Anda di halaman 1dari 3

BAHAN AJAR USHUL FIKIH

MEMAHAMI KONSEP USHUL FIKIH

1. IDENTITAS BAHAN AJAR


a. Madrasah : MAN 5 Kediri
b. Nama Mapel : Ushul Fikih
c. Materi Pokok : Konsep Ushul Fikih
d. Alokasi Waktu : 4 JP X 2
e. Penyusun : Nurhdiayah, S.Pd.I
f. Kompetensi Dasar :

3.8. Menelaah konsep ushul fikih


4.8 Menyajikan peta konsep ushul fikih

2. Tujuan Pembelajaran :
Melalui kegiatan pembelajaran dengan metode diskusi, tanyajawab, analisis,
penugasan, dan presentasi dengan model discovery learning dan pendekatan
saintifik, peserta didik dapat memahami konsep Ushul Fikih dan menerapkan konsep
uhul fikih sehingga peserta didik dapat menghayati dan mengamalkan ajaran agama
yang dianutnya melalui belajar Fikih, dan mengembangkan sikap/ karakter jujur,
peduli, dan bertanggungjawab serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir
kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, berkreasi (4C) dan berliterasi.
3. Sumber Rujukan
a. Buku siswa Fikih Ushul Fikih, Kementrian Agama Republik Indonesia 2014.
b. https://muslim.or.id/19637-mengenal-ilmu-usul-fikih.html
c. https://abahsyahida.wordpress.com/2017/10/26/sistematika-fiqh-dan-ushul-
fiqh/
d. http://makalahkuindonesia.blogspot.com/2017/12/makalah-perbedaan-fiqih-
ushul-fiqih.html
e. https://islam.nu.or.id/post/read/86034/pengertian-dan-cakupan-kajian-ushul-
fiqih

A. Pengertian Ushul Fikih

Untuk mengetahui makna usul fikih, ada baiknya kita terlebih dahulu mengurainya
menjadi dua kata: usul dan fikih.
Usul adalah kata serapan dari bahasa Arab yaitu ushul, bentuk plural dari ashl, yang
berarti dasar, asas, pokok, atau fondasi. Allah Ta’ala berfirman,
ٌ ِ‫طيِّبَ ٍة أَصْ لُهَا ثَاب‬
‫ت َوفَرْ ُعهَا فِي ال َّس َما ِء‬ َ ‫ب هَّللا ُ َمثَاًل َكلِ َمةً طَيِّبَةً َك َش َج َر ٍة‬ َ َ‫أَلَ ْم تَ َر َك ْيف‬
َ ‫ض َر‬
“Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah mengumpamakan kalimat yang baik
seperti pohon yang baik: ‘akarnya’ kuat dan cabangnya menjulang tinggi ke langit.” (QS.
Ibrahim 24).
Di dalam ayat ini, kata ashl, yang merupakan bentuk tunggal dari ushul dipakai untuk
menjelaskan makna fondasi pohon, yaitu akarnya.
Di dalam istilah, usul memiliki beberapa makna. Di antaranya adalah dalil, pendapat
yang paling kuat, kaidah, dan hukum asal. Makna ini tergantung konteks kalimat di
mana kata usul tersebut ditempatkan.
Sedangkan fikih atau fiqh dalam bahasa Arab merupakan bentuk mashdar (kata benda
yang bermakna kata kerja) dari faqiha-yafqahu yang berarti memahami, mengerti,
mengetahui, atau yang semakna dengan itu. Sedangkan menurut istilah yaitu semua
hukum yang dipetik dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. melalui usaha
pemahaman dan ijtihad tentang perbuatan orang mukallaf baik wajib, haram, mubah,
sah atau selain dari itu hanya berupa cabang-cabangnya saja.
Imam Abu Ishak As-Syirazi dalam Al-Luma’ menyebutkan:
‫وأما أصول الفقه فهي األدلة التي يبنى عليها الفقه وما يتوصل بها إلى األدلة على سبيل اإلجمال‬
Artinya, “Ushul fiqih ialah dalil-dalil penyusun fiqih, dan metode untuk sampai pada
dalil tersebut secara global,”
Maksudnya adalah bahwa ushul fiqih merupakan seperangkat dalil-dalil atau kaidah-
kaidah penyusunan hukum fiqih serta metode-metode yang mesti ditempuh agar kita
bisa memanfaatkan sumber-sumber hukum Islam untuk bisa memformulasikan sebuah
hukum khususnya terkait sebuah persoalan kekinian. Kita juga bisa menengok
pemaparan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Al-Mustashfa:
ُ ‫ْث ْال ُج ْملَةُ اَل ِم ْن َحي‬
ِ ‫ْث التَّ ْف‬
‫صي ُل‬ ُ ‫ْرفَ ِة ُوجُو ِه َداَل لَتِهَا َعلَى اأْل َحْ َك ِام ِم ْن َحي‬ َ ‫أَ َّن أُص‬
ِ ‫ُول ْالفِ ْق ِه ِعبَا َرةٌ ع َْن أَ ِدلَّ ِة هَ ِذ ِه اأْل َحْ َك ِام َوع َْن َمع‬
Artinya, “Ushul fiqih ialah istilah untuk (seperangkat) dalil-dalil dari hukum-hukum
syariat sekaligus pengetahuan tentang metode penunjukan dalilnya atas hukum-hukum
syariat secara global, bukan terperinci,”
Setelah mengetahui makna dua kata di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa usul
fikih adalah ilmu yang membahas dalil-dalil fikih secara global dan mengupas metode
dalam menarik hukum dari dalil-dalil tersebut, serta kondisi orang yang menarik
hukum tersebut.
B. obyek ushul fikih
Menurut Dr. Wahbah az-Zuhaili yang menjadi obyek kajian ushul fikih adalah sebagai
berikut :
1. Mengkaji sumber hukum Islam atau dalil-dalil yang digunakan dalam menggali
hukum syara’, baik yang disepakati (seperti kehujahan al-Qur’an dan sunah Nabi
Saw.), maupun yang diperselisihkan (seperti kehujahan istiḥ sā n dan al-maṣlaḥ ah
al-mursalah)
2. Mencarikan jalan keluar dari dalil-dalil yang secara lahir dianggap
bertentangan, baik melalui al-jam’u wa at-taufīq (pengompromian dalil), tarjīḥ al-
adillah, nasakh, atau tasā qut ad-dalīlain (pengguguran kedua dalil yang
bertentangan). Misalnya, pertentangan ayat dengan ayat, ayat dengan hadis, atau
hadis dengan pendapat akal.
3. Pembahasan ijtihad, syarat-syarat, dan sifat-sifat orang yang melakukannya
(mujtahid), baik yang menyangkut syarat-syarat umum maupun syarat-syarat
khusus keilmuan yang harus dimiliki mujtahid.
4. Pembahasan tentang hukum syara’ (naṣ dan ijmā ’), yang meliputi syarat dan
macam macamnya,baik yang bersifat tuntutan untuk berbuat, meninggalkan suatu
perbuatan, memilih Untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak, maupun yang
berkaitan dengan sebab, syaraṭ, mā ni’, ṣah, fā sid, serta azīmah dan rukhṣah. Dalam
pembahasan hukum ini juga dibahas tentang pembuat hukum (al-maḥ kū m alaih),
ketetapan hukum dan syarat- syaratnya, serta perbuatan-perbuatan yang dikenai
hukum.
5. Pembahasan tentang kaidah-kaidah yang digunakan dan cara
menggunakannya dalam mengistinbatkan hukum dari dalil-dalilnya, baik melalui
kaidah bahasa maupun melalui pemahaman terhadap tujuan yang akan dicapai
oleh suatu naṣ (ayat atau hadis).
C. Tujuan dan manfaat mempelajari ushul fikih
Adapun tujuan dari Ilmu Ushul Fiqih adalah menerapkan kaidah-kaidahnya dan teori-
teorinya terhadap dalil-dalil yang rinci untuk menghasilkan hukum syara’ yang
ditunjuki dalil itu. Jadi berdasarkan kidah-kaidahnya dan bahasa-bahasanya, maka
nash-nash syara’ dapat dipahami dan hukum yang menjadi dalalahnya dapat diketahui,
serta sesuatu yang dapat menghilangkan kesamaran lafazh yang samar dapat diketahui.
Juga dikethui dalil-dalil yang dimenagkan ketika terjadi pertentangan antara satu dalil
dengan dalil lainnya. Juga berdasarkan kaidah-kaidahnya dan bahasan-bahasannya,
dapat pula hukum diistimbathkan dengan qiyas, atau istihsan, atau istishab, atau lainya
dalam kasus yang tidak terdapat nash mengenai hukumnya. Dapat pula diadakan
perbandingan antara mazhab mereka yang berlainan mengenai hukum suatu kasus.
Dengan demikian, ilmu ushul fiqih juga merupakan landasan dari fiqih perbandingan
(muqarin).
Menurut Abdul Wahab Khallaf (1942), merumuskan bahwa tujuan mempelajari ilmu
ushul fiqh adalah:
1. Menerapkan kaidah-kaidah, teori, pembahasan dalil-alil secara terperinci, dalam
menghasilkan hukum syariat islam, yang diambil dari dalil-dalil tersebut.
2. Untuk mencari kebiasaan faham dan pengertian dari agama Islam.
3. Untuk mempeljari hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan kehidupan
manusia.
4. Kaum muslimin harus ber tafaqquh artinya memperdalam pengetahuan dalam
hukum-hukum agama baik dalam bidang aqaid dan akhlak maupun dalam bidang
ibadah maupun muamalah.
D. Perbedaan ushul fikih dan Fikih
Perbedaan yang nyata antara ilmu fiqih dan ilmu ushul fiqih. Jika ilmu fiqih berbicara
tentang hukum dari sesuatu perbuatan, maka ilmu ushul fiqih bicara tentang metode
dan proses bagaimana menemukan hukum itu sendiri. Atau, dilihat dari sudut
aplikasinya, fiqih akan menjawab pertanyaan “apa hukum dari suatu perbuatan?”, dan
ushul fiqih akan menjawab pertanyaan “bagaimana cara atau proses menemukan
hukum yang digunakan sebagai jawaban permasalahan yang dipertanyakan
tersebut”.oleh karena itu, fiqih lebih bercorak produk sedangkan ushul fiqih lebih
bermakan metodologis. Dan oleh sebab itu, fiqih terlihat sebagai koleksi produk hukum,
sedangkan ushul fiqih merupakan koleksi metodis yang sangat diperlukan untuk
memperoduk hukum.