Anda di halaman 1dari 17

TUGAS III

TEKNIK REAKTOR KIMIA

Dosen Pengasuh :
Prof.Dr.Ir.H.M. Said, MSc

Tanggal : 11 MARET 2011


Nama : MARYADI
NIM : 03071003035
Kelas : VIII A

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2011
2. Pada reaksi fase – gas homogen
CH4 + O2 → HCOOH + H2O
3
2

Tulis hubungan antara rCH4 dan rO2 ?


a. rCH4 = rO2
b. Tidak bisa dijelaskan tanpa data
c. rCH4 = rO2
2
3

d. rCH4 = rO2
3
2

e. Tidak satupun termasuk yang di atas

Penyelesaian :
Untuk reaksi di atas yaitu :
CH4 + O2 → HCOOH + H2O
3
2

Berdasarkan persamaan ( 2-20 ) fogler edisi tiga terdapat hubungan


antara laju reaksi dengan koefisien stoikiometri yaitu untuk reaksi :
aA + bB → cC + dD
= = =
− rA − rB rC rD
a b c d

sehingga untuk reaksi pada soal akan didapat hubungan :


= atau rCH4 = rO2
− rCH4 − rO 2 2
1 3/ 2 3
2. Dapat disebutkan bahwa jika reaksi irreversible
aA + bB → cC + dD
adalah elementer ( reaksi elementer )
-rA = k
C aA C bB

jika A sebagai basis


A + B → C + D
b c d
a a a

Apakah laju kinetika reaksi dapat dibuat menjadi


-rA = k ?
C A C bB/ a

Penyelesaian :
Untuk reaksi yang melibatkan reaksi elementer yaitu suatu reaksi dimana
orde reaksi sama dengan koefisien stoikiometri , sehingga pada soal
dengan mengambil species A sebagai basis dan membagi semua
koefisien stoikiometri dengan a ( atau dapat disebut juga sebagai basis A
1 mol ) akan didapat reaksi :
A + B → C + D
b c d
a a a

Sehingga laju kinetik dapat ditulis menjadi :


-rA = k
C A C bB/ a

dimana terlihat bahwa koefisien species A menjadi 1 mol dan koefisien

species B menjadi
b
a

3.10 Benzilamida adalah hasil yang didapat dari reaksi fase-likuid


ammonia dan benzoil klorida :
C6H5COCl + 2 NH3 → C6H5CONH2 + NH4Cl
a. Dengan mengambil benzoil klorida sebagai basis perhitungan , buatlah
tabel stoikiometri untuk sistem batch
b. Jika campuran awal hanya terdiri dari ammonia dengan konsentrasi 6 g
mol/L dan benzoil klorida dengan konsentrasi 2 g mol/L, hitung
konsentrasi ammonia dan benzilamida bila konversi sebesar 25 %
c. Dengan mengambil ammonia sebagai basis perhitungan, jelaskan
bagaimana tabel stoikiometri anda berbeda untuk sistem aliran

Penyelesaian :
(a) Basis 1 mol Benzoil klorida
C6H5COCl + 2 NH3 → C6H5CONH2 + NH4Cl
Tabel stoikiometri untuk sistem batch
Species Lambang Mula – Bereaksi Sisa
mula
C6H5COCl A CAo = CAo - CAo X CA = CAo - CAo X
NH3 B CBo = θB -2 CAo X CB = θB CAo-2 CAo X
C6H5CONH2 C CAo CAo X CC = CAo X
NH4Cl D - CAo X CD = CAo X
-
CTo = CAo + CT = CAo (1-X + θB )
CBo

(b) Diketahui :
CAo = 2 g mol/L
CBo = 6 g mol/L
X = 25 %
Ditanya : CB , CC ?
Jawab :
CB = θB CAo -2 CAo X
Dimana θB = sehingga
C Bo
C Ao
CB = CBo -2 CAo X
= 6 g mol/L – 2 (2 g mol/L ) 0,25
= 5 mol /L

CC = CAo X
= (2 g mol/L ) 0,25
= 0,5 g mol/L
(c) Untuk sistem aliran ( flow sistem ) dengan ammonia sebagai basis
perhitungan :
NH3 + ½ C6H5COCl → ½ C6H5CONH2 + ½ NH4Cl
Tabel stoikiometri untuk Flow system

Species Lambang Mula-mula Bereaksi Sisa


NH3 A FAo = FAo - FAo X FA = FAo - FAo X
C6H5COCl B FBo = θB FAo -½ FAo X FB = θB FAo -½ FAo X
C6H5CONH2 C - ½ FAo X FC = ½ FAo X
NH4Cl D - ½ FAo X FD = ½ FAo X

FTo = FAo + FT = FAo (1-½ X +


FBo θB )

Untuk perhitungan dengan flow sistem sebenarnya sama ,hanya


perbedaannya terletak pada perhitungan konsentrasi dimana untuk flow

sistem Ci = sedangkan untuk batch sistem Ci = , dimana v =


Fi Ni
v V

volumetrik flow rate, V = volume

3.11 (a) Ambil H2 sebagai basis perhitungan , buatlah tabel stoikiometrik


dengan lengkap untuk reaksi :
N2 + H2 → NH3
1 3
2 2

untuk isotermal, isobarik sistem aliran dengan umpan eqimolar dari


N2 dan H2
(b) Jika tekanan total yang masuk adalah 16,4 atm dan temperatur
O
masuk adalah 1727 C , hitunglah konsentrasi amonia dana
hidrogen apabila konversi H2 sebesar 60 %
(c) Jika anda mengambil N2 sebagai basis perhitungan , bisakah
konversi 60 % N2 tercapai

Penyelesaian :
(a) Untuk reaksi :
N2 + H2 → NH3
1 3
2 2

Basis 1 mol H2
N2 + H2 → NH3
1 2
3 3

Tabel stoikiometrik
Species Lambang Mula-mula Bereaksi Sisa
H2 A FAo = FAo -FAo X FA = FAo-FAo X
N2 B FBo = θB FAo -1/3 FAo X FB = θB FAo-1/3 FAo X
NH3 C - 2/3 FAo X FC = 2/3 FAo X

FTo = FAo+ FT = FAo (1-2/3 X + θB)


FBo
Dimana
θB =
FBo
FAo

(b) Diketahui :
Po = 16,4 atm
To = 1727 OC = 2000 K
R = 0,082 atm l/mol K
X = 60 %
Ditanya : - C H2 ?
–C N2 ?
Jawab :
CTo =
Po
To.R

= = 0,1 mol / L
16,4 atm
2000 K 0,082 atm l/mol K.

CA = = =
FA FA (1 − X ) C Ao 0,4
v v o (1 + εX ) (1 + ε0,6)

Dari soal diketahui bahwa feed atau umpan eqimolar CTo = 0,1 mol / L
,sehingga untuk CAo = 0,05 dan CBo = 0,05 sehingga fraksi yAo = yBo = 50%
ε = yAo δ
= 0,5 ( )
2 1
− −1
3 3

= -0,3333
CA =
C Ao 0,4
(1 + ε0,6)
=
(0,05)0,4
(1 + (−0,333) x 0,6)

= 0,025 mol /l
sehingga C H2 = 0,025 mol/L

CC = = =
FC 2/3 FAo X C Ao 0,4
v v o (1 + εX) (1 + ε0,6)

=
(0,05)0,4
(1 + (−0,333) x 0,6)

= 0,025 mol /l
sehingga C N2 = 0,025 mol /l

(a) Dengan mengambil N2 sebagai basis perhitungan maka reaksi dapat


ditulis :
N2 + 3H2 → 2 NH3
Dengan tabel stoikiometri
Species Lambang Mula–mula Bereaksi Sisa
N2 A FAo = FAo -FAo X FA = FAo-FAo X
H2 B FBo = θB FAo -3 FAo X FB = θB FAo-3 FAo X
NH3 C - 2 FAo X FC = 2 FAo X

FTo = FAo+ FT = FAo (1-2 X + θB )


FBo
Dimana :
θB =
FBo
FAo

dengan diketahui eqimolar pada umpan sehingga CAo = 0,05 mol/L dan
CBo = 0,05 mol/L dengan hasil perhitungan pada soal ( b ) CTo = 0,1 mol/L,
misal ambil konversi N2 sebesar 60 % sehingga besarnya CA atau C N2
adalah :
ε = yAo δ
= 0,5 ( 2-3-1 )
= -1

CA = = =
FA FA (1 − X) (0,05)0,4
v v o (1 + εX ) {1 + (−1)(0,6)}
= 0,05 mol /L
jika dibandingkan dengan jawaban ( b ) dimana dengan H2 sebagai basis
perhitungan besarnya C N2 didapat sebesar 0,025 mol/L sedangakan jika
mengambil N2 sebagai basis perhitungan didapat C N2 = 0,05 mol/L,
dengan konversi yang sama ,hal ini menandakan bahwa dengan konversi
60 % untuk N2 sebagai basis perhitungan tidak tercapai, jika kita
bandingkan dengan hasil pada ( b )

3.12 Asam nitrat dibuat secara komersial dari nitrat oksida. Nitrat oksida
dihasilkan dari reaksi oksidasi fase gas ammonia :
4 NH3 + 5 O2 → 4 NO + 6 H2O
umpan terdiri dari 15 % mol ammonia dalam udara pada 8,2 atm dan
227 OC
( a ) berapakah konsentrasi total yang masuk ?
( b ) berapakah konsentrasi ammonia yang masuk ?
( c ) buatlah tabel stoikiometri dengan ammonia sebagai basis
perhitungan kemudian
1. Buatlah Pi dan Ci untuk semua senyawa sebagai fungsi dari konversi
untuk reaktor batch tekanan - konstant yang dijalankan secara
isotermal. Buatlah volume sebagai fungsi X
2. Buatlah Pi dan Ci untuk semua senyawa sebagai fungsi dari konversi
untuk reaktor volume - konstant. Buatlah PT sebagai fungsi X
3. Buatlah Pi dan Ci untuk semua senyawa sebagai fungsi dari konversi
untuk flow reaktor

Penyelesaian :
(a) Diketahui :
Po = 8,2 atm
To = 227 OC = 500 K
R = 0,082 atm l/mol K
Ditanya : - berapa total konsentrasi yang masuk ?
Jawab :
CTo =
Po
To.R

= = 0,2 mol / L
8,2 atm
500 K 0,082 atm l/mol K.

(b) Diketahui :
Po = 8,2 atm
To = 227 OC = 500 K
R = 0,082 atm l/mol K
Ditanya : - berapa konsentrasi ammonia yang masuk ?
Jawab :
CAo = yAo CTo
Dari soal fraksi mol ammonia 15 % sisanya 85 % fraksi mol udara
yang mengandung 79 % N2 dan 21 % O2 sehingga
CAo = yAo CTo
= 0,15 (0,2 mol / L )
= 0,03 mol / L
disini species A adalah Ammonia
(c) Tabel Stoikiometri dengan Ammonia Sebagai Basis 1 mol
Reaksi : 4 NH3 + 5 O2 → 4 NO + 6 H2O
Dapat ditulis :
NH3 + 5/4 O2 → 1 NO + 3/2 H2O
Species Lambang Mula–mula Bereaksi Sisa
NH3 A FAo = FAo -FAo X FA = FAo-FAo X
O2 B FBo = θB FAo -5/4 FAo X FB = θB FAo-5/4 FAo X
NO C - 1 FAo X FC = 1 FAo X
H2O D - 3/2 FAo X FD = 3/2 FAo X

FTo = FAo+ FT = FAo (1-1/4 X + θB)


FBo

1. Pi dan Ci sebagai fungsi konversi pada reaktor batch tekanan konstant


yang dioperasikan secara isotermal
Untuk reaktor batch maka
Volume sebagai fungsi dari konversi :
PV = Z NT RT
Pada keadaan awal
PoVo = Zo NTo Rto, dengan membagi kedua persamaan di dapatkan
V = Vo untuk isotermal dan isobar, serta Z≡Zo
Po  T  Z  N T 
   
P  To  Zo  N To 

didapatkan:
V = Vo dengan = 1+ δyAoX , dan ε = δyAo sehingga :
 NT   NT 
   
 N To   N To 

V = Vo (1+ ε X )

Ci sebagai fungsi konversi :


Ci=
Ni
V

Ni ( merupakan sisa pada tabel stoikiometrik ) dapat ditulis untuk masing –


masing species dengan :
Ni = NAo ( θi + vX ) dengan v= koefisien stoikiometrik ( + untuk produk
dan – untuk reaktan ) dgn menggabungkan dengan pers Diatas didapat :
Ci= = =
Ni N Ao ( θ I + vX ) C Ao ( θ I + vX )
V Vo (1 + εX ) (1 + εX )

C i= → Ci untuk masing – masing species


C Ao ( θ I + vX )
(1 + εX )

Pi sebagai fungsi konversi :


Karena reaksi fase gas maka berlaku hukum dalton :
Pi = yi P,
dimana Pi = tekanan species i ,
yi = fraksi mol i
P = tekanan total
Karena reaksi berlangsung pada tekanan konstant Po = P dan untuk batch
reaktor :
yi = , dimana Ni = NAo ( θi + vX ) dan NT = NTo + δNAoX
Ni
NT

sehingga :
yi = = x didapatkan :
Ni N Ao ( θι + vX ) 1
NT N T o + δΝ Αο X N To

yi = sehingga
y Ao ( θι + vX )
1 + δy Αο X

Pi = yi P
Pi= P
y Ao ( θι + vX )
1 + δy Αο X
Atau Pi sebagai fungsi konversi dapat diturunkan dengan :
Pi = yi P , dengan yi = , dan PV = NTRT sehingga :
Ni
NT

Pi= = , dengan V = Vo (1+ ε X ) didapatkan :


N i N T RT N i RT
NT V V

Pi= = dengan Ni = NAo ( θi + vX ) maka


N i RT N i RT
Vo (1 + ε X ) Vo (1 + ε X )

Pi = atau
N Ao ( θ ι+ vX ) RT
Vo (1 + ε X )

Pi =
C Ao ( θ ι+ vX ) RT
(1 + ε X )

2. Pi dan Ci sebagai fungsi konversi pada reaktor volome-konstant


,buatlah PT sebagai fungsi dari konversi
PT sebagai fungsi konversi :
PV = Z NT RT , P = tekanan total
Pada keadaan awal
PoVo = Zo NTo RTo dengan membagi kedua persamaan di dapatkan
P = Po untuk V , T konstant dan Z≡Zo maka :
Vo  T  Z  N T 
   
V  To  Zo  N To 

P = Po dengan 1+ δyAoX , dan ε = δyAo sehingga :


 NT   NT 
   
N
 To  N
 To 

P = Po ( 1+ ε X )
Ci sebagai fungsi konversi :
Karena V konstant sehingga V = Vo
Ci = = = CAo ( θi + vX ) , v=koef.stoikiometri
Ni N Ao ( θ +
ι vX )
V Vo

C i = CAo ( θi + vX )

Pi sebagai fungsi konversi :


Pi = yi P dengan yi= maka :
Ni
NT

Pi = P= P x
Ni N Ao ( θι + vX ) 1
NT N T o + δΝ Αο X N To

Pi = P= Po ( 1+ ε X )
y Ao ( θι + vX ) y Ao ( θι + vX )
1 + δy Αο X 1 + εX

Pi =( θi+ vX ) yAo Po

3. Pi dan Ci sebagai fungsi konversi pada flow reaktor


Asumsi volume berubah ( terjadi perubahan volume ), dioperasikan pada
tekanan dan temperatur konstant
Ci sebagai fungsi konversi :
Ci= , v = volumetrik flowrate
Fi
v

Pada persamaan ( 3-41 ) fogler edisi 3 di dapatkan hubungan :


v = vo ( 1 + εX ) , untuk P dan T konstant maka
Po  T 
 
P  To 
v = vo ( 1 + εX )
Fi = FAo ( θi + vX )
dengan v= koefisien stoikiometrik ( + untuk produk dan – untuk reaktan ),
subsitusi persamaan ke atas maka :
Ci= =
Fi FAo ( θ +ι vX )
v v o ( 1 + εX )

Ci=
C Ao ( θ ι+ vX )
( 1 + εX )

Pi sebagai fungsi konversi :


Pi = yi P dengan yi=
Fi
FT

FT = FTo + δFAoX subsitusi ke atas maka :


Pi = P= P x
Fi FAo ( θι + vX ) 1
FT FT o + δFAo X FTo

Pi = P= P
y Ao ( θι + vX ) y Ao ( θι + vX )
1 + δy Αο X 1 + εX

Pi = P
y Ao ( θι + vX )
1 + εX

3.9 Untuk masing – masing reaksi dan laju reaksi berikut, dianggap laju
reaksi pada temperatur rendah. Reaksi pada keadaan sangat
eksotermik dan sehingga menjadi reversible pada suhu tinggi
( a ) reaksi
A→ B
Adalah irreversible pada temperatur rendah dan laju reaksi
-rA = kCA
( b ) reaksi
A +2B→ C
Adalah irreversible pada temperatur rendah dan laju reaksi
-rA = k CB
1/2
C A

( c ) reaksi
A +B → C + D
Adalah irreversible pada temperatur rendah dan laju reaksi
-rA =
kPA PB
1 + K A PA + K B PB

Untuk masing – masing problem, pastikan laju reaksi pada temperatur


tinggi konsisten secara termodinamika pada kesetimbangan
Penyelesaian :
(a) basis 1 mol A
untuk reaksi reversible maka :
A B
kA


k −A

rA, forward = - kACA


rA, reverse= k-ACB maka rA :
rA = rA net = rA, forward + rA, reverse
rA = - kACA + k-ACB pada kesetimbangan rA = 0 sehingga :
= KC =
kA CB
k- A CA

(b) basis 1 mol B


untuk reaksi reversible maka :
½A + B ½D
kA

↔k −A

rA, forward = - kA CB
1/2
C A

rA, reverse= k-A maka rA :


C D1/2

rA = rA net = rA, forward + rA, reverse


rA = - kA CB + k-A pada kesetimbangan rA = 0 sehingga :
1/2 1/2
C A C D

= KC =
kA C D1/2
k- A C A1/2 C B