Anda di halaman 1dari 15

KIMIA ANORGANIK

SINTESIS TAWAS ALUM DARI KALENG BEKAS

Achelia Nafisa Putri Sandani

4311419069
Kimia
Kimia
Ella Kusumastuti, M.Si
Dr. Triastuti Sulisytaningsih, M.Si

Rabu, 02 JUNI 2021

II
Nova Eka (4311419013)
Nandia Salsa (4311419019)
Nisa Urribah (4311419037)
Refandhy Tri (4311419063)
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK
SINTESIS TAWAS ALUM DARI KALENG BEKAS

Oleh:
Nama : Achelia Nafisa Putri Sandani
NIM : 4311419069

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2020/2021
PERCOBAAN 3
SINTESIS TAWAS ALUM DARI KALENG BEKAS

A. TUJUAN PRAKTIKUM

Mempelajari proses pembuatan garam rangkap tawas alum.

B. DASAR TEORI

Tawas adalah garam sulfat rangkap terhidrat dengan formula M +M3+


(SO4)2.12H2O. M+ merupakan kation univalen, umumnya Na+, Fe+, Cr+, Ti3+ atau
Co3+. Tawas yang biasa dikenal dalam kehidupan sehari-hari adalah ammonium
sulfat dodekahidrat (Tim Dosen Kimia Anorganik, 2021). Beberapa contoh tawas
dan kegunaannya dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Beberapa contoh tawas dan kegunaannya


No Tawas Formula Titik Leleh Kegunaan
(oC)
1 Natrium aluminium NaAl(SO4)2.12H2O - Serbuk
sulfat dodekahidrat pengembang roti
(tawas natrium)
2 Kalium aluminium KAl(SO4)2.12H2O 92,5 Pemurnian air,
sulfat dodekahidrat pengolahan
(tawas kalium) limbah, bahan
pemadam api
3 Amonium NH4Al(SO4)2.12H2O 93,5 Acar ketimun
aluminium sulfat
dodekahidrat (tawas
ammonium)
4 Kalium kromium KCr(SO4)2.12H2O 94 Penyamak kulit
(III) sulfat dan bahan
dodekahidrat (tawas pembuat kain
kromium) tahan api
5 Ammonium besi NH4Fe(SO4)2.12H2O 40 Mordan pada
(III) sulfat pewarnaan
dodekahidrat (tawas tekstil
besi (III))

Aluminium merupakan logam yang termasuk golongan IIIA. Energi


pengionan dari aluminium merupakan yang terbesar dari unsur-unsur dalam satu
golongannya. Selain itu, aluminium pun merupakan logam yang reaktif. Sejumlah
garam aluminium, seperti halnya logam golongan II A, mengkristal dari
larutannya sebagai hidrat. Sebagian hidrat ini larut dengan air dan bersifat
delikuesen. Ciri utama lain dari garam aluminium adalah bersifat asam dalam air
(Ralph H. Petrucci, 1985).
Aluminium dengan kadar yang bervariasi, mengingat aluminium memiliki
sifat tahan korosi, ringan dan mudah di dapat sehingga memungkinkan untuk
dijadikan bahan baku kaleng. Kandungan aluminium dalam kaleng bekas juga
memberi peluang untuk diolah menjadi bahan koagulan penjernih air (tawas) atau
bahan dalam deodorant. Daya koagulasi tawas yang di dapat akan dibandingkan
dengan tawas dari pasaran dengan metode turbidimetri. Menginat banyaknya
minuman ringan yang diproduksi dan menggunakan kemasan kaleng serta
dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan, maka diperlukan penelitian
terhadap kandungan aluminium dari beberapa jenis kaleng minuman ringan.
Kaleng bekas minuman ringan yang mengandung aluminium selanjutnya diolah
menjadi bahan koagulan penjernih air (tawas) pada penambahan KOH 20%
(Manuntun, 2010).
Tawas umumnya merupakan suatu garam rangkap, yaitu suatu garam yang
terbentuk dari kristalisasi larutan campuran sejumlah ekivalen dua atau lebih
garam tertentu, misalnya FeSO4(NH4)SO4.6H2O dan K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O.
Garam rangkap akan terbentuk jika dua garam mengkristal bersama-sama dengan
perbandingan molekul tertentu. Garam-garam itu memiliki struktur tersendiri dan
tidak harus sama dengan struktur garam komponennya.
Garam rangkap dalam larutan akan terionisasi menjadi ion-ion
komponennya, misal FeSO4(NH4)SO4.6H2O akan terion menjadi Fe2+, SO42- dan
NH4+. Namun bila suatu garam kompleks dilarutkan, maka akan terion menjadi
ion penyusun dan ion kompleksnya, misal K3[Fe(CN)6] akan terion menjadi K+
dan [Fe(CN)6]3+ (Tim Dosen Kimia Anorganik, 2021).
Alum adalah salah satu senyawa kimia yang dibuat dari molekul air dan
dua jenis garam, salah satunya adalah Al2(SO4)3. Alum kalium sering dikenal
dengan alum, memiliki rumus formula yaitu K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O. Alum
kalium merupakan jenis alum penting, alum kalium tidak berwarna dan memiliki
bentuk kristal oktahedral atau kubus ketika kalium sulfat dan aluminium sulfat
bereaksi (G. Svehla, 1990).
Kalium aluminium sulfat dedokahidrat dapat dibuat dari logam aluminium
dan kalium hidroksida. Logam aluminium bereaksi secara cepat dengan KOH
panas menghasilkan garam kalium aluminat. Ion aluminium Al(OH 4)- bersifat
amfoter jika direaksikan dengan asam sulfat, diendapkan sebagai aluminium
hidroksida, tetapi larut pada pemanasan. Jika larutan kalium aluminat sulfat
dodekahidrat yang hampir jenuh didinginkan maka akan terbentuk kristal-kristal
yang terbentuk oktahedron.
C. ALAT DAN BAHAN

Alat-alat:
1. Erlenmeyer
2. Gelas ukur 50 mL
3. Gelas Arloji
4. Kertas saring
5. Pembakar spirtus
6. Corong gelas
7. Konduktometer
Bahan-bahan:
1. Potongan kaleng bekas
2. KOH 1 M dan 3 M
3. H2SO4 6 M
4. Etanol 50%

D. CARA KERJA

1. Disiapkan 2 buah erlenmeyer 100 mL.


2. Dipotong-potong kaleng bekas yang telah diamplas kemudian ditimbang
masing-masing 1 gram.
3. Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 1 dan 2.
4. Ditambahkan KOH 1 M pada erlenmeyer 1 dan KOH 3 M pada
erlenmeyer 2 masing-masing 30 mL. Dipanaskan hingga potongan kaleng
larut sambil sesekali digoyangkan.
5. Pemanasan dihentikan ketika potongan kaleng telah larut seluruhnya,
diamkan hingga dingin.
6. Larutan disaring dan endapan dipindahkan ke gelas kimia.
7. Endapan dicuci dengan asam sulfat dan disaring kembali.
8. Endapan diletakkan pada kaca arloji
9. Filtrat dikristalisasi dalam penangas es.
10. Endapan dicuci dengan 50 mL etanol 50%.
11. Endapan dikeringkan dalam lemari asam, ditutup dengan corong gelas
selama 1 hari atau benar-benar kering.

Karakterisasi

1. Alat dibersihkan dengan aseton.


2. Sampel diambil secukupnya dan ditambahkan serbuk KBr dengan
perbandingan 1:10.
3. Campuran digerus dan dihomogenkan.
4. Sampel dibentuk menjadi pelet, pastikan pelet transparan.
5. Pelet diletakkan di instrumen FTIR dan diukur, scanning hingga 100%.
6. Spektrum yang diperoleh dianalisis.
7. Dibuat tawas alum dengan konsentrasi 60 ppm dari hasil sintesis dengan
KOH 1 M dan KOH 3 M.
8. Dibandingkan daya hantar listriknya dengan FeCl3 60 ppm dan CuSO4 60
ppm.
1.
E. SKEMA KERJA
a. Pembuatan sintesis tawas alum dari kaleng bekas

Potongan kaleng bekas 1 gram + 30


mL KOH 1 M dan 3 M. Dimasukkan
ke erlenmeyer 1 dan 2.

Dipanaskan

Disaring

Endapan dicuci H2SO4

Disaring

Kristalisasi filtrat di penangas es

Endapan dicuci 50 mL etanol 50%

Endapan dikeringkan
b. Karakterisasi dengan FTIR

Sampel dibuat Diletakkan di Discanning


pelet instrumen FTIR hingga 100%

Dianalisis
spektrum

c. Karakterisasi dengan konduktometer

Dibuat tawas alum,


FeCl3, dan CuSO4 Diukur dengan
masing-masing 60 konduktometer
ppm

Dibandingkan
hasilnya
F. DATA PENGAMATAN
Warna kaleng bekas Abu-abu tua dan sedikit kusam
sebelum diamplas

Warna kaleng bekas Abu mengkilap


setelah diamplas

Warna larutan KOH 1M : Tidak berwarna


Warna larutan KOH 3 M : Tidak berwarna

Pengamatan saat Larutan berubah menjadi keruh dan terdapat endapan ketika
potongan kaleng bekas dilarutkan dalam KOH, ketika dipanaskan larutan berubah
dilarutkan dalam larutan menjadi kehitaman. Pada larutan yang potongan kalengnya
KOH kemudian dilarutkan dengan KOH 1 M, larutan tidak berwarna dan
dipanaskan terdapat sedikit endapan
Reaksi 2Al + 2KOH + 6H2O  2K[Al(OH)4] + 3H2

Penyaringan a. Keruh, filtrat berupa larutan


b. Hitam, bentuk endapan berupa serbuk hitam basah
a. Warna dan bentuk
filtrat
b. Warna dan bentuk
endapan
Warna dan bentuk setelah Endapan larut dan larutan sedikit keruh
ditambah H2SO4
2K[Al(OH)4] + H2SO4  2Al(OH)3 + K2SO4 + 2H2O
Reaksi 2Al(OH)3 + 3H2SO4  Al2(SO4)3 + 6H2O

Warna dan bentuk setelah Endapan berbentuk serbuk putih


dicuci dengan etanol
K2SO4 + Al2(SO4)3 + 12H2O  2KAl(SO4)2.12H2O
Reaksi
Warna dan bentuk Kristal putih
endapan akhir

Berat endapan a. 4,3137 gram


a. KOH 1 M b. 8,9732 gram
b. KOH 3 M

Karakterisasi pengukuran a. 143,7


daya hantar listrik b. 95,9
a. FeCl3 c. 3,08
b. CuSO4 d. 5,24
c. Tawas alum 1
d. Tawas alum 2

Rendemen :
a. Al + KOH 1 M
berat Al
Rendemen teoritis = xBM KAl(SO4)2.12H2O
BM Al
1
= x 464
27
= 17,1851 gram
rendemen nyata
Rendemen presentase = x 100%
rendemen teoritis
4,3137 g
= x 100%
17,1851 g
= 25,10%

b. Al + KOH 3 M
berat Al
Rendemen teoritis = xBM KAl(SO4)2.12H2O
BM Al
1
= x 464
27
= 17,1851 gram
rendemen nyata
Rendemen presentase = x 100%
rendemen teoritis
8,9732 g
= x 100%
17,1851 g
= 52,21%
G. PEMBAHASAN

Pada percobaan sintesis tawas alum dilakukan dengan menggunakan


kaleng bekas, KOH 1 M dan 3 M, asam sulfat 6 M dan etanol 50%. Reaksi yang
terjadi ketika potongan kaleng bekas yang mengandung Al direaksikan dengan
KOH 1 M dan 3 M berlangsung cepat dan eksoterm, kemudian dipanaskan untuk
mempercepat pelarutan adalah :
2Al + 2KOH + 6H2O  2K[Al(OH)4] + 3H2
Dalam reaksi ini terbentuk gas H2 yang ditandai dengan munculnya gelembung-
gelembung gas dan larutan berubah menjadi warna hitam. Gelembung gas hilang
setelah semua aluminium bereaksi. Pada tahap ini, dilakukan pemanasan untuk
mempercepat reaksi, filtrat yang dihasilkan menghasilkan endapan hitam. Karena
endapan hitam maka ditambah asam sulfat kemudian disaring untuk
menghilangkan pengotornya.
Dalam proses pengendapan, ukuran partikel endapan ditentukan oleh laju
relatif dari dua proses yaitu pembentukan inti (nukleasi) dan pertumbuhan inti-inti
dalam membentuk partikel-partikel yang besar agar mengendap. Sehingga
endapan lebih mudah disaring dan murni dibandingkan dengan endapan yang
ukuran partikelnya relatif kecil. Penambahan asam sulfat sebaiknya ditambahkan
sedikit demi sedikit untuk mendukung hal ini. Reaksi yang terjadi saat
penambahan asam sulfat adalah :
2K[Al(OH)4] + H2SO4  2Al(OH)3 + K2SO4 + 2H2O
Penambahan asam sulfat dilakukan agar seluruh senyawa K[Al(OH) 4] dapat
bereaksi sempurna. Al(OH)3 yang terbentuk langsung bereaksi dengan asam sulfat
dengan persamaan reaksi :
2Al(OH)3 + 3H2SO4  Al2(SO4)3 + 6H2O
Pada reaksi sebelumnya, penambahan asam sulfat membentuk Al(OH)3
bersama-sama dengan K[Al(OH)4], namun ketika penambahannya berlebih maka
asam sulfat melarutkan Al(OH)3 menjadi Al2(SO4)3 berupa larutan bening tidak
berwarna. Senyawa Al2(SO4)3 yang terbentuk pada reaksi di atas bereaksi kembali
dengan K2SO4 sehingga hasil reaksi membentuk kristal, yang diperkirakan adalah
KAl(SO4)2.12H2O berwarna putih.
K2SO4 + Al2(SO4)3 + 12H2O  2KAl(SO4)2.12H2O
Kristal alum yang diperoleh kemudian dicuci dengan larutan etanol 50%.
Pencucian ini bertujuan untuk menyerap kelebihan air dan mempercepat
pengeringan kristal. Berat tawas yang didapat ketika direaksikan dengan KOH 1
M adalah 4,3137 gram sedangkan dengan KOH 3 M adalah 8,9732 gram. Hal ini
dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi KOH yang digunakan maka
kristal yang terbentuk semakin banyak karena konsentrasi mempengaruhi
pelarutan aluminium. Semakin besar kandungan Al nya maka makin banyak
tawas terbentuk. Rendemen yang diperoleh yaitu 25,10% untuk yang direaksikan
dengan KOH 1 M dan 52,21% untuk yang direaksikan dengan KOH 3 M. Kristal
yang diperoleh kemudian dikarakterisasi dengan menggunakan FTIR. Dari hasil
spektrum ditemukan bahwa hasil sintesis benar merupakan KAl(SO4)2.12H2O
karena ditemukannya vibrasi gugus fungsi H-O-H pada rentang 4000-3500 cm -1.
Kemudian ditemukan juga puncak yang menunjukkan keberadaan gugus sulfat.
Perbedaan spektrum dari keduanya sangat terlihat jelas, pada tawas alum yang
disintesis dengan KOH 1 M memiliki intensitas yang rendah dibandingkan dengan
KOH 3 M hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi mempengaruhi hasil kristal
yang diperoleh.
Pada pengukuran daya hantar listrik, FeCl3 memiliki daya hantar yang
besar karena memiliki 4 ion, semakin banyak ion dalam suatu larutan maka daya
hantar listriknya semakin besar. Pada tawas alum dengan KOH 1 M memiliki
daya hantar yang kecil dibanding KOH 3 M hal ini terjadi karena ion dalam tawas
tersebut lebih sedikit karena konsentrasi KOH yang encer.

H. KESIMPULAN

Proses pembuatan tawas alum dilakukan dengan mereaksikan potongan


kaleng bekas dengan KOH yang konsentrasinya divariasi dan selanjutnya
ditambah asam sulfat. Dari reaksi tersebut terbentuk garam K 2SO4 dan Al2(SO4)3
kemudian mengkristal bersama sehingga dihasilkan garam rangkap. Rendemen
yang diperoleh yaitu sebesar 25,10% dan 52,21% dengan variasi konsentrasi
KOH.

I. SARAN
Mahasiswa diharapkan memahami lebih lanjut terkait hubungan antara
teori dengan hasil praktikum serta memperhatikan cara melakukan praktikum
yang baik dan benar.

J. DAFTAR PUSTAKA
Manuntun, Manurung dan Irma F. 2010. Kandungan Aluminium dalam
Kaleng Bekas dan Pemanfaatannya dalam Pembuatan Tawas.
Petrucci, Ralph H. 1985. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid
3.
Jakarta : Erlangga.
Svehla, G. 1990. Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Bagian I.
Jakarta: PT Kalman Media Pusaka.
Tim Dosen Kimia Anorganik. 2021. Diktat Praktikum Kimia Anorganik.
Semarang: FMIPA UNNES.
K. LAMPIRAN
Pertanyaan Pra Praktikum
1. Tuliskan semua reaksi yang terjadi pada setiap tahap percobaan
2. Apa fungsi KOH dan H2SO4 dalam praktikum ini.
Jawab
1. 2Al + 2KOH + 6H2O  2K[Al(OH)4] + 3H2
2K[Al(OH)4] + H2SO4  2Al(OH)3 + K2SO4 + 2H2O
2Al(OH)3 + 3H2SO4  Al2(SO4)3 + 6H2O
K2SO4 + Al2(SO4)3 + 12H2O  2KAl(SO4)2.12H2O
2. Fungsi penambahan KOH bertujuan untuk membuat garam K2SO4 sehingga
dapat membentuk garam rangkap dengan Al2(SO4)3. Penambahan KOH juga
menunjukkan bahwa reaksi berjalan cepat dan eksoterm. Selain itu juga bertujuan
untuk mencegah terbentuknya Al(OH)3. Penambahan asam sulfat bertujuan agar
senyawa K[Al(OH)4] bereaksi sempurna.
Lampiran Praktikum

Kristal hasil sintesis

Spektrum tawas alum KOH 3 M

Spektrum tawas alum KOH 1 M

Anda mungkin juga menyukai