Anda di halaman 1dari 7

PENDALAMAN MATERI

(Lembar Kerja Resume Modul)

A. Judul Modul : Ariyah, Jual Beli, Khiyar, Riba


B. Kegiatan Belajar : Ariyah (Kb 1)

C. Refleksi

NO BUTIR REFLEKSI RESPON/JAWABAN


Pengertian dan Hukum ‘Ariyah
Empat mazhab Fikih memiliki pengertian yang berbeda namun
hampir sama. Mazhab Hanafiyah memiliki dua pengertian.
Pertama: ‫بغي عوض‬
‫تمليك المنافع ر‬
Memilikkan manfaat pada orang lain tanpa harus ada ganti rugi.
Kedua: ‫الغي‬
‫اباحة االنتفاع بملك ر‬
Mengijinkan mendapat manfaat dari hak milik orang lain.
Menurut Malikiyah, ‘ariyah juga memiliki dua pendapat Pertama:
‫بغي عوض‬ ‫تمليك منافع ر ن‬
‫العي ر‬
Peta Konsep Memilikkan berbagai manfaat dari suatu benda tanpa harus ada
ganti rugi, Kedua:‫تمليك منفعة موقتة بال عوض‬
1. Pengertian dan Hukum
“Memilikkan manfaat dalam tempo tertentu tanpa ada ganti
‘Ariyah rugi,
2. Rukun dan Syarat ‘Ariyah
Menurut Syafi’iyah, ‘ariyah juga memiliki dua pendapat.
3. Macam-macam ‘Ariyah
1
dan Tanggung Jawab ‫هبة المنافع مع استيفاء ملك الرقبة‬Pertama:
Atasnya Memberikan manfaat (kepada orang lain) dengan mengembalikan
4. Konsekuensi Hukum atas pemiliknya, Kedua:
‘Ariyah 1. Pertentangan
Perspektif Antara Mu’ir ‫اباحة االنتفاع بما يحل االنتفاع به مع بقاء عينه رليده‬
dan Musta’ir Mengijinkan mendapat manfaat dari barang yang memiliki
manfaat dengan catatan wujud barang tersebut tetap demi
bisa mengembalikannya.
Menurut Hanabilah, ‘ariyah juga memiliki dua pendapat.
Pertama:
‫اباحة االنتفاع ر ن‬
‫بعي من أعيان المال‬
Membolehkan mendapat manfaat atas sebuah barang yang
termasuk dari harta kekayaan. Kedua: ‫بغي‬
‫اباحة المنافع ر‬
‫عو ض‬
Membolehkan (seseorang mendapat) manfaat tanpa ada
keharusan ganti.
Selain Imam empat mazhab, ada juga ulama lain seperti Ibnu
Rif’ah yang berpendapat bahwa ‘ariyah adalah membolehkan
seseorang mengambil manfaat dari suatu barang dengan jalan
yang halal, namun wujud barang tersebut harus utuh dan dapat
dikembalikan pada pemiliknya. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa
‘ariyah bagian dari tolong menolong. Sementara hukum tolong
menolong adalah sunah. Pinjaman adalah bagian dari amal
kebaikan yang merupakan manifestasi konkrit dari prinsip
tolong-menolong. Allah mencela manusia yang enggan tolong
menolong sesamanya.
Sebagaimana Ibnu Katsir, Sayyid Sabiq juga mengatakan bahwa
tolong menolong dalam ‘ariyah adalah amalan sunah. Hal senada
disampaikan oleh ulama lain seperti al-Ruyani yang dikutip oleh
Taqiyuddin, bahwa hukum ‘ariyah adalah wajib ketika Islam baru
bangkit. Adapun ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan
-٢-
‘ariyah atau pinjam-meminjam ini adalah sebagai berikut:
ْ ّْْ ِّ َ ْ َ َ َ ْ َّ َ ِّ َ ْ َ َ َ
ِِ‫وت عاونوا عىل ال رب والت قوى وال ت عاونوا عىل اِّلث‬
ِّ ْ ُ َ
‫العد َوان و‬‫و‬
Dan tolong menolonglah kamu untuk berbuat kebaikan dan taqwa
dan janganlah kamu tolong menolong untuk berbuat dosa dan
permusuhan.” (QS al-Maidah/5: 2) Sedangkan dalil hadis sebagai
‫ن‬
berikut: ‫ عن ي‬:‫رض هللا عنه‬
‫النب صىل هللا عليه‬ ‫أب هريرة ي‬‫عن ي‬
‫وسلم قال )من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدى‬
(‫هللا عنه ومن أخذ يريد إتالفها أتلفه هللا‬
Dari Abi Hurairah r.a. dari Nabi saw. bersabda, Siapa yang
meminjam harta manusia dengan kehendak membayarnya maka
Allah akan membayarkannya, barang siapa yang meminjam
hendak melenyapkannya, maka Allah akan melenyapkan
hartanya” (HR. Bukhari).
Dengan demikian, Islam sesungguhnya sangat menganjurkan
untuk saling tolong menolong pada hambanya. ‘ariyah (pinjam
meminjam) adalah bentuk dari sikap dan perilaku tolong
menolong. Jadi, ‘ariyah merupakan ajaran Islam yang perlu
dikembangkan dalam interaksi sosial kehidupan umat.

Rukun dan Syarat ‘Ariyah


Berikut ini adalah rukun-rukun ‘ariyah.
1. Mu’ir
Mu’ir adalah pihak yang meminjamkan atau mengizinkan
penggunaan barang untuk dimanfaatkan oleh orang lain.
Beberapa syarat yang harus ada pada mu’ir yaitu Ahli al-Tabarru
(memiliki hak penuh untuk memberikan izin atas pemanfaatan
barang), Mukhtar (tidak dalam keadaan dipaksa oleh pihak lain)
2. Musta’ir
Musta’ir adalah pihak yang meminjam barang atau orang yang
mendapat izin untuk menggunakan barang. Beberapa syarat yang
harus ada pada musta’ir adalah sebagai berikut: Sah mendapat
hak penggunaan barang setelah melalui akad tabarru’. Seseorang
yang tidak melewati akad tabarru’ maka tidak dapat dianggap
sebagai musta’ir sehingga ia tidak bisa menggunakan barang
untuk diambil manfaatnya.
Mua’yan, yakni jelas dan tertentu. Orang yang meminjam harus
jelas identitasnya, nama dan alamatnya, serta identitas-identitas
lain yang menutup kemungkinan untuk menghilangkan barang
atau menghilangkan kemungkinan pengrusakan atas barang
tanpa tanggung jawab.

3. Musta’ar
Musta’ar adalah barang yang dipinjamkan. Jadi, barang yang
manfaatnya sudah diizinkan untuk dipergunakan oleh musta’ir
disebut sebagai musta’ar. Beberapa syarat yang harus ada dalam
musta’ar adalah sebagai berikut:
Berpotensi dimanfaatkan. Jadi, barang yang tidak mengandung
nilai guna atau nilai manfaat maka tidak bisa dipinjamkan;
Manfaat barang merupakan milik pihak mu’ir. Jika manfaat
barang bukan milik mu’ir, maka barang tersebut tidak bisa
dipinjamkan. Contoh, sepetak lahan disewakan oleh A kepada B.
Sekalipun lahan tersebut berstatus milik A, tetapi manfaatnya
sudah milik pihak B. Jadi, C sudah tidak bisa mengambil manfaat
pada lahan itu. Syar’i, yaitu pemanfaatannya sudah legal
secara agama. Jika suatu barang mengandung nilai guna yang
tidak dibenarkan oleh agama, maka tidak boleh dipinjamkan.
Maqsudah, yaitu manfaat barang memiliki nilai ekonomis.
Jika ghairu maqsudhah, maka barang tidak bisa dipinjamkan.
Misalnya, sebutir debu atau lainnya. Pemanfaatannya tidak
berkonsekuensi mengurangi fisik barang.
3. Shighah
Shighah dalam akad ‘ariyah adalah bahasa komunikasi atau
ucapan. Sighah berfungsi sebagai penegas bahwa akad ‘ariyah
sudah dijalankan dengan baik dan benar. Sighah di sini bisa
meliputi ijab dan qabul. Ijab berarti ucapan dari mu’ir bahwa
dirinya meminjamkan barang yang mengandung nilai guna pada
mu’ar, sedangkan qabul adalah pernyataan yang menunjukkan
bahwa mu’ar telah mendapatkan izin untuk mengambil manfaat
dari barang milik mu’ir.

Macam-macam ‘Ariyah dan Tanggung Jawab Atasnya

Setelah mempelajari tentang rukun dan syarat transaksi ‘ariyah


yang benar menurut aturan hukum Islam, muncul pertanyaan:
seberapa lama seseorang berhak meminjam barang dan sejauh
mana barang bisa dimanfaatkan? Pertanyaan tentang tempo dan
ruang pemanfaatan barang ini mengantarkan pada konsep baru
tentang ‘ariyah. Ada batasan atau tidak adanya batasan atas
barang yang dipinjamkan merupakan bahasan tersendiri dalam
ilmu fikih.

1. Macam-macam ‘Ariyah
Terdapat dua macam ‘ariyah yaitu: ‘ariyah muqayyadah dan
‘ariyah muthlaqah.
a. ‘Ariyah Muqayyadah
‘Ariyah Muqayyadah adalah bentuk pinjam-meminjam barang
yang bersifat terikat dengan batasan-batasan tertentu. Dengan
adanya batasan ini, maka peminjaman barang harus mengikuti
batasan yang telah ditentukan atau disepakati bersama.
Pembatasan dapat berupa apa saja, baik itu pembatasan waktu
atau tempat maupun poin-poin lain yang disepakati bersama
sejak awal. Apabila batasan-batasan ini telah dilanggar, maka
pelanggar bisa dijatuhi hukuman, setidaknya dihukumi bersalah.
Dengan demikian, jika pemilik barang mensyaratkan pembatasan
waktu, tempat, atau batasan lain tersebut, maka seseorang tidak
memililki pilihan lain selain mentaatinya. Contoh, mobil hanya
boleh dipinjam sehari dalam radius 100 kilometer. Batasan waktu
dan jarak tempuh untuk mobil ini harus ditaati oleh peminjam
barang.
‘Ariyah muqayyadah ini biasanya berlaku pada objek yang bernilai
besar, sehingga mu’ir merasa khawatir atas musta’ir jika tidak
diberi batasan semacam itu. Namun, jika pembatasan dari mu’ir
menyebabkan musta’ir tidak dapat mengambil manfaat dari
barang pinjamannya, maka pembatasan itu tidak berlaku. Contoh,
mobil hanya dibolehkan dipakai dalam radius 100 kilometer,
sedangkan kebutuhannya 1.000 km. Pembatasan yang mustahil
semacam ini memembatalkan pembatasan. Dengan demikian,
musta’ir boleh melanggar batasan selama terdapat kesulitan
untuk memanfaatkan barang pinjaman. Contoh, A meminjam
mobil pada B selama 24 jam. Tibatiba, di sebuah perjalanan terjadi
kecelakaan yang tidak memungkinkan musta’ir (A) untuk
mengembalikan mobil pada mu’ir (B) dalam jangka waktu 24 jam.
Sebab, mobil harus masuk bengkel dan menjalani reparasi dalam
durasi waktu yang lebih lama. Tanpa sepengetahuan dan seizin
mu’ir pun, musta’ir boleh melebihi batas waktu 24 jam.

Jika ada perbedaan pendapat antara mu’ir dan musta’ir tentang


lamanya waktu meminjam, berat/nilai barang, tempat, dan jenis
barang, maka pendapat yang harus dimenangkan adalah
pendapat mu’ir karena dialah pemberi izin untuk mengambil
manfaat barang pinjaman tersebut sesuai dengan keinginannya.
Menurut jumhur ulama, dalam konteks ‘ariyah muqayyadah,
musta’ir hanya boleh memakai barang sesuai ijin mu’ir. b. ‘Ariyah
Muthlaqah
‘Ariyah muthlaqah adalah bentuk pinjam-meminjam barang yang
tidak dibatasi oleh ketentuan apapun. Melalui akad ‘ariyah ini,
musta’ir diberi kebebasan untuk memanfaatkan barang pinjaman
selama apapun dan dalam ruang seluas apapun. Jika A
menyerahkan mobil pada B tanpa ada kesepakatan berupa
pembatasan apapun, maka B berhak menggunakan mobil berapa
hari pun dan sejauh mana pun.
Apabila dalam akad tidak disebutkan hal-hal yang berkaitan
dengan penggunaan kendaraan mobil tersebut, misalnya terkait
waktu dan tempat mengendarainya, maka praktek tersebut
dikenal dengan ‘ariyah muthlaqah. ‘Ariyah muthlaqah ini sering
terjadi di kalangan mu’ir atau musta’ir yang sudah saling percaya
satu sama lain. Karena itulah, hukum adat menjadi berlaku. Batas
waktu dan batas ruang harus disesuaikan dengan kebiasaan yang
berlaku di masyarakat. Tidak boleh menggunakan kendaraan
tersebut siang malam tanpa henti, dan dalam radius yang sangat
jauh tanpa kendali. Jika penggunaannya tidak sesuai dengan
kebiasaan dan barang pinjaman rusak, maka mu’ir harus
bertanggung jawab. Menurut ulama Mazhab Hanafiyah, dalam
status ‘ariyah muthlaqah, musta’ir berperan sepenuhnya sebagai
malik atau pemilik barang.
2. Tanggung Jawab atas Barang Pinjaman
Hal penting lain yang harus diperhatikan oleh musta’ir adalah soal
biaya atau nafakah barang pinjaman. Ulama Hanafiyah
mengatakan, musta’ar atau barang pinjaman itu adalah
sepenuhnya amanah dan tanggung jawab musta’ir atau si
peminjam dalam situasi atau momen-momen pemanfaatan.
Sebaliknya, di luar momen pemanfaatan, maka barang pinjaman
bukan tanggung jawab musta’ir, kecuali sengaja lalai dan abai.
Sebab, pada diri si peminjam itu sendiri tidak ada alasan untuk
menanggung beban tanggung jawab, kecuali sejak awal sudah
masuk kategori ‘ariyah muqayyadah. Contoh, A boleh memakai
mobil milik B dengan catatan jika hilang atau rusak, baik lalai atau
sengaja, maka wajib ganti. Ini sudah masuk kategori muqayyadah
Jumhur ulama mengatakan bahwa barang pinjaman sepenuhnya
berada di bawah tanggung jawab si peminjam atau musta’ir, baik
sengaja atau tidak, sesuai nominal barang saat terjadi kerusakan.
Sebab, ada sabda Nabi: “ariyah itu tanggung jawab,” (HR. Abu
Daud, Nasai, Ahmad dan Hakim). Jadi, tidak ada alasan lain selain
bertanggung jawab sepenuhnya.
Konsekuensi Hukum ‘Ariyah
1. Pertentangan Perspektif Antara Mu’ir dan Musta’ir
Barang pinjaman atau musta’ar adalah barang yang bisa
mendatangkan manfaat bila dipakai dalam jangka waktu tertentu
dan di ruang tertentu. Barang tersebut pada dasarnya adalah milik
dari seorang pemberi pinjaman atau mu’ir, dan berpindah tangan
kepada orang yang meminjam atau musta’ir. Apabila di tengah
perjalanan tiba-tiba ada perubahaan perasaan dari mu’ir,
bolehkah dirinya menarik barang yang menjadi hak miliknya
tersebut? Apakah musta’ir wajib mengembalikan barang
pinjamannya, padahal belum habis waktu yang disepakati atau
bahkan belum sedikitpun mengambil manfaat dari barang
tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu terlebih dahulu
mengerti hakikat status kepemilikan barang pinjaman atau
musta’ar. Menurut mayoritas ulama, barang pinjaman yang ada di
tangan musta’ir berstatus sebagai semi-hak milik (milk ghair
lazim). Sebab, barang yang bersangkutan adalah hak milik penuh
dari mu’ir. Konsekuensi pandangan mayoritas ulama tersebut
adalah bahwa mu’ir dapat menarik barang hak miliknya yang
dipinjamkan pada orang lain tersebut kapan saja dan dimana
saja. Hal yang serupa berlaku pada musta’ir yang boleh
mengembalikan barang pinjamannya itu kapan saja dan di
mana saja sesuai yang dia kehendaki.
Pendapat lain datang dari ulama Mazhab Malikiyah yang
mengatakan bahwa seorang mu’ir tidak boleh menarik barangnya
yang sudah dipinjamkan kepada orang lain sebelum barang
tersebut mendatangkan manfaat atau telah digunakan (Bidayah
al-Mujtahid, jilid 2, hlm. 308, Hasyiyah ad-Dasuqi, jilid 3, hlm. 439).
Perbedaan pendapat antara mayoritas ulama dan mazhab
Malikiyah ini harus dipahami dengan benar. Penyelesaian konflik
sosial dapat dilihat dari dua sudut pandang ini. Misalnya, jika
seseorang yang bernama (A) meminjam suatu barang terhadap
orang yang bernama (B), maka (A) boleh menarik barang itu
kapan saja dan di mana saja. Demikian pula (B) boleh
mengembalikannya kapan saja dan di mana saja. Hal ini tidaklah
menimbulkan konflik sosial jika (A) dan (B) sudah sama-sama
mengerti. Tetapi, jika (A) dan (B) terjadi konflik atau permusuhan
sebelum barang digunakan maka mereka sebagai mu’ir dan
musta’ir akan memperebutkan barang pinjaman. A pasti ngotot
untuk menarik barang dari B, sedangkan B ngotot untuk tidak
mengembalikan barang dengan alasan belum memanfaatkannya
sedikitpun. Mazhab Malikiyah dapat digunakan untuk
menyelesaikan kasus seperti ini. Dengan kata lain, A wajib
mengalah dan memberikan kesempatan bagi B untuk
memanfaatkan barang yang dipinjamnya.
2. Pertentangan Klaim Antara Mu’ir dan Musta’ir
Pertentangan klaim sering terjadi. Berikut ini adalah aspek-aspek
yang sering terjadi di masyarakat:
a. Pertentangan klaim soal jenis akad dan kesepakatan;
b. Pertentangan klaim soal barang yang hilang atau rusak;
c. Pertentangan klaim soal pengembalian.
Seseorang merasa barang yang ada di tangannya itu adalah
barang pinjaman, sehingga saat mengembalikan barang tersebut
kepada pemiliknya tidak diwajibkan memberikan upeti tertentu.
Sedangkan orang yang memiliki barang merasa bahwa barangnya
yang dipinjamkan itu adalah barang sewaan, sehingga harus
dikembalikan beserta uang sewanya. Jika barang rusak maka
harus diganti biaya perawatan dan ganti rugi.
Dalam kasus pertentangan klaim di atas, apakah barang itu barang
pinjaman atau barang sewaan maka klaim musta’ir adalah klaim
yang dimenangkan. Yaitu, klaim bahwa barang yang ada di
tangannya adalah barang pinjaman, bukan barang sewaan.
Namun, musta’ir harus diikat dengan sumpah bahwa dirinya
memang meminjam bukan menyewa.
Kasus lain yang mungkin melibatkan pertentangan klaim adalah
soal pengembalian barang, apakah barang sudah dikembalikan
atau belum dikembalikan. Boleh saja seorang musta’ir
mengatakan bahwa dirinya telah mengembalikan barang yang
pernah dipinjamnya. Sedangkan mu’ir menolak itu dan
mengatakan bahwa barang belum dikembalikan.
Dalam kasus seperti itu, klaim dari mu’ir adalah klaim yang
dimenangkan dengan catatan, mu’ir wajib bersumpah atas
pernyataannya. Mu’ir harus bersumpah bahwa barang miliknya
belum dikembalikan. Setelah bersumpah selesai, maka klaimnya
adalah klaim yang harus dimenangkan.
3. Tempo Berakhirnya Akad ‘Ariyah
Kapan transaksi akad ‘Ariyah berakhir? Ada banyak alasan yang
bisa menyebabkan akad ‘ariyah itu berakhir. Berikut ini adalah
momen dan faktor yang mengakhiri akad ‘ariyah.
Pertama, mu’ir meminta barang untuk dikembalikan oleh
musta’ir. Apabila dua belah pihak sepakat untuk mengembalikan
barang/musta’ar, maka secara otomatis traksaksi sebelumnya
sudah selesai/berakhir.
Kedua, musta’ir mengembalikan barang yang dipinjam kepada
mu’ir baik sesudah tempo yang disepakati berdua maupun
sebelum tempo itu berakhir. Sebab, akad ‘ariyah adalah akad yang
jaiz, artinya boleh dikembalikan kapan saja.
Ketiga, salah satu dari dua pihak (mu’ir dan musta’ir) menjadi
tidak lagi cakap hukum dalam melakukan akad ‘ariyah. Hal itu bisa
disebabkan oleh kegilaan dari salah satunya. Jika mu’ir atau
musta’ir kehilangan akal sehat maka akad ‘ariyah dengan
sendirinya sudah batal.
Keempat, salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak bisa
melanjutkan tasharruf. Hal itu bisa disebabkan oleh kematian.
Apabila salah satu dari mu’ir atau musta’ir adalah yang meninggal
dunia, maka akad ‘ariyah berakhir dengan sendirinya. Apabila
salah satu faktor ini terjadi maka akad ‘ariyah berakhir secara
otomatis. Tidak ada salah satu pihak yang bisa melanjutkan
argumentasi atau memperpanjang persoalan.
Sebab, dua orang yang melakukan transaksi sudah tidak bisa
dikonfirmasi lagi.

Daftar materi bidang studi


Pada Modul 6 KB 1 ini menurut saya materi cukup mudah untuk
2 yang sulit dipahami pada
dipahami
modul
Pada Modul 6 KB 1 ini menurut saya penulisan materi mudah
Daftar materi yang sering
dipahami tinggal bagaimana nantinya pemangku Modul lebih
3 mengalami miskonsepsi
merincikan atau menyimpulkan diakhir materi mengenai Materi
dalam pembelajaran
Ariyah ini.

Anda mungkin juga menyukai