Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI SALAH SATU ALAT PERENCANAAN

PENJUALAN DAN LABA


(Studi Pada PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Company, Tbk)

Suci Mulya Wijayanti


Darminto
Muhammad Saifi

Fakultas Ilmu Administrasi


Universitas Brawijaya Malang

Abstrak
Analisis break even point adalah suatu alat atau teknik yang digunakan oleh manajemen untuk
mengetahui tingkat penjualan tertentu perusahaan sehingga tidak mengalami laba dan tidak pula
mengalami kerugian. Analisis break even point digunakan untuk mengetahui tingkat volume penjualan
sebelum perusahaan mengalami untung dan mengalami rugi sehingga hal tersebut dapat digunakan
manajer untuk menentukan perencanaan penjualan. Perencanaan penjualan yang telah direncanakan oleh
perusahaan dapat digunakan untuk menentukkan laba yang diinginkan. PT. Ultrajaya Milk Industry &
Trading Company, Tbk mempunyai produk lebih dari satu sehingga biaya yang dikeluarkan oleh
perusahaan tidak hanya untuk memproduksi satu produk saja. Selain itu, banyaknya perusahan lain yang
memproduksi produk sejenis dengan merek yang berbeda dan tingkat konsumsi masyarakat yang masih
rendah yaitu sekitar 10-11 liter per kapita per tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan mengenai penerapan analisis break even point, mendeskripsikan gambaran perencanaan
penjualan dan mendeskripsikan penjualan minimal yang harus dipertahankan. Berdasarkan hasil penelitian
PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Company, Tbk pada tahun 2012 tingkat break even point yang
diperoleh sebesar Rp 1.566.399.244.858. Perencanaan penjualan yang direncanakan pada tahun 2013,
2014 dan 2015 sebesar Rp 3.658.375.257.915, Rp 4.318.113.498.723 , Rp 6.169.524.838.854 dengan penjualan
minum sebesar Rp 3.315.568.318.435.

Kata kunci: break even point, perencanaan penjualan dan laba

1.PENDAHULUAN
Analisis break even point adalah suatu alat perencanaan yakni dalam hal membuat
atau teknik yang digunakan oleh manajemen perencanaan penjualan dan laba.
untuk mengetahui tingkat penjualan tertentu Analisis break even point digunakan untuk
perusahaan sehingga tidak mengalami laba dan mengetahui tingkat volume penjualan sebelum
tidak pula mengalami kerugian (Sigit, 2002:1). perusahaan mengalami untung dan mengalami
Impas adalah suatu keadaan perusahaan dimana rugi sehingga hal tersebut dapat digunakan
total penghasilan sama dengan total biaya manajer untuk menentukan perencanaan
(Supriyono, 2000:332). Keadaaan impas penjualan. Perencanaan penjualan adalah ramalan
perusahaan dapat terjadi apabila hasil penjualan unit dan nilai uang penjualan suatu perusahaan
hanya cukup untuk menutupi biaya-biaya yang untuk periode di masa yang akan datang yang
telah dikeluarkan perusahaan ketika memproduksi didasarkan pada tren penjualan terakhir (Brigham
suatu produk. Biaya dalam analisis break even dan Houston, 2001:117). Penyusunan peramalan
point terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. penjualan mempunyai tujuan untuk mengetahui
Biaya tersebut dapat digunakan sebagai dasar jumlah satuan unit yang akan diproduksi oleh
untuk mengetahui titik impas perusahaan. Analisis perusahaan sesuai dengan kemampuan perusahaan
break even point juga dapat digunakan sebagai untuk menjualnya. Perencanaan penjualan yang
alat bantu bagi manajemen untuk melakukan telah direncanakan oleh perusahaan dapat
1
digunakan untuk menentukkan laba yang bertujuan untuk mengetahui kaitan antara biaya,
diinginkan oleh perusahaan. Sehingga untuk volume penjualan, volume produksi yang nantinya
memperoleh laba yang diinginkan maka untuk menentukan titik impas dimana perusahaan
perusahaan harus menentukkan perencanaan laba tidak mengalami kerugian maupun tidak
terlebih dahulu. mendapatkan keuntungan. Analisis break even
Perencanaan laba adalah perencanaan yang point sangat membantu manajemen dalam
dilakukan oleh perusahaan agar dapat mencapai berbagai hal, misalnya dalam masalah dampak
tujuan dari perusahaan yaitu memperoleh laba. pengurangan biaya tetap terhadap titik impas, atau
Perencanaan laba berisikan langkah-langkah yang dampak peningkatan harga terhadap laba. Analisis
akan ditempuh oleh perusahaan untuk mencapai ini sangat berguna bagi manajemen di dalam
besarnya target laba yang diinginkan. Laba perencanaan dan pengambilan keputusan.
merupakan tujuan utama dari perusahaan karena Analisis break even merupakan cara atau
laba memiliki selisih antara pendapatan yang teknik yang digunakan oleh manajer perusahaan
diterima (dari hasil penjualan) dengan biaya yang untuk mengetahui tingkat penjualan berapakah
dikeluarkan, maka perencanaan laba dipengaruhi perusahaan tidak mengalami laba dan tidak pula
oleh perencanaan penjualan. perencanaan laba mengalami kerugian (Sigit , 2002:1). Impas adalah
memiliki hubungan antara biaya, volume dan suatu keadaan perusahaan dimana jumlah total
harga jual. Biaya menentukan harga jual untuk penghasilan besarnya sama dengan total biaya
mencapai tingkat laba yang dikehendaki, harga atau besarnya laba konstribusi sama dengan total
jual mempengaruhi volume penjualan, sedangkan biaya tetap, dengan kata lain perusahaan tidak
volume penjualan mempengaruhi volume memperoleh laba tetapi juga tidak menderita rugi
produksi (Munawir,2007:184). (Supriyono, 2000:332). Analisis break even point
PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading merupakan salah satu analisis keuangan yang
Company, Tbk merupakan perusahaan yang sangat penting dalam perencanaan keuangan.
bergerak dalam bidang industry makanan dan Analisis break even point biasanya lebih
minuman. PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading sering digunakan apabila perusahaan
Company, Tbk mempunyai produk lebih dari satu mengeluarkan suatu produk yang artinya dalam
sehingga biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan memproduksi sebuah produk tentu berkaitan
tidak hanya untuk memproduksi satu produk saja. dengan masalah biaya yang harus dikeluarkan
Selain itu, banyaknya perusahan lain yang kemudian penentuan harga jual serta jumlah
memproduksi produk sejenis dengan merek yang barang atau jasa yang akan diproduksi atau dijual
berbeda dan tingkat konsumsi masyarakat yang ke konsumen (Khasmir, 2008: 332).
masih rendah yaitu sekitar 10-11 liter per kapita Kegunaan Analisis Break Even Point
per tahun. Data penjualan yang telah diperoleh Analisis break even point memiliki
oleh PT. Ultrajaya Milk Industri & Trading manfaat sebagai berikut:
Company, Tbk. pada tahun 2010, 2011 dan tahun 1) Untuk mengetahui hubungan volume
2012 adalah sebagai berikut 1.880.411.473.916, penjualan ( produksi), harga jual, biaya
2.102.383.741.532 dan 2.809.851.307.439. produksi dan biaya-biaya lain serta
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laba rugi perusahaan.
mendeskripsikan mengenai penerapan analisis 2) Sebagai sarana merencanakan laba.
break even point PT. Ultrajaya Milk Indutry & 3) Sebagai alat pengendalian (controlling)
Trading Company, Tbk, mendeskripsikan kegiatan operasi yang sedang berjalan.
gambaran perencanaan penjualan PT. Ultrajaya 4) Sebagai bahan pertimbangan dalam
Milk Industry & Trading Company, Tbk dan menentukan harga jual.
mendeskripsikan penjualan minimal yang harus 5) Sebagai bahan pertimbangan dalam
dipertahankan oleh PT. Ultrajaya Milk Industry & mengambil keputusan yang berkaitan dengan
Trading Company, Tbk. kebijakan perusahaan misalnya menentukan
usaha yang perlu dihentikan atau yang harus
2.KAJIAN PUSTAKA tetap dijalankan ketika perusahaan dalam
Break Even Point keadaan tidak mampu menutup biaya-biaya
Analisis break even merupakan suatu tunai (Kuswadi, 2005:127).
analisis yang digunakan oleh manajer dalam Metode Perhitungan Break Even Point
mengambil sebuah keputusan. Analisis ini 1) Pendekatan Matematis

2
Menghitung break even point yang harus 3) Jangka waktu penggunaan
diketahui adalah jumlah total biaya tetap, biaya Kelemahan lain dari analisis break even
variabel per unit atau total variabel, hasil point adalah jangka waktu penerapannya yang
penjualan total atau harga jual per unit. Rumus terbatas, biasanya hanya digunakan di dalam
yang dapat digunakan adalah sebagai berikut: pembuatan proyeksi operasi perusahaan
(a) Bselama setahun.
reak even point dalam unit (Khasmir, Asumsi Dasar Analisis Break Even Point
2012:340) Analisis impas dipengaruhi oleh berbagai
anggapan yang digunakan sebagai dasar untuk
BEP (dalam unit) = menentukan analisis break even. Adapun
anggapan dasar yang digunakan dalam analisis ini
sebagai berikut (Sigit, 2002:2-3):
(b) Break even point dalam rupiah (Khasmir,
1) Biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan
2012:341)
yang bersangkutan dapat di identifikasikan
sebagai biaya tetap dan biaya variabel.
BEP (dalam rupiah) = 2) Biaya tetap itu akan tetap kontan, tidak
mengalami perubahan meskipun volume
produksi atau volume kegiatan berubah.
2) Pendekatan Grafik
3) Biaya variabel itu akan tetap sama jika dihitung
Pendekatan grafik menggambarkan
biaya per unit produknya, berapapun kuantitas
hubungan antara volume penjualan dengan
unit yang diproduksikan.
biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan serta
4) Harga jual per unit akan tetap saja, berapapun
laba. Selain itu juga untuk mengetahui biaya
banyaknya unit produk yang dijual.
tetap dan biaya variabel dan tingkat kerugian
5) Perusahaan yang bersangkutan
perusahaan (Sartono, 2010:271). Asumsi yang
menjual/memproduksi hanya satu jenis barang.
digunakan dalam analisis pulang pokok ini
Jika ternyata memproduksi/ menjual lebih dari
adalah bahwa harga jual, biaya variabel per unit
satu jenis produk, maka produk-produk itu
adalah konstan.
harus dianggap sebagai jenis produk dengan
Kelemahan Metode Perhitungan Analisis
kombinasi (mix) yang selalu tetap.
Break Even Point
6) Ada sinkronisasi didalam perusahaan yang
keterbatasan dari analisis break even point
bersangkutan antara produksi dan penjualan.
(Syamsuddin, 2004:106-107):
Barang yang diproduksi itu terjual dalam
1) Asumsi tentang linearity
periode yang bersangkutan.
Harga jual per unit maupun variabel
Pengertian Biaya
operating cost per unit tidaklah berdiri sendiri
Biaya merupakan kas dan setara kas yang
terlepas dari volume penjualan yang artinya
dikorbankan untuk memproduksi atau
tingkat penjualan yang melewati titik tertentu
memperoleh barang atau jasa yang diharapkan
hanya akan dicapai dengan jalan menurunkan
akan memperoleh manfaat atau keuntungan
harga jual per unit. Hal ini tentu saja akan
dimasa yang akan datang (Darsono, 2005:15).
menyebabkan garis revenue tidak akan lurus
Klasifikasi Biaya
melainkan melengkung. Variabel operating
1) Biaya tetap ( fixed cost)
cost per unit juga akan bertambah besar
Didefinisikan sebagai biaya yang secara
dengan meningkatnya volume penjualan
total tidak berubah ketika aktivitas bisnis
mendekati kapasitas penuh. Hal ini bisa saja
meningkat atau menurun (Carter, 2009:68).
disebabkan karena menurunnya efisiensi
Pendapat lain mengatakan bahwa biaya tetap
tenaga kerja atau bertambah besarnya upah
merupakan biaya yang jumlahnya tetap dalam
lembur.
kisaran perubahan volume aktivitas tertentu
2) Klasifikasi biaya
(Mulyadi, 2003:437). Biaya tetap adalah biaya
Kelemahan kedua dari analisis break
yang jumlahnya tidak berubah walaupun terjadi
even point adalah kesulitan di dalam
perubahan volume produksi (Simamora,
mengklasifikasikan biaya karena adanya biaya
2003:298).
semi variabel dimana biaya ini tetap sampai
2) Biaya Variabel (Variable Cost)
dengan tingkat tertentu dan kemudian
Biaya yang totalnya meningkat secara
berubah-ubah setelah melewati titik tersebut.
proporsional terhadap peningkatan dalam
3
aktivitas dan menurun secara proporsional perubahan pada variabel x yang merupakan
terhadap penurunan dalam aktivitas Carter variabel bebas, a menunjukkan biaya tetap
(2009:68). Biaya variabel adalah biaya yang dalam y sedangkan b menunjukkan tingkat
jumlah totalnya berubah sebanding dengan variabel. Persamaan a dan b adalah sebagai
perubahan volume aktivitas (Mulyadi, berikut (Mulyadi, 2007:474) :
2003:440). Biaya variabel adalah biaya yang
berubah sebanding dengan perubahan volume b= a=
produksi atau penjualan (Simamora, 2003:
299).
3) Biaya Semi Variabel Pengertian Peramalan Penjualan
Ramalan penjualan (sales forecast) adalah
Biaya semi variabel adalah biaya yang ramalan unit dan nilai uang penjualan suatu
memperlihatkan baik karakteristik-karakteristik perusahaan untuk suatu periode di masa
dari biaya tetap maupun biaya variabel (Carter, mendatang yang umumnya didasarkan pada tren
2009:68). Biaya semi variabel adalah biaya penjualan terakhir dipadukan dengan ramalan
yang jumlah totalnya berubah tidak sebanding prospek perekonomian dari negara, wilayah,
dengan perubahan volume aktivitas. Biaya ini industri bersangkutan, dan sebagainya (Brigham
memiliki unsur biaya tetap dan biaya variabel dan Houston, 2001:117).
didalamnya (Mulyadi, 2003:441). Biaya semi Kegunaan Peramalan Penjualan
variabel adalah biaya yang mempunyai Peramalan penjualan mempunyai tiga
karakteristik biaya tetap dan biaya variabel kegunaan pokok, yaitu pedoman kerja, sebagai
(Simamora, 2003:299). biaya semivariabel alat manajemen untuk menciptakan koordinasi
mengandung unsur tetap dari biaya yang kerja dan sebagai alat manajemen untuk
dikeluarkan bahkan fasilitas saat menganggur melakukan evaluasi atau pengawasan kerja.
dan biaya variabel yang meningkat sebanding Sedangkan secara khusus peramalan penjualan
dengan volume produksi. mempunyai beberapa kegunaan antara lain
Metode Pemisahan Biaya Semi Variabel sebagai berikut (Munandar, 2010:42):
1) Metode Titik Tertinggi Terendah (High and 1) Sebagai dasar untuk menyusun budget unit
Low Point Method) yang akan diproduksikan karena jumlah satuan
Metode titik tertinggi dan terendah (unit) yang akan diproduksikan oleh
digunakan untuk menganalisis biaya campuran. perusahaan ditentukan oleh berapa banyak
Suatu biaya pada titik tertinggi dibandingkan perusahaan yang bersangkutan mampu
dengan biaya pada titik terendah di masa lalu. menjualnya.
Selisih biaya yang dihitung merupakan unsur 2) Sebagai dasar untuk menyusun budget kas
biaya variabel dalam biaya tersebut. karena penjualan tunai akan mengakibatkan
2) Metode Scattergraph pemasukan kas.
Metode Scattergraph merupakan suatu 3) Sebagai dasar untuk menyusun budget piutang
plot dari biaya terhadap tingkatan kegiatan di karena penjualan kredit akan mengakibatkan
masa lalu. Metode ini menunjukkan setiap bertambahnya piutang perusahaan.
perubahan yang berarti dalam hubungan antara
biaya dan kegiatan pada tingkat kegiatan yang Metode Peramalan Penjualan
berbeda. Metode ini menggunakan dua Perhitungan peramalan penjualan memiliki
variabel, yaitu dependen atau sumbu y dan beberapa metode yaitu metode trend bebas,
independen atau sumbu x seperti biaya tenaga metode trend setengah rata-rata, metode trend
kerja langsung, jam tenaga kerja langsung dan moment, metode trend kuadrat terkecil dan metode
jam mesin (Bustami, 2006:55). trend kuadratik.
3) Metode Kuadrat Terkecil (Least Square Pengertian Perencanaan Laba
Method) Perencanaan memegang peranan penting
Metode kuadrat terkecil menganggap dalam keberhasilan perusahaan menyangkut masa
bahwa hubungan antara biaya dengan volume depan perusahaan guna menjaga kontinuitas usaha
kegiatan berbentuk hubungan garis lurus dan pencapaian tujuan perusahaan. Perencanaan
dengan persamaan garis regresi y = a +bx, laba perlu dilakukan agar dapat menghasilkan laba
dimana y sebagai variabel tidak bebas yaitu yang optimal untuk memuaskan pihak-pihak yang
variabel yang perubahannya ditentukan oleh berkepentingan yaitu para pemegang saham,
4
manajemen, konsumen, karyawan, pemerintah Faktor – Faktor Dalam Penetapan Harga
(Kuswadi, 2005:135). Keputusan penetapan harga oleh perusahaan
Manfaat Perencanaan Laba dipengaruhi baik oleh faktor internal maupun
Perencanaan laba memiliki beberapa faktor eksternal perusahaan (Kotler dan
manfaat antara lain (Carter, 2009:7): Armstrong, 2004:433).
1) Perencanaan laba menyediakan suatu Margin of Safety ( MoS)
pendekatan yang disiplin terhadap identifikasi Tingkat break even pada perusahaan dapat
dan penyelesaian masalah. Hal ini diketahui dengan melihat batas keselamatan yang
memungkinkan adanya peluang untuk menilai dapat dicapai oleh perusahaan. Batas keselamatan
kembali setiap segi operasi dan memeriksa yaitu jarak dari penjualan nyata dengan tingkat
kembali kebijakan dan program. break even (Sigit, 2002:24). Analisis impas
2) Perencanaan laba menyediakan arahan ke memberikan informasi mengenai berapa jumlah
semua tingkatan manajemen. Hal ini volume penjualan minimum agar perusahaan tidak
membantu mengembangkan kesadaran akan menderita rugi (Mulyadi, 2001:254).
laba diseluruh lapisan organisasi dan Rumus yang digunakan sebagai berikut
mendorong kesadaran akan biaya serta (Munawir, 2007:198-197):
efisiensi biaya.
3) Perencanaan laba meningkatkan koordinasi. MOS =
Hal ini menyediakan suatu cara untuk
menyelaraskan usaha-usaha dalam mencapai Sales Minimum (Penjualan Minimal)
cita-cita. Besarnya keuntungan yang diinginkan telah
4) Perencanaan laba menyediakan suatu cara ditetapkan, maka perlu ditentukan besarnya
untuk memperoleh ide dan kerjasama dari penjualan minimal untuk memperoleh keuntungan
semua tingkatan manajemen. Partisipasi dari yang diinginkan. Rumus yang digunakan sebagai
semua tingkatan membantu mengeluarkan ide- berikut (Riyanto, 2001:373):
ide dan menyediakan suatu cara untuk
mengkomunikasikan tujuan serta memperoleh Penjualan =
dukungan atas rencana akhir.
5) Anggaran menyediakan suatu tolok ukur untuk
mengevaluasi kinerja aktual dan meningkatkan Perubahan Biaya Tetap
kemampuan dari individu. Hal ini mendorong Meningkatnya fixed operating cost
manajer untuk merencanakan dan berkinerja maka tingkat BEP akan meningkat pula,
secara efisien. demikian juga halnya jika fixed operating
Pengertian Harga cost diturunkan maka tingkat BEP pun akan
Harga adalah sejumlah uang yang bergerak turun ke titik yang lebih rendah
dibebankan atas suatu produk atau jasa atau (Syamsuddin, 2004:95).
jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas Perubahan Biaya Variabel Per Unit
manfaat-manfaat karena memiliki atau Perubahan biaya variabel per unit akan
menggunakan produk jasa tersebut (Kotler dan menyebabkan perubahan perubahan margin
Armstrong, 2001:439). kontribusi dan titik impas. Kenaikan biaya
Pengertian Penetapan Harga variabel per unit mengakibatkan penurunan
Keputusan penentuan harga jual adalah margin konstribusi dan menaikkan titik impas.
penentuan harga jual produk atau jasa suatu Sebaliknya penurunan biaya variabel per unit akan
organisasi yang umumnya dibuat untuk jangka memicu kenaikan margin konstribusi dan
pendek. Keputusan ini dipengaruhi oleh kebijakan selanjutkan menurunkan titik impas.
penentuan harga jual, pemanfaatan kapasitas, dan Meningkatnya variabel cost per unit akan
tujuan organisasi (Supriyono, 2001:314). meningkatkan tingkat BEP, sedangkan penurunan
Tujuan Penetapan Harga variabel cost per unit akan mempunyai pengaruh
Perusahaan dapat memilih satu di antara dua sebaliknya (Syamsuddin, 2004:97).
tujuan berorientasi laba dalam kebijaksanaan Perubahan Harga Jual
penetapan harga. Tujuan berorientasi laba dapat Kenaikan harga jual per unit akan
ditempuh dalam periode jangka pendek atau menurunkan tingkat BEP, sebaliknya penurunan
jangka panjang. tingkat harga jual per unit akan membawa

5
pengaruh terhadap menurunnya BEP selalu tetap dalam suatu volume kegiatan
(Syamsuddin,2004:96). tertentu selama periode waktu
Hubungan Break Even Point Dengan Tingkat tertentu, biaya variabel (variabel
Penjualan dan Laba cost), yaitu biaya yang jumlah totalnya
Biaya yang akan menentukan harga jual berubah sebanding dengan perubahan
untuk mencapai laba yang diinginkan, harga jual volume kegiatan, biaya semi variabel,
akan mempengaruhi volume penjualan, sedangkan yaitu biaya yang didalamnya memiliki
volume penjualan mempengaruhi secara langsung unsur biaya variabel dan tetap.
terhadap biaya. Ketiganya memiliki hubungan 2) Volume penjualan
yang sinergis dan kontinuitas. Dalam penyusunan Volume penjualan merupakan jumlah unit
anggaran, manajemen memerlukan berbagai penjualan yang dicapai perusahaan selama
parameter (angka yang menggambarkan suatu satu periode akuntansi.
keadaan) seperti break even point, margin of 3) Besarnya tingkat laba yang diharapkan
safety dan laba. Break even point memberikan Besarnya keuntungan yang dikehendaki
informasi tentang tingkat penjualan suatu usaha oleh perusahaan dari penjualan produksi.
yang labanya sama dengan nol. Parameter ini 4) Sales Minimum (penjualan minimum)
memberikan informasi kepada manajemen dari Besarnya keuntungan yang telah
jumlah target pendpatan penjualan yang ditetapkan, maka perlu ditentukan berapa
dianggarkan, berupa pendapatan minimum yang besarnya penjualan minimal yang harus
harus dicapai agar usaha perusahaan tidak dicapai.
mengalami kerugian dan berapa pendapatan Lokasi tempat penelitian merupakan tempat
penjualan maksimum yang harus dicapai agar dimana sumber data diperoleh. Lokasi yang
perusahaan mendapatkan keuntungan. Break even dipilih untuk melakukan penelitian dalam skripsi
point dalam hubungannya dengan kedua hal ini adalah Pojok Bursa Efek Indonesia ( IDX
tersebut adalah dengan adanya keuntungan atau Corner) Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas
laba yang diharapkan dapat digunakan sebagai alat Brawijaya Malang yang beralamatkan di Jalan
bantu dalam perencanaan kegiatan dan Mayjen Haryono 165 Malang. Sumber data yang
penyusunan anggaran perusahaan yang akan digunakan adalah sumber data sekunder
datang, sehingga akan dapat digunakan untuk
menentukan target penjualan maksimum. 4.HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemisahaan Biaya Semi Variabel kedalam
3.METODE Biaya Tetap dan Biaya Variabel
Jenis penelitian ini adalah penelitian Untuk menentukkan tingkat break even
deskriptif (deskriptif research) dengan point maka terlebih dahulu memisahkan biaya
menggunakan pedekatan kuantitatif yang semivariabel kedalam biaya tetap dan biaya
menggambarkan dan meringkaskan berbagai variabel dengan menggunakan metode least
kondisi, situasi atau variabel. Penelitian deskriptif square. Hasil pemisahan biaya semivariabel ke
berkaitan dengan pengumpulan data untuk dalam biaya tetap dan biaya variabel adalah
memberikan gambaran mengenai situasi atau sebagai berikut:
kejadian (Nazir, 2009: 54). Table 4.11 Rekapitulasi Seluruh Biaya ke dalam
Penelitian ini menggunakan penelitian Biaya Tetap dan Biaya Variabel PT.
deskriptif dengan menggunakan pendekatan Ultrajaya Milk Industry & Trading
kuantitatif karena penelitian ini menggambarkan Company, Tbk. Tahun 2013
keadaan perusahaan pada saat mencapai break Biaya Tetap Biaya Variabel
even point dan dalam melakukan peramalan Rp 507.513.355.334 Rp1.898.214.816.608
(forcasting) menitikberatkan pada perhitungan- Sumber: PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading
perhitungan angka dengan menggunakan metode Company, Tbk ( data diolah)
statistika.
Variable yang digunakan untuk penelitian ini Contribution Margin (CM)
adalah: Perhitungan margin kontribusi
1) Break Even Point dimaksudkan untuk mengetahui jumlah
a. Biaya – biaya yang terdapat dalam pendapatan yang tersisa setelah dikurangi dengan
perusahaan meliputi biaya tetap (fixed biaya variabel. Perhitungan tampak sebagai
cost), yaitu jumlah biaya yang jumlah berikut:
6
Contribution Margin = Pendapatan – Biaya dapat dihitung dengan menggunakan data-data
Variabel Total yang ada ada periode 2012.
= 2.809.851.307.439 - 1.898.214.816.608 Tabel 4.12.Perencanaan Penjualan PT. Ultrajaya
= 911.636.490.831 Milk Industri & Trading Company,
Tbk periode 2013
Contribution Margin Ratio = Tahun
Volume penjualan
x X2 XY
(y)
= 2010 1.880.411.473.916 - 1 (1.880.411.473.916)
1
= 0,32atau 32% 2011 2.102.383.741.532 0 0 0
Berdasarkan perhitungan CM rasio maka 2012 2.809.851.307.439 1 1 2.809.851.307.439
produk yang diproduksi oleh perusahaan mampu Total 6.792.676.522.887 0 2 929.439.833.523
memberikan kontribusi margin terhadap laba Sumber : PT. Ultrajaya Milk Industri & Trading
sebesar 32% terhadap perusahaan. Company, Tbk (data diolah)
a=
Analisis Break Even Point dengan
Menggunakan Rumus Matematik =
Langkah berikutnya setelah menghitung
contribution margin ratio adalah menghitung = 2.264.215.507.629
break even point. Perhitungan ini dilakukan untuk b=
mendapatkan batas standar minimal suatu
penjualan dan produksi yang diperkenankan pada =
perusahaan.
= 464.719.916.762
Break even point (Rp) = Perencanaan penjualan pada tahun 2014 dapat
dihitung dengan menggunakan data-data yang ada
= ada periode 2013 Disajikan pada tabel 4.13 Yaitu:
Tabel 4.13. Perencanaan Penjualan PT.
= Rp 1.566.399.244.858 Ultrajaya Milk Industri &
Trading Company, Tbk periode
Break even point (BEP) menunjukkan 2014
penjualan perusahaan tidak mendapatkan laba Tahun Volume penjualan (y) x X2 XY
maupun tidak mendapatkan rugi. Berdasarkan 2010 1.880.411.473.916 -2 4 (3.760.822.947.932)
perhitungan tersebut diketahui break even point 2011 2.102.383.741.532 -1 1 (2.102.383.741.532)
2012 2.809.851.307.439 1 1 2.809.851.307.439
dalam rupiah sebesar Rp 1.566.399.244.858. 2013 3.658.375.257.915 2 4 7.316.750.515.830
Apabila penjualan perusahaan kurang dari BEP Total 10.451.021.780.802 0 10 4.263.395.133.805
maka perusahaan akan mengalami kerugian dan Sumber: PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading
sebaliknya jika penjualan melebihi BEP maka Company,Tbk (data diolah)
perusahaan akan mendapatkan laba.
a=
Menentukan Perencanaan Penjualan
Menggunakan Least Square Method tahun =
2013, 2014 dan 2015
Perencanaan penjualan memiliki kegunaan
yaitu sebagai dasar untuk menyusun anggaran unit
= 2.612.755.445.201
yang akan diproduksi karena jumlah (unit) yang b=
akan diproduksi oleh perusahaan ditentukan oleh
berapa banyak perusahaan yang bersangkutan =
mampu menjual produk tersebut. Perhitungan
perencanaan penjualan menggunakan least square = 426.339.513.381
method lebih mudah dalam perhitungannya karena Kemudian dihitung dalam persamaan y= a+bx
dianggap lebih sederhana dari metode lainnya. maka diperoleh hasil:
Syarat dalam menggunakan metode ini adalah y=2.612.755.445.201+ 426.339.513.381 (4)
x=0. Perencanaan penjualan pada tahun 2013 = 4.318.113.498.723

7
Perencanaan penjualan pada tahun 2015 dapat Berdasarkaan perhitungan diatas dapat
dihitung dengan menggunakan data-data yang ada disimpulkan perusahaan bahwa perusahaan
ada periode 2014. yaitu: beroperasi dengan tingkat keamanan yang tinggi
Tabel 4.14. Perencanaan Penjualan PT. yaitu sebesar 44% menunjukkan bahwa jumlah
Ultrajaya Milk Industri & penjualan yang nyata berkurang atau menyimpang
Trading Company Tbk periode lebih besar dari 44% ( dari penjualan yang
2015 direncanakan) perusahaan akan menderita rugi.
Volume penjualan
Tahun x X2 XY
(y)
2010 1.880.411.473.916 -2 4 (3.760.822.947.932)
Menentukan Penjualan Minimal
2011 2.102.383.741.532 -1 1 (2.102.383.741.532) Besarnya keuntungan yang diinginkan telah
2012 2.809.851.307.439 0 0 0 ditetapkan, maka perlu ditentukan besarnya
2013 3.658.375.257.915 1 1 3.658.375.257.915 penjualan minimal untuk memperoleh keuntungan
2014 4.318.113.498.723 2 4 8.636.226.997.446
Total 14.769.135.279.525 0 10 6.431.395.565.897 yang diinginkan. laba yang diinginkan yaitu
Sumber : PT. Ultrajaya Milk Industri & Trading sebesar 32%. Berikut perhitungan yang dilakukan:
Company Tbk (data diolah) Laba operasi tahun 2012 = 429.341.499.878
Kenaikan laba yang diinginkan =
a= (1+0,32) x 429.341.499.878
= 1,32 x 429.341.499.878
= = 566.730.779.839
= 2.953.827.055.905 Setelah mengetahui laba yang diinginkan
kemudian dapat digunkan untuk menentukan
b= penjualan minimum yang harus dilakukan oleh
perusahaan.
=
Penjualan =
= 64.319.556.590
Kemudian dihitung dalam persamaan y= a+bx Penjualan = 3.315.568.318.435
maka diperoleh hasil: Berdasarkan perhitungan diatas dapat
y= 2.953.827.055.905+ 64.319.556.590 (5) diketahui bahwa apabila ingin memperoleh laba
= 6.169.524.838.854 sebesar Rp 566.730.779.839 maka perusahaan
harus mampu menjual produknya sebesar
Menentukan Margin of Safety (MoS) 3.315.568.318.435 pada tahun 2013.
Manajemen perlu melakukan perhitungan
margin pengaman dalam melakukan perencanaan 5.KESIMPULAN DAN SARAN
laba karena berguna dalam mengevaluasi Kesimpulan
keteapatan penjualan. Batas keselamatan yaitu PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading
jarak dari penjualan nyata dengan tingkat break Company, Tbk tidak mengalami rugi dan tidak
even. Hal ini memberikan informasi mengenai pula mendapatkan laba atau berada pada posisi
berapa jumlah volume penjualan minimum agar impas sebesar Rp 1.566.399.244.858.
perusahaan tidak menderita rugi. Jika angka impas PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading
dihubungkan dengan angka pendapatan penjualan Company, Tbk dapat melakukan perencanaan
yang dianggarkan atau pendapatan penjualan penjualan pada tahun 2013 sebesar Rp
tertentu akan diperoleh informasi berapa volume 3.658.375.257.915, pada tahun 2014 sebesar Rp
penjualan yang dianggarkan atau pendapatan 4.318.113.498.723 dan pada tahun 2015 sebesar Rp
penjualan tertentu boleh turun agar perusahaan 6.169.524.838.854. dengan margin of safety atau
tidak menderita rugi. Selisih antara volume batas keamanan sebesar 44%.
penjualan yang dianggarkan dengan volume Penjualan minimal yang harus dilakukan
penjualan impas merupakan angka margin of oleh PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading
safety. Company, Tbk agar perusahaan tidak menderita
MoS tahun 2012 = rugi dan memperoleh target laba sebesar 32%
adalah dengan melakukan penjualan sebesar
3.315.568.318.435
= 44%

8
Saran Pengawasan Kerja. Edisi 2. Yogyakarta:
Kelemahan dari BEP adalah harga jual per BPFE
unit maupun variabel operating cost per unit Munawir,S. 2007. Analisa Laporan
tidaklah berdiri sendiri terlepas dari volume Keuangan.Edisi
penjualan, Kelemahan kedua dari analisis break Keempat.Yogyakarta:Liberty
even point adalah kesulitan di dalam Nazir, Moh. 2003. Metodologi
mengklasifikasikan biaya karena adanya biaya Penelitian.Jakarta:Ghalia Indonesia.
semi variabel. Pemisahan biaya semi variabel Prawironegoro, Darsono. 2005. Akuntansi
memerlukan adanya ketelitian dan pemahaman Manajemen. Jakarta: Diadit Media
tentang biaya-biaya yang ada dan sifat dari biaya Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-dasar
tersebut apakah termasuk dalam biaya tetap atau Pembelanjaan Perusahaan.Yogyakarta:BPFE
variabel. Sartono, Agus. 2010. Manajemen Keuangan (
Agar penjualan yang dilakukan oleh PT. Teori dan Aplikasi). Yogyakarta: BPFE
Ultrajaya Milk Industry & Trading Company, Tbk Sigit, Soehardi. 2002. .Analisa Break Even
dapat sesuai dengan perencanaan yang telah Ancangan Linear Secara Ringkas dan
dilakukan maka perusahaan harus memperhatikan Pasti. Edisi 3. Yogyakarta: BPFE
batas keselamatan dan penjualan minimal yang Simamora, Henry. 2003. Akuntansi Basis
harus dipertahankan oleh perusahaan. Pengambilan Keputusan Bisnis. Edisi II.
Yogyakarta:UPP AMP YKPN
DAFTAR PUSTAKA Subana dan Sudrajat. 2005. Dasar-Dasar
Bustami, Bastian Nurlela. 2006. Akuntansi Biaya Penelitian Ilmiah. Cetakan II. Bandung:
Tingkat Lanjut (Kajian Teori dan CV. Pustaka Setia.
Aplikasi). Yogyakarta: Graha Ilmu Supriyono, R.A. 2000. Akuntansi Biaya
Brigham, Eugene F, dan Joel F. Houston. 2001. Perencanaan Pengendalian Biaya Serta
Manajemen Keuangan. Edisi 8. Jakarta: Pembuatan Keputusan. Edisi 2.
Erlangga Yogyakarta: BPFE
Carter, William K. 2009. Akuntansi Biaya. Edisi
14. Dialihbahasakan oleh Krista. Jakarta: Supriyono, R.A. 2001. Akuntansi Manajemen 3
Salemba Empat Proses Pengendalian Manajemen. Edisi
1. Yogyakarta: BPFE
2011. Akuntansi Biaya. Syamsuddin, Lukman. 2004. Manajemen
Edisi 14. Dialihbahasakan oleh Krista. Keuangan Perusahaan ( Konsep Aplikasi
Jakarta: Salemba Empat dalam Perencanaan, Pengawasan dan
Pengambilan Keputusan).Jakarta:
Kasmir. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Rajawali Pers
Jakarta: Rajawali Pers Syamsuddin, Lukman. 2011. Manajemen
Kuswandi. 2005. Meningkatkan Laba Melalui Keuangan Perusahaan ( Konsep Aplikasi
Pendekatan Akuntansi Keuangan dan dalam Perencanaan, Pengawasan, dan
Akuntansi Biaya. Jakarta: PT Elex Media Pengambilan Keputusan). Jakarta:
Komputindo Rajawali Pers
Mulyadi. 2001. Akuntansi Manajemen Konsep,
Manfaat dan Rekayasa. Jakarta: Salemba Artikel Lain
Empat
Mulyadi. 2003. Activity Based Cost System. Edisi Nikitasari, Amelia. 2012. Analisis Break Even
6, cetakan 1. Yogyakarta: UPP-AMP Point Sebagai Salah Satu Alat Proyeksi
YKPN Tingkat Penjualan dan Laba ( Studi Pada
Mulyadi. 2005.Akuntansi Biaya. Edisi 5. PR Djagung). Skripsi
Yogyakarta: UPP-AMP YKPN Putri, Rizky Amelia. 2012. Analisis Break Even
Point Sebagai Alat Perencanaan
Mulyadi. 2007.Akuntansi Biaya.Edisi 5. Penjualan pada Tingkat Laba yang
Yogyakarta: UPP-AMP YKPN
Diharapkan ( Studi Pada Kripik Buah J2).
Munandar, M. 2010. Bugeting Perencanaan
Kerja, Pengkoordinasian Kerja Skripsi

9
Internet

Laporan Tahunan.2013.” Annual Report 2012”,


diakses pada Tanggal 19 Juni 2013 dari
www.ultrajaya.co.id

10