Anda di halaman 1dari 9

1. PT Zawazi merupakan perusahaan yang bergerak di bidang properti.

Perusahaan ini didirikan


pada tanggal 1 Januari 2019 dan selama enam bulan pertamanya perusahaan telah mampu
menghasilkan omzet sebesar Rp 5 Milyar. Perusahaan telah memiliki NPWP untuk memenuhi
semua kewajiban pajaknya.
Salah satu usaha yang dimiliki PT Zawazi adalah di bidang jasa perhotelan yaitu kepemilikan
Hotel Khairi. Bangunan hotel terdiri dari 20 lantai dengan luas bangunan 15.000 m2 di atas
tanah seluas 1 hektar termasuk area untuk parkir. Beberapa fasilitas yang dimiliki Hotel Khairi
antara lain fasilitas kolam renang, salon, pusat kebugaran (gym), area bermain anak, dan
restoran. Selain itu, hotel juga memiliki ball room yang disewakan. Sebagai tambahan,
perusahaan memberikan jasa catering, jasa dekorasi, dan jasa penyewaan sound system untuk
penyewa ball room yang ingin mengadakan event seperti resepsi pernikahan, workshop, dan
lain-lain.
Diminta:

1. Jika Anda adalah seorang konsultan pajak dan PT Zawazi sebagai klien Anda,
selanjutnya Manajemen PT Zawazi meminta saran kepada Anda mengenai apakah
perusahaan wajib mendaftarkan diri untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena
Pajak (PKP) pada tahun 2020, rekomendasi apa yang dapat Anda berikan? Berikan
alasan Anda dilengkapi dasar hukum dalam undang-undang Ketentuan Umum
Perpajakan (KUP) !
Jawab:
Saran saya kepada PT Zawazi adalah wajib mendaftarkan diri untuk dikukuhkan
menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) pada tahun 2020, karena berdasarkan bunyi Pasal
2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (UU KUP) :
“Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenai pajak berdasarkan
UndangUndang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, wajib melaporkan
usahanya pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat
tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha, dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk
dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.”
Dengan demikian, Pengusaha orang pribadi atau badan yang mempunyai tempat
kegiatan usaha di wilayah beberapa kantor Direktorat Jenderal Pajak wajib melaporkan
usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak baik di kantor Direktorat
Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan
Pengusaha maupun di kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi
tempat kegiatan usaha dilakukan.
Kemudian karena omzet dari perusahaan sebesar Rp 5 Milyar, maka sudah melebihi
batas yang disyaratkan untuk dapat dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Sebagaimana dijelaskan lebih lanjut dalam Pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan (PMK)
Nomor 197/PMK.03/2013 bahwa setiap pengusaha wajib melaporkan usaha untuk
dikukuhkan sebagai PKP, disetujui hingga beberapa bulan terakhir buku jumlah peredaran
bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp 4.800.000.000,-. Kewajiban melaporkan
usaha untuk dikukuhkan sebagai PKP dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah
bulan saat jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp
4.800.000.000,-.
Bunyi Pasal 4 PMK-197/PMK.03/2013 sebagai berikut :
“Pengusaha wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak,
apabila sampai dengan suatu bulan dalam tahun buku jumlah peredaran bruto dan/atau
penerimaan brutonya melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta
rupiah).”
Setelah dikukuhkan menjadi PKP, maka kewajiban perpajakan menjadi bertambah
yaitu wajib melakukan pemungutan, penyetoran, pelaporan PPN yang terutang atas
transaksi penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang dilakukan.

2. Jika perusahaan akan mendaftarkan diri untuk dikukuhkan menjadi PKP, apakah
perusahaan harus secara mandiri mendaftarkan diri menjadi PKP atau menunggu
otoritas perpajakan mengukuhkan perusahaan sebagai PKP? Jelaskan pendapat
Anda!
Jawab :
Menurut saya, ketika perusahaan sudah memenuhi syarat untuk dikukuhkan menjadi
PKP, maka perusahaan tersebut harus secara mandiri mendaftarkan diri menjadi PKP pada
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat
kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi
PKP.
Sebagaimana bunyi Pasal 2 ayat (2) UU KUP : “Setiap Wajib Pajak sebagai
Pengusaha yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai
1984 dan perubahannya (UU PPN), wajib melaporkan usahanya pada kantor DJP yang
wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha, dan tempat
kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi PKP.”
Kemudian apabila wajib pajak atau pengusaha tidak melaksanakan kewajibannya
sebagaiman yang dimaksud pada ayat (2) di atas, maka pengukuhan PKP dilakukan oleh
otoritas perpajakan yang disebut sebagai pengukuhan PKP secara jabatan. Sesuai dengan
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketetentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun
2007 (UU KUP), Pasal 2 ayat (4) menyebutkan bahwa “Direktur Jenderal Pajak (DJP)
menerbitkan NPWP dan/atau PKP secara jabatan apabila Wajib Pajak (WP) atau
Pengusaha Kena Pajak tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan/atau ayat (2).”

3. Sanksi apa yang diberikan jika PT Zawazi tidak melaporkan usahanya untuk
dikukuhkan sebagai PKP? Jelaskan pula fungsi dan manfaat pengukuhan PKP!
Jawab:
Jika PT Zawazi tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP, maka
DJP dapat mengukuhkan secara jabatan. Selanjutnya Kewajiban perpajakannya akan
ditagih oleh fiskus atau Direktur Jenderal Pajak sampai dengan lima tahun ke belakang
sejak seharusnya dia memenuhi syarat untuk memiliki NPWP atau dikukuhkan sebagai PKP
ditambah sanksi seperti yang disebutkan dalam Pasal 13 ayat (2) UU KUP yaitu berupa
bunga sebesar 2% per bulan paling lama 24 bulan, dihitung sejak saat terutangnya pajak
atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak sampai dengan
diterbitkannya SKPKB.
Tidak hanya itu, PPN ditambah dengan sanksi administrasi berupa denda sesuai
Pasal 14 ayat (4) UU KUP sebesar 2% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP) yang ditagih
melalui Surat Tagihan Pajak (STP), sebagai konsekuensi dari penarikan kewajiban
perpajakan yang seharusnya dilaksanakan oleh WP atau PKP sampai dengan lima tahun
ke belakang.
Selain itu berdasarkan ketentuan Pasal 39 ayat (1) huruf a UU KUP:
Setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok
Wajib Pajak atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak, sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda
paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling
banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

Adapun fungsi pengukuhan PKP :


1. Pengawasan dalam melaksanakan hak dan kewajiban PKP di bidang PPN dan
PPnBM.
2. Sebagai identitas PKP yang bersangkutan.
3. Sarana dalam pemenuhan Kewajiban Pajak Pertambahan Nilai & Pajak Penjualan
Barang Mewah (PPnBM).
Manfaat Pengukuhan PKP :
1. Perusahaan dianggap telah memiliki sistem yang sudah baik, dianggap legal secara
hukum dan telah tertib membayar pajak.
2. Perusahaan telah dianggap besar dan status PKP akan berpengaruh saat menjalin
kerja sama dengan perusahaan lain yang tergolong besar.
3. Dapat melakukan transaksi dengan bendaharawan Pemerintah dan dapat mengikuti
lelang-lelang yang diadakan oleh Pemerintah.
4. Keuntungan menjadi PKP dalam hal pola produksi dan investasi yang semakin baik,
karena beban produksi dan investasi BKP/JKP dapat dibebankan kepada konsumen
akhir.

4. Dari kasus tersebut, identifikasi aktivitas-aktivitas jasa PT Zawazi yang merupakan


objek PPN !
Jawab :

Dari kasus tersebut, aktivitas-aktivitas jasa PT Zawazi yang merupakan objek PPN adalah:
1. Pusat kebugaran (apabila bersifat komersil)
2. Jasa Dekorasi
3. Jasa penyewaan sound system

Sementara itu aktivitas jasa PT Zawazi yang bukan merupakan objek PPN:
Dalam Pasal 4A ayat 3 UU No. 8 tahun 1983 tentang PPN, semua bidang jasa masuk
dalam kategori jasa kena pajak, kecuali beberapa jasa di bawah ini :
1. Jasa Perhotelan (Hotel Khairi)
2. Fasilitas hotel untuk tamu
3. Jasa penyediaan lahan parkir
4. Jasa Restoran
5. Jasa Persewaan Ballroom
6. Jasa Catering
2. PT. Good Food Indonesia merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksi
bahan baku makanan cepat saji yang berkantor pusat di Jakarta dan memiliki pabrik di kawasan
industri Cikarang. Saat ini, perusahaan baru saja menerima SKPKB dari hasil pemeriksaan PPh
Badan tahun 2017. SKPKB tersebut tertanggal 10 Februari 2019 dan terdapat cap pos
pengiriman tertanggal 15 Februari 2019, serta jumlahnya adalah Kurang Bayar termasuk sanksi
sebesar Rp 2,1 Miliar. Perusahaan tidak setuju dengan penerbitan SKPKB tersebut, karena
berdasarkan pembahasan akhir hasil pemeriksaan seharusnya Kurang Bayar tahun 2017
menurut Perusahaan adalah Rp450.000.000,00. Oleh karena itu, Perusahaan bermaksud untuk
mengajukan keberatan kepada DJP.

Pertanyaan :

1. Kapankah batas waktu terakhir Perusahaan mengajukan permohonan keberatan?


Jawab :

Batas waktu terakhir perusahaan mengajukan permohonan keberatan adalah dalam jangka
waktu 3 bulan sejak tanggal dikirim surat ketetapan pajak, sebagaimana disebutkan dalam
Pasal 25 ayat (3) Undang-Undang KUP :
“Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim surat
ketetapan pajak atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu
tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.”

Dalam kasus di atas, surat dikirimkan tanggal 15 Februari 2019, maka batas waktu terakhir
perusahaan mengajukan keberatan adalah paling lama tanggal 14 Mei 2019. Apabila
ternyata bahwa batas waktu 3 (tiga) bulan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Wajib Pajak
karena keadaan di luar kekuasaan Wajib Pajak (force majeur), tenggang waktu selama 3
(tiga) bulan tersebut masih dapat dipertimbangkan untuk diperpanjang oleh Direktur Jenderal
Pajak.

2. Adakah jumlah kurang bayar yang harus dibayar oleh Perusahaan dalam proses
mengajukan permohonan keberatan tersebut?
Jawab :

Ada.
Jumlah yang harus dibayar oleh perusahaan dalam proses mengajukan permohonan
keberatan tersebut adalah sebesar Rp450.000.000,00

Berdasarkan ketentuan Pasal 25 ayat (3a) Undang-Undang KUP :


“Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak, Wajib Pajak wajib
melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib
Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, sebelum surat keberatan disampaikan.”

Ketentuan tersebut mengatur bahwa persyaratan pengajuan keberatan bagi Wajib Pajak
adalah harus melunasi terlebih dahulu sejumlah kewajiban perpajakannya yang telah
disetujui Wajib Pajak pada saat pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Dalam kasus di atas
berdasarkan pembahasan akhir hasil pemeriksaan, seharusnya Kurang Bayar tahun 2017
menurut Perusahaan adalah Rp450.000.000,00. Pelunasan tersebut harus dilakukan
sebelum perusahaan mengajukan keberatan.

3. Jika keberatan tersebut ditolak, berapakah sanksi perpajakan yang akan dikenakan
kepada Perusahaan jika jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan adalah
sebesar Rp 1.640.625.000? Lengkapi jawaban Anda dengan perhitungan yang
diperlukan.
Jawab :

Sanksi yang dikenakan apabila keberatan tersebut ditolak adalah sanksi administrasi
berupa denda sebesar 50% dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi
dengan pajak yang telah dibayarkan sebelum mengajukan keberatan.
Hal tersebut berdasarkan bunyi Pasal 25 ayat (9) Undang-Undang KUP:
“Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai
sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak
berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum
mengajukan keberatan.”

Perhitungannya :
- Jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan = Rp 1.640.625.000
- Pajak yang telah dibayarkan = Rp 450.000.000

Sanksi Administrasi berupa denda yang harus dibayar:

= 50% x (Jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan - Pajak yang telah dibayarkan)
= 50% x (Rp 1.640.625.000 - Rp 450.000.000)
= 50% x Rp 1.190.625.000
= Rp 595.312.500

Jadi, sanksi yang akan dikenakan kepada perusahaan sapabila keberatan ditolak adalah
sebesar Rp 595.312.500

4. Adakah upaya hukum lain jika permohonan keberatan Perusahaan ditolak karena tidak
memenuhi ketentuan formal mengenai jangka waktu pengajuan permohonan?
Sebutkan dasar hukumnya.
Jawab :

Ada.
Jika permohonan keberatan ditolak, maka perusahaan dapat mengajukan upaya hukum
banding ke Badan Peradilan Pajak. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 27 ayat (1)
Undang-Undang KUP :
“Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada badan peradilan pajak
atas Surat Keputusan Keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1).”

Banding adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak atau penanggung
Pajak terhadap suatu keputusan yang dapat diajukan Banding, berdasarkan peraturan
perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Putusan Banding adalah putusan badan
peradilan pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib
Pajak.

Syarat Pengajuan Banding:

1. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada badan peradilan
pajak atas Surat Keputusan Keberatan.
2. Permohonan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan alasan yang jelas
paling lama 3 (tiga) bulan sejak Surat Keputusan Keberatan diterima dan dilampiri
dengan salinan Surat Keputusan Keberatan tersebut.
3. Terhadap 1 (satu) Keputusan diajukan 1 (satu) Surat Banding.

5. Hal apa sajakah yang perlu dipertimbangkan oleh Perusahaan jika ingin mengajukan
banding apabila keberatan Perusahaan ditolak?
Jawab :

Hal yang perlu dipertimbangkan jika ingin mengajukan banding apabila keberatan
perusahaan ditolak adalah sebagai berikut:
1. Banding hanya dapat diajukan kepada badan peradilan pajak atas Surat Keputusan
Keberatan. (Pasal 27 ayat (1) UU KUP)
2. Permohonan banding diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan alasan
yang jelas paling lama 3 (tiga) bulan sejak Surat Keputusan Keberatan diterima dan
dilampiri dengan salinan Surat Keputusan Keberatan tersebut. (Pasal 27 ayat (3) UU
KUP)
3. Dalam mengajukan banding, jangka waktu pelunasan pajak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (3), ayat (3a), atau Pasal 25 ayat (7), atas jumlah pajak yang belum
dibayar pada saat pengajuan keberatan, tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak
tanggal penerbitan Putusan Banding. (Pasal 27 ayat (5a) UU KUP)
4. Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai
sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak
berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar
sebelum mengajukan keberatan. (Pasal 27 ayat (5d) UU KUP).
5. Banding hanya dapat diajukan apabila besarnya jumlah pajak yang terutang dimaksud
telah dibayar sebesar 50% lima puluh persen) dengan melampirkan Surat Setoran Pajak
(SSP) atau Pemindah Bukuan (Pbk)