Anda di halaman 1dari 2

Nama : Ellieza Dewi Ayu Sinthami

NIM : 20200420214
Kelas : Akuntansi E

Tugas Resume

PARADIGMA ILMU EKONOMI PERSPEKTIF ISLAM


Paradigma yang digunakan dalam ekonomi Islam (Islamic Economics) adalah keadilan
sosial dan ekonomi sebagai tujuan utama, sebagaimana tercantum dalam (Q.S. Al-Hadid ayat 25)
yang artinya “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-
bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan)
supaya manusia dapat melaksanakan keadilan…”
Tujuan utama ekonomi Islam adalah realisasi kesejahteraan manusia melalui aktualisasi
ajaran Islam. Dalam konteks inilah dapat dipahami adanya beberapa

Definisi Ekonomi Islam sebagai berikut:


 Ekonomi Islam adalah ilmu dan aplikasi petunjuk dan aturan Syariah yang mencegah
ketidakadilan dalam memperoleh dan menggunakan sumber daya material agar
memenuhi kebutuhan manusia dan agar dapat menjalankan kewajibannya kepada Allah
dan masyarakat.
 Ekonomi Islam adalah ilmu sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi
masyarakat dalam perspektif nilai-nilai Islam.
 Ekonomi Islam memusatkan perhatian pada studi tentang kesejahteraan manusia yang
dicapai dengan mengorganisasikan sumber daya di bumi atas dasar kerja sama dan
partisipasi.

Ekonomi Islam (Islamic Economics) terdiri atas komponen berikut:


1. Ajaran nilai berasal dari Al-Quran, Sunnah dan sumber-sumber lain.
2. Pernyataan positif yang akan masuk dalam ekonomi Islam berasal dari ekonomi
konvensional.
3. Pernyataan positif yang adal dalam ekonomi Islam berasal dari Al-Quran dan Sunnah.
4. Hubungan antarvariabel ditemukan lewat observasi, analisis dan eksperimen sebagai
sumber ilmu.

Oleh karena itu tugas ekonomi Islam lebih besar daripada ilmu ekonomi konvensional,
tugas-tugas tersebut diantaranya:
 Mempelajari perilaku aktual individu dan kelompok, perusahaan, pasar, dan pemerintah.
 Menunjukkan jenis perilaku yang dibutuhkan untuk merealisasikan tujuan.
 Harus menjelaskan mengapa ada para pelaku ekonomi tidak bertindak menurut jalan
yang seharusnya.
 Harus menganjurkan cara bagaimana yang dapat membawa perilaku semua pemain di
pasar yang mempengaruhi alokasi dan distribusi sumberdaya sedekat mungkin dengan
tingkat yang ideal.
Ekonomi Positif (positive economics) membahas mengenai realitas hubungan ekonomi,
sedangkan Ekonomi Normatif (normative economics) membicarakan mengenai apa yang
seharusnya dilakukan berdasarkan nilai tertentu.

Quran dan Sunnah tidak hanya berbicara pada dataran normatif saja, tetapi juga menyajikan
informasi positif. Misalnya dalam kutipan Al-Quran berikut ini:
 “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan
melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya
dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi
Maha Melihat”. (Q.S. Asy-Syuura: 27).
 “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat
dirinya serba cukup”. (Q.S. Al-Alaq: 6-7)

Ayat-ayat ini menunjukkan bagaimana dampak kenaikan kekayaan/penghasilan yang


substansial terhadap perilaku manusia. Bukti-bukti memang menunjukkan bahwa manusia
biasanya cenderung melampaui batas bila merasa lebih kaya. Selain itu Nabi
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga memperingatkan kecenderungan serakahnya
manusia: “Andaikata seorang anak Adam telah memiliki harta benda sebanyak satu lembah,
tentu ia akan berusaha memiliki dua lembah. Dan andaikata ia telah memiliki dua lembah, tentu
ia akan berusaha untuk memiliki tiga lembah. Memang tidak ada yang dapat memenuhi
kehendak anak Adam melainkan tanah. Dan Allah akan memberi tobat bagi mereka yang
bertobat”. (H.R. Bukhari – Muslim).