Anda di halaman 1dari 15

Revolusi Rusia

1. Keadaan Rusia Sebelum Revolusi


Sebelum terjadi revolusi tahun 1917, Rusia merupakan sebuah negara yang
dikendalikan oleh Monarkhi Otokratis, yang tugasnya terpusat pada pemeliharaan tatanan
dalam negeri dan penindakan musuh dari luar. Rejim ini sepenuhnya berdasarkan pada negara
kekaisaran (Imperial State) yang memiliki hirarkhi militer dan administrasi yang dikoordinasikan
secara terpusat di bawah pengawasan monarkhi yang absolut. Kedudukan kaum bangsawan
pemilik tanah di Rusia sangat lemah karena secara politis mereka tergantung pada Tsar. Selain
itu perbudakan tidak dikonsolidasikan oleh mereka tetapi oleh utusan Tsar untuk menarik
sumbersumber dari rakyat guna mendukung militer agar mampu mempertahankan dan
memperluas lingkungan geopolitik yang terancam. Namun demikian, lama kelamaan mereka
pun merasa tertekan dan tertindas, sehingga muncul keresahan dan ketidakpuasan politik di
antara mereka.
Selain itu, kekuasaan Tsar yang absolut telah membawa kesengsaraan rakyat dan
kelompok-kelompok sosial yang berada di kota menjadi tidak puas dengan kerja negara
kekaisaran ini. Pemerintah Tsar mengalami inefisiensi dan inefektif karena terlalu kaku.
Akhirnya usaha ke arah merubah sistem politik Tsar semakin nampak di atas permukaan.
Sejak abad ke-19 usaha-usaha berbagai kelompok untuk bersikap kritis terhadap
pemerintah telah berlangsung meskipun masih bisa dihantam oleh pemerintah. Namun
demikian sebenarnya di masyarakat Rusia telah terjadi munculnya kelompok-kelompok kritis
khususnya dari kalangan borjuis yang bersikap antipati terhadap pemerintah.

2. Revolusi Tahun 1905


Pada awal abad XX, pemerintahan Rusia dipegang oleh Tsar secara otokratik, tanpa
lembaga-lembaga demokrasi apapun. Mayoritas besar penduduk adalah petani yang hidup
dalam kondisi semi-feodal. Meski demikian, kapitalisme sudah agak mapan. Sebagian besar
industri manufaktur diarahkan untuk memenuhi kebutuhan militer negara, tetapi ada industri
garmen dan tekstil yang besar pula yang mempekerjakan banyak perempuan.
Kapitalisme berkembang di Rusia agak terlambat. Hal ini berakibat cukup paradoks:
pabrik-parbrik yang ada di Rusia bersifat amat modern dan berukuruan besar. Kelas buruh
masih relatif kecil, tetapi terkonsentrasi di tempat-tempat kerja modern, canggih dan besar --
jauh berbeda dari pabrik-pabrik kecil yang menyifati tahap-tahap pertama revolusi industri di
Inggeris. Inilah yang dijuluki oleh Trotsky sebagai fenomena "perkembangan gabungan".
Kelas pekerja muda sudah melakukan perjuangan yang hebat. Pada tahun 1896 kaum
buruh tekstil di ibukota St Petersburg menyelenggarakan pemogokan massa yang pertama.
Dalam dua tahun berikutnya, jumlah aksi mogok bertambah dengan cepat. Namun pemerintah
meresponnya dengan represi tajam, sedangkan ekonomi Rusia agak merosot, sehingga
perjuangan buruh meredam lagi untuk sementara.
Waktu itu sudah ada kelompok-kelompok revolusioner, termasuk Partai Sosial
Demokratik Buruh Rusia. Dalam partai tersebut timbul dua faksi yang namanya grup Bolsyevik
dan grup Mensyevik (artinya "mayoritas" dan "minoritas"). Mereka sering terkena represi dan
para pimpinan mereka tak jarang meringkuk, namun semakin berpengaruh dalam rakyat.
Pada tahun 1904 Rusia berperang dengan Jepang. Mula-mula perang itu merangsang
segelombang sentimen patriotis, sementara jumlah aksi mogok anjlok. Namun tidak lama lagi
keantusiasan itu menyurut, karena rakyat harus menanggung biaya perang tersebut. Upah
kaum buruh turun 25 persen. Di garis depan, para pimpinan militer melakukan kesalahan-
kesalahan besar sehingga Rusia akhirnya kalah di medan perang.
Pada bulan Desember 1905 terjadi beberapa aksi mogok. Empat buruh dipecat.
Kemudian kaum buruh menyelenggarkan sebuah pemogokan umum di ibukota. Seorang
pendeta, Bapak Gapon, mengusulkan agar kaum pekerja pergi ke Istana, guna meminta
pertolongan Tsar, yang saat itu masih dipercayai oleh rakyat. Para pekerja menysun sebuah
petisi, yang memuat tidak hanya tuntutan ekonomi normatif tetapi juga tuntutan politik, seperti
kebebasan berbicara, kebebasan pers, tanah untuk kaum penggarap, semacam parlemen, dan
penyelesaian perang. Tuntutan ini mencerminkan pengaruh kaum sosialis revolusioner, dan
agak melebihi apa yang dibayangkan si Bapak Gapon (yang sebenarnya seorang intel).
Pada tanggal 9 Januari 1905, ribuan buruh berbondong-bondong ke Istana. Banyak yang
menyanyikan hymne-hymne serta membawa gambaran Tsar. Tsar menolak untuk bertemu
mereka, lantas tentara menembaki massa. Seribu lebih orang kehilangan nyawa, dua ribu luka-
luka. Hari itu kemudian dijuluki "Hari Minggu Berdarah". Kaum buruh melakukan sebuah
pemogokan umum di St Petersburg, yang kemudian meluas ke kota-kota lain. Satu ciri yang
menyolok dari pemogokan tersebut adalah bahwa tuntutan ekonomi dan tuntutan politik
bertumpang-tindih dan saling menguat. Banyak majikan yang terpaksa menyerahkan konsesi,
dan di berbagai daerah kaum buruh memenangkan sejumlah hak politik. Partai-partai kiri dapat
bergerak dengan cukup terbuka.
Pada bulan Agustus, Tsar menyetujui terbentuknya Duma, semacam parlemen. Namun
Duma itu hanya dimaksudkan sebagai badan konsultatif, dan di situ kaum buruh tidak terwakili
sama sekali. Di Petersburg dengan jumlah penduduk sebesar 1.4 juta, hanya 13.000 warga
berhak mencoblos. "Konsesi" ini hanya membuat rakyat semakin marah, dan pada bulan
Oktober terjadi gelombang aksi mogok lagi. Pemogokan tersebut melumpuhkan perusahaan
kereta api dan kantor-kantor pos, sekolah-sekolah tutup, penyediaan gas dan air berhenti dan
sistem komunikasi ambruk.
Perjuangan kaum buruh menjadi inspirasi bagi rakyat tertindas lainnya. Kaum tani mulai
membakar rumah-rumah tuan tanah serta merebut tanah dan pangan. Prajurit-prajurit kecil
memberontak. Kaum buruh perempuan yang telah terlibat dalam (dan tak jarang memimpin)
aksi-aksi mogok, kemudian memberanikan diri untuk melawan penindasan seperti pelecehan
seksual, serta menuntut hak cuti untuk mengasuh anak mereka.
Saat itu kaum buruh di ibukota mendirikan sebuah organ politik yang sangat efektif untuk
mengorganisir perjuangan ekonomi dan politik. Organ ini bernama "soviet" (dewan buruh).
Soviet itu berasal dari komite-komite aksi mogok di tempat-tempat kerja. Dewan ini sangat
demokratik dan mewakili seluruh kelas buruh. Seperti dalam Komune Paris, para utusan dapat
di recall sewaktu-waktu, dan gaji mereka tidak melebihi upah seorang pekerja terampil. Tetapi
beda dengan Komune Paris tersebut, dewan ini berdasarkan atas para utusan dari tempat
kerja, sehingga bersifat 100 persen proletarian. Dewan semacam itu muncul di seluruh Rusia
dan mulai menantang kaum penguasa. Kaum buruh menganggap soviet-soviet itu sebagai
pemerintah mereka.
Dewan-dewan tersebut memang merupakan semacam pemerintah tandingan. Soviet-
soviet tersebut dibentuk guna melayani kebutuhan-kebutuhan kaum buruh dalam perjuangan
sehari-hari -- seperti mengkoordinasi aksi mogok, meyebarkan informasi, serta mencari
pangan, obat-obatan dan transportasi waktu industri dihentikan oleh pemogokan. Namun
mereka lekas menjadi sebuah organ revolusioner.
Konsesi-konsesi tambahan dari Tsar gagal menenangkan kaum buruh, dan pada bulan
November terjadi gelombang pemogokan yang ketiga. Dalam aksi bulan November, hari kerja 8
jam menjadi tuntutan utama. Sampai saat itu, kaum majikan bersikap kurang-lebih netral dalam
pergolakan tersebut, karena mereka sendiri menginginkan reformasi politik tertentu, dan tidak
keberatan kalau reformasi itu diperjuangkan oleh kaum buruh. Tetapi tuntutan tentang hari kerja
8 jam tidak mereka sukai. Mereka mulai menentang gerakan buruh secara agresif. Di saat yang
sama, kepolisian dan pemerintahan lokal mengizinkan sekelompok preman rasis bernama
"Ratusan Hitam" untuk menyerang para buruh. Soviet di St Petersburg dibubarkan pada
tanggal 3 Desember. Soviet di Moskow memberontak tetapi pemberontakan itu dihancurkan
setelah perlawanan yang heroik selama 9 hari.
Selama tahun 1905, aksi buruh sering lebih maju daripada yang diharapkan oleh
golongan revolusioner. Fenomena soviet tidak diramalkan oleh teori-teori kaum kiri. Soviet-
soviet dibangun secara kurang-lebih spontan oleh kelas buruh, walau terpengaruh oleh
pengalaman Komune Paris. Mula-mula Partai Bolsyevik malah tidak begitu antusias dengan
dewan-dewan itu, yang dikira bertentangan dengan peran pemimpin partai. Di saat yang sama,
golongan Bolsyevik masih berpegang pada cara-cara organisasi sempit dan konspiratif yang
diajukan oleh Lenin dalam tulisannya Apa Yang Harus Dikerjakan? Tulisan itu terbit pada tahun
1903, saat kaum Bolsyevik harus bergerak di bawah tanah. Oleh karena itu, Lenin
menganjurkan struktur-struktur ketat untuk sekelompok revolusioner professional, yang dikira
akan membawa kesadaran revolusioner kepada kelas buruh "dari luar". Banyak kader
Bolsyevik cenderung meremehkan perjuangan normatif yang mereka anggap "apolitis".
Peristiwa-peristiwa tahun 1905 memaksa kaum Bolsyevik berubah sikap. Lenin (yang
waktu itu di luar negeri) hampir segera melihat potensi dewan-dewan buruh, tetapi baru melalui
perdebatan yang alot dia berhasil meyakinkan para aktivis partai. Kemudian partai Bolsyevik
ikut terlibat dalam soviet-soviet dengan antusias. Sedang Lenin juga menghimbau agar kaum
Bolsyevik "membuka pintu partai seluas-luasanya" dan menyambut ribuan buruh teradikalisasi
yang mau masuk. Para buruh muda ini sangat penting untuk mengimbangi para kader lama
yang terbukti terlalu konservatif dalam pergolakan tahun 1905.
Revolusi tahun 1905 membuktikan bahwa kelas kapitalis tidak ingin dan tidak mampu
memimpin sebuah revolusi borjuis-demokratik. Mereka memang bekepentingan untuk
menghilangkan sisa-sisa feodal dari ekonomi dan sistem politik, tetapi takut pada kekuatan
revolusioner kelas buruh. Hal ini menjadi titik tolak untuk teori Revolusi Permanen, yang
dirumuskan oleh Leon Trotsky berdasaran pengalaman pergolakan tahun 1905 itu. Menurut
Trotsky, dominasi mode produksi kapitalis di tingkat global berarti bahwa perjuangan sosialis
bisa mulai di Rusia. Kaum buruh tidak hanya harus memimpin perjuangan demokratik, tetapi
dalam perjuangan itu mereka mesti berjalan lebih jauh dan mengembangkan revolusi ke arah
sosialisme. Kaum revolusioner harus banyak belajar dari perjuangan spontan kaum buruh.
Meski begitu, sebuah partai revolusioner masih diperlukan. Partai Bolsyevik melakukan
konsolidasi setelah kalahnya revolusi tahun 1905, sehingga pelajaran-pelajaran itu tidak
terlupakan. Tanpa Partai Bolsyevik, revolusi Oktober 1917 tidak mungkin berhasil.

3. Revolusi 1917
Mereka kemudian mendirikan perkumpulan-perkumpulan tidak resmi dalam kehidupan
masyarakat. Apa yang kemudian menjadi objek dalam perkumpulan-perkumpulan sosial itu
adalah membicarakan atau memperdebatkan kebijakan pemerintah. Namun yang lebih penting
dari aktivitas itu adalah lahirnya konsep-konsep pemikiran baru tentang negara dan sistem
sosial, yang kemudian diajadikan landasan untuk melakukan pembaharuan politik dan
kehidupan sosial. Kelompok-kelompok ini kemudian menjadi agitator politik dalam konteks
menghantam “the old regime”.
Pergeseran fungsi dari perkumpulan-perkumpulan ini berlangsung yang tadinya hanya
bersifat diskusi, kemudian menjadi wadah dan wahana perjuangan untuk menjatuhkan the old
regime. Crane Brinton menyebut perkumpulan-perkumpulan itu sebagai “societes de pensee”
yang dalam perkembangannya menjelma menjadi sel revolusi Revolusi Rusia yang meletus
pada 1917 juga bermula dari pergerakan dan perkembangan sel revolusi ini, meskipun mereka
tidak secara eksplisit menyatukan gerak dan langkah mereka. Mereka adalah kelompok-
kelompok sosialis, liberal, kelompok yang pro dan anti Barat, militer, intelektual, dan
sebagainya.
Faktor lain yang menjadi sebab terjadinya Revolusi Rusia adalah akibat langsung dari
kekalahan Rusia dalam peperangan. Kekaisaran Rusia harus bersaing ketat dengan negara-
negara lebih maju di Eropa sehingga perlu reformasi Rusia Prarevolusi. Paling tidak, dari
kondisi struktural dan kecenderungan-kecenderungan dalam negeri, ada tiga hal utama yang
menyebabkan terjadinya Revolusi Rusia, yaitu: 1) Ketidakmampuan para aparat pemerintah
pusat the old regime; 2) meluasnya pemberontakan klas bawah; 3) upaya pemimpin politik yang
memobilisasi masa untuk mengkonsolidasikan negara revolusioner. Padahal, suatu revolusi
tidak dapat tidak merupakan suatu yang sangat otoriter. Revolusi adalah suatu tindakan dari
suatu bagian penduduk untuk memaksakan kehendaknya pada pihak lain dengan jalan
kekerasan. Bila si pemenang menghendaki keberhasilan perjuangannya, maka ia harus
mempertahankan kekuasaannya dengan jalan terror yang dihadapkan oleh alat senjatanya
terhadap golongan reaksioner. Dengan kata lain penguasa dalam revolusi boleh berbuat apa
saja, pihak lawan atau yang tidak setuju dianggap sebagai golongan reaksioner atau pun
sebagai golongan kontra revolusioner. Itulah sebabnya, produk revolusionernya adalah
munculnya negara bangsa yang sentralistis birokratis dan bersifat inkorporasi massa dengan
meningkatkan kekuasaan yang lebih besar di tingkat internasional.
Pada saat revolusi berhasil digulirkan, biasanya golongan yang langsung mengambil alih
kendali pemerintahan adalah golongan moderat. Mereka adalah golongan kaya, terkenal dan
berkedudukan sosial tinggi dan diharapkan dapat menggantikan pemerintahan yang baru. Di
Rusia mereka adalah koalisi sosialis (sosialis revolusioner dengan golongan Menshevik dan
juga sebagian pengikut Bolshevik). Pada masa “bulan madu” revolusi ini, sesuatu yang hampir
selalu terjadi setelah revolusi adalah munculnya pihak-pihak yang tidak begitu sepaham
mengenai apa yang harus dilakukan untuk membangun kembali negeri seperti yang diteriakkan
melalui pidato-pidato dan upacara peringatan kemenangan revolusi itu. Golongan moderat ini
akan mendapat perlawanan dari golongan ekstrimis radikal yang menuduh golongan moderat
sebagai pengkhianat revolusi, menghentikan arus revolusi dan lebih busuk dari penguasa lama.
Termasuk dalam golongan yang radikal dan ekstrimis ini adalah kaum Bolshevik.
Kondisi kritis pun berlangsung sesaat setelah revolusi berlangsung. Biasanya setelah
berlalunya kondisi kritis ini, pihak pemenang cenderung pecah menjadi dua, yaitu: 1) kelompok
yang lebih konservatif (golongan moderat) yang memegang pemerintahan; dan 2) kelompok
yang lebih radikal sebagai oposisi. Sampai tingkat tertentu, kemenangan ada di pihak oposisi/
kaum radikal. Memang pada masa kritis, telah terjadi paradoks revolusi, yaitu bahwa
menguasai mesin pemerintah mengandung kelemahan pada dirinya sendiri. Golongan moderat
dianggap lemah karena mereka kehilangan kepercayaan dari sesama lawan rezim lama, dan
dihubungkan sebagai pewaris rezim lama yang karena keadaan memaksa mereka dalam posisi
mempertahankan. Memang, para penguasa Rusia baru yang belum berpengalaman harus
mengatur kegiatan militer dan menanggulangi akibat perang dan kekalahan yang diderita. Itulah
sebabnya sejak awal sudah kacau dan memiliki potensi konflik yang mendasar sehingga
revolusi tersebut merusak usaha-usaha stabilitas temporer.
Muncul berbagai kesulitan setelah Revolusi 1917 yang semakin parah terutama masalah
kereta api: jaringan kereta api yang tidak memenuhi kebutuhan pertempuran dan bahan mentah
industri, pemogokan buruh kereta api, tuntutan kenaikan upah, kesulitan para penguasa untuk
mempergunakan jalur kereta untuk memerintah negara. Selain itu, perang tidak pernah berhenti
karena setiap pemerintahan Rusia tidak pernah mau menarik diri dari perang. Akibatnya
ekonomi ambruk karena perdagangan antarnegara tak berjalan. Pemerintah Darurat kehilangan
otoritas karena selalu merangsang terjadinya perang, semakin banyak pemberontakan rakyat di
daerah, pemogokan buruh, dan pemimpin Soviet kurang mencerminkan hal-hal yang terjadi
pada masyarakat bawah. Rakyat Rusia mulai mengatasi masalah sendiri melalui tatanan yang
mereka miliki tanpa mengindahkan kelas dominan. Akhirnya muncul kolektivitas-kolektivitas
yang dirasakan lebih cocok untuk menyalurkan aspirasi politik rakyat secara langsung karena
pemerintah tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar dan harapan rakyat jelata. Bisa
disimpulkan bahwa sejak Revolusi Pebruari 1917 dilema Revolusi Rusia yang sesungguhnya
adalah bukan siapa yang harus memerintah melainkan siapa yang mampu memerintah.
Pada suasana revolusi di manapun akan muncul masalah dwi kedaulatan. Di Rusia hal
itu disebut “dvoevlastie” (bisa diterjemahkan dengan kekuasaan rangkap). Dwi lembaga ini
muncul bila ada lembaga-lembaga lain dan bertentangan dengan pemerintahan, kemudian
membuat keputusan-keputusan lain dan bertentangan dengan keputusan pemerintah. Akhirnya
muncullah “pemerintahan tidak sah” dari golongan ekstrimis yang mencoba meruntuhkan
golongan moderat ini. Posisi golongan moderat terjepit antara golongan konservatif yang masih
punya power dengan golongan ekstrimis yang memiliki tekad dan agresif. Akhirnya
kemenangan diraih oleh golongan ekstrimis.
Golongan ekstrimis mendapat kemenangan karena mereka memegang pengawasan
terhadap pemerintahan tidak sah dan mengubahnya dalam suatu kudeta atas pemerintahan
yang sah. Kunci keberhasilan mereka karena persoalan dwi-kedaulatan disesuaikan dengan
tindakan revolusioner yaitu memonopoli kekuasaan atas lembaga- lembaga yang telah ada
(soviet-soviet) ; disiplin, cara berpikir satu-satunya adalah pemusatan kekuasaan. Organisasi
ekstrimis sebenarnya kecil, tetapi mereka mewakili dan melaksanakan apa yang “dikehendaki”
oleh jiwa, kemauan, dan semangat bangsa mereka dengan bersemboyan: ”Mereka yang
menentang pemberontakan adalah setiap orang kecuali golongan Bolshevik, tetapi golongan
Bolshevik adalah rakyat”. Perselisihan di antara pemimpin ekstrimis bersifat doktriner.
Penyelesaian yang dipilih biasanya berupa judicial murder/ pembunuhan judisial. Perselisihan
ini memang tidak tampak di muka umum karena disiplin Bolshevik yang sangat memuaskan.
Memang, menjelang pertengahan tahun 1918, terdapat kerumitan spektrum politik.
Berbagai kelompok digambarkan berdasarkan latar belakang politik, sosial, dan
psikologi/motivasinya. Kategori ini berkisar dari individu yang paling anti Bolshevik sampai pada
mereka yang tergabung dalam Partai Komunis Rusia. Alexandre A. Bennigsen membedakan
tipologi kelompok politik tersebut dalam empat kategori, yaitu: 1) Golongan Kontra Revolusi dan
Pengikut Rusia Putih. Mereka banyak berasal dari bekas pejabat Tsar, kaum monarkhis, kaum
borjuis kaya, tuan tanah dan kaum bangsawan, serta sejumlah pendeta konservatif; 2)
Kelompok Netral, Pasif, atau Pindah. Mereka jumlahnya besar dan merasa tidak nyaman hidup
dalam gejolak revolutif. Mereka adalah para penganut Pan-Turki dan Pan-Islam, termasuk
sejumlah ulama, kaum borjuis klas menengah; 3) Kawan Seperjuangan, yaitu menunjuk pada
individu yang pada suatu saat diputuskan secara subjektif mendukung kaum Bolshevik; 4)
Pengikut Partai Komunis Rusia yang kebanyakan terdiri dari kaum ekstrimis, radikal, kaum
reformis yang agak moderat. Mereka berkeyakinan kuat bahwa kemenangan akhir akan
dipegang oleh golongan Bolshevik.
Melihat keragaman spektrum politik, maka golongan ekstrimis tidak bisa tidak harus
melakukan tindakan tegas dengan merealisasikan kediktatoran dan terror. Kediktatorannya
diwujudkan dalam bentuk sentralisasi. Bentuk khas kekuasaan tertinggi berwujud komite dan
pemerintah terror pada dasarnya adalah kediktatoran komisi.
Sementara kekuasaan politik merupakan sebagian dari kekuasaan sosial yang fokusnya
ditujukan kepada negara sebagai satu-satunya pihak yang berwenang yang mempunyai “hak”
untuk mengendalikan tingkah laku sosial dengan paksaan. Tindak kekerasan serta teror
terhadap musuh-musuh politiknya dilancarkan, bahkan bila perlu terhadap rakyat yang
sebenarnya harus dilindunginya. Menurut Karl G. Ballestrem, “terror is a typical aspect of totalitarian
dictatorship that particular sosial or racial group of the population are systematically oppressed. Furthermore it is
quite logical for a violent regime which justifies its own power by utopian dreams, to anticipate discontent and to

react by arbitrary terror”. Partai Komunis Rusia menguasai pemerintah dengan menciptakan Polisi
Rahasia, terror dan pembunuhan politik, pertentangan klas yang tajam. Secara halus sistem
diktator proletariat ini dikatakannya sebagai Sistem Politik Demokrasi Rakyat. Pada masa Stalin
totaliterisme partai berubah menjadi totaliterisme negara. Stalin melakukan usaha
mengenyahkan lawan dan saingan politik melalui pembunuhan dengan korban mencapai 20-40
juta orang. Komunis sebagai ideologi diindoktrinasikan secara paksa melalui terror mental dan
fisik dari generasi ke generasi. Ideologi kemudian cenderung diperlakukan seperti agama dan
menjadi ideologi tertutup, artinya masyarakat tidak boleh membantah kebenarannya dan tidak
boleh menafsirkan atau mengembangkannya. Akhirnya kuasa dijaga dengan pedang, mesiu,
dan sejumlah alat pembasmi untuk melenyapkan mereka yang menolaknya atau untuk
menerbitkan “gentar”. Pendeknya, kuasa ditegakkan dengan terror dan pengelolaan kengerian.

4. Bangkitnya rezim Stalinis di Rusia


Revolusi Oktober menjadi inspirasi untuk jaum buruh seluruh dunia, dan jutaan manusia
menaruh harapan pada rezim Soviet. Namun Uni Sovyet amat mengecewakan para
pendukungnya karena munculnya fenomena stalinisme. Stalin mejebloskan lawan-lawannya di
kamp-kamp konsentrasi, bahkan membunuh mereka. Dia beraliansi dengan Hitler selama
beberapa waktu. Pada zaman paska Perang Dunia II, Uni Soviet menindas bangsa-bangsa
Eropa Timur. Akhirnya rezim itu ambruk sama sekali. Fakta-fakta ini sangat mendemoralisasi
rakyat pekerja di mana-mana. Jika kita ingin memperbarui teori Marxis, kita harus menjelaskan
mengapa hal-hal semacam itu dapat terjadi, dan siapa yang bertanggung-jawab.
• Dua segi revolusi 1917
Perkembangan revolusi Rusia menggabungkan dua proses historis yang berbeda.
Proses yang pertama terjadi di perkotaan, di mana kesadaran revolusioner kaum buruh
berkembang secara pesat, sampai massa buruh mengerti dengan baik masing-masing posisi
dan kepetingan kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Konflik kelas di perkotaan terjadi antara
para pemilik modal dengan kaum buruh yang tidak punya harapan untuk mendapatkan harta
pribadi. Proses yang kedua berlangsung di pedesaan, di mana konflik terjadi antara dua kelas
pemilik: di satu pihak para tuan tanah, di pihak lain para petani. Kaum tani tidak memiliki
kesadaran atau aspirasi sosialis, sebaliknya mereka ingin pembagian tanah. Dalam upaya itu
kaum petani kaya (para "kulak") bisa saja ikut partisipasi.
Revolusi Oktober hanya dapat terjadi berdasarkan kedua proses tersebut. Namun kedua
proses itu hanya bisa bergabung karena disebabkan faktor-faktor khusus. Di Rusia, kelas
borjuis tidak mampu untuk putus dengan tuan-tuan tanah. Sehingga kaum tani terpaksa
bersekutu dengan kelas buruh. Revolusi 1917 mengkombinasikan "perang para petani" dengan
insureksi kaum proletarian.
Insureksi di kota-kota tidak mungkin berhasil tanpa dukungan dari para prajurit kecil,
yang kebanyakan berasal dari desa. Di saat yang sama, kaum tani tidak mungkin mengalahkan
para tuan tanah jika tidak dipimpin oleh kekuatan urban. Di Rusia saat itu, satu-satunya
kekuatan urban yang bersedia memimpin kaum tani adalah kelas buruh.
Kelas borjuis dan kaum tuan tanah ditumbangkan, namun kelas-kelas yang
menumbangkan mereka tidak mempunyai tujuan bersama dalam jangka panjang. Kelas buruh
hidup dari kegiatan kolektif di tempat kerja, sedangkan kaum tani hanya bisa bersatu secara
sementara untuk merebut tanah, kemudian mereka akan menjalankan produksi individual kalau
tidak didominasi oleh kekuatan luar.
Akibatnya, revolusi merupakan kekuasaan kaum buruh di atas kelas-kelas lain di
perkotaan, sekaligus merupakan kekuasaan kota atas pedesaan. Dalam tahap-tahap pertama,
pemerintahan Bolsyevik bisa mengandalkan dukungan kaum tani dan memang dibela oleh
bayonet-bayonet para prajurit berlatarbelakang rural. Namun apa jadinya kelak? - Pertanyaan
ini sudah lama direnungkan oleh kaum Marxis di Rusia. Sebuah revolusi sosialis di Rusia bisa
saja tengelam dalam lautan petani, dan hal itu menjelaskan kenapa sebelum tahun 1917 kaum
Marxis (kecuali Trotsky) melihat revolusi Rusai sebagai revolusi demokratik saja. Ketika Trotsky
mengajukan skenario revolusi sosialis, Lenin menulis:
"Ini mungkin, karena kekuasaan sosialis hanya bisa stabil berlandaskan dukungan mayoritas besar.
Sedangkan proletariat Rusia merupakan minoritas rakyat Rusia saat ini."
Lenin mempertahankan pendapat ini sampai awal tahun 1917. Pada tahun itu dia
berubah sikap, tapi hanya karena dia melihat revolusi di Rusia sebagai tahap pertama revolusi
global, di mana kelas pekerja di barat bisa menolong kaum pekerja untuk mengambil hati para
petani Rusia. Delapan bulan sebelum insureksi Oktober dia menulis: "proletariat Rusia tidak
bisa menuntaskan revolusi sosialis dengan kekuataan sendiri saja". Empat bulan setelah
insureksi tersebut, dia menggarisbawahi "kebenaran yang mutlak bahwa tanpa terjadinya
sebuah revolusi di Jerman, kita akan dihabis."
• Perang sipil dan kediktatoran Bolsyevik
Rezim Bolsyevik harus menghadapi perlawanan intern yang disokong oleh intervensi
luar. Mereka bisa bertahan dan pihak kontra-revolusioner berhasil dikalahkan, tetapi harga
kemenangan itu amat besar. Produksi agrikultural dan industrial menurun secara drastis:
misalnya tingkat produksi besi kasar menurun sampai 3% persen dibandingkan dengan angka
produksi sebelum perang dunia. Ambruknya perekonomian pada gilirannya berdampak besar
pada kelas pekerja, yang jumlahnya anjlok menjadi 43% dari angka sebelumnya karena banyak
sekali buruh kembali ke desa atau gugur dalam perang sipil. Secara kualitatif, keadaanya lebih
parah lagi. Kaum pekerja yang paling militan dan sadar sering gugur di garis depan; atau
mereka menjadi penjabat negara. Yang sedang bekerja di pabrik banyak yang baru datang dari
udik, sehingga tidak memiliki tradisi sosialis maupun kesadaran revolusioner.
Artinya, kelas sosial yang telah menjalankan revolusi hampir menghilang. Seperti ditulis
Lenin pada tahun 1921: "Proletariat industrial … di negeri kita, telah kehilangan wataknya sebagai kelas buruh
karena perang dan kemiskinan yang mengerikan; artinya, telah disimpangkan dari jalurnya dan berhenti menjadi
proletariat sama sekali."
Dalam situasi semacam itu, bagaimana revolusi Rusia bisa bertahan? Masalah ini tidak
pernah dipikirkan oleh para pemimpin Bolsyevik. Asumsi mereka, jika revolusi tetap terisolasi di
Rusia, rezim mereka akan ditumbangkan oleh pihak borjuis dan imperialis. Yang dihadapi
mereka dalam kenyataan adalah, bahwa pihak kontra-revolusi berhasil menghancurkan kaum
pekerja sebagai kelas sosial tetapi di saat yang sama, aparatus negara yang dihasilkan revolusi
itu masih bertahan. Kekuasaan Bolsyevik masih kuat, tetapi komposisi kekuasaan itu berubah
secara fundamental.
Lembaga-lembaga revolusioner yang muncul pada tahun 1917 berkaitan secara organik
dengan kelas pekerja. Antara aspirasi kaum buruh dan wakil-wakil mereka tidak ada jurang
pemisah sama sekali. Sampai bulan Juni 1918 pemerintahan Bolsyevik sangat demokratik;
misalnya partai Mensyevik masih aktif dan legal walau revolusi harus menhadapi serangan dari
semua penjuru. Tetapi menyurutnya kelas pekerja merongrongi demokrasi ini secara esensial.
Mau tidak mau, lembaga-lembaga pemerintahan semakin melepaskan diri dari pegangan
rakyat. Untuk menyelamatkan diri, kaum Bolsyevik semakin mensentralisasi pemerintahan
mereka; partai-partai lain, yang bersikap mendua antara revolusi dan kontra-revolusi, tidak
dilarang tetapi kegiatan mereka dibatasi. Dalam praktek, demokrasi multipartai dihapuskan
pada tahun 1920.
• Pembertontakan di Kronstadt dan Kebijakan Ekonomi Baru
Penyelesaian perang sipil sayangnya tidak menyelesaikan situasi sosial yang rumit ini.
Situasi tersebut malah diperparah, karena dengan hilangnya ancaman dari pihak kontra-
revolusi, kaum pekerja sosialis di perkotaan dan kaum tani di pedesaan tidak lagi memiliki
kepentingan bersama. Begitu kepemilikan mereka atas tanah terjamin, kaum tani tidak lagi
antusias untuk mendukung revolusi sosialis. Mereka termotivasi oleh aspirasi individual
berdasarkan status ekonomi mereka yang borjuis kecil. Yang menyatukan kelas petani secara
kolektif hanyalah oposisi terhadap pajak dan pungutan paksa yang dilakukan oleh
pemerintahan Bolsyevik untuk memasok para penduduk perkotaan.
Puncak oposisi tersebut diraih satu minggu sebelum Kongres Partai Komunis (Bolsyevik)
pada bulan Maret 1921. Para kelasi angkatan laut memberontak di Benteng Konstradt, yang
menjaga pelabuhan ibukota. Benteng yang amat strategis ini telah memainkan peranan heroik
dalam revolusi tahun 1917, namun komposisi pasukan di situ sangat berubah antara tahun
1917 dengan 1921. Unsur-unsur sosial terbaik sudah lama sebelumnya berangkat ke garis
depan. Mereka diganti oleh petani yang (seperti tercatat diatas) tidak menonjolkan kesadaran
sosialis. Saat memberontak, mereka ajukan tuntutan seperti "soviet tanpa Bolsyevik" dan pasar
bebas untuk produk pertanian, yang secara praktis berarti melikuidasikan revolusi sosialis.
Sehingga mau tidak mau, pemberontakan itu harus dihancurkan.
Kejadian-kejadian Kronstadt memperlihatkan secara terang-terangan perselisihan
kepentingan antara kedua kelas yang melakukan revolusi tahun 1917. Sehingga peristiwa itu
merupakan peringatan yang amat serius. Revolusi sedang dibela, bukan oleh massa buruh,
melainkan oleh angkatan bersenjata. Pemerintahan revolusioner semakin terisolasi, karena
massa rakyat kebanyakan petani. Semua faksi dalam Partai Bolsyevik sepakat, bahwa krisis itu
hanya bisa diatasi dengan memberikan konsesi kepada kaum tani yang menuntut pasar bebas,
sekaligus mempertahankan rezim pemerintahan yang sentralistik. Solusi ini dicap sebagai
Kebijakan Ekonomi Baru (akronim Bahasa Rusia: NEP). Tujuannya adalah mencari rekonsiliasi
antara kaum tani dan rezim Bolsyevik serta merangsang pembangunan ekonomi dengan
memberikan ruang tertentu untuk produksi swasta. Negara dan perusahaan milik negara
beroperasi hanya sebagai satu unsur saja dalam perekonomian yang sebagian besar
ditentukan oleh kebutuhan kaum tani dan perkembangan pasar bebas.
• Partai, negara dan kelas pekerja antara tahun 1921 sampai dengan 1928
Selama periode NEP negara Rusia tidak lagi bisa mengklaim diri sebagai negara
"sosialis" dalam artian yang minimal pun; dari satu sisi hubungan antara kelas pekerja dengan
negara tidak lagi mencerminkan aspirasi kaum buruh; dari sisi lain perekonomian tidak lagi
menonjolkan sifat-sifat paska-kapitalis. Kaum pekerja tidak berkuasa dan ekonomi tidak
direncanakan oleh negara. Namun aparatus negara tetap di tangan Partai Bolsyevik yang
masih berpegang pada program sosialisnya, sehingga kebijakan pemerintah diharapkan tetap
sosialis.
Tetapi dinamika sosial-politik waktu itu agak kompleks. Yang pertama, lembaga-lembaga
yang bercokol di Rusia tahun 1921 sudah jauh berbeda dari soviet-soviet dan Partai Bolsyevik
di tahun 1917. Para aktivis Bolsyevik yang ikut partisipasi dalam Revolusi Februari adalah
orang revolusioner berkomitmen yang menanggung resiko berat selama berjuang bertahun-
tahun melawan Tsar. Mereka tidak melepaskan prinsip-prinsip sosialisme bahkan ketika harus
menghadapi empat tahun perang sipil dan ketersekatan dari rakyat pekerja. Namun pada tahun
1919 unsur-unsur ini hanya merupakan 10% dari anggota partai; pada tahun 1922 hanya 2-3%.
Karena Partai Bolsyevik telah bertumbuh secara dasyat. Banyak sekali orang yang masuk
partai itu yang bukan revolusioner melainkan merupakan unsur-unsur oportunis yang ingin naik
daun dalam birokrasi negara.
Bukan hanya partai yang degenerasi tetapi juga aparatus negara. Untuk menjalankan
pemerintahan negara dalam kondisi perang dan krisis ekonomi, rezim Bolsyevik terpaksa
mempekerjakan ribuan pegawai dari zaman Tsar, dan pegawai-pegawai ini sulit diatur oleh
kaum Marxis. Seperti Lenin katakan di kongres partai 1922:
"Cukup jelas apa yang kurang. Lapisan atas kaum komunis kekurangan budaya. Mari kita simak keadaan
di Moskow. Massa birokrat ini – siapa yang memimpin siapa? Apakah 4.700 komunis yang bertanggung-
jawab sedang memimpin massa birokrat itu atau sebaliknya? Rasanya kita tidak bisa mengatakan dengan
jujur bahwa kaum komunis sedang memimpin massa birokrat itu."
Menjelang akhir tauh 1922 dia melukiskan aparatus negara sebagai sesuatu yang "dipinjam
dari rezim Tsaris dan nyaris tidak tersentuh oleh dunia soviet … sebuah mekanisme borjuis-
Tsaris".
Di bawah kebijakan NEP para aktivis partai harus menghadapi para pedagang kecil,
para kapitalis picisan, para petani kaya ("kulak") – serta bekerjasama dengan mereka sampai
titik tertentu. Banyak di antara para aktivis yang terpengaruhi oleh pergaulan itu. Di saat yang
sama, konsesi yang harus diberikan kepada kaum tani menurunkan (secara relatif) posisi
ekonomi kam buruh. Posisi itu juga menurun dibandingkan dengan para pimpinan dan manajer
industri. Pada tahun 1922, 65% dari kaum manajer masih buruh; tetapi setahun kemudian
angka itu sudah jatuh menjadi 36%. Para "industriawan merah" semakin menikmati gaji tinggi
dan privilese yang tak terjangkau oleh massa pekerja, sedangkan pengelolaan oleh satu orang
yang punya kewenangan untu memecat orang lain (one man management) menjadi fenomena
umum. Di saat yang sama, angka tunakarya naik terus menjadi 1,4 juta pada tahun 1923-24.
• Perselisihan dalam Partai
Manusia membuat sejarah, tetapi dalam kondisi yang tidak mereka pilih; dalam membuat
sejarah mereka juga merubah baik kondisi itu maupun diri sendiri. Partai Bolsyevik tidak kebal
akan hukum materialis ini. Dalam upaya menegakkan rezim sosialis di hadapan perang sipil
dan krisis sosial, kehendak sosialis mereka menjadi faktor historis, tetapi kekuatan-kekuatan
sosial yang harus mereka kerahkan demi tujuan itu tak urung merubah wajah Partai Bolsyevik
itu sendiri.
Mereka harus menjadi perantara antara berbagai kelas sosial guna menghindari konflik
destruktif, dan revolusi Bolseyvik hanya bisa bertahan dengan memuaskan kebutuhan kelas-
kelas yang beraneka-ragam itu. Partai Bolsyevik, yang posisinya semakin di atas kelas-kelas
sosial tersebut, mulai mencerminkan pengaruh kekuatan-kekuatan yang bevariasi itu. Satu-
satunya kelas yang memiliki potensi sosialis – kelas pekerja – sangat lemah dan kurang
terorganisir waktu ini sehingg pengaruhnya merosot di dalam partai Bolsyevik tersebut,
meskipun tentu saja kaum Bolsyvik terus mengatasnamakan kelas pekerja.
 Oposisi Kiri
Tidak bisa disangkal bahwa dalam hal gagasan politik, Oposisi Kiri merupakan
faksi intern dalam partai yang paling dekat dengan tradisi Marxis yang sejati. Kelompok
ini menolak mendefiniskan kembali "sosialisme" menjadi perekonomian petani ataupun
akumulasi industrial. Mereka berpegang pada demokrasi buruh sebagai sifat utama
sosialisme, dan juga menolak mensubordinasikan revolusi global di bawah slogan
"sosialisme satu negara".
Meski demikian, Oposisi Kiri tidak merupakan faksi "proletarian", karena di Rusia
pada tahun 1920-an, kelas pekerja terlalu lemah untuk berdampak besar pada partai.
Seusai perang sipil, kelas itu memang bangkit kembali, tetapi dalam kondisi yang
membuatnya sangat lemah dalam memperjuangkan kebutuhannya. Angka
pengangguran cukup tinggi; para aktivis buruh yang paling militan banyak yang gugur
dalam perang sedang banyak juga yang naik daun menjadi pejabat negara; sebagian
besar dari kelas pekerja terdiri dari petani yang baru datang dari udik. Pada umumnya
mereka tidak mendukung Oposisi Kiri melainkan bersikap apatis terhadap dunia politik,
sehingga agak mudah dimanipulasi dari atas. Oposisi Kiri mendapati diri dalam sebuah
situasi yang cukup lazim bagi kaum kiri: memiliki sebuah program untuk aksi
revolusioner kelas pekerja pada saat kaum pekerja sendiri terlalu lelah dan demoralisasi untuk
berjuang.
Selain itu, Oposisi Kiri terhambat oleh pengakuannya akan kenyataan ekonomi.
Argumentasi mereka menekankan bahwa kurangnya sumber daya akan membuat
kehidupan massa rakyat amat payah walaupun rezim menerapkan kebijakan yang mana
pun. Mereka juga menekankan perlunya baik mengembangkan industri dalam negeri
maupun meluaskan revolusi ke negeri lain sebagai cara untuk menyelamatkan ekonomi
intern. Namun dalam jangka pendek mereka tidak bisa menawarkan banyak bantuan
bagi kaum pekerja.
Dalam garis besar, Oposisi Kiri mengajukan tiga tuntutan pokok yang saling
berkaitan:
1. Revolusi hanya dapat maju ke arah sosialisme jika perkotaan dan industri diperkuat
agar tidak didominasi oleh pedesaan dan pertanian. Untuk itu kaum tani kaya harus kena
pajak yang tinggi.
2. Perkembangan industrial ini harus disertai dengan demokrasi buruh yang lebih
mendasar, demi menghindari kecenderungan birokratis dalam partai dan negara.
3. Kedua kebijakan tersebut bisa mempertahankan Rusia sebagai benteng revolusi,
tetapi tidak mampu mencapai tingkatan material dan kultural yang diperlukan untuk
menerapkan sosialisme. Itu hanya mungkin jika revolusi meluas ke Eropa Barat.
Dari segi ekonomi, tidak ada yang mustahil dalam program ini. Padahal beberapa
tahun kemudian Stalin sendiri menjalankan percencanaan industrial dan serangan pada
kaum tani, namun dengan tujuan yang jauh berbeda dari tujuan Oposisi Kiri. Namun
mereka yang menguasai partai pada tahun 1923-28 tidak sepakat dengan usulan-usulan
tersebut saat itu; mereka menghantam dan mengucilkan Oposisi Kiri. Partai Bolsyevik
tidak bisa terima program ini karena partai itu semakin didominasi dua kekuataan yang
antagonistis terhadap grup Kiri.
 Grup "Kanan" dan Grup "Tengah"
Kekuatan yang pertama terdiri atas unsur-unsur yang tidak menganggap konsesi
kepada kaum tani sebagai sesuatu yang bertentangan dengan sosialisme. Mereka
malah ingin menyesuaikan kebijakan-kebijakan partai dengan kepentingan petani. Ini
bukan hanya merupakan platform teoretis, melainkan juga mencerminkan kepentingan
semua unsur dalam partai dan lembaga-lembaga pemerintahan yang suka berkolaborasi
dengan golongan petani kaya dan para pedangang parasit yang bangkit di bawah
naungan kebijakan NEP. Unsur-unsur ini merupakan semacam faksi "Kanan". Pemimpin
utama mereka adalah Nikolai Bukharin yang mengajak kaum tani "memperkaya diri".
Kekuataan kedua mendapat dukungan dari berbagai unsur baik di dalam maupun
di luar partai. Kalau disimak secara dangkal, yang menjadi kekhawatiran mereka adalah
ketegangan sosial yang harus diatasi, sehingga mereka melawan usulan untuk
menyerang kaum tani tetapi tidak memihak kubu petani secara langsung. Dalam partai
mereka didukung terutama oleh unsur-unsur yang ingin mengkonsolidasikan aparatus
partai secara birokratis. Pemimpan utama mereka adalah Stalin yang mengepalai
aparatus partai.
Di mata Oposisi Kiri, faksi Stalin tampaknya seperti faksi "tengah" yang
terambong-ambing antara tradisi Marxis dan sikap pro-petani kaum "Kanan". Namun
pada tahun 1928, Stalin tiba-tiba menerapkan butir pertama dalam program Oposisi Kiri
– dengan menyerang faksi "Kanan", menjalankan program industrialisasi dan
kolektivisasi yang intensif. Orang-orang Oposisi Kiri itu terperangah. Nyatanya Stalin
mempunyai dasar sosial sendiri. Dia bisa bertahan tanpa dukungan dari kelas proletariat
ataupun kelas petani. Faksi ini berlandaskan birokrasi partai. Dengan runtuhnya gerakan
buruh sosialis, birokrasi ini semakin kokoh berdiri di tengah masyarakat. Juga banyak
mantan pejabat Tsaris yang masuk birokrasi tersebut dan naik daun. Partai (bukan lagi
kaum buruh sendiri) yang menguasai masyarakat, tetapi birokrasilah yang menguasi
partai.
Mula-mula sikap birokrasi itu agak pasif; mereka hanya melawan dan memblokir
prakarsa-prakarsa yang dapat mengancam posisi mereka, seperti usulan-usulan Oposisi
Kiri umpamanya. Selama birokrasi masih mengambil sikap reaktif ini, mereka cenderung
bersekutu dengan faksi "Kanan", sehingga kuatnya birokrasi sebagai kekuatan sosial
belum kentara. Represi yang dijalankan birokrasi tersebut tampaknya merupakan upaya
untuk memaksakan kebijakan-kebijakan pro-petani.
Namun dalam periode ini birokrasi sedang berkembang menjadi sebuah kelas sosial
independen.
• Kontra-revolusi Stalinis
Trotsky pernah mengatakan, bangkitnya rezim stalinis tidak bisa disebut sebagai "kontra-
revolusi" karena terjadi melalui sebuah proses gradual. Namun tidaklah benar bahwa semua
peralihan dari satu bentuk masyarakat ke bentuk lain merupakan perubahan cepat dan
terkonsentrasi. Peralihan dari kapitalisme ke sebuah negara buruh memang demikian, karena
kelas pekerja tidak bisa memapankan kekuasaannya sedikit demi sedikit. Namun dalam transisi
dari masyarakat feodal ke sistem kapitalis tak jarang ada perubahan yang melewati bermacam-
macam konflik kecil selama bertahun-tahun. Begitu pula kontra-revolusi stalinis.
Birokrasi tidak perlu merebut kekuasaan dari kelas pekerja secara sekali pukul.
Runtuhnya kelas pekerja sebagai akibat perang sipil menyebabkan birokrasi semakin
memegang kekuasaan. Para pejabat negara dan partai sudah mendominasi industri, kepolisian
dan militer. Mereka hanya tinggal membentuk lembaga-lembaga itu kembali sesuai dengan
kepentingan mereka sebagai kelas penguasa. Proses ini bukanlah "gradual", melainkan
melewati sejumlah konfrontasi.
Konfrontasi yang pertama dan terpenting terjadi antara unsur-unsur stalinis dengan
Oposisi Kiri. Walau golongan kiri itu tidak selalu melawan langkah-langkah yang diambil oleh
Stalin, tetapi faksi stalinis menyambut pernyataan pertama Oposisi kiri dengan luar biasa
sengit. Para tokoh kiri difitnah dan aparatus partai digunakan untuk mencopot para pendukung
Oposisis Kiri tersebut. Untuk membenarkan taktik semacam ini yang jauh dari tradisi Bolsyevik,
golongan stalinis menemukan dua konsep ideologis baru yang dipertentangkan. Di satu pihak
mereka mengkultuskan dan mengidolakan Lenin, bahkan mayat Lenin dimumiakan. Di pihak
lain mereka menciptakan "Trotskisme" sebagai kambing hitam. Kutipan-kutipan lama dari Lenin
digunakan untuk menimbulkan ilusi bahwa Lenin dan Trotsky sama sekali bermusuhan; di saat
yang sama kaum Stalinis tidak menghiraukan surat wasiat Lenin yang terakhir, yang menyebut
Trotsky sebagai "anggota Komite Pusat yang paling mampu" serta mengusulkan agar Stalin
dicopot dari posisinya.
Konfrontasi kedua mulainya agak berbeda. Mula-mula bukan merupakan konflik antara
birokrasi dan para aktivis partai yang masih berpegang pada aspirasi sosialis, melainkan antara
Zinoviev (yang secara formal menjabat posisi tertinggi dalam partai) dan aparatus nasional
partai yang sebenarnya jauh lebih kuat. Di kota Leningrad, Zinoviev menguasai aparatus
setempat. Cara aparatus itu bertindak kurang lebih sama dengan aparatus di tempat lain,
namun fakta bahwa aparatus di Leningrad independen dari aparatus nasional menjadi sebuah
hambatan bagi birokrasi. Leningrad bisa menjadi sumber kebijakan alternatif yang dapat
mengacam posisi birokrasi secara keseluruhan. Maka aparatus di Leningrad harus diintegrasi
dalam aparatus nasional. Zinoviev tumbang. Setelah itu, Zinoviev perpaling ke tradisi Bolsyevik
dan mengambil sikap dekat dengan Oposisi Kiri; selama tahun-tahun kelak dia terombang-
ambing antara Stalin dan Trotsky.
Sesudah tumbangnya Zinoviev, Stalin dan para pedukungnya semakin memegang
kekuasaan. Mereka menghantam Oposisi Kiri. Pada tahun 1928 Stalin mulai meniru Tsar
dengan membuang para aktivis kiri ke Siberia. Namun langkah-langkah sedrastis ini belum juga
cukup. Akhirnya dia membunuh para tokoh terkemuka Partai Bolsyevik, termasuk para tokoh
"Kanan" seperti Bukharin.
Faksi Stalinis sudah menguasai negara, tetapi belum menguasai seluruh Rusia. Birokrasi
telah mengambil alih kekuasaan dari kelas pekerja di perkotaan, tapi pedesaan belum disentuh.
Hal ini tiba-tiba menjadi perhatian Stalin pada tahun 1928, ketika kaum tani menolak memasok
kota-kota. Stalin membalas dengan menjalankan kolektivisasi paksa. Dominasi perkotaan, yang
pernah diajukan oleh Oposisi Kiri sebagai program kiri, dipaksakan oleh Stalin dengan implikasi
lain. Sumber-sumber daya diperas dari pedesaan demi program akumulasi modal secara
intensif. Dorongan untuk mengakumulasi modal merupakan dinamika kapitalis. Rusia telah
menjadi sebuah masyarakat kapitalis tipe baru: kapitalisme negara.