Anda di halaman 1dari 38

REFERAT

RADIOLOGI

TB PULMO DAN EKSTRA PULMO

Disusun oleh :

Prima Ufiyantama Afta Sakria, S.Ked

1913020022

Pembimbing :

dr. Ninik, Sp.Rad


FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2020

HALAMAN PENGESAHAN

Telaah ilmiah yang


berjudul

TB Pulmo dan Ekstra Pulmo

Dipresentasikan oleh

Prima Ufiyantama

1913020022

Telah diterima sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan


Klinik Senior (KKS) di Bagian/Departemen THT RSUD Kota Salatiga,
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Purwokerto, Juni 2020

Pembimbing,

dr. Ninik, Sp. Rad


DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri berbentuk
batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberkulosis. Penularan penyakit
ini melalui perantaraan ludah atau dahak (droplet) dari penderita TB kepada individu yang
rentan (daya tahan tubuh rendah). Pada umumnya TB menyerang jaringan paru, tetapi
dapat juga menyerang organ lainnya (Menkes, 2009).
2.2 Etiologi
Mycobacterium Tuberculosis merupakan bakteri aerob, biasanya ditemukan pada
daerah yang banyak udara. Mycobacterium Tuberculosis ditemukan oleh Robert Koch
dalam tahun 1882. Bakteri Mycobacterium memiliki sifat tidak tahan panas serta akan mati
pada 60 oC selama 15-20 menit. Bakteri ini adalah basil tuberkel yang merupakan batang
ramping dan kurus, dapat berbentuk lurus ataupun bengkok yang panjangnya sekitar 2-4
mm dan lebar 0,2-0,5 mm yang bergabung membentuk rantai. Besar bakteri ini tergantung
pada kondisi lingkungan (Danusantoso, 2007).
Mycobacterium Tuberculosis dapat bertahan hidup di udara kering maupun dalam
keadaan dingin. Biakan bakteri ini dapat mati jika terkena sinar matahari langsung selama
2 jam. Dalam dahak, bakteri mycobacterium dapat bertahan selama 20-30 jam. Basil yang
berada dalam percikan dahak dapat bertahan hidup 8-10 hari. Biakan basil ini apabila
berada dalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari dengan
suhu 20oC selama 2 tahun (Danusantoso, 2007).
Bakteri Mycobacterium Tuberculosis berukuran sangat kecil sehingga dapat
melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus dan terus berjalan sampai di alveolus dan
menetap disana. Didalam alveolus bakteri ini berkembangbiak dengan cara pembelahan
diri di sitoplasma makrofag paru yang mengakibatkan peradangan didalam paru (Depkes
RI, 2008).
2.3 Epidemiologi
Pada tahun 1993, WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global
emergency). Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh
Mycobacterium Tuberculosis. Seluruh dunia, pada tahun 1995, diperkirakan ada 9
juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB. Di negara-negara berkembang
kematian TB sebesar 25% dari seluruh kematian, yang sebenarnya dapat dicegah.
Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-
negara berkembang. Demikian juga, kematian wanita karena TB lebih banyak dari pada
kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok
usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Seorang pasien TB dewasa,
akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat
kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 - 30%. Jika ia meninggal
akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan
secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial - stigma
bahkan dikucilkan oleh masyarakat (Pusat Kedokteran dan Kesehatan POLRI, 2015).
2.4 Patogenesis
A. Tuberkulosis Primer
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di
jaringan paru, dimana ia akan membentuk suatu sarang pneumonik, yang disebut
sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini mugkin timbul di bagian mana
saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan
kelihatan peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal).
Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus
(limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan limfangitis regional
dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini akan mengalami salah satu
nasib sebagai berikut :
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad
integrum)
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon,
garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
3. Menyebar dengan cara :
 Perkontinuitatum, menyebar kesekitarnya
Salah satu contoh adalah epituberkulosis, yaitu suatu
kejadian dimana terdapat penekanan bronkus, biasanya bronkus
lobus medius oleh kelenjar hilus yang membesar sehingga
menimbulkan obstruksi pada saluran napas bersangkutan, dengan
akibat atelektasis. Kuman tuberkulosis akan menjalar sepanjang
bronkus yang tersumbat ini ke lobus yang atelektasis dan
menimbulkan peradangan pada lobus yang atelektasis tersebut, yang
dikenal sebagai epituberkulosis.
 Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke
paru sebelahnya. Penyebaran ini juga terjadi ke dalam usus .
 Penyebaran secara hematogen dan limfogen.
Kejadian penyebaran ini sangat bersangkutan dengan daya
tahan tubuh, jumlah dan virulensi basil. Sarang yang ditimbulkan
dapat sembuh secara spontan, akan tetapi bila tidak terdapat imuniti
yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup
gawat seperti tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosa,
typhobacillosis Landouzy. Penyebaran ini juga dapat menimbulkan
tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak
ginjal, genitalia dan sebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini
mungkin berakhir dengan :
 Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya
pertumbuhan terbelakang pada anak setelah mendapat
ensefalomeningitis, tuberkuloma ) atau
 Meninggal (PDPI, 2006).
B. Tuberkulosis Post Primer
Dari tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahun kemudian
tuberkulosis post-primer, biasanya pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis post
primer mempunyai nama yang bermacam macam yaitu tuberkulosis bentuk
dewasa, localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk
tuberkulosis inilah yang terutama menjadi problem kesehatan rakyat, karena
dapat menjadi sumber penularan. Tuberkulosis post-primer dimulai dengan
sarang dini, yang umumnya terletak di segmen apikal dari lobus superior
maupun lobus inferior. Sarang dini ini awalnya berbentuk suatu sarang
pneumonik kecil. Nasib sarang pneumonik ini akan mengikuti salah satu jalan
sebagai berikut :
1. Diresopsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan
cacat
2. Sarang tadi mula mula meluas, tapi segera terjadi proses
penyembuhan dengan penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan
membungkus diri menjadi lebih keras, terjadi perkapuran, dan
akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang
tersebut menjadi aktif kembali, membentuk jaringan keju dan
menimbulkan kaviti bila jaringan keju dibatukkan keluar.
3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan
kaseosa). Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju
keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan
menjadi tebal (kaviti sklerotik). Nasib kaviti ini :
 Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik
baru. Sarang pneumonik ini akan mengikuti pola perjalanan
seperti yang disebutkan diatas.
 Dapat pula memadat dan membungkus diri
(encapsulated), dan disebut tuberkuloma.
Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tapi mungkin pula
aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi.
 Kaviti bisa pula menjadi bersih dan menyembuh yang disebut
open healed cavity, atau kaviti menyembuh denganmembungkus
diri, akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai
kaviti yang terbungkus, dan menciut sehingga kelihatan seperti
bintang (stellate shaped) (PDPI, 2006).

Gambar 1. Skema perkembangan sarang


tuberculosis post primer dan perjalanan penyembuhannya

2.5 Klasifikasi
A. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru,
tidak termasuk pleura (selaput paru)
1. Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA)
TB paru dibagi dalam :
a) Tuberkulosis Paru BTA (+)
 Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak
menunjukkan hasil BTA positif
 Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak
menunjukkan BTA positif dan kelainan radiologik
menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif
 Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak
menunjukkan BTA positif dan biakan positif
b) Tuberkulosis Paru BTA (-)
 Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif,
gambaran klinik dan kelainan radiologik menunjukkan
tuberkulosis aktif serta tidak respons dengan pemberian
antibiotik spektrum luas
 Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif
dan biakan M.tuberculosis positif
 Jika belum ada hasil pemeriksaan dahak, tulis BTA belum
diperiksa
2. Berdasarkan tipe penderita
Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan
sebelumnya. Ada beberapa tipe penderita yaitu :
a) Kasus baru
Adalah penderita yang belum pernah mendapat pengobatan dengan
OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (30
dosis harian)
b) Kasus kambuh (relaps)
Adalah penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif.
Bila hanya menunjukkan perubahan pada gambaran radiologik
sehingga dicurigai lesi aktif kembali, harus dipikirkan beberapa
kemungkinan :
• Infeksi sekunder
• Infeksi jamur
• TB paru kambuh
c) Kasus pindahan (Transfer In)
Adalah penderita yang sedang mendapatkan pengobatan di suatu
kabupaten dan kemudian pindah berobat ke kabupaten lain. Penderita
pindahan tersebut harus membawa surat rujukan/pindah
d) Kasus lalai berobat
Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan, dan
berhenti 2 minggu atau lebih, kemudian datang kembali berobat.
Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan dahak
BTA positif
e) Kasus gagal
 Adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau
kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu
bulan sebelum akhir pengobatan)
 Adalah penderita dengan hasil BTA negatif gambaran
radiologik positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2
pengobatan dan atau gambaran radiologik ulang hasilnya
perburukan
f) Kasus kronik
Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan dahak BTA masih
positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan
pengawasan yang baik
g) Kasus bekas TB
 Hasil pemeriksaan dahak mikroskopik (biakan jika ada
fasilitas) negatif dan gambaran radiologik paru
menunjukkan lesi TB inaktif, terlebih gambaran
radiologik serial menunjukkan gambaran yang menetap.
Riwayat pengobatan OAT yang adekuat akan lebih mendukung
 Pada kasus dengan gambaran radiologik meragukan lesi
TB aktif, namun setelah mendapat pengobatan OAT selama 2
bulan ternyata tidak ada perubahan gambaran
radiologik (PDPI, 2006).
B. Tuberkulosis Ekstra Paru
Batasan : Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya
pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dll. Diagnosis
sebaiknya didasarkan atas kultur spesimen positif, atau histologi, atau bukti
klinis kuat konsisten dengan TB ekstraparu aktif, yang selanjutnya
dipertimbangkan oleh klinisi untuk diberikan obat anti tuberkulosis siklus
penuh. TB di luar paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakit,
yaitu :
1. TB di luar paru ringan
Misalnya : TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang
(kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.
2. TB diluar paru berat
Misalnya : meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis
eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan
alat kelamin.

Berdasarkan organ yang terkena, TB Ekstra Pulmo diklasifikasikann menjadi :

a) Tuberkulosis Limfadenitis
Tuberkulosis kelenjar limfe adalah salah satu
penyakit yang sangat unik, dimana penyakit ini telah lama
dikenal. Istilah lain untuk penyakit ini adalah skrofula yang
diambil dari bahasa latin yang berarti pembengkakan
kelenjar. TB Limfadenitis merupakan TBEP yang paling
sering terjadi.
b) Tuberkulosis Pleuritis
Tuberkulosis Pleuritis merupakan suatu penyakit
tuberkulosis yang mempunyai manifestasi menumpuknya
cairan di rongga paru yaitu di antara lapisan luar dan dalam
paru. Pada keadaan normal pembentukan cairan pleura
sekitar 0,01 ml/kgBB /jam, dan penyerapan cairan pleura melalui kelenjar
getah bening dapat mencapai sampai 0,20
ml/kgBB /jam.
c) Tuberkulosis Tulang
Pada TB dengan jenis ini, untuk mencapai bagian
tulang dan sendi penyebaran harus melalui jalur hematogen
dari kompleks primer pada bagian tubuh lain. Kebanyakan
dari tuberkulosis tulang dan sendi yang terjadi dalam waktu
3 tahun sesudah terjadinya infeksi pertama. Pembengkakan
muncul secara perlahan pada daerah di sekitar tulang dan
sendi.
d) Tuberkulosis Meningitis
Merupakan peradangan selaput otak atau meningen
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis jenis
hominis. TB Meningitis merupakan hasil penyebaran
hematogen dan limfogen dari infeksi primer dari paru.
e) Tuberkulosis Peritonitis
TB Peritonitis merupakan penyakit yang disebabkan
oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis yang berasal dari
peritoneum, dapat mengenai semua bagian usus dan pasien
dapat mengalami berbagai variasi gejala. penyakit ini jarang
berdiri sendiri dan merupakan lanjutan dari proses
tuberkulosis di tempat lain.
Catatan :
 Yang dimaksud dengan TB paru adalah TB pada parenkim paru.
Sebab itu TB pada pleura atau TB pada kelenjar hilus tanpa ada
kelainan radiologik paru, dianggap sebagai penderita TB di luar paru.
 Bila seorang penderita TB paru juga mempunyai TB di luar paru, maka
untuk kepentingan pencatatan penderita tersebut harus dicatat sebagai
penderita TB paru.
 Bila seorang penderita ekstra paru pada beberapa organ, maka dicatat
sebagai ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat (PDPI,
2006).
2.6 Penegakan Diagnosis TB pada Dewasa
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik,
pemeriksaan fisik/jasmani, pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan pemeriksaan
penunjang lainnya
A. Gejala Klinik
Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala
respiratorik (atau gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik.
a) Gejala respiratorik
 batuk ≥ 3 minggu
 batuk darah
 sesak napas
 nyeri dada

Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai
gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang penderita terdiagnosis
pada saat medical check up. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit,
maka penderita mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi
karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak
ke luar.
b) Gejala sistemik
 Demam
 Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia,
berat badan menurun (PDPI, 2006).

Gejala klinis TBEP disesuaikan berdasarkan organ yang


terinfeksi, sehingga diperlukannya pemeriksaan-pemeriksaan yang dapat
mendukung untuk mendiagnosis TBEP. Gejala TBEP yaitu :

a) Tuberkulosis Limfadenitis
Gejala konstitusional hanya terjadi pada 33%-85% pasien. Sekitar
57% pasien tidak menunujukan adanya gejala sistemik, seperti tanpa
didasari adanya demam, namun terkadang terdapat subfebril, Pada keadaan
tertentu ditemukannya demam yang tinggi pada orang dewasa sehingga
diperlukan pemeriksaan foto toraks untuk menunjukan adanya pembesaran
kelenjar limfe dileher. Diagnosis ditegakkan melalui aspirasi jarum halus
dan biopsi kelenjar. Pada biopsi dapat ditemukan inflamasi granulomatous
kaseosa dengan sel Langerhans. Gejala klinis :
- Tidak nyeri tekan. Pembesaran kelenjar dengan
perabaan keras atau padat serta multiple dan
berhubungan satu sama lain
- Tanda-tanda radang yang minimal
- Terdapat pengkejuan seluruh kelenjar sehingga
melunak seperti abses
Gejala lain seperti nyeri sekitar 4.7%, demam 2.91%, dan
penurunan berat badan 5.1%
b) Tuberkulosis Pleuritis
TB Pleuritis hampir selalu melibatkan salah satu
hemitoraks. Gejala klinis yang sering dijumpai pada penderita tuberkulosis
pleuritis adalah batuk non produktif, demam dan nyeri dada pleuritik.
Demam dan nyeri dada sering ditemukan pada pasien yang berusia lebih
muda, sedangkan batuk dan dispneu umumnya terjadi pada pasien yang
lebih tua. Selain itu dapat pula ditemukan gejala lain seperti dispneu,
mengigil, keringat malam, penurunan berat badan, dan malaise. Onset
terjadinya gejala penyakit pada tuberkulosis pleuritis sekitar 14 hari pada
Pleuritis TB primer dan 60 hari pada pleuritis TB reaktivasi.
c) Tuberkulosis Tulang
Gejala tuberkulosis tulang tidak spesifik dan perjalanan
klinisnya lambat sehingga menyebabkan keterlambatan
diagnosis dan destruksi tulang dan sendi. Hanya 50% pasien
dengan tuberkulosis tulang sendi mempunyai foto toraks yang
sesuai dengan TB. Penderita yang mengalami tuberkulosis pada tulang akan
merasakan rasa yang sangat nyeri di daerah tulang yang
terkena, hal itu menyebabkan penderita sulit untuk
menggerakan tubuh dan terlihat seperti kaku gejala lain seperti
demam dan penurunan berat badan hanya dapat ditemukan
pada beberapa pasien. Fistula kulit, abses, deformitas sendi
dapat ditemukan pada penyakit lanjut. Secara klinis gejala tulang belakang
yaitu:
- Tulang belakang kaku dan nyeri bila digerakkan serta
deformitas kifosis yang nyeri bila digerakan.
- Pada tuberkulosis daerah servikal ditemukan rasa nyeri
didaerah belakang kepala, gangguan menelan, dan
gangguan pernafasan akibat adanya abses retrofaring.
- Pembengkakan dan gangguan fungsi yang progresif
selama beberapa minggu sampai beberapa bulan.
d) Tuberkulosis Meningitis
Penurunan keadaan umum pada 2-8 minggu seperti
adanya malaise kelelahan, iritabel perubahan tingkah laku,
nafsu makan turun, penurunan berat badan dan demam ringan.
Gejala pada orang dewasa meliputi nyeri kepala, demam, mual muntah.
e) Tuberkulosis Peritonitis
Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai asites, demam,
pembengkakan bagian perut, nyeri perut. Berikut gejala klinis
yang sering ditemukan berupa nyeri perut, penurunan berat badan, nyeri
tekan abdomen. Gejala lain seperti diare atau konstipasi, terdapat
massa abdomen, dan darah pada rektum (Kemenkes RI, 2013).
B. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung dari
organ yang terlibat. Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas
kelainan struktur paru. Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya
tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya
terletak di daerah lobus superior terutama daerah apex dan segmen posterior , serta
daerah apex lobus inferior. Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan antara
lain suara napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda
penarikan paru, diafragma & mediastinum. Berdasarkan organ yang terkena :
a) Tuberkulosis Limfadenitis
Pada pemeriksaan fisik ditemukannya benjolan, bagian kulit pada
daerah yang terinfeksi juga akan terlihat kemerahan dan teraba hangat. Kultur
dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis TB Limfadenitis.
Adanya 10-100 basil/mm3 cukup untuk membuat hasil kultur positif. Hasil
kultur positif hanya pada 10-69% kasus. Pada pemeriksaan kultur spesimen
untuk pemeriksaan sitologi diambil dengan menggunakan biopsi aspirasi
kelenjar limfe sensitivitas dan spesifitas adalah 78% dan 99%. Pada
pemeriksaan sitologi akan terlihat Langhans giant cell, granuloma epiteloid,
nekrosis kaseosa.
Foto toraks dapat menunjukkan kelainan yang konsisten, Lesi TB
pada foto toraks lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan dewasa,
yaitu sekitar 15% kasus. USG kelenjar dapat menunjukkan adanya lesi kistik
multilokular singular atau multipel hipoekhoik yang dikelilingi oleh kapsul
tebal. Pemeriksaan dengan USG juga dapat dilakukan untuk
membedakan penyebab pembesaran kelenjar (infeksi TB,
metastatik, lymphoma, atau reaktif hiperplasia). Pada pembesaran
kelenjar yang disebabkan oleh infeksi TB biasanya ditandai dengan
fusion tendency, peripheral halo, dan internal echoes.
Pada CT scan, adanya massa nodus konglumerasi dengan
lusensi sentral, adanya cincin irregular pada contrast enhancement
serta nodularitas didalamnya, derajat homogenitas yang bervariasi,
adanya manifestasi inflamasi pada lapisan dermal dan subkutan
mengarahkan pada TB limfadenitis. Pada MRI didapatkan adanya
massa yang diskret, konglumerasi, dan konfluens.
b) Tuberkulosis Pleuritis
Pemeriksaan fisik TB pleuritis dapat bervariasi apabila volume efusi
pleura > 300 ml akan didapatkan tanda-tanda adanya penurunan resonasi pada
perkusi, penurunan fremitus taktil, dan friction rub. Diagnosis TB pleuritis
bergantung pada spuntum, cairan pleura, biopsi pleura maupun granuloma di
pleura pada pemeriksaan histopatologis. Pemeriksaan N-PCR mempunyai
sensitivitas N-PCR dari 51.7% menjadi 70.6%. Beberapa penelitian meniliti
bahwa adanya penanda biokimia seperti aktivitas ADA (adenosine
deaminase) untuk mendiagnosis TB pleuritis disebutkan kadar ADA > 47IU/L
dalam cairan pleura dapat menunjukan ke arah TB.
Hasil pemeriksaan BTA pada spuntum jarang menunjukkan
hasil positif pada kasus primer dan kultur menunjukkan hasil positif
hanya pada 25%-33% pasien. Sedangkan pada kasus reaktifasi
pemerikasaan BTA spuntum positif pada 50% dan 60% positif pada
kultur. Pada pemeriksaan histopatologi jaringan pleura menunjukan
peradangan granulomatosa, nekrosis kaseosa, dan BTA positif.
c) Tuberkulosis Tulang
Pada pemeriksaan fisik bagian tulang yang terkena infeksi pada kulit,
permukaanya akan teraba hangat selain itu dalam mendiagnosis TB tulang
memiliki pemeriksaan baku emas yaitu biakan mikobakterium jaringan tulang
atau cairan sinovial. Aspirasi jarum dan biopsi (CT guided) direkomendasikan
untuk konfirmasi TB spondilitis. Pada infeksi awal dapat ditemukan
pembengkakan jaringan lunak, osteopenia dan destruksi tulang. Pada infeksi
lanjut dapat ditemukan kolaps struktur, perubahan sklerotik dan kalsifikasi
jaringan lunak. Pada TB spondilitis dapat tampak lesi osteolitik murni tanpa
keterlibatan ruang diskus dan dapat terlihat di beberapa tempat.
Foto toraks dapat membantu untuk mengetahui bekas TB paru. Pada
pemeriksaan MRI dapat ditemukan perluasan infeksi ke jarigan lunak dan
struktur di sekitar tulang seperti medulla spinalis. Pada pemeriksaan
laboratorium dengan adanya peningkatan LED disertai leukosit, uji mantoux
positif 3 dan pada pemeriksaan histopatologis ditemukan tuberkel ditulang,
sedangkan pemeriksaan radiologi, pada pemeriksaan foto polos vertebra
ditemukan osteoporosis, osteolitik, dekstruksi korpus vertebra, disertai
penyempitan diskus intervetbralis pada korpus, dan dapat ditemukan adanya
massa abses peravetebral. Sedangkan pada foto polos AP, abses paravetebral
di daerah servikal berbentuk sarang burung (bird’s nets), didaerah thorakal
berbentuk bulbus dan daerah limbal abses berbentuk fusiform.
d) Tuberkulosis Meningitis
Pemeriksaan neurologis TB meningitis untuk menguji rangsang
meningeal akan didapatkan hasil positif. Selain itu diagnosis ditegakkan
berdasarkan lumbal pungsi dengan pemeriksaan cairan serebrospinal dengan
kadar glukosa <40 mg/dl ,protein 50-500mg/dl, limfosit 100-500cells/µL
warna CSS jernih atau keruh dan pada pemeriksaan ADA pada CSS terdapat
9.2 -110 IU/L. Pada pemeriksaan CT-Scan kepala terdapat gambaran
hidrosefalus, oedema. Pada foto toraks dada terdapat gambaran TB paru yang
masih aktif.
e) Tuberkulosis Peritonitis
Lesi makroskopik yang ditemukan pada endoskopi paling sering
ditemukkan di sebelah kanan ( caecum dan ascending colon), ulkus primer
( ulkus 88%, nodul 50.7%, penyempitan lumen 44.8%, lesi polipoid 10.4%).
Organ yang paling sering terlibat adalah ileum terminal karena pravalens
kelenjar getah bening didaerah tersebut tinggi dan waktu kontak isi usus lebih
lama. Pemeriksaan ADA cairan asites pada TB peritonitis
menunjukkan kadar >36 IU/L sensitifitas 100% dan spesifitasi
95%. Pada pemeriksaan USG terdapat gambaran cairan pada peritoneum,
sedangkan pada pemeriksaan CT-Scan terdapat gambaran penebalan dan
nodul pada peritoneum.
C. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Bakteriologik
Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis
mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis.
Bahan untuk pemeriksaan bakteriologik ini dapat berasal dari dahak, cairan
pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan
bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urin, faeces dan jaringan
biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH).
Cara pengambilan dahak 3 kali, setiap pagi 3 hari berturut- turut
atau dengan cara:

• Sewaktu/spot (dahak sewaktu saat kunjungan)

• Dahak Pagi ( keesokan harinya )

• Sewaktu/spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi)

Pemeriksaan bakteriologik dari spesimen dahak dan bahan lain


(cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung,
kurasan bronkoalveolar (BAL), urin, faeces dan jaringan biopsi,
termasuk BJH) dapat dilakukan dengan cara :

• Mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik:
 Mikroskopik biasa : pewarnaan Ziehl-Nielsen pewarnaan
Kinyoun Gabbett
 Mikroskopik fluoresens : pewarnaan auramin-rhodamin
(khususnya untuk screening)

WHO pada tahun 1991 memberikan kriteria pada pasien TB paru


menjadi:

a) Pasien dengan sputum BTA positif adalah pasien yang


pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis
ditemukan BTA, sekurang kurangnya pada 2 kali
pemeriksaan/1 sediaan sputumnya positif disertai kelainan
radiologis yang sesuai dengan gambaran TB aktif /1
sediaan sputumnya positif disertai biakan yang positif.
b) Pasien dengan sputum BTA negatif adalah pasien yang
pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak
ditemukan BTA sama sekali, tetapi pada biakannya positif

Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan


pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau
pemeriksaan spesimen SPS diulang.

a) Kalau hasil rontgen mendukung Tb, maka penderita


didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif.
b) Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka
pemeriksaan dahak SPS diulangi. Bila ketiga spesimen
dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas
(misalnya, Kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1-2
minggu.
Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis mencurigakan
TB, ulangi pemeriksaan dahak SPS.
a) Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita
tuberkulosis BTA positif.
b) Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemeriksaan
foto rontgen dada, untuk mendukung diagnosis TB:
 Bila hasil rontgen mendukung TB, didiagnosis
sebagai penderita TB BTA negatif rontgen
positif.
 Bila hasil rontgen tidak mendukung TB,
penderita tersebut bukan TB (Hapsari, 2007).

• Biakan

Pemeriksaan biakan M.tuberculosis dengan metode konvensional ialah


dengan cara :

• Egg base media (Lowenstein-Jensen, Ogawa, Kudoh)

• Agar base media : Middle brook

Melakukan biakan dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosis pasti,


dan dapat mendeteksi Mycobacterium tuberculosis dan juga
Mycobacterium other than tuberculosis (MOTT). Untuk mendeteksi
MOTT dapat digunakan beberapa cara, baik dengan melihat cepatnya
pertumbuhan, menggunakan uji nikotinamid, uji niasin maupun
pencampuran dengan cyanogen bromide serta melihat pigmen yang
timbul (PDPI, 2006).
Gambar 2. Alur Diagnosis TB

2. Pemeriksaan Darah
Pada saat TB baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit
yang sedikit meninggi dengan pergeseran hitung jenis ke kiri. Jumlah
limfosit masih di bawah normal. Laju endap darah (LED) mulai
meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali ke
normal dan jumlah limfosit masih tinggi, LED mulai turun ke arah normal
lagi. Hasil pemeriksaan darah lain juga didapatkan: anemia ringan dengan
gambaran normokrom normositer, gama globulin meningkat, dan kadar
natrium darah menurun (Puspita, 2007).
Diagnosis TB paru sesuai alur yang dibuat oleh Depkes RI (2006),
sebagaimana bisa dilihat di sebagai berikut :
Pada saat ini uji tuberkulin tidak mempunyai arti dalam
menentukan diagnosis TBC pada orang dewasa sebab sebagian besar
masyarakat sudah terinfeksi dengan Mycobacterium tuberculosis karena
tingginya prevalensi TBC. Suatu uji tuberkulin positif hanya menunjukkan
bahwa yang bersangkutan pernah terpapar dengan mycobacterium
tuberculosis.
Kelemahan tes ini adalah adanya positif palsu yakni pada
pemberian BCG atau terinfeksi dengan Mycobacterium lain, negatif palsu
pada pasien yang baru 2-10 minggu terpajan TB, anergi, penyakit sistemik
serta (Sarkoidosis, LE), penyakit eksantematous dengan panas yang akut
(morbili, cacar air, poliomielitis), reaksi hipersensitivitas menurun pada
penyakit hodgkin, pemberian obat imunosupresi, usia tua, malnutrisi,
uremia, dan penyakit keganasan. Untuk pasien dengan HIV positif, tes
mantoux ± 5 mm, dinilai positif (Bahar, 2007).
3. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA dengan atau tanpa foto
lateral. Pemeriksaan lain atas indikasi : foto apiko-lordotik, oblik, CT-
Scan. Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran
bermacam-macam bentuk (multiform).
a) Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif :
 Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior
lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah.
 Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan
opak berawan atau nodular
 Bayangan bercak milier
 Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)
Gambar 3. Bayangan berawan / nodular

Gambar 4. Lubang (cavitas) berarti proses aktif kecuali bila lubang sudah sangat kecil,
yang dinamakan lubang sisa (residual cavity)

Gambar 5. Bayangan bercak milier


b) Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif :
 Fibrotik pada segmen apikal dan atau posterior lobus atas
 Kalsifikasi atau fibrotik
 Kompleks ranke
 Fibrotoraks/Fibrosis parenkim paru dan atau penebalan pleura

Gambar 6. Post TB primer. Ditemukan adanya fibrosis lobus atas bilateral


Gambar 7. Sarang seperti garis-garis (fibrotic) atau
bintik-bintik kapur (kalsifikasi) yang biasanya menunjukkan bahwa proses telah tenang.

Gambar 8. Kompleks Ranke. Ada kombinasi granuloma perifer yang terkalsifikasi


(panah hitam) dan nodus limfe hilar yang terkalsifikasi (panah putih) di sisi yang sama.
Beberapa granuloma kalsifikasi kecil lainnya terlihat di lapangan tengah-paru kanan.
c) Luluh Paru (Destroyed Lung ) :
 Gambaran radiologik yang menunjukkan kerusakan jaringan
paru yang berat, biasanya secara klinis disebut luluh paru .
Gambaran radiologik luluh paru terdiri dari atelektasis,
multikaviti dan fibrosis parenkim paru. Sulit untuk menilai
aktiviti lesi atau penyakit hanya berdasarkan gambaran
radiologik tersebut.
 Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologik untuk memastikan
aktiviti proses penyakit

Gambar 9. Tampak multikavitas dan fibrotik luas pada lapang paru kiri

Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan


pengobatan dapat dinyatakan sbb (terutama pada kasus BTA dahak
negatif) :
a) Lesi minimal, bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua
paru dengan luas tidak lebih dari volume paru yang terletak di
atas chondrostemal junction dari iga kedua depan dan prosesus
spinosus dari vertebra torakalis 4 atau korpus vertebra torakalis 5
(sela iga 2) dan tidak dijumpai kaviti
b) Lesi luas, bila proses lebih luas dari lesi minimal (PDPI, 2006).

Klasifikasi TB pasca primer menurut American Tuberculosis


Association (Rasad, 2005):

1) Tuberkulosis minimal (minimal tuberculosis): yaitu luas sarang-


sarang yang kelihatan tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh
garisgaris median, apeks, dan iga 2 depan, sarangsarang soliter
dapat berada dimana saja, tidak harus berada dalam daerah tersebut
di atas. Tidak ditemukan adanya lubang (kavitas).
2) Tuberkulosis lanjut sedang (moderately advanced tuberculosis):
yaitu luas sarang-sarang bersifat bercak-bercak tidak melebihi luas
satu paru, sedangkan bila ada lubang, diameternya tidak melebihi 4
cm. Kalau sifat bayangan sarang-sarang tersebut berupa awan-awan
yang menjelma menjadi daerah konsolidasi yang homogen, luasnya
tidak boleh melebihi luas satu lobus.
3) Tuberkulosis sangat lanjut (far advanced tuberculosis): yaitu luas
daerah yang dihinggapi oleh sarang-sarang lebih dari pada
klasifikasi kedua di atas, atau bila ada lubang-lubang maka diameter
keseluruhan semua lubang melebihi 4 cm.
4. Pemeriksaan