Anda di halaman 1dari 57

LAPORAN

PRAKTIK ASUHAN KEBIDANAN HOLISTIK PADA BALITA


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIMOMULYO SURABAYA

Nama Mahasisawa : Ernawati


NIM : P27824620015

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.


BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KRMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA
JURUSAN KEBIDANAN
PRODI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
TAHUN 2020
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Asuhan Kebidanan Holistik pada balita ini dilaksanakan sebagai


dokumen/laporan praktik Blok 6 yang telah dilaksanakan di Puskesmas Simomulyo
Surabaya periode praktik tanggal 28 November 2020 - 27 Februari 2020

Surabaya, 20 Januari 2021

Ernawati

Pembimbing Lahan Pembimbing Pendidikan 1 Pembimbing Pendidikan 2

Al Usnaini, SST., M.Kes. Kharisma K, SST., M.Keb. Dwi Purwanti, S.Kp., SST., M.Kes.
NIP.196301021988032006 NIP.198103232008012014 NIP: 196702061990032003

Mengetahui,

Kepala Puskesmas Ketua Program Studi

drg. Dharmawati Zahara Evi Pratami, SST., M.Keb


NIP.195707141981032008 NIP. 197905242002122001
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas semua berkat dan rahmat kasih yang
dianugerahkan-Nya sehingga dapat terselesaikannya Laporan Asuhan Kebidanan Holistik
pada Balita ini dilaksanakan sebagai dokumen/laporan praktik Blok 6 yang telah
dilaksanakan di Puskesmas Simomulyo Surabaya, sebagai salah satu syarat menyelesaikan
Prodi Pendidikan Profesi Bidan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya.
Dalam laporan ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak,
karena itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. drg. Bambang Hadi Sugito, M.Kes., selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes
Surabaya.
2. drg. Dharmawati Zahara, selaku Kepala Puskesmas Simomulyo Surabaya yang telah
memberikan kesempatan praktik klinik .
3. Astuti Setiyani, SST., M.Kes., selaku Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan
Kemenkes Surabaya.
4. Evi Pratami, SST., M.Keb., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Bidan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya.
5. Kharisma K, SST., M.Keb., selaku pembimbing I yang banyak memberikan petunjuk,
koreksi dan saran sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
6. Dwi Purwanti, S.Kp., SST., M.Kes., selaku pembimbing II yang banyak memberikan
petunjuk, koreksi dan saran sehingga laporan ini dapat terlaksanakan.
7. Al Usnaini, SST., M.Kes., selaku bidang koordinasi KIA yang banyak memberikan ilmu,
petunjuk dan saran sehingga laporan ini dapat terselesaikan
8. Ibu-ibu yang berkenan membantu memberikan informasi dan atas kerja samanya yang
baik antara petugas dan klien.

Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal baik yang
telah diberikan dan semoga laporan ini berguna bagi semua pihak yang memanfaatkan.

Surabaya, 20 Januari 2021

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah
terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi ini bertujuan untuk menurunkan angka
kematian bayi akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), diantaranya
tuberculosis, difteri, pertusis, tetanus, poliomyelitis, campak, dan hepatitis B (Hidayat,
2008).
Dari data terakhir WHO, terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa per tahun
akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, misalnya: batuk rejan 294.000
(20%); tetanus 198.000 (14%), campak 540.000 (38%). Indonesia sendiri, UNICEF
mencatat sekitar 30.000-40.000 anak di Indonesia setiap tahun meninggal karena serangan
campak. Jumlah kasus campak di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2009 terdapat
sebanyak 3.614 kasus. Ini berarti setiap dua puluh menit seorang anak Indonesia
meninggal karena campak (IDAI, 2010).
Masa balita adalah masa lima tahun pertama dalam setiap kehidupan anak manusia.
Suatu masa golden age yang sangat penting, terutama untuk pertumbuhan fisik dimana 90
persen sel-sel otak individu tumbuh dan berkembang. Bila pada masa golden age anak-
anak terabaikan, maka akan menjadi permasalahan bagi balita tersebut. Kurang Energi
Protein merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. KEP disebabkan karena
defisiensi macro nutrient (zat gizi makro) (Budirahardjo, 2011). Jika kebutuhan zat gizi
makro tidak tercukupi oleh tubuh makan balita dapat mengaami masalah pertumbuhan
sehingga balita tersebut berada pada Bawah Garis Merah (BGM).

Anak bebas gizi buruk termasuk komitmen bersama dunia, termasuk Indonesia.
Komitmen dunia internas ional, tertuang dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
(Sustainable Development Goals) butir kedua yang menegaskan pentingnya “Mengakhiri
kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan gizi, serta menggalakkan pertanian
yang berkelanjutan”. Di tingkat nasional, hal ini sejalan dengan Nawacita dan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut,
penanggulangan masalah kekurangan gizi, termasuk gizi buruk, perlu ditingkatkan.

Balita dengan gizi buruk mempunyai dampak jangka pendek dan panjang, berupa
gangguan tumbuh kembang, termasuk gangguan fungsi kognitif, kesakitan, risiko penyakit
degeneratif di kemudian hari dan kematian. Situasi status gizi kurang (wasting) dan gizi
buruk (severe wasting) pada balita di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik pada tahun 2014
masih jauh dari harapan. Indonesia menempati urutan kedua tertinggi untuk prevalensi
wasting di antara 17 negara di wilayah tersebut, yaitu 12,1%. Selain itu, cakupan
penanganan kasus secara rerata di 9 negara di wilayah tersebut hanya mencapai 2% .
Komitmen Pemerintah dalam penanggulangan gizi buruk pada balita telah lama
didengungkan di tingkat nasional dan ditindak-lanjuti melalui berbagai upaya.
Misalnya, melalui upaya penyuluhan gizi, peningkatan cakupan penimbangan balita,
pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan bagi balita dengan gizi kurang,
peningkatan kapasitas petugas dalam tata laksana balita gizi buruk, pembentukan
Therapeutic Feeding Centre (TFC) dan Community Feeding Centre (CFC) sebagai
pusat-pusat pemulihan gizi di faskes. Selain itu, pada tahun 2016 dikembangkan
perangkat lunak yang menghasilkan data elektronik status gizi balita menurut nama dan
alamat, walaupun cakupannya masih terbatas. Namun, berbagai upaya tersebut belum
optimal dalam menanggulangi masalah balita gizi buruk. Perbaikan kualitas pelayanan
dan peningkatan kerjasama lintas sektor/program, serta keterlibatan masyarakat
diperlukan untuk menanggulangi masalah kekurangan gizi pada balita.

1.2 Tujuan
Untuk memenuhi hak setiap neonates, bayi, balita dan anak usia prasekolah untuk
mendapatkan jaminan Kesehatan dan deteksi dini adanya kelainan serta upaya maksimal untuk
mendapatkan pelayanan Kesehatan yang memadai

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Balita


Balita adalah kelompok anak yang berada pada rentang usia 0-5 tahun (Adriani dan
Wirjatmadi, 2012). Menurut Prasetyawati (2011), masa balita merupakan periode penting dalam
proses tumbuh kembang manusia dikarenakan tumbuh kembang berlangsung cepat. Perkembangan
dan pertumbuhan di masa balita menjadi faktor keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak
di masa mendatang.

Masa anak dibawah lima tahun (anak balita, umur 12-59 bulan) kecepatan pertumbuhan
mulai menurun dan terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus)
serta fungsi ekskresi.Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa balita.
Pertumbuhan dasar yang berlangsung pada masa balita akan mempengaruhi dan menentukan
perkembangan anak selanjutnya. Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan,
pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung; dan terjadi pertumbuhan serabut
serabut syaraf dan cabang-cabangnya, sehingga terbentuk jaringan syaraf dan otak yang kompleks.
Jumlah dan pengaturan hubungan- hubungan antar sel syaraf ini akan sangat mempengaruhi segala
kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf, hingga bersosialisasi.

BAB 4
Pada masa balita, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreativitas, kesadaran sosial,
emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya.
Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian anak juga dibentuk pada masa ini, sehingga
setiap kelalnan/penyimpangan sekecll apapun apablla tidak dideteksl apalagi tidak ditangani dengan
baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari.
2.2 Konsep Dasar Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) dan Gizi Buruk
2.2.1 Landasan Teori Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK)
A. Pengertian DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak)
Deteksi dini tumbuh kembang anak/balita adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk
menemukan secara dini adaaya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah.

Pertumbuhan adalah betumbahnya ukuran fisik (anatomi) dan stuktur tubuh dalam arti sebagian atau
seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak) sel-sel tubuh dan juga karena adanya
pertambahan besamya sel. Jadi, pertumbuhan lebih ditekankan pada pertambahan ukuan fisik
seseorang yaitu menjadi lebih besar atau lebih matang bentuknya, seperti pertambahan ukuran berat
badan, tinggi badan, dan lingkar kepala
Perkembangan adalah serangkaian perubahan progresif yang teratur sebagai akibat
kematangan. Pengertian perubahan progresif adalah perubahan menuju kemajuan. Pengertian teratur
berarti dalam perkembangan terdapat interelasi antara tugas-tugas perkembangan sebelumnya, saai
ini, dan persiapan menghadapi tugas perkembangan selanjutnya (Zan Peter,S.Pi, Herri.2010).
Parameter ukuran antropometrik yang dipakai dalam penilaian pertumbuhan fisik adalah tinggi
badan, berat badan, lingkar kepala. Menurut Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita (Tim
Dirjen Pembinaan Kesmas, 1997) dan (Narendra, 2003) macam- macam penilaian pertumbuhan fisik
yang dapat digunakan adalah :
1. Pengukuran Berat Badan (BB)
Pengukuran ini dilakukan secara teratur untuk memantau pertumbuhan dan keadaan gizi balita. Balita
ditimbang setiap bulan dan dicatat dalam Kartu Menuju Sehat Balita (KMS Balita) sehingga dapat
dilihat grafik pertumbuhannya dan dilakukan interfensi jika terjadi penyimpangan.
2. Pengukuran Tinggi Badan (TB)
Pengukuran tinggi badan pada anak sampai usia 2 tahun dilakukan dengan berbaring, sedangkan di
atas umur 2 tahun dilakukan dengan berdiri. Hasil pengukuran setiap bulan dicatat pada KMS yang
mempunyai grafik pertumbuhan tinggi badan.
3. Pengukuran Lingkar Kepala (LK)
Pengukuran lingkar kepala adalah cara yang biasa dipakai untuk mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan otak anak. Baisanya ukuran pertumbuhan tengkorak mengikuti perkembangan otak,
sehingga bila ada hambatan pada pertumbuhan tengkorak maka perkembangan otak anak juga
terhambat. Pengukuran dilakukan pada diameter occipitofrontal dengan mengambil rerata 3 kali
pengukuran sebagai standar.
Adapun pelaksana dan alat yang di gunakan adalah sebagai berikut :
No Tingkat Pelaksana Alat yang digunakan
Pelayanan
1. Keluarga  Orang Tua  KMS
2. Masyarakat  Kader Kesehatan  Timbang dacin
 Petugas PADU,BKB,TPA, Guru TK
3. Puskesmas  Dokter  Tabel BB/TB

 Bidan  Grafik LK

 Perawat  Timbangan

 Ahli gizi  Alat ukur tinggi badan

 Petugas lainnya  Pita pengukur lika


B. Alat Pengukur Tumbuh Kembang Anak

1. KMS (Kartu Menuju Sehat)

Kartu Menuju Sehat untuk Balita (KMS-Balita) adalah kartu yang memuat data pertumbuhan anak,
yang dicatat setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun.
Isi dari KMS antara lain :

1) Tentang pertumbuhan

2) Perkembangan anak/balita

3) Imunisasi

4) Penanggulangan diare

5) Pemberian kapsul vitamin A dan kondisi kesehatan anak

6) Pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI

7) Pemberian makanan anak/Balita dan rujukan ke Puskesmas/RS

8) Berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi orang tua balita tentang kesehatan
anaknya
Cara memantau pertumbuhan Balita :

Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil penimbangan
dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil
penimbangan bulan ini dihubungkan dengan sebuah garis. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak
tersebut membentuk grafik pertumbuhan anak. Pada Balita yang sehat, berat badannya akan selalu
naik mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umumya.Grafik pertumbuhan dalam KMS tediri
dari garis merah pita wama kuning, hijau tua dan hijau muda.
1) Balita naik berat badannya bila :
Garis pertumbuhannya baik mengikuti salah satu pita wama ataugaris pertumbuhanya naik dan pindah
ke pita wama diatasnya
2) Balita tidak naik berat badannya bila :

 Garis pertumbuhannya turun

 Garis pertunbuhannya mendatar

 Garis pertumbuhannya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya.

- Berat badan balita dibawah garis merah artinya pertunbuhan balita mengalarni gangguan
petumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/
Rumah Sakit
- Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak naik (3T), artinya balita mengalami
gargguan pertumbuhan sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit
- Balita tumbuh baik bila garis berat badan anak naik setiap bulannya

- Balita sehat jika berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita wama atau pindah
ke pita wama di atasnya
C. Skrining / Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang Anak
1. Stimulasi Tumbuh Kembang
Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0 – 6 tahun agar
anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini
mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dapat
dilakukan oleh ibu, ayah, pengganti orang tua/pengasuh anak, anggota keluarga lain atau
kelompok masyarakat di lingkungan rumah tangga masing-masing dan dalam kehidupan
sehari-hari
Adapun Jadwal kegiatan dan jenis skrining /deteksi dini adanya penyimpangan tumbuh
kembang pada balita dan anak prasekolah oleh tenaga kesehatan adalah :
Jenis Skrining/ Deteksi Dini penyimpangan Tumbuh
Kembang
Deteksi Deteksi Dini Penyimpangan Deteksi Dini penyimpangan
Umur
Perkembangan Mental Emosional
anak
Dini
Penyimpangan
Pertumbuhan
BB/TB LK KPSP TDL TDD KMME CHAT GPPH
0 bulan  
3 bulan    
6 bulan    
9 bulan    
12 bulan    
15 bulan  
18 bulan     
21 bulan   
24 bulan     
30 bulan    
36 bulan        
42 bulan      
48 bulan       
54 bulan      
60 bulan       
66 bulan      
72 bulan       
Keterangan :
: Berat Badan Terhadap Tinggi Badan
BB/ TB
LK : Lingkaran Kepala
TDD : Test Daya Dengar
TDL : Tes Daya Lihat
KPSP : Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
KMME : kuesioner Masalah Mental emosional
CHAT : Check List for Autism in toddlers – cek lis Deteksi dini Autis
GPPH : Gangguan Pusat Perhatian dan Hiperaktivitas

Aspek-Aspek Perkembangan yang dipantau :


1. Kemampuan Gerak Kasar (GK) atau Motorik kasar adalah aspek yang berhubungan
dengan kemapuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot
– otot besar seperti duduk,berdiri,dsb.

2. Kemampuan Gerak Halus (GH) atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan
dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian bagian tubuh
tertentu dan di lakukan oleh otot- otot kecil ,tetapi memerlukan koordinasi yang
cermat seperti mangamati sesuatu ,menjimpit,menulis, dsb.
3. Kemampuan berbicara dan bahasa adalah aspek yang bearhubungan dengan
kemampuan untuk memberi respon terhadap suara ,berbicara, berkomunikasi,
mengikuti perintah dsb.
4. Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai
bermain,berpisah dengan ibu /atau pengasuh anak, bersosialisasi dan ber interaksi
dengan lingkungannya dsb.
D. Instrumen/ Alat Bantu Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak (milik Puskesmas
Simomulyo)
1. BB/TB (Berat Badan Terhadap Tinggi Badan)
Cara Mengukur BB (Berat Badan)
a. Menggunakan Timbangan Bayi

 Letakkan Timbangan pda meja yang datar dan tidak mudah bergoyang

 Posisi jarum harus menunjuk angka nol

 Bayi sebaiknya telanjang / memakai baju tipis tanpa topi,jaket,kaos kaki, atau sarung tangan
 Baringkan bayi diatas timbangan

 Lihat jarum timbanagan sampai berhenti

 Baca angka yang ditunjuk jarum timbangan

 Bila bayi terus bergerak,perhatikan gerak jarum, baca angka di tengah-tengah antara getaran
jarum ke kanan dan ke kiri
b. Menggunakan Timbangan Injak

 Letakkan timbangan dilantai yang datar sehingga tidak mudah bergerak

 Posisi jarum harus menunjukkan angka NOL

 Anak sebaiknya memakai baju sehari-hari yang tipis tanpa topi,jaket,alas kaki dab tidak
memegang sesuatu
 Anak berdiri diatas timbangan

 Bila anak terus bergerak perhatikan gerak jarum, baca angka di tengah-tengah antara getaran
jarum ke kanan dan ke kiri
c. Menggunakan Timbangan Dacin

 Gantungkan Timbangan pada penggantungan yang kuat

 Geser bandul ke angka NOL

 Sejajarkan batang Dacin dengan mata penimbang (pasang kantung penyeimbang)

 Pasang sarung / celana timbang dan letakkan anak pada sarung / celana timbang

 Geser bandul sampai posisi batang dacin & mata penimbang sejajar ,baca angkanya
Cara mengukur TB (Tinggi Badan)
a. Mengukur dengan Posisi berbaring
 Sebaiknya dilakukan oleh dua orang
 Bayi dibaringkan terlentang pada alas yang datar
 Kepala bayi menempel pada pembatas angka NOL
 Petugas 1 : Memegang kepala bayi agar tetap menempel pada pembatas angka NOL
 Petugas 2 : Tangan kiri menekan lutut agar tetap lurus, tangan kanan merapatkan batas kiri
ke telapak kaki, kemudian baca angka pada batas tersebut
b. Mengukur dengan Posisi Tegak
 Anak berdiri tegak bersandar tembok / tiang pengukur tanpa alas kaki
 Turunkan batas atas pengukur sampai menempel ubun-ubun
 Baca angka pada batas tersebut
Penggunaan Tabel BB / TB
 Ukur BB dan TB anak seperti cara diatas
 Lihat kolom TB anak sesuai hasil pengukuran
 Pilih kolom BB , anak laki-laki di sebelah kiri dan anak perempuan di sebelah
kanan, cari angka terdekat BB dengan BB anak
Interpretasi
 NORMAL : - 2 SD s/d 2 SD atau gizi baik
 KURUS : < - 2 SD s/d -3 SD atau gizi kurang
 KURUS SEKALI : < - 3 SD atau gizi Buruk
 GEMUK : > 2 SD atau Gizi Lebih
Intervensi
Lihat Buku Pedoman Tatalaksana Gizi Buruk
2. LK (Lingkar Kepala)
Cara Mengukur Lingkar Kepala
a. Tentukan umur anak (tanggal, bulan dan tahun lahir)
b. Lingkarkan alat pengukur kepala pada kepala anak melewati dahi, menutupi alis
mata, di atas kedua telinga dan bagian kepala yang menonjol kemudian tarik agak
kencang.
c. Baca angka pada pertemuan dengan angka nol
d. Catat hasil pengukuran pada grafik lingkar kepala menurut umur dan jenis kelamin
e. Buat garis yang menghubungkan antara ukuran yang lalu dengan ukuran sekarang.
Interpretasi:

Bila LK berada di dalam jalur hijau = NORMAL

Bila LK berada di luar garis hijau = TIDAK NORMAL

a. LK di atas jalur hijau = makrosefal

b. LK di bawah garis hijau = mikrosefal


Intervensi :

Bila ditemukan Makrosefal atau Mikrosefal segera rujuk ke RS


3. KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan)
Cara menggunakan KPSP
 Saat dilakukan skirining, anak harus dibawa

 Tentukan umur anak ( tanggal, bulan, dan tahun lahir )


Contoh :
1. Bayi Umur 3 Bulan lebih 16 Hari dibulatkan menjadi 4 Bulan
2. Bayi Umur 3 Bulan 15 Hari dibulatkan menjadi 3 Bulan
 Pilih KPSP yang sesuai dengan umur anak

 KPSP terdiri dari 2 pertanyaan :

 Pertanyaan yang di jawab oleh ortu / pengasuh anak

 Perintah kepada ortu / pengasuh atau dilakukan sendiri oleh petugas

 Jelaskan pada ortu / pengasuh agar tidak ragu atau takut menjawab, maka pastikan
bahwa ortu / pengasuh anak mengerti apa yang ditanyakan kepadanya
 Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan, satu persatu. Setiap pertanyaan hanya
ada satu jawaban YA / TIDAK
 Ajukan pertanyaan selanjutnya setelah ortu / pengasuh anak menjawab pertanyaan
terlebih dahulu
 Teliti kembali apakah semua pertanyaan sudah dijawab
Interpretasi Hasil KPSP
 Hitunglah berapa jumlah jawaban YA
 Jumlah jawaban YA = 9 atau 10 : SESUAI (S)
 Jumlah jawaban YA = 7 atau 8 : MERAGUKAN (M)
 Jumlah jawaban YA ≤ 6 : PENYIMPANGAN (P)
 Jawaban “TIDAK” perlu di rinci jenis keterlambatannya (GK, GH, SK, BB)
Intervensi
a. Bila perkembangan anak SESUAI (S), lakukan tindakan berikut :
- Beri pujian pada ortu / pengasuh, karena telah mengasuh anak dengan baik
- Teruskan pola asuh anak sesuai dengan tahp perkembangan anak
- Beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering mungkin dan sesuai dengan
umur dan kesiapan anak
- Datang ke Posyandu setiap bulan

- Lakukan skrining tiap 3 bulan (0 – 24 bulan) dan tiap 6 bulan (24 – 72 bulan)

b. Bila perkembangan anak MERAGUKAN (M), lakukan tindakan berikut :

- Beri petunjuk pada ortu / pengasuh anak cara stimulasi di rumah untuk mengejar ketinggalan
- Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit yang menjadi
penyebab penyimpangan perkembangan anak
- KPSP ulang 2 minggu kemudian

- Jika hasilnya tetap,tanyakan apakah ortu / pengasuh telah memberikan stimulasi seperti
yang diajarkan?? Bila belum beri kesempatan 2 minggu lagi!!
Jika jawaban YA tetap 7 atau 8 → lakukan KPSP sesuai umur Jika jawaban TIDAK nya
bertambah → rujuk
c. Bila perkembangan anak PENYIMPANGAN(P), lakukan tindakan berikut:

- Rujuk ke RS dengan menuliskan jenis dan jumlah penyimpangan (Gerak Kasar,


Gerak Halus, Sosialisasi dan Kemandirian , Bicara dan Bahasa)
4. TDL (Tes Daya Lihat)
Cara Melakukan TDL
a. Tentukan umur anak ( tanggal, bulan, dan tahun lahir ), contoh : 5 tahun 2 bulan

b. Pilih 1 ruangan yang tenang, bersih dan terang

c. Gantungkan kartu E di dinding setinggi mata anak pada posisi duduk

d. Letakkan 1 buah kursi dengan jarak 3 meter dari kartu E (menghadap kartu E)

e. Berikan pengarahan kepada anak sejelas – sejelasnya sebelum memulai pemeriksaan TDL
f.Lakukan pemeriksaan TDL pada mata kanan dan kiri secara bergantian (Mata yang tidak
diperiksa di tutup kertas / buku)
g. Puji anak setiap kali ia berhasil mencocokkan arah kartu E yang dipegangnya dengan huruf
E yang di gantung
Interprestasi
 Bila anak tidak berhasil mencocokkan arah kartu E yang dipegangnya dengan huruf E yang
di gantung pada barisan ke – 3 maka kemungkinan anak mengalami Gangguan Dayat Lihat
Intervensi
a. Bila kemungkinan anak mengalami Gangguan Dayat Lihat minta anak datang lagi untuk
pemeriksaan ulang (pada jadwal berikutnya)
b. Bila pada pemeriksaan berikutnya, anak tetap dapat melihat barisan yang sama Rujuk RS
dengan menuliskan mata yang mengalami gangguan (kanan, kiri atau keduanya)
5. TDD (Tes Daya Dengar)
Cara melakukan TDD

a. Tentukan umur anak (tanggal, bulan, dan tahun lahir)

b. Pilih daftar pertanyaan TDD yang sesuai dengan umur anak

c. Anak umur <24 bulan :

- Semua pertanyaan dijawab oleh orang tua/ pengasuh anak

- Bacakan pertanyaan secara berurutan dengan suara jelas dan nyaring

- Jawaban YA jika menurut orang tua/pengasuh, anak dapat melakukannya dalam 1 bulan
terakhir
- Jawaban TIDAK jika menurut orang tua/ pengasuh anak tidak pernah, tidak tahu atau
tidak pernah melakukannya dalam 1 bulan terakhir
d. Anak umur ≥ 24 bulan:
- Pertanyaan berupa perintah melalui orang tua/ pengasuh untu k dikerjakan anak
- Amati kemampuan anak dalam melakukan perintah
- Jawaban YA jika anak dapat melakukan perintah
- Jawaban TIDAK jika anak tidak bisa atau tidak mau melakukan perintah

Interpretasi
 Bila ada 1 atau lebih jawaban TIDAK, kemungkinan anak mengalami gangguan Daya Dengar
Intervensi

 Rujuk ke RS
6. KMME ( Kuesioner Masalah Mental Emosional )
Cara menggunakan KMME
a. Tentukan umur anak ( tanggal, bulan, dan tahun lahir )
b. Ajukan pertanyaan secara berurutan dengan suara lambat, nyaring dan jelas kepada
ortu / pengasuh anak
c. Catat jawaban ortu / pengasuh anak, YA atau TIDAK. Teliti kembali apakah
semua pertanyaan telah di jawab
Interpretasi
 Bila ada jawaban YA, maka kemungkinan anak mengalami masalah mental
emosional
Intervensi
 Bila jawaban YA hanya 1 :
- Konseling ortu atau pengasuh anak dengan buku pedoman pola asuh anak
- Evaluasi 3 bulan kemudian, bila tidak ada perubahan rujuk ke RS yang memiliki
fasilitas kesehatan jiwa / tumbuh kembang anak
 Bila jawaban YA ≥ 2 :
- Rujuk ke RS yang mempunyai fasilitas kesehatan jiwa atau tumbuh kembang
anak dengan disertai informasi tentang jumlah dan masalah mental emosional
yang ditemukan
7. CHAT (Checklist for Autism in Toddlers)
Cara menggunakan CHAT
a. Tentukan umur anak ( tanggal, bulan, dan tahun lahir )
b. Ajukan pertanyaan secara berurutan ( A 1 sampai A 9 ) dengan suara lambat,
nyaring dan jelas kepada ortu / pengasuh anak
c. Lakukan pengamatan secara seksama pada anak ( B 1 sampai B 5 )

d. Catat jawaban ortu / pengasuh anak, YA atau TIDAK. Teliti kembali apakah semua
pertanyaan telah dijawab

Interpretasi
a. Resiko Tinggi menderita Autis → bila jawaban TIDAK pada A5, A7. B2, B3 dan B4

b. Resiko Rendah menderita Autis→ bila jawaban TIDAK pada A7 dan B4

c. Kemungkinan Gangguan Perkembangan Lain → bila jawaban TIDAK ≥ 3 pada

A1, A2, A3, A4, A6, A8, A9, B1 dan B5


d. Normal→ Bila tidak termasuk
kategori di atas Intervensi
 Bila anak Resiko Rendah menderita Autis atau Kemungkinan ada Gangguan
Perkembangan Lain → Rujuk RS yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa / poli tumbuh
kembang anak
CEKLIS DETEKSI DINI AUTIS
CHAT (Checklist for Autism in Toddlers)
Untuk anak umur 18-36 bulan
A. Alo anamnesis Ya Tidak
1. Apakah naka senang di ayun-ayun atau di guncang-guncang naik turun
(bounched) di paha anda?

2. Apakah anak tertarik (memperhatikan) anak lain?


3. Apakah anak suka memanjat-manjat, seperti memanjat tangga?
4. Apakah anak suka bermain “ciluk ba”, “petak umpet”?
5. Apakah anak pernah bermain seolah-olah membuat secangkir teh
menggunakan mainan berbntuk cangkir dan teko, atau permainan lain?

6. Apakah anak pernah menunjuk atau meminta sesuatu dengan menunjukkan


jari?

7. Apakah anak pernah menggunakan jari untuk menunjuk ke sesuatu agar


anda melihat kesana?

8. Apakah naka dapat bermain dengan mainan yang kecil (mobil atau kubus)?
9. Apakah anak pernah memberikan suatu benda untuk menunjukkna sesuatu?
B. Pengamatan Ya Tidak
1. Selama pemeriksaan papakh anak menatap (kontak mata) dengan
pemeriksa?

2. Usahakan menarik perhatian anak, kemudian pemeriksa menunjuk sesuatu


diruangan pemeriksaan sambil mengatakan : “Lihat itu ada bola (atau mainan
lain) !”.
Perhatikan mata anak, apakah ia melihat ke benda yang ditunjuk, bukan
melihat tangan pemeriksa?

3. Usahakan menarik perhatian anak, berikan mainan gelas/cangkir dan teko.


Katakan pada anak : “ Buatlah secangkir susu buat mama!”
4. Tanyakan pada anak : ”Tunjukkan mana gelas!” (gelas dapat diganti dengan nama
benda lain yang dikenal anak dan ada disekitar kita). Apakah anak menunjukkan
benda tersebut dengan jarinya? Atau sambil menatap
wajah anda ketika menunjuk ke suau benda?

5. Apakah anak dapat menumpuk beberapa kubus/balok menjadi suatu menara

8. GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif) Cara menggunakan formulir GPPH
 Tentukan umur anak (tanggal, bulan, dan tahun lahir)

 Ajukan pertanyaan secara berurutan dengan suara lambat, nyaring dan jelas kepada ortu /
pengasuh anak
 Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan pertanyaan pada formulir GPPH
 Keadaan yang di tanyakan dan di amati ada pada anak dimanapun anak berada (rumah,
pasar, toko, sekolah, dll) setiap saat dan ketika anak bersama siapa saja
 Catat jawaban ortu / pengasuh anak, YA atau TIDAK. Teliti kembali apakah semua
pertanyaan telah dijawab
Interpretasi
 Beri nilai pada masing – masing jawaban sesuai dengan “ Bobot nilai “ berikut ini dan
jumlahkan nilai masing jawaban menjadi nilai total
o Nilai 0 : Jika keadaan tersebut TIDAK ditemukan pada anak

o Nilai 1 : Jika keadaan tersebut KADANG KADANG ditemukan pada anak

o Nilai 2 : Jika keadaan tersebut SERING ditemukan pada anak

o Nilai 3 : Jika keadaan tersebut SELALU ditemukan pada anak

 Bila nilai total ≥ 13 kemungkinan GPPH

Intervensi

 Anak dengan kemungkinan GPPH → Rujuk RS yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa /
poli tumbuh kembang anak
 Bila nilai total < 13 tapi anda ragu ragu ( nilai total 11 atau 12 ) jadualkan pemeriksaan
ulang 1 bulan kemudian.
FORMULIR DETEKSI DINI

GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIVITAS (GPPH)

(Abbreviated Conners Ratting Scale)

Kegiatan yang diamati 0 1 2 3

1. Tidak kenal lelah, atau aktivitas yang berlebihan

2. Mudah menjadi gembira, impulsive

3. Menganggu anak-anak lain

4. Gagal menyelesaikan kegiatan yang telah dimulai, rentang

perhatian pendek
5. Menggerak-gerakkan anggota badan atau kepala secara terus

menerus
6. Kurang perhatian, mudah teralihkan

7. Permintaannya harus segera terpenuhi, mudah menjadi frustasi

8. Sering dan mudah menangis

9. Suasana hatinya mudah berubah dengan cepat dan drastic

10. Ledakkan kekesalan, tingkah laku ekspolsif dan tak terduga

Jumlah :

Nilai Total :

2.2.2 Landasan Teori Gizi Buruk

Gizi buruk pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat yang kompleks. Akar
masalahnya terkait dengan ketahanan pangan dan gizi, kemiskinan, pendidikan, keamanan,
ketersediaan air bersih, higiene dan sanitasi lingkungan, serta terkait dengan situasi darurat atau
bencana (Bagan 1). Berbagai kondisi tersebut akan berpengaruh terhadap daya beli, akses pangan,
kerentanan terhadap penyakit, akses informasi dan akses terhadap pelayanan yang mendasari
terjadinya penyebab langsung dan tidak langsung masalah kekurangan gizi.
Bagan 1. Kerangka hubungan antara faktor penyebab kekurangan gizi pada ibu
dan anak

KONSEKUENSI KONSEKUENSI
JANGKA PENDEK JANGKA PANJANG

Ukuran tubuh dewasa, kemampuan intelektual, produktivitas


Mortalitas, morbiditas, ekonomi, kesehatan reproduksi, penyakit
disabilitas metabolik dan kardiovaskular
BA 3

KEKURANGAN GIZI

IBU DAN ANAK


ASUPAN GIZI
TIDAK MEMADAI

PENYAKIT PENYEBAB
LANGSUNG

PELAYANAAN
KETERSEDIAAN KESEHATAN
PANGAN RUMAH POLA ASUH DAN KESEHATAN
TANGGA TIDAK TIDAK MEMADAI LINGKUNGAN
MEMADAI TIDAK MEMADAI

KEMISKINAN:
PEKERJAAN, TEMPAT
TINGGAL, ASET,
TABUNGAN,
PENSIUN, DLL.

PENYEBAB
TIDAK LANGSUNG

FINANSIAL, SUMBER
DAYA MANUSIA,
FISIK, SOSIAL DAN
ALAM TIDAK
MEMADAI

PENYEBAB
DASAR
KONDISI EKONOMI,
SOSIAL DAN POLITIK
A. Kekurangan Gizi pada Balita

Kekurangan gizi adalah suatu kondisi yang dapat terjadi secara akut dan kronis
disebabkan oleh masukan zat gizi yang tidak memadai, gangguan penyerapan dan/atau
metabolisme zat gizi akibat penyakit.
Menurut WHO (2013), gizi buruk dibedakan menurut umur anak:

a. usia kurang dari 6 bulan dengan BB/PB (atau BB/TB) kurang dari -3 SD, atau edema
bilateral yang bersifat pitting (tidak kembali setelah ditekan).
b. usia 6-59 bulan: dengan BB/PB (atau BB/TB) kurang dari -3 SD atau LiLA < 11,5 cm, atau

edema bilateral yang bersifat pitting.


Berdasarkan ada/tidaknya komplikasi, gizi buruk dikategorikan sebagai berikut.

BAB 3
1. Gizi buruk tanpa komplikasi, yang ditandai3:

a. lingkar lengan atas (LiLA) < 11,5 cm untuk balita berusia 6-59 bulan;

b. BB/PB (atau BB/TB) kurang dari -3 SD;

c. adanya edema bilateral dengan derajat +1 atau +2 (Gambar 5).

Derajat: +1 Derajat: +2 Derajat: +3


Edema Edema Sedang Edema
Ringan Berat

Edema hanya ada Edema di kedua punggung kaki


di kedua punggung dan tungkai bawah (dan/atau
kaki tangan/ lengan bawah) Edema meluas, di seluruh
bagian tubuh (edema anasarka)

Gambar Klasifikasi edema pada balita gizi buruk

2. Gizi buruk dengan komplikasi, yang ditandai oleh hal tersebut di atas dan adanya
satu atau lebih komplikasi berikut (sama dengan tanda bahaya pada MTBS)5,6:
a. anoreksia;

b. dehidrasi berat (muntah terus-menerus, diare);

c. letargi atau penurunan kesadaran;

d. demam tinggi;

e. pneumonia berat (sulit bernafas atau bernafas cepat);

f. anemia berat.
Gizi kurang ditandai oleh satu atau lebih hal-hal sebagai berikut.

1. LiLA berada di antara 11,5 cm sampai kurang dari 12,5 cm untuk balita usia 6-59 bulan.

2. BB/PB (atau BB/TB) berada di antara -3 SD sampai kurang dari -2 SD.


BAB 3

Sebelum mengalami gizi kurang, balita terlebih dahulu mengalami keadaan yang disebut
sebagai hambatan pertumbuhan (growth faltering). Keadaan ini ditandai oleh berat
badan yang: i) naik, tapi tidak optimal; ii) tidak naik; atau iii) turun pada penimbangan
bulanan. Dalam upaya penemuan dini gizi buruk di masyarakat, maka penemuan
hambatan pertumbuhan inilah yang ditekankan, di samping penemuan balita dengan gizi
kurang. Menemukan balita yang sudah mengalami gizi kurang sebenarnya sudah
terlambat, karena proses gangguan pertumbuhan otak mungkin sudah mulai terjadi.
Menemukan balita yang sudah mengalami gizi buruk merupakan pembiaran yang sudah
lanjut dan sangat terlambat, karena gangguan pertumbuhan otak sudah terjadi.
Itulah sebabnya, intervensi yang dilakukan pada balita gizi kurang/buruk meliputi
pemberian zat gizi, mengatasi penyakit penyerta dan komplikasi yang ada serta
memberikan stimulasi tumbuh-kembang.
B. Dampak Gizi Buruk pada Balita

Dampak kekurangan gizi pada balita sebagai berikut7. (lihat bagan 2)

a. Jangka pendek: meningkatkan angka kesakitan, kematian dan disabilitas.

b. Jangka panjang: dapat berpengaruh tidak tercapainya potensi yang ada ketika dewasa;
perawakan pendek, mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, menurunkan kecerdasan,
produktivitas kerja dan fungsi reproduksi; serta meningkatkan risiko (pada usia dewasa)
untuk mengalami obesitas, menderita diabetes, hipertensi, penyakit jantung, keganasan dan
penyakit generatif lainnya.
Bagan. Dampak kekurangan gizi pada balita
GIZI Jangka Pendek Jangka Panjang

Gizi pada Perkembangan


Makanan otak
janin dan bayi

Kapasitas kognitif
dan edukasi

Imunitas
Pertumbuhan otot Kapasitas kerja
dan tulang
GEN Komposisi berat
dan tinggi badan

Diabetes
Obesitas
Penyakit
Kardiovaskuler
Stroke karena
Faktor infeksi Metabolism e
karbohidrat, lemak, Hipertensi
protein, hormon, Kanker
Usia tua
dan reseptor dan gen

lingkunga
n lainnya

Lebih lanjut, Bagan diatas memberikan gambaran tentang interaksi gizi pada janin/bayi
(dipengaruhi oleh status gizi ibu), faktor infeksi dan faktor lingkungan lainnya, serta faktor
genetik. Dampaknya adalah: i) gangguan perkembangan otak yang berakibat gangguan
kapasitas kognitif dan edukasi pada jangka panjang; ii) gangguan pertumbuhan otot dan
tulang, serta komposisi berat dan tinggi badan yang berakibat gangguan imunitas dan
kapasitas kerja pada jangka panjang. Selain itu terjadi gangguan metabolisme karbohidrat,
lemak, protein, hormon, reseptor dan gen yang berakibat gangguan penyakit degeneratif dan
kardiovaskular pada jangka panjang.

C Prinsip-prinsip Pencegahan Gizi Buruk pada Balita


Upaya pencegahan kejadian gizi kurang/buruk pada balita perlu dilakukan sedini mungkin
dan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a. Upaya perbaikan status gizi ibu sejak masa remaja, yang dilanjutkan dengan:
upaya peningkatan kesehatan ibu sebelum hamil antara lain dengan menghindari
kehamilan “4 terlalu”, yaitu hamil terlalu muda (< 20 tahun), terlalu tua (> 35 tahun),
terlalu dekat jarak antar-kehamilan (< 3 tahun), dan terlalu banyak (jumlah anak > 2),
mengatasi anemia, penyakit infeksi atau penyakit kronis pada ibu. Penerapan pola hidup
sehat, antara lain dengan memenuhi kebutuhan gizi ibu pada masa kehamilan dan nifas,
pelayanan antenatal sesuai dengan standar, termasuk konseling tentang kebutuhan gizi, tidak
merokok/terpapar asap rokok, memberikan kolostrum kepada bayinya dengan melakukan inisiasi
menyusu dini (IMD) yang diteruskan dengan ASI eksklusif, serta melakukan stimulasi pada bayi
sejak dalam kandungan (seperti yang tercantum dalam Buku KIA).
a) Pemenuhan kebutuhan gizi balita yang dimulai dari sejak lahir, dengan
“standar emas makanan bayi”:

 inisiasi menyusu dini (< 1 jam setelah lahir);

 ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama kehidupan;

 makanan pendamping ASI (MP-ASI) mulai diberikan pada usia 6 bulan dan diberikan
secara: i) tepat waktu; ii) kandungan gizi cukup dan seimbang; iii) aman; dan iv)
diberikan dengan cara yang benar;
 ASI dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih.
 Penapisan massal untuk menemukan hambatan pertumbuhan dan gizi kurang
pada balita di tingkat masyarakat dilakukan secara berkala pada bulan penimbangan
BAB 3

dengan target cakupan penapisan 100%. Caranya adalah melalui pemantauan


pertumbuhan (BB/U), LiLA, BB/PB (atau BB/TB) dan PB/U (atau TB/U), serta lingkar
kepala, dan lakukan plotting pada Buku KIA agar dapat diketahui perkembangannya, bila
ditemukan masalah, maka balita dirujuk ke petugas kesehatan yang kompeten
b) Perhatian khusus diberikan kepada bayi dan balita dengan faktor risiko
mengalami kekurangan gizi, misalnya:
 bayi yang dilahirkan dari ibu dengan kurang energi kronis (KEK) dan/atau ibu usia remaja;
bayi yang lahir prematur/BBLR, kembar, lahir dengan kelainan bawaan;
 balita dengan infeksi kronis atau infeksi akut berulang dan adanya sumber penularan
penyakit dari dalam/luar rumah;
 balita yang berasal dari keluarga dengan status sosio ekonomi kurang;
 balita berkebutuhan khusus;
 balita yang berada di lingkungan yang terkendala akses air bersih, dan/atau higiene dan
sanitasi yang buruk.
Semua balita dipantau pertumbuhannya secara rutin, terutama balita dengan faktor risiko.
Orangtua/pengasuh diberi konseling pemberian makan sesuai usia, diberi pelayanan
lainnya dan tindak lanjut sedini mungkin untuk mengatasi masalah yang ditemukan.
c) Dukungan program terkait diperlukan dalam upaya pemenuhan total cakupan pelayanan,
konseling pemberian makan sesuai umur dan penanganan balita sakit secara komprehensif,
serta promosi perubahan perilaku menuju pola hidup bersih dan sehat. Fasilitas kesehatan
(faskes) primer dan rujukan berperan penting dalam tatalaksana balita sakit sesuai standar.
d) Dukungan lintas sektor diperlukan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih dan/ atau
pengadaan jamban keluarga, serta lingkungan sehat, dalam upaya pencegahan penyakit
infeksi berulang yang dapat mengakibatkan gizi buruk pada balita. Demikian pula dalam
pengaturan makanan/camilan yang sehat untuk anak.
e) Perhatian khusus diberikan kepada baduta yang rentan mengalami gizi buruk,
melalui berbagai intervensi untuk pencegahan masalah gizi, seperti tercakup dalam
upaya “Seribu Hari Pertama Kehidupan”.
c. Pencegahan Gizi Buruk pada Balita 6-59 Bulan BAB 3

Berbeda dengan kekurangan gizi pada bayi 0-6 bulan yang dipengaruhi
oleh kondisi kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan sampai setelah
melahirkan, kekurangan gizi pada balita 6-59 bulan lebih banyak
dipengaruhi oleh faktor luar, misalnya:
 asupan makanan;

 kekebalan tubuh terhadap infeksi, yang antara lain dipengaruhi oleh


kelengkapan pemberian imunisasi dasar;
 terpapar sumber infeksi penyakit menular baik internal maupun eksternal;

 ketersediaan jamban keluarga dan air bersih;


 kondisi lingkungan, misalnya yang berkaitan dengan polusi, termasuk polusi dari
industri, kendaraan bermotor, asap rokok, asap dapur, dll.
Kapasitas lambung balita usia 6-23 bulan masih kecil, sehingga belum bisa
menampung volume makanan dalam jumlah besar yang sesuai dengan kebutuhan
kalorinya. Untuk mengatasi hal tersebut, balita perlu diberi MP-ASI yang padat gizi,
termasuk tinggi kalori tinggi protein, agar volume tidak terlalu besar. Komposisi lemak
yang dianjurkan agar MP- ASI padat energi untuk balita usia 6 sampai kurang dari 24
bulan adalah 30-45% dari total kebutuhan energi per hari. Hal tersebut dapat dipenuhi
dengan menambahkan minyak atau santan kental ke dalam MP-ASI.
Kebutuhan kalori pada balita berusia 6-59 bulan dengan rincian sebagai berikut (Gambar 7).
 Balita usia 6 – < 9 bulan: memerlukan 600 kkal/hari dengan porsi ASI 60-
70%, porsi lemak 30-45% dari kebutuhan kalori dan kalori dari MP-ASI
300 kkal.
BAB 3

Adaptasi dari Buku Guiding Principles for Complementary


Feeding of the Breastfed Child (PAHO 2003) dan Fats and
Fatty Acids in Human Nutrition – Report of an expert
consultation (FAO, 2010).
Gambar Kebutuhan gizi sepanjang usia
 Balita usia 9 – <12 bulan: memerlukan 800 kkal/hari dengan porsi ASI 60-70%, porsi
lemak 30-45% dari kebutuhan kalori dan kalori dari MP-ASI 300 kkal.
 Balita usia 12 – <24 bulan: memerlukan 1100 kkal/hari dengan porsi ASI 30-40%,
porsi lemak 30-45% dari kebutuhan kalori dan kalori dari MP-ASI 550 kkal.
 Balita usia 24-59 bulan: kebutuhan kalorinya adalah 90 kkal/kg BB, porsi lemak
30-35% dari kebutuhan kalori dan sisanya dipenuhi dari makanan keluarga.
Prinsip pencegahan kekurangan gizi pada balita 6-59 bulan adalah:
i) memberikan asupan makanan sesuai dengan umur (seperti disebutkan di
atas);ii) mencegah terjadinya infeksi. Hal hal yang perlu dilakukan untuk
mencegah kekurangan gizi pada balita 6-59 bulan antara lain sebagai berikut:
a) Pembinaan secara aktif pada keluarga dan masyarakat dengan edukasi tentang pola
asuh yang benar pada anak, misalnya dengan menerapkan pola makan sesuai dengan
umur, pola hidup bersih dan sehat, menerapkan higiene dan sanitasi yang baik,
memantau tumbuh kembang anak (misalnya di posyandu dan pos penimbangan lainnya
seperti PAUD, BKB, atau di faskes), dengan membawa Buku KIA yang juga dapat
digunakan sebagai media informasi untuk keluarga/masyarakat.
b) Pemanfaatan pelayanan kesehatan, misalnya imunisasi dasar lengkap,
pemberian vitamin A dan obat cacing, tatalaksana balita sakit di tingkat pelayanan dasar
(MTBS) dan faskes rujukan sesuai standar, serta SDIDTK.
c) Penapisan kekurangan gizi pada balita oleh kader/masyarakat melalui
pengukuran LiLA untuk menemukan balita dengan hambatan pertumbuhan, gizi
kurang atau gizi buruk sedini mungkin. Kasus yang ditemukan selanjutnya dirujuk
ke petugas kesehatan.
d) Pemantapan peran lintas sektor dalam memberikan dukungan untuk mencegah
kekurangan gizi pada balita, misalnya aparat desa bekerja sama dengan dinas
peternakan/ perikanan dan pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan. Masyarakat
dibina untuk memelihara ternak/sumber protein lainnya dan menanam sayuran/buah-
buahan untuk meningkatkan ketersediaan kebutuhan pangan di tingkat rumah tangga
d. Penemuan Dini Kasus Berisiko Kekurangan Gizi pada Balita oleh
Masyarakat
BAB 3

Prinsip penemuan dini kasus kekurangan gizi adalah menemukan kasus yang
berpotensi mengalami gizi kurang atau buruk. Untuk itu perlu dilakukan penemuan
balita dengan hambatan pertumbuhan sedini mungkin di posyandu atau fasilitas
kesehatan primer. Dengan pendekatan ini, maka balita dengan hambatan
pertumbuhan dapat segera diatasi agar tidak mengalami gizi kurang, balita dengan
gizi kurang dapat dicegah mengalami gizi buruk dan balita dengan gizi buruk dapat
dicegah agar tidak mengalami komplikasi. Selain kegiatan rutin, perlu dilakukan
penapisan massal di masyarakat untuk menemukan kasus kekurangan gizi, yang
kemudian dirujuk ke tenaga kesehatan. Kasus yang dirujuk adalah bila balita usia
6-59 bulan mempunyai satu atau lebih dari kondisi berikut:
a. LiLA < 12,5 cm pada balita (berada pada pita kuning atau merah);
b. Hambatan pertumbuhan yang ditandai oleh hasil penimbangan berat badan balita, yaitu:
 naik, tapi tidak optimal atau tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan pada KMS;
 tetap, atau turun, bila dibandingkan dengan hasil penimbangan sebulan sebelumnya;
 bila pertama kali ditimbang, plot berat badan berada di pita kuning atau di bawah garis
merah pada grafik KMS. Grafik KMS merupakan alat untuk memantau pertumbuhan
balita, bukan untuk menentukan status gizi balita. Status gizi balita ditentukan dengan
indeks BB/PB (atau BB/TB). Gambar 8 memberikan contoh perubahan berat badan
balita usia 6-59 bulan (A, B dan C) pada penimbangan bulanan. Kasus B dan C harus
segera dirujuk untuk ditangani agar tidak terjadi gangguan pertumbuhan dan gangguan
fungsi kognitif.

Jalur A

Jalur B

Jalur C
BAB 3

Umur (bulan)
Gambar Contoh perkembangan berat badan balita pada
penimbangan bulanan
Keterangan Gambar
 Jalur A menunjukkan kenaikan berat badan balita yang baik atau normal, yang
mengikuti garis pertumbuhan pada grafik KMS.
 Jalur B menunjukkan kenaikan berat badan balita yang tidak baik, karena
kenaikan berat badan tidak optimal, sehingga kurva pertumbuhannya yang
semula normal kemudian berubah dan keluar menjauhi garis pertumbuhan yang
seharusnya.
 Jalur C menunjukkan perubahan berat badan balita yang buruk, karena berat badan

tidak naik atau turun.


Rujukan ke tenaga kesehatan bertujuan:

 konfirmasi status gizi anak dengan indeks BB/PB atau BB/TB (lihat
Lampiran 1 dan 2), TB/U dan LiLA (lihat Lampiran 3);
 mencari faktor penyebab;

 memberikan konseling pemberian makan sesuai usia dan pelayanan tumbuh kembang
anak.
Bila ditemukan penyakit atau memiliki faktor risiko terpapar penyakit menular, segera
dilakukan tatalaksana sesuai standar.
Di samping pengukuran ulang LiLA, indeks berat badan menurut panjang (atau tinggi)
badan (BB/PB atau BB/TB) digunakan oleh petugas kesehatan di puskesmas dan rumah
sakit untuk memastikan status gizi balita, yaitu:
 gizi buruk bila BB/PB (atau BB/TB) kurang dari -3 SD;
 gizi kurang bila BB/PB (atau BB/TB) berada di antara -3 SD sampai kurang dari -2 SD.

Menurut WHO, LiLA merupakan indikator:

• dapat mendeteksi perubahan jangka pendek dengan baik;

• alat pengukurnya sederhana, karena pita LiLA mudah dibawa;

• cara pengukuran paling sederhana.


Langkah-langkah penemuan dini kekurangan gizi pada balita yang dapat dilakukan oleh
masyarakat adalah sebagai berikut:

a. Meningkatkan akses balita untuk ditimbang setiap bulan melalui berbagai titik
penimbangan, misalnya posyandu, poskesdes, pustu, puskesmas, praktek swasta, PAUD,
Bina Keluarga Balita, Taman Bermain, Taman Kanak-kanak dsb. Bila diperlukan dapat
dilakukan sweeping agar cakupan penimbangan mencapai 100%. Hal ini dapat dilakukan
oleh kader dan semua komponen masyarakat lainnya. Semua balita harus mempunyai
Buku KIA, yang diperoleh sejak ibunya hamil. Balita dengan hambatan pertumbuhan
BAB 3

dirujuk ke petugas kesehatan.


b. Pengukuran LiLA pada anak usia 6-59 bulan di tempat penimbangan bulanan seperti
di atas dan berbagai kesempatan sosial, misalnya acara keagamaan, acara adat/sosial dan
pertemuan masyarakat lainnya. Pengukuran dapat dilakukan oleh semua komponen
masyarakat, seperti kader, anggota PKK, guru, tokoh masyarakat, tokoh agama, dll.
Semua balita usia 6-59 bulan yang terlihat kurus dan setelah diukur mempunyai
LiLA
< 12,5 cm, atau kedua punggung kakinya bengkak, dirujuk ke petugas kesehatan,
puskesmas atau layanan kesehatan primer lainnya.
Penjelasan yang diberikan oleh petugas puskesmas kepada kader dan keluarga
bila balita dirujuk sebagai berikut:

a. Balita berusia 6-59 bulan dengan gizi buruk dapat menjalani rawat jalan bila:
 tanpa komplikasi;

 nafsu makan baik; dan


BAB 3

 keluarga mampu merawat balita tersebut dengan bimbingan tenaga kesehatan (petugas
gizi/bidan/perawat).

b. Balita berusia 6-59 bulan dengan gizi buruk menjalani rawat inap bila:
 BB kurang dari 4 kg;

 ada komplikasi;

 nafsu makan buruk; dan

 keluarga tidak mampu merawat dengan baik.

c. Semua bayi usia kurang dari 6 bulan dengan indeks BB/PB kurang dari -3 SD
menjalani rawat inap.
d. Balita dengan gizi kurang ditangani sesuai dengan standar tatalaksana kasus, konseling
gizi dan konseling stimulasi tumbuh kembang.
2.3 Konsep Imunisasi Dasar
1. Definisi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit tertentu, sehingga bila suatu saat terpapar
dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Beberapa
penyakit menular yang termasuk ke dalam Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi
(PD3I) antara lain TBC, difteri, tetanus, hepatitis B, pertusis, campak, rubella, polio, radang
selaput otak, dan radang paru-paru. Anak yang telah diberi imunisasi akan terlindungi dari
berbagai penyakit berbahaya tersebut, yang dapat menimbulkan kecacatan atau kematian
(Permenkes RI, 2017).
Imunisasi dasar adalah imunisasi pertama yang perlu diberikan pada semua orang,
terutama bayi dan anak sejak lahir untuk melindungi tubuhnya dari penyakit-penyakit yang
berbahaya. Lima jenis imunisasi dasar yang idwajibkan pemerintah adalah imunisasi terhadap
tujuh penyakit yaitu, TBC (Tuberculosis), difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan),
poliomyelitis, campak dan hepatitis B (Maryunani, 2012).

2. Tujuan Imunisasi
Menurut (Musbikin, 2011), Tujuan pemberian imunisasi adalah membentuk kekebalan
tubuh terhadap serangan penyakit terutama polio, cacar, gondok, rubella, pertusis, difteri,
tatanus, infeksi Haemophilus dan hepatitis B dengan memberikan vaksin pada bayi (Nurjanah
dkk., 2013).
DPT dilakukan tiga kali, DPT pertama diberikan saat bayi berusia dua bulan, DPT
kedua saat bayi berusia empat bulan dan DPT ketiga pada saat bayi berusia enam bulan.
Imunisasi polio untuk menghindari anak dari penyakit kelumpuhan, diberikan tiga kali pada
saat bayi berusia dua bulan, empat bulan dan enam bulan. Imunisasi campak diberikan setelah
bayi berusia sembilan bulan. Imunisasi hepatitis B diberikan dua kali pada saat bayi baru lahir
dan usia 1 bulan (Nurjanah, dkk., 2013).
Imunisasi harus diberikan pada bayi yang kondisi tubuhnya sehat, tidak dibenarkan
diberikan pada bayi yang sedang menderita penyakit ataupun bayi sedang menderita panas
tinggi. Batas aman suhu badan anak yang akan mendapat imunisasi harus berkisar 37 oCelcius
(Achmadi, 2016).
a. Jenis Imunisasi Dasar
1) Imunisasi BCG
• Pengertian
Imunisasi BCG adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan aktif
terhadap penyakit tuberkulosis (TBC), yaitu penyakit paru-paru yang sangat menular.
Imunisasi BCG adalah imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit
TBC yang primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi
BCG, pencegahan imunisasi BCG untuk TBC yang berat seperti TBC pada selaput otak,
TBC milier (pada seluruh lapangan paru) atau TBC tulang.Imunisasi BCG adalah
pemberian vaksin yang sangat mengandalkan kuman TBC yang dilemahkan.
• Pemberian Imunisasi
Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah satu kali dan tidak perlu diulang (booster).
Sebab, vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus.
Berbeda dengan vaksin berisi kuman mati, hingga memerlukan pengulangan.
• Usia Pemberian Imunisasi
Sedini mungkin atau secepatnya, tetapi pada umumnya di bawah 2 (dua) bulan. Jika
diberikan setelah usia 2 bulan, disarankan dilakukan tes Mantoux (tuberkulin) terlebih
dahulu untuk mengetahui apakah bayi sudah kemasukan kuman kuman Myobacterium
tuberculosis atau belum. Vaksinansi dilakukan bila hasil tes-nya negatif. Jika ada penderita
TB yang tinggal serumah atau sering bertandang ke rumah, segera setelah lahir bayi di
imunisasi BCG.
• Cara Pemberian Imunisasi
Cara pemberian imunisasi BCG adalah melalui intradermal dengan lokasi penyuntikan
pada lengan kanan atas (sesuai anjuran WHO) atau penyuntikan pada paha.
• Tanda Keberhasilan
Timbul indurasi (benjolan) kecil dan eritema (merah) di daerah bekas suntikan setelah satu
atau dua minggu kemudian., yang berubah menjadi pastula, kemudian pecah menjadi ulkus
(luka). Tidak menimbulkan nyeri dan tidak diiringi panas (demam). Luka ini akan sembuh
sendiri dan meninggalkan jaringan parut. Jikapun indurasi (benjolan) tidka timbul, hal ini
tidak perlu dikhawatirkan. Karena kemungkinan cara penyuntikan yang salah, mengingat
cara penyuntikannya perlu keahlian khusus karena vaksin harus masuk kedalam kulit. Jadi,
meskipun benjolan tidak timbul, antibodi tetap terbentuk, hanya saja dalam kadar rendah.
Imunisasi tidak perlu diulang, karena di daerah endemi TB, infeksi alamiah akan selalu
ada. Dengan kata lain, anak akan mendapatkan vaksinasi alamiah.
• Efek Samping Imunisasi
Umumnya tidak ada. Namun, pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah
bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau diselangkangan bila penyuntikan dilakukan
di paha). Biasanya akan sembuh sendiri.
• Kontra-Indikasi Imunisasi
Imunisasi BCG tidka dapat diberikan pada anak yang berpenyakit TB atau menunjukkan
uji Mantoux positif atau pada anak yang mempunyai penyakit kulit yang berat/menahun.
2) Imunisasi DPT
• Pengertian
Imunisasi DPT merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit
difteri, pertusis dan tetanus. Imunisasi DPT diberikan untuk menimbulkan kekebalan aktif
terhadap beberapa penyakit berikut ini:
• Penyakit difteri, yaitu radang tenggorokan yang sangat berbahaya karena menimbulkan
tenggorokan tersumbat dna kerusakan jantung yang menyebabkan kematian dalam
beberapa hari saja.
• Penyakit pertusis, yaitu radang paru (pernafasan), yang disebut juga batuk rejan atau batuk
100 hari karena sakitnya bisa mencapai 100 hari atau 3 bulan lebih. Gejala penyakit ini
sangat khas, yaitu batuk yang bertahap, panjang dan lama disertai bunyi“whoop”/berbunyi
dan dikahiri dengan muntah, mata dapat bengkak atau penderita dapat meninggal karena
kesulitan nafas.
• Penyakit tetanus, yaitu penyakit kejang otot seluruh tubuh dengan mulut
terkunci/terkancing sehingga mulut tidak bisa membuka atau dibuka. Imunisasi DPT
merupakan imunisasi dengan memberikan vaksin yang mengandung racun kuman difteri
yang telah dihilangkan sifat racunnya akan masih dapat merangsang pembentukan zat anti
(toxoid).
• Pemberian Imunisasi dan Usia Pemberian Imunisasi
Pemberian imunisasi 3 kali (paling sering dilakukan), yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan dan
6 bulan. Namun, bisa juga ditambahkan 2 kali lagi di usia 18 bulan dan 1 kali di usia 5
tahun. Selanjutnya di usia 2 tahun, diberikan imunisasi TT.
• Cara Pemberian Imunisasi
Cara pemberian imunisasi melalui suntikan intramuskular (I.M) atau i.m).
• Efek Samping Imunisasi
Biasanya, hanya gejala-gejala ringan, seperti sedikit demam “sumeng” saja dan rewel
selama 1-2 hari, kemerahan, pembengkakan, agak nyeri atau pegal-pegal pada tempat
suntikan, yang akan hilang sendiri dalam beberapa hari, atau bila masih demam dapat
diberikan obat penurun panas bayi. Atau bisa juga dengan memberikan minum cairan lebih
banyak dan tidak memakaikan pakaian terlalu banyak.
• Kontra-Indikasi Imunisasi
Imunisasi DPT tidak dapat diberikan pada anak-anak yang mempunyai penyakit atau
kelainan saraf bak bersifat keturunan atau bukan, seperti epilepsi, menderita kelainan saraf
yang betu;-betul berat atau habis dirawat karena infeksi otak, anak-anak yang sedang
demam/sakit keras dan yang mudah mendapat kejang dan mempunyai sifat alergi, seperti
eksim atau asma.
3) Imunisasi Polio
• Pengertian
Imunisasi Polio adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan terhadap
penyakit poliomielitis, yaitu penyakit radang yang menyerang saraf dan dapat
mengakibatkan lumpuh kaki. Imunisasi Polio adalah imunisasi yang digunakan untuk
mencegah terjadinya penyakit poliomielitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada
anak (kandungan vaksin polio adalah virus yang dilemahkan).
• Pemberian Imunisasi
Bisa lebih dari jadwal yang telah ditentukan, mengingat adanya imunisasi polio massal
atau Pekan Imunisasi Nasional. Tetapi jumlah dosis yang berlebihan tidak akan
berdampak buruk, karena tidak ada istilah overdosis dalam imunisasi.
• Usia Pemberian Imunisasi
Waktu pemberian polio adalah pada umur bayi 0-11 bulan atau saat lahir (0 bulan), dan
berikutnya pada usia bayi 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan. Kecuali saat lahir, pemberian
vaksin polio selalu dibarengi dengan vaksin DPT.
• Cara Pemberian Imunisasi
Cara pemberian imunisasi polio melalui oral/mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV). Di
luar negeri, cara pemberian imunisasi polio ada yang melalui suntikan (disebut Inactivated
Poliomyelitis Vaccine/IPV).
• Efek Samping Imunisasi
Hampir tidak ada efek samping. Hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing, diare
ringan, dan sakit otot. Kasus-nyapun sangat jarang.
• Kontra-Indikasi Imunisasi
Sebaiknya pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah, seperti demam
tinggi (di ats 38oC) ditangguhkan. Pada anak yang menderita penyakit gangguan kekebalan
tidak diberikan imunisasi polio. Demikian juga anak dengan penyakit HIV/AIDS, penyakit
kanker atau keganasan, sedang menjalani pengobatan steroid dan pengobatan radiasi
umum, untuk tidak diberikan imunisasi polio.

• Tingkat Kekebalan
Bisa mencekal penyakit polio hingga 90%.
4) Imunisasi Campak
• Pengertian
• Imunisasi campak adalah imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit
campak pada anak karena penyakit ini sangat menular.
• Imunisasi campak adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan aktif
terhadap penyakit campak (morbil/measles). (Kandungan vaksin campak ini adalah virus
yang dilemahkan).
• (Sebenarnya, bayi sudah mendapat kekebalan campak dari ibunya. Namun seing
bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi
tambahan lewat pemberian vaksin campak. Apalagi penyakit campak mudah menular dan
anak yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit yang disebabkan
virus Morbili ini. Namun, untungnya campak hanya diderita sekali seumur hidup. Jadi,
sekali terkena campak, setelah itu biasanya tidak akan terkena lagi).
• Pemberian Imunisasi
Frekuensi pemberian imunisasi campak adalah 1 kali.

• Usia Pemberian Imunisasi


Imunisasi campak diberikan 1 kali pada usia 9 bulan, dan dianjurkan pemberiannya sesuai
jadwal. Selain karean antibodi dari ibu sudah menurun di usia bayi 9 bulan, penyakit
campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai usia 12 bulan anak belum
mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan ini anak harus diimunisasi MMR
(Measles Mumps Rubella).
• Cara Pemberian Imunisasi
Cara pemberian imunisasi campak adalah melalui subkutan.
• Efek Samping Imunisasi
Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisiasi. Mungkin terjadi demma ringan dan
terdapat efek kemerahan/bercak merah pada pipi di bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah
penyuntikan. Kemungkinan juga terdapat pembengkakan pada tempat penyuntikan.
• Kontra-Indikasi Imunisasi
Kontra-indikasi pemberian imunisasi campak adalah anak:
• Dengan penyakit infeksi akut yang disertai demam.
• Dengan penyakit gangguan kekebalan.
• Dengan penyakit TBC tanpa pengobatan.
• Dengan kekurangan gizi berat.
• Dengan penyakit keganasan.
• Dengan kerentanan tinggi terhadap protein telur, kanamisin dan eritromisin (antibiotik).
5) Imunisasi Hepatitis B
• Pengertian
• Imunisasi Hepatitis B adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan
aktif terhadap penyakit hepatitis B, yaitu penyakit infeksi yang dapat merusak hati.
• Imunisasi hepatitis B adalah imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit hepatitis, yang kendungannya adalah HbsAg dalm bentuk cair.
• Pemberian Imunisasi
Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis B adalah 3 kali.
• Usia Pemberian Imunisasi
Sebaiknya diberikan 12 jam setelah lahir. Dengan syarat kondisi bayi dalam keadaan
stabil, tidak ada gangguan pada paru-paru dan jantung. Kemudian dilanjutkan pada saat
bayi barusia 1 bulan, dan usia 3-6 bulan. Khusus bayi yang lahir dari ibu pengidap
penyakit hepatitis B, selain imunisasi yang diberikan kurang dari 12 jam setelah lahir,
juga diberikan imunisasi tambahan dengan imunoglobulin anti hepatitis B dalam waktu
sebelum usia 24 jam.
• Cara Pemberian Imunisasi
Cara pemberian imunisasi hepatitis B adalah dengan cara intramuskular (I.M atau i.m) di
lengan deltoid atau paha anterolateral bayi (antero=otot-otot di bagian depan; lateral=otot
bagian luar). Penyuntikan di bokong tidak dianjurkan karena bisa mengurangi efektivitas
vaksin.
• Tanda Keberhasilan
Tidak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan. Tetapi dapat dilakukan pengukuran
keberhasilan melalui pemeriksaan darah dengan memeriksa/mengecek kadar hepatitis B-
nya setelah anak berusia setahun. Bila kadarnya di atas 1000, berarti daya tahannya 8
tahun; di atas 500 tahan 5 tahun; di atas 200 tahan 3 tahun. Tetapi bila angkanya hanya
100, maka dalam setahun akan hilang. Sementara bila angka nol berarti bayi harus
disuntik ulang 3 kali lagi.
• Efek Samping Imunisasi
Umumnya tidak terjad. Jika-pun terjadi (namun sangat jarang), berupa keluhan nyeri
pada tempat suntikan, yang disusul demam ringan dna pembengkakan. Namun reaksi ini
akan menghilang dalam waktu 2 hari.
• Kontra-Indikasi Imunisasi
Tidak dapat diberikan pada anak yang menderita sakit berat.
• Tingkat Kekebalan
Cukup tinggi, antara 94-96%. Umumnya, setelah 3 kali suntikan, lebih dari 95% bayi
mengalami respons imun yang cukup.
6) Vaksin Kombinasi
Vaksin kombinasi adalah gabungan beberapa antigen tunggal satu jenis produk antigen
untuk mencegah penyakit yang berbeda. Misalnya Vaksin kombinasi DPT/Hb adalah
gabungan antigen-antigen D-P-T dengan antigen Hb untuk mencegah penyakit difteri,
pertusis, tetanus,dan Hb (Depkes RI, 2008). Alasan utama pembuatan vaksi kombinasi
adalah:
• Kemasan vaksin kombinasi lebih praktis dibandingkan dengan vaksin monovalen,
sehingga mempermudah pemberian maka dapat lebih meningkatkan cakupan imunisasi.
• Mengurang ferkuensi kunjungan ke fasilitas kesehatan sehingga mengurangi biaya
pengobatan.
• Mengurangi biaya pengadaan vaksin.
• Memudahkan penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi yang telah ada.
• Untuk mengejar imunisai yang terlambat.
• Biaya lebih murah (Maryunani, 2011)
b. Jadwal Imunisasi
Pemberian imunisasi pada bayi, tepat pada waktunya merupakan faktor yang sangat
penting untuk kesehatan bayi. Imunisasi diberikan mulai dari lahir sampai awal masa kanak-
kanak. Melakukan imunisasi pada bayi merupakan bagian tanggung jawab orang tua terhadap
anaknya. Kebanyakan dari imunisasi adalah untuk memberi perlindungan menyeluruh terhadap
penyakit-penyakit yang berbahaya dan sering terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan seorang
anak. Walaupun pengalaman sewaktu mendapatkan vaksinasi tidak menyenangkan untuk bayi
(karena biasanya akan mendapatkan suntikan), tetapi rasa sakit sementara akibat suntikan
bertujuan untuk kesehatan anak dalam jangka waktu panjang. Menurut Permenkes RI no 12
tahun 2017, jadwal imunisasi dasar dan lanjutan sebagai berikut:
1). Jadwal Imunisasi Dasar
Tabel 2.1 Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar
Umur Jenis Interval minimal untuk
jenis Imunisasi yang sama
0-24 Hepatitis B
jam
1 bulan BCG, Polio 1
2 bulan DPT-HB-Hib 1, Polio 2
3 bulan DPT-HB-Hib 2, Polio 3
1 bulan
4 bulan DPT-HB-Hib 3, Polio 4,
IPV
9 bulan Campak
(Sumber : Permenkes RI, 2017)
Catatan :
1) Pemberian Hepatitis B paling optimal diberikan pada bayi <24 jam pasca persalinan,
dengan didahului suntikan vitamin K1 2-3 jam sebelumnya, khusus daerah dengan akses
sulit, pemberian Hepatitis B masih diperkenankan sampai <7 hari.
2) Bayi lahir di Institusi Rumah Sakit, Klinik dan Bidan Praktik Swasta, Imunisasi BCG
dan Polio 1 diberikan sebelum dipulangkan.
3) Pemberian BCG optimal diberikan sampai usia 2 bulan, dapat diberikan sampai usia <1
tahun tanpa perlu melakukan tes mantoux.
4) Bayi yang telah mendapatkan Imunisasi dasar DPT-HB-Hib 1, DPT-HB- Hib 2, dan
DPT-HB-Hib 3 dengan jadwal dan interval sebagaimana Tabel 1, maka dinyatakan
mempunyai status T2.
5) IPV mulai diberikan secara nasional pada tahun 2016.
6) Pada kondisi tertentu, semua jenis vaksin kecuali HB 0 dapat diberikan sebelum bayi
berusia 1 tahun.
2). Imunisasi Lanjutan
Tabel 2.2 Jadwal Imunisasi Lanjutan Pada Anak Bawah Dua Tahun (Baduta)
Umur Jenis Imunisasi Interval minimal setelah imunisasi dasar
DPT-HB-Hib 12 bulan dari DPT-HB-Hib 3
Campak 6 bulan dari Campak dosis
18 bulan
Pertama
(Sumber : Permenkes RI, 2017)
2.4 Konsep Dasar Coronavirus Disease 2019 (COVID- 19)
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit saluran napas yang disebabkan oleh
virus corona jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Covid-19
pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir tahun 2019 dan dikenal dengan nama Novel
Corona Virus 2019 atau SARS Coronavirus 2. COVID-19 dapat mengenai siapa saja, tanpa
memandang usia, status sosialekonomi dan sebagainya.
Tanda dan gejala COVID-19 pada anak sulit dibedakan dari penyakit saluran pernapasan
akibat penyebab lainnya. Gejala dapat berupa batuk pilek seperti penyakit common cold atau
selesma, dengan atau tanpa demam, yang umumnya bersifat ringan dan akan sembuh sendiri.
Penyakit saluran pernafasan menjadi berbahaya apabila menyerang paru-paru, yaitu menjadi
radang paru atau yang disebut pneumonia. Gejala pneumonia adalah demam, batuk, dan kesulitan
bernafas yang ditandai dengan nafas cepat dan sesak nafas.
3 Langkah-langkah pencegahan level individu
1) Memberi pengertian pada anak untuk beraktifitas di dalam rumah. Jelaskan prinsip physical
distancing, menjaga jarak minimal 1 m untuk menghindari kontak antara orang sehat dengan orang yang
mungkin sakit.
2) Membiasakan anak mencuci tangannya lebih sering yaitu sebelum makan, setelah buang air,
sebelum dan setelah melakukan aktivitas (bermain, menyentuh hewan, dsb). Penggunaan
hand sanitizer hanya alternative apabila tidak tersedia air dan sabun, misalnya jika jauh dari sarana
cuci tangan.
3) Mengingatkan anak untuk tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci
tangan
 memakai masker (masker kain) untuk mencegah penularan melalui batuk dan bersin
 Segera mandi, cuci rambut dan mengganti baju sesampainya di rumah setelah berpergian
 Membersihkan benda- benda yang sering disentuh seperti perabot, gagang pintu, mainan,
gawai dan lain-lain dengan desinfektan secara berkala
 Orang tua mengajari anak untuk menerapkan praktik pencegahan infeksi dengan metode
menarik:
 Cuci tangan dengan air bersih dan sabun,
 menyanyikan lagu sambil mencuci tangan untuk berlatih mencuci tangan
atau menggunakan handrub minimal selama 40-60 detik

 memberi hadiah untuk mencuci tangan yang sering / tepat waktu

 Etika bersin, batuk

Gunakan boneka untuk menunjukkan gejala bersin, batuk dan menutup bersin atau batuk dengan
siku tangan

 Cara memakai masker

 Ajari anak mencuci tangan sebelum dan sesudah memakai masker

 Pastikan masker menutup mulut, hidung dan dagu

 Hindari menyentuh masker saat memakainya, minta anak mencuci tangan


jika menyentuh masker
 Melepas masker dengan hanya menyentuh talinya untuk segera dicuci
4 Sosialisasi dan koordinasi kepada Kader Kesehatan tentang perawatan kesehatan anak secara
mandiri yang bisa dilakukan orang tua/ keluarga di rumah, menggunakan Buku KIA. Berikan
nomor telepon tenaga kesehatan atau fasilitas kesehatan yang dapat dihubungi untuk konsultasi
atau janji temu jika memerlukan pelayanan di fasilitas kesehatan.
5 Stimulasi perkembangan dilakukan keluarga setiap saat dalam suasana menyenangkan, dan
pemantauan (deteksi) perkembangan dilakukan keluarga setiap bulan sesuai umur anak, mengacu
informasi pada Buku KIA.
Tindaklanjut hasil pemantauan (deteksi) perkembangan
 Hasil deteksi perkembangan sesuai umur anak (pemantauan perkembangan dengan Buku KIA
didapatkan hasil semua ceklist perkembangan terisi): lanjutkan stimulasi sesuai umur anak.
 Hasil deteksi perkembangan belum sesuai umur anak (pemantauan perkembangan dengan
Buku KIA didapatkan hasil salah satu atau lebih ceklist perkembangan belum terisi): maka orang
tua harus dengan sabar melakukan stimulasi beberapa kali dalam sehari selama 14 hari namun
tidak boleh ada paksaan. Jika anak tetap tidak bisa melakukan maka konsultasikan ke tenaga
kesehatan baik dokter bidan atau perawat melalui HP (handphone) ikuti nasehatnya. Jika sangat
diperlukan, maka buat janji dengan salah satu dari mereka untuk melihat kondisi anak.
6 Mengenali tanda bahaya/tanda balita sakit, mengacu informasi pada Buku KIA Selama masa
tanggap darurat pandemic COVID-19, tunda membawa anak ke fasilitas kesehatan. Jika balita anda
mengalami gejala berikut ini, berikan minum air putih yang cukup, dan segera berkonsultasi ke fasilitas
kesehatan terdekat:
1) Sakit tenggorokan
2) Batuk/pilek
Selain gejala diatas, kenali tanda bahaya yang memerlukan konsultasi ke fasilitas kesehatan:
1) Sesak napas atau biru pada bibir
2) Diare terus menerus atau muntah disertai lemas
3) Nyeri perut hebat
4) Perdarahan terus menerus
5) Kejang atau penurunan kesadaran atau kelumpu- han

6) Demam tinggi 3 hari atau demam pada bayi baru lahir

7) Kecelakaan
Keracunan, menelan benda asing, digigit hewan berbisa
7. saat berobat ke fasyankes, lakukan tindakan berikut:

a. Usahakan membuat janji temu dengan pemberi pelayanan agar tidak menunggu terlalu lama
b. Menggunakan masker baik ibu maupun anak, sejak dari rumah. Masker bedah lebih baik, jika
tidak ada masker kain.
c. Upayakan tidak menggunakan transportasi umum
d. Langsungcuci tangan dengan sabun dan air mengalir begitu sampai
difasyankes.
e. Jaga jarak minimal 1-2 m dengan orang sekitar dan upayakan tidak menyentuh apapun jika
tdk diperlukan.
f. Selesai pelayanan segera kembali ke rumah, ikuti protokol tatacara masuk
rumah setelah berpergian (segera mandi dan ganti baju).
8. Identifikasi anak yang memerlukan perlindungan
Pandemi COVID-19 mempengaruhi pengasuhan dan perlindungan anak karena sejumlah
kerentanan yang harus menjadi perhatian dari pihak berwenang.
Perhatian utama terkait keadaan atau status kesehatan, diberikan pada Anak tanpa Gejala (OTG),
Anak dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Anak dalam Pengawasan (PDP)
Anak dalam kelompok di atas, berdasarkan beberapa hal berikut:
 keadaan kesehatan keluarga (orang tua atau pengasuh)
 ada atau tidaknya ruang atau rumah di mana isolasi mandiri dapat dilakukan oleh anak,
termasuk ada atau tidaknya rumah lain di mana anak dapat tinggal
 ada atau tidaknya orang tua atau pengasuh lain yang dapat mengasuh anak Pada anak, dapat
terjadi beberapa kondisi berikut:
 Anak yang menjadi ODP atau PDP dengan gejala ringan tidak memiliki orang tua atau
pengasuh yang bertanggung jawab dan memiliki kapasitas untuk mengasuh anak, ATAU tidak
memiliki tempat tinggal.
 Anak yang memiliki orang dewasa (orang tua/pengasuh/wali) yang menjalani pemeriksaan
medis ditetapkan sebagai PDP harus menjalani perawatan dalam isolasi, DAN merupakan orang
tua tunggal/pengasuh tunggal
Dalam 2 kondisi di atas, orang tua/pengasuh/wali menghubungi Dinas Sosial untuk membahas dukungan
ke keluarga dan/atau pengaturan pengasuhan sementara
 Anak PDP dan harus menjalani prosedur perawatan dalam isolasi, orang tua/ pengasuh/ wali
harus diberikan edukasi bagaimana cara isolasi/karantina anak di rumah, yaitu sebagai berikut:
 Anak dan orangtua/ pengasuh menggunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lain

 Jika tidak memungkinkan kamar terpisah, maka seluruh anggota keluarga menerapkan prinsip
pencegahan infeksi dan jaga jarak dengan tetap menerap- kan lingkungan ramah anak

 Batasi jumlah orang yang mengasuh langsung

 Orangtua dan pengasuh memakai masker

 Lakukan kebersihan tangan sesering mungkin

 Hindari pemakaian bersama alat makan, alat mandi, handuk, pakaian dan barang-barang
lainnya.

 Hindari kontak fisik yang berisiko penularan seperti mencium

 Buang popok sekali pakai atau bekas buang air besar pasien di kamar mandi atau bungkus
rapat dengan kantong plastik lalu buang di tempat sampah
 Lakukan hal-hal yang dapat meningkatan imunitas diri pada pasien/orang
tua/pengasuh, yaitu sebagai berikut:
 Konsumsi gizi seimbang
 Aktifitas fisik/senam ringan
 Istirahat cukup
 Suplemen vitamin
2.5 Asuhan Kebidanan
2.5.1 Pengkajian Data
Pada langkah pertama dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan
baik berupa data subjektif maupun data objektif untuk mengevaluasi keadaan klien secara
lengkap.
A. Data subjektif
1) Identitas
Identitas bayi yaitu berisi identitas dari bayi nama, umur, tanggal/jam lahir, jenis kelamin, alamat.
Identitas orang tua yaitu berisi identitas dari orang tua (nama, umur, agama, pendidikan,
pekerjaan, alamat).
2) Keluhan Utama
Untuk mengetahui keluhan apa yang dialami.
3) Riwayat kesehatan sekarang
Untuk mengetahui apa saja yang dirasakan oleh klien pada saat petugas kesehatan mengkaji agar
dapat mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Untuk mengetahui apakah keluarga memiliki riwayat penyakit menahun, menular, atau menurun.
5) Riwayat Kelahiran
Mengenai bagaimana proses persalinan yang sekarang. Ditanyakan pada ibu melahirkan dimana,
penolongnya siapa, cara melahirkannya adakah penyulit, jenis kelamin bayi, berat badan lahir,
panjang badan lahir..
6) Riwayat Imunisasi
Untuk mengetahui apakah anak telah mendapatkan imunisasi lengkap atau tidak.

7) Pola Kebiasaan Sehari-hari

Untuk mengetahui pola nutrisi, eliminasi, personal higiene, dan pola istirahat bayi.

B. Data objektif
1) Pemeriksaan umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran : tidak letargi
Tanda-tanda vital : RR : normal (40-60x/menit)
Suhu : normal (36,5-37,5oC)
Nadi : normal (120-160x/menit)
2) Pemeriksaan Antropometri
- Berat badan
- Panjang badan
- Lingkar kepala
- Lingkar dada
3) Pemeriksaan fisik

Kepala : Simetris atau tidak, bersih atau tidak, ada kelainan seperti
benjolan atau tidak, ubun-ubun cembung atau cekung.
Muka : Apakah kemerahan atau pucat, kuning atau tidak.
Mata : Simetris atau tidak, sklera putih, konjuntiva merah muda, tidak
ada tanda-tanda infeksi
Hidung : Apakah simetris adakah sekret, adakah kelainan, adakah nafas
cuping hidung
Mulut : Mukosa bibi lembab atau kering, lidah bersih, adakah kelainan
Telinga : Simetris atau tidak, sejajar mata, ada serumen atau tidak.
Leher : Adakah pembesaran vena jugularis, kelenjar tyroid, dan
kelenjar limfe
Dada : Ada retraksi dada atau tidak.
Abdomen : Ada benjolan abnormal atau tidak, ada pembesaran hepar atau
tidak.
Genetalia : Bersih atau tidak, dan adakah kelainan.
Anus : Bersih atau tidak adakah antresia ani, hemoroid, fistula.
Ekstremitas : Apakah bergerak aktif, adakah kelainan
Reflek : Reflek moro
Reflek rooting
Reflek walking
Reflek graps
Reflek tonickneck
Reflek babinsky
2.5.2 Diagnosa/Masalah
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa, masalah dan kebutuhan
klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang dikumpulkan.
2.5.3 Diagnosa Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi diagnosa potensial berdasarkan rangkaian masalah dan
diagnosa yang sudah diidentifikasi, langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan
dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa
potensial ini benar-benar terjadi.
2.5.4 Tindakan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan ditangani bersama dengan
anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
2.5.5 Rencana Tindakan dan Rasional
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah
sebelumnya.
1. Beritahu hasil pemeriksaan kepada ibu/keluarga
R/ ibu/keluarga mengetahui keadaan bayi
2. Jelaskan pada ibu manfaat imunisasi HB0
R/ ibu mengetahui manfaat imunisasi HB0
3. Siapkan alat dan bahan imunisasi HB0
R/ proses imunisasi berjalan lancar
4. Berikan Imunisasi HB0
R/ Bayi mendapat kekebalan terhadap virus hepatitis
5. Lakukan Pendokumentasian
R/ Sebagai bukti fisik

2.5.6 Pelaksanaan Rencana Tindakan


Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah 5
dilaksanakan secara efisien dan aman.

2.5.7 Evaluasi
Pada langka ini dilakukan evaluasi ke efektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi
pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan
sebagaimana telah diidentifikasi didalam masalah dan diagnosa. Tahapan tersebut dianggap efektif
jika memang benar efektif dalam pelaksanannya. Ada kemampuan bahwa sebagian rencana
tersebut telah efektif sedang sebagian belum.
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN HOLISTIK PADA BALITA

Tempat Pengkajian : Ruang SDIDTK Puskesmas Simomulyo Surabaya


Tanggal Pengkajian : 05-01-2020
Pengkaji : Ernawati

3.1 Data Subjektif

3.1.1 Identitas
1. Identitas Anak
Nama : An. “R”
Umur : 2 Tahun 4 bulan 8 hari
Tanggal Lahir : 26-08-2018
Jenis Kelamin : Laki-laki
Anak Ke :4

2. Identitas Orang Tua


Nama : Ny “W” Tn. “S”
Usia : 41 tahun 41 tahun
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SD SD
Pekerjaan :Tidak Bekerja Wiraswasta
Alamat : Simo jawar

3.1.2 Keluhan Utama


Tidak ada keluhan, ibu mengatakan anak sehat dan ingin mengimunisasikan anaknya

3.1.3 Riwayat Kehamilan Persalinan


UK saat dilahirkan :39 minggu
Jenis Persalinan :Normal
Penyulit Kehamilan:Tidak ada
Penyulit Persalinan:Tidak ada
3.1.4 Riwayat Kesehatan Klien

Imunisasi Tanggal
HB 0 27/08/18
BCG, Polio 1 11/10/18
DPT/HB/HIB 1, Polio 2 15/11/18
DPT/HB/HIB 2, Polio 3 13/12/18
DPT/HB/HIB 3, Polio 4 17/01/19
Campak 13/06/19
IPV 14/03/19
Penta Booster 1/12/20
3.1.5 Riwayat penyakit lalu

Anak pernah sakik demam, batuk, pilek, diare tetapi tidak sampai dirawat di Puskesmas/Rumah sakit. Anak
tidak memiliki Riwayat penyakit menular maupun menurun
3.1.6 Riwayat Kesehatan Keluarga Klien

Dalam keluarga tidak ada Riwayat penyakit menurun seperti hipertensi, DM, jantung, asma maupun
penyakit menular seperti TBc, hepatitis, HIV
3.1.7 Pola Aktivitas Sehari hari

Nutrisi :Makan 2-3x perhari dengan porsi sedikit dengan menu nasi,lauk,sayur, buah dan susu kadang-
kadang
Eliminasi :BAK 6-8 kali perhari, BAB 1 kali perhari
Pola Aktivitas: Bermain dengan keluarga dan teman
Istirahat : Tidur siang 3-4 jam per hari
Tidur malam ± 10 jam
Personal Hygiene : Mandi 2 kali per hari
3.1.8 Keadaan Psikologi Sosial Budaya

Anak ini merupakan anak yang diinginkan, dalam keluarga (kehamilan direncanakan) tidak ada
kebiasaan/budaya dalam keluarga yang merugikan
3.2 Data Objektif
3.2.1 Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital:
Tekanan Darah
Suhu :36,6
Nadi :84x/menit
Respirasi :22x/menit
Pemeriksaan Antropometri
Tinggi Badan :80 cm
Berat Badan :8,4 kg
Lingkar kepala :46 cm
Pemeriksaan DDTK
Pemeriksaan BB/TB
BB :8,4
TB :80
Jika diliat BB menurut TB didapatkan bahwa anak dalam kategori kurus (dibawah garis merah (BGM))
Interpretasi
BB/TB anak terletak pada <-2 SD s/d -3 SD (Kurus)
Kesimpulan: Kurus
Pemeriksaan LK
LK: 46
Interpretasi: LK berada didalam jalur hijau
Kesimpulan : Normal
KPSP: Ya=10
Interpretasi: Sesuai
Kesimpulan: Perkembangan anak sesuai usia
TDD : Ya=5 (Ya semua)
Interpretasi :Tidak ada gangguan daya dengar
Kesimpulan: Normal
Chat: 14 Ya (Ya semua)
Interpretasi:Normal
Pemeriksaan Fisik
1. Kepala : rambut hitam, tidak rontok, bersih
2. Muka : Tidak pucat
3. Mata,: konjungtiva merah muda, sklera putih
4. Hidung : bersih, tidak ada secret
5. Mulut :mukosa bibir kering
6. Telinga: bersih, tidak ada cairan yang keluar
7. Leher :Tidak ada pembengkakan vena jugularis, kelenjar tiroid ataupun kelenjar
limfe
8. Dada : tidak ada retraksi dada
9. Abdomen :tidak kembung
10. Punggung :Tidak ada kelainan
11. Ekstremitas; Gerak aktif
3.2 Analisa Data

Anak Usia 28 Bulan dengan imunisasi booster MR, DDTK dengan Gizi kurang (BGM)
3.3 Penatalaksanaan
3.4.1 Menginformasikan hasil pemeriksaan dan asuhan yang akan diberikan pada anak
3.4.2 Memberikan KIE tentang
1. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dengan balita BGM

a. konseling tentang pemberian makanan balita berdasarkan umur;


b. pelayanan kesehatan balita, termasuk imunisasi dasar lengkap;
c. pemberian vitamin A dan obat cacing;
BAB 2

d. edukasi tentang higiene sanitasi; termasuk pemanfaatan air bersih dan


jamban keluarga;
e. pemantauan pertumbuhan secara rutin dan stimulasi perkembangan/SDIDTK.

2. Menjelaskan tentang imunisasi MR lanjutan, efek samping dan cara penanganan


efek yang akan terjadi pada anak.
3. Melaksanakan imunisasi MR lanjutan
4. Memberikan terapi obat

Paracetamol 3x1/4 (puyer)


5. Konsultasi dengan gizi mengenai status gizi anak yang berada dibawah garis merah
(BGM)

Hasil:
-Memberikan makanan dengan menu seimbang
-Memberikan sayuran dengan dilembutkan (diblender/diparut)
-Pemberian makan porsi sedikit tetapi sering
-Pemberian taburia 15 sacshet dengan diberikan ½ sachset tiap 2 hari sekali sebagai
multivitamin dan untuk meningkatkan nafsu makan
-Dilatih untuk minum susu setiap hari
-Pola asuh anak (tidak membiasakan anak makan-makanan ringan pada jam makan
sehingga anak merasa kenyang dengan makanan ringan dan tidak mau lagi
mengonsumsi makanan berat)
6. Menjadwalkan tanggal Kembali yaitu 1 bulan lagi
Evaluasi, Ibu mengerti dan bersedia melakukan asuhan yang diberikan pada anaknya
Catatan Perkembangan :
Tanggal :19 Januari 2021
Pukul : 19.00 WIB (Via WhatsApp)
S : Tidak ada keluhan
O :
Keadaan umum : Baik BB:8,4
A : Anak Usia 28 Bulan dengan imunisasi booster MR, DDTK dengan Gizi kurang
(BGM)
P :
1. Menanyakan kepada ibu mengenai efek samping Imunisasi yang diberikan
2. Mengingatkan kepada ibu tentang pola makan, porsi makan dan menu agar anak
mendapatkan gizi seimbang dan dapat meningkatkan berat badannya
3. Mengingatkan kepada ibu untuk terus menstimulasi perkembangan anak
4. Mengingatkan pemberian taburia setiap 2 hari sekali agar nafsu makan meningkat

Evaluasi, tidak ada efek samping yang dirasakan anak setelah imunisasi, nafsu
makan anak sedikit meningkat
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan pada An “R” di Puskesmas
Simomulyo Surabaya, maka dapat disimpulkan :
1 Pengkajian data dengan mengumpulkan data An “R” yang meliputi data subyektif
dan data obyektif
Dapat menegakkan diagnosa kebidanan yaitu : Anak Usia 28 Bulan dengan imunisasi
booster MR, DDTK dengan Gizi kurang (BGM)
2 Dalam pelaksanaan asuhan kebidanan telah sesuai dan tidak terjadi kesenjangan
antara teori dan kasus.
3 Evaluasi pasien ( bersedia melaksanakan anjuran dari bidan).

4.2 Saran
1 Bagi pasien
Untuk mencapai keberhasilan dalam masa nifas diperlukan kerjasama baik antara
pasien/ orang tua pasien dan petugas kesehatan.
2 Bagi petugas kesehatan.
Untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dengan meningkatkan peran
bidan dalam tugasnya sebagai pelaksana pelayanan pasa asuhan pada balita
Daftar Pustaka

Kementerian Kesehatan RI. 2019. Pedoman Pencegahan dan Tatalaksana Gizi Buruk pada
Balita. Jakarta:Kemenkes RI
Kementerian Kesehatan RI. 2020. Panduan Pelayanan Kesehatan Anak Usia Dini
Pada Masa Tanggap Darurat COVID-19 Bagi Tenaga Kesehatan.. Jakarta:Kemenkes RI

Kementerian Kesehatan RI. 2016.Stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang
anak.. Jakarta:Kemenkes RI