Anda di halaman 1dari 4

PENDALAMAN MATERI

(Lembar Kerja Resume Modul)

A. Nama : IRMA YULI ASTUTI


B. Judul Modul : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KONTEMPORER

C. Kegiatan Belajar : KB 3 GENDER DAN PERMASALAHANNYA, CADAR SERTA LGBT

D. Peta Konsep

E. Refleksi

N Butir Refleksi Respon/Jawaban


o
1. Peta Konsep GENDER DAN PERMASALAHANNYA, CADAR SERTA LGBT
(Beberapa istilah 1. Gender
dan definisi) di gender adalah membedakan dua hal yang berbeda, yaitu gender dan
modul bidang studi jenis kelamin. Sedangkan Jenis kelamin adalah suatu hal yang
menunjukkan pada pembagian sifat dua jenis kelamin manusia secara
biologis. Gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki dan
perempuan yang dibangun dari interaksi sosial dan budaya. Sebagai
contoh bahwa perempuan lebih dipahami sebagai seseorang yang
feminim, lemah lembut, serta memiliki sifatsifat keibuan, dan
sebaliknya.
Praktik ketimpangan gender terjadi dalam berbagai bentuk, yaitu:
a. Marginalisasi atau proses peminggiran/pemiskinan, yang
mengakibatkan kemiskinan secara ekonomi.
b. Subordinasi, yaitu pemahaman yang meyakini salah satu jenis
kelamin dianggap lebih unggul dan urgen dibanding jenis kelamin
lain. Pemahaman in juga memposisikan perempuan lebih rendah
daripada laki-laki.
c. Stereotipe, yaitu labeling (pelabelan) terhadap seseorang atau
kelompok yang tidak sesuai dengan realita yang terjadi. Kegiatan ini
secara umum akan selalu melahirkan ketidakadilan. Hal ini
berimplikasi kepada terjadinya penindasan dan ketidakadilan bagi
kaum perempuan.
d. Violence yaitu suatu bentuk serangan terhadap fisik maupun
psikologis seseorang. Kekerasan terhadap seseorang tidak hanya
tertuju pada fisik saja seperti tindakan asusila dan lain sebagainya,
namun juga mengarah pada psikis seseorang.
e. Beban ganda yaitu tanggung jawab yang dipikul satu jenis kelamin
tertentu secara berlebihan. Hal ini merujuk pada penelitian yang
menunjukkan bahwa mayoritas pekerjaan rumah tangga dikerjakan
oleh perempuan.
Hal-hal tersebut di atas bermuara pada terjadinya diskriminasi antara
laki-laki dan perempuan di lingkungan keluarga dan maupun sosial
masyarakat. Membahas tentang gender berarti memberikan ruang dan
kesempatan yang sama antara laki-laki untuk berkontribusi dalam
pembangunan, ekonomi, politik dan budaya. Dengan demikian
kesetaraan gender bermakna memberikan akses yang sama kepada laki-
laki dan perempuan untuk menikmati pembangunan.
2. Gender dalam Pandangan Islam
timbulnya anggapan dan tuduhan dari pihak yang tidak menyukai Islam
atau yang dangkal pemahamannya terhadap Islam bahwa bahwa dalam
ajaran Islam penuh diwarnai dengan ketidakadilan, terutama yang
berkaitan dengan masalah gender, seperti masalah poligami, pembagian
harta warisan, dan lain-lain. laki-laki maupun perempuan berasal dari
jenis yang sama (jenis manusia), memiliki peluang dan kesempatan yang
sama untuk memperoleh kebahagiaan dan kemuliaan. Allah menjadikan
mereka (manusia) beraneka ragam suku dan bangsa agar saling
mengenal satu sama lain untuk berkasih sayang dan saling memuliakan,
bukan untuk saling menghinakan dan saling merendahkan. Tanpa
membedakan jenis kelamin, suku, bangsa, warna kulit dan sebagainya
Allah menjanjikan kehidupan yang baik (kebahagiaan/kemuliaan) bagi
siapa saja yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Jenis kelamin laki-
laki atau perempuan tidaklah menjadi ukuran kemuliaan, akan tetapi
iman dan takwa itulah yang menjadi ukuran kemuliaan yang
sebenarnya.
Yang paling penting dalam hal ini adalah jika ada pernyataan bahwa
dalam kitab suci al-Qur’an terdapat unsur ketidakadilan, maka yang
harus dilakukan adalah membaca ulang dan mencoba memahami al-
Qur’an secara komprehensif. Apabila setelah menelaah ulang masih
juga merasa ada ketidakadilan, yang perlu diperhatikan adalah mungkin
saja ada kesalahan persepsi manusia dalam mendifinisikan sebuah
konsep keadilan.
3. Cadar Bagi Wanita
Aurat wanita adalah seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan.
Wajib bagi wanita menutup seluruh badannya dalam shalat kecuali
wajah dan kedua telapak tangannya, Dalam buku “al-Niqab adah wa
laisa ibadah” yang ditulis Hamdi Zaqzuq, Menteri Perwaqafan tahun
2008, menyatakan para ulama Mesir senior berpendapat bahwa cadar
adalah sebagai tradisi kaum wanita bukan ibadah. Lebih rinci pada buku
itu dengan mengutip pandangan Syeikh Muhammad al-Ghazali, dalam
bukunya Al-Sunnah al-Nabawiyah baina Ahli al-Fiqh wa al-Rakyi, bahwa
Islam telah mewajibkan bagi wanita untuk membuka wajah dalam
ibadah haji, ibadah shalat dan tidak dalil dalam al-Qur’an hadis dan akal
yang menyuruh menutup wajah. Ibadah perlu dalil yang tegas, memang
diketahui bahwa sebagian kaum wanita pada masa jahiliyah dan awal
Islam mengenakan cadar penutup wajah, tetapi perbuatan ini hanya
tradisi bukan ibadah.
4. LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender)
Ada 4 istilah yang terangkum dalam singkatan LGBT ini yaitu: 1) Lesbian
artinya wanita yang mencintai atau merasakan rangsangan seksual
dengan sesama wanita; 2) Gay adalah istilah yang digunakan bagi lelaki
penyuka sesama lelaki; 3) Biseksual adalah orang yang memiliki
ketertarikan kepada lelaki sekaligus kepada perempuan; dan 4)
Transgender adalah orang yang memiliki identitas gender atau ekspresi
gender yang berbeda dengan seksnya yang ditunjuk saat lahir
(waria/wadam). Secara umum, empat istilah di atas disebut
homoseksual, yaitu keadaan tertarik kepada orang lain dari jenis
kelamin yang sama.
Wahbah Az-Zuhaili mengidentifikasikan tiga istilah yang relevan dengan
LGBT yaitu zina, liwath dan sihaq. Pertama, Zina yaitu hubungan kelamin
antara laki-laki dengan perempuan yang bukan pasangan suami istri
yang sah. Kedua, liwath (Gay) yaitu hubungan homoseksual antara lelaki
dengan lelaki. Ketiga, sihaq (lesbi) yaitu hubungan homoseksual antara
wanita dan wanita.
LGBT menimbulkan berbagai dampak negatif di masyarakat dengan
terputusnya generasi (keturunan) dan berbagai tindakan kejahatan lain.
Abdul Hamid Al-Qudah, spesialis penyakit kelamin menular dan AIDS di
Asosiasi Kedokteran Islam Dunia menjelaskan dampakdampak yang
ditimbulkan LGBT sebagai berikut:
1) Dampak kesehatan
2) Dampak social
3) Dampak pendidikan
4) Dampak keamanan
hukuman bagi pelaku homoseksual:
(1) Dihukum dengan hadd zina yaitu dirajam bagi yang muhshan dan
dijilid bagi yang ghairu muhshan.
(2) Dibunuh baik pelaku maupun obyeknya baik muhshan maupun
ghairu muhshan.
(3) Dibakar dengan api, baik pelaku maupun obyeknya. Ini adalah
pendapat para sahabat Rasulullah Saw.
(4) Dilempar dari tempat yang tinggi dengan kepala di bawah kemudian
dilempari batu.
Adapun menurut Imam Abu Hanifah, pelaku homoseksual hanya
dihukum ta’zir karena tindakan homoseksual tidak sampai
menyebabkan percampuran nasab. Sedang ta’zirnya adalah dimasukkan
ke penjara sampai bertaubat atau sampai mati.
Untuk mencegah kejahatan LGBT yang sangat membahayakan ini, Islam
memberikan beberapa ketentuan, antara lain:
1) Merendahkan pandangan/menundukan pandangan.
2) Berpakaian yang menutup aurat.
3) Memperbanyak puasa sunnah.
4) Memisahkan tempat tidur anak ketika sudah berumur 10 tahun.
5) Menghindari perilaku wanita menyerupai pria dan sebaliknya.
6) Memilih teman pergaulan dan menghindari pergaulan bebas.
7) Mewujudkan keluarga harmonis yang penuh ketenangan dan
diliputi kasih sayang.
8) Rajin dalam beribadah terutama shalat dan membaca Al-Quran.
Daftar materi
bidang studi yang
2. 1. Perilaku penyetaraan gender di masyarakat?
sulit dipahami pada
modul
Daftar materi yang
sering mengalami
3. 1. Kedudukan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender)?
miskonsepsi dalam
pembelajaran

Anda mungkin juga menyukai