Anda di halaman 1dari 3

Jelaskan landasan Fiqh dan fatwa DSN tentang Transaksi Ijarah!

Al ijarah berasal dari kata al ajru yang berarti a! 'iwadhu (ganti dan upah). Menurut fatwa
DSN-MUI No. 09/DSN-MUI/IV/2000, ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang
dan jasa melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan
kepemilikan (ownership/ milkiyyah) atas barang itu sendiri. Secara sederhana ijarah adalah
akad sewa-menyewa atas manfaat suatu aset, baik yang berwujud (barang) dan aset yang
tidak berwujud (jasa), seperti lease contract dan juga hire contract. Dalam fiqh tradisional,
ijarah berarti kontrak untuk mempekerjakan orang atau menyewakan layanan atau
pembuatan barang properti, umumnya untuk periode tertentu dan dalam harga tetap.
Landasan Fiqh Transaksi Ijarah

1) Al-Qur’an

QS. Al-Baqarah (2) : 233


Artinya: “......Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu
apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan
ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.

QS. Al- Qashash (28): 26

Artinya: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “ ya bapakku ambillah ia sebagai orang
yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya, orang yang paling baik yang kamu ambil untuk
bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

QS. Al-Zukhruf (43) : 32

Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara
mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian
mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan
sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

QS. Ath-Thalaq (65) : 6

Artinya: “jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu maka berikanlah kepada


mereka upahnya.”

2) Al Hadist

Hadis riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering”

Hadis riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah SAW
SAW bersabda :
“Barang siapa memperkejakan pekerja, Beritahukanlah upahnya”

Hadist riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Berbekam dan berikan kepada tukang bekam itu upahnya.”
Fatwa DSN tentang transaksi ijarah
1) Fatwa DSN No: 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang IJARAH

Pertama : Rukun dan Syarat Ijarah

1) Pernyataan Ijab dan QabuL


2) Pihak-pihak yang berakad terdiri dari pemberi sewa(lessor, pemilik aset dan lembaga
keuangan syariah) dan penyewa (lesser, pihak yang mengambil manfaat dari
pengguna aset)
3) Obyek kontrak : pembayaran dan manfaat dari penggunaan aset
4) Manfaat dari penggunaan aset adalah obyek kontrak yang harus dijamin karena ia
rukun yang harus dipenuhi sebagai ganti dari sewa dan bukan aset itu sendiri.
5) Sighat ijarah berupa pernyataan dari kedua pihak yang berkontrak baik secara verbal
atau bentuk lain yang ekuivalen dengan cara penawaran dari pemilik aset (LKS) dan
penerimaan yang dinyatakan oleh penyewa (nasabah)

Kedua: Ketentuan Obyek Ijarah


1) Obyek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan jasa
2) Manfaat barang harus dapat dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak
3) Pemenuhan manfaat harus bersifat dibolehkan
4) Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syariah
5) Manfaat harus dikenali secara spesifik untuk menghilangkan ketidaktahuan yang
akan mengakibatkan sengketa
6) Spesifikasi manfaat harus dinyatakan jelas baik jangka waktu maupun identifikasi
fisik
7) Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai
pembayaran manfaat.
8) Pembayaran sewa boleh berbentuk jasa dari jenis yang sama dengan obyek kontrak
9) Fleksibilitas dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran waktu, tempat
dan jarak.

Ketiga: Kewajiban LKS dan Nasabah dan Pembiayaan Ijarah


1) Kewajiban LKS sebagai pemberi sewa
a) Menyediakan aset yang disewakan
b) Menanggung biaya pemeliharaan aset
c) Menjamin bila terdapat cacat pada aset yang disewakan
2) Kewajiban Nasabah sebagai penyewa
a) Membayar sewa dan bertanggung jawab menjaga keutuhan aset yang disewa
serta menggunakan sesuai kontrak.
b) Menanggung biaya pemeliharaan yang sifatnya tidak materiil
c) Jika aset yang disewa rusak, bukan karena pelanggaran dari penggunaan yang
dibolehkan, juga bukan kelalaian penyewa maka penyewa tidak bertanggung
jawab atas kerusakan.

2) Fatwa DSN No: 27/DSN-MUI/III/2002 tentang AL IJARAH AL MUNTAHIYAH BI AL-


TAMLIK

Pertama: Akad Al Ijarah Al Muntahiyah Bi Al-Tamlik boleh dilakukan sesuai ketentuan


sebagai berikut:

1) Semua rukun dan syarat yang berlaku dalam akad Ijarah (Fatwa DSN No: 09/DSN-
MUI/IV/2000) berlaku untuk akad Al Ijarah Al Muntahiyah Bi Al-Tamlik
2) Perjanjian untuk melakukan akad Al Ijarah Al Muntahiyah Bi Al-Tamlik harus
disepakati ketika akad ditandatangani
3) Hak dan kewajiban setiap pihak harus dijelaskan dalam akad

Kedua: Ketentuan tentang Akad Al Ijarah Al Muntahiyah Bi Al-Tamlik


1) Pihak yang melakukan Al Ijarah Al Muntahiyah Bi Al-Tamlik harus melaksanakan
akad Ijarah terlebih dahulu. Akad pemindahan kepemilikan baik dengan jual beli atau
pemberian, hanya dapat dilakukan setelah masa ijarah selesai.
2) Janji pemindahan kepemilikan yang disepakati di awal akad ijarah adalah wa’d yang
hukumnya tidak mengikat. Apabila janjian itu ingin dilakasanakan, maka harus ada
akad pemndahan kepemilikan yang dilakukan setelah masa ijarah selesai.

Ketiga :
1) Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di
antara kedua belah pihak maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi
Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
2) Fatwa ini berlaku sejak tanggal diterapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari
ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana
mestinya.

Anda mungkin juga menyukai