Anda di halaman 1dari 44

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 DASAR TEORI

Dalam kimia, sebuah logam (bahasa Yunani:


Metallon) adalah sebuah unsur kimia yang siap
membentuk ion (kation) dan memiliki ikatan logam,
dan kadangkala dikatakan bahwa ia mirip dengan
kation di awan elektron. Metal adalah salah satu
dari tiga kelompok unsur yang dibedakan oleh sifat
ionisasi dan ikatan, bersama dengan metaloid dan
nonlogam. Dalam tabel periodik, garis diagonal
digambar dari boron (B) ke polonium (Po)
membedakan logam dari nonlogam. Unsur dalam
garis ini adalah metaloid, kadangkala disebut semi-
logam; unsur di kiri bawah adalah logam; unsur ke
kanan atas adalah nonlogam.

Nonlogam lebih banyak terdapat di alam


daripada logam, tetapi logam banyak terdapat
dalam tabel periodik. Beberapa logam terkenal
adalah aluminium, tembaga, emas, besi, timah,
perak, titanium, uranium, dan zink.

Alotrop logam cenderung mengkilap, lembek,


dan konduktor yang baik, sementara nonlogam
biasanya rapuh (untuk nonlogam padat), tidak
mengkilap, dan insulator.

Dalam bidang astronomi, istilah logam


seringkali dipakai untuk menyebut semua unsur
yang lebih berat daripada helium

Paduan logam

II- 1
II - 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Paduan logam merupakan pencampuran dari


dua jenis logam atau lebih untuk mendapatkan sifat
fisik, mekanik, listrik dan visual yang lebih baik.
Contoh paduan logam yang populer adalah baja
tahan karat yang merupakan pencampuran dari
baja (Fe) dengan Krom (Cr).

Penggunaan Logam

Umumnya, logam bermanfaat bagi manusia,


karena penggunaannya di bidang industri,
pertanian, dan kedokteran. Contohnya, merkuri
yang digunakan dalam proses klor alkali. Proses klor
alkali merupakan proses elektrolisis yang berperan
penting dalam industri manufaktur dan pemurnian
zat kimia. Beberapa zat kimia yang dapat diperoleh
dengan proses elektrolisis adalah natrium, kalsium,
magnesium, aluminium, tembaga, seng, perak,
hidrogen, klor, fluor, natrium hidroksida, kalium
dikromat, dan kalium permanganat. Proses
elektrolisis larutan natrium klorida tersebut
merupakan proses klor-alkali. Elektrolisis larutan
NaCl menghasilkan natrium hidroksida di katode
(kutub positif) dan gas klor di anode (kutub negatif).
Pada industri angkasa luar dan profesi kedokteran
dibutuhkan bahan yang kuat, tahan karat, dan
bersifat noniritin, seperti aloi titanium. Sebagian
jenis logam merupakan unsur penting karena
dibutuhkan dalam berbagai fungsi biokimiawi. Pada

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


zaman dahulu, logam tertentu, seperti tembaga,
besi, dan timah digunakan untuk membuat
peralatan, perlengkapan mesin, dan senjata.

Logam mulia

Secara umum logam mulia berarti logam-


logam termasuk paduannya yang biasa dijadikan
perhiasan, antara lain emas, perak, perunggu dan
platina. Logam-logam tersebut memiliki warna yang
bagus, tahan karat, lunak dan terdapat dalam
jumlah yang sedikit di alam. Emas dan perak
memiliki sifat penghantar listrik yang sangat baik
sehingga banyak dipakai untuk melapisi konektor-
konektor pada perangkat elektronik.

Logam berat

Logam berat (heavy metal) adalah logam


dengan massa jenis lima atau lebih, dengan nomor
atom 22 sampai dengan 92. Logam berat dianggap
berbahaya bagi kesehatan bila terakumulasi secara
berlebihan di dalam tubuh. Beberapa di antaranya
bersifat membangkitkan kanker (karsinogen).
Demikian pula dengan bahan pangan dengan
kandungan logam berat tinggi dianggap tidak layak
konsumsi.

Kasus-kasus pencemaran lingkungan


menyebabkan banyak bahan pangan mengandung
logam berat berlebihan. Kasus yang populer adalah

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

sindrom Minamata, sebagai akibat akumulasi raksa


(Hg) dalam tubuh ikan konsumsi.

Di Indonesia, pernah dilaporkan bahwa ikan-


ikan di Teluk Jakarta juga memiliki kandungan raksa
yang tinggi. Udang dari tambak Sidoarjo pernah
ditolak importir dari Jepang karena dinilai memiliki
kandungan kadmium (Cd) dan timbal (Pb) yang
melebihi ambang batas. Diduga logam-logam ini
merupakan dampak buangan limbah industri di
sekitarnya. Kakao dari Indonesia juga pernah ditolak
pada lelang internasional karena dinilai memiliki
kandungan Cd di atas ambang batas yang diizinkan.
Cd diduga berasal dari pupuk TSP yang diberikan
kepada tanaman di perkebunan.

Perlindungan terhadap logam dengan cara


menerapkan pelapisan pada hakekatnya adalah
melindungi logam dari sekeliling sehingga
pertukaran ion antara permukaan logam dengan
sekeliling dapat dikendalikan. Berdasarkan hal ini
maka karakteristik perlindungan dengan
menerapkan bahan pelapis ada tiga kelompok
yaitu :

-Menerapkan hambatan (barrier) untuk


memisahkan logam dari sekeliling
- Melengkapi permukaan logam dengan
”inhibitor kimia” untuk mengendalikan reaksi
anodik
- Melengkapi permukaan dengan pelapis yang
memiliki sifat proteksi katodik melalui
pengubahan daerah anoda menjadi katoda
Namun apabila ditinjau dari jenis material
yang digunakan sebagai bahan pelapis mada proses

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


pelapisan dikelompokkan kedalam tiga kelompok
yaitu :
- Proses pelapisan logam (metallic coating)
- Proses pelapisan konversi (conversion
coating)
- Proses pelapisan non-metallic (non-metallic
coating)
Menerapkan hambatan pada permukaan
logam pada hakekatnya adalah memisahkan secara
listrik permukaan logam dengan lingkungan (barrier
protection). Mengingat sifatnya yang harus mampu
memisahkan secara listrik dan agar umur
perlindungannya relative panjang, maka sistem
pelapisan yang diterapkan harus memadai
ketebalannya, impermeabilitas dan dan bebas dari
cacat atau diskontinuitas (holiday) lainnya. Pelapis
yang termasuk dalam kategori ini misalnya adalah
cat, tar, plastic, bitumen dan sejenis gemuk (grease
like).
Sedangkan bahan pelapis yang mampu
mengontrol reaksi anodic di permukaan logam yang
dilindunginya adalah bahan-bahan yang
mengandung pigmen. Beberapa jenis pigmen yang
digunakan pada bahan pelapis mengendalikan
proses korosi melalui pembentukan corrosion-
inhibitive chemicals. Bahan kimia ini berasal dari
pigmen yang sedikit larut dalam air. Contoh yang
lazim dari pigmen jenis ini adalah red-lead yang
sejak lama digunakan sebagai aditif pada bahan
pelapis yang berbasis pelumas (oil-based coating).
Reaksi antara red-lead dengan pelumas
menghasilkan larutan inhibitor yang sangat efektif
dalam menanggulangi korosi. Selain red-lead,
digunakan sebagai inhibitor dari jenis chromat.
Namun dewasa ini; penggunaan zinc-chromat

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

sebagai bahan inhibitor dimodifikasi menjadi zinc-


molybdate.
Upaya yang lain untuk melindungi permukaan
logam adalah dengan menerapkan bahan pelapis
yang memiliki sifat proteksi katodik. Bahan pelapis
Percobaan galvanisasi ini pada dasarnya
menggunakan prinsip elektrolisa. Peristiwa
elektrolisa terjadi bila sepasang elektroda
dimasukkan dalam larutan elektrolit dan kemudian
diberikan beda potensial listrik. Elektrolisa adalah
peristiwa terjadinya pemindahan muatan muatan
listrik yang bergerak menuju dan meninggalkan
elektroda. Perpindahan partikel/muatan dari dan ke
elektroda mengakibatkan terjadinya
penebalan/penipisan elektroda. Perubahan tebal ini
ternyata bergantung pada besar arus listrik yang
dipakai dan lamanya peristiwa elektrolisa tersebut.
Secara matematis peristiwa ini dapat ditulis :

W = Z.i.t dimana : W =
banyaknya penebalan/penipisan [mg]
Z = tara kimia listrik logam
[mg/coulomb]
i = arus listik [ampere]
t = waktu [detik]

Elektrokimia mempelajari tentang reaksi-


reaksi yang disertai perpindahan elektron (reaksi
redoks). Contoh: bila dua buah lempeng logam
misalnya besi dan tembaga dimasukkan dalam
larutan elektrolit (misalnya Cu SO4 ) aka reaksi yang
terjadi antara logam besi, tembaga dan larutan
elektrolit CuSO4 seperti pada contoh di atas disebut
sel atau element elektrokimia.

Penyepuhan (Elektroplating)

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Penyepuhan (electroplating) dimaksudkan
untuk melindungi logam terhadap korosi atau untuk
memperbaiki penampilan. Pada penyepuhan, logam
yang akan disepuh dijadikan katode, sedangkan
logan penyepuhan dijadikan anoda. Kedua elektroda
itu dicelupkan dalam larutan garam dari logam
penyepuh.
DalaM proses pelapisan logam, penempatan
sebuah zat padat (biasanya terdapat pada logam
murni atau campuran) umumnya elektrolit dari
sebuah larutan oleh sebuah proses yang disebut
elektroda positif. Elektroda positif diperoleh selama
elektrolisis di dalamsebuah larutan masih
berlangsung. Keluar masuknya sebuah eletrolit
berjalan pada alfa sebuah elektroda yang disebut
anoda dan katoda.
Hubungan dari anoda dengan massa jenis
tembaga adalah memberi pendekatan oleh
tembaga (I) dibagi dengan daerah permukaan
anoda, juga pada katoda massa jenis tembaga,
memberi pendekatan dengan tembaga (I) yang
dihubungkan dengan daerah katoda, asam sebuah
proses pelapisan logam adalah parameter kritis.
Dalam elektrolisis, semua ion-ion dalam sebuah
larutan membawa tembaga dan kapasitas tembaga
tergantung pada konsentrasi dan pengerjaan pada
katoda.
Dalam sebuah sel elektrokimia terdapat kutub-
kutub listrik yang disebut elektroda. Berdasarkan
perbedaan reaksi kimia yang terjadi, elektroda pada
sel elektrokimia yang dibedakan atas anoda dan
katoda. Anoda adalah tempat terjadinya reaksi
oksidasi, sedangkan katoda tempat terjadinya
reaksi oksidasi.
Sel elektrokimia dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
a. Sel volta

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

- terjadi perubahan energi kimia menjadi


energi listrik.
- Katoda adalah kutub positif, sedangkan
anoda adalah kutub negatif.
b. Sel elektrolisis
- terjadi perubahan dari energi listrik
menjadi energi kimia.
- Katoda adalah kutub negatif dan anoda
adalah kutub positif.

Skema Proses Electroplating

Perpindahan ion logam dengan bantuan arus listrik


melalui larutan elektrolit sehinnga ion logam
mengendap pada benda padat yang akan dilapisi.
Ion logam diperoleh dari elektrolit maupun berasal
dari pelarutan anoda logam di dalam elektrolit.
Pengendapan terjadi pada benda kerja yang berlaku
sebagai katoda.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Gambar 2.skema proses elektroplating

Reaksi kimia yang terjadi pada proses electroplating seperti


yang terlihat pada Gambar 2 dapat dijelaskan sebagai
berikut:

Pada KATODA

 Reaksi-reaksi di katoda
Reaksi dikatoda tergantung pada jenis kation
dalam larutan. Jika kation berasal dari logam-
logam aktif (logam golongan IA, IIA, Al atau Mn )
yaitu logam-logam yang potensial elektrodenya
lebih kecil (lebih negatif dari pada air) maka air
yang tereduksi. Contohnya :

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

 Pada elektrolisis larutan NaCl (kation


Na+), air yang tereduksi bukannya
ion Na+
 Pada elekrolisis larutan CuSO4
(kation Cu2+). Ion Cu2+ yang
tereduksi.
Efisiensi arus katoda sering dipakai sebagai
pedoman menilai apakah semua arus yang masuk
digunakan untuk mengendapkan ion logam pada
katoda sehingga didapat efisisensi plating sebesar
100 % ataukah lebih kecil. Adanya kebocoran arus
listrik, larutan yang tidak homogen dan elektrolisis
air merupakan beberapa penyebab rendahnya
efisiensi. Elektrolisis air merupakan reaksi samping
yang menghasilkan gas hidrogen pada katoda dan
gas oksigen pada anoda.
(http://google.co.id/dasarteorielektroplating)
Katoda merupakan kutub negatif yang terjadi
reaksi reduksi yang dapat berupa pengendapan
logam atau timbulnya gas H2. Bila untuk reaksi ini
diperlukan E lebih rendah dari pada untuk timbulnya
H2 maka gas tersebut tidak timbul dan zat yang tadi
disebut depolarisator.
Kecuali ion dengan bilangan oksidasi diatas
ada depolarisator yang bereaksi dengan H
seperti

: NaNO3 + 2 H  NaNO3 + H20


C6H5NO2 + 6H  C6H5NH2 + 2H2O

Reaksi yang lain di katoda :


MnO4-  MnO42-
CrO4 2-
 Cr3+
Quinone  Hidroquinone
Nitrobenzena  Anilin, dan sebagainya.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


(Soekardjo, Kimia Fisika : 436)
Mekanisme terjadinya pelapisan logam
adalah dimulai dari dikelilinginya ion-ion logam oleh
molekul-molekul pelarut yang mengalami polarisai.
Di dekat permukaan katoda, terbentuk daerah
Electrical Double Layer (EDL) yang bertindak seperti
lapisan dielektrik. Adanya lapisan EDL memberi
beban tambahan bagi ion-ion untuk menembusnya.
Dengan gaya dorong beda potensial listrik dan
dibantu oleh reaski-reaksi kimia, ion-ion logam akan
menuju permukaan katoda dan menangkap electron
dari katoda, sambil mendeposisikan diri di
permukaan katoda. Dalam kondisi equilibrium,
setelah ion-ion mengalami discharge menjadi atom-
atom kemudian akan menempatkan diri pada
permukaan katoda dengan mula-mula
menyesuaikan mengikuti susunan atom dari
material katoda (http://google.com/mengenal cara
pelapisan).
Kation : - Logam aktif (Golongan IA, IIA, Al, Mn) : Air
yang tereduksi
Reaksinya : 2H2O (l) + 2e H2 (g) + 2OH-
(aq)
- Kation lain : Kation tereduksi yaitu
2H+ (aq) +2e  H2 (g)
Lx+ (aq) + Xe  L (S)

Pembentukan lapisan Nikel

Ni2+ (aq) + 2e- →Ni (s)

Pembentukan gas Hidrogen

2H+ (aq) + 2e- →H2 (g)


LABORATORIUM KIMIA FISIKA
II - 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Reduksi oksigen terlarut

½ O2 (g) + 2H + →H2O (l)

Pada ANODA

 Reaksi-reaksi di anoda
Elektroda negatif (katoda) tidak mungkin ikut
bereaksi selama elektrolisis karena logam tidak
ada kecenderungan menyerap elektron ion
negatif. Akan tetapi, elektrode positif (anoda)
mungkin saja ikut bereaksi, melepas electron
dan mengalami oksidasi kecuali Pt dan Au, pada
umumnya logam mempunyai potensial iksidasi
lebih besar daripada air atau anion sisa asam.
Oleh karena itu, jika anoda tidak terbuat dari Pt,
Au atau grafit, maka anoda itu akan teroksidasi.
L (s)  LX+ (aq) + Xe
Elektrode Pt, Au dan grafit (c) digolongkan
sebagai electrode inert (sukar bereaksi). Jika anoda
terbuat dari electrode inert, maka reaksi anoda
bergantung pada jenis anion dalam larutan. Anion
sisa asam oksidasi seperti SO42-, NO3- dan PO43-
mempunyai potensial oksidasi lebih negatif
daripada air. Anion-anion seperti itu sukar dioksidasi
sehingga air yang teroksidasi.

2H2O (l)  4H+ (aq) + O2 (g) + 4e

Jika anion lebih mudah dioksidasi dari pada


air, seperti Br- dan I- maka anion itu yang
teroksidasi. Reaksi di anoda bergantung pada jenis
anoda dan anion.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


o Jika anoda Inert (Pt, Au, C ) anion : sisa asam
oksidasi air yang teroksidasi dan sisa asam lain
atau OH- anion yang teroksidasi.
o Jika anoda tak inert : Anoda yang teroksidasi
L (s)  LX+ (aq) +Xe

Di anoda yang merupakan kutub positif


terjadi oksidasi yang dapat berupa pelarutan logam
tau timbulnya gas O2. Bila untuk reaksi ini
diperlukan E lebih rendah dari pada untuk timbulnya
O2 maka gas tersebut tidak timbul dan zat tadi di
sebut depolarisator .
Kecuali ion dengan bilangan oksidasi diatas,
ada depolarisator yang bereaksi dengan O
seperti :C2H5OH + 2O  CH3COOH + H2O

Oksidasi di anoda
Fe 2+  Fe3+
Sn2+  Sn4+
MnO4-  MnO4-
Cr3+  CrO42-
[Fe(CN)6]4-  [Fe(CN)6]3-
Pelarutan logam dianoda
Bila sebagai anoda di pakai Pt pada
elektrolisis menghasilkan O2, yang timbul selalu gas
ini. Tetapi bila logamnya lebih aktif ada dua
kemungkinan :
-Terjadinya O2
-Pelarutan logam
Hal ini tergantung dari E logam dan E O 2.
Umumnya reaksi pelarutan logam reversible. Hanya
untuk Fe, Ni dan Co terdapat overvoltage 0,3-0,4
volt.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bila rapat arus naik, E logam juga naik, arus


dalam larutan turun dan pelarutan logam berhenti.
Pada potensial yang tinggi O2 mulai timbul. Ni lebih
mudah menjadi pasif dari pada CO dan CO lebih
pasif dari pada Fe. Pasifnya logam-logam
disebabkan karena lapisan oksida pada permukaan.
(Soekardjo, Kimia Fisika : 435)

Cell elektrokimia dapat mempunyai dua fungsi :


a). Mengubah tenaga kimia menjadi tenaga listrik
b). Mengubah tenaga listrik menjadi tenaga kimia
Misalnya : a). Cell kering, accumulator
b). Pengisian accu, elektrolosis
Cell ialah susunan dua elektroda dengan
elektrolit yang menghasilkan tenaga listrik akibat
reaksi kimia dalam cell. Batery ialah gabungan dua
cell atau lebih dalam susunan parallel atau seri.
Cell dapat bersifat reversible dan irreversible.
Cell disebut reversibel bila :
- Reaksi dalam cell bersifat reversible
- Proses dapat dibalik, hanya dengan tenaga
luar yang sedikit lebih besar.
Cell yang tidak memenuhi hal ini disebut
irreversible. Contohnya :

Zn / ZnCl2 /
AgCl / Ag

Reaksi : Zn Zn 2+
+ 2e
2AgCl (s) + 2e 2Ag-
+ 2Cl-
Zn + 2AgCl 2Ag
+ Zn2+ + 2Cl-

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Reaksi dapat berjalan sebaliknya dengan tenaga
luar sedikit lebih besar :

2Ag + Zn2+ + 2Cl- Zn + 2AgCl

Cell irreversible :
Zn / H 2SO4 /
Ag

Reaksi : Zn + H 2SO4
ZnSO4 + H2

Bila ada tenaga luar :

2Ag (s) + H2SO4 Ag2SO4 + H2

Ini berarti reaksi tidak dapat berjalan reversible


meskipun adanya tenaga luar menyebabkan
terjadinya reaksi.
Polarisasi
Jenis Polarisasi
Polarisasi dibagi menjadi dua :
 Polarisasi konsentrasi yang
disebabkan oleh perubahan
konsentrasi di sekitar elektroda
 Polarisasi over voltage atau tegangan
tinggi lebih disebabkan oleh jenis
elektroda dan proses yang terjadi
dipermukaan.
Perbedaan konsentrasi pada kedua elektroda
akibat elektrolisis, menyebabkan timbulnya
bedapotensial. Beda potensial ini dapat melawan E
luar. Perbedaan ini diperkecil oleh adanya aliran ion
dan difusi. Juga dengan jalan pengadukan polarisasi
konsentrasi dapat dieleminir.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Over voltage dapat terjadi di katoda atau


anoda. Over voltage di katoda untuk logam hanya
kecil. Over voltage logam Fe, Co, Ni, Zn, Cu, dan Cd,
kecuali pengaruh logamnya, juga dipengaruhi oleh
anion, adanya asam-asam, koloid dan sebagainya.
Over voltage lebih besar pada larutan kompleks
daripada larutan garam.
Untuk hidrogen, bagi elektroda Pb dilapisi Pt
hitam dengan rapat arus 0, besarnya voltase = 0.
Dengan naiknya rapat arus, over voltage juga naik.
Untuk logam lain lebih besar daripada Pt hitam.
Pengaruh rapat arus dinyatakan rumus :
2 x 2,303 .RT
Eo = a + log I
F
I = rapat arus
Kecuali rapat arus over voltage juga
dipengaruhi oleh temperatur, tekanan, halus
kasarnya elektroda, ketidakmurnianelektroda. Over
voltage untuk halogen pada anoda sangat kecil.
Untuk rapat arus 1000 m amp/cm2 adalah sebagai
berikut:

Tabel I.1.1. Over Volatage pada Halogen


Unsur Pt-Pt hitam Pt halus Grafit
Cl2 0.07 0.24 0.50
Br2 0.20 0.40 0.33
I2 0.20 0.22 0.70

Over voltage untuk oksigen ternyata besar.


Dari tabel berikut ternyata over voltage lebih besar
pada logam-logam seperti Pt dan Au daripada logam
seperti Ag, Ni, hal ini berlawanan dengan hidrogen.
Overvoltage juga dipengaruhi:
 Current density ( 1/cm2 naik maka 0 V
naik)

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

 Temperatur ( t naik maka 0 V turun)


 Ion OH- pada larutan basa
 Dari larutan asam tidak tergantung
pelarut

Tabel I.1.2 Tegangan lebih oksigen pada 25oC


(volt)
1(m Pt-Pt Pt halus Ag Ni
amp/cm2) hitam
1 0.40 0.72 0.58 0.35
10 0.85 0.85 0.73 0.52
50 1.16 1.16 0.91 0.67
100 0.64 1.28 0.98 0.73
(Sukardjo, Kimia Fisika : 430)

Pengendapan Logam dan over voltase


hidrogen di katoda
Bila larutan garam di elektrolisis dapat
terjadi:
 Pengendapan logam
 Gas hidrogen
Mana yang terjadi tergantung besarnya
potensial yang diperlukan untuk deposisi logam
atau timbulnya gas H2.
Bila : Potensial pelucutan logam < potensial
pelucutan H2, maka logam mengendap lebih
dulu.
Bila : Potensial pelucutan logam < potensial
pelucutan H2, maka logam mengendap lebih
dulu.
Keperluan tenaga untuk mengendapkan Ag
lebih kecil daripada untuk menimbulkan gas H2,
maka Ag mengendap lebih dulu. Demikian pula
untuk logam-logam lain di bawah H pada seri
elektrokimia makin sukar mengendap.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Untuk logam di atas Hdalam elektrokimia,


misal untuk ZnCl2 1 M :
EZn = EoZn = - 0,76 V (reduksi)
EH2 = - 0,41 V
EZn lebih negatif daripada EH2, maka Zn2+
lebih sukar dilucuti daripada H+.
Umumnya reaksi pelarutan logam reversibel,
hingga tidak besar beda E yang dipakai dengan E
logam. Hanya untuk Fem Ni, dan Co terdapat over
voltage 0,3 – 0,4 V.
Bila rapat arus naik, E logam juga naik, arus
dalam larutan turun dan pelarutan berhenti. Pada
potensial yang tinggi O2 mulai timbul. Ni lebih
mudah menjadi pasif daripada Co, dan Co lebih
pasif dari Fe. Pasifnya logam karena lapisan oksida
pada permukaannya (Sukardjo, Kimia Fisika : 433)

Oksidasi dan Reduksi Elektrolisis


Pada saat elektrolisis, peristiwa yang terjadi
dielektroda ialah reaksi redoks.
 Di katode : Reaksi reduksi, ini dapat
berupa pengendapan logam atau
timbulnya gas H2 (kutub negatif)
 Di Anoda : Oksidasi,ini dapat berupa
larutan logam atau timbulnya gas O2
(kutub positif)
Peristiwayang terjadi tidak selalu hal di atas,
tetapi dapat setiap reaksi reduksi seperti :
Fe2+ ⇔ Fe3+ + e
Sn2+ ⇔ Sn4+ + 2e
Bila untuk reaksi ini diperlukan E lebih
rendah daripada untuk timbulnya H+ atau O2-, maka
gas tersebut tidak timbul dan zat tadi disebut
depolarisator. Kecuali ion dengan oksidasi di atas
ada depolarisator yang bereaksi dengan H dan O.
Seperti :
LABORATORIUM KIMIA FISIKA
II - 19

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

NaNO3 + 2H ⇔ NaNO2 + H2O 


katoda
C6H5NO2 + 2H ⇔ C6H5NH2 + 2H2O 
katoda
C2H5OH + 2O ⇔ CH3COOH + H2O 
katoda

Sel-sel Perdagangan
Sel primer adalah sel yang setelah
mengeluarkan arus tidak dapat dipakai lagi. Sel
sekunder adalah sel yang setelah mengeluarkan
arus dapat dipakai lagi, setelah diisi dengan arus
dari luar.

Sel Kering atau leclanche (primer)


Kutub Negatif (Logam Zn)
Zn  Zn2+ + 2e
Kutub Positif (C dilapisi pasta NH4Cl dan ZnCl2 serta
MnO2)
2MnO2 + H2O + 2e  Mn2O3 + 2OH-
E = 1,5 V
Total : Zn + 2MnO2 + H2O ⇔ Mn2O3 + Zn2+ + 2OH-
OH- ditarik oleh NH4Cl
2OH- + 2NH4Cl ⇔ 2NH3 + 2Cl- + 2H2O
NH3 yang terjadi ditarik ZnCl2
ZnCl2 + 4NH3 ⇔ [Zn(NH3)4]Cl2

Accumulator (Sekunder)
Kutub negatif : Elektroda Pb
Kurub positif : Elektroda Pb dilapisi PbO2
Elektrolit = H2SO4 20 %, BJ = 1,15
Reaksi di katoda :
Pb  Pb2+ + 2e

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pb2+ + SO42-  PbSO4


Total :
Pb + PbO2 + SH2SO4 ⇔ 2PbSO4 + 2H2O
E = 2,0 V
Reaksi diatas reversibel dan setelah mengeluarkan
arus accu dapat diisi kembali.

Sel Edison (Sekunder)


Katoda = Fe
Anoda = Ni dilapisi Ni2O3 (sesqui
oksida)
Elektrolit = larutan KOH 21% berat
ditambah LiOH
Reaksi :
E = 1,3 V
Fe + 2OH-  FeO + H2O + 2e
Ni2O3 + H2O + 2e  2NiO +2OH +
Fe (s) + Ni2O3 (s)  FeO (s) + 2NiO

Sel Elektrokimia
Sel elektrokimia dapat mempunyai dua fungsi :
 Mengubah tenaga kimia menjadi tenaga
listrik
 Mengubah tenaga listrik menjadi tenaga
kimia
Misal :
1. Sel kering, aki
2. Pengisian aki, elektrolisis
Sel adalah susunan dua elektroda dengan
elektrolit yang menghasilkan tenaga listrik akibat
reaksi kimia dalam sel. Baterai ialah gabungan dua
sel atau lebih dalam susunan paralel atau seri. Sel
dapat bersifat reversibel bila :
 Reaksi dalam sel bersifat reversibel

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 21

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

 Proses dapat dibalik hanya dengan


tenaga luar yang sedikit lebih besar
Sel tidak memenuhi hal ini disebut irreversibel

Sel Reversibel
Zn/Zn Cl2/Ag Cl/Ag
Reaksi :
Zn  Zn2+ + 2e
2AgCl (s) + 2e  2Ag + 2Cl- +
Zn + 2AgCl ⇔ 2Ag + Zn2+ + Cl-

Sel Irreversibel
Zn/H2SO4/Ag
Reaksi :
Zn + H2SO4  ZnSO4 + H2
Bila ada tenaga luar :
2Ag (s) + + H2SO4  Ag2SO4n + H2
ini berarti tidak dapat berjalan reversibel meskipun
adanya tenaga luar menyebabkan terjadinya reaksi.
1. Sel kimia
 Tidak dengan transference
 Dengan transference
2. Sel konsentrasi
 Tidak dengan transference
 Dengan transference

Sel Kimia tidak dengan Transference


Sel kimia tanpa liquid function/transference
terdiri atas dua elektroda elektrolit. Elektrolitnya
sedemikian hingga elektroda yang satu seimbang
dengan kation yang lain dengan anion. Sel kimia
tanpa liquid function dapat digunakan untuk
menetapkan potensial elektroda standart dari sel
atau elektroda, dan juga dapat untuk menentukan
koefisien aktivitas rata-rata.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 22

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Sel Kimia dengan Transference


Emf dalam sel ini juga berasal dari reaksi
kimia, tetapi antara kedua elektrolit terdapat liquid
function / cairan penghubung. Secara tidak teliti
tidak dapat dikatakan emf sel ialah jumlah potensial
elektroda dari kedua elektroda. Hal ini memang
tidak tepat, sebab adanya liquid function
menyebabkan terjadinya potensial function Ej,
akibat difusi ion-ion melalui batas kedua larutan.
Esel = E1 + E2 + E3
Sebagai liquid function biasanya dipakai
larutan KCl 1 N atau jenuh. Liquid function ini
disebut juga salt bridge. Dipakainya larutan KCl
sebagai salt bridge tadi, berdasar kenyataan bahwa
kecepatan ion K+ hampir sama Cl-, hingga potensial
function dibuat sekecil mungkin.

Sel Konsentrasi Tanpa Transference


Emf sel konsentrasi tergantung dari
perpindahan zat dari elektroda satu ke elektroda
lain, karena perbedaan konsentrasi. Sel ini tanpa
transference.

Sel Konsentrasi dengan Transference


Untuk sel :
H2 (g. 1 atm) / HCl (a1) / HCl (a2)/H2 (g. 1 atm)

Reaksi :
H2 (g. 1 atm)  2H+ (a1) + 2e
2H+ (a2) + 2e  H2 (g. 1 atm) +
+ +
2H (a2)  2H (a1)
Elektron dihubungkan luar berjalan dari kiri ke
kanan, dalam sel dari kanan ke kiri melalui liquid
function. Elektron ini dibawah ion Cl- tidak berjalan
sendiri. Sebaliknya ion H+ bergerak dari kiri ke
LABORATORIUM KIMIA FISIKA
II - 23

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


kanan jugalewat liquid function. (Dr. Suhardjo, 1997,
Kimia Fisika).

Potensial tunggal elektrode


Suatu cell terdiri dari dua elektrode yang
dihubungkan. Emf cell juga merupakan jumlah dari
kedua potensial tunggal elektrode. Sebenarnya
yang dapat diukur bukan jumlah absolut kedua
potensial tunggal elektrode tetapi beda potensial
antara keduanya. Untuk dapat menentukan
besarnya potensial tunggal elektrode suatu
elektrode. Elektrode ini dihubungkan dengan
elektrode pembanding dan emf cell diukur. Sebagai
elektrode pembanding mula-mula di pakai elektrode
hidrogen.
Elektroda hidrogen terdiri dari elektroda Pt
yang dilapisi Pt hitam, dimasukkan dalam larutan
asam dengan ; µ + = 1 dan dialiri gas H2 dengan
tekanan 1 atm. Pada semua temperature Eµ 2 = 0.
Elektrode ini sukar dibuat dan digunakan saat ini.
Elektroda hidrogen telah distandarisasi
dengan elektrode hidrogen. Yang banyak dipakai
ialah elektroda kalomel yang terdiri dari air raksa
yang diatasnya di tutup dengan kalomel dan larutan
KCl yang dipakai ada :
- Elektrode kalomel 0,1 N
- Elektrode kalomel 1,0 N
- Elektrode kalomel jenuh
Larutan KCl yang dipakai 0,1 N ; 1,0 N ; dan
jenuh. Bila KCl jenuh dipakai, diberikan pula Hg2Cl2
dan diatasnya diberi KCl padat. Untuk 0,1 N ; 1,0 N ;
dan jenuh yang berlainan yang terbesar terdapat
pada 0,1 N. Reaksi elektrodenya :
Hg2Cl2 (s) + 2e  2Hg(l) + 2Cl- (c=x)
E kal (258 C) 5 0,3338 (0,1N)

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 24

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

0,2800(1,0N)
0,2415(satd)

Tabel I.1.3 POTENSIAL ELEKTRODE KALOMEL


Elektro Simbol E Reaksi
da
Kal 0,1 Hg/Hg2Cl2 E = 0,3338- Hg2Cl2 +
N (s) 7x10-5 2e  2Hg
KCl (0,1N) (t-25) + 2Cl-
(0,1N)
Kal Hg/Hg2Cl2 E = 0,2800- Hg2Cl2 (s)
1,0N (s) 2,4x10-4 + 2e 
KCl (1,0N) (t-25) 2Hg (l) +
2Cl-
Kal satd Hg/Hg2Cl2 E = 0,2415- Hg2Cl2 (s)
(s) 7,6x10-4 + 2e 
KCl (satd) (t-25) 2Hg (l0 +
2Cl- (satd)

Perhitungan potensial tunggal elektrode


Untuk menentukan besarnya E suatu
elektrode, elektrode ini dihubungkan dengan
electrode kalomel dan emf diukur. Kecuali emf juga
dapat diketahui aapakah elektrode tersebut negatif
atau positif terhadap elektrode kalaomel
Misalnya :
a). Cd/Cd++ (a=1) // KCl (1N), Hg2Cl2 (s)/Hg
emf = 0,6830
volt

Cd  Cd++ + 2e ECd
Hg2Cl2 + 2e  2Hg + 2CL -
Ekal
Cd + Hg2Cl2  2Hg + Cd++ + 2Cl-

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 25

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Emf = E Cd + EKal
ECd + Ekal = 0,6830
ECd = 0.6830- Ekal
= 0,6830-0,2800 = 0,4030 volt

b). Hg/Hg2Cl2 (s), KCl (1N) // Cu++ (a=1)/Cu


emf = 0,00570
volt

2Hg + 2Cl-  Hg2Cl2 + 2e


E = -0,2800 volt
Cu + 2e  Cu
E = ECu

2Hg + 2Cl - + Cu++  Cu + Hg2Cl2


Emf= 0,0570 volt

ECu-0,2800 = 0,0570
ECu = 0,0570 + 0,2800
ECu = 0,3370 volt

Perhitungan emf
Besarnya emf dapat dicari dari potensial tunggal
elektrode. Hanya disini harus diingat, bahwa emf
dari suatu cell selalu positif. Bila susuna cell
sedemikian hingga emf negatif, maka reaksinya
harus dibalik
Misal : Cd/Cd++ (a=1) // Cu++ (a=1) /Cu

Reaksinya : Cd  Cd++ + 2e
ECd = 0,4030
Cu++ + 2e  Cu
ECu = 0.3370

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 26

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Cd + Cu++  Cu + Cd++
Emf = 0,740volt

Emf positif, jadi reaksi diatas sudah benar. Bila


reaksi dibalik akan salah sebab Emf negatif.

Pengukuran EMF
Elektromotive force ialah beda potensial yang
menyebabkan arus mengalir dari elektrode dengan
potensial tinggi ke elektrode dengan potensial
rendah. Emf dinyatakandalam volt.
Besarnya Emf dapat ditentukan dengan
memakai voltmeter, yang diletakkan dalam
hubungan listrik. Keberatannya ialah bahwa dengan
cara ini ada arus cell hingga emf yang terukur buka
emf sesungguhnya.
Dasar potensiometer ialah prinsip
kompensasi dari poggendroff . Untuk itu dipakai
cell dengan emf yang dipasang berlawanan arah
hingga arus saling mengimbangi.

Pembentukan gas oksigen

H 2O (l) →4H + (aq) + O2 (g) + 4e-

Oksidasi gas Hidrogen

H2 (g) →2H+(aq) + 2e-

Mekanisme terjadinya pelapisan logam adalah


dimulai dari dikelilinginya ion-ion logam oleh
molekul-molekul pelarut yang mengalami polarisai.
Di dekat permukaan katoda, terbentuk daerah

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 27

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Electrical Double Layer (EDL) yang bertindak seperti
lapisan dielektrik. Adanya lapisan EDL memberi
beban tambahan bagi ion-ion untuk menembusnya.
Dengan gaya dorong beda potensial listrik dan
dibantu oleh reaski-reaksi kimia, ion-ion logam akan
menuju permukaan katoda dan menangkap electron
dari katoda, sambil mendeposisikan diri di
permukaan katoda. Dalam kondisi equilibrium,
setelah ion-ion mengalami discharge menjadi atom-
atom kemudian akan menempatkan diri pada
permukaan katoda dengan mula-mula
menyesuaikan mengikuti susunan atom dari
material katoda.

c. Demikianlah secara ringkas mekanisme


pelapisan logam, pada artikel berikutnya
akan dibahas lebih dalam lagi tentang proses
chrome plating dan pelapisan lainnya

Elektrolisis
Elektrolisis adalah hantaran listrik melalui
larutan yang disertai oleh suatu reaksi. Reaksi
elektrolisis tergolong reaksi redoks tidak spomtan.
Reaksi itu dapat berlangsung karena pengaruh
energi listrik. Jadi pada elektrolisis terjadi energi
listrik menjadi energi kimia.
Elektron (listrik) memasuki larutan melalui kutub
negatif (katoda). Spesi tertentu dalam larutan
menyerap electron dari katoda dan mengalami
reduksi. Sementara itu spesi lain melepas elektron
di anoda dan mengalami oksidasi. Jadi, sama seperti
sel volta reaksi di katoda adalah reduksi, sedangkan
reaksi di anoda adalah oksidasi. Akan tetapi,
muatan elektrodanya berbeda. Pada sel volta,
katoda bermuatan positif, sedangkan pada anoda
bermuatan negatif. Pada sel elektrolisis katoda

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 28

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

bermuatan negatif sedangkan anoda bermuatan


positif.

Reaksi Pada Elektrolisis


Pada sel elektrolisis reaksi mulai pada katoda, yaitu
tempat arus masuk:
1. Reaksi pada katoda.
Pada katoda terjadi reaksi reduksi. Ion-ion
positif atau kation electron-elektron yang
bersumber dari sumber arus. Zat yang terbentuk
dari reaksi ini akan melekat pada batang katoda
kecuali bila pada zat yang dihasilkan berbentuk gas.
Apalagi zat hasil reaksi berfase gas. Maka akan
keluar sebagai gelomban-gelombang di sekitar
batang katoda yang selanjutnya akan bergerak ke
permukan larutanelektrolit. Dalam larutan, ion
positif menuju ke katoda dan ion negatif menuju ke
anoda.
a. Ion Hydrogen (H+ )
Ion hydrogen direduksi menjadi molekul gas
hydrogen
Reaksi : 2H+ + 2e H2
b. Ion logam
Pada elektrolisis larutan garam. Ion-ion dibedakan
atas :
* Ion logam alkali / alkali tanah
Ion alkali / alkali tanah seperti Li+, Na+, K+,
Ba , Sr2+, dan Ca2+ tidak dapat mengalami reduksi (
2+

logam-logam ini reaktif terhadap air) sebagai ganti


air akan mengalami reaksi reduksi.
* Ion logam selain alkali / alkali tanah
Ion logam-logam selain alkali dan alkali tanah
seperti Ni2+, Zn2+, Cu2+ akan tereduksi menjadi
atom-atom logam yang akan melekat pada katoda.
Contoh : Cu2+ + 2e  Cu
Ni2+ + 2e  Ni
LABORATORIUM KIMIA FISIKA
II - 29

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Au3+ + 3e  Au
Jika yang dielektrolisis, maka ion logam
menyusun garam tersebut akan direduksi menjadi
logam.
Contoh : Ion Na+ pada elektrolisis leburan cairan
NaCl akan direduksi menjadi logam Na : Na2+ + 2e
 Na

2. Reaksi pada anoda


Pada anoda terjadi reaksi oksidasi. Ion-ion
negatif akan tertarik oleh anoda (kutub positif),
karena itu ion negatif disebut atom. Reaksi yang
terjadi pada anoda sangat dipengaruhi oleh anion
dan jenis elektroda yang digunakan. Jika anoda
terbuat dari elektroda inert (elektroda yang tidak
ikut bereaksi) seperti Pt, C, dan Au maka ion negatif
dan air akan teroksidasi. Ion-ion yang akan
dioksidasi pada anoda antara lain :
a. Ion hidroksil (OH)
Ion hidroksil akan teroksidasi menjadi H2O dan O2
Reaksinya : 4OH  2H2O + O2 + 4e
b. Ion sisa asam
* Ion sisa asam yang tidak beroksigen seperti : Cl,
Br, I, akan teroksidasi menjadi gasnya (Cl2, BR2, I2)
Contoh : 2Cl  Cl2 + 2e
* Ion sisa asam yang beroksigen seperti SO4 , NO3,
PO43- , dan lain-lain tidak akan teroksidasi. Sebagai
gantinya air yang akan teroksidasi menjadi H+ dan
O2
Reaksinya : 2H2O  4H+ +O2 + 4e
Jika anodanya dari logam lain (bukan Pt, C, atau Au)
maka anoda akan mengalami oksidasi menjadi
ionnya.
Contoh : jika anoda terbuat dari Ni, maka Ni akan
teriksidasi menjadi Ni2+

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 30

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2H+ (a2) + 2e  H2 (g. 1 atm)


Atau ; H+ (a2)  H+ (a1) a1>a2
Elektron dihubungkan dengan luar bergerak
dari kiri ke kanan, dalam cell dari kanan ke kiri
melalui liquid junction. Electron ini dibawa oleh ion
CL- . Sebaliknya, ion H+ bergerak dari kiri ke kanan
juga melalui liquid junction. Hal ini berarti bahwa
reaksi tidak dapat berjalan reversible, meskipun ada
tenaga luar.
Cell elektrokimia terdiri atas dua buah
elektroda yang dimasukkan dalam larutan yang
berisi ion-ion yang bersangkutan.
Ada dua jenis cell elektrokimia :
a. Cell kimia
* Tidak dengan transference
*Dengan transference

b. Cell konsentrasi
*Tidak dengan transference
*Dengan transference
1. Cell kimia dengan transference
Emf dalam cell ini juga berasal dari reaksi
kimia, tetapi antara kedua elektrolit terjadi liquid
junction / cairan penghubung.
E cell = E1 + E2 + EJ
Sebagai liquid junction biasanya dipakai KCL
1N atau jenuh liquid junction ini juga disebut salt
bridge. Dipakai larutan KCL sebagai larutan salt
brige, berdasarkan kenyataan bahwa kecepatan ion
K+ hampir sama dengan CL- , hingga potensial
junction dapat dibuat sekecil mungkin.
2. Cell konsentrasi tanpa transference
Emf cell konsentrasi tergantung dari
perpindahan zat dari elektroda satu ke elektroda
lain, karena perbedaan konsentrasi.
3. Cell konsentrasi dengan transference

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 31

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Untuk cell :
H2 (g. 1 atm ) / HCL (a1) / HCL (a2) / H2 (g. 1atm)
Reaksi :
H2 (g.1atm)  2H+ (a1) + 2e
107.880 : 0, 00118 = 96496
Listrik sebesar ini disebut 1 faraday.
Jadi satu faraday adalah jumlah listrik yang
diperlukan untuk mendapatkan 1 gram ekivalen zat
dari larutannya.
Hukum Faraday II :
“Massa berbagai zat yang terjadi selama elektrolisis
berbanding lurus dengan berat ekivalensinya (ME)”.
4. Cell elektrokimia
Cell elektrokimia mempunyai dua fungsi :
*Mengubah tenaga kimia menjadi tenaga listrik.
*mengubah tanaga listrik menjadi tanaga kimia.
Misal : 1. cel kering, accumulator
2. pengisian accu, elektrolisis
Cell adalah susunan dua elektrode dengan
elektrolit, yang menghasilkan tenaga listrik akibat
reaksi kimia dalam cell. Baterray adalah gabungan
dua cell atau lebih dalam susunan pararel atau atau
seri. Sel dapat bersifat reversible bila:
*Reaksi dalam cell cell bersifat reversible
*Proses dapat dibalik hanya dengan tanaga luar
yang sedikit lebih cell tidak memenuhi hal ini
disebut irreversible.
Cell reversible.
Zn/Zn Cl2/Ag Cl/Ag
Reaksi : ZnZn2+ + 2e
2 AgCL (s) +2e  2 Ag + 2Cl-
-------------------------------------
Zn + 2 AgCl  2 Ag + Zn2+ +CL-
Cell irreversible
Zn/H2SO4 + H2
Bila ada tenaga luar :

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 32

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2 Ag (s) + H2SO4  Ag2SO4 + H2


Umumnya, potensial dari sebuah elektroda
logam sebelumnya lebih positif ketika konsentrasi
dengan ion-ion logam meningkat dan dapat
berubah-ubah. Berdasarkan mudah tidaknya
melepas electron, dalam suatu larutan maka
disusunlah urutan deretan tegangan logam-logam
sebagai berikut :
Li, K, Ba, Ca, Na, Mg, Al, Mn, Zn, Ni, Sn, Pb, H, Cu,
Hg, Ag, Pt, Au
Sehingga :
(1) Ke kiri makin mudah melepas electron  makin
elektropositif  makin mudah dioksidasi (reduktor
makin kuat)  makin sukar direduksi.
(2) Ke kanan makin mempertahankan electron
makin elektronegatif makin mudah direduksi
(oksidator makin kuat) makin sukar dioksidasi. Oleh
karena itu dalam reaksi penggaraman logam-logam
sebelah kiri mampu mengusir logam yang lain yang
tertata di sebelah kanannya.
(underwood, AI, “ Analisa Kimia Kuantitatif “, 1993,
hal 338 – 342)
Hukum Faraday

Hukum faraday I :
“Massa zat yang terjadi akibat reaksi kimia
elektroda berbanding lurus dengan jumlah listrik
yang lewat larutan selama elektrolisis”
Untuk perak telah didapatkan bahwa 1
coulumb menghasilkan 1.118 mgr perak. Untuk
mendapatkan 1 grek Ag atau 107.880 gram perak,
diperlukan sekitar :
Dalam elektrolisis reaksi yang terjadi
tergantung pada pengalihan electron pada
elektroda, karena itu sama artinya dengan reaksi
reduksi oksidasi. Di anoda, ion negatif dalam larutan
LABORATORIUM KIMIA FISIKA
II - 33

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


dapat kehilangan elektronnya membentuk spesis
netral. Atau atom dari elektroda dapat melepas
elektronnya dan pindah ke larutan sebagai ion
negatif. Kedua hal tadi adalah reaksi oksidasi.
Di katoda, ion positif dalam larutan dapat
mengambil electron dalam membentuk sepsis
netral. Jadi reaksi katoda, reaksi reduksi. Pada
elektrolisis biasa kita menggunakan elektroda yang
sama, hal ini dimasukkan dalam larutan yang
bersangkutan disinilah letak elektroda yang sama.
Pada potensial elektroda bila batang logam
dicelupkan dalam pelarut polar, mula-mula akan
terjadi ionisasi dalam logam tersebut. Tetapi pada
suatu saat akan terjadi suatu kesetimbangan
akibatnya terjadi beda potensial akan batang logam
dengan larutan.
Tiap-tiap logam mempunyai beda potensial
tertentu yang tidak sama dengan logam lainnya. Hal
ini tergantung pada kecenderungan logam-logam
tersebut melepas atau mempertahankan
elektronnya.
Berikut dijelaskan besarnya potensial antara logam
dan larutan dari ion dalam persamaan Nerst.
Persamaan Nerst :
E= Eo + (0.059 / n) log Mn+
Dengan : E = potensial elektroda dari suatu
elektrokimia
Eo = standard potensial elektroda
e = Nomor (koefisien dari electron)
Dimana pada persamaan ini terletak pada
suhu 250 . persamaan Nerst menunjukkan
bagaimana potensial elektroda berubah dengan
konsentrasi (lebih/kurang) dari substansi. Oleh
karena itu reaksi elektroda logam berubah dengan
elektroda.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 34

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Contoh untuk reaksi dengan elektroda logam Sn2+ +


2e  Sn adalah sebagai berikut : E = -0,136 +
0,0259 log Sn2+
Reaksinya : Ni  Ni2+ + 2e
Penghantaran elektrolit tidak hanya deapat
berlangsung dalam larutan elektrolit, tapi dapat
juga berlangsung pada leburan leburan elektrolit.
Leburan NaCl , misalnya dapat menghasilkan arus
listrik sebab dalam leburan NaCl terdapat Na+ dan
Cl- dalam keadaan bebas, tidak terlibat dalam kisi
kristal. Itulah sebanya ion-ion dapat menghantarkan
arus listrik.
Bila dua keeping lempeng dicelupkan ke
dalam leburan NaCl, kemudian lempeng
dihubungkan dalam kutu positif dan kutub negatif
dari serangkaian bateray, maka terjadilah peristiwa
elektrolisis. Lempeng dihubungkan dengan kutub
positif disebut elektroda positif atau anoda ,
sedangkan elektroda yang dihubungkan dengan
kutub negatif disebut elektroda negatif atau katoda.
Ion-ion Na+ bergerak ke arah anoda, karena ion
positif dinamakan kation. Sebaliknya ion-ion Cl-
bergerak ke anoda, karena itu ion-ion negatif
dinamakan anion.
Katoda mengandung kelebihan electron
sehingga setelah ion Na+ mencapai katoda maka
mengikat electron dan dinetralkan menjadi logam
natrium. Sebaliknya pada anoda kekurangan
electron, maka setelah ion Cl- mencapai anoda ia
menyerahkan electron dan di ubah menjadi atom Cl
kemudian membentuk gas Cl2 .
Bila semua reaksi yang terjadi dalam
elektrolis leburan NaCl maka diperoleh persamaan
reaksi sebagai berikut :
NaCl  Na+ (1) + Cl- (1)
Na+ (1) + e  Na (1)
LABORATORIUM KIMIA FISIKA
II - 35

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Cl-(1)  ½ Cl2 (g) + e


----------------------------
NaCl (1)  Na(1) + ½ Cl2 (g)
Logam natrium yang dihasilkan pada katoda
dan gas klor yang dihasilkan pada anoda dapat
bereaksi membentuk kembali natrium klorida. Untuk
mencegah terjadinya reaksi maka perlu diberi
pemisah antara anoda dengan katoda, pemisah itu
harus dapat dilalui oleh ion-ion Na+ dan Cl- dan
dapat dinamakan diafragma.

Hukum Faraday II
“ Massa berbagai zat yang terjadi selama
elektrolisis berbanding lurus dengan berat
ekuivalennya (ME)”.
Dengan Rumus:
W1 : W2 = e1 : e2 atau
W : W = Ar1 ; Ar2 ===========
W1 .V1 = W2 . V2
v1 v2
Ar1
Berat Cu : Berat Ag ; Berat Cl2 --- BECU : BEAg :
BECl
Menurut Milikan, muatan 1 elektron 1,692 x 10 -11
coloumb, jadi jumlah elektron dalam faraday: 96.
494
----------------- = 6, 023 x 1023 elektron (bil
Avogadro)
1, 602 x 10-11
Jadi 1 faraday sesuai dengan 6, 023 x 1023 partikel
dengan muatan tunggal atau 1 grek zat. Atas dasar
hukum faraday dapat dibuat alat untuk menentukan
jumlah listrik, yaitu coulometer. Berat Ag yang
terjadi dapat diketahui dengan penimbangan
mangkuk sebelum dan sesudah.
E

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 36

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

g = ---------- x i x t
F
Coulometer Cu = coulometer Ag
Coulometer Iodin = memakai larutan KI, I2
yang terjadi dapat dititer dengan Na2S2O3

Reduksi dan oksidasi Elektrolit


Proses yang terjadi pada elektroda bukan
hanya merupakan pengendapan logam atau
timbulnya gas hidrogen di sulfit pada katoda dan
terjadi pelarutan logam dan timbulnya gas oksigen
pada anoda, melainkan juga mungkin terjadi reaksi
reduksi pada katoda dan reaksi oksidasi pada
anoda. Jika reaksi oksidasi dan reduksi demikian
terjadi pada potensial yang lebih rendah daripada
yang diperlukan untuk timbulnya gas oksigen dan
hidrogen, maka pembentukan as itu akan
dihindarkan dan zat tadi dinamakan depolisator.
Contoh depolisator yang bereaksi dengan hidrogen
pada katoda adalah
NaNO3 + 2H+ --------------- NaNO3 + H2O
C6H5NO2 + 2H+ -------------- C6H5NH2 + 2H2O
Sedangkan contoh depolisator yang bereaksi
dengan oksigen pada anoda adalah
C2H5NO2 + 2O2 ------------- CH3COO + H2O
Pada elektrolisis biasa potensial elektroda
dicelupkan ke dalam pelarut polar. Mula – mula
akan terjadi ionisasi dalam logam tersebut. Tetapi
suatu saat terjadi kesetimbangan akibat terjadinya
beda potensial batang logam dengan larutan.

Polarisasi
Polarisasi merupakan teknik analitis
berdasarkan elektrokimia. Missal pada elektroda
merkuri sebagai katoda dan anoda yang tak
terpolarisasi dan cuplikan yang encer. Ketika setiap

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 37

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


bahan tereduksi pada katoda maka diperolah
peningkatan arus. Polarisasi berguna untuk
mendeteksi logam dalam jumlah kecil dan untuk
menyelidiki kompeks yang tersolvasi.
Solvasi ialah interaksi ion dari zat terlarut
dengan molekul pelarutnya. Yang hanya terjadi
pada pelarut polar. Misalnya NaCl dilarutkan dalam
air maka ion na tertarik oleh molekul air dengan
atom O yang negative mengarah Na+ positif. Dan
dapat juga terjadi pembentukan ikatan koordinat.
Solvasi yang pelarutnya disebut hidrasi. Polarisasi
dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
1. Polarisasi konsentrasi disebabkan perubahan
konsentrasi di elektroda yang menyebabkan
timbulnya beda potensial.
2. Polarisasi over – voltage (tegangan lebih)
disebabkan oleh jenis elektroda (anoda &
katoda) dan proses terjadinya.

Pemisahan logam secara elektrolit


Jika ada perbedaan potensial yang cukup,
maka logam dapat dipisahkan secara elektrolit dari
ion hydrogen didalam larutan dan juga dari logam
lainnya. Perbedaan potensial yang memenuhi
sekitar 0, 2 volt.
Dengan cara seperti ini, maka Ag dapat
dipisahkan dari Cu , Cu dari Cd dan Cd dari Zn.
Pertama – pertama diatur potensial elektrolisis
untuk paling tinggi kemudian menuju ke potensial
paling rendah. Untuk menghindari timbulnya gas
seperti gas hidrogen di sulfide pada katoda, perlu
mengatur keasaman larutan.
Jika dua logam memiliki potensial elektrolisis
yang sama maka kedua logam tersebut akan
mengendap bersama – sama. Untuk menghindari
hal tersebut maka ion – ion logam ini dibuat

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 38

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

kompleks. Misalnya dibuat kompleks dengan ion


sianida.
Jika logam inert seperti Pt, C digunakan
sebagai anoda dalam elektrolisis. Larutan yang
hanya menghasilkan gas oksigen, maka hasil pada
anoda adalah selalu gas oksigen. Tetapi jika dipakai
gas yang lebih aktif, maka pada anoda dapat
menghasikan dua kemungkinan yaitu larutan logam
atau gas oksigen. Namun karena over voltage maka
oksigen pada kebanyakan logam akan tinggi, jadi
hanya platina dan emas yang menhasilkan oksigen.
Sedangkan pada logam – logam lain akan larut
dalam proses anoda yang menghsilkan ion – ion
logam.
Pada umumnya reaksi pelarutan logam dalam
keadaan seimbang, sehingga potensial yang
diperlukan untuk proses hanya sedikit lebih positif
daripada potensial logam itu sendiri. Untuk Fe, Ni,
Co kelebihan potensial itu hanya sekitar 0, 3 sampai
0, 4 volt.
Potensial logam akan naik apabila rapat
arusnya dinaikkan sehingga arus dalam akan turun
dan proses akan berhenti. Pada potensial yang
tinggi gas oksigen mulai timbul dank arena
terbentuknya lapisan oksida pada permukaan logam
maka logam – logam akan menjadi pasif. Logam Ni
lebih mudah menjadi pasif dairpada Co serta Co
lebih mudah pasif daripada Fe.
Dalam reaksi reversible jalan reaksi dapat
dibalik hanya dengan menambahkan sedikit energi
luar ( Eo). Energi luar (Eo) yang dipakai dalam
pelapisan logam harus lebih besar sebab untuk
mengatasi reaksi irreversible dari cell. Kelebihan ini
disebut juga voltase polarisasi dan prosesnya
disebut polarisasi.
Cell reversible:

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 39

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


(-) (+)
Zn / Zn Cl / Ag Cl / Ag
Reaksi : Zn ----------- Zn + 2e
2 AgCl( s) + 2e ======== 2Ag + 2Cl-
-------------------------------------------------
Zn + 2AgCl ========= 2 Ag + Zn2+ + 2Cl
Reaksi dapat berjalan sealiknya, tenaga luar sedikit
lebih besar:
2Ag + Zn2+ + 2 Cl ========= Zn + 2 AgCl
Cell irreversible:
(-) (+)
Zn / H2SO4 / Ag
Reaksi : Zn + H2SO4 ----------- ZnSO4 + H2
Bila ada reaksi luar:
2 Ag(s) + H2SO4 ========= Ag2SO4 + H2
Ini berarti reaksi tidak berjalan reversible, meskipun
adanya energi luar yang menyebabkan terjadinya
reaksi.
Pelapisan logam terbentuk dari sebuah
logam. Sebab teori dan prakteknya terletak dari
bagaimana cara pembuatan dan memperbaiki
kualitas logam dengan baik. Didalam melakukan
pelapisan logam, benda kerja yang akan dilapisi
dibersihkan dari kotoran – kotoran, kemudian benda
dipoles dengan geriga. Tujuan dari polishing adalah
agar permukaan benda kerja rat dan
menghilangkan karat yang ada di sela – sela.
Pelapisan logam metode penyepuhan /
elektroplanting dimaksudkan untuk melindungi
logam terhadap korosi. Pada metode ini logam yang
akan dilapisi dijadikan katoda sedangkan logam
yang melapisi dijadikan anoda. Dimana logam yang
dilapisi dan yang melapisi memiliki nilai konduktif,
agar dalam pelapisan logam tidak mengalami
gangguan atau elektrofoming, maka hasil dari
dilakukannya metode tersebut akan mengurangi

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 40

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

biaya pemeliharaan dan tahan lama tanpa


mengabaikan kualitas dari segi dekoratifnya.
Dalam proses pelapisan logam, parameter
elektrolisis sangat dibutuhkan dalam hubungan
antara anoda dengan massa jenis tembaga ( Cu2+)
yang memberi pendekatan antara tembaga dibagi
dengan daerah permukaan anoda, juga pada katoda
memberi pendekatan dengan tembaga (Cu2+) yang
dihubungkan dengan daerah katoda.

CARA PEMBERSIHAN
A. Pembersihan secara kimia ada beberapa cara,
yaitu :
1.Penguapan.
Cara ini dilakukan dengan menggunakan uap
senyawa khlor hidrokarbon (chlorinated
hydrocarbon) sebagai pembersih atau pengurai
minyak. Penggunaan uap tersebut mempunyai
keuntungan-keuntungan sbb :

-kestabilan komposisi yang tinggi


-penguraian minyak atau paslin yang baik
-kepadatan uap yang tinggi
-tidak dapat terbakar atau menyala

2.Pencelupan
Pembersihan karat atau oksida logam yang lain
biasanya menggunakan larutan kimia seperti asam
chlorida, asam sulfat dan asam nitrat dengan
konsentrasi larutan, suhu dan lama pencelupan
yang berbeda-beda tergantung kepada jenis logam
yang akan dibersihkan.

B.PembersihansecaraListrik
Pembersihan secara listrik dibagi dua yaitu,
pembersihan dari kotoran dan penghalusan atau
LABORATORIUM KIMIA FISIKA
II - 41

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


sering disebut secara listrik
(elektropolishing).pemolesan
-Melindung logam dasar dengan logam yang
kurang mulia, misalnya pelapisan seng pada baja.
Meningkatkan ketahanan produk terhadap gesekan
(abrasi), misalnya pelapisan chromium keras.
-Memperbaiki kehalusan atau bentuk permukaan
dan toleransi logam dasar, misalnya : pelapisan
nikel, cromium.

Dari fungsi diatas bahwa pelapisan melindungi


logam dari korosi , yang di maksud dengan korosi
disini adalah suatu proses elektrokimia dimana
atom-atom akan bereaksi dengan zat asam dan
membentuk ion-ion positif (kation). Hal ini akan
menyebabkan timbulnya aliran-aliran elektron dari
suatu tempat ke tempat yang lain pada permukaan
metal.
Secara garis besar korosi ada dua jenis yaitu :
- Korosi Internal
yaitu korosi yang terjadi akibat adanya kandungan
CO2 dan H2S pada minyak
bumi, sehingga apabila terjadi kontak dengan air
akan membentuk asam yang
merupakan penyebab korosi.

- Korosi Eksternal
yaitu korosi yang terjadi pada bagian permukaan
dari sistem perpipaan dan
peralatan, baik yang kontak dengan udara bebas
dan permukaan tanah, akibat
adanya kandungan zat asam pada udara dari tanah.

Pencegahan Korosi
Dengan dasar pengetahuan tentang elektrokimia
proses korosi yang dapat menjelaskan mekanisme

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 42

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dari korosi, dapat dilakukan usaha-usaha untuk


pencegahan terbentuknya korosi. Banyak cara
sudah ditemukan untuk pencegahan terjadinya
korosi diantaranya adalah dengan cara proteksi
katodik, coating, dan pengg chemical inhibitor.

Proteksi Katiodik
Untuk mencegah terjadinya proses korosi atau
setidak-tidaknya untuk memperlambat proses korosi
tersebut, maka dipasanglah suatu anoda buatan di
luar logam yang akan diproteksi. Daerah anoda
adalah suatu bagian logam yang kehilangan
elektron. Ion positifnya meninggalkan logam
tersebut dan masuk ke dalam larutan yang ada
sehingga logaml tersebut berkarat. Terlihat disini
karena perbedaan potensial maka arus elektron
akan mengalir dari anoda yang dipasang dan akan
menahan melawan arus electron dari logam yang
didekatnya, sehingga logam tersebut berubah
menjadi daerah katoda. Inilah yang disebut
Cathodic Protection.
Dalam hal diatas elektron disuplai kepada logam
yang diproteksi oleh anoda buatan sehingga
elektron yang hilang dari daerah anoda tersebut
selalu
diganti, sehingga akan mengurangi proses korosi
dari logam yang diproteksi. Anoda buatan tersebut
ditanam dalam suatu elektrolit yang sama (dalam
hal ini tanah lembab) dengan logam (dalam hal ini
pipa) yang akan diprotekasi dan antara dan pipa
dihubungkan dengan kabel yang sesuai agar proses
listrik diantara anoda dan pipa tersebut dapat
mengalir terus menerus.

Coating

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 43

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Cara ini sering dilakukan dengan melapisi logam
(coating) dengan suatu bahan agar logam tersebut
terhindar dari korosi. Pemakaian Bahan-Bahan Kimia
(Chemical Inhibitor) Untuk memperlambat reaksi
korosi digunakan bahan kimia yang disebut inhibitor
corrosion yang bekerja dengan cara membentuk
lapisan pelindung pada permukaan metal. Lapisan
molekul pertama yang tebentuk mempunyai ikatan
yang sangat kuat yang disebut chemis option.
Corrosion inhibitor umumnya berbentuk fluid atau
cairan yang diinjeksikan pada production line.
Karena inhibitor tersebut merupakan masalah yang
penting dalam menangani kororsi maka perlu
dilakukan pemilihan inhibitor yang sesuai dengan
kondisinya. Material corrosion inhibitor terbagi 2,
yaitu :
1. Organik Inhibitor
Inhibitor yang diperoleh dari hewan dan tumbuhan
yang mengandung unsur
karbon dalam senyawanya. Material dasar dari
organik inhibitor antara lain:
- Turunan asam lemak alifatik, yaitu: monoamine,
diamine, amida, asetat,
oleat, senyawa-senyawa amfoter.
- Imdazolines dan derivativnya
2. Inorganik Inhibitor
Inhibitor yang diperoleh dari mineral-mineral yang
tidak mengandung unsur
karbon dalam senyawanya. Material dasar dari
inorganik inhibitor antara lain
kromat, nitrit, silikat, dan pospat.

Jenis-Jenis Pelapisan Logam


Macam-macam cara pelapisan logam dapat
dikelompokkamn enjadi:
1 Pelapisan logam dengan logam lain

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 44

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Secara listrik.
2. Pelapisan logam dengan logam lain
Tanpa listrik.
3. Pelapisan logam dengan bahan oksida
Secara listrik.
4. Pelapisan logam dengan bahan oksida
Tanpa listrik.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA