Anda di halaman 1dari 71

PENATALAKSANAAN TEKNIK TOMOGRAFI DENGAN

KLINIS NEFROLITHIASIS DI RS PUSAT PERTAMINA

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Ahli Madya Kesehatan
bidang Teknik radiodiagnostik dan Radioterapi

DISUSUN OLEH :

ISRA ANDHIKA ALDIYAN


NPM : P.2.31.30.0.17.024

PROGRAM STUDI RADIOLOGI DIPLOMA 3


JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES RI JAKARTA II
2020
LEMBARAN PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah dengan judul :

PENATALAKSANAAN TEKNIK TOMOGRAFI DENGAN KLINIS


NEFROLITHIASIS DI RS PUSAT PERTAMINA

Disusun oleh : Isra Andhika Aldiyan / NPM : P2.31.30.0.17.024

Telah dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Program Diploa
3 Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Kemenkes
Jakarta II, Kementrian Kesehatan RI, dalam rangka Ujian Akhir Program untuk
memenuhi sebagian syarat guna memperoleh gelar Ahli Madya Kesehatan Bidan
Radiodiagnostik dan Radioterapi.

Pada tanggal 08 Juli 2020

Dewan Penguji :

1. Dr. Nursama Heru A, S.Si, M.Si


Penguji 1

2. Shinta Gunawati, SST, M.Si


Penguji 2

3. Sriyatun, SKM, MKM


Penguji 3

i
LEMBARAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah dengan judul :


PENATALAKSANAAN TEKNIK TOMOGRAFI DENGAN
KLINIS NEFROLITHIASIS DI RS PUSAT PERTAMINA
Disusun oleh : Isra Andhika Aldiyan / NPM : P2.31.30.0.17.024
Telah dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis ilmiah Jurusan Teknik
Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Jakarta II Kementerian
Kesehatan RI, dalam rangka Ujian Akhir Program untuk memenuhi sebagian syarat
guna memperoleh Gelar Ahli Madya Kesehatan Bidang Radiodiagnostik dan
Radioterapi.

Pada Tanggal 9 Juni 2020


Mengesahkan,
Pembimbing Utama/Materi Pembimbing Pendamping/Teknis

Dr. Nursama Heru A, S.Si, M.Si Shinta Gunawati, SST, M.Si


NIP : 196404201989031002 NIP:19830803200801200

Ketua Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan


Jakarta II Kementerian Kesehatan RI

Dr. Nursama Heru A, S.Si, M.Si


NIP : 196404201989031002

ii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ILMIAH

Saya yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan dengan sesungguhnya bahwa

Karya Tulis Ilmiah yang berjudul:

PENATALAKSANAAN TEKNIK TOMOGRAFI DENGAN


KLINIS NEFROLITHIASIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT
PERTAMINA

Yang dibuat dan diajukan sebagai syarat untuk menyelesaikan Pendidikan Diploma
3 Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Kementrian
Kesehatan RI Jakarta II adalah benar hasil karya penelitian saya sendiri dan bukan
merupakan tiruan atau duplikasi atau plagiat karya orang lain yang sudah
dipublikasikan, kecuali beberapa bagian yang sumbernya dicantumkan
sebagaimana mestinya sesuai dengan kaedah ilmiah.

Jakarta, 29 Mei 2020


Yang membuat pernyataan

Isra Andhika Aldiyan


NPM: P2.31.30.0.17.024

iii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

Saya yang bertanda tangan dibawah ini sebagai civitas akademik Jurusan Teknik
Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta II:

Nama : Isra Andhika Aldiyan


NPM : P2.31.30.0.17.024
Program Studi : Diploma 3
Judul Karya : Karya Tulis Ilmiah Tahun 2020

Demi pengembangan Ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberi izin


publikasi kepada Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes
Kemenkes Jakarta II dengan Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non Exclusive)
atas KTI yang berjudul:

PENATALAKSANAAN TEKNIK TOMOGRAFI DENGAN


KLINIS NEFROLITHIASIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT
PERTAMINA

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non
Eksklusif ini pihak jurusan berhak untuk menyimpan, mengalih media/format,
mengolah dalam bentuk pangkalan data (data base), merawat serta
mempublikasikan dengan ketentuan mencantumkan nama saya sebagai Pemilik
Hak Cipta Karya Tulis Ilmiah.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Jakarta
Pada Tanggal : 29 Mei 2020
Yang membuat pernyataan,

Isra Andhika Aldiyan


NPM: P2.31.30.0.17.024
iv
ABSTRACT

DIPLOME III STUDY PROGRAM


DEPARTMENT OF RADIODIAGNOSTIC AND RADIOTHERAPY
TECHNIQUE POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHTAN
JAKARTA II

SCIENTIFIC PAPER, 2020

ISRA ANDHIKA ALDIYAN (P2.31.30.0.17.024)

THE PROCEDURE OF TOMOGRAPHY TECHNIQUE WITH


NEPHROLITHIASIS CLINICAL AT PERTAMINA CENTRAL HOSPITAL
x, V chapter, 12 drawings, 0 tables, 7 attachments

BNO-IVP (Buick Nier Overzick Intravenous Pyelography) is a radiography


with injecting the positive contrast media through intravenous to see the functions
of urinary tract. The radiography of BNO-IVP at Pertamina Central Hospital is
using the tomography technique. This research was used descriptive qualitative
method and observation. The data were taken with the qualitative data processing
method. Collecting data was conducted by observation. The results obtained during
the BNO-IVP radiography can visualize the kidneys properly and have accuracy in
measuring the object thickness with fulcrum.

Keywords : tomography, BNO-IVP, kidney


Reference : 20 (2000 – 2019)

v
INTISARI

PROGRAM STUDI DIPLOMA III


JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA II

KARYA TULIS ILMIAH, 2020

ISRA ANDHIKA ALDIYAN (P2.31.30.0.17.024)

PENATALAKSANAAN TEKNIK TOMOGRAFI DENGAN KLINIS


NEFROLITHIASIS DI RS PUSAT PERTAMINA

x, V BAB, 12 gambar, 0 tabel, 7 lampiran

BNO-IVP (Buick Nier Overzick Intravenous Pyelography) adalah


pemeriksaan dengan memasukkan kontras media positif melalui intravena untuk
melihat fungsi traktus urinarius. Pemeriksaan BNO-IVP dirumah sakit pusat
pertamina menggunakan teknik tomografi. Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan metode kualitatif deskriptif dan observasi, Pengambilan data
dilakukan dengan metode pengolahan data secara kualitatif. Pengumpulan data
dilakukan dengan cara observasi. Hasil yang diperoleh selama pemeriksaan BNO-
IVP bisa memvisualisasikan ginjal dengan baik dan memiliki ketepatan dalam
menukur ketebaln objek dengan fulcrum.

Kata Kunci : tomografi, BNO-IVP, ginjal


Daftar Bacaan : 20 (2000 - 2019)

vi
KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis ingin mengucapkan puja dan puji syukur terhadap


kehadiran ALLAH SWT yang telah memberikan Kemudahan atas penyusunan
Karya Tulis Ilmiah ini. Sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini
tepat pada waktunya. Penulis juga tak lupa mengucapkan salam dan
shalawat kepada pihak-pihak yang telah membantu penyusunan Karya Tulis
Ilmiah ini. dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis mendapat motivasi dari:

1. Ketua Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan


Kementrian Kesehatan Jakarta II Dr. Nursama Heru A, S.Si, M.Si. yang juga
bertindak sebagai Pembimbing Materi yang juga telah memberikan saran dan
masukkan terhadap Karya Tulis Ilmiah ini.
2. Ibu Shinta Gunawati, SST, M.Si sebagai pembimbing teknis yang telah
membantu saya dalam menyusun karya tulis ilmiah ini.
3. Seluruh staf dan dosen Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II.
4. Alif M. Shalihin dan Fikri Adiansyah selaku instruktur praktek yang telah
memberikan pendapatnya untuk Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Keluarga Tercinta Papah, Mamah dan Adik yang telah memberikan
semangat kepada saya agar Karya Tulis Ilmiah ini dapat selesai tepat pada
waktunya.
6. Teman-teman Angkatan 2017 D III A dan B jurusan Teknik Radiodiagnostik
dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II.
7. Indah Amaranti yang telah menyemangatiku selama proses pembuatan KTI
berlangsung.
8. Ibnu Putra Septiar yang telah membantuku melewati kesulitan yang aku hadapi
selama menyusun KTI ini.
9. Rheza Sayudha dan Ilham Bobby Yanuar yang telah memberikan
pencerahan untuk Karya Tulis Ilmiah ini.
10. Seluruh Pihak-Pihak yang terlibat dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

vii
DAFTAR ISI

LEMBARAN PERSETUJUAN .......................................................................... i


LEMBARAN PENGESAHAN .......................................................................... ii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ILMIAH ................................ iii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................................. iv
ABSTRACT ....................................................................................................... v
INTISARI .......................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ...................................................................................... vii
DAFTAR ISI ................................................................................................... viii
BAB I .................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
C. Batasan Masalah ....................................................................................... 3
D. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 3
E. Manfaat Penelitian .................................................................................... 3
F. Keaslian Penelitian .................................................................................. 4
BAB II ................................................................................................................ 5
KAJIAN TEORI, KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
............................................................................................................................ 5
A. KAJIAN TEORI ....................................................................................... 5
1. Anatomi Traktus Urinarius..................................................................... 5
2. Patologi ............................................................................................... 12
3. Teknik Pemeriksaan BNO-IVP ............................................................ 14
4. Hakekat Tomografi .............................................................................. 18
B. KERANGKA KONSEP .......................................................................... 21
C. DEFINISI PERISTILAHAN ................................................................... 21
BAB III ............................................................................................................. 22
METODE PENELITIAN ................................................................................ 22
A. Desain Penelitian ..................................................................................... 22
B. Tempat dan Waktu .................................................................................. 22
C. Populasi dan Sampel ............................................................................... 22
D. Metode Pengumpulan Data...................................................................... 22
viii
E. Instrumen Penelitian ................................................................................ 23
F. Pengolahan Data dan Analisis Data ......................................................... 23
BAB IV ............................................................................................................. 24
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................................ 24
A. Hasil Penelitian ....................................................................................... 24
B. Pembahasan ............................................................................................ 34
BAB V............................................................................................................... 38
PENUTUP ........................................................................................................ 38
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 40
LAMPIRAN

ix
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Anatomi Traktus Urinarius 5
Gambar 2.2 Kandung Kemih 11
Gambar 2.3 Pergerakan Tabung 19
Gambar 2.4 Pergerakan Sinar X 20
Gambar 4.1 Pesawat Roentgen 24
Gambar 4.2 Flat Panel Detector 26
Gambar 4.3 Radiograf Foto Abdomen Polos Tn. I 28
Gambar 4.4 Radiograf BNO-IVP pada menit ke-15 Tn. I 30
Gambar 4.5 Radiograf BNO-IVP pada menit ke-17 dengan teknik tomografi Tn. I
31
Gambar 4.6 Radiograf BNO-IVP menit ke-20 Tn. I 32
Gambar 4.7 Radiograf BNO-IVP Full Blast Tn. I 33
Gambar 4.8 Radiograf BNO-IVP pada foto post void Tn. I 34

x
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Radiodiagnostik adalah suatu cabang ilmu radiologi yang


memanfaatkan radiasi pengion dengan menggunakan pesawat sinar-X
untuk mendiagnosa suatu penyakit. Penggunaan diagnosa medis sangat
diperlukan untuk mendeteksi kelainan dan berbagai penyakit yang ada
di organ tubuh tertentu. Dalam radiodiagnosik terdapat beberapa macam
pemeriksaan, salah satunya ialah pemeriksaan fluoroscopy. Pemeriksaan
fluoroscopy digunakan untuk diagnosa organ yang diintervensi secara
langsung misal intervensi cardiac (paru, lambung, ginjal, kateterisasi
Jantung, dll).
Pemeriksaan fluoroscopy dapat diterapkan untuk memeriksa ginjal.
Dalam melakukan pemeriksaan fluoroscopy pada ginjal biasanya dilakukan
dengan jenis pemeriksaan BNO-IVP. BNO-IVP (Buick Nier Overzick Intra
Vena Pyelografi) adalah pemeriksaan organ traktus urinaria dengan cara
memasukkan kontras media positif (radioopaque atau gambaran putih pada
film radiografi) kedalam tractus urinaria melalui pembuluh darah vena
cubiti (Sue and Suramana, 2018). Sedangkan menurut (Sah, 2017) BNO-
IVP (Buick Nier Overzick Intra Vena Pyelografi) adalah teknik di mana
media kontras iodinasi diberikan kepada pasien secara intravena yang
nantinya bergerak dalam darah dan akhirnya disaring dari ginjal dan
dibersihkan dari ureter dan kandung kemih selama berkemih.
Menurut Bontrager (2005) tujuan pemeriksaan BNO-IVP untuk
memvisualisasikan traktus urinarius, menilai kemampuan fungsional ginjal
dan mengevaluasi anatomi anomali. Selain itu, menurut (Imron, 2013)
Pemeriksaan ini juga banyak digunakan pada proses monitoring dan proses
bedah.
Pada umumnya penatalaksanaan BNO-IVP dengan menggunakan
teknik tomografi untuk kasus Nefrolithiasis tidak tervisualisasikan secara

1
2

baik, maka hanya beberapa Rumah Sakit melakukan tomografi, contohnya


RS Pusat Pertamina. Yang dimaksud dengan tomografi adalah teknik
khusus yang dapat digunakan untuk menunjukkan lapisan tertentu dari
tubuh yang tidak tertutup oleh gambar struktur di atasnya dan yang
mendasarinya (School Fort, 2006). Pemeriksaan dengan teknik tomografi
merupakan salah satu teknik radiografi dengan memanfaatkan pergerakan
tabung dan kaset secara berlawanan arah yang nantinya menghasilkan
gambaran radiografi dengan mengaburkan lapisan atas dan bawah dari
organ sekitar. Teknik ini umumnya digunakan untuk organ yang terletak
superposisi dengan struktur lainnya seperti ginjal. Teknik tomografi ini baik
sekali untuk memperlihatkan kontur dari ginjal (Muslim, 2014). Adapun
penggunaan teknik tomografi untuk menyelidiki struktur interior dari tubuh
manusia. Tomografi dapat diterapkan pada objek yang nantinya kita dapat
ditentukan baik itu proyeksi X-ray dengan X-ray aktual atau metode lain
(Markoe, 2006).
Berdasarkan pengalaman penulis selama PKL di beberapa Rumah
Sakit, penulis jarang menemukan pemeriksaan BNO-IVP dengan
menggunakan teknik tomografi, hal ini berbeda dengan pemeriksaan BNO-
IVP yang masih dilakukan di Rumah Sakit Pusat Pertamina yaitu masih
menggunakan teknik tomografi, hal ini lah yang membuat penulis tertarik
untuk melakukan penelitian dengan Judul “Penatalaksanaan BNO-IVP
menggunakan teknik tomografi dengan Klinis Neprolithiasis di RS Pusat
Pertamina”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang yang diceritakan penulis diatas
maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
Bagaimanakah prosedur pemeriksaan BNO-IVP (Blass Nier Oversiech-
Intra Vena Pyelografi) dengan klinis Nefrolithiasis menggunakan teknik
tomografi di RS Pusat Pertamina?
3

C. Batasan Masalah
Dalam batasan masalah, kali ini penulis hanya membahas tentang
prosedur pemeriksaan BNO-IVP dan teknik tomografi di Rumah sakit Pusat
Pertamina.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Tujuan umum dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui prosedur
pemeriksaan BNO-IVP dengan klinis Neprolithiasis menggunakan
teknik tomogram di Rumah Sakit Pusat Pertamina.
2. Tujuan Khusus
Tujuan Khusus di terbitkannya KTI ini meliputi:
a. Untuk menjelaskan persiapan & prosedur dalam melakukan
pemeriksaan teknik tomografi dengan klinis Nefrolithiasis di
Rumah Sakit Pusat Pertamina.
b. Untuk menganalisis kelebihan dan kekurangan prosedur
pemeriksaan teknik tomografi dengan klinis Nefrolithiasis di
Rumah Sakit Pusat Pertamina.

E. Manfaat Penelitian
1. Teoritis
Diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dalam
bidang radiodiagnostik pada pembaca yang ingin mengetahui
bagaimana teknik pemeriksaan Tomografi, terutama dapat menambah
referensi bagi ilmu pengetahuan dalam bidang teknik radiografi
sehingga dapat menambah pengetahuan di bidang radiografi.

2. Praktis
Untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman tentang
penatalaksanaan Teknik Tomografi pada pasien dengan klinis
Nefrolithasis dan untuk Radiografer sebagai acuan SOP pemeriksaan di
Rumah Sakit Tempat Penelitian ini diadakan.
4

F. Keaslian Penelitian
Penulis mengambil judul “Penatalaksanaan teknik Tomografi
dengan klinis Nefrolithiasis di Rumah Sakit Pusat Pertamina Kebayoran
Baru”. Sebelumnya penulis telah melihat Karya Tulis Ilmiah dari tahun
2014-2018 jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes
Jakarta II dan dapat memastikan tidak ada kesamaan dengan Karya Tulis
Ilmiah yang saya buat.
BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. KAJIAN TEORI
1. Anatomi Traktus Urinarius
Sistem urnari meliputi dua ginjal, dua ureter, kandung kemih dan uretra.
(Kenneth, 2014)

Gambar 2.1 Anatomi Traktus Urinarius


(Kenneth, 2014)
a. Ginjal
Peran ginjal terdiri dari tiga yang mana diantaranya ialah Filtrasi, absorbsi
aktif serta pasif dan sekresi. Glomerulus menghasilkan ultrafiltrat darah.
Sedangkan peran penting tubulus yang terdapat pada nephron yaitu tubulus
convolutus proximalis adalah membuat absorbsi substansia. Sama seperti
kelenjar lain pada organ ini juga ada komponen penting, adapun dua
komponen penting itu ialah penghasil zat sisa metabolisme dan saluran
penyalur zat sisa dari metabolisme. Perbedaanya dengan kelenjar lainnya,
organ ini menghasilkan urine tanpa menggunakan produksi sekret yang
dihasilkan oleh epitel kelenjar, melainkan menghasilkan urine
menggunakan cara mengambil cairan, kemudian melakukan penyaringan
terhadap semua substansi yang menyebaban ketidakseimbangan potensial
air yang berasal dari aliran darah atau lebih spesifiknya dari proksimal ke
distal.

5
6

Struktur ginjal : Jaringan ikat padat yang membungkus ginjal dinamakan


sebagai Capsula serta terdapat hilum yang merupakan tempat pembuluh
keluar masuk ginjal.
Ada dua bagian pada ginjal, adapun dua bagian itu ialah: Cortex dan
Medulla
1) Cortex
Terdapat pada bagian luar ginjal, tepatnya dibawah capsula sampai
mencapai basis pyrimidis yang berbatasan dengan medulla. Cortex
bercabang ke arah medulla yang letaknya terdapat diantara pyyramis
renalis yang juga berperan sebagai columna renalis. Pada bagian isi
cortex renalis dipenuhi oleh unit-unit fungsional yaitu Nephronoum
yang jumlahnya mencapai ± 2 juta pada tiap ginjal, yang masing-
masing terdiri dari:
a) Korpuskulum renal, pada umumnya unit ini memiliki 2 ujung yaitu:
(1) Polus vaskularis, yang merupakan ujung korpuskulum renal
yang juga merupakan tempat masuknya arteriola afferentia dan
tempat keluarnya arteriola afferentia dari kapiler glomeruli.
(2) Polus urinaris, Polus urinaris yang juga merupakan ujung
korpuskulum renal yang merupakan tempat awal dari tubulus
contortus proximalis.
Pada bagian korpuskulum renal terdapat 2 komponen:
(a) Glomerulus, yang merupakan kapiler arteri yang tersusun
seperti benang kusut, disebut rete capillare glomerulare.
Pada dinding kapiler terdapat endotheliocytus fenestratus
sebagai pelengkap dinding kapiler tersebut. Pada anyaman
kapiler pun juga sel mesangial terdapat yang juga
merupakan sel otot polos yang sudah mengalami
modifikasi.
(b) Capsula glomeruli, berbentuk seperti mangkuk memiliki
dinding dengan tebal kira-kira 2 lapis:
i. Paries externa terdapat pada jaringan epithel simplex
squamosum.
7

ii. Paries interna terdapat pada jaringan epithelium


simplex squamosum.

Untuk melihat tonjolan sitoplasma sebagai kaki-kaki, maka


bisa dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron maka
sel dinamakan podocytus. Penamaan tonjolan

i. Cytotrabecula
ii. Cytorodium

Dinding-dinding yang berjumlah 2 buah tadi saling


memisah dengan dibatasi oleh lumen cansulae (spatium
urinarium), akan mengumpulkan cairan kencing yang
teelah disaring.

(3) Tubuli Nephroni


Dimulai dari korpuskulum renal yang ada di polus vascularis.
Berurutan dari proksimal menuju distal adalah
(a) tubulus contortus proximalis
i. struktur berkelok - kelok dan letaknya didalam organ
cortex.
ii. Dinding terdiri dari : epithelium simplex cuboideum
atau simplex columnare rendah, sel-sel asidofil yang
kuat, seluruhnya mengandung mitokondria.
Bersamaan dengan penggunaan alat mikroskop
elektron sel pada asidofil tampak bersifat
epitheliocytus microvillosus, sehingga dengan
mkroskop optik barisan microvilli terlihat seperti
limbus yang disebut sebagai limbus peniciliatus. Sel
dasar juga menunjukkan garis gambaran disebut
limbus striatus basalis (merupakan ciri khusus sel
yang memiliki peran mengabsorbsikan).
(b) Tubulus attenatus, bentuk dari tubulus ini tidak berbelok-
belok. Adapun tubulus attenatus, terdiri atas :
8

i. Pars descendens yang memiliki bagian yang tebal,


dari bagian yang lurus tubulus proximalis sampai
kebawah kearah medulla. Dinding dilengkapi
epithelicytus simplex cuboideum.
ii. Pars descendens yang memiliki bagian yang tipis,
dari bagian lurus Pars descendens yang memiliki
bagian yang tebal. Dinding dilengkapi epithelicytus
simplex squamosum.
iii. Pars ascendens yang memiliki bagian yang tipis,
bagian yang naik ke pars acsendens adalah bagian
yang memiliki bagian permukaan yang tebal. Dinding
dilengkapi epitheliocytus simplex squamosum.
iv. Pars ascendens memiliki bagian yang tebal,
merupakan bagian yang mengarah keatas kearah
cortex. Dinding dilengkapi epitheliocytus simplex
cuboideum. Ansa nephroni juga dikenal sebagai
tubulus attenatus yang berbentuk huruf U dulu.
(c) Tubulus contortus distalis
i. Struktur belok-belok lagi dan terletak didalam cortex.
ii. Termasuk ruas paling distal pada nephronum.
iii. Dinding epithelium simplex cuboideum.
iv. Perbedaanya dengan tubulus contortus proximal,
pada tubulus ini mempunyai ciri:
Ukurannya lebih pendek dan ketebalannya lebih tipis,
memiliki lumen lebih besar yang dikarenakan dinding
sel lebih kecil, Pada epitheliocytus: mucrovili tidak
ada atau sedikit sekali, Epitheliocytus kurang asidofil
sepanjang garis lurus cortex dan tubulus, Contortus
distalis mengalami penyatuan terhadap arteriola
glomerularis afferens atau efferens.
Pada struktur organ tersebut sel-sel epitel dinding
tubulus menjadi kolumnare, inti saling merapat satu
9

sama lain, oleh karena itu barisan sel terlihat sangat


gelap, padat ; sehingga gambaran ini disebut sebagai
macula densa (noda padat). Pada dasarnya struktur ini
berfungsi untuk menghantarkan data-data osmolaritas
cairan didalam tubulus contortus distalis ke arteriole
afferentia. Tunica media yang ada pada arteriola
glomerularis afferens yang berada dekat corpusculum
renale mengalami perubahan, sel epitel disebut
sebagai juxta glomerulocytus, yang sifatnya
endocrinatus bersama-sama dengan organ
cytoplasma bergranulae.
Granula tampak terlihat baik dengan menggunakan
teknik Periodic Acid Schiff (PAS). Teknik (PAS)
adalah teknik pewarnaan pada macula densa dengan
menggunakan reagen Schiff untuk melihat granula.
Macula densa bersmaan dengan dinding arteriola
ditambah oleh juxta glomerulocytus memproduksi
apparatus juxtaglomerularis.
Apparatus memiliki sel - sel berwarna pucat, adapun
sel - sel tersebut disebut sebagai mesangiocytus extra
glumerularis. Membrana elastic interna arteriolae
tidak nampak pada bagian juxta glomerulocytus.
Juxtaglomerulocytus memproduksi renin, yang bisa
merubah angiotensinogen menjadi angiotensin I
Apabila zat terakhir ini berubah jadi angiotensin II
sehingga sekresi hormone aldosterone bertambah
yang dihasilkan oleh cortex glandula adrenalis. Jadi
reabsorpsi dan resorpsi natrium dan klorida pada
tubuli nephroni bisa dikontrol dan tensi darah bisa
menjadi berpengaruh.
10

2) Medulla
Bagian dalam medulla terisi oleh pyramis medularis yang berjumlah
10 sampai dengan 18 buah, dengan keterangan:
a) Basis pyramidis yang berhadapan dengan cortex.
b) Apex pyramidis yang menjuntai ke dalam sinus renalis.
Pada puncak bagian atas, yang disebut papilla renalis, terlihat daerah
berlobang-lobang seperti tapisan: area cribosa. Setiap lobang
foramen papillare merupakan muara tubulus renalis colligens.
Tubulus renalis colligens:
a) lanjutan dari tubulus contortus distalis,yaitu jaringan epitel
selapis kuboid
b) Terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian ujung proksimal yang
bentuknya melengkung : tubulus renalis arcuatus. Bagian
lanjutan yang lurus disebut tubulus colligens rectus.
c) Duktus papillaris: merupakan lanjutan tubulus renalis tubulus
renalis colligens yang terdapat dipapilla renalis. (Erfin
Firmawati, Ns., 2016)

b. Ureter
Ureter adalah saluran fibromuskular yang mengalirkan urin dari ginjal
ke kandung kemih. Sebagian terletak dalam rongga abdomen dan
sebagian terletak dalam rongga pelvis. Terdiri dari 2 saluran pipa,
masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika
urinaria). (Ramdhani sholih, 2015)

c. Kandung Kemih
Pada wanita kandung kemih terdapat diantara symphisis pubis Pada
wanita kandung kemih terdapat diantara symphisis pubis, uterus dan
vagina. Dari uterus tersebut dipisahkan oleh lipatan peritoneum, ruang
utero-viscal atau ruang douglas.
Bagian kandung kemih terdiri dari:
11

1) Fundus atau basis, yaitu bagian yang menghadap ke arah belakang


dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatial rectomuscle
yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferens, vesika seminalis dan
prostat.
2) Korpus, yaitu bagian antara vertex dan fundus.
3) Vertex atau apex, yaitu bagian yang runcing kearah anterior dan
berhubungan dengan vesica seminalis.
Dinding kandung kemih terdiri atas lapisan peritoneum (lapisan
sebelah luar), tunika muskularis (lapisan otot), tunika submukosa
dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam) dari ephitelium
transisional.

Gambar 2.2 Kandung Kemih


(Moorhead, Krus and Wilke, 2003)

d. Uretra
Di bawah kendali sendiri, urin yang disimpan mengalir ke luar tubuh
melalui uretra (Bontrager’s, 2018). Uretra, yang membawa urin keluar
dari tubuh, adalah musculomembra yang sempit nous tube dengan tipe
otot sfingter di leher kandung kemih. Uretra muncul di lubang uretra
internal dalam kandung kemih dan meluas sekitar I -2 inci (3,8 cm) pada
wanita dan 7 hingga 8 inci (17,8 hingga 20 cm) pada pria. Uretra wanita
melewati tebal dinding anterior vagina ke lubang uretra eksternal, yang
terletak di ruang depan sekitar 2,5 cm di depan lubang vagina. Uretra
pria memanjang dari blass turun ke ujung penis dan dibagi menjadi
12

prostat, membran, dan bagian sepon. Bagian prostat sekitar 2,5 cm,
mencapai dari kandung kemih ke dasar panggul, dan sepenuhnya
dikelilingi oleh prostat. Bagian membran saluran melewati melalui
diafragma urogenital; itu sedikit menyempit dan sekitar 1,3 cm
panjangnya. Bagian sepon melewati batang penis, memanjang dari
dasar panggul ke lubang uretra eksternal. Bagian prostat, selaput, dan
sepon distal uretra pria juga berfungsi sebagai saluran ekskresi dari
sistem reproduksi (Moorhead, Krus and Wilke, 2003).

2. Patologi
Menurut (Rasad, 2005) ada beberapa kelainan dari patologi ginjal yaitu:
a. Tumor Jinak Ginjal
Tumor kista ginjal. Penyakit tumor kista ginjal merupakan
kelompok heterogen yang meliputi kelainan herediter pada masa
pertumbuhan. Kelainan - kelainan ini penting karena agak lazim dan
sering menimbulkan masalah diagnostik bagi para klinis dan kadang
sering terjadi kekeliruan dengan tumor ganas.
Lesi umumnya tidak merusak, terdapat sebagai ruang kista yang multifle
atau tanggal dengan diameter beraneka ragam dengan batas yang luas.
Biasanya berukuran 1 cm – 5 cm, translusen, biasanya dilapisi dengan
membrane yang halus, bewarna abu-abu dan terisi cairan jernih.
b. Trauma Ginjal
Trauma traktus urinarius dapat terjadi akibat jatuh dari tempat yang
tinggi, kecelakaan lalu lintas, benturan benda keras, pukulan dan lain-
lain. Yang sering terkena trauma adalah ginjal, kandung kemih dan
urethra.
c. Radang Ginjal
Peradangan pada ginjal atau pyelonefritis. Tidak ada gambaran spesifik
untuk pyelonefritis akut pada foto polos abdomen dan urogram.
Radiogram yang penting pada pyelonefritis akut adalah nephrogram yang
abnormal dengan berkurangnya ekskresi kontras pada segmen ginjal
13

yang terlihat, pembesaran ginjal fokal atau difus dan perpindahan letak
kalik-kalik dan pelvic renalis.
d. Nefrolitiasis
Batu ginjal atau nefrolitiasis adalah kelainan terdapatnya suatu batu
pada pelvis atau kaliks ginjal atau juga kristal yang terbentuk menyerupai
batu didalam ginjal. Jika kristal atau massa yang terbentuk pada daerah
saluran kemih maka disebut dengan urolitiasis (Saputra Bagus, 2019).
Jenis-jenis batu ginjal yang dapak terbentuk pada tubuh antara lain
sebagai berikut:
1) Batu kalsium
Batu ini merupakan jenis paling banyak pada penderita batu ginjal,
batu ini mengandung kalsium oksalat, kalsium fosfat, atau keduanya.
Dengan hampir dijumpai pada setiap penderita yaitu kurang lebih
70%-80% dari seluruh batu saluran kemih (Saputra Bagus, 2019).
a) Beberapa ciri-ciri yang dimiliki batu kalsium oksalat antara lain
dengan bentuk keras, memiliki warna coklat tua, berbentuk seperti
murbei, umumnya terdiri atas kalsium oksalat monohidarat
dan kalsium oksalat dihidrat (Saputra Bagus, 2019).
b) Beberapa ciri-ciri yang dimiliki batu kalsium fosfat, seperti batu
lunak, dengan warna agak keputihan, licin pada bagian batu dan
bercampur dengan beberapa komponen dari pembentuk batu
ginjal yang lain (Saputra Bagus, 2019).
(1) Batu struvit memiliki ciri-ciri antara lain batu ini apabila
dalam keadaan murni berada di ginjal tanpa struktur
komponen batu yang lain maka tidak akan terlihat atau nampak
pada rontgen. Batu ini berbentuk seperti koral atau batu rusa.
Terbentuknya batu struvit terjadi akibat infeksi dari bakteri
yang menguraikan ureum (Saputra Bagus, 2019).
(2) Batu asam urat memiliki ciri-ciri dengan konstituen yang
keras, memiliki warna kuning coklat, licin dan tidak
tampak pada foto rontgen. (Saputra Bagus, 2019)
14

(3) Jenis-jenis lain. Jenis batu yang belum disebutkan ini adalah
sistin, xantin, triamterene dan batu silikat semua batu-batu ini
sangat jarang ditemui pada penderita penyakit batu saluran
kemih. Batu sistin dapat terbentuk akibat kelainan dari
metabolisme. Batu ini memiliki warna kuning muda, licin,
berlemak jika di raba, terlihat pada foto toraks tetapi jika masih
kecil tidak tampak pada foto toraks (Saputra Bagus, 2019).
Intinya batu ginjal adalah kelainan yang terjadi karena adanya
endapan garam kalsium didalam kandung kemih.(Rahma,
2015)
(4) Hydronefrosis
Hydronefrosis merupakan pelebaran tidak normal pada sistem
pelvicalyces. Penyebab penyakit ini yaitu: kerusakan akut
pada sistem perkencingan. Tentunya ini menjadi penyebab
dilatasi (pelebaran) pada pelvis kalik, kemudian ditandai
dengan gejala destruksi pada bagian parenkim yang terdapat di
ginjal. (Rasad, 2005)

3. Teknik Pemeriksaan BNO-IVP


a. Prosedur pemeriksaan BNO-IVP :
1) Persiapan Pasien
Pemeriksaan Pyelografi Intravena (PIV) membutuhkan persiapan,
persiapan yang diperlukan adalah makan selanjutnya sebelum
dilakukan pemeriksaan dilakukan pemberian gel (catharsis) pada
pasien atau laksans supaya usus besar kosong dari kolon fesyen yang
sifatnya menghalangi daerah ginjal. Hal tersebut bertujuan agar
tercipta keadaan dehidrasi ringan. Oasirn tidak diperbolehkan
meminum cairan (minum) yang dimulai dari jam pukul 22.00 WIB.
(Rasad, 2005)
2) Media Kontras
Media kontras (juga disebut agen kontras) digunakan ketika
pencitraan jaringan anatomi yang memiliki kontras subjek rendah.
15

Media kontras adalah zat yang dapat ditanamkan ke dalam tubuh


melalui suntikan atau konsumsi. Jenis media kontras yang digunakan
mengubah karakteristik penyerapan jaringan dengan menambah atau
mengurangi atenuasi berkas sinar-X. Agen kontras positif, seperti
barium dan yodium, memiliki nomor atom yang tinggi dan menyerap
lebih banyak sinar-X (meningkatkan atenuasi) daripada jaringan di
sekitarnya. Mefia kontras yang digunakan pada penelitian ini adalah
Iodium dengan merk dagang omnipaque. Adapun untuk volume
penyuntikan pada saat skin test menggunakan kontras sebanyak 1-2
cc yang disuntikkan di kulit lengan bagian distal. Sedangkan untuk
volume penyuntikan kontras pada foto pendahuluan menggunakan
kontras sebanyak 50cc yang disuntikkan melalui vena cubiti
(pembuluh darah telapak tangan yang mengalrkan darah ke seluruh
tubuh. Agen kontras positif menghasilkan lebih banyak kecerahan
daripada jaringan yang berdekatan. Penggunaan agen kontras adalah
metode yang efektif untuk meningkatkan kontras radiografi ketika
pencitraan area dengan kontras subjek rendah. (Fauber, 2017)
3) Teknik pengambilan Gambar
Dibuat foto polos abdomen untuk evaluasi persiapan yang dilakukan
dengan menggunakan ukuran film besar. Tujuh menit setelah
penyuntikan dibuat film bucky anterior posterior abdomen sebaiknya
segera sebelum pasien disuntik kontras, kedua ureter dibendung, baru
dibuat foto 7 menit. Kemudian bendungan dibuka, langsung dibuat
foto dimana diharapkan kedua ureter terisi, dilanjutkan dengan foto
15 dan 30 menit. Pada kasus tertentu dibuat foto 1 dan 2 jam, atau
malah foto 30 menit. Kemudian, pada Foto Terakhir pasien
diposisikan Prone.
b. Prosedur pemeriksaan BNO-IVP menurut (Sandstrom, 2003)
1) Pengertian BNO-IVP adalah pemeriksaan secara radiografi dari
traktus urinarius dengan penyuntikan bahan kontras secara intra vena
untuk menilai pelvi renalis dan sistem calyces pada ginjal, ureter,
16

vesica urinaria dan juga menilai uretra melalui pengosongan bahan


kontras pada vesica urinaria.
2) Tujuan pemeriksaan:
a) Menunjukan fungsi dan struktur dari sistem perkemihan.
b) Menunjukan kemampuan ginjal untuk filter media kontras dari
darah dan terkonsentrasi dengan urine.
3) Persiapan pasien:
a) Bila waktu memungkinkan, pasien mengikuti diet rendah selama
1 sampai 2 hari untuk mencegah pembentukan gas yang
disebabkan oleh fermentasi yang berlebihan dari usus.
b) Pasien makan makanan ringan di malam hari sebelum
pemeriksaan.
c) Minum obat pencahar malam sebelum pemeriksaan.
d) Pasien tidak boleh makan dan minum setelah tengah Malam pada
hari pemeriksaan. Namun, pasien tidak boleh mengalami
dehidrasi.
e) Pasien rawat jalan harus diberi pengarahan yang jelas tentang
urutan apapun dari dokter yang berkaitan dengan makanan,
asupan cairan, dan obat pencahar atau obat lainnya.
f) Pasien buang air kecil sebelum pemeriksaan dilakukan.
4) Teknik Pengambilan Gambar:
a) Pemeriksaan BNO-IVP diawali dengan melakukan foto BNO
atau foto pendahuluan (plain poto) dengan podisi pasien AP
supine, menggunakan film 30 cm × 40 cm, Jika kaset tidak
ditaruh pada Bucky tray maka umumnya kaset dilapisi
menggunakan grid. Tujuannya untuk mengecek persiapan pasien,
melihat sistem traktus urinarius dari nier (ginjal) hingga blass
(kandung kemih), menentukan batasan-batasan organ yang harus
tampak terutama ginjal serta untuk menentukan faktor eksposi
selanjutnya.
b) Setelah foto BNO dilakukan, maka dilanjutkan dengan
menyuntikan bahan kontras media dengan volume dosis kontras
17

yang diberikan untuk orang dewasa yaitu sekitar 30ml atau 100ml
dan volume dosis kontras yang diberikan untuk anak-anak
diberikan sesuai dengan berat badan.
c) Kemudian dilakukan kompresi ureter setinggi Spina Illiaca
Anterior Superior (SIAS) yang bertujuan untuk menahan kontras
media tetap berada pada ginjal (system pelvivalyces) dan
proksimal dari ureter. Kontra-indikasi dari kompresi ureter adalah
batu pada sistem urinaria, aneurisma colostomy, massa pada
abdomen dan trauma.
d) Eksposi pada menit ke-2 sampai menit ke-8 dengan posisi AP
supine menggunakan film 24 cm × 30 cm setelah penyuntikan
kontras media untuk memperlihatkan fase nephrogram, yaitu fase
dimana kontras media masih berada di daerah nepron dari ginjal.
e) Eksposi pada menit ke-15 sampai ke-20 dengan posisi
AP supine menggunakan film 30 cm × 40 cm setelah
penyuntikan dan kompresi ureter dilepaskan, yaitu untuk
memperlihatkan struktur organ traktus urinarius secara
keseluruhan.
f) Untuk menilai vesica urinaria, maka diambil foto full blast
dengan posisi AP supine menggunakan film 18 cm × 24 cm.
g) Setelah foto full blast, pasien dianjurkan untuk membuang air
kecil kemudian diambil foto post void adalah fase terakhir pada
pemeriksaan BNO-IVP dengan posisi AP supine menggunakan
film 18 cm × 24 cm untuk memperlihatkan fungsi blast mikturisi.

c. Prosedur pemeriksaan BNO-IVP menurut Meschan (Rasad, 2005) :


1) Pengambilan gambar BNO atau abdomen polos.
2) Setelah pengambilan gambar BNO dilakukan maka dilanjutkan
dengan menyuntikan bahan kontras media. Untuk hipertensi diberikan
kontras media 20-30 ml.
3) Pengambilan gambar pada menit ke-3
4) Pengambilan gambar pada menit ke-5
18

5) Pengambilan gambar pada menit ke-10


6) Pengambilan gambar pada menit ke-20.

4. Hakekat Tomografi
a. Pengertian Tomografi
Tomografi adalah teknik yang relatif "baru". Gambar pertama diperoleh
pada tahun 1957 oleh Bartolomew dan Casagrande [BAR 57]: mereka
mengkarakterisasi kepadatan partikel unggun terfluidisasi, di dalam riser
berdinding baja. Gambar medis pertama dilakukan oleh Hounsfield pada
tahun 1972, dan sebagian besar aplikasi industri dikembangkan jauh
kemudian, pada 1980-an (Baruchel, 2000). Sedangkan menurut (Fallis,
2013) radiografi bagian-tubuh (atau lebih tepatnya, tomografi) adalah
istilah yang digunakan untuk menunjuk teknik radiografi di mana
sebagian besar masalah gambar yang ditumpangkan diatasi. Tomografi
adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk teknik di mana bidang
tubuh yang telah ditentukan ditunjukkan dalam fokus pada radiografi.
Struktur tubuh lainnya di atas atau di bawah bidang yang menarik
dihilangkan dari gambar atau diterjemahkan sebagai kekaburan
kepadatan rendah yang disebabkan oleh gerakan, sedangkan menurut
(Baruchel, 2000). Teknik pencitraan sinar-X seperti radiografi,
radioskopi dan tomografi digunakan dalam aplikasi spesifik yang lebih
luas dan lebih luas, khususnya dalam bidang medis dan dalam ilmu
material. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka
teknik tomogram ini selalu dikombinasikan dengan model dan tipe
yang berbeda-beda dan tentunya lebih canggih dari produk-produk
pesawat rontgen lainnya.
b. Prinsip Tomografi
Sedangkan menurut (Dance et al., 2014) Prinsip kerja Tomografi adalah
tomografi konvensional menggunakan prinsip pengaburan gambar untuk
menghilangkan struktur di atasnya dari gambar radiologis sambil
memungkinkan satu bagian tubuh tetap fokus. Selama akuisisi gambar,
tabung sinar X bergerak, menyebabkan gambar yang diproyeksikan dari
19

suatu wilayah tubuh bergerak, tetapi berlawanan arah dengan tabung.


Untuk menangkap gambar ini, reseptor gambar bergerak secara
bersamaan dalam arah yang sama dengan gambar yang diproyeksikan
(Gambar. 2.3). Jika tubuh dianggap terdiri dari serangkaian bagian yang
paralel dengan reseptor gambar, maka gambar dari bagian yang berbeda
akan bergerak pada berbagai kecepatan, dan hanya bagian yang
gambarnya bergerak dengan kecepatan yang sama dengan reseptor
gambar akan menjadi focus.ini terlihat dalam (Gambar. 2.3), tempat
tabung sinar-X dan kaset gambar bergerak dengan kecepatan konstan.
Bagian dalam fokus dikenal sebagai bidang fokus. Daerah tubuh di atas
dan di bawah bidang fokus semakin kabur karena jarak mereka dari
pesawat ini meningkat.

Gambar 2.3 Pergerakan Tabung


(Dance et al., 2014)

Maka dapat dipahami bahwa ketebalan zona fokus berhubungan dengan


kecepatan gambar dari area yang berdekatan dengan bidang fokus relatif
terhadap reseptor gambar. misalnya, ketika ada gerakan tabung sinar X
besar, kecepatan gambar relatif terhadap reseptor gambar meningkat
dengan cepat untuk bagian yang jauh dari bidang fokus; akibatnya,
volume yang tidak kabur (zona fokus) akan berkurang ketebalannya, dan
sebaliknya, jika gerakan tabung kecil, zona fokus akan menjadi besar.
dengan cara yang sama, dapat dilihat bahwa objek di atas bidang fokus,
yang jauh dari reseptor gambar, akan lebih cepat kabur daripada objek
yang lebih dekat ke reseptor gambar. contoh tomografi konvensional,
20

yang diuraikan di atas, dapat dengan mudah diperluas untuk digunakan


dalam radiografi gigi dengan mempertimbangkan kasus untuk
memvariasikan kecepatan reseptor gambar. jika kecepatan reseptor
gambar meningkat, dapat disimpulkan bahwa area fokus, yang dikenal
dalam kedokteran gigi sebagai palung fokus, akan bergerak menjauh
dari reseptor gambar, dengan sebaliknya terjadi jika kecepatan
berkurang. dengan cara ini, palung focal dapat dibuat melengkung,
seperti terlihat pada (Gambar2.4), di mana dapat dilihat bahwa palung
fokus berkurang dalam ketebalan ketika bergerak menjauh dari reseptor
gambar

Gambar.2.4. Pergerakan Sinar X


(Dance et al., 2014)

Menurut (Edy, 2010), Prinsip Kerja Tomografi adalah sebagai berikut :


1) basic: X-ray source, objek dan media pencitraan (film) serta
pergerakan yang sinkron antara 2 atau 3 elemen selama eksposure.
2) Dilakukan dengan cara pergerakan tabung dan film ke arah
berlawanan diantara pasien yang sedang dalam posisi diam.

Prinsip pengaburan
1) Pada awal eksposure posisi T1 dan F1, selama eksposure tube dan film
akan bergerak ke T2 dan F2.
2) Fokal plane: terletak pada level rotasi axis yang disebut fulkrum //
tabletop.
21

3) Struktur setinggi fokal plane akan menjadi fokus, sedangkan struktur-


struktur di atas dan di bawah akan dikaburkan.
4) Stuktur pada fokus akan dicitrakan pada posisi yang sama pada film.

B. KERANGKA KONSEP

C. DEFINISI PERISTILAHAN
Menurut (Sue and Suramana, 2018) BNO-IVP (Buick Nier Overzick
Intra Vena Pyelografi) adalah pemeriksaan traktus dengan cara
memasukkan kontras media positif (radioopaque atau gambaran putih pada
film radiografi). Kedalam tractus urinaria melalui pembuluh darah vena
cubiti.
Nefrolitiasis (batu ginjal) merupakan salah satu penyakit ginjal,
dimana ditemukannya batu yang mengandung komponen kristal dan
matriks organik yang merupakan penyebab terbanyak kelainan saluran
kemih. (Fauzi and Putra, 2016)
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Metode penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif
kualitatif berupa studi kasus Nefrolitiasis dengan melakukan observasi pada
instalasi Radiologi di RS Pusat Pertamina.

B. Tempat dan Waktu


Observasi dilakukan dari bulan Mei 2019 di bagian radiologi
pelayanan kesehatan RS Pusat Pertamina.

C. Populasi dan Sampel


Penelitian ini menggunakan populasi yaitu semua pasien yang akan
melakukan pemeriksaan radiologi BNO-IVP. Sedangkan sampel dari
penelitian ini adalah pasien BNO-IVP dengan klinis nefrolithiasis yang
dilakukan dengan menggunakan teknik tomografi sebanyak 1 orang.

D. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data karya tulis ilmiah ini dilakukan dengan
cara:
1. Observasi
Observasi langsung dilakukan di instalasi radiologi pelayanan
kesehatan bagian catlab Rumah Sakit Pusat Pertamina selama bulan
Mei 2019. Selama observasi penulis melakukan pengamatan secara
langsung dari awal pemeriksaan BNO-IVP dengan teknik tomografi
dengan klinis Nefrolithiasis sampai akhir di bagian pelayanan kesehatan
radiologi Rumah Sakit Pusat Pertamina.
2. Sumber Literatur & Studi Kepustakaan/buku
Untuk menambah perbendaharaan dan literature yang dimuat dalam
penelitian ini. maka penulis juga mengambil bahan dan data dari artikel,
jurnal E-book/buku, dll.

22
23

E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini berupa kamera untuk melihat pemeriksaan
secara langsung serta dokumen peneltian/log book untuk mencatat semua
hasil kerja pada pemeriksaan ini serta pesawat tomografi.

F. Pengolahan Data dan Analisis Data


Pengolahan data penelitian ini secara kualitatif dari hasil gambaran
dari pemeriksaan BNO-IVP secara deskriptif sehingga menjadi hasil
kesimpulan untuk menjawab permasalahan dalam karya tulis ilmiah. Data
dianalisis dengan membaca dan mempelajari beberapa buku yang
berhubungan dengan pemeriksaan yang dilakukan diatas serta
mengumpulkan semua informasi menggunakan log book untuk mencatat
semua hasil kerja pemeriksaan tersebut. Kegiatan pemeriksaan ini memakai
persiapan untuk pasien sendiri.
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang diperoleh selama melakukan observasi pemeriksaan
BNO-IVP dengan teknik tomografi pada pasien dengan klinis nefrolithiasis
di Rumah Sakit Pusat Pertamina adalah sebagai berikut:
1. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
a. Pesawat rongent dengan tomografi
Pada pemeriksaan BNO-IVP dengan teknik tomogram di unit
Radiologi Rumah Sakit Pusat Pertamina, pesawat yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Merek Pesawat : Philips
Tipe Pesawat : Siroskop CX
Nomor Seri Pesawat : 07423
Tegangan Tabung : 150 kV
Arus Tabung : 400 mA

Gambar 4.1 Pesawat Roentgen


(RSPP, “telah diolah kembali”)

24
25

b. Flat Panel detector


Perangkat deteksi radiasi flat-panel datar-lapis mendasari generasi
baru pencitraan X-ray, dan ini semakin menggantikan kaset film
layar, dan juga tabung intensifier Gambar (II) ditambah sistem
kamera optik. Tidak seperti kaset CR, yang dapat dipertukarkan,
detektor panel datar (FPDs) untuk fluoroskopi digital (DF)
biasanya perlengkapan permanen. Jenis yang paling sukses dari
mereka, yang saat ini mendapatkan adopsi paling luas dalam
radiologi, menggunakan apa yang dikenal sebagai deteksi tidak
langsung energi sinar-X. Seperti halnya kaset film, deteksi tidak
langsung melibatkan proses dua langkah, di mana energi X-ray
pertama-tama diubah menjadi cahaya, dan kemudian gambar
ditangkap dengan sistem pencitraan yang peka terhadap cahaya.
Dengan demikian, panel datar pendeteksi tidak langsung terdiri dari
dua lapisan tipis yang independen: satu dari bahan kilau, untuk
menghasilkan cahaya ketika dipukul dengan foton X-ray, dan
beberapa bagian lainnya dari beberapa photodetektor kecil untuk
mendeteksi dan melokalisasi cahaya. Reseptor gambar untuk sistem
FPD deteksi langsung juga terdiri dari dua lapisan solid-state tipis,
tetapi di sini prosesnya sepenuhnya elektronik, dengan melewati
langkah menengah mengubah energi X-ray menjadi cahaya. Sinar-
X menimpa pada selembar fotokonduktor silikon amorf, bahan
semikonduktor, elektron yang dimasukkan ke dalam pita konduksi
kemudian dikumpulkan segera oleh elektroda lokal mikroskopis,
satu set untuk setiap piksel dan diakses oleh transistor film tipis
berbasis silikon (TFT) pada sejumlah lapisan yang berdekatan.
(Wolbarst, 2005)
Sinar-X tidak dapat dengan mudah difokuskan, sebagaimana cahaya
dapat, sehingga reseptor gambar sinar-X itu sendiri harus sebanding
dalam ukuran dengan objek yang sedang dipelajari, seperti halnya
dengan film radiografi, tentu saja dan tabung II yang besar dapat
kira-kira seukuran dari tong sampah dapur. Reseptor gambar
26

detektor panel datar memiliki keunggulan yang jelas, antara lain,


dari ukuran yang relatif kecil dan berat yang rendah. FPD dengan
area aktif 30x40cm (12x16 in.), Dengan diagonal 50 cm
membutuhkan kurang dari seperempat volume 30 cm II, dan kurang
dari 15% dari volume 40 cm II. Selain itu, FPD mengambil tempat
tidak hanya II, tetapi juga perangkat rekaman gambar terlampir,
termasuk TV atau kamera CCD, kamera cine 35-mm, dan perangkat
spot film. Hasilnya adalah peningkatan akses yang jauh ke pasien
dalam prosedur intervensi Berat yang lebih rendah, lebih dari itu,
memungkinkan pengurangan dalam jumlah besar dan biaya
suprastruktur mekanik. (Wolbarst, 2005)

Gambar 4.2 Flat Panel Detector


(RSPP: “telah diolah kembali”)

c. Imaging Plate (Pelat Gambar)


Pelat gambar (layar dibuat menggunakan fosfor yang dapat difoto-
foto) diposisikan dalam kaset kedap cahaya yang terpapar dengan
gambar sinar X pasien dan kemudian menghasilkan gambar digital
dalam sistem yang mengekstraksi pelat yang terpapar dari detektor
sambil melindunginya dari cahaya sekitar, membacanya,
menghapus gambar dan mengembalikannya ke pengguna dalam
detector yang siap digunakan kembali. (“Diagnostic Radiology
Physics,”2014)
27

d. Jenis Processing
1) System
Merk: Kodak
Type: Direct View CR 850
2) Laser image
Merk: Kodak
Type: Dry View 6800

e. Peralatan yang tersimpan pada trolley set:


1) Peralatan Steril:
a) Wings needle ukuran 19, 21, 23
b) Spuit 25 cc (2 buah)
c) Kontas media positif (omnipaque) 300 cc
d) Kapas alcohol
2) Peralatan Non Steril:
a) Tourniquet
b) Obat-obatan emergency
c) Alat Kompresi

2. Persiapan Pasien
Sebelum pemeriksaan pasien cek ureum/creatine terlebih dahulu,
Seetelah itu pasien diberi tahu makan makanan lunak (bubur dan
kecap) mulai sore dari jam 16.00 sampai dengan 20.00 WIB, Sesudah
makan malam lunak minum obat cuci perut Dulcolax (4 tablet) pada
jam 20.00 WIB. Setelah meminum obat cuci perut Dulcolax atau garam
inggris, dilarang makan / minum sampai pemeriksaan radiologi
dinyatakan selesai. Jam 04.00 atau jam 05.55 WIB masukan 1
Dulcolax Suppositoria ke anus sebelum buang air besar.

3. Teknik Pemeriksaan
Pasien yang melakukan pemeriksaan BNO-IVP di Rumah Sakit Pusat
Pertamina adalah:
28

Nama : TN. I
Umur : 45 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Diagnosa : Nefrolithiasis
Sebelum pemeriksaan dilakukan pasien mengganti baju dengan baju
pasien yang telah disediakan di rumah sakit, melepaskan barang-
barang yang mengandung unsur logam.
a. Foto Pendahuluan
Pada pemeriksaan BNO-IVP di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Foto
pertama yang dilakukan adalah foto abdomen non-kontras (polos)
dengan posisi pasien supine diatas meja pemeriksaan dan
menggunakan factor eksposi yaitu kV : 85 mAs : 40, MSP tubuh
sejajar dengan pertengahan meja pemeriksaan. Arah sinar - X tegak
lurus menembus lumbal III. Menggunakan kaset ukuran 35 cm
× 43 cm yang dipasang pada bucky tray yang berada dibawah
meja pemeriksaan. Eksposi dilakukan sesuai instruksi tarik nafas,
keluarkan nafas dan tahan nafas. Kemudian, lakukan eksposi.
Tujuan dari foto pendahuluan adalah untuk menentukan faktor
eksposi yang akan digunakan pada tahap selanjutnya, melihat
kondisi ginjal, melihat persiapan pasien dan menentukan batas-
batas organ yang harus tampak. Batas atas procecus xyphoideus
dan batas bawah simphysis pubis.

Gambar 4.3 Radiograf Foto Abdomen Polos Tn. I


(RSPP, 2019)
29

Kriteria gambaran pada foto abdomen polos antara lain: bisa


memperlihatkan kontur ginjal, tampak gambar batu berwarna putih
(opak) pada ginjal kiri dengan batas atas procesus xyphoideus dan
batas bawah simphisis pubis.
Sebelum penyuntikan bahan kontras pasien melakukan skin test
dengan volume sebanyak 1-2 cc terlebih dahulu untuk menghetahui
apakah pasien alergi terhadap obat kontras. Jika tidak tanda-tanda
pasien alergi kontras seperti mual, pusing dan merinding diseluruh
tubuh dan foto pendahuluan yang dilakukan sebelumnya sudah
bagus yang ditandai dengan dicek oleh radiografer maka pasien
diminta untuk mengisi informed consent (surat persetujuan) untuk
melakukan tindakan penyuntikan obat kontras. Sesudah mengisi
informed consent perawat melakukan tindakan penyuntikan dengan
volume kontas yang disuntikkan sebanyak 50 cc melalui vena cubiti,
kemudian dilakukan kompresi dengan menggunakan dua buah bola
tenis dan diikat menggunakan sabuk pengencang.

b. Foto Menit ke-15


Pada foto menit ke-15 posisi pasien sama seperti foto
pendahuluan. Foto ini bergantung pada kompresi dipinggang, kalau
ompresi dipinggang tidak kencang tidak sampai 15 menit fotonya.
Selain itu, Pasien diposisikan supine diatas meja pemeriksaan, MSP
tubuh sejajar dengan meja pemeriksaan. Arah sinar-X tegak lurus
menembus lumbal III, batas atas procesus xyphoidus dan alam
bucky tray yang berada dibawah meja pemeriksa sistem pelvi-
calyces. Eksposi dilakukan sesuai aba-aba tarik nafas, keluarkan
nafas dan tahan nafas. Kemudian lakukan eksposi batas bawah
mencakup kedua crista illica. Menggunakan kaset ukuran 24cm ×
30cm yang dipasang melintang didalam bucky tray yang berada
dibawah meja pemeriksaan tujuannya untuk menilai sistem pelvi-
calyces. Eksposi dilakukan sesuai aba-aba tarik nafas, keluarkan
nafas dan tahan nafas. Kemudian lakukan eksposi.
30

Gambar 4.4 Radiograf BNO-IVP pada menit ke-15 Tn.I


(RSPP, 2019)

Pada foto menit ke-15 tampak bahan kontras mengisi dua ginjal
(baik kanan maupun kiri).

c. Foto Menit ke-17 (dengan teknik tomografi)


Foto menit ke-17 dengan menggunakan teknik tomografi sehingga
pada fase ini dinamakan nefrotomografi. Tujuannya untuk melihat
kondisi ginjal menggunakan kaset 24 cm × 30 cm melintang.
Adapun pengaturan untuk pelaksanaan tomografi Sakit Pusat
Pertamina adalah sebagai berikut:
1) Posisi pasien :
a) pasien diposisikan supine.
b) pertengahan tubuh pasien sejajar dengan meja pemeriksaan.
2) Posisi objek : MSP tubuh sejajar dengan meja pemeriksaan.
3) Central ray diatur tegak lurus dengan kaset.
4) Central point menembus lumbar III
5) Menggunakan proyeksi AP
6) Pengaturan Prosedur pesawat tomografi:
ukur ketebalan pasien dengan menggunakan alat ukur fulcrum
sehingga didapat ketebalan 22,5 cm. Ketinggian fulcrum yang
didapat untuk mengukur ketebalan di bagi 3 karena posisi ginjal
31

terletak 1/3 ketebalan tubuh dari posterior. Karena ketebalan


pasien yang didapat adalah 22,5 sehingga ketinggian fulcrum
yang didapat yaitu 7,5 cm. Setelah didapat ketinggian fulcrum,
kemudian mengatur penyudutan tomografi sebesar 25°. Eksposi
dilakukan sesuai aba-aba yaitu tarik nafas, keluarkan nafas dan
tahan nafas dan terakhir lakukan eksposi ditahan sampai tube
berhenti.

Gambar 4.5
Radiograf BNO-IVP pada menit ke-17 dengan teknik tomografi
Tn.I
(RSPP, 2019)

Kriteria gambaran yang dihasilkan tampak kontras telah


mengisi ginjal dan kedua kontur ginjal terlihat jelas.

d. Foto Menit ke 20
Setelah itu foto dengan menggunakan teknik tomografi kompresi
dibuka. Tujuannya untuk melihat ureter Pengambilan foto dilakukan
dengan posisi pasien supine diatas meja pemeriksaan, MSP tubuh
sejajar dengan pertengahan meja pemeriksaan. Arah sinar-X tegak
lurus film menembus lumbal III. Menggunakan kaset ukuran 35 cm
× 43 cm yang dipasang didalam bucky tray yang berada dibawah
meja pemeriksaan. Batas atas procecus xyphoideus dan batas bawah
32

simphysis pubis. Eksposi dilakukan sesuai aba-aba yaitu tarik nafas,


keluarkan nafas dan tahan nafas. Kemudian lakukan eksposi.

Gambar 4.6 Radiograf BNO-IVP menit ke-20 Tn. I


(RSPP, 2019)

Pada gambar menit ke-20 yang terlihat antara lain: ginjal kanan dan
kiri terisi kontras dan kontras di pelvicalyces kanan dan kiri turun ke
blass.

e. Foto Full Blast


Dilakukan pada menit ke-60. Tujuannya untuk melihat Blass
(kandung kemih) agar terisi penuh cairan kontras.Posisi pasien sama
pada foto menit ke-20. Pasien diposisikan supine diatas meja
pemeriksaan, MSP tubuh sejajar dengan meja pemeriksaan. Arah
sinar-X tegak lurus film menembus lumbal III, Menggunkan kaset
ukuran 35 cm × 43 cm yang dipasang didalam bucky tray yang
berada dibawah meja pemeriksaan. Batas atas procesus xyphoideus
dan batas bawah symphysis pubis. Eksposi dilakukan sesuai aba-aba
yaitu tarik nafas, keluarkan nafas dan tahan nafas. Kemudian
lakukan eksposi.
33

Gambar 4.7 Radiograf BNO-IVP Full Blast Tn. I


(RSPP, 2019)

Kriteria gambar pada menit ke-60 tampak kontras sudah mengisi


daerah blass dan masih tersisa sedikit di daerah pelvicalyces kanan
dan kiri.

f. Foto Post Void


Foto Post Void adalah rangkaian pemeriksaan terakhir yang
dilakukan di dalam pemeriksaan BNO-IVP. Sebelum melakukan
foto pasien dipersilahkan untuk buang air kecil terlebih dahulu.
Pasien diposisikan supine diatas meja pemeriksaan. MSP tubuh
sejajar dengan pertengahan meja pemeriksaan. Arah sinar - X tegak
lurus menembus lumbal ke-III. Menggunakan kaset ukuran 35 cm ×
43 cm yang dipasang didalam bucky tray yang berada dibawah meja
pemeriksaan. Batas atas procesus xyphoideus dan batas bawah
symphysis pubis. Eksposi dilakukan sesuai aba-aba yaitu tarik nafas,
keluarkan nafas dan tahan nafas. Kemudian lakukan eksposi. Tujuan
dilakukanya foto terakhir ini adalah untuk melihat fungsi blass
mikturisi.
34

Gambar 4.8 Radiograf BNO-IVP pada foto post void Tn. I


(RSPP, 2019)

Kriteria Gambaran masih tersisa sedikit bahan kontras di area


kandung kemih.

B. Pembahasan
1. Persiapan & Prosedur pemeriksaan teknik tomografi dengan klinis
Nefrolithiasis di Rumah Sakit Pusat Pertamina.
Batu ginjal atau nefrolitiasis adalah kelainan terdapatnya suatu batu
pada pelvis atau kaliks ginjal atau juga kristal yang terbentuk
menyerupai batu di dalam ginjal. Jika kristal atau massa yang terbentuk
pada daerah saluran kemih maka disebut dengan urolitiasis (Purnomo,
2003). Adapun untuk mendiagnosa penyakit kelainan nefrolithiasis
dengan menggunakan teknik tomografi menggunakan persiapan dan
prosedur sebagai berikut :
Persiapan pemeriksaan yang dilakukan oleh pasien, yaitu makan
sebelum dilakukan pemeriksaan dilakukan pemberian gel (catharsis)
pada pasien Atau laksans supaya usus besar kosong dari kolon fesyen
yang sifatnya menghalangi daerah ginjal.supaya bisa dalam keadaan
dehidrasi ringan. Oasirn tidak diperbolehkan menerima cairan (minum)
yang dimulai dari pukul 22.00 WIB. Selain itu, persiapan lain yang
harus dilakukan oleh pasien yaitu: harus makan makanan lunak seperti:
bubur kecap, minum garam inggris, tidak boleh merokok, tidak boleh
banyak bicara dan mengisi informed consent (surat persetujuan) untuk
35

dilakukan tindakan. Sebelum mengisi informed consent pasien diberi


penjelasan tentang efek samping penyuntikan kontras, ada atau tidaknya
riwayat penyakit sebelumnya, ada atau tidaknya alergi yang disebabkan
oleh makanan laut, dll. Pada saat mengisi informed consent pengisian
inform consent hendaknya dilakukan oleh pasien itu sendiri atau
keluarga terdekat pasien. Administrasi rumah sakit melakukan
penjadwalan pasien untuk pemeriksaan BNO-IVP serta diberikan garam
inggris oleh administrasi Rumah Sakit.
Untuk prosedur pemeriksaan diawali dari foto pendahuluan (BNO
polos) dengan menggunakan 85 kV 40mAs sebagai faktor eksposi awal.
tujuannya adalah untuk menentukan faktor eksposi yang akan
digunakan pada tahap selanjutnya, melihat kondisi ginjal, melihat
persiapan pasien dan menentukan batas-batas organ yang harus
tampak.pada tahap ini pasien wajib di skin test terlebih dahulu dengan
kontras positif jenis Iopamin sebanyak 1 cc dengan tujuan untuk
menghetahui ada tidaknya alergi pada pasien tersebut. Jika pasien tidak
alergi maka pemeriksaan dilanjutkan ke tahap selanjutnya yakni
penyuntikan kontras sebanyak 50cc melalui vena cubiti pasien, lalu
pasien dikompresi dipinggang dengan menggunakan dua buah bola tenis
dan satu buah sabuk pengencang. Sesudah itu, dilanjutkan dengan
pengambilan foto kedua (foto menit ke-15) pada tahap ini posisi pasien
masih sama dengan foto sebelumnya menggunakan kaset 35 × 43 cm
dan foto bergantung pada kuatnya kompresi yang dipasang dipinggang
pasien pada foto sebelumnya jika kompresi dipinggang tidak kencang
maka foto tidak sampai 15 menit, foto ketiga (foto menit ke-17) dengan
menggunakan tomogram,foto ini dilakukan setelah penyuntikan bahan
kontras dan setelah pasien di kompresi.Sesudah itu kompresi dilepas dan
lanjut ke tahap berikutnya yakni foto keempat (foto menit ke-20) dengan
posisi pasien supine dan menggunakan factor eksposi yang sama.
Tujuannya adalah untuk melihat ureter, kemudian dibuat foto full blass
atau foto pada menit ke -60. Pasien diposisikan seperti pada foto yang
36

sebelumnya dan terakhir foto post voiding sesudah pasien buang air
kecil.
Pada foto menit ke -17 foto dilakukan dengan menggunakan teknik
tomografi dan pada tahap ini sering disebut dengan fase nefrotomografi.
Nefrotomografi mempunyai peranan yang sangat penting untuk melihat
tinggi ginjal dengan menggunakan tomografi kita bisa mengukur tinggi
ginjal menggunakan Skala pada Fulcrum serta gambaran tervisualisasi
dengan baik. Apabila teknik tomografi ini diterapkan maka struktur
daerah yang ada disekitarnya dapat terlihat dengan baik. Hal ini
disebabkan oleh prinsip tomografi yang prinsipnya adalah tomografi
konvensional yang intinya menggunakan prinsip pengaburan dengan
cara menghilangkan struktur suatu lapisan tubuh pada bagian atasnya
dengan menggerakan sinar-X kearah yang berlawanan sambil
membiarkan bagian tubuh lain terfokus. Teknik tomografi ini juga
bermanfaat bila pasien kurang baik dalam persiapan pemeriksaan.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan sebuah alat pengukur
berupa skalar yang disebut fulcrum. Adapun komponen yang bergerak
berlawanan adalah sinar-X, tube dan flat panel detector .Sedangkan
komponen yang terfokus adalah pasien. Pada gambar BNO polos dan
foto nefrogram pada menit ke-17 memperlihatkan adanya udara yang
menyebabkan pengaburan pada organ ginjal yang merupakan kriteria
gambaran yang harus terlihat saat pemeriksaan BNO-IVP. Jadi
kegunaan tomografi bisa digunakan untuk menunjukkan gambar organ
ginjal yang tampak jelas dengan cara mengukur ketebalan pasien
kemudian di bagi 3 karena posisi ginjal terletak 1/3 ketebalan tubuh dari
posterior

2. Kelebihan dan kekurangan prosedur pemeriksaan teknik tomografi


dengan klinis Nefrolithiasis di Rumah Sakit Pusat Pertamina.
Adapun kelebihan pemeriksaan ini adalah dengan menggunakan Teknik
tomografi, bisa mengukur ketinggian ginjal dan bisa memvisualisasikan
gambaran penting dari ginjal. Sedangkan kekurangan dari pemeriksaan
37

ini sendiri ialah: ketelitian radiographer sangat diperlukan dalam


mengukur ketebalan objek agar objek dapat terlihat dengan baik. Selain
digunakan pada pemeriksaan Traktus Urinarius kelebihan teknik
pemeriksaan ini juga dapat diterapkan pada aplikasi modalitas lainnya
seperti: USG yang merupakan alternatif modalitas lain yang paling
mahal dalam bidang Radiologi ini. Bahkan Teknik ini sendiri dapat
dipadukan oleh suatu modalitas imaging lainnya yang disebut Computer
Tomography (CT). Sedangkan untuk kekurangan teknik pemeriksaan
yaitu: banyaknya elektron yang diserap oleh pasien menjadi bertambah
sebab pemeriksaan ini dilakukan berulang kali atau dalam rentan waktu
yang sangat lama sehingga menyebabkan mAs yang digunakan pada
pemeriksaan ini menjadi lebih tinggi, Sementara untuk pesawat
Fluoroscopy sendiri dapat mengurangi umur pesawat yang digunakan
dalam pemeriksaan tersebut yang diakibatkan karena pemakaian kV
yang berulang-ulang atau terus menerus tanpa henti sehingga
menyebabkan radiasi hambur terhadap benda-benda disekitarnya.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Untuk prosedur pemeriksaan diawali dari foto pendahluan (BNO


polos) dengan menggunakan 85 kV 40mAs sebagai faktor eksposi awal.
Sesudah itu, dilanjutkan dengan pengambilan foto kedua (foto menit ke-15)
pada tahap ini posisi pasien masih supine menggunakan kaset 35 ×43 cm.
Seteelah itu lanjut,pada foto menit ke -17. Foto tersebut dilakukan dengan
menggunakan teknik tomografi dan pada tahap ini sering disebut dengan
fase nefrotomografi. Nefrotmografi mempunyai peranan yang sangat
penting untuk melihat tinggi ginjal dengan menggunakan tomografi kita
bisa mengukur tinggi ginjal menggunakan Skala pada Fulcrum.serta
gambaran tervisualisasi dengan baik. Apabila teknik tomografi ini
diterapkan maka struktur daerah yang ada disekitarnya dapat terlihat dengan
baik. Hal ini disebabkan oleh prinsip tomografi yang prinsipnya adalah
tomografi konvensional yang intinya menggunakan prinsip pengaburan
dengan cara menghilangkan struktur suatu lapisan tubuh pada bagian
atasnya dengan menggerakan sinar-X kearah yang berlawanan sambil
membiarkan bagian tubuh lain terfokus. Foto menit ke-17 diambil setelah
pasien di kompresi. Sesudah itu kompresi dilepas dan lanjut ke tahap
berikutnya yakni foto keempat (foto menit ke-20) dengan posisi pasien
supine dan menggunakan factor eksposi yang sama, kemudian lanjut ke foto
full blass atau foto pada menit ke -60. Pasien diposisikan seperti pada foto
yang sebelumnya dan terakhir foto post voiding sesudah pasien buang air
kecil.

Pemeriksaan Tomografi digunakan untuk mengukur ketinggian


ginjal. Pemeriksaan pada fase tomografi dengan menggunakan fulcrum
yaitu: titik gerak yang dapat diatur skalanya sesuai lapisan organ yang
dikehendaki. Kelebihan dari pemeriksaan ini yaitu dengan menggunakan
tomografi bisa mengukur ketinggian ginjal dan bisa mengaburkan gambaran

38
39

suatu organ penting dari tidak terlihat menjadi terlihat. Sedangkan


kekurangan dari pemeriksaan ini adalah ketelitianradiografer sangat
diperlukan dalam mengukur ketebalan objek agar objek dapat terlihat
dengan baik. Nefrolithiasis adalah Batu ginjal atau nefrolitiasis adalah
kelainan terdapatnya suatu batu ginjal atau juga kristal yang terbentuk
menyerupai batu di dalam ginjal. Pemeriksaan ini sangat penting untuk
melihat gambar organ ginjal.

B. Saran
Untuk mendapatkan informasi yang belum tercakup didalam
pemeriksaan ini sebaiknya digunakan modalitas lain seperti USG dan
lainnya. Pemeriksan ini dapat menyebabkan dosis radiasi yang diterima
pasien bertambah karena pengambilan foto yang berulang kali dilakukan
serta menyebabkan mual, pusing, rasa hangat diseluruh tubuh akibat
penggunaan obat kontras dan rasa nyeri di telapak tangan akibat jarum
suntik. Oleh karena itu pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sesuai
kebutuhan pasien itu sendiri agar dosis radiasi yang diterima pasien tidak
melebihi dosis radiasi yang dianjurkan saat pemeriksaan berlangsung serta
sesudah pemeriksaan ini sebaiknya pasien meminum air putih yang banyak
agar kontas yang masuk kedalam tubuh dapat dinetralisir lewat urine untuk
dibuang dan setelah selesai pemeriksaan juga vena ditelapak tangan bagian
posterior (vena cubiti) harus dibersihkan menggunakan kapas dan alcohol
swab bila perlu juga diplester supaya darah tidak keluar menyebar dari
lubang bekas jarum suntik terpasang.
DAFTAR PUSTAKA

Baruchel, J. (2000) X-Ray Tomography in Material Science. Paris: HERMES


Science.
Bontrager’s (2018) TEXTBOOK of RADIOGRAPHIC POSITIONING and
RELATED ANATOMY. NINTH EDIT. St. Louis, Missouri: Elsevier, Inc.
Dance, D. . et al. (eds) (2014) Diagnostic Radiology Physics, the universal
copyright convention. Vienna: International Atomic Energy Agency, 2014.
Edy, B. (2010) ‘Sekilas Tentang Tomography’, in Sekilas Tentang Tomography.
Jakarta: Babeh Edy, p. 1.
Erfin Firmawati, Ns., M. (2016) ‘Modul Buku Blok Sistem Perkemihan’, in
Ns.MNS, E. F. (ed.) Blok Perkemihan. 1st edn. Yogyakarta: Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,
pp. 95–97.
Fallis, A. . (2013) Merrill’s Atlas of Radiographic Position, Journal of Chemical
Information and Modeling. Missouri: Mosby Elsevier.
Fauber, T. (2017) Radiographic Imaging and Exposure. FIFTH 5. Virginia:
Elsevier Inc.
Fauzi, A. and Putra, M. M. A. (2016) ‘Nefrolitiasis’, in Majority |. Bandar
Lampung: Majority, p. 69.
Imron, M. (2013) ‘Dosen ’:, in “ Pengolahan Citra ” Makalah. JAKARTA:
FAKULTAS TEKNIK MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM (FTMIPA) UNIVERSITAS INDRAPRASTA (UNINDRA) PGRI, p.
18. Available at: academia.edu.
Kenneth, L. B. (2014) TEXTBOOK OF POSITIONING AND RELATED. 8th ed. St.
Louis, Missouri: Mosby Elsevier.
Markoe, A. (2006) Analytic Tomography. First, Analytic Tomography. First. Edited
by G.-C. Rota. New Jersey: CAMBRIDGE UNIVERSITY PRESS.
Moorhead, J. G., Krus, C. and Wilke, J. (eds) (2003) Merrills Atlas of Radiographic
Position&Radiologic Procedures. 10th edn. Philadelphia: Andrew Alllen.
Muslim, M. (2014) ‘Analisis Sebaran Radiasi Hambur Di Sekitar Pesawat Sinar-X
Pada Pemeriksaan Tomografi Ginjal’, in GIGA. Jakarta Selatan: ISSN, pp.
63–69.
Rahma, A. (2015) {LV} Big Book Biologi SMA Kelas 1, 2, & 3. 1st edn. Edited by
R. Annisa et al. Jakarta Selatan: Cmedia.
Ramdhani sholih, I. (2015) ‘Muhammad Eri H DIII 2 A P’, in. Jakarta: Muhammad
Eri H, p. 5.
Sah, A. N. (2017) ‘Urolithiasis : An Update on Diagnostic Modalities and

40
41

Treatment Protocols’, in. India: Department of Pharmaceutical Sciences,


Faculty of Technology, Kumaun University, Bhimtal Campus, pp. 166–167.
Sandstrom, S. (2003) The WHO manual of diagnostic imaging Radiographic
Technique and Projections. Gavena: World Health Organization in
collaboration with the International Society of Radiology.
Saputra Bagus, H. (2019) UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL RIMPANG
NAMPU (Homalomena occulta) SEBAGAI PENGHAMBAT
PEMBENTUKAN BATU GINJAL PADA TIKUS WISTAR DENGAN
INDUKSI ETILEN GLIKOL DAN VITAMIN D3, Journal of Chemical
Information and Modeling. Muhammadiyah Malang.
School Fort, U. S. A. M. D. C. A. (2006) FLUOROSCOPY AND SPECIAL
RADIOGRAPHIC TECHNIQUES. 200th edn. SAM HOUSTON, TEXAS:
Department of the Army doctrine.
Sue, A. I. and Suramana (2018) ‘Analisis Citra BNO IVP ( Blass Nier Oversiech
Intra-Vena Pyelografi ) dengan Computer Radiografi di Rumah Sakit Umum
H . Adam Malik Medan’, in. Sumatera Utara: Departemen Fisika, p. 3.
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

BIODATA

NAMA : ISRA ANDHIKA ALDIYAN


NPM : P.2.31.30.0.17024
TTL : JAKARTA, 01 OKTOBER 1997
JENIS KELAMIN : LAKI-LAKI
AGAMA : ISLAM
ALAMAT : JALAN TANGKAS PERMAI IX BLOK A/7
RT.010/RW.002 KEL. PETUKANGAN SELATAN KEC.
PESANGGRAHAN 12270
NO. HP : 082136895432
EMAIL : israandhika93@gmail.com

PENDIDIKAN FORMAL
2001-2002 : TK ISLAM AZ-ZAHRA
2003-2009 : SDN PESANGGRAHAN 05 PAGI
2009-2012 : SMP NEGERI 267 JAKARTA
2011-2015 : SMA KARTIKA X-I JAKARTA
PENGALAMAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
1. RS. DR. SUYOTO
2. RSUP. FATMAWATI
3. RS.UKI CAWANG
4. RS. PERTAMINA JAYA
5. RSUPN CIPTO MANGUNKUSUMO KIARA
6. RS PUSAT PERTAMINA
7. RSUD TARAKAN
8. RSUD PASAR REBO
9. RSUD PASAR MINGGU

PENGALAMAN PRAKTEK KERJA NYATA


1. RSUD DR CHASBULLAH ABDULMAJID KOTA BEKASI
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PEGAWAI

I. IDENTITAS PRIBADI
Nama : Dr. NURSAMA HERU APRIANTORO, S.Si,
M.Si

NIP/NRP Baru : 196404201989031002


NIP/NRP Lama : 140232761
No. Kartu Pegawai : E 685648
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 20 April 1964
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status Perkawinan : Menikah
Alamat : Jl. Cempaka Indah II
RT. 004, RW. 007
Kel./Desa Harapan Mulya
Kec. Kemayoran
Jakarta Pusat - DKI Jakarta
No. Telp : 08996254512
NIK : 3171032004640015
NPWP : 687404251027000
Email : nursama91@yahoo.co.id

II. KEPEGAWAIAN
TMT CPNS : 1 Maret 1989
TMT PNS : 1 Agustus 1990
Status Kepegawaian : PNS
Jenis Kepegawaian : PEGAWAI NEGERI SIPIL PUSAT KEMENKES
Status Hukuman : -
Disiplin
Pendidikan Terakhir : S.3 MIPA
Jabatan Saat ini : Lektor (JFT)
TMT Jabatan saat ini : 1 Januari 2016
Masa Kerja Golongan : 27 Thn 7 Bln
Eselon : JFT

III. TEMPAT KERJA SEKARANG


Organisasi : Badan Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumber Daya
Manusia Kesehatan
Satuan Kerja : Poltekkes Kemenkes Jakarta II
Satuan Organisasi : Jurusan Radiodiagnostik & Radioterapi
Unit Organisasi : Prodi DIII Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
Unit Kerja :

IV. RIWAYAT KEPANGKATAN


Pejabat
No. Pangkat Golongan TMT No & Tgl SK
Penandatangan
Pengatur 1943/Kanwil/SK/TU- Ka. Bag. Mutasi
1 Maret
1 Muda Tk. II/b 1/CP-VI/1989 (CPNS) Kepegawaian Dep
1989
I 24 Juni 1989 Kes RI
Pengatur 1 1419/Kanwil/SK/TU- Ka. Bag. Tata
2 Muda Tk. II/b Agustus 1/PGNS-VII/1990 (PNS) Usaha Kanwil Dep
I 1990 21 Juli 1990 Kes DKI Jakarta
14-
1 April KAUR KP B/2/b
3 Pengatur II/c 09/03382/KEP/IV/1992
1992 BAKN
9 November 1992
14- Ka. Biro
Pengatur 1 April
4 II/d 09/00005/KEP/IV/1996 Kepangkatan dan
Tk. I 1996
2 April 1996 Penggajian BAKN
1 Ka. Bag. Mutasi
Penata KP.04.01.2.1.9067
5 III/a Oktober Kepegawaian Dep
Muda 19 Oktober 1999
1999 Kes RI
Penata 1 Ka. Bag. Mutasi
KP.04.01.2.1.19640
6 Muda Tk. III/b Oktober Pegawai Dep Kes
1 November 2001
I 2001 RI
HK.02.02/II.2-
1 April MENTERI
7 Penata III/c 1/7255/2015
2015 KESEHATAN RI
10 Maret 2015

V. RIWAYAT PENDIDIKAN
Tahun
No. Pendidikan Nama Sekolah
Ijazah
1 Sekolah Dasar Umum SD Islam Utan Panjang 1977
Sekolah Menengah Madrasah Tsanawiyah Asy-syifaa Jakarta
2 1981
Pertama Pusat
3 Sekolah Menengah Atas SMTA Negeri 5 Kemayoran 1984
4 D.III Penata Rontgen APRO JAKARTA 1987
5 S.1 MIPA Fisika Universitas Dipenogoro SEMARANG 1999
6 S.2 Ilmu Material Universitas Indonesia 2003
7 S.3 MIPA Universiti Teknologi Malaysia 2011

VIII. RIWAYAT PELATIHAN TEKNIS


Negara
No. Nama Pelatihan Lembaga Pelaksana Tahun
Pelaksana
UNITED
1 TRAINNING CT SCAN,MRI UNT TCOM USA STATES OF 1991
AMERICA
Bidang Studi Anatomi Radiologi,
Teknik Radiografi, Pusdiknakes Dep Kes
2 INDONESIA 1991
Radiofotografi dan Ri
Pengembangan Radiodiagnostik
3 Akta Mengajar III IKIP Bandung INDONESIA 1992
National Workshop on Radiation
Protection and Qualityh BATAN, DEPKES dan
4 INDONESIA 1994
Assurance in Diagnostic PDSRI
Radiology
5 Pendidikan Program Windows LPKSI Jakarta INDONESIA 1995
Quality Assurance Fasilitas
6 Pusdiklat Dep Kes RI INDONESIA 1999
Radiologi
Presentasi Ilmiah Keselamatan
7 BATAN INDONESIA 1999
Radiasi dan Lingkungan VIII
World Congress on the Internet
8 MEDNET 2000 BELGIUM 2000
in medicine
Universiteit of
Training in Medical Physiics and
9 Brussel and BELGIUM 2000
Radiation Protection
Universiteit of Ghent
10 RADIOGRAFI PROTECTION VUB,VLIR BELGIA BELGIUM 2000
11 EGS-4 BATAN INDONESIA 2000
Jaminan Kualitas
12 Radiodiagnostik PARI JAYA PARI DKI Jaya INDONESIA 2001
2001
13 Training Course on Introduction BATAN INDONESIA 2001
14 Strategi Pengajaran Komunikatif BAPETEN RI INDONESIA 2002
Seminar Keselamatan Radiasi
15 BAPETEN RI INDONESIA 2002
Dalam Pelayanan Kesehatan
Apilkasi Multimedia Audio Visual Jur. TRO Poltekkes
16 INDONESIA 2003
Pembelajaran Dosen Dep Kes Jakarta II
17 Workshop for Migrant workers ILO & UNI-MLC MALAYSIA 2006
Konsul jenderal
Republik Indonesia
18 Jurnalistik MALAYSIA 2008
Johor Bahru -
Malaysia
19 Simposium on Health WPRo WFHA INDONESIA 2011
Jabatan Fungsional Pengawas
20 BAPETEN RI INDONESIA 2012
Radiasi Tingkat Ahli
BAPETEN dan
Petugas Proteksi Radiasi Medik
21 Poltekkes Kemenkes INDONESIA 2012
II
Jakarta II
Kementerian
22 Profesi Dosen Pendidikan dan INDONESIA 2012
Kebudayaan RI

IX. RIWAYAT PENGHARGAAN


No. Nama Penghargaan No & Tgl SK Instansi Pemberi
- Instansi Pemerintah
1 PENGHARGAAN LAINNYA
1 Januari 1991 Lainnya
SATYA LANCANA KARYA SATYA 087/TK/TAHUN 2004
2 Presiden
X TAHUN 27 Oktober 2004
BHAKTI KARYA HUSADA DWI 2211/MENKES/SK/X/2011
3 Menteri Kesehatan
WINDU (16 TAHUN) 28 Oktober 2011
089/PPLN-KJRI-
Penghargaan Lain-
4 - JB/VI/2009
lain
17 Juli 2009
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PEGAWAI

I. IDENTITAS PRIBADI
Nama : SHINTA GUNAWATI SUTORO, SST, M.Si

NIP/NRP Baru : 198308032008012006


NIP/NRP Lama : 140376585
No. Kartu Pegawai : P 085489
Tempat/Tanggal : Tangerang, 3 Agustus 1983
Lahir
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status Perkawinan : Menikah
Alamat : Jl. Pamulang Permai II D-19/24
RT. 002, RW. 011
Kel./Desa Pondok Benda
Kec. Pamulang
TANGERANG - Banten
No. Telp : 08568719115
NIK : 3603254308830004
NPWP : 689520526411000
Email : shintagunawati@yahoo.co.id

II. KEPEGAWAIAN
TMT CPNS : 1 Januari 2008
TMT PNS : 1 April 2009
Status : PNS
Kepegawaian
Jenis Kepegawaian : PEGAWAI NEGERI SIPIL PUSAT KEMENKES
Status Hukuman : -
Disiplin
Pendidikan : D.IV Teknik Radiologi
Terakhir
Jabatan Saat ini : Instruktur (Pengelola Kebutuhan Sarana Praktek) (JFU)
TMT Jabatan saat : 1 Januari 2016
ini
Masa Kerja : 10 Thn 9 Bln
Golongan
Eselon : JFU

III. TEMPAT KERJA SEKARANG


Organisasi : Badan Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
Kesehatan
Satuan Kerja : Poltekkes Kemenkes Jakarta II
Satuan Organisasi : Jurusan Radiodiagnostik & Radioterapi
Unit Organisasi :
Unit Kerja :

IV. RIWAYAT KEPANGKATAN


Pejabat
No. Pangkat Golongan TMT No & Tgl SK
Penandatangan
1 Kp.00.02.1.1.5813
Penata Ka. Bag. Pengadaan
1 III/a Januari (CPNS)
Muda Pegawai Depkes
2008 2 Januari 2008
KP.00.03.1.1.2445
Penata 1 April Ka. Bag. Pengadaan
2 III/a (PNS)
Muda 2009 Pegawai Depkes
25 Maret 2009
Penata
1 April KP.04.01.2.1.1304 Ka. Bag. Mutasi
3 Muda Tk. III/b
2012 15 Februari 2012 Pegawai Menkes
I
HK.02.02/II.2- Kepala Bagian Mutasi
1 April
4 Penata III/c 1/2557/2016 dan Penilaian Kinerja
2016
10 Maret 2016 Pegawai
HK.02.02/II.2-
1 April drg. MURTI UTAMI,
5 Penata III/c 1/2557/2016
2016 MPH
10 Maret 2016

V. RIWAYAT PENDIDIKAN
No. Pendidikan Nama Sekolah Tahun Ijazah
1 Sekolah Dasar Umum SDN Ciputat IV Tangerang 1995
2 Sekolah Menengah Pertama SMPN I Pamulang 1998
3 Sekolah Menengah Atas SMAN 1 Serpong 2001
4 D.III Radiodiagnostik Politeknik Kesehatan Jakarta II 2004
5 D.IV Teknik Radiologi Politeknik Kesehatan Semarang 2006
SURAT KETERANGAN CEK PLAGIAT

Dengan ini saya menyatakan :


Nama : Isra Andhika Aldiyan
NIM : P23130017024
Judul KTI : Penatalaksanaan Teknik Tomografi Dengan Klinis Nefrolithiasis
Di Rs Pusat Pertamina
Nilai Plagiat Terdeteksi (%) : 20 %

Bahwa Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang saya buat bersifat asli (original), adapun
plagiat dari isi karya ilmiah saya, tidak melebihi 20% dari referensi. Sebagai
pertanggungjawaban, bersama ini saya lampirkan hasil persentasi penilaian plagiat
dengan menggunakan software.
Jakarta, 15 Juli 2020
Mengetahui,
Menyatakan

(Isra Andhika Aldiyan)


PENATALAKSANAAN
TEKNIK TOMOGRAFI
DENGAN KLINIS
NEFROLITHIASIS DI RS
PUSAT PERTAMINA
by
Poltekkes
Kemenkes
Jakarta 2

Submission date: 15-Jul-2020 10:10AM (UTC+1000)

Submission ID: 1356036822

File name: 76_Isra_Andhika_Aldiyan.pdf (1.03M)

Word count: 8138

Character count: 51017


LEMBAR WAWANCARA

1. Pada foto pendahuluan apakah yang dilakukan pasien sebelum disuntikkan


oleh kontras dan apa tujuannya?

Narasumber:
Skin test, Tujuannnya untuk menghetahui apakah pasien memiliki alergi
terhadap kontras atau sebaliknya.

2. Apa sebutan tahap pada pengambilan foto menit ke-17 yang menggunakan
teknik tomgrafi?

Narasumber:
Fase Nefrotomografi

3. Apakah Tujuan dilakukan Teknik tersebut?

Narasumber:
Untuk mengukur tinggi ginjal dengan cara mengukur skala pada fulcrum
dan memvisualisasikan gambaran ginjal dengan sangat baik.

4. Apa rincian urutan pengambilan foto BNO-IVP?

Narasumber:
Urutan pengambilan foto dimulai dari Foto pendahuluan (polos). Kemudian
jika tidak ada kendala pada pasien lanjut ke foto menit ke -15. Lalu lanjut
ke foto menit ke -17 dengan menggunakan teknik tomografi. Setelah itu foto
menit ke-60, setelah itu dilanjutkan dengan foto Full Blast dan masuk ke
urutan terakhir yaitu foto Post Void.

5. Bagaimana Persiapan Yang dilakukan sebelum Pemeriksaan BNO-IVP?

Narasumber:
Makan makanan lunak (bubur dan kecap) mulai sore dari jam 16.00 sampai
dengan 20.00 WIB. Sesudah makan makanan lunak minum obat cuci perut
Dulcolax (4 tablet) pada jam 20.00 WIB. Setelah meminum obat cuci perut
Dulcolax atau garam inggris, dilarang makan/minum sampai pemeriksaan
radiologi dinyatakan selesai. Jam 04.00 atau jam 05.55 WIB masukkan
Dulcolax suppositoria ke dalam anus sebelum buang air besar.