Anda di halaman 1dari 5

2.5.

Manifestasi Klinis

Gejala dan tanda biasanya berhubungan dengan proses penyebaran di dalam

rongga abdomen. Beratnya gejala berhubungan dengan beberapa faktor yaitu: lamanya

penyakit, perluasan dari kontaminasi kavum peritoneum dan kemampuan tubuh untuk

melawan, usia serta tingkat kesehatan penderita secara umum (Cole et al,1970).

Manifestasi klinis dapat dibagi menjadi: (1) tanda abdomen yang berasal dari awal

peradangan dan (2) manifestasi dari infeksi sistemik. Penemuan lokal meliputi nyeri

abdomen, nyeri tekan, kekakuan dari dinding abdomen, distensi, adanya udara bebas

pada kavum peritoneum dan menurunnya bising usus yang merupakan tanda iritasi dari

peritoneum parietalis dan menyebabkan ileus. Penemuan sistemik meliputi demam,

menggigil, takikardi, berkeringat, takipneu, gelisah, dehidrasi, oliguria, disorientasi dan

pada akhirnya dapat menjadi syok (Doherty, 2006).

2.5.1. Gejala

 Nyeri abdomen

Nyeri abdomen merupakan gejala yang hampir selalu ada pada peritonitis.

Nyeri biasanya datang dengan onset yang tiba-tiba, hebat dan pada penderita dengan

perforasi nyerinya didapatkan pada seluruh bagian abdomen (Doherty, 2006).

Seiring dengan berjalannya penyakit, nyeri dirasakan terus-menerus, tidak ada

henti-hentinya, rasa seperti terbakar dan timbul dengan berbagai gerakan. Nyeri

biasanya lebih terasa pada daerah dimana terjadi peradangan peritoneum.

Menurunnya intensitas dan penyebaran dari nyeri menandakan adanya lokalisasi dari

proses peradangan, ketika intensitasnya bertambah meningkat diserta dengan

perluasan daerah nyeri menandakan penyebaran dari peritonitis (Schwartz et al,

1989).

 Anoreksia, mual, muntah dan demam


Pada penderita juga sering didapatkan anoreksia, mual dan dapat diikuti

dengan muntah. Penderita biasanya juga mengeluh haus dan badan terasa seperti

demam sering diikuti dengan menggigil yang hilang timbul. Meningkatnya suhu

tubuh biasanya sekitar 38OC sampai 40OC (Schwartz et al, 1989).

 Facies Hipocrates

Pada peritonitis berat dapat ditemukan fascies Hipocrates. Gejala ini termasuk

ekspresi yang tampak gelisah, pandangan kosong, mata cowong, kedua telinga

menjadi dingin, dan muka yang tampak pucat (Cole et al,1970).

Penderita dengan peritonitis lanjut dengan fascies Hipocrates biasanya berada

pada stadium pre terminal. Hal ini ditandai dengan posisi mereka berbaring dengan

lutut di fleksikan dan respirasi interkosta yang terbatas karena setiap gerakan dapat

menyebabkan nyeri pada abdomen (Schwartz et al, 1989).

Tanda ini merupakan patognomonis untuk peritonitis berat dengan tingkat

kematian yang tinggi, akan tetapi dengan mengetahui lebih awal diagnosis dan

perawatan yang lebih baik, angka kematian dapat lebih banyak berkurang (Cole et

al,1970).

 Syok

Pada beberapa kasus berat, syok dapat terjadi oleh karena dua faktor. Pertama

akibat perpindahan cairan intravaskuler ke kavum peritoneum atau ke lumen dari

intestinal. Yang kedua dikarenakan terjadinya sepsis generalisata (Cole et al,1970).

Yang utama dari septisemia pada peritonitis generalisata melibatkan kuman

gram negatif dimana dapat menyebabkan terjadinya tahap yang menyerupai syok.

Mekanisme dari fenomena ini belum jelas, akan tetapi dari penelitian diketahui

bahwa efek dari endotoksin pada binatang dapat memperlihatkan sindrom atau
gejala-gejala yang mirip seperti gambaran yang terlihat pada manusia (Cole et

al,1970).

2.5.2. Tanda

 Tanda Vital

Tanda vital sangat berguna untuk menilai derajat keparahan atau komplikasi

yang timbul pada peritonitis. Pada keadaan asidosis metabolik dapat dilihat dari

frekuensi pernapasan yang lebih cepat daripada normal sebagai mekanisme

kompensasi untuk mengembalikan ke keadaan normal. Takikardi, berkurangnya

volume nadi perifer dan tekanan nadi yang menyempit dapat menandakan adanya

syok hipovolemik. Hal-hal seperti ini harus segera diketahui dan pemeriksaan yang

lebih lengkap harus dilakukan dengan bagian tertentu mendapat perhatian khusus

untuk mencegah keadaan yang lebih buruk (Schwartz et al, 1989).

 Inspeksi

Tanda paling nyata pada penderita dengan peritonitis adalah adanya distensi

dari abdomen. Akan tetapi, tidak adanya tanda distensi abdomen tidak

menyingkirkan diagnosis peritonitis, terutama jika penderita diperiksa pada awal

dari perjalanan penyakit, karena dalam 2-3 hari baru terdapat tanda-tanda distensi

abdomen. Hal ini terjadi akibat penumpukan dari cairan eksudat tapi kebanyakan

distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik (Cole et al,1970).


 Auskultasi

Auskultasi harus dilakukan dengan teliti dan penuh perhatian. Suara usus dapat

bervariasi dari yang bernada tinggi pada seperti obstruksi intestinal sampai hampir

tidak terdengar suara bising usus pada peritonitis berat dengan ileus. Adanya suara

borborygmi dan peristaltik yang terdengar tanpa stetoskop lebih baik daripada suara

perut yang tenang. Ketika suara bernada tinggi tiba-tiba hilang pada abdomen akut,

penyebabnya kemungkinan adalah perforasi dari usus yang mengalami strangulasi

(Cole et al,1970).

 Perkusi

Penilaian dari perkusi dapat berbeda tergantung dari pengalaman pemeriksa.

Hilangnya pekak hepar merupakan tanda dari adanya perforasi intestinal, hal ini

menandakan adanya udara bebas dalam cavum peritoneum yang berasal dari

intestinal yang mengalami perforasi. Biasanya ini merupakan tanda awal dari

peritonitis (Cole et al,1970).

Jika terjadi pneumoperitoneum karena ruptur dari organ berongga, udara akan

menumpuk di bagian kanan abdomen di bawah diafragma, sehingga akan ditemukan

pekak hepar yang menghilang (Schwartz et al, 1989).

 Palpasi
Palpasi adalah bagian yang terpenting dari pemeriksaan abdomen pada kondisi ini. Kaidah
dasar dari pemeriksaan ini adalah dengan palpasi daerah yang kurang terdapat nyeri tekan
sebelum berpindah pada daerah yang dicurigai terdapat nyeri tekan. Ini terutama dilakukan
pada anak dengan palpasi yang kuat langsung pada daerah yang nyeri membuat semua
pemeriksaan tidak berguna. Kelompok orang dengan kelemahan dinding abdomen seperti
pada wanita yang sudah sering melahirkan banyak anak dan orang yang sudah tua, sulit untuk
menilai adanya kekakuan atau spasme dari otot dinding abdomen. Penemuan