Anda di halaman 1dari 6

Laporan Rekap Tanya Jawab dan Diskusi

Minggu, 13 Juni 2021

“Konsep Validitas dan Reliabilitas Instrumen”

Disajikan Pada Mata Kuliah:


Evaluasi Pendidikan
Dosen Pengampuh:
Dr. Imam Suseno, SE, M.Pd

Di susun oleh:
Kelompok 6
Ahmad Firdaus (20197279030)
Mara Vitalaya (20197279038)
Fitriana (20197279061)
Awaliya Nurul Harwati (20197279075)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MIPA


FAKULTAS PASCASARJANA
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
2021
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

Terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Dr. Imam Suseno, SE, M.Pd atas bimbingannya
dan teman-teman kelas 2n MIPA atas kerjasama dan perhatiaannya dalam diskusi/tanya
jawab dengan kelompok 6.
Kami mencoba menjawab beberapa pertanyaan dari teman-teman, semoga dapat diterima,
dan mohon maaf apabila jawaban dari kami belum sesuai dan belum tepat.

 Pertanyaan 1:
Dari Jimmy Isa Rahayu (20197279019) perwakilan kelompok 8.
Bagaimana jika instrumen yang kita telah ujikan tidak valid dan tidak reliabel, apa yang harus
kita lakukan dan apa tips untuk membuat instrument yang baik agar hasilnya valid dan
reliabel?

Jawaban: (Dari Kelompok 6)


Setiap butir soal dalam instrumen harus diujikan validitas dan reliabilitasnya. Untuk
mengukur ketepatan sesuatu yang harus diukur harus sesuai indikator yang ada. Bila terdapat
butir soal yang tidak valid, maka butir soal tersebut harus dievaluasi dan diganti kemudian
diujikan kembali hingga memperoleh butir soal yang valid dan reliabel.
Ada beberapa cara untuk membuat instrumen yang baik agar hasilnya valid dan reliabel,
yaitu:
- mengkonsep konstruk yang akan diteliti
- menggunakan level pengukuran yang tepat
- menggunakan beberapa indikator untuk satu variabel
- memperbanyak jumlah sampel yang digunakan
- memperbaiki pertanyaan angket lalu mengujinya kembali
- melakukan drop terhadap item yang tidak valid
- memprediksi angket valid

 Pertanyaan 2:
Dari Mutmainah (20197279009) perwakilan kelompok 2.
Dalam Langkah-langkah pembuatan instrumen ada pembuatan pertanyaan. Berapa banyak
pertanyaan yang layak untuk dikatakan baik dan bisa untuk uji reliabilitas dan uji validitas?
Jawaban: (Dari Kelompok 6)
Dalam pembuatan instrumen, jumlah instrumen penelitian tergantung pada jumlah variabel
penelitian yang telah ditetapkan untuk diteliti. Untuk pengembangan butir soal tiap
instrumen, tidak ada ketentuan yang pasti, disesuaikan saja dengan kebutuhan dan dari
pertanyaan yang dibuat harus mampu mewakili indikator yang ditetapkan. Semakin banyak
soal pada instrumen itu ikut mempengaruhi derajat reliabilitasnya. Semakin tinggi tingkat
reliabilitas instrumen, semakin sedikit peningkatan yang terjadi akibat pelipat gandaan
butirnya. Makin banyak butir makin reliabel.

 Pertanyaan 3:
Dari Oman Abdul Rahman
Uji validitas dan reliabilitas ini hanya untuk soal yang dijadikan instrumen penelitian atau
soal dalam proses pembelajaran juga? Misal soal PAS atau PAT.
Kalau seperti soal UN atau soal SBMPTN, yang buatnya uji validitas uji reliabilitas juga?

Jawaban: (Dari Kelompok 6)


Uji validitas dan reliabilitas sudah seharusnya diterapkan baik dalam instrumen penelitian
maupun soal dalam proses pembelajaran (seperti soal PAS, PAT, UN), dan juga SBMPTN.
Baik tidaknya suatu instrumen penelitian ditentukan oleh validitas dan reliabilitasnya.
Validitas instrumen mempermasalahkan sejauh mana pengukuran tepat dalam mengukur apa
yang hendak diukur, sedangkan reliabilitas mempermasalahkan sejauh mana suatu
pengukuran dapat dipercaya karena keajegannya. Instrumen dikatakan valid saat dapat
mengungkap data dari variabel secara tepat tidak menyimpang dari keadaan yang sebenarnya.
Instrumen dikatakan reliabel saat dapat mengungkapkan data yang bisa dipercaya.

Untuk mengetahui keefektifan sistem pembelajaran, baik menyangkut tujuan, materi, metode,
media, sumber belajar, lingkungan maupun sistem penilaian itu sendiri, dilakukan evaluasi.
Agar evaluasi pembelajaran mampu mengukur apa yang ingin diukur atau mampu
mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan, maka alat ukur atau alat evaluasi yang
digunakan juga harus memenuhi kriteria standar pengukuran. Agar mampu mengukur
keberhasilan suatu pembelajaran dalam jenjang pendidikan, soal-soal yang digunakan
haruslah memenuhi kriteria tes yang baik dan benar. Tes dikatakan baik sebagai alat
pengukur kalau memiliki validitas, reliabilitas, dan objektivitas.

Pertanyaan 4:
Dari kelompok 8 (Muhammad Hitzkiel Haeqal)
Pada slide 12 validitas konstruk disebut mengukur sesuatu yang tidak dapat diobservasi
secara langsung (mungkin aspek kognitif, tingkat emosi, dll). Apakah validitas konstruk bisa
tersusupi asumsi subjektivitas? Bagaimana keabsahan validitas dan reliabilitasnya?

Jawaban: (Dari Kelompok 6)


Validitas konstruk bisa tersusupi asumsi subjektivitas dan sebagian besar konstruksi tidak
memiliki unit pengukuran yang nyata. Salah satu alasannya karena dalan menguji validitas
konstruk mengacu pada skala data atau tes mengukur konstruk secara memadai dalam riset.
contoh validitas konstruk dalam penelitian adalah pengukuran otak manusia seperti aspek
kognitif, tingkat emosi, kemahiran atau kemampuan.
Validitas konstruk merupakan derajat yang menunjukkan suatu tes mengukur sebuah
konstruk sementara. Konstruk, secara definitif, merupakan suatu sifat yang tidak dapat
diobservasi, tetapi kita dapat merasakan pengaruhnya melalui satu atau dua indra kita.

Contoh konstruk dalam pendidikan anak seperti Intelligence Quotient (IQ), melalui penelitian
menghasilkan bahwa seseorang yang memiliki IQ lebih tinggi, ada kecenderungan bahwa
orang tersebut dapat mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan lebih baik. Dalam dunia
pendidikan, contoh lain yang menyangkut konstruk, misalnya ketakutan, kreativitas,
semangat, dan sebagainya.

Proses melakukan validasi konstruk dapat dilakukan dengan cara melibatkan hipotesis testing
yang dideduksi dari teori yang menyangkut dengan konstruk yang relevan. Misalnya jika
suatu teori kecemasan menyatakan bahwa seseorang yang memiliki kecemasan yang lebih
tinggi akan bekerja lebih lama dalam menyelesaikan suatu masalah, dibanding dengan orang
yang memiliki tingkat kecemasan rendah. Jika terjadi orang yang cemasnya tinggi ternyata
kemudian bekerja sebaliknya, yaitu lebih cepat, ini bukan berarti bahwa tes yang sudah baku
tadi berarti tidak mengukur kecemasan orang. Atau dengan kata lain hipotesis yang
berhubungan dengan tingkah laku seseorang dengan kecemasan tinggi tidak benar. Dari kasus
tersebut mengindikasikan bahwa konstruk yang berhubungan dengan orang yang memiliki
kecemasan tinggi memerlukan kaji ulang, guna mengadakan koreksi dan penyesuaian
kembali. Umumnya beberapa studi yang tidak berhubungan digunakan untuk mendukung
kredibilitas tes konstruk yang telah ada.

 Pertanyaan 5:
Dari Hitnatun Fatonah (Kelompok 2)
Jika sebuah alat tes mencapai validitas namun tidak reliabel, bagaimana kualitas alat tes
tersebut? Dan bagaimana jika terjadi kebalikannya?

Jawaban: (Dari Kelompok 6)


Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapat data (mengukur) itu
valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang
seharusnya diukur. Instrumen yang reliabel belum tentu valid.
Validitas dan reliabilitas bersifat saling melengkapi, namun terkadang juga dapat bersifat
bertolak belakang. Dalam suatu contoh misalnya ada suatu alat ukur yang memiliki validitas
tinggi namun memiliki reliabilitas rendah, hal ini dapat terjadi dalam pengukuran dengan
pendekatan kualitatif. Misalnya konstruk yang diukur merupakan suatu konstruk yang sangat
abstrak yaitu alineasi yang digali melalui metode wawancara, hal ini mungkin dapat
dikatakan memiliki validitas yang tinggi namun reliabilitas yang rendah karena tergantung
pada bagaimana peneliti menggunakan instrumen penelitian.
Contoh lain misalnya suatu alat ukur yang memiliki reliabilitas tinggi namun validitasnya
rendah. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa suatu alat ukur memiliki
keajegan dalam mengukur namun kurang tepat dalam mengukur apa yang hendak diukur atau
tidak dapat mengenai sasaran terhadap apa yang diukur. Berdasarkan penjabaran tersebut,
maka alat ukur itu memiliki kualitas yang rendah.
Namun sebaliknya, jika suatu alat ukur valid maka kemungkinan besar reliabilitasnya akan
dapat mengikuti menjadi baik juga. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa suatu alat ukur
yang valid akan cenderung memiliki reliabilitas yang tinggi, namun alat ukur yang memiliki
reliabilitas yang tinggi belum tentu valid.

 Pertanyaan 6:
Dari Mutmainah (Kelompok 2)
Ada beberapa rumus dalam uji reliabilitas. Mohon dijelaskan manakah rumus yang paling
tepat untuk survey dan juga eksperimen, dan apakah ada perbedaan jika kita menggunakan
rumus yang sama tetapi dengan metode penelitian yang berbeda?
Jawaban: (Dari Kelompok 6)
Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan teknik belah dua dari Spearman
Brown (Split half), KR.20, KR.21 dan Anova Hoyt. Rumus yang sering digunakan adalah
metode belah dua. Dan mengenai rumus mana yang paling tepat untuk survei ataupun
eksperimen bahwasannya menurut kelompok kami tidak ada ketentuan yang pasti mengenai
rumus yang paling tepat untuk survey dan eksperimen. Hal tersebut tergantung dari model
yang dipergunakan dalam penelitian.

 Pertanyaan 7:
Dari Sutrisni (kelompok 1)
Apakah benar pengujian reliabilitas pada soal-soal yang valid saja? Jika benar mengapa
demikian?

Jawaban: (Dari Kelompok 6)


Instrumen ataupun soal-soal yang valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk
mendapatkan hasil penelitian ataupun hasil pembelajaran yang berkualitas.
Ya, benar pengujuan reliabilitas hanya dilakukan pada soal-soal yang valid saja karena nilai-
nlai untuk pengujian reliabilitas berasal dari skor-skor item angket atau soal-soal yang valid.
Item atau soal-soal yang tidak valid tidak dilibatkan dalam pengujian reliabilitas.
Ada kecenderungan bahwa jika semua butir sudah valid akan reliabel, akan tetapi hal tersebut
tidak merupakan suatu jaminan. Upaya yang dapat dilakukan agar menjadi reliabel adalah
dengan menggunakan pengujian reliabilitas yang lain, atau memodifikasi indikator yang
dipergunakan.

Anda mungkin juga menyukai