.


- Diberikan antipiretik jika perlu.
- Jika setelah 3 hari gejala belum berkurang, diberikan Klindamisin
20mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis (max 1,8g/hari)

XII. Daftar Pustaka

Almatsier, Medias (editor). 2006. Medical Information Management System


(MIMS). Jakarta: Info Master. (hal. 193, 201, 253)
American Pharmacists Association (APhA). 2008-2009. Drug Information
Handbook A Comprehensive Resource for All Clinicians and Healthcare
Professionals. 17th edition. New York : Lexi-Comp.

67
Bailie, George.R. 2004. Med Facts Pocket Guide Of Drug Interactions 2th edition.
Nephrology Pharmacy Associates. (hal. 37)
Baxter, Karen. 2010. Stockley’s Drug Interactions 9th edition. London :
Pharmaceutical Press. (hal. 186-187, 226-228, 322, 330, 333, 363,
415,1088, 1436)
Bluestone and Klein. 2007. Otitis Media in Infants and Children. 4th Edition.
Ontario : BC Decker Inc. (hal. 73-98).
Chahine, Elias, et.al. 2013. Update on the Management of Streptococcal
Pharyngitis. Jobson Publishing. (hal.51-56).
Corwin, Elizabeth J. 2007. Buku saku patofisiologi Edisi 3 . Jakarta : EGC. (hal.
384-385)
Dipiro, J.T., et al. 2014. Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach. 9th
Edition. USA : The Mc. Graw Hill Company.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2012.
Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI.
Endah et. Al. 2009. Penyakit ISPA Hasil Riskesdas di Indonesia. Jakarta :
Puslitbang Biomedis dan Farmasi.
European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases. 2003.
Systemic Antibiotic Treatment in Upper and Lower Respiratory Tract
Infections. France : Official French Guidelines. (hal. 143-147).
Heikkinen, Terho and Tasnee Chonmaitree. 2003. Importance of Respiratory
Viruses in Acute Otitis Media. Amerika: ASM society.
Kentjono, Widodo Ario. 2004. Rinosinusitis : Etiologi dan Patofisiologi.
Surabaya : SMF Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga. (hal. 1-8).
Lacy, Charles. F. 2007. Drug Information Handbook . Ohio: Lexi-Comp.
M, Reiss dan Reiss G. 2012. Conservative Therapy of Chronic Sinusitis. Med
Monatsschr Pharm. 35(1). (hal. 4-12).

68
Mansjoer, Arief, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta :
Mediaacs culapiu.
Sweetman, Sean C. 2009. Martindale, the Complete Drug Reference 36th edition.
London : Pharmaceutical Press. (hal. 217, 224, 232, 238)
Trust Indonesia. 2008. Pedoman Interim WHO : Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). WHO.
Zoorob, Roger, dkk. 2012. Antibiotic Use in Acute Upper Respiratory Tract
Infections. Am Fam Physician.86(9):817-822.
http://health.cvs.com/GetContent.aspx?token=f75979d3-9c7c-4b16-af56-
3e122a3f19e3&chunkiid=20171 (Diakses pada tanggal 03 September 2014
pukul 20.47)
http://pediatrics.med.nyu.edu/conditions-we-treat/conditions/pharyngitistonsill
opharyngitis (Diakses pada tanggal 03 September 2014 pukul 21.05)
http://umm.edu/health/medical/altmed/condition/pharyngitis#ixzz3CG03Zewr
(Diakses pada tanggal 03 September 2014 pukul 20.17)
http://emedicine.medscape.com/article/232670-overview#aw2aab6b2b5
(Diakses pada tanggal 06 september 2014 pukul 13.05)
http://emedicine.medscape.com/article/859316-overview#aw2aab6b2b5ab1
(Diakses pada tanggal 06 september 2014 pukul 13.21)
https://www.clinicalkey.com/topics/pediatrics/pharyngitis.html#254118 (Diakses
pada tanggal 06 september 2014 pukul 13.36)
http://www.uptodate.com/contents/acute-sinusitis-and-rhinosinusitis-in-adults-
treatment. (Diakses pada tanggal 4 September 2014 pukul 16.00)
http://www.webmd.com/drugs/2/drug-3779-8011/cefuroxime-axetil-
oral/cefuroxime-oral/details/list-interaction-details/dmid-2264/dmtitle-
cefuroxime%20axetil-h2%20blockersppis/intrtype-drug (Diakses pada
tanggal 6 September 2014 pukul 21.00)

69