Anda di halaman 1dari 2

Mendampingi Proses II

Menyaksikan mereka hari ini duduk di bangku kelas 5 KMI serasa mimpi 😀

Sepertinya baru kemarin mendengar curhatan para emak tentang keluhan dan tangisan ga betah,
ingin keluar dari pondok dengan berbagai macam alasan

Mulai dari merasa kurang nyaman dengan fasilitas, merasa ga disukai teman, merasa ga kuat
mengikuti pelajaran, merasa di buly, merasa ga nyaman dengan perlakuan ustadznya, dan banyak
macam alasan lainnya yg di ungkapkan.

Tujuan utamany satu, yakni orang tua mengizinkan sekligus memberi restu supaya mereka bisa
keluar dari pondok, lepas dari segala aturan disiplin yang ketat juga kerumitan permasalahan yg
dihadapi dan bisa menikmati kehidupan luar asrama yg menurut mereka lebih bebas dan lebih seru.

Beberapa diantara mereka memang akhirnya 'menyerah' Dan meninggalkan pondok sebelum masa
studi berakhir. Namun saya angkat jempol bagi org tua yg hingga hari ini masih mensupport putra
putri nya utk bertahan dan berjuang menyelesaikan studi nya di pondok..karena memang sangat
tidak mudah.. *Saya tengah merasakannya pemirsaaah.

Seperti halnya beberapa pengalaman yg sdh saya tulis sebelumnya, bahwa pembelajaran di pondok
dengan sistem asrama dan disiplin ketat akan jauh berbeda dengan kondisi sekolah diluar pada
umumnya bahkan sekolah bertitle boarding sekalipun. Karena memang pondok tidak sekedar
memberikan 'pengajaran' tapi lebih dari itu pondok juga memberikan 'pendidikan'

Pendidikan tentang hidup dan kehidupan. Santri tidak hanya sekedar di ajar dikelas diberikan
pelajaran, lalu ujian dan pulang.

Lebih dari itu pondok mendidik para santri utk bisa hidup mandiri Dan menjadi pribadi2 solutif
juga berani.

'Soal' nya darimana? 'Soal' nya dari banyak nya permasalahan yg dihadapi mereka.. Ya itu tadi
merasa g nyaman dgn disiplin, gesekan dgn teman sekelas, teman sekamar, kk kelas, 'godaan' saat
liburan (lawan jenis, gudget, television dsb) yg membuat mereka enggan kembali ke pondok dan
lebih merasa nyaman dengan kondisi diluar pondok.

Bapak ibu sekalian, itulah seni nya memondokkan anak.

Kyai Hasan Abd Sahal selalu mengingatkan tentang TITIP (TEGA, Ikhlas, Tawakkal, Ikhtiar Dan
Percaya pada pondok)

Menempatkan kata TEGA pada point pertama menunjukkan kunci memondokkan anak memang
harus tega, kalau masih setengah hati, atau karena hanya ingin dan masih ada keraguan sebaiknya
dipikirkan ulang, supaya dalam perjalanan si anak tholabul ilmi di pondok bisa berjalan beriringan,
kompak Dan sinergi.

Kyai Dan asatidz di pondok ikhlas mengajar para santri ikhlas belajar dan orang tua ikhlas
menitipkan putra putrinya di pondok.

Jika ada permasalahan atau hal-hal yg sekiranya mengganjal dari cerita yg disampaikan anak-anak,
segera tabayun dengan pihak pondok, tidak menelannya mentah-mentah atau mencari solusi dari
org lain yg TIDAK PAHAM DAN TIDAK TAHU SELUK BELUK PONDOK, karena akibatnya
akan sangat fatal..

Percayalah 'Zona ketidaknyamanan' yg mereka hadapi di pondok akan menjadikan mereka survival
tangguh, juga mendidik mental mereka jauh lebih kuat, berani dan solutif 😊(berdasarkan
pengalaman pribadi juga kedua anak saya yg saat ini mondok) - yg pernah baca kisah saya & anak-
anak sebelum dan sesudah mondok tentu paham 😅

Demikian halnya bagi mereka para santri kelas 5 ini, disaat harus menyelesaikan permasalahan
pribadi, mereka juga diberikan pendidikan dalam bentuk PENUGASAN, utk menjalankan amanah
sebagai roda penggerak organisasi pondok (OPPM & KOORDINATOR pramuka) yg membantu
kyai menjalankan juga mengontrol aktivitas kegiatan juga disiplin ribuan santri secara keseluruhan
Selama 24 jam penuh.

Dan untuk sampai pada tahap ini bukan hal yg mudah, karena minimal 4tahun sebelumnya mereka
telah mengalami pahit manis asam asin, suka duka menjalani kehidupan sebagai santri dan mereka
berhasil menaklukkan dirinya sendiri keluar dari ZONA NYAMAN yg fana

Baarokallah.. Maannajah...

*bangga sekaligus haru menyaksikan mereka hari ini...keingetan para emak yg dulu nyaris
menyerah karena 'ulah' mereka yg keukeuh mau keluar pondok dan akhirnya mereka bs melewati
'masa kritis' itu, Kiniii senyum kebanggaan kebahagiaan.

Jangan kasih kendor ya mama muadz, mama radit, mama raffi izwan, bunda hakiki, mama
shofwan, ibu hanif, umi rasyid, mama irsyad, ibu salim, and all emak2 tangguh kelas 5 😄😄 kita
terus kawal 1,5 tahun kedepan hingga mereka lulus nanti ..amiiin yaa Allah 🤗🤗🤗