Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM PADA

Ny.W DENGAN RUPTUR DERAJAT IV DI RUANG VK

SARI MAWAHDAH

2019611011

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI MALANG

2020
A. DEFINISI
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari
dalam uterus melalui vagina kedunia luar. Persalinan imatur adalah persalinan saat
kehamilan 20-28 minggu dengan berat janin antara 500-1000gr. Persalinan premature
adalah persalinan saat kehamilan 29-36 minggu dengan berat janin antara 1000-2500gr.
(Kapita Selekta Kedokteran,2001)
Masa pascapartum adalah suatu masa antara pelahiran sampai organ-organ
reproduksi kembali ke keadaan sebelum masa hamil. Istilah puerperium (puer, seorang
anak , ditambah kata parere, kembali ke semula) merujuk pada masa enam minggu antara
terminasi persalinan dan kembalinya organ reproduksi ke kondisi sebelum hamil.
(Reeder, Martin, Koniak-Griffin, 2011)
B. ADAPTASI FISIOLOGI DAN PSIKOLOGI POST PARTUM
a. Adaptasi fisiologi post partum (Bobak, 2004)
1. Tanda-tanda vital
Suhu mulut pada hari pertama meningkat 300 C sebagai akibat pemakaian energi
saat melahirkan, dehidrasi maupun perubahan hormonik, tekanan darah stabil,
penurunan sistolik 20 mmHg dapat terjadi saat ini, nadi berkisar antara 60-70 kali
per menit.
2. Sistem Kordiovaskuler
Cardiac output setelah persalinan meningkat karena darah sebelumnya dialirkan
melalui utero plasenta dikembalikan ke sirkulasi general. Volume darah biasanya
berkurang 300-400 ml selama proses persalinan spontan. Trombosit pada hari ke
5 s.d 7 post partum, pemeriksaan homans negatif.
3. Sistem Reproduksi
Fundus uteri
Setelah janin lahir, tinggi fundus uteri kira – kira setinggi pusat, segera setelah
lahirnya plasenta TFU kurang lebih 2 jari diatas pusat, pada hari ke – 5 post
partum tinggi uterus yaitu 7 cm di atas simphysis. Sesudah 12 hari post partum
uterus tidak dapat diraba lagi diatas symphisis. Tebal Dinding uterus sendiri
adalah 1,25 cm, sedangkan pada bekas implantasi plasenta lebih tipis dari bagian
lain. Bagian bekas implantasi plasenta merupakan penanganan suatu luka yang
kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri, segera setelah persalinan otot – otot
uterus berkontraksi setelah post partum, pembuluh – pembuluh darah yang berada
diantara anyaman otot uterus akan terjepit, proses ini yang mengakibatkan
perdarahan dapat berhenti setelah plasenta dilahirkan.
Proses involusi :
Involusi TFU
Segera setelah persalinan 2 cm di bawah pusar

12 jam setelah persalinan 1 cm diatas pusat dan menurun kira –


kira 1 cm setiap hari

Hari ke – 2 setelah persalinan 1 cm di bawah pusat

Hari ke 3 -4 setelah persalinan 2 cm di bawah pusat

Hari ke 10 pasca persalinan Tidak teraba


Macam-macam lochea berdasarkan jumlah dan warnanya:
 Lochea rubra : 1-3 berwarna merah dan hitam, terdiri dari sel desidua,
verniks kaseosa, rambut lanugo, sisa mikonium, sisa darah.
 Lochea Sanguinolenta : 3-7 hari berwarna putih campur merah kecoklatan.
 Lochea Serosa : 7-14 hari berwarna kekuningan.
 Lochea Alba : setelah hari ke-14 berwarna putih.
Macam-macam episiotomi:
 Episiotomi mediana, merupakan insisi paling mudah diperbaiki, lebih
sedikit pendarahan penyembuhan lebih baik.
 Episiotomi mediolateral, merupakan jenis insisi yang banyak digunakan
karena lebih aman.
 Episiotomi lateral, tidak dianjurkan karena hanya dapat menimbulkan
relaksasi introitus, perdarahan lebih banyak dan sukar direparasi.
4. Sistem gastro intestinal
Pengembangan defekasi secara normal lambat dalam seminggu pertama. Hal ini
disebabkan karena penurunan mortilitas usus, kehilangan cairan dan
ketidaknyamanan perineum.
5. Sistem musculoskeletal
Otot dinding abdomen teregang bertahap selama hamil, menyebabkan hilangnya
kekenyalan otot yang terlihat jelas setelah melahirkan. Dinding perut terlihat
lembek dan kendor.
6. Sistem endokrin
Setelah persalinan penaruh supresi esterogen dan progesteron berkurang maka
timbul pengaruh lactogenik dan prolaktin merangsang air susu. Produksi ASI
akan meningkat setelah 2 s.d 3 hari pasca persalinan.
7. Sistem perkemihan
Biasanya ibu mengalami ketidakmampuan untuk buang air kecil selama 2 hari
post partum. Penimbunan cairan dalam jaringan selama berkemih dikeluarkan
melalui diuresis yang biasanya dimulai dalam 12 jam setelah melahirkan.
b. Adaptasi psikologi post partum (Bobak, 2004)
1. Fase taking in
Ibu berperilaku tergantung pada orang lain, perhatian berfokus pada diri sendiri,
pasif, belum ingin kontak dengan bayinya, berlangsung 1-2.
2. Fase taking hold
Fokus perhatian lebih luas pada bayinya, mandiri dan inisiatif dalam perawatan
bayinya, berlangsung 10 hari.
3. Fase letting go
Ibu memperoleh peran baru dan tanggung jawab baru, perawatan diri dan bayinya
meningkat terus, menyadari bahwa dirinya terpisah dengan bayinya.
C. KLASIFIKASI
Masa Nifas dibagi Menjadi 3 Periode:
1. Puerpurium Dini
Yaitu pulihnya ibu setelah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama
islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja selama 40 hari.
2. Puerpurium Intermedial
Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu
3. Remote Puerpurium
Adalah waktu yang diperlukan untuk pulihnya dan sehat sempurna terutama bila
selama kehamilan atau waktu persalinan mempunyai komplikasi (Synopsis Obstetri I,
2002: 115)
D. PERAWATAN MASA NIFAS
Perawatan masa nifas adalah perawatan terhadap ibu yang baru melahirkan
sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Fungsi perawatan masa nifas
yakni memberikan fasilitas agar proses penyembuhan fisik dan psikis berlangsung
dengan normal, mengamati proses kembalinya rahim ke ukuran normal, membantu ibu
untuk dapat memberikan ASI dan memberi petunjuk kepada ibu dalam merawat bayinya.
Perawatan masa nifas sebenarnya dimulai sejak plasenta lahir, dengan menghindarkan
adanya kemungkinan-kemungkinan perdarahan setelah melahirkan dan infeksi. Bila ada
luka robek pada jalan lahir atau luka bekas guntingan episiotomi, dilakukan penjahitan
dan perawatan luka dengan sebaik-baiknya. Penolong persalinan harus tetap waspada
sekurang-kurangnya 1 jam sesudah melahirkan, khususnya untuk mengatasi
kemungkinan terjadinya perdarahan.
Umumnya ibu merasa sangat lelah setelah melahirkan, lebih-lebih bila proses
persalinannya berlangsung cukup lama. Dahulu, ibu harus cukup beristirahat, yakni harus
tidur terlentang selama kurang lebih 8 jam setelah bersalin. Kemudian ia boleh miring ke
kiri dan ke kanan untuk mencegah terjadinya risiko timbunan plak di pembuluh darah
(trombosis dan tromboemboli) akibat terlalu lama tidak bergerak. Pada hari kedua ibu
baru boleh duduk, hari ketiga boleh berjalan dan hari berikutnya boleh pulang. Tahap-
tahap untuk bergerak tersebut tidak mutlak, tergantung pada adanya komplikasi
persalinan, nifas, dan sembuhnya luka. Namun sekarang, setelah melahirkan ibu
dianjurkan untuk mobilisasi secara aktif seawal mungkin jika sudah memungkinkan.
Sesudah bersalin, bila ibu menghendaki, maka diperkenankan untuk berjalan-jalan, pergi
ke kamar mandi bila perlu dan istirahat kembali bila merasa lelah. Namun sebagian besar
menghendaki untuk beristirahat total ditempat tidur selama 24 jam, terutama bila
mengalami luka di jalan lahir yang cukup luas. Berbeda halnya jika persalinan dengan
cara bedah sesar yang menggunakan pembiusan melalui tulang belakang, ibu harus tetap
mengikuti tahap-tahap bergerak tersebut, untuk menghindari efek samping obat bius
berupa nyeri kepala yang hebat.
Setelah melahirkan, ibu harus segera buang air kecil sendiri. Kadang-kadang
timbul keluhan kesulitan berkemih yang disebabkan pada saat persalinan otot-otot
kandung kemih mengalami tekanan oleh kepala janin, disertai pembengkakan kandung
kemih. Bila kandung kemih terisi penuh sedangkan si ibu tidak dapat buang air kecil,
sebaiknya dilakukan pemasangan kateter (selang kencing), untuk mengistirahatkan
sementara otot-otot tersebut, yang berikutnya diikuti dengan latihan berkemih.
Ketidakmampuan berkemih dapat menyebabkan terjadinya infeksi, sehingga harus
diberikan antibiotika. Dalam 3-4 hari setelah bersalin, ibu harus sudah buang air besar.
Bila ada sembelit dan tinja mengeras, dapat diberikan obat pencahar atau dilakukan
klisma (pembersihan usus). Demam dapat muncul jika tinja tertimbun lama di usus besar.
Dalam hal menyusui, saat ini sedang digalakkan upaya pemberian ASI sedini
mungkin setelah bayi lahir. Bayi diletakkan tengkurap di atas dada ibu yang masih
berbaring, kemudian dalam dekapan ibu, dalam beberapa jam pertama si bayi akan
berusaha mencari puting susu ibunya dan belajar menghisap sehingga dapat merangsang
produksi ASI.
Pada ibu yang bersalin secara normal (bukan operasi), sebaiknya dianjurkan untuk
kontrol kembali 6 minggu sesudah melahirkan. Pemeriksaan meliputi keluhan, selera
makan, gangguan berkemih dan buang air besar, ASI (payudara dan puting susu), luka
jalan lahir, keputihan, riwayat demam dan perdarahan, dan pemeriksaan organ
kandungan. Pemeriksaan tersebut tidak merupakan pemeriksaan terakhir, terlebih jika
ditemukan kelainan meskipun sifatnya ringan. (Fredy Dinata, 2011)
E. PATOFISIOLOGI
Dalam masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna maupun
eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Perubahan-perubahan alat genetal ini dalam keseluruhannya disebut “involusi”.
Disamping involusi terjadi perubahan-perubahan penting lain yakni memokonsentrasi
dan timbulnya laktasi yang terakhir ini karena pengaruh lactogenik hormon dari kelenjar
hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar mama.
Otot-otot uterus berkontraksi segera post psrtum, pembuluh-pembuluh darah yang
ada antara nyaman otot-otot uretus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan
pendarahan setelah plasenta lahir.
Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks ialah segera post partum bentuk
serviks agak menganga seperticorong, bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri terbentuk
semacam cincin.
Peruabahan-perubahan yang terdapat pada endometrium ialah timbulnya
trombosis, degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi plasenta pada hari pertama
endometrium yang kira-kira setebal 2-5 mm itu mempunyai permukaan yang kasar akibat
pelepasan desidua dan selaput janin regenerasi endometrium terjadi dari sisa-sisa sel
desidua basalis yang memakai waktu 2 sampai 3 minggu.
Ligamen-ligamen dan diafragma palvis serta fasia yang merenggang sewaktu
kehamilan dan pertu setelah janin lahir berangsur-angsur kembali seperti sedia kala.
F. TANDA DAN GEJALA
 Peningkatan perdarahan : bekuan darah dan keluarnya jaringan
 Keluar darah segar terus menerus setelah ppersalinan
 Nyeri yang hebat
 Peningkatan suhu
 Perasaan kandug kemih yang penuh dan ketidakmampuan mengosongkan
 Perluasan hematoma
 Muka pucat,dingin, kulit lembab,peningkatan HR ,chest pain,batuk
G. TANDA-TANDA BAHAYA POST PARTUM
 Perdarahan vagina yang hebat atau tiba-tiba bertambah banyak
 Pengeluaran vagina yang baunya menusuk
 Rasa sakit di bagian bawah abdomen atau punggung
 Sakit kepala terus-menerus, nyeri ulu hati, atau masalah penglihatan
 Pembengkakan di wajah/tangan
 Demam, muntah, rasa sakit waktu BAK, merasa tidak enak badan
 Payudara yang berubah menjadi merah, panas, dan atau terasa sakit
 Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang sama
 Rasa sakit, merah, lunak, dan pembengkakan di kaki
 Merasa sedih, merasa tidak mampu mengasuh sendiri bayinya/diri sendiri
 Merasa sangat letih/nafas terengah-engah
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 Darah: Hemoglobin dan Hematokrit 12-24 jam postpartum (jika HB < 10 g%,
dibutuhkan suplemen FE), eritrosit, leukosit dan trombosit.
Klien dengan dower kateter diperlukan cultur urine.
I. PENATALAKSANAN
1. Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi perdarahan)
2. 6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan miring kanan kiri
3. Hari ke- 1-2 : memberikan KIE kebersihan diri, cara menyusui yang benar dan
perawatan payudara, perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas, pemberian
informasi tentang senam nifas.
4. Hari ke- 2 : mulai latihan duduk
5. Hari ke- 3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan
J. KOMPLIKASI
1. Pembengkakan payudara
2. Mastitis (peradangan pada payudara)
3. Endometritis (peradangan pada endometrium)
4. Post partum blues
5. Infeksi puerperalis ditandai dengan pembengkakan, rasa nyeri, kemerahan pada
jaringan terinfeksi atau pengeluran cairan berbau dari jalan lahir selam persalinan
atau sesudah persalinan.
K. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian Dasar data Klien
a. Aktivitas / Istirahat
Dapat tampak berenergi atau kelelahan/keletihan mengantuk .
b. Sirkulasi
Nadi biasanya lambat (50-70 x/m) karena hipersensitifitas TD bervariasi,
mungkin lebih rendah pada respons terhadap analgesik / anestesta atau meningkat
pada respon terhadap  pemberian oksotoxin atau hipertensi karena
kehamilan.Edema, bila ada mungkin dependen (misalnya, ditemukan pada
ekstremitas bawah, atas dan bawah)
c. Integritas Ego
Reaksi emosional bervariasi dan dapat berubah-ubah, misalnya perilaku
menunjukkan kurang kedekatan, kelelahan.Dapat mengekspresikan masalah atau
meminta maaf untuk perilaku intrapartum atau kehilangan kontrol dapat
mengekspresikan rasa takut mengenai kondisi bayi baru lahir atau perawatan
segera pada neonatal.
d. Eliminasi
Hemoroid sering ada menonjol kandung kemih mungkin teraba diatas simfisis
pubis atau karakter Uriruarius  mungkin dipasang.
e. Makanan/Cairan
Dapat mencegah haus lapar atau mual
f. Neurosensori Sensasi dan gerakan ekstremitas bawah menurun pada adanya
anastesia spinal dan analgesia.
g. Nyeri b/d Ketidaknyamanan
Misalnya setelah nyeri trauma jaringan / perbaikan episiotomi, kandung kemih
penuh atau perasaan dingin dengan menggigil.
h. Keamanan
Pada awalnya suhu tubuh meningkat sedikit.
i. Perbaikan episiotomi utuh dengan tepi jaringan merapat.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pola tidur b/d respon - respon hormonal dan psikologi atau ketidak
nyamanan proses kelelahan persalinan atau kebutuhan tuntutan anggota  keluarga.
Dengan kriteria hasil :
- Mengungkapkan keluhan, kesulitan tidur
- Perasaan cepat marah
Intervensi:
- Kaji persepsi klien terhadap kelelahan, kebutuhan tidur dan kekurangan tidur
- Kaji lingkungan Rumah sakit, ukuran dan situasi keluarga serta kesediaan
bantuan
- Anjurkan perlunya istirahat lebih awal daripada biasanya
- Beri informasi yang berhubungan dengan aspek-aspek positif tentang istirahat
dan tidur
- Anjurkan untuk pembatasan jumlah dan lamanya waktu kunjungan
- Anjurkan klien untuk menggunakan tablet vitamin dan zat besi setiap hari dan
pilih diet yang tepat
b. Nyeri  b/d pengeluaran lochia
c. Tujuan :
Nyeri teratasi
kriteria hasil :
- Ekspresi wajah tenang
- Secara verbal pasien menyatakan nyeri hilang atau berkurang
- Pasien tidak mengelus-elus perutnya lagi
Intervensi:
- Kaji dan catat lokasi nyeri, lamanya, intensitasnya, dan kaji tinggi fundus uteri
- Berikan Health Education tentang pentingnya beraktivitas untuk
memperlancar  pengeluaran lochia
- Ajarkan tekhnik relaksasi napas dalam dengan menarik nafas panjang lewat
hidung dan menghembuskan lewat mulut, dilakukan 3-4 kali
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, Irene M. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta: EGC
Dinata, Fredy. 2011. Perawatan Masa Nifas. (online: http://www.rsazra.co.id/index.php?
option=com_content&task=view&id=109&Itemid=2, diakses tanggal 12 April 2012)
Huliana, Mellyana. 2003. Perawatan Ibu Pasca Melahirkan. Jakarta : Puspa Swara.
Moctar Rustam. 2002. Sinopsis Obstetri Jilid 1. Jakarta
Reeder, Martin, Koniak-Griffin. 2011. Keperawatan Maternitas volume 2. Jakarta: EGC

Wiknjosastro Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan, Edisi Ketiga. Jakarta : YBP-SP.


Bobak, 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4, Jakarta : EGC
Bobak .I.M dan Jansen M.D 2000, Keperawatan Maternitas dan ginekologi, jilid I, yayasan
IAPKP, bandung
Bagian Obstetri Dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran UNPAD, 1993, Obstetri Fisiologi,
Elemen, Bandung
Manuaba, LB.G 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk
Pendidikan Bidan
Prawiroharjo S, 1999. Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai