Anda di halaman 1dari 3

PENDALAMAN MATERI

(Lembar Kerja Resume Modul)

Nama : Ahmad Mustakim


A. Judul Modul : Qur’an Hadis
B. Kegiatan Belajar : KB 2. Kriteria Kesahihan dan Fungsi Hadis Terhadap
Alquran
C. Refleksi

NO BUTIR REFLEKSI RESPON/JAWABAN


1 Peta Konsep (Beberapa
istilah dan definisi) di modul Peta Konsep
bidang studi
Kriteria Kesahihan
Hadis

Kriteria
Kesahihan
dan Fungsi Fungsi Hadis
Hadis terhadap Alquran
Terhadap
Alquran

Hadis Keutamaan
Menuntut Ilmu

1. Kriteria Kesahihan Hadis


Sahih secara etimologi berarti sehat, sehingga hadis
shohih berarti hadis yang sehat dan tidak terdapat cacat.
Adapun secara terminologi al-Thahhan mendefinisikan
hadis sahih sebagai hadis yang bersambung sanadnya,
diriwayatkan oleh orang adil dan dhabith (kuat daya
ingatan) sampai kepada perawi terakhirnya, serta tidak
ada kejanggalan dan maupun cacat.
Dengan demikian sebuah hadis dinilai sahih jika
memenuhi lima kriteria berikut:
a. Sanadnya bersambung (ittishal al-sanad), maksudnya
adalah seluruh mata rantai periwayatnya dari setiap
generasi ke generasi yakni nabi, sahabat, tabi’in dan
tabi’ al-tabi’in tersambung tanpa ada satupun yang
terputus. Jika ada sanad yang terputus hadisnya bisa
terkategori dhaif (lemah) bahkan maudhu’ (palsu).
b. Moralitas para perawinya baik / adil (’adalah al-ruwwat)
maksudnya adalah kondisi perawi yang beragama
Islam, mukallaf, melaksanakan ketentuan agama dan
menjaga muru’ah.
c. Intelektualitas para perawinya mumpuni (dhabt al-
ruwwat), maksudnya adalah kekuatan hafalan perawi
terhadap hadis yang diterimanya secara sempurna,
mampu menyampaikannya kepada orang lain dengan
tepat dan mampu memahaminya dengan baik. Dhabit
disini meliputi dhabit shadr (kekuatan hafalan) maupun
dhabit kitabah (kekuatan tulisan). Jika dhabit
perawinya ada yang tidak sebaik yang seharusnya
maka kualitas hadisnya bisa menjadi hasan.
d. Tidak janggal (’adam al-syudzudz), maksudnya adalah
tidak bertentangan dengan mayoritas riwayat lain yang
juga tsiqah
e. Tidak cacat (’adam al-’illah), maksudnya adalah tidak
ada kecacatan dalam periwayatan hadis, baik dari
sanad maupun kerancuan dengan hadis lain.

2. Fungsi Hadis terhadap Alquran


Fungsi hadis secara umum adalah sebagai penjelas
(bayan) terhadap Alquran, meliputi:
a. Bayan Taqrir / Bayan Ta’kid, yaitu sebagai penguat
keterangan Alquran.
b. Bayan Tafsir, yaitu sebagai penjelas terhadap Alquran.
Bayan tafsir meliputi:
 Tafsir al-Mujmal, memberi penjelasan secara
terperinci pada ayat-ayat Alquran yang masih
global, baik menyangkut masalah ibadah maupun
hukum.
 Takhshish al-Amm, mengkhususkan
(mengecualikan) ayat-ayat Alquran yang bersifat
umum.
 Taqyid al-Muthlaq, membatasi kemutlakan ayat-
ayat Alquran
c. Bayan Tasyri’, yaitu berfungsi menciptakan hukum
syariat yang belum dijelaskan oleh Alquran atau dalam
Alquran hanya terdapat pokok-pokoknya saja.
d. Bayan Nasakh, yaitu membatalkan atau menghapus
ketentuan yang terdapat dalam Alquran

3. Hadis tentang Kewajiban Menuntut Ilmu


Selain berperan penting dan memberikan manfaat yang
positif dalam kehidupan manusia, ilmu juga menempatkan
pemiliknya pada kedudukan istimewa di antara manusia
dan makhluk-makhluk Allah yang lain, yaitu:
a. Diiringi perjalannya oleh Allah menuju surga
b. Diridhai oleh para malaikat
c. Didoakan oleh makhluk-makhluk yang ada di darat, di
udara serta yang ada di dalam air
d. Dinilai lebih utama dibanding ahli ibadah
e. Dinyatakan sebagai pewaris para nabi

2 Daftar materi bidang studi


Materi yang sulit dipahami pada modul antara lain cara
yang sulit dipahami pada
menganalisa apakah sebuah hadis itu shahih atau hasan
modul
atau yang lainnya,

Daftar materi yang sering 1. Materi yang berpotensi mengalami miskonsepsi adalah
3 mengalami miskonsepsi terkait hadis dhoif apakah bisa menjadi sandaran hukum
dalam pembelajaran atau tidak.

Anda mungkin juga menyukai