Anda di halaman 1dari 20

Laporan Kimia Organik

Semester III 2020/2021

LAPORAN PRAKTIKUM

ISOLASI POLIFENOL

Pembimbing : Muhammad Yusuf, S.T.P., M.Si.


Kelompok : Satu/I
Tanggal Praktikum : 17 November 2020

Nama : 1. Adinda Maharani (432 19 001)


2. Adisty Tajuddin (432 19 002)
3. Annisa (432 19 003)
4. Ashar Alting (432 19 004)
5. Ayu Lestari (432 19 005)
6. Fachruddin (432 19 006)
Kelas : 2 D4 Teknologi Kimia Industri

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2020
ISOLASI POLIFENOL

I. TUJUAN
1. Dapat melakukan ekstraksi lemak dari tempe dengan pelarut n-hexan
untuk memperoleh tempe bebas lemak.
2. Dapat melakukan ekstraksi isoflavonoid dari tempe bebas lemak
dengan pelarut etanol.
3. Dapat melakukan pemekatan ekstrak dengan menggunakan rotavapor.
4. Dapat menentukan konsentrasi isoflavonoid di dalam tempe dengan
metode spektrofotometri sinar tampak berdasarkan analisis kurva
standar menggunakan pereaksi Prussian Blue.

II. ALAT DAN BAHAN


 Alat
1. Gelas kimia 1 L
2. Gelas kimia 250 ml
3. Gelas kimia 100 ml
4. Gelas ukur 100 ml
5. Erlenmeyer asah 250 ml
6. Erlenmeyer biasa 250ml
7. Corong kaca + spatula
8. Bola isap
9. Labu rotavapor
10. Pipet ukur 1; 5; 25 ml
11. Batang pengaduk
12. Rotavapor
13. Spatula
14. Neraca analitik

 Bahan Etanol
1. Tempe
2. FeNH4(SO4)2
3. K3Fe(CN)6
4. Aquadest
5. N-heksan

III. DASAR TEORI


Isoflavonoid
Obesitas dengan permasalahannya telah merupakan masalah
epidemic didunia, kondisi mana juga mencuat di Indonesia. Survei
morbidilitas yang merupakan bahagian dari Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) tahun 2001 di Indonesia memperlihatkan kecenderungan
kenaikan prevalensi obesitas khususnya pada wanita sejalan dengan
pertambahan usia (mencapai 41-50% pada usia di atas 55 tahun).
Studi epidemiologis oleh Imdonesia Society for the Study of
Obesity ( ISSO, HISOBI ) yang dilaksanakan pada tujuh kota besar di
Indonesia Termasuk Medan dan melibatkan 6318 subjek usia 20 tahun ke
atas dari berbagai suku memperlihatkan prevalensi kumulatif overwight
(menggunakan batasan IMT 23- 24,9 kg/m2 ) rata-rata 46,45%. Sebagai
perbandingan, prevalensi kombinasi overwight dan obesitas pada orang
dewasa di Malaysia berkisar antara 26%-53% (rata-rata 39%).
Selain risiko diabetes mellitus tipe-2 dan penyakit kardiovaskular,
tingginya angka kematian pada obesitas juga dikaitkan dengan beberapa
penyakit lain. Dikemukan bahwa jaringan visera merupakan factor risiko
independent obesitas abdominal pada inti problem sindrom metabolic
(MetS). Penelitian di Eropa dan Jepang memperlihatkan bahwa salah satu
factor risiko penyebab emboli paru pada populasi wanita adalah kelompok
yang memiliki IMT ≥ 25,0 kg/m2.
Penguatan potensi terjadinya trombisit akut berpengaruh pula
terhadap meningkatnya resiko penyakit kardiovaskular, dihubungkan
dengan hiperinsulinemia dan toleransi glukosa terganggu yang dapat
berlangsung pada obesitas. Lebih lanjut dikemukakan bahwa obesitas
visera (dalam kondisi hiperinsulinemia) berhubungan dengan penurunan
konsentrasi sex hormone binding (SHBG) dan kenaikan konsentrasi
androgen bebas.
Ditemukan leptin (suatu protein) dalam riset jaringan adiposit
khususnya pada bagian visera abdomen, membuktikan bahwa jaringan
adipose juga merupakan organ endokrin. Pada penelitian lanjut ditemukan
pula beberapa substansi protein lainnya berupa sitokin atau
molekulmenyerupai sitokin yang dikelompokan sebagai adipositokin atau
adipokin. Beberapa dari protein in berperan sebagai sitokin imflamasi,
fungsi metabolism lemak, sementara yang lainnya berperan dalam
hemostasis vascular, siste komplemen serta beberapa senyawa bioaktif lain
yang bertanggung jawab terhadap potofisiologi konsekuensi atau kamorbid
obesitas. Efek dari protein spesifik ini adalah paracrine atau autocrine, atau
bhkan di tempet jauh dari jaringan adiposa.

Tempe kedelai sebagai Bahan Makanan


Beberapa bahan makanan tradisional di Indonesia diketahui
mempunyai indeks glikemik rendah, seperti misalnya tempe sebagai
produk utama kedelai. sejarah Jawa kuno yang ditulis oleh Ranggasutrasno
mencatat awal mula pembuatan tempe sebagai produk fermentasi
menggunakan laru tempe dan termasuk dalam pola makan sehari-hari pada
populasi di Jawa Tengah sejak tahun 1700. Kurun waktu setelah itu tempe
yang dibuat dari kacang kedelai (soybean, glacine max, glysine soya) telah
dimanfaatkan sebagai penganti atau penambah sumber protein hewani atau
nabati dalam pola makanan sehari-hari.
Yang dimaksudkan dengan tempe kedelai adalah yang diperoleh
melalui proses penanaman mikroba dari jenis kapang pada media kedelai
sehingga terjadi fermentasi. Fermentasi dapat berlangsung lancar apabila
didukung oleh beberapa persyaratan seperti ketersediaan ragi tempe,
terdapat unsur bahan pangan yang akan difermentasi : zat tepung, gula dan
protein, adanya enzim katalisator proses fermentasi, suhu ideal antara
280C-300C pada kondisi ruangan yang gelap, derajat keasaman media
yang cukup (pH 4-5) dan kondisi kedelai sudah cukup lunak.
Kedelai sebagai bahan pangan secara alamiah memiliki kandungan
isofloavonic phyroestrogens(isoflavones,subkelas dari flavonoid) yang
cukup tinggi;mencapai 5,1-5,5 mg isoflavon total/gram protein kedelai
tergantung jenis kedelai ,area penanaman ataugeografi dan proses
penanaman. Satu porsi hidangan makanan tradisional terbuat dari kedelai
dapat memberikan sekitar25-60 mg isoflavon.Pada tempe kedelai mentah
didapati kandungan 3,1 mg isoflavon/gram proteinnya,lebih tinggi
daripada tahu mentah (tofu) (2,1 mg/gram protein) atau susu kedelai
(soymilk) (2,0 mg/gram protein). Komponen flavonoid sendiri memiliki
inti flavon sebagai struktur dasar,tersusun dari 2 cincin benzen (A dan B)
yang dihubungkan oleh cincin C Heterosiklik. Posisi dari cincin Benzoid
B mendasari penggolongan kelas flavonoid atas flavonoids (posisi kedua)
dan isoflavonoids (posisi ketiga).Dikenal tiga isoflavon utama dari kedelai
yaitu genistein (4’,5,7- trihidroksiisoflavon),daidzein (4’,7-
dihidroksiisoflavon) serta unsur terkait seperti ß-glikosida dan glycetin
(Gambar 1). Pada manusia, genistein akan di metabolismekan menjadi
dihidrogenistein dan 6’-hidroksi-O-desmetilangolensin. Diantara ketiga
unsur ini ternayata efek genistein telah terbukti sebagai penghambat tirosin
kinase yang kuat, enzim mana berperan pada kaskade pembentukan
thrombin serta gangguan yang ditimbulkannya.
Waktu paruh plasma dari ginistein dan daidzein pada orang dewasa
adalah 7,9 jam dan mencapai kadar puncak 6-9 jam setelah pemberian
komponen murni. Sebagai konnsekuensinya, konsumsi terus menerus dari
diet yang mengandung kedelai pada akhirnya akan menghasilkan
konsentrasi isoflavon plasma yang tinnggi dan menetap.

Pengaruh Tempe Kedelai terhadap Profil Lipid


Beberapa penelitian terkait menunjukan bahwa penambahan
protein kedelai pada konsumsi minimal protein hewani dapat
mempengaruhi kadar lipid plasma, selain berperan pada hemostasis dan
fungsi trombosit. Dalam kaitan ini pola diet rendah lemak tinggi protein
(20-25% energy dari protein) telah dikemukan sebagai alternative
pengganti pola diet rendah lemak tinggi karbohidrat, khususnya pada
hipertrigliseridemia. Penambahan 25 sampel 50 gram protein kedelai/hari
dalam hal ini dapat memperbaiki factor-faktor risiko penyakit
kardiovaskular.
Dilaporkan bahwa dengan pemberian 25 gram protein kedelai yang
mengandung 37-62 mg isoflavon tyerbukti bermakna menurunkan kadar
kolestrol –total dan LDL- kolesterol.26,28,31 Cassidy et al. Melaporkan
dari penelitiannya pada sekelompok wanita usia muda bahwa 45 mg
isoflavonoid dan bukan 23 mg isoflavonoid, menyebabkan penurunan
konsentrasi kolesterol total dan LDL kolesterol yang bermakna. Nestle et
al. 1997 (dikutip dari Lichtenstein) sebaliknya mengemukakan bahwa
pemberian 45 mg genistein selama 4-10 minggu ternyata tidak
memberikan pengaruh bermakna pada konsentrasi lipid darah. Meta
analisis dari beberapa penelitian menunjukan bahwa konsunsi protein
kedelai setiap hari dapat menurunkan masing-masing 9,3 % kadar
kolesterol-total serum, 12,9 % kadar LDL kolestrol dan 10,5% kadar
trigliserida; pengaruh mana terutama diperlihatkan pada keadaan
hiperkolesterolemia, tidak pada subjek dengan kadar kolesterol normal
atau kurang dari 200 mg/dl. Perubahan konsentrasi trigliserida dalam hal
ini juga sangat tergantung pada konsentrasi di awal penelitian.
Dikemukakan pula efek langsung protein kedelai yang dapat menekan
sekresi insulin dan glucagon sehingga menghambat lipogenesis, serta
pengaruhnya terhadap reseptor LDL selain pengaruh positif isoflavon,
kandungan seratnya dapat menurunkan kadar kolesterol. Isoflavonoid
adalah senyawa 15 karbon yang mirip seperti flavonoid hanya saja cincin
B pada isoflavonoid tertempel pada atom karbon posisi ketiga pada cincin
karbon di tengah. Isoflavonoid terutama terdapat pada anggota subfamili
kacangkacangan yaitu Papilionoideae contohnya kacang kedelai (Glycine
max) atau semanggi (Trifolium spp).

Fungsi
Fungsi isoflavonoid sebagian besar belum diketahui, tapi beberapa
bertindak sebagai zat alelokimia. Sebagai contoh, rotenon, isoflavonoid
dari akar tuba (Derris ellipica), banyak digunakan sebagai insektisida
(senyawa pembasmi serangga). Selain itu rumus bangun isoflavonoid
mirip dengan hormon estrogen hewan, misalnya estradiol, dan
isoflavonoid tumbuhan tertentu menyebabkan kemandulan pada ternak
betina, khususnya domba. Semanggi bawah-tanah menimbun isoflavonoid
dalam jumlah yang luar biasa tinggi. Senyawa ini menyebabkan "penyakit
semanggi" yang serius pada domba, pertama kali tercatat di Australia
Barat pada tahun 1960-an dengan menurunnya tingkat kesuburan.
Isoflavonoid juga diperkirakan merupakan faktor yang mengendalikan
populasi hewan pengerat di beberapa wilayah tertentu. Aktivitas

Estrogenik Protein Kedelai


Hampir seluruh produk protein kedelai mengandung isoflavon
alamia (Vitoestrogen) yang memiliki efek estrogenic lemah pada hewan
dan manusia, sehingga masi mempunyai efek entioksidan dalam
menurunkan LDL-kolesterol serta meningkatkan HDL-kolesterol.
Konsentrasi absolute isoflavon pada produk bahan makanan sangat
bervariasi, tergantung pada teknik pengolahannya. Masi dipertanyakan
kemungkinan efek antiestrogenik isoflavon pada kondisi lingkungan tinggi
estrogen seperti keadaan pramenopause dan sebaliknya efekestrogenik
pada kondisi pasca menopause. Ridges et al. (2001) Mendapatkan manfaat
penambahan kacang kedelai sebagai sumber isoflavon genistein dan
daidzein pada makanan yang diperkaya dengan sejenis biji-bijian (linsit)
untuk memperbaiki lipid plasma pada subjek pasca menopause dengan
hiperkolesterolemia.
Ekstraksi
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian
sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk
mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain.
Seringkali campuran bahan padat dan cair (misalnya bahan alami) tidak
dapat atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau
termis. Misalnya saja, karena komponennya saling bercampur secara
sangat erat, peka terhadap panas, beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau
tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah.
Dalam hal semacam. itu, seringkali ekstraksi adalah satu-satunya proses
yang dapat digunakan atau yang mungkin paling ekonomis. Sebagai
contoh pembuatan ester (essence) untuk bau-bauan dalam pembuatan sirup
atau minyak wangi, pengambilan kafein dari daun teh, biji kopi atau biji
coklat dan yang dapat dilihat sehari-hari ialah pelarutan komponen-
komponen kopi dengan menggunakan air panas dari biji kopi yang telah
dibakar atau digiling.

EKSTRAKSI DENGAN PELARUT


Ekstraksi adalah jenis pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu
padatan atau cairan. Proses ekstraksi bermula dari penggumpalan ekstrak
dengan pelarut kemudian terjadi kontak antara bahan dan pelarut sehingga
pada bidang datar antarmuka bahan ekstraksi dan pelarut terjadi
pengendapan massa dengan cara difusi. Bahan ekstraksi yang telah
tercampur dengan pelarut yang telah menembus kapiler-kapiler dalam
suatu bahan padat dan melarutkan ekstrak larutan dengan konsentrasi lebih
tinggi di bagian dalam bahan ekstraksi dan terjadi difusi yang memacu
keseimbangan konsentrasi larutan dengan larutan di luar bahan.
Ekstraksi dengan pelarut dapat dilakukan dengan cara dingin dan cara
panas. Jenis-jenis ekstraksi tersebut sebagai berikut.
a. Cara Dingin
 Maserasi, adalah ekstraksi menggunakan pelarut dengan beberapa kali
pengadukan pada suhu kamar. Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan
prinsip metoda pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi
kinetic berarti dilakuakn pengadukan kontinyu. Remaserasi berarti
dilakukan pengulangan penambahan pelarutsetelah dilakukan ekstraksi
maserat pertama dan seterusnya.
 Perkolasi, adalah ekstraksi pelarut yang selalu baru sampai sempurna
yang umumnya pada suhu ruang. Prosesnya didahului dengan
pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya
(penampungan ekstrak) secara terus menerus samapai diperoleh ekstrak
perkolat yang jumlahnya 1- 5 kali bahan

b. Cara Panas
 Reflux, adalah ekstraksi pelarut pada temperature didihnya selamawaktu
tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relative konstan dengan adanya
pendingin balik
 Soxhlet, adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru
menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan
jumlah pelarut relative konstan dengan adanya pendingin balik.
 Digesi, adalah maserasi kinetik pada temperature lebih tinggi dari
temperature kamar sekitar 40-50 C
 Distilasi uap, adalah ekstraksi zat kandungan menguap dari bahan
dengan uap air berdasarkan peristiwa tekanan parsial zat kandungan
menguap dengan fase uap air dari ketel secara kontinyu sampai sempurna
dan diakhiri dengan kondensasi fse uap campuran menjadi distilat air
bersama kandungan yang memisah sempurna atau sebagian.
 Infuse, adalah ekstraksi pelarut air pada temperature penangas air 96-98
C selama 15-20 menit.

Pelarut yang baik untuk ekstraksi adalah pelarut yang mempunyai daya
melarutkan yang tinggi terhadap zat yang diekstraksi. Daya melarutkan
yang tinggi ini berhubungan dengan kepolaran pelarut dan kepolaran
senyawa yang diekstraksi. Terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa
polar larut dalam pelarut polar dan sebaliknya.

Pemilihan pelarut pada umumnya dipengaruhi oleh:


 Selektivitas, pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan.
 Kelarutan, pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan
ekstrak yang besar.
 Kemampuan tidak saling bercampur, pada ekstraksi cair, pelarut tidak
boleh larut dalam bahan ekstraksi.
 Kerapatan, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar
antara pelarut dengan bahan ekstraksi.
 Reaktivitas, pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia
pada komponen bahan ekstraksi.
 Titik didih, titik didh kedua bahan tidak boleh terlalu dekat karena
ekstrak dan pelarut dipisahkan dengan cara penguapan, distilasi dan
rektifikasi.
 Kriteria lain, sedapat mungkin murah, tersedia dalam jumlah besar, tidak
beracun, tidak mudah terbakar, tidak eksplosif bila bercampur udara, tidak
korosif, buaka emulsifier, viskositas rendah dan stabil secara kimia dan
fisik. Karena tidak ada pelarut yang sesuai dengan semua persyaratan
tersebut, maka untuk setiap proses ekstraksi harus dicari jenis pelarut yang
paling sesuai dengan kebutuhan.

Aspek Kualitatif dan Kuantitatif Spektrofotometri UV-Vis


Spekra UV-Vis dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan sekaligus
dapat digunakan untuk analisis kuantitatif.
1. Aspek Kualitatif ;
Data spektra UV-Vis bila digunakan secara tersendiri, tidak dapat
digunakan unutk identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Akan tetapi,
bila digabung dengan cara lain seperti spektroskopi infra merah, resonansi
magnet inti, dan spektroskoppi massa, maka dapat digunakan untuk
maksud analisis kualitatif suatu senyawa tersebut.
Data yang diperoleh dari spektroskopi UV dan Vis adalah panjang
gelombang maksimal, intensitas, efek, pH, dan pelarut yang kesemuanya
dapat dibandingkan dengan data yang sudah dipublikasikan. Dari spektra
yang diperoleh dapat dilihat, misalnya:
a. Serapan (absorbansi) berubah atau tidak karena perubahan pH. Jika
berubah bagaimana perubahannya apakah batokromik ke hipsokromik dan
sebaliknya atau dari hipokromik ke hiperkromik, dsb.
b. Obat-obat yang netral misalnya kafein, kloramfenikol atau obat-obat
yang berisi auxokrom yang tidak terkonjugasi seperti amfetamin, siklizin,
dan pensiklidin.

2. Aspek Kuantitatif;
Suatu berkas radiasi dikenakan pada larutan sampel (cuplikan) dan
intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Intensitas atau
kekuatan radiasi cahaya sebanding dengan jumlah foton yang melalui satu
satuan luas penampang per detik. Serapan dapat terjadi jika foton/radiasi
yang mengenai cuplikan memiliki energi yang sama dengan energi yang
dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya perubahan tenaga. Jika sinar
monokromatik dilewatkan melalui suatu lapisan larutan dengan ketebalan
db, maka penurunan intesitas sinar (dl) karena melewati lapisan larutan
tersebut berbanding langsung dengan intensitas radiasi (I), konsentrasi
spesies yang menyerap (c), dan dengan ketebalan lapisan larutan (db).
Secara matematis, pernyataan ini dapat dituliskan:
-dI = kIcdb
bila diintergralkan maka diperoleh persamaan ini :
I = I0 e -kbc
dan bila persamaan di atas diubah menjadi logaritma basis 10, maka akan
diperoleh persamaan:
I = I0 10-kbc
dimana : k/2,303 = a, maka persamaan di atas dapat diubah menjadi
persamaan:
Log Io/I = abc atau
A = abc
dimana: A= Absorban, a= absorptivitas, b = tebal kuvet (cm), c =
konsentrasi Bila Absorbansi (A) dihubungkan dengan Transmittan (T) =
I/Io maka dapat diperoleh
A=log 1/T.
Absorptivitas (a) merupakan suatu konstanta yang tidak tergantung pada
konsentrasi, tebal kuvet, dan intensitas radiasi yang mengenai larutan
sampel. Tetapi tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul, dan
panjang gelombang radiasi.

Pada Hukum Lambert-Beer, terdapat beberapa batasan, antara lain:


1) Sinar yang digunakan dianggap monokromatis
2) Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang
luas yang sama
3) Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung
terhadap yang lain dalam larutan
4) Tidak terjadi peristiwa flouresensi atau fosforisensi
5) Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan.

Salah satu hal yang penting juga diingat adalah untuk menganalisis secara
spektrofotometri UV-Vis diperlukan panjang gelombang maksimal.
Adapun beberapa alasan mengapa harus menggunakan panjang gelombang
maksimal, yaitu:
a. Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena
pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk
setiap konsentrasi adalah yang paling besar
b. Di sekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar
dan pada kondisi tersebut hukum LambertBerr akan terpenuhi
c. Jika dilakukan pengukuran ulang, maka kesalahan yang disebabkan oleh
pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali, ketika digunakan
panjang gelombang maksimal.

Penyimpangan Hukum Beer


Jika dalam analisis suatu unsur tidak memenuhi Hukum Beer, maka
absorbansi tidak setara dengan konsentrasi. Jika ingin mengetahui apakah
suatu unsur memenuhi Hukum Beer atau tidak maka perlu ditentukan
grafik kalibrasi absorbansi vs konsentrasi. Hukum Beer hanya dapat
dipenuhi jika dalam range (cakupan) konsentrasi hasil kalibrasi berupa
garis lurus, jadi kita hanya bekerja pada linear range. Seringkali sampel
yang dianalisa akan memiliki absorbansi yang lebih tinggi dari pada
larutan standar. Jika kita berasumsi bahwa kalibrasi tetap linier pada
konsentrasi yang lebih tinggi.
Dengan cara ramalan kalibrasi yang linier [itu]. Hal ini tidak boleh
diilakukan karena bagaimanapun, ketika kita tidak bisa mengetahui apakah
hukum Beer masih terpenuhi pada konsentrasi yang lebih tinggi. Jika
Hukum Beer tidaklah terpenuhi pada konsentrasi yang lebih tinggi, hasil
dari pengukuran akan merupakan suatu kesalahan besar ( ketelitian sangat
kecil) Sekalipun standar lebih lanjut disiapkan dan kurva dicoba ke data,
ketepatan dari hasil akan sangat lemah dalam kaitan dengan ketidak-
pastian di (dalam) membaca konsentrasi dari kurva.
Oleh karena itu, larutan yang memiliki absorbansi lebih tinggi dari larutan
standar harus diencerkan sampai memenuhi konsentarasi larutan standar
yang telah ada.

IV. PROSEDUR KERJA


a. Penyediaan Tempe Bebas Lemak
1. Siapkan tempe yang telah digerus dan dikeringkan
2. Timbang tempe sebanyak 15 g dan masukkan ke dalam gelas
kimia 250 ml
3. Tambahkan 200 ml n-heksan kevdalam gelas kimia berisi tempe
4. Masukkan ke dalam sanikator dan atur suhu air sebesar 40C dan
panaskan selama 30 menit.
5. Saring campuran, residu tetap tinggal di dalam gelas kimia,
pelarut disimpan dalam wadah bersih.
6. Residu tempe dikeluarkan dari Erlenmeyer, ditempatkan pada
selembar kertas atau wadah kering, baru dikering-anginkan pada
suhu kamar.
7. Tempe kering yang diperoleh di sini adalah tempe bebas lemak,
lemak sudah terlarut ke dalam n-heksan.

b. Ekstraksi Flafonoid dari Tempe Bebas Lemak


1. Tempe bebas lemak yang diperoleh pada prosedur sebelumnya
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer tutup asah yang bersih dan
ditambah dengan etanol 95% sebanyak 200 mL, dikocok selama 5
menit dan diamkan selama beberapa menit.
2. Campuran disaring, filtrate ditampung secara kuatitatif dalam
Erlenmeyer bersih
3. Residu tempe ditambah lagi dengan 100 mL etanol 95%, dikocok
selama 5 menit baru disaring, filtrat dicampur dengan filtrat
etanol sebelumnya (dianggap sebagai ekstrak etanol).
4. Ekstrak etanol dipindahkan secara kuantitatif ke dalam labu
Rotavapor vakum, lalu dipekatkan sampai tersisah 50 mL.

c. Penentuan Kadar Flavonoid


1. Ekstrak etanol dari tempe yang telah dipekatkan melalui
rotavapor diencerkan menjadi 50—100 mL (volume ekstrak
etanol, V) dengan etanol.
2. Dipipet 0,1 mL larutan ekstrak tersebut (1) ke dalam labu takar 50
mL dan ditambah dengan 25 mL air suling dan 3 mL
FeNH4(SO4)2 0,10 M.
3. Campuran no.2 disimpan selama 20 menit pada suhu kamar
kemudian ditambahkan dengan K3Fe(CN)6 0,008 M sebanyak 0,5
mL, kemudian dihimpitkan sampai tanda batas dengan air suling
dan setelah itu dikocok dan simpan pada suhu kamar selama 20
menit.
4. Setelah tepat 20 menit segera ukur serapannya pada panjang
gelombang 720 nm, catat serapan (As).
5. Konsentrasi polifenol dalam larutan ekstrak etanol (Cs)
ditentukan dengan metode kurva standar secara ekstrapolasi atau
menggunakan persamaan garis lurus yang diperoleh dari kurva
standar.

d. Prosedur Pembuatan Larutan Standar


1. Disediakan larutan asam tannat dengan konsentrasi 1 g dalam 100
mL larutan (1%);
2. Larutan no. 1 dipipet 1 mL ke dalam labu takar 100 mL dan
encerkan sampai tyanda batas dengan air suling;
3. Disedian 5 buah labu takar 50 mL yang bersih, dan ke dalamnya
dipipet beruturut-turut 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; dan 0,5 mL larutan no.2
dan masing-masing ditambah dengan 25 mL air suling, dikocok
dengan baik;
4. Ke dalam masing-masing larutan no.3 ditambahkan 3 mL
FeNH4(SO4)2 0,10 M lalu dikocong dan didiamkan selama 20
menit;
5. Kemudian ditambahkan 0,5 mL larutan K3Fe(CN)6 0,008 M dan
setelah itu diimpitkan sampai tanda batas dengan air suling,
didiamkan selama 20 menit baru diukur serapannya pada panjang
gelombang 720 nm;
6. Catat serapannya dan buat kurva standar antara konsentrasi asam
tannat dalam larutan dengan serapannya masing-masing.
V. DATA PENGAMATAN
1. Data hasil penimbangan
Berat Tempe = 15,0085 g

2. Data dan perhitungan konsentrasi larutan standar


 Berat asam tannat : 1,0017g
 Volume larutan asam tannat : 100 ml
 Konsentrasi larutan asam tannat : 5,88  10-3 M
 Pengenceran larutan asam tannat
1. 0,1 mL menjadi 50 mL
2. 0,2 mL menjadi 50 mL
3. 0,3 mL menjadi 50 mL
4. 0,4 mL menjadi 50 mL
5. 0,5 mL menjadi 50 mL

3. Data hasil pengukuran serapan larutan standar


No
Konsentrasi (ppm) Absorbansi
.
1. 20,034 ppm 0,438
2. 40,068 ppm 0,453
3. 60,102 ppm 0,494
4. 80,136 ppm 0,546
5. 100,17 ppm 0,466
6. Sampel 0,632

VI. DATA PERHITUNGAN


Perhitungan konsentrasi larutan standar:
 0,1 mL menjadi 50 mL
M1  V1 = M2  V2
10017 ppm  0,1ml = M2  50 ml
M2 = 20,034 ppm

 0,2 mL menjadi 50 mL
M1  V1 = M2  V2
10017 ppm  0,2ml = M2  50 ml
M2 = 40,068 ppm
 0,3 mL menjadi 50 ml
M1  V1 = M2  V2
10017 ppm  0,3ml = M2  50 ml
M2 = 60,102 ppm
 0,4 ml menjadi 50 ml
M1  V1 = M2  V2
10017 ppm  0,4 ml = M2  50 ml
M2 = 80,136 ppm
 0,5 ml menjadi 50 ml

M1  V1 = M2  V2
10017 ppm  0,5ml = M2  50 ml
M2 = 100,17 ppm
Kurva Absorbansi
0.6

0.5
f(x) = 0 x + 0.43
R² = 0.31
0.4

0.3

0.2

0.1

0
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110

VII. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini adalah isolasi polifenol. Polifenol adalah
kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan, salah satunya yaitu
tempe. Pada praktikum ini dilakukan dengan proses isolasi karena
senyawa fenol sangat peka terhadap oksidasi enzim dan mungkin hilang
pada proses isolasi akibat kerja enzim fenolase yang terdapat dalam
tumbuhan.
Tempe dicampurkan dengan pelarut n-heksan untuk menarik
komponen minyak yang terkandung dalam kedelai tempe. Hal ini
bertujuan menghasilkan tempe bebas lemak. Alat yang digunakan untuk
mempercepat proses ini adalah sonikator. Tempe bebas lemak kemudian
diekstraksi menggunakan pelarut etanol menggunakan metode maserasi.
Pemilihan etanol sebagai pelarut karena etanol dapat menarik komponen
polifenol dari tempe yang kemudian disebut filtrat. Filtrat ini dipekatkan
dengan setting pemanasan suhu etanol sehingga sebagian etanol akan
menguap dan tersisa senyawa polifenol dalam campuran etanol.
Filtrat tersebut ditambahkan FeNH4(SO4)2 untuk menciptakan
suasana basa yang akan mendorong terjadinya reaksi antara senyawa
polifenol. Larutan akan berwarna biru yang kemudian diukur
absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
Data absorbansi dari sampel diperoleh 0,632. Sedangkan nilai
absorbansi larutan standar terdapat penyimpangan yaitu pada data ke lima
dengan konsentrasi larutan 100,17 ppm diperoleh 0,466 abs yang mana
nilai tersebut menurun. Hal ini dikarenakan menurut literatur, semakin
tinggi konsentrasi larutan maka semakin tinggi nilai absorbansinya.
Senyawa polifenol yang terkandung dalam tempe sebanyak 6,38%.
Senyawa fenol yang akan diuji kemungkinan terjadi kerusakan pada saat
perlakuan pengujian atau proses pengujian yang tidak tepat sehingga
mendapatkan nilai ketelitian yang rendah. Selain itu, proses pengolahan
produk juga akan mempengaruhi total polifenol dalam bahan karena
sangat mudah teroksidasi dan rusak. Hal yang paling mempengaruhi hasil
praktikum ini adalah proses ekstraksi yang dilakukan dalam waktu singkat
sehingga pelarut belum menarik semua komponen polifenol yang
terkandung dalam tempe.

VIII. KESIMPULAN
1. Tempe diekstraksi dengan pelarut n-heksan untuk memperoleh
tempe bebas lemak.
2. Tempe diekstraksi menggunakan pelarut etanol dengan metode
maserasi.
3. Ekstrak polifenol hasil pemekatan diperoleh sebanyak 34ml.
4. Kandungan senyawa polifenol dalam tempe adalah 6,38%.

IX. SARAN
1. Saat praktikum alat yang digunakan harus dalam keadaan bersih dan
praktikan menggunakan APD yang lengkap.
2. Volume larutan yang dipipet harus tepat agar tidak mempengaruhi
konsentrasi dan absorbansi larutan.
3. Proses ekstrasi dilakukan sesuai prosedur dan waktu pendiaman
sebaiknya lebih lama lagi.

X. DAFTAR PUSTAKA
Agustriani. Ningsih. 2019. Isolasi Polifenol.
https://id.scribd.com/document/396705086/ISOLASI-
POLIFENOL. (diakses 02 Desember 2020).
Isnawati, Lina. 2015. Laporan Polifenol. Jurusan Teknologi Hasil
Pertanian. Universitas Jember.

Anda mungkin juga menyukai