Anda di halaman 1dari 21

KEGIATAN BELAJAR 4 :

TOLERANSI DALAM ISLAM

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Capaian pembelajaran yang diharapkan pada meteri ini adalah: menguasai pola
pikir dan struktur keilmuan serta materi ajar PAI dengan perspektif tawassuth,
tawaazun, dan tasāmuh, yang berkategori advance materials secara bermakna
yang dapat menjelaskan aspek “apa” (konten), “mengapa” (filosofi), dan
“bagaimana” (penerapan) dalam kehidupan sehari-hari.

SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN

Subcapaian pemebelajaran:
1.1. Menganalisis makna toleransi dalam Islam dan batas-batas toleransi
1.2. Bersikap toleran dalam menghadapi perbedaan pendapat dan madzhab

POKOK-POKOK MATERI

1.1. Pengertian toleransi dalam Islam


1.2. Bentuk-bentuk Toleransi
1.3. Ucapan Selamat Natal
1.4. Kawin Beda Agama

1
A. Toleransi dalam Islam
1. Pengertian Toleransi dalam Islam
Kata toleransi berasal dari toleran dalam KBBI diartikan menenggang atau
menghargai pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.
Dalam bahasa Arab, toleran adalah “tasāmuh”, yang berarti sikap baik dan
berlapang dada terhadap perbedaan-perbedaan dengan orang lain yang tidak
sesuai dengan pendirian dan keyakinannya.1 Umat manusia diciptakan dengan
berbagai ras, bangsa, suku, bahasa, adat, kebudayaan, dan agama yang berbeda.
Menghadapi kenyataan tersebut, setiap manusia harus bersikap toleran atau
tasāmuh. Dengan sikap toleransi dan tasāmuh yang luas dan terbuka, maka akan
terbentuk suatu masyarakat yang saling menghargai, menghormati, dan
terjalinlah kehidupan yang harmonis antar anggota masyarakat, bangsa, negara,
maupun dalam kehidupan secara umum. Kemudian masyarakat yang harmonis
cenderung akan menghasilkan karya-karya yang besar yang bermanfaat bagi
manusia.
Toleransi dianjurkan dalam masalah muamalah dan hubungan
kemasyarakatan bukan menyangkut masalah akidah dan ibadah. Toleransi dalam
masalah ibadah dan akidah tertolak sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah
saat empat pemuka kafir Quraisy yakni Al-Walid bin Mughirah, Al-Ash bin Wail, Al-
Aswad ibnul Muthalib, dan Umayyah bin Khalaf datang menemui Rasulullah seraya
berkata, “Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu
dan kalian (Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami, kita bertoleransi dalam
segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian dari ajaran agamamu yang
lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu.
Sebaliknya, jika ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu,
engkau juga harus mengamalkannya.”2

1
Aslati, “Toleransi Antar Umat Beragama dalam Perspektif Islam (Suatu Tinjauan Historis)”,
TOLERANSI; Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, Vol 4, No 1 (2012), hlm. 1.
2
Imam Qurthubi, Tafsir Qurthubi, (Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2006), hlm. 425.

2
Sebagai jawaban dari perkataan mereka, kemudian Allah menurunkan surat
Al-Kafirun ayat 1-6, terutama dalam ayat 6 yang menegaskan bahwa tidak ada
toleransi dalam hal yang menyangkut akidah. Allah Swt berfirman:

َ ‫لَ ُك ْم ِد ْينُ ُك ْم َو ِل‬


‫ي ِدي ِْن‬
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (Q.S. al-Kafirun [109]: 6)
Sedangkan sikap toleransi dalam masalah muamalah dan kemasyarakatan
dijelaskan oleh Allah dalam Q.S. al-Mumtahanah [60] ayat 8-9:
‫ُ ْوا‬ُ ِِ ‫ار ُك ْم ا َ ْن تَبَ ُّر ْو ُه ْم َوت ُ ْق‬ ِ ‫ع ِن الَّ ِذيْنَ لَ ْم يُقَاتِلُ ْو ُك ْم فِى‬
ِ َ‫الدي ِْن َولَ ْم ي ُْخ ِر ُج ْو ُك ْم ِم ْن ِدي‬ ‫ََل يَ ْنهٰ ى ُك ُم ه‬
َ ُ‫ّٰللا‬
‫الدي ِْن َوا َ ْخ َر ُج ْو ُك ْم ِم ْن‬ ُ
ِ ‫ع ِن ال ِذيْنَ قَاتَل ْو ُك ْم فِى‬ َّ ‫ اِنَّ َما يَ ْنهٰ ى ُك ُم ه‬٨ َ‫ُِيْن‬
َ ُ‫ّٰللا‬ ْ
ِ ِ‫ّٰللاَ ي ُِحبُّ ال ُم ْق‬‫اِلَ ْي ِه ْۗ ْم ا َِّن ه‬
‫ه‬ ٰٰۤ ُ َّ َّ ٰ
٩ َ‫اج ُك ْم ا َ ْن ت ََول ْو ُه ْۚ ْم َو َم ْن يَّت ََول ُه ْم فَاول ِٕىكَ ُه ُم الظ ِل ُم ْون‬ِ ‫على ا ِْخ َر‬ َ ‫ظاه َُر ْوا‬ َ ‫ار ُك ْم َو‬ ِ َ‫ِدي‬
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-
orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir
kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang
yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan
mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan
agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang
lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan,
mereka itulah orang yang zalim.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 8-9)

Ibnu Katsir ra berkata, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non
muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan
orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah kalian berbuat baik dan adil karena
Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil”.3
Inilah toleransi yang diajarkan di dalam Islam. Allah telah memerintahkan
kepada hamba-Nya untuk bertoleransi pada orang-orang di luar Islam. Namun
demikian, sikap toleransi tidak boleh dipraktikkan dalam hal yang menyangkut
akidah. Inilah ketentuan syariat yang berhubungan dengan toleransi.

2. Bentuk-bentuk Toleransi dalam Islam


Ada beberapa bentuk toleransi dalam Islam, di antaranya:

3
Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, (Bogor: Pustaka Imam Asy Syafi’i, 2004).

3
a. Islam mengajarkan menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang
yang sakit, muslim atau non-muslim, bahkan terhadap binatang sekalipun.
Dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda,
ْ ‫فِى ُك ِل َكبِ ٍد َر‬
‫طبَ ٍة أَجْ ر‬
“Dalam setiap hati yang basah( makhluk hidup yang diberi makan minum) ada
pahalanya” (HR. Bukhari dan Muslim). Lihatlah Islam mengajarkan peduli
sesama.
b. Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim.
Allah Swt telah berfirman dalam Q.S. Luqman [31]: 15
‫اح ْب ُه َما فِي الدُّ ْنيَا َم ْع ُروفا‬
ِ ‫ص‬َ ‫ْس لَكَ ِب ِه ِع ْلم فَال ت ُ ُِ ْع ُه َما َو‬
َ ‫على أ َ ْن ت ُ ْش ِركَ بِي َما لَي‬
َ َ‫َو ِإ ْن َجا َهدَاك‬
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Q.S.
Luqman [31]: 15).
Dalam ayat di atas sekalipun seorang anak dipaksa syirik oleh orang tua,
namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Lihat Asma’ binti Abi
Bakr ra ketika ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi Saw
dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi untuk tetap
jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah
mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat,

ِ ‫ع ِن الَّذِينَ لَ ْم يُقَاتِلُو ُك ْم فِى الد‬


‫ِين‬ َّ ‫َلَ يَ ْن َها ُك ُم‬
َ ُ‫ّٰللا‬
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang yang tiada memerangimu ….” (Q.S. al-Mumtahanah [60]: 8)
c. Boleh memberi hadiah pada non muslim.
Islam memperbolehkan umat Islam memberi hadiah kepada non-muslim,
agar membuat mereka tertarik pada Islam, atau ingin berdakwah dan atau
ingin agar mereka tidak menyakiti kaum muslimin. Dari Ibnu ‘Umar ra, beliau
berkata:
‫ع َف َقا َل ِلل َّنبِ ِى – صلى هللا عليه وسلم – ا ْبت َْع َه ِذ ِه ْال ُحلَّةَ ت َْلبَ ِْ َها َي ْو َم ْال ُج ُمعَ ِة‬ ُ ‫ع َم ُر ُحلَّة َع َلى َر ُج ٍل تُبَا‬ ُ ‫َرأَى‬
ُ ُ ‫ فَقَا َل « ِإ َّن َما َي ْل َب‬. ُ ‫َو ِإذَا َجا َءكَ ْال َو ْفد‬
ِ ‫س َهذَا َم ْن َلَ َخالَقَ لَهُ ِفى‬
‫ّٰللاِ – صلى هللا عليه‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫ى َر‬ َ ‫ فَأ ِت‬. » ‫اآلخ َر ِة‬

4
‫ِ َها َوقَدْ قُ ْلتَ فِي َها َما قُ ْلتَ قَا َل « إِنِى‬ ُ َ‫ْف أ َ ْلب‬ ُ ‫ فَقَا َل‬. ‫ع َم َر ِم ْن َها بِ ُحلَّ ٍة‬
َ ‫ع َم ُر َكي‬ ُ ‫س َل إِلَى‬ َ ‫وسلم – ِم ْن َها بِ ُحلَ ٍل فَأ َ ْر‬
َ َ َ
‫ع َم ُر ِإلَى أخٍ لَهُ ِم ْن أ ْه ِل َم َّكةَ قَ ْب َل أ ْن يُ ِْ ِل َم‬ َ
َ ‫ فَأ ْر‬. » ‫ِوهَا‬
ُ ‫س َل بِ َها‬ َ
ُ ‫ تَبِيعُ َها أ ْو تَ ْك‬، ‫ِ َها‬ َ َ‫ِ َك َها ِلت َْلب‬
ُ ‫لَ ْم أ َ ْك‬
“’Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata
pada Nabi shallallahu Saw, “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada
hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Saw pun
berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan
mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah
Saw didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya
pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya
sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini
tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi Saw menjawab, “Aku tidak mau
mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak
mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar
menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum
saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari no. 2619).

Umar bin Khattab masih berbuat baik dengan memberi pakaian pada
saudaranya yang non-muslim.
3. Toleransi Antar umat Beragama
Toleransi Antar Umat Beragama - Manusia merupakan makhluk individu
sekaligus juga sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia diwajibkan
mampu berinteraksi dengan individu/manusia lain dalam rangka memenuhi
kebutuhan. Dalam menjalani kehidupan sosial dalam masyarakat, seorang
individu akan dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang berbeda dengannya
salah satunya adalah perbedaan kepercayaan/agama. Dalam menjalani kehidupan
sosial tidak bisa dipungkiri akan ada gesekan-gesekan yang akan dapat terjadi
antar kelompok masyarakat, baik yang berkaitan dengan agama atau ras. Dalam
rangka menjaga persatuan dan kesatuan dalam masyarakat maka diperlukan sikap
saling menghargai dan menghormati, sehingga tidak terjadi gesekan-gesekan yang
dapat menimbulkan pertikaian.

Dalam pembukaaan UUD 1945 pasal 29 ayat 2 telah disebutkan


bahwa "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya sendiri-sendiri dan untuk beribadat menurut agamanya dan
kepercayaannya". Sehigga kita sebagai warga Negara sudah sewajarnya saling
menghormati antar hak dan kewajiban yang ada diantara kita demi menjaga

5
keutuhan Negara dan menjunjung tinggi sikap saling toleransi antar umat
beragama.
Toleransi berasal dari bahasa latin dari kata "tolerare" yang berarti dengan
sabar membiarkan sesuatu. Jadi pengertian toleransi secara luas adalah suatu
perilaku atau sikap manusia yang tidak menyimpang dari aturan, di mana
seseorang menghormati atau menghargai setiap tindakan yang dilakukan orang
lain.4
Toleransi juga dapat dikatakan istilah pada konteks agama dan sosial budaya
yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap
golongan-golongan yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas pada
suatu masyarakat. Misalnya toleransi beragama di mana penganut agama
mayoritas dalam sebuah masyarakat mengizinkan keberadaan agama minoritas
lainnya. Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai
umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan
menghargai manusia yang beragama lain.
Istilah toleransi juga dapat digunakan dengan menggunakan definisi
golongan/kelompok yang lebih luas, misalnya orientasi seksual, partai politik, dan
lain-lain. Sampai sekarang masih banyak kontroversi serta kritik mengenai prinsip-
prinsip toleransi baik dari kaum konservatif maupun liberal.
Pada sila pertama dalam Pancasila, disebutkan bahwa bertaqwa kepada
tuhan menurut agama dan kepercayaan masing-masing merupakan hal yang
mutlak. Karena Semua agama menghargai manusia oleh karena itu semua umat
beragama juga harus saling menghargai. Sehingga terbina kerukunan hidup antar
umat beragama

4. Persyaratan pendirian tempat ibadah


Dalam pendirian rumah untuk peribadatan, wajib memperoleh izin
khusus. Dalam mendirikan sebuah bangunan wajib mendapatkan izin tertulis
dari pemerintah, izin mendirikan bangunan dan lain-lain. Terlebih lagi dalam
pendirian rumah untuk peribadatan, wajib memperoleh izin khusus. Ketentuan

4
Dewi Murni, “Toleransi dan Kebebasan Beragama dalam Perspektif Al-Quran”, Jurnal
Syahadah, Vol. VI, No. 2, (Oktober 2018), hlm. 73.

6
soal izin khusus ini dijelaskan dalam sejumlah aturan, sebagai berikut: Peraturan
bersama Menteri agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 tahun 2006 dan
Nomor 8 tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan tugas kepala daerah/wakil
kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan
forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat. Dalam peraturan
ini yang dimaksud dengan rumah ibadat adalah bangunan yang memiliki ciri-ciri
tertentu yang khusus dipergunakan untuk beribadat bagi para pemeluk masing-
masing agama secara permanen.
Akan tetapi masing-masing daerah memiliki peraturan tersendiri, seperti di
daerah khusus ibukota atau DKI yang telah membuat aturan dalam Peraturan
Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 83 tahun 2012 tentang
prosedur pemberian persetujuan pembangunan rumah ibadat. Syarat dan
prosedur pendirian rumah ibadah antara lain harus memenuhi syarat
administratif (kelengkapan dokumen IMB, dll), selain itu juga harus memenuhi
persyaratan khusus, meliputi:
a. Daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk pengguna rumah ibadat paling
sedikit 90 orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat
batas wilayah.
b. Dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh
lurah/kepala desa.
c. Rekomendasi tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota.
d. Rekomendasi tertulis Forum Kerukunan Umat Beragama kabupaten/kota.

Jika persyaratan 90 nama dan KTP pengguna rumah ibadat terpenuhi tetapi
syarat dukungan masyarakat setempat belum terpenuhi, maka pemerintah
daerah berkewajiban memfasilitasi tersedianya lokasi pembangunan rumah
ibadat, sehingga hak setiap warga dalam menjalankan ibadahnya dapat terjamin.

7
B. Ucapan Selamat Natal
Selamat Natal yang diucapkan seorang Muslim kepada penganut agama lain
seperti agama Kristen misalnya dianggap haram oleh sementara orang dan
dinilai sesat dan menyesatkan. Berita itu yang biasa terdengar di Indonesia,
tetapi tidak demikian di kalangan ulama di Timur Tengah. Berikut tulisan ulama
besar Suriah Mustafa Az-Zarqa’ yang termuat dalam kumpulan fatwanya “Fatwa
Mustafa Az-Zarqa”. Fatwa-fatwa itu dihimpun oleh Majed Ahmad Makky dan
diantar oleh ulama besar Mesir kenamaan: Yusuf al-Qardhawy. Al-Qardhawy
mengakui az-Zarqa’ sebagai gurunya dan merasa bangga menulis pengantar
tentang kumpulan fatwa itu.
Fatwa ini adalah jawaban Az-Zarqa’ kepada Anas Muhammad ash-Shabbagh
yang bermukim di Saudi Arabia. Terjemahannya sebagai berikut:
“Menjawab pertanyaan Anda tentang ucapan selamat yang diucapkan
seorang Muslim berkaitan dengan kelahiran Isa (Natal) dan Tahun Baru
Masehi, maka menurut hemat saya: Ucapan Selamat Natal seorang Muslim
kepada kenalannya yang menganut agama Nasrani termasuk dalam anjuran
berbudi baik dalam interaksi dengan mereka. Sungguh Islam tidak melarang
kita menyangkut harmonisasi hubungan beragama dan perlakuan baik
semacam ini terhadap mereka, apalagi yang mulia Al-Masih dalam
pandangan aqidah kita adalah salah satu Rasul Allah yang agung dan
termasuk satu dari lima Nabi yang amat diagungkan. Siapa yang menduga
mengucapkan selamat kepada mereka pada hari kelahiran Isa as., haram,
siapa yang menduga demikian, maka dia salah karena tidak ada hubungan
dalam ucapan itu dengan rincian aqidah kaum Nasrani dan pandangan
mereka terhadap Isa as.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika ada jenazah seorang Yahudi yang diusung
di hadapan Nabi Saw., maka beliau berdiri. Berdirinya beliau itu merupakan
ekspresi dari rasa agung dan dahsyat terhadap kematian, tidak ada hubungannya
dengan aqidah sosok Yahudi yang mati itu.
Muslim dituntut untuk menggambarkan kebaikan Islam dan moderasinya
terhadap Non-Muslim. Di samping itu, keadaan kaum Muslim dewasa ini yang
sungguh lemah di antara negara-negara di dunia ini serta konspirasi dan tuduhan

8
bahwa kaum Muslim adalah teroris, fanatik, dan lain-lain, kesemuanya menuntut
kaum Muslim mengubah image buruk itu, apalagi pada Hari Raya Idul Fitri dan
Idul Adha bisa jadi seorang Muslim memiliki teman-teman yang mengucapkan
selamat kepadanya, sehingga bila ia tidak membalas sikap baik mereka itu
dengan berkunjung kepada yang berkunjung kepadanya pada Hari Lebaran,
maka sikap itu akan semakin mendukung tuduhan yang ditujukan kepada kaum
Muslim,” demikian antara lain Mustafa az-Zarqa’.
Saling mengucapkan selamat, bahkan kunjung-mengunjungi itulah yang
dilakukan juga oleh pimpinan al-Azhar Mesir. Apakah mereka salah dan sesat?
Saya menduga keras bahwa ulama-ulama itu jauh lebih mengerti agama dan
lebih bijaksana daripada mereka yang mengharamkan ucapan Selamat Natal,
apalagi menyesatkan siapa yang membolehkan mengucapkan Selamat Natal itu.
Ada beberapa hadits antara lain diriwayatkan oleh Imam Muslim yang
melarang seorang Muslim memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi
dan Nasrani. Hadits tersebut menyatakan, “Janganlah memulai salam kepada
orang Yahudi dan Nasrani. Jika kamu bertemu mereka di jalan, jadikanlah
mereka terpaksa ke pinggir.”
Ulama berbeda paham tentang makna larangan tersebut. Dalam buku Subul
as-Salam karya Muhammad bin Isma’il al-Kahlani5, antara lain dikemukakan
bahwa sebagian ulama bermazhab Syafi‘i tidak memahami larangan tersebut
dalam arti haram, sehingga mereka membolehkan menyapa non-Muslim dengan
ucapan salam. Pendapat ini merupakan juga pendapat sahabat Nabi, Ibnu Abbas.
Qadhi Iyadh dan sekelompok ulama lain membolehkan mengucapkan salam
kepada mereka kalau ada kebutuhan. Pendapat ini dianut juga oleh Alqamah dan
al-Auza‘i.
Penulis cenderung menyetujui pendapat yang membolehkan itu, karena
agaknya larangan tersebut timbul dari sikap bermusuhan orang-orang Yahudi
dan Nasrani ketika itu kepada kaum Muslim. Bahkan dalam riwayat Bukhari

5
Imam Ash-Shan'ani, Subulus Salam, Jil. IV, (Riyadh: Al-Ma’arif, tth.), hlm. 155.

9
dijelaskan tentang sahabat Nabi, Ibnu Umar, yang menyampaikan sabda Nabi
bahwa orang Yahudi bila mengucapkan salam terhadap Muslim tidak berkata,
“Assalamu‘alaikum,” tetapi “Assamu‘alaikum,” yang berarti “Kematian atau
kecelakaan untuk Anda”.
Nah, jika demikian, wajarlah apabila Nabi melarang memulai salam untuk
mereka dan menganjurkan untuk menjawab salam mereka dengan “‘Alaikum,”
sehingga jika yang mereka maksud dengan ucapan itu adalah kecelakaan atau
kematian, maka jawaban yang mereka terima adalah “Bagi Andalah (kecelakaan
itu).”
Mengucapkan “Selamat Natal” masalahnya berbeda. Dalam masyarakat
kita, banyak ulama yang melarang, tetapi tidak sedikit juga yang membenarkan
dengan beberapa catatan khusus.
Sebenarnya, dalam al-Qur’an ada ucapan selamat atas kelahiran Isa, dalam
QS. Maryam [19]: 33
ُ َ‫ْت َويَ ْو َم ا َ ُم ْوتُ َويَ ْو َم ا ُ ْبع‬
٣٣ ‫ث َحيًّا‬ ُّ ‫ي يَ ْو َم ُو ِلد‬ َ ‫ِ ٰل ُم‬
َّ َ‫عل‬ َّ ‫َوال‬
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku,
pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Q.S.
Maryam [19]: 33).
Surah ini mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama yang
diucapkan oleh Nabi mulia itu. Akan tetapi persoalan ini jika dikaitkan dengan
hukum agama tidak semudah yang diduga banyak orang, karena hukum agama
tidak terlepas dari konteks, kondisi, situasi, dan pelaku. Yang melarang ucapan
“Selamat Natal” mengaitkan ucapan itu dengan kesan yang ditimbulkannya,
serta makna populernya, yakni pengakuan Ketuhanan Yesus Kristus. Makna ini
jelas bertentangan dengan akidah Islamiah, sehingga ucapan “Selamat Natal”
paling tidak dapat menimbulkan kerancuan dan kekaburan.
Teks keagamaan Islam yang berkaitan dengan akidah sangat jelas.Itu semua
untuk menghindari kerancuan dan kesalahpahaman. Bahkan al-Qur’an tidak
menggunakan satu kata yang mungkin dapat menimbulkan kesalahpahaman,

10
sampai dapat terjamin bahwa kata atau kalimat itu tidak disalahpahami. Kata
“Allah”, misalnya, tidak digunakan ketika pengertian semantiknya di kalangan
masyarakat belum sesuai dengan yang dikehendaki Islam. Kata yang digunakan
sebagai ganti kata Allah ketika itu adalah Rabbuka (Tuhanmu, hai Muhammad).
Demikian wahyu pertama hingga surah al-Ikhlas.
Ucapan selamat atas kelahiran Isa (Natal), manusia agung lagi suci itu,
memang ada di dalam al-Qur’an, tetapi kini perayaannya dikaitkan dengan
ajaran agama Kristen yang keyakinannya terhadap Isa al-Masih berbeda dengan
pandangan Islam. Nah, mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri
perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat mengantarkan
kita kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami sebagai pengakuan akan
ketuhanan al-Masih, satu keyakinan yang secara mutlak bertentangan dengan
akidah Islam. Dengan alasan ini, lahirlah larangan dan fatwa haram untuk
mengucapkan “Selamat Natal”, sampai-sampai ada yang beranggapan jangankan
ucapan selamat, aktivitas apa pun yang berkaitan atau membantu terlaksananya
upacara Natal tidak dibenarkan.
Di pihak lain, ada juga pandangan yang membolehkan ucapan “Selamat
Natal”. Ketika mengabadikan ucapan selamat itu, al-Qur’an mengaitkannya
dengan ucapan Isa, “Sesungguhnya aku ini, hamba Allah. Dia memberiku al-Kitab
dan Dia menjadikan aku seorang Nabi” (Q.S. Maryam [19]: 30).
Nah, salahkah bila ucapan “Selamat Natal” dibarengi dengan keyakinan itu?
Bukankah al-Qur’an telah memberi contoh? Bukankah ada juga salam yang
tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga Ilyas, serta para nabi lain?
Bukankah setiap Muslim wajib percaya kepada seluruh nabi sebagai hamba dan
utusan Allah? Apa salahnya kita mohonkan curahan shalawat dan salam untuk
Isa as., sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh nabi dan rasul? Tidak
bolehkah kita merayakan hari lahir (natal) Isa as.? Bukankah Nabi Saw juga
merayakan hari keselamatan Mûsâ dari gangguan Fir‘aun dengan berpuasa
Asyura, sambil bersabda kepada orang-orang Yahudi yang sedang berpuasa,

11
seperti sabdanya, “Saya lebih wajar menyangkut Mûsâ (merayakan/mensyukuri
keselamatannya) daripada kalian (orang-orang Yahudi),” maka Nabi pun
berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa (HR. Bukhari, Muslim,
dan Abu dawud).
Untuk menjawab hukumnya, perlu dikupas ke dalam beberapa point:
pertama, tidak ada ayat al-Qur’an dan hadis Nabi yang secara jelas dan tegas
menerangkan keharaman atau kebolehan mengucapkan selamat Natal. Padahal,
kondisi sosial saat nabi Muhammad Saw hidup mengharuskannya mengeluarkan
fatwa tentang hukum ucapan tersebut, mengingat Nabi dan para Sahabat hidup
berdampingan dengan orang Yahudi dan Nasrani (Kristiani).
Kedua, karena tidak ada ayat al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan
tegas menerangkan hukumnya, maka masalah ini masuk dalam kategori
permasalahan ijtihadi yang berlaku kaidah:

َ ‫ف ِف ْي ِه َوإِنَّ َما يُ ْن َك ُر ْال ُمجْ َم ُع‬


‫علَ ْي ِه‬ ُ َ‫ََل يُ ْن َك ُر ْال ُم ْختَل‬
“Permasalahan yang masih diperdebatkan tidak boleh diingkari (ditolak),
sedangkan permasalahan yang sudah disepakati boleh diingkari”.
Ketiga, dengan demikian, baik ulama yang mengharamkannya maupun
membolehkannya, sama-sama hanya berpegangan pada generalitas (keumuman)
ayat atau hadits yang mereka sinyalir terkait dengan hukum permasalahan ini.
Berikut beberapa pendapat para ulama: pertama, sebagian ulama, meliputi
Syekh bin Baz, Syekh Ibnu Utsaimin, Syekh Ibrahim bin Ja’far, Syekh Ja’far At-
Thalhawi dan sebagainya, mengharamkan seorang Muslim mengucapkan selamat
Natal kepada orang yang memperingatinya. Mereka berpedoman pada beberapa
dalil, di antaranya: Firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Furqan [25] ayat 72:
‫ور َو ِإذَا َم ُّروا ِباللَّ ْغ ِو َم ُّروا ِك َراما‬ ُّ َ‫َوالَّذِينَ ََل َي ْش َهدُون‬
َ ‫الز‬
“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila
mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-
perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga
kehormatan dirinya” (Q.S. al-Furqan [25] ayat 72)

12
Pada ayat tersebut, Allah Swt menyebutkan ciri orang yang akan mendapat
martabat yang tinggi di surga, yaitu orang yang tidak memberikan kesaksian palsu.
Sedangkan, seorang Muslim yang mengucapkan selamat Natal berarti dia telah
memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat Kristiani tentang
hari Natal. Akibatnya, dia tidak akan mendapat martabat yang tinggi di surga.
Dengan demikian, mengucapkan selamat Natal hukumnya haram.
Di samping itu, mereka juga berpedoman pada hadits riwayat Ibnu Umar,
bahwa Nabi Saw bersabda:
‫شبَّهَ بِقَ ْو ٍم فَ ُه َو ِم ْن ُه ْم‬
َ َ ‫َم ْن ت‬
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian kaum
tersebut." (HR. Abu Daud).

Orang Islam yang mengucapkan selamat Natal berarti menyerupai tradisi


kaum Kristiani, maka ia dianggap bagian dari mereka. Dengan demikian, hukum
ucapan dimaksud adalah haram.
Kedua, sebagian ulama, meliputi Syekh Yusuf Qaradhawi, Syekh Ali Jum’ah,
Syekh Musthafa Zarqa, Syekh Nasr Farid Washil, Syekh Abdullah bin Bayyah, Syekh
Ishom Talimah, Majelis Fatwa Eropa, Majelis Fatwa Mesir, dan sebagainya
membolehkan ucapan selamat Natal kepada orang yang memperingatinya.
Mereka berlandaskan pada firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Mumtahanah [60] ayat
8:
ُ ِِ ‫ار ُك ْم أ َ ْن ت َ َب ُّرو ُه ْم َوت ُ ْق‬
‫ُوا‬ ِ ‫ع ِن الَّذِينَ لَ ْم يُقَا ِتلُو ُك ْم ِفي الد‬
ِ ‫ِين َولَ ْم ي ُْخ ِر ُجو ُك ْم ِم ْن ِد َي‬ َّ ‫ََل َي ْن َها ُك ُم‬
َ ُ‫ّٰللا‬
‫ِإلَ ْي ِه ْم‬
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula)
mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berlaku adil” (Q.S. al-Mumtahanah [60]: 8)
Pada ayat di atas, Allah Saw tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik
kepada siapa saja yang tidak memeranginya dan tidak mengusirnya dari negerinya.
Sedangkan, mengucapkan selamat Natal merupakan salah satu bentuk berbuat

13
baik kepada orang non-Muslim yang tidak memerangi dan mengusir, sehingga
diperbolehkan.
Selain itu, mereka juga berpegangan kepada hadits Nabi Saw. riwayat Anas
bin Malik:
‫سلَّ َم‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫ّٰللا‬ ُّ ‫ فَأَت َاهُ النَّ ِب‬،‫ض‬
َ ‫ي‬ َ ‫سلَّ َم فَ َم ِر‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫ّٰللا‬ َ ‫ي‬ َّ ِ‫ي يَ ْخد ُ ُم النَّب‬ٌّ ‫غالَم يَ ُهو ِد‬ ُ َ‫َكان‬
ْ َ َ َ
‫ أ ِط ْع أبَا القَا ِس ِم‬:ُ‫ فَقَا َل لَه‬،ُ‫ظ َر ِإلَى أ ِبي ِه َو ُه َو ِع ْندَه‬ َ ْ
َ َ‫ فَن‬.‫ أ ْس ِل ْم‬:ُ‫ فَقَ َعدَ ِع ْندَ َرأ ِس ِه فَقَا َل لَه‬،ُ‫يَعُودُه‬
َّ ْ
‫ (ال َح ْمدُ ِ َّلِلِ الذِي‬:ُ‫سل َم َو ُه َو يَقُول‬ َّ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ
َّ ‫صلى‬
َ ُ‫ّٰللا‬ َ ‫ي‬ ُّ ‫ فَخ ََر َج النَّ ِب‬.‫ فَأ َ ْسلَ َم‬.‫سلَّ َم‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ُ‫ّٰللا‬ َّ ‫صلَّى‬ َ
‫ار) ـ‬
ِ َّ ‫ن‬ ‫ال‬ َ‫ن‬ ‫م‬ِ ُ ‫ه‬َ ‫ذ‬ َ‫أ َ ْنق‬
“Dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani (membantu)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi shallallahu
'alaihi wasallam mendatanginya untuk menjenguknya, lalu beliau duduk di
dekat kepalanya, kemudian berkata: “Masuk Islam-lah!” Maka anak Yahudi
itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya berkata:
‘Taatilah Abul Qasim (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam).” Maka anak itu pun
masuk Islam. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar seraya bersabda:
“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka” (HR
Bukhari)

Menanggapi hadits tersebut, ibnu Hajar berkata: “Hadits ini menjelaskan


bolehnya menjadikan non-Muslim sebagai pembantu, dan menjenguknya jika ia
sakit”.6
Pada hadits di atas, Rasulullah Saw., mencontohkan kepada umatnya untuk
berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak menyakiti mereka. Mengucapkan
selamat Natal merupakan salah satu bentuk berbuat baik kepada mereka,
sehingga diperbolehkan.
Dari pemaparan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa para ulama berbeda
pendapat tentang ucapan selamat Natal. Ada yang mengharamkan, dan ada yang
membolehkan. Umat Islam diberi keleluasaan untuk memilih pendapat yang benar
menurut keyakinannya. Maka, perbedaan semacam ini tidak boleh menjadi konflik
dan menimbulkan perpecahan.

6
Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, Juz 3, (Jakarta: Puataka Imam Asy-Syafi'i, 2010), hlm.
586.

14
Jika mengucapkan selamat Natal diperbolehkan, maka menjaga
keberlangsungan hari raya Natal, sebagaimana sering dilakukan Banser, juga
diperbolehkan. Dalilnya, sahabat Umar bin Khattab ra. menjamin keberlangsungan
ibadah dan perayaan kaum Nasrani Iliya’ (Quds/Palestina):
‫ُا ُه ْم أ َ َمانا ِْل َ ْنُفُ ِِ ِه ْم‬
َ ‫ أ َ ْع‬:‫ان‬ ِ ‫ع َم ُر أ َ ِمي ُْر ْال ُمؤْ ِمنِيْنَ أ َ ْه َل ِإ ْي ِليَا َء ِمنَ ْاْل َ َم‬
ُ ِ‫ع ْبدُ هللا‬
َ ‫ُى‬ َ ‫َهذَا َما أ َ ْع‬
.‫ َو ََل ت ُ ْهدَ ُم‬،‫ِ ُه ْم‬ُ ِ‫ ََل ت ُ ِْ َك ُن َكنَائ‬،‫سائِ ِر ِملَّتِ َها‬ َ ‫ص ْلبَانِ ِه ْم َو‬
َ ‫َوأ َ ْم َوا ِل ِه ْم َو َكنَائِ ِِ ِه ْم َو‬
“Ini merupakan pemberian hamba Allah, Umar, pemimpin kaum Mukminin
kepada penduduk Iliya’ berupa jaminan keamanan: Beliau memberikan
jaminan keamanan kepada mereka atas jiwa, harta, gereja, salib, dan juga
agama-agama lain di sana. Gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak
boleh dihancurkan”

C. Kawin Beda Agama


Pernikahan Pria Muslim dengan Wanita non-muslim yang dimaksud dalam
Hukum Islam adalah apabila Wanita Non-muslim tersebut adalah dari golongan
ahli kitab, artinya orang yang mengimani kitab terdahulu, dalam hal ini Wanita
Nasrani dan Wanita Yahudi, maka pernikahan ini diperbolehkan (halal).
Mari melihat perbandingan ketiga Surat tersebut dalam peristiwa, Allah Swt
berfirman dalam Q.S. al-Baqarah [2] ayat 221:
‫ت َحت َّ ٰى يُؤْ ِم َّن ْۚ َو َْل َ َمة ُمؤْ ِمنَة َخيْر ِم ْن ُم ْش ِر َك ٍة َولَ ْو أ َ ْع َجبَتْ ُك ْم ْۗ َو ََل ت ُ ْن ِك ُحوا‬ ِ ‫َو ََل ت َ ْن ِك ُحوا ْال ُم ْش ِر َكا‬
ٰ ُ
ِ َّ‫ْال ُم ْش ِركِينَ َحت َّ ٰى يُؤْ ِمنُوا ْۚ َولَ َعبْد ُمؤْ ِمن َخيْر ِم ْن ُم ْش ِركٍ َولَ ْو أ َ ْع َج َب ُك ْم ْۗ أولَئِكَ َي ْدعُونَ ِإلَى الن‬
ۖ ‫ار‬
ِ َّ‫عو ِإلَى ْال َجنَّ ِة َو ْال َم ْغ ُِف َر ِة ِبإ ِ ْذ ِن ِه ۖ َويُبَ ِي ُن آ َياتِ ِه ِللن‬
َ‫اس لَ َعلَّ ُه ْم َيتَذَ َّك ُرون‬ ُ ْ‫ّٰللاُ َيد‬َّ ‫َو‬
"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita
musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan
orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik,
walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah
mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.Dan Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka
mengambil pelajaran".

Diketengahkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abu Hatim dan Wahidi dari Muqatil,
katanya, "Ayat ini diturunkan mengenai Ibnu Abu Martsad Al-Ghunawi yang
meminta izin kepada Nabi Saw untuk mengawini seorang wanita musyrik yang

15
cantik dan mempunyai kedudukan tinggi. Maka turunlah ayat ini." Diketengahkan
oleh Wahidi dari jalur Suda dari Abu Malik dari Ibnu Abbas, katanya bahwa ayat ini
turun mengenai Abdullah bin Rawahah. Ia mempunyai seorang budak sahaya
hitam yang dimarahi dan dipukuli. Dalam keadaan kebingungan ia datang kepada
Nabi Saw lalu menyampaikan beritanya, seraya katanya, "Saya akan
membebaskannya dan akan mengawininya." Rencananya itu dilakukannya, hingga
orang-orang pun menyalahkannya, kata mereka, "Dia menikahi budak wanita."
Maka Allah Swt pun menurunkan ayat ini. Hadis ini dikeluarkan pula oleh Ibnu Jarir
melalui As-Sadiy berpredikat munqathi.
Allah Swt berfirman dalam Q.S. al-Maidah [5]: 5
ُ‫صنَات‬َ ْ‫ط َعا ُم ُك ْم ِح ٌّل لَ ُه ْم ۖ َوا ْل ُمح‬ َ ‫َاب ِح ٌّل لَ ُك ْم َو‬ َ ‫طعَا ُم الَّذِينَ أُوتُوا ْال ِكت‬ َّ ‫ْاليَ ْو َم أ ُ ِح َّل لَ ُك ُم‬
َ ‫الُ ِيبَاتُ ۖ َو‬
َ ‫َاب ِم ْن قَ ْب ِل ُك ْم ِإذَا آت َ ْيت ُ ُمو ُه َّن أ ُ ُج‬
‫ور ُه َّن‬ َ ‫صنَاتُ ِمنَ الَّذِينَ أُوتُوا ْال ِكت‬ َ ْ‫ت َو ْال ُمح‬ ِ ‫ِمنَ ْال ُمؤْ ِمنَا‬
‫ع َملُهُ َو ُه َو فِي‬ َ ‫ط‬ َ ‫ان فَقَ ْد َح ِب‬ ِ ‫اْلي َم‬ ٍ َ‫ِافِ ِحينَ َو ََل ُمت َّ ِخذِي أ َ ْخد‬
ِ ْ ِ‫ان ْۗ َو َم ْن يَ ْكُفُ ْر ب‬ َ ‫غي َْر ُم‬َ َ‫صنِين‬ ِ ْ‫ُمح‬
ْ
َ‫ْاآل ِخ َرةِ ِمنَ الخَا ِس ِرين‬
"Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik.Makanan (sembelihan)
orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal
(pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga
kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang
menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum
kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud
menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya
gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima
hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat
termasuk orang-orang merugi” (Q.S. al-Maidah [5]: 5)

Sebagian Sahabat Nabi juga menikahi wanita ahlul kitab (Nasrani dan Yahudi)
seperti Utsman bin Affan dan Talhah bin Ubaidillah yang menikah dengan wanita
Nasrani dan Hudzaifah yang menikahi wanita Yahudi. "Dihalalkan bagi kalian wahai
orang-orang yang beriman menikahi wanita-wanita merdeka yang beriman dan
ahlu kitab dari Yahudi dan Naṣrani baik dia zhimmiyah atau harbiyah apabila kalian
telah membayarkan mahar mereka. Kehalalannya dibatasai dengan pembayaran
mahar untuk penegasan tentang wajibnya mahar, bukan sebagai syarat di dalam
kehalalannya. Pengkhususan penyebutan merdeka sebagai anjuran bahwa wanita
merdeka itu lebih utama, bukan berarti selain mereka (wanita merdeka) tidak

16
boleh dinikahi, karena pernikahan budak perempuan yang Muslimah itu baik
sesuai kesepakatan. Menurit Abu Hanifah hal itu adalah baik".
Dihalalkan bagi kalian menikahi wanita-wanita merdeka agar keadaan kalian
terbebas dari zina dengan menikahi mereka, (yaitu) wanita-wanita yang terbebas
dari perbuatan keji secara terang-terangan dan bukan pula wanita yang senang
mendatangi kekejian, artinya bahwa yang dibolehkan adalah menikahi wanita-
wanita merdeka yang terbebas dari perbuatan zina dengan syarat membayarkan
mahar mereka dengan maksud menikah dan menjaga diri bukan dengan maksud
menumpahkan air (sperma) dari jalan zina secara terbuka dan bukan pula pada
jalan zina secara sembunyi-sembunyi yaitu mengambil gundik-gundik.
Allah Swt telah memperingatkan orang yang menyelisihi dan Allah senang
kepada hukum-hukum tentang kehalalan di atas, kemudian Allah Swt berfirman
ُُ َ َ ْ ََ ْ ُْْ َ ْ َ َ
(‫يمان فقد َح ِبط ع َمله‬
ِ ‫ال‬
ِ ‫)ومن يكفر ِب‬, maksudnya, barang siapa yang mengingkari syari’at-
syari’at Islam dan mengingkari pokok-pokok Iman dan cabang-cabangnya maka
Allah Swt pasti membatalkan pahala amalnya di dunia dan di akhirat. Adapun di
dunia dengan sempitnya amalan dia dan tidak adanya manfaat darinya, sedangkan
di akhirat dengan kerugian dan kehancuran di Neraka Jahannam. Allah
memutlakkan kata Iman pada ayat di atas dan menghendaki orang beriman untuk
mengamalkannya, itu semua hanyalah sebagai majaz bahwa yang dikendaki Allah
Swt adalah mengimani syari’at-syari’at Allah Swt dan mengamalkan kewajiban-
kewajibannya. Ada juga yang menafsirkan: “Barang siapa yang mengingkari rabb
yang wajib diimani, lafal itu merupakan majaz dengan membuang kata tertentu
(yaitu kata rabb) dan maksud dari ayat ini adalah menunjukkan besarnya perkara
yang dihalalkan Allah dan yang diharamkan-Nya. Dan ancaman bagi orang yang
menyelisihinya.
Yang bisa diambil dari Q.S. al-Maidah [5] ayat 5 di atas di antaranya adalah:
Pensyariatan menikahi wanita yang muḥshonat baik dari kalangan Muslimah
maupun ahlu kitab, yang dimaksud al-muḥshonat adalah:
a. Menurut Mujahid dan jumhur adalah wanita-wanita yang merdeka.

17
b. Menurut Ibnu Abbas al-Muḥshonat adalah wanita-wanita yang menjaga
dirinya dari perbuatan keji.
Batalnya pahala amal apabila orang yang beramal tersebut mengingkari
hukum-hukum dan syari’at Allah Swt, kufur terhadap pokok-pokok Iman dan
ْ ُْْ َ ْ َ َ
cabang-cabangnya, sebagaimana firman Allah Swt (‫يمان‬
ِ ‫ال‬ِ ‫ )ومن يكفر ِب‬artinya dengan
apa yang diturunkan kepada Rasulullah Saw atau mengingkari Iman maka sia-
sialah amalnya maksudnya adalah batal dan sia-sialah pahala amalnya dan
amalnya tidak bermanfaat di akhirat.7

Wanita Kristen Halal Bagi Pria Muslim


Para Ulama Islam percaya agama Islam, Nasrani, dan Yahudi merupakan
agama samawi. Sehingga mereka berpendapat, selain menikahi wanita Muslim,
pria Muslim boleh menikahi wanita Kristen. Tapi wanita dari agama lain seperti
Hindu, Budha, dll haram baginya.
Mengapa pria Muslim boleh menikahi non-Muslimah? Alasanya, karena pria
dianggap sebagai pemimpin rumah tangga dan berkuasa penuh atas
isterinya.Beberapa sahabatnya juga menikahi wanita Kristen. Seperti Utsman bin
Affan dan Talhah bin Ubaidillah menikahi wanita Nasrani. Sedangkan Hudzaifah
menikahi wanita Yahudi.

Muslimah Menikah dengan Pria Non-Muslim


Perlu ditegaskan bahwa haram hukumnya seorang Muslimah menikah
dengan laki-laki non-Muslim secara mutlak, baik laki-laki itu dari golongan Ahli
Kitab (Yahudi dan Nasrani) ataupun dari agama musyrik lainnya.Hal ini telah
ditegaskan dalam Alquran dan merupakan ijmak (konsensus) para ulama Islam.
AllahSwt berfirman:

7
Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munīr fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, (Dar Al-Fikr Al-
Maasyir: Beirut, 1411)

18
‫ت َحتهى يُؤْ ِم َّن ْۗ َو ََلَ َمة ُّمؤْ ِمنَة َخيْر ِم ْن ُّم ْش ِر َك ٍة َّولَ ْو ا َ ْع َجبَتْ ُك ْم ْۚ َو ََل ت ُ ْن ِك ُحوا‬ ِ ‫َو ََل ت َ ْن ِك ُحوا ْال ُم ْش ِر ٰك‬
ٰۤ ٰ ُ ‫ْال ُم ْش ِر ِكيْنَ َحتهى يُؤْ ِمنُ ْوا ْۗ َولَ َعبْد ُّمؤْ ِمن َخيْر ِم ْن ُّم ْش ِركٍ َّولَ ْو ا َ ْع َجبَ ُك ْم ْۗ ا‬
ِ َّ‫ع ْونَ اِلَى الن‬
ۖ ‫ار‬ ُ ‫ول ِٕىكَ يَ ْد‬
٢٢٢ ࣖ َ‫اس لَ َعلَّ ُه ْم يَتَذَ َّك ُر ْون‬ ِ َّ‫ع ْوا اِلَى ْال َجنَّ ِة َو ْال َم ْغ ُِف َرةِ ِب ِا ْذنِ ٖ ْۚه َويُبَيِ ُن ٰا ٰيتِ ٖه ِللن‬
ُ ْ‫ّٰللاُ يَد‬
‫َو ه‬
“Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman.
Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada
perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu
nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman)
sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman
lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka
mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan
dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar
mereka mengambil pelajaran” (Q.S. al-Baqarah [2]: 221).

Dalam tafsirnya, Imam al-Thabari menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah Swt
telah mengharamkan wanita Mukminah untuk menikah dengan lelaki musyrik dari
jenis mana pun, maka hendaklah laki-laki beriman (para wali wanita mukminah)
tidak menikahkan seorang wanita Mukminah dengan laki-laki kafir karena itu
adalah hal yang haram dilakukan. Sungguh, menikahkan wanita Mukminah
dengan seorang budak yang beriman dan meyakini Allah Swt dan Rasul-Nya serta
wahyu yang dibawanya lebih baik daripada menikahkannya dengan seorang laki-
laki merdeka tapi musyrik, meskipun terhormat keturunannya.8
Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya juga mengatakan maksud ayat ini adalah
janganlah kamu menikahkan seorang wanita Muslimah dengan seorang laki-laki
musyrik. Dan umat Islam telah berijmak bahwa seorang laki-laki musyrik tidak
boleh sama sekali bercampur dengan wanita Muslimah karena itu merupakan
bentuk merendahkan Islam.9
Dalam ayat lain, Allah Swt menegaskan:
... ‫ه ْم يَ ِحلُّ ْونَ لَ ُه ْۗ َّن‬ ِ ْۗ َّ‫ت فَ َال ت َْر ِجعُ ْو ُه َّن اِلَى ْال ُكُف‬
ُ ‫ار ََل ُه َّن ِح ٌّل لَّ ُه ْم َو ََل‬ ٍ ‫ع ِل ْمت ُ ُم ْو ُه َّن ُمؤْ ِم ٰن‬
َ ‫ فَا ِْن‬...
“....jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka
janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami

8
Imam al-Thabari, Tafsir al-Thabari, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Alamiyah), 1999.
9
Imam Qurthubi, Tafsir Qurthubi, (Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2006).

19
mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir
itu tidak halal bagi mereka...” (Q.S. al-Mumtahanah [60]: 10).
Menurut Ibnu Katsir, ayat inilah yang mengharamkan wanita Muslimah untuk
laki-laki kafir yang pada masa awal Islam diperbolehkan. Imam al-Qurthubi juga
mengatakan, dalam ayat ini Allah Swt mengharamkan wanita Muslimah bagi laki-
laki kafir dan juga mengharamkan laki-laki Muslim menikahi wanita musyrik.10

10
Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, (Bogor: Pustaka Imam Asy Syafi’i, 2004).

20
Daftar Pustaka
Al-Asqalani, Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz 3, Jakarta: Puataka Imam Asy-Syafi'i, 2010.
Al-Thabari, Imam, Tafsir al-Thabari, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Alamiyah, 1999.
Ash-Shan'ani, Imam, Subulus Salam, Jil. IV, Riyadh: Al-Ma’arif, tth.
Aslati, “Toleransi Antar Umat Beragama dalam Perspektif Islam (Suatu Tinjauan
Historis)”, TOLERANSI; Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, Vol 4, No 1
(2012).
Az-Zuhaili, Wahbah, Tafsir al-Munīr fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, Dar
Al-Fikr Al-Maasyir: Beirut, 1411.
Katsir, Ibnu, Tafsir Ibnu Katsir, Bogor: Pustaka Imam Asy Syafi’i, 2004.
Murni, Dewi, “Toleransi dan Kebebasan Beragama dalam Perspektif Al-Quran”,
Jurnal Syahadah, Vol. VI, No. 2, (Oktober 2018).
Qurthubi, Imam, Tafsir Qurthubi, Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2006.

21