Anda di halaman 1dari 4

Plasenta Previa

Definisi

Plasenta atau ari-ari terdiri dari vili-vili dan kotiledon yang berfungsi untuk jalan makanan dan oksigen bagi janin. Makanan akan diantar melalui peredaran darah yang sebelumnya disaring terlebih dahulu melalui plasenta. Plasenta juga menyaring racun maupun obat-obatan yang membahayakan janin. Pada usia kehamilan awal, lokasi plasenta berada pada bagian bawah rahim, dekat dengan jalan lahir, tetapi seiring dengan perkembangan janin dan pembesaran rahim maka plasenta bergeser ke atas sehingga menempati lokasi pada korpus atau fundus (bagian atas) rahim pada triwulan ketiga.

Pada plasenta previa, plasenta berada pada lokasi yang tidak seharusnya yaitu di segmen rahim bagian bawah atau dekat dengan jalan lahir meskipun perkembangan janin sudah memasuki triwulan ketiga. Plasenta previa terjadi pada 1 dari 200 kehamilan dan merupakan penyebab kematian tertinggi janin akibat kelahiran preterm (sebelum waktunya). Selain itu kejadian anomali kongenital (kelainan bawaan di dalam rahim) meningkat sebanyak 2,5 kali lebih tinggi pada plasenta previa. Terdapat 4 derajat kelainan dari plasenta previa yaitu :

1. Plasenta previa totalis Letak plasenta menutupi seluruh segmen rahim bagian bawah (jalan lahir)

2. Plasenta previa parsial Letak plasenta menutupi sebagian dari segmen rahim bagian bawah (jalan lahir)

3. Plasenta previa marginal Tepi dari plasenta berada di perbatasan segmen rahim bagian bawah (jalan lahir)

4. Plasenta previa letak rendah

Plasenta berimplantasi (melekat) pada segmen rahim bagian bawah namun tepi plasenta tidak berada di perbatasan jalan lahir namun mendekatinya

rahim bagian bawah namun tepi plasenta tidak berada di perbatasan jalan lahir namun mendekatinya Gambar 1.

Gambar 1. Plasenta Previa

Gambar 2. Lokasi Plasenta Previa Faktor risiko terjadinya plasenta previa : 1. Peningkatan usia ibu

Gambar 2. Lokasi Plasenta Previa

Faktor risiko terjadinya plasenta previa :

1. Peningkatan usia ibu (>35 tahun)

2. Multiparitas

Penelitian dari Babinszki dkk melaporkan bahwa kejadian plasenta previa 2,2% lebih tinggi pada wanita yang sudah memiliki anak 5 atau lebih dibandingkan mereka yang memiliki anak lebih sedikit

3. Tindakan kebidanan Riwayat kuretase setelah abortus

4. Operasi Caesar

Melahirkan dengan operasi caesar mengakibatkan parut di dalam rahim. Kejadian meningkat pada wanita yang sudah melakukan 2 kali atau lebih operasi caesar

5. Merokok

William dkk menemukan risiko relatif kejadian plasenta previa meningkat 2-4 kali pada wanita yang merokok. Hal tersebut terjadi karena karbondioksida yang terhisap mampu menyebabkan hipertrofi (pembesaran) dari plasenta serta menyebabkan peradangan dan berkurangnya vaskularisasi (pendarahan) plasenta sehingga mempengaruhi perkembangan dari plasenta

Tanda dan gejala

Gejala paling khas dari plasenta previa adalah perdarahan pervaginam (yang keluar melalui vagina) tanpa nyeri yang pada umumnya terjadi pada akhir triwulan kedua. Ibu dengan plasenta previa pada umumnya asimptomatik (tidak memiliki gejala) sampai terjadi perdarahan pervaginam. Biasanya perdarahan tersebut tidak terlalu banyak dan berwarna merah segar. Pada umumnya perdarahan pertama terjadi tanpa faktor pencetus, meskipun latihan fisik dan hubungan seksual dapat menjadi faktor pencetus. Perdarahan terjadi karena pembesaran dari rahim sehingga menyebabkan robeknya perlekatan dari plasenta dengan dinding rahim. Koagulapati jarang terjadi pada plasenta previa. Jika

didapatkan kecurigaan terjadinya plasenta previa pada ibu hamil, maka pemeriksaan Vaginal Tousche (pemeriksaaan dalam vagina) oleh dokter tidak boleh dilakukan kecuali di meja operasi mengingat risiko perdarahan hebat yang mungkin terjadi.

Pemeriksaan penunjang

Metode paling mudah, sederhana, dan aman untuk mengetahui letak plasenta adalah melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) transabdominal yang dapat memperlihatkan lokasi plasenta dengan keakuratan yang tinggi sekitar 96%.

lokasi plasenta dengan keakuratan yang tinggi sekitar 96%. Gambar 3. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Terapi Wanita

Gambar 3. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

Terapi

Wanita dengan plasenta previa yang memerlukan perhatian lebih yaitu :

1. Ibu dengan janin preterm namun sudah ada tanda-tanda ingin melahirkan

2. Ibu dengan janin yang sudah cukup bulan

3. Ibu yang sedang melahirkan

4. Ibu dengan perdarahan sangat hebat yang berbahaya bagi kelangsungan hidup ibu maupun janin

Tatalaksana pada wanita plasenta previa adalah:

1. Evaluasi kondisi ibu dan janin setelah perdarahan terjadi

2. Bedrest (istirahat) total

3. Menghindari hubungan seksual sampai follow up USG menunjukkan perpindahan plasenta ke tempat seharusnya

4. Pemeriksaan USG teratur setiap 4 minggu

5. Pasien dapat melakukan kegiatan sehari-hari namun tidak boleh berlebihan

6. Kewaspadaan untuk terjadinya perdarahan lagi

7. Perawatan di rumah sakit apabila terjadi perdarahan berulang atau sudah saatnya untuk melahirkan

8. Operasi caesar

Risiko perdarahan selama melahirkan tetap dapat terjadi karena kontraksi dari segmen rahim bagian

bawah yang lemah maupun perlekatan dari plasenta. Karena itu apabila perdarahan hebat terjadi selama melahirkan dan tidak dapat dihentikan dengan metode konvensional (mengikat pembuluh darah, insisi transversal) maka histerektomi (pengangkatan rahim) adalah tindakan yang perlu untuk dilakukan.

Komplikasi

Plasenta abruptio. Pemisahan plasenta dari dinding rahim

Perdarahan sebelum atau selama melahirkan yang dapat menyebabkan histerektomi (operasi pengangkatan rahim)

Plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta

Prematur atau kelahiran bayi sebelum waktunya (< 37 minggu)

Kecacatan pada bayi

Pencegahan

Tidak ada cara untuk mencegah plasenta previa karena penyebab pasti dari plasenta previa belum ditemukan. Yang harus dilakukan adalah mencoba menghindari faktor risiko seperti merokok.

Kapan ke dokter

Segeralah datang ke dokter apabila pada wanita yang sedang hamil terjadi perdarahan yang tidak nyeri, berwarna merah segar, dan terutama terjadi pada triwulan ke-2 akhir. Plasenta previa juga dapat dideteksi melalui pemeriksaan USG secara berkala meskipun tidak ada gejala perdarahan yang terjadi.