Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

MASA KHULAFAUR RASYIDIN (632-661)


Diajukan Untuk Memenuhi Salah satu Tugas Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan
Islam
Dosen Pengampu:
………………………..

Disusun Oleh:
……………………………………

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM CIAMIS
Jl. K.H. Ahmad Fadlil No. 08, Kampus Pesantren Darussalam, Kec. Cijeungjing,
Kab. Ciamis, Jawa Barat 46271
Tahun Ajaran 2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur hanya bagi Allah Swt, Rabb semesta alam. Tidak ada daya
dan upaya selain darinya. Semoga kita selalu di limpihkan rahmat dan karunianya
dalam mengarungi kehidupan ini. Salawat dan salam selalu dilimpahkan kepada
Nabi Muhammad SAW. beserta keluarga sahabat dan orang-orang mengikutinya
sampai akhir zaman di manapun mereka berada. Alhamdulillah dari izin dan
kehendak darinyalah, sehingga dapat kami selesaikan. Makalah ini berjudul
”Masa Khulafaur Rasyidin”.
Dalam makalah ini dijelaskan tentang pengertian Khulafaur Rasyidin,
siapa sajakah yang termasuk Khulafaur Rasyidin serta penjelasan-penjelasan
lainnya. Dengan penjelasan dalam makalah ini Insya Allah kami dapat memahami
tentang apakah yang dimaksud dengan Khulafaur Rasyidin dan dapat menjadi
nilai tambahan dalam mempelajari Sejarah Peradaban Islam.
Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen pembimbing yang
telah memberikan gambaran tentang materi yang harus diselesaikan dalam
makalah ini. Terakhir penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun untuk lebih menyempurnakan makalah ini. Agar makalah ini lebih
sempurna pada masa yang akan datang.

Ciamis 13 Juni 2021

penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................i


DAFTAR ISI ....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................1
A. Latar Belakang ......................................................................................1
B. Perumusan Masalah ..............................................................................1
C. Tujuan Penelitian ..................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................3
A. Pengertian Khulafaur Rasyidin..............................................................3
B. Masa Abu Bakar as Shiddiq ( 11 – 13 H = 632 – 634 M )....................3
C. Umar bin Khathab ( 13 – 23 H= 634 – 644 M)......................................5
D. Ustman bin Affan (23 – 35 H = 644 – 656 M)......................................7
E. Ali bin Abu Thalib ( 35 – 40 H = 656 – 661 M)...................................10
BAB III PENUTUP ........................................................................................14
A. Kesimpulan ..........................................................................................14
B. Saran .....................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nabi Muhammad SAW wafat pada tanggal 12 Rabiulawal tahun
11 H atau tanggal 8 Juni 632 M. Sesaat setelah beliau wafat, situasi di
kalangan umat Islam sempat kacau. Hal ini disebabkan Nabi Muhammad
SAW tidak menunjuk calon penggantinya secara pasti. Dua kelompok
yang merasa paling berhak untuk dicalonkan sebagai pengganti Nabi
Muhammad SAW adalah kaum Muhajirin dan Anshar. Terdapat
perbedaan pendapat antara Kaum Muhajirin dan Anshar karena kaum
Muhajirin mengusulkan Abu Bakar as Shiddiq, sedangkan kaum Anshar
mengusulkan Sa’ad bin Ubadah sebagai pengganti nabi Muhammad SAW.
Perbedaan pendapat antara dua kelompok tersebut akhirnya dapat
diselesaikan secara damai setelah Umar bin Khatab mengemukakan
pendapatnya. Selanjutnya, Umar menegaskan bahwa yang paling berhak
memegang pimpinan sepeninggal Rasulullah adalah orang-orang Quraisy.
Alasan tersebut dapat diterima oleh kedua belah pihak. Melihat dari
masalah itu kami dari penulis mencoba untuk membahas tentang
Khulafaur Rasyidin. Tidak terlepas dari hal ini semoga makalah ini bisa
membantu kesulitan teman-teman dalam memahami tentang Khulafaur
Rasyidin.

B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, maka dalam makalah ini akan membahas
mengenai beberapa masalah, antara lain :
1. Apa pengertian dari Khulafaur Rasyidin?
2. Siapa sajakah yang termasuk Khulafaur Rasyidin?
3. Bagaimana pemerintahan dan metode dakwah dari masing-masing
khalifah tersebut?

1
2

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Khulafaur Rasyidin.
2. Untuk mengetahui Siapa sajakah yang termasuk Khulafaur Rasyidin.
3. Untuk mengetahui Bagaimana pemerintahan dan metode dakwah dari
masing-masing khalifah tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Khulafaur Rasyidin


Khulafaur Rasyidin menurut bahasa artinya para pemimpin yang
mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Sedangkan menurut istilah yaitu
para khalifah (pemimpin umat Islam) yang melanjutkan kepemimpinan
Rasulullah SAW sebagai kepala negara (pemerintah) setelah Rasulullah
SAW wafat. Rasulullah SAW meninggal dunia tidak hanya sebagai
seorang Nabi yang diutus Allah SWT untuk menyampaikan risalah agama
Islam, namun lebih dari itu Beliau juga seorang kepala negara yang
memimpin suatu negara. Oleh karena itu, jabatannya sebagai kepala
pemerintahan harus ada yang menggantikannya.
Maka setelah Rasulullah wafat, para sahabat Muhajirin maupun
sahabat Anshor berkumpul untuk bermusyawarah mengangkat seorang
pemimpin diantara mereka. Pengangkatan seorang pemimpin atas dasar
musyawarah yang dilakukan secara demokratis sesudah wafatnya Nabi
inilah yang disebut Khulafaur Rasyidin. Jumlahnya ada 4 orang, yaitu:
1. Abu Bakar as Shiddiq
2. Umar bin Khatab
3. Usman bin Affan
4. Ali bin Abu Thalib
Khulafaur-rasyidin Sesudah Ali bin Abu Thalib, para pemimpin
umat Islam (khalifah) tidak termasuk Khulafaur Rasyidin karena mereka
merubah sistem dari pemilihan secara demokratis menjadi kerajaan, yaitu
kepemimpinan didasarkan atas dasar keturunan seperti halnya dalam
sistem kerajaan.

B. Masa Abu Bakar as Shiddiq ( 11 – 13 H = 632 – 634 M )


Khalifah pertama sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah
Abu Bakar as Shiddiq. Nama aslinya adalah Abdullah bin Abi Ghufah.
Dipanggil Abu Bakar yang berarti ayah dari seorang gadis, karena

3
4

memang Abu Bakar mempunyai anak gadis yang bernama Aisyah yang
kemudian menjadi istri Rasulullah SAW. Dia termasuk Assabiqunal
awwalun yaitu orang yang mula-mula masuk agama Islam. Mendapat
julukan as Shiddiq karena dialah yang selalu membenarkan apa yang ada
pada diri Rasulullah SAW. Diantara para sahabat Nabi, dialah yang tertua
dan yang paling dekat hubungannya dengan Nabi. Dialah yang menemani
Nabi saat berhijrah dari Mekkah menuju Madinah. Usianya 3 tahun lebih
muda daripada Nabi. Melihat kedekatan hubungan dengan Nabi tersebut,
maka para sahabat baik sahabat Muhajirin (orang yang ikut hijrah bersama
Nabi atau penduduk asli Mekkah) dan sahabat Anshor (penolong /
penduduk asli Madinah) semuanya sepakat untuk mengangkat Abu Bakar
sebagai khalifah yang pertama.
Pada masa kepemimpinannya, usaha-usaha yang telah dilakukannya
adalah:
1. Menghadapi para pemberontak yang terdiri atas orang-orang yang
murtad (keluar dariagama Islam) serta orang-orang yang tidak mau
membayar zakat.
2. Menghadapi orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi (nabi
palsu) seperti: Musailamah Al Kazab, Al Aswad, Tulaihah dan Sajjah
Tamamiyah.
3. Mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an menjadi 1 kumpulan,
mengingat banyak para sahabat penghafal Al-Qur’an yang gugur
dalam peperangan menghadapi orang-orang yang murtad.
4. Abu Bakar hanya memimpin selama 2 tahun, karena pada tahun 13 H
Abu Bakar meninggal dunia karena sakit yang dideritanya dalam usia
63 tahun dan dikubur di samping makam Rasulullah.
Sistem Pendidikan pada Masa Khalifa Abu Bakar As Shiddiq. Pola
pendidikan pada masa Khulafah Abu Bakar Sidiq tidak jauh berbeda
dengan masa nabi yang menekan pada pengajaran baca tulis dan ajaran
ajaran Islam yang bersumber pada Alquran dan Hadist Nabi. Kurikulum
yang di gunakan pada zaman Abu Bakar, selain berisi materi pelajaran
yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan, isi Al-Qur’an, Al-Hadits,
5

hukum islam, kemasyarakatan, ketatanegaraan, pertahanan, keamanan, dan


kesejahteraan. Pesrta didiknya di zaman Khalifaurrasyidin terdiri dari
masyarakat yang tinggal di Meekah dan Madinah.Yang menjadi pendidik
di zaman khulafaurrasyidin antara lain adalah Abdullah bin Umar, Abu
Hurairah, Ibn Abbas, Siti Aisyah, Anas bin Malik, Zaid bin Tsabit, Abu
Dzar Al-Ghifari. Adapun metode yang di gunakan dalam mengajar selain
dengan bentuk halaqah, dan lembaga pendidikannya yaitu di mesjid,
suffah, kuttab dan rumah.

C. Umar bin Khathab ( 13 – 23 H= 634 – 644 M)


Umar bin Khathab adalah putra Naufal Al Quraisyi dari Bani Ady.
Sebelum Islam suku Bani Ady terkenal sebagai suku yang terpandang
mulia, megah, dan berkedudukan tinggi. Masuk Islam pada tahun ke enam
dari kenabian, berwatak keras dan pemberani, tapi juga lemah lembut
sering menyamar sebagai rakyat jelata. Usaha-usaha Khallifah Umar bin
Khathab antara lain :
1. Pembagian wilayah kekuasaan islam menjadi beberapa bagian
(propinsi) yang masing-masing propinsi di pimpin oleh seseorang
Amirul mukminin. Hal ini mengingat semakin luasnya daerah
kekuasaan Islam. Pembentukan dewan-dewan pemerintahan seperti
dewan perbendaharaan negara (Baitul maal), dewan peradilan (Qadhil
Qudhah), dewan pertahanan dsb.
2. Penetapan tahun Hijriyah yang dimulai penanggalannya dari hijrah
nabi dari Mekkah ke Madinah. Pembemtukan urusan kehakiman dan
pembangunan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Aqsha, dll.
Memperluas daerah kekuasaan Islam dan penyebaran agama Islam ke
beberapa daerah seperti: Damaskus, Mesir, Babilonia dan beberapa
bekas jajahan Romawi Timur.
3. Melihat keberhasilan Umar bin Kathab ini, banyak musuh dari negara
lain hendak membunuh khalifah. Maka seorang tahanan perang
Nahawan yang bernama Fairus( Abu Lu’lu’) dari bangsa Persia dan
menjadi hamba atau budak dari Mughiroh bin Syu’bah sakit hati dan
6

dendam kepada khalifah atas hancurnya kekaisaran Persia. Maka pada


suatu hari tepatnya pada tahun 23 H khalifah Umar meninggal dunia
karena dibunuh oleh Abu Lu’lu.
Proses Pengangkatan Umar bin Khattab
Pengangkatan Umar sebagai khalifah sangat lancer tanpa ada
pertentangan di kalangan kaum muslimin. Hal tersebut terjadi karena
menjelang ajal, Abu Bakar telah mengajukan Umar bin Khattab sebagai
pemimpin kaum muslimin untuk penggantinya. Di antara sahabat yang
dimintai pertimbangan adalah Usman binAffan, Ali bin Abi Thalib,
Abdurahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah dan Usaid bin Kundur . dan
Meskipun peristiwa diangkatnya Umar sebagai khalifah itu merupakan
fenomena yang baru, tetapi haruslah dicatat bahwa proses peralihan
kepemimpinan tetap dalam bentuk musyawarah, yaitu berupa usulan atau
rekomendasi dari Abu Bakar yang diserahkan kepada persetujuan umat
Islam. Untuk menjajaki pendapat umum, khalifah Abu Bajkar melakukan
serangkaian konsultasi terlebih dahulu dengan beberapa orang sahabat,
antara lain ialah Abdurrahman ibn Auf dan Usman ibn Affan.
Pada awalnaya terdapat berbagai keberatan mengenai rencana
pengangkatan Umar ini, sahabat thalhah misalnya segera menemui Abu
Bakar untuk menyampaikan rasa kecewanya. Namun oleh karena Umar
adalah orang yang paling tepat untuk menduduki kursi kekhalifahan, maka
pengangkatan Umar mendapat persetujuan dan baiat dari semua anggota
Islam. Dan Ketika Umar telah menjadi khalifah, ia berkata kepada
umatnya :”Orang-orang seperti halnya seekor unta yang keras kepala dan
ini akan bertalian dengan pengendara dimana jalan yang akan dilalui,
dengan nama Allah, begitulah aku akan menunjukkan kepada kamu ke
jalan yang harus engkau lalui”
Umar memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/ 634-644 M).
Masa jabatannya berakhir dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang
budak dari Persia bernama Abu Lu’lu’ah. Untuk menentukan
penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan abu Bakar. Dia
menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih
7

salah seorang diantaranya menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah


Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqqas, dan Abdurrahman
ibn Auf. Setelah Umar wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil
menunjuk nUsman sebagai khalifah, melalui persaingan yang agak ketat
dengan Ali ibn Abi Thalib.

D. Ustman bin Affan (23 – 35 H = 644 – 656 M)


Usman bin Affan adalah putra Abdu Syam bin Abdi Manaf, lahir
pada tahun ke-5 Miladiyah di Mekkah. Dia merupakan bangsaan Quraisy
yang sangat kaya raya namun sangat dermawan. Oleh Rasulullah diberi
gelar ZUN NURAIN yang artinya orang yang mempunyai dua cahaya. Hal
ini disebabkan karena Usman menikah dengan dua puteri Rasulullah SAW
yaitu dengan Siti Ruqayah dan kemudian setelah meninggal dunia,
Rasulullah SAW kembali menikahkannya dengan puterinya yang lain
yang bernama Umi Kulsum. Saat diangkat menjadi khalifah Usman telah
berusia70 tahun, namun demikian usaha dan jasa-jasanya selama menjadi
khalifah sangat besar sekali bagi umat Islam khususnya yang menyangkut
usaha pembukuan Al quran menjadi satu mushaf.Pada masa
pemerintahannya, banyak terjadi perbedaan di kalangan umat Islam
mengenai bacaan Al Quran. Melihat kondisi seperti ini, khalifah kemudian
membentuk suatu panitia khusus yang bertugas membukukan Al Quran
menjadi satu mushaf yang sama ejaan maupun bahasanya. Yang termasuk
panitia ini adalah Zaid bin Tsabit sebagai ketua dibantu oleh Abdullah bin
Zubair, Sa’ad bin Ash, dan Abdur Rahman bin Haris bin Hisyam.
Kepada panitia khalifah Usman berpesan agar berpedoman kepada
hafalan para sahabat penghafal Al Quran dan jika terjadi perbedaan dalam
dialek, maka dikembalikan kepada bahasa atau dialek Quraisy karena Al
Quran diturunkan dengan dialek suku Quraisy. Panitia menyusun
sebanyak lima buah, masing-masing dikirim ke beberapa daerah seperti:
Syam, Kufah, Basrah, dan Mesir. Sedangkan yang satu tetap berada di
Madinah untuk khalifah sendiri yang disebut Mushaf Al Imam. Di
samping usaha pembukuan Al Quran tersebut, khalifah Usman juga
8

melakukan usaha perluasan daerah kekuasaan Islam, sehingga pada saat


itu Islam telah mencapai Afrika (Tunisia, Sudan, Tripoli Barat) dan daerah
Armenia.Khalifah Usman menghadapi pemberontakan dari beberapa
golongan diantaranya adalah dari Khufah dan Basrah, demikian juga dari
Abdullah bin Abu Bakar. Khalifah dikepung oleh para pemberontak
selama 40 hari lamanya, sampai akhirnya beliau dibunuh oleh para
pemberontak (Abdullah bin Saba’) pada tahun 35 H.
Perjuangan dalam dakwah islam :
1. Utsman menjadi khalifah
Pembai’atan Utsman sebagai khalifah berdasar kesepakatan
enam orang sahabat termasuk dirinya yang telah ditunjuk langsung
oleh Umar ibn Khattab untuk menjadi penggantinya yang akan
melanjutkan kepemimpinan dan perjuangannya dalam menyebarkan
islam ke penjuru dunia. Dari masa inilah awal pengangkatan seorang
khalifah secara demokratis dengan jalan musyawarah yang diwakili
oleh keenam orang sahabat sepanjang sejarah manusia.
Satu dekade pertama kepemimpinan Ustman adalah masa yang
dipenuhi dengan prestasi penting dan kesejahteraan ekonomi yang
tiada duanya, terkecuali pada dua tahun terakhir yang berbanding
terbalik dengan sebelumnya kondisi serba sulit akibat merebaknya
fitnah dan kedengkian musuh – musuh Islam yang diarahkan padanya
sehingga beliau syahid Beliau wafat pada bulan haji tahun 35 H. dalam
usia 82 tahun setelah menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun.
Beliau dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah
2. Perluasan wilayah Islam
Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwasanya utsman
harus bekerja lebih keras lagi dalam mempertahankan dan melanjutkan
perjuangan panji islam sebab berbagai ancaman dan rintangan akan
semakin berat untuknya mengingat pada masa sebelumnya telah tersiar
tanda-tanda adanya negeri yang pernah ditaklukkan oleh islam hendak
berbalik memberontak padanya. Namun demikian, meski disana-sini
banyak kesulitan beliau sanggup meredakan dan menumpas segala
9

pembangkangan mereka, bahkan pada masa ini islam berhasil tersebar


hampir ke seluruh belahan dunia mulai dari Anatolia, dan Asia kecil,
Afganistan, Samarkand, Tashkent, Turkmenistan, Khurasan dan
Thabrani Timur hingga Timur Laut seperti Libya, Aljazair, Tunisia,
Maroko dan Ethiopia. Maka islam lebih luas wilayahnya jika
dibandingkan dengan Imperium sebelumnya yakni Romawi dan Persia
karena islam telah menguasai hampir sebagian besar daratan Asia dan
Afrika.
3. Pembentukan Armada laut Islam pertama
Ide atau gagasan untuk membuat sebuah armada laut islam
sebenarnya telah ada sejak masa kekhalifahan Umar Ibn khattab
namun beliau menolaknya lantaran khawatir akan membebani kaum
muslimin pada saat itu. Setelah kekhalifahan berpindah tangan pada
Utsman maka gagasan itu diangkat kembali kepermukaan dan berhasil
menjadi kesepakatan bahwa kaum muslimin memang harus ada yang
mengarungi lautan meskipn sang khalifah mengajukan syarat untuk
tidak memaksa seorangpun kecuali dengan sukarela. Berkat armada
laut ini wilayah islam bertambah luas setelah menaklukkan pulau
Cyprus meski harus melewati peperangan yang melelahkan.
4. Kodifikasi Al – Qur’an
Masa penyusunan Al – qur’an memang telah ada pada masa
Khalifah Abu Bakar atas usulan Umar bin Khaththab yang kemudian
disimpan ditangan istri Nabi Hafsah binti Umar. Berdasar
pertimbangan bahwa banyak dari para penghafal Al – Qur’an yang
gugur usai peperangan Yamamah. Kini setelah Ustman memegang
tonggak kepemimpinan dan bertambah luas pula wilayah kekuasaan
Islam maka banyak ditemukan perbedaan lahjah dan bacaan terhadap
Al – Qur’an. Inilah yang mendorong beliau untuk menyusun kembali
Al – Qur’an yang ada pada Hafsah dan menyeragamkannya kedalam
bahasa Quraisy agar tidak terjadi perselisihan antara umat dikemudian
hari. Seperti halnya kitab suci umat lain yang selalu berbeda antar
sekte yang satu dengan yang lainnya. Maka diutuslah beberapa orang
10

kepercayaannya untuk menyebarkan Al – Qur’an hasil kodifikasinya


ke beberapa daerah penting antara lain Makkah, Syiria. Kuffah, Syam,
Bashrah dan Yaman. Kemudian Beliau menginstruksikan untuk
membakar seluruh mushaf yang lain dan berpatokan pada mushaf yang
baru yang diberi nama Mushaf Al-Iman.
khalifah kali pertama yang melakukan perluasan masjid al-
Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai
umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). ia
mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan
khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya
dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika
Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga
membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah
saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam
satu mushaf.

E. Ali bin Abu Thalib ( 35 – 40 H = 656 – 661 M)


Ali bin Abu Thalib adalah anak dari paman Nabi Muhammad
SAW yang bernama Abu Thalib. Sejak kecil telah bergaul dengan
Rasulullah SAW karena Nabi juga diasuh oleh Abu Thalib. Setelah Nabi
Muhammad SAW berkeluarga, maka Ali ikut dengan Nabi Muhammad
SAW. Ali lahir di Mekkah pada tahun 661 H. Termasuk Assabiqunal
awalun dan orang yang paling muda dari beberapa orang yang pertama
kali masuk agama Islam, karena pada waktu itu usianya baru 8 tahun. Dia
merupakan seorang pemimpin yang cerdas, jujur, pemberani, adil, dan
pandai dalam strategi perang karena setiap peperangan yang dihadapi oleh
umat Islam, Ali selalu mengikutinya dan berada di barisan paling depan
sebagai panglima yang mengatur strategi pasukan Islam. Setelah dewasa,
Rasulullah SAW menikahkannya dengan salah satu puterinya yang
bernama Siti Fatimah.
Proses pengangkatan Ali sebagai khalifah melalui musyawarah di
kalangan umat Islam, namun demikian keadaan umat Islam pada waktu itu
11

sudah mengalami perpecahan yang hebat. Banyak bermunculan golongan-


golongan yang disebabkan oleh perbedaan pandangan mereka dalam hal
kepemimpinan umat Islam. Banyak peperangan yang terjadi ketika masa
pemerintahan khalifah Ali, dan yang terpenting adalah peperangan Jamal
dan Shiffin.
a. Peperangan Jamal
Dinamakan peperangan Jamal (unta) karena Siti Aisyah, istri
Rasulullah SAW dan puteri Abu Bakar as Shiddiq ikut dalam
peperangan ini dengan mengendarai unta. Ikut campurnya Aisyah
memerangi Ali terpandang sebagai hal yang luar biasa sehingga orang
menghubungkan peperangan ini dengan Aisyah dan untanya, walaupun
peranan yang dipegang Aisyah tidak begitu besar. Sesungguhnya
peperangan ini adalah peperangan yang pertama kali terjadi antara dua
laskar dari kaum Muslimin, di mana seorang Muslim menghadapi
seorang Muslim dengan amarahnya hendak menumpahkan darah
saudaranya seagama. Peperangan Jamal terjadi karena keinginan dan
nafsu perseorangan yang timbul pada diri Abdullah bin Zubair dan
Thalhah serta perasaan benci Aisyah terhadap Ali. Dosa Thalhah agak
ringan dibanding dosa Abdullah karena Thalhah tidak sampai
mempengaruhi kaum Muslimin. Dan tak ada pengaruhnya terhadap
Aisyah yang dapat mendorong Aisyah agar mempengaruhi kaum
Muslimin dengan menggunakan kedudukannya sebagai Ummul
Mukminin. Akan tetapi, Abdullah bin Zubair sangat bernafsu untuk
menduduki kursi khalifah dan berupaya dengan sungguh-sungguh
menghasut Aisyah menghidupkan api peperangan agar keinginannya
menduduki kursi khalifah dapat tercapai.
Ali disalahkan karena dia dipandang tidak dapat menguasai
laskarnya seluruhnya. Ketika ada usahanya hendak mencari
perdamaian, diantara pengikut-pengikutnya ada yang membuat
komplotan untuk menyalakan api peperangan. Andai kata beliau
berwibawa penuh terhadap laskarnya, mungkin peperangan dapat
dihindarkan. Yang memikul tanggung jawab atas terjadinya
12

peperangan Jamal yang telah menelan korban puluhan ribu umat


manusia adalah Abdullah bin Zubair dan Aisyah.
b. Peperangan Shiffin
Peperangan Shiffin adalah peeprangan antara khalifah Ali dan
Mu’awiyah. Ali dan pengikut-pengikutnya mulanya mengira bahwa
peperangan yang pertama dan itu pun akan merupakan peperangan
penghabisan haruslah untuk menundukkan Mu’awiyah bin Abu Sufyan
yang didukung penduduk Syam. Mu’awiyah adalah anak Abu Sufyan
(paman Usman) pemuka Bani Umayah yang amat disegani dan
dipatuhi oleh laskarnya. Thalhah dan Zubair sebelumnya tidak
dipandang musuh oleh Ali, terlebih sesudah keduanya memberikan
bai’ah dan sumpah setianya kepada Ali. Begitu pula tidak seorang pun
menyangka bahwa kebencian Aisyah terhadap Ali akan sampai
sedemikian rupa sehingga Aisyah menceburkan diri ke dalam
peperangan memimpin bala tentara melawan Ali.
Peperangan Jamal mengakibatkan gugurnya ribuan tentara Ali.
Sementara itu, Mu’awiyah memperkuat laskarnya dengan membagi-
bagi uang kepada mereka dan pengikutnya sehingga ikatan kesatuan
mereka menjadi kuat. Pertempuran terjadi antara kedua laskar
beberapa hari lamanya. Ali dengan keberanian pribadinya dapat
membangkitkan semangat dan kekuatan laskarnya, sehingga
kemenangan sudah membayang baginya. Ahli-ahli sejarah yang
mempelajari sejarah kehidupan Ali di bidang kemiliteran menemukan
bahwa dalam setiap pertempuaran Ali selalu menang. Menang dalam
peperangan Jamal, Shiffin dan beberapa peperangan dengan Khawarij.
Akan tetapi, beliau kalah dalam diplomasi dan tak dapat mengelak dari
tipu daya. Ketika akhir hayat khalifah Usman bin Affan menghadapi
berbagai kelompok pemberontak, maka demikian pula dengan keadaan
yang dialami oleh khalifah Ali bin Abu Thalib. Oleh karena itu, pada
masa pemerintahannya Ali lebih banyak menghadapi para
pemberontak ini terutama pemberontakan yang dilakukan oleh
gubernur Mesir yang bernama Muawiyah bin Abu Sufyan.
13

Hampir seluruh masa pemerintahannya habis untuk


menghadapi para pemberontak, sehingga usaha dan jasa-jasa khalifah
Ali tidak begitu banyak diketahui. Khalifah Ali meninggal dunia
karena dibunuh oleh salah seorang golongan Khawarij yang bernama
Ibnu Muljam pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Dengan wafatnya
khalifah Ali, maka masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin telah
selesai karena sesudah itu pemerintahan Islam dipegang oleh khalifah
Muawiyah bin Abu Sufyan secara turun-temurun, sehingga disebut
Daulat / Bani Umayyah.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Khulafaur Rasyidin menurut bahasa artinya para pemimpin yang
mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Sedangkan menurut istilah yaitu
para khalifah (pemimpin umat Islam) yang melanjutkan kepemimpinan
Rasulullah SAW sebagai kepala negara (pemerintah) setelah Rasulullah
SAW wafat. Pengangkatan seorang pemimpin atas dasar musyawarah
yang dilakukan secara demokratis sesudah wafatnya Nabi inilah yang
disebut Khulafaur Rasyidin. Jumlahnya ada 4 orang, yaitu:
1. Abu Bakar as Shiddiq ( 11 – 13 H = 632 – 634 M )
2. Umar bin Khatab ( 13 – 23 H= 634 – 644 M)
3. Usman bin Affan (23 – 35 H = 644 – 656 M)
4. Ali bin Abu Thalib ( 35 – 40 H = 656 – 661 M)
Sesudah Ali bin Abu Thalib, para pemimpin umat Islam (khalifah) tidak
termasuk Khulafaur Rasyidin karena mereka merubah sistem dari
pemilihan secara demokratis menjadi kerajaan, yaitu kepemimpinan
didasarkan atas dasar keturunan seperti halnya dalam sistem kerajaan.
Dengan wafatnya khalifah Ali, maka masa pemerintahan Khulafaur
Rasyidin telah selesai karena sesudah itu pemerintahan Islam dipegang
oleh khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan secara turun-temurun, sehingga
disebut Daulat / Bani Umayyah.

B. Saran
Kami selaku penyusun menyadari masih jauh dari sempurna dan
tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Hal ini
disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami. Oleh karena itu,
kami selaku pembuat makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun. Kami juga mengharapkan makalah ini sangat
bermanfaat untuk kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

14
DAFTAR PUSTAKA

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Rasyidin
https://www.kompas.com/pedia/read/2021/04/24/175453579/sejarah-singkat-
khulafaur-rasyidin