Anda di halaman 1dari 3

Teori bahwa resiko keganasan pada hiperkapnea dan syok septik dalam absorbsi

karbondioksida dan endotoksin melalui peritoneum yang mengalami inflamasi, belum dapat

dibuktikan. Tetapi, laparoskopi efektif pada penanganan appendicitis akut dan perforasi ulkus

duodenum. Laparoskopi dapat digunakan pada kasus perforasi kolon, tetapi angka konversi

ke laparotomi lebih besar. Syok dan ileus adalah kontraindikasi pada laparoskopi.9

1. Drain

Efektif digunakan pada tempat yang terlokalisir, tetapi cepat melekat pada dinding

sehingga seringkali gagal untuk menjangkau rongga peritoneum. Ada banyak kejadian yang

memungkinkan penggunaan drain sebagai profilaksis setelah laparotomi.

2.9. Komplikasi

1. Syok Sepsis1,10

Pasien memerlukan penanganan intensif di ICU

2. Abses intraabdominal atau sepsis abdominal persisten. 10,11

Pada tanda-tanda sepsis (pireksia, leukositosis), pemeriksaan harus disertakan CT dengan

kontras luminal (khususnya apabila terdapat anastomosis in-situ). Re-laparotomi diperlukan

apabila terdapat peritonitis generalisata. Drainase perkutaneus dengan antobiotik pilihan


terbaik merupakan terapi pada tempat yang terlokalisir. Terapi antibiotik disesuaikan dengan

kultur yang diambil dari hasil drainase. Sepsis abdominal mengakibatkan mortalitas sekitar

30-60%. Faktor yang mempengaruhi tingkat mortalitas adalah :

- Usia

- Penyakit kronis

- Wanita

- Sepsis pada daerah upper gastrointestinal

- Kegagalan menyingkirkan sumber sepsis.

3. Adhesi

Dapat menyebabkan obstruksi intestinal atau volvulus.

2.10. Prognosa

Prognosis untuk peritonitis lokal dan ringan adalah baik, sedangkan pada peritonitis

umum prognosisnya mematikan akibat organisme virulen.1

BAB III

KESIMPULAN

Peritonitis adalah peradangan peritoneum ( membran serosa yang melapisi rongga

abdomen dan menutupi visera abdomen ) merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi

dalam bentuk akut maupun kronis. Keadaan ini biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi

dari organ abdomen, perforasi saluran cerna, atau dari luka tembus abdomen.1,2

Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda – tanda

rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans


muskular, pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik

usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus.4

Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap

keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan

mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan

melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Penatalaksanaan dari peritonitis yaitu : dekompresi saluran cerna dengan penghisapan

nasogastrik atau intestinal, penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan

secara intravena , pemberian antibiotic yang sesuai, dan pembuangan dari focus infeksi dari

organ abdomen. Prognosis untuk peritonitis local adalah baik, sedangkan untuk peritonitis

umum yaitu buruk.