Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN

PRAKTIK ASUHAN KEBIDANAN HOLISTIK PADA


BAYI SEHAT USIA 9 BULAN DENGAN IMUNISASI
MR DASAR DAN DETEKSI DINI TUMBUH
KEMBANG SESUAI
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIMOMULYO SURABAYA

Nama Mahasisawa : Nada Nazilatul ilma


NIM : P27824620029

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.


BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA
MANUSIA KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KRMENTERIAN KESEHATAN
SURABAYA JURUSAN KEBIDANAN
PRODI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
TAHUN 2020
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Asuhan Kebidanan Holistik Pada Neonatus, Bayi, Balita dan Anak
Usia Prasekolah ini dilaksanakan sebagai dokumen/laporan praktik Blok 6
yang telah dilaksanakan di Puskesmas Simomulyo Surabaya periode praktik
tanggal
30 November 2020 - 27 Februari 2021

Surabaya, 06 Januari 2021

Nada Nazilatul Ilma

Pembimbing Lahan Pembimbing Pendidikan 1 Pembimbing Pendidikan 2

Al Usnaini, SST., M.Kes. Kharisma K, SST., M.Keb. Dwi Purwanti, S.Kp., SST., M.Kes.
NIP.196301021988032006 NIP.198103232008012014 NIP: 196702061990032003

Mengetahui,

Kepala Puskesmas Ketua Program Studi

drg. Dharmawati Zahara Evi Pratami, SST., M.Keb


NIP.195707141981032008 NIP. 197905242002122001
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas semua berkat dan rahmat kasih yang
dianugerahkan-Nya sehingga dapat terselesaikannya Laporan Asuhan Kebidanan
Holistik Pada Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Usia Prasekolah ini dilaksanakan
sebagai dokumen/laporan praktik Blok 6 yang telah dilaksanakan di Puskesmas
Simomulyo Surabaya, sebagai salah satu syarat menyelesaikan Prodi Pendidikan
Profesi Bidan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya.
Dalam laporan ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak,
karena itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
:
1. drg. Bambang Hadi Sugito, M.Kes., selaku Direktur Politeknik Kesehatan
Kemenkes Surabaya.
2. drg. Dharmawati Zahara, selaku Kepala Puskesmas Simomulyo Surabaya yang
telah memberikan kesempatan praktik klinik .
3. Astuti Setiyani, SST., M.Kes., selaku Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik
Kesehatan Kemenkes Surabaya.
4. Evi Pratami, SST., M.Keb., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Profesi
Bidan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya.
5. Kharisma K, SST., M.Keb., selaku pembimbing I yang banyak memberikan
petunjuk, koreksi dan saran sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
6. Dwi Purwanti, S.Kp., SST., M.Kes., selaku pembimbing II yang banyak
memberikan petunjuk, koreksi dan saran sehingga laporan ini dapat
terlaksanakan.
7. Al Usnaini, SST., M.Kes., selaku bidang koordinasi KIA yang banyak
memberikan ilmu, petunjuk dan saran sehingga laporan ini dapat terselesaikan
8. Ibu-ibu yang berkenan membantu memberikan informasi dan atas kerja samanya
yang baik antara petugas dan klien.

Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal baik yang
telah diberikan dan semoga laporan ini berguna bagi semua pihak yang
memanfaatkan.
Surabaya, 06 Januari 2021

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Imunisasi merupakan salah satu upaya pencegahan kematian pada bayi

dengan memberikan vaksin. Dengan imunisasi, seseorang menjadi kebal

terhadap penyakit khususnya penyakit infeksi. Dengan demikian, angka

kejadian penyakit infeksi akan menurun, kecacatan serta kematian yang

ditimbulkannya akan berkurang (Cahyono, 2010).

Vaksin yang pertama kali dibuat adalah vaksin cacar (smallpox). Pada

tahun 1778, Edward Jenner, berhasil mengembangkan vaksin cacar dari

virus cacar sapi atau cowpox. Sebelum ditemukan vaksin cacar, penyakit

ini sangat ditakuti masyarakat karena sangat mematikan, bahkan penyakit

ini sempat menyebar ke seluruh dunia dan menelan banyak jiwa (Achmadi,

2011). Namun saat ini, kejadian penyakit cacar jarang ditemukan karena

WHO telah berhasil memberantasnya melalui program imunisasi. Tidak

hanya cacar (smallpox), angka kejadian penyakit-penyakit infeksi lain juga

menurun dengan ditemukannya vaksin terhadap penyakit-penyakit tersebut

(Depkes, 2010).

Masa balita adalah masa keemasan (golden period) yaitu masa puncak

pertumbuhan dan perkembangan anak. Masa yang sangat peka terhadap

lingkungan dan tidak tidak dapat diulang lagi. Setiap orang tua

menginginkan anak yang sehat, cerdas, sholeh, berkualitas dan sukses di

masa depan, demikian juga setiap bangsa menginginkan mempunyai

generasi penerus yang mampu bersaing dan unggul ditengah persaingan

global yang sangat kompetitif, hal ini harus dianggap sebagai suatu

investasi untuk masa depan dan hal ini juga merupakan hak anak. Salah

satu upaya untuk mendapatkan anak yang seperti diinginkan tersebut

adalah dengan melakukan upaya pemantauan pertumbuhan dan

perkembangan balita atau yang dikenal dengan nama Stimulasi Deteksi


Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK).

Upaya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak dimulai

pada umur 0 bulan sampai 72 bulan, merupakan tindakan skrining atau

deteksi secara dini (terutama sebelum berumur 3 tahun) atas adanya

penyimpangan termasuk tindak lanjut terhadap keluhan orang tua terkait

masalah pertumbuhan dan perkembangan bayi, anak balita dan anak prasekolah,

kemudian penemuan dini serta intervensi dini terhadap penyimpangan kasus

tumbuh kembang akan memberikan hasil yang lebih baik. Dengan ditemukan

secara dini penyimpangan atau masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi

akan lebih mudah dilakukan. Tenaga kesehatan juga mempunyai waktu dalam

membuat rencana tindakan atau intervensi yang tepat, terutama ketika harus

melibatkan ibu dan keluarga. Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka

intervensi akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang

anak. Sehingga dengan demikian perlu dilakukan asuhan kebidanan untuk

deteksi dini tumbuh kembang balita usia 5 bulan di Puskesmas Simomulyo

Surabaya.

Strategisnya imunisasi sebagai alat pencegahan, menjadikan imunisasi

sebagai program utama suatu negara. Bahkan merupakan salah satu alat

pencegahan penyakit yang utama di dunia. Di Indonesia, imunisasi

merupakan andalan program kesehatan (Achmadi, 2006). Imunisasi bayi

dan 2 anak dipandang sebagai perlambang kedokteran pencegahan dan

pelayanan kesehatan.

Pelayanan imunisasi di Puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya

yang memberikan pelayanan imunisasi pada masa pandemi covid 19

Menggunakan ruang/tempat pelayanan yang cukup besar dengan sirkulasi

udara yang baik (dapat juga mendirikan tenda di lapangan terbuka halaman

puskesmas atau di dalam kendaraan puskesmas keliling di halaman

puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya yang memberikan layanan

imunisasi). Apabila ruang/tempat pelayanan menggunakan kipas angin,

letakkan kipas angin di belakang petugas kesehatan agar arah aliran udara

kipas angin mengalir dari tenaga kesehatan ke sasaran imunisasi.


Ruang/tempat pelayanan imunisasi tidak berdekatan atau terpisah dari poli

pelayanan anak atau dewasa sakit. Memastikan ruang/tempat pelayanan

bersih dengan membersihkan sebelum dan sesudah pelayanan dengan

cairan disinfektan. Tersedia fasilitas mencuci tangan pakai sabun dan air

mengalir atau hand sanitizer.

Atur meja pelayanan antar petugas dan orang tua agar jarak aman 1 – 2

meter. Ruang/tempat pelayanan imunisasi hanya untuk melayani bayi dan

anak sehat. Sebaiknya sediakan jalan masuk dan keluar yang terpisah bagi

sasaran imunisasi dan pengantar dengan pengunjung puskesmas yang sakit.

Atur agar sasaran imunisasi dan pengantar keluar dan masuk bergantian.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan Pada
Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Usia Prasekolah dan dokumentasi
soap.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Penulis dapat melaksanakan pengkajian Pada
Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Usia Prasekolah
baik data subyektif maupun data obyektif.
2. Penulis dapat membuat interpretasi data yang tepat Pada Neonatus,
Bayi, Balita dan Anak Usia Prasekolah.

3. Penulis dapat mementukan diagnosa atau masalah


potensial dan antisipasi Pada Neonatus, Bayi, Balita
dan Anak Usia Prasekolah
1.3 Pelaksanaan
Pelaksanaan Praktik Klinik Mahasiswa Semester ProgramStudi
Pendidikan Profesi Bidan Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes
Surabaya dilaksanakan di Puskesmas Simomulyo Surabaya pada tanggal
30 November 2020 s/d 27 Februari 2021.
BAB 2
TINJAUN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Bayi


2.1.1 Pengertian Bayi

Bayi merupakan mahluk yang sangat peka dan halus (Choirunisa, 2009).
Masa bayi adalah saat bayi berumur satu bulan sampai dua belas bulan (Anwar,
2011). Masa bayi dimulai dari usia 0–12 bulan ditandai dengan pertumbuhan dan
perkembangan fisik yang cepat disertai dengan perubahan dalam kebutuhan gizi
(Notoatmodjo, 2007).Tahapan pertumbuhan pada masa bayi dibagi menjadi masa
neonatus dengan usia 0-28 hari dan masa pasca neonatus dengan usia 29 hari-12
bulan (Nursalam,2013). Masa bayi merupakan bulan pertama kehidupan kritis karena
bayi akan mengalami adaptasi terhadap lingkungan, perubahan sirkulasi darah, serta
mulai berfungsinya organ-organ tubuh, dan pada pasca neonatus bayi akan
mengalami pertumbuhan yang sangat cepat (Perry &Potter, 2005).Masa bayi dimulai
dari usia 0–12 bulan ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik yang
cepat disertai dengan perubahan dalam kebutuhan gizi (Notoatmodjo, 2011).
Bayi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu bayi cukup bulan, bayi
premature, dan bayi dengan berat bayi lahir rendah (BBLR) (Hayati, 2009). Bayi
(Usia 0-11 bulan) merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat yang
mencapai puncaknya pada usia 24 bulan, sehingga kerap diistilahkan sebagai periode
emas sekaligus periode kritis (Goi, 2010)
2.1.2 Tahap pertumbuhan dan perkembangan bayi
Pertumbuhan adalah sesuatu yang berkaitan dengan perubahan baik dari segi
jumlah, ukuran, dan dimensi pada tingkat sel, organ yang di ukur maupun individu.
Pertumbuhan pada masa anak-anak mengalami perbedaan yang bervariasi sesuai
dengan bertambahnya usia anak secara umum, pertumbuhan fisik dimulai dari arah
kepala ke kaki (cephalokauudal). Kemtangan pertumbuhan tubuh pada bagian kepala
berlangsung lebih dahulu, kemudian secara berangsur-angsur diikuti oleh tubuh 11
bagian bawah. Selanjutnya, pertumbuhan bagian bawah akan bertambah secara
teratur (Chamidah, 2009).
Ada perbedaan antara konsep pertumbuhan dan perkembangan pada bayi,
konsep pertumbuhan lebih kearah fisik, yaitu pertambahan berat tubuh bayi. Dalam
hal ini terjadi pertumbuhan organ-organ bayi seperti tulang, gigi, organ-organ dalam,
dan sebagainya. Sementara itu, konsep perkembangan lebih mengarah pada segi
psikologis, yaitu menyangkut perkembangan sosial, emosional, dan kecerdasan.
Perkembangan pada bayi terdiri dari beberapa tahap antara lain sebagai berikut
(Chamidah, 2009):
1) Periode usia 0-1 bulan (periode neonatus/bayi awal): terjadi
penyesuaian sirkulasi darah dan insiasi pernapasan serta fungsi lain.
2) Periode usia 1 bulan sampai dengan 1 tahun (periode bayi tengah):
terjadi pertumbuhan yang cepat dan maturasi fungsi terutama pada
saraf. Maturasi fungsi adalah pemataangan fungsi-fungsi organ tubuh,
misalnya pada organ pencernaan dari hanya bias mencerna susu
hingga dapat mencerna makanan padat.
3) Periode usia 1-2 tahun (periode bayi akhir): terjadi perkembangan
motoric besar dan halus, control fungsi ekskresi (buang air besar) dan
pertumbuhan lambat.
2.1.3 Ciri-ciri Pertumbuhan Hidayat (2009),
menyatakan bahwa seseorang dikatakan mengalami pertumbuhan bila terjadi
perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi
badan/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada, perubahan
proporsi yang terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari
masa konsepsi sampai dewasa, terdapat ciri baru yang secara 12 perlahan mengikuti
proses kematangan seperti adanya rambut pada daerah aksial, pubis atau dada,
hilangnya ciri-ciri lama yang ada selama masa pertumbuhan seperti hilangnya
kelenjar timus, lepasnya gigi sus, atau hilangnya refleks tertentu.
2.1.4 Parameter Pertumbuhan Bayi
Pengukuran pertumbuhan pada bayi yang dijadikan patokan adalah berat
badan dan tinggi badan. Pengukuran berat badan digunakan untuk menilai hasil
peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, misalnya tulang,
otot, lemak, organ tubuh, dan cairan tubuh sehingga dapat diketahui status keadaan
gizi atau tumbuh kembang anak. Selain itu berat badan juga dapat digunakan sebagai
dasar perhitungan dosis dan makanan yang diperlukan dalam tindakan pengobatan.
Pada usia beberapa hari, berat badan bayi mengalami penurunan yang sifatnya
normal, yaitu sekitar 10% dari berat badan waktu lahir. Hal ini disebabkan karena
keluarnya mekonium dan air seni yang belum diimbangi dengan asupan yang
mencukupi, misalnya produksi ASI yang belum lancar dan berat badan akan kembali
pada hari kesepuluh (Hidayat, 2009).
Bayi akan memiliki berat badan 2 kali berat lahirnya pada umur 5 sampai 6
bulan dan 3 kali berat lahirnya pada umur 1 tahun. Berat badannya bertambah 4 kali
lebih banyak dalam 2 tahun, 5 kali lebih banyak dalam 3 tahun, 6 kali lebih banyak
dalam 5 tahun dan 10 kali lebih banyak dalam 10 tahun. Rata-rata pertambahan pada
bayi adalah 90-150 gram/minggu (Dintansari dkk., 2010).
Pengukuran pertumuhan pada bayi selain berat badan adalah panjang badan.
Pengukuran panjang badan dilakukan ketika anak terlentang. Pengukuran panjang 14
badan digunakan untuk menilai status perbaikan gizi. Panjang badan bayi baru lahir
normal adalah 45-50 cm dan berdasarkan kurva pertumbuhan yang diterbitkan oleh
National Center For Health statistic (NCHS), bayi akan mengalami penambhan
panjang badan sekitar 2,5 cm setiap bulannya. Penambhan tersebut akan berangsur-
angsur berkurang sampai usia 9 tahun, yaitu hanya sekitar 5 cm/tahun dan
penambahan ini akan berhenti pada usia 18-20 tahun (Ernawati dkk., 2014).
2.2 Konsep Dasar Imunisasi
2.2.1 Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap
suatu penyakit dengan memberikan “infeksi ringan” yang tidak berbahaya namun
cukup untuk menyiapkan respons imun, sehingga apabila kelak terpajan pada
penyakit tersebut ia tidak menjadi sakit (Ranuh dkk, 2017).
Imunisasi dasar diberikan pada bayi sebelum berusia satu tahun. Terdiri atas
imunisasi terhadap penyakit hepatits B, poliomyelitis, tuberkulosis, difteri, pertussis,
tetanus, pneumonia dan meningitis, dan campak (Kemenkes RI, 2017).
2.2.2 Tujuan imunisasi
Tujuan dalam pemberian imunisasi antara lain :
1. Meningkatkan kualitas hidup anak sehingga tidak terkena penyakit
2. Meningkatkan nilai kesehatan orang di sekitarnya
3. Menurunkan angka morbiditas, moralitas dan cacat serta bila mungkin
didapat eradikasi suatu penyakit dari suatu daerah atau negeri (Ranuh
dkk, 2017).
2.2.3 Manfaat imunisasi
Manfaat imunisasi bagi anak dapat mencegah penyakit cacat dan kematian,
sedangkan manfaat bagi keluarga adalah dapat menghilangkan kecemasan dan
mencegah biaya pengobatan yang tinggi bila anak sakit. Bayi yang mendapat
imunisasi dasar lengkap akan meningkatkan kualitas hidup anak sehingga tidak
terkena penyakit dan peningkatan nilai kesehatan orang disekitarnya (Ranuh dkk,
2017).
2.2.4 Macam-macam imunisasi
Imunitas atau kekebalan dibagi menjadi dua hal yaitu aktif dan pasif. Aktif
apabila tubuh anak ikut menyelenggarakan terbentuknya imunitas, sedangkan pasif
adalah apabila tubuh anak tidak bekerja membentuk kekebalan, tetapi hanya
menerimanya saja (Ranuh dkk, 2017).
munisasi aktif, adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah
dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi
antibodi sendiri. Contohnya imunisasi polio atau campak. Keuntungan imunisasi aktif
yaitu pertahanan tubuh yang terbentuk akan dibawa seumur hidup, murah dan efektif,
tidak berbahaya, reaksi yang serius jarang terjadi (Ranuh dkk, 2017).
Imunisasi pasif adalah pemberian antibodi kepada resipien, dimaksudkan
untuk memberikan imunitas secara langsung tanpa 16 harus memproduksi sendiri zat
aktif tersebut untuk kekebalan tubuhnya. (Ranuh dkk, 2017).
2.2.5 Waktu pemberian Imunisasi Dasar
Umur Jenis Interval minimal untuk
jenis Imunisasi yang sama
0-24 jam Hepatitis B
1 bulan BCG, Polio 1
2 bulan DPT-HB-Hib 1, Polio 2
3 bulan DPT-HB-Hib 2, Polio 3
1 bulan
4 bulan DPT-HB-Hib 3, Polio 4, IPV
9 bulan Campak

Keterangan :
1) Hepatitis B Imunisasi Hepatitis B dianjurkan pada umur umur <12 jam,

namun ditambahkan keterangan setelah penyuntikan vitamin K1. Hal

tersebut penting untuk mencegah terjadinya perdarahan akibat defisiensi

vitamin K. Vaksin HB monovalen pada usia satu bulan tidak perlu

diberikan apabila anak akan mendapat vaksin DTP-HB- HiB pada umur dua

bulan (Ranuh dkk, 2017).

2) BCG (Bacillus Calmette Guerin).

Imunisasi BCG pada bayi optimal diberika pada bayi usia <3 bulan,

namun sebaiknya diberikan sesegera mungkin karena di Indonesia penyakit

TBC masih sangat tinggi. Apabila bayi berusia 3 bulan belum diberikan

imunisai BCG perlu dilakukan tetuberculin untuk mendeteksi bayi

terinfeksi kuman TB atau belum (Ranuh dkk, 2017).

3) Pentavalen

Imunisasi pentavalen diberikan tiga kali yaitu pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Vaksin pentavalen tidak diberikan pada anak kurang dari usia 6 minggu,

disebabkan respons terhadap pertussis dianggap tidak optimal, sedang

respons terhadap toksoid tetanus dan difteria cukup baik tanpa

memperdulikan adanya antibodi maternal, disamping itu KIPI pada usia <6

minggu lebih tinggi (Ranuh dkk, 2017). Jadwal pemberan imunisasi

pentavalen yang tidak diikuti akan memberikan tingkat kekebalan yang

berbeda (Kemenkes RI, 2014).

4) Polio

Imunisasi IPV (inactivated poliovirus vaccine) diberikan mulai dari umur 2

3 bulan dengan dosis tiga kali berturut-turut dengan interval waktu 6-8
minggu. Imunisasi IPV dapat diberikan bersamaan dengan suntikan vaksin

pentavalen (Ranuh dkk, 2017).

5) MR (Measles dan Rubella)

Kementerian Kesehatan RI (2017) akan mengupayakan penambahan vaksin

untuk melengkapi Program Imunisasi Nasional dasar, salah satu diantaranya

yaitu vaksin Measles Rubella (MR). Pemberian vaksin MR dilatarbelakangi

oleh sindrom rubella konginetal yang kejadiannya semakin meningkat.

Vaksin ini digunakan sebagai pengganti vaksin campak monovalen.

Imunisasi MR diberikan pada anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari

15 tahun mulai akhir tahun 2017 secara bertahap (Kemenkes RI, 2017).

2.2.6 Jenis imunisassi dasar

1. Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin)

Vaksin BCG merupakan vaksin beku kering yang mengandung

Mycobacterium bovis hidup yang dilemahkan. Vaksin BCG tidak

mencegah infeksi tuberculosis tetapi mengurangi resiko tuberculosis berat

dan tuberkulosa primer. Imunisasi BCG diberikan pada bayi <3 bulan, atau

pada anak dengan uji tuberkulin negatif. Vaksin BCG diberikan secara

intrakutan di daerah lengan kanan atas pada insersio M. Deltoideus sesuai

anjuran WHO dengan dosis 0,05 mL (Ranuh dkk, 2017).

Kontraindikasi imunisasi BCG antara lain bayi yang mengalami

defisiensi sistem kekebalan, reaksi uji tuberkulin >5 mm, demam tinggi,

terinfeksi HIV asimtomastis maupun simtomatis, adanya penyakit kulit

yang berat/menahun, atau sedang menderita TBC (Ranuh dkk, 2017).

KIPI yang terjadi yaitu reaksi lokal yang timbul setelah imunisasi

BCG adalah ulkus lokal yang superfisial pada 3 minggu setelah

penyuntikkan. Ulkus tertutup krusta, akan sembuh dalam 2- 3 bulan, dan

meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm.Apabila dosis terlalu

tinggi maka ulkus yang timbul lebih besar, namun apabila penyuntikkan

terlalu dalam maka parut yang terjadi tertarik ke dalam (Ranuh dkk, 2017).

2. Imunisasi Hepatitis B
Vaksin Hepatitis B adalah vaksin virus rekombinan yang telah

dinonaktivasikan dan bersifat non-infecious. Pemberian imunisasi ini

bertujuan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit hepatitis B.

Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml, pemberian suntikan secara

intramuskuler, sebaiknya anteroateral paha. Pemberian sebanyak 3 dosis,

dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan interval

minimum 4 minggu (Ranuh dkk, 2017).

KIPI yang terjadi yaitu reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan

pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi ringan dan

biasanya hilang setelah 2 hari. Kontraindikasi pemberian vaksin hepatitis B

pada bayi yang memiliki riwayat anafilaksis setelah vaksinasi hepatitis B

sebelumnya (Ranuh dkk, 2017).

3. Imunisasi Pentavalen

Vaksin Pentavalen (Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B

Rekombinan, Haemophilus influen-zae tipe b) berupa suspensi homogen

yang mengandung toksoid tetanus dan difteri murni, bakteri pertussis (batuk

rejan) inaktif, antigen permukaan HepatitisB (HbsAg) murni yang tidak

infeksius dan komponen HiB sebagai vaksin bakteri sub unit berupa kapsul

polisakarida Haemophilus influenza tibe B tidak infeksius yang

dikonjugasikan kepada protein toksoid tetanus. Indikasi digunakan untuk

pencegahan terhadap difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, dan infeksi

Haemophilus influenza tibe b secara simultan (Ranuh dkk, 2017).

Vaksin ini harus disuntikkan secara intramuskular pada anterolateral

paha atas, dengan dosis anak 0,5 ml. kontraindikasi pemberian vaksin ini

adalah riwayat anafilaksis pada pemberian vaksin sebelumnya, ensefalopati

sesudah pemberian vaksin pertusis sebelumnya, keadaan lain dapat

dinyatakan sebagai perhatian khusus (precaution). Riwayat kejang dalam

keluarga dan kejang yang tidak berhubungan dengan pemberian vaksin

sebelumnya bukanlah suatu kontraindikasi terhadap pemberian vaksin ini

(Ranuh dkk, 2017).


KIPI yang terjadi reaksi local kemerahan, bengkak, dan nyeri pada

lokasi injeksi, demam ringan, anak gelisah dan menangis terus menerus, dan

lemas (Ranuh dkk, 2017).

4. Imunisasi Polio

Imunisasi polio yaitu proses pembentukan kekebalan terhadap

penyakit polio. Vaksin yang digunakan yaitu IPV (Inactivated Polio Vaccine)

yang berisis virus polio virulen yang sudah diinaktivasi/dimatikan dengan

panas dan formaldehid.

Vaksin IPV meningkatkan antibodi humoral dengan cepat. Namun,

Vaksin IPV sedikit memberikan kekebalan lokal pada dinding usus sehingga

virus polio masih dapat berkembang biak dalam usus orang yang telah

mendapat IPV saja. Hal ini memungkinkan terjadinya penyebaran virus ke

sekitarnya, yang membahayakan orang-orang disekitarnya, sehingga vaksin

ini tidak dapat mencegah penyebaran virus polio liar. IPV tidak dipergunakan

untuk eradikasi polio, namun dapat mencegah kelumpuhan baik akibat virus

polio liar atau virus polio vaksin sabin (Ranuh dkk, 2017).

Kontraindikasi umumnya pada imunisasi : vaksinasi harus ditunda

pada mereka yang sedang menderita demam, penyakit atau penyakit kronis

progresif. Hipersensitif pada saat pemberian vaksin ini sebelumnya. Penyakit

demam akibat infeksi akut : tunggu sampai sembuh (Ranuh dkk, 2017).

KIPI yang terjadi reaksi lokal pada tempat penyuntikan antara lain

nyeri, kemerahan, indurasi dan bengkak bisa terjadi dalam waktu 48 jam

setelah penyuntikan dan bisa bertahan selama satu atau dua hari. Kejadian

dan tingkat keparahan dari reaksi lokal tergantung pada tempat dan cara

penyuntikan serta jumlah dosis yang sebelumnya diterima. Reaksi sistemik

yang ditimbulkan demam dengan atau tanpa disertai myalgia, sakit kepala

atau limfadenopati (Ranuh, 2017).

5. Imunisasi MR (Measles dan Rubella)

Campak dan Rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran


nafas yang disebabkan oleh virus. Campak dapat menyebabkan komplikasi

yang serius seperti diare, radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis),

kebutaan bahkan kematian. Rubella biasanya berupa penyakit ringan pada

anak, akan tetapi bila menulari ibu hamil pada trimester pertama dapat

menyebabkan keguguran atau kececatn pada bayi yang dilahirkan. Kecacatan

tersebut dikenal segabai Sindroma Rubella Konginetal di antaranya meliputi

kelainan pada jantung dan mata, ketulian dan keterlambatan perkembangan

(Kemenkes RI, 2017).

Kontraindikasi pemberian vaksin MR adalah anak dengan penyekit

keganasan yang tidak diobati atau gangguan imunitas, yang mendapat

pengobatan dengan imunosupresif atau terapi sinar atau mendapat steroid

dosis tinggi. Anak dengan alergi berat gelatin atau neomisin. Anak yang

mendapat vaksin hidup yang lain harus di tunda minimal 1 bulan setelah

imunisasi yang terakhir. Vaksin MR tidak boleh diberikan dalam waktu 3

bulan setelah pemberian immunoglobulin atau transfusi darah (Ranuh dkk,

2017).

KIPI yang terjadi yaitu dapat terjadi malaise (lemas), demam dan

ruam yang berlangsung 7-12 hari setelah imunisasi dan pada umumnya

berlangsung selama 1-2 hari (Ranuh dkk, 2017).

2.3 Landasan teori DDTK

2.3.1 Pengertian

Deteksi dini tumbuh kembang anak/balita adalah kegiatan atau pemeriksaan

untuk menemukan secara dini adaaya penyimpangan tumbuh kembang pada

balita dan anak pra sekolah.

Pertumbuhan adalah betumbahnya ukuran fisik (anatomi) dan stuktur tubuh

dalam arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah

banyak) sel-sel tubuh dan juga karena adanya pertambahan besamya sel. Jadi,

pertumbuhan lebih ditekankan pada pertambahan ukuan fisik seseorang yaitu

menjadi lebih besar atau lebih matang bentuknya, seperti pertambahan ukuran

berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala Perkembangan adalah serangkaian
perubahan progresif yang teratur sebagai akibat kematangan. Pengertian

perubahan progresif adalah perubahan menuju kemajuan. Pengertian teratur

berarti dalam perkembangan terdapat interelasi antara tugas-tugas

perkembangan sebelumnya, saai ini, dan persiapan menghadapi tugas

perkembangan selanjutnya (Zan Peter,S.Pi, Herri.2010).

Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih

kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta

sosialisasi dan kemandirian.

Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda

dengan pertumbuhan,- perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan

susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan

sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua

fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh.

Ciri-ciri dan Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak proses tumbuh

kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri ciri

tersebut adalah sebagai berikut:

1. Perkembangan menimbulkan perubahan.


Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap
pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya
perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai
pertumbuhan otak dan serabut saraf.
2. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan
perkembangan selanjutnya. Setiap anak tidak akan bisa melewati
satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya.
Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa
berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan
bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat.
Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena
akan menentukan perkembangan selanjutnya
3. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang
berbeda. Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai
kecepatan yang berbedabeda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun
perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing
anak.
4. Perkembangan berkore/asi dengan pertumbuhan.Pada saat
pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian,
terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-
lain. Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi
badannya serta bertambah kepandaiannya.
5. Perkembangan mempunyai pola yang tetap perkembangan fungsi
organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu:
a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala,
kemudian menuju ke arah kaudal/anggota tubuh (pola
sefalokaudal).
b. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak
kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang
mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).
6. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.tahap perkembangan
seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap
tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu
mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak,
anak mampu berdiri sebelum berjalan dan sebagainya

2.3.2 Tahapan perkembangan anak menurut umur


Umur 0-3 bulan
* Mengangkat kepala setinggi 45*
* Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah.
* Melihat dan menatap wajah anda.
* Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh.
* Suka tertawa keras.
* Beraksi terkejut terhadap suara keras.
* Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum.
* Mengenal ibu dengan penglihatanm penciuman, pendengaran, kontak.
Umur 3-6 bulan
* Berbalik dari telungkup ke terlentang.
* Mengangkat kepala setinggi 90*
* Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil.
* Menggenggam pensil.
* Meraih benda yang ada dalam jangkauannya.
* Memegang tangannya sendiri.
* Berusaha memperluas pandangan.
* Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil.
* Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik.
* Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat bermain sendiri.

Umur 6-9 bulan


* Duduk (sikap tripoid - sendiri)
* Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan.
* Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang.
* Memindahkan benda dari tangan satu ke tangan yang lain.
* Memungut 2 benda, masing-masing lengan pegang 1 benda pada saat yang bersamaan.
* Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup.
* Bersuara tanpa arti, mamama, bababa, dadada, tatata.
* Mencari mainan/benda yang dijatuhkan.
* Bermain tepuk tangan/ciluk baa.
* Bergembira dengan melempar benda.
* Makan kue sendiri.

Umur 9-12 bulan


* Mengangkat benda ke posisi berdiri.
* Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi.
* Dapat berjalan dengan dituntun.
* Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan.
* Mengenggam erat pensil.
* Memasukkan benda ke mulut.
* Mengulang menirukan bunyi yang didengarkan.
* Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti.
* Mengeksplorasi sekitar, ingin tau, ingin menyentuh apa saja.
* Beraksi terhadap suara yang perlahan atau bisikan.
* Senang diajak bermain “CILUK BAA”.
* Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenali.

Umur 12-18 bulan


* Berdiri sendiri tanpa berpegangan.
* Membungkung memungut mainan kemudian berdiri kembali.
* Berjalan mundur 5 langkah.
* Memanggil ayah dengan kata “papa”. Memanggil ibu dengan kata “mama”
* Menumpuk 2 kubus.
* Memasukkan kubus di kotak.
* Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek, anak bisa
mengeluarkan suara yang menyenangkannatau menarik tangan ibu.
* Memperlihatkan rasa cemburu / bersaing.

Umur 18-24 bulan


* Berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik.
* Berjalan tanpa terhuyung-huyung.
* Bertepuk tangan, melambai-lambai.
* Menumpuk 4 buah kubus.
* Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk.
* Menggelindingkan bola kearah sasaran.
* Menyebut 3-6 kata yang mempunyai arti.
* Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga.
* Memegang cangkir sendiri, belajar makan - minum sendiri.

Umur 24-36 bulan


* Jalan naik tangga sendiri.
* Dapat bermain dengan sendal kecil.
* Mencoret-coret pensil pada kertas.
* Bicara dengan baik menggunakan 2 kata.
* Dapat menunjukkan 1 atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta.
* Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama 2 benda atau lebih.
* Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu mengangkat piring jika
diminta.
* Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah.
* Melepas pakiannya sendiri.

Umur 36-48 bulan


* Berdiri 1 kaki 2 detik.
* Melompat kedua kaki diangkat.
* Mengayuh sepeda roda tiga.
* Menggambar garis lurus.
* Menumpuk 8 buah kubus.
* Mengenal 2-4 warnah.
* Menyebut nama, umur, tempat.
* Mengerti arti kata di atas, dibawah, di depan.
* Mendengarkan cerita.
* Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri.
* Mengenakan celana panjang, kemeja baju.

Umur 48-60 bulan


* Berdiri 1 kaki 6 detik.
* Melompat-lompat 1 kaki.
* Menari.
* Menggambar tanda silang.
* Menggambarlingkaran.
* Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh.
* Mengancing baju atau pakian boneka.
* Menyebut nama lengkap tanpa di bantu.
* Senang menyebut kata-kata baru.
* Senang bertanya tentang sesuatu.
* Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar.
* Bicara mudah dimengerti.
* Bisa membandingkan/membedakan sesuatu dari ukuran dan bentuknya.
* Menyebut angka, menghitung jari.
* Menyebut nama-nama hari.
* Berpakian sendiri tanpa di bantu.
* Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu.
Umur 60-72 bulan
* Berjalan lurus.
* Berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik.
* Menggambar dengan 6 bagian, menggambar orang lengkap
* Menangkap bola kecil dengan kedua tangan.
* Menggambar segi empat.
* Mengerti arti lawan kata.
* Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih.
* Menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan kegunaannya.
* Mengenal angka, bisa menghitung angka 5-10
* Mengenal warna-warni
* Mengungkapkan simpati.
* Mengikuti aturan permainan.
* Berpakaian sendiri tanpa di bantu.

Jadwal Kegiatan dan Jenis Skrining


Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang Pada Balita dan Anak
Prasekolah

Jenis Deteksi Tumbuh Kembang Yang Harus


Dilakukan
Umur Anak
Deteksi Dini Deteksi Dini Deteksi Dini Penyimpangan
Penyimpangan Penyimpangan Mental Emosional
Pertumbuhan Perkembangan (dilakukan atas indikasi)
BB/TB L KPSP TDD TDL KMPE M-CHAT GPPH
K
0 bulan
3 bulan
6 bulan
9 bulan
12 bulan
15 bulan
18 bulan
21 bulan
24 bulan
30 bulan
36 bulan
42 bulan
48 bulan
54 bulan
60 bulan
66 bulan
72 bulan

Keterangan:

BB/T : Berat Badan terhadap Tinggi badan TDL : Tes Daya Lihat
B : Lingkar Kepala KMPE : Kuesioner Masalah Perilaku Emosional
LK : Kuesioner Pra Skrining M-CHAT : Modified Checklist for Autism in
KPS Perkembangan Toddlers
GPP : Gangguan Pemusatan Perhatian dan
P : Tes Daya Dengar H Hiperaktivitas
TDD

2.3.5 DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK

1. DETEKSI DINI GANGGUAN PERTUMBUHAN

Deteksi dini gangguan pertumbuhan dilakukan di semua tingkat


pelayanan. Adapun pelaksana dan alat
yang digunakan adalah sebagai berikut:
Tingkat Pelayanan Pelaksana Alat & bahan yang digunakan Yang dipantau
Keluarga, • Orang tua. • Buku KIA • Berat badan.
masyarakat. • Kader kesehatan. • Timbangan dacin
• Pendidik PAUD, • Timbangan digital
Petugas BKB, (untuk anak > 5 thn)
petugas TPA dan • Alat ukur tinggi
Guru TK. badan/panjang badan.
Puskesmas. Tenaga kesehatan • Buku KIA • Panjang/Tinggi
terlatih SDIDTK: • Tabel/Grafik BB/TB Badan
• Dokter • Tabel/Grafik TB/U • Berat Badan
• Bidan • Grafik LK • Lingkar kepala
• Perawat • Timbangan
• Ahli gizi • Alat ukur tinggi
• Tenaga kesehatan badan/panjang badang
lainnya • Pita pengukur lingkar kepala

Penentuan status gizi Anak


a. Pengukuran Berat Badan Terhadap Tinggi Badan (BB /TB) untuk
menentukan status gizi anak usia dibawah 5 tahun, apakah normal, kurus,
sangat kurus atau gemuk.
b. Pengukuran Panjang Badan terhadap umur atau Tinggi Badan terhadap umur
(PB/U atau TB/U) untuk menentukan status gizi anak, apakah normal,
pendek atau sangat pendek
c. Pengukuran Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) untuk menentukan
status gizi anak usia 5 - 6 tahun apakah anak sangat kurus, kurus, normal,
gemuk atau obesitas.
Untuk pemantauan pertumbuhan dengan menggunakan berat badan
menurut umur dilaksanakan secara rutin di posyandu setiap bulan. Apabila ditemukan
anak dengan berat badan tidak naik dua kali berturut-turut atau anak dengan berat badan
di bawah garis merah, kader merujuk ke petugas kesehatan untuk dilakukan
konfirmasi dengan menggunakan indikator berat badan menurut panjang
badan/tinggi badan.
Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan dengan jadwal deteksi dini tumbuh
kembang balita. Pengukuran dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan atau non
kesehatan terlatih. Untuk penilaian BB/TB hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Penentuan umur anak dengan menanyakan tanggal bulan dan tahun anak lahir.
Umur dihitung dalam bulan penuh.
Contoh:
anak usia 6 bulan 12 hari umur anak dibualatkan
menjadi 6 bulan. anak usia 2 bulan 28 hari, umur
anak dibulatkan menjadi 2 bulan.

a. Penimbangan Berat Badan (BB):


* Menggunakan timbangan bayi.
• Timbangan bayi digunakan untuk menimbang anak sampai umur 2 tahun atau
selama anak masih
bisa berbaring/duduk tenang.
• Letakkan timbangan pada meja yang datar dan tidak mudah bergoyang.
• Lihat posisi jarum atau angka harus menunjuk ke angka 0.
• Bayi sebaiknya telanjang, tanpa topi, kaus kaki, sarung tangan.
• Baringkan bayi dengan hati-hati di atas timbangan.
• Lihat jarum timbangan sampai berhenti.
• Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka
timbangan.
• Bila bayi terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di
tengah tengah antara gerakan jarum ke kanan dan kekiri.

b.Pengukuran Panjang Badan (PB) atau Tinggi Badan (TB):


* Pengukuran Panjang Badan
untuk anak 0 - 24 bulan Cara
mengukur dengan posisi
berbaring:
• Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang.
• Bayi dibaringkan telentang pada alas yang datar.
• Kepala bayi menempel pada pembatas angka
• Petugas 1 : kedua tangan memegang kepala bayi agar tetap menempel pada
pembatas angka 0
(pembatas kepala).
• Petugas 2 : tangan kiri menekan lutut bayi agar lurus, tangan kanan
menekan batas kaki ke telapak
kaki.
• Petugas 2 membaca angka di tepi diluar pengukur.
• Jika Anak umur 0 - 24 bulan diukur berdiri, maka hasil pengukurannya
dikoreksi dengan menambah- kan 0,7 cm.

Pengukuran Tinggi Badan untuk


Batas atas kepala
anak 24 - 72 Bulan Cara
mengukur dengan posisi berdiri: Pita ukur
tinggi dlm
centimeter
• Anak tidak memakai sandal atau sepatu.
• Berdiri tegak menghadap kedepan.
• Punggung, pantat dan tumit menempel pada tiang pengukur.
• Turunkan batas atas pengukur sampai menempel di ubun-ubun.
• Baca angka pada batas tersebut. Skala 0 pita ukur pada ujung
lantai
• Jika anak umur diatas 24 bulan diukur telentang, maka hasil
pengukurannya dikoreksi dengan mengurangkan 0,7 cm.

c.Pengukuran Lingkar Kepala Anak (LKA)


Tujuan untuk mengetahui lingkaran kepala anak dalam batas normal atau
diluar batas normal.

* Jadwal pengukuran disesuaikan dengan umur anak. Umur 0 - 11 bulan,


pengukuran dilakukan setiap tiga bulan. Pada anak yang lebih besar, umur 12
– 72 bulan, pengukuran dilakukan setiap enam bulan.
Pengukuran dan penilaian lingkar kepala anak dilakukan oleh tenaga
kesehatan terlatih.
Cara mengukur lingkaran kepala:
• Alat pengukur dilingkaran pada kepala anak melewati dahi, diatas alis
mata, diatas kedua telinga,
dan bagian belakang kepala yang menonjol, tarik agak kencang.
• Baca angka pda pertemuan dengan angka.
• Tanyakan tanggal lahir bayi/anak, hitung umur bayi/anak.
• Hasil pengukuran dicatat pada grafik lingkaran kepala menurut umur dan
jenis kelamin anak.
• Buat garis yang menghubungkan antara ukuran yang lalu dengan ukuran
sekarang.
Interpretasi;
a. Jika ukuran lingkaran kepala
anak berada di dalam “jalur
hijau” maka lingkaran kepala
anak normal.
b.Bila ukuran lingkaran kepala
anak berada di luar “jalur
hijau” maka lngkaran kepala
anak tidak normal.
c. Lingkaran kepala anak tidak
normal ada 2 (dua), yaitu
makrosefal bila berada diatas
“jalur hijau” dan mikrosefal
bila berada dibawah “jalur
hijau”
Intervensi:
Bila ditemukan makrosefal maupun mikrosefal segera dirujuk ke rumah sakit

2. DETEKSI DINI PENYIMPANGAN PERKEMBANGAN ANAK


Deteksi dini penyimpangan perkembangan anak dilakukan di semua tingkat
pelayanan. Adapun pelaksana dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut:
Tingkat Pelaksana Alat yang digunakan Hal yang dipantau
Pelayanan
Keluarga - Orang Tua Buku KIA Perkembangan anak:
dan - Kader kesehatan, - Gerak Kasar
Masyarakat BKB - Gerak Halus
- Pendidikan - Bicara dan Bahasa
PAUD - Sosialisasi dan kemandirian

- Pendidikan - Kuesioner KPSP Perkembangan anak:


PAUD - Instrument TTD - Gerak Kasar
terlatih - Snellen E untuk TDL - Gerak Halus
- Guru TK terlatih - Kuesioner KMPE - Bicara dan Bahasa
- Skrining Kit SDIDTK - Sosialisasi dan kemandirian
- Buku KIA
- Formulir DDTK
Puskesmas - Dokter - Kuesioner KPSP 1. Perkembangan anak:
- Bidan - Formulir DDTK - Gerak Kasar
- Perawat - Instrumen TDD - Gerak Halus
- Snellen E TDL - Bicara dan Bahasa
- Kuesioner KMPE - Sosialisasi dan kemandirian
- Cheklis M-CHAT-R_F 2. Daya Lihat
- Formulir GPPH 3. Daya Dengar
- Skrining Kit SDIDTK 4. Masalah Perilaku Emosional
5. Autisme
6. Gangguan Pusat Perhatian dan
Hiperaktif
Keterangan:
Buku KIA : Buku Kesehatan Ibu dan Anak
KPSP : Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
TDL : Tes Daya Lihat
TDD : Tes Daya Dengar
KMPE : Kuesioner Masalah Perilaku Emosional
M-CHAT : Modified-Checklist for Autism in Toddlers
BKB : Bina Keluarga Balita
TPA : Tempat Penitipan Anak
Pusat PAUD : Pusat Pendidikan Anak Usia Dini

A. Skrining Pemeriksaan Perkembangan Anak Menggunakan Kuesioner


Pra Skrining (KPSP)
1.Tujuan untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan.
2.Skrining/pemeriksaan dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK dan petugas
PAUD terlatih.
3. Jadwal skrining/pemeriksaan KPSP rutin adalah : setiap 3 bulan pada anak <
24 bulan dan tiap 6 bulan
pada anak usia 24 - 72 tahun (umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48,
54, 60, 66 dan 72 bulan).
4.Apabila orang tua datang dengan keluhan anaknya mempunyai masalah
tumbuh kembang, sedangkan umur anak bukan umur skrining maka
pemeriksaan menggunakan KPSP untuk umur skrining yang lebih muda dan
dianjurkan untuk kembali sesuai dengan waktu pemeriksaan umurnya.
 Alat/instrumen yang digunakan adalah:
1.Formulir KPSP menurut umur.
Formulir ini berisi 9 -10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang
telah dicapai anak. Sasaran KPSP anak umur 0-72 bulan.
2.Alat bantu pemeriksaan berupa: pensil, kertas, bola sebesar bola tenis,
kerincingan, kubus berukuran sisi 2,5 Cm sebanyak 6 buah, kismis, kacang
tanah, potongan biskuit kecil berukuran 0.5 - 1 Cm.
 Cara menggunakan KPSP:
1.Pada waktu pemeriksaan/skrining, anak harus dibawa.
2.Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal
bulan dan tahun anak lahir. Bila umur anak lebih 16
hari dibulatkan menjadi 1 bulan.
Contoh: bayi umur 3 bulan 16 hari, dibulatkan menjadi 4 bulan bila umur bayi
3 bulan 15 hari, dibulatkan menjadi 3 bulan.
3.Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai dengan umur anak.
4.KPSP terdiri ada 2 macam pertanyaan, yaitu:
* Pertanyaan yang dijawab oleh ibu/pengasuh anak, contoh: "Dapatkah bayi
makan kue sendiri ?"
* Perintah kepada ibu/pengasuh anak atau petugas melaksanakan tugas yang
tertulis pada KPSP. Contoh: "Pada posisi bayi anda telentang, tariklah
bayi pada pergelangan tangannya secara perlahan-lahan ke posisi
duduk''.
5. Jelaskan kepada orangtua agar tidak ragu-ragu atau takut menjawab, oleh
karena itu pastikan ibu/pengasuh anak mengerti apa yang ditanyakan
kepadanya.
6. Tanyakan pertanyaan tersebut secara berturutan, satu persatu. Setiap pertanyaan
hanya ada 1 jawaban,
Ya atau Tidak. Catat jawaban tersebut pada formulir.
7.Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu/pengasuh anak menjawab
pertanyaan terdahulu.
8.Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.

 Interpretasi hasil KPSP:


Hitunglah berapa jumlah jawaban Ya.
a.Jawaban Ya, bila ibu/pengasuh menjawab: anak bisa atau pemah atau
sering atau kadang-kadang melakukannya.
b.Jawaban Tidak, bila ibu/pengasuh menjawab: anak belum pernah melakukan
atau tidak pemah atau ibu/pengasuh anak tidak tahu.
c. Jumlah jawaban 'Ya' = 9 atau 10, perkembangan anak sesuai dengan tahap
perkembangannya (S).
d. Jumlah jawaban 'Ya' = 7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M).
e. Jumlah jawaban 'Ya' = 6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan (P).
f. Untuk jawaban 'Tidak', perlu dirinci jumlah jawaban 'Tidak' menurut jenis
keterlambatan (gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan
kemandirian).

 Intervensi:
1.Bila perkembangan anak sesuai umur (S), lakukan tindakan berikut:
a. Beri pujian kepada ibu karena telah mengasuh anaknya dengan baik
b. Teruskan pola asuh anak sesuai dengan tahap perkembangan anak
c.Beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering mungkin, sesuai dengan
umur dan kesiapan
anak.
d. lkutkan anak pada kegiatan penimbangan dan pelayanan kesehatan di
posyandu secara teratur sebulan 1 kali dan setiap ada kegiatan Bina Keluarga
Balita (BKB). Jika anak sudah memasuki usia prasekolah (36-72 bulan),
anak dapat diikutkan pada kegiatan di Pusat Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD), Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak.
e.Lakukan pemeriksaan/skrining rutin menggunakan KPSP setiap 3 bulan pada
anak berumur kurang dari 24 bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 24
sampai 72 buIan.
2.Bila perkembangan anak meragukan (M), lakukan tindakan berikut:
a.Beri petunjuk pada ibu agar melakukan stimulasi perkembangan pada anak
lebih sering lagi, setiap
saat dan sesering mungkin.
b. Ajarkan ibu cara melakukan intervensi stimulasi perkembangan anak
untuk mengatasi penyimpangan/mengejar ketertinggalannya.
c.Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari kemungkinan adanya
penyakit yang menyebabkan penyimpangan perkembangannya dan
lakukan pengobatan.
d.Lakukan penilaian ulang KPSP 2 minggu kemudian dengan menggunakan
daftar KPSP yang sesuai
dengan umur anak.
e.jika hasil KPSP ulang jawaban 'Ya' tetap 7 atau 8 maka kemungkinan ada
penyimpangan (P).

3. Bila tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P), lakukan tindakan berikut:


Merujuk ke Rumah Sakit dengan menuliskan jenis dan jumlah penyimpangan
perkembangan (gerakkasar, gerak halus, bicara & bahasa, sosialisasi dan
kemandirian).
B. Tes Daya Dengar (TDD)
1. Tujuan tes daya dengar adalah menemukan gangguan pendengaran sejak
dini, agar dapat segera
ditindaklanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak.
2. Jadwal TDD adalah setiap 3 bulan pada bayi umur kurang dari 12 bulan dan
setiap 6 bulan pada anak umur 12 bulan keatas. Tes ini dilaksanakan oleh
tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PAUD dan petugas terlatih lainnya.
Tenaga kesehatan mempunyai kewajiban memvalidasi hasil pemeriksaan tenaga
lainnya.
3.Alat/sarana yang diperlukan adalah:
• lnstrumen TDD menurut umur anak.
4.Cara melakukan TDD :
• Tanyakan tanggal, bulan dan tahun anak lahir, hitung umur anak dalam buIan.
• Pilih daftar pertanyaan TDD yang sesuai dengan umur anak.
• Pada anak umur kurang dari 24 bulan:
a.Semua pertanyaan harus dijawab oleh orang tua/pengasuh anak. Katakan
pada Ibu/pengasuh untuk
tidak usah ragu-ragu atau takut menjawab, karena tidak untuk mencari
siapa yang salah.
b.Bacakan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu,
berurutan.
c.Tunggu jawaban dari orangtua/pengasuh anak.
d.Jawaban YA jika menurut orang tua/pengasuh, anak dapat melakukannya
dalam satu bulan terakhir.
e. Jawaban TIDAK jika menurut orang tua/pengasuh anak tidak pernah, tidak
tahu atau tak dapat
melakukannya dalam satu bulan terakhir.
• Pada anak umur 24 bulan atau lebih:
a. Pertanyaan-pertanyaan berupa perintah melalui orangtua/pengasuh untuk
dikerjakan oleh anak.
b.Amati kemampuan anak dalam melakukan perintah orangtua/pengasuh.
c.Jawaban YA jika anak dapat melakukan perintah orangtua/pengasuh.
d.Jawaban TIDAK jika anak tidak dapat atau tidak mau melakukan perintah
orangtua/pengasuh.
5.lnterpretasi:
• Bila ada satu atau lebih jawaban TIDAK, kemungkinan anak mengalami
gangguan pendengaran.
• Catat dalam Buku KIA atau register SDIDTK, atau status/catatan medik
anak.
6.lntervensi:
• Tindak lanjut sesuai dengan buku pedoman yang ada.
• Rujuk ke RS bila tidak dapat ditanggulangi
C. Tes Daya Lihat (TDL)
a. Tujuan tes daya lihat adalah mendeteksi secara dini kelainan daya lihat agar
segera dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk memperoleh
ketajaman daya lihat menjadi lebih besar
b. Jadwal tes daya lihat dilakukan setiap 6 bulan pada anak usia prasekolah umur
36 sampai 72 bulan. Tes ini dilaksanakan oleh tenaga kesehatan.
c.Alat/sarana yang diperlukan adalah:
1. Ruangan yang bersih, tenang dengan penyinaran yang baik
2. Dua buah kursi, 1 untuk anak dan 1 untuk pemeriksa
3. Poster “E” untuk digantung dan kartu “E” untuk dipegang anak
4. Alat Penunjuk

 Cara melakukan daya lihat:


1.Pilih suatu ruangan yang bersih dan tenang, dengan penyinaran yang baik
2.Gantungkan poster “E” setinggi mata anak pada posisi duduk
3.Letakkan sebuah kursi sejauh 3 meter dari poster “E” menghadap ke
poster “ E”
4.Letakkan sebuah kursi lainnya di samping poster “E” untuk pemeriksa.
5. Pemeriksa memberikan kartu "E" pada anak.. Latih anak dalam
mengarahkan kartu "E" mengha- dap atas, bawah, kiri dan kanan; sesuai

yang ditunjuk

pada poster “E” oleh pemeriksa. Beri pujian setiap kali anak mau
melakukannya. Lakukan hal ini sampai anak dapat mengarahkan kartu "E"
dengan benar.
6.Selanjutnya, anak diminta menutup sebelah matanya dengan buku/kertas.
7. Dengan alat penunjuk, tunjuk huruf "E” pada poster, satu persatu, mulai
baris pertama sampai baris ke empat atau baris "E" terkecil yang masih
dapat di lihat.
8. Puji anak setiap kali dapat mencocokan posisi kartu "E" yang dipegangnya
dengan huruf "E" pada
poster.
9.Ulangi pemeriksaan tersebut pada mata satunya dengan cara yang sama.
10.Tulis baris "E" terkecil yang masih dapat di lihat, pada
kertas yang telah di sediakan : Mata kanan : .............
Mata kiri : ...............

lnterpretasi:
Anak prasekolah umumnya tidak mengalami kesulitan melihat sampai baris
ketiga pada poster "E". Bila kedua mata anak tidak dapat melihat baris ketiga
poster E atau tidak dapat mencocokkan arah kartu “E” yang dipegangnya
dengan arah "E" pada baris ketiga yang ditunjuk oleh pemeriksa,
kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat.

lntervensi:
Bila kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat, minta anak
datang lagi untuk pemeriksaan ulang. Bila pada pemeriksaa berikutnya,
anak tidak dapat melihat sampai baris yang sama, atau tidak dapat melihat
baris yang sama dengan kedua matanya, rujuk ke Rumah Sakit dengan
menuliskan mata yang mengalami gangguan (kanan, kiri atau keduanya).
D. Deteksi Dini Penyimpangan Perilaku Emosional

Deteksi dini penyimpangan perilaku emosional adalah


kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah perilaku
emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada
anak, agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi. Bila penyimpangan perilaku
emoslonal terlambat diketahui, maka lntervenslnya akan lebih sulit dan hal ini
akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
Deteksi yang dilakukan menggunakan:
1.Kuesioner Masalah Perilaku Emosional (KMPE) bagi anak umur 36 bulan
sampai 72 buIan.
2.Ceklis autis anak prasekolah (Modified Checklist for Autism in Toddlers
(M-CHAT) bagi anak umur 18 bulan sampai 36 bulan.
3. Formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas
(GPPH) menggunakan Abreviated Conner Rating Scale bagi anak umur 36
bulan ke atas.

1.Deteksi Dini Masalah Perilaku Emosional


Tujuannya adalah mendeteksi secara dini adanya penyimpangan/masalah perilaku
emosional pada anak pra sekolah.
• Jadwal deteksi dini masalah perilaku emosional adalah rutin setiap 6 bulan pada
anak umur 36 bulan
sampai 72 bulan. Jadwal ini sesuai dengan jadwal pelayanan SDIDTK.
• Alat yang digunakan adalah Kuesioner Masalah Perilaku Emosional (KMPE)
yang terdiri dari 14 pertanyaan untuk mengenali problem perilaku emosional
anak umur 36 bulan sampai 72 bulan.
• Cara melakukan :
 Tanyakan setiap pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu
persatu perilaku yang tertulis pada
 KMPE kepada orang tua/pengasuh anak.
 Catat jawaban YA, kemudian hitung jumlah jawaban YA.
lnterpretasi :
Bila ada jawaban YA, maka kemungkinan anak mengalami masalah perilaku
emosional.
lntervensi :
Bila jawaban YA hanya 1 (satu) :
• Lakukan konseling kepada orang tua menggunakan Buku Pedoman Pola Asuh Yang
Mendukung Perkembangan Anak.
• Lakukan evaluasi setelah 3 bulan, bila tidak ada perubahan rujuk ke Rumah Sakit
yang memberi pelayanan rujukan tumbuh kembang atau memiliki fasilitas
pelayanan kesehatan jiwa.
• Bila jawaban YA ditemukan 2 (dua) atau lebih :
Rujuk ke Rumah Sakit yang memberi pelayanan rujukan tumbuh kembang
atau memiliki fasilitas pelayanan kesehatan jiwa. Rujukan harus disertai
informasi mengenai jumlah dan masalah mental emosional yang ditemukan.

2.Deteksi Dini Autis Pada Anak Prasekolah.


Tujuannya adalah mendeteksi secara dini adanya autis pada anak umur 18 bulan
sampai 36 bulan. Dilaksanakan atas indikasi atau bila ada keluhan dari
ibu/pengasuh atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, petugas
PAUD, pengelola TPA dan guru TK.
Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih keadaan di bawah ini:
a. Keterlambatan berbicara.
b.Gangguan komunikasi/ interaksi sosial.
c.Perilaku yang berulang-ulang.
• Alat yang digunakan adalah M-CHAT (Modified-Checklist for Autism in
Toddlers)
• Ada 23 pertanyaan yang dijawab oleh orang tua/pengasuh anak.
• Pertanyaan diajukan secara berurutan, satu persatu. Jelaskan kepada orangtua
untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab.
Cara menggunakan M-CHAT.
1.Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu perilaku
yang tetulis pada M-CHAT kepada orang tua atau pengasuh anak.
2. Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan tugas pada Modified-
Checklist for Autism in
Toddlers (M-CHAT)
3.Catat jawaban orang tua/pengasuh anak dan kesimpulan hasil pengamatan
kemampuan anak, YA atau
TIDAK. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
Interpretasi:
1.Enam pertanyaan No. 2, 7, 9, 13, 14, dan 15 adalah pertanyaan penting
(crirical item) jika dijawab tidak berarti pasien mempunyai risiko ringgi
autism.
Jawaban tidak pada dua atau lebih critical item atau tiga pernyaan lain
yang dijawab tidak sesuai (misalnya seharusnya dijawab ya, orang tua
menjawab tidak) maka anak tersebut mempunyai risiko autism
2.Jika perilaku itu jarang dikerjakan (misal anda melihat satu atau 2 kali) ,
mohon dijawab anak tersebut
tidak melakukannya.
Intervensi:
Bila anak memiliki risiko tinggi autism atau risiko autism, Rujuk ke Rumah Sakit
yang memberi layanan rujukan tumbuh kembang anak.
E. Deteksi Dini Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktifitas (GPPH) pada
Anak .

• Tujuannya adalah mengetahui secara dini anak adanya Gangguan Pemusatan


Perhatian dan Hiperaktivitas
(GPPH) pada anak umur 36 bulan ke atas.
• Dilaksanakan atas indikasi bila ada keluhan dari orang tua/pengasuh anak atau
ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB, petugas PAUD,
pengelola TPA dan guru TK. Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau
lebih keadaan di bawah ini:
1.Anak tidak bisa duduk tenang
2.Anak selalu bergerak tanpa tujuan dan tidak mengenal lelah
3.Perubahan suasana hati yang mendadak/impulsive

• Alat yang digunakan adalah formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan
Hiperaktivitas/GPPH (Abbreviated Conners Ratting Scale), Formulir ini terdiri 10
pertanyaan yang ditanyakan kepada orang tua/pengasuh anak/guru TK dan
pertanyaan yang perlu pengamatan pemeriksa.
• Cara menggunakan formulir deteksi dini GPPH:
1.Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu perilaku
yang tertulis pada formulir deteksi dini GPPH. Jelaskan kepada
orangtua/pengasuh anak untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab.
2.Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan pertanyaan pada
formulir deteksi dini GPPH.
3.Keadaan yang ditanyakan/diamati ada pada anak dimanapun anak berada,
misal ketika di rumah, sekolah, pasar, toko, dll);setiap saat dan ketika anak
dengan siapa saja.
4.Catat jawaban dan hasil pengamatan perilaku anak selama dilakukan
pemeriksaan.
5.Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.

• lnterpretasi:
Beri nilai pada masing-masing jawaban sesuai dengan "bobot nilai" berikut
ini, dan jumlahkan nilai masing-masing jawaban menjadi nilai total
- Nilai 0: jika keadaan tersebut tidak ditemukan pada anak.
- Nilai 1:jika keadaan tersebut kadang-kadang ditemukan pada anak.
- Nilai 2: jika keadaan tersebut sering ditemukan pada anak.
- Nilai 3: jika keadaan tersebut selalu ada pada anak.
Bila nilai total 13 atau lebih anak kemungkinan dengan GPPH.
• lntervensi:
a. Anak dengan kemungkinan GPPH perlu dirujuk ke Rumah Sakit yang
member pelayanan rujukan tumbuh kembang atau memiliki fasilitas
kesehatan jiwa untuk konsultasi dan lebih lanjut.
b.Bila nilai total kurang dari 13 tetapi anda ragu-ragu, jadwalkan
pemeriksaan ulang 1 bulan kemudian. Ajukan pertanyaan kepada orang-
orang terdekat dengan anak (orang tua, pengasuh, nenek, guru, dsb).
2.4 Konsep Dasar COVID
Pelayanan imunisasi di Puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya
yang memberikan pelayanan imunisasi pada masa pandemi covid 19
a. Ketentuan Ruang/Tempat Pelayanan Imunisasi: Diselenggarakan
sesuai prinsip PPI dan menjaga jarak aman 1 – 2 meter:
1. Menggunakan ruang/tempat pelayanan yang cukup besar dengan
sirkulasi udara yang baik (dapat juga mendirikan tenda di
lapangan terbuka halaman puskesmas atau di dalam kendaraan
puskesmas keliling di halaman puskesmas atau fasilitas kesehatan
lainnya yang memberikan layanan imunisasi)
2. Apabila ruang/tempat pelayanan menggunakan kipas angin,
letakkan kipas angin di belakang petugas kesehatan agar arah
aliran udara kipas angin mengalir dari tenaga kesehatan ke
sasaran imunisasi
3. Ruang/tempat pelayanan imunisasi tidak berdekatan atau terpisah
dari poli pelayanan anak atau dewasa sakit
4. Memastikan ruang/tempat pelayanan bersih dengan
membersihkan sebelum dan sesudah pelayanan dengan cairan
disinfektan
5. Tersedia fasilitas mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir
atau hand sanitizer
6. Atur meja pelayanan antar petugas dan orang tua agar jarak aman
1 – 2 meter
7. Ruang/tempat pelayanan imunisasi hanya untuk melayani bayi
dan anak sehat
8. Sebaiknya sediakan jalan masuk dan keluar yang terpisah bagi
sasaran imunisasi dan pengantar dengan pengunjung puskesmas
yang sakit. Atur agar sasaran imunisasi dan pengantar keluar dan
masuk bergantian
9. Sediakan tempat duduk bagi sasaran imunisasi dan orang tua dan
pengantar untuk menunggu sebelum dan 30 menit sesudah
imunisasi dengan jarak aman antar tempat duduk 1 – 2 meter.
Atur agar tempat/ruang tunggu sasaran yang sebelum dan
sesudah imunisasi terpisah. Jika memungkinkan tempat untuk
menunggu 30 menit sesudah imunisasi di tempat terbuka.
b. Ketentuan Waktu Pelayanan Imunisasi:

1. Tentukan jadwal hari atau jam pelayanan khusus imunisasi di


puskesmas yang terpisah dari layanan MTBS atau dewasa sakit.
Atur agar pelayanan imunisasi dilaksanakan di ruang terpisah
dari pelayanan MTBS
2. Jam layanan tidak perlu lama dan batasi jumlah sasaran yang
dilayani dalam satu kali sesi pelayanan. Jika jumlah sasaran
banyak bagi menjadi beberapa kali hari atau sesi pelayanan
imunisasi agar tidak terjadi penumpukan atau kerumunan orang
3. Koordinasi dengan lintas program lainnya untuk memberikan
pelayanan kesehatan lain bersamaan dengan imunisasi jika
memungkinkan
4. Informasikan nomor telepon petugas kesehatan atau kader yang
dapat dihubungi oleh orang tua atau pengantar untuk membuat
jadwal janji temu imunisasi yang akan datang.
2.5 Kosep Dasar Asuhan
2.5.1 Pengkajian Data
Pada langkah pertama dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua
data yang diperlukan baik berupa data subjektif maupun data objektif untuk
mengevaluasi keadaan klien secara lengkap.
A. Data subjektif
1) Identitas
Identitas bayi yaitu berisi identitas dari bayi nama, umur, tanggal/jam
lahir, jenis kelamin, alamat.
Identitas orang tua yaitu berisi identitas dari orang tua (nama, umur,
agama, pendidikan, pekerjaan, alamat).
2) Keluhan Utama
Untuk mengetahui keluhan apa yang dialami.
3) Riwayat kesehatan sekarang
Untuk mengetahui apa saja yang dirasakan oleh klien pada saat petugas
kesehatan mengkaji agar dapat mengetahui tindakan apa yang harus
dilakukan.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Untuk mengetahui apakah keluarga memiliki riwayat penyakit menahun,
menular, atau menurun.
5) Riwayat Kelahiran
Mengenai bagaimana proses persalinan yang sekarang. Ditanyakan pada
ibu melahirkan dimana, penolongnya siapa, cara melahirkannya
adakah penyulit, jenis kelamin bayi, berat badan lahir, panjang badan
lahir..
6) Riwayat Imunisasi
Untuk mengetahui apakah anak telah mendapatkan imunisasi lengkap
atau tidak.
7) Pola Kebiasaan Sehari-hari

Untuk mengetahui pola nutrisi, eliminasi, personal higiene, dan pola


istirahat bayi.

B. Data objektif
1) Pemeriksaan umum
- Keadaan umum : baik
- Kesadaran : tidak letargi
- Tanda-tanda vital : RR : normal (40-60x/menit)
Suhu : normal (36,5-37,5oC)
Nadi : normal (120-160x/menit)
2) Pemeriksaan Antropometri
- Berat badan
- Panjang badan
- Lingkar kepala
- Lingkar dada
3) Pemeriksaan fisik

Kepala : Simetris atau tidak, bersih atau tidak, ada kelainan seperti

benjolan atau tidak, ubun-ubun cembung atau cekung.

Muka : Apakah kemerahan atau pucat, kuning atau tidak.

Mata : Simetris atau tidak, sklera putih, konjuntiva merah muda,


tidak ada tanda-tanda infeksi

Hidung : Apakah simetris adakah sekret, adakah kelainan, adakah


nafas cuping hidung
Mulut : Mukosa bibi lembab atau kering, lidah bersih, adakah
kelainan
Telinga : Simetris atau tidak, sejajar mata, ada serumen atau tidak.
Leher : Adakah pembesaran vena jugularis, kelenjar tyroid, dan
kelenjar limfe
Dada : Ada retraksi dada atau tidak.
Abdomen : Ada benjolan abnormal atau tidak, ada pembesaran hepar
atau tidak.
Genetalia : Bersih atau tidak, dan adakah kelainan.
Anus : Bersih atau tidak adakah antresia ani, hemoroid,
fistula.
Ekstremitas : Apakah bergerak aktif, adakah kelainan
2.5.2 Diagnosa/Masalah
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa,
masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-
data yang dikumpulkan.

2.5.3 Diagnosa Potensial


Pada langkah ini kita mengidentifikasi diagnosa potensial berdasarkan
rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi, langkah ini
membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil
mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa potensial
ini benar-benar terjadi.

2.5.4 Tindakan Segera


Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan
ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan
kondisi klien.

2.5.5 Rencana Tindakan dan Rasional


Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan
oleh langkah-langkah sebelumnya.
1. Beritahu hasil pemeriksaan kepada ibu/keluarga
R/ ibu/keluarga mengetahui keadaan bayi
2. Jelaskan pada ibu manfaat imunisasi MR
R/ ibu mengetahui manfaat imunisasi MR
3. Siapkan alat dan bahan imunisasi MR
R/ proses imunisasi berjalan lancar
4. Berikan Imunisasi MR
R/ Bayi mendapat kekebalan terhadap virus hepatitis
5. Lakukan Pendokumentasian
R/ Sebagai bukti fisik

2.5.6 Pelaksanaan Rencana Tindakan


Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah
diuraikan pada langkah 5 dilaksanakan secara efisien dan aman.

2.5.7 Evaluasi
Pada langka ini dilakukan evaluasi ke efektifan dari asuhan yang
sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-
benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasi didalam masalah dan diagnosa. Tahapan tersebut dianggap
efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanannya. Ada kemampuan
bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedang sebagian belum.
BAB 3
TINJAUAN KASUS ASUHAN KEBIDANAN HOLISTIK PADA BAYI SEHAT
USIA 9 BULAN 2 HARI DENGAN IMUNISASI MR DASAR DAN DDTK
SESUAI DENGAN USIA

Tanggal Pengkajian : 5 Desember 2020


Pukul Pengkajian : 10.00 WIB
Tempat Pengkajian : PKM Simomulyo
Pengkaji : Nada Nazilatul Ilma
3.1 Pengkajian Data
A. Data Subjektif
1. Identitas
Identitas Anak
Nama : By. A
Tanggal Lahir : 3 Maret 2020
Usia : 9 Bulan 2 hari
Jenis Kelamin : laki- laki
Identitas Ibu
Nama : Ny. E
Usia : 28 Tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Alamat : Simo gunung barat tol
2. Keluhan Utama
Tidak ada keluhan
3. Riwayat Kesehatan Anak
Bayi dalam keadaan sehat, menangis, dan bergerak aktif.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit apapun seperti
Diabetes Mellitus, Hipertensi, Jantung, Asma, TBC, Hepatitis, IMS,
HIV/AIDS dll.
5. Riwayat kelahiran
Tanggal lahir : 3 Maret 2020
Jenis persalinan : Normal
Tempat persalinan : PMB Any
Penolong persalinan : Bidan
Berat badan : 2900 gram
Panjang badan : 50 cm
Lingkar kepala : 33 cm
Lingkar dada : 34 cm
6. Riwayat imunisasi
Imunisasi Tanggal
HB 0 04 – 03 - 2020
BCG 10 – 05- 2020
DPT 1 14 – 06 - 2020
DPT 2 14 – 07- 2020
DPT 3 14 – 08 - 2020
Polio 1 10 – 05- 2020
Polio 2 14 – 06 - 2020
Polio 3 14 – 07- 2020
Polio 4 14 – 08 – 2020
IPV 16 – 10- 2020
Campak 05 – 12 – 2020

7. Pola Kebiasaan Sehari-hari


a. Pola Nutrisi
Bayi minum susu formula 3-4 botol / hari dan MPASI 3x /sehari
b. Pola Eliminasi
Bayi belum BAB dan BAK
c. Pola Aktifitas

Bayi beergerak aktif dan menangis kuat

d. Pola Istirahat
Tidur malam : 8 jam
Siang : 3 jam
e. Pola Personal Higiene
Bayi dimandikan 2x/ hari, ganti pempres ketika penuh

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : baik
b. Kesadaran : tidak letargis
c. Tanda-tanda vital : Nadi : 120 x/menit
RR : 30x/menit
Suhu : 36,3 oC
2. Pemeriksaan Antropometri
Berat badan : 7000 gram
Panjang badan : 70 cm
Lingkar kepala : 43 cm
Lingkar dada : 44 cm
3. Pemeriksaan Fisik

Kepala : tidak ada benjolan abnormal, tidak ada caput hematoma,


tidak ada caput succesedeneum, ubun-ubun tidak cekung.
Mata : sklera putih, konjuntiva merah muda,
Hidung : Tidak ada sekret, tidak ada pernafasan cuping hidung
Mulut : Mukosa bibi lembab atau kering, lidah bersih, tidak ada
labioskiziz/labiopalatoskiziz.
Telinga : Simetris, sejajar mata, tidak ada serumen.
Leher : Tidak ada bendungan vena jugularis, tidak ada pembesaran
kelenjar tyroid, dan kelenjar limfe.
Dada : Tidak ada retraksi dinding dada.
Ekstremitas : Bergerak aktif, tidak ada sindaktili/polidaktili, tidak
pucat/sianosis.
4. Pemeriksaan tumbuh Kembang
 Anak mempunyai BB= 7000 gram dan TB= 70 cm, apabila ditarik garis lurus
ke arah kanan ternyata berat badan anak terletak pada normal.
Interpretasi : Posisi BB dan TB pada tabel berat badan/ tinggi badan terletak
pada kolom Normal
Kesimpulan : tumbuk kembang anak normal
 LK : 43
Interpretasi : berada dijalur Hijau (normal)
Kesimpulan : anak tidak ditemukan makrosefal atau mikrosefal
Kpsp :
No. Perkembangan Aspek Hasil
1 Pada posisi terlentang pegang kedua tangannya lalu Gerak kasar YA TIDAK
tarik perlahan ke posisi duduk. Dapatkah bayi
mempertahankan lehernya secara kaku apa tidak
2 Pernakah Anda melihat bayi memindahkan mainan Gerak halus YA TIDAK
atau kue dari satu tangan ke tangan yang lain? Benda
benda panjang seperti sendok atau kerincingan
bertangkai tidak ikut dinilai
3 Tarik perhatian bayi dengan menggunakan selendang Gerak halus YA TIDAK
,sapu tangan, serbet, kemudian jatuhkan ke lantai
apakah bayi mencoba mencarinya?
4 Apakah bayi dapat memungut 2 benda seperti Gerak halus YA TIDAK
mainan/ kue kering dan masing masing tangan
memrgang 1 benda saat yang sama ? jawa tidak jika
bayi tidak melakukan ini
5 Jika Anda mengangkat bayi melalui ketiak ke posisi Gerak kasar YA TIDAK
berdiri dapatkah ia menyabgga sebagian berat badan
dan kedua kakinya? Jawan iya bila ia mencoba
berdiri dan sebagian berat badan bertumpuh pada
sebagian kakinya
6 Dapatkah ia memungut dengan tangannya benda Gerak kasar YA TIDAK
kecil seperti kismis kacang kacangn, potongan
biskuit dengan gerakan miring
7 Tanpa di sangga bayi dapat duduk sendiri selam 60 Gerak kasar YA TIDAK
detik
8 Apakah bayi dapat makan kue kering sendiri? Gerak kasar YA TIDAK
9 Pada waktu bayi bermain sendiri dan Anda diam Suara dan YA TIDAK
diam datang berdiri di belakangnya, apakah ia bahasa
menengok kebelakang seperti mendengar Anda ?
suara keras tidak dihitung . jawab YA hanya jika
Anda melihat reaksinya terhdap suara yang berlahan
atau bisikan
10 Letakkan suatu mainan yang diinginkan di luar Sosialisasi YA TIDAK
jaunkauan bayi apakah ia mencoba mendapatkannya dan
dengan mengulurkan lengan atau badannya kemandirian

Interpretasi : Jumlah Jawaban YA ada 10 yaitu sesuai (S)


Jumlah jawanban Tidak 0
Kesimpulan : Anak sesuai dengan tahap perkembangannya
- Perkembangan anaknya dalam kondisi baik
Intervensi : bila berkembangan anak sesuai
 Beri pujian pada orang tua , pengasuh karena telah mengasuh anak nya
dengan baik
 Teruskan pola asuh anak sesuai dengan tahap perkembangan anak
 Beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sering mungkin dan sesuai
dengan umur dan kesiapan anak
 Datang ke posyandu setiap bulan
 Lakukan skrining setiap 3 bulan
TDD :
No. Umur 9 -12 Bulan Hasil
1 Pada waktu bayi tidur kemudian Anda berbicara atau Ya
membuat kegaduan apakah bayi akan bergerak atay
terbangun dari tidur Anda?
2 Pada waktu bayi tertidur terlentang dan Anda duduk Ya
dekat dikepala bayi, kemudian Anda bertepuk tangan
dengan keras apakah bayi terkejut atau
mengerdipkan matanya atau menegakkan tubuh
sambil mengangkat kaki tangannya ke atas?
3 Apabila ada suara nyaring (misal suara batuk, salak Ya
anjing, piring jatuh ke lantai, lain lain), apakah bayi
terkejut atau terlompat?
4 Anda berada di samping atanu belakang bayi dan Ya
tidak terlihat oleh bayi , sebut nama atau bunyikan
sesuatu ,apakah bayi langsung memalingkan kepala
ke arah sumber suara tersebut di samping atau
belakangnya

Interprestasi : jumlah jawaban YA : 4 anak dinyatakan tidak ada gangguan


daya dengar

3.3 Analisa Data

Bayi sehat usia 9 bulan 2 hari dengan imunisasi MR dasar dan DDTK sesuai dengan
usia
3.4 Penatalaksanaan
Tanggal Penatalaksanaan Tanda tangan
05 Desember 1. Menginformasikan pada ibu hasil pemeriksaan
2020 2. Memberikan KIE tentang :
 Manfaat imunisasi MR yaitu untuk
melindungi dari penyakit measles (campak)
dan rubela
 efek samping imunisasi campak seperti
demam bengkak kemerahan atau nyeri pada
bekas suntikan dan cara penanganannya
kompres hangat pada bekas suntikan
 Cara merawat botol / sterilisasi mininimal
memiliki 4-5 botol cara mencuci di lepas
semua ring botol , dicuci dengan sabun dan
air mengalir , dibilas hingga bersih, di
pasang kembali dot dalam ring lalu direbus
pada panji khusus merebus sampai terendam
selama 10 menit dari air mendidih angkat
dan tempatkan pada tempat khusus pasang
ring ke botol susu tanpa menyentuh pentil
dot dan pentil dot tertutup botol siap
digunakan dalam keadaan steril.
3. Melakukan menyuntikan imunisasi MR dosis 0,05
ml di lengan kiri secara IM
4. Memberikan terapi paracetamol 3x 1/5 tab (puyer)
5. Mensepakati jadwal pada usia 12 bulan untuk
melakukan DDTK
Mensepakati jadwal imunisasi lanjutan pada usia 18
– 24 bulan untuk imunisasi booster penta dan MR
booster
6. Evaluasi, ibu mengerti, memahami, dapat
mengulang penjelasan yang diberikan dan mau
melaksanakan asuhan kebidanan yang
sudah diberikan
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan
1. Pengkajian
Pada pengkajian terdapat pengkajian data secara subyektif dan obyektif. Dari
kedua pengkajian tersebut tidak terdapat kesenjangan di karenakan klien
sangat membantu dan mau di ajak berkomunikasi, mampu menjawab semua
pertanyaan sehingga pada pengumpulan data secara subyektif yang di dapat
dari pasien.dan pada pengkajian data secara obyektif yang dilakukan melalui
pemeriksaan oleh tenaga kesehatan juga tidak terdapat kesenjangan karena
pasien sangat membantu dalam proses pemeriksaan.
2. Analisa Data
Pada analisa data, dari diagnose dan data dasar yang diperoleh tetap melalui
DS dan DO “Asuhan Kebidanan Pada By “A” Usia 9 Bulan 2 hari DDTK
sesuai dengan usia dengan imunisasi MR dasar tidak mengalami kesenjangan,
karena pemeriksaan dilakukan untuk menentukan tindakan selanjutnya. Tidak
terdapat masalah potensial yang timbul pada asuhan yang diberikan pada
Asuhan Kebidanan Pada Pada By “A” Usia 9 Bulan 2 hari dengan imunisasi
MR DDTK sesuai dengan usia Dikarenakan tidak terdapat masalah potensial
pada langkah ke 3 pembuatan Asuhan Kebidanan Pada By “A” Usia 9 Bulan 2
hari dengan imunisasi MR dan DDTK sesuai dengan usia
3. Penatalaksanaan
Pada pelaksanaan intervensi yang telah dibuat menurut standart asuhan
kebidanan pada asuhan antenatal care, tidak terdapat kesenjangan dikarenakan
semua intervensi yang dibuat dapat dilakukan kepada pasien tanpa kesulitan.
Setelah mendapatkan penjelasan dari bidan. Ibu mengerti dan merasa puas
dengan saran yang diberikan oleh bidan dan pelayanan yg diberikan.
Menganjurkan ibu untuk datang kembali apabila ada keluhan, jadi pada
evaluasi tidak terdapat kesenjangan karena ibu dapat mengerti dan merasa
puas dengan asuhan yang diberikan. Jadi dalam pembahasan yang sudah
dijelaskan secara perkelompok dapat dikatakan tidak terdapat kesenjangan
antra tinjauan teori dan tinjauan kasus yang dibuat, semua item-item yang
terdapat pada tinjauan kasus Pada By “A” Usia 9 Bulan dengan imunisasi
MR dan DDTK sesuai dengan usia standar managemene7 langkah Varney.
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Asuhan kebidanan Pada By “A” Usia 9 Bulan dengan imunisasi MR dasar

sesuai dengan manajemen kebidanan. Pengkajian data diperoleh dari data subyektif

dan data obyektif. Data subyektif diperoleh anamnesa dan ibu mengatakan tidak ada

keluhan. Data obyektif diperoleh dari berbagai pemeriksaan (pemeriksaan fisik,

pemeriksaan umum, laboratorium), hasil dari pemeriksaan pada By. “A” semuanya

normal. Dari data pengkajian penulis menyimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan

antara praktek dilapangan dengan teori dan penjelasan yang telah diterima selama

perkuliahan.

Pada pemeriksaan kehamilan yang perlu diutamakan adalah KIE yang tepat

sehingga apabila terjadi masalah pada bayi ibu dapat menerima keadaan tersebut dan

dapat beradaptasi dengan perubahan- perubahan tumbuh kembang yang terjadi

5.2 Saran
1 Bagi pasien

Untuk mencapai keberhasilan dalam keberhasilan program imunisasi diperlukan


kerjasama baik antara pasien dan petugas kesehatan.

2 Bagi petugas kesehatan.

Untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dengan meningkatkan peran


bidan dalam tugasnya sebagai pelaksana pelayanan pada asuhan neonatus , bayi,
balita dan anak prasekolah.