Anda di halaman 1dari 16

INFAQ DAN SHADAQAH SEBAGAI INSTRUMEN INVESTASI PUBLIK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata


Kuliah: Manajemen Investasi dan Pasar Modal
Dosen Pengampu:
Mundhori S.E M.E

Disusun oleh:

1. Nila Sofiana (931315918)


2. Pradita Sukma Ardiansyah (931317818)
3. Dina Septi Nurwakhidah (931318518)
4. Suhartini (931328718)

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARI’AH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) KEDIRI
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat
dan izin-Nya lah makalah Manajemen Investasi dan Pasar Modal dengan judul
“Infaq dan Shadaqah sebagai Instrument Investasi Publik” dapat terselesaikan
dengan baik.
Pengerjaan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, dan kami
tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada :
1. Allah SWT yang selalu memudahkan kami hingga dapat menyelesaikan
makalah ini dengan tepat waktu.
2. Mundhori S.E M.E, yang telah membimbing kami dalam
menyelesaikan tugas makalah ini.
3. Orang tua kami yang senantiasa memberi dukungan kepada kami.
4. Teman-teman semua yang telah membantu mempersiapkan bahan
untuk membuat makalah ini.
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Manajemen Investasi dan Pasar Modal dengan tujuan agar mahasiswa dan
mahasiswi mengetahui serta memahami materi dari makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan mengingat kemampuan dan pengetahuan kami yang masih sangat
terbatas. Untuk itu kami mengharap kritik dan saran demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata dengan segala puji bagi Allah SWT semoga makalah ini dapat
menjadi manfaat bagi kita semua.

Kediri, 26 Mei 2021

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
BAB I.......................................................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................2
C. Tujuan...........................................................................................................2
BAB II.....................................................................................................................3
PEMBAHASAN.....................................................................................................3
A. Pengertian Infaq dan Shadaqah.....................................................................4
1. Pengertian Infaq........................................................................................3
2. Pengertian Shadaqah.................................................................................3
B. Instrument investasi publik Infaq dan Shodaqoh..........................................4
1. Infaq dan shodaqoh (sunnah) sebagai instrument investasi publik...........4
C. Investasi dana Infaq dan Shadaqah...............................................................5
D. Sedekah Sebagai Solusi Terbaik dalam Berinvestasi...................................6
BAB III..................................................................................................................10
PENUTUP.............................................................................................................10
A. Kesimpulan...................................................................................................10
B. Saran.............................................................................................................10
Daftar Pustaka......................................................................................................11
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tidak bisa dipungkiri bahwa ummat Islam saat ini tengah mengalamai
kemunduran di berbagai bidang. Kemunduruan ini antara lain disebabkan oleh
kerusakan di bidang aqidah dan akhlak ummatnya sendiri. Tentu saja hal ini
selain merupakan kesalahan ummat Islam sendiri, juga karena strategi global
musuh-musuh Islam terhadap ummat Islam di dunia. Selain itu kemunduran
ini juga disebabkan oleh kurang kuatnya perekonomian ummat Islam, padahal
dalam sumber daya manusia Islam memegang jumlah terbesar terutama di
Indonesia.
Saat ini investasi berdasarkan prinsip syariah teah menjadi fenomena
global. Krisi ekonomi global telah memebrikan kekuatan secara langsung dan
tidak langsung kepada sistem finansial Islam yang berdasarkan syariah. Di
saat pasar keuangan dunia dilanda krisis, sistem keuangan syariah menjadi
alternatif pendanaan dari investasi. Pemerataan pendapatan nasional yang
tidak berjalan dnegan baik dapat menjadi salah satu penyebab kemiskinan di
suatu negara.
Sesungguhnya jika ditarik kesimpulan dari seluruh masalah ekonomi
ummat Islam adalah bagaimana agar kekayaan bumi ini dapat dikelola dan
terdistribusi dengan adil, pada seluruh ummat sehingga tidak ada persaingan
yang tidak sehat serta egoisme yang berlebihan yang akan semakin
memperlebar jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin.
Infaq adalah pemberian atau sumbangan harta selain zakat untuk
kebaikan.Infaq berasal dari kata anafaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu
harta untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat, infaq berarti
mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu
kepentingan yang diperintahkan Islam. Jika zakat ada nishabnya, infaq tidak
mengenal nishab. Infaq dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman, baik yang
berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia sedang lapang ataupun
sempit. Sedangkan menurut Undang-undang No.23 Tahun 2011 tentang
pengelolaan zakat dijelaskan bahwa infaq adalah harta yang dikeluarkan oleh
seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Perintah

4
mengenai infaq tercantum dalam al-Qur’an surah al-Imron ayat 134.
Infaq menurut pengertian umu adalah shorful mal ilah hajah (mengatur
atau mengeluarkan harta untuk memenuhi keperluan). Infaq dapat bermakna
positif dan negativ. Mengeluarkan harta untuk membiayayai kemaksiatan
bahkan untuk memerangi Islam termasuk infaq. Oleh karena itu ada infaq fi
sabilillah dengan demikian infaq dapat dikleuarkan oleh orang yang beriman
baik yang berpenghasilan tinggi atau rendah dalam keadaan lapang atau
sempit.
Hukum Islam telah memberikan panduan kepada kta dalam berinfaq
atau membelanjakan harta. Allah dalam banyak ayat dan rosul dalam banyak
hadits telah memebrikan kita agar menginfaqkan harta yang kita miliki. Allah
juga memerintahkan agar seseorang membelanjakan harta untuk dirinya
sendiri (QS ath-Thalaq: 7). Dalam membelanjakan harta itu hendaklah yang
dibelanjakan adalah harta yang baik, bukan yang buruk khususnya dalam
menunaikan infaq (QS al-Baqarah: 267).

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, pemakalah memiliki beberapa rumusan masalah,
diantaranya:
1. Apa Pengertian Infaq dan Shadaqah?
2. Bagaimana Perbedaan Zakat, Infaq dan Shadaqah?
3. Bagaimana Infaq dan Shadaqah dalam Konteks Ekonomi Islam?

C. Tujuan
1. Untuk Mengetahu Pengertian Infaq dan Shadaqah.
2. Untuk MengetahuiPerbedaan Zakat, Infaq dan Shadaqah.
3. Untuk Mengetahui Infaq dan Shadaqah dalam Konteks Ekonomi Islam.

5
BAB II

PEMBAHASA

A. Pengertian Infaq dan Shadaqah


1. Pengertian Infaq

Infaq adalah pemberian atau sumbangan harta selain zakat untuk


kebaikan.Infaq berasal dari kata anafaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu
harta untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat, infaq berarti
mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu
kepentingan yang diperintahkan Islam. Jika zakat ada nishabnya, infaq tidak
mengenal nishab. Infaq dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman, baik yang
berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia sedang lapang ataupun
sempit. Sedangkan menurut Undang-undang No.23 Tahun 2011 tentang
pengelolaan zakat dijelaskan bahwa infaq adalah harta yang dikeluarkan oleh
seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Perintah
mengenai infaq tercantum dalam al-Qur’an surah al-Imron ayat 134.

Infaq menurut pengertian umu adalah shorful mal ilah hajah (mengatur
atau mengeluarkan harta untuk memenuhi keperluan). Infaq dapat bermakna
positif dan negativ. Mengeluarkan harta untuk membiayayai kemaksiatan
bahkan untuk memerangi Islam termasuk infaq. Oleh karena itu ada infaq fi
sabilillah dengan demikian infaq dapat dikleuarkan oleh orang yang beriman
baik yang berpenghasilan tinggi atau rendah dalam keadaan lapang atau
sempit.1
Oleh karena itu infaq berbeda dengan zakat, infaq tidak mengenal nisab atau
jumlah harta yang ditentukan secara hukum. Infaq tidak harus diberikan kepada
mustahiq tertentu, melainkan kepada siapapun misalnya orang tua, kerabat, anak
yatim, orang miskin atau orang yang sedang dalam perjalanan. Dengan demikian
pengertian infaq adalah pengeluaran suka rela menentukan jenis harta, berupa
jumlah yang sebaiknya diserahkan. Setiap kali ia memperoleh rezeki sebanyak
1
Wahyu Ladzuni Kasanggi, Peran zakat infaq dan wakaf dalam pembedayaan ekonomi dhuafa,(Semarang:
UIN Walisongo 2017), 12
6
yang ia kehendakinya. Dari definisi diatasdapat disimpulkan bahwa infaq dapat
diberikan kepada siapa saja artinya mengeluarkan harta untuk kepentingan
sesuatu. Sedangkan menurut istilah syariat infaq adalah mengeluarkan sebagian
harta yang diperintahkan dalam Islam untuk kepentingan umum dan juga bisa
diberikan kepada sahabat terdekat, kedua orang tua, dan kerabat terdekat
lainnya. Terkait dengan infaq ini Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang
diriwayatkan Bukhari Muslim ada malaikat ang senantiasa berdoa setiap pagi
dan sore: “Ya Allah SWT berilah orang yang berinfaq, gantinya. Dan berkata
yang lain: Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infaq, kehancuran,”
Kata “Infaq” digunakan tidak hanya menyangkut sesuatu yang wajib, tetapi
mencakup segala macam pengeluaran atau nafkah. Bahkan, kata itu digunakan
untuk pengeluaran yang tidak ikhlas sekalipun. Sehingga penertian infaq
menurut etimologi adalah pemberian harta benda kepada orang lain yang akan
habis atas hilang dan terputus dari kepemilikan orang yang memberi. Dengan
kata lain, sesuatu yang beralih ke tangan orang lain atau akan menjadi milik
orang lain. Secara terminologi, pengertian infaq memiliki bebrapa batasan
sebagai berikut: Infaq adalah mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan
atau penghasilan untuk kepentingan yang diperintahlan ajaran Islam. Infaq
berarti mengeluarkan sebagoan harta untuk kepentingan kemanusiaan sesuai
dengan ajaran Islam.2
a. Dasar hukum infaq

Hukum Islam telah memberikan panduan kepada kta dalam berinfaq


atau membelanjakan harta. Allah dalam banyak ayat dan rosul dalam
banyak hadits telah memebrikan kita agar menginfaqkan harta yang kita
miliki. Allah juga memerintahkan agar seseorang membelanjakan harta
untuk dirinya sendiri (QS ath-Thalaq: 7). Dalam membelanjakan harta itu
hendaklah yang dibelanjakan adalah harta yang baik, bukan yang buruk
khususnya dalam menunaikan infaq (QS al-Baqarah: 267).3
Kemudian Allah menjelaskan bagaimana tatacara membelanjakan
harta. Allah berfirman tentang karakter ‘Ibadurrahman: yang artinya
“Orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak israf dan

2
Qurratul ‘Aini Wara, “Infaq Tidak Dapat Dikaterogikan Sebagai Pungutan Liar”, ZISWAF, Vol. 3 No. 1
Juni 2016. 43-45. Diakses pada 8 Juni 2021
http://journal.iaimkudus.ac.id/index.php/Ziswaf/article/vew/2282
3
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al Azhim, Juz II (Beirut: 1989), 51.
7
tidak pula iqtar (kikir). Adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah anatara
yang demikian. (QA al-Furqon: 67). Selain itu Allah juga berfirman:
Berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat haknya, juga kepada orang
miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kalian
menghambur-hamburkan secara boros. (QA al-Isra’: 26)

Jadi, yang dilarang adalah israf dan tabdzir, yaitu infaq dalam
kemaksiatan atau infaq yang haram. Infaq yang dipeintahkan adalah infaq
yang qawam, yaitu infaq pada tempatnya atau infaq yang halal. Infaq yang
demikian terdiri dari infaq wajib, infaq sunnah dan infaq mubah. Infaq wajib
dapat dibagi menjadi bebrapa yaitu yang pertama, infaq atas

2. Pengertian Shadaqah

Shadaqah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar, dalam


konsep ini shodaqoh merupakan wujud dari keimanan dan ketaqwaan
seseorang. Artinya, orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar
pengakuan imannya.4
Dalam istilah syariat Islam shodaqoh sama dengan pengertian infaq
termasuk juga hukum dan ketentuannya. Sisi perbedaan hanya terletak pada
bendanya, artinya infaq berkaitan dengan materi sedangkan shodaqoh
berkaitan dengan materi dan non materi baik dalam bentuk pemberian benda
atau uang, tenaga atau jasa, menahan diri untuk tidak berbuat kejahatan,
mengucapkan takbir, tahmid bahkan yang paling sederhana adalah tersenyum
kepada orang lain dengan ikhlas. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
shodaqoh adalah keseluruhan amal kebaikan yang dilakukan umat muslim
untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia, termasuk untuk kelestarian
lingkungan hidup dan alam semesta ciptaan ilahi guna memperoleh hiayah
dan ridho dari Allah SWT.
Undang-undang tentang pengelolaan zakat mendefinisikan shadaqah
sebagai harta atau nonharta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan
usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Selainitu, Shadaqah juga
bermakna suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang
lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi waktu dan jumlah tertentu,
suatupemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai suatu kebajikan yang

4
Amiruddin Inoed, dkk, Anatomi Fiqh Zakat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2005), 16.
8
mengharap ridha Allah SWT danpahala semata. Dasar mengenai shadaqoh
tercantum dalam al-Qur’an surah at-Taubahayat 103.5

B. Perbedaan Antara Zakat Infaq Dan Sodaqoh


1. Zakat

Zakat secara bahasa artinya adalah berkah, tumbuh, suci, baik dan
bersihnya sesuatu. Sedangkat zakat secara syara’ adalah hitungan tertentu dari
harta dan sejenisnya di mana syara’ mewajibkan untuk mengeluarkan kepada
orang-orang fakir dan yang lainnya dengan syarat-syarat khusus. Zakat
diwajibkan pada tahun ke 2 hijriyah. Perintah wajib zakat mall ini telah
disampaikan sejak awal perkembangan islam, namun pada saat itu belum
ditentukan macam-macam harta maupun kadar harta yang harus di zakati,
berupa jumlah zakatnya dan mustahiq-nya (hanya diperuntukkan bagi fakir
dan miskin saja).6
2. Infaq
Infaq secara bahasa berasal dari kata anfaqa yang berarti
mengeluarkan sesuatu untuk kepentingan sesuatu.Sementara menurut istilah
syari'at, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan atau
penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan agama Islam. Jika
zakat ada nisabnya, maka infaq dan shodaqoh terbebas dari nisab.Infaq bisa
dilakukan oleh siapapun baik yang berpenghasilan rendah maupun sempit.
7
Selain itu, kata infaq berarti mendermakan harta yang diberikan Allah SWT,
menafkahkan sesuatu pada orang lain semata-mata mengharap ridha Allah
SWT.
Dengan demikian, infaq merupakan bentuk pentasharrufan harta sesuai
dengan tuntunan syariat. Selain itu infaq juga dapat diartikan sebagai sesuatu
yang dikeluarkan diluar sebagai tambahan dari zakat, yang sifatnya sukarela
yang diambilkan dari harta atau kekayaan seseorang untuk kemaslahatan
umum atau membantu yang lemah. Infaq dapat diartika mendermakan atau
memberikan rizki (karunia allah) atau menafkahkan sesuatu kepada orang lain

5
Saifuddin Amin, Optimalisasi Dana ZIS pada LAZISNU KecamatanAmpelKabupatenBoyolali. AzZarqa’,
Vol. 11, No. 2, Desember 2019.
6
Gus Arifin, Zakat, Infaq, Sedekah (Elex Media Komputindo 2011), 3-23.
7
Muhammad Sanusi, The Power of Sedekah, ( Yogyakarta : Pustaka Insan Madani, 2009 ), hlm.12
9
berdasarkan rasa ikhlas dan karena allah semata.atau dapat diartikan
pengeluaran derma setiap kali seorang muslim menerima rezki (karunia) dari
Allah sejumlah yang dikehendaki dan direlakannya. Adapun perbedaan infaq
dengan zakat dapat dilihat dari waktu pengeluarannya, dalam zakat ada
nisabnya sedangkan infaq tidak ada, baik dia berpenghasilan tinggi maupun
rendah.Zakat diperuntukkan untuk delapan ashnaf, sedangkan infaq dapat
diberikan kepada siapapun juga, misalnya untuk keluarga, anak yatim, dan
lainlain.Infaq tidak ditentukan jenisnya, jumlah dan kadarnya, serta waktu
penyerahannya.
3. Shadaqoh
Istilah sedekah berasal dari bahasa arabshadaqa. Di dalam Al Munjid kata
shadaqah diartikan yang niattnya mendapatkan pahala dari allah, bukan
sebagai pengohrmatan. Secara umum dapat diartikan bahwa, sedekah adalah
pemberian dari seorang muslim secara suksrela tanpa dibatasi waktu dan
jumlah ( haul dan nisbah) sebagai kebaikan dengan mengharap ridho Allah.
8
Selain itu shadaqoh juga berarti mendermkan sesuatu kepada orang lain.
Shadaqoh berasal dari kata shadaqah yang berarti benar,maksudnya shadaqah
merupakan wujud dari ketaqwaan sesorang, bahwa orang yang bersedaqah
adalah orag yang membenarkan pengakuan sebagai orang yang bertaqwa
melalyi amal perbuatan positif kepada sesamannya baik berupa amal atau
yang lainnya.
Antara infaq atau shadaqoh terdapat perbedaan makna yang
terletak pada bendanya. Kalau infaq berkaitan dengan amal yang material,
sedangkan shadaqoh berkitan dengan amal baik yang wujudnya material
maupun non-material , serpeti dalam bentuk pemberian benda, uang, tenaga
atau jasa, menahan diri tidak berbuat kejahatan, mengucap takbir, tahmid
bahkan yang paling sederhana adalah tersenyum kepada orang lain dengan
ikhlas. Yang dimaksud dengan shadaqah (sedekah), pada prinsipnya sama
dengan infaq, hanya saya ia memiliki pengerian yang lebih luas. Shadaqah
(sedekah) dapat berupa bacaan tahmid, takbir, tahlil, istigfar, maupun bacaan-
bacaan kalimah thayyibah lainnya.Demikian juga shadaqah dapat berupa
pemberian benda atau uang, bantuan tenaga atau jasa, serta menahan diri
untuk tidak berbuat kejahatan.Adapun infaq, tidaklah demikian. Hal lain yang
8
M. Irfan el-Firdausy, Dahsyatnya Sedekah Meraih Berkah Dari Sedekah, Yogyakarta : Cemerlang
Publishing, 2009, h. 14
10
membedaakan keduannya adalah bahwa infah dikelurkan pada saat sesorang
menerima rezeki, sedangkan shadaah lebih luas dan lebih umm lagi. Tidak
ditentukan jenisnya, jumlahnya, waktu penyerahan, serta peruntukkannya.9
C. Infaq dan Shodaqoh Dalam Konteks Ekonomi
Menyimpan uang di Bank Islam termasuk kategori kegiatan
investasi karena perolehan kembali dari waktu ke waktu tidak pasti. Besar
kecilnya perolehan kemabli itu tergantung pada hasil usaha yanga benar-
benar terjadi dan dilakukan olehBank sebagai pengelola dana. Bank Islam
tidak hanya menyalurkan uang melainkan harus terus menerus melakukan
upaya meningkatkan kembalian sehingga lebih menarik dan lebih
memberi kepercayaan bagi pemilik dana tanpa harus keluar dari batasan
norma-norma syariah, seperti praktik riba, zulm, maysir dan gharar.10
Agar terhindar dari praktik investasi yang tidak Islami maka ada
beberapa hal prinsip dalam investasi yang harus menjadi acuan dan
landasan bagi para investor, yaitu seperti berikut:
a. Tidak mendzalimi dan tidak didzalimi.
b. Tidak mencari rezeki pada hal yang haram, baik dari segi zatnya
maupun cara mendapatkannya, serta tidak menggunakannya untuk
hal-hal yang haram.
c. Keadilan pendistribusian pendapatan.
d. Transaksi dilakukan atas dasar ridha sama ridha.
e. Tidak ada unsur riba, maysir atau spekulasi dan gharar.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Islam sangat


menganjurkan invetasi tetapi tetapi bukan semua bidang usaha
diperbolehkan dala berinvestasi. Aturan-aturan diatas menetapkan
batasan-batasan yang halal atau boleh dilakukan dan haram atau tidak
boleh dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengendalikan manusia dari
kegiatan yang membahayakan masyarakat.
Jadi, semua kegiatan investasi harus mengacu kepada hukum
syariat yang berlaku. Perputaran modal investasi tidak boleh disalurkan
kepada jenis industri yang melakukan kegiatan haram misalnya pembelian
saham pabrik minuman keras, resto yang menyajikan makanan yang
9
H. Cholid Padulullah,SH, Mengenal Hukum ZIS( Zakat Infaq dan Shadaqah ) dan Pengamalannya di DKI
Jakarta, Jakarta: Badan Amil Zakat,Infaq/shadaqah DKI Jakarta, hlm 7
10
Widyaningsih, Bank dan Asuransi Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana 2005), 60.
11
diharamkan dan semua hal yang diharamkan oleh syariat harus
ditinggalkan. Semua transaksi yang terjadi di bursa efek misalnya harus
atas dasar suka sama suka, tidak ada unsur pemaksaan, tidak ada pihak
yang didzalimi atau mendzalimi, tidak ada gharar. Semua transaksi
harustransaparan, haram jika ada unsur insider trading. Inilah yang perlu
dipatuhi para investor agar harta yang diinvestasikan endapatakan berkah
dari Allah, bermanfaat bagi orang banyak sehingga mencapai falah di
dunia juga diakhirat.11
Investasi hanya boleh dilakukan pada instrumen keuangan yang
sesuai dengan keuangan syariah Islam, yang tidak mengandung riba.
Untuk sistem perekonomian Indonesia saat ini, berdasar UU Pasar Modal
hanya meliputi beberapa hal, yaitu instrumen saham yang melalui
penawaran umum, pembagian deviden pada Bank Umum Syariah; surat
hutang jangka panjang, yaitu obligasi maupun surat hutang jangka pendek
yang telah lazim diperdagangkan di antara lembaga keuangan syariah,
termasuk jual beli hutang dengan segala kontroversinya.12
Investasi juga hanya dapat dilakukan pada efek-efek yang
diterbitkan oleh pihak yang jenis kegiatan usahanya tidak bertantangan
dengan syariah Islam, seperti usaha perjudian, permainan yang tergolong
judi, perdagangan yang dilarang, seperti usaha keuangan konvensional,
asuransi serta memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong
haram, usaha yang memproduksi, mendistribusi serta menyediakan
barang-barang jasayang merusak moral dan bersifat mudharat.s
Sistem perekonomian Indonesia saat ini pada umumnya merupakan
sistem yang masih netral terhadap ajaran dan nilai agama. Selain itu,
dengan mempertimbangkan cakupan jasa perbankan yang diberikan oleh
bank syariah masih terbatas, seluruh emiten dapat memiliki pendapatan
dari penempata dananya di bank umum berupa jasa giro maupun bunga.
Oleh karena itu, pemilihan emiten yang benar-benar terdapat dari
pendapatan tersebut sangat sulit. Situasi ini dianggap sebagai suatu
kondisi darurat yang sifatnya sementara sampai ada sistem perekonomian
yang telah memasukkan nilai ajaran Islam.13

11
Abdul Aziz, Manajemen Investasi Syariah (Bandung: Alfabeta 2010), 16-17
12
Ghufron A. Mas’udi, Fiqh Muamalah Kontekstual (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 2002), 141.
13
Adiwarman A. Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta: Gema Insani 2001)141.
12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Infaq adalah pemberian atau sumbangan harta selain zakat untuk
kebaikan.Infaq berasal dari kata anafaqa yang berarti mengeluarkan
sesuatu harta untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat,
infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan atau
penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam.
Dana zakat, infaq dan shodaqoh apabila mampu dikelola dengan baik
oleh suatu lembaga professional ataupun sejenisnya. Disamping harus
didistribusikan sesuai dengan surah at-taubah ayat 60, juga dikelola
dengan orientasi pada pengembangan kesejahteraan umat produktif
maupun konsumtif. karena itu, pengelolaan pendistribusian semacam ini
secara social ekonomis.
Dana infaq dan shadaqah merupakan dana yang diperoleh dari
seseorang yang memberikan atas kelebihan hartanya secara sukarela. Infaq
dan shadaqah yang diterima dan diberikan kepada seseorang individu
berhak digunakan untuk apa saja yang penting didistribusikan di jalan
yang benar. Infaq dan shadaqah bisa diberikan kepada individu ataupun
secara kelompok perorangan, seperti infaq untuk pembangunan
infrastruktur atau tempat ibadah seperti masjid. Dana infaq dan shadaqah
bisa diinvestaskan untuk mengembangkan dananya demi tercapainya
kesejahteraan layaknya zakat yang boleh di investasikan.
Perbedaan yang mendasar antara berinvestasi dengan cara bersedekah
dengan berinvestasi dengan cara lain yaitu niat yang ada sebelum kita
berinvestasi tersebut. Apabila kita berinvestasi dengan cara bersedekah,
maka yang harus kita niatkan adalah mendapat ridho dan balasan hanya
dari Allah semata, sedangkan dalam berinvestasi dengan cara selain
sedekah, kita lebih memiliki kecenderungan untuk mendapatkan
13
keuntungan semata. Walaupun saat ini sudah ada beberapa cara
berinvestasi dengan cara syariah, namun dalam hati kecil kita pasti masih
ada suatu niatan untuk mendapatkan keuntungan yang berasal selain dari
Allah.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari hasil makalah diatas kami dapat
memberikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Sosialisasi yang lebih banyak dan lebih tinggi agar para
masyarakat desa lebih mengenal infaq dan shadaqah juga
merupakan investasi
2. Untuk teman-teman yang mengambil mata kuliah ini, materi ini
dapat dijadikan sebagai referensi agar dapat menciptakan karya
tulis yang lebih baik.

14
Daftar Pustaka

Abdul Aziz, Manajemen Investasi Syariah Bandung: Alfabeta 2010

Adiwarman A. Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer Jakarta: Gema


Insani 2001

Amin, Saifuddin. Optimalisasi Dana ZIS pada LAZISNU Kecamatan Ampel


Kabupaten Boyolali. Az Zarqa’, Vol. 11, No. 2, Desember 2019

Amiruddin Inoed, dkk, Anatomi Fiqh Zakat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2005),
16.

Ghufron A. Mas’udi, Fiqh Muamalah Kontekstual Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada 2002

Gus Arifin, Zakat, Infaq, Sedekah Elex Media Komputindo 2011

H. Cholid Padulullah,SH, Mengenal Hukum ZIS( Zakat Infaq dan Shadaqah )


dan Pengamalannya di DKI Jakarta, Jakarta: Badan Amil Zakat,Infaq/shadaqah
DKI Jakarta

http://ulfatunnazilah94.blogspot.com/2015/06/polaproduksidaninvestasidalamp
e rspektif.html?m=1

Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al Azhim, Juz II (Beirut: 1989), 51.

M. Irfan el-Firdausy, Dahsyatnya Sedekah Meraih Berkah Dari Sedekah,


Yogyakarta : Cemerlang Publishing, 2009

Muhammad Sanusi, The Power of Sedekah, Yogyakarta : Pustaka Insan Madani,


2009

Kasanggi, Wahyu Ladzuni. Peran zakat infaq dan wakaf dalam pembedayaan
ekonomi dhuafa. Semarang: UIN Walisongo 2017.

Qurratul ‘Aini Wara, “Infaq Tidak Dapat Dikaterogikan Sebagai Pungutan Liar”,
ZISWAF, Vol. 3 No. 1 Juni 2016. 43-45. Diakses pada 8 Juni 2021
http://journal.iaimkudus.ac.id/index.php/Ziswaf/article/vew/2282

Saifuddin Amin, Optimalisasi Dana ZIS pada LAZISNU


KecamatanAmpelKabupatenBoyolali. AzZarqa’, Vol. 11, No. 2, Desember 2019.
Widyaningsih, Bank dan Asuransi Islam di Indonesia Jakarta: Kencana 2005