Anda di halaman 1dari 7

PENDALAMAN MATERI

(Lembar Kerja Resume Modul)

Nama : Ahmad Mustakim


A. Judul Modul : Qur’an Hadis
B. Kegiatan Belajar : KB 3. Pendekatan dan Metode Penafsiran Alquran
C. Refleksi

NO BUTIR REFLEKSI RESPON/JAWABAN


1 Peta Konsep (Beberapa
- Tafsir bi al-Ma’tsur /
istilah dan definisi) di modul Peta Konsep
Tafsir bi al-Riwayah
bidang studi Pendekatan
Penafsiran - Tafsir bi al-Ra’y / tafsir
Alquran bi al-Dirayah
- Tafsir bi al-Isyarah atau
Pendekatan Tafsir Isyari
dan Metode
Penafsiran
Alquran - Metode Tahlili /
Analitik
Metode - Metode Ijmali / Global
Penafsiran - Metode Muqaran /
Alquran Komparatif
- Metode Maudhu’I /
Tematik
1. Pendekatan Penafsiran Alquran
a. Tafsir bi al-Ma’tsur / Tafsir bi al-Riwayah
Yaitu pendekatan yang digunakan dalam menafsirkan
Alquran yang didasarkan kepada penjelasan-
penjelasan yang diperoleh melalui riwayat-riwayat
pada sunnah, hadis maupun atsar, termasuk ayat-ayat
Alquran yang lain.
Pendekatan tafsir bi al-ma’tsur memiliki beberapa cara
dalam menafsirkan ayat Alquran, yaitu:
 Penafsiran ayat dengan ayat Alquran yang lain.
Misalnya pada surat al-Ikhlas ayat pertama yang
menjelaskan tentang ketauhidan Allah Swt,
ditafsirkan oleh ayat berikutnya, yaitu ayat kedua,
ketiga dan keempat. Namun ayat pertama surat al-
Ikhlas tentang ketauhidan ini dapat ditafsirkan lagi
oleh ayat yang lain yang berada di surat yang lain.
Misalnya surat al Hasyr (QS 59;22-24) yang
menjelaskan sifat-sifat Allah Swt
ِ َّ ‫ب والشَّهاد ِة هو الرَّمْح ن‬ ِ ‫مِل‬ ِ ِ ِ َّ
‫يم‬
ُ ‫الرح‬ ُ َ َ ُ َ َ َ ‫ُه َو اللَّهُ الذي ال إلَهَ إال ُه َو َعا ُ الْغَْي‬
‫الم الْ ُم ْؤ ِم ُن الْ ُم َهْي ِم ُن‬ ِ ِ
ُ ‫الس‬
َّ ‫ُّوس‬
ُ ‫ك الْ ُقد‬ ُ ‫ُه َو اللَّهُ الَّذي ال إِلَهَ إِال ُه َو الْ َمل‬
‫الْ َع ِز ُيز اجْلَبَّ ُار الْ ُمتَ َكِّبُر ُسْب َحا َن اللَّ ِه َع َّما يُ ْش ِر ُكو َن‬
‫ص ِّو ُر لَهُ األمْسَاء احْلُ ْسىَن يُسبِّ ُح لَهُ َما يِف‬
َ ُ ُ ‫ُه َو اللَّهُ اخْلَالِ ُق الْبَا ِر‬
َ ‫ئ الْ ُم‬
‫يم‬ ِ ِ ِ ‫األر‬ ِ َّ
ُ ‫ض َو ُه َو الْ َعز ُيز احْلَك‬ ْ ‫الس َم َاوات َو‬
 Penafsirat ayat Alquran dengan hadis Nabi Saw.
Misalnya, surat albaqarah ayat 43 tentang perintah
salat disampikan dalam Alquran secara umum
tanpa menyertakan penjelasan tatacaranya
ِ ِ َّ ‫الز َكا َة وار َكعوا مع‬ ِ
‫ني‬
َ ‫الراكع‬ َ َ ُ ْ َ َّ ‫الصال َة َوآتُوا‬
َّ ‫يموا‬
ُ ‫َوأَق‬
Ayat tersebut kemudian ditafsirkan oleh hadis Nabi
Saw

 Penafsirat ayat Alquran dengan keterangan


sahabat Nabi saw. dan tabi’in. Contohnya seperti
tafsir terhadap Surat al-Baqarah ayat 3

‫اه ْم يُْن ِف ُقو َن‬ ‫ب وي ِقيمو َن َّ مِم‬


ِ ِ ِ ‫الَّ ِذ‬
ُ َ‫الصال َة َو َّا َر َز ْقن‬ ُ ُ َ ‫ين يُ ْؤمنُو َن بالْغَْي‬
َ
Menurut Ibn ‘Abbas sebagaimana diriwayatkan
oleh Ali bin Abi Thalhah bahwa tafsir dari kata
yu’minuna (mereka mengimani) adalah
yushaddiquuna (mereka membenarkan).
Sementara menurut Ma’mar sebagaimana
diriwayatkan oleh alZuhri, maksud dari yu’minuna
adalah iman yang disertai mengamalkan.
Sedangkan menurut Abu Ja’far al-Razi dari Rabi’
Ibn Anas, yang dimaksud dengan yu’miuna adalah
yakhsyauna yang berarti mereka takut
b. Tafsir bi al-Ra’y atau tafsir bi al-Dirayah
Yaitu penafsiran seorang mufassir yang diperoleh
melalui hasil penalarannya atau ijtihadnya, di mana
penalaran sebagai sumber utamanya.
kelebihan pendekatan ini adalah mempunyai ruang
lingkup yang luas, dapat mengapresiasi berbagai ide
dan melihat Alquran secara lebih lebar sehingga dapat
memahaminya secara komprehensif
Kelemahan pendekatan tafsir bi al-ra’y bisa terjadi
ketika terjebak atau secara tidak sadar mufassir
mengungkap petunjuk berdasarkan ayat yang bersifat
parsial, sehingga dapat memberikan kesan makna
Alquran tidak utuh dan pernyataannya tidak konsisten.
Di samping itu, penafsiran dengan pendekatan ini juga
sangat rentan dengan subjektivitas yang dapat
memberikan pembenaran terhadap mazhab atau
pemikiran tertentu sesuai dengan kecenderungan
mufassir. Hal lain yang juga bisa menjadi kelemahan
dari pendekatan tafsir bi al-ra’y ini adalah peluang
masuknya cerita-cerita isra’iliyat karena kelemahan
dalam membatasi pemikiran yang berkembang.
Contoh yang tampak dari tafsir dengan pendekatan bi
al-ra’y adalah penafsiran Sayyid Qutub dalam kitab
tafsir Fi Zilal al-Qur’an pada saat menjelaskan Surat al
Fatihah ayat 4 sebagai berikut:

‫ك َي ْوِم الدِّي ِن‬


ِ ِ‫مال‬
َ
Kata "yang menguasai atau penguasa" menunjukkan
derajat kuasa yang paling tinggi. "Hari Pembalasan"
ialah hari penentuan balasan di akhirat. Banyak orang
yang mempercayai ketuhanan Allah dan percaya
bahwa Ia pencipta alam semesta, namun tidak sedikit
dari mereka yang tidak percaya kepada hari
Pembalasan.
c. Tafsir bi al-Isyarah atau Tafsir Isyari
Yaitu suatu upaya untuk menjelaskan kandungan
Alquran dengan menakwilkan ayat-ayat sesuai isyarat
yang tersirat dengan tanpa mengingkari yang tersurat
atau zahir ayat.
Syarat-syarat diterimanya sebuah tafsir isyari sebagai
berikut:
 Tidak bertentangan dengan makna lahir (pengertian
tekstual) Alquran.
 Penafsirannya didukung atau diperkuat oleh dalil-
dalil syara’ lainnya.
 Penafsirannya tidak bertentangan dengan dalil
syara‘ atau rasio.
 Penafsirannya tidak menganggap bahwa hanya itu
saja tafsiran yang dikehendaki Allah, bukan
pengertian tekstual ayat terlebih dahulu.
 Penafsirannya tidak terlalu jauh sehingga tidak ada
hubungannya dengan lafadz.
Contoh penafsiran dengan pendekatan isyari ini seperti
penafsiran al-Alusi terhadap surat Al-Baqarah ayat 238
sebagai berikut:
ِِ ِ ِ ُ‫الة الْوسطَى وق‬ ِ َّ ‫حافِظُوا علَى‬
ِ َّ ‫ات و‬
َ ‫وموا للَّه قَانت‬
‫ني‬ ُ َ ْ ُ ‫الص‬ َ ‫الصلَ َو‬ َ َ
Al-Alusi menafsiri al-salat al-wustha pada ayat di atas
dengan penjelasan lima macam shalat sebagai berikut:

2. Metode Penafsiran Alquran


a. Metode Tahlili (Analitis)
Yaitu suatu metode dalam menjelaskan ayat Alquran
dengan cara menguraikan ayat demi ayat, surat demi
surat, sesuai tata urutan dengan penjelasan yang
cukup terperinci sesuai dengan kecenderungan
mufassir terhadap aspek yang ingin disampaikan.
Berikut adalah contoh penafsiran dalam kitab tafsir
Ibnu Katsir terhadap Surat al Ahzab ayat 30:
ٍ ٍ ِ ِ ِ ِ
‫اب‬
ُ ‫ف هَلَا الْ َع َذ‬
ْ ‫اع‬
َ‫ض‬ َ ُ‫يَا ن َساءَ النَّيِب ِّ َم ْن يَأْت مْن ُك َّن بَِفاح َشة ُمَبِّينَة ي‬
‫ك َعلَى اللَّ ِه يَ ِس ًريا‬ ِ
َ ‫ َو َكا َن َذل‬3ِ ‫ِض ْع َفنْي‬
Disebutkan bahwa barangsiapa di antara isteri – isteri
Nabi yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata -
menurut Ibnu Abbas, pengertian perbuatan keji ini
ditakwilkan dengan makna membangkang dan
berakhlak buruk- niscaya akan mendapatkan hukuman
dua kali lipat dari wanita-wanita lainnya.
b. Metode Ijmali (Global)
Yaitu sebuah metode dalam menjelaskan ayat Alquran
dengan cara mengemukakan makna yang bersifat
global dengan bahasa yang ringkas supaya mudah
dipahami.
Berikut adalah contoh penafsiran surat al-Fatihah ayat
3-7 dalam kitab Tafsir Jalalain:

Dalam penafsiran di atas tampak sekali disampaikan


secara singkat dan global, misalnya kata al-rahman
dan al-rahim dengan makna yang memiliki rahmat.
Maksudnya yaitu yang berkehendak memberikan
kebaikan kepada yang berhak mendapatkannya.
Setelah itu, kemudian berganti kepada ayat berikutnya
dan begitu seterusnya.
c. Metode Muqaran (Komparatif)
Yaitu metode menjelaskan ayat-ayat Alquran dengan
membandingkan dengan ayat lain yang memiliki
kedekatan atau kemiripan tema namun redaksinya
berbeda; atau memiliki kemiripan redaksi tetapi
maknanya berbeda; atau membandingkannya dengan
penjelasan teks hadis Nabi Saw, perkataan sahabat
maupun tabi’in.
d. Metode Maudhu’i (Tematik)
Yaitu menjelaskan ayat-ayat Alquran dengan
mengambil suatu tema tertentu.
Kelebihan metode ini mampu menjawab kebutuhan
zaman yang ditujukan untuk menyelesaikan suatu
permasalahan, praktis dan sistematis serta dapat
menghemat waktu, dinamis sesuai dengan
kebutuhannya, serta memberikan pemahaman Alquran
tentang satu tema menjadi utuh. Namun
kekurangannya bisa jadi dalam proses inventarisasi
ayat-ayat setema tidak tercakup seluruhnya, atau
keliru dalam mengategorikan yang akhirnya
membatasi pemahaman ayat.
Langkah-langkah yang harus ditempuh oleh seorang
mufassir ketika melakukan proses penafsiran
menggunakan metode tematik, sebagai berikut:
1) Menetapkan masalah yang akan dibahas.
2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan
masalah tersebut.
3) Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa
turunnya, disertai pengetahuan tentang asbab
nuzulnya dan ilmu-ilmu lain yang mendukungnya.
4) Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam
suratnya masing-masing.
5) Menyusun pembahasan dalam kerangka yang
sempurna (membuat out line).
6) Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis
yang relevan dengan pokok bahasan.
7) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara
keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-
ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama
atau mengkompromikan antara yang ‘amm
(umum) dengan yang khash (khusus), mutlak dan
muqayyad (terikat), atau yang tampak pada
lahirnya bertentangan sehingga seluruhnya dapat
bertemu dalam satu muara tanpa perbedaan dan
pemaksaan makna

1. Materi yang sulit dipahami pada modul antara lain cara


Daftar materi bidang studi
2 yang sulit dipahami pada menganalisa pendekatan dan metode yang dipakai oleh
modul
mufassirin pada suatu ayat.

1. Materi yang berpotensi mengalami miskonsepsi adalah


Daftar materi yang sering
3 mengalami miskonsepsi pengertian maudhu’ pada metode tafsir dengan maudhu’
dalam pembelajaran
pada jenis hadis.

Anda mungkin juga menyukai