Anda di halaman 1dari 324

KOLEKSI ISTIMEWA

www.facebook.com/indonesiapustaka

BIARKAN AKU MENCINTAIMU


TWO ALONE
9 789792 222425

SANDRA BROWN
www.facebook.com/indonesiapustaka
BIARKAN AKU MENCINTAIMU
TW O A LO N E
www.facebook.com/indonesiapustaka
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014
tentang Hak Cipta

1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak


ekonomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf i un­
tuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta
atau pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pen­
cipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf
d, huruf f, dan atau huruf h, untuk penggunaan secara komersial
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/
atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah).
3. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta
atau pemegang hak melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta
sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b,
www.facebook.com/indonesiapustaka

huruf e, dan atau huruf g, untuk penggunaan secara komersial di­


pidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/
atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).
4. Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana
denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
SANDRA BROWN

BIARKAN AKU MENCINTAIMU


T W O AL O N E
www.facebook.com/indonesiapustaka

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama


Jakarta
TWO ALONE
by Sandra brown
Copyright © 1987 by Erin St. Claire
© 2018 PT Gramedia Pustaka Utama
All rights reserved including the right of reproduction
in whole or in part any form.
his edition is published by arrangement with Harlequin Books S.A.
his is a work of iction. Names, characters, places, and incidents are
either the product of the author’s imagination or are used ictitiously,
and any resemblance to actual persons, living or dead,
business establishments, events, or locates is entirely coincidental.
Trademarks appearing on Edition are trademarks owned by Harlequin
Enterprises Limited or its corporate ailiates and used
by others under licence.
All rights reserved.

BIARKAN AKU MENCINTAIMU


oleh Sandra brown

618180032

Hak cipta terjemahan Indonesia:


PT Gramedia Pustaka Utama

Alih bahasa: Sutanty Lesmana


Desain sampul: Marcel A.W.

Diterbitkan pertama kali oleh


Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
anggota IKAPI,
Jakarta, Januari 1999

Cetakan keenam: September 2018

www.gpu.id

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.


www.facebook.com/indonesiapustaka

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian


atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

ISbN: 9789792222425
IDbN DIGITAL: 9786020386386

320 hlm; 18 cm

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta


Isi di luar tanggung jawab percetakan
1

MEREKA semua tewas.


Semua, kecuali dirinya.
Ia yakin akan hal itu.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak ter­
jadinya benturan itu. Entah berapa lama pula ia tetap
duduk membungkuk dengan kepala rapat di pangkuan­
nya. Mungkin hanya sepersekian detik, atau menit, atau
tahun cahaya. Waktu seakan tidak bergerak.
Semuanya bagaikan tanpa akhir. Logam­logam yang
koyak bergeser ke sana kemari, sebelum akhirnya ber­
henti dengan bunyi deritan panjang. Pohon­pohon yang
terpotong—korban­korban tak berdosa dari kecelakaan
ini—sudah tidak lagi bergetar. Kini hampir­hampir tak
www.facebook.com/indonesiapustaka

ada sehelai daun pun yang bergoyang. Segalanya begitu


diam. Tak ada suara.
Anehnya, pikirannya saat itu justru tertuju pada se­
batang pohon yang didengarnya jatuh di hutan. Apakah
pohon yang tumbang akan menimbulkan suara? Ya,
pasti. Dan ia mendengarnya. berarti ia masih hidup.

5
Ia mengangkat kepalanya. Rambut dan bahunya,
serta punggungnya, dipenuhi potongan­potongan plas­
tik yang bertebaran, sisa­sisa jendela di samping tempat
duduknya. Ia menggelengkan kepala sedikit dan serpih­
serpih plastik itu berjatuhan, menimbulkan bunyi den­
ting nyaring dalam kensunyian. Perlahan­lahan ia me­
maksakan diri membuka mata.
Ia hendak menjerit, namun tak sanggup bersuara.
Pita­pita suaranya seolah telah membeku. Ia terlalu
ngeri untuk menjerit. Malapetaka ini jauh lebih menge­
rikan daripada yang bisa dibayangkan.
Kedua laki­laki yang duduk tepat di depannya sudah
mati. Kedua sahabat yang selalu ramai bercanda itu
sekarang tidak lagi bisa tertawa. Kepala salah satu di
antara mereka sudah melayang ke luar jendela. Rusty
sadar akan hal itu, meski tidak melihat dari dekat. Di
sekitarnya menggenang lautan darah. Ia memejamkan
matanya rapat­rapat dan baru membukanya lagi setelah
memalingkan kepala.
Di seberang lorong, seorang laki­laki lain tergeletak
mati, kepalanya tersandar di bantalan, seolah­olah ia
sedang tidur ketika pesawat itu jatuh. Si Penyendiri.
begitulah julukannya untuk lelaki itu, sejak sebelum
keberangkatan. Karena pesawat yang mereka tumpangi
www.facebook.com/indonesiapustaka

kecil, ada peraturan ketat mengenai berat. Sementara


para penumpang lain berikut bagasi mereka ditimbang
sebelum masuk ke pesawat, si Penyendiri berdiri memi­
sah, sikapnya angkuh dan tidak bersahabat. Para pe­
numpang lain, yang ramai saling membanggakan hasil
buruan mereka, jadi enggan mengajaknya bercakap­

6
cakap. Sikapnya yang menjaga jarak membuatnya ter­
isolasi—sama halnya dengan Rusty, meski untuk alasan
berbeda.
Rusty satu­satunya penumpang wanita di pesawat
itu.
Dan sekarang ia satu­satunya yang selamat.
Saat memandang ke bagian depan kabin, tampak
olehnya bahwa kokpit telah terputus dari badan pesa­
wat, seperti tutup botol yang dipuntir lepas. Kokpit itu
terlempar beberapa meter. Pilot dan kopilot yang masih
muda dan periang itu jelas sudah tewas bersimbah da­
rah.
Rutsy menelan rasa pahit yang memenuhi pangkal
tenggorokannya. Kopilot berjanggut dan bertubuh besar
itu telah membantunya naik ke pesawat sambil meng­
godanya. Katanya di pesawatnya jarang ada penumpang
wanita. Kalaupun ada, penampilannya tidak seperti
gadis model.
Kedua penumpang lainnya, sepasang kakak­beradik
setengah baya, masih dalam posisi duduk terikat sabuk
pengaman di bangku mereka di baris depan. Mereka
tewas terhantam batang pohon yang melesat masuk ke
dalam kabin, seperti logam pembuka kaleng. Keluarga
mereka akan sangat terpukul oleh tragedi ini.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rusty mulai menangis. Rasa takut dan putus asa


menyelimutinya. Ia takut akan pingsan. Atau akan mati.
Tapi ia juga takut akan tetap hidup.
Para penumpang lainnya mati dengan cepat, tanpa
rasa sakit. Kemungkinan mereka langsung tewas ketika
tabrakan itu terjadi. Mereka lebih beruntung. Ia sendiri

7
akan mengalami kematian yang panjang dan lama, sebab
sejauh yang dirasakannya, ia sama sekali tidak terluka.
Sungguh ajaib! Tapi ia akan mati perlahan­lahan karena
kelaparan, kehausan, dan kedinginan.
Ia heran kenapa ia masih hidup. Satu­satunya penje­
lasan adalah karena ia duduk di baris paling belakang.
Tidak seperti para penumpang lainnya, ia meninggalkan
seseorang di pondok di Great bear Lake itu. Ia agak
berlama­lama ketika mengucapkan selamat tinggal, se­
hingga ia menjadi penumpang terakhir yang naik ke
pesawat. Semua tempat duduk sudah diisi, kecuali satu
baris di paling belakang.
Ketika kopilot membantunya naik ke pesawat, semua
percakapan berisik itu langsung terhenti. Sambil mem­
bungkuk di bawah langit­langit pesawat yang rendah,
Rusty melangkah ke satu­satunya tempat duduk yang
kosong. Ia merasa sangat tidak nyaman menjadi satu­
satunya wanita di situ. Rasanya seperti memasuki ru­
angan penuh asap rokok yang para penghuninya sedang
asyik bermain poker. Ada beberapa hal yang sangat
berkesan maskulin dan tak bisa diubah lagi dengan cara
apa pun. Sama halnya dengan beberapa hal yang memi­
liki kesan sangat feminin.
Pesawat yang meninggalkan pondok perburuan dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

pemancingan di Northwest Territories merupakan sa­


lah satu hal yang berkesan maskulin itu. Rusty sudah
berusaha membuat kehadirannya tidak mencolok. Ia
duduk diam, memandang ke luar jendela. Ketika ia
menoleh, begitu pesawatnya lepas landas, matanya ber­
adu pandang dengan mata lelaki yang duduk di sebe­

8
rang lorong. Orang itu memandanginya dengan tatapan
tak senang yang begitu kentara, hingga Rusty kembali
berpaling ke jendela dan tidak menoleh lagi.
Selain pilot dan kopilot, mungkin ia termasuk yang
pertama menyadari datangnya badai itu. Hujan deras
yang diiringi kabut pekat membuatnya takut. Tak lama
kemudian, para penumpang lainnya juga mulai merasa­
kan pesawat terguncang­guncang. Percakapan riuh me­
reka segera digantikan dengan gumaman­gumaman geli­
sah tentang keinginan cepat­cepat lolos dari badai ini, dan
rasa syukur mereka karena bukan mereka yang ada di
belakang kemudi, melainkan kedua pilot tersebut.
Namun, kedua pilot itu mengalami kesulitan. De­
ngan segera para penumpang menyadari hal ini. Lambat
laun mereka terdiam dan memusatkan pandangan pada
kedua pria di kokpit itu. Ketegangan semakin mening­
kat ketika kedua pilot kehilangan kontak radio dengan
daratan. berbagai instrumen di pesawat itu tidak lagi
bisa diandalkan, sebab apa­apa yang ditunjukkan tam­
paknya sudah tidak akurat lagi. Karena kabut begitu
tebal dan tak bisa ditembus, mereka tidak melihat da­
ratan sejak lepas landas.
Ketika pesawat meluncur jatuh berputar­putar, pilot
berseru kepada para penumpang, ”Kita jatuh. Semoga
www.facebook.com/indonesiapustaka

Tuhan melindungi kita.” Semua menerima kabar itu


dengan pasrah dan dengan ketenangan menakjubkan.
Rusty segera membungkuk dan menjepit kepalanya
di antara lutut, lalu menutupinya dengna kedua lengan­
nya, sambil terus berdoa, sementara pesawat meluncur
jatuh. Waktu berlalu begitu lamban.

9
Ia takkan pernah melupakan shock yang dialaminya
ketika benturan pertama terjadi. Meski sudah bersiap­
siap, ternyata itu belum cukup. Ia tidak tahu kenapa ia
tidak langsung mati. Mungkin karena ukuran tubuhnya
lebih kecil, ia jadi bisa mengambil posisi lebih mantap
di antara dua kursi, sehingga akibat benturan itu tidak
terlalu berbahaya baginya.
Namun mengingat situasinya saat ini, rasanya bisa
tetap hidup bukan merupakan alternatif yang meng­
gembirakan. Pondok di ujung barat laut Great bear
Lake hanya bisa dicapai dengan pesawat terbang. Anta­
ra pondok itu dengan Yellowknife—tempat tujuan
mereka—terbentang berkilo­kilometer hutan belantara
yang jarang disentuh manusia. Entah sudah berapa jauh
jarak yang ditempuh pesawat mereka sebelum jatuh.
Kemungkinan baru berbulan­bulan kemudian regu pe­
nyelamat akan menemukannya. Sambil menunggu se­
andainya mereka datang, Rusty benar­benar sendirian
dan hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk berta­
han.
Pikiran itu memacunya untuk bergerak. Dengan kepa­
nikan yang mendekati histeria ia berusaha melepaskan
sabuk pengamannya. Ketika sabuk itu terbuka, ia tersu­
ruk ke depan dan kepalanya terbentur kursi di hadapan­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nya. Ia beringsut­ingsut ke lorong yang sempit, merang­


kak ke arah robekan menganga di tubuh pesawat.
Tanpa menyentuh mayat­mayat yang bergelimpang­
an, ia menengadah ke langit melalui lubang robekan
tubuh pesawat. Hujan sudah berhenti, namun awan
yang gelap dan menggantung rendah tampak begitu

10
berat, seolah siap memuntahkan isinya. berulang kali
terdengar suara petir menggelegar. Langit tampak di­
ngin, basah, dan penuh ancaman. Rusty menaikkan
kerah mantel bulu rubah merahnya tinggi­tinggi. Angin
tidak bertiup sedikit pun. Ia boleh bersyukur karena­
nya, sebab tiupan angin bisa sangat dingin. Tapi tung­
gu! Kalau tidak ada angin, dari mana asal suara itu?
Sambil menahan napas, ia menunggu.
Suara itu terdengar lagi.
Ia menoleh dan memasang telinga. Tidak mudah
mendengar apa pun di tengah debar jantungnya sendiri.
Ada gerakan.
Ia menatap lelaki yang duduk di seberang lorong.
benarkah ia hanya bayangan, atau kelopak mata laki­
laki yang dijulukinya si Penyendiri itu benar­benar
bergerak? Rusty kembali ke lorong itu, tubuhnya me­
nyapu lengan salah seorang korban yang tergantung­
gantung dan bersimbah darah, padahal tadi ia sudah
begitu hati­hati untuk menghindarinya.
”Oh, Tuhan, semoga dia masih hidup,” doanya de­
ngan penuh harapan. Tiba di lorong tersebut ia meng­
awasi wajah si laki­laki. Orang itu tampak duduk diam.
Kelopak matanya mengatup. Tidak ada gerakan. Tidak
pula ada erangan dari bibirnya yang tertutup kumis le­
www.facebook.com/indonesiapustaka

bar dan tebal. Rusty memperhatikan dadanya, tapi tidak


terlihat apakah lelaki itu masih bernapas atau tidak,
sebab ia mengenakan mantel tebal.
Rusty mengulurkan jari telunjuknya ke bawah lubang
hidung si lelaki, lalu berseru tertahan ketika merasakan
embusan napas. Memang sangat lemah, tetapi ada.

11
”Terima kasih, Tuhan, terima kasih.” Ia mulai terta­
wa dan menangis bersamaan. Perlahan­lahan ditepuk­
tepuknya pipi lelaki itu. ”bangunlah, Mister. bangun­
lah!”
Lelaki itu mengerang, tapi tidak membuka mata.
Perasaan Rusty mengatakan semakin cepat orang itu
siuman, semakin baik. Lagi pula, ia perlu memastikan
bahwa lelaki itu tidak mati, atau setidaknya belum mati.
Ia tidak ingin sendirian di sini.
Ia merasa udara dingin di luar bisa membantu mem­
bangunkan lelaki itu. Maka ia berniat membawa lelaki
itu ke luar pesawat. Ini tidak akan mudah, sebab mung­
kin lelaki itu lebih berat sekian puluh kilo daripada di­
rinya.
Dengan susah payah ia membuka sabuk pengaman
lelaki itu. Si lelaki langsung jatuh tersungkur ke depan,
seperti sekarung semen. Rusty menahannya dengan
bahu kanannya dan menyangganya di situ sambil sete­
ngah mengangkat dan setengah menyeret lelaki itu di
lorong, ke arah lubang di pesawat.
Perjalanan ke luar itu memakan waktu lebih dari
setengah jam. Ia terhalang oleh lengan penuh darah
yang tergantung­gantung itu, dan dengan menahan rasa
mual, terpaksa ia menyentuh lengan itu untuk menying­
www.facebook.com/indonesiapustaka

kirkannya. Kedua tangannya jadi berlumuran darah


lengket. Ia mengerang ngeri, tapi digigitnya bibir ba­
wahnya yang gemetar, dan ia terus menyeret lelaki itu
sepanjang lorong, sedikit demi sedikit.
Sekonyong­konyong ia menyadari, dengan memin­
dahkan orang ini, mungkin ia justru semakin memba­

12
hayakan keadaannya, apa pun luka yang dideritanya.
Tapi ia sudah telanjur sampai di sini. Ia tidak akan
berhenti sekarang. Ia mesti mencapai tujuannya, untuk
membuktikan bahwa ia bukannya tak berdaya. Ia telah
memutuskan untuk membawa laki­laki itu ke luar, dan
itulah yang akan dilakukannya.
Aku bisa mati karena kelelahan menyeretnya, pikir
Rusty beberapa menit kemudian. Ia sudah mengeluar­
kan lelaki itu sejauh mungkin. Sesekali orang itu meng­
erang, tapi selain itu ia tidak menunjukkan tanda­tanda
akan siuman. Rusty meninggalkannya sebentar, lalu
berjalan menerobos cabang­cabang pohon pinus. Selu­
ruh sisi kiri badan pesawat sudah terkoyak, jadi peng­
halangnya hanya cabang­cabang pohon pinus. Dipatah­
kannya sebanyak mungkin cabang­cabang dengan
tangannya. Lalu ia kembali ke tempat orang tadi diting­
galkannya.
Ia membalikkan tubuh lelaki itu, supaya bisa meme­
ganginya di bagian bawah lengannya. Ini saja memakan
waktu lima menit. Lalu ia menarik mundur orang itu
melalui jalur sempit dan penuh cabang pohon yang tadi
sudah dibersihkannya sedikit. Ranting­ranting pohon
yang kasar menggores tangannya, tapi untunglah seba­
gian besar tubuhnya terlindung oleh pakaiannya yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

tebal.
Ia terengah­engah kelelahan. Timbul keinginan un­
tuk istirahat sejenak, tapi ia khawatir tidak akan bisa
membangkitkan cukup tenaga untuk memulai lagi. Se­
karang lelaki itu terus­menerus mengerang. Lelaki itu
pasti kesakitan, tapi Rusty tak bisa berhenti. Kalau ia

13
berhenti, lelaki itu akan kembali pingsan dan keadaan­
nya akan lebih parah.
Akhirnya Rusty merasakan udara dingin menerpa
pipinya. Ia menyentakkan kepala, menghindari cabang
terakhir yang menyentuhnya, dan melangkah ke sebuah
tempat terbuka. Sambil tersandung­sandung ia menarik
lelaki itu, sampai si lelaki pun berada di tempat terbuka
tersebut. Ia merasa sangat lelah, otot­otot lengan, kaki,
dan punggungnya panas bagai terbakar. Ia pun menja­
tuhkan diri di tanah. Kepala lelaki itu terkulai di pang­
kuannya.
Rusty duduk bertopang dengan tangannya dan me­
nengadah ke langit, sampai napasnya kembali normal.
Saat menghirup udara dingin menggigit itu ke dalam
paru­parunya, untuk pertama kalinya ia bersyukur bah­
wa ia masih hidup. Ia juga bersyukur karena ada sese­
orang bersamanya di sini.
Ia memperhatikan lelaki itu dan melihat benjolan se­
besar telur angsa di pelipisnya. Pasti itulah yang membu­
atnya tak sadarkan diri. Didorongnya bahu lelaki itu se­
tinggi mungkin, untuk membebaskan kakinya yang
tertindih tubuh si lelaki. Kemudian Rusty merangkak ke
sampingnya dan mulai melepaskan kancing­kancing
mantel tebalnya. Mudah­mudahan tidak ada luka serius,
www.facebook.com/indonesiapustaka

pikirnya. Ternyata memang tidak. Orang itu mengenakan


kemeja lanel dari bahwa wol yang biasa dikenakan para
pemburu. Tidak ada noda­noda darah di kemeja itu, dan
tidak ada tanda­tanda perdarahan serius mulai dari ujung
tubuh hingga ujung kaki lelaki itu.
Sambil mengembuskan napas lega, Rusty membung­

14
kuk dan menepuk­nepuk pipi lelaki itu lagi. Ia menduga
usia orang ini sekitar empat puluh tahun, dan tampak­
nya ia menjalani kehidupan keras. Rambutnya agak
panjang dan bergelombang, berwarna cokelat seperti
kumisnya. Tapi ada nuansa pirang di kumis itu, juga di
sepasang alisnya yang tebal. Kulitnya kecokelatan kare­
na terbakar matahari sepanjang tahun. Ada garis­garis
halus di sudut matanya. Mulut lebar dan tipis, dengan
bibir bawah sedikit lebih tebal daripada bibir atas.
Wajah maskulin ini bukan wajah orang yang bekerja
di kantor. Wajahnya cukup menyenangkan, meski tidak
bisa dikategorikan ketampanan yang klasik. Ada kesan
keras pada wajah itu, kesan sulit didekati yang dirasa­
kan Rusty dalam pembawaan lelaki tersebut.
Rusty agak gelisah memikirkan reaksi si lelaki kalau
nanti ia siuman dan mendapati diri berada di tengah
hutan bersamanya. Tapi Rusty tak perlu menunggu
lama. Tak lama kemudian, kelopak mata orang itu me­
ngerjap, lalu membuka.
Sepasang mata kelabu itu menatap Rusty sejenak,
lalu terpejam, dan akhirnya membuka lagi. Rusty ingin
berbicara, namun urung, karena kata pertama yang
meluncur dari bibir lelaki itu berupa makian yang sa­
ngat kasar. Rusty terperanjat, namun berusaha memak­
www.facebook.com/indonesiapustaka

lumi. Mungkin rasa sakitlah yang membuat orang ini


memaki kasar. Lelaki itu kembali memejamkan mata,
dan baru membukanya lagi beberapa saat kemudian.
”Kita jatuh,” katanya. Rusty mengangguk. ”Sudah
berapa lama?”
”Aku tidak tahu pasti,” sahut Rusty dengan gigi ge­

15
meletuk. Rasanya bukan karena udara dingin, tapi ka­
rena ketakutan. Pada lelaki ini? Kenapa? ”Mungkin se­
kitar satu jam.”
Sambil mengerang kesakitan, si lelaki, memegangi
benjolan di kepalanya dengan satu tangan, sambil ber­
tumpu pada tangan satunya. Rusty mundur supaya le­
laki itu bisa duduk tegak. ”bagaimana dengan yang la­
innya?”
”Semuanya tewas.”
Lelaki itu berusaha berdiri dan dengan bertumpu
pada satu lutut, tapi tubuhnya limbung dengan hebat.
Otomatis Rusty mengulurkan tangan untuk memban­
tunya, tapi lelaki itu menepisnya. ”Kau yakin?”
”Yakin mereka sudah mati? Ya. Maksudku... kurasa
begitulah.”
Lelaki itu menoleh dan menatapnya dengan tak per­
caya. ”Kau sudah memeriksa denyut nadi mereka?”
Ternyata matanya sama sekali bukan kelabu seperti
langit di atas, pikir Rusty. Mata itu jauh lebih dingin
dan menakutkan. ”Tidak, aku tidak memeriksanya,”
Rusty mengakui dengan perasaan menyesal.
Sejenak lelaki itu memandanginya dengan sorot
mengkritik, lalu dengan susah payah ia menarik dirinya
bangkit. Sambil berpegangan pada batang pohon di
www.facebook.com/indonesiapustaka

belakangnya, ia berjuang untuk berdiri tegak dan meng­


atur keseimbangan.
”Apa... apa yang kaurasakan?”
”Rasanya aku mau muntah.”
Satu hal sudah jelas. Orang ini tidak bisa berbicara
lebih halus. ”Mungkin seharusnya kau berbaring.”

16
”Sudah jelas.”
”Lalu bagaimana?”
Lelaki itu menatap Rusty, masih sambil memegangi
kepalanya. ”Jadi, kau yang mau ke sana untuk memerik­
sa denyut nadi mereka?” tanyanya. Ia mengamati pipi
Rusty yang memucat, lalu tersenyum mengejek. ”Sudah
kuduga kau tidak akan mau,” katanya.
”Tapi aku menolongmu, bukan?”
”Yeah,” sahutnya datar. ”Kau menolongku.”
Rusty tidak berharap lelaki ini mencium tangannya
karena telah diselamatkan, tapi apa salahnya mengucap­
kan terima kasih saja? ”Kau memang tidak tahu terima
ka—”
”Percuma,” sela si lelaki.
Rusty memperhatikan lelaki itu melangkah terhu­
yung­huyung ke arah bangkai pesawat. Disibakkannya
cabang­cabang pohon yang menghalangi jalannya. Te­
naganya jauh lebih kuat daripada tenaga Rusty.
Rusty menjatuhkan diri di lantai yang lunak dan
menyandarkan kepala di kedua lututnya. Ia ingin mena­
ngis rasanya. Didengarnya lelaki itu memeriksa kabin.
Ketika mengangkat kepala, ia melihat orang itu sedang
memeriksa tubuh kedua pilot di kokpit tanpa emosi.
Tak lama kemudian ia kembali, melewati pohon yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

tumbang itu. ”Kau benar. Semua sudah mati.”


Aku mesti berkata apa? pikir Rusty. Mengatakan,
”Sudah kubilang”? Lelaki itu melemparkan sebuah kotak
P3K ke tanah dan berlutut di sampingnya. Ia menge­
luarkan sebotol aspirin dan menelan tiga butir tablet itu
begitu saja. ”Kemari,” perintahnya kasar pada Rusty.

17
Rusty mendekat dan lelaki itu menyodorkan sebuah
lampu senter padanya. ”Sorotkan ke bola mataku, satu
per satu, dan katakan apa yang kaulihat.”
Rusty menyalakan lampu senter itu. bohlamnya su­
dah retak, tapi masih berfungsi. Ia menyoroti mata ka­
nan si lelaki, lalu mata kirinya. ”Pupil­pupilnya berkon­
traksi,” katanya.
Si lelaki mengambil lampu senter itu dan memati­
kannya. ”bagus. Tidak gegar otak. Cuma sakit kepala
setengah mati. Kau tidak apa­apa?”
”Rasanya begitu.”
Ia memandangi Rusty dengan ekspresi tak percaya,
tapi lalu mengangguk.
”Namaku Rusty Carlson,” kata Rusty dengan sopan.
Lelaki itu tertawa pendek. Matanya beralih ke ram­
but Rusty yang merah. ”Namamu Rusty, heh?”
”Ya. Rusty,” sahut Rusty kesal.
”Cocok.”
Lelaki ini benar­benar menyebalkan. ”Kau sendiri
punya nama, tidak?”
”Yeah, punya. Cooper Landry. Tapi, berhubung kita
bukan sedang berada di pesta kebun, maafkan kalau aku
tidak angkat topi dan berkata, ’Senang berkenalan de­
nganmu.’”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Sebagai sesama penumpang yang selamat dari kece­


lakaan pesawat, perkenalan mereka sudah tidak menye­
nangkan. Pada saat ini Rusty ingin sekali dihibur, diya­
kinkan bahwa ia masih hidup dan bahwa umurnya
masih panjang. Tapi yang diperolehnya dari lelaki ini
justru tawa mengejek yang tidak simpatik.
”Kau ini kenapa?” tanya Rusty dengan marah. ”Kau

18
bersikap seolah akulah yang menyebabkan kecelakaan
ini.”
”Mungkin memang begitu.”
Rusty terkesiap kaget. ”Apa? Kan bukan aku yang
menimbulkan badai itu.”
”Memang, tapi kalau kau tidak berlama­lama meng­
ucapkan selamat berpisah pada pacarmu yang tua itu,
tidak pakai menangis emosional segala, mungkin kita
bisa mendahului badai itu. Kenapa kau pulang lebih
dulu daripada dia? Apa kalian bertengkar?”
”Itu bukan urusanmu!” kata Rusty sambil mengertak­
kan giginya yang bagus, hasil perawatan seorang dokter
gigi mahal.
Lelaki itu tidak terpengaruh. ”Dan kau sama sekali
tidak cocok berada di pondok berburu itu—” Matanya
menelusuri sosok Rusty. ”bukan tempat yang sesuai
untuk perempuan semacam dirimu.”
”Perempuan semacam apa maksudmu?”
”Sudah! Pokoknya keadaanku akan lebih mudah
kalau kau tidak ada di sini!”
Setelah berkata demikian, ia menarik sebilah pisau
yang tampak menakutkan dari sarung kulit yang diikat­
nya di sabuknya. Rusty bertanya­tanya, apakah lelaki ini
akan membunuhnya dengan pisau itu, supaya tidak
www.facebook.com/indonesiapustaka

terbebani lagi? Tapi lelaki itu berbalik dan membabat


cabang­cabang kecil pepohonan yang menghalangi. Ia
membuat jalan setapak yang lebih mudah ke arah pesa­
wat.
”Apa yang akan kaulakukan?”
”Aku mesti mengeluarkan yang lainnya.”

19
”Yang... yang lainnya? Kenapa?”
”Kecuali kalau kau ingin menjadi teman sekamar
mereka.”
”Kau akan menguburkan mereka?”
”begitulah tujuanku. Punya gagasan yang lebih baik?”
Tentu saja tidak punya, jadi Rusty diam saja.
Cooper Landry terus membabat cabang­cabang po­
hon itu, hingga yang tersisa tinggal cabang­cabang besar
saja yang lebih mudah dilangkahi atau dikitari.
Sambil membantu menyingkirkan cabang­cabang
yang sudah dipotong, Rusty bertanya, ”Jadi, kita tetap
di sini?”
”Untuk sementara, yeah.” Setelah selesai membuat
jalan setapak seadanya, Cooper melangkah ke pesawat
dan memberi isyarat agar Rusty mendekat. ”Pegangi
sepatunya, oke?”
Rusty memandangi sepatu bot orang yang sudah
mati itu. Ia tak sanggup melakukannya. Seumur­umur
belum pernah ia mengalami yang seperti ini. Tak mung­
kin lelaki ini menyuruhnya melakukan hal seperti ini.
Tapi ketika melihat mata lelaki itu, ia tahu bahwa ia
diharapkan melakukan apa yang diminta lelaki itu tanpa
banyak tanya.
Satu demi satu mereka mengeluarkan mayat­mayat
www.facebook.com/indonesiapustaka

itu dari pesawat. Sebagian besar Cooper­lah yang beker­


ja. Rusty membantu hanya jika diminta, dan ia hanya
bisa melakukannya dengan mengalihkan pikiran dari
tugas mengerikan itu. Ibunya meninggal ketika ia masih
remaja, dan dua tahun yang lalu kakak lelakinya sudah
dibaringkan di dalam peti beralas satin, dengan cahaya

20
lampu redup, hiasan bunga, dan iringan suara organ.
Kematian jadi terasa tidak nyata. bahkan jenazah ibu
dan kakaknya pun tampak tidak nyata baginya, seakan
mereka hanyalah replika dari orang­orang yang disa­
yanginya, boneka yang diciptakan oleh perias jenazah.
Tapi mayat­mayat yang dihadapinya kini sungguh­
sungguh nyata.
Secara otomatis Rusty mematuhi perintah­perintah
tegas yang diucapkan Cooper dengan suara tanpa pera­
saan. Dia pasti robot, pikir Rusty. Lelaki itu sama seka­
li tidak menampakkan emosi apa pun ketika menyeret
mayat­mayat itu ke lubang yang digalinya dengan
menggunakan pisaunya serta sebuah kapak kecil yang
ditemukannya di kotak perkakas di bawah kursi pilot.
Selesai memasukkan semua jenazah, ia menimbun lu­
bang dangkal itu dengan batu.
”Apa kita tidak perlu mengucapkan sesuatu?” Rusty
memandangi tumpukan batu kelabu yang tampak kasar
itu. Dengan adanya batu­batu tersebut, kelima jenazah
di bawahnya akan terhindar dari gangguan binatang.
”Mengucapkan sesuatu? Mengucapkan apa?”
”Yah... berdoa?”
Cooper angkat bahu tak acuh sambil membersihkan
bilah pisaunya. ”Aku sudah lama tidak berdoa,” kata­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nya. Lalu ia berbalik dan kembali berjalan ke pesawat.


Rusty mengucapkan doa singkat, lalu mengikuti
Cooper. Ia tidak mau berada sendirian lagi. Kalau tidak
diawasi, lelaki ini mungkin akan meninggalkannya.
Tapi rasanya tak mungkin. Setidaknya untuk saat
ini. Lelaki itu tampak lemas kelelahan dan seperti akan
pingsan. ”Sebaiknya kau berbaring saja dan beristi­

21
rahat,” saran Rusty. Ia sendiri sudah kehabisan tenaga
sejak tadi. Hanya ketegangan yang membuatnya sang­
gup bertahan.
”Sebentar lagi malam tiba,” kata Cooper. ”Kita mesti
melepaskan bangku­bangku di pesawat, supaya kita le­
bih leluasa berbaring di dalam sana. Kalau tidak, ter­
paksa kau bermalam di alam terbuka, untuk pertama
kalinya dalam hidupmu.” Kalimat terakhir itu diucap­
kannya dengan nada sinis sebelum kembali masuk ke
pesawat. Tak lama kemudian terdengar ia menyumpah­
nyumpah dengan kesal. Ketika ia keluar, sepasang alis­
nya bertaut marah.
”Ada apa?”
Ia mengangkat tangannya ke depan wajah Rusty.
Tangan itu basah. ”bahan bakar.”
”bahan bakar?”
”bahan bakar yang bisa terbakar,” katanya, tak sabar
dengan ketidakmengertian Rusty. ”Kita tidak bisa ber­
malam di pesawat. Kalau ada bunga api sedikit saja,
habislah kita.”
”Kalau begitu, kita tidak usah membuat api unggun.”
Ia melotot pada Rusty. ”begitu hari sudah gelap, kita
memerlukan api,” katanya dengan nada meremehkan.
”Lagi pula, bunga api bisa muncul dari mana saja. Mi­
www.facebook.com/indonesiapustaka

salnya dari gesekan antara dua logam. Kalau itu terjadi,


tamatlah riwayat kita.”
”Lalu kita mesti bagaimana?”
”Kita ambil apa yang bisa dibawa, lalu kita pergi.”
”Kupikir yang paling baik adalah tetap tinggal di
pesawat. Aku pernah mendengar atau membaca itu,

22
entah di mana. Regu pencari pasti akan mencari pesa­
wat yang jatuh. bagaimana mereka bisa menemukan
kita kalau kita meninggalkan tempat ini?”
Lelaki itu menyentakkan kepala dengan angkuh.
”Kau ingin tetap di sini? Silakan. Aku mau pergi. Tapi
kuperingatkan, di dekat sini tidak ada air. Yang pertama
akan kulakukan pagi­pagi adalah mencari air.”
Sikap sok tahunya sangat menjengkelkan. ”Dari
mana kau tahu di sini tidak ada air?”
”Sebab tidak ada bekas­bekas jejak kaki binatang di
sekitar sini. bisa saja kau bertahan dengan minum air
hujan, tapi sampai berapa lama?”
Kapan dan bagaimana ia bisa tahu tidak ada jejak
kaki binatang di sekitar sini? Hal itu sama sekali tidak
terpikir oleh Rusty. Tidak mempunyai air atau mesti
menghadapi binatang buas untuk memperoleh air? Ke­
duanya sama­sama mengerikan. Mencari air? bagaima­
na pula caranya? binatang liar? Apa yang mesti ia laku­
kan kalau diserang binatang liar?
Ia akan mati tanpa lelaki ini. begitulah kesimpulan
Rusty, setelah dipikirkan beberapa saat. Ia tak punya pi­
lihan selain mengikuti lelaki ini dan bersyukur bahwa
orang ini tahu cara­cara untuk bertahan hidup di alam
liar.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Sambil menekan harga dirinya, Rusty berkata, ”ba­


iklah, aku ikut denganmu.” Tapi lelaki itu tidak meno­
leh atau berkomentar sedikit pun. Entah ia senang atau
menyesal mendengar keputusan Rusty. Kelihatannya ia
tidak peduli. Ia sudah menumpuk barang­barang yang
bisa diambilnya dari pesawat. Rusty tidak mau diabai­

23
kan, jadi ia berlutut di samping lelaki itu dan bertanya,
”Apa yang bisa kubantu?”
Lelaki itu memberi isyarat ke arah kompartemen
bagasi. ”Periksa semua bagasi dan ambil apa­apa yang
bisa berguna.” Ia menyerahkan beberapa kunci koper
kecil yang rupanya diambilnya dari tubuh para korban
sebelum ia menguburkan mereka.
Rusty menoleh ragu­ragu ke arah bagasi­bagasi itu.
beberapa sudah terbuka karena benturan ketika pesa­
wat jatuh. barang­barang para korban berserakan di
tanah yang basah. ”Tidakkah itu... melanggar privasi
mereka? Keluarga mereka mungkin tidak suka...”
Lelaki itu berbalik dengan sangat mendadak, hingga
Rusty nyaris terjungkal ke belakang. ”bisa, tidak, kau
bersikap dewasa dan menghadapi kenyataan?” Ia men­
cengkeram bahu Rusty dan mengguncang­guncangnya.
”Coba lihat sekelilingmu! Kau tahu berapa besar ke­
mungkinan kita bisa keluar dari sini hidup­hidup? Nol!
Tapi aku akan berjuang untuk bertahan sebelum me­
nyerah. begitulah kebiasaanku.”
Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Rusty. ”Ini bu­
kan acara perkemahan pramuka. Ini masalah hidup dan
mati, Nona. Persetan dengan etika dan segala tata ke­
sopanan. Kalau kau ingin ikut aku, turuti perintahku.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Mengerti? Dan tidak ada waktu untuk perasaan senti­


mental. Tak perlu menangisi mereka yang menjadi
korban. Mereka sudah mati dan kita tidak bisa berbuat
apa­apa untuk mengubahnya. Sekarang, cepat lakukan
perintahku!”
Ia memandang Rusty, lalu mulai mengumpulkan

24
bulu­bulu binatang yang hendak dibawa almarhum para
pemburu sebagai tanda keberhasilan mereka. Kebanyak­
an adalah bulu karibu, tapi ada juga bulu serigala putih,
berang­berang, dan mink kecil.
Sambil menahan air mata sedih dan kesal, Rusty
membungkuk di antara koper­koper dan mulai meme­
riksa isinya, seperti yang diperintahkan. Ingin rasanya
ia menampar lelaki itu, atau menjatuhkan diri ke tanah
sambil menangis tersedu­sedu. Tapi ia tidak mau lelaki
itu melihatnya demikian. Ia juga tidak mau memberi
alasan kecil apa pun bagi orang itu untuk meninggal­
kannya.
Setengah jam kemudian ia membawa hasil sortiran­
nya dan menambahkannya pada tumpukan barang yang
sudah dikumpulkan lelaki itu. Kelihatannya lelaki itu
puas dengan barang­barang yang dibawanya, antara lain
dua botol minuman keras. Rusty tidak bisa menebak
minuman apa itu hanya dari baunya, tapi Cooper tidak
peduli. Ia tampak menikmati minuman yang ditenggak­
nya dari salah satu botol. Rusty mengamati jakunnya
yang bergerak turun­naik saat ia menelan. Ia memiliki
leher kekar dan rahang persegi yang kuat. Khas tipe
lelaki yang keras kepala, pikir Rusty.
Cooper menutup kembali botol minuman itu, lalu
www.facebook.com/indonesiapustaka

melemparkannya ke tumpukan barang yang sudah ter­


kumpul—beberapa kotak korek api, perlengkapan
menjahit praktis, dan pakaian ekstra yang diambil Rus­
ty. Ia tidak memuji hasil kerja Rusty, malah mengang­
guk ke arah koper kecil di tangan Rusty. ”Apa itu?”
”Ini koperku.”

25
”bukan itu yang kutanyakan.”
Ia menyambar koper itu dari tangan Rusty dan
membukanya. Tangannya yang besar mengaduk­aduk
tumpukan rapi pakaian dalam hangat berwarna pastel,
gaun tidur, dan berbagai pakaian dalam berenda lain­
nya. Ia menarik sepasang legging dengan ujung jari telin­
juk dan ibu jarinya. Mata kelabunya menatap Rusty.
”Dari sutra?” Rusty balas menatapnya dengan dingin,
tanpa menjawab. Senyum lebar lelaki itu sungguh me­
nyebalkan, menyiratkan berbagai perasaan yang tak
ingin ditebak Rusty. ”bagus sekali.”
Lalu senyum lelaki itu lenyap di bawah kumisnya dan
ia melemparkan legging itu pada Rusty. ”bawa dua pasang.
Juga sepasang kaus kaki. Topi, sarung tangan, mantel ini,”
tambahnya sambil melemparkan sebuah jaket ski ke atas
tumpukan pakaian yang telah dipilihnya. ”bawa celana
ekstra. Dan beberapa sweter.” Ia membuka tas kosmetik
Rusty yang berisi perlengkapan rias.
”Aku memerlukan semua yang ada di dalamnya,”
kata Rusty cepat­cepat.
”Tidak.” Lelaki itu mengaduk­aduk isi tas itu, me­
lemparkan berbagai botol krim kecantikan dan perleng­
kapan rias mahal di dalamnya ke tanah yang tertutup
dedaunan basah dan sudah membusuk. ”Sikat rambut,
www.facebook.com/indonesiapustaka

pasta gigi, sikat gigi, sabun. Itu saja. Dan karena aku
baik hati, kau kuizinkan membawa ini.” Ia mengeluar­
kan sekotak tampon.
Rusty mengambil tampon itu dengan kasar dari tangan
lelaki itu dan menjejalkannya ke dalam tas kosmetiknya,
berikut barang­barang lain yang boleh dibawanya.

26
Lagi­lagi lelaki itu tersenyum lebar. Kombinasi gigi­
giginya yang putih dan kumisnya yang lebar membuat
wajahnya tampak sangat menjengkelkan. ”Menurutmu
aku menyebalkan, bukan? Tapi kau terlalu sopan untuk
mengatakannya terus terang.”
”Tidak, aku tidak terlalu sopan.” Mata Rusty yang
kecokelatan berkilat marah. ”Menurutku kau memang
menyebalkan.”
Tapi senyum lelaki itu justru bertambah lebar. ”Nanti
aku akan lebih menyebalkan lagi.” Ia berdiri dan meman­
dang cemas ke arah langit yang semakin gelap. ”Ayo, se­
baiknya kita jalan.”
begitu lelaki itu membalikkan badan, Rusty diam­
diam memasukkan sebuah lip gloss, sebotol sampo, dan
sebuah pisau cukur ke dalam tasnya. Lelaki ini mungkin
tidak perlu bercukur sebelum mereka kembali mema­
suki peradaban, tapi yang jelas Rusty sendiri perlu.
Rusty terlompat kaget ketika lelaki itu menoleh ke
arahnya. ”Kau tahu cara menggunakan ini?” tanyanya
sambil mengacungkan sepucuk senapan berburu.
Rusty menggeleng. baru kemarin ia melihat seekor
kambing jantan yang cantik ditembak dengan senapan
itu. Kenangan yang tidak menyenangkan. Ia sama seka­
li tidak merasa gembira, tapi justru merasa simpati pada
www.facebook.com/indonesiapustaka

binatang itu.
”Itulah yang kukhawatirkan,” gerutu Cooper. ”Tapi
kau bisa membawanya.” Ia menggantungkan senapan
yang berat itu di bahu Rusty, dan ia sendiri membawa
satu. Kemudian ia menyelipkan sepucuk pistol yang
menakutkan di pinggangnya. Melihat tatapan ngeri
Rusty, ia berkata, ”Ini pistol isyarat. Kutemukan di

27
kokpit. Pasang telinga untuk mendengar suara pesawat
penyelamat.”
Ia menjahit bagian leher sehelai sweter dengan tali
sepatunya hingga sweter itu berfungsi sebagai ransel.
Diikatkannya kedua lengan sweter itu ke leher Rusty.
”Oke,” katanya setelah memeriksa penampilan Rusty.
”Kita berangkat.”
Dengan sedih dan takut Rusty menoleh untuk ter­
akhir kali ke arah bangkai pesawat, lalu bergerak meng­
ikuti lelaki itu. bahu Cooper yang lebar membuatnya
mudah terlihat. Dengan menfokuskan mata pada pung­
gung lelaki itu, Rusty bisa berjalan setengah melamun,
sekaligus mengenyahkan bayangan akan mayat­mayat
yang mereka tinggalkan. Ia ingin melupakan semuanya.
Ia terus berjalan, tenaganya semakin menyusut se­
iring setiap langkah. Dengan kecepatan mengherankan
kekuatannya tersedot habis. Entah sudah berapa lama
mereka berjalan, tapi pasti belum lama. Namun men­
dadak ia tak sanggup lagi melangkah. Kakinya gemetar
kelelahan. Ia tidak lagi menepiskan cabang­cabang yang
menghalangi jalannya. Dibiarkannya saja cabang­cabang
itu menghantamnya.
Sosok Cooper di depan semakin kabur, lalu mulai
bergoyang­goyang seperti sosok hantu. Pepohonan di
www.facebook.com/indonesiapustaka

depannya bagaikan memiliki sulur­sulur yang berusaha


meraih pakaiannya, menarik rambutnya, menjerat mata
kakinya, dan menghalanginya dengan berbagai cara.
Dengan tersandung­sandung ia melihat ke tanah dan
terheran­heran karena tanah itu seolah terangkat naik
untuk menyerbunya. Aneh sekali, pikirnya.

28
Secara otomatis ia meraih cabang pohon terdekat
untuk menahan tubuhnya dan berseru lemah. ”Coo...
Cooper.”
Ia terjatuh dengan keras, namun lega sekali rasanya
bisa berbaring di tanah yang dingin, lembap, dan basah.
Dedaunan busuk yang menempel di pipinya terasa ba­
gaikan kompres dingin. Dengan rasa nyaman ia meme­
jamkan mata.
Cooper menyumpah pelan seraya melepaskan ransel
dan senapannya. Dengan kasar ia menelentangkan
Rusty dan membuka kelopak mata gadis itu dengan ibu
jarinya. Rusty menatapnya, tanpa menyadari bahwa wa­
jahnya pucat pasi. bahkan bibirnya pun kelabu seperti
awan­awan di langit.
”Maaf, aku menghambatmu.” Ia agak terkejut karena
suaranya begitu pelan. Ia bisa merasakan bibirnya ber­
gerak, tapi tidak bisa memastikan apakah suaranya cu­
kup keras. Rasanya ia memang perlu minta maaf karena
telah merepotkan lelaki ini. ”Aku ingin istirahat seben­
tar saja.”
”Yeah, yeah, tidak apa, uh, Rusty. Istirahatlah.”
Cooper berusaha melepaskan kaitan mantel bulu rubah
yang dikenakan Rusty. ”Apa kau merasa sakit?”
”Sakit? Tidak. Kenapa?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Tidak apa­apa.” Ia menarik lepas mantel Rusty, lalu


memasukkan tangannya ke dalam, menyelipkannya ke
balik sweter Rusty dan mulai menekankan jemarinya
dengan hati­hati di perut Rusty. Apa ini perlu? pikir
Rusty samar­samar. ”Mungkin kau mengalami perda­
rahan, tapi tidak mengetahuinya.”

29
Ucapan lelaki itu membuat semuanya jelas. ”Perda­
rahan di dalam?” Rusty berusaha duduk dengan panik.
”Entahlah. Aku tidak... Diam!” Dengan gerakan
mendadak ia menyibakkan kelepak depan mantel pan­
jang Rusty. Terdengar lelaki itu mendesis. Rusty ber­
tumpu pada sikunya, untuk melihat apa yang membuat
lelaki itu tampak sangat serius.
bagian kaki kanan celana panjangnya berlumuran
darah, menembus kaus kaki wolnya, dan terus menetes
ke sepatu botnya yang terbuat dari kulit.
”Kapan ini terjadi?” Lelaki itu menatapnya tajam.
”Apa yang terjadi?”
Dengan bingung Rusty menatap Cooper dan meng­
geleng tanpa mengatakan apa­apa.
”Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa kau terlu­
ka?”
”Aku sendiri tidak tahu,” sahut Rusty lemah.
Cooper mencabut pisaunya, lalu merobek bagian kaki
celana panjang itu dengan satu gerakan mulus, terus
hingga ke bagian bawah celana dalam Rusty. Dengan
kaget dan ketakutan Rusty menahan napas.
Cooper memandangi kaki gadis itu, lalu mengembus­
kan napas dengan putus asa. ”Sial!”
www.facebook.com/indonesiapustaka

30
2

KEPALA Rusty mulai berdengung. Ia merasa mual.


Cuping telinganya berdenyut­denyut dan tenggorokan­
nya serasa terbakar. Setiap helai rambut di kepalanya
terasa tajam menusuk dan ujung­ujung jemari tangan
dan kakinya nyeri. Ia pernah pingsan setelah mengalami
operasi gigi. Ia tahu gejala­gejalanya.
Tapi, sial, apa ia mesti pingsan di sini? Di hadapan
lelaki ini?
”Tenang, tenang.” Cooper memegang bahunya dan
membaringkannya di lantai. ”Kau tidak ingat kapan ini
terjadi?” Rusty menggeleng. ”Pasti saat pesawat jatuh
tadi.”
”Aku sama sekali tidak merasa sakit.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Karena kau terlalu shock untuk menyadarinya. Apa


yang kaurasakan sekarang?”
baru saat itulah ia menyadari rasa sakit itu. ”Tidak
terlalu parah.” Mata lelaki itu menatapnya menyelidik.
”Sungguh, tidak terlalu sakit. Tapi aku banyak menge­
luarkan darah, ya?”

31
”Yeah.” Dengan wajah tegang Cooper mengaduk­
aduk isi kotak P3K. ”Aku mesti membersihkan darah­
nya, supaya tahu dari mana asalnya.”
Ia mengambil sehelai pakaian dalam dari katun halus
dari ransel yang dibawa Rusty, untuk membersihkan
darah itu. Rusty bisa merasakan tekanan tangan lelaki
itu, tapi selebihnya tidak. Ia menengadah memandang
cabang­cabang pepohonan di atasnya. Mungkin ia ter­
lalu cepat bersyukur karena masih hidup. bisa saja ia
mati kehabisan darah di sini, dan ia maupun Cooper
tak bisa berbuat apa­apa untuk mencegahnya. bahkan
mungkin Cooper merasa senang kalau terbebas darinya.
Makian pelan dari mulut lelaki itu menyadarkan
Rusty dari lamunannya yang tidak­tidak. Ia mengangkat
kepala sedikit dan melihat ke arah kakinya yang luka.
Tampak luka menganga mulai dari bawah lututnya
hingga ke atas kaus kakinya. Ia dapat melihat daging
dan otot­ototnya. Sungguh mengerikan. Ia mengerang.
”berbaringlah, sialan!”
Dengan lemah Rusty mematuhi perintah kasar itu.
”Kenapa aku bisa sampai tidak merasakannya?”
”Mungkin dagingnya langsung terbelah seperti kulit
tomat saat pesawat jatuh.”
”Kau bisa menolong?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”bisa kubersihkan dengan peroksida.” Cooper mem­


buka botol plastik cokelat yang ditemukannya di kotak
P3K dan membasahi sehelai T-shirt dengan peroksida.
”Sakit, tidak?”
”Mungkin.”
Tanpa menghiraukan tatapan Rusty yang ketakutan
dan penuh air mata, ia membersihkan luka itu dengan

32
peroksida. Rusty menggigit bibir bawah supaya tidak
menjerit, tapi wajahnya mengernyit kesakitan. Sebenar­
nya sekadar membayangkan peroksida itu berbuih­buih
di dalam lukanya pun sudah cukup menyakitkan.
”bernapaslah dengan mulut kalau kau merasa ingin
muntah,” kata Cooper dengan nada datar. ”Aku hampir
selesai.”
Rusty memejamkan matanya rapat­rapat dan baru
membukanya lagi ketika mendengar suara kain disobek.
Cooper sedang merobek­robek sehelai T-shirt lain men­
jadi helaian­helaian panjang. Satu demi satu ia membelit­
kan kain­kain itu, mengikat kaki bagian bawah Rusty
erat­erat.
”Itu cukup untuk sementara,” katanya, seperti bicara
pada dirinya sendiri. Sambil memungut pisaunya, ia
berkata, ”Angkat pinggulmu.” Rusty melakukannya,
tanpa menatap mata lelaki itu. Cooper memotong cela­
na panjang Rusty mulai dari bagian paha atas. Kedua
tangannya bergerak di bawah paha Rusty dan di an­
taranya. buku­buku tangannya yang kasar menyapu
kulit Rusty yang halus dan hangat, namun Rusty me­
rasa tidak perlu malu, sebab lelaki itu tidak menampak­
kan emosi sedikit pun. Seperti memotong steik saja.
”Kau sudah jelas tidak bisa jalan.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”bisa!” bantah Rusty dengan panik.


Ia takut lelaki ini meninggalkannya. Cooper berdiri
di depannya dengan kaki terentang, sambil memandang
sekeliling. Dahinya mengernyit, dan dari ekspresinya
tampak bahwa ia sedang berpikir keras.
Apa dia sedang menimbang-nimbang langkah selanjut-

33
nya? Memutuskan apakah sebaiknya aku ditinggalkan
saja? Atau mungkin dia berniat membunuhku dengan ce-
pat karena kasihan, daripada membiarkan aku mati kare-
na lukaku?
Akhirnya lelaki itu membungkuk dan menarik Rusty
ke posisi duduk. ”Lepaskan mantelmu dan kenakan ja­
ket ski itu.”
Tanpa membantah Rusty melepaskan mantel bulu­
nya. Dengan kapak yang dibawanya, Cooper memotong
tiga cabang muda dan membersihkannya dari ranting­
ranting. Rusty memperhatikan ketika ia membentuk
kerangkah huruf H dari cabang­cabang itu, hanya saja
bagian yang melintang dipasang lebih tinggi daripada
posisi normal. Lalu ia mengikat cabang­cabang tersebut
dengan menggunakan penjepit dari kulit, yang diambil­
nya dari sepatu bot korban yang tewas. Setelah itu ia
mengambil mantel bulu Rusty yang memasukkan ma­
sing­masing lubang lengannya ke kedua cabang yang
tegak. Rusty tersentak ketika lelaki itu memotong man­
tel tersebut dan lapisan satin di dalamnya, lalu membu­
at lubang di bagian bawah mantel indah itu.
Cooper menoleh ke arahnya. ”Ada apa?”
Rusty tercekat. Ia tahu lelaki itu sedang mengujinya.
”Tidak apa­apa. Mantel itu hadiah. Itu saja.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper mengamatinya beberapa saat, lalu membuat


satu lubang lagi di sisi satunya. Kemudian bagian bawah
cabang­cabang tadi dimasukkannya ke dalam kedua
lubang. Jadilah sebuah tandu darurat. Rusty terkesan
akan kecekatan dan kreativitas lelaki itu. Ia juga sangat
lega karena Cooper rupanya tidak berniat meninggalkan
atau menyingkirkannya.

34
Cooper meletakkan tandu itu di tanah, lalu meng­
angkat Rusty dan membaringkannya di hamparan bulu
yang lembut tersebut. Kemudian diselimutinya Rusty
dengan beberapa lembar bulu lagi.
”Aku tidak melihat binatang yang bulunya seperti ini
di sekitar sini,” kata Rusty sambil meraba kulit binatang
berbulu pendek dan halus itu.
”Umingmak.”
”Apa?”
”Itu sebutan orang Inuit untuk rubah berjanggut. Itu
bukan hasil buruanku. Aku membelinya. Hangat seka­
li.” Ia membungkus tubuh Rusty dengan bulu itu, lalu
menebarkan sehelai bulu lain lagi di atasnya. ”Kau
mesti tetap berbaring di situ.”
Lalu ia berdiri dan menyeka dahinya yang berkeri­
ngat dengan punggung tangan. Ia berjengit ketika ta­
ngannya mengenai benjolan di pelipisnya. Pasti sakit
sekali, pikir Rusty. Kalau aku, pasti tidak akan bisa ba-
ngun selama seminggu.
”Terima kasih, Cooper,” kata Rusty pelan.
Lelaki itu terdiam, memandang Rusty sejenak, lalu
mengangguk cepat. Ia mulai mengumpulkan barang
bawaan mereka. Kedua ransel dilemparkannya ke pang­
kuan Rusty, berikut kedua senapan. ”Jaga semua itu
www.facebook.com/indonesiapustaka

baik­baik.”
”Kita akan ke mana?”
”Tenggara,” sahutnya yakin.
”Kenapa?”
”Cepat atau lambat kita akan menemukan permu­
kiman.”

35
”Oh.” Rusty takut untuk bergerak. Perjalanan ini ti­
dak akan menyenangkan. ”boleh aku minta aspirin?”
Cooper mengambil botol plastik itu dari sakunya dan
menuangkan dua butir tablet ke tangan Rusty.
”Aku tidak bisa menelannya tanpa air.”
Lelaki itu mendengus kesal. ”Telan begitu saja, atau
dengan brendi.”
”brendi saja.”
Ia menyerahkan salah satu botol pada Rusty dan
mengamati dengan saksama. Dengan berani Rusty me­
nenggak isi botol itu untuk menelan aspirinnya. Ia ter­
batuk, matanya pedih oleh air mata, tapi dengan tenang
dan penuh harga diri ia mengembalikan botol itu pada
si lelaki. ”Terima kasih.”
bibir lelaki itu bergerak­gerak menahan senyum.
”Kau mungkin tidak punya akal sehat, tapi kau punya
nyali, Nona.”
Hanya pujian semacam itu yang akan kuterima dari
Cooper Landry, pikir Rusty. Cooper mengapit ujung­
ujung tandu itu, lalu menariknya sambil melangkah. baru
beberapa meter ditarik, melewati medan yang sulit, Rusty
menyadari bahwa tidak ada bedanya berbaring di tandu
ini ataupun berjalan sendiri. Ia mesti susah payah ber­
usaha agar tidak tergelincir jatuh dari tandu itu. bokong­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nya pasti sudah biru lebam terantuk­antuk saat ditarik


melewati bebatuan. Lapisan satin mantelnya pun pasti
sudah cabik­cabik tergores tanah yang kasar.
Semakin lama hari semakin gelap dan dingin. Salju
tipis mulai turun. butiran­butiran kecil dan halus seper­
ti garam. Kaki Rusty yang luka mulai terasa sakit, tapi
ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluh. Ia bisa

36
mendengar bunyi napas Cooper yang terengah­engah,
dan ia tahu lelaki itu juga kelelahan. Kalau bukan kare­
na dirinya, Cooper pasti bisa menempuh jarak tiga kali
lebih jauh daripada yang telah mereka lalui saat ini.
Kegelapan turun dan mendadak. berbahaya bagi
mereka untuk terus menapaki medan yang belum dike­
nali ini. Cooper berhenti di sebuah tempat terbuka dan
menurunkan tandu itu. ”bagaimana keadaanmu?”
Rusty tidak memikirkan rasa haus dan laparnya, juga
ketidaknyamanan yang dirasakannya. Ia berkata, ”baik.”
”Yeah, pasti. bagaimana keadaanmu sebenarnya?”
Cooper membungkuk dan menyibakkan lapisan bulu
yang menutupi Rusty. Perban di kaki Rusty sudah ba­
sah oleh darah. Dengan cepat Cooper kembali menu­
tupi tubuh gadis itu dengan bulu. ”Sebaiknya kita ber­
malam di sini. Matahari sudah terbenam. Aku tidak
bisa melihat arah yang kuambil.”
Dia berbohong, pikir Rusty. Dia berkata begitu hanya
untuk menyenangkan aku saja. Rusty tahu bahwa kalau
bukan karena dirinya, Cooper pasti masih akan terus
berjalan. Tak mungkin ia takut pada kegelapan atau per­
ubahan cuaca. Meski sudah berjam­jam menarik tandu,
tampaknya ia masih punya cukup tenaga untuk berjalan
dua jam lagi.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper mulai mengumpulkan daun pinus, lalu me­


nebarkan bulu­bulu di atasnya. Kemudian ia mengham­
piri Rusty.
”Cooper?”
”Hmmm?” sahutnya, sambil berusaha mengangkat
Rusty dari tandu.

37
”Aku ingin buang air kecil.”
Rusty tidak bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas
dalam kegelapan, tapi ia bisa merasakan tatapan terkejut
Cooper. Dengan sangat malu Rusty menunduk. ”Oke,”
kata Cooper kemudian. ”Apa kakimu kuat menopang­
mu sementara kau...”
”Ya, kurasa kuat,” kata Rusty cepat­cepat.
Cooper membopongnya ke tepi hutan, lalu pelan­
pelan menurunkannya berdiri pada kaki kirinya. ”ber­
sandarlah di pohon,” perintahnya. ”Panggil aku kalau
sudah selesai.”
Ternyata sulit sekali melakukannya. Lebih sulit da­
ripada yang dikira Rusty. begitu selesai mengancingkan
sisa celana panjangnya, tubuhnya gemetar lemas dan
gigi­giginya gemeletuk kedinginan. ”Aku sudah selesai,”
panggilnya.
Cooper muncul dari kegelapan dan membopongnya
kembali. Rusty tak mengira bahwa hamparan daun pi­
nus dan bulu binatang bisa menjadi tempat tidur yang
sangat nyaman. Ia mendesah lega ketika Cooper mem­
baringkannya di sana. Sekarang ia bisa beristirahat.
Cooper merapatkan bulu­bulu itu di sekeliling tubuh
Rusty. ”Aku akan membuat api. Tidak bisa besar, sebab
tidak banyak kayu yang kering. Tapi api kecil cukuplah
www.facebook.com/indonesiapustaka

untuk mengusir tamu tak diundang.”


Rusty gemetar dan menutupi kepalanya dengan bulu
binatang, untuk membantu mengusir bayangan tentang
binatang liar, dan juga untuk melindungi diri dari bu­
tiran­butiran salju halus yang terus turun. Tapi ia tak bisa
tidur, karena kakinya semakin sakit. Ia jadi gelisah, dan

38
akhirnya ia mengintip dari bawah selimutnya. Cooper
sudah berhasil membuat api kecil. Lelaki itu juga telah
membatasi lubang dangkal tempat api itu dengan batu­
batu, supaya api tidak menjalar ke tempat tidur Rusty.
Ia menoleh ke arah Rusty, lalu membuka ritsleting
salah satu saku mantelnya untuk mengambil sesuatu. Ia
melontarkan benda itu pada Rusty dan Rusty menang­
kapnya dengan satu tangan. ”Apa ini?”
”Cokelat.”
Mendengar itu, perut Rusty berbunyi dengan suara
keras. Ia membuka bungkus cokelat itu dan siap mema­
sukkan seluruhnya ke mulut. Tapi kemudian ia teringat.
”Kau... kau tidak perlu berbagi denganku,” katanya pelan.
”Cokelat ini punyamu, dan mungkin nanti kau memerlu­
kannya.”
Mata kelabu lelaki itu tampak keras dan dingin keti­
ka ia menoleh. ”Itu bukan punyaku. Aku menemukan­
nya di saku salah seorang korban.”
Tampaknya ia senang sekali bisa berkata begitu.
Seolah menyiratkan bahwa kalau cokelat itu miliknya,
belum tentu ia akan mau berbagi.
Apa pun maksud ucapannya, ia telah merusak selera
Rusty. Cokelat itu jadi terasa hambar di mulut. Rusty
mengunyah dan menelannya tanpa semangat. Tapi rasa
www.facebook.com/indonesiapustaka

hambar itu sebagian disebabkan karena ia haus. Seolah


bisa membaca pikirannya, Cooper berkata, ”Kalau be­
sok aku tidak menemukan air, gawat.”
”Apa kira­kira kita akan menemukannya?”
”Entahlah.”
Rusty berbaring sambil berpikir. ”Menurutmu kena­
pa pesawat itu jatuh?”

39
”Tidak tahu. Karena berbagai sebab, kurasa.”
”Kau bisa mengira­ngira, di mana kita berada?”
”Tidak. Kalau tidak ada badai, mungkin bisa.”
”Menurutmu kita salah arah?”
”Ya, tapi aku tidak tahu seberapa jauh.”
Rusty membaringkan kepala pada tangan dan mena­
tap api kecil yang tampak seperti akan mati setiap saat.
”Kau pernah datang ke Great bear Lake sebelumnya?”
”baru satu kali.”
”Kapan?”
”beberapa tahun yang lalu.”
”Kau senang berburu?”
”Sesekali.”
Cooper tidak suka banyak bicara rupanya. Rusty
ingin mengajaknya bercakap­cakap untuk mengalihkan
pikiran dari rasa sakit di kakinya. ”Menurutmu apa
mereka akan menemukan kita?”
”Mungkin.”
”Kapan?”
”Kaupikir aku ini apa? Ensiklopedi?” Teriakan lelaki
itu memantul di pepohonan yang mengitari mereka. Ia
bangkit berdiri dengan cepat. ”Jangan bertanya macam­
macam padaku. Aku tidak bisa menjawabnya.”
”Aku cuma ingin tahu,” seru Rusty hampir menangis.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Aku juga, tapi aku tidak tahu. Kurasa kalau pesawat


itu masih mengikuti rute perjalanan, sebelum jatuh,
besar kemungkinan kita akan ditemukan. Tapi kalau
arahnya melenceng jauh, berarti kemungkinan kita di­
temukan kecil sekali, oke? Sekarang diamlah.”
Rusty terdiam dengan perasaan sakit hati. Cooper

40
mencari­cari ranting kering di seputar situ. Ia menam­
bahkan beberapa cabang ke dalam api, lalu mengham­
piri Rusty. ”Mari kulihat kakimu.”
Dengan cekatan ia menyibakkan selimut yang menu­
tupi Rusty. Cahaya api memancarkan sinar temaram ke
perban yang penuh darah itu. Dengan pisau berburunya
Cooper memotong simpul yang dibuatnya, lalu mem­
buka perban. ”Sakit?”
”Ya.”
”Tidak heran,” katanya serius, sambil mengamati
luka Rusty. Ekspresinya tampak cemas.
Rusty memegangi lampu senter untuknya, sementara
ia membasuh luka itu kembali dengan peroksida, lalu
membebatnya lagi dengan perban baru. begitu lukanya
selesai dibalut, mata Rusty sudah penuh air mata dan
bibirnya sakit karena digigiti, tapi tidak sekali pun ia
menjerit.
”Di mana kau belajar membalut luka sebagus itu?”
”Vietnam.” Jawabannya singkat, menandakan bahwa
ia tidak ingin membahas topik itu. ”Ini, makan dua as­
pirin lagi.” Ia menyodorkan botol obat itu pada Rusty,
setelah mengambil dua butir tablet untuk dirinya sen­
diri. Lelaki itu tidak mengeluh sedikit pun, padahal
kepalanya pasti sakit sekali. ”Minum juga sedikit brendi.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Setidaknya dua tegukan. Kurasa besok pagi kau akan


perlu minum brendi itu lagi.”
”Kenapa?”
”Kakimu. Mungkin besok sakitnya akan tidak terta­
hankan. Sesudahnya lukanya mungkin akan mulai
membaik.”

41
”Kalau tidak membaik bagaimana?”
Lelaki itu tidak menjawab, sebab tidak perlu.
Dengan tangan gemetar Rusty mendekatkan botol
brendi itu ke mulutnya, lalu meneguk isinya sedikit.
Setelah ranting­ranting kering tadi terjilat api, Cooper
menambahkan lebih banyak kayu lagi ke unggun. Tapi
nyala api itu belum cukup hangat. Itu sebabnya Rusty
terkejut ketika lelaki itu melepaskan mantel dan sepatu
botnya. Ia menyuruh Rusty melakukan hal yang sama.
Lalu dikumpulkannya semuanya itu ke bawah selimut.
”Untuk apa?” tanya Rusty; kakinya sudah mulai ke­
dinginan.
”Kalau sepatu kita kena keringat, lalu jadi lebih di­
ngin, kita bisa terkena radang dingin. Minggir sedikit.”
”Apa?” Rusty terbeliak ketakutan.
Sambil mendesah tak sabar, Cooper merangkak ma­
suk ke sampingnya. Rusty terpaksa memberi tempat
padanya di bawah selimut itu. Dengan waswas Rusty
berseru. ”Kau mau apa?”
”Tidur. Itu kalau kau bisa diam.”
”Di sini?”
”Di sini tidak disediakan akomodasi dengan tempat
tidur terpisah.”
”Kau tidak bisa...”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Tenang, Miss... siapa namamu?”


”Carlson.”
”Yeah, Miss Carlson. Gabungan panas tubuh kita
akan membuat kita tetap hangat.” Ia meringkuk di de­
kat Rusty dan menarik selimut bulu itu sampai menu­
tupi kepala mereka, hingga mereka benar­benar ter­

42
bungkus rapat di dalamnya. ”berbaringlah menyamping,
membelakangiku.”
”Tidak mau!”
Rusty dapat membayangkan lelaki itu menghitung
sampai sepuluh dalam hati. ”Dengar, aku tidak mau
membeku, dan aku juga tidak mau menggali satu ku­
buran lagi untukmu. Jadi, lakukan saja apa yang kuka­
takan. Sekarang!”
Dia dulu pasti perwira di Vietnam, pikir Rusty kesal,
sambil berbaring menyamping. Lelaki itu melingkarkan
lengannya di pinggang Rusty, lalu menarik gadis itu ke
dekatnya, hingga mereka berbaring seperti sepasang
sendok. Rusty hampir­hampir tak bisa bernapas.
”Apa ini memang perlu?”
”Ya.”
”Aku tidak akan kabur. Di sini tidak ada tempat
untuk kabur. Jadi, kau tak perlu menaruh lenganmu di
situ.”
”Mengherankan. Kupikir kau suka.” Ia menekankan
telapak tangannya ke perut Rusty. ”Wajahmu cantik.
Mestinya kau tahu, kan, bahwa lelaki akan terpikat dan
bergairah kalau berada di dekatmu?”
”Lepaskan aku.”
”Rambut panjangmu itu, warnanya tidak biasa.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Diam!”
”Kau bangga akan bokongmu yang kencang dan da­
damu yang membusung, bukan? Aku yakin kebanyakan
lelaki akan tergoda melihatmu. Misalnya si kopilot itu.
Air liurnya sudah menetes melihatmu, seperti Dober­
man di musim kawin.”

43
”Aku tidak mengerti maksudmu.”
Lelaki itu menyapukan tangannya di perut Rusty.
”Ah, kau pasti mengerti. Kau tentu senang melihat se­
mua lelaki di pesawat langsung terdiam begitu kau
masuk dengan kerah mantel bulumu yang dinaikkan,
menyapu pipimu yang memerah dan mulutmu yang
seksi.”
”Kenapa kau bersikap begini?” Rusty terisak.
Lelaki itu menyumpah­nyumpah, tapi ketika ia bi­
cara lagi, suaranya tidak bernada sinis mengejek, mela­
inkan terdengar letih, ”Tenanglah. Aku tidak akan
mengambil kesempatan atas dirimu sepanjang malam.
Sejak dulu aku tidak suka perempuan berambut merah.
Lagi pula, toh tubuhmu masih hangat bekas berbaring
di ranjang pacarmu yang tua itu. Singkatnya, kehormat­
anmu aman bersamaku.”
Rusty mendengus menelan air mata sakit hatinya.
”Kau kejam dan vulgar.”
Lelaki itu tertawa. ”Sekarang kau kedengarannya
tersinggung karena aku tidak tergiur untuk memanfaat­
kanmu. Ambil keputusan! Kalau kau menginginkan
seks malam ini, aku bisa memenuhinya. Tubuhku tidak
selogis otakku. Toh di sini gelap gulita, dan kau tentu
tahu apa yang biasa dilakukan kucing­kucing dalam
www.facebook.com/indonesiapustaka

gelap. Tapi, secara pribadi, aku memilih tempat yang


lebih aman dan nyaman untuk berhubungan intim. Jadi,
kusarankan tidur sajalah. Oke?”
Rusty mengertakkan giginya dengan marah. Sengaja
ia membuat tubuhnya kaku, sebagai pembatas di antara
mereka. Kalau bukan secara isik, yah... secara mental.

44
Dicobanya untuk tidak menghiraukan panas tubuh le­
laki itu, yang merambati pakaiannya, napasnya yang
mengembus leher Rusty, dan tekanan pahanya yang
kuat pada bagian belakang paha Rusty sendiri. Perla­
han­lahan, berkat bantuan brendi yang tadi diminum­
nya, Rusty menjadi lebih santai. Dan akhirnya ia terti­
dur.

Ia terbangun oleh erangannya sendiri. Kakinya berde­


nyut­denyut menyakitkan.
”Ada apa?”
Suara Cooper terdengar kasar, tapi Rusty yakin itu
bukan karena lelaki itu terbangun dari tidur nyenyak­
nya. Secara naluri Rusty tahu Cooper tidak tidur sema­
laman. ”Tidak apa­apa.”
”Katakan, ada apa? Kakimu?”
”Ya.”
”berdarah lagi?”
”Kurasa tidak. Tidak terasa basah. Hanya sakit.”
”Minum brendi lagi.” Ia meraih botol brendi yang
semalam dimasukkannya juga ke balik selimut.
”Aku sudah melayang.”
”bagus, berarti efeknya bekerja.” Ia menempelkan
www.facebook.com/indonesiapustaka

bibir botol itu ke mulut Rusty dan mendorongnya ke


depan. Mau tak mau Rusty mesti meminumnya.
Minuman keras itu menimbulkan rasa panas di pe­
rutnya. Tapi setidaknya pikirannya jadi teralihkan seje­
nak dari lukanya yang menyakitkan. ”Terima kasih.”
”buka kakimu.”

45
”Apa?”
”buka kakimu.”
”Sudah berapa banyak brendi yang kauminum Mr.
Landry?”
”Lakukan saja.”
”Kenapa?”
”Supaya aku bisa menyelipkan kakiku di antaranya.”
Tanpa memberi kesempatan untuk berdebat lagi.
Cooper mengangkat kaki Rusty yang luka, lalu menye­
lipkan lututnya di antara kedua kaki Rusty. Setelah itu,
perlahan­lahan diturunkannya kembali kaki kanan
Rusty yang luka di atas kakinya sendiri. ”Nah, dengan
posisi terangkat begitu, kakimu tidak akan kena tekan­
an, dan tidak akan tersenggol olehku kalau malam.”
Rusty terlalu kaget, sehingga tak bisa langsung tidur
kembali. Ia juga merasa tidak nyaman dengan kedekat­
an lelaki ini. Selain itu, ada hal yang membuatnya terus
terjaga—perasaan bersalah.
”Cooper, apa kau kenal orang­orang lainnya?”
”Yang ada di pesawat itu? Tidak.”
”Dua laki­laki di kursi depan itu bersaudara. Ketika
sedang menimbang bagasi, kudengar mereka bicara
tentang merayakan hanksgiving bersama­sama kedua
keluarga. Mereka ingin menunjukkan slide-slide yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

mereka ambil minggu ini.”


”Jangan dipikirkan.”
”Aku tak bisa mengenyahkannya.”
”Pasti bisa.”
”Tidak, tidak bisa. Aku terus bertanya­tanya, kenapa
aku masih hidup? Kenapa aku dibiarkan hidup? Sung­
guh tidak masuk akal.”

46
”Tidak harus masuk akal,” kata Cooper dengan pa­
hit. ”Memang sudah ditakdirkan demikian. Mereka
sudah waktunya mati, itu saja. Selesai dan terlupakan.”
”Tidak, tak terlupakan.”
”Paksakan hilang dari pikiranmu.”
”Itukah yang kaulakukan?”
”Ya.”
Rusty merinding. ”Kenapa kau bisa begitu tidak ber­
perasaan tentang nyawa manusia?”
”Latihan.”
Jawaban itu bagaikan tamparan keras di pipi Rusty.
Lelaki itu sengaja menjawab demikian untuk membuat­
nya diam. Ia memang diam, tapi masih terus berpikir.
berapa banyak kematian yang telah dilihat Cooper di
Vietnam? Puluhan? Ratusan? Tetap saja, Rusty tak bisa
membayangkan diri menjadi kebal melihat kematian.
Ia telah mencoba belajar mengatasi kematian, tapi itu
belum sampai membuat dirinya jadi seperti Cooper. Ia
tak bisa mengenyahkan kenyataan tentang kematian
semata­mata dengan tekad kuat untuk tidak memikir­
kannya. Kala teringat kematian orang­orang yang dicin­
tainya, hatinya tetap terasa pedih.
”Ibuku meninggal karena serangan jantung,” katanya
pelan pada Cooper. ”Kematiannya bisa dikatakan mele­
www.facebook.com/indonesiapustaka

gakan, sebab dia akan sangat tak berdaya kalau bertahan


hidup. Aku punya waktu satu minggu untuk memper­
siapkan diri menghadapi kematiannya. Tapi kematian
kakak lelakiku terjadi begitu tiba­tiba.” Cooper tidak akan
peduli dengan ceritanya, tapi Rusty ingin memaparkan­
nya.
”Kakakmu?”

47
”Jef. Dia tewas karena kecelakaan mobil, dua tahun
yang lalu.”
”Tidak ada anggota keluar lain?”
”Hanya ayahku.” Rusty menarik napas perlahan.
”Dialah laki­laki yang kaulihat bersamaku di pondok
itu. Pada dialah aku berpamitan. Dia bukan kekasihku,
tapi ayahku.”
Rusty menunggu lelaki itu meminta maaf, tapi sia­
sia. Kalau bukan karena merasakan tubuh Cooper be­
gitu tegang, ia pasti mengira Cooper sudah tidur.
Akhirnya lelaki itu memecah kesunyian dengan ber­
tanya. ”Apa reaksi ayahmu kalau diberitahu tentang
kecelakaan pesawat itu?”
”Ya Tuhan!” Secara releks Rusty mencengkeram
tangan Cooper yang masih menempel di perutnya. ”Itu
sama sekali tidak terpikir olehku!”
Ia bisa membayangkan kesedihan mendalam ayahnya
kalau mendengar berita itu. Ayahnya telah kehilangan
seorang istri dan anak lelaki. Dan sekarang putrinya.
Ayahnya takkan bisa pulih dari kepedihannya. Terba­
yang oleh Rusty penderitaan yang akan dirasakan ayah­
nya, ketidakpastian akan nasib putrinya. Demi ayahnya,
dan juga demi dirinya sendiri, Rusty berharap mereka
akan cepat mendapat pertolongan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Kelihatannya ayahmu jenis orang yang bisa berbuat


apa saja,” kata Cooper. ”Dia akan mengerahkan semua
pihak berwenang sampai kita ditemukan.”
”Kau benar. Ayahku tidak akan menyerah sampai dia
tahu bagaimana nasibku.” Rusty yakin akan hal itu.
Ayahnya adalah orang yang berkuasa, dinamis, dan

48
memiliki kemampuan serta sarana untuk menggerakkan
berbagai hal. Reputasi dan uang ayahnya bisa memo­
tong jalur birokrasi yang rumit. Mengetahui hal ini,
Rusty jadi lebih optimistis.
Ia juga heran melihat Cooper yang ternyata tidak
terlalu tertutup dan penyendiri seperti tampaknya. Se­
belum naik ke pesawat, lelaki itu lebih suka sendirian.
Ia tidak berbaur dengan para penumpang lainnya, tapi
ia memperhatikan segalanya. Rupanya orang ini sangat
jeli mengamati sifat manusia.
Tapi sekarang lelaki itu terpengaruh oleh naluri
alaminya rupanya. Sambil berbicara, Rusty menyadari
bahwa paha lelaki itu sudah menempel rapat di pinggul­
nya. ”Kau sudah menikah?” tanya Rusty mendadak.
”belum.”
”Sama sekali belum pernah?”
”belum.”
”Punya hubungan istimewa?”
”Dengar, aku juga suka berhubungan seks, oke? Dan
aku tahu kenapa mendadak kau bertanya­tanya seperti
ini. Percayalah, aku juga merasakannya. Tapi mau ba­
gaimana lagi? Sebenarnya bisa saja aku memenuhi ke­
inginanmu, tapi sekarang kukatakan sebelumnya, lang­
kah itu kurang sesuai untuk situasi kita saat ini. Ada
www.facebook.com/indonesiapustaka

alternatif lain sebenarnya, tapi aku khawatir itu akan


membuat kita sama­sama malu.”
Pipi Rusty memanas dan merah padam. ”Kuminta
kau tidak begitu.”
”begitu bagaimana?”
”bicara seperti itu.”

49
”Seperti itu bagaimana?”
”Kotor.”
”Kau baru pulang dari menginap di pondok berburu.
Mestinya kau sudah bisa menerima beberapa lelucon
jorok, kan? Tentunya kau pernah juga mendengar ko­
mentar­komentar cabul di sana. Kupikir saat ini kau
sudah terbiasa mendengar ucapan kasar.”
”Nyatanya tidak, dan supaya kau tahu tahu, aku ikut
perjalanan berburu itu demi ayahku. Aku sendiri tidak
terlalu suka.”
”Dia memaksamu ikut?”
”Tentu saja tidak.”
”Membujukmu? Dengan imbalan mantel bulu itu
barangkali?”
”Tidak!” bentak Rusty kesal. ”Aku yang mengusulkan
perjalanan itu, dan akulah yang menyarankan agar kami
pergi bersama.”
”Dan kau begitu saja memilih hutan di Northwest
Territory ini? Kenapa bukan ke Hawaii? Atau St.
Moritz? banyak tempat lain yang lebih sesuai untukmu.”
Rusty mendesah. Ucapan lelaki itu sepenuhnya be­
nar. Dalam urusan berburu, ia benar­benar tidak tahu
apa­apa. ”Ayah dan kakak lelakiku selalu berburu ber­
sama. Empat minggu setiap tahun. Itu sudah tradisi
www.facebook.com/indonesiapustaka

keluarga.” Ia memejamkan mata dengan sedih. ”Sejak


Jef meninggal, ayahku tidak pernah pergi berburu lagi.
Kupikir perjalanan ini bagus untuknya. Aku mendesak­
nya untuk pergi. Karena dia ragu­ragu, aku menawar­
kan diri untuk menemaninya.”
Ia berharap mendengar gumaman simpati dan penuh
pengertian dari lelaki itu. Setidaknya pujian pelan akan

50
sikapnya yang tidak mementingkan diri sendiri dan
patut dipuji. Tapi yang didengarnya justru suara jengkel
lelaki itu, ”bisa diam, tidak? Aku mau tidur.”

”Hentikan, Rusty!”
Suara kakaknya menggema masuk ke dalam mimpi­
nya. Mereka sedang bergulat, seperti biasa dilakukan
kakak­beradik yang sangat saling menyayangi. Ia dan
Jef hanya berselisih usia satu tahun. Sejak Rusty baru
mulai belajar berjalan, hubungan mereka sudah sangat
dekat, sebagai teman bermain dan sahabat karib. Sering
kali mereka bergulat dengan ribut, tapi selalu meng­
akhirinya dengan tertawa.
Namun tidak ada kegembiraan dalam suara Jef ketika
ia mencengkeram kedua pergelangan Rusty dan mena­
hannya di lantai, di kedua sisi kepalanya. ”Hentikan!” Jef
mengguncangnya perlahan. ”Kau akan melukai dirimu
sendiri kalau tidak berhenti meronta­ronta begini!”
Rusty terbangun dan membuka mata. Ternyata yang
dilihatnya bukan wajah Jef yang sangat diingat dan
disayanginya, melainkan wajah lelaki itu. Si Penyendiri.
Ia senang sekali lelaki itu masih hidup, tapi ia tidak
terlalu suka padanya. Siapa namanya? Oh ya, Cooper.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper... siapa? Atau... siapa Cooper?


”berbaringlah diam,” perintah lelaki itu.
Rusty berhenti meronta­ronta. Udara yang menyen­
tuh kulitnya yang terbuka terasa dingin. Rupanya ia
telah menendang semua selimut bulu yang dihamparkan
Cooper di atas tubuh mereka semalam. Cooper mem­

51
bungkuk berlutut di atasnya. Pergelangan tangan Rusty
ditahan dalam genggaman tangannya yang kuat.
”Lepaskan aku!”
”Kau sudah tenang sekarang?”
Rusty mengangguk. bayangkan saja perasaan seorang
perempuan kalau terbangun dan mendapati seorang lelaki
seukuran Cooper Landry—itu dia namanya... Landry—
membungkuk di atasnya seperti ini. Rusty mengalihkan
pandangan dari sosok yang menakutkan itu. ”Tolong,”
katanya susah payah. ”Aku tidak apa­apa.”
Cooper bangkit dari atasnya. Rusty menghirup da­
lam­dalam udara dingin yang tajam menusuk. Terasa
nyaman sekali di wajahnya yang panas. Tapi hanya se­
saat. Tak lama kemudian ia menggigil dan giginya
mulai gemeletuk. Cooper mengernyit cemas. Atau kesal.
Entah yang mana. Mungkin ia khawatir atau jengkel.
”Kau demam hebat,” katanya pada Rusty, tanpa
basa­basi. ”Tadi aku bangun sebentar untuk membuat
api. Tahu­tahu kau mengigau dan mulai memanggil­
manggil seseorang bernama Jef.”
”Kakakku.” Gemetarnya semakin hebat. Rusty me­
nyelimuti tubuhnya dengan sehelai selimut bulu.
Sepanjang malam itu tidak turun hujan lagi. Rusty
malah bisa melihat api dan kerlip­kerlip bara di bawah
www.facebook.com/indonesiapustaka

ranting­ranting yang ditambahkan Cooper ke dalam api.


Lidah api itu begitu panas, membakar bola matanya
hingga terasa pedih.
Tidak, tak mungkin! Yang dirasakannya itu pasti
karena demam.
Cooper mengangkat bagian selimut yang menutupi

52
kaki Rusty. Sekali lagi ia membuka perban di kaki itu
dengan susah payah, lalu memandangi lukanya. Rusty
memperhatikan ekspresinya.
Akhirnya Cooper menatap Rusty dengan mulut ter­
katup rapat. ”Aku akan berterus terang padamu,” kata­
nya. ”Lukamu parah. Infeksi. Ada sebotol antibiotik di
kotak P3K. Aku menyimpannya untuk keperluan se­
perti ini. Tapi aku tidak yakin obat itu cukup untuk
mengatasi lukamu.”
Rusty menelan ludah dengan susah payah. Meski se­
dang demam hebat, ia bisa mencerna penjelasan Cooper.
Ia bertumpu pada sikunya dan memandang ke arah kaki­
nya. Apa yang dilihatnya membuatnya ingin muntah.
Kulit di kedua sisi daging yang luka tampak terangkat dan
mengerut karena infeksi. Rusty berbaring kembali dan
menarik napas pendek­pendek. Ia membasahi bibirnya,
tapi sia­sia. Demam itu membuat bibirnya lebih kering
dari sebelumnya. ”Aku bisa mati karena gangren, bukan?”
Lelaki itu memaksakan senyum kecut. ”belum. Kita
akan berusaha mencegahnya.”
”Dengan memotong kakiku?”
”Astaga, mengerikan sekali pikiranmu. Aku berniat
mengeluarkan nanah dari lukamu, lalu menjahitnya.”
Wajah Rusty langsung memucat. ”Kedengarannya itu
www.facebook.com/indonesiapustaka

cukup mengerikan.”
”Lebih baik daripada mengamputasinya. bisa saja
nanti itu terpaksa dilakukan juga.” Wajah Rusty jadi
sepucat kapur. ”Tapi, untuk saat ini, kita jahit saja dulu.
Jangan keburu senang,” kata Cooper sambil merengut
dalam. ”Sakitnya akan luar biasa.”

53
Rusty menatap ke kedalaman mata lelaki itu. Aneh,
meski awal perkenalan mereka tidak menyenangkan, ia
bisa memercayai orang ini. ”Lakukan saja apa yang mes­
ti kaulakukan.”
Lelaki itu mengangguk singkat, lalu mulai bekerja.
Mula­mula ia mengambil sepasang legging sutra milik
Rusty. ”Untung kau pakai yang dari sutra,” katanya.
Rusty tersenyum lemah, sementara Cooper mulai mem­
buka lipatan legging tersebut.
”benangnya kita gunakan untuk menjahit lukamu.”
Ia mengangguk ke arah botol brendi. ”Sebaiknya kau
mulai minum sekarang. Gunakan itu untuk menelan
salah satu tablet penisilin. Kau tidak alergi penisilin,
bukan?” Rusty menggeleng. ”bagus. Minum brendinya
sedikit demi sedikit, sampai kau mabuk. Tapi jangan
dihabiskan. Aku mesti mensterilkan benang­benang ini
dan membasuh lukamu dengan minuman itu.”
Rusty belum cukup kebal ketika lelaki itu membung­
kuk di dekat kakinya. Dengan pisau berburu yang telah
disterilkannya di api, ia siap beraksi.
”Siap?” Rusty mengangguk. ”Jangan bergerak­gerak.”
Rusty mengangguk. ”Jangan melawan kalau merasa hen­
dak pingsan. Lebih baik bagi kita kalau kau pingsan.”
Tusukan kecil pertama di kulitnya yang merah dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

bengkak membuat Rusty menjerit dan menyentakkan


kakinya.
”Jangan, Rusty! Kau mesti diam!”
Proses itu sungguh menyakitkan, dan terasa sangat
lama. Dengan teliti Cooper membersihkan nanah di
tempat­tempat tertentu. Ketika ia membasuh luka itu

54
dengan brendi, Rusty menjerit. Sesudahnya ia tidak
terlalu kesakitan ketika lukanya dijahit. Cooper meng­
gunakan jarum jahit dari perlengkapan yang mereka
bawa. Setelah masing­masing benang direndam dalam
brendi, ia mulai menjahit dan menutup rapat luka itu.
Rusty memandangi titik di atas hidung lelaki itu,
tempat alisnya bertaut. Meski udara dingin, dahi
Cooper berkeringat. Ia tidak pernah mengalihkan mata
sedikit pun dari pekerjaannya, kecuali sesekali menatap
wajah Rusty. Ia bisa merasakan kesakitan gadis itu, bah­
kan memperlihatkan simpatinya. Untuk lelaki sebesar
dirinya, yang dari luar tampak seperti tak punya hati,
gerakan tangannya bisa dikatakan sangat lembut.
Lambat laun wajah lelaki itu mulai kabur. Meski ber­
baring diam, Rusty merasa kepalanya berputar, bergejolak
oleh rasa sakit, trauma, dan efek anestesi dari brendi yang
diminumnya. Ia berjuang untuk tetap terjaga, karena ta­
kut tidak akan bisa bangun lagi jika ia tertidur. Namun
akhirnya ia menyerah. Dibiarkannya matanya terpejam.
Pikiran sadarnya yang terakhir adalah sayang sekali
ayahnya tidak akan pernah tahu betapa beraninya ia
hingga akhir hayatnya.
”Nah,” kata Cooper sambil berjongkok pada tumit­
nya dan menyeka keringat di dahi. ”Memang tidak ba­
www.facebook.com/indonesiapustaka

gus, tapi lumayanlah.”


Ia menatap Rusty dengan senyum puas dan optimis­
tis, tapi Rusty tidak melihatnya, karena sudah tak sa­
darkan diri.

55
3

KETIKA siuman, Rusty terkejut mendapati dirinya


masih hidup. Semula ia mengira kegelapan telah turun.
Pelan­pelan ia mengangkat kepala. bulu binatang yang
menutupi kepalanya terlepas. Hari masih siang, tapi
entah jam berapa tepatnya. Langit tampak mendung.
Dengan waswas ia menunggu rasa sakit di kakinya
menembus alam kesadarannya, tapi ternyata itu tidak
terjadi. Masih pening akibat brendi yang diminumnya,
ia bergerak dan mengambil posisi duduk. Dengan me­
ngerahkan seluruh tenaganya, ia berhasil mengangkat
bulu binatang yang menyelimuti kakinya. Sejenak ia
merasa ngeri. Jangan­jangan kakinya tidak sakit lagi
karena sudah diamputasi oleh Cooper.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Tapi, setelah selimutnya tersibak, ia mendapati kaki­


nya masih utuh dan terbalut helai­helai katun putih.
Tidak ada bekas­bekas darah baru. Memang ia belum
bisa berlari, tapi keadaannya sudah jauh lebih baik.
Duduk seperti itu membuatnya lelah, jadi ia memba­
ringkan diri lagi dan menyelimuti tubuhnya hingga ke

56
dagu. Kulitnya terasa panas dan kering, namun ia
menggigil kedinginan. Demamnya belum berkurang.
Mungkin ia mesti minum aspirin lagi. Tapi di mana
botolnya? Cooper pasti tahu. Cooper—
Di mana Cooper?
Rasa lesunya lenyap dan ia melesat duduk kembali.
Dengan panik matanya mengamati keadaan sekitarnya.
Tidak ada jejak. Lelaki itu sudah pergi. Senapannya pun
tidak ada. Senapan satunya tergeletak di tanah, dalam
jangkauan tangan Rusty. Api masih menyala dan me­
mancarkan panas.
Tapi lelaki itu telah meninggalkannya.
Sambil memaksakan diri meredam rasa paniknya.
Rusty berpikir bahwa ia terlalu cepat berprasangka.
Cooper tidak akan melakukan itu. Tak mungkin lelaki
itu merawat kakinya dengan begitu teliti, lalu mening­
galkannya begitu saja di tengah hutan.
Mungkinkah?
Tidak, kecuali ia bedebah yang tidak berperasaan.
Tapi bukankah menurut Rusty lelaki itu memang
bedebah?
Tidak. Lelaki itu memang keras. Tangguh. Sinis. Itu
jelas. Tapi ia bukannya sama sekali tidak berperasaan.
Kalau ia jahat, tentu ia sudah sejak kemarin meninggal­
www.facebook.com/indonesiapustaka

kan Rusty.
Jadi, di mana dia?
Ia meninggalkan senapan satunya. Kenapa? Mung­
kinkah hanya sampai di sinilah rasa belas kasihannya.
Ia telah merawat kaki Rusty, melakukan apa yang bisa
dilakukannya. Ia juga telah menyediakan senapan untuk

57
perlindungan. Sekarang mungkin sudah saatnya masing­
masing bertahan sendirian. Yang kuat itulah yang me­
nang.
Yah, Rusty merasa akan mati. Kalau bukan karena
demam, tentu karena kehausan. Ia tidak punya air atau­
pun makanan. Juga tidak punya tempat untuk berlin­
dung. Sebentar saja persediaan kayu api yang ditumpuk
Cooper di dekat sana akan habis. Rusty akan mati ke­
dinginan, kalau cuaca semakin memburuk.
Tidak bisa!
Sekonyong­konyong ia merasa marah pada Cooper
yang telah meninggalkannya begitu saja. Akan ditunjuk­
kannya pada lelaki itu, juga pada ayahnya bahwa Rusty
Carlson bukanlah gadis cengeng yang mudah menyerah.
Disibakkannya selimutnya dan diambilnya jaket ski­
nya. Untuk saat ini ia tidak akan mengenakan sepatu
botnya yang sebelah kiri, sebab sepatu itu ada di bawah
tumpukan selimut, terlalu jauh untuk diraihnya. Lagi
pula, kalau kau satu kaki sudah telanjang, apa salahnya
kalau kaki satunya juga demikian? Lagi pula tenaganya
sudah terkuras habis untuk mengenakan mantel.
Makanan dan air!
Itu yang paling penting. Itulah yang pertama­tama
mesti diperolehnya. Tapi di mana? Alam sekitarnya
www.facebook.com/indonesiapustaka

terasa menakutkan. Seluruhnya berupa hutan belantara


yang masih perawan. Di belakang pepohonan di dekat­
nya—yang beberapa di antaranya begitu tinggi, hingga
puncaknya tidak terlihat—berbaris lapis demi lapis
pepohonan lainnya sepanjang berkilo­kilometer.
Sebelum bisa mencari air, ia harus bisa berdiri. Keli­

58
hatannya ini tak mungkin, namun ia mengertakkan gigi
dengan penuh tekad.
Kalau aku terpaksa harus mati, mereka tidak akan
mendapati mayatku berbaring di bawah tumpukan seli-
mut!
Ia mengulurkan tangannya sejauh mungkin dan me­
raih sebatang kayu api. Ditariknya kayu itu ke arahnya.
Dengan bertumpu pada kayu itu ia mencoba berdiri di
atas kakinya yang sehat, sementara kaki yang luka diju­
lurkan ke depan. Kemudian ia berhenti untuk menarik
napas. Napasnya membentuk uap putih di depan wa­
jahnya.
berkali­kali ia mencoba berdiri tegak, tapi selalu ga­
gal. Ia begitu lemah, seperti anak kucing yang baru la­
hir. Dan kepalanya pening. Cooper Landry sialan!
Pantas saja lelaki itu menyuruhnya minum brendi seba­
nyak­banyaknya. Ia ingin Rusty tak sadarkan diri, su­
paya bisa menyelinap diam­diam seperti pengecut.
Dengan susah payah Rusty bertumpu sepenuhnya
pada kaki kirinya dan berdiri tegak. Tanah serasa ber­
goyang miring. Ia memejamkan mata dan berpegangan
erat­erat pada batang kayu api itu. Setelah merasa
aman, ia membuka mata da terpekik kaget. Cooper
berdiri di seberangnya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Apa yang kaulakukan?” tanya lelaki itu dengan ke­


ras.
Ia menjatuhkan semua bawaannya, termasuk sena­
pannya, dan menghampiri Rusty dengan langkah­lang­
kah cepat. Ditahannya tubuh Rusty, lalu ditendangnya
batang kayu yang dipegang Rusty. Dibawanya gadis itu

59
kembali ke pembaringan dan diselimutinya tubuh Rus­
ty yang gemetar.
”Kau mau apa?”
”M...mencari air,” sahut Rusty di tengah gemeletuk
giginya.
Lelaki itu menyumpah­nyumpah dengan keras. Di­
sentuhnya dahi Rusty untuk merasakan temperaturnya.
”Kau dingin sekali, sampai membiru. Jangan berbuat
bodoh seperti itu lagi, mengerti? Mencari air adalah
tugasku. Tugasmu adalah tetap diam di sini. Mengerti?”
Ia masih terus memuntahkan sumpah serapahnya.
Lalu ia mulai membesarkan api, melemparkan kayu api
dengan marah dan mengipasinya supaya nyalanya sema­
kin besar. Setelah api berkobar, ia mengambil kelinci
yang tadi dijatuhkannya ke tanah. Ia juga membawa
termos yang diambilnya dari bangkai pesawat. Dibuka­
nya termos itu dan ia menuangkan air ke dalam tutup­
nya, lalu berlutut di samping Rusty.
”Ini. Ternggorokanmu pasti kering dan sakit. Tapi
jangan minum cepat­cepat, dan jangan terlalu banyak.”
Rusty menangkupkan kedua tangannya di tangan
lelaki itu dan mendekatkan tutup termos tersebut ke
bibirnya yang pecah­pecah. Air di dalamnya begitu di­
ngin, hingga giginya terasa ngilu, tapi ia tidak peduli. Ia
www.facebook.com/indonesiapustaka

meneguk tiga kali, banyak­banyak, sebelum Cooper


menarik tutup itu.
”Pelan­pelan, kataku. Airnya masih banyak.”
”Kau menemukan sumber air?” Rusty menjilat tetes­
tetes air dari bibirnya.
Sambil mengamati gerakan lidah gadis itu, Cooper

60
menjawab. ”Yeah. Ada mata air sekitar tiga ratus meter
ke arah sana.” Ia memberi isyarat ke arah tersebut de­
ngan kepalanya. ”Pasti peninggalan dari Mackenzie.”
Rusty menatap tubuh kelinci yang tergeletak di sam­
ping sepatu bot lelaki itu. ”Kau menembak kelinci itu?”
”Kuhantam dengan batu. Aku tidak mau membuang­
buang amunisi, kecuali terpaksa. Akan kukuliti kelinci
itu, lalu kumasak. Kita bisa... Sial, ada apa lagi?”
Rusty tak dapat menahan air matanya. Tubuhnya
terguncang­guncang oleh isak tangis. Ia menutupi wa­
jahnya dengan dua tangan, tapi air matanya terus meng­
alir melewati jemarinya.
”Dengar, aku terpaksa membunuhnya. Kalau tidak,
kita yang mati,” kata Cooper dengan kesal. ”Kita mesti
makan. Kau tidak bisa terlalu—”
”bukan karena kelinci itu,” kata Rusty terisak.
”Lalu apa? Kakimu sakit?”
”Kupikir kau telah me...meninggalkanku. Karena...
kakiku. Mungkin seharusnya begitu. Kau bisa ber...ber­
jalan lebih cepat kalau bukan karena aku dan kakiku.”
Ia terisak beberapa kali dan berusaha melanjutkan
ucapannya. ”Tapi kalaupun kakiku tidak sakit, tidak
akan banyak bedanya, sebab aku memang payah dalam
situasi seperti ini. Aku benci olahraga di alam terbuka
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan menurutku itu sama sekali tidak menyenangkan.


Aku benci. Ikut perkemahan musim panas pun aku ti­
dak suka. Aku kedinginan. Ketakutan. Dan merasa
bersalah karena masih juga mengeluh, padahal aku
masih hidup, sementara yang lainnya mati.”
Tangisnya kembali pecah, bahunya terguncang­gun­

61
cang. Cooper mendesah panjang dan melontarkan be­
berapa makian kasar, lalu menghampiri Rusty untuk
memeluknya. Ditariknya bahu gadis itu dengan kedua
tangannya yang besar. Semula Rusty menegangkan tu­
buhnya dan mencoba menarik diri, tapi Cooper tidak
melepaskan pegangannya. Ditariknya Rusty ke arahnya.
Akhirnya Rusty mengalah. Dibiarkannya dirinya ter­
sandar di dada bidang lelaki itu, sambil mencengkeram
mantel berburunya yang tebal.
Pakaian dan rambut lelaki itu menguarkan aroma
pohon pinus yang segar dan bersih, serta aroma deda­
unan dan kabut basah yang terasa enak di hidung. Da­
lam keadaannya yang lemah saat ini, Rusty merasa lela­
ki itu sangat besar dan hebat, seperti pahlawan dalam
buku cerita anak­anak. Ia berkuasa, kuat, garang namun
baik hati. Dan sanggup mengalahkan naga mana pun.
Ketika lelaki itu menaruh satu tangannya di belakang
kepala Rusty, gadis itu membenamkan wajahnya lebih
dalam di mantel empuk lelaki itu dan menikmati rasa
aman yang baru kali ini dirasakannya sejak kecelakaan
pesawat kemarin, bahkan sejak meninggalkan pondok
berburu dan ayahnya yang kecewa.
Akhirnya emosinya mereda dan air matanya tidak
lagi keluar. Tak ada alasan lagi bagi Cooper untuk terus
www.facebook.com/indonesiapustaka

memeluknya, jadi Rusty mengangkat kepala dari dada


lelaki itu. Merasa malu, ia terus menunduk. Tampaknya
Cooper enggan melepaskannya, namun akhirnya ia
melonggarkan pelukannya juga.
”Sudah tenang?” tanyanya dengan nada kasar.
”Ya, terima kasih.” Rusty menghapus hidungnya yang

62
berair dengan punggung tangan, seolah itu memang
sudah kebiasaannya.
”Sebaiknya aku mulai memasak kelinci itu. ber­
baringlah.”
”Aku capek berbaring terus.”
”Kalau begitu, palingkan wajahmu. Aku ingin kau
bisa memakan kelinci ini, dan aku khawatir kau tidak
akan sanggup memakannya kalau sudah melihatku me­
ngulitinya.”
Cooper membawa kelinci itu ke tepi hutan, mem­
baringkannya di sebuah batu datar, lalu mulai menguliti­
nya. Rusty mengalihkan pandangan dari pemandangan
itu. ”Itulah yang kami perdebatkan sebelumnya,” katanya
pelan.
Cooper menoleh. ”Kau dan siapa?”
”Ayahku. Dia berhasil menembak seekor kambing
jantan.” Rusty tertawa pahit. ”binatang itu indah sekali.
Aku kasihan padanya, tapi pura­pura senang dengan
keberhasilan ayahku. Ayahku menyuruh salah satu pe­
mandu untuk mengulitinya. Dia ingin mengawasi, un­
tuk memastikan si pemandu tidak merusak kulit dalam­
nya.” Sambil mengerjap­ngerjapkan air matanya, Rusty
melanjutkan, ”Aku tidak tahan melihatnya. Aku benar­
benar jadi mual. Ayahku—” Ia berhenti sejenak untuk
www.facebook.com/indonesiapustaka

menarik napas dalam­dalam ”—kurasa aku membuat­


nya kesal dan kecewa.”
Cooper sedang membersihkan tangannya di sapu­
tangan yang sudah dibasahi air dari termos. ”Karena
kau tidak tahan melihat binatang dikuliti?”
”bukan hanya itu. Itu cuma puncaknya. Dalam soal

63
menembak pun aku payah. Aku tidak tega menembak
binatang apa pun kalau dia sudah mendekat dan me­
nempelkan hidungnya di laras senapanku. Pokoknya
aku tidak menyukai segala yang berkaitan dengan per­
buruan.” Perlahan ia menambahkan, seperti pada diri­
nya sendiri, ”Aku tidak hebat di alam terbuka, tidak
seperti kakakku Jef.”
”Itukah yang diharapkan ayahmu?” Cooper sudah
menusukkan kelinci itu di sebuah cabang muda dan
sekarang menggantungnya di atas api.
”Kurasa itulah yang diharapkannya.”
”Kalau begitu, dia bodoh. Secara isik pun kau tidak
cocok menjadi pemburu.”
Mata lelaki itu beralih ke dada Rusty dan bertahan
di sana. Rusty merasa payudaranya memanas dan te­
gang, hingga terasa berat dan sakit.
Reaksi ini membuatnya terkejut. Secara naluriah ia
ingin menutupi dadanya dan memijatnya agar kembali
normal, tapi lelaki itu masih memandanginya, jadi ia tak
mungkin melakukan itu. Ia tidak berani bergerak sedikit
pun. Ia takut bahwa kalau ia bergerak, batas tipis di
antara mereka akan luruh dan tak dapat diganti atau
diperbaiki kembali. Satu gerakan ceroboh darinya bisa
mengundang peristiwa yang membahayakan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

baru kali ini Cooper menyiratkan unsur seksual da­


lam ucapannya, di luar makian­makian kasar yang di­
lontarkannya semalam. Sekarang Rusty tahu bahwa
makian semalam itu memang disengaja untuk mem­
buatnya gusar, tapi ucapan kali ini berbeda. Kali ini
Cooper sendiri merupakan korban, sekaligus pelaku.
Cooper kembali beralih ke perapian, dan benang tipis

64
yang menghubungkan mereka terputus. Lama mereka
tidak saling berbicara. Rusty memejamkan mata dan
pura­pura tertidur, tapi sebenarnya ia mengawasi lelaki
itu menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Cooper
menajamkan kapaknya di atas batu, lalu memeriksa
kelinci panggang itu dan memutarnya beberapa kali di
atas api.
Gerakannya sangat gesit untuk lelaki sebesar dirinya.
Rusty yakin beberapa wanita akan menganggap orang
ini tampan, apalagi sekarang dagu dan rahangnya sudah
ditumbuhi janggut halus berwarna gelap. Kumisnya
yang lebar dan melengkung sangat seksi... bagi wanita
yang menyukai lelaki berkumis. Kumis itu bertengger
tepat di atas bibir bawahnya, menutupi keseluruhan
bibir atasnya. Cukup menantang membayangkan men­
cari­cari bibir atas di tengah kumisnya.
Rusty masih melamun memandangi mulut lelaki itu
ketika Cooper membungkuk dan bicara padanya. ”A... apa
katamu?”
Lelaki itu menatapnya dengan sorot aneh. ”Matamu
tampak berkaca­kaca. Kau tidak sedang mengigau lagi,
kan?” Ia meraba dahi Rusty.
Rusty mengibaskan tangan lelaki itu, dan merasa kesal
pada diri sendiri karena membayangkan yang tidak­tidak.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Tidak, aku baik­baik saja. Apa katamu tadi?”


”Aku tanya apa kau sudah siap untuk makan.”
”Siap sekali.”
Lelaki itu membantunya mengambil posisi duduk.
”Dagingnya sudah didinginkan sedikit. Sebentar lagi
siap.” Ia melepaskan kelinci itu dari tusukannya dan

65
mencabik sepotong kakinya, lalu memberikannya pada
Rusty. Dengan enggan Rusty mengambilnya dan mena­
tapnya ragu­ragu.
”Kau mesti memakannya. Kalau perlu akan kupaksa­
kan kau makan.” Ia menggigit sedikit daging itu dengan
giginya yang putih dan kuat. ”Tidak terlalu buruk.
Sungguh.”
Rusty mengambil sedikit daging dengan tangannya
dan memasukkannya ke mulut, lalu mengunyahnya dan
menelannya dengan cepat.
”Jangan cepat­cepat,” Cooper memperingatkan. ”Nan­
ti kau mual.”
Rusty mengangguk dan menggigit sepotong daging
lagi. Dengan sedikit garam, kelinci panggang ini pasti
enak sekali. ”Ada beberapa restoran di Los Angeles
yang menyediakan masakan daging kelinci yang sangat
enak,” katanya. Lalu otomatis ia mengulurkan tangan
untuk mengambil serbet, tapi teringat bahwa tidak ada
serbet di sini. Ia angkat bahu, dan menjilati jari­jarinya.
”Kau tinggal di Los Angeles?”
”beverly Hills, tepatnya.”
Lelaki itu memandanginya dalam cahaya api. ”Apa
kau bintang ilm atau semacamnya?”
Rusty merasa lelaki ini tidak akan terkesan sedikit pun
www.facebook.com/indonesiapustaka

meski seandainya ia mengatakan sudah tiga kali meme­


nangkan Oscar. Rasanya Cooper Landry bukan orang
yang peduli pada ketenaran. ”Tidak, aku bukan bintang
ilm. Ayahku mempunyai perusahaan real estate dengan
cabang­cabang di seluruh California Selatan. Aku beker­
ja untuknya.”

66
”Kau hebat dalam bidangmu?”
”Aku sangat sukses.”
Cooper mengunyah sepotong daging, lalu melempar­
kan tulangnya ke dalam api. ”Tentu saja. Kau anak sang
bos.”
”Aku bekerja keras, Mr. Landry.” Rusty tersinggung
dengan ucapan lelaki itu, yang menyiratkan bahwa ia
bisa sukses karena ayahnya semata­mata. ”Akulah yang
meraih angka penjualan tertinggi tahun lalu.”
”bravo.”
Kesal karena lelaki itu sama sekali tidak terkesan, ia
bertanya, ”Kau sendiri, apa pekerjaanmu?”
Tanpa berbicara Cooper menawarkan sepotong da­
ging lagi. Rusty memakannya dengan lahap, seolah­olah
daging kelinci panggang, tanpa bumbu apa pun dan
dimasak di api terbuka, sudah merupakan makanannya
sehari­hari.
”Aku membuka ranch,” sahut Cooper.
”Sapi?”
”Ada juga. Kebanyakan kuda.”
”Di mana?”
”Rogers Gap.”
”Di mana itu?”
”Sierra Nevada.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”belum pernah kudengar.”


”Aku tidak heran.”
”Kau bisa hidup hanya dengan beternak?”
”Selama ini bisa.”
”Apa Rogers Gap dekat dengan bishop? Apa di sana
orang­orang suka bermain ski?”

67
”Ada beberapa jalur ski di sana. Sangat menantang
bagi para pemain ski serius. Aku sendiri menganggap
jalur­jalur itu merupakan salah satu yang paling spek­
takuler di daerah itu.”
”Lalu kenapa aku belum pernah mendengar tentang
tempat ini?”
”Kami menjaga kerahasiaan tempat itu, sebab kami
ingin tempat itu terlindung kelestariannya. Kami tidak
mau mengiklankannya.”
”Kenapa?” Minar Rusty terbangkit. Ia selalu berusaha
menemukan daerah baru yang menarik untuk para
kliennya. ”Kalau ditangani oleh pengembang yang tepat,
Rogers Gap bisa terkenal. Kalau tempat itu bagus un­
tuk bermain ski, seperti katamu, kita bisa menjadikan­
nya Aspen yang kedua.”
”Mudah­mudahan tidak,” kata Cooper geram. ”Itulah
masalahnya. Kami tidak mau terkenal. Kami tidak mau
pegunungan kami dipenuhi kondo­kondo, dan kami
tidak ingin kehidupan tenang di sana diramaikan oleh
segerombolan pemain ski kasar dari beverly Hills yang
lebih tertarik dengan dandanan mereka daripada dengan
kelestarian alam kami.”
”Apa semua orang di sana setuju dengan pendapatmu
itu?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Untungnya ya. Kalau tidak, mereka tidak akan ting­


gal di sana. Tidak banyak hiburan di sana, kecuali pe­
mandangan dan ketenangannya.”
Rusty melemparkan tulang­tulang sisa makanannya
ke api. ”Kau seperti generasi tahun enam puluhan saja.”
”Memang.”
Rusty menatapnya dengan menggoda. ”Apa kau pe­

68
juang pencetus keselarasan universal? Kau berdemon­
strasi untuk perdamaian dan protes terhadap perang?”
”Tidak,” sahut lelaki itu kasar. Senyum menggoda
Rusty langsung lenyap. ”Dulu aku tidak sabar ingin ikut
berperang. Aku terlalu tolol untuk menyadari bahwa
dalam perang aku mesti membunuh atau dibunuh. Aku
tidak membayangkan akan tertangkap dan dipenjara.
Tapi itulah yang terjadi. Setelah tujuh bulan dikurung
di lubang jahanam itu, aku berhasil lolos dan pulang
sebagai pahlawan.”
Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan sangat
geram. ”Para tawanan perang di kampku dulu bisa saling
bunuh hanya untuk mendapatkan daging seperti yang
kaumakan tadi.” Mata kelabunya berkilat­kilat bagaikan
pisau ke arah Rusty. ”Jadi, aku tidak terkesan dengan
gemerlap dan glamor beverly Hills­mu, Miss Carlson.”
Ia bangkit dengan cepat. ”Aku mau ambil air lagi.
Jangan ke mana­mana.”
Jangan ke mana-mana, Rusty menirukan dalam hati.
baiklah, ia tahu sekarang apa yang menimpa lelaki itu.
Tapi untuk apa mengingat­ingatnya seumur hidup?
banyak lelaki lain yang kembali dari Vietnam dan bisa
menjalani kehidupan produktif yang bahagia. Kalau
Cooper tak bisa menyesuaikan diri, itu salahnya sendiri.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Ia terus mengenang kepahitan yang dialaminya. Itulah


yang membakarnya. Ia menyimpan dendam pada ma­
syarakat, karena ia merasa mereka berutang padanya.
Mungkin benar demikian, tapi Rusty merasa itu bu­
kan kesalahannya. bukan ia yang bertanggung jawab
atas kemalangan yang menimpa lelaki itu. Dengan rasa

69
dendamnya itu, bukan berarti Cooper lebih berharga
daripada orang lain.
Ketika Cooper kembali, mereka tetap saling berdiam
diri. Rusty meminum air di termos. Tanpa bicara
Cooper membantunya berjalan terpicang­pincang ke
tepi hutan untuk buang air sejenak. Ketika membantu
Rusty berbaring kembali di hamparan bulu binatang
itu, ia berkata, ”Aku mesti memeriksa kakimu. Pegangi
lampu senter ini.”
Rusty memperhatikan lelaki itu membuka balutan di
kakinya. Tampak deretan bekas jahitan yang tidak rata.
Rusty terpaku ngeri, tapi Cooper sendiri tampak puas
dengan hasil kerjanya. Dipegangnya mata kaki Rusty
dan diangkatnya kaki gadis itu ke arahnya, agar ia bisa
melihat lebih dekat. ”Tidak ada gejala infeksi baru.
bengkaknya sudah mengempes.”
”Tapi lihat bekasnya,” bisik Rusty serak.
Lelaki itu menatapnya. ”Itu di luar kemampuanku.”
bibir bawahnya mengetat, membentuk garis tipis, hing­
ga hampir tidak tampak di bawah kumisnya. ”bersyu­
kurlah aku tidak perlu mengamputasi kakimu.”
”Aku memang bersyukur.”
Ia mendengus. ”Kurasa dokter bedah plastik mahal
di beverly Hills bisa membereskan masalah bekas luka­
www.facebook.com/indonesiapustaka

mu itu.”
”Apa kau selalu menjengkelkan begini?”
”Apa kau selalu dangkal begitu?” Ia menudingkan jari
ke arah bangkai pesawat. ”Aku yakin orang­orang yang
mati itu lebih suka hidup dengan bekas luka di kaki
mereka daripada mati.”

70
Ia benar, tapi itu tidak membuat kritikannya lebih
mudah diterima. Rusty terdiam kesal. Cooper memba­
suh kaki gadis itu dengan peroksida, lalu membalutnya
kembali. Kemudian ia memberikan sebutir tablet peni­
silin dan dua butir aspirin. Rusty meminumnya dengan
air. Untunglah ia tidak perlu minum brendi lagi.
Ia sudah tahu bahwa kalau mabuk, emosi dan gairah­
nya bangkit. Ia ingin menganggap Cooper Landry hanya
sebagai lelaki yang menjengkelkan. Tak lebih dari itu.
Lelaki itu adalah monster yang cepat marah dan me­
nyimpan dendam pada dunia. Kalau bukan karena
terpaksa bergantung padanya agar bisa bertahan hidup,
Rusty tidak akan mau berurusan dengannya.
Rusty sudah berbaring di bawah tumpukan selimut
bulu ketika Cooper menyelinap ke sampingnya dan
memeluknya dari belakang, seperti malam sebelumnya.
”berapa lama lagi kita mesti tinggal di sini?” tanya
Rusty ketus.
”Aku bukan peramal.”
”Aku tidak memintamu meramalkan kapan kita akan
diselamatkan. Yang kumaksud adalah tempat tidur ini.
Tidak bisakah kau membuat semacam tempat berna­
ung? Yang di dalamnya kita bisa bergerak?”
”Akomodasi ini tidak sesuai dengan selera sang
www.facebook.com/indonesiapustaka

Ratu?”
Rusty mendesah kesal. ”Ah, sudahlah.”
Setelah beberapa saat, lelaki itu berkata, ”Ada bebe­
rapa batu besar di dekat mata air. Salah satunya yang
paling besar sudah terkena kikisan air. Dengan sedikit
kreativitas dan kerja keras, kurasa aku bisa membuat

71
semacam tempat berlindung di situ. Memang tidak
bagus, tapi lebih baik daripada ini. Dan lebih dekat ke
air.”
”Aku akan membantumu,” kata Rusty penuh sema­
ngat.
bukannya ia tidak menghargai tempatnya berbaring
ini, tapi sangat tidak nyaman tidur berdekatan begini
dengan lelaki itu. Sejak Cooper membuka mantelnya,
seperti kemarin malam, Rusty bisa merasakan dengan
jelas tekanan dada berotot lelaki itu di punggungnya.
Sebaliknya, ia yakin Cooper juga merasakan kedekatan
tubuhnya, karena ia sendiri tidak mengenakan mantel.
Itulah yang terutama dipikirkannya, ketika tangan
Cooper menemukan tempat yang nyaman di antara
dada dan pinggang Rusty. Lelaki itu bahkan menyelip­
kan lututnya di antara lutut Rusty, hingga kaki Rusty
yang luka terangkat. Rusty ingin bertanya, apakah ini
perlu, tapi karena rasanya memang lebih nyaman, ia
pun tidak berkomentar lagi.

”Rusty?”
”Hmmm?” Napas hangat lelaki itu melayang ke teli­
nganya dan membuat merinding lengannya. Ia lebih
www.facebook.com/indonesiapustaka

merapatkan diri ke tubuh Cooper.


”bangun! Kita mesti bangun.”
”bangun?” erang Rusty. ”Kenapa? Kembalikan seli­
mutnya. Aku kedinginan.”
”Justru itu. Kita basah kuyup. Demammu menurun
dan kau berkeringat banyak sekali. Kalau kita tidak

72
bangun dan mengeringkan badan, kita bisa kena radang
dingin.”
Rusty terbangun sepenuhnya dan membalikkan tu­
buh. Cooper sangat serius rupanya. Ia sudah menyibak­
kan semua selimut. ”Apa maksudmu mengeringkan
badan?”
”buka pakaian dan keringkan tubuhmu.” Cooper
mulai membuka kancing­kancing kemeja lanelnya.
”Apa kau sudah sinting? Ini dinginnya luar biasa.”
Dengan keras kepala Rusty menyelimuti tubuhnya
kembali, tapi Cooper menyentakkannya.
”buka semua pakaianmu! Sekarang!”
Lelaki itu melepaskan kemejanya dan menyampir­
kannya di semak­semak terdekat. Dengan sigap pula ia
menarik lepas kaus turtleneck­nya. Rambutnya berdiri
tegak. Lucu sekali. Tapi Rusty tidak bisa tertawa. Ke­
rongkongannya bagai tersumbat. Ia tak sanggup ber­
bicara melihat dada paling bagus seperti yang ada di
hadapannya itu.
Otot­otot dada lelaki itu tampak sekeras batu. Me­
lekuk indah di bawah kulit yang kencang. Ujung dada­
nya berwarna gelap dan tegang karena udara dingin, dan
lingkaran di sekelilingnya mengerut. Dada itu tertutup
bulu lebat yang saling bertaut, memanjang membentuk
www.facebook.com/indonesiapustaka

pola runcing ke bawah.


Ia begitu ramping, perutnya rata dan kencang. Rusty
tak bisa melihat pusarnya dengan jelas, karena tertutup
helai­helai bulu yang seksi.
”Cepat, Rusty, atau aku yang akan membukakan
pakaianmu.”

73
Ancaman itu membuat Rusty tersadar. Otomatis ia
membuka sweternya. Di bawahnya ia mengenakan tur-
tleneck dari katun. Ia hanya meraba­raba ujung bawah­
nya sambil mengamati Cooper berdiri melepaskan cela­
na jeans­nya. Celana dalamnya yang panjang tidak enak
dilihat.
Tapi Cooper Landry yang sudah tanpa busana pasti
merupakan pemandangan mengasyikkan. Sesaat kemu­
dian lelaki itu sudah berdiri telanjang, berlatar belakang
nyala api temaram. bentuh tubuhnya sangat indah,
hingga Rusty ternganga kagum. Lelaki itu benar­benar
membuatnya terpesona.
Cooper menyampirkan semua pakaiannya di semak­
semak, lalu membungkus kedua tangannya dengan se­
pasang kaus kaki bersih untuk mengeringkan tubuhnya.
Semuanya. Setelah itu ia melepaskan kembali kaus kaki
itu.
Dengan membungkuk ia mengaduk­aduk salah satu
ransel, mencari pakaian dalam. Tanpa rasa enggan atau
malu ia mengambil sebuah celana dalam.
Ketika melihat Rusty masih belum bergerak, ia me­
rengut kesal. ”Ayo, Rusty, cepatlah. Dingin sekali di
sini.”
Cooper mengulurkan tangan untuk mengambil sweter
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rusty, satu­satunya pakaian yang Rusty lepaskan hingga


saat ini. Rusty mengulurkannya dan Cooper menggan­
tungnya di semak­semak. Lalu ia mengulurkan tangan lagi
dan menjentikkan jemarinya dengan tak sabar, agar Rusty
bergegas. ”Ayo, ayo!” Dengan agak waswas Rusty mele­
paskan turtleneck­nya dan mengulurkannya.

74
Udara dingin itu sangat mengejutkan. Rusty serta­
merta menggigil dan gemetar hebat, hingga tak bisa
membuka kancing celana panjangnya yang berkaki satu.
”Mari kubantu. Kalau tidak, aku bisa semalaman
berdiri di luar sini.” Cooper berlutut di atas paha Rusty.
Dengan tak sabar ia menyingkirkan lengan Rusty, agar
leluasa melepaskan kancing celana dan ritsleting gadis
itu. Dengan tak acuh diturunkannya celana panjang itu
dan dilemparkannya begitu saja ke semak­semak terde­
kat.
Tapi ia terpana oleh sesuatu yang tidak diduganya.
Celana dalam minim yang sangat feminin di baliknya.
Tapi ia sudah melihat tepinya yang berenda, tapi hanya
itu. Untuk waktu yang terasa sangat lama ia hanya me­
mandang saja, lalu berkata dengan kasar. ”buka.”
Rusty menggeleng. ”Tidak.”
Wajah lelaki itu menjadi garang. ”buka!” Rusty
menggeleng lagi. Tapi, sebelum ia sempat bereaksi,
Cooper sudah meletakkan tangannya di atas helai mi­
nim celana sutra berenda itu. ”basah. buka.”
Mereka beradu pandang, saling mengadu kekuatan.
Akhirnya sorot dingin di mata lelaki itu membuat
Rusty mau tak mau melepaskan juga celana dalamnya.
”Sekarang keringkan tubuhmu.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Ia mengulurkan sepasang kaus kaki bersih. Rusty


menyapukannya ke bagian bawah tubuh dan kakinya.
Sambil terus menunduk ia mengulurkan tangan untuk
mengambil celana dalam yang diulurkan Cooper pada­
nya. Lelaki itu tidak memberikan legging pada Rusty,
karena takut lukanya akan menggesek, jadi Rusty me­

75
ngenakan celana dalam yang semodel dengan yang tadi
dilepaskannya.
”Sekarang atasnya.”
branya juga sama minimnya dengan celana dalamnya.
Pada pagi keberangkatannya meninggalkan pondok
perburuan itu, ia sengaja mengenakan pakaian yang
sesuai untuk kembali ke peradaban. Ia sudah muak
berhari­hari mengenakan pakaian dalam tebal penahan
dingin.
Sambil membungkuk ke depan, ia meraba­raba kait­
an bra di belakang, tapi jemarinya kaku kedinginan,
hingga ia tak bisa membuka kaitan itu. Sambil me­
nyumpah­nyumpah Cooper membantunya melepaskan
kaitan tersebut. bra itu terlepas dan Rusty menurunkan
talinya dari lengannya, melemparkan benda itu, lalu
menghadapi Cooper dengan berani.
Di balik kumisnya, mulut lelaki itu membentuk satu
garis tipis yang keras. Tanpa membuang waktu ia mulai
menggosokkan kaus kaki itu dengan kasar di leher, dada,
dan perut Rusty. Lalu dari depan ia menyeka keringat di
punggung Rusty. Mereka begitu dekat, hingga napas
Rusty mengembus bulu dada lelaki itu dan bibirnya nya­
ris menyentuh ujung dada Cooper yang mengeras. Rusty
sendiri merasakan puncak payudaranya yang juga keras
www.facebook.com/indonesiapustaka

oleh hawa dingin menyapu kulit Cooper.


Cepat­cepat Cooper menarik diri dan dengan marah
menyodorkan pakaian dalam tebal berlengan panjang ke
tubuh Rusty. Sementara Rusty sedang memasukkan
lengannya ke pakaian itu, Cooper menarik selimut ba­
sah bekas tempat mereka berbaring dan menggantinya

76
dengan yang baru. ”Tidak selembut yang itu, tapi seti­
daknya kering.”
”Tidak apa,” kata Rusty dengan suara serak.
Akhirnya mereka bisa berbaring nyaman lagi. Rusty
tidak menolak ketika Cooper menariknya mendekat. Ia
menggigil tak terkendali dan giginya gemeletuk. Tapi
tak lama kemudian mereka sudah hangat kembali. Tu­
buh mereka terasa tidak keruan karena apa yang telah
mereka alami tadi, dan kepala mereka dipenuhi gam­
baran­gambaran erotis.
berbaring dalam pelukan lelaki itu dengan pakaian
lengkap sudah cukup mendebarkan, apalagi saat ini
mereka hanya mengenakan pakaian dalam. Seluruh
indra Rusty bergemuruh. Demamnya sudah turun, tapi
sekarang tubuhnya panas seperti perapian.
Paha telanjang lelaki itu terasa nikmat menyentuh
kulit pahanya sendiri. Rusty menyukai permukaannya
yang kasar oleh bulu. Karena tidak mengenakan bra, ia
sangat merasakan tekanan tangan Cooper di bawah
payudaranya, hampir menyentuh, namun tidak benar­
benar menyentuhnya.
Lelaki itu sendiri bukannya kebal terhadap keintiman
terpaksa ini. Ia memang kepayahan karena mesti ber­
ganti pakaian begitu cepat dan menukar selimut­selimut
www.facebook.com/indonesiapustaka

itu dengan yang baru, tapi itu bukan satu­satunya pe­


nyebab napasnya yang mengembus berat saat ini. Da­
danya naik­turun dengan cepat di punggung Rusty.
Dan masih ada tanda lain yang jelas­jelas menunjuk­
kan kegairahan lelaki itu.
Mau tak mau Rusty berbisik, ”Kurasa aku tidak per­
lu... eh... menaikkan kakiku di atas kakimu.”

77
Lelaki itu mengerang pelan. ”Jangan dibicarakan.
Dan jangan bergerak.” Ia jelas tampak kesal.
”Maaf.”
”Kenapa minta maaf? bukan salahmu kalau kau can­
tik, dan bukan salahku juga kalau aku laki­laki. Kurasa
kita mesti saling menoleransi hal itu.”
Rusty menghormati permintaan lelaki itu. Jadi, ia
tidak bergerak sedikit pun. Ia bahkan tidak membuka
mata lagi setelah memejamkannya. Tapi ia tak bisa
menahan senyum kecil di bibirnya ketika jatuh tertidur.
Entah sengaja atau tidak, Cooper telah mengatakan
bahwa dirinya cantik.
www.facebook.com/indonesiapustaka

78
4

ADA perubahan dalam hubungan mereka.


Keintiman terpaksa yang mereka alami semalam tidak
membuat mereka lebih dekat. Malah menciptakan keti­
daknyamanan di antara keduanya. Percakapan mereka
keesokan paginya menjadi canggung dan mereka saling
menghindari beradu pandang. Keduanya saling membe­
lakangi saat berpakaian dan gerakan mereka menjadi
kaku, tersentak­sentak serta tidak yakin, seperti orang
yang baru belajar bergerak lagi setelah lama sakit.
Dengan sikap murung dan menjaga jarak, Cooper
membuatkan sepasang penyangga untuk Rusty dari dua
cabang pohon yang kuat. bentuknya tidak bagus, tapi
Rusty bersyukur sekali memilikinya. Ia jadi bisa berge­
www.facebook.com/indonesiapustaka

rak dan tidak perlu terus berbaring.


Ketika ia mengucapkan terima kasih, Cooper hanya
menggeram pelan sebagai jawaban, lalu langsung be­
rangkat untuk mengambil air. Ketika ia kembali, Rusty
sudah bisa menggunakan tongkatnya dan sedang me­
lompat­lompat mengitari tempat terbuka itu.

79
”bagaimana kakimu?”
”baik. Sudah kubersihkan dengan peroksida, dan aku
sudah makan obatnya. Kurasa keadaannya akan sema­
kin membaik.” Ia bahkan bisa mengenakan sendiri cela­
na panjangnya yang tersisa, berikut sepatu botnya. Rasa
sakit di kakinya sudah jauh berkurang, sehingga bekas
lukanya tidak terlalu sakit terkena tekanan pakaian.
Mereka bergantian minum air dari termos. Hanya
itulah sarapan mereka. Lalu Cooper berkata, ”Sebaiknya
aku mulai membuat tempat berlindung untuk kita.”
Tadi, ketika terbangun, mereka mendapati selimut
mereka sudah dipenuhi salju yang tidak lagi tipis, melain­
kan sudah berbutir kasar. Keduanya tahu betapa ganas­
nya musim dingin di wilayah ini. Mereka perlu memiliki
tempat berlindung sementara menunggu diselamatkan.
Kalau mereka tidak diselamatkan juga, tempat berlindung
pun tidak akan banyak gunanya. Tapi mereka tak ingin
memikirkan itu sekarang.
”Apa yang bisa kulakukan untuk membantu?” tanya
Rusty.
”Kau bisa memotong jaket suede itu menjadi helai­
helai panjang.” Cooper memberi isyarat ke arah jaket
milik salah seorang korban, lalu menyodorkan sebilah
pisau lain pada Rusty. ”Aku butuh banyak tali kulit
www.facebook.com/indonesiapustaka

untuk mengikat tonggak­tonggaknya. Sementara kau


bekerja, sebaiknya aku memeriksa apa kita sudah punya
makanan untuk malam nanti.” Rusty memandang tak
mengerti ke arah Cooper. ”Aku memasang beberapa
perangkap kemarin,” lelaki itu menjelaskan.
Rusty memandang sekitarnya dengan ngeri. ”Kau
tidak akan pergi jauh, kan?”

80
”Tidak terlalu jauh.” Cooper memanggul senapannya
dan memeriksa kotak amunisi di sakunya. ”Aku akan
kembali sebelum api itu perlu ditambahi kayu lagi. Jaga
pisau dan senapanmu baik­baik. Aku tidak melihat jejak
beruang di sekitar sini, tapi siapa tahu?”
Tanpa banyak cakap lagi ia berbalik dan melangkah
ke dalam hutan. Rusty bersandar pada tongkatnya de­
ngan jantung berdebar­debar.
Beruang?
Tapi beberapa saat kemudian dibuangnya jauh­jauh
rasa takutnya. ”Ini konyol,” gerutunya pada diri sendiri.
”Takkan kubiarkan apa pun mencelakaiku.”
Kalau saja ia punya radio, TV, atau apa saja untuk
mengusir kesunyian yang menekan ini. Hanya sesekali
terdengar derik ranting dan gesekan dedaunan saat bina­
tang­binatang hutan yang tidak terlihat melesat lewat.
Rusty berusaha mencari pembuat suara­suara itu, namun
mereka tetap bersembunyi, dan karenanya lebih membu­
atnya waswas. Ia masih teringat ucapan Cooper tentang
beruang tadi.
”Mungkin dia sengaja berkata begitu untuk menakut­
nakutiku,” katanya keras­keras sambil mulai merobek
jaket suede yang liat itu dengan pisau yang ditinggalkan
Cooper. Pisau itu lebih kecil daripada yang selalu diba­
www.facebook.com/indonesiapustaka

wa Cooper.
Perut Rusty berkeruyuk. Terbayang olehnya croissant
segar yang panas dan bermentega, roti bagel panggang,
keju krim, donat hangat, panekuk dan daging panggang
serta telur. Tapi itu malah membuatnya semakin lapar.
Dan ia hanya bisa mengisi kekosongan perutnya dengan
air.

81
Tapi terlalu banyak minum air juga menimbulkan
masalah. Ia berusaha menahan rasa ingin buang air
kecil itu selama mungkin, namun akhirnya terpaksa ia
meninggalkan pekerjaannya. Dengan susah payah dan
canggung ia berdiri bertelekan pada tongkat penyangga­
nya. Sengaja ia melangkah ke arah yang berlawanan
dengan arah yang diambil Cooper, dan menemukan
tempat yang cocok untuk keperluannya.
Sambil berjuang dengan tongkat dan pakaiannya,
sekaligus memasang mata terhadap binatang­binatang
melata di tanah ia terheran­heran sendiri akan dirinya.
Rusty Carlson, ratu real estate dari beverly Hills men­
cari tempat di hutan untuk buang air kecil.
Teman­temannya pasti akan terperangah kalau tahu
apa yang dialaminya, dan ayahnya takkan memercayai­
nya. Tapi kalau ia bisa selamat hidup­hidup dari sini
dan menceritakan semuanya, ayahnya akan sangat bang­
ga padanya.
Ia sedang menutup ritsleting celananya ketika terde­
ngar gerakan tidak jauh dari tempatnya. Ia menoleh ke
arah tersebut dan memasang telinga. Tidak ada apa­apa.
”Mungkin suara angin.” Suaranya terdengar tidak
wajar, tapi terlalu keras dan diceria­ceriakan. ”Atau
burung. Atau Cooper yang datang kemari. Kalau dia
www.facebook.com/indonesiapustaka

sengaja muncul diam­diam untuk menggodaku, aku ti­


dak akan pernah memaafkannya.”
Ia tidak memedulikan suara gemerisik berikutnya,
yang lebih keras dan lebih dekat daripada yang semula
didengarnya. Secepat mungkin ia beranjak kembali ke
tempatnya. Ia bertekad tidak akan bersikap pengecut

82
dengan menangis atau menjerit. Dikatupkannya rahang­
nya sementara ia tersandung­sandung melangkah di
tanah yang tidak rata.
Namun, semua keberaniannya lenyap begitu sosok
besar itu muncul dari antara dua batang pohon dan
pinus menjulang persis di hadapannya. Kepala Rusty
tersentak dan ia menatap ke arah sepasang mata kecil
dan wajah berbulu yang menyeringai itu, lalu ia pun
menjerit nyaring.

Cooper ingin lekas­lekas kembali, tapi ia memutuskan


untuk menguliti kedua kelinci hasil tangkapannya di
situ saja. Ia sudah meyakinkan diri bahwa kemarin ia
sama sekali tidak bermaksud menguji Rusty ketika ia
menguliti kelinci itu di dekatnya.
Tapi hati kecilnya mengatakan bahwa sebenarnya ia
memang bermaksud menguji gadis itu. Ia ingin gadis itu
mengerut ngeri, muntah, atau histeris, sekadar menun­
jukkan kelemahannya sebagai perempuan.
Tapi itu tidak terjadi. Rusty menahankannya dengan
baik. Jauh lebih baik daripada yang diperkirakan Cooper.
Cooper melemparkan isi perut kelinci­kelinci itu dan
mulai mengerat bagian dalam kulitnya. Ini bisa berguna
www.facebook.com/indonesiapustaka

kelak. bulunya hangat dan bisa digunakan untuk mem­


buat Rusty—
Lagi­lagi Rusty! Tidak bisakah ia memikirkan hal
lain? Apakah setiap pikirannya pada akhirnya akan se­
lalu kembali pada gadis itu? Sejak kapan mereka jadi
tidak terpisahkan seperti Adam dan Hawa?

83
Ia ingat apa yang pertama terlintas dalam pikirannya
ketika ia siuman waktu itu. Wajah gadis itu membung­
kuk di atasnya, menatapnya dari antara rambut merah­
nya yang berantakan. Dan Cooper langsung melontar­
kan makian paling kasar yang diketahuinya.
Ia senang masih dibiarkan hidup, tapi rasanya lebih
baik mati saja daripada mesti bertahan bersama gadis
kaya bermantel bulu mahal dan berparfum seksi itu. Di
alam liar, perempuan itu tidak akan bisa bertahan sedi­
kit pun. Cooper merasa bahwa pada akhirnya kemung­
kinan ia mesti menembak gadis itu untuk melepaskan
mereka berdua dari penderitaan.
bukan pikiran yang menyenangkan, tapi ia pernah
mesti melakukan yang lebih kejam agar bisa menyela­
matkan hidupnya sendiri di Vietnam dulu. Kecelakaan
pesawat ini membuatnya otomatis kembali pada hukum
rimba.
Peraturan nomor satu. Membunuh atau dibunuh.
Kau mesti tetap hidup, dengan cara apa pun. Taktik­
taktik bertahan hidup yang dipelajarinya di kesatuannya
tidak mengenal belas kasihan. Lakukan apa yang perlu
agar bisa hidup satu hari lagi, satu jam lagi, satu menit
lagi. Ia sudah terlatih dalam doktrin itu dan telah mem­
praktikkannya lebih sering daripada yang ingin dilihat­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nya. Dan ia tak bisa melupakannya.


Tapi perempuan itu membuatnya heran. Luka di
kakinya itu pasti sangat menyakitkan, tapi ia tidak me­
ngeluh sedikit pun. Ia tidak merengek kelaparan, keha­
usan, kedinginan, dan ketakutan, meski tentunya itulah
yang dirasakannya. Ia cukup tangguh dan sejauh ini

84
masih bisa bertahan. Kecuali kalau keadaan bertambah
buruk.
Cooper jarang sekali menaruh kekaguman pada orang
lain. Dan ia tidak ingin mengagumi Rusty Carlson. Tapi
itulah yang terjadi.
Ia juga mulai mengakui daya tarik gadis itu, dan
bahwa mereka mungkin akan tetap berdua dan saling
bergantung untuk waktu yang lama.
Setan­setan di bawah sana pasti tertawa terbahak­
bahak melihat nasibnya. Di masa lalu, berkali­kali ia
bisa mengalahkan mereka, tapi kali ini berbeda. Inilah
puncak lelucon konyol yang ditakdirkan menimpanya.
biasanya ia memandang rendah perempuan seperti
Rusty Carlson. Ia tidak menyukai perempuan­perem­
puan kaya yang dangkal dan sejak lahir hanya merasa­
kan kemewahan. Perempuan semacam itu tidak tahu
dan tidak mau tahu apa pun yang berada di luar sang­
kar emas. Tapi kenapa sekarang ia justru kagum pada
perempuan semacam itu?
Lebih menjengkelkan lagi adalah penampilan perem­
puan itu. Kalau saja ia tidak cantik... Tapi perempuan
itu justru cantik sekali. benar­benar menggoda. Dengan
rambut warna merah madu yang tampak lembut untuk
dibelai dan payudara yang tampaknya begitu manis.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Suaranya pun bisa melelehkan mentega. Itulah yang ada


dalam pikiran Cooper setiap kali Rusty berbicara.
Sungguh lelucon yang kejam. Tapi ia tidak akan me­
nyentuh perempuan itu. Tidak akan pernah. Ia sudah
pernah mengalami yang seperti itu. Perempuan seperti
Rusty senang mengikuti mode. bukan hanya mode pakai­

85
an, tapi segalanya. Ketika ia bertemu Melody dulu, men­
cintai veteran perang sedang menjadi mode. Dan itulah
yang dilakukan Melody, sampai hal itu tidak lagi menjadi
mode.
Di balik rupa Rusty yang indah, Cooper yakin akan
menemukan karakter seorang Melody juga. Sekarang
Rusty berbaik­baik padanya karena perempuan itu
membutuhkannya. Dari luar kelihatannya ia manis, tapi
di dalamnya kemungkinan ia sama busuk dan sama
penipunya dengan Melody.
Setelah menyampirkan kulit kelinci itu di bahu dan
membungkus dagingnya di dalam kain, Cooper beranjak
kembali ke tempat Rusty. Perempuan itu tidak boleh
sampai memengaruhinya. Ia tidak boleh mulai merasa
kasihan padanya. Semalam ia membiarkan gadis itu
menangis untuk pelepasan, tapi setelah itu tidak lagi. Ia
memeluk gadis itu di malam hari hanya karena tindak­
an itu perlu untuk membuat mereka hangat. Tapi ia
akan menjaga jarak, mulai saat ini. begitu ia selesai
membangun tempat berlindung, mereka tidak perlu lagi
tidur berdekatan demikian. Ia tidak tahan mesti mele­
watkan malam­malam dengan berbaring berdekapan
seperti itu, sementara pinggul perempuan itu menyen­
tuh bagian depan tubuhnya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Hentikan berpikir begitu, perintahnya pada diri sendi­


ri. Lupakan betapa halus kulit perutnya terasa di tangan-
mu. Lupakan bentuk payudara dan pahanya.
Sambil mengerang Cooper menerobos hutan itu,
bertekad untuk memusatkan pikirannya pada hal­hal
yang penting. begitu ia membangun tempat berlindung,

86
mereka tidak perlu terlalu berdekatan lagi. Ia akan men­
jaga mata dan tangannya agar—
Jeritan melengking itu membuatnya tersentak.
Langkahnya terhenti mendadak, seakan di depannya
ada tembok tak terlihat. Ketika jeritan berikutnya mem­
belah kesunyian, otomatis insting Cooper sebagai peju­
ang rimba kembali terbangkitkan. Tanpa suara ia me­
nyelinap di antara pepohonan dengan pisau terhunus
dan mulut menyeringai, ke arah suara jeritan itu.

”Si...siapa kau?” Rusty memegangi lehernya sendiri, se­


mentara jantungnya berdebar cepat.
Wajah berjanggut lelaki itu menyeringai lebar. Ia
menoleh dan berkata, ”Hei, Pa, dia tanya siapa aku.”
Sambil mendecak, seorang lelaki yang lebih tua me­
langkah keluar dari antara pepohonan. Keduanya ter­
nganga memandang Rusty. Keduanya sama­sama ber­
mata kecil dan cekung.
”Kami juga bisa menanyakan hal yang sama,” kata
lelaki yang lebih tua. ”Siapa kau, gadis kecil?”
”A...ak...aku selamat dari kecelakaan pesawat.” Kedua
orang itu memandangi Rusty dengan bingung. ”Kalian
tidak tahu?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Tidak.”
Rusty menunjuk dengan jari gemetar. ”Di sana. Dua
hari yang lalu. Lima orang tewas. Kakiku luka.” Ia me­
nunjuk ke arah tongkatnya.
”Masih ada wanita?”
Sebelum Rusty menjawab, Cooper sudah melangkah

87
ke belakang lelaki yang lebih tua dan menempelkan
pisaunya yang mengilat di leher lelaki itu. Ditelikungnya
lengan lelaki itu dan dicengkeramnya tengkuknya. Lela­
ki itu menjatuhkan senapannya ke tanah.
”Menjauh darinya, atau kubunuh dia,” katanya pada
lelaki yang lebih muda. Orang itu terkejut melihatnya.
Ia memandangi Cooper seperti melihat setan yang
muncul dari neraka. bahkan Rusty pun terperanjat
melihat sosok kejam di mata Cooper. Tapi ia merasa
lega dengan kemunculan lelaki itu.
”Kubilang menjauh darinya.” Suara Cooper penuh
ancaman, seperti juga pisaunya. Suara itu sama sekali
tanpa nada dan tanpa emosi. Si lelaki muda mundur
terhuyung dua langkah. ”Jatuhkan senapanmu,” perin­
tah Cooper.
Karena akhirnya sadar bahwa si pengancam juga
manusia, si lelaki muda tampak ingin membangkang. Ia
menoleh pada lelaki yang lebih tua. ”Pa, apa aku—”
”Lakukan perintahnya, Reuben.”
Dengan enggan si lelaki muda menjatuhkan senapan
berburunya. Cooper menendang kedua senapan itu ke
luar jangkauan mereka, dan perlahan­lahan melepaskan
cekalannya. Ia mengitari si lelaki tua dan berdiri di
samping Rusty, menghadap ke arah mereka. ”Rusty?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rusty terlompat. ”Kau tidak apa­apa?”


”Ya.”
”Apa mereka menyakitimu?”
”Mereka membuatku ketakutan. Itu saja. Kurasa
mereka tidak sengaja.”
Cooper tidak mengalihkan matanya dari kedua orang

88
itu. Ia memandangi mereka dengan waspada. ”Siapa
kalian?”
bentakannya lebih ampuh daripada pertanyaan yang
diucapkan Rusty dengan lemah tadi. Lelaki yang lebih
tua langsung menjawab, ”Quinn Gawrylow dan itu
anakku Reuben. Kami tinggal di sini.” Cooper tidak
mengerjapkan mata sedikit pun. Lelaki itu melanjutkan.
”Di seberang jurang dalam itu.” Ia memberi isyarat ke
arah yang dimaksud dengan dagunya.
Cooper sudah menemukan jurang itu kemarin. Mata
air tempat ia mengambil air selama ini terletak di bawah
jurang tersebut. Ia tidak menyeberang ke sana untuk
memeriksa, karena ia tidak mau terlalu lama meninggal­
kan Rusty. Sekarang ia bersyukur tidak ke sana. Mung­
kin saja kedua orang ini tidak berbahaya, tapi itu belum
terbukti. Pembawaannya yang penuh curiga sering kali
bermanfaat. Sebelum benar­benar bisa dipercaya, ia
akan menganggap kedua orang ini musuhnya. Sejauh ini
mereka tidak melakukan apa pun yang membahayakan,
tapi ia tak senang melihat cara si lelaki muda menatap
Rusty dengan ternganga, seperti melihat bidadari.
”Kenapa kalian menyeberang kemari?” tanya Cooper.
”Kami mencium bau asap kayumu semalam, dan pagi
ini bermaksud menyelidikinya. biasanya kami jarang
www.facebook.com/indonesiapustaka

bertemu orang lain di hutan kami.”


”Kami mengalami kecelakaan pesawat.”
”begitulah kata nona muda itu.”
Tadi mereka menyebutku gadis kecil, sekarang nona
muda, pikir Rusty. Ia bersyukur dengan kedatangan
Cooper. Ia juga merasa takut melihat tatapan lelaki

89
muda itu, dan ia mendekati Cooper, berlindung di be­
lakang lengannya. ”berapa jauh tempat ini dari kota
terdekat?” tanya Rusty.
”Seratus lima puluh kilometer.” Harapan Rusty kan­
das. Lelaki itu jelas memperhatikan reaksi Rusty. ”Tapi
sungai tidak terlalu jauh dari sini.”
”Sungai Mackenzie?”
”benar. Kalau kau bisa mencapainya sebelum mem­
beku, kau bisa menumpang perahu yang menuju
Yellowknife.”
”berapa jauh jarak ke sungai itu?” tanya Cooper.
Lelaki itu menggaruk kepalanya, di bawah topi
wolnya. ”Sekitar lima belas sampai dua puluh kilometer.
benar, Reuben?”
Si lelaki muda mengangguk tanpa mengalihkan pan­
dangan berhasratnya dari Rusty. Cooper menyipitkan
mata ke arahnya dengan tatapan tajam berbahaya. ”bisa
kalian mengantar kami ke sungai itu?”
”bisa,” sahut Quinn. ”besok. Hari ini beristirahatlah
dulu. Kami akan memberikan makanan pada kalian.” Ia
melirik daging segar hasil buruan Cooper. ”Mari ikut ke
pondok kami.”
Rusty menatap Cooper penuh harap. Wajah Cooper
tetap tak bisa ditebak saat ia memandangi kedua lelaki
www.facebook.com/indonesiapustaka

itu dengan waspada. Akhirnya ia berkata, ”Terima ka­


sih. Rusty bisa makan dan beristirahat sebelum berang­
kat. Kalian jalan duluan.” Dengan senapannya ia me­
nunjuk ke arah yang menuju tempat mereka tinggal
selama ini.
Kedua lelaki itu memungut senapan mereka. Rusty

90
merasa tubuh Cooper menegang waspada. Tapi kedua
ayah dan anak itu memanggul senapan mereka dan
berjalan ke arah yang ditunjukkan Cooper. Cooper
menatap Rusty dan berbicara berbisik. ”Jangan jauh­
jauh. Di mana pisau yang kuberikan padamu?”
”Kutinggalkan ketika aku pergi—”
”bawa terus bersamamu.”
”Kau kenapa sih?”
”Tidak apa­apa.”
”Kelihatannya kau tidak terlalu senang melihat me­
reka. Aku sendiri senang. Mereka bisa membantu kita
keluar dari sini.”
Jawaban Cooper ketus dan singkat saja. ”Yeah.”
Kedua ayah dan anak itu terkesan dengan keteram­
pilan Cooper. Mereka membantu mengumpulkan bulu­
bulu binatang serta barang­barang yang diambil Cooper
dan Rusty dari bangkai pesawat. Di alam liar tidak ada
yang boleh dibiarkan terbuang percuma. Reuben me­
mastikan api sudah mati dengan menendangkan batu­
batu ke dalamnya.
Rombongan itu berangkat menuju pondok kedua
Gawrylow, dipimpin oleh Quinn, dengan anaknya di
belakang. Cooper berjalan paling belakang, supaya bisa
terus mengawasi kedua lelaki itu, sekaligus Rusty yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

berjalan tersandung­sandung dengan tongkatnya.


Kedua lelaki itu kelihatannya bermaksud baik, tapi
Cooper sudah belajar untuk tidak percaya pada siapa
pun. Ia sudah melihat banyak tentara tercabik­cabik
oleh granat tangan yang disodorkan pada mereka oleh
anak­anak kecil yang tersenyum.
Di tepi sungai, mereka berhenti untuk beristirahat.

91
Rusty serasa akan pingsan. Jantungnya berdebar ken­
cang sekali dan bagian bawah lengannya terasa sakit
oleh tongkat itu, meski Cooper sudah melapisi ujung
tongkat tersebut dengan kain­kain yang cukup tebal.
”bagaimana keadaanmu?” tanya Cooper sambil mem­
buka termos dan menyodorkannya pada Rusty.
”baik.” Rusty memaksakan senyum.
”Kakimu sakit?”
”Tidak, hanya berat sekali.”
”Rasanya kita tidak jauh lagi. Nanti kau bisa ber­
baring sepanjang sisa hari ini.”
Kedua Gawrylow menunggu dengan sabar sampai
Rusty berhasil mengatur napas dan siap berjalan kem­
bali. ”Kita akan menyeberang di tempat yang paling
mudah,” kata lelaki yang lebih tua.
Mereka menyusuri tepian sungai sepanjang beberapa
ratus meter. Pada saat­saat normal, Rusty pasti akan
terpesona oleh pemandangan di situ. Air sungai itu sa­
ngat jernih, bergeleguk di antara bebatuan yang licin
bagaikan kaca karena sudah dilalui sekian banyak air
yang mengalir di antaranya. Pepohonan di tepinya men­
julang tinggi, membentuk lengkungan di atas kepala.
Daun­daunnya begitu hijau, hingga tampak kebiruan.
Ada pula pepohonan yang berdaun merah terang hing­
www.facebook.com/indonesiapustaka

ga kuning terang. Musim dingin yang mulai mendekat


membuat banyak daun berguguran, membentuk karpet
empuk gemerisik di bawah kaki mereka.
Dada Rusty bagai terbakar karena kelelahan ketika
akhirnya mereka berhenti lagi. Diletakkannya tongkat­
nya di tanah dan dengan nyaman ia duduk di sebuah

92
batu, di samping air sungai yang mengalir dangkal di
bagian ini. Sisi jurang yang menjulang di seberang sana,
sungai tampak setinggi Pegunungan Himalaya.
”Ini dia,” kata Quinn. ”Aku akan jalan di depan. Reu­
ben bisa membopong wanita itu. Kau yang mengangkat
barang­barang.”
”biar Reuben yang mengangkat barang­barang. Aku
yang membawa wanita ini,” Cooper mengoreksi dengan
suara dingin.
Quinn angkat bahu, lalu menyuruh anaknya meng­
ambil alih barang­barang dari Cooper. Reuben mema­
tuhi, setelah menatap marah pada Cooper. Cooper balas
menatapnya. Ia tidak peduli Reuben suka atau tidak; ia
tidak akan membiarkan tangan­tangan kotor lelaki itu
menyentuh Rusty.
Setelah kedua lelaki itu berada agak jauh di depan,
Cooper membungkuk dan berbisik di telinga Rusty.
”Jangan takut menggunakan pisau itu.” Rusty menatap
lelaki itu dengan kaget. ”Siapa tahu kedua orang baik
itu mendadak menyerang kita.” Cooper menaruh tong­
kat Rusty di pangkuan gadis itu, lalu membopongnya.
Kedua Gawrylow sudah berada di tepi jurang. Cooper
menyusul mereka, tetap mengawasi dengan waspada,
sekaligus berkonsentrasi pada tanah yang curam. Kalau
www.facebook.com/indonesiapustaka

ia jatuh, Rusty akan ikut jatuh bersamanya. Gadis itu ber­


usaha tampak berani, tapi Cooper tahu bahwa kakinya
yang sakit pasti terasa sangat tidak nyaman.
”Menurutmu kita akan diselamatkan besok, Cooper?”
”Kemungkinan besar begitu. Kalau kita berhasil sam­
pai ke sungai, dan kalau kebetulan ada perahu yang le­

93
wat.” Napas Cooper terengah­engah. Dahinya berke­
ringat, namun rahangnya mengatup ketat penuh tekad.
”Kau perlu bercukur.” Tahu­tahu Rusty berkata de­
mikian. Rupanya selama ini tanpa sadar ia mengamati
wajah Cooper dengan saksama. Tanpa menggerakkan
kepala, Cooper menatapnya. Merasa malu, Rusty me­
malingkan wajah dan bergumam, ”Maaf, aku pasti berat
sekali.”
”Sama sekali tidak. Justru pakaianmu yang lebih be­
rat.”
Ucapan itu mengingatkan Rusty bahwa lelaki ini
tahu seberapa berat pakaiannya dan seberapa berat tu­
buhnya sebenarnya. bukankah ia telah melihat Rusty
tanpa pakaian? Kalau setiap percakapan mereka ber­
akhir dengan suasana canggung seperti ini, lebih aman
untuk tidak bercakap­cakap sama sekali.
Saat itu mereka sudah mencapai puncak jurang. Quinn
sedang menggigiti sepotong tembakau. Reuben melepas­
kan topinya dan menggunakannya untuk mengipasi tu­
buhnya. Rambutnya yang gelap dan berminyak menem­
pel di kepalanya.
Cooper menurunkan Rusty. Tanpa bicara Quinn
menawarkan sepotong tembakau padanya. Dalam hati
Rusty senang ketika Cooper menggeleng menolaknya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Kami akan menunggu sampai kalian sudah cukup


beristirahat,” kata Quinn.
Cooper menatap Rusty. Wajah gadis itu pucat kele­
lahan. Kakinya mungkin sakit sekali. Angin lembap
membuat udara semakin dingin. Rusty sebenarnya
perlu beristirahat lebih lama, tapi semakin cepat bisa

94
membawanya ke pondok yang beratap, semakin baik. Ia
bisa makan dan berbaring di sana.
”Tidak perlu menunggu. Ayo berangkat,” kata Cooper
tegas.
Ia menarik Rusty dan menopang tubuh gadis itu di
tongkatnya. Dilihatnya Rusty mengernyit kesakitan,
tapi Cooper mengeraskan hati dan memberi isyarat
bahwa mereka sudah siap berjalan lagi.
Setidaknya sisa perjalanan mereka lebih mudah. Ke­
tika tiba di pondok kedua lelaki itu, Rusty sudah keha­
bisan tenaga. Ia terpuruk di beranda yang reyot, seperti
boneka perca.
”Mari kita bawa masuk wanita ini,” kata Quinn sam­
bil membuka pintu pondok.
Pintu reyot itu disambung pada kerangkanya dengan
engsel dari kulit. bagian dalam pondok itu seperti sa­
rang binatang. Rusty memandangi isinya dengan agak
ngeri. Ternyata ada hal­hal yang lebih tidak menye­
nangkan daripada sekadar terdampar di alam liar.
Cooper tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun
ketika mengangkat Rusty dan membopongnya masuk
ke dalam pondok yang remang­remang. Jendela­jendela
yang kecil sangat hitam oleh kotoran, hingga hanya se­
dikit cahaya yang menembus masuk. Sebuah perapian
www.facebook.com/indonesiapustaka

berasap yang redup hanya menawarkan sedikit pene­


rangan, tapi apa yang dilihat Rusty dan Cooper me­
mang sebaiknya tetap tersembunyi dalam kegelapan.
Pondok itu sangat kotor dan berbau wol basah, le­
mak asam, dan orang yang tidak mandi. Kelebihannya
hanyalah bahwa di situ hangat. Cooper membopong

95
Rusty ke arah perapian dari batu dan mendudukkannya
di sebuah kursi berpunggung tegak yang keras. Ia mem­
balik sebuah ember aluminium dan meletakkan kaki
Rusty yang luka di atasnya. Lalu dikoreknya api dengan
tongkat pengorek besi. Api yang temaram itu menyala
lebih terang setelah ditambahi kayu api dari kotak kayu
di dekat perapian.
Kedua Gawrylow masuk. Reuben menutup pintu,
membuat suasana di dalam semakin gelap. Meski ada
kehangatan dari perapian, Rusty tetap menggigil dan
semakin membenamkan diri dalam mantelnya.
”Kalian pasti lapar.” Quinn beranjak ke tungku di
sudut. Ia mengangkat tutup panci di atasnya dan me­
longok isinya. ”Dagingnya sudah matang. Mau?”
Rusty hampir menolak, tapi Cooper langsung men­
jawab. ”Ya. Punya kopi?”
”Tentu. Reuben, buatkan kopi.”
Reuben masih terus memandangi Rusty sejak masuk
dan meletakkan barang­barang Cooper di lantai.
Cooper mengikuti arah tatapan melongo Reuben ke
sosok Rusty. Ia menyumpah dalam hati, karena cahaya
api itu menyinari rambut Rusty dan membuatnya ber­
kilauan. Wajah gadis itu pucat dan tegang, dan matanya
tampak besar, rapuh, dan sangat feminin. bagi lelaki
www.facebook.com/indonesiapustaka

muda yang selama ini tinggal di hutan hanya dengan


ayahnya itu, seorang perempuan tidak perlu cantik un­
tuk membangkitkan minatnya. Rusty pasti mem­
bangunkan semua khayalannya yang paling liar.
Dengan tangannya Reuben mengambil bubuk kopi
dari dalam sebuah wadah logam dan memasukkannya

96
segenggam ke sebuah pot enamel. Ia mengisi pot itu
dengan air dari pompa dan menjerangnya di tungku.
beberapa menit kemudian, Rusty dan Cooper sudah
disuguhi sepiring daging yang tidak jelas. Rusty merasa
lebih baik tidak tahu daging apa itu, jadi ia tidak berta­
nya. Ia mengunyah dan menelan dengan cepat. Setidak­
nya makanan itu panas dan bisa mengisi perutnya.
Kopinya pahit sekali, sehingga ia mengernyit ketika
menelannya. Tapi dihabiskannya juga sebagian besar isi
gelasnya.
Kedua Gawrylow memandangi mereka makan. Ta­
tapan lelaki yang lebih tua tidak seliar tatapan anaknya,
tapi mungkin justru lebih cermat. Sepasang matanya
yang cekung sangat awas mengamati semua gerakan
mereka.
Quinn memecah keheningan itu dengan bertanya,
”Kalian suami­istri?”
”Ya,” Cooper berbohong dengan tenang. ”Sudah lima
tahun.”
Rusty menelan potongan daging terakhir, sambil
berharap kedua ayah dan anak itu tidak memperhatikan
betapa sulit ia menelannya. Ia senang Cooper mengam­
bil inisiatif untuk menjawab. Ia sendiri rasanya tidak
bisa mengucapkan sepatah kata pun.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Punya anak?”
Kali ini Cooper terdiam, sehingga Rusty­lah yang
berkata, ”Tidak.” Ia berharap jawaban itu memuaskan
”suami”­nya. Nanti ia ingin menanyakan, kenapa Cooper
berbohong. Tapi untuk saat ini ia akan membiarkan saja.
Menurut pendapatnya, kewaspadaan Cooper berlebihan.

97
Tapi ia tetap lebih berpihak pada Cooper daripada pada
kedua ayah dan anak itu.
Selesai makan, Cooper menyingkirkan piring dan
cangkirnya. Ia memandang sekitarnya. ”Kalian tidak
punya pemancar? Radio panggil?”
”Tidak.”
”Kalian tidak mendengar ada pesawat terbang lewat
belakang ini?”
”Tidak. Reuben?” Quinn menyikut lutut anaknya
yang melongo. Lelaki muda itu mengalihkan tatapannya
dari Rusty.
”Pesawat terbang?” tanyanya bodoh.
”Kami kecelakaan dua hari yang lalu,” Cooper men­
jelaskan. ”Mestinya saat ini mereka sudah tahu. Kupikir
mungkin ada pesawat pencari yang memeriksa, kalau­
kalau ada yang masih hidup.”
”Aku tidak mendengar ada pesawat,” kata Reuben
cepat­cepat, lalu kembali memandangi Rusty.
”bagaimana kalian tahan hidup begitu jauh dari ke­
ramaian?” tanya Rusty. Kehidupan terpencil seperti ini
membuatnya tidak tahan. Ia tak bisa membayangkan
hidup tanpa kemudahan­kemudahan yang ditawarkan
kota besar. Mungkin hidup di pedesaan masih bisa di­
terima kalau sesekali kita pergi ke kota. Tapi hidup
www.facebook.com/indonesiapustaka

seperti ini, sengaja memutuskan semua kontak dengan


peradaban—
”Kami berjalan kaki ke sungai dan menumpang kapal
ke Yellowknife, dua kali setahun,” kata Quinn. ”Sekali
di bulan April dan sekali di bulan Oktober. Kami ting­
gal beberapa hari di kota, menjual beberapa bulu bina­

98
tang, membeli apa­apa yang kami butuhkan, dan pulang
dengan menumpang kapal juga. Hanya itu hubungan
yang kami inginkan dengan dunia luar.”
”Tapi kenapa?” tanya Rusty.
”Aku tidak suka pada kota dan orang kota. Aku dulu
tinggal di Edmonton, bekerja di galangan kapal. Suatu
hari bosku menuduhku mencuri.”
”benarkah kau mencuri?”
Rusty terperanjat dengan pertanyaan Cooper, tapi
Quinn tampaknya tidak tersinggung. Ia cuma mendecak
dan meludahkan air tembakau ke perapian.
”Lebih mudah bagiku untuk menghilang daripada
maju ke pengadilan untuk membuktikan bahwa aku tidak
bersalah,” katanya. ”Ibu Ruben sudah meninggal. Jadi,
aku dan Reuben pergi begitu saja. Hanya membawa uang
sekadarnya dan pakaian yang melekat di badan.”
”Sudah berapa lama itu terjadi?”
”Sepuluh tahun yang lalu. Kami mengembara seben­
tar, lalu akhirnya pindah kemari. Kami suka di sini, jadi
kami tinggal.” Ia angkat bahu. ”Kami tidak pernah pu­
nya keinginan untuk kembali.”
Akhir cerita. Rusty menghabiskan makanannya, tapi
kedua orang itu tampaknya masih senang terus menatap
dirinya dan Cooper.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Untuk memecahkan kesunyian yang tidak mengenak­


an itu, Cooper berkata, ”Permisi, aku ingin memeriksa
luka istriku.”
Tampaknya mudah sekali ia mengucapkan kata ”is­
triku”, tapi Rusty merasa tidak senang mendengarnya.
Ia bertanya­tanya, apakah kedua Gawrylow percaya
bahwa mereka suami­istri.

99
Quinn membawa piring­piring kotor ke pompa dan
membasahinya dengan air. ”Reuben, lakukan tugasmu.”
Pemuda itu tampaknya ingin membantah, tapi ayah­
nya menatapnya dengan tajam. Akhirnya Reuben ber­
anjak ke pintu, mengambil mantel dan topinya sambil
berjalan. Quinn keluar ke beranda dan mulai menum­
puk kayu api di tembok pondok.
Rusty mencondongkan tubuh pada Cooper ketika
lelaki itu sedang berlutut di hadapannya. ”bagaimana
menurutmu?”
”Tentang apa?”
”Tentang mereka,” sahutnya. Cooper memegangi
ujung celana panjang gadis itu di jemarinya dan mero­
beknya dengan pisaunya hingga sebatas lutut. Rusty
menjadi marah. ”Kenapa kaurobek celanaku? Ini celana
terakhirku. Aku tidak akan punya pakaian lagi kalau
yang ini kaurobek juga.”
Cooper mengangkat kepala, matanya tampak keras.
”Apa kau lebih suka membukanya dan membiarkan
Reuben melihat celana dalammu yang minim itu?”
Rusty hendak menjawab, tapi tidak tahu mesti mem­
balas apa, jadi ia diam saja sementara Cooper membuka
balutan kakinya dan memeriksa luka jahitannya. Tam­
paknya luka itu tidak terkena akibat perjalanan tadi.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Hanya saja Rusty merasa kesakitan lagi. Tak ada gunanya


berbohong tentang hal itu pada Cooper, karena ia me­
ngernyit kesakitan ketika lelaki itu selesai membebatnya
lagi.
”Sakit?”
”Sedikit,” ia mengakui.

100
”Jangan sampai tertindih untuk hari ini. Duduklah di
sini, atau berbaring di kerangka yang akan kubuat.”
”Kerangka? Kenapa dengan ranjang itu?” Rusty me­
noleh ke arah dua tempat tidur di tembok seberang.
”Menurutmu mereka tidak akan menawarkan aku un­
tuk tidur di situ?”
Cooper tertawa. ”Aku yakin Reuben akan senang
sekali mengajakmu tidur bersamanya di tempat tidur­
nya. Tapi kalau tidak mau terkena kutu, kusarankan
kau menjauhi tempat tidur itu.”
Rusty menyentakkan kakinya. Kenapa Cooper tidak
bisa bersikap ramah? Mereka bersama­sama karena
terpaksa, tapi yang jelas mereka bukan sahabat.
www.facebook.com/indonesiapustaka

101
5

RASANYA lama sekali menunggu saat tidur. Menje­


lang malam tadi mereka kembali makan bersama kedua
Gawrylow. Dan lama setelah selesai makan mereka
masih terus membahas tentang perjalanan sulit menuju
Sungai Mackenzie.
”Tidak ada jalan setapak untuk ke sana. Semuanya
medan naik­turun, jadi perlu waktu seharian,” kata
Quinn.
”Kita berangkat begitu hari terang.” Selama itu
Cooper sama sekali tidak membiarkan Rusty lepas dari
pengawasannya. Sepanjang sore ia mengikuti gerakan
Rusty dengan mata elangnya. Sekarang, sementara
Rusty duduk di lantai di bawahnya dan menumpangkan
www.facebook.com/indonesiapustaka

satu lengannya di paha Rusty. ”Tidak perlu membawa


banyak barang. Aku tidak berniat mengangkut semua­
nya. Hanya yang benar­benar penting saja.”
”bagaimana dengan perempuan itu?” tanya Quinn.
Rusty merasa otot­otot Cooper berdenyut di paha­
nya. ”Memang kenapa?”

102
”Dia akan menghambat perjalanan kita.”
”Aku akan menemaninya di sini, Pa,” Reuben mena­
warkan dengan gagah.
”Tidak.” Jawaban Cooper terdengar tajam. ”Dia ikut.
Aku tidak peduli kita mesti berjalan lambat.”
”bagi kami tidak masalah,” kata Quinn sambil angkat
bahu dengan gayanya yang khas. ”Tapi kukira kau ingin
cepat­cepat mengontak teman­teman dan keluargamu.
Mereka pasti cemas memikirkanmu.”
Rusty menatap ke kepala Cooper di bawahnya.
”Cooper?” Cooper menengadah memandangnya. ”Aku
tidak apa­apa ditinggal sendirian di sini. Kalau kau bisa
berjalan lebih cepat tanpa aku, kenapa tidak? Kau bisa
menghubungi ayahku begitu kau menemukan telepon.
Dia akan mengirim orang untuk menjemputku. Semua­
nya bisa beres besok malam.”
Cooper memperhatikan ekspresi penuh harap di
wajah Rusty. Gadis ini pasti mau ikut dalam perjalanan
berat tersebut kalau Cooper memaksanya ikut. Tapi
tidak akan mudah baginya berjalan dua puluh kilometer
menembus hutan, meski seandainya kakinya tidak luka.
Ia akan sering menghambat mereka, dan kemungkinan
mereka akan terpaksa berkemah di hutan selama sema­
lam.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Tapi Cooper juga tidak senang meninggalkan Rusty.


Tak peduli betapa tabahnya ia, Rusty tidak akan bisa
melindungi dirinya sendiri dengan efektif. Dalam ling­
kungan ini ia benar­benar tak berdaya, seperti seekor
kupu­kupu. Cooper bukannya ingin bersikap sentimen­
tal. Selama ini Rusty sudah berhasil melewati berbagai

103
musibah, dan ia tak ingin terjadi apa­apa dengan gadis
itu pada saat kemungkinan mendapat pertolongan su­
dah terbuka.
Cooper melingkarkan tangannya di lutut Rusty de­
ngan protektif. ”Kita tunggu saja dulu. Lihat keadaan
besok pagi.”
beberapa jam berikutnya merangkak lamban dalam
kesunyian. Rusty bertanya­tanya, bagaimana cara kedua
Gawrylow itu mempertahankan kewarasan mereka. Tak
ada yang bisa dilakukan di sini. Tak ada yang bisa diba­
ca, didengarkan, atau dilihat—kecuali saling tatap di
antara mereka. Ketika acara saling tatap itu mulai mem­
bosankan, mereka sama­sama memandang ke arah
lampu minyak tanah yang lebih banyak menghasilkan
asap hitam berbau tak sedap daripada cahaya.
Mestinya kedua pertapa ini menghujani mereka de­
ngan pertanyaan tentang keadaan dunia di luar sana,
tapi kedua Gawrylow itu sama sekali tidak menunjuk­
kan minat terhadap apa pun yang ada di luar dunia
mereka.
Karena merasa tubuhnya kotor dan berdebu, dengan
malu­malu Rusty meminta semangkuk air. Reuben
bangkit berdiri dan mengambilkan air untuknya, lalu
menyerahkannya dengan canggung. Celana Rusty ter­
www.facebook.com/indonesiapustaka

kena tumpahan air sedikit, sebelum pemuda itu berhasil


meletakkan mangkuk tersebut dengan benar.
Rusty menggulung lengan sweternya hingga ke siku,
lalu mencuci wajah dan tangannya dengan sabun ba­
tangan yang diizinkan Cooper untuk dibawanya. Ingin
sekali ia berlama­lama menikmati rasa sejuk air yang

104
diusapkan di wajahnya, namun batal karena ada tiga
pasang mata mengamatinya. Ketika Cooper menyodor­
kan salah satu kausnya sendiri kepadanya, Rusty mene­
rimanya dengan enggan dan mengeringkan wajahnya.
Kemudian Rusty mengambil sikat rambutnya dan
mulai menyisir. Rambutnya bukan hanya sangat kotor,
tapi juga lengket dan kusut. baru saja ia berhasil mera­
pikan kekusutannya sedikit, tahu­tahu Cooper menyen­
takkan sikat itu dari tangannya dan berkata dengan te­
gas, ”Sudah cukup!”
Rusty berbalik ke arah Cooper, hendak memprotes.
Tapi niatnya urung karena melihat wajah keras lelaki
itu. Sepanjang hari ini sikap Cooper aneh sekali—lebih
aneh daripada biasa. Rusty ingin bertanya, ada apa de­
ngannya, dan kenapa ia begitu cepat marah. Tapi rasa­
nya sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat.
Namun, Rusty menunjukkan kekesalannya dengan
merampas kembali sikat rambut itu dari tangan Cooper
dan memasukkannya ke atas kosmetiknya. barang­
barang ini merupakan satu­satunya unsur yang mengi­
ngatkannya bahwa di dunia luar sana masih ada yang
namanya air panas, parfum, mandi busa, dan losion
tangan.
Akhirnya semua beranjak untuk tidur. Rusty tidur
www.facebook.com/indonesiapustaka

bersama Cooper, seperti halnya dua malam sebelumnya.


Ia berbaring miring menghadap perapian, kakinya yang
luka berada di atas. Di bawahnya adalah kerangka yang
dibuat Cooper dengan menggunakan bulu binatang
yang mereka bawa. Quinn menawarkan tempat tidur­
nya, tapi dengan taktis Cooper menolaknya.

105
Cooper tidak memeluk Rusty dari belakang seperti
biasanya. Lelaki itu berbaring telentang dengan tegang,
tidak pernah betul­betul santai, dan selalu waspada.
”Jangan gelisah terus,” bisik Rusty setelah sekitar
setengah jam. ”Kau kenapa?”
”Diamlah! Tidur saja!”
”Kau sendiri?”
”Tidak bisa tidur.”
”Kenapa?”
”Nanti kujelaskan, kalau kita sudah keluar dari sini.”
”Jelaskan saja sekarang.”
”Tidak bisa. Lihat saja tanda­tandanya.”
”Apa ini ada hubungannya dengan kebohonganmu
mengatakan kita sudah menikah?”
”Justru erat sekali hubungannya.”
Rusty memikirkannya sejenak. ”Kuakui, mereka me­
mang agak aneh. Tapi aku yakin mereka cuma ingin
tahu. Lagi pula, mereka sudah tidur nenyak sekarang.”
Suara dengkuran keras ayah dan anak itu mestinya su­
dah cukup untuk meyakinkan Cooper bahwa mereka
memang sudah tidur pulas.
”benar,” kata Cooper datar. ”Kau juga mesti tidur.
Selamat malam.”
Dengan kesal Rusty membalikkan tubuh. Lambat
www.facebook.com/indonesiapustaka

laun ia tertidur. Rasanya baru sekejap saja ia tidur,


tahu­tahu sudah mengguncang­guncang tubuhnya agar
ia bangun. Rusty mengerang memprotes, tapi kemudian
ia ingat bahwa hari ini penderitaannya akan berakhir.
Maka ia duduk tegak.
Pondok itu masih diselimuti kegelapan total, namun

106
Rusty dapat melihat samar­samar sosok Cooper dan
kedua Gawrylow. Quinn sedang menjerang kopi dan
mengaduk panci daging di tungku.
Cooper berlutut di sampingnya. ”bagaimana keada­
anmu?”
”Dingin,” sahut Rusty sambil menggosok­gosok le­
ngannya. Meski tidak tidur berpelukan dengan Cooper,
panas lelaki itu membuatnya hangat sepanjang malam,
dan itu lebih ampuh daripada selimut listrik apa pun
yang pernah dicobanya.
”Maksudku kakimu.”
”Kaku, tapi tidak sesakit kemarin.”
”Kau yakin?”
”Positif.”
”bangunlah dan coba berjalan sedikit. Kita lihat ke­
adaannya.”
Cooper membantunya bangkit. Rusty mengenakan
mantelnya dan mengambil tongkatnya, lalu mereka
keluar karena ia ingin buang air kecil. Pondok itu tidak
memiliki kamar mandi di dalam.
Selesai buang air kecil, Rusty melihat matahari sudah
naik, membuat langit tampak kelabu muda. Cahaya itu
membuat parasnya tampak semakin pucat. Cooper
melihat Rusty sangat kelelahan setelah berjalan bolak­
www.facebook.com/indonesiapustaka

balik dari pondok ke toilet di luar. Napas Rusty yang


terengah­engah menimbulkan uap air di sekitar kepala­
nya.
Cooper menyumpah pelan. ”Kenapa?” tanya Rusty
cemas.
”Kau tidak akan kuat, Rusty. Meski ditunggu ber­

107
hari­hari.” Sambil bertolak pinggang, Cooper melampi­
askan kekecewaannya dengan mendengus, lalu berkata,
”Mesti diapakan kau ini?”
Pertanyaan itu tidak diperlunak dengan nada lembut
atau kasihan. Suaranya menyiratkan bahwa ia lebih
suka tidak dipusingkan sama sekali oleh gadis itu.
”Maaf aku banyak menyusahkanmu, Mr. Landry.
Kenapa aku tidak kaujadikan umpan beruang saja?
Dengan begitu, kau bisa berlari­lari bebas ke sungai
sialan itu.”
Cooper melangkah dan mendekatkan wajahnya ke
wajah Rusty. ”Dengar, Non, kelihatannya kau terlalu
lugu untuk mengerti. banyak yang dipertaruhkan di
sini, daripada sekadar urusan mencapai sungai itu.”
”bagiku tidak,” sahut Rusty ketus. ”Kalaupun kau
mendadak punya sayap dan bisa terbang ke sana, itu
belum cukup cepat untukku. Aku ingin keluar dari sini,
lepas darimu, dan kembali ke rumahku.”
bibir lelaki itu mengatup ketat dan menghilang di ba­
wah kumisnya. ”baiklah, kalau begitu.” Ia berbalik dan
melangkah ke arah pondok dengan marah. ”Aku bisa le­
bih cepat sampai ke sana tanpa kau. Kau di sini saja.”
”baik!” Rusty balas berteriak.
Lalu dengan keras kepala itu berjuang untuk mena­
www.facebook.com/indonesiapustaka

paki jalan menanjak ke arah pondok. Ketika ia tiba di


sana, ketiga lelaki itu sedang terlibat perdebatan. Pintu
dibiarkan terbuka sedikit oleh Cooper, entah karena
tadi terburu­buru atau karena marah. Rusty masuk
dengan berjalan miring dan mendorong pintu sedikit
dengan sikunya.

108
Cooper sedang berkata, ”Yang benar saja, Gawrylow.
Reuben dua puluh tahun lebih muda daripada kau. Aku
ingin bergerak cepat. Dia yang pergi bersamaku. Kau
tinggal bersama... istriku. Aku tidak mau dia sendirian
di sini.”
”Tapi, Pa—” rengek Reuben.
”Dia benar, Reuben. Kau bisa berjalan lebih cepat
daripada aku. Kalau beruntung, kalian bisa mencapai
sungai itu pada tengah hari.”
Reuben sama sekali tidak senang dengan pengaturan
ini. Ia melontarkan pandangan lapar sekali lagi pada
Rusty, lalu berjalan keluar sambil menggerutu. Cooper
sendiri tampaknya tidak terlalu senang. Ia menarik
Rusty ke sisinya dan memberikan pistol isyarat sambil
menjelaskan cara penggunaannya.
”Kira­kira kau bisa memakainya?”
”Aku bukan orang tolol.”
Cooper tampaknya ingin mendebat, tapi lalu mengu­
rungkannya. ”Kalau mendengar deru pesawat terbang,
keluarlah secepat mungkin dan tembakkan pistol itu ke
atas.”
”Kenapa bukan kau saja yang membawanya?”
Selama ini pistol tersebut tidak pernah jauh dari
jangkauan Cooper, sejak mereka meninggalkan bangkai
www.facebook.com/indonesiapustaka

pesawat. ”Sebab atap pondok ini lebih mudah terlihat


daripada dua orang yang berjalan kaki. Pegang ini juga.”
Sebelum Rusty mengerti apa yang dimaksudnya,
Cooper sudah menyelipkan pisau berburu berikut sa­
rungnya ke balik celana Rusty. Sarung kulit yang halus
itu terasa dingin di perut Rusty. Ia terkesiap kaget.

109
Cooper tersenyum melihat reaksinya. ”Dengan begitu,
kau akan selalu ingat di mana pisau itu berada.”
”Kenapa aku mesti ingat?”
Lama lelaki itu memandanginya. ”Mudah­mudahan
kau tidak sampai perlu tahu sebabnya.”
Rusty membalas tatapan Cooper. baru saat ini ia
menyadari bahwa ia tidak senang ditinggalkan sendiri.
Ia sudah berusaha tampil tegar, namun menempuh ja­
rak sekian kilometer di hutan belantara dengan mema­
kai tongkat penyangga rasanya sungguh berat. Di satu
pihak, ia senang Cooper memutuskan pergi tanpa diri­
nya. Tapi, setelah lelaki ini benar­benar akan pergi,
Rusty ingin memeluknya dan menahannya agar tidak
pergi saja.
Tapi tentu saja itu tidak dilakukannya. Sejauh ini
pun Cooper tidak terlalu menaruh respek padanya. Di
mata lelaki itu ia hanyalah seorang gadis kota yang kaya
dan manja. Memang benar juga, sebab saat ini Rusty
sangat takut membayangkan jam­jam mesti dilaluinya
sendirian, sampai Cooper kembali.
Cooper bisa membaca pikirannya. Lelaki itu mem­
buang muka dan menyumpah tak sabar.
”Cooper!”
Ia membalikkan tubuh kembali. ”Apa?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Ha...hati­hati.”
Sekonyong­konyong Rusty sudah berada dalam pe­
lukannya dan mulut lelaki itu melumat bibirnya, mem­
berikan ciuman membara yang membakar relung­relung
jiwa Rusty. Rusty sangat terkejut, hingga tersandar le­
mas di dada Cooper. Lelaki itu mempererat pelukannya

110
dan menariknya begitu dekat, mengangkatnya hingga
kaki Rusty tergantung­gantung beberapa senti di atas
sepatu bot Cooper. Rusty berusaha mengatur kese­
imbangannya dengan mencengkeram bagian depan
mantel Cooper.
bibir lelaki itu masih terus melumat bibirnya. Keras
dan posesif. Namun lidahnya terasa lambat dan hangat,
memenuhi mulut Rusty, membelai dan menjelajahinya.
Gairah yang sudah 48 jam tertahan kini nyaris mendob­
rak kendali diri lelaki itu. Pertahanannya runtuh, tapi
ia masih tetap bisa menguasai gerakan bibirnya. Cium­
an ini sama sekali bukan ciuman manis yang romantis,
melainkan ciuman penuh gairah dan panas. Membakar.
Dan egois.
Dengan limbung Rusty mengalungkan lengannya di
leher lelaki itu dan menengadahkan kepala agar Cooper
bisa lebih leluasa. Kulitnya tergesek oleh janggut pendek
lelaki itu, tapi ia tak peduli. Kumis lelaki itu terasa sa­
ngat lembut menggelitik dan menggodanya.
Namun mendadak Cooper menghentikan ciuman­
nya, meninggalkan Rusty dengan bibir masih membuka,
menginginkan ciuman lebih lanjut. ”Aku akan kembali
secepatnya. Sampai nanti, Sayang.”
Sayang? Sayang?
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper melepaskan pelukannya dan berbalik ke arah


pintu. Pada saat itulah Rusty baru melihat Quinn
Gawrylow duduk di depan meja, sedang asyik mengu­
nyah tembakau sambil mengamati mereka dengan
tatapan tajam dan diam seekor macan kumbang.
Seketika Rusty merasa kecewa. Rupanya Cooper

111
sengaja menciumnya agar lelaki tua itu melihat, bukan
karena benar­benar ingin menciumnya.
Dengan sangat marah Rusty menatap punggung le­
laki itu ketika ia keluar. Pintu menutup di belakangnya.
Pergilah, pikir Rusty. beraninya dia—
Mendadak ia menyadari bahwa mata lelaki tua itu
masih terarah padanya. Maka ia pura­pura tersenyum
kecil, sebagaimana layaknya seorang istri yang suaminya
baru saja pergi. ”Menurut Anda dia akan baik­baik
saja?”
”Reuben tahu apa yang mesti dilakukan. Dia akan
menjaga Mr. Landry.” Quinn menunjuk ke arah kerang­
ka tidur yang masih tergeletak di depan perapian. ”Ma­
sih pagi sekali. Kenapa kau tidak tidur saja lagi?”
”Tidak, aku... eh....” Rusty berdeham dengan suara
keras. ”Aku terlalu tegang untuk tidur. Aku akan duduk
saja di sini sebentar.”
”Mau kopi?”
”Terima kasih.”
Sebenarnya ia tidak ingin minum kopi, tapi itu bisa
membantunya melewatkan waktu. Diletakkannya tong­
katnya, serta pistol isyarat itu, di depan perapian, masih
dalam jangkauan tangannya. Lalu ia duduk. Sarung
pisau di balik pakaiannya menusut perutnya. Kenapa
www.facebook.com/indonesiapustaka

mata pisau itu tidak menembus tubuhnya ketika


Cooper menariknya mendekat?
Hatinya berdebar­debar teringat peristiwa tersebut.
Tadi bukan hanya kerasnya pisau itu yang ia rasakan di
perut bagian bawahnya. Cooper mungkin senang sekali
bisa menghinanya dengan cara demikian.

112
Merasa kesal, Rusty dengan sengaja mencabut pisau
itu dari balik celananya dang meletakkannya di depan
perapian. Setelah menerima cangkir berisi kopi yang
panas mengepul dari Quinn, ia duduk menunggu ber­
lalunya hari paling panjang dalam hidupnya ini.

Cooper memperkirakan mereka baru berjalan sekitar


satu kilometer ketika Reuben mulai berceloteh. Sebe­
narnya Cooper sanggup menempuh jarak dua puluh
kilometer yang mesti mereka lalui tanpa berbicara sepa­
tah kata pun. Tapi dengan mengobrol mungkin waktu
jadi terasa lebih cepat berlalu dan ia bisa mengalihkan
pikirannya dari Rusty.
”Kenapa kau tidak punya anak?” tanya Reuben pada­
nya.
Insting Cooper langsung bekerja. Semua indranya
bergerak waspada. Kalau ada yang tidak beres, tengkuk­
nya selalu terasa nyeri, dan ini masih dirasakannya
hingga saat tersebut. Sejak mendengar Rusty menjerit
dan mendapati kedua Gawrylow itu sedanga berdiri di
hadapannya, Cooper sudah merasa curiga pada kedua
orang itu. Mungkin saja kecurigaannya tidak beralasan.
Siapa tahu mereka orang baik­baik. Tapi ia tidak mau
www.facebook.com/indonesiapustaka

mengambil risiko. Sebelum Rusty bisa diserahkannya


ke tangan yang berwajib dengan selamat, ia akan tetap
waspada terhadap kedua pertapa ini. Kalau mereka bisa
dipercaya, maka selamanya ia akan sangat berterima
kasih pada mereka. Tapi sebelumnya—
”Hei!” desak Reuben. ”Kenapa kau—”

113
”Aku mendengarmu.” Cooper berjalan di belakang
Reuben. Ia tidak ingin berjalan terlalu jauh atau terlalu
dekat dengan orang itu. ”Rusty mempunyai karier.
Kami berdua orang sibuk. Tapi nanti kami akan punya
anak juga.”
Ia berharap jawaban itu bisa membungkam Reuben.
Cooper selalu menghindari berbicara tentang keluarga
dan anak. Dan saat ini ia tak ingin bicara sedikit pun.
Ia ingin menumpahkan semua energinya untuk mene­
mukan sungai itu secepat mungkin.
”Kalau aku sudah lima tahu kawin dengannya, saat
ini pasti kami sudah punya lima anak,” Reuben mem­
bual seenaknya.
”Tapi kau bukan suaminya.”
”Mungkin kau tidak mahir melakukannya.”
”Apa?”
Reuben menoleh dan mengedipkan mata dengan li­
cik. ”Kau tahu kan? begituan.”
Ucapan itu membuat Cooper merinding jijik. Ia bu­
kannya tersinggung. Ia sendiri sering menggunakan is­
tilah yang lebih kasar setiap harinya. Hanya saja ia tidak
senang ucapan semacam itu dikaitkan dengan Rusty.
Sama sekali tidak teringat olehnya bahwa semalam ia
sendiri mengucapkan kata yang sama. Saat ini ia hanya
www.facebook.com/indonesiapustaka

berharap tidak perlu sampai menghajar Reuben. Tapi


kalau orang itu mengucapkan hal semacam itu lagi ten­
tang Rusty, apa boleh buat.
”Kalau dia itu istriku—”
”Tapi dia bukan istrimu.” Suara Cooper terdengar
tajam bagai lecutan cambuk.

114
”Lihat saja nanti!”
Sambil berkata demikian, Reuben berbalik dengan
menyeringai seperti orang sinting, dan menodongkan
senapannya pada dada Cooper. Sepanjang pagi ini
Cooper sudah bersiap­siap menghadapi hal semacam
itu. Ia langsung mengangkat senapannya pula, tapi
Reuben lebih dulu menembak.

”Suara apa itu?” Rusty terlompat. Rupanya tadi ia ter­


kantuk­kantuk di kursinya.
Quinn masih tetap duduk di depan meja, seperti
tadi. ”Hmm?”
”Rasanya aku mendengar sesuatu.”
”Aku tidak dengar apa­apa.”
”Sungguh—”
”Suara kayu api berderak di perapian. Itu saja.”
”Oh.” Kesal dengan kegugupannya, Rusty kembali
duduk tenang di kursi. ”Aku pasti tertidur tadi. Sudah
berapa lama mereka pergi?”
”belum lama.”
Quinn bangkit dan berjalan ke arah Rusty, lalu berlu­
tut di depan perapian untuk menambahkan kayu api.
Kehangatan yang menyebar itu meresap ke kulit Rusty
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan matanya mulai terpejam kembali. Meski reyot dan


kotor, setidaknya pondok ini memberikan tempat ber­
teduh dan perlindungan untuknya dari angin barat yang
dingin. Ia merasa bersyukur karenanya. Setelah berhari­
hari—
Mata Rusty langsung terbuka begitu merasakan sen­

115
tuhan lelaki tua itu. Quinn masih berlutut di hadapan­
nya, tangannya melingkari mata kaki Rusty. ”Kupikir
mungkin kau ingin menyangga kakimu lagi,” katanya.
Suaranya sangat lembut, tapi matanya yang menatap
dari rongga cekung itu seperti mata setan. Rasa takut
merambati diri Rusty, tapi akal sehat menyuruhnya
untuk tidak memperlihatkan rasa takut itu.
”Tidak, terima kasih,” sahutnya pelan. ”Kurasa seba­
iknya aku jalan­jalan sedikit untuk melatih kakiku.”
Ia hendak mengambil tongkat, tapi Quinn lebih dulu
menyambarnya. ”Mari kubantu.”
Sebelum Rusty sempat memprotes, lelaki tua itu
sudah mencengkeram lengannya dan menariknya bang­
kit dari kursi. Rusty kehilangan keseimbangan dan tu­
buhnya terdorong membentur tubuh Quinn. Ia mundur
seketika, tapi tidak bisa bergerak terlalu jauh, karena
pinggangnya dicengkeram oleh Quinn dan didorong ke
depan.
”Tidak!”
”Aku cuma ingin membantu,” kata Quinn dengan
tenang; ia jelas­jelas menikmati ketakutan Rusty.
”Kalau begitu, lepaskan aku, Mr. Gawrylow. Aku
bisa berdiri sendiri.”
”Tak mungkin tanpa bantuanku. Aku akan menggan­
www.facebook.com/indonesiapustaka

tikan suamimu. Dia menyuruhku menjagamu, bukan?”


Ia menyapukan tangannya di pinggul Rusty. Tubuh
Rusty menjadi dingin oleh rasa ngeri.
”Jangan menyentuhku seperti itu.” Rusty mencoba
meliuk menjauh, tapi tangan lelaki tua itu seperti ada di
mana­mana. ”Jauhkan tanganmu!”

116
”Memangnya kenapa dengan tanganku?” Mendadak
ekspresi Quinn berubah jahat. ”Apa tanganku kurang
bersih di matamu?”
”Ya... maksudku... Cooper akan—”
”Cooper tidak akan berbuat apa­apa,” kata Quinn
dengan senyum jahat. ”Dan mulai saat ini aku akan
menyentuhmu sesukaku.”
Ia menyentakkan Rusty ke arahnya. Kali ini tujuan­
nya sudah jelas. Rusty mengumpulkan seluruh kekuat­
annya untuk melepaskan diri. Ia menekankan bagian
bawah tangannya ke bahu Quinn dan melengkungkan
punggung, berusaha mendorong tubuhnya menjauh,
sekaligus menghindari ciuman lelaki tua itu.
Tongkat penyangganya terlepas dan jatuh ke tanah.
Ia mesti menopang tubuhnya dengan kakinya yang sa­
kit. bekas lukanya terasa sangat nyeri, dan ia menjerit.
”Silakan berteriak. Aku tidak keberatan.” Napas le­
laki itu terasa panas dan busuk di wajahnya. Rusty
membuang muka, tapi Quinn memegangi rahangnya
dengan kuat dan memutarnya kembali. Tepat sebelum
mulut lelaki itu menyentuhnya, terdengar suara lang­
kah­langkah berat di luar.
”Tolong!” jerit Rusty.
”Reuben?” teriak lelaki itua itu. ”Cepat kemari!”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Quinn menoleh ke arah pintu, tapi ternyata yang


menyerbu masuk bukanlah Reuben, melainkan Cooper.
Wajahnya yang berkeringat menampakkan ekspresi
benci dan amarah yang amat sangat. Rambutnya kotor
oleh ranting­ranting dan dedaunan. Di pipi dan tangan­
nya tampak bekas­bekas goresan berdarah. Kemejanya

117
juga bernoda darah. belum pernah Rusty merasa sese­
nang ini melihat Cooper.
Dengan kaki terpentang Cooper membentak, ”Lepas­
kan dia, binatang busuk!”
Rusty tersungkur ke tanah ketika Quinn melepas­
kannya. Lelaki tua itu memutar tubuh sambil meraih ke
balik punggungnya. Sebelum Rusty menyadari sepenuh­
nya apa yang terjadi, terdengar suara bUK keras. Lalu
ia melihat gagang pisau Cooper menonjol dari tengah
dada Quinn. Mata pisaunya tertancap dalam di antara
tulang rusuk lelaki tua itu.
Wajah Quinn menampakkan ekspresi terkejut. Ia
meraba­raba ke arah gagang pisau itu, lalu jemarinya
mengatup memeganginya, sementara ia jatuh berlutut.
Kemudian ia tertelungkup ke tanah dan tidak bergerak­
gerak lagi.
Rusty duduk meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri.
Ditutupinya mulutnya dengan dua tangan, sambil
mengamati sosok yang diam itu dengan mata terbelalak.
Napasnya tersumbat di paru­paru.
Cooper menerjang semua perabot yang menghalangi­
nya dan bergegas menghampiri Rusty. ”Kau baik­baik
saja?” Ia meletakkan tangannya di bahu Rusty. Rusty
mengerut ketakutan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper membeku, matanya jadi sekeras batu ketika


ia berkata, ”Tak perlu berterima kasih padaku.”
Perlahan­lahan Rusty menurunkan tangannya dan
menarik napas. Ia menengadah memandang Cooper,
bibirnya pucat ketakutan. ”Kau membunuhnya.” Kata­
kata itu keluar tanpa suara.

118
”Karena dia ingin membunuhku, bodoh. Lihat!”
Cooper menunjuk ke arah punggung lelaki yang sudah
mati itu. Ada sepucuk pistol kecil diselipkan di bela­
kang celananya. ”Apa kau belum mengerti juga?” bentak
Cooper. ”Mereka ingin membunuhku dan menjadikan­
mu piala bergilir.”
Rusty merinding jijik. ”Tidak!”
”Oh, yeah,” kata Cooper sambil mengangguk. De­
ngan kesal ia berdiri dan menggulingkan mayat Quinn.
Rusty memalingkan kepala dan memejamkan mata ra­
pat­rapat. Terdengar olehnya suara tubuh diseret di
lantai, ke luar pintu. Sepatu bot Quinn menimbulkan
bunyi berdentum­dentum ketika Cooper menariknya
menuruni undakan.
Rusty tidak tahu berapa lama ia meringkuk dengan
posisi demikian di lantai, tapi ia masih belum bergerak
ketika Cooper kembali. Lelaki itu berdiri menjulang di
hadapannya. ”Apa dia menyakitimu?”
Dengan sedih Rusty menggeleng.
”Jawab, sialan! Apa dia menyakitimu?”
Rusty mengangkat kepala dan memelototinya. ”Ti-
dak!”
”Dia bermaksud memerkosamu. Kau sadar akan hal
itu, bukan? Atau matamu masih tetap tertutup asap?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Air mata memenuhi mata Rusty. baru sekarang ia


bisa memberikan reaksi. ”Kenapa kau ada di sini? Apa
yang kaulakukan? Di mana Reuben? Apa yang akan
kaukatakan padanya kalau dia kembali nanti?”
”Reuben tidak akan kembali.”
Rusty menggigit bibir bawahnya dan mengatupkan

119
matanya. Air matanya mengalir ke pipi. ”Kau mem­
bunuhnya juga, bukan? Darah di kemejamu itu adalah
darahnya?”
”Ya, memang!” desis Cooper sambil membungkuk di
atas Rusty. ”Aku terpaksa membunuhnya, untuk mem­
bela diri. Dia membawaku ke hutan sekadar untuk
memisahkan kita, lalu dia menodongkan pistol padaku
dengan maksud membunuhku dan menjadikanmu mi­
liknya.”
Rusty terbelalak tak percaya dan menggeleng­geleng,
hingga Cooper menjadi marah. ”Tidak usah pura­pura
terkejut! Kau sendiri yang sengaja membuat mereka
bergairah dengan ulahmu. Kau tahu itu!”
”Aku? Mana mungkin? Apa yang kulakukan?”
”Dengan menyikat rambutmu!”
”Menyikat—”
”Dengan menjadi dirimu! Dengan penampilanmu
itu!”
”Jangan membentak­bentak aku!” Rusty terisak. ”Aku
tidak melakukan apa­apa.”
”Kecuali membuatku terpaksa membunuh dua
orang!” teriak Cooper. ”Pikirkan itu sementara aku
mengubur mereka!”
Ia keluar dengan marah. Api di perapian mati dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

pondok itu menjadi dingin, tapi Rusty tidak peduli.

Rusty masih duduk menangis di lantai ketika Cooper


kembali. Ia merasa letih. Seluruh tubuhnya sakit karena
tidur di lantai, berjalan memakai tongkat, dan karena

120
dicengkeram oleh Quinn Gawrylow yang tadi mencoba
meraba­rabanya.
Ia ingin makan. Dengan senang hati ia rela menukar­
kan Maserati­nya dengan segelas susu. Pakaiannya su­
dah koyak­koyak karena tersangkut cabang­cabang pe­
pohonan atau dirobek­robek oleh lelaki barbar di
hadapannya ini. Mantel bulu yang sangat disayanginya
telah digunakan sebagai alas tandu.
Dan ia telah melihat begitu banyak orang tewas.
Mula­mula lima orang dalam kecelakaan pesawat,
lalu dua orang lain yang mati di tangan lelaki yang kini
duduk di sampingnya ini. Dengan kasar Cooper meng­
angkat kepala Rusty dengan menaruh jemarinya yang
kapalan di bawah dagu gadis itu.
”bangun!” perintahnya. ”Keringkan wajahmu. Tidak
ada gunanya menangis seperti anak kecil sepanjang hari.”
”Persetan denganmu!” bentak Rusty sambil menyen­
takkan dagunya dari pegangan lelaki itu.
Cooper sangat marah. bibirnya nyaris tidak bergerak
ketika ia berkata, ”Dengar, kalau kau senang bersama
Reuben dan ayahnya, mestinya kau memberitahu aku.
Maaf kalau aku merusak kesenanganmu.”
”Kau bangsat!”
”Dengan senang hati aku bersedia meninggalkanmu
www.facebook.com/indonesiapustaka

di surga ini dan pergi mencari sungai itu sendirian. Tapi


kupikir aku perlu memberitahumu bahwa Reuben
membayangkan punya anak banyak darimu. Tentu saja
kau tidak akan tahu pasti yang kaulahirkan itu anaknya
atau anak ayahnya.”
”Diam!” Rusty mengangkat tangan untuk menampar
Cooper.

121
Lelaki itu menangkap lengannya dan beberapa saat
mereka saling pandang dengan tegang. Akhirnya Cooper
melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan
Rusty. Sambil menggeram marah lelaki itu bangkit ber­
diri dan menendang sebuah kursi sekeras mungkin ke
seberang ruangan.
”Pilihannya hanya satu. Aku atau mereka,” katanya
dengan suara bergetar oleh amarah. ”Reuben lebih dulu
menembakku. Aku beruntung bisa menepiskan sena­
pannya pada waktunya. Aku tidak punya pilihan lain.”
”Kau tidak perlu membunuh mereka.”
”Tidak perlu?”
Rusty tidak bisa menawarkan alternatif lain, tapi ia
yakin kalau ia berpikir cukup lama, ia bisa memberikan
penyelesaiannya. Amarahnya surut sejenak dan ia me­
nunduk. ”Kenapa kau tidak berjalan terus?”
Mata Cooper menyipit menatap gadis itu. ”Jangan
kira kemungkinan itu tidak terpikir olehku.”
”Oh,” kata Rusty ketus. ”Aku tak sabar ingin cepat­
cepat lepas darimu.”
”Aku juga merasakan hal yang sama. Percayalah.
Tapi untuk sementara kita mesti saling toleransi. Per­
tama­tama, kita harus membersihkan tempat ini. Aku
tidak mau bermalam di kandang jorok ini.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rusty ternganga tak percaya. Perlahan­lahan mata­


nya menyapu bagian dalam pondok yang kotor itu.
”Membersihkan tempat itu? Itu katamu tadi?”
”Yeah. Sebaiknya kita mulai bekerja. Sudah semakin
siang.”
Cooper menegakkan kursi yang tadi ditendangnya dan

122
beranjak ke tumpukan selimut kotor tempat Reuben ti­
dur semalam. Rusty mulai tertawa geli bercampur histe­
ris.
”Kau tidak serius, bukan?”
”Lihat saja!”
”Kita bermalam di sini?”
”Ya, sampai ada yang datang menyelamatkan kita.”
Rusty bangkit berdiri dan bersandar pada tongkat­
nya, memperhatikan Cooper mengangkat kedua selimut
itu dan menumpuknya di tengah lantai. ”bagaimana
dengan sungai itu?”
”Mungkin itu cuma tipuan.”
”Tapi Sungai Mackenzie benar­benar ada, Cooper.”
”Tapi ke mana arahnya dari sini?”
”Kau bisa berjalan terus menurut arah yang mereka
katakan, sampai menemukannya.”
”Memang. Tapi bisa saja aku tersesat. Atau terluka
dan terkapar di tengah jalan. Kalau kau ikut denganku,
mungkin kita tidak akan bisa mencapai sungai itu sebe­
lum salju lebat turun. berarti kemungkinan kita akan
mati kedinginan. Kalau kau tetap di sini dan sesuatu
menimpaku, kau akan mati kelaparan sebelum musim
dingin berakhir. Aku bahkan tidak yakin arah yang di­
tunjukkan Reuben padaku adalah arah yang benar. Ada
www.facebook.com/indonesiapustaka

359 pilihan arah lain dari pondok ini, dan untuk meme­
riksa semuanya bisa makan waktu lebih dari setahun.”
Sambil berkacak pinggang lelaki itu menatap Rusty.
”Dari semua itu, tidak ada alternatif yang bagus menu­
rutku. Sebaliknya, kalau kita membersihkan pondok ini,
kita bisa bertahan. Memang tempat ini bukan Hotel

123
beverly Hills, tapi setidaknya bisa memberi perlindung­
an, dan di sini selalu ada persediaan air.”
Rusty tidak senang dengan kesinisan lelaki itu, dan
ia tidak menyembunyikannya. Lelaki itu meremehkan­
nya, seolah­olah ia tidak akan bisa memahami semua ini
kalau tidak diberi penjelasan. Dan Rusty merasa tertan­
tang dengan ucapannya. Ia memang cengeng tadi pagi,
tapi itu tidak akan terjadi lagi. Sambil menggulung le­
ngan sweternya ia berkata, ”Aku mesti berbuat apa?”
Cooper memberi isyarat ke belakang dengan kepala­
nya. ”Mulailah dengan tungku itu.”
Tanpa banyak bicara lagi Cooper mengangkat kasur­
kasur kotor tersebut dan membawanya ke luar.
Rusty menggosok tungku besi yang hitam itu dengan
mengerahkan seluruh tenaganya. Pekerjaan itu sangat
berat, apalagi ia mesti bertumpu pada satu tongkatnya.
Selesai dengan tungku itu, ia membersihkan wastafel,
lalu jendela, lalu semua perabot di sana.
Setelah merebus selimut­selimut itu dalam belanga
di luar dan menggantungnya supaya kering—atau mem­
beku, kalau temperatur semakin turun—Cooper masuk
dan menggosok batu­batu perapian. Ia menemukan
sebuah koloni serangga mati di tumpukan kayu. Jelas
mereka mati tua, sebab perapian itu nyata­nyata tak
www.facebook.com/indonesiapustaka

pernah di sapu. Dibukanya pintu dan jendela­jendela


untuk memasukkan udara segar, lalu ia menumpukkan
kayu api di sebelah selatan pondok, untuk mencegahnya
dari terpaan cuaca.
Rusty tidak bisa menyapu lantai, jadi Cooper yang
melakukannya. Kemudian tanpa segan­segan Rusty

124
bekerja keras menggosok lantai itu. Kuku­kukunya yang
terawat rapi pecah satu per satu. Kalau biasanya kuku
retak sedikit saja sudah membuatnya panik, kini ia
cuma angkat bahu dan terus menggosok, dan ia merasa
puas melihat hasil kerjanya.
Cooper membawa masuk dua ekor burung yang su­
dah tidak berkepala dan bulunya sudah dicabuti, untuk
makan malam mereka. Rusty sudah memeriksa perse­
diaan makanan kedua Gawrylow dan merasa senang
menemukan cukup banyak makanan kaleng. Rupanya
mereka sudah mengadakan perjalanan rutin mereka ke
Yellowknife untuk membeli persediaan makanan musim
dingin. Rusty tidak pandai memasak, tapi tidak sulit
merebus kedua ekor burung itu dan menambahinya
dengan dua kaleng sayuran serta sedikit garam. begitu
masakan tersebut matang, aromanya membangkitkan
selera. Sesudah hari gelap, barulah Cooper masuk mem­
bawa selimut­selimut tadi.
”Sudah tidak ada kutunya?” tanya Rusty sambil ber­
balik dari tungku.
”Kurasa begitulah. Aku merebusnya. Tampaknya
belum terlalu kering, tapi kalau dibiarkan lebih lama di
luar, pasti akan membeku. Kita periksa sesudah makan
malam. Kalau belum kering, kita gantung di depan
www.facebook.com/indonesiapustaka

perapian.”
Ia mencuci tangannya di wastafel yang sekarang su­
dah jauh lebih mengilap daripada sebelumnya.
Mereka duduk di depan meja yang sudah dibersih­
kan Rusty. Sambil tersenyum Cooper membuka lipatan
serbet yang dibuat Rusty dari kaus kaki, tapi tidak

125
berkomentar apa pun tentang kreativitas Rusty itu. Ia
juga tidak mengatakan apa­apa mengenai stoples berisi
daun­daun musim gugur yang diletakkan Rusty untuk
penghias di tengah meja. Ia makan dua porsi masakan
itu, tanpa komentar.
Rusty sangat kecewa. Kenapa lelaki ini tidak mau
mengucapkan sesuatu yang menyenangkan? Sedikit
pujian misalnya. bahkan anak anjing pun perlu ditepuk­
tepuk kepalanya sesekali.
Dengan muram ia membawa piring­piring kaleng
bekas makan itu ke wastafel. Ketika ia sedang memom­
pa air untuk membasahi cucian itu, Cooper melangkah
ke belakangnya. ”Kau bekerja keras hari ini.”
Suaranya lembut dan pelan dan datang tepat dari
atas kepala Rusty. Lelaki itu berdiri sangat dekat de­
ngannya, dan kedekatannya sangat menggetarkan. Ia
merasa tegang. ”Kau juga.”
”Kurasa kita layak mendapat hadiah. bagaimana?”
Perut Rusty turun­naik dengan ringannya, seperti
balon. Kenangan akan ciuman lelaki itu padanya tadi
pagi memenuhi benaknya, sementara urat­urat darah­
nya berteriak menghendaki kejadian itu terulang lagi.
Perlahan­lahan ia membalikkan tubuh dan menengadah
pada lelaki itu. Dengan napas tertahan ia bertanya,
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Apa yang kaumaksud, Cooper?”


”Mandi.”

126
6

”MANDI?” Rusty sangat heran mendengarnya, namun


juga penuh harap.
”Ya. benar­benar mandi. Dengan air panas dan sa­
bun.” Cooper pergi ke pintu, membukanya, dan masuk
kembali dengan mendorong sebuah bak cuci yang besar.
”Aku menemukan ini di belakang pondok. Sudah ku­
bersihkan.”
belum pernah Rusty merasa sesenang ini, tidak juga
bila dibandingkan dengan saat ia membuka hadiah dari
ayahnya, yang merupakan mantel panjang dari bulu
rubah merah. Dikatupkannya kedua tangannya di ba­
wah dagu. ”Oh, Cooper, terima kasih.”
”Tidak perlu segembira itu,” sahut Cooper ketus.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Kita bisa sejorok kedua Gawrylow itu kalau tidak


mandi. Tapi kita tidak bisa setiap hari mandi.”
Rusty tidak ingin kegembiraannya rusak karena sikap
ketus Cooper. Lelaki ini sukar didekati. Mengucapkan
terima kasih padanya pun sulit. biarlah, itu urusannya
sendiri. Tapi Cooper telah melakukan sesuatu yang

127
sangat berarti, dan Rusty telah mengucapkan terima kasih
padanya. Di luar itu, apa lagi yang bisa ia lakukan? Cooper
pasti tahu betapa berarti hal ini baginya, meski lelaki itu
bersikap ketus dan menjaga jarak.
Rusty mengisi beberapa panci dan ketel dengan air
pompa. Cooper membawa semua itu ke tungku, untuk
dipanaskan, sambil menambahkan kayu ke dalam api,
supaya nyalanya lebih besar. Kemudian ia menarik bak
tadi di lantai kayu dan meletakkannya tepat di depan
perapian. Logamnya dingin sekali, tapi sebentar saja api
sudah menghangatkannya.
Dengan penuh harap Rusty memperhatikan kesibuk­
an Cooper. Tapi kemudian ia teringat, ”bagaimana
dengan... eh...”
Tanpa ekspresi dan tanpa sepatah kata pun, Cooper
membentangkan salah satu seprai dari bahan muslin ka­
sar yang telah direbus dan diangin­anginkannya hari itu.
Langit­langit pondok tersebut dibentuk dari potongan­
potongan balok. Tampaknya kedua Gawrylow menggan­
tungkan persediaan daging mereka di situ, sebab ada be­
berapa kait logam dipasang di balok­balok tersebut.
Cooper berdiri di atas kursi dan mencantelkan salah
satu ujung kain di kait yang tajam itu. Dengan beberapa
kali memindahkan kursi, ia berhasil membuat semacam
www.facebook.com/indonesiapustaka

tirai pemisah dari seprai tersebut.


”Terima kasih,” kata Rusty. Ia senang ada tirai terse­
but, tapi ia juga melihat bahwa karena perapian terletak
di belakang tirai, cahaya api membuat bak tersebut ber­
bayang jelas. begitu pula orang yang ada di dalamnya.
Cooper pasti memperhatikan hal itu juga, sebab ia

128
memalingkan mata dari bak itu dan menyapukan ta­
ngannya dengan gugup di kaki celananya. ”Kurasa air­
mu sudah siap.”
Rusty mengumpulkan perlengkapan mandinya yang
berharga—sebatang sabun wangi, sebotol plastik kecil
sampo, dan pisau cukurnya. Ditaruhnya semua itu di
kursi di dekat bak.
Sebelumnya ia sudah memisahkan sedikit pakaian
mereka yang tersisa dan telah melipat serta menyusun
semuanya di rak yang berbeda. Setumpuk milik Cooper,
dan setumpuk lagi miliknya sendiri. Sekarang ia meng­
ambil sepasang legging yang masih baru dan sebuah tank
top dari tumpukan miliknya, lalu menyampirkannya di
punggung kursi.
Setelah semuanya siap, ia berdiri dengan canggung
sementara Cooper dengan hati­hati mengangkat panci­
panci berat berisi air panas ke seberang ruangan dan me­
nuangkannya ke dalam bak. Uap air panas mengepul­
ngepul, tapi Rusty tidak merasakannya. Sudah empat hari
ia tidak mandi. Tubuhnya terasa sangat kotor dan letih.
Apalagi di rumah biasanya ia selalu berendam air panas
selama beberapa menit setiap hari.
”Handuknya bagaimana?” tanyanya.
Cooper melemparkan sebuah handuk lusuh dan kasar
www.facebook.com/indonesiapustaka

dari tumpukan selimut tadi yang dibawanya masuk. ”Aku


menemukan beberapa handuk ini digantung di luar pon­
dok. Semuanya kurebus juga. Orang­orang itu tidak
pernah memakai bahan yang lebih halus rupanya, tapi
handuk­handuk ini lebih baik, daripada tidak ada sama
sekali.”

129
Handuk itu lebih mirip amplas daripada kain, tapi
Rusty menerimanya tanpa komentar.
”Nah, sudah siap,” kata Cooper sambil menuangkan
isi ketel terakhir ke dalam bak. ”Pelan­pelan masuknya,
jangan sampai kepanasan.”
”Oke.”
Keduanya berdiri berbarengan, dibatasi oleh bak
tersebut. Mata mereka bertemu di antara uap air yang
mengepul. Udara lembap itu sudah membuat rambut
Rusty mengikal dan kulitnya bersemu merah.
Cooper cepat­cepat membalikkan tubuh dan dengan
gerakan cepat menutup tirai. Rusty mendengar langkah­
langkah berat lelaki itu di lantai yang tidak rata. Cooper
pergi keluar dan membanting pintu.
Rusty mendesah pasrah. Orang itu sulit. Mau diapa­
kan lagi? Ia tidak mau kenikmatannya mandi terganggu
dengan berbagai pikiran tentang kekurangan­kekurangan
lelaki itu. Ia tak akan membiarkan Cooper merusak kese­
nangannya, betapapun menyebalkannya sikap lelaki itu.
Karena ia masih belum mau bertumpu pada kakinya
yang sakit, sungguh sulit baginya membuka pakaian.
Setelah berhasil membuka pakaian, lebih sulit lagi un­
tuk masuk pelan­pelan ke dalam bak. Tapi akhirnya ia
bisa melakukannya dengan bertumpu pada kedua le­
www.facebook.com/indonesiapustaka

ngannya sambil duduk perlahan­lahan dan menarik


kakinya yang sakit di belakang.
Ternyata rasanya lebih nikmat daripada yang ia ba­
yangkan. benar juga peringatan Cooper. Air itu panas,
tapi nikmat. bagian dasar bak yang kasar itu terasa aneh
di bokongnya. Ia mesti membiasakan diri merasakan­

130
nya. Tapi tak lama kemudian rasa tidak nyaman itu
sudah terlupakan, digantikan oleh rasa senang beren­
dam dalam air yang menenangkan.
Rusty membenamkan tubuhnya di air sedalam
mungkin dan menyandarkan kepalanya di tepi bak.
Matanya terpejam. Ia begitu nyaman, hingga tidak be­
reaksi ketika mendengar Cooper kembali ke pondok. Ia
hanya mengernyit sedikit ketika tubuhnya terkena em­
busan angin dingin sebelum Cooper menutup pintu.
Rusty mengulurkan tangannya yang basah dan meng­
ambil sabun di kursi. Ia ingin menyabuni tubuhnya
sepuas­puasnya, namun mengurungkannya. Sabun ini
mungkin mesti digunakan untuk waktu lama. Sebaiknya
dihemat. Maka ia hanya memakainya seperlunya.
Kemudian ia mencukur kakinya dengan menumpukan
tiap kaki di pinggir bak, satu per satu. Dengan hati­hati ia
mencukur bagian di dekat luka bekas jahitan Cooper.
Dengan sedih ia menyadari bahwa bekas luka ini akan
tampak sangat jelek. Tapi kemudian ia merasa malu pada
dirinya. Ia beruntung masih bisa hidup. begitu kembali
ke beverly Hills, ia akan segera minta seorang dokter be­
dah plastik menghilangkan bekas luka itu.
baru saat itulah ia menyadari bahwa Cooper terde­
ngar berisik. ”Cooper, kau sedang apa?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Membereskan tempat tidur,” sahut Cooper tere­


ngah­engah. ”Ranjang ini terbuat dari kayu ek. beratnya
bukan main.”
”Aku ingin cepat­cepat tidur di atasnya.”
”Jangan harap rasanya lebih nyaman daripada tidur
di tanah. Tidak ada kasurnya, hanya alas kanvas seper­

131
ti dipan. Tapi kasur pasti ada kutunya, jadi lebih baik
begini.”
Rusty meletakkan pisau cukur dan mengambil botol
samponya. Setelah menguraikan rambutnya ke depan,
ia memencet sedikit sampo. Sampo ini bahkan harus
lebih dihemat daripada sabunnya. Ia menggosokkan
sampo itu di rambutnya yang tebal, lalu menggosok
kulit kepalanya keras­keras, hingga ke ujung rambutnya.
Setelah itu dibilasnya sampo itu dengan air, lalu dipe­
rasnya sebanyak mungkin.
Sesudahnya ia kembali menyandarkan kepala dan
menggeraikan rambutnya agar cepat kering. Airnya
pasti menetes ke lantai, tapi tak apalah.
Kembali ia memejamkan mata sambil menikmati
kehangatan air, harum sabun dan sampo, dan perasaan
nikmat karena tubuhnya telah bersih kembali.
Lambat laun air mandi itu mulai dingin. Sudah waktu­
nya keluar dari bak. Apalagi ia yakin Cooper tak akan
pergi tidur sebelum ia selesai mandi. Lelaki itu pasti sa­
ngat lelah mengerjakan ini­itu sejak subuh. Rusty tidak
tahu pukul berapa sekarang. Arloji mereka sama­sama
mati dalam kecelakaan pesawat. Mereka mengira­ngira
waktu hanya berdasarkan matahari terbit dan terbenam.
Siang hari berlangsung lebih singkat, tapi hari ini terasa
www.facebook.com/indonesiapustaka

lebih panjang, secara isik maupun mental.


Rusty bertumpu pada tepi­tepi bak dan berusaha
mengangkat tubuhnya. Tapi lengannya mendadak lemas
seperti mi basah. Ia terlalu lama berendam air panas,
hingga otot­ototnya melemas. beberapa kali ia mencoba,
namun sia­sia. Lengannya tidak bisa digunakan untuk

132
menopang tubuhnya. Ia berusaha mencari cara lain, tapi
tidak ada yang berhasil, apalagi karena kakinya yang
luka tidak bisa digunakan untuk bertumpu.
Karena kedinginan dan tahu bahwa hal ini tak bisa
ditunda lagi, akhirnya dengan malu­malu ia memanggil
Cooper.
”Ada apa?”
Respons yang ketus itu membuatnya takut, tapi tak
ada pilihan lain. ”Aku tidak bisa keluar.”
Setelah hening agak lama, Cooper berkata, ”Apa?”
Rusty memejamkan matanya rapat­rapat dan meng­
ulangi, ”Aku tidak bisa keluar dari bak.”
”Keluar saja dengan cara yang sama seperti saat ma­
suk.”
”Aku lemas karena air panas ini. Lenganku tidak
kuat menopang tubuhku untuk keluar.”
Lelaki itu menyumpah­nyumpah dengan berang. Ke­
tika mendengar langkah kakinya semakin mendekat,
Rusty menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
Udara dingin mengembus punggungnya yang basah dan
telanjang ketika Cooper menyibakkan tirai. Rusty me­
mandangi perapian lekat­lekat. Ia bisa merasakan mata
lelaki itu memandanginya sementara ia menghampiri bak.
Lama Cooper hanya berdiri di tempatnya, tanpa
www.facebook.com/indonesiapustaka

mengatakan apa­apa. Paru­paru Rusty serasa akan me­


ledak karena tegang ketika akhirnya lelaki itu berkata,
”Aku akan memegang bawah lenganmu. Angkat kaki
kirimu dan pijakkan di lantai. Oke?”
Suara lelaki itu berat dan kasar seperti amplas.
”Oke.” Rusty menjauhkan kedua lengannya sedikit dari

133
tubuhnya. Meski sudah bersiap­siap, sentuhan jemari
lelaki itu di kulitnya yang basah dan licin terasa menge­
jutkan juga. buka karena rasanya tidak menyenangkan,
tapi justru sebaliknya.
Dan selanjutnya bahkan semakin menyenangkan.
Dengan kaki terentang, Cooper mencengkeram bagian
bawah lengan Rusty. Mendadak Rusty memekik kecil.
”Ada apa?”
”Le...lenganku sakit,” sahut Rusty terbata­bata. ”Ka­
rena memakai tongkat itu.” Cooper menyumpah­nyum­
pah lagi dengan ucapan sangat kasar, sampai­sampai
Rusty berharap ia salah dengar.
Cooper melingkarkan lengannya ke dekat tulang
rusuk Rusty. ”Kita coba dengan cara ini. Siap?”
Sesuai dengan instruksi lelaki itu, Rusty menopang
berat tubuhnya dengan kaki kiri, sementara kaki yang
luka dibiarkan tergantung­gantung ketika Cooper me­
nariknya keluar dari air.
”Sampai sini baik­baik saja?” Rusty mengangguk.
”Siap?” Rusty mengangguk lagi. Cooper menariknya
sekuat tenaga, sementara Rusty mengangkat kaki kiri­
nya keluar dari bak dan menjejakkannya di lantai.
”Oh!”
”Ada apa lagi?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper hampir melepaskannya ketika Rusty berseru


tadi. Tubuh Rusty terdorong ke depan sedikit. Dengan
kecepatan kilat, lengan Cooper sudah memeluknya te­
pat di bawah payudara.
”Lantainya dingin.”
”Ya Tuhan, jangan membuatku kaget begitu.”

134
”Maaf, aku sendiri kaget.”
Keduanya sama­sama berpikir, ”Aku juga begitu.”
Rusty meraba­raba mencari punggung kursi untuk
berpegangan. Lekas­lekas ditutupinya bagian depan tu­
buhnya dengan handuk. Tapi Cooper masih bisa melihat
bagian belakang tubuhnya yang telanjang. Mudah­
mudahan lelaki itu cukup tahu diri untuk tidak meman­
dangi.
”baik­baik saja?”
”Ya.”
Tangan Cooper berpindah dari depan ke samping tu­
buh Rusty, namun tidak segera melepaskannya. ”Yakin?”
”Ya,” sahut Rusty serak. ”Yakin.”
Cooper melepaskan pegangannya. Rusty mendesah
lega. Tapi kelegaannya terlalu dini rupanya.
”bekas apa ini?” Ia terkesiap ketika tangan Cooper
memegangi sisi pinggulnya. Ibu jari lelaki itu menyapu
bagian bokongnya dengan satu telusuran panjang dan
pelan. Lalu bagian pinggulnya pun diperlakukan demi­
kian. ”Apa yang terjadi denganmu? Katamu bedebah
tua itu tidak mengapa­apakanmu.”
”Aku tidak mengerti maksudmu.” Dengan napas
tertahan dan kepala pening Rusty menoleh dan mena­
tap lelaki itu dari balik bahunya. Cooper sedang me­
www.facebook.com/indonesiapustaka

ngernyit, kumisnya melengkung turun dengan ekspresi


tak senang.
”Kau lebam­lebam.”
Rusty melongok ke bagian pinggulnya. Yang pertama
terlintas dalam pikirannya adalah betapa menggairahkan
melihat tangan Cooper yang berkulit gelap di tubuhnya

135
sendiri yang pucat. Ketika Cooper menelusuri pinggul­
nya lagi dengan ibu jari, barulah Rusty melihat lebam­
lebam itu.
”Oh, itu? Itu karena aku berbaring di tandu waktu
itu.”
Mata lelaki itu berpindah cepat ke matanya, menem­
bus tajam dengan sorot membara. Ia tidak menarik ta­
ngannya dari tubuh Rusty. Suaranya begitu lembut
ketika ia berkata, ”Mestinya kau memberitahu aku.”
Rusty terpesona oleh gerakan kumis lelaki itu ketika
mulutnya bergerak­gerak saat berbicara. Mungkin itu
sebabnya Rusty menjawab dengan berbisik, ”Apa ada
bedanya kalau aku memberitahumu?”
Sehelai rambutnya tersangkut di janggut pendek lelaki
itu, menyatu seperti seberkas cahaya. Keduanya masih
bertatapan lekat, dan mata mereka baru teralihkan ketika
sepotong kayu di perapian bergerak dengan suara keras.
Keduanya terlonjak dengan perasaan bersalah.
Cooper kembali memasang wajah cemberut dan be­
ringas. ”Tidak, tidak akan ada bedanya.”
Tak lama kemudian giliran lelaki itu mandi di balik
tirai seprai. Rusty gemetar. Karena hawa dingin, pikir­
nya. Ia sudah cukup lama berdiri di situ. Dililitnya tu­
buhnya dengan handuk agar cepat kering. Kain handuk
www.facebook.com/indonesiapustaka

itu begitu kasar, hingga kulitnya terasa perih, terutama


puncak payudaranya. Ketika ia selesai mengeringkan
tubuh, puncak payudaranya tampak tegang dan merah
muda. Sakit. berdenyut­denyut. Dan panas.
”Itu gara­gara handuk ini,” gumamnya sambil menge­
nakan legging sutranya.

136
”Ada apa lagi sekarang?” Cooper bertanya dengan
galak dari balik tirai.
”Apa?”
”Aku mendengar kau mengatakan sesuatu.”
”Kataku handuk ini cocok untuk dijadikan amplas.”
”Cuma itu yang kutemukan.”
”Aku tidak bermaksud memprotes.”
”baru kali ini kau tidak protes.”
Rusty menggerutu pelan dengan hati­hati, supaya
Cooper tidak mendengarnya. Lelaki itu pasti tersing­
gung kalau tahu apa yang diucapkannya.
Dengan kesal ia mengenakan tank top­nya. Puncak
payudaranya tercetak jelas di balik bahan yang menem­
pel ketat itu. Kelembutan bahan itu mestinya menye­
nangkan setelah tadi memakai handuk kasar, tapi nya­
tanya puncak payudaranya malah jadi terasa lebih perih.
Setelah mengemasi perlengkapan mandinya, ia duduk
di kursi dan menguraikan rambutnya ke depan, lalu
menggosoknya keras­keras dengan handuk, sambil sese­
kali menyikatnya. Lima menit kemudian ia menegakkan
kepalanya kembali dan rambutnya yang sudah setengah
kering tergerai di bahunya dalam gelombang kemerahan.
Rambut itu memang acak­acakan, tapi setidaknya bersih.
Ini saja sudah memberikan perbedaan besar.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Ketika sedang memasukkan sikat rambutnya ke da­


lam tas kosmetik, barulah ia melihat keadaan kuku­
kukunya. Semuanya patah atau retak. Rusty mengeluh
keras.
Dalam sekejap tirai disibakkan dan Cooper berdiri di
hadapannya. ”Ada apa? Kakimu sakit lagi? Apa—”

137
Kalimatnya terhenti ketika dilihatnya Rusty tidak
apa­apa. Tapi mungkin yang membuatnya terpukau
adalah pemandangan wanita di hadapannya. Rusty du­
duk berlatar belakang api yang keemasan, rambut me­
rahnya yang bergelombang mengelilingi kepalanya ba­
gaikan sinar aura. Gadis itu mengenakan tank top yang
lebih tampak mengundang daripada menutupi tubuh.
Puncak payudaranya yang membayang di balik pakaian
itu bagaikan magnet yang menahan mata Cooper untuk
tetap terarah ke sana. bahkan saat ini pun Cooper ma­
sih bisa merasakan beratnya payudara gadis itu ketika
menempel di lengannya tadi.
Darah Cooper menggelegak, deras dan panas, mem­
bangkitkan gairahnya hingga terasa membakar menya­
kitkan.
Karena tak bisa menyalurkan keinginannya, ia melam­
piaskan gairah itu dalam bentuk lain. Kemarahan. Wa­
jahnya gelap oleh marah. Alisnya yang tebal mengernyit
marah. Dalam cahaya api, alis itu lebih berwarna keemas­
an daripada cokelat. Karena tak dapat mewujudkan has­
ratnya untuk mencium Rusty, ia pun sengaja mengucap­
kan kata­kata kasar pada gadis itu.
”Kau meratapi kuku­kuku sialanmu itu?” teriaknya.
”Semuanya pecah­pecah dan rusak!” Rusty balas
www.facebook.com/indonesiapustaka

berteriak padanya.
”Lebih baik kuku­kukumu yang rusak daripada le­
hermu yang patah. Dasar tolol!”
”Jangan sebut aku tolol, Cooper! Aku tidak tolol.”
”Kau sama sekali tidak punya bayangan bahwa kedua
orang gunung itu berniat memerkosamu!”

138
bibir Rusty mengerut marah, tapi Cooper justru sema­
kin berang melihatnya, karena ia ingin sekali mengecup
bibir itu. Hasratnya yang tidak tersalurkan mendorong­
nya untuk mengucapkan kata­kata kasar yang menyakit­
kan. ”Kau sengaja berusaha memikat mereka, bukan? Kau
duduk di dekat perapian, padahal kau tahu efek cahaya
api itu terhadap mata dan kulitmu. Dan kau sengaja me­
nyikat rambutmu sampai rapi. Kau tahu, kan, pengaruh
tindakanmu itu terhadap laki­laki? Kedua orang itu jadi
terbakar oleh gairah.” Menyadari bahwa ucapan kasarnya
sebenarnya merupakan pengakuan atas apa yang dirasa­
kannya sendiri, lelaki itu berkata mengejek, ”Aku heran
semalam kau tidak langsung saja menawarkan dirimu
pada Reuben, si bodoh malang itu.”
Mata Rusty basah oleh air mata. Rupanya pandang­
an lelaki ini terhadap dirinya jauh lebih rendah daripa­
da yang diduganya. Dia bukan hanya menganggap aku
tidak berguna, pikir Rusty. Di matanya aku juga tidak
lebih dari pelacur.
”Aku tidak sengaja melakukan semua itu. Kau tahu
itu, apa pun yang kaukatakan.” Secara naluriah ia me­
nyilangkan lengan di depan dadanya, sebagai perlin­
dungan diri.
Sekonyong­konyong Cooper berlutut di hadapannya
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan menyentakkan kedua lengannya, lalu dengan cepat


mencabut pisau di pinggangnya. Rusty memekik keta­
kutan ketika lelaki itu mencengkeram tangan kirinya
erat­erat dan mengangkat pisau yang berkilat­kilat itu.
Dengan cekatan lelaki itu kemudian merapikan kuku­
kuku Rusty hingga rata dengan ujung­ujung jemarinya.

139
Setelah selesai, Rusty memandangi hasilnya dengan
terkejut.
”Jelek sekali.”
”Cuma aku yang melihatnya di sini, dan aku tidak
peduli. Kemarikan tangan satunya!”
Rusty menurut. Tak ada pilihan lain. Ia tak mungkin
menang melawan orang ini. Sekarang mata Cooper kem­
bali terarah kesal pada payudaranya. Namun, ketika lela­
ki itu mengangkat wajah di sela­sela kesibukannya mera­
pikan kuku­kuku Rusty, sepasang matanya tidak lagi
memancarkan sorot menyalahkan ataupun dingin oleh
rasa muak. Sepasang mata itu tampak hangat oleh minat
yang maskulin. begitu besar minat itu, hingga perut Rus­
ty terasa mulas dan jantungnya berdebar­debar.
Cooper berlama­lama merapikan kuku­kuku tangan
kanan Rusty, seolah tangan kanan itu lebih memerlukan
perawatan dan perhatian daripada tangan kirinya. Wa­
jahnya sejajar dengan dada Rusty. Meski lelaki itu baru
saja mengucapkan kata­kata kasar padanya, Rusty ingin
sekali menyelusupkan jemarinya di rambut panjang
Cooper.
Sambil mengamati bibir Cooper yang terkatup rapat,
Rusty teringat betapa lembut bibir lelaki itu ketika
menciumnya kemarin, betapa hangat... dan betapa nik­
www.facebook.com/indonesiapustaka

mat gelitikan kumisnya. Kalau bibir lelaki itu terasa


begitu menyenangkan menyentuh bibir atasnya, bagai­
mana rasanya bila bibir itu menyentuh bagian­bagian
tubuhnya yang lain? Lehernya? Telinganya? Puncak
payudaranya?
Selesai merapikan kuku Rusty, Cooper memasukkan

140
kembali pisaunya, tapi tidak melepaskan tangan gadis
itu. Ia tetap memeganginya, memandanginya, lalu me­
letakkannya di paha Rusty dan menahannya dengan
tangannya sendiri. Rusty merasa jantungnya seperti
akan meledak karena beban yang menekan dadanya.
Cooper masih tetap menunduk memandangi tangan­
nya yang menutupi tangan Rusty di paha atas gadis itu.
Dari tempat Rusty duduk, mata lelaki itu seperti terpe­
jam. bulu matanya tebal dan lentik. Seperti kumis dan
alisnya, ujung­ujung bulu mata itu juga berwarna ke­
emasan. Pada musim panas rambutnya pasti pirang
putih terkena cahaya matahari.
”Rusty.”
Cooper menyebutkan namanya. Suaranya agak ge­
metar. Ada nada protes yang menyiratkan emosi di
balik pengucapannya itu. Rusty tidak bergerak, namun
jantungnya berdebar begitu keras dan liar, hingga se­
akan menekan pakaiannya yang sebenarnya tidak terlalu
menutupi seluruh tubuhnya.
Cooper mengangkat tangannya dari tangan Rusty
dan meletakkannya di kedua tepi kursi, mengapit ping­
gul Rusty. Ia masih terus memandangi tangan Rusty
yang masih berada di paha gadis itu. Lelaki itu seolah
hendak menundukkan kepalanya dan dengan letih me­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nempelkan pipinya ke tangan tersebut, atau mengambil


tangan itu dan mengecupnya dengan halus, atau mung­
kin mencium jemari yang kukunya baru saja ia rapikan
itu.
Kalau itu yang ingin dilakukannya, Rusty tidak akan
menghentikannya. Ia yakin sekali akan hal itu. Tubuh­

141
nya hangat, lembap, dan siap. Apa pun yang terjadi, ia
siap menerimanya.
Ternyata harapannya sia­sia.
Sebab Cooper bangkit berdiri dengan cepat. ”Se­
baiknya kau tidur.”
Rusty tertegun melihat ekspresi wajah Cooper. Sua­
sana hati lelaki itu sudah berubah lagi dan keintiman
mereka tadi sudah lenyap. Ia ingin mendebat, namun
mengurungkannya. Apa yang bisa ia katakan? ”Cium
aku lagi, Cooper,” atau, ”Sentuh aku.” begitu? Lelaki itu
akan semakin memandang rendah padanya.
Merasa ditolak, Rusty mengumpulkan barang­barang­
nya, termasuk tumpukan pakaian kotor yang tadi diting­
galkannya di samping bak. Ia berjalan ke balik tirai. Ke­
dua tempat tidur sudah dialasi seprai dan selimut. Di kaki
masing­masing ranjang ada sehelai bulu binatang. Di ru­
mahnya sendiri Rusty biasa menggunakan seprai rancang­
an desainer dan bantal­bantal empuk, tapi semua itu ka­
lah menarik dari ranjang di hadapannya ini.
Disimpannya barang­barangnya, kemudian ia duduk
di tempat tidur. Sementara itu, Cooper sudah beberapa
kali bolak­balik mengangkut ember­ember berisi air
bekas mandi Rusty. Ketika sisa air di bak tinggal sedi­
kit, ia menyeret bak itu ke pintu, terus ke beranda, lalu
www.facebook.com/indonesiapustaka

memiringkannya untuk membuang sisa air di dalamnya.


Setelah itu ia membawa bak tersebut masuk kembali,
menaruhnya di belakang tirai, dan mulai mengisi panci­
panci dan ketel­ketel dengan air lagi.
”Kau juga mau mandi?”
”Ya. Keberatan?”

142
”Tidak.”
”Aku sudah banyak memotong kayu api dan pung­
gungku sakit. Selain itu, rasanya badanku mulai bau.”
”Aku tidak merasakan.”
Cooper menoleh dengan tajam, tapi ketika melihat
bahwa Rusty bicara jujur, ia tersenyum kecil. ”Kau pasti
akan merasakannya, apalagi sekarang kau sudah bersih.”
Ketel­ketel mulai mendidih. Cooper mengangkat dua
di antaranya dari tungku dan membawanya ke bak.
”Kau mau kupijat?” tanya Rusty dengan polos.
Langkah Cooper terhenti dengan mendadak, air panas
tumpah ke kakinya, dan ia menyumpah­nyumpah. ”Apa?”
”Kupijat.” Cooper memandanginya seperti orang
terpaku sehabis dihantam. ”Punggungmu.”
”Oh....” Mata Cooper menelusuri sosok Rusty. Tank
top yang dikenakan gadis itu tidak menutupi leher dan
bahunya yang hanya terlindung oleh geraian rambut
ikalnya yang merah kecokelatan. ”Tidak,” tolak Cooper
dengan ketus. ”Kau sudah kusuruh tidur. besok kita
semakin banyak pekerjaan.” Lalu dengan kasar ia kem­
bali menyibukkan diri dengan air­air itu.
Orang ini bukan cuma tidak bisa berbasa­basi. Me­
nerima kebaikan orang lain pun ia tak mau! biar saja!
Kenapa mesti dipikirkan?
www.facebook.com/indonesiapustaka

Dengan marah Rusty memasukkan kakinya ke balik


selimut yang dingin dan berbaring tanpa memejamkan
mata. Diawasinya Cooper duduk di tepi ranjangnya
sendiri sambil membuka tali sepatu botnya, sementara
menunggu lebih banyak air mendidih. Lelaki itu melem­
parkan kaos kakinya ke tumpukan pakaian kotor, lalu

143
mulai membuka kancing­kancing kemejanya. Hari ini ia
tidak mengenakan pakaian rangkap, karena tadi ia ba­
nyak bekerja keras di luar. Ditariknya bagian belakang
kemeja itu dari jeans­nya, lalu dilepaskannya dari tu­
buhnya.
Rusty melompat duduk di tempat tidurnya. ”Kau
kenapa?”
Cooper melemparkan kemejanya ke tumpukan pa­
kaian kotor. Ia tidak perlu bertanya, apa yang dimaksud
Rusty. Lebam itu tampak jelas dalam cahaya remang­
remang sekalipun.
”bahuku terkena laras senapan Ruben. Aku mesti
menangkisnya dengan cara demikian, supaya tanganku
bebas untuk mengambil senapanku sendiri.”
Rusty merasa ngeri melihat lebam seukuran kepalan
tangan di sisi luar tulang selangka lelaki itu. Warnanya
biru­hitam dan kelihatannya sangat menyakitkan. ”Sa­
kit, tidak, rasanya?”
”Sakit bukan main.”
”Kau sudah minum aspirin?”
”Tidak. Kita perlu menghematnya.”
”Tapi kalau kau merasa sangat kesakitan—”
”Kau sendiri tidak mau minum aspirin itu untuk le­
bam di bokongmu.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Pernyataan itu membuat Rusty terkesiap dan tak


sanggup menjawab. Tapi tidak lama. beberapa saat
kemudian ia berkata dengan keras kepala, ”Aku tetap
berpendapat kau perlu makan dua butir aspirin.”
”Aku ingin menghematnya. Siapa tahu kau nanti
kena demam lagi.”

144
”Oh, begitu? Jadi, kau tidak mau minum aspirin itu
karena sebelumnya aku yang menghabiskannya untuk
menurunkan demamku.”
”Aku tidak bilang kau yang menghabiskannya. Ku­
bilang... oh!” Lalu ia mengucapkan kata yang sangat
kasar, yang mestinya tidak diucapkan orang yang sopan.
”Tidurlah.”
Dengan hanya mengenakan celana jeans­nya, Cooper
beranjak ke tungku. Rupanya ia merasa air yang direbus­
nya sudah cukup panas, meski belum mendidih sepenuh­
nya. Dituangkannya semua air itu ke bak. Rusty sudah
berbaring di tempat tidurnya, sambil mengamati bayang­
an Cooper yang bergerak di balik tirai ketika lelaki itu
melepaskan celananya dan melangkah telanjang ke dalam
bak. Segala gerakannya tampak jelas, apalagi sosoknya,
sehingga tak ada lagi yang perlu dibayangkan.
Rusty mendengar Cooper menyumpah­nyumpah saat
masuk ke dalam air. bak itu rupanya terlalu kecil untuk
orang seukuran dirinya. Rusty merasa takkan bisa tidur
kalau lelaki itu menimbulkan suara sedemikian berisik
di sebelah sana. Lebih banyak air yang tumpah di lantai
daripada yang tersisa di dalam bak ketika akhirnya
Cooper berdiri untuk membilas sabun di tubuhnya.
Kerongkongan Rusty terasa kering mendadak saat
www.facebook.com/indonesiapustaka

memperhatikan bayangan lelaki itu membungkuk sam­


bil menciduk air berkali­kali untuk membersihkan sa­
bun di badannya. Setelah itu ia keluar dari bak dan
mengeringkan tubuh dengan tak acuh. Rambutnya ha­
nya satu kali disapu dengan handuk. Selebihnya disisir
dengan jari­jari tangannya. Terakhir ia melilitkan han­
duknya di pinggang.

145
Kemudian Cooper sibuk mengosongkan bak itu lagi.
bolak­balik ia membuang air bekas mandi itu di luar.
Setelah kosong, bak itu ditinggalkannya di beranda.
Rusty tahu Cooper menggigil kedinginan ketika kembali
ke perapian untuk menambahkan beberapa potong kayu
lagi. Dengan menggunakan kursi untuk tempat berpijak,
ia menurunkan tirai pembatas tadi. Dilipatnya tirai itu,
diletakkannya lentera di meja. Sebelum naik ke tempat
tidur, ia melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya.
Selama itu ia tak sekali pun menoleh ke arah Rusty.
Rusty merasa tersinggung karena lelaki itu sama sekali
tidak mengucapkan selamat malam. Tapi kalaupun di­
beri ucapan selamat malam, kemungkinan ia takkan
sanggup menjawab.
Mulutnya masih terasa kering.

Percuma mencoba menghitung domba agar mengantuk.


Membaca sajak juga tidak menolong, apalagi sajak­
sajak yang dihafalnya hanyalah pantun mesum.
Maka Cooper berbaring telentang, berbantalkan ke­
dua tangannya, memandangi langit­langit sambil berta­
nya­tanya kapan gairahnya yang bergolak akan surut,
sehingga ia bisa tidur. Ia sangat lelah. Otot­ototnya
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang terlalu tegang berteriak memprotes, minta diisti­


rahatkan, tapi gairah yang dirasakannya tak bisa dikom­
promikan lagi.
Ia ingin tidur, tapi tubuhnya ingin bereaksi. Waspa­
da, hidup, dan penuh semangat. Terlalu bersemangat.
Karena putus asa, ia memasukkan satu tangan ke
balik selimut. Mungkin... Tapi ditariknya kembali ta­

146
ngannya. Tidak. Aduh! Jangan lakukan! Percuma men­
coba menenangkan gairahnya. Masalahnya justru sema­
kin parah.
Dengan marah ia berbaring miring sambil mengerang
tanpa sadar, namun cepat­cepat ia menyamarkan erang­
annya menjadi suara batuk­batuk.
Apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada. Jadi, ia mesti
memutar otak.
Tapi... sial, ia sudah berjam­jam mencoba. Namun
pikirannya selalu kembali kepada Rusty.
bibir lembut itu.
Mulut yang halus dan penuh rasa ingin tahu, mere­
kah lapar kepadanya.
Cooper mengertakkan gigi, membayangkan bibir
Rusty yang menyentuh bibirnya. Aah, sungguh nikmat
rasanya, sampai­sampai ia tak ingin berhenti.
Mestinya ia tidak mencium gadis itu, meski alasan­
nya adalah untuk mengecoh Quinn, lelaki tua itu. Se­
benarnya siapa yang mengecoh siapa? tanyanya kesal
pada diri sendiri. Ia mencium Rusty karena ia memang
ingin melakukannya, meski ia tahu konsekuensinya. Ia
sudah menduga bahwa ia tidak akan puas dengan satu
ciuman itu, dan ternyata dugaannya benar.
Tapi lalu kenapa? Kenapa ia bersikap begitu keras pada
www.facebook.com/indonesiapustaka

dirinya sendiri? Ia merasa sangat tergiur oleh Rusty kare­


na hanya gadis itulah satu­satunya perempuan yang ada
di dekatnya. Yeah, itulah alasannya.
Mungkin. barangkali.
Tapi kenyataannya Rusty tetap seorang gadis yang
sangat cantik, dengan rambut sangat seksi, tubuh meng­
giurkan, payudara indah, dan pinggul yang bagus.

147
Stop! Jangan dipikirkan, atau kau tidak akan bisa
menahan diri lagi. Cooper mengingatkan dirinya dengan
keras.
baiklah, sudah cukup! Finis. No mas. Hentikan ber­
pikir seperti anak remaja yang sedang keranjingan seks.
Tidurlah.
Cooper memejamkan mata dan berusaha keras untuk
tetap dalam keadaan demikian, hingga semula ia mengi­
ra suara isakan pelan yang didengarnya dari tempat ti­
dur satunya hanyalah imajinasinya belaka. Tapi kemu­
dian Rusty melompat duduk dari balik selimutnya,
seperti boneka berpegas. Ini bukan sekadar imajinasi.
”Rusty?”
”Suara apa itu?”
Meski ruangan itu hanya diterangi cahaya api yang
mulai padam, Cooper bisa melihat mata gadis itu terbe­
lalak ketakutan. Ia mengira Rusty bermimpi buruk.
”berbaringlah lagi. Tidak ada apa­apa.”
Rusty bernapas terengah­engah sambil mencengke­
ram selimut di dadanya. ”Suara apa itu?”
Apa aku membuat suara? pikir Cooper. Apa aku me-
ngeran-erang keras tanpa sadar? ”Ada—”
baru saja ia hendak bertanya, lolongan panjang itu
terdengar lagi. Rusty menutupi kedua telinganya dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

membungkuk. ”Aku tidak tahan mendengarnya!” te­


riaknya.
Cooper menyibakkan selimut dan dalam sekejap
sudah berada di samping Rusty. ”Itu serigala, Rusty.
Mereka tidak sedekat kedengarannya. Mereka tidak
akan bisa menyakiti kita.”

148
Dengan lembut ditariknya selimut Rusty dan dido­
rongnya kembali gadis itu ke tempat tidur, hingga
Rusty kembali berbaring. Tapi wajah gadis itu masih
menampakkan ketakutan. Sepasang matanya nyalang
memandangi sekeliling pondok yang gelap itu, seolah­
olah pondok itu telah dimasuki setan­setan yang ber­
gentayangan di malam hari.
”Serigala?”
”Mereka mencium bau—”
”Mayat­mayat itu.”
”Ya,” sahut Cooper dengan menyesal.
”Oh, Tuhan.” Rusty menutupi wajahnya dengan dua
tangan.
”Sst. Sst. Mereka tidak akan bisa memakan mayat­
mayat itu. Aku sudah menutupi kuburannya dengan
batu. Mereka akan pergi nanti. Sudah. Tidurlah.”
Tadi Cooper terlalu asyik memikirkan masalahnya
sendiri, sehingga tidak mendengar lolongan kawanan
serigala yang ada di dalam hutan di sekeliling pondok.
Tapi ia melihat bahwa Rusty sungguh­sungguh keta­
kutan. Gadis itu mencengkeram tangan Cooper dan
menariknya ke bawah dagunya, seperti anak kecil me­
meluk boneka beruangnya untuk membantunya meng­
usir rasa takut akibat mimpi buruk yang dialaminya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Aku benci tempat ini,” bisik Rusty.


”Aku tahu.”
”Aku sudah berusaha untuk berani.”
”Kau sudah sangat berani.”
Rusty menggeleng dengan keras. ”Tidak. Aku penge­
cut. Ayahku tahu itu. Dialah yang mengusulkan agar
aku pulang lebih awal.”

149
”banyak orang tidak tahan melihat binatang dibu­
nuh.”
”Aku tadi menangis di depanmu. Kau sudah tahu
sejak awal bahwa aku tidak berguna. Aku sama sekali
tidak berbakat dalam hal satu ini, dan aku tidak ingin
mahir dalam hal ini.” Suara gadis itu bernada menan­
tang, sangat kontradiktif dengan wajahnya yang basah
oleh air mata. ”Kau menganggap aku orang yang sangat
menyebalkan.”
”Tidak, tidak begitu.”
”bohong.”
”Tidak, sungguh.”
”Lalu kenapa kau menuduh aku menggoda kedua
laki­laki itu?”
”Sebab aku sedang marah waktu itu.”
”Kenapa?”
Karena aku juga terpikat olehmu, padahal aku tidak
ingin terpikat, pikir Cooper. Tapi tentu saja ia tidak
mengatakan hal itu. Ia hanya bergumam, ”Sudahlah.”
”Aku ingin pulang. Di rumah segalanya aman, ha­
ngat, dan bersih.”
Cooper ingin mengatakan bahwa jalanan­jalanan Los
Angeles tidak selalu bisa dianggap aman, tapi ia tahu
bahwa sekarang bukan saat yang tepat untuk bercanda,
www.facebook.com/indonesiapustaka

meski bercanda secara halus sekalipun.


Cooper jarang memberikan pujian, tapi ia merasa
Rusty layak mendapatkannya. ”Kau sudah berhasil
mengatasi ini dengan sangat baik.”
Rusty mengangkat matanya yang basah dan menatap
Cooper. ”Tidak.”

150
”Jauh lebih baik daripada yang kuperkirakan.”
”Sungguh?” tanya Rusty penuh harap.
Suaranya yang pelan dan ekspresinya yang sangat
feminin membuat Cooper hampir­hampir tidak tahan.
”Sungguh. Sudah, jangan hiraukan lolongan serigala­
serigala itu. Tidurlah lagi.” Cooper menarik tangannya
dari genggaman Rusty dan berbalik. Tapi sebelum ia
beranjak ke tempat tidurnya sendiri, seekor serigala
melolong lagi. Rusty menjerit dan kembali meraih Coo­
per, lalu menjatuhkan diri ke pelukan lelaki itu.
”Aku tidak peduli kauanggap pengecut. Peluk aku,
Cooper. Kumohon, peluklah aku.”
Secara otomatis Cooper memeluk gadis itu. Rasa tak
berdaya menyelimuti dirinya. Sungguh bodoh ia meme­
luk Rusty untuk alasan apa pun, tapi kejam sekali kalau
ia tidak memedulikan ketakutan gadis itu. Maka, de­
ngan perasaan tersiksa, sekaligus bahagia, ia menarik
Rusty lebih dekat dan mengecup rambut gadis itu.
Dengan tulus Cooper mengatakan bahwa ia menyesal
Rusty mesti mengalami semua ini. Ia berharap mereka
cepat mendapat pertolongan. Ia ingin Rusty bisa pulang
dengan selamat, dan ia memahami rasa takut Rusty.
Kalau ada yang bisa ia lakukan untuk mengeluarkan
mereka dari kesulitan ini, ia akan melakukannya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Kau sudah berusaha sejauh kemampuanmu. Aku


cuma minta kau memelukku lebih lama,” pinta Rusty.
”baiklah.”
Cooper memeluknya, namun tidak berani mengge­
rakkan tangannya. Ia tidak percaya dirinya cukup puas
hanya mengelus punggung gadis itu, sebab kenyataan­

151
nya ia ingin menyentuh seluruh tubuh Rusty. Gairah­
nya membuatnya menggigil.
”Kau gemetar.” Rusty menyapukan tangannya di le­
ngan atas Cooper yang merinding.
”Aku tidak apa­apa.”
”Masuklah ke bawah selimut.”
”Tidak.”
”Jangan bodoh. Kau bisa masuk angin. Memang ke­
napa? Kita sudah tidur bersama selama tiga malam
belakangan ini. Ayolah.” Rusty menyibakkan selimut­
nya.
”Aku... eh... aku mau kembali ke tempat tidurku
saja.”
”Katamu kau akan memelukku. Tolonglah. Sampai
aku tertidur saja.”
”Tapi aku—”
”Aku mohon, Cooper.”
Cooper menyumpah­nyumpah, tapi lalu memenuhi
permintaan gadis itu. Rusty merapat ke tubuhnya, men­
dekatkan wajah di dada Cooper. Tubuhnya begitu lentur
menempel di tubuh Cooper. Lelaki itu mengertakkan gigi.
Setelah beberapa saat, Rusty menjauhkan diri. ”Oh!”
serunya pelan. ”Aku lupa bahwa kau—”
”Telanjang. Memang. Tapi sekarang sudah terlam­
www.facebook.com/indonesiapustaka

bat, Sayang.”

152
7

GAIRAH maskulin kini menguasainya. bibirnya ber­


gerak perlahan di atas bibir gadis itu dalam satu ciuman
panjang dan lama, sementara tubuh mereka berdekapan
erat.
Semula Rusty sangat terperanjat. Ketelanjangan lela­
ki itu merupakan kejutan yang luar biasa. Namun sebe­
lum ia pulih dari kekagetannya, lelaki itu telah membu­
ainya dalam ciumannya yang membara.
Reaksi selanjutnya adalah kerinduan yang muncul
dengan mendadak. Perasaan itu muncul dari dadanya,
mengiri relung­relung hati dan pikirannya, hingga ia
seakan buta terhadap segala sesuatu di sekitarnya, ke­
cuali pada lelaki yang sedang menciuminya dengan be­
www.facebook.com/indonesiapustaka

gitu berpengalaman ini. Lengan Rusty melingkari leher­


nya, menariknya lebih dekat, dan secara releks ia juga
melengkungkan tubuhnya terhadap tubuh lelaki itu.
Lelaki itu mengerang dan membenamkan wajahnya
di leher Rusty.
”Apa yang kauinginkan, Cooper?”

153
Cooper tertawa serak. ”Sudah jelas apa yang kuingin­
kan, bukan?”
”Aku tahu, tapi kau ingin aku bagaimana?”
”Sentuh aku sepenuhnya, atau jangan sentuh aku
sama sekali.” Napas lelaki itu menerpa wajah Rusty
dalam embusan­embusan panas dan cepat. ”Apa pun
keputusanmu, putuskan sekarang juga.”
Rusty ragu­ragu, tapi hanya sejenak. Diselusupkannya
jemarinya di rambut lelaki itu, sementara tangan satunya
membelai rambut halus di dada Cooper dan memijat­
mijat otot­otot yang membuatnya terpesona itu.
bibir mereka bertemu lagi dalam satu ciuman panas.
Cooper menyusupkan lidahnya di bibir bawah Rusty,
lalu mengecup bibir itu dengan hangat. Rusty mende­
sah. Cooper menganggap ini sebagai undangan, dan
ciumannya berpindah ke leher dan dada gadis itu. Ia
bukan jenis lelaki yang akan meminta izin lebih dulu.
Dengan berani tangannya menyentuh payudara Rusty
dan membelainya.
”Aku nyaris sinting karena menginginkanmu,” kata­
nya serak. ”Rasanya aku bisa gila sebelum sempat me­
nyentuhmu, merasakanmu.”
Dikecupnya lekukan payudara Rusty dengan penuh
gairah dan digelitiknya dengan lidahnya, sementara ta­
www.facebook.com/indonesiapustaka

ngannya mempermainkan ujung payudara itu.


”Hentikan, Cooper,” kata Rusty terengah. ”Aku tidak
bisa bernapas.”
”Aku tidak ingin kau bernapas.”
Cooper menunduk, dan dari luar tank top yang dike­
nakan Rusty ia menjentikkan lidahnya di puncak payu­

154
dara Rusty. Rusty menekankan tumitnya ke tempat ti­
dur di bawahnya dan melengkungkan punggungnya.
Tapi respons itu tidak memuaskan Cooper.
”Katakan kau menginginkanku,” katanya dengan
suara pelan dan gemetar.
”Ya, aku menginginkanmu. Ya. Ya.”
Didorong oleh gairah liar yang tidak terkendali, dan
tanpa memedulikan konsekuensinya, Rusty mendorong
lelaki itu, dan kini ia menjadi pihak yang lebih agresif.
bibirnya bergerak menelusuri leher Cooper, terus turun
ke dada dan perutnya. Setiap kali mulutnya menyentuh
bulu dada lelaki itu, ia membisikkan nama Cooper.
”Kau indah, indah,” bisiknya di atas perut lelaki itu.
Lalu kepalanya semakin turun, dan ia mengusapkan
pipinya di kulit Cooper sambil berkata mendesah,
”Cooper.”
Cooper terkejut melihat gairah yang diperlihatkan
Rusty. Ia memiringkan kepala dan melihat ke arah gadis
itu. Rambut Rusty tergerai menyapu perutnya. Napas­
nya mengembus kulit Cooper, dan kata­kata cinta yang
diucapkannya melantunkan irama yang lebih erotis
daripada yang pernah didengar Cooper selama ini. Dan
bibirnya... bibirnya itu... meninggalkan kecupan lembap
di kulit Cooper.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Kepala Rusty bergerak di tubuh Cooper dan menya­


jikan pemandangan paling erotis dan paling indah yang
pernah dilihat Cooper. Hal ini membuatnya ketakutan.
Didorongnya Rusty dari tubuhnya dan ia berguling
turun dari tempat tidur. Ia berdiri di samping ranjang,
gemetar sambil menyumpah­nyumpah pelan.
Ia tidak berkeberatan melakukan hubungan intim,

155
asalkan tidak melihatkan perasaan. bukan seperti ini. Ia
tidak mengharapkan kerinduan, perasaan, dan emosi.
Tidak. Ia sudah sering terlibat hubungan isik dengan
perempuan, tapi belum pernah ada yang memperlihat­
kan kerinduan sedemikian tulus seperti yang ditunjuk­
kan Rusty.
Dan Cooper tidak membutuhkan itu. Ia tidak meng­
inginkan cinta atau roman. Tidak.
Untuk saat ini ia memang bertanggung jawab atas
kelangsungan hidup gadis ini, tapi ia tidak mau memi­
kul tanggung jawab atas kestabilan emosional gadis itu.
Kalau Rusty ingin berhubungan isik, bolehlah, tapi
jangan sampai gadis itu menginginkan sesuatu yang le­
bih jauh dan lebih dalam. Cooper tidak keberatan gadis
itu memanfaatkan tubuhnya; ia akan mengizinkan,
malah menyambutnya, untuk memuaskan gairah Rusty
yang paling mendasar. Tapi hanya sampai di situ. Tidak
ada yang boleh melewati batas­batas emosionalnya.
Rusty memandang ke arahnya dengan tatapan heran
dan sakit hati. ”Kenapa?” Sekarang gadis itu sudah sa­
dar sepenuhnya dan ia menutupi tubuhnya hingga ke
dagu dengan seprai.
”Tidak apa­apa.”
Cooper melintasi ruangan dan melemparkan sepo­
www.facebook.com/indonesiapustaka

tong kayu lagi ke api. Kayu itu menimbulkan kilatan


bunga api yang sesaat memancarkan cahaya terang di
ruangan tersebut. Dalam cahaya itu Rusty melihat bah­
wa Cooper sebenarnya masih bergairah.
Cooper melihat sorot bingung dan kecewa di mata
gadis itu. ”Tidurlah,” katanya kasar. ”Serigala­serigala

156
itu sudah pergi. Dan sudah kukatakan padamu, mereka
tidak bisa menyakitimu. Jangan cengeng dan jangan
ganggu aku lagi.”
Cooper kembali ke tempat tidurnya sendiri dan mena­
rik selimut hingga ke telinganya. Sebentar saja tubuhnya
sudah basah kuyup oleh keringat. Sialan gadis itu! Cooper
merasa tubuhnya masih terbakar oleh api gairah.
Sial, kenapa gadis itu memberikan respons demikian?
begitu jujur, tanpa rasa malu atau kepura­puraan. Mu­
lut gadis itu begitu pasrah dan ciuman­ciumannya begi­
tu berani. Payudaranya juga begitu lembut.
Cooper mengertakkan gigi ketika membayangkan
semua itu. Tololkah ia karena tidak mengambil apa
yang ditawarkan gadis itu tanpa syarat?
Tapi justru itulah masalahnya. Tanpa syarat. Kalau
bukan karena itu, tentunya saat ini ia akan berada di tem­
pat tidur gadis itu, bukan di sini, di tengah keringatnya
sendiri. Ekspresi melayang di wajah gadis itu jelas­jelas
menunjukkan bahwa baginya hubungan mereka lebih dari
sekadar hubungan isik. Ia menginginkan hal­hal yang
takkan mungkin bisa dipenuhi oleh Cooper.
Oh, Cooper yakin bisa memuaskan mereka berdua
secara isik. Tapi ia tak bisa merasa, padahal itulah yang
diinginkan Rusty. Mungkin gadis itu layak mendapat­
www.facebook.com/indonesiapustaka

kannya, tapi Cooper tak bisa memberikannya. Hatinya


saat ini begitu gersang seperti gurun Sahara.
Tidak, lebih baik gadis itu sakit hati sekarang, sehingga
masalahnya selesai. Lebih baik bersikap kejam daripada
mengambil keuntungan dari situasi ini. Cooper tidak
bersedia terikat dalam hubungan jangka panjang. Hu­

157
bungan mereka akan mengalami jalan buntu saat mereka
sudah diselamatkan nanti.
Sementara menunggu, ia akan terus menjalani hidup.
Memang tidak menyenangkan, tapi ia akan hidup.

Keesokan paginya mata Rusty bengkak karena menangis


semalam, hingga ia hampir­hampir tak bisa membuka­
nya. Dengan susah payah ia mengangkat kelopak mata­
nya dan melihat bahwa tempat tidur satunya sudah
kosong dan selimutnya sudah dilipat rapi.
bagus. Dengan demikian, Cooper tidak akan melihat
matanya yang bengkak sampai ia sudah mengompresnya
dengan air dingin. Rusty merasa marah pada diri sendi­
ri karena semalam ia telah menunjukkan kelemahannya.
bodoh sekali ia, merasa takut pada lolongan serigala­
serigala itu. Mereka merupakan perwujudan dari segala
ancaman yang mengelilinginya dan membuat situasi
sulit saat ini semakin terasa.
Tapi entah kenapa rasa takutnya keluar dalam ben­
tuk gairah, dan Cooper memberi respons. Tapi untung­
lah lelaki itu kembali menemukan akal sehatnya sebe­
lum sesuatu yang drastis terjadi.
Rusty hanya menyesali mengapa bukan ia yang lebih
www.facebook.com/indonesiapustaka

dulu menemukan akal sehatnya. Jangan­jangan Cooper


mengira dialah yang menginginkan lelaki itu. Padahal
sebenarnya ia menginginkan seseorang, dan kebetulan
hanya Cooper yang ada di dekatnya. Kalau lelaki itu
beranggapan lain, salahnya sendiri.
Setelah merapikan tempat tidurnya, Rusty mem­

158
basuh wajahnya dengan air pompa dan menggosok gigi.
Ia mengenakan celana panjang yang sama dengan yang
dipakainya kemarin dan sehelai kemeja lanel baru. Ia
menyikat rambutnya dan mengikatnya dengan tapi se­
patu. Ketika sedang memakai kaus kaki, barulah ia
menyadari bahwa sejauh ini ia bergerak tanpa bantuan
tongkatnya. Rasa sakit di kakinya yang luka tinggal se­
dikit sekali. bekas luka itu memang tidak enak dilihat,
tapi setidaknya jahitan Cooper berhasil menyembuhkan
lukanya.
Karena tak ingin hatinya luluh terhadap lelaki itu,
Rusty beranjak ke tungku dan memasukkan potongan­
potongan kayu pendek ke api. Ia mengisi ketel dengan
air dan memasukkan bubuk kopi ke dalamnya, sambil
teringat pembuat kopi otomatis dengan pengatur waktu
digital yang dimilikinya di rumah.
Sambil berusaha meredam rasa rindunya akan rumah,
ia mulai membuat sarapan yang terdiri atas oatmeal. Di­
bacanya petunjuk memasak yang tercantum di tepi kotak
berbentu silinder yang ditemukannya di antara persedia­
an bahan makanan. Ia senang mendapati bahwa membu­
at oatmeal sangat mudah. Tinggal memasak air dan me­
nuangkan porsi yang tepat.
Sayangnya dugaannya salah.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper masuk ke pondok, dan tanpa basa­basi lang­


sung bertanya, ”Sudah membuat sarapan, belum?”
Dengan sama ketusnya Rusty menjawab, ”Duduklah.”
Ia ingin meghidangkan semangkuk oatmeal harum
yang masih mengepul, seperti yang sering dilihatnya di
iklan TV. Tapi, ketika membuka tutup panci, ia meli­

159
hat masakannya tampak seperti adukan semen, hanya
saja lebih lembek.
Ia kesal sekali, tapi tidak mau memperlihatkannya.
Dengan nekat ia mengambil dua sendok oatmeal dan
menuangkannya ke mangkuk­mangkuk dari kaleng. Ma­
kanan itu mendarat dengan berat, seperti cairan timah. Ia
membawa mangkuk­mangkuk itu ke meja dan meletak­
kannya dengan kasar, lalu duduk di depan Cooper.
”Mana kopinya?” tanya lelaki itu.
Rusty menggigit bibir, lalu bangkit dan menuangkan
kopi, dan kembali ke meja tanpa mengucapkan sepatah
kata pun. Dibiarkannya rasa tak senangnya muncul
melalui bahasa tubuhnya.
Cooper menyendok sedikit oatmeal dan memandangi­
nya dengan ragu. Rusty menatapnya tanpa bicara, menan­
tang lelaki itu kalau berani memprotes masakannya.
Cooper memasukkan makanan itu ke mulutnya.
Rusty juga menyuapkan bagiannya, dan ia hampir
memuntahkannya lagi. Tapi karena tahu Cooper me­
mandanginya dengan mata elangnya, ia mengunyah
makanan itu. Oatmeal itu rasanya bukan semakin kecil,
tapi justru semakin mengembang. Akhirnya Rusty ter­
paksa menelannya. Perutnya serasa dimasuki bola golf.
Cepat­cepat ia meneguk kopinya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper meletakkan sendoknya di mangkuk. ”Cuma


begini kepandaianmu memasak?”
Rusty ingin membalas dengan mengatakan, ”Cuma
begitu yang bisa kaulakukan semalam?” Tapi ia merasa
Cooper akan membunuhnya kalau ia berani menghina
kejantanan lelaki itu. Jadi, ia hanya berkata, ”Aku jarang
memasak di rumah.”

160
”Terlalu sibuk berpindah­pindah dari satu restoran
mahal ke restoran mahal lainnya kurasa?”
”Ya.”
Sambil memasang tampang muak, lelaki itu menyuap
lagi sesendok oatmeal. ”Ini bukan oatmeal yang sudah
digarami dan diberi gula serta dikemas dalam kotak­
kotak kecil cantik dengan gambar beruang dan kelinci
di depannya. Ini oatmeal yang masih mentah. Lain kali
tambahkan garam ke airnya. Masukkan sekitar setengah
sendok isi kotak saja, lalu taburkan gula, tapi jangan
terlalu banyak. Kita mesti menghemat persediaan kita.”
”Kalau kau begitu pintar memasak, kenapa bukan kau
saja yang melakukannya?” tanya Rusty dengan manis.
Cooper menyingkirkan mangkuknya dan melipat
lengan di meja. ”Sebab aku mesti berburu, memancing,
dan memotong kayu api. Tapi, setelah kupikir­pikir,
membuat oatmeal jauh lebih mudah. Mau bertukar?
Atau kau ingin aku yang melakukan semua pekerjaan,
sementara kau bersantai­santai sambil menunggu kuku­
mu tumbuh kembali?”
Secepat kilat Rusty sudah bangkit dari kursinya dan
mencondongkan tubuh di meja. ”Aku tidak keberatan
melakukan bagian tugasku. Kau tahu itu. Aku cuma
tidak suka kau mengkritik usahaku.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Kalau usahamu hanya sampai sebatas ini, kita bisa


mati kelaparan dalam seminggu.”
”Aku akan berusaha lebih baik,” teriak Rusty.
”bagus. Secepatnya lebih baik.”
”Oh!”
Rusty membalikkan tubuh dengan marah, namun

161
kemejanya yang tidak dikancingkan terkuak membuka.
Cooper menyambar lengannya dengan mendadak.
”Apa itu?” Ia meraih ke dalam kemeja Rusty dan
menurunkan tali tank top­nya.
Rusty mengikuti tatapan lelaki itu ke lebam berwarna
gelap di lekuk sebelah atas payudaranya. Ia memandangi
lebam bulat itu, lalu menatap Cooper. ”Itu bekas... cium­
an...” Tak sanggup melanjutkan, ia membuat gerakan
dengan tangannya. ”Semalam,” tambahnya serak.
Cooper cepat­cepat menarik kembali tangannya,
merasa bersalah, seperti Adam yang tertangkap basah
memakan buah terlarang. Rusty merasa lehernya mulai
memerah, dan rona malu itu menyebar merata semen­
tara mata Cooper menjelajahi tubuhnya. Cooper me­
mandangi goresan­goresan merah muda bekas janggut­
nya yang menempel di wajah dan tenggorokan Rusty.
Ia menyeringai menyesal dan menggosok­gosok dagu­
nya. Suaranya memecah keheningan itu.
”Maaf.”
”Tidak apa­apa.”
”Apa rasanya... sakit?”
”Tidak juga.”
”Apa... kau tahu... ketika...”
Rusty menggeleng. ”Aku tidak memperhatikan wak­
www.facebook.com/indonesiapustaka

tu itu.”
Keduanya cepat­cepat memalingkan wajah. Cooper
beranjak ke jendela. Di luar hujan cukup deras. Sesekali
potongan es tipis membentur jendela.
”Kurasa aku mesti memberi penjelasan tentang peris­
tiwa semalam,” katanya dengan suara pelan dan berat.

162
”Tidak, tidak perlu ada penjelasan. Sungguh.”
”Aku tidak ingin kau mengira aku impoten atau se­
macamnya.”
”Aku tahu kau tidak impoten.”
Cooper menoleh cepat dan mata mereka bertemu.
”Kurasa aku tidak bisa menyembunyikan bahwa kema­
rin aku sebenarnya sudah siap.”
Rusty menelan ludah dengan susah payah dan me­
nunduk. ”Ya.”
”Kalau begitu, tinggal masalah kesediaan.” Rusty tetap
menunduk. ”Apa kau tidak ingin tahu, kenapa aku tidak
melanjutkannya?” tanya Cooper setelah diam agak lama.
”Aku bukannya tidak ingin tahu. Aku cuma bilang
bahwa kau tidak perlu menjelaskan. Kita toh orang
asing. Kita tidak berutang penjelasan satu sama lain.”
”Tapi kau bertanya­tanya.” Lelaki itu menuding Rusty
dengan geram. ”Jangan mengingkari bahwa kau sebenar­
nya ingin sekali tahu, kenapa aku tidak melanjutkannya.”
”Kuduga ada seseorang yang kaupikirkan di rumah.
Seorang wanita.”
”Tidak ada wanita,” bentak Cooper. Melihat ekspre­
si kaget Rusty, lelaki itu tersenyum miring. ”Juga tidak
ada laki­laki.”
Rusty tertawa canggung. ”Aku tidak berpikir begitu.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Canda mereka tidak berlangsung lama. Senyum


Cooper berubah menjadi kernyit di keningnya. ”Aku
tidak suka membuat komitmen secara seksual.”
Dagu Rusty terangkat sedikit. ”Rasanya aku juga ti­
dak minta.”
”Kau tidak perlu minta. Kalau kita... kalau aku... ber­

163
hubung kita hanya berdua di sini, entah untuk berapa
lama, itulah yang akan terjadi, pada akhirnya. Kita sudah
saling tergantung untuk segala sesuatunya. Kita tidak
perlu membuat situasi ini lebih rumit lagi daripada saat
ini.”
”Aku setuju sekali denganmu,” sahut Rusty dengan
tenang. Sebenarnya ia tidak senang ditolak, tapi ia juga
tidak mau memperlihatkan sakit hatinya. ”Aku kehi­
langan kendali semalam. Aku ketakutan. Lebih lelah
daripada yang kukira. Kau ada di sana, kau bersikap
baik dan menawarkan penghiburan padaku. Akibatnya
segalanya jadi di luar kendali. Hanya itu sebenarnya.”
Garis­garis mulut lelaki itu semakin keras. ”Tepat.
Kalau kita bertemu di tempat lain, kita tidak bakal sa­
ling peduli.”
”Memang.” Rusty tertawa dengan terpaksa. ”Kau
sama sekali tidak sesuai bergaul dengan lingkungan
kosmopolitanku. Kau bakal sangat mencolok.”
”Dan kau dengan pakaian­pakaian mahalmu akan
menjadi bahan tertawaan di wilayah pegununganku.”
”Jadi, selesai,” kata Rusty kesal.
”Selesai.”
”Sudah beres.”
”benar.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Tidak ada masalah lagi.”


Tapi anehnya mereka masih saling berhadapan se­
perti dua petarung. Udara di antara mereka panas oleh
permusuhan. Mereka sudah mencapai kesepakatan dan
telah membuat perjanjian damai, tapi kenyataannya
mereka masih tetap bermusuhan.

164
Cooper­lah yang lebih dulu membalikkan tubuh
dengan marah. Ia memakai mantelnya dan mengambil
senapannya. ”Aku akan melihat, apa sungai di sana itu
banyak ikannya.”
”Kau mau menembak ikan­ikan itu?” Rusty meng­
angguk ke arah senapan Cooper.
Lelaki itu mengerutkan kening mendengar kesinisan­
nya. ”Aku memasang jaring ketika kau masih bersantai­
santai di tempat tidur pagi ini.” Sebelum Rusty sempat
membalas, ia sudah menambahkan, ”Aku juga sudah
membuat api di bawah belanga di luar sana. Cuci semua
pakaian!”
Rusty mengikuti arah tatapan lelaki itu ke tumpukan
besar pakaian kotor, dan ia tak bisa menyembunyikan
keterkejutannya. Ketika ia menoleh kembali ke Cooper,
lelaki itu sudah tidak ada di tempatnya. Rusty cepat­
cepat beranjak ke pintu, secepat kakinya yang pincang
memungkinkan.
”Aku pasti akan mencuci. Tak perlu kauperintah­
kan!” teriaknya ke arah punggung Cooper. Entah lelaki
itu mendengarnya atau tidak.
Sambil memaki, Rusty membanting pintu. Ia mem­
bersihkan meja. Kemudian hampir setengah jam ia
mencuci panci bekas memasak oatmeal tadi. Lain kali ia
www.facebook.com/indonesiapustaka

akan langsung merendam panci ini dengan air panas


begitu isinya sudah habis.
Kemudian ia mulai mencuci pakaian dengan penuh
semangat. Ia ingin saat Cooper kembali nanti, ia sudah
selesai mengerjakan semua tugasnya. Ia mesti menun­
jukkan pada lelaki itu bahwa kelemahannya semalam
cuma kebetulan saja.

165
Setelah mengenakan mantel, Rusty membawa tum­
pukan pakaian pertama ke luar dan memasukkannya ke
dalam belanga. Sebelumnya ia mengira belanga­belang­
an besi hitam yang digantung di atas api membara se­
macam itu hanya ada di ilm­ilm. Sekarang ia menggu­
nakan sepotong kayu untuk mengaduk pakaian­pakaian
itu. Setelah kira­kira cukup bersih, dikeluarkannya se­
muanya dari air dengan tongkat itu dan dilemparkannya
ke dalam keranjang yang sudah dicuci Cooper kemarin.
Selesai mencuci pakaian dengan metode kuno itu,
kedua lengannya terasa kaku dan lelah. Dan begitu ia
selesai memeras semua pakaian itu dan menggantung­
nya di kawat yang membentang dari sudut pohon ke
sebatang pohon terdekat, lengannya seperti akan lepas.
bukan hanya itu, tangannya yang basah hampir beku,
begitu pula hidungnya. Kakinya juga mulai terasa nyeri
lagi.
Namun kelelahannya agak terobati dengan rasa puas
akan hasil kerjanya. Setelah kembali berada di dalam
pondok, ia menghangatkan tangan di depan perapian.
Setelah peredaran darahnya kembali lancar, dilepaskan­
nya sepatu botnya dan dengan letih ia naik ke tempat ti­
dur. Rasanya ia pantas tidur siang sejenak sebelum ma­
kan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Ternyata ia tidur lebih nyenyak daripada yang diingin­


kannya. Ketika Cooper menerobos masuk ke dalam
sambil meneriakkan namanya, ia terbangun begitu
mendadak, hingga kepalanya berputar pening dan titik­
titik kuning menari­nari di depan matanya.

166
”Rusty!” teriak lelaki itu. ”Rusty, apa kau... sialan,
sedang apa kau di tempat tidur?” Mantel lelaki itu ter­
buka dan rambutnya acak­acakan. Kedua pipinya me­
merah dan napasnya terengah­engah, seperti habis
berlari.
”Apa yang kulakukan di tempat tidur?” Rusty balik
bertanya sambil menguap lebar. ”Aku tidur.”
”Tidur? Tidur? Kau tidak dengar suara pesawat itu?”
”Pesawat?”
”Jangan mengulangi setiap ucapanku! Di mana pistol
isyarat itu?”
”Pistol isyarat?”
Lelaki itu tampak sangat marah. ”Di mana pistol
isyarat itu? Ada pesawat terbang di atas sana.”
Rusty turun dari tempat tidur. ”Pesawat itu mencari
kita?”
”Mana aku tahu?” Cooper mengobrak­abrik isi pon­
dok, mencari pistol tersebut. ”Mana pistol... ini dia!”
Disambarnya benda itu, lalu ia berlari ke luar, melom­
pati beranda, dan mengawasi langit. Rusty terpincang­
pincang menyusulnya.
”Kau melihatnya?”
”Diam!” Cooper memiringkan kepala dan mendengar­
kan dengan saksama. Derum mesin pesawat terbang itu
www.facebook.com/indonesiapustaka

kedengaran oleh mereka. Mereka menengadah bersama­


an dan menghadapi kenyataan yang mengecewakan.
Memang ada pesawat di atas sana. Jelas itu pesawat
pencari, sebab ia terbang rendah. Namun pesawat itu
menuju ke arah berlawanan. Tidak ada gunanya me­
nembakkan pistol isyarat itu sekarang. Kedua orang itu

167
mengikuti titik kecil yang semakin menjauh tersebut,
hingga pesawat itu tak terlihat lagi dan deru mesinnya
pun tak terdengar lagi. Keheningan yang menyusul se­
sudahnya terasa sangat tajam. Dengan perginya pesawat
itu, lenyap pula kesempatan mereka untuk mendapat­
kan pertolongan.
Perlahan­lahan Cooper membalikkan tubuh. Sepa­
sang matanya tampak dingin tanpa warna dan menyorot
penuh amarah, hingga Rusty mundur selangkah.
”Kenapa kau justru tidur?”
Rusty lebih suka lelaki itu berteriak saja. berteriak
dan marah­marah. Tapi desisan pelan dan murka ini
justru lebih menakutkannya. ”Aku... aku habis mencu­
ci,” kata Rusty cepat­cepat dan takut­takut. ”Aku lelah.
Aku mesti mengangkat—”
Mendadak ia menyadari bahwa sebenarnya ia tak
perlu minta maaf seperti ini. Sejak awal pistol itu selalu
berada di tangan Cooper, sejak mereka meninggalkan
bangkai pesawat.
Dengan marah Rusty bertolak pinggang. ”beraninya
kau menyalahkan aku! Kenapa kau pergi tanpa mem­
bawa pistol itu?”
”Sebab aku sedang marah tadi pagi, ketika aku be­
rangkat. Aku lupa membawanya.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Jadi, salahmu sendiri kalau pistol itu tidak ditem­


bakkan, bukan salahku.”
”Tapi gara­gara kau aku jadi berangkat dengan sa­
ngat marah tadi.”
”Kalau kau tidak bisa mengendalikan sifat pemarah­
mu, kenapa aku yang disalahkan?”

168
Mata lelaki itu berubah gelap. ”Kalaupun pistol itu
kubawa dan kutembakkan, mereka pasti tidak akan
melihat. Tapi mereka akan bisa melihat kalau ada asap
keluar dari cerobong kita. Tapi kau malah enak­enak
tidur dan membiarkan api mati.”
”Kenapa kau tidak membuat api isyarat yang besar,
yang tidak mungkin terlewatkan oleh regu pencari itu?”
”Aku mengira tidak memerlukannya. Sebab kita
punya cerobong. Mana kusangka kau akan tidur siang.”
Rusty tergeragap, lalu berkata membela diri, ”Asap
dari cerobong tidak akan bisa menarik perhatian mere­
ka. Itu sudah biasa.”
”Kalau asap itu berasal dari hutan belantara begini,
pasti akan menarik perhatian. Setidaknya mereka akan
memutar lagi untuk menyelidiki.”
Rusty berusaha mencari pembelaan yang tepat.
”Angin terlalu kencang untuk membuat asap itu terli­
hat. Kalaupun apinya menyala, mereka tidak akan bisa
melihat asap kita.”
”Tapi kemungkinan itu ada.”
”Tidak sebagus kemungkinan melihat isyarat dari
pistol, kalau kau membawanya bersamamu.”
Sebenarnya lebih bijaksana untuk tidak mengemuka­
kan kelengahan lelaki itu dalam situasi seperti ini. bibir
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper mengatup ketat di bawah kumisnya dan ia maju


selangkah dengan penuh ancaman. ”Mestinya kau kubu­
nuh karena mengakibatkan pesawat itu melewati kita.”
Rusty menyentakkan kepala. ”Kenapa tidak? Lebih
baik kaubunuh saja aku daripada terus­menerus meng­
kritik kekuranganku.”

169
”Kekuranganmu terlalu banyak, sehingga kalau kita
terdampar di sini bertahun­tahun pun aku tidak akan
pernah selesai mengkritikmu.”
Pipi Rusty bersemu merah oleh amarah. ”Kuakui,
aku memang tidak memenuhi syarat untuk tinggal di
pondok jelek di tengah hutan. Aku juga tidak ingin
hidup seperti ini.”
Cooper memajukan dagunya. ”Memasak saja kau ti­
dak bisa.”
”Aku tidak suka dan tidak pernah perlu memasak. Aku
wanita karier,” sahut Rusty dengan penuh harga diri.
”Ya, lihat saja manfaat kariermu itu di sini.”
”Lagi­lagi aku, aku, aku!” teriak Rusty. ”Selama ini
kau cuma memikirkan dirimu saja!”
”Ha! Aku beruntung kalau cuma sendirian di sini.
Tapi aku justru mesti memikirkanmu. Kau cuma men­
jadi beban saja!”
”bukan salahku kalau kakiku luka.”
”Dan kurasa kau akan bilang bukan salahmu juga
kalau kedua lelaki gunung itu tergiur olehmu?”
”Memang!”
”Oh ya?” sindir Cooper dengan sinis. ”Padahal kau
tidak henti­hentinya memberi isyarat bahwa kau ingin
aku naik ke tempat tidurmu.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Tanpa menyadari apa yang dilakukannya, Rusty su­


dah menyerbu ke arah lelaki itu dengan jemarinya siap
mencakar wajahnya yang tersenyum jahat. Sesudahnya
ia merasa terkejut sendiri dengan sikapnya. Ia tak per­
nah mengira bahwa ia bisa semarah itu. Sejak kecil ia
selalu mengalah pada anak­anak lain, untuk menghin­

170
dari konfrontasi. Ia tak pernah agresif secara isik. Na­
mun kali ini ucapan Cooper yang menyakitkan membu­
atnya kalap. Tapi ia tak bisa mencapai lelaki itu. Ia
terjatuh karena kakinya yang luka terasa lemas. Sambil
menjerit kesakitan ia terpuruk di tanah yang beku.
Cooper langsung menghampirinya dan mengangkat­
nya. Rusty meronta­ronta dengan marah, hingga lelaki
itu menelikungnya. ”Hentikan, atau kupukul kau sam­
pai pingsan.”
”Oh ya?” kata Rusty, terengah­engah karena mem­
berontak tadi.
”Ya, dan aku akan senang sekali melakukannya.”
Rusty menghentikan perlawanannya, bukan karena
sudah menyerah, tapi karena merasa lemas dan kesakit­
an. Cooper membawanya masuk dan mendudukkannya
di kursi. Sambil menoleh kesal pada Rusty, ia berlutut
di depan perapian yang dingin dan dengan susah payah
berusaha menghidupkan api kembali.
”Kakimu masih sakit?”
Rusty menggeleng. Sebenarnya ia masih sangat kesa­
kitan, tapi ia tidak sudi mengakuinya. Ia tidak mau
berbicara pada lelaki itu, setelah mendengar ucapan­
ucapan kasarnya tadi yang sama sekali tidak benar. Ia
tahu sikapnya menutup mulut sangat kekanak­kanakan,
www.facebook.com/indonesiapustaka

tapi ia tetap bertahan dan tidak berbicara sedikit pun,


bahkan ketika Cooper menyibakkan bagian kaki celana
panjangnya yang sudah disobek, membuka kaus kaki­
nya, dan memeriksa jahitan lukanya.
”Jangan sampai kakimu terkena beban lagi sehari ini.
Gunakan tongkatmu kalau mau berjalan.” Cooper me­

171
rapikan kembali celana Rusty, lalu ia berdiri. ”Aku akan
kembali ke sungai, mengambil ikan. Tadi semuanya
kulempar karena terburu­buru kemari. Mudah­mudah­
an ikan­ikan itu tidak dimakan beruang.” Di pintu ia
menoleh lagi. ”Aku yang akan memasak, kalau kau ti­
dak keberatan. Ikan­ikan itu bagus, dan kau mungkin
tidak akan bisa memasaknya.”
Lalu ia keluar dan membanting pintu.

Ikan­ikan itu memang bagus. Dan rasanya enak. Cooper


memasaknya di wajan, hingga dagingnya lembut dan
bisa lepas dengan mudah dari tulangnya. Di luarnya
ikan itu garing dan di dalamnya empuk. Rusty menyesal
tidak makan dua ekor, tapi ia tidak mau kelihatan ma­
kan dengan rakus, seperti ketika makan ikan yang per­
tama. Dan ia sakit hati ketika Cooper akhirnya mema­
kan ikan kedua itu. Ia berharap lelaki itu mati tersedak
tulang, tapi Cooper malah asyik menjilati jemarinya dan
mendecap­decap berisik, sambil menepuk­nepuk perut­
nya.
”Aku sudah kenyang.”
Oh, ingin sekali ia membalas pernyataan itu dengan
ketus, tapi ia mempertahankan tekadnya untuk tutup
www.facebook.com/indonesiapustaka

mulut.
”bersihkan bekas­bekas makan ini,” kata Cooper te­
gas, lalu meninggalkan meja yang kotor dan urusan
tungku kepadanya.
Rusty menuruti perintah lelaki itu, tapi sengaja de­
ngan menimbulkan suara berisik. Selesai mencuci piring

172
dan sebagainya, ia mengempaskan tubuh ke tempat ti­
dur dan merenung menatap langit­langit. Ia tidak tahu
apakah ia lebih merasa marah atau sakit hati. Apa pun
perasaannya, yang jelas Cooper Landry telah mengha­
biskan emosinya melebihi lelaki mana pun yang pernah
dikenalnya. Emosi itu bervariasi, mulai dari rasa terima
kasih sampai muak.
Lelaki itu adalah manusia paling jahat dan penuh
dendam yang pernah dikenalnya, dan Rusty memben­
cinya dengan kadar kebencian yang sungguh mence­
ngangkan.
Memang benar, semalam ia meminta lelaki itu tidur
dengannya, tapi untuk menghiburnya, bukan karena ia
menginginkan seks. Ia tidak meminta yang satu itu, dan
tidak menginginkannya. Semua itu terjadi begitu saja.
Mestinya lelaki itu menyadarinya. Tapi ego lelaki itu yang
luar biasa besar membuatnya tidak mau mengakui hal itu.
Satu hal sudah pasti. Rusty memutuskan bahwa
mulai saat ini ia akan sangat menjaga jarak. Lelaki itu
telah melihat kulit wajahnya, lehernya, dan tangannya,
tapi hanya itu. Memang tidak mudah, hidup bersama di
bawah satu atap seperti ini—
Gejolak pemikirannya terputus dengan mendadak
ketika ia melihat sesuatu di langit­langit. Ini bisa men­
www.facebook.com/indonesiapustaka

jadi pemecahan bagi masalah mereka. Ada kait­kait di


atas tempat tidurnya, persis seperti yang digunakan
Cooper untuk menggantung tirai di depan bak mandi.
Inspirasi yang timbul mendadak ini mendorongnya
untuk segera bangun dari tempat tidur dan mengambil
sehelai selimut ekstra dari rak di tembok. Tanpa meng­

173
acuhkan Cooper yang ia tahu sedang mengawasinya
dengan tajam, Rusty menyeret sebuah kursi dan me­
nempatkannya di bawah salah satu kait.
Ia berdiri di kursi itu dan meregangkan otot­ototnya
untuk mencapai kait tersebut. Akhirnya berhasil juga.
Ia pindah ke kait berikutnya dan melakukan hal yang
sama. Setelah selesai, tempat tidurnya sudah dikelilingi
tirai. Ia jadi lebih mempunyai privasi.
Dengan tatapan puas ia menoleh pada teman sepon­
doknya, lalu masuk ke balik tirai selimut itu dan menu­
tupnya lagi. Nah, rasakan dia! Coba saja kalau lelaki itu
berani menuduhnya meminta ”itu”.
Ia merinding mengingat kata­kata kasar yang telah
diucapkan lelaki itu padanya. Tidak tahu sopan santun.
Itu cocok untuk ditambahkan pada sekian banyak sisi
negatif lelaki itu. Rusty melepaskan pakaian dan naik ke
tempat tidur. Karena tadi sudah tidur siang, ia tidak lang­
sung merasa mengantuk. Ia bahkan masih terbangun,
mengawasi pola­pola kerlap­kerlip dari api yang terpantul
di langit­langit, sementara Cooper naik ke tempat tidur.
Tak lama kemudian terdengar napas teratur lelaki itu,
yang menandakan ia sudah tidur nyenyak.
Ketika serigala­serigala mulai melolong, ia berbaring
miring dan menutupi kepalanya dengan selimut, men­
www.facebook.com/indonesiapustaka

coba untuk tidak mendengarkan. Digigitnya satu jarinya


keras­keras untuk menahan tangis, untuk menahan
perasaan sunyi dan sendirian, dan supaya ia tidak me­
minta Cooper memeluknya sementara ia tidur.

174
8

COOPER duduk tak bergerak, seperti pemburu sedang


menanti mangsa. Kakinya terbentang lebar, sikunya
bertumpu di kedua lututnya, sementara jemarinya ter­
katup di bawah dagunya. Sepasang matanya menatap
Rusty tanpa berkedip.
Itulah pemandangan yang pertama dilihat Rusty
ketika ia terbangun keesokan paginya. Ia agak terkejut,
tapi tidak sampai terlompat. Dengan segera pula ia
menyadari bahwa tirai selimut yang kemarin dipasang­
nya dengan susah payah di sekitar tempat tidurnya su­
dah diturunkan. Kini selimut itu tergeletak di kaki
tempat tidurnya.
Ia bertelekan pada satu sikunya dan dengan kesal
www.facebook.com/indonesiapustaka

menyibakkan rambutnya yang menutupi mata. ”Kau


mau apa?”
”Aku perlu bicara denganmu.”
”Tentang apa?”
”Semalam turun salju beberapa senti.”
Rusty mengamati wajah tanpa ekspresi itu beberapa

175
saat, lalu berkata dengan kejengkelan yang tidak disem­
bunyikannya, ”Sayang sekali kalau kau ingin membuat
manusia salju, sebab aku sedang tidak berminat.”
Sorot mata lelaki itu tidak berubah, meski Rusty bisa
merasa bahwa sebenarnya Cooper sedang berusaha
keras menahan diri untuk tidak mencekiknya.
”Jatuhnya salju itu merupakan peringatan penting,”
kata Cooper dengan tenang. ”begitu musim dingin tiba,
kesempatan kita untuk diselamatkan akan jauh berku­
rang.”
”Aku mengerti,” sahut Rusty dengan nada serius
pula. ”Yang tidak kumengerti, kenapa mendadak kita
jadi mesti membicarakannya saat ini juga.”
”Sebab, sebelum melewatkan satu hari lagi bersama­
sama, kita mesti meluruskan beberapa peraturan dasar.
Kalau kita terpaksa terkurung bersama di sini sepanjang
musim dingin—dan tampaknya kemungkinan itu besar
sekali—maka kita mesti mencapai kesepakatan menge­
nai beberapa hal.”
Rusty duduk tegak, tapi tetap memegangi selimutnya
hingga ke dagu. ”Misalnya?”
”Misalnya, tidak ada aksi tutup mulut lagi.” Sepasang
alis lelaki itu bertaut dalam satu garis lurus yang keras.
”Aku tidak mau menerima kekonyolan semacam itu
www.facebook.com/indonesiapustaka

darimu.”
”Oh, tidak mau?” tanya Rusty dengan manis.
”Tidak. Kau bukan anak kecil, jadi jangan bertingkah
seperti anak kecil.”
”Kau bisa seenaknya menghinaku, tapi kau mengha­
rapkan aku menerima saja. begitu?”

176
Untuk pertama kalinya, Cooper memalingkan muka,
tampak merasa bersalah. ”Mungkin aku seharusnya ti­
dak bersikap seperti kemarin itu.”
”Memang seharusnya tidak. Entah apa yang ada da­
lam pikiranmu yang dangkal dan kotor itu, tapi jangan
salahkan aku karenanya.”
Cooper menggigiti ujung kumisnya. ”Aku kemarin
marah sekali padamu.”
”Kenapa?”
”Terutama karena... karena aku tidak terlalu menyu­
kaimu, tapi aku tetap ingin tidur denganmu. Maksudku
tidur bukan sekadar tidur.” Rusty sangat terperanjat
mendengar ini. bibirnya ternganga, namun Cooper ti­
dak memberinya kesempatan untuk mengatakan apa
pun. ”Sekarang bukan saatnya berpura­pura atau ber­
manis­manis, benar?”
”benar,” sahut Rusty dengan suara serak.
”Aku berharap kau bisa menghargai kejujuranku.”
”bisa.”
”baik. Kita akui saja hal yang satu ini. Kita saling
tertarik secara isik. Kasarnya, kita ingin berhubungan
intim. Memang tidak masuk akal, tapi begitulah kenya­
taannya.” Rusty menunduk ke pangkuannya. Cooper
menunggu, sampai kesabarannya habis. ”bagaimana?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”bagaimana apa?”
”Katakan sesuatu!”
”baik, kuakui.”
Cooper menarik napas panjang. ”baiklah, mengingat
hal itu, dan mengingat bahwa tidak ada gunanya meng­
utak­atik masalah itu, juga mengingat musim dingin ini

177
akan lama sekali, kita mesti meluruskan beberapa hal.
Setuju?”
”Setuju.”
”Pertama, kita berhenti saling menghina.” Rusty
menatap lelaki itu dengan pandangan dingin. Dengan
enggan Cooper menambahkan, ”Kuakui, aku lebih ber­
salah daripada kau dalam hal ini. Kita berjanji saja un­
tuk tidak saling berbicara kasar mulai saat ini.”
”Aku janji.”
Cooper mengangguk. ”Cuaca ini akan menjadi mu­
suh berat kita. Tenaga dan perhatian kita akan terkuras
karenanya. Kita tidak bisa terus ribut dalam keadaan
demikian. Kemungkinan kita bertahan tergantung pada
kebersamaan kita. Dan kewarasan kita bergantung pada
apakah kita bisa hidup damai bersama­sama.”
”Aku mengerti.”
Cooper diam sejenak untuk berpikir. ”Menurut pen­
dapatku, kita mesti menjalani peran sesuai dengan
kodrat kita.”
”Kau Tarzan, dan aku Jane.”
”Semacam itulah. Aku mencari makanan. Kau me­
masaknya.”
”Seperti sudah kaukatakan padaku, aku tidak begitu
pintar memasak.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Kau bisa belajar.”


”Akan kucoba.”
”Jangan cepat marah kalau aku menawarkan saran.”
”Kalau begitu, kau jangan selalu menyindir kekurang­
anku. Aku mahir dalam banyak hal lain.”
Mata lelaki itu beralih ke bibir Rusty. ”Tidak ku­

178
sangkal.” Setelah diam lama, ia melanjutkan, ”Aku tidak
memintamu melayaniku setiap hari.”
”Aku juga tidak mengharapkan begitu. Aku ingin
mandiri.”
”Kau akan kubantu membereskan pondok dan men­
cuci pakaian.”
”Terima kasih.”
”Dan kau akan kuajari menembak, supaya kau bisa
melindungi diri sendiri kalau aku pergi.”
”Pergi?” tanya Rusty lemah. Ia merasa seperti akan
jatuh pingsan.
Cooper angkat bahu. ”Kalau binatang buruan sudah
tidak ada lagi dan sungai sudah membeku, mungkin aku
mesti pergi jauh untuk mencari makanan.”
Rusty merasa gentar membayangkan saat­saat ia
mesti tinggal sendirian di pondok ini, mungkin selama
berhari­hari. Meski kasar dan suka menghina, ia lebih
suka berada bersama Cooper daripada sendirian.
”Dan ini yang paling penting.” Cooper menunggu
sampai Rusty memperhatikan sepenuhnya. ”Aku yang
menjadi bos di sini,” katanya sambil menunjuk dadanya.
”Kita tidak perlu membodohi diri sendiri. Ini masalah
hidup dan mati. Kau mungkin tahu banyak tentang real
estate, dan kehidupan kelas orang kaya dan terkenal di
www.facebook.com/indonesiapustaka

California, tapi di sini semua pengetahuanmu tidak ada


gunanya. Di wilayahmu kau bisa berbuat apa pun sesu­
kamu, dan aku tidak akan peduli. Aku akan bilang,
’bagus, Sayang, hebat.’ Tapi di sini, kau mesti patuh
padaku.”
Rusty sakit hati dengan ucapan Cooper bahwa di

179
luar beverly Hills pengalamannya sama sekali tidak
berguna. ”Seingatku aku belum pernah mencoba meng­
geser posisimu sebagai pihak yang lebih macho.”
”Mudah­mudahan seterusnya begitu. Di hutan belan­
tara, tidak ada yang namanya persamaan derajat antara
laki­laki dan perempuan.”
Cooper berdiri dan kebetulan melihat selimut bekas
tirai yang tergeletak di kaki tempat tidur. ”Satu hal lagi.
Tidak perlu pakai tirai segala. Pondok ini terlalu kecil
dan kita hidup sangat berdekatan, jadi tidak perlu malu­
malu segala. Kita sudah saling melihat tubuh masing­
masing dalam keadaan telanjang, dan kita juga sudah
saling menyentuh. Lagi pula,” katanya sementara mata­
nya melahap tubuh Rusty, ”kalau aku menginginkanmu,
tidak ada tirai yang bisa menghalangiku. Kalau sejak
semula aku berniat memerkosamu, pasti sudah kulaku­
kan lama berselang.”
Mata mereka beradu pandang. Akhirnya Cooper
membalikkan tubuh. ”Sudah waktunya kau bangun.
Aku sudah membuat kopi.”
Pagi itu oatmeal yang dibuat Rusty jauh lebih enak
daripada kemarin. Setidaknya makanan itu tidak me­
nempel di langit­langit mulut seperti sandwinch mentega
kacang yang sudah seharian tidak dimakan. Oatmeal itu
www.facebook.com/indonesiapustaka

dibumbui dengan sedikit garam dan gula, dan Cooper


menghabiskan seluruh porsinya, namun tidak berko­
mentar apa pun.
Rusty tidak mudah tersinggung lagi seperti biasanya.
Sikap Cooper yang tidak mengkritiknya bisa dikatakan
setara dengan pujian. Mereka cuma berjanji untuk tidak

180
saling menghina lagi; mereka tidak berjanji untuk saling
menghujani dengan pujian.
Cooper keluar pondok setelah sarapan, dan baru
kembali pada saat makan siang, yang terdiri atas biskuit
dan sup kaleng. Cooper telah membuat sepasang sepatu
salju dari batang­batang kayu muda dan anyaman sulur­
sulur mati. Ia mengikatkan sepatu salju itu ke sepatu
botnya dan berjalan terantuk­antuk di seputar pondok,
memamerkan sepatu itu pada Rusty. ”Dengan sepatu
ini, jauh lebih mudah berjalan menjelajahi jurang di
antara tempat ini dan sungai.”
Sepanjang siang ia keluar. Rusty membereskan pon­
dok, tapi pekerjaan itu cuma makan waktu setengah
jam. Setelah semua tugasnya selesai, ia menganggur
sampai melihat Cooper kembali menjelang senja. Lelaki
itu berjalan canggung ke arah pondok dalam sepatu
salju buatannya.
Rusty bergegas keluar ke beranda untuk menyambut­
nya dengan secangkir kopi panas dan senyum ramah. Ia
merasa agak tolol karena begitu senang melihat lelaki
itu kembali dengan selamat.
Setelah melepaskan sepatu saljunya dan menyandar­
kannya di tembok luar pondok, Cooper menatapnya
dengan pandangan aneh dan menerima kopi yang diso­
www.facebook.com/indonesiapustaka

dorkannya. ”Terima kasih.” Ia memandangi Rusty me­


lalui kepulan asap kopinya.
Sementara Cooper memegangi cangkir kopi di dekat
bibirnya, Rusty melihat bahwa bibir lelaki itu pecah­
pecah, juga tangannya merah dan kering, meski ia sela­
lu mengenakan sarung tangan kalau keluar rumah.

181
Rusty ingin menunjukkan simpatinya, tapi kemudian
mengurungkannya. Ucapan Cooper tadi pagi mem­
buatnya tidak berani menunjukkan sikap lebih hangat.
”Dapat hasil dari sungai?” tanyanya.
Cooper mengangguk ke arah bubu milik kedua
Gawrylow almarhum. ”Isinya penuh. Sisihkan beberapa
ekor untuk dibekukan, persediaan kalau aku tidak bisa
menangkap ikan lagi. Dan kita mesti mulai mengisi
wadah­wadah dengan air, berjaga­jaga kalau­kalau
pompanya membeku.”
Sambil mengangguk Rusty membawa keranjang berisi
ikan itu ke dalam. Aroma masakannya tercium harum,
dan ia bangga karenanya. Ia membuat sup daging dengan
bahan yang ditemukannya di antara persediaan makanan
kaleng kedua Gawrylow. Cooper makan dua mangkuk
penuh dan memberi pujian singkat. ”Lumayan.”

Hari­hari berlalu sebagaimana biasa. Cooper dan Rusty


melakukan bagian tugas masing­masing dan saling
membantu. Mereka sangat sopan satu sama lain. Sopan
dan menjaga jarak.
Sepanjang siang­siang yang singkat, mereka bisa me­
nyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, tapi malam­
www.facebook.com/indonesiapustaka

malam yang mereka lalui rasanya bagai tak pernah


berakhir. Malam datang lebih awal. Matahari terbenam
di balik garis pepohonan dan menudungi sekitar pon­
dok mereka dengan bayang­bayang kelam, hingga be­
kerja di luar jadi berbahaya dan mereka terpaksa masuk
ke dalam pondok.

182
begitu matahari tenggelam di cakrawala, suasana
menjadi gelap, meski sebenarnya masih sore. Setelah
makan malam dan mencuci piring, tak ada lagi yang
bisa dikerjakan. Terlalu sedikit tugas yang bisa menyi­
bukkan dan memisahkan mereka. Mereka hanya bisa
memandangi api dan menghindari untuk saling pan­
dang—ini sukar sekali dan memerlukan konsentrasi
penuh kedua belah pihak.
Salju pertama itu mencair keesokan harinya, tapi
malam sesudahnya kembali turun salju, terus hingga
pagi harinya. Karena temperatur semakin turun dan
tiupan salju semakin keras, Cooper kembali ke pondok
lebih cepat daripada biasanya, hingga malam hari itu
terasa sangat panjang.
Rusty mengawasi lelaki itu mondar­mandir di dalam
pondok, seperti macan yang terkurung. Keempat din­
ding itu membuatnya senewen dan kegelisahan Cooper
membuatnya semakin jengkel. Ketika melihat lelaki itu
menggaruk dagunya, seperti sering dilakukannya hari
ini, Rusty bertanya kesal, ”Ada apa?”
Cooper berbalik, seperti orang sedang mencari mu­
suh dan senang karena akhirnya ada yang menantang­
nya. ”Ada apa bagaimana?”
”Ada apa denganmu?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Apa maksudmu?”
”Kenapa kau terus menggaruk dagumu?”
”Gatal.”
”Gatal?”
”Janggutku sedang tumbuh.”
”Garukan­garukanmu membuatku gila,”

183
”Mada bodoh.”
”Kalau gatal, kenapa tidak bercukur saja?”
”Sebab aku tidak punya pisau cukur.”
”Aku—” Rusty menghentikan kalimatnya, sebab apa
yang hendak diucapkannya merupakan suatu pengaku­
an. Melihat mata lelaki itu menyipit curiga, akhirnya ia
berkata dengan angkuh, ”Aku punya satu. Aku memba­
wanya, dan sekarang kurasa kau senang aku memiliki­
nya.”
Rusty bangkit dari kursinya di dekat perapian dan
pergi ke rak tempat ia menyimpan perlengkapan rias­
nya. Ia sangat menjaga semua barang itu, seperti orang
kikir menjaga simpanan uang emasnya. Dibawanya pi­
sau cukur plastik sekali pakai itu pada Cooper, dan satu
benda lainnya. ”Oleskan ini di bibirmu.” Ia menyodor­
kan lip gloss itu. ”Kulihat bibirmu pecah­pecah.”
Cooper mengambil lip gloss tersebut. Tampaknya ia
ingin berkomentar, tapi kemudian mengurungkannya.
Rusty tertawa melihat betapa canggung lelaki itu meng­
oleskan lip gloss tersebut di bibir. Setelah itu Cooper
mengembalikan tabung tersebut padanya dan Rusty
memberikan pisau cukurnya. ”Silakan.”
”Terima kasih.” Cooper membolak­balik benda itu di
tangannya, mengamatinya dari berbagai sudut. ”Kau
www.facebook.com/indonesiapustaka

punya losion tangan juga, tidak?”


Rusty mengulurkan kedua tangannya yang juga tam­
pak kasar terkena air, angin, dan hawa dingin, seperti
tangan Cooper. ”Apa tangan ini kelihatannya pernah
diolesi losion tangan belakangan ini?”
Cooper tersenyum. begitu jarang lelaki itu tersenyum

184
hingga hati Rusty luluh dibuatnya. Kemudian Cooper
meraih salah satu tangan Rusty dan mengecup pung­
gung jemarinya dengan pelan.
Kumis lelaki itu menggelitik jemari Rusty, dan entah
bagaimana, tenggorokan Rusty bagai tergelitik pula.
Perutnya juga seperti bergolak.
Menyadari apa yang dilakukannya, Cooper melepas­
kan tangan gadis itu. ”besok pagi saja aku bercukur.”
Rusty tak ingin lelaki itu melepaskan tangannya. Ia
bahkan ingin menempelkannya di kumis dan bibir
Cooper. Ia ingin kumis itu menyapu telapak tangannya
yang sensitif. Jantungnya berdebar begitu keras, hingga
ia sulit berbicara. ”Kenapa tidak bercukur sekarang
saja?”
”Tidak ada cermin. Mencukur janggut pendek seba­
nyak ini, aku bisa terluka.”
”Aku bisa mencukurmu.”
Sejenak keduanya terdiam. Udara di antara mereka
penuh dengan bunga api seksual yang meletup­letup.
Rusty tidak tahu dari mana dorongan itu berasal. Tahu­
tahu muncul begitu saja dan ia menyuarakannya tanpa
berpikir. Mungkin ini karena mereka sudah berhari­hari
tidak saling menyentuh. Ia merasa diabaikan. Seperti
halnya tubuh menghendaki makanan tertentu yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkannya,


begitu pula halnya Rusty tanpa sadar telah mengekspre­
sikan keinginannya untuk menyentuh lelaki itu.
”baiklah.” Cooper mengizinkan dengan suara serak.
Merasa gugup karena usulnya diterima, Rusty berka­
cak pinggang. ”bagaimana... kalau... kalau kau duduk di

185
sini, dekat perapian? Aku akan mengambil peralatan
yang diperlukan.”
”baiklah.”
”Selipkan handuk di pakaianmu,” kata Rusty sambil
menoleh, sementara menuangkan air dari ketel tungku
ke sebuah mangkuk yang tidak terlalu dalam. Ia mena­
rik kursi ke dekat Cooper, lalu meletakkan mangkuk
dan pisau cukurnya di situ. Ia juga mengambil sabun
miliknya dari rak, dan sehelai handuk bersih.
”Sebaiknya kubasahi dulu handuk ini.” Cooper men­
celupkan handuk itu ke mangkuk air panas. ”Aduh,
sial!” makinya ketika ia mencoba memeras handuk itu.
”Airnya panas.”
”Memang.”
Dipindah­pindahkannya handuk panas itu dari satu
tangan ke tangan lain, sebelum akhirnya ditempelkan­
nya di bagian bawah wajahnya. Ia memekik ketika
handuk itu menyentuh pipinya, namun dibiarkannya di
sana. Entah bagaimana ia menahankan panasnya.
”Kau terbakar?” Tanpa mengangkat handuk itu,
Cooper mengangguk. ”Kau melakukan itu supaya helai­
helai janggutmu lebih lemas, benar?”
Kembali Cooper mengangguk. ”Aku akan menyabu­
ni wajahmu sebaik mungkin,” kata Rusty.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Dengan cermat ia memasukkan tangannya ke mang­


kuk air panas itu dan mengambil sabunnya. Cooper
mengawasi setiap gerakannya sementara Rusty menggo­
sok­gosok sabun itu di antara kedua tangannya hingga
berbusa. busa itu menyelinap di antara jemarinya dan
memberikan pemandangan yang sangat seksi di mata
Cooper, entah mengapa.

186
”Aku siap kalau kau sudah siap,” kata Rusty sambil
beranjak ke bekalang Cooper.
Perlahan­lahan Cooper menurunkan handuknya, dan
dengan perlahan­lahan pula Rusty mengangkat tangan­
nya ke wajah lelaki itu. Dari posisinya di belakang ini,
garis­garis wajah Cooper justru tampak lebih keras dan
lebih jelas. Namun ada kesan rapuh di bulu matanya,
yang membuat Rusty berani menyentuhkan telapak
tangannya ke pipi kasar lelaki itu.
Ia merasa Cooper menegang terkena sentuhannya.
Mulanya Rusty tidak menggerakkan tangannya. Dibi­
arkannya tangan itu tetap menempel di pipi Cooper,
sementara ia menunggu lelaki itu menyuruhnya me­
nyingkirkan tangannya.
Tapi percuma saja ia menunggu.
Ia mulai bertanya­tanya, siapa yang akan lebih dulu
menghentikan proses ini. Tapi Cooper tidak mengata­
kan apa­apa dan Rusty juga tidak ingin berhenti. Jadi,
ia mulai memutar­mutar tangannya di kedua pipi lelaki
itu.
Perasaan yang ditimbulkan permukaan kasar itu
pada telapak tangannya sangat menggoda. Ia mengge­
rakkan tangannya untuk meraba tulang rahang lelaki
itu, dan mendapati bahwa tulang itu sama kuat dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

kaku dengan tampak luarnya. Ada sedikit belahan pada


dagu persegi lelaki itu. Rusty menyelipkan ujung kuku­
nya ke dalam belahan tersebut, namun tidak menyeli­
dikinya selama yang diinginkannya.
Disapukannya tangannya bergantian di leher lelaki
itu, untuk meratakan busa sabunnya. Jemarinya me­

187
nyentuh jakun Cooper dan terus turun hingga ke dasar
leher, di mana ia bisa merasakan denyut nadi Cooper.
Ditariknya jemarinya kembali ke leher, lalu ke dagu, ke
bibir bawahnya, dan akhirnya ke kumisnya.
Rusty terpaku dan menarik napas dengan keras.
”Maaf,” gumamnya. Diangkatnya tangannya dan dice­
lupkannya ke air untuk membilas sabunnya. Lalu ia
membungkuk ke depan dan mengamati hasil penya­
bunannya dari sudut lain. Ada setitik sabun di bibir
bawah Cooper, dan beberapa gelambung busa menem­
pel di helai­helai pirang kumisnya.
Dengan jarinya yang basah Rusty menjentikkan titik
sabun itu dari bibir Cooper, kemudian menggosokkan
jarinya di kumis lelaki itu, sampai gelembung busa tadi
lenyap.
Sebuah suara pelan terlontar dari mulut Cooper.
Rusty terkejut, namun matanya langsung menatap mata
Cooper. ”Cepat kerjakan,” geram Cooper.
Dengan wajah setengah tertutup busa sabun mesti­
nya lelaki itu tidak mengeluarkan ancaman apa pun,
namun matanya berkilat­kilat dalam cahaya api. Rusty
dapat melihat cahayanya menari­nari dalam bola mata
itu, dan ia bisa merasakan kemarahan tertahan Cooper.
Ia pun melangkah ke belakang lelaki itu kembali, supa­
www.facebook.com/indonesiapustaka

ya lebih aman.
”Jangan sampai aku tersayat,” Cooper memperingat­
kan ketika Rusty mengangkat pisau cukur ke rahang­
nya.
”Tidak akan, asal kau tutup mulut dan tidak berge­
rak­gerak.”

188
”Kau pernah melakukan ini?”
”belum.”
”Itu yang kutakutkan.”
Ia berhenti bicara ketika Rusty mulai menyapukan
pisau cukur di pipinya. ”Sejauh ini bagus,” kata Rusty
perlahan sambil mencelupkan pisau itu ke air. Cooper
menggumamkan sesuatu tanpa menggerakkan mulut­
nya, tapi Rusty tidak menangkap ucapannya. Ia sedang
berkonsentrasi untuk mencukur sebersih mungkin
tanpa melukai kulit Cooper. Setelah bagian bawah wa­
jah lelaki itu bersih, Rusty mendesah lega dan puas.
”Sudah mulus seperti pantat bayi.”
Cooper tertawa tertahan. Rusty belum pernah men­
dengarnya tertawa geli seperti ini. biasanya lelaki itu
tertawa sinis. ”Jangan senang dulu. Tugasmu belum
selesai. Jangan lupa leherku. Dan hati­hati dengan pisau
itu.”
”Pisau ini tidak terlalu tajam.”
”Justru paling berbahaya.”
Rusty mencelupkan pisau itu ke air untuk memba­
sahinya, kemudian ia menyentuh dagu Cooper dengan
satu tangannya. ”Angkat kepalamu sedikit.”
Cooper mengangkatnya. Kepala itu sekarang ber­
sandar berat di dada Rusty. Rusty, yang sejenak tak bisa
www.facebook.com/indonesiapustaka

bergerak, masih memegangi pisau itu di atas leher


Cooper. Jakun lelaki itu bergerak menelan dengan ke­
ras. Untuk mengalihkan pikiran dari posisi mereka saat
ini, Rusty memusatkan perhatian pada tugasnya. Tapi
perkembangannya justru semakin parah. Ia mesti ber­
jinjit dan membungkuk ke depan agar bisa melihat lebih

189
baik. Ketika ia selesai mencukur bersih leher Cooper,
kepala lelaki itu tersandar di antara payudaranya dan
mereka sama­sama menyadari hal itu.
”Nah.” Rusty mundur dan menjatuhkan pisau cukur
itu, seolah benda tersebut adalah satu­satunya bukti
dalam sidang pembunuhan.
Cooper menyentakkan handuk di kerah kemejanya
dan membenamkan wajah di dalamnya. Lama ia tidak
bergerak, juga tidak menurunkan handuk itu.
”bagaimana rasanya?” tanya Rusty.
”Enak. Rasanya enak.”
Kemudian lelaki itu cepat­cepat bangkit dan melem­
parkan handuknya ke kursi. Disambarnya mantelnya
dari gantungan di dekat pintu dan dikenakannya de­
ngan tergesa­gesa.
”Mau ke mana?” tanya Rusty cemas.
”Keluar.”
”Untuk apa?”
Cooper memandanginya dengan tatapan membakar,
sementara di luar sana salju turun deras. ”Percayalah,
kau tidak ingin tahu.”

Cooper masih terus bersikap menjaga jarak, sampai si­


www.facebook.com/indonesiapustaka

ang keesokan harinya. Sepanjang pagi cuaca sangat tidak


bersahabat, baik bagi manusia maupun binatang, jadi
mereka terkurung di dalam pondok. Hampir sepanjang
waktu Cooper tidak menghiraukan Rusty, dan Rusty
pun memperlakukannya dengan sikap yang sama. Sete­
lah beberapa kali gagal mengajak lelaki itu bercakap­
cakap, Rusty menyerah dan berdiam diri.

190
Sangat melegakan ketika angin yang membawa salju
akhirnya menghentikan raungannya. Cooper mengata­
kan ia akan keluar untuk melihat­lihat. Rusty mence­
maskan keselamatannya, tapi tidak berani memintanya
untuk tetap di rumah. Mereka perlu menjauh sedikit
satu sama lain.
Lagi pula Rusty memerlukan privasi. bukan hanya
Cooper yang belakangan ini suka merasa gatal. Rusty
merasakan bekas jahitan di kakinya juga mulai menjeng­
kelkan. Kulitnya yang mulai bertaut menjadi kencang
dan kering, dan semakin terganggu oleh gesekan pakai­
an yang dikenakannya. Rusty memutuskan untuk mem­
buka benang jahitan itu. Ia akan melakukannya sendiri,
tanpa meminta bantuan Cooper, apalagi karena bela­
kangan ini hubungan mereka sangat buruk dan suasana
hati lelaki itu sering berubah­ubah tanpa bisa ditebak.
beberapa menit setelah Cooper pergi, Rusty melepas­
kan semua pakaiannya. Ia ingin menggunakan kesem­
patan ini untuk mandi sebersih mungkin. Selesai mandi,
ia duduk di depan perapian, terbungkus selimut. Diang­
katnya kakinya yang luka di atas lutut kaki satunya dan
diperiksanya. Sulitkah menggunting jahitan itu dan
menarik benangnya?
Sebelumnya pekerjaan ini pasti akan membuatnya
www.facebook.com/indonesiapustaka

ngeri, tapi sekarang tidak. Mula­mula ia mesti menemu­


kan alat untuk memotong benang sutra ini. Pisau yang
diberikan Cooper padanya terlalu mengerikan. Satu­
satunya benda yang cukup tajam dan bisa digunakan
adalah pisau cukurnya.
Kedengarannya itu merupakan gagasan bagus, na­

191
mun ketika ia memegangi pisau cukur itu di benang
pertama, siap memotongnya, ia menyadari bahwa ta­
ngannya berkeringat oleh rasa takut. Sambil menarik
napas panjang ia menyentuh benang sutra itu dengan
pisaunya.
Pintu mendadak terbuka dan Cooper melangkah
masuk dalam sepatu saljunya. Kepalanya tertutup kulit
binatang, dan dari kepala sampai ke kaki tubuhnya
tertutup rapat. Napasnya membeku di kumisnya, mem­
buat kumis itu tampak putih. Rusty terpekik kaget dan
sesaat merasa takut.
Tapi Cooper jauh lebih terkejut daripada Rusty. Di
matanya, gadis itu seperti menyajikan sebuah peman­
dangan supernatural. Dalam posisi duduk demikian di
depan perapian, cahaya api bersinar menembus rambut­
nya. Satu kakinya terangkat, menampakkan belahan paha
telanjang yang menggiurkan. Selimut yang disampirkan­
nya di bahu setelah mandi tadi sudah jatuh dari bahunya,
menampakkan hampir keseluruhan salah satu payudara­
nya. Sementara mata Cooper terpaku pada dadanya,
Rusty merasa puncak payudaranya menegang oleh em­
busan udara dingin yang masuk ketika pintu dibuka.
Cooper menutup pintu. ”Sedang apa kau duduk se­
perti itu?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Kukira kau akan pergi lebih lama.”


”bagaimana kalau orang lain yang masuk?” raung
Cooper.
”Siapa?”
”Misalnya... misalnya...”
Sial, ia tak bisa memikirkan siapa yang mungkin

192
akan masuk dengan mendadak seperti dirinya tadi,
tanpa pernah mengira akan menemukan pemandangan
seperti ini di dalam pondok reyot di hutan pedalaman
Kanada ini. Cooper merasa gairahnya bangkit. Entah
perempuan ini tidak menyadari efek yang ditimbulkan­
nya, atau ia tahu namun sengaja menggunakannya un­
tuk membuat Cooper sinting perlahan­lahan. Pokoknya
akibatnya sama saja.
Dengan kesal Cooper menarik bulu binatang yang
menutupi kepalanya dan mengguncang­guncangnya dari
butiran salju. berikutnya sarung tangannya, lalu ikatan
sepatu saljunya. ”Kembali pada pertanyaanku tadi, kau
sedang apa?”
”Membuka jahitanku.”
Cooper melemparkan mantelnya ke paku gantungan.
”Apa?”
Pembawaannya yang angkuh dan maskulin bagaikan
batu penggilingan yang menggilas Rusty. belum lagi
nada superior dalam suaranya. Rusty menatap mata
lelaki itu lekat­lekat. ”Rasanya gatal. Lukanya sudah
menutup. Sudah waktunya jahitan ini dibuka.”
”Dan kau menggunakan pisau cukur?”
”Habis, apa lagi?”
Cooper melintasi ruangan dalam tiga langkah marah
www.facebook.com/indonesiapustaka

sambil menarik pisau berburunya dari sarungnya. Keti­


ka ia berlutut di hadapan Rusty, gadis itu meringkuk
dan menutupi tubuhnya rapat­rapat dengan selimut.
”Kau tidak bisa menggunakan itu!”
Dengan ekspresi menakutkan Cooper membuka ga­
gang pisaunya dan mengeluarkan beberapa bagian tam­
bahan yang baru saat itu dilihat Rusty. Di antaranya

193
ada sebuah gunting kecil. Melihat gunting itu, Rusty
sangat marah. ”Kalau kau punya gunting, kenapa kau
memotong kukuku dengan pisau berburumu itu?”
”Aku sedang ingin pakai pisau. Kemarikan kakimu.”
Cooper mengulurkan tangannya.
”biar aku saja.”
”Kemarikan kakimu.” Cooper mengucapkan kalimat
itu dengan jelas sambil melotot marah pada Rusty.
”Kalau kau tidak mau, aku sendiri yang akan menarik­
nya dari balik selimut itu.” Kemudian suaranya meme­
lan dan jadi bernada merayu, ”Siapa tahu apa yang ba­
kal kulihat di dalam sana.”
Dengan marah Rusty menjulurkan kakinya dari ba­
wah selimut. ”Terima kasih,” kata Cooper sinis.
”Kumismu meleleh di kakiku.”
Salju di kumis lelaki itu mencair dan Cooper menye­
kanya dengan lengan pakaian, tanpa melepaskan kaki
Rusty. Kaki itu tampak kecil dan pucat di tangannya
yang besar. Rusty menyukai perasaan itu, namun ia
berusaha untuk tidak menikmatinya. Dengan tidak rela
ia membiarkan Cooper meletakkan kakinya di antara
kedua paha lelaki itu. Rusty terkesiap merasakan apa
yang tersentuh oleh lekuk telapak kakinya.
Cooper menatap sinis. ”Ada apa?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Lelaki ini memancingnya untuk mengucapkan kata


itu. Ia lebih suka mati saja daripada membiarkan lelaki
itu tahu bahwa ia merasakannya. ”Tidak apa­apa,” kata
Rusty tak peduli. ”Tanganmu dingin. Itu saja.”
Kilatan di mata lelaki itu menunjukkan bahwa
Cooper tahu dia berbohong. Sambil tersenyum lebar
Cooper menunduk dan mulai menggunting benang

194
bekas jahitan tersebut. Tidak sulit sama sekali. Rusty
merasa ia bisa melakukannya dengan mudah. Tapi
ketika Cooper mengambil sebuah penjepit kecil dan
menjepit benang pertama yang sudah terpotong, Rusty
merasa ngeri.
”Tidak sakit, hanya seperti tersengat sedikit,” kata
Cooper. Ia menarik benang itu dengan cepat. Secara
releks Rusty membuat gerakan menahan dengan kaki­
nya.
”Aduh,” erang Cooper. ”Jangan begitu!”
Tentu saja ia tidak sengaja. Mulai saat ini ia akan
menahan agar kakinya tetap diam, meski seandainya
lelaki ini akan membuka benang­benangnya dengan
giginya.
Setelah semua bekas jahitan dilepas, Rusty menangis
untuk melampiaskan ketegangan dan kecemasannya.
Cooper sudah melakukan tugasnya selembut mungkin
dan Rusty merasa berterima kasih, tapi peristiwa tadi
sama sekali tidak menyenangkan. Diletakkannya satu
tangannya di bahu Cooper. ”Terima kasih, Cooper.”
Cooper cuma angkat bahu tak acuh. ”berpakaianlah.
Dan cepat siapkan makan malam,” perintahnya dengan
kekasaran manusia gua. ”Aku sudah lapar.”
Tak lama sesudahnya, ia mulai bermabuk­mabukan.
www.facebook.com/indonesiapustaka

195
9

bOTOL­bOTOL berisi wiski itu ada di antara bahan­


bahan persediaan kedua Gawrylow. Cooper menemu­
kannya ketika sedang membersihkan pondok. Ia menji­
lat bibirnya dengan senang ketika melihat peti­peti itu.
Kemudian ia menenggak seteguk besar dan menelannya
tanpa merasakan lebih dulu. Cairan itu bagaikan mele­
dak di perutnya, membakar isinya seperti meteor.
Rusty tertawa terbahak­bahak melihat ia terbatuk­
batuk dan terengah­engah, tapi Cooper sendiri tidak
merasa hal itu lucu. Setelah bisa berbicara kembali,
dengan galak ia memberitahu Rusty bahwa apa yang
dialaminya itu sama sekali tidak lucu. Usus­ususnya
seperti terpanggang, katanya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Setelah itu ia tak pernah menyentuh botol­botol


wiski tersebut. Sampai beberapa waktu kemudian. Dan
kali ini tidak ada yang lucu dalam cara ia meminumnya.
Setelah membesarkan api, Cooper membuka tutup
salah satu botol. Rusty terperanjat, namun tidak menga­
takan apa­apa ketika melihat lelaki itu mulai menenggak

196
isi botol perlahan­lahan. berhenti sebentar, lalu me­
nenggak lagi. Mulanya Rusty mengira ia minum hanya
untuk membuat tubuhnya hangat. Tadi lelaki itu kelu­
ar pondok sebentar, tapi ketika masuk lagi, kumisnya
sudah membeku. Jelas ia kedinginan hingga ke tulang.
Namun dengan segera alasan kedinginan itu tidak
berlaku lagi. Cooper tidak berhenti minum setelah dua
tegukan itu. Ia membawa botol tersebut ke kursi di
depan perapian dan minum cukup banyak sampai saat
Rusty memanggilnya untuk makan. Dengan kesal ia
melihat lelaki itu membawa botol tersebut ke meja dan
menuangkan isinya ke dalam gelas kopi. Sesekali
Cooper meneguk minumannya sambil makan masakan
daging kelinci yang dibuat Rusty.
Rusty mempertimbangkan untuk menegur lelaki itu
karena terlalu banyak minum. Tapi ia ragu­ragu setelah
melihat Cooper masih terus dan terus minum. Ia men­
jadi gelisah.
bagaimana kalau lelaki itu pingsan? Terpaksa Cooper
mesti tergeletak di tempat ia jatuh, sebab Rusty tak
akan kuat mengangkatnya. Rusty masih ingat, betapa
sulitnya dulu ia menyeret Cooper keluar dari bangkai
pesawat. Ketika itu sebagian besar tenaganya timbul
karena kepanikan. bagaimana kalau nanti Cooper pergi
www.facebook.com/indonesiapustaka

ke luar dan tersesat di hutan? berbagai kemungkinan


mengerikan terlintas di benaknya.
Akhirnya Rusty berkata, ”Kukira kau tidak sanggup
minum wiski itu.”
Cooper keliru menafsirkan teguran Rusty sebagai
cemoohan. ”Menurutmu aku kurang jantan?”

197
”Apa?” Rusty bertanya bingung. ”Tidak, bukan begi­
tu maksudku. Aku cuma mengira kau tidak suka de­
ngan rasa wiski itu.”
”Aku minum bukan karena aku suka rasanya, tapi
karena sudah tidak ada lagi yang enak di sini. Cuma ini
yang tersisa.”
Dia sudah gatal ingin mencari masalah. Rusty bisa
membaca tantangan itu di matanya, dan dalam nada
suaranya yang ketus, dan Rusty tidak berniat meladeni
lelaki itu. Ia tak mau memancing­mancing kemarahan
Cooper. Itu saja saja dengan mengibarkan bendera me­
rah di depan banteng yang sudah siap menyerang.
Dalam keadaan seperti itu, lebih baik Cooper dibiar­
kan, meski sulit sekali bagi Rusty untuk tetap berdiam
diri. Ia ingin sekali mengatakan betapa bodohnya mi­
num sesuatu yang tidak disukai, hanya karena ingin
mabuk.
Kelihatannya memang itulah yang diinginkan
Cooper. Ia hampir membuat kursinya terbalik ketika ia
memundurkannya dari depan meja. Hanya gerak
releksnya yang sangat cepatlah yang mencegah kursi itu
terbanting ke lantai. Ia beranjak ke perapian. Di situ ia
kembali minum tanpa bicara, sementara Rusty member­
sihkan piring­piring bekas makan mereka.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Setelah selesai dengan piring­piring itu, Rusty me­


nyapu lantai, sekadar untuk menyibukkan diri, bukan
karena lantainya kotor. Entah bagaimana, ia mulai
bangga atas keberhasilannya menjaga kebersihan pon­
dok itu.
Akhirnya ia kehabisan pekerjaan. Ia berdiri di tengah

198
ruangan, sambil berpikir apa lagi yang mesti dilakukan.
Cooper duduk membungkuk di kursinya sambil mena­
tap perapian dengan murung dan terus minum. Rusty
merasa yang terbaik adalah ia menjauh dari lelaki itu,
tapi sayangnya pondok tersebut hanya terdiri atas satu
ruangan. berjalan­jalan keluar tidaklah mungkin. Satu­
satunya pilihan adalah tidur, meski sebenarnya ia sama
sekali tidak mengantuk.
”Aku... kurasa aku mau tidur sekarang, Cooper. Se­
lamat malam.”
”Duduk.”
Rusty berhenti melangkah. bukan karena ucapan
lelaki itu, tapi karena cara bicaranya. Ia lebih suka dipe­
rintah dengan keras daripada dengan nada pelan penuh
ancaman seperti itu.
Ia menoleh ke arah Cooper dengan penuh tanda tanya.
”Duduk,” ulang lelaki itu.
”Aku mau—”
”Duduk.”
Kekasaran lelaki itu membuat Rusty ingin memban­
tah, tapi ia menahan diri. Ia tidak mau diinjak­injak,
tapi ia juga tidak bodoh. Hanya orang tolol yang akan
melawan Cooper dalam keadaan seperti ini. Dengan
menahan amarah Rusty duduk di kursi, berhadapan
www.facebook.com/indonesiapustaka

dengan lelaki itu. ”Kau mabuk.”


”benar sekali.”
”bagus. Silakan bersikap konyol. Silakan memperma­
lukan dirimu sendiri. Aku tidak peduli. Tapi keadaan­
mu memalukan untuk ditonton. Jadi, kalau kau tidak
keberatan, aku mau tidur saja.”

199
”Aku keberatan. Tetap di tempatmu.”
”Kenapa? Apa bedanya? Apa yang kauinginkan?”
Cooper meneguk isi cangkirnya sambil mengamati
Rusty dari tepi cangkir tersebut. ”Mumpung aku ma­
buk, aku mau duduk di sini, memandangimu, dan
membayangkanmu...” Ia minum lagi, lalu melanjutkan
kalimatnya sambil beserdawa keras, ”...telanjang.”
Rusty melompat bangkit dari kursinya, seperti dido­
rong oleh pegas. Tapi, meski mabuk, releks Cooper
tidak berkurang. Lengannya terulur mencengkeram le­
ngan pakaian Rusty dan menariknya kembali ke kursi.
”Kubilang tetap di tempatmu!”
”Lepaskan aku!” Rusty menarik tangannya. Sekarang
ia bukan hanya marah, tapi juga takut. Ini bukan seka­
dar canda atau kekonyolan orang mabuk. Dicobanya
meyakinkan diri bahwa Cooper tidak akan menyakiti­
nya. Tapi bagaimana mungkin ia bisa memastikan hal
itu? Mungkin minuman keras itu merupakan pencetus
kekerasan yang ada dalam diri Cooper yang selama ini
terkendali. ”Jangan ganggu aku,” kata Rusty membera­
nikan diri.
”Aku tidak berniat menyentuhmu.”
”Lalu kau mau apa?”
”Sebut saja ini semacam... pemuasan diri yang ke­
www.facebook.com/indonesiapustaka

jam.” Kelopak mata lelaki itu mengarah ke satu titik


dengan penuh arti. ”Aku yakin kau bisa mencarikan
istilah yang tepat untuk itu.”
Wajah Rusty merah padam karena malu. ”Aku tahu
sebutan yang tepat untukmu. Malah aku punya bebe­
rapa.”

200
Cooper tertawa. ”Simpan saja. Aku sudah mendengar
semuanya.” Ia meneguk isi cangkirnya lagi. ”Daripada
memikirkan sebutan­sebutan kotor untukku, lebih baik
kita bicara tentang dirimu saja. Rambutmu, misalnya.”
Rusty menyilangkan lengan di perutnya dan menatap
langit­langit dengan ekspresi bosan.
”Kau tahu apa yang kupikirkan ketika pertama kali
melihat rambutmu?” Cooper tidak memedulikan keti­
dakacuhan Rusty serta penolakan gadis itu untuk men­
jawab. Ia mencondongkan tubuh ke depan dan berbisik,
”Aku membayangkan betapa nikmatnya kalau rambut
itu menyapu perutku.”
Rusty berpaling dengan cepat ke arahnya. Mata lela­
ki itu berkaca­kaca. bukan semata­mata karena minum­
an keras. bagian tengah bola mata yang gelap itu berki­
lat­kilat membara. Suaranya pun sekarang jernih,
kalimat­kalimatnya tidak lamban terseret. Tak mungkin
salah mengartikan ucapannya.
”Kau berdiri di tarmak, di bawah cahaya matahari.
Kau bercakap­cakap dengan seorang lelaki... ayahmu.
Tapi waktu itu aku tidak tahu bahwa dia ayahmu. Ku­
lihat kau memeluknya dan mengecup pipinya. Aku
berpikir, ’bedebah tua beruntung itu tahu rasanya me­
main­mainkan rambutnya di tempat tidur.’”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Jangan diteruskan, Cooper!” Rusty mengepalkan


kedua tangan. Ia duduk tegak dan tegang, seperti roket
yang siap diluncurkan.
”Ketika kau naik ke pesawat, aku ingin mengulurkan
tangan untuk menyentuh rambutmu. Aku ingin men­
cengkeramnya, lalu menggerakkan kepalamu di tubuh­
ku.”

201
”Hentikan!”
Lelaki itu berhenti bicara dan dengan cepat meneng­
gak lagi wiskinya. Matanya semakin gelap dan jahat.
”Kau senang mendengarnya, bukan?”
”Tidak!”
”Kau senang mengetahui efek yang kautimbulkan
terhadap laki­laki.”
”Kau salah! Sangat keliru! Aku merasa sangat tidak
enak menjadi satu­satunya penumpang wanita di pesa­
wat itu.”
Cooper mengeluarkan makian kotor dan minum lagi.
”bagaimana dengan tadi itu?”
”Tadi? Kapan?”
Cooper meletakkan cangkirnya tanpa menumpahkan
isinya setetes pun. Releks dan kendalinya atas gerakan
tubuhnya masih tetap bagus. Ia sangat menyebalkan
dan jahat jika sedang mabuk, tapi ia tidak berantakan.
Ia mencondongkan tubuh ke depan, hingga wajahnya
dekat sekali dengan wajah Rusty.
”Ketika aku masuk dan mendapatimu telanjang di
balik selimut.”
”Itu tidak disengaja. Aku salah duga. Aku tidak tahu
kau akan kembali secepat itu. biasanya kau pergi ber­
jam­jam. Itu sebabnya aku memutuskan untuk mandi
www.facebook.com/indonesiapustaka

sementara kau pergi.”


”begitu masuk ke dalam pondok, aku langsung tahu
bahwa kau habis mandi,” kata Cooper dengan suara
berat bergetar. ”Aku bisa mencium aroma sabun di
kulitmu.” Matanya menyapu seluruh tubuh Rusty, seo­
lah­olah yang dilihatnya adalah kulit yang telanjang,

202
meski kenyataannya Rusty mengenakan sweter tebal
yang berat. ”Kau menghadiahiku pemandangan atas
payudaramu, bukan?”
”Tidak!”
”bohong!”
”Tidak! Ketika menyadari bahwa selimutku terlepas,
aku-”
”Sudah terlambat. Aku melihatnya. Puncak payuda­
ramu...”
Rusty menarik napas pendek­pendek beberapa kali.
Percakapan konyol ini menimbulkan pengaruh yang
aneh terhadap dirinya. ”Jangan diteruskan. Kita sudah
janji untuk tidak saling berbicara kasar.”
”Aku tidak berbicara kasar. Pada diriku sendiri,
mungkin, tapi tidak padamu.”
”Kau kasar padaku. Sudahlah, Cooper, hentikanlah.
Kau tidak tahu—”
”Apa katamu? Aku sadar. Aku tahu persis apa yang
kuucapkan.” Ia menatap mata Rusty lekat­lekat. ”Aku
bisa menciumimu selama seminggu tanpa merasa bosan.”
Suaranya hanya berupa bisikan serak, akibat penga­
ruh wiski, namun Rusty mendengar kata­katanya, dan
kata­kata itu memengaruhinya. Ia menjadi limbung.
Sambil mengerang pelan dipejamkannya kedua mata­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nya, dengan harapan bisa mengenyahkan kata­kata


tersebut serta bayangan­bayangan yang ditimbulkannya.
Lidah lelaki itu bergerak menelusuri tubuhnya, lembut,
halus dan penuh gairah, kasar dan menggemaskan.
Cepat­cepat ia membuka mata dan melotot marah.
”Jangan berani­berani bicara seperti itu padaku!”

203
”Kenapa tidak?”
”Aku tidak suka mendengarnya.”
Lelaki itu tersenyum puas, tak percaya. ”Kau tidak
suka mendengar aku mengatakan bahwa aku sangat
ingin menyentuhmu? Setiap malam aku berbaring men­
dengar bunyi napasmu, dan aku ingin-”
”Hentikan!” Rusty melompat bangkit dari kursinya
dan berjalan cepat melewati lelaki itu, berusaha untuk
keluar dari pintu. Ia lebih suka menahan udara dingin
mengigit di luar sana daripada berada bersama lelaki ini
di sini.
Tapi Cooper terlalu gesit. Sebelum Rusty sempat
mengayunkan kaki lebih dari dua langkah, lelaki itu
sudah menariknya dan memeluknya erat­erat. Ia mem­
bungkuk di atas Rusty, napasnya mengembus panas di
wajah gadis itu.
”Kalau aku ditakdirkan untuk terdampar di tempat
sialan ini, kenapa justru harus dengan perempuan seper­
ti kau, hah?” Ia mengguncang­guncang tubuh Rusty
sedikit, seolah mengharapkan penjelasan yang masuk
akal. ”Kenapa kau begitu cantik dan seksi, dengan bibir
yang diciptakan untuk menggoda laki­laki?”
Rusty menggeliat­geliat, berusaha melepaskan diri.
”Aku tidak mau dengar! Lepaskan aku!”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Kenapa aku tidak terdampar bersama perempuan


yang jelek tapi penurut? Perempuan yang bisa mene­
maniku di tempat tidur dan tidak akan pernah kusesali?
Seseorang yang akan berterima kasih atas perhatian
yang kuberikan. bukan perempuan dangkal yang suka
menggoda lelaki. bukan perempuan dari kelas atas.
bukan kau!”

204
”Kuperingatkan, Cooper!” Sambil mengertakkan gigi,
Rusty meronta­ronta dalam cengkeraman lelaki itu.
”Seseorang yang tidak terlalu menarik, tapi berguna.
Perempuan yang bisa memasak.” Ia tersenyum jahat.
”Aku berani bertaruh kau juga bisa masak. Di tempat
tidur. Di situlah kau melakukannya. Aku yakin di situ­
lah kau bisa menghidangkan masakan­masakan ter­
baikmu.”
Ia mencengkeram pinggul Rusty dan menyentakkan­
nya rapat ke tubuhnya sendiri.
”Apa kau senang mengetahui pengaruh yang kautim­
bulkan pada diriku?”
Rusty terkesiap saat merasakan bukti gairah lelaki
itu. Ia mencengkeram pundak Cooper untuk berpegang­
an. Matanya berserobok dengan mata lelaki itu dan
sesaat tertahan di sana.
Lalu Rusty mengalihkan pandang dan mendorong
Cooper. Ia benci dengan perlakuan lelaki itu, tapi juga
malu akan reaksinya sendiri terhadap segala ucapan
Cooper. Memang reaksi itu hanya timbul sejenak, tapi
bisa membahayakan.
”Jangan dekat­dekat aku!” kata Rusty dengan suara
gemetar namun tegas. ”Aku tidak main­main. Kalau
kau masih menggangguku, aku akan melawan dengan
www.facebook.com/indonesiapustaka

pisau yang kauberikan padaku itu. Kau dengar? Jangan


coba­coba menyentuhku lagi!” Ia melewati lelaki itu dan
mengempaskan diri ke tempat tidur, menelungkupkan
wajahnya yang panas di seprai yang kasar.
Cooper masih berdiri di tengah ruangan. Ia menga­
cak­acak rambutnya yang panjang dengan dua tangan,

205
menyibakkannya dari wajahnya. Lalu ia kembali duduk
di depan perapian dan mengambil botol wiski serta
cangkirnya.
Ketika Rusty memberanikan diri menoleh ke arah­
nya, dilihatnya lelaki itu masih duduk meneguk wiski
dengan muram.

Keesokan harinya Rusty panik ketika melihat tempat


tidur satunya tidak menampakkan bekas­bekas ditiduri.
Apa Cooper keluar dari pondok malam­malam? Apakah
ada sesuatu yang menimpanya? Rusty menyibakkan
selimutnya dan berlari ke pintu, lalu membukanya.
Ia bersandar lemas dan lega setelah melihat Cooper.
Lelaki itu sedang membelah kayu. Langit cerah. Mata­
hari bersinar. batang­batang es yang semalam menggan­
tung di atap pondok sekarang mulai menetes. Suhu ti­
dak terlalu rendah. Cooper bahkan tidak mengenakan
mantelnya. bagian belakang kemejanya tidak dimasuk­
kan, dan ketika ia membalikkan tubuh, Rusty baru
melihat bahwa kemejanya tidak dikancingkan.
Cooper melihatnya, tapi tidak mengatakan apa­apa.
Lelaki itu terus saja melemparkan kayu­kayu yang su­
dah dipotong ke tumpukan di dekat beranda. Wajahnya
www.facebook.com/indonesiapustaka

tampak kuyu, dan di bawah sepasang matanya ada


lingkaran­lingkaran kelelahan.
Rusty masuk kembali ke pondok. Pintu dibiarkannya
terbuka, supaya udara segar masuk. Hawa masih dingin,
tapi sinar matahari terasa menyegarkan, seolah menge­
nyahkan kemuraman yang menyelubungi bagian dalam
pondok.

206
Cepat­cepat Rusty mencuci muka dan menyikat
rambutnya. Api di tungku sudah mati sama sekali, tapi
sekarang ia sudah mahir menambahkan kayu bakar dan
menyalakannya. Dalam beberapa menit saja ia sudah
berhasil membuat api yang cukup besar untuk merebus
air dan menyeduh kopi.
Hari ini ia membuka sekaleng daging panggang,
mengirisnya tipis­tipis, dan menggorengnya. Aroma
harum masakan itu membuatnya meneteskan air liur.
Ia berharap masakannya bisa membangkitkan selera
Cooper. Dan sebagai ganti oatmeal, ia memasak nasi.
Sayang sekali tidak ada margarin, jadi sebagai gantinya
ia menggunakan tetesan daging panggang di atas nasi,
dan hasilnya sungguh luar biasa.
Dengan royal ia juga membuka sekaleng peach, me­
nuangnya di mangkuk, dan menghidangkannya di meja
bersama makanan lainnya. Ia tidak mendengar suara
kayu dibelah lagi, jadi ia mengambil kesimpulan bahwa
tak lama lagi Cooper akan masuk.
benar juga. Cooper masuk tak lama kemudian. Lang­
kahnya jelas tampak lebih canggung daripada biasa.
Sementara ia mencuci tangan, Rusty mengambil dua
butir aspirin dari kotak P3K dan meletakkannya di
samping piring lelaki itu.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper memandangi aspirin itu, lalu meminumnya


dengan segelas air. ”Terima kasih.” Dengan agak ragu ia
duduk di kursinya.
”Sama­sama.” Rusty berusaha menahan tawanya
melihat gerakan lelaki itu. Jelas tampak bahwa Cooper
mengalami pening berat akibat mabuk semalam. Rusty

207
menuangkan secangkir kopi pahit dan mengulurkannya
padanya. Cooper mengambil cangkir itu dengan tangan
gemetar. Kegiatan membelah kayu tadi rupanya ia laku­
kan sebagai cara untuk menghukum diri sendiri karena
mabuk berat semalam. Rusty senang Cooper tidak ce­
laka ketika membelah kayu itu.
”bagaimana perasaanmu?”
Tanpa menggerakkan kepala, Cooper meliriknya.
”bulu mataku sakit.”
Rusty menahan senyumnya lagi. Ia juga berusaha
menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan ke sebe­
rang meja dan menyibakkan rambut Cooper yang me­
nutupi dahi. ”Kau bisa makan?”
”Kurasa bisa. Mestinya bisa. Aku muntah­muntah
lama sekali tadi. Rasanya yang tersisa cuma lapisan pe­
rutku.”
Cooper duduk dengan bahu membungkuk, kedua
tangannya bertelekan hati­hati di kedua sisi piringnya,
sementara Rusty memotongkan daging panggang kecil­
kecil untuknya, lalu menaruhnya di piringnya. Sambil
menarik napas panjang Cooper mengambil garpunya
dan makan sedikit. Setelah yakin ia tidak akan memun­
tahkannya, ia makan lagi, dan lagi, dan tak lama kemu­
dian ia sudah bisa makan normal.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Enak,” katanya setelah diam beberapa saat.


”Terima kasih. Lebih baik daripada oatmeal.”
”Yeah.”
”Kurasa cuaca sudah jauh lebih hangat.”
Rusty mengatakan itu karena melihat bulu di dada
Cooper tampak basah oleh keringat, akibat kegiatannya

208
di luar tadi. Cooper telah mengancingkan hampir semua
kancing kemejanya sebelum duduk untuk makan, tapi
Rusty masih bisa melihat sedikit ke dada di balik keme­
ja itu.
”Kalau kita beruntung, cuaca akan terus hangat sela­
ma beberapa hari, sebelum badai berikutnya datang.”
”bagus sekali.”
”Hmm. banyak yang bisa kukerjakan di sini.”
belum pernah mereka bercakap­cakap tanpa tujuan
seperti ini. Obrolan tanpa arti seperti ini terasa lebih
canggung daripada perdebatan mereka selama ini, jadi
mereka menghentikannya. Dalam keheningan yang
menyusul kemudian, mereka bisa mendengar bunyi te­
tesan air dari bongkah­bongkah es di luar. Mereka
menghabiskan makanan, lalu minum kopi lagi.
Ketika Rusty berdiri untuk membersihkan meja,
Cooper berkata, ”Kurasa aspirin itu sangat membantu.
Sakit kepalaku hampir lenyap.”
”Aku senang.”
Cooper berdeham keras dan mempermainkan pisau
serta garpu di piringnya yang sudah kosong. ”Ehm...
tentang semalam itu... aku tidak punya alasan apa pun
untuk membenarkan kelakuanku.”
Rusty tersenyum penuh pengertian padanya. ”Kalau
www.facebook.com/indonesiapustaka

aku tahan dengan rasa wiski itu, aku sendiri mungkin


akan ikut mabuk. Sejak kecelakaan pesawat itu, berkali­
kali aku ingin melepaskan diri dengan cara demikian.
Kau tak perlu minta maaf.”
Rusty hendak mengambil piring Cooper. Lelaki itu
meraih tangannya. Gerakannya tidak yakin, ragu­ragu,

209
sangat berbeda dari gayanya selama ini. ”Aku ingin
minta maaf padamu atas apa yang kuucapkan semalam.”
Sambil memandangi puncak kepala lelaki itu, Rusty
berkata pelan, ”Apa kau sungguh­sungguh dengan ucap­
anmu itu semalam, Cooper?”
Rusty sadar betul dengan apa yang dilakukannya. Ia
mengundang lelaki ini untuk bercinta dengannya. Ia
menginginkannya. Tak ada gunanya membodohi diri­
nya lebih lanjut. Lelaki ini sangat menarik minatnya,
dan tampaknya bukan hanya ia yang merasakan ini.
Mereka tidak akan bisa mempertahankan kewarasan
mereka kalau kebutuhan isik ini tidak dipuaskan. bisa
saja mereka melewati musim dingin tanpa menjadi ke­
kasih, tapi saat musim semi nanti mereka akan menjadi
sepasang maniak sinting. Kebutuhan isik ini, meski
kelihatannya tidak masuk akal, takkan bisa ditekan lagi.
Dalam keadaan biasa, mereka tak mungkin menjalin
hubungan. Tapi keadaan mereka saat ini jauh dari bia­
sa. Sangat tidak praktis untuk mempertimbangkan
apakah mereka banyak memiliki persamaan. Semua itu
tidak menjadi masalah. Yang sangat penting saat ini
adalah kebutuhan dasar manusia untuk berdekatan
dengan lawan jenisnya.
Cooper mengangkat kepala perlahan­lahan. ”Apa
www.facebook.com/indonesiapustaka

katamu?”
”Aku tanya apa kau serius dengan ucapanmu sema­
lam?”
Mata lelaki itu sama sekali tidak mengerjap. ”Ya, aku
sungguh­sungguh.”
Ia jenis orang yang akan bertindak, bukan hanya bi­

210
cara. Ia mengulurkan tangan dan meraih leher Rusty,
lalu menariknya mendekat untuk dicium. Mulutnya
mengeluarkan suara seperti suara binatang liar ketika ia
membuka bibir gadis itu dengan bibirnya. Rusty me­
nyambutnya.
Cooper bangkit berdiri, tersandung, dan berusaha
mempertahankan keseimbangan. Kali ini kursinya ter­
jungkal ke belakang dan mendarat di lantai dengan
suara keras. Namun keduanya tidak memperhatikan.
Cooper merangkul pinggang Rusty, sementara Rusty
merangkul lehernya. Cooper menarik tubuh gadis itu
rapat ke tubuhnya.
”Oh!” bibirnya berpindah dari bibir Rusty ke leher
gadis itu. Jemarinya menyelinap di antara rambut Rusty,
menyisirinya dan mempermainkannya di antara jemari­
nya. Lalu ditariknya kepala menjauh dan ditatapnya wa­
jahnya dengan penuh gairah. Rusty membalas tatapan
lelaki itu tanpa malu­malu. ”Cium aku lagi, Cooper.”
Lelaki itu kembali menciumnya dengan penuh kerin­
duan, hingga Rusty terengah­engah. Sementara itu, ta­
ngan Cooper sibuk melepaskan kancing dan ritsleting
celana panjang Rusty. Rusty mengira akan ada penda­
huluan, tapi ia tidak menyesal bahwa ternyata tidak ada.
Kelancangan dan ketidaksabaran lelaki itu merupakan
www.facebook.com/indonesiapustaka

daya pikat yang ampuh, yang melepaskan letupan­letup­


an gairah yang ada jauh di dalam dirinya.
Cooper menggumamkan kata­kata umpatan yang
justru terdengar menggairahkan, karena menggambar­
kan secara eksplisit kadar gairah yang ia rasakan.
Entah siapa yang bergerak lebih dulu. Mungkin ke­

211
duanya bersama­sama. Rusty mengerang bahagia sambil
menengadahkan kepala. Cooper mengecup lehernya dan
menggerakkan bibir ke payudaranya, meski Rusty masih
mengenakan sweternya.
Namun, sesungguhnya tak perlu permainan berlama­
lama. Tak ada yang dapat membuat gairah mereka
memuncak melebihi saat ini. Dan tak ada pilihan lain
bagi keduanya.

”Kau wanita yang sangat cantik.”


Rusty menengadah menatap kekasihnya. Satu le­
ngannya terlipat di bawah kepala, satunya lagi terulur
menyentuh bahu Cooper. Posenya sangat mengundang.
Memang itulah yang diinginkannya. Ia tak peduli bah­
wa payudaranya terpapar dan mengundang. Ia ingin
memperlihatkannya pada lelaki itu. Ia senang melihat
mata lelaki itu menjadi sayu setiap kali melihatnya.
Mungkin selama ini apa yang dikatakan Cooper be­
nar. Ia tidak begitu memedulikan kesopanan sejak
pertama kali mereka bertemu. Mungkin ia sengaja ber­
sikap mengundang karena sejak awal ia sudah meng­
inginkan lelaki itu. Ia menginginkan ini... keintiman
santai yang memuaskan setelah bercinta.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Menurutmu aku cantik?” tanya Rusty manja, sambil


menyapukan jemari di rambut lelaki itu dan tersenyum,
seperti kucing yang kenyang oleh makanan enak.
”Ya.”
”Kau tidak perlu mengucapkannya dengan marah.”
Cooper menelusurkan jemari di antara rusuk Rusty,

212
terus hingga ke pusarnya. ”Tapi aku memang marah.
Aku tidak mau menyerah pada pesonamu. Tapi aku
kalah karena gairahku sendiri.”
”Aku justru senang.” Rusty mengangkat kepala dan
mengecup lembut bibir Cooper.
Cooper mempermainkan ujung­ujung jarinya di pu­
sar Rusty. ”Untuk saat ini, aku juga merasakan hal yang
sama.”
Rusty tidak puas dengan pernyataan itu. ”Kenapa
hanya untuk saat ini?”
Tadi mereka melepaskan pakaian dengan cepat dan
menggelar kasur di depan perapian. Sekarang Rusty
berbaring telanjang di atas tumpukan selimut bulu,
rambutnya yang kemerahan kusut, bibirnya merah
muda dan lembap, sementara matanya sayu kelelahan
setelah bercinta. Ia tampak seperti wanita yang dihadi­
ahkan bagi seorang panglima perang yang menang da­
lam pertempuran. biasanya Cooper tak pernah punya
pikiran romantis demikian, maka bayangan ini membu­
atnya tersenyum tanpa sadar.
Diamatinya tubuh yang menggiurkan itu. ”Tidak
kenapa­kenapa.”
”Katakan.”
”Ini ada kaitannya dengan kau dan aku, tentang siapa
www.facebook.com/indonesiapustaka

kita. Tapi aku tak ingin membicarakannya sekarang.” Ia


membungkuk dan mengecup Rusty lagi dan mendesah
senang. ”Tahukah kau bahwa kau sangat kecil?” bisik­
nya.
”Aku?”
”Ya.”

213
”Karena aku belum berpengalaman.”
Cooper memandanginya dengan tak percaya, tapi
wajah gadis itu tampak polos. Cepat­cepat ia bertanya,
”Sudah berapa sering?”
”Tidak sopan bertanya begitu.”
”berapa sering?”
Rusty menimbang­nimbang, apakah akan menjawab.
Akhirnya, sambil mengalihkan pandangan ia berkata
pelan, ”Kurang dari lima jari tanganku.”
”Dalam setahun?”
”Seluruhnya.”
Cooper mengamati dengan saksama, mencoba me­
nangkap sorot kebohongan di mata gadis itu. betapa
inginnya ia percaya, tapi tak bisa.
”Kurang dari lima kali?”
”Ya.”
”Kurang dari tiga?” Rusty membuang muka. ”Hanya
satu kali?” Rusty mengangguk. Jantung Cooper berde­
bar aneh dan emosi yang mengalir dalam dirinya serasa
bagai aliran kebahagiaan. Namun, ia belum yakin. ”Dan
kau tidak tinggal bersama laki­laki itu, bukan, Rusty?”
”Tidak.” Rusty memiringkan kepala ke satu sisi dan
mengiggit bibir bawahnya, merasakan belaian Cooper.
Jari Cooper yang kasar memiliki sentuhan ajaib dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

peka yang memberikan kenikmatan pada tubuh wanita.


”Kenapa tidak?”
”Ayah dan kakakku tidak akan setuju.”
”Apa segala sesuatu yang kaulakukan mesti disetujui
oleh ayahmu?”
”Ya... Tidak... Aku... aku... Cooper, hentikan.” Ia

214
terengah. ”Aku tidak bisa berpikir kalau kau terus
membelaiku begitu.”
”Jangan berpikir.”
”Tapi aku tidak mau... kau tahu, kan... oh...”

Setelah cahaya terakhir yang tadi menyelubunginya


meredup, Rusty membuka mata dan menatap senyum
menggoda di wajah lelaki itu. ”Lumayan, bukan?”
Ia hanya sanggup menjawab senyuman itu dan me­
nyentuh kumis Cooper dengan ujung­ujung jemarinya.
”Aku tidak mau terburu­buru. Aku ingin memandangi­
mu lebih lama.”
”Kalau begitu, pembicaraan kita tentang kau dan
ayahmu sudah selesai.”
Rusty mengerutkan kening. ”Semuanya sangat rumit,
Cooper. Ayahku sangat terpukul ketika Jef tewas. Aku
juga. Jef sangat...” Ia berusaha mencari kata yang tepat.
”Jef sangat luar biasa. Dia bisa melakukan apa saja.”
Cooper menyapukan kumisnya ke bibir Rusty. ”Ti­
dak semuanya,” katanya misterius. ”Dia tidak bisa...” Ia
membungkuk dan membisikkan apa yang tak bisa dila­
kukan Jef padanya, dengan menggunakan istilah jalan­
an yang membuat Rusty sangat tersipu­sipu. Namun ia
www.facebook.com/indonesiapustaka

merasa senang, tidak tersinggung. ”Lihat, kan? Kau tak


perlu merasa rendah diri pada kakakmu.”
Sebelum Rusty sempat menjawab, Cooper sudah
menutup bibirnya dengan ciuman menggairahkan dan
panas. ”Nah, kenapa tadi kaubilang ingin memandangi­
ku lebih lama?”

215
Rusty masih kehabisan napas. Ia menarik napas pan­
jang dan lama, lalu berkata, ”Aku belum puas mena­
tapmu.” Matanya yang bersinar­sinar terarah ke dada
Cooper. Diangkatnya tangannya untuk menyentuh
Cooper, sementara matanya memandangi lelaki itu, se­
perti minta izin. Lalu disapukannya jemarinya di dada
Cooper.
”Ayo, teruskan, aku tidak menggigit.” Tatapan Rusty
padanya sangat sensual. Cooper tertawa. ”Payah. Aku
memang menggigit, tapi tidak selalu.” Ia membungkuk
berbisik, ”Hanya kalau aku sedang berada di atasmu.”
Sementara Rusty memandanginya, Cooper menggi­
giti cuping telinga gadis itu, juga lehernya. Ketika jema­
ri Rusty menyentuh ujung dadanya, Cooper tersentak.
Rusty cepat­cepat menarik kembali tangannya, namun
Cooper menangkapnya dan menekannya kembali di
dadanya.
”Tidak sakit,” ia menjelaskan dengan suara serak.
”Rasanya seperti kena setrum. Aku tidak siap. Lakukan
lagi. Sesukamu.”
Rusty melakukannya. Ia bermain­main dengan tubuh
lelaki itu, hingga napas Cooper terengah­engah. ”Ada
yang memerlukan perhatianmu, tapi sebaiknya kita bi­
arkan saja.” Katanya sambil menangkap tangan Rusty
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang bergerak makin ke bawah. ”Itu kalau kita ingin


melakukannya dengan santai dan perlahan.”
”biarkan aku menyentuhmu.”
Cooper tidak berdaya menolak permintaan yang di­
ucapkan dengan suara berbisik itu. Dipejamkannya
matanya dan ditahannya belaian­belaian Rusty, sampai

216
ia tidak tahan lagi. Diangkatnya tangan gadis itu dan
dihujaninya dengan ciuman.
”Giliranku.” Salah satu lengan Rusty masih tertekuk
di belakang kepala. Payudaranya naik­turun dengan
teratur. Cooper menangkupkan tangannya pada masing­
masing payudara dan meremasnya. ”Terlalu keras?” ta­
nyanya, melihat perubahan ekspresi Rusty.
”Terlalu enak.” Rusty mendesah.
”Malam itu, waktu aku menciummu... di sini...” Ia
menyentuh lekuk halus dada Rusty.
”Ya?”
”Aku sengaja ingin meninggalkan tanda.”
Mata Rusty yang semula mengantuk kini terbuka
lebar. ”Oh ya? Kenapa?”
”Karena aku jahat. Itu sebabnya.”
”Tidak, kau tidak jahat. Kau cuma ingin orang­orang
menganggapmu jahat.”
”Dan berhasil, bukan?”
Rusty tersenyum. ”Kadang­kadang. Kadang­kadang
kupikir kau sangat jahat. Kadang juga aku tahu kau
sangat menderita, dan satu­satunya cara untuk menga­
tasinya adalah dengan bersikap jahat. Kurasa semua itu
bermula dari pengalamanmu sebagai tawanan perang.”
”Mungkin.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Cooper?”
”Hmm?”
”buatlah tanda lagi di tubuhku, kalau kau mau.”
Cooper menatap Rusty, lalu ia berpindah ke atas
tubuh gadis itu dan mengecup bibirnya dengan hangat,
sementara tangannya masih terus mengusap payudara

217
gadis itu. Disapukannya kumisnya ke bibir Rusty, lalu
ke leher gadis itu, terus ke dadanya, hingga mencapai
lekuk atas payudaranya.
”bokongmu biru lebam karena aku. Lalu dadamu.
Kurasa dengan caraku yang primitif aku ingin membe­
rikan cap padamu, menunjukkan bahwa kau milikku.
Tapi sekarang itu tak perlu lagi.” Ia menyapukan bibir­
nya perlahan di kulit Rusty. ”Sekarang kau milikku.
Setidaknya untuk sementara.”
Rusty ingin mempertanyakan ucapan lelaki itu, juga
ingin mengatakan bahwa ia akan mejadi milik Cooper
selama yang diinginkan lelaki itu. Namun ia tak sang­
gup mengucapkan apa pun, karena Cooper masih terus
menciuminya, begitu rakus, seperti anak kecil menjilati
es krim. Ketika Rusty merasa tidak tahan lagi, diceng­
keramnya rambut lelaki itu dan diarahkannya mulutnya
tepat di atas puncak payudaranya.
Cooper memenuhi keinginannya dan Rusty menye­
rukan namanya keras­keras.
”Oh, Sayang, enak sekali.” Mulut Cooper sangat
bergairah, namun tetap lembut.
”Cooper?”
”Hmmm?”
”Cooper?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Hmmm?”
”Cooper?” Rusty menarik telinga lelaki itu dan men­
jauhkan kepalanya. ”Kenapa kau melakukan itu?”
”Apa?”
Cooper menghindari tatapan Rusty dan memandang
ke atas puncak kepala gadis itu. ”Kau tahu maksudku.”

218
Rusty membasahi bibirnya dengan tegang. ”Kenapa
kau... mundur... sebelum...?”
Ia merasa takut dan kecewa, seperti sebelumnya,
ketika pada saat­saat terakhir Cooper menyelesaikan
permainan cinta mereka sebelum waktunya.
Cooper terdiam. Sesaat Rusty takut ia telah mem­
buat Cooper marah. Jangan­jangan Cooper akan me­
ninggalkannya di kasur ini. Setelah beberapa lama,
Cooper kembali menatapnya. ”Kurasa kau patut diberi
penjelasan.” Rusty tidak menjawab. Cooper mendesah­
kan namanya. ”Kita mungkin akan lama di sini. Kurasa
kita tidak mau mendapat beban tambahan satu orang
lagi.”
”bayi?” Rusty terperangah. Ia menimbang­nimbang
kemungkinan itu dan sama sekali tidak merasa takut
karenanya. Malah bibirnya membentuk senyuman ma­
nis. ”Itu tidak terpikir olehku.”
”Aku terpikir. Kita masih sama­sama muda dan se­
hat. Aku tahu kau tidak memakai alat kontrasepsi, se­
bab aku tahu apa­apa saja yang kita bawa ke dalam
pondok ini. benar?”
”Ya,” sahut Rusty malu­malu, seperti anak kecil yang
mengakui kesalahannya.
”Aku tidak membawa apa pun untuk keperluan itu.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Tapi mungkin itu tak akan terjadi.”


”Kita tidak bisa memastikan. Aku tidak mau meng­
ambil risiko. Jadi-”
”Tapi, kalaupun terjadi, kita pasti sudah ditemukan
sebelum anak itu lahir,” sela Rusty dengan bersemangat.
”Mungkin, tapi-”

219
”Kalaupun kita tidak ditemukan, akulah yang ber­
tanggung jawab untuk menyusui anak itu.”
Pembicaraan tentang bayi ini membuat perut Cooper
bergolak. Mulutnya kembali membentuk garis keras
seperti dulu, dan hanya melembut ketika ia melihat
betapa bersemangatnya Rusty. Dan betapa polosnya.
”Itulah,” kata Cooper dengan kasar, sementara mulut­
nya bergerak ke arah payudara Rusty. ”Aku tidak rela
membagimu dengan siapa pun.”
”Tapi-”
”Maaf, tidak ada pilihan.”
Rusty ingin memprotes dan terus mendebat, tapi
Cooper sudah kembali membelainya, dan mereka pun
kembali bercinta sepanjang hari, hingga menjelang ma­
lam, tanpa merasa lapar, dingin, ataupun lelah. Akhir­
nya mereka membungkus diri dalam selimut bulu itu
sambil berpelukan, dan tertidur.
Hanya bunyi derak baling­baling helikopter yang
kemudian membangunkan mereka dari mimpi.
www.facebook.com/indonesiapustaka

220
10

IA akan ketinggalan pesawat. Ia tahu itu. Ia sudah lama


tahu. Tapi tetap saja ia berlari. Ini juga selalu dilakukan­
nya. Pepohonan hutan menghalangi jalannya. Dengan
susah payah ia berusaha menembusnya, menuju lapang­
an itu. Ia berlari begitu kencang, hingga paru­parunya
bagai terbakar. bunyi napasnya terdengar sangat keras
di telinganya sendiri.
Tapi ia masih tetap bisa mendengar desing baling­
baling helikopter itu. Dekat. begitu dekat. berisik.
Kali ini aku harus bisa mencapainya, ia berseru dalam
hati. Aku mesti bisa mencapainya. Kalau tidak, aku akan
tertangkap lagi.
Tapi ia tahu bahwa ia tidak akan berhasil, meski ia
www.facebook.com/indonesiapustaka

terus berlari. Terus... terus...


Seperti biasa, setelah mengalami mimpi buruk,
Cooper terduduk tegak dengan napas terengah­engah
dan tubuh basah kuyup oleh keringat. Ya Tuhan, kali
ini suara itu sungguh­sungguh nyata. Suara bising
baling­baling helikopter itu kedengarannya...

221
Sekonyong­konyong ia menyadari bahwa ia masih
bisa mendengar bunyi helikopter tersebut. Apakah ia
sudah bangun sepenuhnya? Ya, sudah. Itu dia Rusty,
masih tertidur nyenyak di sampingnya. Ini bukan di
Vietnam. Ini di Kanada. Dan ia benar­benar mendengar
suara helikopter.
Cooper cepat­cepat bangkit dan lari melintasi lantai
dingin itu. Sejak mereka kehilangan kesempatan men­
dapatkan pertolongan dari pesawat pencari waktu itu,
ia selalu meletakkan pistol isyarat di rak dekat pintu. Ia
menyambarnya sambil keluar. Saat melintasi beranda
dan melompat ke tanah, ia masih belum berpakaian
sehelai pun, namun pistol isyarat itu tergenggam erat di
tangan kanannya.
Dengan tangan kiri ia menudungi matanya dan me­
nengadah ke langit, mencari­cari. Matahari bersinar
terang, sederet dengan puncak­puncak pepohonan.
Matanya perih oleh sinar terang itu, dan ia sama sekali
tak bisa melihat apa­apa. ia hanya punya enam api isya­
rat di dalam pistolnya, dan ia tak boleh ceroboh meng­
gunakannya. Setiap isyarat harus membawa hasil. Tapi
ia masih bisa mendengar suara helikopter itu. Jadi, ia
bertindak berdasarkan nalurinya. Ditembakkannya dua
api isyarat tegak lurus ke atas.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Cooper, apakah itu suara-”


”Helikopter.”
Rusty lari ke beranda dan melemparkan sehelai cela­
na jeans pada Cooper. Ketika terbangun tadi, yang
mula­mula dirasakannya adalah bahwa kekasihnya tidak
lagi berada di sampingnya. Kemudian ia mendengar

222
suara helikopter. Maka cepat­cepat dikenakannya celana
panjangnya yang sudah compang­camping serta sweter­
nya yang berat. Sekarang ia pun mencari­cari di langit,
sambil menudungi mata.
”Mereka pasti melihat api pistol isyarat itu,” seru
Cooper penuh semangat. ”Mereka kembali.”
”Aku tidak melihatnya. bagaimana kau tahu?”
”Aku mengenali suaranya.”
benar saja. Tak lama kemudian helikopter itu berpu­
tar di atas puncak­puncak pepohonan dan melayang di
atas pondok. Cooper dan Rusty mulai melambai­lam­
baikan tangan sambil berteriak­teriak, meski sudah jelas
bahwa mereka sudah terlihat oleh kedua laki­laki yang
duduk di dalam helikopter itu. Mereka bahkan bisa
melihat senyum lebar kedua orang tersebut dari balik
kaca transparan helikopter tersebut.
”Mereka melihat kita! Oh, Cooper, Cooper!”
Rusty melontarkan tubuhnya kepada Cooper. Lelaki
itu menangkapnya dalam satu pelukan erat, mengang­
katnya dari tanah, dan memutar­mutarnya. ”Kita ber­
hasil, Sayang. Kita berhasil!”
Lapangan di sekitar pondok cukup luas untuk tem­
pat mendarat helikopter itu. Sambil bergandengan ta­
ngan, Rusty dan Cooper lari menghampiri pesawat
www.facebook.com/indonesiapustaka

tersebut. Rusty tidak memedulikan rasa sakit di kaki­


nya. Pilot yang duduk di kursi sebelah kanan membuka
sabuk pengamannya dan melangkah ke luar. Ia lari
membungkuk ke arah mereka, menghindari putaran
keras baling­baling.
”Miz Carlson, Ma’am?” Aksen Selatan­nya sangat

223
kental. Rusty mengangguk, sekonyong­konyong merasa
malu dan tak sanggup berbicara. Dengan malu­malu ia
berpegangan pada lengan Cooper.
”Cooper Landry,” kata Cooper sambil mengulurkan
tangan dan menjabat tangan pilot itu dengan guncangan
penuh semangat. ”Kami senang sekali melihat kalian.”
”Kami juga senang. Ayah Miz Carlson menyewa
kami untuk mencarinya. beliau tidak puas dengan usa­
ha yang telah dilakukan para pejabat yang berwenang.”
”begitulah ayahku,” teriak Rusty di tengah suara
keras baling­baling.
”Hanya kalian berdua yang selamat?” Mereka meng­
angguk dalam diam. ”Yah, sebaiknya kita tidak berlama­
lama. Ayah Anda pasti senang sekali melihat Anda
lagi.”
Sambil berkata demikian, pilot yang ramah itu me­
mandang Cooper dengan cemas, memperhatikan celana
jeans­nya yang terbuka. Jelas celana itu dikenakan de­
ngan tergesa­gesa, dan di baliknya tidak ada pakaian
dalam lagi. Penampilan Rusty sendiri seperti perempu­
an yang habis bercinta sepanjang malam. Pilot itu bisa
segera menyimpulkan situasi mereka, tanpa perlu dibe­
ritahu.
Mereka kembali ke pondok hanya untuk berpakaian
www.facebook.com/indonesiapustaka

dengan semestinya. Cooper mengambil senapan berbu­


runya yang mahal. Selain itu, mereka tidak membawa
apa­apa lagi. Saat memasuki pondok untuk terakhir
kali, Rusty memandang sekeliling dengan sedih. Semula
ia sangat membenci tempat itu, tapi sekarang, saat hen­
dak meninggalkannya, ada sedikit rasa sedih di hatinya.

224
Tapi Cooper tampaknya tidak menyesal meninggal­
kan tempat itu. Ia dan sang pilot sudah tertawa­tawa
dan bercanda, sebab ternyata mereka adalah veteran
dari perang yang sama, dan sempat bertugas pada kesa­
tuan yang sama pula. Rusty mesti berlari untuk menyu­
sul mereka. Cooper merangkul bahunya dan tersenyum
padanya. Rusty jadi merasa lebih baik.
”Aku Mike,” si pilot memperkenalkan diri sambil
membantu mereka duduk. ”Dan itu saudara kembarku
Pat.” Pilot satunya memberi salam pada mereka.
”Pat dan Mike?” seru Cooper. ”Yang benar saja?”
Kedua nama itu kedengarannya sangat lucu dan me­
reka tertawa terbahak­bahak sementara helikopter
mulai terangkat dari tanah dan mengambil ancang­
ancang di atas puncak pepohonan, sebelum mulai naik
lebih tinggi.
”Lokasi jatuhnya pesawat sudah ditemukan oleh pe­
sawat pencari beberapa hari yang lalu,” teriak Mike
sambil menunjuk ke bawah.
Rusty memandang arah yang ditunjukkan. Ia sangat
terkejut bahwa ia dan Cooper telah menempuh jarak
sekian jauh dengan berjalan kaki, apalagi Cooper harus
menyeretnya di tandu buatannya. Ia takkan mungkin
bertahan kalau bukan karena pertolongan lelaki itu.
www.facebook.com/indonesiapustaka

bagaimana kalau Cooper ikut tewas dalam kecelakaan


pesawat tersebut? Ia merinding membayangkan ke­
mungkinan itu dan menyandarkan kepala di bahu lelaki
itu. Cooper memeluknya dan menariknya merapat.
Tanpa sadar Rusty meremas paha lelaki itu dengan si­
kap penuh kepercayaan.

225
”Lima orang lainnya tewas,” kata Cooper pada kedua
pilot. ”Rusty dan aku duduk di baris paling belakang.
Kurasa itu sebabnya kami selamat.”
”Ketika dilaporkan bahwa pesawat itu tidak terbakar,
Mr. Carlson bersikeras meminta dilakukan pencarian,
kalau­kalau masih ada yang selamat,” kata Mike. ”beliau
menyewa kami dari Atlanta. Kami mengkhususkan diri
dalam misi pencarian.” Ia bertelekan pada bagian bela­
kang kursinya dan menoleh ke arah mereka. ”bagai­
mana kalian menemukan pondok itu?”
Cooper dan Rusty bertukar pandang dengan gelisah.
”Itu nanti saja diceritakan. Kami hanya mau menyam­
paikan satu kali, kalau tidak keberatan,” kata Cooper.
Mike mengangguk. ”Aku akan melapor lewat radio
bahwa kalian sudah diselamatkan. banyak orang
mencari kalian. Cuaca benar­benar buruk. Maaf, Miz
Carlson.”
”Tidak apa­apa.”
”Kami tidak diizinkan terbang sampai kemarin, keti­
ka cuaca membaik. Kami tidak melihat apa­apa. Lalu
tadi pagi kami mulai mencari lagi.”
”Kami akan dibawa ke mana?” tanya Cooper.
”Yellowknife.”
”Ayahku ada di sana?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Mike menggeleng. ”Dia ada di L.A. Kurasa kalian


berdua akan langsung dibawa ke sana hari ini juga.”
Ini berita bagus untuk Rusty. Entah kenapa, ia takut
kalau harus memaparkan detail­detail peristiwa yang
dialaminya pada ayahnya. Ia lega karena tidak perlu
menghadapi ayahnya saat ini juga—mungkin karena

226
peristiwa semalam itu. Ia belum sempat menganalisis­
nya. Ia ingin meresapi apa yang dialaminya bersama
Cooper.
Tapi penyelamatan ini menginterupsi segalanya.
Tentu saja ia senang mereka diselamatkan, namun ia
tetap ingin dibiarkan merenungkan segalanya seorang
diri. Satu­satunya orang yang boleh menginterupsinya
hanyalah Cooper. Memikirkan itu, ia kembali diselimuti
rasa malu. Dirapatkannya tubuhnya pada Cooper.
Seperti bisa membaca pikirannya, lelaki itu mengang­
kat wajah Rusty dan memandanginya lekat­lekat. Lalu
ia menunduk dan mengecup bibir Rusty dengan hangat.
Kemudian ditariknya kepala Rusty ke dadanya dan di­
permainkannya rambut gadis itu perlahan. Sikapnya
protektif, sekaligus posesif.
Mereka tetap berpelukan sepanjang sisa perjalanan.
Kedua pilot itu tidak mengajak bercakap­cakap lagi.
Mereka menghormati kebutuhan privasi kedua orang
itu. berbagai pertanyaan bisa ditunda hingga nanti.
”banyak sekali orang yang menunggu.” Mike meno­
leh ke arah mereka dan mengangguk ke bawah sana,
saat mereka sudah mendekati bandara. bandara itu
kecil jika dibandingkan dengan bandara­bandara kota
besar, tapi cukup untuk tempat mendarat pesawat jet.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rusty dan Cooper melihat banyak orang berkerumun


di bawah sana, dan mereka sama sekali tidak memedu­
likan batas yang dipasang untuk pendaratan. Van-van
berlogo berbagai stasiun TV diparkir dari ujung ke
ujung. Di daerah Northwest Territories yang terpencil
ini belum pernah ada kru media sebanyak itu.

227
Cooper menyumpah­nyumpah pelan. ”Siapa yang
mengumpulkan orang­orang ini?”
”Kecelakaan pesawat itu menjadi berita besar,” Mike
menjelaskan sambil tersenyum minta maaf. ”Hanya
kalian berdua yang selamat. Kurasa semua orang ingin
mendengar komentar kalian tentang pengalaman itu.”
begitu helikopter mendarat, kerumunan reporter itu
maju menyerbu. Para petugas polisi dengan susah payah
berusaha menahan mereka. beberapa lelaki bertampang
pejabat lari ke depan. Putaran baling­baling pesawat
yang menimbulkan angin kencang membuat setelan
resmi mereka menempel ketat di badan dan menerbang­
kan dasi mereka ke wajah. Namun akhirnya mesin pe­
sawat dimatikan.
Mike melompat ke tanah dan membantu Rusty tu­
run. Rusty meringkuk malu di sisi helikopter, sampai
Cooper melompat ke sampingnya. Setelah mengucap­
kan terima kasih pada kedua pilot kembar dari Georgia
itu, mereka melangkah ke depan sambil bergandengan
tangan dengan erat.
Para pejabat tadi ternyata wakil­wakil dari Dewan
Keamanan Penerbangan Kanada dan Dewan Keamanan
Transportasi Nasional. Pihak Amerika Serikat diun­
dang untuk ikut menyelidiki kecelakaan pesawat itu,
www.facebook.com/indonesiapustaka

karena para penumpang yang terlibat semuanya orang


Amerika.
Para birokrat itu menyambut Cooper dan Rusty, lalu
mengawal mereka melewati para reporter yang berde­
sakan sambil berteriak­teriak. Orang­orang itu mem­
bombardir keduanya dengan berbagai pertanyaan yang

228
dilontarkan dengan cepat, seperti muntahan peluru dari
senapan mesin.
Mereka masuk dari salah satu pintu untuk karyawan,
menyusuri lorong, lalu dibawa ke sebuah kantor pribadi
yang khusus disiapkan untuk mereka.
”Ayah Anda sudah diberitahu, Miss Carlson.”
”Terima kasih banyak.”
”beliau senang sekali mendengar Anda baik­baik
saja,” kata pejabat itu sambil tersenyum. ”Mr. Landry,
adakah pihak keluarga yang perlu kami beritahu untuk
Anda?”
”Tidak.”
Rusty menoleh heran mendengar jawaban itu.
Cooper tidak pernah menyebut­nyebut keluarganya,
jadi ia menyimpulkan bahwa lelaki itu tidak punya
keluarga. Sungguh menyedihkan melihat tak ada
seorang pun yang menjemput Cooper. Rusty ingin
mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi lelaki
itu. Tapi mereka dikelilingi orang­orang ini.
Salah seorang pejabat menghampiri mereka. ”Kukira
hanya Anda berdua yang selamat dari kecelakaan itu?”
”Ya, yang lainnya tewas seketika.”
”Kami sudah memberitahu keluarga mereka. bebe­
rapa sudah menunggu di luar. Mereka ingin bicara
www.facebook.com/indonesiapustaka

dengan Anda.” Wajah Rusty langsung pucat pasi, begitu


pula buku­buku jemarinya yang masih digandeng
Cooper. ”Tapi itu bisa menunggu,” kata pejabat itu
cepat­cepat, karena melihat kecemasan Rusty. ”bisakah
Anda memberi penjelasan sedikit tentang penyebab
kecelakaan itu?”

229
”Aku bukan pilot,” sahut Cooper singkat. ”Tapi aku
yakin penyebabnya adalah badai. Kedua pilot sudah
berusaha sebaik mungkin.”
”Kalau begitu, kecelakaan tersebut bukan disebabkan
oleh mereka?” pancing si pejabat.
”boleh aku minta air?” kata Rusty pelan.
”Dan sedikit makanan,” kata Cooper, masih dengan
nada ketus. ”Kami belum makan sejak pagi. Minum
kopi pun tidak.”
”Tentu. Sebentar.” Seseorang diperintahkan untuk
memesan sarapan bagi mereka.
”Dan sebaiknya kalian mendatangkan petugas yang
berwenang. Ada dua kematian yang mesti kulaporkan.”
”Dua kematian apa?”
”Kematian orang­orang yang kubunuh.” Semua orang
terdiam. Cooper berhasil merebut perhatian mereka
sepenuhnya. ”Mesti ada yang diberitahu, tapi omong­
omong, bagaimana dengan kopinya?” Suara Cooper
bernada penuh wibawa dan tidak sabar. Sungguh meng­
herankan, semua orang langsung bergerak. Selama satu
jam berikutnya para pejabat itu sibuk mengurus mereka.
Sarapan mereka berupa steik dan telur. Namun yang
paling dinikmati Rusty adalah sari jeruk segar yang dihi­
dangkan untuk mereka. Ia tak puas­puasnya minum mi­
www.facebook.com/indonesiapustaka

numan itu. Sambil makan, mereka menjawab pertanyaan


yang seperti tak ada habisnya. Pat dan Mike juga dibawa
untuk menjelaskan lokasi pondok dari tempat jatuhnya
pesawat. Sementara cuaca masih bagus, beberapa kru
ditugaskan melihat bangkai pesawat dan memeriksa ma­
yat­mayat yang telah dikuburkan oleh Cooper.

230
Di tengah segala kesibukan itu, seseorang menyodor­
kan telepon pada Rusty. Suara ayahnya terdengar keras
di telinganya. ”Rusty! Syukurlah. Apa kau baik­baik
saja?”
Mata Rusty penuh air mata. Sesaat ia tak sanggup
menjawab. ”Aku baik­baik saja. Kakiku sudah jauh le­
bih baik.”
”Kakimu? Ada apa dengan kakimu? Tidak ada yang
memberitahukan apa­apa padaku tentang kakimu.”
Rusty berusaha menjelaskan sebisanya, dalam kali­
mat pendek­pendek. ”Tapi sekarang sudah sembuh.
Sungguh.”
”Aku tidak percaya. Kau tak usah memikirkan apa­
apa,” kata ayahnya. ”Aku akan menangani segalanya dari
sini. Kau akan dibawa ke L.A. malam ini dan aku akan
menjemputmu di bandara. Sungguh suatu keajaiban kau
bisa selamat.”
Rusty menoleh kepada Cooper dan berkata pelan,
”Ya, sungguh ajaib.”
Menjelang sore mereka dibawa ke motel di seberang
jalan dan dipesankan tempat untuk mandi dan ganti
pakaian dengan apa­apa yang sudah disediakan oleh
pemerintah Kanada.
Di pintu kamarnya, dengan enggan Rusty melepaskan
www.facebook.com/indonesiapustaka

lengan Cooper. Ia tak ingin lelaki itu lepas dari pandang­


annya. Ia merasa asing di sini. Tak ada yang nyata. Sega­
lanya berpusar di sekelilingnya, wajah­wajah yang bagai­
kan muncul dari mimpi. Ia merasa sulit mengartikan
kata­kata yang didengarnya. Segalanya asing... kecuali
Cooper. Hanya Cooper yang nyata baginya.

231
Cooper sendiri tampaknya merasa tidak senang de­
ngan pengaturan ini, tapi tentunya tidak pantas jika
mereka tidur sekamar. Maka ia meremas tangan Rusty
dan berkata, ”Aku ada di kamar sebelah.”
Dipandanginya Rusty masuk ke kamar, dan ditung­
gunya hingga gadis itu sudah mengunci pintu. Lalu
barulah Cooper masuk ke kamarnya sendiri. Di dalam
ia mengempaskan diri ke kursi yang hanya satu­satunya
dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
”Sekarang apa?” tanyanya pada tembok­tembok yang
mengelilinginya.
Kalau saja ia bisa menahan diri satu hari lagi saja.
Kalau saja gadis itu tidak bertanya kepadanya kemarin
pagi, setelah sarapan. Kalau saja gadis itu tidak begitu
memikat. Kalau saja mereka tidak berada di dalam pe­
sawat yang sama. Kalau saja pesawat itu tidak mendapat
kecelakaan. Kalau saja ada penumpang lain yang sela­
mat, dan mereka tidak hanya berdua.
begitu banyak pengandaian itu, tapi kenyataannya
tetap bahwa mereka telah bercinta sepanjang hari kema­
rin, dan semalam, hingga subuh.
Dan ia tidak menyesalinya. Tidak sedikit pun.
Tapi ia tidak tahu bagaimana ia akan bersikap sejak
saat ini. Yang tepat adalah ia mesti pura­pura mengang­
www.facebook.com/indonesiapustaka

gap semua itu tidak pernah terjadi. Ia tak boleh meng­


hiraukan sinar hangat penuh cinta di mata gadis itu.
Tapi itulah masalahnya. Ia tak bisa mengabaikan sorot
yang meluluhkan itu.
Ia juga tak sampai hati untuk tidak mengacuhkan
ketergantungan gadis itu padanya. Peraturan yang me­

232
reka buat di pondok itu masih tetap berlaku. Rusty
belum bisa menyesuaikan diri. Ia masih ketakutan. Ia
baru saja lepas dari trauma, dan Cooper tak mau meng­
hadapkannya pada trauma lain dalam waktu begitu ce­
pat. Gadis itu tidak tangguh seperti dirinya. Ia mesti
diperlakukan dengan halus dan bijaksana. Cooper me­
rasa Rusty patut mendapat pengertian itu, setelah ba­
nyak menghadapi sikap kerasnya di pondok.
Tentu saja ia sudah menerima kenyataan bahwa ia
mesti meninggalkan gadis itu. Ia berharap Rusty akan
lebih dulu meninggalkannya. Dengan demikian, ia bisa
merasa lega karena tidak menyakiti gadis itu.
Tapi sialnya Rusty tidak mau meninggalkannya dan
Cooper sendiri tak sanggup pergi begitu saja. Setidak­
nya jangan saat ini. Tunggu sampai tiba saatnya mereka
betul­betul mesti berpisah. Sementara itu, ia akan terus
menjadi ksatria penolong gadis itu.
Ia tahu ini tindakan bodoh, tapi ia menyukai peran­
nya.
Sayangnya peran ini hanya untuk sementara.

Setelah mandi air panas, Rusty merasa nyaman. Ia me­


rasa jauh lebih baik, secara isik dan mental. Dikeramas­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nya rambutnya dengan sampo dua kali dan digosok­


gosoknya hingga bersih. Keluar dari bak mandi ia
merasa hampir­hampir normal kembali.
Tapi sebenarnya tidak. biasanya ia tak pernah pedu­
li betapa halusnya handuk yang disediakan pihak motel.
baginya handuk halus sudah biasa. Dan ada beberapa

233
hal lain yang berubah dalam dirinya. Ketika ia meng­
angkat kakinya di tepi bak, untuk dikeringkan, ia meli­
hat bekas luka yang memanjang hingga ke mata kaki­
nya. Dan di dalam hatinya juga ada luka­luka lain.
Luka­luka dalam yang terukir jauh di dasar jiwanya.
Rusty Carlson takkan pernah sama seperti dulu lagi.
Pakaian yang diberikan padanya tidak mahal dan
kebesaran, tapi setidaknya ia jadi merasa menjadi ma­
nusia lagi, dan feminin. Sepatunya pas, tapi terasa aneh
dan sangat ringan di kakinya. baru kali ini ia mengena­
kan sepatu biasa lagi. Sebelumnya ia hanya memakai
bot untuk hiking. Hampir seminggu di pondok dan
hampir dua minggu sejak peristiwa kecelakaan itu.
Dua minggu? Hanya selama itukah?
Ketika ia keluar kamar, Cooper sudah menunggunya
di depan pintu. Lelaki itu sudah mandi dan bercukur.
Rambutnya masih basah, tapi sudah disisir rapi. Pakaian
barunya tampak tidak sesuai dengan posturnya yang
besar.
”Kau tampak beda,” bisik Rusty.
Cooper menggeleng. ”Tidak. Dari luar mungkin
berbeda, tapi aku tidak berubah.”
Ia meraih tangan Rusty dan menariknya sambil me­
nyorotkan tatapan mencegah pada orang­orang yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

ingin mengerumuni mereka. Mereka menjauh agar


pembicaraan mereka tidak didengar orang. Cooper
berkata, ”Karena kesibukan belakangan ini, aku belum
sempat menceritakan sesuatu padamu.”
Ia sangat tampan. Tubuhnya menguarkan aroma
sabun dan krim cukur, dan mulutnya beraroma pepper-

234
mint yang segar. Rusty mengamatinya dengan penuh
kerinduan, tak sanggup percaya melihat Cooper yang
baru ini. ”Apa?”
Cooper membungkuk lebih dekat. ”Aku senang me­
rasakan sapuan lidahmu di perutku.”
Rusty terkesiap. Matanya terarah pada orang­orang
yang berkerumun di kejauhan. Semuanya memandangi
mereka dengan penuh rasa ingin tahu. ”Kau keterlaluan.”
”Aku tidak peduli.” Ia maju lebih dekat. ”Mari kita
buat mereka penasaran.” Ia memegang dagu Rusty dan
mengangkatnya.
Lalu diciumnya gadis itu dengan penuh gairah. Tan­
pa tergesa­gesa. Lidahnya bergerak di dalam mulut
Rusty, perlahan­lahan dan penuh keahlian.
Akhirnya Cooper menjauh sambil menggerutu, ”Aku
ingin menciummu seperti itu lagi, tapi... itu mesti me­
nunggu.” Ia memandang ke arah para penonton yang
terperangah.
Kemudian mereka diantar kembali ke bandara, tapi
Rusty tak pernah ingat saat­saat mereka meninggalkan
motel itu. Ciuman Cooper membuatnya terbang mela­
yang.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Jam­jam siang itu berlalu begitu lamban. Mereka diba­


wakan makanan lagi. Rusty memesan salad porsi besar.
Ia sangat ingin makan sayuran dingin yang segar, tapi
ternyata hanya sanggup menghabiskan sebagian makan­
annya.
Ia tidak begitu bernafsu makan antara lain karena

235
beberapa jam sebelumnya ia sudah sarapan. Tapi penye­
bab utamanya adalah karena ia merasa cemas dengan
interogasi yang tadi dijalaninya bersama Cooper, me­
ngenai kematian Quinn dan Reuben Gawrylow.
Seorang reporter pengadilan tinggi dipanggil untuk
mencatat pernyataan Cooper. Cooper menceritakan
pengalaman mereka bertemu kedua orang penyendiri itu,
bagaimana mereka diberi tumpangan tempat tinggal, di­
janjikan pertolongan, tapi ternyata diserang. ”Nyawa
kami dalam bahaya,” kata Cooper. ”Aku tidak punya pi­
lihan. Apa yang kulakukan itu demi membela diri.”
Rusty melihat bahwa para polisi tidak percaya. Me­
reka saling berbisik dan terus menunjukkan tatapan
curiga ke arah Cooper. Mereka menanyakan tentang
pengalaman Cooper di Vietnam dan menyinggung fak­
ta bahwa Cooper pernah menjadi tawanan perang.
Mereka meminta Cooper memaparkan peristiwa yang
berakhir pada keberhasilannya melarikan diri dari kamp
tawanan. Cooper menolak, katanya itu tidak ada hu­
bungannya dengan urusan ini.
”Tapi kau terpaksa...”
”Membunuh?” tanya Cooper tanpa basa­basi. ”Ya,
aku banyak membunuh orang untuk bisa keluar dari
kamp itu. Dan akan kulakukan lagi kalau terpaksa.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Kembali para polisi itu bertukar pandang. Seseorang


terbatuk gugup.
”Dia tidak menceritakan fakta yang paling penting,”
kata Rusty lekas­lekas. Semua mata terarah kepadanya.
”Jangan, Rusty,” kata Cooper. Matanya menatap de­
ngan sorot memohon. ”kau tidak perlu mengungkapkan­
nya.”

236
Rusty balas menatapnya dengan sayang. ”Aku mera­
sa perlu mengatakannya. Kau berusaha melindungi aku.
Kuhargai sikapmu, tapi aku tidak mau mereka meng­
anggap kau membunuh kedua orang itu tanpa motivasi
kuat.” Rusty menghadapi para pendengarnya. ”Kedua
Gawrylow itu ingin membunuh Cooper dan... mena­
hanku.”
Wajah­wajah di seputar meja itu tampak terperanjat.
”bagaimana Anda tahu, Ms. Carlson?”
”Pokoknya dia tahu, oke? Kalian boleh menganggap
aku berbohong, tapi tak ada alasan bagi kalian untuk
mencurigai dia berbohong.”
Rusty menyentuh lengan Cooper untuk menenang­
kannya. ”Sang ayah, Quinn, menyerangku.” Dengan
gamblang Rusty menceritakan apa yang dilakukan Quinn
padanya pagi itu di pondok. ”Kakiku luka parah. boleh
dikatakan aku sama sekali tak berdaya. Cooper kembali
tepat pada waktunya untuk mencegah aku diperkosa.
Quinn hendak mengambil pistolnya. Kalau Cooper tidak
segera bertindak, dia pasti sudah terbunuh. Dan aku akan
berada di bawah kekuasaan lelaki tua itu.”
Ia dan Cooper saling pandang dengan penuh pengerti­
an. Lama. Ia tak pernah memancing­mancing kedua lelaki
hutan itu dengan sengaja. Cooper sudah tahu itu sejak
www.facebook.com/indonesiapustaka

semula. Dalam sorot matanya itu ia meminta Rusty


memaafkannya atas segala hinaan yang pernah diucap­
kannya, dan sebaliknya Rusty meminta Cooper memaaf­
kannya karena ia pernah merasa takut pada lelaki itu.
Cooper meraih kepala Rusty dan menempelkannya
ke dadanya. Lengannya memeluk tubuh gadis itu, tanpa

237
memedulikan orang­orang lain di ruangan tersebut.
Mereka berpelukan erat.
Setengah jam kemudian, Cooper dibebaskan dari per­
tanggungjawaban legal atas kematian kedua Gawrylow.
Sekarang mereka tinggal menghadapi pertemuan dengan
keluarga para korban. Sekumpulan orang yang menangis
dibawa masuk ke ruangan. Selama hampir satu jam Rus­
ty dan Cooper berbicara dengan mereka dan memberikan
keterangan sebisanya. Para keluarga yang berduka mera­
sa agak terhibur mendengar bahwa orang­orang tercinta
itu meninggal segera, tanpa merasa sakit. Dengan penuh
air mata mereka mengucapkan terima kasih kepada Rus­
ty dan Cooper, karena telah berbagi informasi tentang
kecelakaan pesawat tersebut. Pengalaman ini sangat
mengharukan bagi semua pihak yang terlibat.
Pertemuan dengan pihak media sama sekali berbeda.
Ketika Rusty dan Cooper dikawal masuk ke ruangan
besar yang sudah disiapkan untuk konferensi pers, mere­
ka berhadapan dengan kerumunan orang yang sudah tak
sabar. Asap tembakau melayang hingga ke langit­langit.
Keduanya duduk di belakang meja yang dilengkapi
mikrofon dan menjawab rentetan pertanyaan sedapat
mungkin. Ada pertanyaan yang konyol, ada yang cerdas,
dan ada pula yang sangat pribadi sifatnya. Ketika salah
www.facebook.com/indonesiapustaka

seorang reporter bertanya seperti apa rasanya tinggal


satu pondok dengan orang yang sama sekali asing,
Cooper menoleh pada salah satu petugas dan berkata,
”Cukup. Keluarkan Rusty dari sini.”
Petugas itu tidak segera bertindak, jadi Cooper sen­
diri yang mengeluarkan Rusty dari ruangan itu. Diceng­

238
keramnya lengan gadis itu dan dibantunya bangkit dari
kursinya. Saat mereka menuju pintu keluar, seorang
lelaki bergegas menghampiri dan menyodorkan sehelai
kartu nama ke depan wajah Cooper. Ia seorang reporter
majalah, dan ia menawarkan sejumlah uang untuk men­
dapatkan hak eksklusif memuat cerita mereka.
Tapi, melihat tatapan dingin Cooper, ia cepat­cepat
menambahkan dengan gugup, ”Tapi kalau itu tidak
cukup, kami akan menaikkan tawaran. Apa kalian juga
memotret­motret selama di sana?”
Sambil menggeram marah, Cooper mendorong
reporter itu dan mengucapkan makian kasar.
begitu mereka naik ke pesawat yang menuju ke L.A.,
Rusty sudah sangat lelah, hingga nyaris tak bisa
berjalan. Kaki kanannya sakit sekali. boleh dikatakan
Cooper membopongnya ke pesawat. Didudukkannya
Rusty di kursi kelas satu, di samping jendela, dan ia
duduk di samping gadis itu. Dimintanya pramugari
membawakan sedikit brendi secepatnya.
”Kau sendiri tidak minum?” tanya Rusty setelah
menghirup sedikit brendinya.
Cooper menggeleng. ”Aku tidak mau minum untuk
sementara ini.” Sudut mulutnya naik sedikit, memben­
tuk senyuman.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Kau sangat tampan, Mr. Landry,” kata Rusty pelan


sambil memandanginya, seperti baru pertama kali me­
lihatnya.
Cooper mengambil gelas brendi dari tangan Rusty
yang tampak lemas. ”Kau bicara di bawah pengaruh
brendi.”

239
”Tidak, kau memang tampan.” Rusty mengangkat
tangannya dan menyentuh rambut lelaki itu.
”Aku senang kau berpendapat begitu.”
”Makan malam, Ms. Clarson? Mr. Landry?”
Mereka terkejut ketika mengetahui bahwa pesawat
sudah mengudara. Mereka begitu asyik dengan satu
sama lain, sehingga tidak menyadari kapan pesawat
berangkat. Tapi tidak apa. Perjalanan sebelumnya de­
ngan helikopter tidak terlalu berpengaruh pada Rusty
karena ia tidak sempat mengantisipasinya. Tapi mem­
bayangkan terbang ke Los Angeles membuatnya takut.
Ia perlu waktu sebelum bisa terbang dengan nyaman,
seperti biasa.
”Mau makan, Rusty?” tanya Cooper. Rusty mengge­
leng. Pada pramugari, Cooper berkata, ”Tidak, terima
kasih. Kami sudah beberapa kali makan hari ini.”
”Panggil saya kalau Anda memerlukan apa­apa,” kata
sang pramugari dengan ramah, lalu beranjak pergi. Ha­
nya mereka penumpang di kelas satu. Setelah si pramu­
gari pergi, mereka tinggal berdua.
”Kau tahu, lucu juga,” kata Rusty sambil berpikir,
”selama ini kita selalu bersama­sama. Kupikir aku akan
sangat senang kalau akhirnya kita bisa berpisah. Kupi­
kir aku sudah rindu ingin berkumpul dengan orang­
www.facebook.com/indonesiapustaka

orang lain...” Ia mempermainkan saku kemeja Cooper,


”...tapi hari ini aku kesal melihat orang­orang itu. Saling
sikut dan saling dorong. Dan aku jadi panik setiap kali
tidak melihatmu.”
”Itu wajar,” bisik Cooper sambil merapikan rambut
Rusty dan menyelipkannya ke balik telinga gadis itu.
”Kau sudah begitu lama bergantung padaku, dan itu

240
sudah menjadi kebiasaan. Nanti ini akan hilang dengan
sendirinya.”
Rusty memiringkan kepala. ”begitukah, Cooper?”
”Sudah jelas, bukan?”
”Rasanya aku tidak menginginkan itu.”
Cooper menyebutkan nama Rusty perlahan, lalu me­
ngecup bibir gadis itu dengan penuh perasaan, seolah­
olah ini merupakan kesempatan terakhirnya. Ada guratan
putus asa dalam ciuman lelaki itu, dan Rusty masih tetap
merasakannya saat ia merangkul leher Cooper dan mem­
benamkan wajahnya di lekuk bahu lelaki itu.
”Kau menyelamatkan hidupku. Sudahkah aku berte­
rima kasih padamu? Pernahkah kukatakan bahwa tanpa
kau aku pasti sudah akan mati?”
Cooper sedang asyik menciumi leher, telinga, dan
rambut Rusty. ”Kau tidak perlu berterima kasih pada­
ku. Aku ingin melindungimu, mengurusmu.”
”Kau telah melakukannya. Dengan sangat baik pula.”
Mereka berciuman lagi, sampai terpaksa menghentikan­
nya kemudian, dengan terengah­engah. ”Sentuh aku.”
Cooper memperhatikan mulut Rusty yang membi­
sikkan kata­kata itu. ”Menyentuhmu? Di sini? bagaima­
na mungkin?”
Rusty mengangguk cepat. ”Ayolah, Cooper. Aku
www.facebook.com/indonesiapustaka

ketakutan. Aku perlu meyakinkan diriku bahwa kau ada


di sini... benar­benar ada di sini.”
Cooper membuka mantel yang dikenakan Rusty,
pemberian dari pemerintah Kanada, dan menyelipkan
tangannya ke balik mantel itu. Payudara Rusty terasa
hangat di balik sweter yang dikenakannya.

241
Cooper menempelkan pipinya di pipi Rusty dan
berbisik, ”Kau jadi bergairah?”
”Hmm.”
Jemari Cooper membelai puncak payudaranya dari
luar sweter. ”Kau tidak tampak terkejut.”
”Memang tidak.”
”Apakah kau selalu mudah bergairah? Di mana kau
saat aku remaja?”
Rusty tertawa pelan. ”Tidak, aku tidak selalu mudah
bergairah. Ini karena aku memikirkan kejadian semalam.”
”Semalam banyak yang terjadi. Lebih spesiik.”
”Ingat ketika…” Rusty mengingatkan Cooper dalam
bisikan sensual.
”Astaga, ya,” erang Cooper, ”tapi jangan bicarakan
hal itu sekarang.”
”Kenapa?”
”Kalau kau melakukannya, kau harus duduk di pang­
kuanku sekarang.”
Rusty menyentuh Cooper. ”Untuk menutupi ini?”
”bukan, Rusty,” kata Cooper sambil mengertakkan
gigi. Dan ketika ia memberitahu Rusty apa yang akan
mereka lakukan jika Rusty berada dalam pangkuannya,
gadis itu buru­buru menarik kembali tangannya.
”Kurasa perbuatan itu sama sekali tidak pantas. bah­
www.facebook.com/indonesiapustaka

kan, apa yang kaulakukan sekarang juga tidak pantas.


Mungkin lebih baik kau berhenti.” Cooper menjauhkan
tangan dari sweter Rusty. Tampak puncak payudara
Rusty menegang di balik sweter. Mereka saling pan­
dang dengan penuh sesal. ”Kalau saja kita tidak sama­
sama keras kepala. Kalau saja kita sudah bercinta sebe­
lum semalam.”

242
Cooper mendesah panjang. ”Itu juga terpikir olehku.”
Rusty menahan isaknya. ”Peluk aku, Cooper.” Lelaki
itu memeluknya erat dan membenamkan wajah di ram­
but Rusty. ”Jangan lepaskan aku.”
”Tidak akan. Tidak sekarang.”
”Sampai kapan pun tidak. Janji.”
Tapi Rusty sudah mengantuk sebelum Cooper
mengucapkan janjinya. Dan ia tak sempat melihat eks­
presi kosong di wajah lelaki itu.

Sepertinya seluruh penduduk kota sudah menunggu


kedatangan mereka di LAX. Mereka hanya mendarat
sebentar di Seattle dan tidak turun lagi dari pesawat.
Para penumpang yang baru naik tidak ada yang duduk
di kelas satu. Lalu pesawat kembali berangkat.
Untuk mengantisipasi serbuan penyambut, pramu­
gara yang sudah senior menyarankan mereka turun
paling akhir. Rusty menyambut saran ini. Ia sangat
gugup. Telapak tangannya basah oleh keringat. Hal­hal
seperti ini masih asing baginya. biasanya ia selalu te­
nang dalam setiap acara sosial, tapi entah kenapa seka­
rang ia merasa cemas. Ia tak ingin melepaskan lengan
Cooper yang dipeganginya, meski sesekali ia menyung­
www.facebook.com/indonesiapustaka

gingkan senyum percaya diri pada lelaki itu. Kalau saja


ia bisa kembali ke kehidupannya yang biasa tanpa ba­
nyak ribut­ribut.
Tapi tidak akan semudah itu. begitu melangkah ke
luar pesawat dan menginjak landasan, apa yang ditakut­
kannya menjadi kenyataan. Sesaat matanya silau oleh

243
lampu­lampu kamera televisi. Mikrofon­mikrofon diso­
dorkan ke depan wajahnya. Seseorang secara tak sengaja
menyenggol mata kakinya yang sakit dengan tas kamera.
Kebisingan di sekitarnya sungguh menulikan telinga.
Tapi di tengah segala keiruhan itu, sebuah suara yang
sudah sangat dikenalnya memanggilnya. Dan ia menoleh.
”Ayah?”
Dalam beberapa saat ia sudah berada dalam pelukan
ayahnya, lepas dari pegangan Cooper. Sambil membalas
pelukan ayahnya, ia mencari­cari tangan Cooper, tapi
tak bisa menemukannya. Ia menjadi panik.
”Coba kulihat keadaanmu,” kata bill Carlson sambil
memegangi lengan putrinya dan menariknya pergi. Para
reporter membuat lingkaran lebar di sekitar mereka. Dan
para fotografer masih terus menjepretkan kamera­kame­
ra untuk mengabadikan pertemuan yang mengharukan
ini. ”Tidak terlalu buruk, mengingat situasinya.” bill
Carlson melepaskan mantel yang dikenakan Rusty. ”Mes­
ki aku sangat berterima kasih pada pemerintah Kanada
yang telah bermurah hati mengurusmu hari ini, kurasa
kau akan merasa jauh lebih baik dalam mantel ini.”
Salah satu asisten Carlson muncul dan menyodorkan
sebuah kotak besar. Dari dalamnya ayah Rusty menge­
luarkan sebuah mantel dari bulu rubah merah yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

persis sama dengan yang dikenakan Rusty ketika meng­


alami kecelakaan pesawat. ”Aku mendengar tentang
nasib mantelmu, Sayang,” kata Carlson sambil dengan
bangga menyelimutkan mantel itu ke bahu Rusty. ”Jadi,
aku ingin menggantikannya.”
Seruan­seruan kagum terdengar dari kerumunan

244
penonton. Para reporter mendesak maju untuk memo­
tret. Mantel itu sangat mewah, tapi terlalu berat untuk
udara malam California Selatan yang hangat. Tapi
Rusty tidak memedulikan apa pun, sebab matanya si­
buk mencari­cari Cooper di antara kerdipan cahaya
lampu itu. ”Ayah, aku ingin memperkenalkan-”
”Jangan cemas tentang kakimu. Akan kuurus agar
kau mendapat perawatan dokter­dokter paling ahli.
Aku sudah memesan kamar untukmu di rumah sakit.
Kita akan segera ke sana.”
”Tapi Cooper-”
”Ah, ya, Cooper Landry, bukan? Laki­laki yang juga
selamat dari kecelakaan itu. Aku sangat berterima kasih
padanya, tentu. Dia telah menyelamatkanmu. Aku tidak
akan pernah melupakan itu.” Carlson sengaja bicara
dengan suara keras yang pasti didengar oleh para repor­
ter surat kabar dan pasti ditangkap oleh mikrofon.
Dengan diplomatis asisten Carlson mengulurkan
kotak mantel yang panjang itu untuk membuka jalan
bagi mereka di antara kerumunan nyamuk pers. ”Sau­
dara­saudara, Anda sekalian akan diberitahu kalau ada
berita baru tentang kisah ini,” kata Carlson sambil
menarik Rusty ke sebuah kereta golf yang sudah me­
nunggu untuk membawa mereka ke luar terminal.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rusty melayangkan pandangan ke sekelilingnya, tapi


tidak melihat Cooper. Namun, akhirnya ia melihat
sekilas bahu lebar lelaki itu saat Cooper berjalan men­
jauh. beberapa reporter mengejarnya dengan bernafsu.
”Cooper!” panggilnya lagi. Tapi Cooper tidak bisa
mendengar di tengah keriuhan tersebut.

245
Rusty ingin melompat dari kereta itu dan mengejar­
nya, tapi kereta itu sudah bergerak dan ayahnya meng­
ajaknya bicara. Dicobanya menyerap ucapan­ucapan
ayahnya, tapi ia seperti mendengar kalimat­kalimat yang
asing dan tidak dapat dipahaminya.
Dicobanya memerangi kepanikannya yang mulai
memuncak sementara kereta itu berjalan sambil mem­
bunyikan klakson kepada para pejalan kaki yang lantas
menepi. Akhirnya Cooper tidak tampak lagi di tengah
kerumunan orang itu, lepas sepenuhnya dari pandangan
Rusty.
begitu berada di dalam limosin yang melaju menuju
rumah sakit swasta yang telah dihubungi ayah Rusty,
Carlson menggenggam tangan putrinya yang berkeri­
ngat. ”Aku sangat cemas akan nasibmu, Rusty. Kupikir
aku sudah kehilangan kau juga.”
Rusty bersandar di bahu ayahnya dan meremas le­
ngannya. ”Aku tahu. Aku juga cemas memikirkan reak­
si Ayah kalau mendapat kabar tentang kecelakaan itu.”
”Tentang perselisihan kita pada hari kepulanganmu
itu-”
”Sudahlah, Ayah, tak perlu dipikirkan lagi.” Rusty
mengangkat kepala dan tersenyum pada ayahnya. ”Aku
memang tidak tahan melihat kambing itu dikuliti, tapi
www.facebook.com/indonesiapustaka

aku berhasil bertahan menghadapi kecelakaan pesawat.”


Carlson mendecak. ”Aku tidak tahu apakah kau masih
ingat ini. Waktu itu kau masih sangat kecil. Jef menyeli­
nap ke luar pondok saat berkemah bersama kelompok
pramuka pada suatu musim panas. Sepanjang malam dia
berada di hutan. Dia tersesat dan baru ditemukan keesok­

246
an harinya. Tapi anak bandel itu sama sekali tidak keta­
kutan. Ketika kami menemukannya, dia sudah membuat
kemah dan memancing dengan tenang untuk makan
malamnya.”
Rusty kembali bersandar di bahu ayahnya, senyum­
nya lambat laun memudar. ”Cooper melakukan semua
itu untukku.”
Mendadak ia merasa tubuh ayahnya menegang.
Reaksi seperti ini biasanya timbul kalau ada sesuatu
yang tidak disukainya. ”Orang macam apa si Cooper
Landry ini, Rusty?”
”Macam apa?”
”Dia veteran perang Vietnam, setahuku.”
”Ya. Dia juga pernah menjadi tawanan perang, tapi
berhasil melarikan diri.”
”Apa dia... memperlakukanmu dengan baik?”
Ah, tentu, pikir Rusty. Tapi disumbatnya kenangan­
kenangan menggairahkan yang bergejolak di dalam diri­
nya, seperti botol sampanye yang sudah dibuka. ”Ya,
Ayah, sangat baik. Aku tidak akan bisa bertahan tanpa
dia.”
Ia tidak ingin langsung menceritakan keterlibatannya
secara pribadi dengan Cooper. Masih terlalu dini.
Ayahnya harus diberitahu tentang perasaannya secara
www.facebook.com/indonesiapustaka

perlahan­lahan. Mungkin saja ia akan menentang, sebab


ayahnya orang yang sangat kukuh pada pendiriannya.
Selain itu bill Carlson juga sangat intuitif. Tidak
mudah mengelabuinya. Dengan suara diusahakan se­
biasa mungkin, Rusty berkata, ”Maukah Ayah mencoba
melacak keberadaannya malam ini?” Ini bukan permin­

247
taan yang luar biasa. Ayahnya memiliki kontak di sean­
tero kota. ”beritahu dia di mana aku berada. Kami
terpisah di bandara.”
”Kenapa kau merasa perlu bertemu lagi dengan orang
ini?”
Ayahnya tidak memahami apa yang dirasakannya.
”Aku ingin mengucapkan terima kasih dengan sepantas­
nya atas pertolongannya padaku,” sahut Rusty mengelak.
”Akan kucoba,” kata ayahnya saat mobil berhenti di
depan klinik swasta tersebut.
Meski semua urusan sudah ditangani ayahnya, baru
dua jam kemudian Rusty bisa beristirahat tenang di
kamarnya yang mewah. Dihiasi berbagai lukisan karya
asli dan perabot kontemporer, kamar itu lebih mirip
sebuah apartemen indah daripada kamar rumah sakit.
Rusty berbaring di tempat tidur nyaman dengan bantal­
bantal empuk di bawah kepalanya. Ia mengenakan gaun
malam rancangan desainer, satu dari beberapa gaun
yang sudah disiapkan ayahnya sejak saat ia masuk. Se­
mua perlengkapan kosmetik dan berbagai pernak­pernik
kesayangannya telah ditaruh di kamar mandi. Ia juga
bisa menghubungi staf rumah sakit kapan saja. Ia cuma
perlu mengangkat telepon di meja kecil di dekatnya.
Tapi ia merasa sangat tidak bahagia.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Pertama, kakinya sakit akibat pemeriksaan oleh dok­


ter bedah. Setelah di­X­ray, ternyata tidak ada tulang
yang patah. ”Cooper sudah mengatakan tidak ada yang
patah,” ia memberitahu sang dokter yang mengernyit­
kan kening melihat bekas luka jahit yang kasar itu.
Ketika ia berkomentar tentang bekas jahitan itu, Rusty

248
langsung membela Cooper. ”Dia mencoba menyelamat­
kan kakiku,” katanya.
Sekonyong­konyong ia merasa sangat bangga akan
bekas luka itu dan tidak terlalu bersemangat lagi untuk
menghilangkannya. Ia diberitahu bahwa untuk menghi­
langkan bekas itu setidaknya diperlukan tiga kali opera­
si. Tapi sekarang baginya bekas luka itu menjadi tanda
keberaniannya.
Selain itu, Cooper telah mengatakan padanya bahwa
ia sama sekali tidak merasa jijik melihat bekas luka itu.
Ia justru ”bergairah” setiap kali melihatnya. Rusty me­
nimbang­nimbang untuk mengatakan itu pada si dokter
bedah plastik yang sombong.
Tapi itu tidak dilakukannya. Ia malah tidak banyak
berbicara. Ia tak punya tenaga untuk itu. Ia hanya bisa
berharap segera ditinggalkan sendiri, agar bisa tidur.
Tapi, sekarang, setelah mendapat kesempatan untuk
tidur, ia justru tidak merasa mengantuk. berbagai kera­
guan dan rasa takut serta rasa tidak bahagia membuat­
nya tetap terjaga. Di mana Cooper? Kenapa lelaki itu
tidak mengikutinya? Tadi di bandara memang ribut
sekali, tapi Cooper tentunya bisa tetap mendampinginya
kalau ingin.
Ketika perawat datang menawarkan obat penenang,
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rusty dengan senang hati menerimanya. Sebab ia tahu


bahwa tanpa obat penenang, ia tak akan bisa tidur tan­
pa berada dalam pelukan hangat Cooper.

249
11

”ASTAGA, sulit dipercaya, Rusty kita mengalami ke­


celakaan pesawat!”
”Pasti sangat mengerikan.”
Dari ranjang rumah sakit itu Rusty memandangi
kedua wanita berpakaian bagus di hadapannya dan
berharap mereka pergi saja, lenyap seperti asap. begitu
nampan sarapannya dibawa pergi oleh seorang perawat
yang sangat gesit dan eisien, kedua wanita temannya
itu langsung masuk ke kamarnya.
Dengan menebarkan aroma parfum eksotis dan seju­
ta rasa ingin tahu, mereka mengatakan ingin menjadi
orang pertama yang menyatakan simpati. Tapi Rusty
menduga yang sebenarnya mereka inginkan adalah
www.facebook.com/indonesiapustaka

menjadi orang pertama yang mendengar detail­detail


mengasyikkan tentang ”petualangannya” di Kanada.
”Tidak, menurutku tidak terlalu mengasyikkan,” kata
Rusty dengan letih.
Ia sudah bangun lama sebelum sarapan dibawakan.
Sekarang ia terbiasa bangun begitu matahari terbit.

250
berkat obat penenang yang diminumnya semalam, ia bisa
tidur nyenyak. Kelesuannya timbul bukan karena ia lelah,
melainkan karena depresi. Semangatnya saat ini betul­
betul berada pada titik terendah, dan usaha teman­
temannya untuk menyenangkannya sama sekali tidak
berhasil.
”begitu kau keluar dari sini, kami akan mentraktirmu
mempercantik diri seharian di salon. Perawatan rambut,
kulit, pijat. Coba lihat kuku­kukumu itu.” Salah seorang
wanita tersebut mengangkat tangan Rusty yang lemah
sambil mendecak­decakkan lidah. ”Tanganmu jadi kasar.”
Rusty tersenyum lesu. Ia teringat betapa kesalnya ia
ketika Cooper memotong kuku­kukunya dengan pisau
berburu. ”Habis bagaimana? Aku tidak bisa manikur.”
Ia hanya bermaksud bercanda, tapi kedua temannya
malah mengangguk­angguk penuh simpati. ”Aku terlalu
sibuk berusaha bertahan hidup.”
Salah seorang temannya mengibaskan rambutnya yang
pirang dan pura­pura merinding ngeri, hingga skarf
Hermes di lehernya terlepas. Sejumlah gelang perak di
pergelangan tangannya bergemerincing seperti giring­
giring. ”Kau berani sekali, Rusty. Aku sendiri lebih baik
mati saja daripada mengalami yang seperti itu.”
Rusty ingin memprotes ucapan temannya itu, tapi
www.facebook.com/indonesiapustaka

kemudian ia teringat bahwa dulu ia pun tentu akan


mengucapkan hal dangkal semacam itu. ”Kupikir juga
begitu. Tapi kau pasti heran kalau tahu bahwa manusia
memiliki insting untuk bertahan yang sangat kuat, se­
perti binatang. Dalam situasi seperti yang kualami, in­
sting itu mengambil alih.”

251
Tapi kedua temannya tidak tertarik mendengar fal­
safahnya. Mereka ingin mendengar yang lebih seru.
Hal­hal yang menjurus dan sensasional. Salah seorang
wanita itu duduk di kaki tempat tidur Rusty; satunya
mencondongkan tubuh ke depan di kursinya. Mereka
seperti sepasang burung pemangsa yang siap menyam­
bar dagingnya kalau ia tidak waspada sekejap saja.
Cerita tentang kecelakaan pesawat itu, serta berbagai
peristiwa yang menyusul kemudian, ditampilkan pada
halaman pertama surat kabar pagi itu. Penulisnya de­
ngan teliti memaparkan apa saja yang dialami Rusty dan
Cooper. Artikel itu berkesan serius dan akurat secara
jurnalistik, tapi publik cenderung membaca yang tersi­
rat. Mereka ingin mendengar apa­apa yang tidak disam­
paikan. Termasuk kedua teman itu.
”bukankah pengalamanmu sangat mengerikan? Kalau
matahari sudah terbenam, tentunya gelap sekali ya?”
”Di pondok itu ada beberapa lentera.”
”Tidak, maksudku di luar.”
”Sebelum kau sampai di pondok itu. Ketika kalian
masih harus tidur di hutan.”
Rusty mendesah lelah. ”Ya, memang gelap. Tapi
kami membuat api.”
”Apa yang kalian makan?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Kebanyakan daging kelinci.”


”Kelinci! Aku bisa mati makan daging kelinci.”
”Aku tidak,” kata Rusty ketus. ”Kalian juga tidak
akan mati makan daging kelinci.”
Aduh, kenapa ia berkata begitu? Kenapa ia tidak
diam saja? Kedua temannya tampak tersinggung dan
bingung, tak mengerti kenapa Rusty bersikap begitu

252
ketus pada mereka. Rusty menyesal, kenapa tadi tidak
memberikan reaksi yang lebih halus, misalnya dengan
mengatakan bahwa beberapa restoran terkenal juga
menyediakan masakan daging kelinci?
Pikiran itu kembali membuatnya teringat akan
Cooper, dan rasa rindu terhadap lelaki itu kembali
menyelimutinya. ”Aku capek sekali,” katanya. Ia ingin
menangis, tapi tak mau menjelaskan sebabnya.
Namun, kedua wanita itu tidak bisa dihadapi dengan
cara halus. Mereka tidak menangkap keinginan Rusty
agar mereka segera pergi. ”Dan lihat kakimu itu.” Wanita
yang mengenakan gelang menyentuh pipinya sendiri de­
ngan ngeri. ”Apa dokter yakin bisa memperbaikinya?”
Rusty memejamkan mata ketika menjawab, ”Yakin
sekali.”
”Perlu berapa kali operasi untuk menghilangkan be­
kas luka yang jelek itu?” Wanita satunya mengibaskan
tangan untuk memperingatkan sang teman yang berta­
nya. Rusty bisa merasakan embusan angin dari kibasan
tangan itu. ”Oh, bukan begitu maksudku,” kata wanita
yang bertanya. ”Lukanya tidak terlalu mengerikan.
Maksudku-”
”Aku mengerti maksudmu,” kata Rusty sambil mem­
buka mata. ”Memang mengerikan, tapi lebih baik dari­
www.facebook.com/indonesiapustaka

pada kalau kakiku diamputasi. Dan waktu itu aku


sempat takut bahwa jangan­jangan kakiku memang
mesti dibuang. Kalau Cooper-”
Ia menghentikan kalimatnya saat secara tak sengaja
menyebutkan nama Cooper. Tapi kedua temannya yang
mendengar langsung menyambar kesempatan itu de­
ngan antusias.
253
”Cooper?” tanya salah seorang dengan gaya lucu. ”Itu
laki­laki yang juga selamat dari kecelakaan, kan?”
”Ya.”
Kedua wanita itu bertukar pandang, seolah menim­
bang­nimbang dalam hati, siapa yang akan lebih dulu
mengajukan pertanyaan tentang laki­laki itu.
”Aku melihatnya di televisi semalam. Astaga, Rusty,
dia sangat tampan.”
”Tampan?”
”Yah, bukan tampan dalam arti biasa. bukan tampan
seperti model. Maksudku tampan kasar, maskulin, sek­
si. Semacam itulah.”
”Dia menyelamatkanku,” kata Rusty pelan.
”Aku tahu, Sayang. Dan beruntung sekali kalau si
penyelamat adalah laki­laki seperti Cooper Landry itu.
Kumisnya itu...!” Ia menyeringai nakal sambil menjilat
bibirnya. ”Apa benar ucapan orang tentang kumis laki­
laki? Ingat lelucon itu, tidak?”
Rusty ingat, dan pipinya jadi bersemu merah, namun
bibirnya memucat. Lelucon tentang kumis itu memang
benar.
”Apa benar bahunya selebar ini?” Sang teman me­
nunjukkan dengan kedua tangannya.
”bahunya memang lebar,” Rusty mengakui dengan
www.facebook.com/indonesiapustaka

tak berdaya. ”Tapi dia-”


”Apa benar pinggulnya seramping ini?” Lagi­lagi si
teman memperagakan dengan kedua tangannya, lalu
kedua wanita itu terkikik­kikik.
Rusty ingin menjerit. ”Dia tahu banyak hal yang ti­
dak pernah kuketahui. Dia membuat tandu dari mantel

254
buluku dan menarikku menjauhi tempat jatuhnya pesa­
wat... hingga berkilo­kilometer. Aku baru sadar betapa
jauhnya setelah aku melihat jarak yang kami tempuh
dari helikopter.”
”Ada kesan berbahaya pada diri orang itu.” Salah
seorang teman merinding pelan. Ia sama sekali tidak
mendengarkan ucapan Rusty tadi. ”Sorot matanya se­
perti mengancam. Aku selalu menganggap karakter
primitif seperti itu sangat seksi.”
Teman yang duduk di kursi memejamkan mata seper­
ti hampir pingsan. ”Stop! Kau membuatku berhasrat.”
”Menurut koran pagi ini, dia membunuh dua orang
dalam perkelahian memperebutkanmu.”
Rusty hampir terlonjak dari tempat tidurnya. ”Koran
sama sekali tidak mengatakan begitu.”
”Aku bisa mengambil kesimpulan sendiri.”
”Dia melakukan itu untuk membela diri”
”Sayangku, tenanglah.” Sang teman menepuk­nepuk
tangan Rusty. ”Kalau kaubilang itu untuk membela diri,
ya sudah.” Ia mengedipkan mata pada Rusty. ”Dengar,
suamiku kenal dengan bill Friedkin. Menurut pendapat­
nya, ceritamu bagus sekali dijadikan ilm. Dia dan Fried­
kin akan makan siang bersama minggu depan, dan-”
”Film!” Rusty terperangah mendengar hal itu. ”Ti­
www.facebook.com/indonesiapustaka

dak! Tolong katakan padanya supaya tidak mengatakan


apa­apa. Aku tidak ingin peristiwa ini dimanfaatkan.
Aku ingin melupakan semuanya dan melanjutkan hi­
dupku.”
”Kami tidak bermaksud membuatmu cemas, Rusty.”
Teman yang duduk itu sekarang bangkit berdiri di

255
samping tempat tidur Rusty. Ia menaruh satu tangan­
nya di bahu Rusty dengan sikap menghibur. ”Tapi kami
ini sahabat­sahabatmu yang paling dekat. Kalau ada
sesuatu yang tidak menyenangkan, yang ingin kaubi­
carakan, sesuatu yang... kau tahu, kan, aspek sangat
pribadi dari kecelakaan itu, yang tidak bisa kauceritakan
pada ayahmu, maka kami bersedia mendengarkan.”
”Aspek apa?” Rusty menepiskan tangan temannya
dan melotot pada mereka. Keduanya bertukar pandang
dengan penuh arti.
”Yah, kau kan hanya berdua dengan lelaki itu selama
hampir dua minggu.”
”Lalu?” tanya Rusty kesal.
”Dan...” Teman itu menarik napas panjang. ”Menu­
rut koran, pondok itu hanya memiliki satu ruangan.”
”Jadi?”
”Ayolah, Rusty.” Kedua teman itu tak sabar lagi.
”Situasi itu bisa menimbulkan berbagai spekulasi. Kau
wanita muda yang sangat menarik, dan lelaki itu jelas
sangat tampan dan maskulin. Kalian berdua sama­sama
lajang. Kau terluka. Dia merawatmu. Kau boleh dika­
takan bergantung sepenuhnya padanya. Kalian malah
mengira akan terkurung di sana selama musim dingin.”
Teman satunya menyambut kalimat itu dengan pe­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nuh semangat, ”Tinggal berdua seperti itu, dan sangat


berdekatan pula, di dalam hutan... yah, bagiku itu sa­
ngat romantis. Kau mengerti maksud kami, kan?”
”Ya, aku mengerti maksud kalian.” Suara Rusty di­
ngin, namun sepasang matanya berkilat­kilat marah.
”Kalian ingin tahu apakah aku tidur dengan Cooper.”

256
Tepat pada saat itu orang yang menjadi topik pembi­
caraan mereka masuk ke kamar. Rusty merasa jantungnya
nyaris melompat keluar karena kaget. Kedua temannya
membalikkan tubuh saat melihat senyum cerah di bibir
Rusty. Cooper hampir­hampir tidak mengacuhkan kedua
wanita itu. Mata kelabunya tertuju pada Rusty. Tatapan
membara di antara keduanya sudah cukup untuk menjadi
penunjuk tingkat keintiman mereka.
Akhirnya Rusty bisa berbicara. ”Cooper, ini dua te­
man karibku.” Ia memperkenalkan kedua wanita itu.
Cooper hanya mengangguk singkat sebagai balasan.
”Oh, Mr. Landry, saya senang sekali bertemu dengan
Anda,” kata salah seorang wanita itu dengan antusias,
matanya berbinar­binar. ”Kata Times, Anda mantan
tawanan perang. Saya sungguh tak habis pikir. Maksud
saya, saat membayangkan apa­apa yang pernah Anda
alami... Dan sekarang Anda selamat dari kecelakaan
pesawat...”
”Kata Rusty, Anda menyelamatkan hidupnya.”
”Suami saya dan saya ingin sekali mengundang Anda
dan Rusty ke pesta makan malam kecil yang akan saya
selenggarakan kalau Rusty sudah sehat kembali. Saya
harap Anda tidak keberatan.”
”Kapan kau merencanakan itu?” tanya teman satunya
www.facebook.com/indonesiapustaka

dengan jengkel. ”Aku yang ingin mengadakan pesta


untuk mereka.”
”Tapi aku yang bicara lebih dulu.”
Percakapan konyol ini sangat menjengkelkan dan
memalukan. Celoteh mereka sangat mirip dengan kedua
gadis saudara tiri Cinderella. ”Kurasa Cooper tidak bisa

257
lama­lama,” sela Rusty yang melihat Cooper sudah se­
makin tak sabar. begitu pula ia sendiri. Karena Cooper
ada di sini, ia ingin kedua temannya segera pulang, agar
ia bisa berduaan saja dengan lelaki itu.
”Kami sudah cukup lama di sini,” salah satu dari mere­
ka berkata sambil membereskan tas dan mantelnya. Ia
membungkuk dan memberikan ciuman basa­basi di pipi
Rusty, sambil berbisik, ”Pintar sekali kau. Kau tidak akan
bisa lolos dari kami. Aku ingin tahu semuanya.”
Teman satunya membungkuk juga dan berkata, ”Ti­
dak rugi mendapat kecelakaan, kalau akhirnya bertemu
dengan lelaki seperti dia. Dia sangat luar biasa. Sangat
maskulin. Sangat... Yah, kurasa aku tidak perlu lagi
mengatakannya padamu.”
Mereka kemudian minta diri pada Cooper. Salah satu­
nya bahkan menyentuh dada lelaki itu sekilas, sambil
mengingatkan tentang pesta makan malam yang akan
diadakannya. Lalu mereka keluar sambil menoleh dan
tersenyum puas pada Rusty, sebelum menutup pintu.
Cooper memandangi kepergian mereka, lalu mende­
kat ke tempat tidur. ”Aku tidak mau datang ke pesta
sialan itu.”
”Aku juga tidak akan memintamu datang. begitu rasa
antusias mereka berkurang, akan kusarankan padanya
www.facebook.com/indonesiapustaka

untuk melupakan gagasan itu.”


Melihat kedatangan Cooper yang ternyata menim­
bulkan efek yang tidak menyenangkan bagi Rusty.
Matanya pedih menahan tangis. Ia menyapu air mata­
nya dengan tangan.
”Kenapa?”

258
”Tidak kenapa­kenapa. Aku...” Ia ragu mengatakan­
nya, tapi lalu memutuskan untuk mengutarakannya saja.
Sudah tidak pada tempatnya lagi mereka saling menyim­
pan rahasia. ”Aku senang sekali melihatmu lagi.”
Cooper tidak menyentuhnya, namun tatapannya
sudah cukup untuk membuat Rusty merasa bagaikan
dibelai. Sepasang mata itu menyapu sosoknya yang
terbaring di balik selimut, lalu berhenti di payudaranya
yang tercetak jelas di bawah gaun tidur sutranya yang
menempel ketat.
Dengan gugup Rusty mengangkat tangan dan mema­
inkan renda di bagian leher gaunnya. ”Gaun ini... eh...
sudah ada di sini ketika aku masuk.”
”bagus sekali.”
”Apa pun lebih baik daripada legging seperti dulu
itu.”
”Kau tampak cantik dalam legging itu.”
Rusty tersenyum ragu. Cooper sudah ada di sini. Ia
bisa melihat lelaki itu, mencium aroma sabun yang
bersih dari tubuhnya, mendengar suaranya. Cooper
mengenakan pakaian baru—celana panjang, kemeja
santai, dan jaket. Tapi lelaki itu seperti menjaga jarak,
dan Rusty bisa merasakannya dengan jelas.
”Terima kasih mau datang menjengukku,” kata
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rusty, karena tidak tahu mesti berkata apa lagi. ”Aku


meminta ayahku mencarimu dan memberitahumu di
mana aku berada.”
”Ayahmu tidak memberitahukan apa­apa padaku.
Aku menemukanmu dengan usahaku sendiri.”
Rusty terharu. Cooper mencarinya? Mungkin sepan­

259
jang malam. Sementara ia tidur nyenyak karena penga­
ruh obat, mungkin Cooper sedang menyusuri berbagai
pelosok kota untuk mencarinya.
Tapi harapannya yang sudah memuncak itu runtuh
mendengar kalimat Cooper selanjutnya. ”Aku tahu kau
ada di sini dari koran pagi. Kudengar jahitan yang ku­
buat itu akan dioperasi oleh seorang dokter bedah
plastik.”
”Aku memberi pembelaan terhadap jahitanmu itu.”
Cooper angkat bahu tak acuh. ”Aku melakukannya
untuk menyelamatkan kakimu. Itu saja.”
”Aku juga berpikiran begitu.”
”bagus.”
”Sungguh!” Dengan marah Rusty duduk lebih tegak.
Ia tak suka mendengar nada sinis dalam suara Cooper.
”bukan keinginanku langsung datang kemari dari ban­
dara. Aku lebih suka pulang ke rumahku sendiri, me­
meriksa surat­suratku, menyiram tanamanku, tidur di
ranjangku sendiri.”
”Kau sudah dewasa. Kenapa tidak kaulakukan?”
”Sudah kubilang padamu, ayahku yang mengatur
semuanya. Aku tak mungkin meminta dia membatal­
kannya.”
”Kenapa tidak?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Jangan keterlaluan. Lagi pula, kenapa aku tidak


boleh menghilangkan bekas jahitan ini?”
Cooper membuang muka sambil menggigiti ujung
kumisnya. ”Tentu boleh. Sudah semestinya.”
Dengan sedih Rusty berbaring kembali di bantal dan
menghapus kedua matanya dengan sudut selimutnya.

260
”Ada apa dengan kita? Kenapa kita bersikap seperti
ini?”
Cooper menoleh kembali ke arahnya dengan ekspre­
si sedih, seperti mengasihani keluguan gadis itu. ”Tentu
saja kau tidak mesti membawa­bawa bekas luka itu se­
panjang sisa hidupmu. Aku tidak bermaksud menyaran­
kan demikian.”
”Aku bukan bicara tentang bekas lukaku, Cooper.
Maksudku adalah semuanya. Kenapa kau menghilang
di bandara semalam?”
”Aku ada di sana. Kau bisa melihatku dengan jelas.”
”Tapi kau tidak bersamaku. Aku berseru memanggil­
mu. Apa kau tidak mendengar?”
Cooper tidak segera menjawab. ”Tampaknya kau ti­
dak kekurangan perhatian.”
”Aku menginginkan perhatian darimu. Kau membe­
rikannya, sampai saat kita turun dari pesawat.”
”Kita tak mungkin bersikap seperti di pesawat, di
tengah orang demikian banyak.” Mata Cooper menelu­
suri tubuh Rusty dengan tatapan menghina. ”Lagi pula,
kau sedang sibuk.” Mulutnya lagi­lagi membentuk se­
nyuman sinis yang tampak asing di mata Rusty, karena
ekspresi seperti itu tidak dilihatnya lagi sejak mereka
bercinta.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rusty merasa bingung. Sejak kapan hubungan mere­


ka berubah memburuk seperti ini? ”Apa yang kauharap­
kan saat kita tiba di L.A., Cooper? Kita memang men­
jadi bahan berita. bukan salahku kalau para reporter itu
datang. Juga bukan salah ayahku. Dia sangat cemas
tentang keadaanku. Dialah yang membantu membiayai

261
ongkos mencari kita. Apa kaupikir dia akan menyambut
kepulanganku dengan biasa­biasa saja?”
”Tidak.” Cooper menyapukan jemarinya di rambut­
nya. ”Tapi apa dia perlu pamer seperti itu? Misalnya
dengan memberikan mantel itu padamu?”
”Menurutku tindakannya itu sangat penuh perhatian.”
Sampai sekarang pun Rusty masih merasa malu
mengingat gaya berlebihan ayahnya, tapi ia bertekad
akan membela ayahnya. Mantel tersebut merupakan
tanda kasih sayang dan kegembiraan ayahnya karena ia
kembali dengan selamat. Ia tak peduli bahwa cara yang
dipilih ayahnya berlebihan. Sungguh menjengkelkan
bahwa Cooper tidak bisa memahami hal itu.
Cooper mondar­mandir dengan gelisah di kamar
tersebut, seolah ingin lepas dari kungkungannya. Gerak­
annya cepat dan canggung, seperti orang yang tidak
percaya diri karena pakaian yang dikenakannya tidak
sesuai untuk dirinya. ”Aku mesti pergi.”
”Pergi? Sekarang? Mau ke mana?”
”Pulang.”
”Ke Rogers Gap?”
”Yeah. Ke tempat asalku. Aku mesti mengurus
ranch­ku. Entah seperti apa keadaannya sekarang.” Lalu
ia memandang kaki kanan Rusty. ”bagaimana dengan
www.facebook.com/indonesiapustaka

kakimu? Apa akan pulih kembali?”


”Lambat laun akan pulih,” sahut Rusty datar. Dia
akan pergi. Pergi. Jauh dariku. Mungkin untuk selamanya.
”Perlu beberapa kali operasi. Yang pertama besok.”
”Mudah­mudahan aku tidak terlalu merugikanmu
dengan apa yang kulakukan.”
Tenggorokan Rusty tersekat oleh emosi. ”Tidak.”

262
”Kalau begitu, kurasa sudah saatnya mengucapkan
selamat tinggal.” Cooper beranjak perlahan­lahan ke
pintu, agar tidak kelihatan seperti hendak cepat­cepat
melarikan diri.
”Mungkin sesekali aku bisa datang ke Rogers Gap
untuk menjengukmu. Siapa tahu?”
”Yeah, bagus.” Tapi senyumnya yang tampak terpak­
sa tidak sesuai dengan ucapannya.
”Seberapa sering kau... datang ke L.A.?”
”Tidak terlalu sering,” sahut Cooper sejujurnya.
”Sampai jumpa, Rusty.” Ia berbalik dan hendak meraih
pegangan pintu.
”Cooper, tunggu!” Lelaki itu membalikkan tubuh.
Rusty sudah duduk di tempat tidurnya, dalam posisi
siap mengejar Cooper, kalau terpaksa. ”Apa semuanya
mesti berakhir seperti ini?”
Cooper mengangguk singkat.
”Tak mungkin. Tidak setelah apa yang kita alami
bersama.”
”Tapi memang harus seperti ini.”
Rusty menggeleng dengan keras, sehingga rambutnya
berkibar ke segala arah. ”Kau tak bisa mengelabuiku
lagi. Kau sengaja bersikap tidak tanggap untuk melin­
dungi dirimu. Kau berusaha melawan perasaanmu. Aku
www.facebook.com/indonesiapustaka

tahu itu. Kau ingin memelukku, sama seperti aku ingin


memelukmu.”
Rahang lelaki itu mengetat saat ia mengertakkan gigi.
Kedua lengannya mengepal di sisi tubuhnya. Selama be­
berapa saat ia masih berusaha menahan diri, tapi tak
berdaya.

263
Dengan cepat ia menghampiri Rusty dan menarik
gadis itu dengan kasar ke dalam pelukannya. Keduanya
berpelukan erat dan tubuh mereka bergoyang­goyang.
Cooper membenamkan wajahnya di rambut merah ga­
dis itu.
”Rusty, Rusty.”
Terharu mendengar nada pedih dalam suara lelaki
itu, Rusty berkata, ”Semalam aku tidak bisa tidur kalau
tidak minum obat penenang. Aku ingin sekali mende­
ngar suara napasmu. Ingin sekali berada dalam peluk­
anmu.”
”Aku juga ingin sekali memelukmu lagi.”
Cooper menunduk dan mencium bibir Rusty dengan
penuh gairah. Disapukannya kesepuluh jemarinya di
rambut Rusty dan dipeganginya kepala gadis itu semen­
tara mereka berciuman.
”Aku sangat menginginkanmu semalam,” erang
Cooper setelah mereka melepaskan pelukan.
”Kau tidak ingin berpisah dariku?”
”Tidak seperti itu.”
”Lalu kenapa kau tidak menoleh waktu aku memang­
gilmu di bandara? Kau mendengar, bukan?”
Cooper tampak malu, tapi mengangguk juga. ”Aku ti­
dak mau tampil dalam kehebohan semacam itu, Rusty.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Aku ingin cepat­cepat pergi. Ketika pulang dari Vietnam,


aku disambut seperti pahlawan.” Ia menggosokkan sehe­
lai rambut Rusty di antara jemarinya sambil mengenang
masa lalunya yang pahit. ”Aku sendiri sama sekali tidak
merasa seperti pahlawan. Aku hidup di neraka. Di dasar
neraka. beberapa hal yang terpaksa kulakukan... tidak

264
terlalu heroik. Tidak layak membuatku menjadi sorotan.
Aku tidak layak menerimanya. Aku ingin dibiarkan sen­
dirian, supaya bisa melupakannya.”
Ia memiringkan kepala dan memandang tajam pada
Rusty. ”Sekarang pun aku tidak layak dan tidak ingin
menjadi sorotan. Aku melakukan apa yang perlu untuk
menyelamatkan hidup kita. Siapa pun akan melakukan
hal yang sama.”
Rusty menyentuh kumis Cooper dengan sayang.
”Tidak setiap orang, Cooper.”
Cooper tidak mengacuhkan pujian itu. ”Aku lebih
berpengalaman dalam cara­cara bertahan hidup dari­
pada kebanyakan orang. Itu saja.”
”Kau tetap menolak pujian yang sebenarnya layak
kauterima?”
”Itukah yang kauinginkan, Rusty? Pujian karena
bertahan hidup?”
Rusty teringat ayahnya. Ia akan senang sekali kalau
ayahnya memberikan pujian atas keberaniannya. Tapi
ayahnya justru bicara tentang pengalaman Jef ketika
menjadi pramuka, tentang betapa baik reaksi Jef terha­
dap situasi berbahaya yang dihadapinya. Sungguh keter­
laluan ayahnya membandingkan dirinya dengan Jef.
Memang ayahnya tidak bermaksud menghina dirinya,
www.facebook.com/indonesiapustaka

tapi itulah yang dirasakan Rusty. Ia berpikir, apa yang


mesti ia lakukan agar bisa merebut kekaguman ayahnya?
Tapi entah kenapa sekarang ia merasa pujian dari
ayahnya tidak terlalu penting lagi. Atau malah tidak
penting sama sekali. Ia lebih tertarik pada pendapat
Cooper tentang dirinya.

265
”Aku tidak menginginkan pujian, Cooper. Aku
ingin...” Ia menambahkan, ”kau”, namun ragu. Maka ia
hanya menyandarkan kepalanya di dada Cooper. ”Ke­
napa kau tidak mengejarku? Apa kau tidak mengingin­
kan aku lagi?”
Cooper membelainya. ”Ya, aku menginginkanmu.”
Suaranya sudah cukup untuk menunjukkan seberapa
besar keinginan itu.
Rusty bisa merasakan kebutuhan lelaki itu, karena ia
sendiri merasakannya. Keinginan itu bersumber dari
kekosongan yang menggerogoti hatinya saat Cooper
tidak ada bersamanya. ”Lalu kenapa?”
”Aku tidak mengejarmu semalam karena aku ingin
mempercepat apa yang tak mungkin kita hindari.”
”Yang tidak mungkin kita hindari?”
”Rusty,” bisik Cooper, ”ketergantungan seksual yang
kita alami ini sangat normal. Sudah biasa terjadi di
antara orang­orang yang berhasil mengatasi krisis ber­
sama­sama. bahkan para korban penculikan dan sande­
ra kadang­kadang merasakan cinta yang tidak wajar
pada penyandera mereka.”
”Aku sudah tahu semua itu. Itu sindrom Stockholm.
Tapi ini beda.”
”benarkah?” Cooper menautkan alis tak percaya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Seorang anak kecil akan menyayangi siapa pun yang


memberinya makan. bahkan binatang liar kadang­
kadang jadi jinak pada orang yang meninggalkan ma­
kanan untuknya. Aku telah merawatmu. Wajar saja
kalau kau jadi merasa terikat padaku.”
Dengan kemarahan yang muncul tiba­tiba, Rusty

266
mendorong Cooper, matanya berkilat­kilat. ”Jangan kau
berani­berani menyepelekan apa yang terjadi di antara
kita dengan segala ocehanmu itu. Itu omong kosong.
Apa yang kurasakan ini adalah yang sebenarnya.”
”Aku tidak menyangkalnya.” Kemarahan Rusty
membuat Cooper senang. Ia paling senang jika Rusty
marah. Ditariknya gadis itu ke dadanya. ”Sejak awal
kita memang sudah saling tertarik.” Lalu kembali dibe­
lainya payudara Rusty.
Dengan lemah Rusty bergumam. ”Jangan.” Namun
Cooper tidak memedulikannya. Ia terus membelai
Rusty, hingga Rusty memejamkan mata.
”Setiap kali berdekatan, kita selalu jadi bergairah.
bahkan saat pertama saling pandang di pesawat itu,
benar tidak?”
”Ya,” Rusty mengakui.
”Saat itu pun aku sudah menginginkanmu, sebelum
pesawat mengudara.”
”Tapi kau sama sekali tidak tersenyum atau menya­
paku. Kau juga membuatku tidak berani menyapamu.”
”benar.”
”Kenapa?” Rusty tidak tahan lagi merasakan belaian
lelaki itu. Disingkirkannya tangan Cooper. ”Katakan
sebabnya.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Sebab pada saat itu pun aku sudah punya dugaan,


yang sekarang terbukti kebenarannya. Dunia kita jauh
berbeda. Maksudku bukan sekadar perbedaan geograis.”
”Aku mengerti maksudmu. Di matamu, aku hanya
perempuan tolol dan dangkal, seperti kedua temanku
yang kaulihat tadi. Padahal sebenarnya tidak.”

267
Rusty meletakkan tangannya di lengan Cooper de­
ngan sikap memohon. ”Aku juga kesal pada mereka.
Tahu sebabnya? Sebab mereka merupakan cerminan
diriku dulu. Penilaianku terhadap mereka sekarang
sama dengan penilaianmu saat pertama melihatku dulu.
”Tapi kuharap kau bisa memaklumi mereka. Memak­
lumi aku. Ini beverly Hills. Tidak ada yang nyata di
sini. Di luar tempat ini, banyak yang tidak kumengerti.
Pondok di hutan itu berada di luar jangkauan pema­
hamanku. Tapi aku sudah berubah. Sungguh. Aku ti­
dak lagi seperti mereka.”
”Kau tidak pernah seperti mereka, Rusty. Dulu aku
menganggapmu begitu. Tapi sekarang aku sadar aku sa­
lah.” Cooper menangkup wajah Rusty dengan kedua ta­
ngan. ”Memang hidup semacam itulah yang kaukenal.
Dan dengan orang­orang seperti itulah kau bergaul. Aku
sendiri tidak akan bisa, dan tidak akan pernah mau men­
coba. Dan kau tidak sesuai dengan gaya hidupku.”
Merasa pedih mendengar kebenaran menyakitkan
yang diucapkan lelaki itu, Rusty menjadi marah dan
mengibaskan tangan Cooper. ”Hidupmu? Hidup ma­
cam apa? Mengasingkan diri dari dunia luar? Sendirian
dan kesepian? Menggunakan kepahitan sebagai tameng­
mu? Itu yang kaunamakan hidup? Kau benar, Cooper,
www.facebook.com/indonesiapustaka

aku tidak bisa hidup seperti itu. Terlalu berat untuk


dijalani.”
bibir lelaki itu membentuk garis tipis yang keras di
balik kumisnya. Rusty tahu ucapannya pada Cooper
sangat mengena, namun ia sama sekali tidak merasakan
kesenangan apa pun saat mengatakannya.

268
”Jadi, kau sudah tahu,” kata Cooper. ”Itulah yang
ingin kukatakan padamu. Kita pasangan yang hebat di
tempat tidur, tapi kita takkan pernah bisa menjalani
hidup bersama­sama.”
”Sebab kau terlalu keras kepala dan tidak mau men­
coba. Pernahkah kau mempertimbangkan untuk ber­
kompromi?”
”Tidak. Aku tidak ingin hidup di tengah semua ini.”
Cooper mengembangkan kedua lengannya dan menya­
pukannya ke seantero kamar mewah itu, serta semua
yang ada di luar jendela besar di situ.
Rusty menudingnya dengan marah. ”Kau angkuh.”
”Angkuh?”
”Ya. Kau membenci masyarakat karena kau merasa
lebih superior daripada mereka. Lebih unggul dan be­
nar, karena kau merasa pernah ikut berperang dan
menjadi tawanan. Kau meremehkan semua orang kare­
na kau tahu apa yang salah dengan dunia ini. Terku­
rung di gunungmu yang sunyi, kau berlagak menjadi
penilai dengan memandang rendah kami semua yang
punya keberanian untuk saling menoleransi, meski kami
banyak mempunyai kelemahan.”
”Aku sama sekali tidak seperti itu,” geram Cooper.
”Oh ya? Apa kau tidak merasa sok benar sendiri dan
www.facebook.com/indonesiapustaka

selalu menilai orang? Kalau kau merasa banyak yang


tidak benar dengan dunia ini, dan kalau kau meman­
dang sinis semuanya, kenapa kau tidak berbuat sesuatu
untuk mengubahnya? Apa yang kauhasilkan dengan
mengasingkan diri? Masyarakat tidak mengasingkanmu.
Kaulah yang mengasingkan mereka.”

269
”Aku tidak meninggalkannya sampai gadis itu—”
”Gadis itu?”
Wajah Cooper tidak lagi menampakkan emosi, me­
lainkan berubah kaku dan tidak terbaca, seperti topeng.
Sinar di matanya lenyap. Sepasang mata itu menjadi
keras dan tak dapat ditebak.
Dengan sangat terkejut Rusty memegangi dadanya.
Jantungnya berdebar keras. Semua kesinisan Cooper di-
sebabkan oleh seorang wanita? Siapa? Kapan? berbagai
pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Ia ingin ber­
tanya, tapi saat ini ia hanya sanggup bertahan di bawah
tatapan dingin dan penuh permusuhan di mata Cooper.
Lelaki itu sedang sangat marah pada diri sendiri, dan
pada Rusty. Rusty telah memancingnya untuk menya­
takan sesuatu yang ingin disimpan dan dilupakannya.
Gelombang rasa cemburu yang amat besar menguasai
Rusty. Seorang perempuan telah menebarkan pengaruh
yang cukup besar pada Cooper, hingga bisa mengubah
jalan hidup lelaki itu. Mungkin dulu Cooper adalah
lelaki periang yang ramah, sebelum serigala betina itu
menancapkan kuku­kukunya padanya. Perempuan itu
pasti sangat istimewa, karena bisa menyebabkan kepa­
hitan sedemikian lama pada diri Cooper. Sampai kini
Cooper masih tetap merasakan pengaruhnya. Sedemiki-
www.facebook.com/indonesiapustaka

an besarkah cintanya pada perempuan itu? pikir Rusty


kecewa.
Lelaki seperti Cooper Landry tidak akan tahan hidup
tanpa wanita. Tapi semula Rusty membayangkan kisah­
kisah cintanya pasti hanya di permukaan, sekadar hu­
bungan isik belaka. Ia sama sekali tak mengira bahwa
Cooper pernah terlibat serius dengan seseorang. Tapi

270
itulah kenyataannya, dan kepergian perempuan itu dari
hidupnya menimbulkan kesakitan dan kepedihan yang
amat sangat.
”Siapa dia?”
”Lupakan.”
”Apa kau bertemu dengannya sebelum pergi ke
Vietnam?”
”Lupakan, Rusty.”
”Apakah dia menikah dengan orang lain waktu kau
menjadi tawanan?”
”Kubilang lupakan!”
”Apa kau mencintainya?”
”Dengar, dia hebat di tempat tidur, tapi tidak sehe­
bat kau, oke? Itukah yang sangat ingin kauketahui?
Perbedaan di antara kalian? Kita coba saja. Dia tidak
berambut merah, jadi dia tidak terlalu bersemangat se­
perti kau. Tubuhnya bagus, tapi jauh di bawahmu.”
”Hentikan!”
”Payudaranya lebih besar, tapi tidak lebih responsif.”
Rusty menutup mulutnya untuk menahan isakan
sedih dan marah. Napasnya tersengal­sengal, seperti
halnya Cooper. Mereka saling melotot dengan kemarah­
an yang sama hebatnya seperti gairah yang mereka ra­
sakan ketika bercinta.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Dalam situasi tidak menyenangkan inilah bill


Carlson muncul dengan tiba­tiba. ”Rusty?”
Rusty terlonjak kaget mendengar suara ayahnya.
”Ayah! Selamat pagi. Ini...” Mulutnya terasa kering dan
tangannya gemetar ketika ia menunjuk ke arah Cooper.
”Ini Cooper Landry.”

271
”Ah, Mr. Landry.” Carlson mengulurkan tangan dan
Cooper menjabatnya dengan mantap, tapi tidak terlalu
antusias. Jelas tampak sikap tak sukanya. ”Aku sudah
menyuruh beberapa orang mencari Anda.” Cooper tidak
memberi penjelasan sedikit pun tentang keberadaannya
semalam, tapi Carlson melanjutkan, ”Aku ingin meng­
ucapkan terima kasih atas pertolongan Anda pada
putriku.”
”Tak perlu berterima kasih.”
”Tentu aku harus berterima kasih. Dia sangat ber­
harga bagiku. Dari ceritanya, aku tahu bahwa perto­
longan Anda padanya sangat berarti. bahkan dialah
yang mendesakku untuk mencari Anda semalam.”
Cooper menatap Rusty, lalu beralih kembali ke
Carlson yang sedang mengambil sesuatu dari balik jas­
nya. Sebuah amplop putih. ”Rusty ingin menyampaikan
rasa terima kasihnya dengan cara istimewa.”
Ia menyerahkan amplop itu pada Cooper, yang ke­
mudian membukanya dan melihat isinya. Lama ia me­
mandangi apa yang ada di dalam amplop itu, lalu mata­
nya beralih pada Rusty. Sorot matanya dingin dan
penuh kebencian. Salah satu sudut kumisnya turun
membentuk senyuman sinis. Lalu dengan satu gerakan
tajam dirobeknya amplop itu serta lembaran cek di da­
www.facebook.com/indonesiapustaka

lamnya, dan dilemparkannya serpih­serpih kertas terse­


but di antara kaki Rusty.
”Terima kasih banyak, Miss Carlson, tapi aku sudah
cukup mendapatkan imbalan dari apa yang kita lakukan
malam terakhir di pondok itu.”

272
12

SETELAH memandangi kepergian Cooper yang keluar


dengan sangat marah, bill Carlson menoleh kepada
putrinya dan berkata, ”Orang itu sangat tidak menye­
nangkan.”
”Ayah, kenapa Ayah menawarkan uang padanya?”
teriak Rusty dengan geram.
”Kupikir kau ingin aku melakukannya.”
”Kenapa Ayah berpikiran begitu? Cooper... Mr. Lan­
dry... adalah orang yang angkuh. Apa ayah pikir dia
menyelamatkanku karena ingin mencari untung?”
”Mungkin saja. Dari apa yang kudengar, dia orang
yang tidak menyenangkan.”
”Ayah bertanya­tanya ke mana­mana tentang dia?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Tentu saja. begitu dia diidentiikasikan sebagai


orang yang ada bersamamu ketika kau diselamatkan.
Pasti tidak mudah bagimu, terdampar di hutan bersama
orang seperti itu.”
”Kami memang memiliki beberapa perbedaan,” sahut
Rusty dengan senyum kesal. ”Tapi dia bisa saja mening­
galkanku dan menyelamatkan dirinya sendiri.”

273
”Dia tidak akan melakukan itu, apalagi dia tahu pas­
ti ada hadiahnya kalau dia menyelamatkanmu.”
”Dia tidak tahu itu.”
”Dia pintar. Dia bisa menduga bahwa aku tidak akan
keberatan mengeluarkan uang berapa pun untuk me­
nyelamatkanmu kalau kau masih hidup. Mungkin dia
tersinggung karena jumlahnya tidak sesuai.” Carlson
memungut sobekan lembar cek itu dan membacanya.
”Kupikir jumlah ini sudah cukup besar, tapi mungkin
dia lebih serakah daripada yang kukira.”
Rusty memejamkan mata dan menjatuhkan kepala­
nya ke bantal dengan sikap menyerah. ”Ayah, dia tidak
menginginkan uang itu. Dia senang sudah bisa bebas
dariku.”
”Aku juga senang bisa bebas dari dia.” Carlson duduk
di tepi tempat tidur Rusty. ”Tapi aku menyayangkan
juga karena kita jadi tak bisa mendapat untung dari apa
yang kaualami ini.”
Rusty membuka matanya lagi. ”Mendapat untung?
Apa maksud Ayah?”
”Jangan mengambil kesimpulan dulu sebelum men­
dengar seluruh rencanaku.”
Tapi Rusty sudah telanjur curiga, dan apa yang diba­
yangkannya sama sekali tidak disukainya. ”Maksud Ayah
www.facebook.com/indonesiapustaka

bukan pembuatan ilm itu, kan?” Ia sudah cukup terpera­


ngah ketika temannya menyampaikan ide itu padanya.
Carlson menepuk­nepuk tangan putrinya. ”Tidak,
sayangku. bukan yang seperti itu. Kita lebih bergengsi
daripada itu.”
”Lalu apa?”

274
”Kau kurang bisa memandang jauh ke depan, Rusty.
Itulah salah satu kekuranganmu.” Dengan sayang
Carlson memegang dagu putrinya. ”Jef pasti sudah
langsung bisa melihat kemungkinan besar yang terbuka
bagi kita dari situasi ini.”
Seperti biasa, Rusty jadi merasa rendah diri diper­
bandingkan dengan almarhum kakaknya. ”Kemungkin­
an apa?”
Dengan sabar Carlson menjelaskan. ”Kau sudah
mengukir nama dalam dunia real estate. Dan itu kau­
lakukan tanpa bantuanku. Mungkin aku memang bebe­
rapa kali membuka kesempatan bagimu, tapi kau mem­
buatnya berhasil atas usahamu sendiri.”
”Terima kasih, tapi ke mana arah ucapan Ayah sebe­
narnya?”
”Kau boleh dikatakan merupakan selebriti di kota
ini.” Rusty menggeleng tak percaya. ”Aku sungguh­
sungguh. Namamu sudah sangat dikenal di berbagai
kalangan penting. Dan belakangan ini nama dan fotomu
tampil di berbagai surat kabar dan televisi. Kau dijadi­
kan semacam pahlawan. Publisitas gratis semacam itu
sama nilainya dengan simpanan uang di bank. Aku
mengusulkan agar kita mengambil manfaat dari mala­
petaka yang kaualami itu.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Dengan agak panik Rusty menggigit bibir. ”Maksud


Ayah, mempromosikan keadaanku, bahwa aku selamat
dari kecelakaan pesawat, untuk menarik bisnis?”
”Apa salahnya?”
”Ayah pasti bercanda!” Tapi bill Carlson tidak ber­
canda. Dari ekspresi maupun sikapnya jelas terlihat
bahwa ia sama sekali tidak bercanda. Rusty menunduk

275
dan menggeleng­gelengkan kepala. ”Tidak, Ayah. Sama
sekali tidak. Aku tidak suka gagasan ini sedikit pun.”
”Jangan langsung berkata tidak,” sang ayah menasi­
hati. ”Akan kuminta biro iklan untuk mengolah bebe­
rapa ide. Aku janji tidak akan langsung menjalankan
sebelum bicara dan mendapatkan izin darimu.”
Mendadak Rusty merasa asing melihat ayahnya. Sua­
ranya, wajahnya, sikapnya yang elegan... semua itu dike­
nalnya. Tapi ia merasa tidak mengenal hati dan jiwa yang
ada di baliknya. Ia tidak mengenal ayahnya sedikit pun.
”Aku tidak akan pernah menyetujuinya. Kecelakaan
pesawat itu menewaskan lima orang. Lima orang, Ayah.
Aku bertemu dengan keluarga mereka, para janda,
anak­anak, dan orangtua mereka. Aku bicara dengan
mereka, menyampaikan rasa dukacitaku yang tulus.
Dan sekarang aku diminta mengambil keuntungan dari
kemalangan yang menimpa mereka...?” Ia merinding
muak. ”Tidak, Ayah. Aku tidak bisa.”
bill Carlson menarik­narik bibir bawah, seperti yang
selalu dilakukannya kalau sedang berpikir keras. ”baik­
lah. Untuk saat ini, kita bekukan gagasan itu. Tapi aku
sudah memikirkan kemungkinan lain.”
Ia meremas kedua tangan Rusty dengan tangannya
sendiri. Rusty merasa sikap ini seolah untuk menahan­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nya, mempersiapkannya mendengar apa yang akan di­


sampaikan ayahnya.
”Seperti sudah kukatakan, aku menyuruh orang me­
nyelidiki segala sesuatu tentang Mr. Landry kemarin.
Dia memiliki ranch yang sangat luas di daerah Sierra
yang indah.”

276
”begitulah katanya.”
”belum ada yang berminat mengembangkan tanah di
sekitarnya.”
”Ya, untunglah. Daerah itu boleh dikatakan belum
tersentuh. Tapi apa hubungannya itu dengan kita?”
”Rusty, kau ini bagaimana?” tanya ayahnya dengan
nada menggoda. ”Apa kau sudah menjadi pecinta alam
setelah dua minggu terdampar di hutan? Kau tidak
akan menyebarkan petisi untuk menyalahkan para pem­
bangun yang mendirikan rumah­rumah, bukan?”
”Tentu saja tidak, Ayah.” Gurauan ayahnya agak
bernada sinis. Ada sedikit teguran di balik senyumnya.
Rusty tak ingin mengecewakan ayahnya, tapi ia cepat­
cepat berusaha menghilangkan gagasan apa pun yang
ada dalam pikiran ayahnya, menyangkut Cooper dan
bisnis entah apa. ”Kuharap Ayah tidak merencanakan
untuk mengadakan pembangunan komersial di daerah
Mr. Landry. Percayalah, dia tidak akan senang. Dia
pasti akan menentang Ayah.”
”Kau yakin? Menurutmu bagaimana kalau dia kita
tawari kemitraan?”
Rusty menatap ayahnya dengan ekspresi tak percaya.
”Kemitraan antara Cooper dan aku?”
Carlson mengangguk. ”Dia veteran perang. Itu faktor
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang sangat bagus untuk dipromosikan. Kalian berdua


selamat dari kecelakaan pesawat dan berhasil melewati
berbagai kesulitan di rimba Kanada, sebelum akhirnya
diselamatkan. Itu pun mempunyai nilai drama dan pe­
masaran yang tinggi. Publik yang menjadi konsumen
kita akan menelannya bulat­bulat.”

277
Tampaknya semua orang, termasuk ayahnya sendiri,
menganggap kecelakaan pesawat itu, serta berbagai
pengalaman berat yang menyusul sesudahnya, seperti
semacam petualangan hebat, sebuah melodrama dengan
Cooper dan Rusty sebagai bintang­bintangnya. he
African Queen dengan waktu dan tempat berbeda.
Carlson terlalu asyik dengan rencana­rencananya,
sehingga tidak memperhatikan reaksi negatif Rusty.
”Aku bisa menelepon beberapa orang, dan menjelang
malam kita sudah bisa memperoleh beberapa kondo­
kondo di daerah itu. Ada lift ski di Rogers Gap, tapi
tidak dikelola dengan baik. Kita akan memperbaikinya
dan membangun di daerah sekitarnya.
”Tentu saja kita akan mengajak Landry dalam bisnis
ini. Itu bisa memperlancar jalan kita untuk mendekati
para penduduk lokal lainnya. Landry memang penyen­
diri, tapi menurut laporan pada penyelidikku, dia punya
pengaruh besar di sana. Namanya cukup disegani. be­
gitu kondo­kondo itu dibangun, kau bisa mulai mema­
sarkannya. Kita akan mendapat jutaan dolar.”
begitu banyak keberatan yang hendak diutarakan
Rusty, sehingga ia mengurungkan untuk mencoba me­
nyampaikannya. Ia mesti mematikan gagasan itu sebe­
lum dimulai. ”Ayah, kuulangi, Mr. Landry tidak akan
www.facebook.com/indonesiapustaka

tertarik dengan uang itu.” Rusty mengambil sobekan


lembar cek tadi dan melambaikannya di depan wajah
ayahnya, untuk mengingatkan. ”Dia tidak akan mau
memperoleh uang dari membangun real estate di sana.
Dia mencintai daerah itu. Dia ingin daerah itu tidak
diganggu, dibiarkan apa adanya, tidak dirusak oleh para

278
developer. Dia lebih suka alamlah yang mengembang­
kan daerah itu.”
”boleh saja dia berfalsafah begitu,” kata bill Carlson
tak percaya. ”Tapi setiap orang ada harganya, Rusty.”
”Cooper Landry tidak.”
Carlson menepuk pipi putrinya. ”Kepolosanmu sa­
ngat menggugah.”
binar­binar di mata ayahnya membuat Rusty cemas.
binar­binar itu menunjukkan bahwa bill Carlson sudah
mencium Untung besar. Di kalangan para ikan hiu
kapitalis, bill Carlson terkenal paling mematikan. Rusty
meraih tangan ayahnya dan meremasnya keras­keras.
”berjanjilah, janji bahwa Ayah tidak akan melakukan
ini. Ayah tidak kenal dia.”
”Dan kau mengenalnya?” binar­binar itu memudar dan
kelopak mata bill Carlson menyipit. Perlahan­lahan
Rusty melepaskan tangan ayahnya. Carlson mundur de­
ngan curiga dari putrinya, seperti takut kena penyakit
menular.
”Aku belum menanyakan apa pun yang mungkin akan
membuatmu malu, Rusty. Aku tidak ingin kita sama­
sama malu. Tapi aku tidak buta. Landry merupakan
gambaran lelaki macho, jenis penyendiri yang digan­
drungi perempuan, yang selalu ingin mereka jinakkan.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Carlson mengangkat dagu putrinya, agar bisa mena­


tap matanya. ”Tapi kurasa kau terlalu cerdas untuk ja­
tuh cinta padanya hanya karena bahunya yang lebar dan
sifatnya yang misterius itu, kan? Kuharap kau tidak
membentuk hubungan emosional apa pun dengan lela­
ki itu. Itu bisa sangat berbahaya.”

279
Tanpa sadar sang ayah telah menyuarakan teori yang
sama dengan yang dikatakan Cooper; bahwa perasaan
mereka saat ini sebagian besar disebabkan oleh keter­
gantungan mereka satu sama lain. ”Dalam situasi sema­
cam itu, bukankah wajar kalau aku jadi merasa punya
ikatan dengannya?” kata Rusty.
”Ya, tapi sekarang situasinya sudah berubah. Kau
tidak lagi terisolasi bersama Landry di hutan. Kau su­
dah ada di rumah. Kau punya kehidupan di sini, yang
tidak boleh dikacaukan oleh perasaan cinta yang dang­
kal. Apa pun yang terjadi di sana sudah berakhir dan
harus dilupakan,” kata ayahnya.
Cooper juga mengatakan demikian. Tapi apa yang
terjadi di antara mereka belum berakhir. Sama sekali be­
lum. Dan tak bisa dilupakan. Apa yang dirasakan Rusty
terhadap Cooper tidak akan memudar atau mati perla­
han­lahan karena tidak dipelihara. Ketergantungannya
secara mental kepada Cooper tidak akan hilang setelah ia
perlahan­lahan menjalani kehidupan yang normal.
Ia sudah jatuh cinta. Cooper bukan lagi sekadar pe­
lindung dan orang yang mengurusnya, melainkan sudah
jauh melebihi itu. Cooper adalah lelaki yang dicintainya.
Entah mereka bersama­sama atau terpisah, hal itu tak­
kan pernah berubah.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Tak usah khawatir, Ayah. Aku tahu persis perasa­


anku terhadap Mr. Landry.” Memang demikianlah yang
sebenarnya. biarlah ayahnya menarik kesimpulan sen­
diri.
”Anak baik,” kata Carlson sambil menepuk­nepuk
bahu Rusty. ”Aku tahu kau akan lebih kuat dan lebih

280
pintar setelah mengalami semua itu. Kau punya tujuan
yang jelas, seperti halnya kakakmu.”

Sudah satu minggu Rusty berada di rumah, setelah


hampir seminggu dirawat di rumah sakit, sesudah pulih
dari operasi pertama di kakinya. bekas lukanya tidak
tampak lebih baik daripada sebelum dioperasi, tapi
dokter telah mengatakan bahwa sesudah menjalani be­
berapa operasi, bekas luka itu tidak akan tampak lagi.
Selain sedikit rasa nyeri di kakinya, Rusty merasa
selebihnya ia baik­baik saja. Perbannya sudah dibuka,
tapi dokter menyarankan agar kakinya tidak terkena
pakaian dulu dan sebaiknya ia berjalan dengan memakai
tongkat penyangga.
berat badannya sudah naik beberapa kilo. Setiap hari,
selama sekitar setengah jam, ia berjemur matahari di tepi
kolam renangnya, agar kulitnya kembali cokelat. Seperti
telah dijanjikan, teman­temannya membawa seorang
penata rambut dan ahli manikur untuk Rusty. Si penata
rambut merapikan dan merawat rambutnya hingga kem­
bali bercahaya seperti semula, dan si ahli manikur mera­
pikan kuku­kukunya serta memijat dan mengoleskan
krim pada tangan Rusty yang kering dan kasar.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Sambil mengamati si ahli manikur menghaluskan


kulit yang merah bersisik, Rusty teringat pakaian­pakai­
an yang mesti dicucinya dengan tangan saat di hutan,
lalu digantung untuk dikeringkan di tali jemuran kasar
di luar pondok. Ia selalu penasaran, apakah pakaian­
pakaian itu sempat kering sebelum menjadi beku. Peng­

281
alaman itu tidak terlalu parah. Atau mungkin kenangan
selalu membuat segalanya tampak lebih baik daripada
kenyataan sebenarnya?
Teori itu bisa berlaku untuk yang lainnya juga. be­
narkah ciuman Cooper begitu menggetarkannya? benar­
kah pelukan dan bisikan­bisikannya terasa begitu
menghibur dalam saat­saat paling gelap di malam hari?
Kalau tidak, kenapa ia sering kali terbangun dan merin­
dukan kedekatan serta kehangatan lelaki itu?
belum pernah ia merasa begitu kesepian seperti ini.
bukannya ia selalu sendirian—setidaknya ia tak per­
nah sendirian untuk waktu lama. Ada saja teman­teman
yang datang membawakan hadiah­hadiah kecil untuk
menghiburnya, karena ia tampak begitu murung. Seca­
ra isik, keadaannya sudah jauh membaik, namun sema­
ngatnya belum pulih seperti semula.
Teman­teman dan rekan­rekan kerja merasa cemas
melihatnya. Sejak kecelakaan pesawat itu, Rusty tidak
lagi seriang dulu. Mereka membawakannya bermacam­
macam makanan, mulai dari cokelat Godiva, taco pesan­
an, hingga makanan­makanan mewah dari restoran­
restoran terbaik di baverly Hills, yang dibuat khusus
untuknya oleh kepala juru masak yang tahu betul apa
saja makanan kesukaannya.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rusty punya banyak waktu luang, namun ia tak per­


nah menganggur. Ucapan ayahnya benar. Sekonyong­
konyong ia menjadi agen real estate terkenal. Semua
orang di kota itu yang ingin menjual atau membeli,
meminta nasihatnya tentang kecenderungan pasar yang
berubah­ubah. Setiap hari ia mendapat telepon dari

282
para calon klien, termasuk dari sejumlah tokoh perilm­
an dan televisi terkenal. Telinganya menjadi sakit kare­
na berjam­jam bicara di telepon. Dulu ia pasti akan
melompat gembira kalau mendapat klien sekaliber itu,
tapi sekarang ia mengalami kejenuhan yang tak dapat
dijelaskan sebabnya, dan tak bisa diatasinya.
Ayahnya tidak menyinggung­nyinggung lagi tentang
mengembangkan daerah di sekitar Rogers Gap. Rusty
berharap gagasan itu tidak akan diwujudkan. Setiap hari
ayahnya mampir ke rumahnya untuk melihat perkem­
bangan kesehatannya. Tapi Rusty curiga ayahnya lebih
tertarik untuk memanen hasil usahanya yang baru itu
secara cepat daripada memikirkan kepulihannya.
Lama­kelamaan tampak garis mulut ayahnya semakin
tipis dan keras karena tak sabar, dan dorongannya yang
semula diberikan untuk memberi semangat, agar Rusty
bisa cepat kembali bekerja, sekarang mulai terdengar
memaksa. Rusty sendiri merasa ia sengaja memperlama
masa penyembuhannya selambat mungkin, dan ia ber­
tekad tidak akan masuk kantor sebelum benar­benar
sembuh dan siap.
Siang hari itu ia mengerang cemas ketika mendengar
bunyi bel pintu. Tadi ayahnya sudah menelepon untuk
memberitahukan bahwa hari itu ia tak bisa datang, ka­
www.facebook.com/indonesiapustaka

rena ada rapat bisnis. Rusty merasa lega. Ia menyayangi


ayahnya, tapi ia senang bisa terbebas dari kunjungan
harian ayahnya yang selalu membuatnya lelah.
Tapi rupanya ayahnya batal rapat dan sekarang da­
tang mengunjunginya.
Tertatih­tatih, dengan bantuan tongkat penyangga,

283
Rusty berjalan ke pintu depan, melewati koridor. Ia
sudah tiga tahun tinggal di rumah ini. bangunan rumah
itu kecil dan putih, dengan atap merah, gayanya sangat
khas California Selatan. Rumah itu terletak di sebuah
bukit rendah dan dikelilingi tanaman bugenvil yang
berbunga cerah. Rusty langsung terpikat pada rumah
itu saat pertama kali melihatnya.
Sambil bertumpu di satu tongkat, ia membuka pintu.
Cooper tidak mengucapkan sepatah kata pun pada­
nya. Rusty juga tidak. Mereka hanya saling pandang
untuk waktu lama, kemudian Rusty menepi tanpa bica­
ra. Cooper masuk ke dalam. Rusty menutup pintu, lalu
berbalik ke arah lelaki itu.
”Hai.”
”Hai.”
”Kenapa kau kemari?”
”Aku ingin melihat keadaan kakimu.” Cooper mena­
tap kaki Rusty dan Rusty menjulurkannya agar Cooper
bisa melihat lebih jelas. ”Kelihatannya tidak bertambah
baik,” kata Cooper.
”Nanti akan membaik.” Tatapannya yang skeptis
beralih ke mata Rusty. ”Dokter menjanjikan akan lebih
baik,” kata Rusty dengan defensif.
Cooper masih tampak ragu, tapi tidak mendebat. Ia
www.facebook.com/indonesiapustaka

memandang ke sekelilingnya, berputar perlahan­lahan.


”Aku suka rumahmu.”
”Terima kasih.”
”Sangat mirip rumahku.”
”Oh ya?”
”Mungkin rumahku kelihatan lebih kokoh dan tidak

284
didekor sebagus ini. Tapi garis besarnya sama. Ruangan­
ruangan luas. banyak jendela.”
Rusty merasa sudah cukup kuat untuk berjalan.
Tadi, ketika melihat Cooper, lututnya yang sehat, yang
ia gunakan untuk menopang tubuhnya, nyaris tertekuk
lemas. Sekarang ia sudah cukup yakin untuk berjalan.
Ia memberi isyarat agar Cooper mengikutinya. ”Masuk­
lah. Mau minum apa?”
”Minuman ringan saja.”
”Limun?”
”boleh.”
”Akan kubuatkan sebentar.”
”Tidak usah repot­repot.”
”Tidak repot. Aku sendiri ingin minum.”
Rusty beranjak ke dapur di bagian belakang rumah,
melewati ruang makan. Cooper mengikuti. ”Duduklah.”
Rusty memberi isyarat ke arah meja kokoh di tengah
dapur, sementara ia sendiri menghampiri kulkas.
”boleh aku membantu?” tanya Cooper.
”Tidak, terima kasih. Aku sudah bisa sendiri.”
Rusty menoleh, ingin tersenyum, dan menangkap
mata Cooper yang sedang menatap belakang kakinya.
Rusty mengenakan celana selutut yang sudah lusuh dan
tidak memakai sepatu, karena menganggap toh akan
www.facebook.com/indonesiapustaka

sendirian di rumah sepanjang hari. Rambutnya pun


hanya diekor kuda asal­asalan.
Tertangkap basah sedang menatap kaki telanjang
Rusty, Cooper bergerak gelisah di kursinya. ”Sakit, ti­
dak?”
”Apa?”

285
”Kakimu.”
”Oh, tidak. Yah, sedikit. Kadang muncul dan hilang
lagi. Tapi aku belum berjalan jauh atau mengemudikan
mobil.”
”Kau sudah kembali bekerja?”
Rusty menggeleng; ekor kudanya bergoyang menya­
pu pipinya. ”Aku menangani usahaku dari sini, lewat
telepon. Atau mengirim pesan. Aku merasa belum ingin
berdandan dan pergi ke kantor.”
Ia mengambil sekaleng sirup jeruk dari kulkas. ”Kau
sibuk terus sejak kembali ke rumah?”
Rusty menuang sirup kental itu ke sebuah wadah
dan menambahkan sebotol club soda dingin. beberapa
tetes minuman itu memercik ke punggung tangannya
dan ia menjilatnya. Lalu ia berbalik, masih dengan ta­
tapan bertanya­tanya.
Cooper sedang mengawasinya dengan tajam, seperti
seekor elang. Lelaki itu memandangi bibirnya. Perlahan­
lahan Rusty menurunkan tangannya yang tadi dijilat­
nya, lalu kembali pada kesibukannya membuat minum­
an. Kedua tangannya gemetar ketika mengambil
gelas­gelas dari lemari dan mengisinya dengan es batu.
”Yeah, aku sibuk.”
”bagaimana keadaan rumahmu saat kau kembali?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”baik­baik saja. Seorang tetangga memberi makan


hewan­hewan peliharaanku. Kurasa dia akan terus me­
lakukannya kalau aku tidak pulang juga.”
”baik sekali tetanggamu.” Rusty ingin suaranya terde­
ngar biasa saja, namun ia tak bisa menyembunyikan ke­
gugupannya. Percakapan mereka tidak cocok dengan at­

286
mosfer saat ini, yang terasa berat menekan, seperti musim
panas New Orleans. Udara terasa pengap. Rusty merasa
tidak bebas menghirupnya ke dalam paru­parunya.
”Apa kau tidak punya pembantu untuk mengurus
ranch­mu?” tanyanya.
”Kadang­kadang ada. Hanya pembantu sementara.
Kebanyakan adalah para pecinta ski yang bekerja seka­
dar untuk menunjang hobi mereka. Kalau sedang keha­
bisan uang, mereka bekerja beberapa hari supaya bisa
membeli karcis lift dan makanan. Cara seperti itu sesuai
untuk mereka dan aku.”
”Sebab kau tidak suka dikelilingi banyak orang?”
”benar.”
Gelombang rasa tertekan menyelimuti Rusty. Ia men­
coba meredakannya dengan bertanya, ”Kau suka ski?”
”Sedikit. Kau?”
”Ya. Dulu.” Rusty memandangi kakinya. ”Mungkin
aku tidak bisa main ski tahun ini.”
”Mungkin bisa. Kan tidak ada tulang yang patah.”
”Mungkin.”
Tampaknya hanya itu yang bisa mereka percakapkan.
Tanpa diperintah akhirnya mereka mengakhiri perca­
kapan basa­basi yang canggung itu dan melakukan apa
yang sebenarnya ingin mereka lakukan... saling pandang.
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper sudah memotong rambutnya, tapi rambut itu


masih tetap panjang. Rusty senang melihat rambut itu
menyapu kerah kemeja santainya. Rahang dan dagu
lelaki itu dicukur bersih, tapi kumisnya masih tetap
seperti dulu. bibir bawahnya yang tertutup kumis pun
masih tampak keras dan tegas. Garis­garis di kedua sisi

287
mulutnya bahkan semakin dalam, hingga wajahnya
tampak semakin maskulin. Mau tak mau, Rusty berta­
nya­tanya, kecemasan apa yang membuat garis­garis itu
semakin dalam.
Pakaian lelaki itu tidak bisa dikatakan mahal, tapi
setiap orang di Rodeo Drive pasti akan menoleh kalau
melihatnya. Penampilannya merupakan selingan menye­
garkan dari para pesolek yang biasa tampil di daerah
itu. Blue jeans tetap merupakan pakaian yang paling
bagus untuk laki­laki, dibandingkan pakaian jenis apa
pun, apalagi jika yang mengenakannya Cooper.
Kemeja katun lelaki itu tampak ketat di dadanya
yang masih sering diimpikan Rusty. Lengan kemejanya
digulung, hingga menampilkan lengan bawahnya yang
kuat. Cooper membawa jaket kulit cokelat, dan seka­
rang jaket itu disampirkan di punggung kursi, ter­
lupakan. Tampaknya ia sudah melupakan segalanya,
kecuali wanita yang berdiri hanya beberapa meter
darinya, namun terasa begitu jauh tak tergapai.
Mata Cooper menelusuri tubuh Rusty, seolah de­
ngan tatapan itu ia bisa melepaskan helai demi helai
pakaian yang dikenakan Rusty. Merasakan ini, Rusty
merasa kulitnya mulai menghangat.
Tatapan Cooper kembali tertuju pada wajah Rusty,
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan gairah yang dilihatnya terpancar di sana merupakan


cerminan dari gairah yang dirasakannya. Sepasang mata
lelaki itu bagaikan magnet yang menarik Rusty ke da­
lam medannya. Dengan bantuan tongkat penyangganya
Rusty menghampiri lelaki itu tanpa melepaskan pan­
dangan. Saat ia semakin dekat, Cooper terpaksa men­

288
dongak agar bisa tetap menatap mata Rusty. Rasanya
lama sekali, meski kenyataannya hanya berlangsung
beberapa detik, sebelum Rusty akhirnya berdiri tepat di
hadapan lelaki itu, bertumpu pada tongkatnya.
”Aku tak percaya bahwa kau benar­benar ada di
sini,” katanya pada Cooper.
Sambil mengerang Cooper menunduk dan menekan­
kan kepalanya ke dada Rusty. ”Rusty. Ah, sial! Aku tak
bisa jauh­jauh darimu.”
Gejolak emosi yang melandanya membuat Rusty me­
mejamkan mata. Kepalanya tertunduk, menyerah pada
sapuan cinta yang dirasakannya bagi lelaki yang sungguh
sulit dipahami ini. Dibisikkannya nama lelaki itu.
Cooper melingkarkan lengannya di pinggang Rusty
dan membenamkan wajahnya di antara payudara Rusty.
Ditariknya Rusty lebih dekat.
”Aku sangat rindu padamu,” Rusty mengakui dengan
suara serak. Ia tidak mengharapkan Cooper membuat
pengakuan yang sama. Dan Cooper memang tidak me­
nyatakannya dengan kata­kata, namun keeratan peluk­
annya merupakan bukti nyata akan besarnya kerindu­
annya. ”Kadang aku merasa mendengar suaramu, lalu
aku menoleh, berharap melihatmu. Atau aku tanpa
sadar mengatakan sesuatu, lalu baru ingat bahwa kau
www.facebook.com/indonesiapustaka

tidak ada di sampingku.”


”Oh, kau harum sekali,” kata Cooper, masih meme­
luk Rusty.
”baumu seperti pegunungan,” kata Rusty sambil
menciumi rambut Cooper.
”Aku ingin... merasakannya.” Dengan tak sabar

289
Cooper melepaskan simpul kemeja di pinggang Rusty,
lalu membuka kancing­kancingnya.
Saat merasakan mulut lelaki itu di kulitnya, Rusty
melengkungkan punggung dan mengerang. buku­buku
jarinya memutih saat ia mencengkeram pegangan tong­
kat penyangganya. Ingin ia melepaskan tongkat itu dan
menyapukan jemarinya di rambut Cooper.
Ia mengeluarkan isakan tertahan. Sungguh menjeng­
kelkan dan membuat penasaran, karena ia tak bisa meng­
gunakan kedua tangannya. Perasaan tak berdaya ini sa­
ngat tajam dirasakannya. ”Cooper,” bisiknya memohon.
Dengan cekatan Cooper melepaskan kancing­kancing
pakaian Rusty, lalu menarik gadis itu ke dalam peluk­
annya. ”Ke mana?” tanyanya. Wajahnya lebih lembut
daripada yang selama ini pernah dilihat Rusty. Sepasang
matanya tidak lagi menyorot dingin, melainkan ber­
binar­binar oleh emosi kuat yang tak berani diartikan
Rusty sebagai cinta.
Rusty menunjuk ke arah kamar tidur. Cooper mene­
mukannya tanpa kesulitan. Ia tersenyum saat membo­
pong Rusty memasuki pintu. Dengan lembut ia menu­
runkan Rusty ke lantai pada kaki kirinya, lalu disibak­
kannya selimut di tempat tidur. ”berbaringlah.”
Rusty mematuhinya, sambil mengamati Cooper yang
www.facebook.com/indonesiapustaka

menuju kamar mandi. Terdengar suara air dibuka. Tak


lama kemudian Cooper muncul membawa kain yang
sudah dibasahi air. Disapukannya kain itu di seluruh
tubuh Rusty.
”Hmmm,” desah Rusty.
”Mestinya aku yang mendesah.”
”Lakukan saja”

290
”Hmmm.” Cooper menyapu bagian belakang kaki
Rusty dengan kain itu, terus hingga ke telapak kakinya.
”beristirahatlah sebentar,” katanya sambil meninggal­
kan tempat tidur, untuk membuka pakaian.
”Enak saja kau bicara. Kau tidak tahu rasanya dibelai
seperti tadi.”
”Tenang, Sayang. bersiaplah untuk yang lebih dah­
syat.”
Tapi Rusty masih tidak cukup siap saat Cooper
menghampirinya dan berbaring telanjang di samping­
nya.
”Aku tidak bisa melakukan apa pun karena merindu­
kanmu,” bisik Cooper dengan suara serak. ”Tidak bisa
bekerja, tidak bisa tidur dan makan. Tidak ada lagi kese­
nangan tinggal sendirian di rumahku. Kau merusak se­
muanya. Pegunungan itu tidak lagi indah di mataku.
Wajahmu telah membutakanku akan keindahan mereka.”
Cooper memeluknya erat. ”Kupikir lambat laun aku
akan melupakanmu, tapi sejauh ini tidak berhasil. Aku
bahkan pergi ke Vegas dan membayar seorang perem­
puan untuk menemaniku semalam. Ketika kami masuk
ke kamar hotel, aku cuma duduk memandanginya sam­
bil minum, berusaha membangkitkan gairahku. Dia
melakukan beberapa trik untuk memancing hasratku,
www.facebook.com/indonesiapustaka

tapi aku tidak merasakan apa pun. Aku tak bisa mela­
kukannya. Tidak ingin. Akhirnya kusuruh dia pulang
sebelum dia menjadi kesal padaku, seperti halnya aku
pada diriku sendiri.”
Cooper membenamkan wajahnya di leher Rusty.
”Penyihir berambut merah, apa yang kaulakukan pada­

291
ku di atas sana? Sebelumnya aku baik­baik saja, sampai
kau datang dengan bibirmu yang lembut dan kulitmu
yang halus. Sekarang hidupku serasa tidak berarti lagi.
Segala yang kupikirkan, kudengar, kulihat, kusentuh,
kucium, kurasakan, adalah kau. Kau.”
Ia menarik tubuh Rusty lebih dekat dan mencium
bibirnya. ”Aku mesti memilikimu. Mesti. Sekarang.”
Direnggangkannya kedua kaki Rusty dan dirapatkan­
nya tubuh mereka. Rusty merasa seluruh hati dan jiwa­
nya ikut bereaksi bersama tubuhnya. Gelombang rasa
cinta memenuhi mereka berdua. Cooper pasti merasa­
kannya. Pasti mengetahuinya.
Rusty yakin Cooper merasakannya, sebab lelaki itu
terus menggumamkan namanya. Suaranya bergetar oleh
emosi, namun sesaat sebelum ia kehilangan kendali di­
rinya, Rusty merasa lelaki itu ingin menyudahi gairah
cinta mereka.
”Jangan! Jangan coba­coba!”
”Mesti, Rusty. Mesti.”
”Aku mencintaimu, Cooper.” Rusty menyilangkan
kakinya di belakang tubuh lelaki itu. ”Aku mengingin­
kanmu. Keseluruhan dirimu.”
”Tidak, tidak,” erang Cooper dengan pedih, sekaligus
bahagia.
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Aku mencintaimu.”
Dan akhirnya lelaki itu menyerah. Dengan satu seru­
an panjang yang berasal dari dasar jiwanya ia pun me­
nyerahkan keseluruhan dirinya pada wanita yang men­
cintainya ini.

292
13

COOPER terbaring dengan mata terpejam di samping


Rusty dan Rusty memandangi wajahnya. Garis­garis
keras di mulut Cooper sudah jauh berkurang sejak ia
baru datang tadi.
Rusty merebahkan kepala di dada lelaki itu sambil
membelai perutnya. ”Kau punya alasan untuk selalu
berhenti sebelum selesai bercinta, bukan?” Entah bagai­
mana ia tahu bahwa baru kali inilah, setelah sekian
lama, Cooper benar­benar menyelesaikan permainan
cinta mereka sepenuhnya.
”Ya.”
”Dan alasannya bukan karena kau takut aku hamil,
bukan?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”bukan.”
”Kenapa kau melakukan itu, Cooper?” Cooper mem­
buka mata dan Rusty menatapnya. Sepasang mata itu
tampak menjaga jarak. Rusty, yang semula mengira
Cooper tidak mempunyai rasa gentar sedikit pun, kini
melihat bahwa lelaki itu takut padanya. Ancaman apa

293
yang dilihatnya dalam diri seorang wanita yang berba­
ring lemah di sampingnya dan seratus persen terpesona
olehnya?
”Kenapa kau menerapkan disiplin semacam itu pada
dirimu?” tanya Rusty lembut. ”Ceritakan padaku.”
Cooper menatap langit­langit. ”Dulu pernah ada se­
orang wanita.”
Ah, wanita itu, pikir Rusty.
”Namanya Melody. Aku bertemu dengannya tak
lama setelah kembali dari Vietnam. Aku sedang kacau
balau waktu itu. Pahit. Marah. Dia... dia membuat se­
galanya kembali pada perspektif semula. Dia memberi­
kan fokus pada hidupku. Aku sedang kuliah atas biaya
ketentaraan. Kami akan menikah begitu kuliahku sele­
sai. Kupikir segalanya berlangsung mulus bagi kami.
Dan memang begitulah.”
Ia memejamkan matanya lagi, dan Rusty tahu bahwa
ia sekarang tiba pada bagian cerita yang sulit. ”Lalu dia
hamil. Tanpa sepengetahuanku, dia melakukan aborsi.”
Cooper mengepalkan kedua tangan, rahangnya menge­
tat oleh amarah. Rusty melonjak kaget ketika lelaki itu
menoleh dengan mendadak ke arahnya.
”Dia membunuh bayiku. Setelah melihat begitu ba­
nyak kematian di medan perang, aku merasa dia...”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Cooper tersengal­sengal, hingga Rusty cemas melihat­


nya. Disentuhnya dada lelaki itu untuk menghiburnya,
dan perlahan ia berkata.
”Aku ikut sedih, Cooper sayang. Sungguh.”
Cooper menarik napas panjang. ”Yeah.”
”Sejak itu kau marah padanya.”

294
”Mulanya ya. Tapi lalu kebencianku padanya terlalu
besar, sampai­sampai aku tak bisa marah lagi. Aku telah
begitu banyak berbagi rasa dengannya. Dia tahu betul
apa yang ada dalam pikiranku, perasaanku tentang ber­
bagai hal. Dialah yang mendesakku untuk bicara ten­
tang kamp tawanan itu dan segala sesuatu yang terjadi
di sana.”
”Dan kau merasa dia menyalahi kepercayaanmu?”
”Menyalahi dan mengkhianatinya.” Dengan ujung ibu
jarinya di pipi Rusty. ”Dia pernah memelukku ketika
aku menangis seperti bayi, sambil bercerita tentang te­
man­temanku yang tewas,” kata Cooper dalam bisikan
serak.
”Aku menceritakan padanya tentang segala yang
mesti kulalui untuk melarikan diri, dan apa yang mesti
kulakukan untuk bertahan hidup sampai aku diselamat­
kan. Tapi setelah tahu semua itu, setelah mendengar
gambaranku tentang bagaimana aku berbaring di tum­
pukan mayat yang sudah membusuk agar tidak tertang­
kap lagi-”
”Cooper, jangan.” Rusty meraihnya dan menariknya
mendekat.
”Dia tetap melakukan aborsi. Padahal aku telah me­
lihat bayi­bayi dibunuh, dan mungkin aku sendiri per­
www.facebook.com/indonesiapustaka

nah membunuh beberapa, tapi dia-”


”Shh. Shh. Sudah.”
Rusty memeluk kepala lelaki itu di dadanya dan
membujuknya sambil mengelus rambutnya. Matanya
kabur oleh air mata. Ia merasakan penderitaan Cooper
dan berharap bisa mengambil alih semuanya. Dikecup­

295
nya bagian atas kepala Cooper. ”Aku sedih sekali, Sa­
yang. Sedih sekali mendengarnya.”
”Aku meninggalkan Melody. Aku pindah ke pegu­
nungan, membeli ternak­ternak itu, dan membangun
rumahku.”
Dan membentengi hatimu, pikir Rusty sedih. Pantas
saja Cooper mengasingkan diri dari masyarakat. Ia su­
dah dua kali dikhianati—oleh negaranya yang tidak
mau diingatkan akan kesalahannya, dan oleh wanita
yang dicintai dan dipercayainya.
”Kau tidak mau mengambil risiko ada wanita lain
yang hamil olehmu.”
Cooper menarik kepalanya dari pelukan Rusty dan
menatapnya. ”benar. Sampai saat ini.” Dipeganginya
kedua sisi wajah Rusty. ”Sampai kau datang. Dan aku
tak bisa menahan diri lagi.” Diciumnya Rusty dengan
hangat. ”Aku ingin percintaan kita tak pernah ber­
akhir.”
Rusty tersenyum. ”Tadi aku juga sempat mengira
takkan pernah berakhir.”
Cooper ikut tersenyum, tampaknya puas dengan di­
rinya sendiri. ”Oh ya?”
Rusty tertawa. ”Ya.”
Cooper mengangkat kepala dari bantal dan menya­
www.facebook.com/indonesiapustaka

pukan bibirnya di bibir Rusty.


”Itulah yang kuinginkan. Aku tak akan membiarkan
meninggalkanku kali ini,” kata Rusty.
”Oh ya?” Ada sorot angkuh menggoda di mata
Cooper. ”Apa yang akan kaulakukan?”
”Aku akan mempertahankanmu mati­matian. Sebe­

296
sar itulah keinginanku untuk mendapatkanmu. Keselu­
ruhan dirimu.”
Cooper mengecup Rusty. ”Salah satu hal yang paling
kusukai dari dirimu…” Mulutnya menelusuri leher
Rusty.
”Ya?”
”Adalah kau selalu terlihat seakan baru saja bercinta
habis­habisan…” Cooper menyelesaikan ucapannya
dengan nada sensual.
”Cooper!” Pura­pura merasa tersinggung, Rusty me­
ngerutkan kening dan berkacak pinggang.
Cooper tertawa. Suara tawanya yang indah dan jarang
terdengar itu begitu menggoda. Rusty masih memasang
ekspresi kesal. Tapi Cooper hanya tertawa lebih keras.
Tawanya benar­benar lepas, tidak disertai kesinisan apa
pun. Rusty rasanya ingin tenggelam dalam tawa Cooper.
Ia ingin diselubungi kehangatan tawa tersebut, seperti
halnya seseorang dibanjiri kehangatan pada hari pertama
musim panas. Ia telah membuat Cooper Landy tertawa.
Ini bukan hal gampang, apalagi beberapa tahun terakhir
ini. Mungkin hanya sedikit orang yang bisa mengatakan
bahwa mereka berhasil membuat lelaki ini tertawa.
Mulut Cooper menyunggingkan senyum lebar di
bawah kumisnya. Cooper meniru gaya bicara Rusty
www.facebook.com/indonesiapustaka

yang mengerang manja. ”Coo­per!” Jengkel dengan


Cooper yang meniru­niru dirinya, Rusty menepuk paha
telanjang lelaki itu. ”Hei, bukan salahku rambutmu
seksi dan mata cokelatmu terlihat sensual.” Cooper
mengulurkan tangan dan menelusuri bibir bawah Rusty
dengan ibu jari. ”Aku tidak tahan melihat bibirmu yang

297
senantiasa tampak seakan baru dicium dan memohon
untuk dicium lagi, juga payudaramu yang menggoda.”
”Menggoda?” tanya Rusty dengan terengah­engah
saat Cooper menangkup payudaranya.
”Hmm. Apakah ini salahku juga, kalau puncak payu­
daramu selalu tampak siap?”
”Ya.”
Cooper menyukai pernyataan itu. Sambil tersenyum,
lelaki itu membelai tubuhnya.
”Siap untuk apa, Cooper?”
Lelaki itu membungkuk dan menunjukkannya pada
Rusty.
Rusty merasakan sensasi yang sudah sangat dikenal­
nya mulai berpusar dalam dirinya. Sambil mendesah, ia
memegang kepala Cooper dan mendorongnya menjauh.
Cooper menatap Rusty dengan bingung, tetapi tidak
menunjukkan perlawanan saat gadis itu mendorongnya
berbaring telentang. ”Ada apa ini?” tanyanya.
”Kali ini akulah yang akan bercinta denganmu.”
”bukankah itu yang tadi kita lakukan?”
Rusty menggeleng. Rambutnya berantakan. Ikatan
rambut di belakang kepalanya sudah longgar. ”Tadi kau
yang bercinta denganku.”
”Apa bedanya?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Dengan senyum sensual dan tatapan menggoda,


Rusty berbaring di samping Cooper dan mulai meng­
hujani leher lelaki itu dengan ciuman. ”Lihat saja.”

Setelah percintaan mereka selesai, mereka berbaring


dengan lengan dan kaki bertautan. ”Tak kusangka, kau

298
bisa melakukannya.” Suara Cooper masih serak setelah
mengerang berkali­kali, menyebut nama Rusty. Ia nyaris
tidak punya kekuatan lagi untuk membelai punggung
gadis itu.
”Apa aku melakukannya dengan baik?”
Cooper menelengkan kepala, menatap gadis yang
berbaring di dadanya. ”Masa kau tidak tahu?”
Mata Rusty dipenuhi cinta saat ia balas menatap
Cooper dan menggeleng dengan malu­malu.
”Apa itu pertama kalinya kau…?” Rusty mengang­
guk. Cooper mengumpat pelan dan mencium Rusty
dengan sayang. ”Yeah. Kau lumayan,” katanya bercanda.
”Lumayan.”
Setelah agak lama berdiam diri, Rusty bertanya, ”Se­
perti apa keluargamu?”
”Keluargaku?” Sambil berpikir, Cooper menggesek­
kan kakinya di kaki kiri Rusty, hati­hati agar tidak
menyenggol kaki yang sakit. ”Sudah lama sekali, aku
hampir­hampir tak ingat lagi. Yang kuingat hanyalah
bahwa ayahku pergi bekerja setiap hari. Dia seorang
salesman. Pekerjaan itu akhirnya membuat dia terkena
serangan jantung berat, dan dia meninggal seketika.
Aku masih di sekolah dasar waktu itu.
”Ibuku tak pernah bisa memaafkan ayahku karena
www.facebook.com/indonesiapustaka

meninggal terlalu cepat, meninggalkannya menjadi jan­


da. Dan dia juga tak pernah bisa memaafkanku karena...
karena aku ada, kurasa. Aku menjadi beban baginya.
Dia mesti bekerja untuk menghidupi kami berdua.”
”Dia tidak menikah lagi?”
”Tidak.”

299
Mungkin untuk hal itu pun sang ibu juga menyalah­
kan anaknya yang sebenarnya tidak bersalah. Rusty
dapat membayangkan masa kecil Cooper. Ia tumbuh
tanpa cinta. Tidak heran kalau ada yang menyodorkan
kebaikan, ia tidak mau menerimanya. Ia tidak percaya
akan kebaikan dan cinta manusia, karena ia tak pernah
mengalaminya. Hubungan­hubungan pribadinya penuh
dengan kepedihan, kekecewaan, dan pengkhianatan.
”Aku masuk Angkatan Laut begitu lulus SMA. Ibu­
ku meninggal pada tahun pertamaku di Vietnam. Kan­
ker payudara. Dia terlalu keras kepala dan menolak
memeriksakan kanker itu sebelum terlambat.
Rusty membelai dagu Cooper dengan kuku ibu jari­
nya, sesekali menyentuh belahan dagu itu. Ia merasa
sedih mengingat masa kecil Cooper yang sunyi dan
tanpa cinta. begitu tidak bahagia. Sementara itu, masa
kecilnya sendiri sangat mudah.
”Ibuku juga sudah meninggal.”
”Lalu kau kehilangan kakakmu.”
”Ya. Jef.”
”Ceritakan tentang dia.”
”Dia hebat,” kata Rusty sambil tersenyum sayang.
”Semua orang menyukai. Dia ramah sekali, jenis orang
yang mudah bersahabat dengan siapa pun. Orang­orang
www.facebook.com/indonesiapustaka

otomatis tertarik padanya. Dia punya kemampuan me­


mimpin yang sangat menonjol. Dia juga lucu. Dia bisa
melakukan segalanya.”
”Kau sudah sering diingatkan akan hal itu.”
Rusty mengangkat kepala dengan cepat. ”Apa mak­
sudmu?”

300
Cooper tampaknya sedang menimbang­nimbang,
apakah sebaiknya meneruskan percakapan ini. Tapi lalu
ia melanjutkan, ”bukankah ayahmu selalu menonjolkan
kakakmu sebagai teladan yang patut kautiru?”
”Jef punya masa depan cemerlang dalam bidang real
estate. Ayahku ingin aku juga begitu.”
”Tapi dia menginginkan kau menjalani masa depan­
mu sendiri atau masa depan Jef?”
Rusty melepaskan diri dan menurunkan kaki dari
tempat tidur. ”Aku tidak mengerti maksudmu.”
Cooper menarik sejumput rambut Rusty agar ia ti­
dak meninggalkan tempat tidur. Ia berlutut di belakang
Rusty yang masih duduk di tepi ranjang. ”Masa kau
tidak mengerti! Dari segala yang kauceritakan tentang
ayah dan kakakmu, aku menarik kesimpulan bahwa kau
diharapkan menggantikan Jef.”
”Ayahku hanya ingin aku sukses.”
”Sukses menurut kriterianya. Kau cantik dan cerdas,
dan kau anak yang baik. Kau punya karier yang sukses.
Apa itu tidak cukup baginya?”
”Tidak! Maksudku, tentu saja cukup, hanya saja
ayahku ingin aku menggunakan potensiku sepenuhnya.”
”Atau potensi Jef.” Rusty hendak bangkit, tapi Coo­
per menahan bahunya. ”Misalnya dengan perjalanan
www.facebook.com/indonesiapustaka

berburu ke Great bear Lake itu.”


”Sudah kubilang itu ideku, bukan ide ayahku.”
”Lalu kenapa kau merasa perlu pergi ke sana? Kenapa
kau merasa kaulah yang bertanggung jawab untuk mene­
ruskan kebiasaan yang dinikmati ayahmu bersama Jef?
Kau pergi hanya karena ingin membuat ayahmu senang.”
”Apakah itu salah?”

301
”Tidak. Kalau itu merupakan tanda pengorbanan
atau kasih sayang. Tapi kurasa kau pergi karena ingin
membuktikan sesuatu padanya. Kurasa kau ingin ayah­
mu melihat bahwa kau juga bisa hebat seperti Jef.”
”Yah, ternyata aku gagal.”
”Itulah yang kumaksud!” teriak Cooper. ”Kau tidak
suka berburu dan memancing. Lalu kenapa? Kenapa
kau jadi menganggap dirimu gagal?”
Rusty berhasil melepaskan diri dari Cooper. begitu
sudah berdiri, ia berbalik menghadapi Cooper. ”Kau
tidak mengerti, Cooper.”
”Memang tidak. Aku tidak mengerti kenapa ayahmu
tidak puas dengan dirimu yang sebenarnya. Kenapa kau
masih terus berusaha membuktikan dirimu padanya?
Dia kehilangan anak lelakinya. Memang malang, tragis.
Tapi dia masih punya anak perempuan, dan dia men­
coba membentukmu menjadi sosok yang bukan dirimu.
Kalian sama terobsesi pada Jef. Apa pun kehebatannya,
aku yakin dia tidak patut dipuja sedemikian rupa.”
Rusty menudingkan jari pada Cooper dengan sikap
menuduh. ”Kau pintar menguliahi orang lain. Kau sen­
diri terobsesi dengan rasa sakit hatimu. Kau mendapat
kesenangan dari rasa putus asamu.”
”Omong kosong.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Tepat. Lebih mudah bagimu untuk menyendiri di


gunungmu daripada berbaur dengan manusia lainnya.
Sebab kalau kau berbaur, kau mesti membuka dirimu
sedikit dan membiarkan orang­orang melihat seperti
apa kau sebenarnya. Dan itulah yang kautakutkan, bu­
kan? Sebab kau akan ketahuan. Seseorang akan men­

302
dapati bahwa kau tidak sekeras, sedingin, dan sekejam
yang tampak dari luar. Seseorang mungkin akan mene­
mukan bahwa kau sanggup memberi dan menerima
cinta.”
”Sayang, aku sudah tidak punya ilusi tentang cinta
lagi sejak lama.”
”Lalu apa arti semua itu bagimu?” Rusty menunjuk
ke arah tempat tidur.
”Seks.” Cooper sengaja membuat kata itu terdengar
kasar.
Napas Rusty tersekat mendengar nada suara Cooper,
tapi dengan angkuh dikibaskannya rambutnya. ”bagiku
tidak. Aku mencintaimu, Cooper.”
”begitulah yang kaukatakan.”
”Aku sungguh­sungguh.”
”Kau sedang dipengaruhi gairahmu ketika mengata­
kan itu.”
”Kau tidak percaya bahwa aku mencintaimu?”
”Tidak. Tak ada yang namanya cinta.”
”Ada.” Rusty mengeluarkan kartu asnya. ”Kau masih
mencintai anakmu yang belum sempat lahir itu.”
”Diam!”
”Kau masih menangisinya karena kau mencintainya.
Kau masih mencintai semua tawanan yang kaulihat te­
www.facebook.com/indonesiapustaka

was di kamp itu.”


”Rusty...” Cooper turun dari tempat tidur dan berdi­
ri dengan sikap mengancam.
”Kau melihat ibumu menghabiskan hidupnya dalam
keadaan marah dan pahit. Dia menangisi kemalangannya.
Apa kau ingin menyia­nyiakan hidupmu seperti itu?”

303
”Lebih baik begitu, daripada kau yang terus­menerus
berusaha menjadi orang yang bukan dirimu.”
Amarah berkobar di antara mereka. begitu kuat,
hingga mulanya mereka tidak mendengar bunyi bel
pintu. Setelah bill Carlson memanggil­manggil putri­
nya, barulah mereka menyadari bahwa mereka tidak
hanya berdua.
”Rusty!”
”Ya, Ayah.” Rusty kembali duduk di tepi tempat ti­
dur dan merapikan pakaiannya.
”Apa kau baik­baik saja? Mobil butut siapa itu di
luar?”
”Aku akan segera keluar, Ayah.”
Cooper mengenakan pakaiannya dengan jauh lebih
tenang, hingga Rusty bertanya­tanya, apakah ini bukan
pertama kalinya lelaki itu dihadapkan pada situasi cang­
gung seperti ini, mungkin dengan kemunculan tak ter­
duga seorang suami.
Setelah berpakaian, Cooper membantu Rusty berdi­
ri dan memberikan tongkat penyangganya. Mereka ke­
luar bersama­sama. Rusty merah padam, sebab ia me­
nyadari bahwa rambut dan penampilannya berantakan.
bill Carlson sedang mondar­mandir dengan tak sabar
di ruang tamu. Ketika ia menoleh dan melihat Cooper,
www.facebook.com/indonesiapustaka

wajahnya menjadi tegang oleh rasa tak senang. Ditatap­


nya Cooper dengan dingin, sebelum ia mengalihkan
pandangan dengan tajam pada putrinya.
”Aku tidak tenang kalau tidak menjengukmu setiap
hari.”
”Terima kasih, Ayah, tapi Ayah tidak perlu mampir
setiap hari ke sini.”
304
”Kurasa begitu.”
”Ayah masih ingat... Mr. Landry?”
Kedua lelaki itu saling mengangguk dengan dingin,
saling menilai seperti dua orang petarung. Cooper me­
nutup mulutnya dengan keras kepala. Rusty tak bisa
bicara; ia merasa sangat malu. Carlson yang akhirnya
lebih dulu memecahkan keheningan yang tidak menge­
nakkan itu.
”Kebetulan sekali kita bertemu,” katanya. ”Ada yang
ingin kubicarakan dengan kalian berdua. bagaimana
kalau kita duduk dulu?”
”Tentu,” sahut Rusty dengan wajah pucat. ”Maaf.
Cooper?” Ia menunjuk ke sebuah kursi. Cooper ragu­
ragu, tapi akhirnya duduk juga. Tatapan tajamnya
membuat Rusty gugup. Ia menatap lelaki itu dengan
pandangan memohon, tapi Cooper sedang mengamati
ayahnya. Sorot mata lelaki itu waspada dan penuh cu­
riga, seperti dulu, ketika ia memandangi kedua Gawry­
low. Ingatan itu membuat Rusty gelisah. Persamaan apa
yang ditemukan Cooper antara kedua orang hutan itu
dan ayahnya? Rusty duduk di dekat ayahnya.
”Apa yang ingin Ayah bicarakan dengan kami?”
”Perjanjian soal tanah yang kusebutkan beberapa
minggu lalu.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

Rusty merasa seperti akan pingsan. Pipinya memucat


dan telapak tangannya mendadak basah oleh keringat.
Telinganya serasa berdengung oleh bunyi bel peringat­
an. ”Kupikir semua urusan kita sudah beres.”
Carlson terkekeh pelan. ”belum semua. Tapi seka­
rang para investor sudah membuat beberapa gagasan

305
konkret di atas kertas. Mereka ingin mempresentasikan
gagasan tersebut pada Mr. Landry, untuk dipertimbang­
kan.”
”Ada apa ini sebenarnya?” Cooper menyela dengan
kasar.
”Jangan.”
”Akan kujelaskan.” Carlson cepat­cepat memotong
ucapan Rusty. Dengan gayanya yang khas ia memapar­
kan gagasannya untuk mengembangkan daerah di seki­
tar Rogers Gap menjadi sebuah tempat liburan main ski
yang eksklusif.
Sebagai penutup ia berkata, ”Kita hanya akan beker­
ja sama dengan para arsitek dan pembangun yang paling
inovatif. Tempat itu pasti akan bisa menyaingi Aspen,
Vail, Keystone, apa pun di Pegunungan Rocky atau
sekitar Lake Tahoe. Dalam beberapa tahun kujamin
kita bisa membuat tempat itu menjadi tempat penye­
lenggaraan Olimpiade Musim Dingin.” Sambil bersan­
dar di kursinya dan tersenyum lebar, ia berkata, ”Nah,
Mr. Landry, bagaimana menurut Anda?”
Cooper, yang sejak tadi tidak mengerjapkan mata
sedikit pun, perlahan­lahan bangkit berdiri, mengitari
meja beberapa kali, seolah sedang mempertimbangkan
gagasan tersebut dari segala sudut. Ia bisa mendapat
www.facebook.com/indonesiapustaka

uang banyak dari rencana itu, sebab sejumlah tanah


yang akan digunakan untuk proyek tersebut adalah
miliknya. Selain itu, ia juga ditawari gaji besar sebagai
koordinator lokal.
Carlson melirik putrinya sambil mengedipkan mata,
yakin akan kemenangannya.

306
”Anda ingin tahu pendapatku?” tanya Cooper.
”begitulah,” sahut Carlson riang.
Cooper menatapnya lekat­lekat. ”Menurutku, kau
penuh dengan omong kosong, dan menurutku gagasan-
mu memuakkan.” Ia melontarkan kata­kata itu dengan
tajam, lalu menambahkan, ”Dan asal tahu saja, putrimu
sama memuakkannya denganmu.”
Ia menghunjamkan satu tatapan dingin pada Rusty.
Ia bahkan tidak perlu membanting pintu lagi setelah
keluar dengan marah dari ruangan itu. Mereka mende­
ngar mesin mobilnya dinyalakan, disusul gemeretak
kerikil mobil itu keluar dari halaman.
Carlson mendengus dan berkata, ”Yah, ternyata pen­
dapatku tentang dia selama ini benar.”
Tahu bahwa ia takkan pernah pulih dari luka yang
ditorehkan Cooper atas dirinya, Rusty berkata dengan
datar, ”Ayah salah besar.”
”Dia kasar.”
”Dia jujur.”
”Dia tidak punya ambisi dan tidak tahu sopan san­
tun.”
”Dia tidak suka berpura­pura.”
”Dan kelihatannya dia tidak bermoral. Dia meman­
faatkan kenyataan bahwa kau sendirian dan terperang­
www.facebook.com/indonesiapustaka

kap bersamanya.”
Rusty tertawa pelan. ”Aku tidak ingat siapa persisnya
yang lebih dulu mengajak ke tempat tidur, tapi yang
jelas dia tidak memaksaku untuk tidur dengannya.”
”Jadi, kalian berdua adalah kekasih?”
”Tidak lagi,” sahut Rusty sedih.

307
Cooper pasti merasa dikhianati olehnya, seperti yang
telah dilakukan Melody. Ia mengira Rusty dijadikan
umpan oleh ayahnya. Mencoba mencari keuntungan
dengan menggunakan taktik rayuan di tempat tidur.
Cooper takkan pernah memaafkannya, sebab ia tak
percaya bahwa Rusty mencintainya.
”Selama ini kau menjadi kekasihnya? Tanpa sepenge­
tahuanku?”
Rusty ingin mengatakan pada ayahnya bahwa pada
usia 27 tahun ini ia tak perlu minta izin ayahnya lagi
untuk melakukan apa yang diinginkannya. Tapi apa
gunanya bicara demikian? Ia sudah kehabisan tenaga,
kehabisan energi, dan gairah untuk hidup.
”Ketika masih di Kanada, ya, kami menjadi kekasih.
Setelah meninggalkan kamarku di rumah sakit hari itu,
dia pulang dan sejak itu tidak kembali lagi. baru tadi
siang inilah dia datang lagi.”
”Kalau begitu, dia lebih realistis daripada yang ku­
kira. Dia sadar bahwa kalian sama sekali tidak cocok.
Seperti umumnya wanita, kau melihat situasi ini dari
segi romantisnya. Kaubiarkan emosimu menguasaimu,
bukan akal sehatmu. Kupikir kau sudah tidak terpenga­
ruh oleh kelemahan wanita seperti itu.”
”Aku masih terpengaruh, Ayah. Aku tetap wanita,
www.facebook.com/indonesiapustaka

dan aku punya semua kelemahan, sekaligus kekuatan,


yang biasa dimiliki wanita.”
bill Carlson bangkit dan melintasi ruangan. Ia me­
meluk Rusty untuk berdamai. Rusty berdiri dengan
tongkat penyangganya, hingga ayahnya tidak memper­
hatikan betapa kaku sikapnya saat menerima pelukan­

308
nya. ”Kulihat Mr. Landry telah membuatmu kesal lagi.
Dia memang bajingan, berkata begitu tentang dirimu.
Kau akan lebih baik tanpa dia, Rusty, percayalah.”
”Tapi,” Carlson melanjutkan dengan tegas, ”kita tidak
akan membiarkan sikapnya yang tidak bersahabat itu
menghalangi urusan kemitraan kita dengannya. Aku
berniat meneruskan rencana kita, meski dia keberatan.”
”Ayah, kumohon-”
Carlson menutup mulut Rusty dengan satu jarinya.
”Diamlah. Tidak usah dibicarakan lagi malam ini. be­
sok kau akan merasa lebih baik. Kau masih tertekan.
Mungkin bukan gagasan bagus menjalani operasi segera
setelah kecelakaan pesawat itu. bisa dimengerti kalau
kau jadi seperti ini. Tak lama lagi akal sehatmu akan
bekerja lagi dan kau akan menjadi Rusty yang dulu.
Aku yakin sekali kau tidak akan mengecewakanku.”
Carlson mengecup dahi putrinya. ”Selamat malam,
sayangku. bacalah proposal ini,” katanya sambil menge­
luarkan sebuah map dari tas kerjanya dan meletakkan­
nya di meja kopi. ”Aku akan mampir besok pagi, untuk
mendengar pendapatmu.”
Setelah ayahnya pergi, Rusty mengunci pintu rumah
dan kembali ke tempat tidur. Ia mandi air hangat dan
bermalas­malasan di bak. Sejak dokter mengatakan
www.facebook.com/indonesiapustaka

kakinya sudah boleh kena air, ia selalu mandi beren­


dam. Tapi setelah mengeringkan tubuh, memberi losi­
on, dan membedakinya, ia tetap masih bisa merasakan
sisa­sisa sentuhan Cooper padanya.
Tempat tidurnya terasa lebar dan kosong, seperti
lapangan sepak bola yang tidak digunakan. Seprainya

309
masih menyimpan aroma tubuh Cooper. Ia mem­
bayangkan kembali setiap detik yang mereka lewati
bersama siang itu—saling memberi kenikmatan, perca­
kapan erotis. bahkan hingga sekarang pun bisikan­bi­
sikan nakal Cooper masih membuat tubuhnya bereaksi
kembali.
Ia merindukan Cooper dan merasa sangat sedih
membayangkan hidupnya akan menjadi serangkaian
hari­hari kosong dan malam­malam tanpa kebahagiaan,
seperti yang dialaminya saat ini.
Ia bisa menyibukkan diri dalam pekerjaannya.
Ada ayahnya.
Dan teman­temannya yang banyak itu.
Serta berbagai kegiatan sosialnya.
Tapi itu takkan cukup.
Ada sebuah kekosongan besar yang mestinya diisi
oleh laki­laki yang dicintainya.
Ia duduk tegak di tempat tidur dan mencengkeram
selimutnya erat­erat di dada, seolah kesadaran yang
baru datang itu akan meninggalkannya kalau ia tidak
mempertahankannya sebelum bisa menentukan tindak­
an yang akan diambilnya.
Pilihan­pilihannya sudah jelas. Ia bisa berdiam diri
saja, atau berjuang untuk mendapatkan Cooper kemba­
www.facebook.com/indonesiapustaka

li. Lawan utamanya adalah Cooper sendiri. Lelaki itu


keras kepala dan tidak mudah percaya. Tapi Rusty ya­
kin lambat laun dirinya bisa meyakinkan Cooper bahwa
mereka saling mencintai.
Ya, Cooper mencintainya. boleh saja lelaki itu me­
nyangkalnya mati­matinya, tapi Rusty takkan pernah

310
percaya bahwa Cooper tidak mencintainya. Tepat sete­
lah ayahnya memaparkan gagasannya yang menyakitkan
itu, dan sesaat sebelum wajah Cooper mengeras penuh
amarah, Rusty sempat melihat sebersit kepedihan di
dalamnya. Tak mungkin Cooper bisa merasa begitu
sakit hati kalau tidak mencintainya.
Rusty berbaring kembali. Sekarang ia sudah tahu apa
yang akan dilakukannya besok pagi.

bill Carlson terkejut mendapat serangan mendadak ini.


Ia tak mengiranya sama sekali.
Ketika Rusty muncul tiba­tiba di kantornya keesok­
an pagi, Carlson berseru di balik mejanya yang mengi­
lap, ”Ah, Rusty! Kejutan yang menyenangkan!”
”Selamat pagi, Ayah.”
”Kenapa kau keluar rumah? Tapi sebenarnya tidak
apa­apa. Aku senang kau sudah bisa aktif lagi.”
”Aku ingin bertemu Ayah, dan tak ingin menunggu
disediakan waktu di antara jadwal Ayah yang sibuk.”
Carlson tidak mengacuhkan nada ketus putrinya. Ia
keluar dari balik mejanya dengan lengan terulur untuk
meraih tangan Rusty. ”Kulihat kau sudah jauh lebih
baik. Apa Mrs. Watkins menawarkan kopi padamu?”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Ya, tapi kutolak.”


Carlson memandangi pakaian santai yang dikenakan
Rusty. ”Kelihatannya kau tidak akan masuk ke kantor­
mu.”
”Tidak.”
Carlson menelengkan kepala, menunggu penjelasan.

311
Karena tidak ada penjelasan, ia melanjutkan, ”Mana
tongkat penyanggamu?”
”Ada di mobilku.”
”Kau naik mobil kemari? Kukira-”
”Ya, aku menyetir sendiri. Aku ingin berjalan masuk
kemari dengan kekuatanku sendiri dan berdiri di atas
kakiku sendiri.”
Carlson mundur sedikit dan bersandar di tepi meja­
nya. Dengan santai ia menyilangkan kaki dan melipat
lengan. Rusty tahu betul gelagat ini. begitulah sikap
ayahnya kalau merasa terdesak, tapi tak ingin lawannya
mengetahui hal itu. ”Kusimpulkan bahwa kau sudah
membaca proposal itu.” Dengan gerakan kepalanya ia
membuat isyarat ke map yang dikepit Rusty.”
”Ya.”
”Dan?”
Rusty merobek map itu menjadi dua dan melempar­
kan ke meja ayahnya sambil berkata, ”Jangan ganggu
Cooper Landry. Hentikan proyek Rogers Gap itu. Hari
ini juga.”
Carlson tertawa melihat sikap putrinya dan angkat
bahu sambil merentangkan kedua lengan. ”Sudah ter­
lambat, Rusty. bola sudah digelindingkan.”
”Hentikan.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

”Tidak bisa.”
”Kalau begitu, Ayah akan mendapat masalah dengan
para investor yang sudah Ayah kumpulkan itu.” Rusty
mencondongkan tubuh ke depan. ”Sebab aku akan me­
minta setiap kelompok pelestarian alam di negeri ini
menggedor pintu rumah Ayah untuk memprotes. Ku­
rasa Ayah tidak menginginkan hal itu.”

312
”Rusty, cobalah berpikir sehat,” desis Carlson.
”Sudah kulakukan. Antara tengah malam dan jam dua
pagi kemarin aku menyadari bahwa ada yang lebih pen­
ting bagiku daripada bisnis real estate mana pun. bahkan
lebih penting daripada mendapatkan pujian Ayah.”
”Landry?”
”Ya.” Suara Rusty penuh keyakinan. Ia tak ingin
goyah lagi.
Tapi Carlson masih mencoba. ”Kau mau melepaskan
semua yang telah kauperoleh demi dia?”
”Mencintai Cooper tidak perlu membuatku melepas­
kan apa yang telah atau akan kulakukan kelak. Cinta
sebesar ini justru akan menjadi pendorong, bukan peng­
hancur.”
”Apa kau sadar betapa konyol ucapanmu itu?”
Rusty tidak tersinggung. Ia malah tertawa. ”Kurasa
begitulah. Orang yang sedang jauh cinta sering bicara
yang tidak masuk akal, bukan?”
”Ini bukan lelucon, Rusty. Kalau kau melakukan ini,
keputusan itu takkan bisa kautarik lagi. begitu kau
melepaskan posisimu di sini, kau tak bisa kembali lagi.”
”Kurasa tidak, Ayah,” sahut Rusty, menjawab tan­
tangan ayahnya. ”Pikirkan, betapa buruk kesannya bagi
usaha Ayah kalau Ayah memecat karyawan yang paling
www.facebook.com/indonesiapustaka

berprestasi.” Rusty mengambil kunci dari saku jaket


nilonnya. ”Ini kunci kantorku.” Ditaruhnya kunci itu di
meja ayahnya. ”Aku akan ambil cuti tak terbatas.”
”Tindakanmu bodoh.”
”Aku sudah berbuat bodoh dengan pergi ke Great
bear Lake. Dan itu pun kulakukan demi cinta.” Ia ber­
balik dan beranjak ke pintu.

313
”Mau ke mana kau?” teriak bill Carlson. Ia tidak
biasa ditinggalkan begitu saja.
”Ke Rogers Gap.”
”Mau apa?”
Rusty berbalik kembali menghadap ayahnya. Ia sa­
yang pada ayahnya. Sangat sayang. Tapi ia tak mau lagi
mengorbankan kebahagiaannya untuk ayahnya. Dengan
penuh keyakinan ia berkata, ”Aku akan melakukan se­
suatu yang takkan pernah bisa dilakukan Jef. Aku akan
punya bayi.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

314
14

RUSTY berdiri di atas tebing dan menarik napas dalam­


dalam, menghirup udara dingin yang segar. Ia tak pernah
bosan menikmati pemandangan di hadapannya. Apa yang
dilihatnya seakan tak pernah berubah, namun sebenarnya
senantiasa berganti. Hari ini langit tampak biru jernih,
seperti mangkuk porselen yang ditumpangkan di atas
bumi. Salju masih menghiasi puncak­puncak pegunungan
di cakrawala sana. Pepohonan berderet dalam berbagai
nuansa hijau, mulai dari hijau kebiruan hingga hijau muda
daun­daun yang baru bertunas.
”Kau tidak kedinginan?”
Suaminya muncul di belakangnya dan melingkarkan
lengan di tubuhnya. Rusty bersandar padanya. ”Tidak.
www.facebook.com/indonesiapustaka

bagaimana anak kuda itu?”


”Sedang sarapan... asyik bersama induknya.”
Rusty tersenyum dan memiringkan kepala ke satu
sisi. Cooper menurunkan kerah sweter istrinya sedikit
dan mengecup lehernya, di bawah telinga. ”bagaimana
dengan ibu yang satu ini?”

315
”Aku belum jadi ibu.” Wajah Rusty berseri­seri ba­
hagia saat Cooper menyapukan lengannya yang besar di
perutnya yang membusung.
”Calon ibu.”
”Menurutmu bentuk badanku sekarang ini lucu, ya?”
Ia merengut, tapi sulit untuk tetap cemberut kalau sua­
minya menatapnya dengan penuh cinta seperti itu.
”Aku suka kok.”
”Aku cinta padamu.”
Mereka berciuman. ”Aku juga mencintaimu,” bisik
Cooper. Kata­kata yang dulu tak mungkin keluar dari
mulutnya itu sekarang meluncur dengan mudah dari
bibirnya. Rusty­lah yang mengajarinya untuk kembali
mencintai.
”Jelas.”
”Yeah, aku ingat malam ketika kau muncul di depan
pintuku dengan penampilan tidak keruan, seperti anak
kucing habis kehujanan.”
”Mengingat apa yang kualami waktu itu, menurutku
penampilanku cukup lumayan.”
”Aku tidak tahu mesti mencium atau memarahimu.”
”Kau melakukan kedua­duanya.”
”Yeah, tapi baru sesudahnya aku memarahimu.”
Mereka tertawa bersama, tapi Cooper serius dengan
www.facebook.com/indonesiapustaka

ucapannya tadi. ”Sungguh, aku tak percaya bahwa kau


mengemudikan mobilmu sejauh itu, seorang diri, dalam
cuaca seperti itu. Apa kau tidak mendengar berita ra­
dio? Tidak mendengar laporan badai? Kau menembus
badai salju pertama yang paling berat. Setiap kali teri­
ngat itu, aku merinding.” Cooper menariknya lebih
dekat dan membenamkan wajah di rambut istrinya.

316
”Aku mesti menemuimu saat itu juga, sebelum aku
kehilangan keberanianku. Aku rela menembus badai
seberat apa pun untuk bisa sampai kemari.”
”Memang itulah yang terjadi.”
”Saat itu aku tidak merasakan beratnya. Lagi pula,
aku pernah mengalami kecelakaan pesawat. Apa artinya
badai salju kecil?”
”Sama sekali tidak kecil. Apalagi kau menyetir de­
ngan kaki masih luka.”
Rusty angkat bahu tak acuh. Karena gerakannya itu,
payudaranya naik dan turun kembali. Sambil bergumam
senang Cooper menangkupnya dengan kedua tangannya
dan memijatnya pelan­pelan, sadar sepenuhnya akan
ketidaknyamanan yang dirasakan istrinya akibat keha­
milannya.
”Sakit?” tanyanya.
”Sedikit.”
”Jadi, hentikan saja?”
”Jangan, teruskan.”
Puas dengan jawaban itu, Cooper menaruh dagunya
di puncak kepala Rusty dan terus memijat payudara
istrinya.
”Aku senang operasi di kakiku bisa ditunda sampai
bayi kita lahir,” kata Rusty. ”Itu kalau kau tidak kebe­
www.facebook.com/indonesiapustaka

ratan melihat bekas luka yang jelek itu.”


”Aku selalu tutup mata kalau kita sedang bercinta.”
”Aku tahu. Aku juga begitu.”
”Lalu bagaimana kau tahu mataku terpejam?” goda
Cooper. Mereka tertawa lagi, sebab sebenarnya mereka
berdua sama sekali tidak menutup mata saat bercinta.

317
Mereka terlalu asyik saling memandangi, menilai ting­
kat gairah masing­masing.
Saat memandangi seekor rajawali yang terbang ber­
putar­putar dengan malasnya, Cooper bertanya, ”Ingat,
tidak, apa yang kaukatakan padaku ketika aku membu­
kakan pintu malam itu?”
”Aku bilang, ’Kau mesti membiarkan aku mencintai­
mu, Cooper Landry, tak peduli akibatnya.”
Cooper terkekeh teringat peristiwa itu. Hatinya
menjadi hangat, seperti yang dirasakannya malam itu,
ketika ia membayangkan keberanian Rusty datang pa­
danya dan membuat pernyataan itu. ”Apa yang akan
kaulakukan kalau aku membanting pintu di depan wa­
jahmu?”
”Tapi kau tidak membanting pintu.”
”Misalkan saja.”
Rusty berpikir sejenak. ”Aku tetap akan masuk,
membuka semua pakaianku, mengumumkan cinta aba­
diku padamu, dan mengancammu dengan kekerasan
kalau kau tidak membalas cintaku.”
”Memang itulah yang kaulakukan.”
”Yeah.” Rusty terkikik. ”Aku akan terus begitu, sam­
pai kau tidak menolak lagi.”
Cooper menempelkan bibir di telinga istrinya. ”Kau
www.facebook.com/indonesiapustaka

berlutut memintaku menikahimu, dan ingin aku mem­


berikan seorang anak padamu.”
”Tajam sekali ingatanmu.”
Cooper tertawa terbahak­bahak dengan perasaan geli
yang tidak dibuat­buat. Ia bisa sering tertawa sekarang.
Tapi kadang­kadang ia masih suka terdiam dan menja­

318
ga jarak seperti dulu. Pikirannya membawanya kemba­
li ke masa­masa hidupnya yang silam, yang tak mungkin
dimasuki Rusty. Namun Rusty selalu bisa menariknya
kembali ke masa kini. Dengan sabar dan penuh cinta ia
mengurangi kenangan­kenangan yang mengganggu itu
dan menggantikannya dengan yang membahagiakan.
Kini dikecupnya leher Cooper yang kekar dan keco­
kelatan, sambil berkata, ”Sebaiknya kita masuk, siap­
siap untuk perjalanan ke L.A.”
Sebulan sekali mereka pergi ke kota itu, tinggal sela­
ma dua atau tiga hari di rumah Rusty. Sementara ber­
ada di sana, mereka makan di restoran­restoran yang
bagus, menonton konser dan ilm, berbelanja, dan
bahkan sesekali menghadiri pesta. Rusty tetap menjalin
hubungan dengan teman­teman lamanya, tapi ia senang
dengan kenalan­kenalan baru yang diperolehnya bersa­
ma Cooper sebagai suami­istri. Kalau mau, Cooper bisa
sangat memikat dan pintar bercakap­cakap mengenai
banyak hal.
Dan sementara berada di L.A., Rusty menangani
urusan bisnis yang memerlukan perhatiannya. Sejak
menikah, ia telah diangkat menjadi wakil presiden di
perusahaan real estate ayahnya.
Cooper bekerja sebagai pembimbing sukarela di ke­
www.facebook.com/indonesiapustaka

lompok terapi untuk para veteran perang. Ia telah me­


mulai terapi beberapa program perbaikan diri yang se­
karang mulai diterapkan di bagian­bagian lain negara
itu.
Sambil saling merangkul pinggang, kedua suami­istri
itu berjalan ke rumah mereka yang terletak di tengah

319
pepohonan pinus, menghadap ke sebuah lembah berpe­
mandangan sangat indah. Kuda­kuda dan sapi­sapi
merumput di padang pegunungan, di bawah deretan
pepohonan.
”Kau tahu, tidak,” kata Cooper saat mereka mema­
suki kamar tidur mereka yang berdinding kaca, ”bicara
tentang malam kau datang dulu itu membuatku bergai­
rah.” Ia melepas kemejanya.
”Kau memang selalu bergairah.” Rusty menarik swe­
ter melewati kepala. Ia tidak pernah memakai bra kalau
hanya mereka berdua di rumah.
Sambil memandangi payudara istrinya yang membe­
sar, Cooper melepaskan jeans­nya dan berjalan meng­
hampiri Rusty. ”Dan itu gara­gara kau.”
”Kau masih bergairah melihatku, meski tubuhku
seperti ini?” Rusty menunjuk perutnya yang membuncit.
Sebagai jawaban, Cooper menariknya ke dalam pe­
lukan. ”Ya,” katanya. Sambil berlutut dikecupnya salah
satu payudara istrinya. ”Selama kau adalah kau, aku
tetap mencintaimu, Rusty.”
”bagus,” desah Rusty. ”Sebab kau tidak akan bisa
lepas dariku, seperti saat di hutan itu.”
www.facebook.com/indonesiapustaka

320
www.facebook.com/indonesiapustaka
BIARKAN AKU MENCINTAIMU
TWO ALONE

Rusty Carlson adalah wanita karier yang sukses


dan terbiasa dengan kehidupan gemerlap Beverly
Hills, namun ketika mengalami kecelakaan pesawat
dan terdampar di hutan belantara Kanada yang
ganas, ia benar-benar tak berdaya.

Satu-satunya penumpang lain yang selamat adalah


Cooper Landry, veteran perang Vietnam yang telah
banyak mengalami pahit-getirnya kehidupan dan
sinis terhadap wanita semacam Rusty.

Keadaan memaksa mereka untuk bekerja sama


agar bisa bertahan hidup, sementara menunggu
bala bantuan. Dalam situasi serbasulit ini, cinta
tumbuh di hati Rusty terhadap Cooper, meskipun
sepertinya lelaki itu tidak akan pernah membalas
perasaannya...
www.facebook.com/indonesiapustaka

Penerbit NOVEL DEWASA 21+


PT Gramedia Pustaka Utama
9786020386386 DIGITAL
9 789792 222425

Kompas Gramedia Building


Blok I, Lantai 5
Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta 10270
www.gpu.id
www.gramedia.com Harga P. Jawa: Rp49.000