Anda di halaman 1dari 25

KEGIATAN BELAJAR 1 :

AL-ASMĀ AL-HUSNĀ: Allah, al-


Rahmān, Al-Rahīm, dan al-Malik

CAPAIAN PEMBELAJARAN, SUB CAPAIAN


PEMBELAJARAN DAN POKOK MATERI
Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan
1. Menganalisis makna dan kandungan al-Asmā al-Husnā yaitu: al-Rahmān dan al-Mālik
dalam lingkup akidah Islam.
2. Menganalisis makna akidah Islam terkait dengan: 1) mukjizat; 2) karomah; 3) dan sihir
dengan berbagai aspek dan ruang lingkupnya dalam akidah Islam.
Subcapaian Pembelajaran Mata Kegiatan
1. Memahami konsepsi Al-Asmā al-Husnā: Allah, al-Rahmān dan al-Mālik
2. Memahami konsepsi tentang mukjizat, karomah dan sihir.
Pokok-Pokok Materi
1. Al-Asmā al-Husnā: Konsepsi tentang Allah, al-Rahmān dan al-Mālik
2. Konsepsi tentang mukjizat, karomah dan sihir.

URAIAN MATERI

A. Al-Asmā al-Husnā: Allah, al-Rahmān dan al-Mālik


1. Pengertian Al-Asmā Al-Husnā
Nama-nama Allah yang Indah atau Al-Asmā al-Husnā (‫سنَى‬ ْ ‫ )األ َ ْس َما ُء ْال ُح‬secara bahasa
terdiri dari dua suku kata, yaitu al-asmā dan al-husnā. Kata asmā merupakan bentuk jamak
dari mufrad (tunggal) ism yang berarti nama diri atau lafẓun yu’ayyinu syakhṣan au ḥayawānan
au syaian (nama diri seseorang, binatang, atau sesuatu), sedangkan al-husnā berarti yang paling
bagus, baik, cantik, jadi secara bahasa al-Asmā' al- Ḥusnā berarti nama-nama yang terbaik.
Namun secara langsung, Atabik Ali dan Zuhdi Muhdlor dalam Kamus Kontemporer Arab
Indonesia mengartikan al-Asmā' al-Ḥusnā dengan nama-nama Allah yang berjumlah 99
(sembilanpuluh Sembilan). Istilah ini diambil dari beberapa ayat al-Qur’an yang menegaskan
bahwa Allah mempunyai berbagai nama yang terbaik, melalui nama itu, umat Islam bisa
mengetahui keagungan Allah dan menyeru dengan nama-nama tersebut ketika berdo’a atau
mengharap kepada-Nya. Selain itu, kata al-ḥusnā menunjukkan bahwa nama-nama yang
disandang Allah menunjukkan sifat-sifat yang amat sempurna dan tidak sedikitpun tercemar
dengan kekurangan. Sebagai contoh, bagi manusia kekuatan diperoleh melalui sesuatu yang
bersifat materi seperti otot-otot yang berfungsi dengan baik, dengan kata lain manusia

1
membutuhkan hal tersebut untuk memiliki kekuatan, dengan meneladani Allah Yang Maha
Kuat (al-Qawiyyu).
Berkenaan dengan jumlah bilangan al-Asmā' al-Ḥusnā, para ulama yang merujuk
kepada al-Qur’an mempunyai hitungan yang berbeda-beda. Sebagaimana dijelaskan oleh Pakar
Tafsir dari Indonesia, Muhammad Quraish Shihab, bahwa al-Thabathabai dalam tafsirnya Al-
Mīzān menyatakan bahwa jumlah al-Asmā' al-Ḥusnā itu ada sebanyak 127 (seratus dua puluh
tujuh) nama. Ibnu Barjam al-Andalusi lebih sedikit banyak dari al-Thabathabai menyebutkan
dalam karyanya Syarh al-Asmā' Al-Husnā dengan menghimpun 132 nama populer yang
termasuk dalam al-Asmā' al-Husnā. Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengemukakan bahwa ia
menghimpun dalam bukunya Al-Kitab al-Asna fī Syarh al-Asmā' al-Husnā, hingga mencapai
lebih dari dua ratus nama, baik yang sudah disepakati, maupun yang masih diperselisihkan dan
yang bersumber dari ulama-ulama sebelumnya. Adapun Riwayat yang populer menyebutkan
bahwa bilangan al-Asmā' al-Ḥusnā adalah sembilan puluh sembilan. Pada subbab di bawah ini,
akan dipaparkan empat al-Asmā' al-Ḥusnā saja dari sembilanpuluh Sembilan, yaitu Allah, al-
Rahman, al-Rahim, dan al-Malik.
2. Konsep Al-Asmā' Al-Husnā Tentang Allah
Sebagian ulama Islam berpendapat bahwa kata Allah (‫ )هللا‬berasal dari kata al-Ilāh. Kata
al-Ilāh (‫ )إله‬berarti menyembah (‫)عبد‬. Kata al-Ilāh juga dapat diderivasi dari kata alih (‫ )أله‬yang
berarti ketenangan (‫)سكن‬, kekhawatiran (‫ )فزع‬dan rasa cinta yang mendalam (‫)ولع‬. Ketiga makna
kata alih (‫ )أله‬mengarah kepada makna keharusan untuk tunduk dan mengagungkan.
Selain itu, kata Allah bisa dilacak dari kata ilāhun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam,
ha, sebagai pecahan dari kata laha –yalihu– laihan, yang berarti Tuhan yang Maha Pelindung,
Maha Perkasa. Ilāhun, jamaknya ālihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya
sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilāhun artinya sama dengan
ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau hamba atau budak.
Dalam kamus besar bahasa Arab Lisān Al-‘Arab karya Ibn Manzhur, kata kata ilāhun masih
umum, ketika ditambah dengan lam ma‘rifah, maka menjadi Al-ilāhun yang tiada lain adalah
Allah Swt, yaitu zat yang disembah oleh semua selain-Nya, jamaknya ālihatun. Dengan
demikian ilāhun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi. Quraish Shihab mengatakan
kata Ilāh (‫ )إله‬disebut ulang sebanyak 111 kali dalam bentuk mufrad, ilāhaini dalam bentuk
tatsniyah 2 kali dan ālihah dalam bentuk jamak disebut ulang sebanyak 34 kali. Kata ilāh
(tanpa dhamir) dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 80 kali.
Dalam al-Quran kata ilāhun juga dipakai untuk menyebut berhala, hawa nafsu, ataupun
dewa-dewa. Semua istilah tersebut dalam al-Quran menggunakan kata ilāhun, jamaknya
ālihatun. Allah Swt. menyatakan hawa nafsu yang diikuti orang kafir sebagai ilāhun (QS. Al-
Furqan, 25: 43). Allah Swt. menyatakan sesembahan orang musyrik sebagai ilāhun (QS. Hud,
11: 101). Kata ilāhun dan rabbun sesungguhnya warisan bahasa Arab Kuna yang
dipertahankan penggunaannya dalam al-Quran, sebagaimana contoh di atas. Orang-orang Arab
sebelum Islam, memahami makna kata ilāhun sebagai dewa atau berhala, dan mereka gunakan
dalam percakapan sehari-hari. Apabila orang Arab Jahiliyah menyebut dewa cinta, maka
mereka mengatakan ilāhun al-ḥubbi, dan ilāhatun al-ḥubbi untuk menyebut dewi cinta. Kaum

2
penyembah berhala (animisme), atau aliran kepercayaan di zaman kita sekarang, sebagaimana
orang-orang Arab jahiliyah, menganggap tuhan mereka berjenis kelamin, laki dan perempuan.
Kata pertama yang dicatat sejarah dalam pengekspresian ketuhanan adalah kata ilāhah
(‫)إالهة‬. Kata ini merupakan nama bagi dewa matahari yang disembah oleh masyarakat Arab.
Kata ilāhah (‫ )إالهة‬selanjutnya digunakan untuk mengekspresikan sifat-sifat matahari. Salah
satunya adalah kata ulāhah (‫ )األلهة‬yang berarti terik matahari yang panas. Kata ilāhah (‫)إالهة‬
juga tidak lepas dari makna keagungan, ketundukan dan bahkan penyembahan. Sebagaimana
dicatat oleh Ibnu Manzhur bahwa masyarakat menamakan matahari dengan ilāhah (‫)إالهة‬
karena mereka menyembah dan mengagungkan matahari. Dapat disimpulkan bahwa kata ilāh
(‫ )إله‬pada awalnya berasal dari kata wilāh (‫)واله‬, yang berarti ketundukan, pengagungan, dan
ungkapan penghambaan. Selanjutnya dari kata wilāh (‫ )واله‬diderivasikanlah kata ilāhah (‫)إالهة‬
yang menjadi nama bagi dewa matahari. Nama dari dewa matahari tersebut selanjutnya
berevolusi menjadi kata Allah. Menurut Ahmad Husnan, kata Ilāh yang berbentuk kata Allah
mempunyai arti mengherankan atau menakjubkan, karena segala perbuatan/ciptaan-Nya
menakjubkan atau karena bila dibahas hakikat-Nya, akan mengherankan akibat ketidaktahuan
makhluk tentang hakikat zat yang Maha Agung itu. Apapun yang terlintas di dalam benak
menyangkut hakikat zat Allah, maka Allah tidak demikian. Itu sebabnya ditemukan riwayat
yang menyatakan, “Berpikirlah tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan berpikir
tentang zat-Nya”.
Dalam pandangan Quraish Shihab kata Allah ‫هللا‬, terulang dalam al-Quran sebanyak 2.698
kali. Ada yang berpendapat bahwa kata "Allah" disebutkan lebih dari 2679 kali dalam al-
Quran. Sedangkan kata "Tuhan" dalam bahasa Arab adalah Ilāh (‫ )إله‬disebut ulang sebanyak
111 kali dalam bentuk mufrad, ilāhaini dalam bentuk tatsniyah 2 kali dan ālihah dalam bentuk
jama' disebut ulang sebanyak 34 kali. Hal ini juga menjadi refleksi dari tauhid Uluhiyah dimana
kita mengesakan Allah dengan ibadah, dimana tidak menjadi hamba bagi selain-Nya, tidak
menyembah malaikat, nabi, wali, bapak-ibu, kita tidak menyembah kecuali Allah semata.
Ibadah kepada Allah berpijak kepada dua hal, yaitu cinta dan pengagungan. Dengan kecintaan
akan memunculkan keinginan untuk melaksanakan dan pengagungan akan timbul rasa takut
dan khawatir akan dicampakkan, dihinakan dan disiksa-Nya. Kata “Allah” merupakan nama
Tuhan yang paling agung yang menunjukkan kepada kemuliaan dan keagungan Tuhan. Kata
Allah merupakan ekspresi ketuhanan yang paling tinggi dalam Islam, selain bermakna
kemuliaan dan keagungan, kata tersebut juga mensyaratkan bahwa kata Allah mewajibkan
seluruh bentuk kemuliaan dan menegasikan segala bentuk kekurangan, kata Allah juga
merupakan nama bagi zat yang wajib wujud yang berhak untuk mendapatkan segala bentuk
pujian. Sedangkan kata ahad merupakan sifat bagi ketunggulan yang senantiasa abadi dalam
keesaannya.
Ibnu al-‘Arabi (560-638 H) menyebut dan membedakan Tuhan yang dipercayai manusia
saat ini meliputi “Tuhan kepercayaan” (ilāh al-mu’taqad), “Tuhan yang dipercayai” (al-ilāh
al-mu’taqad), “Tuhan dalam kepercayaan” (al- ilāh fī al-i’tiqad) “Tuhan Kepercayaan” (al-
haqq al-i’tiqad), Tuhan yang dalam kepercayaan” (al-haqq al-ladzī fī al-mu’taqad) dan “Tuhan
yang diciptakan dalam kepercayaan” (al-haqq a-Makhlūq fī al-i’tiqad). Allah Swt dalam
pandangan Islam adalah Allāh Aḥad, bermakna bahwa Tuhan esa dalam segala aspek, dan tak
pernah sekalipun mengandung pluralitas. Baik itu pluralitas maknawi, sebagai mana yang ada

3
dalam genus dan karakter, ataupun pluralitas yang real, sebagai mana yang nampak dalam
dunia materi. Keesaan ini juga menegasikan dan mensucikan Tuhan dari hal-hal yang
mengindikasikan bahwa Tuhan memiliki bentuk, kualitas, kuantitas, warna dan segala jenis
gambaran akal yang mampu merusak kebersahajaan yang satu. Demikian juga, Ahad
mengindikasikan bahwa tak ada sesuatupun yang menyamai-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhan Yang Maha Esa merupakan titik lokus utama
ajaran agama Islam dalam segala aspeknya, termasuk akidah dan kalam atau teologi. Oleh
karenanya tidaklah berlebihan, jika khususnya umat Islam Indonesia wajib menjaga Konstitusi
Pancasila. Karena semua sila yang terkandung dalam Pancasila selaras dengan ajaran Islam
yang terkandung dalam al-Qur’an dan Hadis Rasulullah, terutama Sila Kesatu, yaitu
“Ketuhanan Yang Maha Esa.” Konsep Tuhan merupakan konsep yang mendasar bagi setiap
agama yang ada, tak terkecuali dengan Islam. Dari konsep Allah sebagai Tuhan Yang Maha
Esa tersebut, lahirlah konsep-konsep Islamic worldview yang lain, seperti; konsep tentang
wahyu, konsep kenabian, konsep tentang Mu’jizat, konsep alam, konsep manusia, konsep
kehidupan, konsep penciptaan, konsep ilmu, dan konsep-konsep yang lainnya. Dikarenakan
begitu sentralnya konsep Tuhan tersebut, maka perbincangan mengenai agama apapun, tidak
akan terlepas dari pemahaman konsep Tuhan.
Tuhan diartikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan pengertian sebagai sesuatu
yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai Yang Mahakuasa, Mahaperkasa,
dan sebagainya. Konsepsi teologi Islam tentang ketuhanan terangkum dalam QS. al-Nās/114:
1-3:
ِ َّ‫ ِإلَ ِه ٱلن‬٢ ‫اس‬
٣ ‫اس‬ ِ َّ‫ َم ِل ِك ٱلن‬١ ‫اس‬
ِ َّ‫ب ٱلن‬ ُ َ ‫قُل أ‬
ِ ‫عوذُ ِب َر‬
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia;
Raja manusia; Sembahan manusia (QS. al-Nas/114: 1-3).
Berdasarkan penjelasan dalil naqli di atas, konsep ketuhanan dalam teologi Islam dikenal
dengan tiga istilah, yaitu: Rab (Pemelihara), Malik (Raja), dan Ilāh (Sesembahan). Kesemua
sebutan tersebut untuk menyebut Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kata "Allah" dalam al-Qur'an terulang sebanyak 2697 kali. Belum lagi kata-kata semacam
wahid, ahad, al-Rabb, Al-Ilāh atau kalimat yang menafikan adanya sekutu bagi-Nya dalam
perbuatan atau wewenang menetapkan hukum atatu kewajaran beribadah kepada selain-Nya
serta penegasian lain yang semuanya mengarah kepada penjelesan tentang tauhid. Menurut
konsep Islam Tuhan adalah Zat yang Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa. Ia adalah Pencipta
yang Maha Kuasa dan Maha Tahu. Dia abadi yang menentukan takdir dan hakim semesta
Alam, Tuhan dikonseptualisasikan sebagai Yang Tunggal dan Maha Kuasa, hal ini tercantum
dalam surat Q.S. Al-Ihlas Menurut Maulana Muhammad Ali, Islamolog asal Lahore Pakistan,
kata nama Allah merupakan isim jamid, tak digubah dari perkataan lain.
Konsep Tuhan dalam Islam bersifat Esa, merupakan keunikan dan final sesuai dengan
Pancasila, yang tidak sama dengan konsep Tuhan dalam agama-agama lain, seperti; Kristen,
Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu, meskipun sama-sama meyakini Ketuhanan. Hal tersebut
juga berbeda dengan konsep Tuhan dalam tradisi filsafat Yunani maupun dengan tradisi mistik
Timur dan Barat. Sebagaimana yang telah djelaskan Syed Naquib al-Attas bahwa:
“The nature of God Understood in Islam is not the same as the conceptions of God
Understood in the various religious traditions of the world; nor is it the same as the

4
conceptions of God understood in Greek and Hellenistic philosophical tradition; nor as
the conceptions of God understood in Western philosophical or scientific tradition; nor in
that of Occidental and Oriental mystical traditions”.
Konsep Tuhan dalam Islam otentik dan final, berdasarkan atas wahyu Al-Qur’an yang juga
bersifat otentik dan final, lafdhan wa ma’nan dari Allah Yang Maha Esa, Shalih fi kulli zaman
wa makan, dan tidak ada keraguan di dalamnya. Al-Attas menjelaskan “The nature of God as
revealed in Islam is Derived from Revelation”. Konsep Tuhan dalam Islam bersifat “haq”.
Bukan Tuhan hasil personifikasi, sebagaimana agama lain melakukannya sebagai juru
penyelamat dengan beragam manifestasi namanya, maupun sebagai penebus dosa, Tuhan
Bapa, Tuhan Anak, Ruh Qudus dan sebagainya. Bukan pula seperti Tuhan dalam konsepsi
Aristotle, yaitu Tuhan filsafat, yang sering diistilahkan dengan penggerak yang tidak bergerak,
Tuhan yang ada dalam pikiran manusia. Yang berari bahwa ketika manusia tidak berfikir
Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada. Tuhan adalah Dzat yang transenden dan mutlak, yang sama
sekali berbeda dengan makhluknya. Maka tidak tepat manusia, sebagai ciptaan, menciptakan
dari pemikiran mereka sendiri mengenai personifikasi ataupun atribusi kepada Allah Yang
Maha Esa sebagai Dzat Pencipta makhluk.
Istilah nama Allah sebagai nama Tuhan, sangat jelas identik dengan konsep ketuhanan
dalam Islam. Tidak ada agama lain, kecuali Islam yang tegas dan jelas serta sepakat
menggunakan nama Lafadz Allah untuk menyebut nama Tuhan mereka. Karena tidak terdapat
problem dalam penyebutan nama Tuhannya, maka dimana pun, kapan pun, dan siapapun, umat
Islam akan selalu menyebut Tuhannya dengan “Allah”. Hal ini dikarenakan nama Tuhan dalam
Islam ditetapkan berdasarkan sumber yang utama, wahyu al-Qur’an, dan bukan berdasarkan
tradisi ataupun budaya, ataupun konsensus (konsili). Karena itu, umat Islam tidak mengalami
perselisihan tentang nama Tuhan. Dan soal nama Tuhan tersebut sudah final sejak awal, yaitu
Tuhan umat Islam adalah Allah Yang Maha Esa tiada berbilang.
Allah SWT, merupakan kata agung (Lafadz al-Jalalah), nama diri (Ism Al-Dzat) Tuhan,
nama esensi dan totalitas-Nya. Kata itu tersusun dari empat huruf, yaitu ‫هللا‬. Jika huruf pertama,
alif dihilangkan, tiga huruf lainnya merupakan simbol alam semesta, wujud, yang mencakup
alam nyata (dunia) dan langit gaib di atas cakrawala bintang gemilang; alam kubur (barzakh)
dan surga; akhirat (akhirah). Huruf pertama, alif, merupakan smuber segala sesuatu, dan huruf
terakhir, ha (Dia), adalah sifat Allah yang paling sempurna, Yang Mahasuci dari semua sekutu.
Secara kebahasaan, kata Allah sangat mungkin berasal dari kata al-Illah. Kata itu mungkin
pula berasal dari bahasa Aramea, Alaha yang artinya Allah. Kata Ilāh (Tuhan yang disembah)
dipakai untuk semua yang dianggap sebagai Tuhan atau Yang maha Kuasa. Dengan
penambahan huruf Alif dan lām di depannya sebagai kata sandang tertentu, maka kata Allah
dari kata al-ilāh dimasudkan sebagai nama Zat Yang Maha Esa, Maka Kuasa, dan Pencipta
Alam semesta yang tiada sekutu bagi-Nya. Kata Allah adalah satu-satunya Ism ‘Alam atau kata
yang menunjukkan nama yang dipakai bagi Zat yang Maha Suci.
Konsep Allah juga telah ada sejak masyarakat Arab pra-Islam. Toshihiko Izutsu
menerangkan masalah makna relasional kata Allah dikalangan orang-orang Arab pra-Islam
dengan tiga kasus. Pertama, adalah konsep Pagan tentang Allah, yaitu orang Arab Murni. Di
sini terlihat orang-orang Arab pra-Islam yang berbicara tentang “Allah” sebagaimana yang
mereka pahami. Kedua, orang-orang Yahudi dan Kristen zaman pra-Islam yang menggunakan

5
kata Allah untuk menyebut Tuhan mereka sendiri. Di sini tentu saja “Allah” berarti Tuhan
dalam konsepsi Injil, yang terdiri atas beberapa aknum. Ketiga, Orang-orang Arab pagan, Arab
jahiliyah murni non-kristen dan non-Yahudi yang mengambil konsep Tuhan Injil, “Allah”. Hal
ini terjadi ketika seorang penyair Badwi yang bernama Nabighah dan al-A’sha al-Kabar
menulis puisi pujian yang mengarah pada konsep Arap tentang Allah ke arah monoteisme.
Konsep Allah menurut masyarakat Arab pra-Islam, khususnya penduduk Mekkah, dapat
diketahui melalui al-Qur’an. Allah SWT bagi mereka adalah pencipta langit dan bumi, yang
memudahkan peredaran matahari dan bulan, yang menurunkan air dari langit, tempat
menggantungkan harapan.
Tuhan yang haq dalam konsep al-Qur’an adalah Allah. Hal ini dinyatakan antara lain dalam
surat Ali Imran ayat 62, surat Shad 35 dan 65, surat Muhammad ayat 19. Dalam al-Qur’an
diberitahukan pula bahwa ajaran tentang Tuhan yang diberikan kepada Nabi sebelum
Muhammad adalah Tuhan Allah juga. Perhatikan antara lain surat Hud ayat 84 dan surat al-
Maidah ayat 72. Tuhan Allah adalah esa sebagaimana dinyatakan dalam surat al-Ankabut ayat
46, Thaha ayat 98, dan Shad ayat 4.
Menurut informasi al-Qur’an, sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan
adalah sebutan “Allah”, dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan melalui
wahyu yang datang dari Allah. Hal ini berarti konsep tauhid telah ada sejak datangnya Rasul
Adam di muka bumi. Esa menurut al-Qura’n adalah esa yang sebenar-benarnya esa, yang tidak
berasal dari bagian-bagian dan tidak pula dapat dibagi menjadi bagian-bagian. Keesaan Allah
adalah mutlak. Ia tidak dapat didampingi atau disejajarkan dengan yang lain. Sebagai umat
Islam, yang mengikrarkan kalimat syahadat La ilaaha illa Allah harus menempatkan Allah
sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan dan ucapannya. Konsepsi kalimat La ilaaha illa
Allah yang bersumber dari al-Qur’an memberi petunjuk bahwa manusia mempunyai
kecenderungan untuk mencari Tuhan yang lain selain Allah dan hal itu akan kelihatan dalam
sikap dan praktik menjalani kehidupan.
Allah juga merupakan sebutan atau nama Tuhan (tiada Tuhan selain Allah); wujud
tertinggi, terunik; zat yang maha suci, yang maha mulia; daripada-Nya kehidupan berasal dan
kepada-Nya kehidupan kembali. Para filsuf dizaman kuno menamai Allah swt. Antara lain
dengan nama Pencipta, Akal Pertama, Penggerak pertama, Penggerak Yang tiada Bergerak,
Puncak Cinta, dan Wajib al-Wujud. Allah SWT. Adalah tuntutan setiap jiwa manusia. Setiap
puak dan bangsa manusia merasakan dan menyadari kehadiran-Nya sejak masa yang paling
awal dan menamai-Nya menurut istilah-istilah yang mereka tentukan.
Secara kebahasaan, kata Allah sangat mungkin berasal dari kata al-Illah. Kata itu mungkin
pula berasal dari bahasa aramea, Alaha yang artinya Allah. Kata Ilāh (Tuhan yang disembah)
dipakai untuk semua yang dianggap sebagai Tuhan atau Yang maha Kuasa. Dengan
penambahan huruf Alif laam di depannya sebagai kata sandang tertentu, maka kata Allah dari
kata al-ilaah dimasudkan sebagai nama Zat Yang Maha Esa, Maka Kuasa, dan Pencipta Alam
semesta. Kata Allah adalah satu-satunya ism alam atau kata yang menunjukkan nama yang
dipakai bagi Zat yang Maha Suci. Nama-nama lain sekaligus mengacu pada sifat-sifat-Nya jika
menunjukkan kealaman Zat Allah, seperti al-Aziz atau Yang Maha Perkasa, artinya Allah
mempunyai sifat perkasa.
Dalam kaitannya penyebutan Allah sebagai sebutan Tuhan, kaum musyrik Quraisy dan
kaum Yahudi bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Tuhannya mengutusnya membawa

6
Risalah Islam. Mereka meminta beliau menerangkan Tuhannya serta menyebut kan nasab-Nya.
Maka Allah SWT pun mengutus Jibril as. Dengan membawa surah al-Ikhlash (At-Tauhid).
Dalam surah itu Allah swt berbicara kepada Rasul-Nya dengan menggunakan kalimat perintah:
“Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-
Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.”
Surah al-Ikhlash ini berisi sebagian al-‘asmā al-husnā. Pengertian “Allah Ahad’ adalah
Allah itu satu, tak ada sekutu bagi-Nya, dan tak ada yang setara dengan-Nya. Ibnu Abbas dan
sekelompok mufassir al-Qur’an berkomentar bahwa pengertian Allah Ahad adalah Allah itu
satu, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Sebagian filsuf Arab, di antaranya Ibnu
Sina, berpendapat bahwa pengertian ‘Allah Ahad’’ adalah bahwa Allah itu satu (sendiri) dalam
ketuhanan-Nya dan keterdahuluan-Nya, serta tidak ada sesuatupun yang menyertai-Nya dalam
sifat-sifat wajib-Nya. Dia wajib bersifat ada dan mengetahui segala sesuatu, hidup namun tidak
akan mati, mengubah namun tidak pernah berubah. Menurut sebagian pakar bahasa, Allah
SWT Berfirman, Qul huwa Allahu Ahad, bukan Qul huwa Allahu Wahīd, karena kata Wahīd
termasuk kategori bilangan sehingga sangat mungkin yang lainnya juga masuk ke dalamnya.
Adapun kata Ahad tidak dapat dibagi lagi, baik dalam Zat-Nya maupun pengertian sifat-sifat-
Nya.
Bagi umat Islam, penyebutan nama Tuhan yang bersifat spekulatif tentu sangat bermasalah.
Sebab, hal ini bisa mengaburkan konsep tauhid Islam. Penyebutan kata “Allah” di dalam Al-
Qur’an menandakan bahwa penyematan nama untuk Dzat Yang Maha Kuasa haruslah
bersumber dari Allah sendiri dengan sifat-sifat yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Berkenaan dengan al-Qur'an sebagai wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW, maka al-Qur'an dalam epistemologi Islam merupakan sumber informasi
yang benar yang otoritatif (khabar shadiq). Dengan demikian Konsep Tuhan dalam Islam jels-
jels sempurna, karena bersumber pada kitab suci yang otoritatif.
Dalam ajaran al-Qur’an, Allah merupakan Rab (Tuhan Pemelihara) manusia dan seluruh
makhluk di alam raya ini. Muhammad Ismail Ibrahim di dalam buku Mu’jam al-Alfāzh wa al-
A’lām al-Qur’āniyyah menyebutkan bahwa terdapat beberapa arti kata rabb, di antaranya rabb
al-walad, artinya “memelihara anak dengan memberi makan dan mengasuhnya”, rabb asy-
syai’, artinya “mengumpulkan dan memilikinya”, serta rabb al-amr, “memperbaikinya”.
Adapun al-Rabb adalah Tuhan dan merupakan salah satu dari nama Allah yang jamaknya
arbāb. dalam bahasa Arab, kata rabb berarti “yang memiliki”, “yang menguasai”, “yang
menjaga”, “yang memelihara”, “yang membimbing”, “yang mendidik”, “yang merubah”.
Menurut Izutsu Tuhan (Allah) dalam al-Qur'an adalah satu-satunya Wujud yang pantas disebut
“wujud”, realitas di mana tidak satupun di seantero dunia ini yang dapat melawan-Nya. Secara
semantik rabb adalah kata fokus tertinggi dalam kosa-kata al-Qur'an, yang menguasai seluruh
medan semantik, bahkan seluruh sistem. Kata Allah (rabb) ini dilawankan dengan kata
“manusia” (‘abd atau rabbani). Sebab, manusia, sifatnya, perbuatan, psikologi, kewajiban, dan
tujuannya juga menjadi pusat perhatian pemikiran al-Qur'an. Dalam hal ini, bagaimana
manusia bereaksi terhadap firman Tuhan menjadi persoalan yang utama.
Reaksi manusia terhadap firman Tuhan sangat beragam. Manusia (al-insan) yang alim dan
selalu taat kepada perintah Allah sebagai reaksi atas firman-Nya di dalam al-Qur'an di sebut
dengan rabbani. Dalam bahasa Arab maupun al-Qur’an istilah rabbani sama dengan

7
rabbaniyyah, yakni masdar shina’i (masdar bentukan) yang dinisbatkan kepada rabb yang
berarti Tuhan. Rabba berasal ‫ يرب‬- ‫ رب‬yang berarti:
‫نشاء الشيئ من حال الى حال الى حال الثمام‬
(Mengembangkan sesuatu dari suatu keadaan pada keadaan lain, sampai kepada keadaan
yang sempurna).
Huruf Ya’ yang berada di belakangnya adalah ya’ nisbah, (ya’ untuk membangsakan).
Artinya, penisbatan tersebut ditujukan kepada rabb atau Allah SWT. Yaitu orang yang alim
dan selalu taat kepada perintah Allah, dan akan diangkat derajatnya yang setinggi-tingginya
oleh Allah SWT. Oleh karena itu, rabbani adalah orang yang dibangsakan kepada Tuhan. Kata
rabbani biasanya juga ditunjukkan kepada manusia sebagai julukan (laqab) manusia rabbani
(orang yang dididik Tuhan) atau dapat bermakna semangat berketuhanan, yang merupakan inti
dari semua ajaran para Nabi dan Rasul Tuhan. Jika tali hubungannya dengan Allah sangat kuat,
tahu dan mengamalkan ajaran agama maupun kitabnya. Menurut Toshiko Izutsu, ia juga
menemukan suatu relasi kata rabb dengan kata-kata lain yang mengindikasikan makna lain
terhadap kata rabb, yakni: Tuhan yang menjamin atau memenuhi kebutuhan yang dipelihara,
mengawasi di samping juga memperbaiki segala hal, pemimpin, kepala yang diakui
kekuasaannya yang berwibawa dan yang semua perintah-perintahnya dipatuhi dan diindahkan,
ia juga bermakna raja dan pemilik. Makna-makna ini adalah relasi rabb dengan sifat-sifatnya.
Kata rabb menunjukkan adanya pemaknaan mengenai tauhid Rububiyah dimana adanya
unsur mengesakan Allah Swt, dalam mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta (Q.S:
Al-Zumar: 62; al-Fathir: 3; al-Mulk: 1; al-A’raf: 54). Menurut Ibnu Qoyyim konsekuensi
Rububiyah adalah adanya perintah dan larangan kepada hamba, membalas yang berbuat baik
dengan kebaikan, serta menghukum yang jahat atas kejahatannya. Rabb adalah"Tuhan Sang
Maha Pencipta", yang meciptakan keseluruhan alam ini tidak hanya sekedar menciptakan tetapi
juga di maksudkan sebagai " Sang Maha Pemelihara". Dan juga setiap kejadian tidak lepas dari
kekuasaan-Nya sebagai" Sang Maha Pengatur". Dari sisi pengakuan, tidak hanya kaum
muslimin yang mengakui adanya Rabb. Banyak orang di dunia barat tidak secara formal
beragama tetapi mereka mengakui adanya "Dia" Tuhan Yang Maha Pencipta.

3. Konsep Al-Asmā' Al-Husnā Tentang Al-Rahmān dan Al-Rahīm


Kata al-Rahmān (‫ )الرخمن‬berasal dari kata Rahīma (‫ )رخيم‬yang artinya menyayangi atau
mengasihi yang terdiri dari huruf Rā, Hā, dan Mim, yang mengandung makna
kelemahlembutan, kasih sayang, dan kehalusan. Di dalam al-Qur’an kata al-Rahmān terulang
sebanyak 57 kali, sedangkan al-Rahīm (‫ )الرخيم‬sebanyak 95 kali. Apa arti al-Rahmān? Dalam
bahasa Inggris, seringkali kata yang digunakan untuk menerjemahkan al-Rahmān adalah
merciful atau benefactory. Namun ada yang perlu kita pahami, bahwa kedua kata tersebut tidak
bisa untuk secara sempurna menggantikan makna kata al-Rahmān. Mercy itu maknanya kasih
yang diberikan ketika seseorang melakukan suatu kesalahan, padahal al-Rahmān itu tidak
hanya diberikan setelah seseorang melakukan kesalahan. Lalu kata benefactory sendiri, hampir
tidak pernah dipakai di keseharian, padahal seharusnya terjemahan membuat kita lebih paham.
Al-Rahmān salah satunya berasal dari akar kata al-Rahm, saat seorang perempuan hamil,
tempat janin bayinya disebut dengan rahim. Disebut rahim karena janin tersebut dirawat,
dilindungi, disayangi dalam berbagai hal. Hubungan sang ibu dan sang bayi kurang lebih

8
seperti ini: 1) Apakah bayi tersebut mengenal/tahu ibunya? Tidak. 2) Apakah bayi tersebut
sudah punya rasa cinta/sayang ke ibunya? Tidak. 3)Apakah ibunya sudah memperhatikan,
melindungi dan merawat bayinya? Yes, in every way. The entire life of the child is taken care
of by the mother. Dan bayi tersebut tidak tahu sama sekali bahwa ia sangat disayangi, bahwa
ibunya mau melakukan banyak hal untuk bayinya, juga melindunginya dari setiap bahaya.
Kata rahim tersebut melahirkan kata al-Rahmān. Seseorang yang memiliki rahmah,
adalah seseorang yang memiliki rasa kasih sayang kepadamu (have compassion towards you),
seseorang yang lembut dan mempermudah dirimu (want to be soft and easy with you). Ada
saat-saat dimana kita akan mempertanyakan kasih sayang Allah kepada kita. Saat itu, mungkin
adalah hari berat dalam hidup kita, saat itu, mungkin iman kita sedang begitu rendah. Saat itu,
mungkin juga kamu perlu lagi menengok makna al-Rahmān, mencoba berbaik sangka dan
memikirkan kasih sayang dalam bentuk apa yang Allah sedang berikan kepada kita, juga
memikirkan betapa banyak hal buruk yang bisa terjadi pada kita, namun Allah menjaga kita
dari hal-hal tersebut.
Lafaz al-Rahmān dan al-Rahīm keduanya merupakan isim yang berakar dari bentuk
masdar al-Rahmān dengan maksud mubalagah; lafaz al-Rahmān lebih balig (kuat) daripada
lafaz al-Rahīm. Di dalam ungkapan Ibnu Jarir terkandung pengertian yang menunjukkan
adanya riwayat yang menyatakan kesepakatan ulama atas hal ini. Di dalam kitab tafsir sebagian
ulama Salaf terdapat keterangan yang menunjukkan kepada pengertian tersebut, seperti yang
telah disebutkan di dalam asar mengenai kisah Nabi Isa a.s. Disebutkan bahwa dia pernah
mengatakan, " al-Rahmān artinya Yang Maha Pemurah di dunia dan di akhirat, sedangkan al-
Rahīm artinya Yang Maha Penyayang di akhirat." Sebagian di antara mereka (ulama) ada yang
menduga bahwa lafaz ini tidak ber-musytaq; karena seandainya ber-musytaq, niscaya tidak
dihubungkan dengan sebutan subyek yang dibelaskasihani.
Sebagian dari asma-asma Allah ada yang dapat disandang oleh selain-Nya dan ada yang
tidak boleh dijadikan nama selain-Nya, seperti lafaz Allah, al-Rahmān, al-Razīq, dan al-Khalīq
serta lain-lainnya yang sejenis. Karena itulah dimulai dengan sebutan nama Allah, kemudian
disifati dengan al-Rahmān karena lafaz ini lebih khusus dan lebih makrifat daripada lafaz al-
Rahīm. Karena penyebutan nama pertama harus dilakukan dengan nama paling mulia, maka
dalam urutannya diprioritaskan yang lebih khusus. Jika ditanyakan, "Bila lafaz al-Rahmān
lebih kuat mubalagah-nya, mengapa lafaz al-Rahīm juga disebut, padahal sudah cukup dengan
menyebut al-Rahmān saja?" Telah diriwayatkan dari Ata Al-Khurrasani yang maknanya
sebagai berikut: Mengingat ada yang menamakan dirinya dengan sebutan al-Rahmān selain
Dia, maka didatangkanlah lafaz al-Rahīm untuk membantah dugaan yang tidak benar itu,
karena sesungguhnya tiada seorang pun yang berhak disifati dengan julukan al-rahmānirrahīm
kecuali hanya Allah semata. Demikian yang diriwayatkan oleh lbnu Jarir, dari Ata, selanjutnya
Ibnu Jarirlah yang mengulasnya. Tetapi sebagian dari kalangan mereka ada yang menduga
bahwa orang-orang Arab pada mulanya tidak mengenal kata al-Rahmān sebelum Allah
memperkenalkan diri-Nya dengan sebutan itu melalui firman-Nya:
‫عوا فَلَهُ األ ْس َما ُء ْال ُح ْسنَى‬
ُ ‫الر ْح َمنَ أَيًّا َما ت َ ْد‬ ُ ‫َّللاَ أ َ ِو ا ْد‬
‫عوا ه‬ ‫عوا ه‬ُ ‫قُ ِل ا ْد‬
Katakanlah, "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja
kamu seru, Dia mempunyai asma-ul husna (nama-nama yang terbaik)." (Al-Isra: 110).

9
Karena itulah orang-orang kafir Quraisy di saat Perjanjian Hudaibiyyah dilaksanakan
—yaitu ketika Rasulullah Saw. bersabda, "Bolehkah aku menulis (pada permulaan perjanjian)
kata bismillāhirrahmānirrahīm (dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang)?"— mereka mengatakan, "Kami tidak mengenal al-Rahmān, tidak pula al-Rahīm."
Demikian menurut riwayat Imam Bukhari. Sedangkan menurut riwayat lain, jawaban mereka
adalah, "Kami tidak mengenal al-Rahmān kecuali Rahmān dari Yamamah" (maksudnya
Musailamah Al-Kazzab).
Allah Swt. telah berfirman:

‫من أ َ َن ْس ُجد ُ ِلما تَأ ْ ُم ُرنا َوزادَ ُه ْم نُفُورا‬ ‫من قالُوا َو َما ه‬
ُ ‫الر ْح‬ ‫َوإِذا قِي َل لَ ُه ُم ا ْس ُجد ُوا ِل ه‬
ِ ‫لر ْح‬
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Sujudlah kalian kepada Yang Maha Rahman
(Pemurah)," mereka menjawab, "Siapakah Yang Maha Penyayang ini? Apakah kami akan
sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah
sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman). (Al-Furqan: 60).
Muhammad Quraish Shihab menyatakan cenderung menguatkan pendapat yang
menyatakan baik al-Rahmān maupun al-Rahīm terambil dari akar kata Rahmat. Dalam salah
satu hadist qudsi dinyatakan bahwa Allah berfirman: “Aku adalah al-Rahmān, Aku
menciptakan rahīm, kuambilkan untuknya nama yang berakar dari nama-Ku. Siapa yang
menyambungnya (silaturrahim) akan Ku-sambung (rahmat-Ku) untuknya dan siapa yang
memutuskannya Kuputuskan (rahmat-Ku baginya). (HR. Abudaud dan Attirmizi melalui
Abdurrahman bin ‘Áuf). Quraish menguatkan pendapatnya dengan mengetengahkan pendapat
menurut pakar bahasa Ibnu Faris (w. 395 H) semua kata yang terdiri dari huruf-huruf Ra’ Ha’
dan Mim, mengandung makna “kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan”. Hubungan
silaturahim adalah hubungan kasih sayang. Rahim adalah peranakan/kandungan yang
melahirkan kasih sayang. Kerabat juga dinamai rahim, karena kasih sayang yang terjalin
diantara anggota-anggotanya. Rahmat lahir dan nampak dipermukaan bila ada sesuatu yang
dirahmati dan setiap yang dirahmati pastilah sesuatu yang butuh, karena itu yang butuh tidak
dapat dinamai rahim. Di sisi lain siapa yang bermaksud memenuhi kebutuhan pihak lain tetapi
secara faktual dia tidak melaksanakannya, maka ia juga dapat dinamai Rahim. Bila itu tidak
terlaksana karena ketidakmampuannya, maka boleh jadi dia dinamai rahim, ditinjau dari segi
kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan yang menyentuh hatinya. Tetapi yang demikian
ini adalah sesuatu yang tidak sempurna.
Rahmat yang menghiasi diri seseorang, tidak luput dari rasa pedih yang dialami oleh
jiwa pemiliknya. Rasa itulah yang mendorongnya untuk mencurahkan rahmat kepada yang
dirahmati. Rahmat dalam pengertian demikian adalah rahmat makhluk, Al-Khaliq (Allah) tidak
demikian. Seperti -tulis Al-Ghazali- “Jangan Anda duga bahwa hal ini mengurangi makna
rahmat Tuhan, bahkan di sanalah kesempurnaannya. Rahmat yang tidak dibarengi oleh rasa
pedih – sebagaimana rahmat Allah – tidak berkurang karena kesempurnaan rahmat yang ada
di dalam, ditentukan oleh kesempurnaan buah/hasil rahmat itu saat dianugerahkan kepada yang
dirahmati dan betapapun Anda memenuhi secara sempurna kebutuhan yang dirahmati, yang
bersangkutan ini tidak merasakan sedikitpun apa yang dialami oleh yang memberinya rahmat.
Kepedihan yang dialami oleh sipemberi merupakan kelemahan makhluk”. Adapun yang
menunjukkan kesempurnaan rahmat Ilahi walaupun Yang Maha Pengasih itu tidak merasakan

10
kepedihan, maka menurut Imam Al-Ghazali adalah karena makhluk yang mencurahkan rahmat
saat merasakan kepedihan itu, hampir-hampir saja dapat dikatakan bahwa saat ia
mencurahkannya – ia sedang berupaya untuk menghilangkan rasa pedih itu dari dirinya, dan
ini berarti bahwa pemberiannya tidak luput dari kepentingan dirinya. Hal ini mengurangi
kesempurnaan makna rahmat, yang seharusnya tidak disertai dengan kepentingan diri, tidak
pula untuk menghilangkan rasa pedih tetapi semata-mata demi kepentingan yang dirahmati.
Demikianlah Rahmat Allah Swt.

4. Konsep Al-Asmā' Al-Husnā Tentang Al-Malik


Setelah al-Rabb, maka sifat Allah yang menyusul adalah al-Malik (‫)الملك‬, yang secara
umum diartikan raja atau penguasa. Penempatan susunannya seperti ini sejalan dengan
penempatannya dengan sekian banyak ayat al-Qur'an, antara lain pada surah al-Fatihah dan
surah al-Hasyar. Oleh karena rahmat yang dicurahkan Allah kepada hamba-hambaNya dan
yang dilukiskan dengan kata Raḥmān itu disebabkan karena Dia juga Raḥīm, memiliki sifat
Raḥmān yang melekat pada diriNya. Namun siapa yang memiliki sifat rahmat, belum tentu
memiliki sifat kekuasaan dan hanya Allah yang memiliki yakni memiliki kekuasaan dan
kerajaan serta kepemilikan. Kata "Malik" mengandung arti penguasaan terhadap sesuatu
disebabkan oleh kekuatan pengendalian dan keshahihannya. Kata "Malik" yang biasa
diterjemahkan raja adalah yang menguasai dan menangani perintah dan larangan, anugerah
dan pencabutan. Karena itu, biasanya kerajaan terarah kepada manusia, tidak kepada barang
yang sifatya tidak dapat menerima perintah dan larangan. Salah satu kata "Malik" dalam al-
Qur'an adalah yang terdapat dalam surah al-Nās, yakni "Malik al-nās" (Raja manusia).
Dalam Al-Qur'an, tanda-tanda kepemilikan kerajaan adalah kehadiran banyak pihak
kepadaNya untuk bermohon agar dipenuhi kebutuhannya atau untuk menyampaikan persoalan-
persoalan besar agar dapat tertanggulangi. Allah SWT melukiskan betapa Yang Maha Kuasa
itu melayani kebutuhan makhlukNya. Sebagaimana yang difirmankan dalam al-Qur'an: "Setiap
yang di langit dan di bumi bermohon kepadaNya. Setiap saat dia dalam kesibukan (memenuhi
kebutuhan mereka) (QS. al-Rahmān ayat 29). Kata "Malik" terdiri dari tiga huruf yakni Mim,
Lam, dan Ka. Yang rangkaiannya mengandung makna kekuatan dan keshahihan. Kata Malik
pada mulanya berarti ikatan dan penguatan. Kata Malik terulang di dalam al-Qur'an sebanyak
5 (lima) kali, dua di antaranya dirangkaikan dengan kata "hak" dalam arti yang "pasti dan
sempurna," yaitu terdapat dalam surah Thaha ayat 114 dan surah al-Mukminun ayat 122, “Dan
adapun kerajaan Allah mencakup kerajaan lagit dan bumi.” Allah berfirman dalam surah al-
Zukhruf ayat 85: "Maha suci Allah yang milik-Nya kerajaan/kekuasaan langit dan bumi dan
apa yang ada diantara keduanya. Disisi-Nya pengetahuan tentang kiamat dan hanya kepada-
Nya kamu di kembalikan". Demikian pula Allah juga pemilik kerajaan akhirat, hal tersebut
terdapat dalam surah al-an'am ayat 73 dan surah al-Hajj ayat 56: "Dan milikNya
kerajaan/kekuasaan pada hari ditiup sangkakala " "Kerajaan pada hari itu (kiamat) adalah milik
Allah".
Imam Al-Gazali menjelaskan arti "Malik" yang berarti raja yang merupakan salah satu
nama Asmaul Husna dengan menyatakan bahwa "Malik" adalah yang tidak butuh pada zat dan
sifat-Nya segala yang wujud, bahkan Dia adalah yang butuh kepadaNya segala sesuatu yang
menyangkut segala sesuatu, baik pada zatNya, sifatNya, wujudNya dan kesinambungan

11
eksistensinya. Bahkan wujud segala sesuatu, bersumber dari-Nya, atau dari sesuatu bersumber
dari-Nya. maka segala sesuatu selain-Nya menjadi milikNya dalam zat dan sifatnya dan
membutuhkanNya. Demikianlah itu raja yang mutlak". Disini terlihat perbedaan antara
"Malik" yang berarti "Raja" dan "Maalik" yang diartikan "pemilik". Seseorang pemilik belum
tentu menjadi raja, sebaliknya pemilikan seorang raja biasanya melebihi pemilikan pemilik
yang bukan raja. Oleh karenanya, Allah adalah raja sekaligus pemilik. Kepemilikan Allah
berbeda dengan kepemilikan makhluk/manusia. Allah swt berwewenang penuh untuk
melakukan apa saja terhdap apa yang dimilikiNya.
Al-Mulku berakar pada kata mim, lam, dan kaf yang mengandung makna pokok “keabsahan
dan kemampuan”. Dari makna yang pertama terbentuk kerja malaka – yamliku – mulkan
artinya menguasai. Dari sini diperoleh kata malik dan mulk masing-masing artinya raja dan
kekuasaan. Dalam al-Qur’an penggunaannya bisa dilihat pada surat Al-Baqaraah ayat 247.
“Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Alloh telah membangkitkan untuk
kamu Thalut sebagai “malik” Mereka menjawab, “Bagaimana ia mempunyai mulku atas kami,
padahal kami lah yang berhak memegang mulki darinya, karena ia tidak memiliki kekayaan”.
Ayat ini menceritakan penolakan Bani Israil atas kepemimpinan Thalut, karena memandang
Thalut tidak memiliki apa yang menurut mereka menjadi syarat kepemimpinan. Menurut ilmu
politik dan ilmu Negara sendiri malik, dalam hal ini adalah raja, diartikan sebagai seorang yang
mewarisi kekuasaan dari penguasa sebelumnya, kekuasaannya disebut mulk, kerajaan.
Pengertian Malik menurut al-Qur’an adalah lebih luas, ia bermakna raja, tapi juga pemilik
kekuasaan, artinya bukan hanya penguasaan akan tetapi juga kepemilikan. Pengertian tersebut
dapat di lihat dalam QS. 3: 26; “Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai Tuhan yang
memiliki kekuasaan! Engkaulah yang memberi kekuasaan kepada siapa yang Engkau
kehendaki, dan Engkaulah yang mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.
Engkaulah juga yangmemuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah yang
menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Dalam kekuasaan Engkau sajalah adanya segala
kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu”. Dalam ayat tersebut
digambarkan bahwa Alloh pemilik dari kekuasaan (malik-ul mulki) dan memberikan dan
mencabut kekuasaan tersebut kepada siapa yang dikehendakinya. Sedangkan dalam QS. 59:
23, dikatakan bahwa Alloh adalah Al-Malik. Dengan melihat ayat tersebut bisa kita simpulkan
bahwa suatu kekuasaan hakekatnya adalah milik Alloh SWT dan manusia hanyalah berkuasa
dengan izin dari Alloh SWT. Ayat-ayat Al-Qur’an menggunakan kata ini secara umum, artinya
tidak hanya merujuk kepada suatu kekuasaan politik saja.

B. Mukjizat, Karomah dan Sihir


1. Konsep Tentang Mukjizat
Terma mukjizat berasal dari Bahasa Arab yang telah dibakukan ke dalam Bahasa
Indonesia, yaitu al-Mu’jizat (‫)المعجزة‬. Al-mu’jizat adalah bentuk kata mu’annas (female) dari
kata mudhakkar (male) al-mu’jiz. Al-mu’jiz adalah isim fā’il (nama atau sebutan untuk pelaku)
dari kata kerja (fi’l) a’jaza (‫)أعجز‬. Kata ini terambil dari akar kata ‘ajaza-yu’jizu-ajzan wa
‘ajuzan wa ma’jizan wa ma’jizatan/ma’jazatan (‫)عجز – يعجز – عجزا – وعجوزا – ومعجزا – ومعجزة‬,
yang secara harfiah antara lain berarti lemah, tidak mampu, tidak berdaya, tidak sanggup, tidak
dapat (tidak bias), dan tidak kuasa. Al-‘ajzu adalah lawan dari kata al-qudrah yang berarti

12
sanggup, mampu, atau kuasa. Jadi, al-‘ajzu berarti tidak mampu alias tidak berdaya. Dalam
pada itu, istilah mu’jiz atau mu’jizat lazim diartikan dengan al’ajib (‫)العجيب‬, maksudnya sesuatu
yang ajaib (menakjubkan atau mengherankan) karena orang atau pihak lain tidak ada yang
sanggup menanding atau menyamai sesuatu itu. Juga sering diartikan dengan amrun khāriqun
lil-‘ādah (‫)أمر خارق للعادة‬, yakni sesuatu yang menyalahi tradisi.
Dalam al-Qur’an, kata a’jaza dalam berbagai bentuk (derivasinya) terulang sebanyak
26 kali dalam 21 surat dan 25 ayat. Dan kata ‘ajaza dalam al-Qur’an digunakan untuk beberapa
pengertian, di antaranya “tidak mampu” seperti terdapat dalam QS. Al-Māidah/5: 31 dan QS.
Al-Jin/72: 12:

‫ت أَ ْن أَ ُكو َن يمثْ َل‬ ‫ض لي يُييه َكيف ي وا يري سوأََة أ ي‬


َ َ‫َخ ييه ق‬
‫َه َذا‬ ُ ‫ال ََي َويْلَتَا أ ََع َج ْز‬ ْ َ َ ُ َ ْ ُ َ ُ ‫األر ي‬ ْ ‫ث يِف‬ ُ ‫اَّللُ غَُر ااًب يَْب َح‬
‫ث ه‬ َ ‫فَبَ َع‬
‫يي‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ي ي‬
)١٣( ‫ني‬ ْ ‫ي َس ْوأََة أَخي فَأ‬
َ ‫َصبَ َح م َن النهادم‬ َ ‫الْغَُراب فَأ َُوار‬
“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk
memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya.
Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak
ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara
orang-orang yang menyesal.”

)٣١( ‫ض َولَ ْن نُ ْع يجَزهُ َهَراًب‬ ْ ‫اَّللَ يِف‬


‫األر ي‬ ‫وأَ هَّن ظَن نها أَ ْن لَن نُ ي‬
‫عجَز ه‬ ْ َ َ
“Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat
melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat
melepaskan diri (daripada)Nya dengan lari.”
Dalam kedua ayat di atas, kata ‘ajaza digunakan untuk pengertian tidak mampu atau
tidak sanggup. Dalam kamus al-mu’jam al-Wasit, mukjizat dirumuskan dengan:

‫أمر خارق للعادة يظهره هللا على يد نيب أتييدا لنبوته‬


“Sesuatu (hal atau urusan) yang menyalahi adat-kebiasaan yang ditampakkan Allah di
atas kekuasaan seseorang Nabi untuk memperkuat kenabiannya.”
Adapun yang dimaksud dengan mukjizat dalam terminologi ahli-ahli ilmu Al-Qur’an,
seperti diformulasikan Manna al-Qattan dan lain-lain ialah:

‫أمر خارق للعادة ًبلتعدي سامل عن املعارضة‬


“Sesuatu urusan (hal) yang menyalahi tradisi, dibarengi atau diiringi dengan tantangan
atau pertandingan dan terbebas dari perlawanan (menang).” Berdasarkan definisi mukjizat di
atas, dapat dikemukakan tiga unsur pokok mukjizat yaitu:
1. Unsur utama dan pertama mukjizat ialah harus menyalahi tradisi atau adat kebiasaan
(khariqun lil ‘adah). Sesuatu (mukjizat) yang tidak menyalahi tradisi, atau kejadiannya
sesuai dengan kebiasaan yang umum atau bahkan lazim berlaku, tidak dapat dikatakan
mukjizat. Itulah sebabnya mengapa banyak hal aneh yang dikeluarkan oleh ahli-ahli sulap

13
bahkan ahli-ahli sihir tidak dinyatakan sebagai mukjizat (QS. Al-Nisa/4: 171). Mengingat
pada dasarnya tidak menyalahi kebiasaan karena dia tidak sungguh-sungguh, dan banyak
orang lain yang bisa melakukan hal serupa atau bahkan lebih dari itu. Berbeda dengan
kemampuan Nabi ‘Isa almasih menghidupan orang mati yang tidak pernah bisa dilakukan
oleh siapa pun. Demikian pula dengan kemukjizatan tongkat Nabi Musa as yang bisa
berubah menjadi ular sunggguhan (Thu’banun mubin) (QS. Al-A’raf /7:107 dan QS. As-
Shura/26: 32). Contoh mukjizat lain ialah kemampuan Nabi Sulaiman as berkomunikasi
dengan semua hewan (QS. Al-Anbiya/21: 81 dan QS. Al-Maidah/5: 110). Begitu pula
dengan ketidakterbakaran Nabi Ibrahim as saat dilemparkan ke dalam kawah yang sedang
mendidih (QS. Al-Anbiya/21: 68-69).
Semua peristiwa yang baru disebutkan dinamakan mukjizat, karena semua peristiwa
ini memang tidak pernah mentradisi. Maksudnya, masing-masing peristiwa di atas hanya
terjadi sekali atau sesekali sepanjang zaman dan untuk orang-orang tertentu saja di tengah-
tengah sekian banyak manusia. Atas dasar ini, maka sihir, seperti disinggung di atas, tidak
dapat dikatakan sebagai mukjizat karena kejadiannya tidak sungguhan semisal lipatan
kertas atau dedaunan menjadi uang, sapu tangan menjadi burung, dan lain-lain. Demikian
pula dengan tukang sulap meskipun sering dianggap menyalahi kebiasaan. Sebab sihir,
sesuai dengan salah satu makna harfiahnya, berarti dusta alias tipu daya (tidak
sesungguhnya). Sedangkan mukjizat adalah sesuatu yang benar-benar terjadi.
2. Unsur pokok kedua dari mukjizat ialah bahwa mukjizat harus dibarengi dengan
perlawanan. Maksudnya, mukjizat harus diuji dengan melalui pertandingan atau
perlawanan sebagaimana layaknya sebuah pertandingan. Untuk membuktikan bahwa itu
mukjizat, harus ada upaya konkret lebih dulu dari pihak lain (lawan) untuk menandingi
mukjizat itu sendiri. Dan pihak yang menandingi itu harus sepadan atau sebanding dengan
yang ditandingi. Jika pihak yang menandingi atau melawan tidak sebanding kelasnya,
maka itu bukan lagi mukjizat namanya. Sebab, kekalahan yang diderita pihak lawan yang
tidak selevel misalnya, tidak menunjukkan kehebatan si pemenang, dan tidak pula berarti
mengisyaratkan ketidakmampuan pihak yang kalah (lawan).
Sebagai contoh, tongkat Nabi Musa as yang dilemparkan menjadi ular sungguhan
yang dalam Al-Qur’an dibahasakan dengan thu’banun mubin, itu benar-benar ditandingi
oleh sahirin (Para penyihir) yang dikendalikan Fir’aun. Tapi, sihir-sihir yang dikerahkan
seluruh kaki tangan Fir’aun itu kemudian ternyata dikalahkan dan tidak pernah mampu
mengalahkan mukjizat Allah yang diberikan kepada Nabi Musa as, dalam kaitan ini
tongkat yang menjadi ular.
3. Mukjizat itu tak terkalahkan. Unsur ketiga dari suatu mukjizat adalah bahwa mukjizat itu
setelah dilakukan perlawanan terhadapnya, ternyata tidak terkalahkan untuk selama-
lamanya. Jika sesuatu/seseorang memiliki kemampuan luar biasa, tetapi hanya terjadi
seketika atau dalam waktu tertentu, maka itu tidak dikatakan mukjizat. Katakanlah
misalnya seorang petinju kelas berat sekaliber siapapun, tidak dapat dikatakan memiliki
mukjizat. Selain karena mukjizat hanya diberikan kepada nabi Allah, juga dalam
kenyataannya tidak satu pun petinju kelas berat dunia yang sakti dan abadi dalam artian
terus menerus tak terkalahkan sepanjang karirnya sebagai petinju. Demikian pula misalnya
dengan pesilat, pegulat, pebulu tangkis, dan lain sebagainya.

14
Mukjizat sendiri dibagi menjadi dua bagian pokok yaitu: mukjizat yang bersifat material
indriawi lagi tidak kekal, dan mukjizat material, logis, lagi dapat dibuktikan sepanjang masa.
Mukjizat nabi-nabi terdahulu kesemuanya merupakan jenis pertama. Mukjizat mereka bersifat
material dan indriawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan atau dijangkau
langsung lewat indara oleh masyarakat tempat nabi tersebut menyampaikan risalahnya.
Contohnya, perahu Nabi Nuh as yang dibuat atas petunjuk Allah sehingga mampu bertahan
dalam situasi ombak dan gelombang yang demikian dahsyat, tidak terbakarnya Nabi Ibrahim
as dalam kobaran api yang sangat besar; tongkat Nabi Musa as yang beralih wujud menjadi
ular, penyembuhan yang dilakukan oleh Nabi ‘Isa almasih atas izin Allah, dan lain-lain.
Kesemuanya bersifat material indiriawi, sekaligus terbatas pada lokasi tempat Nabi
tersebut berada, dan berakhir dengan wafatnya masing-masing nabi. Ini berbada dengan
mukjizat Nabi Muhammad saw. yang sifatnya bukan indirawi atau meterial, namun dapat
dipahami oleh akal. Karena sifatnya yang demikian, ia tidak dibatasi oleh suatu tempat atau
masa tertentu. Mukjizat Al-Qur’an dapat dijangkau oleh setiap orang yang mengunakan
akalnya di manapun dan kapan pun.
Perbedaan ini disebabkan oleh dua hal pokok. Pertama, para nabi sebelum Nabi
Muhammad saw, ditugaskan untuk masyarakat dan masa tertentu. Karena itu, mukjizat mereka
hanya berlaku untuk masa dan masyarakat tersebut, tidak untuk sesudah mereka. Ini berbeda
dengan Nabi Muhammad Saw. yang diutus untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman,
sehingga bukti kebenaran ajarannya harus selalu siap dipaparkan pada setiap orang yang ragu
di manapun dan kapanpun mereka berada. Jika demikian halnya, tentu mukjizat tersebut tidak
mungkin bersifat meterial, karena kematerialan membatasi ruang dan waktunya. Kedua,
manusia mengalami perkembangan dalam pemikirannya. Sedangkan fungsi mukjizat sendiri
adalah sebagai bukti kebenaran para nabi. Keluarbiasaan yang tampak atau terjadi melalui
mereka itu diibaratkan sebagai ucapan Tuhan: “Apa yang dinyatakan sang nabi adalah benar.
Dia adalah utusan-Ku, dan buktinya adalah Aku melakukan mukjizat itu.”
Perbedaan Penafsiran ayat-ayat mukjizat yang kontroversial di antara para Mufassir telah
menjadi kajian yang menarik. Hal ini berawal dari prinsip penafsiran kesembilan Sir Ahmad
Khan (1817-1898) terhadap Al-Qur’an. Dikatakan bahwa tidak ada sesuatupun dalam Al-
Qur’an sebagai firman Tuhan (saying of God) yang bertentangan dengan ciptaan Tuhan
(creation of God). Karena Al-Qur’an sebagai firman Tuhan tidak mungkin menyalahi hukum
alam sebagai ciptaan-Nya. Keselarasan keduanya bersifat esensial. Jika firman Tuhan
bertentangan dengan ciptaan-Nya, maka Al-Qur’an tidak layak disebut firman Tuhan yang
suci. Prinsip penafsiran Ahmad Khan ini menghantarkannya pada satu kesimpulan bahwa tidak
satupun dalam Al-Qur’an yang bertentangan dengan hukum alam dan akal. Dengan prinsip ini,
Ahmad Khan telah menolak hal-hal yang bersifat supranatural dalam Al-Qur’an seperti
penjelasan mengenai mukjizat para nabi tidak terkecuali mukjizat Nabi Muhammad saw. Pada
akhirnya, Sir Ahmad Khan mengadopsi pendapat Ibnu Rushd yang mengatakan bahwa antara
kebenaran menurut akal (al-m’aqul) tidak boleh bertentangan dengan kebenaran menurut
wahyu (al-manqul). Jika keduanya terjadi kontradiksi, maka wahyu harus dipahami secara
metaforis.
Senada dengan pemahaman Sir Ahmad Khan adalah Rashid Rida (1865-1935),
mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak akan pernah bertentangan dengan akal sehingga dengan
tegas ia mengingkari semua mukjizat Nabi Muhammad saw kecuali Al-Qur’an. Ia menolak

15
hadis-hadis sekalipun sahih yang menjelaskan tentang mukjizat Nabi Muhammad saw selain
Al-Qur’an. Penolakan itu disebabkan karena mukjizat selain Al-Qur’an tidak sesuai dengan
akal dan kalaupun ia menerima hadis yang menjelaskan tentang mukjizat, maka ia akan
menafsirkan melalui takwil sehingga bisa selaras dengan akal.
Sebetulnya, genetik pemikiran Rashid Rida (1865-1935) tentang mukjizat berakar pada
pemikiran gurunya, Muhammad ‘Abduh (1849-1905), yaitu memberikan keleluasaan
menggunakan akal (al-ra’yu) dalam menafsirkan teks (al-wahyi). Muhammad Abduh
mengemukakan bahwa dalam menyikapi ayat-ayat yang mutashabih, ulama tafsir terbagi
menjadi dua kelompok; pertama adalah mereka yang menafsirkannya dengan cara
menakwilkannya sehingga selaras dengan akal (al-ma’qul). Sementara kelompok kedua adalah
para ulama yang mendiamkannya (al-mauquf). Muhammad ‘Abduh, lebih cenderung memilih
pada kelompok yang pertama. Hal ini bisa dilihat dalam pendapatnya tentang malaikat,
mukjizat dan kejadiaan-kejadian luar biasa lainnya yang diceritakan dalam Al-Qur’an.
Maulana Muhammad Ali (1876-1951), seorang tokoh dan pendiri Ahmadiyah Lahore
tidak berbeda jauh dengan pola penafsiran Ahmad Khan, Muhammad ‘Abduh dan Rashid Rida,
yaitu memberi ruang gerak yang dominan terhadap akal sehingga mengalahkan wahyu.
Muhammad Ali berprinsip bahwa mukjizat yang terjadi pada para nabi bukanlah sesuatu yang
luar biasa dan suprarasional akan tetapi merupakan hal yang rasional. Mukjizat dalam
pengertian sesuatu yang luar biasa adalah bertentangan dengan akal manusia sehingga mustahil
terjadi.
Prinsip ini berbeda jauh dengan pendapat M. Quraish Shihab tentang mukjizat, ia
mengatakan bahwa mukjizat sebagaimana yang didefinisikan oleh para ulama, ialah peristiwa
“luar biasa” yang terjadi dari seseorang yang mengaku Nabi sebagai bukti kenabiannya,
sebagai tantangan terhadap orang yang meragukannya, dan orang yang ditantang tidak mampu
untuk menandingi kehebatan mukjizat tersebut. Pengertian peristiwa yang luar biasa adalah
sesuatu yang berada diluar jangkauan sebab dan akibat yang lumrah terjadi atau yang umum
dalam pandangan manusia. Menurutnya, kemustahilan terbagi menjadi dua, yaitu mustahil
dalam pandangan akal dan mustahil dalam pandangan kebiasaan. Bila dikatakan bahwa 1+1=
11 atau 1 lebih banyak dari 11 maka pernyataan ini mustahil dalam pandangan akal. Namun,
bilamana dikatakan bahwa matahari terbit dari sebelah barat, maka pernyataan ini mustahil
dalam pandangan kebiasaan.
Lebih jauh M. Quraish Shihab berpendapat bahwa secara garis besar mukjizat dapat
dibagi menjadi dua bagian pokok, yaitu mukjizat yang bersifat material inderawi lagi tidak
kekal, dan mukjizat immaterial, logis lagi bisa dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat Nabi-Nabi
terdahulu kesemuanya merupakan jenis mukjizat pertama. Mukjizat mereka bersifat material
dan inderawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan atau dijangkau langsung lewat
indera oleh masyarakat tempat Nabi tersebut menyampaikan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Said Aqil Munawar, bahwa mukjizat terbagi dua yaitu
mukjizat hissi (material dan iderawi) dan mukjizat ma’nawi (immateral dan logis), karakteristik
mukjizat yang kedua ini bersifat immortal, sementara mukjizat yang pertama bersifat temporal.
Dan ia mengutip pendapat ulama bahwa ada lima syarat yang harus dipenuhi hal itu dikatakan
mukjizat, bila salah satu dari kelima itu tidak terpenuhi, maka itu bukanlah mukjizat; pertama

16
mukjizat ialah sesuatu yang tidak sanggup dilakukan oleh siapapun selain Allah, Tuhan Yang
Maha Kuasa. Kedua, Tidak sesuai dengan kebiasaan dan berlawanan dengan hukum alam.
Ketiga, Mukjizat harus menjadi saksi terhadap risalah ilahiyyah yang dibawa oleh orang yang
mengaku Nabi, sebagai bukti akan kebenarannya. Keempat, Terjadi bertepatan dengan
pengakuan Nabi yang mengajak bertanding menggunakan mukjizat tersebut. Kelima, Tidak
ada seorangpun yang dapat membuktikan dan membandingkan dalam pertandingan tersebut.
Keengganan Maulana Muhammad Ali mengakui terjadinya mukjizat yang bersifat
material inderawi dapat dibuktikan dalam menafsirkan Al-Qur’an surah al-Anbiya: 21: 69 yang
berbunyi:

)٩٦( ‫الما َعلَى إيبْ َر ياه َيم‬


‫قُ ْلنَا ََي ََّن ُر ُك يوِن بَ ْرادا َو َس ا‬
“Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim.”

Menurut Muhammad Ali, Al-Qur’an sama sekali tidak menyebutkan secara konkrit bahwa
Nabi Ibrahim as dilempar dan dibakar dalam kobaran api, sehingga Allah mengintruksikan
kepada api agar tidak membakar Nabi Ibrahim as dalam Al-Qur’an surah al-‘Ankabut: 29: 24:

‫يآَيت ليَ ْوٍ يُ ْْيمنُو َن‬


َ َ
‫ي‬
َ ‫اَّللُ يم َن النها ير إي هن يِف ََل‬
‫اب قَ ْويم يه إيال أَ ْن قَالُوا اقْ تُلُوهُ أ َْو ََ يرقُوهُ فَأ ََْْاهُ ه‬
َ ‫فَ َما َكا َن َج َو‬
)١٢(
“Maka tidak ada jawaban kaumnya (Ibrahim), selain mengatakan, “Bunuhlah atau bakarlah dia”,
lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi orang yang beriman.”

Ayat ini menjelaskan bahwa kaum Nabi Ibrahim as memvonis untuk membunuhnya atau
membakarnya, dan Allah menyelamatkan dari kobaran api itu. Akan tetapi dalam ayat tersebut,
tidak terdapat redaksi ayat yang secara konkrit menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim as dibakar.
Dalam Al-Qur’an Surah al-Anbiya: 21: 70:

‫ي‬
َ ‫األخ َس ير‬
)٠٧( ‫ين‬ ُ َ‫َوأ ََر ُادوا بيه َكْي ادا فَ َج َع ْلن‬
ْ ‫اه ُم‬
“Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, Maka Kami menjadikan mereka itu orang-
orang yang paling rugi”.

Diceritakan bahwa kaum Nabi Ibrahim as hendak memperdaya Nabi Ibrahim as akan tetapi
Allah menggagalkannya, dan Maulana Muhammd Ali melanjutkan pada Al-Qur’an surah al-
Saffat: 37: 98:
‫ي‬ ‫ي‬
)٦٩( ‫ني‬
َ ‫األس َفل‬ ُ َ‫فَأ ََر ُادوا بيه َكْي ادا فَ َج َع ْلن‬
ْ ‫اه ُم‬
“Maka mereka bermaksud memperdayainya dengan (membakar)nya, (tetapi Allah
menyelamatkannya), lalu Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.”

Mengacu pada Al-Qur’an surah al-Anbiya: 21: 71 :

17
‫ي ي ي‬
َ ‫ض الهيِت ًَب َرْكنَا ف َيها ل ْل َعالَم‬
)٠٣( ‫ني‬ ْ ‫َوَْهْي نَاهُ َولُوطاا إي ََل‬
‫األر ي‬
“Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Lut ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk
seluruh alam.”

Dijelaskan bahwa Allah swt menyelamatkan Nabi Ibrahim as dari makar mereka dan
merekapun mengalami kehinaan, sedangkan Nabi Ibrahim as dan anak saudaranya Nabi Lut as
hijrah ke negara yang aman yaitu Pelestina atau Sham. Empat ayat diatas merupakan data
otoritatif dan argumentatif bahwa Nabi Ibrahim as tidak dibakar seperti dalam pemahaman
mayoritas penafsir dan kalangan umat Islam lainnya. Menurutnya, pengertian ayat yang
menjelaskan bahwa Allah swt menyelamatkan Nabi Ibrahim as dari api adalah menyelamatkan
dari kejahatan kaumnya dengan memerintahkan hijrah ke negara lain sebagaimana Allah
menyelamatkan Nabi Muhammad saw dari kejahatan kaum musyrik Mekkah dengan
memerintahkan hijrah ke Ethiopia dan Yathrib.
Ini berbeda jauh dengan penafsiran M. Quraish Sihab yang menafsirkan ayat-ayat mukjizat
dengan jelas. Penafsiran M. Quraish Shihab terhadap ayat-ayat mukjizat berangkat dari prinsip-
prinsip penafsiran yang ia bangun, yaitu ketertundukan akal pada wahyu, menurutnya akal dan
wahyu mempunyai wilayah masing-masing. Ia meyakini bahwa peristiwa pembakaran yang
dialami oleh Nabi Ibrahim as itu merupakan suatu peristiwa “keluarbiasan”, yakni diluar
hukum alam yang kita kenal yaitu yang menganut hukum kebiasaan yang sering terjadi
disekitar kita, karena itu kita tidak mengetahui hakikat daripada peristiwa itu. Objek akal adalah
sesuatu yang terjadi dan sering berulang-rulang kemudian melahirkan hukum alam atau
sunnatullah, misalnya air yang mengalir ke tempat yang rendah dan api yang mempunyai daya
bakar serta matahari terbit dari barat, semua itu telah memunculkan teori tentang hukum alam
dan sebab akibat. Hal ini tentu berseberangan dengan pemaknaan mukjizat.
Penilaian bahwa sesuatu itu mustahil karena akal terpaku pada kebiasaan atau hukum
alam yang biasa terjadi di depan mata, atau yang diketahui selama ini. Sehingga, bila ada
sesuatu yang berseberangan dengan jalan yang biasa dilihat atau biasa terjadi, boleh jadi
kemudian ditolak bahkan mustahil. Dari dulu, mustahil menurut pandangan akal seorang nenek
akan melahirkan cucunya. Akan tetapi, kemustahilan itu menjadi rapuh karena kecanggihan
tekhnologi rekayasa genetik. Ia mengutip pernyataan David Hume (1711-1776), seorang
filosof terkenal dari Inggirs menyatakan bahwa cahaya yang kita lihat ketika meletusnya
meriam bukanlah sebab meletusnya meriam. Dan mengutip pendapatnya al Ghazali (1059-
1111) yang berkata bahwa ayam yang berkokok sebelum fajar bukan menjadi sebab terbitnya
fajar. Menurut sementara pemikir lain, mungkin apa yang merupakan kebetulan hari ini, bisa
jadi merupakan proses dari kebiasaan atau hukum alam. ia juga mengutip riwayat yang
mengatakan bahwa Jibril datang ketika itu dan menawarkan pertolongan akan tetapi Nabi
Ibrahim as menolaknya karena ia hanya mengharapkan pertolongan Allah swt.
2. Konsep Tentang Karomah
Karomah sesungguhnya merupakan istilah yang tidak asing bagi umat muslim, dimana
karomah ini merupakan bagian dari agama Islam. Oleh karena hal tersebut, maka Ahlus Sunnah
Wal Jama’ah mempercayai adanya karomah yang dimana karomah ini datangnya dari sisi
Allah. Karomah ini, mau tidak mau akan membentuk kharisma seseorang di mata umat. Islam

18
mengakui tentang konsep karomah. Karomah untuk kiai dan wali sesungguhnya memanglah
ada dan diperbolehkan. Hal ini dikarenakan karomah dianggap sebagai kejadian yang bersifat
asumtif dan datang bukan dengan tujuan untuk merusak akidah. Selain itu, Allah menciptakan
karomah adalah untuk kekasih-kekasih-Nya.
Salah satu keyakinan tentang Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah yakin atau percaya
sepenuhnya akan adanya karomah, yang dimana karomah ini datang dari sisi Allah. Karomah
pada dasarnya merupakan suatu hal yang dianggap bertentangan dengan adat kebiasaan
manusia pada umumnya, dan karomah ini hanya diberikan kepada hamba-hamba Allah yang
sholeh. Menurut Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, karomah adalah pemberian dari
Allah Swt. dalam bentuk pertolongan-Nya yang diberikan kepada seseorang yang membela
agama Allah. Sifat Karomah adalah kejadian di luar batas kemampuan manusia pada
umumnnya atau keluar dari kebiasaan pada umumnnya. Karomah merupakan bagian dari
Mawahib (anugerah) Allah yang didapat tanpa melalui proses usaha juga terjadi hanya sesekali
saja.
Karamah berasal dari bahasa arab ‫ كرم‬berarti kemuliaan, keluhuran, dan anugerah.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengistilahkan karomah dengan keramat
diartikan suci dan dapat mengadakan sesuatu diluar kemampuan manusia biasa karena
ketaqwaanya kepada Tuhan. Menurut ulama sufi, karamah berarti keadaan luar biasa yang
diberikan Allah SWT kepada para wali-Nya. Wali ialah orang yang beriman, bertakwa, dan
beramal shaleh kepada Allah SWT. Ulama’ sufi meyakini bahwa para wali mempunyai
keistimewaan, misalnya kemampuan melihat hal-hal ghaib yang tidak dimiliki oleh manusia
umumnya. Allah SWT dapat memberi karamah kepada orang beriman, takwa, dan beramal
shaleh menurut kehendaknya. Misalnya, Kejadian yang Dialami Seorang Ahli Ilmu pada masa
Nabi Sulaiman a.s. Ketika Nabi Sulaiman a.s. sedang duduk di hadapan dengan para tentaranya
yang terdiri atas manusia, hewan, dan jin, beliau meminta kepada mereka mendatangkan
singgasana Ratu Bulqis. Ada seorang yang berilmu berkata kepada Nabi Sulaiman a.s. menurut
sebuah keterangan, orang yang berilmu itu bernama Asif. Perkataan orang berilmu tersebut
diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya Q. S. an-Naml: 40,

َ ‫يك بِ ِه قَ ْب َل أ َ ْن يَ ْرتَده إِلَي َْك‬


‫ط ْرفُ َك فَلَ هما َرآهُ ُم ْست َ ِق ًّرا ِع ْندَهُ قَا َل‬ َ ِ‫ب أَنَا آت‬ ِ ‫قَا َل الهذِي ِع ْندَهُ ِع ْل ٌم ِمنَ ْال ِكتَا‬
َ ‫ض ِل َر ِبِّي ِل َي ْبلُ َو ِني أَأ َ ْش ُك ُر أ َ ْم أ َ ْكفُ ُر َو َم ْن‬
‫ش َك َر فَإِنه َما يَ ْش ُك ُر ِلنَ ْف ِس ِه َو َم ْن َكفَ َر فَإ ِ هن َر ِبِّي َغنِي‬ ْ َ‫َهذَا ِم ْن ف‬
‫َك ِري ٌم‬
“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa
singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat
singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk
mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa
yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang
siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
Selain itu, kejadian yang Dialami Maryam binti Imran, Nabi Zakaria a.s. menemukan
makanan setiap hadir di mihrab Maryam binti Imran. Allah berfirman dalam Q.S. Ali Imran:
37,

19
َ ‫علَ ْي َها زَ َك ِريها ْال ِم ْح َر‬
َ‫اب َو َجد‬ َ ‫سنا َو َكفهلَ َها زَ َك ِريها ُكله َما دَ َخ َل‬
َ ‫سن َوأ َ ْن َبت َ َها نَبَاتا َح‬
َ ‫فَتَقَبهلَ َها َربُّ َها ِب َقبُول َح‬
‫سا ب‬ َ ‫َّللاَ َي ْر ُز ُق َم ْن َيشَا ُء ِب ََغي ِْر ِح‬ ‫ت ُه َو ِم ْن ِع ْن ِد ه‬
‫َّللاِ ِإ هن ه‬ ْ َ‫ِع ْندَهَا ِر ْزقا قَا َل َيا َم ْر َي ُم أَنهى لَ ِك َهذَا قَال‬

“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan
mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya.
Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria
berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab:
“Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang
dikehendaki-Nya tanpa hisab.”

Peristiwa yang disaksikan Nabi Zakaria a.s. merupakan karamah yang dianugerahkan
Allah SWT kepada maryam binti Imran. Allah SWT mentakdirkan bahwa pengasuh Maryam
adalah pamannya sendiri, yakni Nabi Zakaria a.s. Karomah memang identik dengan hal-hal
yang tidak masuk nalar. Akan tetapi ia adalah nyata dan haqq, seperti halnya mukjizat para
nabi. Bedanya, jika mukjizat disertai dengan pengakuan kenabian (nubuwwah), pada karomah
hal itu tidak ada. Karomah ini oleh Allah diberikan kepada para wali yang benar-benar beriman
dan bertakwa hanya kepada Allah. Firma Allah mengenai sifat-sifat dari wali Allah ini yaitu
sebagai berikut:

َ‫علَي ِهم َو ََل ُهم َيحزَ نُونَ ٱلَّذِينَ َءا َمنُواْ َو َكانُواْ يَتَّقُون‬ َّ ‫َل ِإ َّن أَو ِل َيا ٓ َء‬
ٌ ‫ٱَّللِ ََل خَو‬
َ ‫ف‬ ٓ َ َ‫أ‬
“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan
tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa
bertaqwa”. (QS. Yunus: 62-63).

Berdasarkan ayat di atas, diketahui bahwa sifat-sifat dari wali Allah yaitu: “Orang-
orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya
dan hari akhir serta beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” Menurut Imam al-
Qusyairi dalam ar-Risalah, seorang wali tidak akan merasa nyaman dan peduli terhadap
karomah yang dianugerahkan kepadanya. Meskipun demikian, kadang-kadang dengan adanya
karomah, keyakinan mereka semakin bertambah sebab mereka meyakini bahwa semuanya itu
berasal dari Allah.
Pengertian dari karomah itu sendiri menurut Abul Qasim al-Qusyairi yaitu karomah
merupakan suatu aktivitas yang dianggap sebagai hal yang bertentangan dengan adat kebiasaan
manusia pada umumnya, yaitu dapat juga dianggap sebagai realitas sifat wali-wali Allah
tentang sebuah makna kebenaran dalam situasi yang dianggap kurang baik. Karomah ini juga
dapat dianggap sebagai hal yang sangat luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada kekasih-
kekasih pilihanNya. Sedangkan menurut Syeck Ibrahim Al Bajuri dalam kitabnya dijelaskan
bahwa karomah adalah sesuatu luar biasa yang tampak dari kekuasaan seorang hamba yang
telah jelas kebaikannya yang diteyapkan karena adanya ketekunan didalam mengikuti syariat
nabi.
Selanjutnya Said Hawwa juga menjelaskan bahwa karomah memang benar-benar telah
terjadi dan akan tetap terjadi pada wilayah tasawuf. Karomah juga bisa terjadi pada orang yang
belum sempurna istiqamahnya. Tapi bagi orang-orang yang benar-benar lurus, istiqamah, dan

20
tampak karomahnya, barangkali karomahnya tersebut identik dengan tanda kewalian. Karomah
dapat berarti juga peristiwa yang luar biasa, yang keluar dari hukum alam. Namun karomah
tersebut dapat pula berarti merupakan akibat dari suatu sebab tapi masih dalam lingkup
manifestasi taufik Allah.
Adapun dalam kitab Jauharut Tauhid karya Syaik Ibrahim al-Laqqani ini sendiri
tertulis atau tergambar berbagai macam tokoh atas bermacam-macam karomah, yaitu dimana
salah satunya ialah kisah dari pada Ashabul Kahfi yakni ketujuh orang pemuda keturunan
bangsawan dari Rum yang sangat mengkhawatirkan keimanan mereka. Peristiwa ini terjadi
sesudah zaman Nabi Isa A.S. Raja mereka tidak sepaham bahkan sangat benci sekali dengan
apa yang mereka yakini. Mereka pun keluar menjauhi kerajaan dan masuk kedalam gua lalu
tertidur didalamnya selama 309 tahun. Dan itulah salah satu dari pada bentuk karomah yang
ada dalam islam versi kitab Jauharut Tauhid karangan Syaikh Ibrahim Al-Laqqani. Adapun
jika kita mengambil contoh lain ialah kejadian yang dialami oleh Maryam Binti Imran R.A.
yang selalu mendapatkan makanan di Mihrab, sedangkan Maryam sendiri tidak pernah keluar
dari Mihrab. Hal ini diabadikan dalam Q.S. Al-Imran ayat 37. Selain itu, kejadian pada Amir
Bin Fuhairah ketika wafat, jasadnya diangkat oleh para malaikat dan disaksikan oleh para
sahabatnya Amir bin Thufail.
Kemudian pada buku Meluruskan Pemahaman Tentang Wali karya Abu Fajar
Alqalami, dijelaskan bahwa karomah atau kekeramatan disebut juga khariqul ’adah, yaitu suatu
kejadian yang dianggap luar biasa. Karomah ini diberikan oleh Allah kepada kekasih-kekasih
pilihanNya yang bertakwa, shalih sebagai hujjah agamaNya dan untuk menolong mereka dari
usuh-musuh Allah, sebagaimana mukjizat para nabi sebagai hujjah orang-orang yang ingkar
kepada Allah. Lebih lanjut lagi, dijelaskan bahwa menurut arti asalnya karomah ialah
kemuliaan atau kemurahan hati. Sedangkan menurut istilah perwalian, karomah mempunyai
makna kejadian luar biasa (khairqul’adah) yang terjadi pada wali (kekasih-kekasih Allah).
Karomah pemberian Allah itu pada dasarnya adalah sebagian dari mukjizat-mikjizat para
nabiNya. Sebagian mukjizat Nabi Muhammad SAW diantaranya yaitu Nabi Muhammad SAW
dapat membelah bulan dengan ijin Allah (HR. Bukhari dan Muslim), dan batu-batu kerikil tiba-
tiba mengucapkan tasbih ketika dipegang dan diletakkan ditelapak tangan Nabi SAW (HR.
Bazzar dari Abu Dzar). Di samping itu, ada juga sahabat-sahabat Nabi yang termasuk dalam
kategori wali Allah dan mempunyai karomah dalam dirinya. Wali Allah sama sekali tidak
pernah dengan sengaja menampakkan kekeramatannya di depan orang banyak sekedar agar
mendapat pujian. Namun kekeramatannya itu muncul karena hujjah atau dalam keadaan
terpaksa.
Adapun bilamana ada seorang wali Allah yang dimana dirinya hanya mengharapkan
untuk mendapatkan karomah, maka wali tersebut tidak termasuk dalam golongan wali yang
tinggi derajatnya. Ibnu Athaillah pernah mengatakan bahwa: “Kemahuan yang tinggi tidak
sampai menembusi tembok-tembok takdir.” Maksud dari perkataan Ibnu Athaillah ini adalah
karomah tidak akan bertentangan dengan takdir yang telah ditetapkan, karena semua yang
terjadi di alam raya ini baik hal biasa maupun hal yang luar biasa sumber utamanya adalah
takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Oleh karena hal tersebut, maka pada umumnya apa-
apa kemauan dari wali tidaklah pernah bertentangan dengan takdir yang telah ditetapkan
tersebut.

21
Selanjutnya, sebagian ciri-ciri seorang hamba yang memiliki karomah diantaranya
yaitu: (1) tidak memiliki doa-doa khusus sebagai suatu bacaan; (2) karomah hanya terjadi pada
seorang yang sholeh; (3) seseorang yang memiliki karomah tidak pernah secara sengaja
mengaku-ngaku bahwa dirinya memiliki karomah. Maksud atau tujuan dari pemberian
karomah tersebut kepada para wali ialah: (1) dapat lebih meningkatkan keimanan kepada
Allah; (2) masyarakat menjadi lebih percaya kepada seorang wali Allah, yang senantiasa
meneruskan perjuangan nabi Muhammad SAW; dan (3) karomah merupakan bukti nyata
meninggikan derajat seorang wali agar dirinya selalu tetap istiqomah di jalan Allah.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, pada penelitian ini peneliti hendak
mengkaji lebih jauh mengenai konsep karomah berdasarkan kitab Jauharut Tauhid karya Syaik
Ibrahim al-Laqqani dan buku Meluruskan Pemahaman Tentang Wali Karya Abu Fajar
Alqalami. Hal ini bertujuan untuk membandingkan bagaimanakah konsep karomah antara
keduanya dengan dihubungkan pada kehidupan nyata sekarang ini. Dengan mengetahui konsep
karomah tersebut, diharapkan hal ini akan dapat meningkatkan keimanan serta ketaqwaan
kepada Allah SWT, serta tidak akan salah mengenai konsep karomah sesungguhnya,
mengingat di era modern ini ditemukan banyak orang-orang yang mengaku-ngaku dirinya
memiliki karomah.
Banyak diskusi tentang perwalian menjadi berhenti karena takut salah membahas. Atau
diskusi perwalian menjadi dangkal karena bahan materi yang tersedia tidak terlalu banyak.
Termasuk diskusi perwalian menjadi terhambat karena yang mengajak diskusi bukan wali dan
dihentikan dengan kalimat “la ya’rifu al-wali illa al-wali”, tidak mengetahui kewalian
seseorang kecuali seseorang wali”. Nampaknya memang suasana yang demikian butuh
pencerahan. Satu sisi memang positif bahwa membincang soal wali bukan hanya sekedar bicara
individu manusia saja. Akan tetapi lebih luas karena wali merupakan orang pilihan dan harus
dihormati. Namun jika diskusi membahas wali itu berhenti, maka generasi yang akan datang
tidak akan mendapat kisah tentang wali-wali dan bakal tersimpan rapat oleh generasi
tua. Bagaimana Syekh Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat)
memberi dasar tentang pemahaman wali dan karomahnya? Diantara penjelasan Mbah Sholeh
Darat tentang wali dan karamah adalah dalam syarh nadzam Jauhar al-Tauhid Syekh Ibrahim
Allaqani:
.‫واثبتن لالوليإ الكرامة ٭ ومن نفاها انبذن كالمه‬
Wali menurut Mbah Sholeh Darat adalah seorang ‘arif billah (mengetahui Allah)
sekedar derajat dengan menjalankan secara sungguh-sunggu taat kepada Allah dan menjauhi
ma’siyat. Artinya para wali itu menjauhi segala macam kemaksiyatan berbarengan dengan
selalu bertaubat kepada Allah. Sebab wali itu belum kategori ma’shumin (terjaga) seperti Nabi.
Maka wali belum bisa meninggalkan ma’siyat secara penuh. Makanya mereka disebut
waliyullah. Keberadaan wali yang sedemikian agung ini mendapatkan keistimewaan dalam
hidupnya. Mereka dalam hidupnya selalu mengingat dan menggantungkan diri, dan
menyatukannya pada Allah. Hati selalu menghadap dan pasrah dengan taqdir Allah saja. Itulah
definisi sederhana mengenai wali menurut Mbah Sholeh Darat.
Adapun karomah menurut Mbah Sholeh Darat sesuatu yang nulayani adat (berbeda dari
sewajarnya) jika dilihat secara kasat mata. Mereka yang mendapat karomah selalu
menunjukkan kepribadian baik dan meniru jejak Rasulullah dengan bekal syariah dan baik

22
secara ideologi serta perilakunya. Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya nampak
ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah. Dan bagi pengikut
ahlussunnah wal jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu
diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang
ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat.
Para ulama muhaqqiqin menyampaikan: “Barangsiapa yang tidak nampak karamanya
setelah meninggal sebagaimana karamah ketika masih hidup, maka itu tidak benar”. Imam
Sya’roni juga berpesan kepada para Syaikh: “Sesungguhnya Allah SWT itu selalu membuat
wakil berupa satu malaikat di dalam kuburnya para wali, yang bertugas mengabulkan seluruh
hajat manusia”. Selain itu, seorang waliyullah juga terkadang keluar dari kuburnya untuk
mengabulkan hajat manusia yang meminta hajat sebagaimana persaksian karomah para wali
itu secara kasat mata (musyahada karamah al-auliya’). Sebagaimana Sayyid Al Aidarusi Al
Adnani, Shahib Al Tubani, Sayyid Abdul Qadir Al Jilani, Sayyid Ahmad Al Badawi.
Satu pertanyaan yang dimunculkan oleh Mbah Sholeh Darat dalam Kitab Sabil Al ‘Abid
adalah: “Kenapa zaman akhir para wali banyak kelihatan karomahnya? Dan kenapa zaman
Sahabat dan Tabi’in tidak nampak wujud karomah wali?” Oleh Mbah Sholeh dijawab, bahwa
zaman akhir ditunjukkan banyak karomah karena manusia di zaman akhir banyak kesalahan
(dla’if) keyakinan agamanya. Maka mereka didampingi oleh para wali dengan karomahnya
agar semakin kuat keyakinan agamanya dan patuh kepada orang shalih. Dengan demikian,
generasi zaman akhir tidak mudah menghina para orang-orang sholih.
Berbeda dengan orang-orang zaman al-awwalin (periode Sahabat dan Tabi’in) yang
dalam hidupnya masih sangat yakin kepada orang-orang shalih. Sehingga karamah para wali
tidak diperlihatkan. Apalagi pada zaman Sahabat, dimana Rasulullah SAW masih hidup
bersama mereka. Penjelasan Mbah Sholeh tentang wali ini merupakan dasar dari pemaknaan
kata wali dan karomah cukup memberikan pencerahan. Penjelasan lengkap mengenai wali
dalam karya tulis Mbah Sholeh Darat terdapat dalam Kitab Minhaj al-Atqiya’ fi Syarh Ma’rifah
al-Adzkiya il Thariqi al-Auliya’ (tebalnya kitab ini 516 halaman). Ini menjadi ‘ibrah bahwa
generasi masa kini hendaknya menghormati orang shalih dan selalu ingin dekat kepada orang
terkasih. Derajat wali pada hakikatnya titipan dari Allah, bukan predikat yang dipasang secara
mandiri dan diumumkan.

3. Konsepsi Tentang Sihir


Sihir dalam bahasa Arab tersusun dari huruf ‫ س‬,‫ ح‬,‫( ر‬siin, ha, dan ra), yang secara
bahasa bermakna segala sesuatu yang sebabnya nampak samar. Oleh karenanya kita mengenal
istilah ‘waktu sahur’ yang memiliki akar kata yang sama, yaitu siin, ha dan ra, yang artinya
waktu ketika segala sesuatu nampak samar dan remang-remang. Seorang pakar bahasa, al-
Azhari mengatakan bahwa, “Akar kata sihir maknanya adalah memalingkan sesuatu dari
hakikatnya. Maka ketika ada seorang menampakkan keburukan dengan tampilan kebaikan dan
menampilkan sesuatu dalam tampilan yang tidak senyatanya maka dikatakan dia telah menyihir
sesuatu”.
Para ulama memiliki pendapat yang beraneka ragam dalam memaknai kata ‘sihir’
secara istilah. Sebagian ulama mengatakan bahwa sihir adalah benar-benar terjadi ‘riil’, dan
memiliki hakikat. Artinya, sihir memiliki pengaruh yang benar-benar terjadi dan dirasakan oleh
orang yang terkena sihir. Ibnul Qudamah rahimahullah mengatakan, “Sihir adalah jampi atau

23
mantra yang memberikan pengaruh baik secara zhohir maupun batin, semisal membuat orang
lain menjadi sakit, atau bahkan membunuhnya, memisahkan pasangan suami istri, atau
membuat istri orang lain mencintai dirinya.” Namun ada ulama lain yang menjelaskan bahwa
sihir hanyalah pengelabuan dan tipuan mata semata, tanpa ada hakikatnya. Sebagaimana
dikatakan oleh Abu Bakr Ar Rozi, “(Sihir) adalah segala sesuatu yang sebabnya samar dan
bersifat mengalabui, tanpa adanya hakikat, dan terjadi sebagaimana muslihat dan tipu daya
semata.”
Al-Laits mengatakan, Sihir adalah suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada
syaitan dengan bantuannya. Al-Azhari mengemukakan, Dasar pokok sihir adalah memalingkan
sesuatu dari hakikat yang sebenarnya kepada yang lainnya. Ibnu Manzur berkata: Seakan-akan
tukang sihir memperlihatkan kebathilan dalam wujud kebenaran dan menggambarkan sesuatu
tidak seperti hakikat yang sebenarnya. Dengan demikian, dia telah menyihir sesuatu dari
hakikat yang sebenarnya atau memalingkannya. Syamir meriwayatkan dari Ibnu Aisyah, dia
mengatakan bahwa orang Arab menyebut sihir itu dengan kata as-Sihr karena ia
menghilangkan kesehatan menjadi sakit.
Ibnu Faris mengemukakan, Sihir berarti menampakkan kebathilan dalam wujud
kebenaran. Di dalam kitab al-Mu’jamul Wasīth disebutkan bahwa sihir adalah sesuatu yang
dilakukan secara lembut dan sangat terselubung. Sedangkan di dalam kitab Muhīthul Muhīth
disebutkan, sihir adalah tindakan memperlihatkan sesuatu dengan penampilan yang paling
bagus, sehingga bisa menipu manusia. Fakhruddin ar-Razi mengemukakan, menurut istilah
Syari’at, sihir hanya khusus berkenaan dengan segala sesuatu yang sebabnya tidak terlihat dan
digambarkan tidak seperti hakikat yang sebenarnya, serta berlangsung melalui tipu daya.
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan, Sihir adalah ikatan-ikatan, jampi-jampi,
perkataan yang dilontarkan secara lisan maupun tulisan, atau melakukan sesuatu yang
mempengaruhi badan, hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa berinteraksi langsung
dengannya. Sihir ini mempunyai hakikat, diantaranya ada yang bisa mematikan, membuat
sakit, membuat seorang suami tidak dapat mencampuri istrinya atau memisahkan pasangan
suami istri, atau membuat salah satu pihak membenci lainnya atau membuat kedua belah pihak
saling mencintainya. Ibnul Qayyim mengungkapkan, Sihir adalah gabungan dari berbagai
pengaruh ruh-ruh jahat, serta interaksi berbagai kekuatan alam dengannya. Dapat disimpulkan
bahwa Sihir adalah kesepakatan antara tukang sihir dan syaitan dengan ketentuan bahwa
tukang sihir akan melakukan berbagai keharaman atau kesyirikan dengan imbalan pemberian
pertolongan syaitan kepadanya dan ketaatan untuk melakukan apa saja yang dimintanya.
Di antara tukang sihir itu ada yang menempelkan mushhaf di kedua kakinya, kemudian
ia memasuki WC. Ada yang menulis ayat-ayat al-Qur’an dengan kotoran. Ada juga yang
menulis ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan darah haid. Juga ada yang menulis ayat-ayat
al-Qur’an di kedua telapak kakinya. Ada juga yang menulis Surat al-Faatihah terbalik. Juga
ada yang mengerjakan sholat tanpa berwudhu’. Ada yang tetap dalam keadaan junub terus-
menerus. Serta ada yang menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada syaitan dengan
dengan tidak menyebut nama Allah pada saat menyembelih, lalu membuang sembelihan itu ke
suatu tempat yang telah ditentukan syaitan. Dan ada juga yang berbicara dengan binatang-
binatang dan bersujud kepadanya. Serta ada juga yang menulis mantra dengan lafazh-lafazh
yang mengandung berbagai makna kekufuran.

24
Dari sini, tampak jelas oleh kita bahwa jin itu tidak akan membantu dan tidak juga
mengabdi kepada seorang penyihir kecuali dengan memberikan imbalan. Setiap kali seorang
penyihir meningkatkan kekufuran, maka syaitan akan lebih taat kepadanya dan lebih cepat
melaksanakan perintahnya. Dan jika tukang sihir tidak sungguh-sungguh melaksanakan
berbagai hal yang bersifat kufur yang diperintahkan syaitan, maka syaitan akan menolak
mengabdi kepadanya serta menentang perintahnya. Dengan demikian, tukang sihir dan syaitan
merupakan teman setia yang bertemu dalam rangka perbuatan kemaksitan kepada Allah.
Jika anda perhatikan wajah tukang sihir, maka dengan jelas anda akan melihat
kebenaran apa yang telah saya sampaikan, dimana anda akan mendapatkan gelapnya kekufuran
yang memenuhi wajahnya, seakan-akan ia merupakan awan hitam yang pekat. Jika anda
mengenali tukang sihir dari dekat, maka anda akan mendapatkannya hidup dalam kesengsaraan
jiwa bersama istri dan anak-anaknya, bahkan dengan dirinya sendri sekalipun. Dia tidak bisa
tidur nyenyak dan terus merasa gelisah, bahkan dia akan senantiasa merasa cemas dalam tidur.
Selain itu seringkali syaitan-syaitan itu akan menyakiti anak-anaknya atau istrinya serta
menimbulkan perpecahan dan perselisihan di antara mereka. Mahabesar Allah Yang
Mahaagung yang telah berfirman:

َ ‫َو َم ْن أَع َْر‬


َ ‫ض َع ْن ِذ ْك ِري فَإ ِ هن لَهُ َم ِعيشَة‬
‫ض ْنكا‬
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit”. [Thāhā: 124].

Dunia sihir dan perdukunan telah tersebar di tengah-tengah masyarakat, mulai dari
masyarakat desa hingga menjamah ke daerah kota. Mulai dari sihir pelet, santet, dan “aji-
aji” lainnya. Berbagai komentar dan cara pandang pun mulai bermunculan terkait masalah
tukang sihir dan ‘antek-antek’-nya. Sebagai seorang muslim, tidaklah kita memandang
sesuatu melainkan dengan kaca mata syariat, terlebih dalam perkara-perkara ghaib, seperti
sihir dan yang semisalnya. Marilah kita melihat bagaimanakah syariat Islam yang mulia ini
memandang dunia sihir dan ‘antek-antek’-nya.

25