Anda di halaman 1dari 6

Memahami kedudukan dan fungsi ijmak dalam

penetapan hukum Islam

1. Menjelaskan pengertian ijmak


2. Menjelaskan rukun ijmak
3. Membedakan macam-macam ijmak
4. Menjelaskan kedudukan ijmak sebagai sumber
hukum Islam
5. Menunjukkan objek ijmak

1. Pengertian ijmak
2. Rukun ijmak
3. Macam-macam ijmak
4. kedudukan ijmak sebagai sumber hukum Islam
5. Objek ijmak

1
URAIAN MATERI

A. Pengertian Ijmak
Ijmak secara etimologi berasal dari kata ajma’a - yujmi’u - ijma’an dengan isim
maf’ul mujma yang memiliki dua makna. Pertama, ijmak bermakna tekad yang kuat.
Oleh karena itu, jika dikatakan “ajma’a fulan ‘ala safar”, berarti bila ia telah bertekad
kuat untuk bepergian dan telah menguatkan niatnya, sebagaimana firman Allah swt.:
ِ‫فَأ م‬
‫َْجعُوا أ مَمَرُك مم َو ُشَرَكاءَ ُك مم‬
Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu
(untuk membinasakanku). (QS Yunus/10: 71).
Kedua, ijmak bermakna sepakat. Jika dikatakan “ajma’ al-muslimun ‘ala kadza”,
berarti mereka sepakat terhadap suatu perkara.
Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan makna ijmak menurut arti
istilah. Ini dikarenakan perbedaan mereka dalam meletakkan kaidah dan syarat ijmak.
Namun, definisi ijmak yang paling banyak digunakan adalah kesepakatan para ulama
ahli ijtihad dari kalangan umat Muhammad setelah wafatnya beliau saw. pada masa
tertentu atas suatu perkara agama.
Hal itu pernah dilakukan oleh Abu Bakar. Apabila ditemukan suatu perselisihan,
pertama ia merujuk kepada kitab Allah, Jika tidak ditemui dalam kitab Allah dan ia
mengetahui masalah itu dari Rasul saw., ia pun berhukum dengan sunah Rasul. Jika ia
ragu mendapati dalam sunah Rasul saw., ia kumpulkan para sahabat dan ia lakukan
musyawarah untuk menemukan solusi atas suatu masalah dan menetapkan hukumnya.
Jadi, obyek ijmak ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya
dalam al-Qur’an dan hadis, peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadah
ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah swt.) bidang
muamalah, bidang kemasyarakatan, atau semua hal-hal yang berhubungan dengan
urusan duniawi, tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an dan hadis. Dasarnya adalah
firman Allah swt.
ِ ‫َش ٍء فا ُردُو ُه ا اَل ه‬
ِ‫اّلل او ذالر ُسول‬ ْ ‫نُك فاان تا ان اازع ُ ُْْت ِِف ا‬ ‫اَي َأّيُ اا ذ ِاَّل اين أ امنُو ْا َأ ِطي ُعو ْا ه ا‬
ْ ُ ‫اّلل او َأ ِطي ُعو ْا ذالر ُسو ال او ُأ ْو ِِل ا َأل ْم ِر ِم‬
ِ ِ ‫ان ُك ُنُت تُؤ ِمنون ِِب ِّلل والْيوم األ ِخر اذ ِ اِل خ ْاْي و َأحسن تأْوي ال‬
ِ‫ٌ ا ْا ُ ا‬ ِ ِ ْ‫ْ ْ ُ ا ه ا ا‬
ِ
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunah), jika kamu
benarbenar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS al-Nisa/4: 59).
Kata ulil amri yang terdapat pada ayat di atas mempunyai arti hal/keadaan atau
urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan urusan agama. Ulil amri dalam
urusan dunia ialah raja, kepala negara, pemimpin atau penguasa, sedang ulil amri
dalam urusan agama ialah para mujtahid. Dari ayat di atas dipahami bahwa jika para

2
ulil amri itu telah sepakat tentang sesuatu ketentuan atau hukum dari suatu peristiwa,
maka kesepakatan itu hendaklah dilaksanakan dan dipatuhi oleh kaum muslimin.
َِ ِ‫صموام ِِبب ِل اّلل‬
‫ْجيعاً َوالَ تَ َفَّرقُوام‬ ِ
‫و ماعتَ ُ َم ه‬
Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai. (QS Ali Imran/3: 103.)
Pada ayat lain Allah swt. berfirman:
‫صلِ ِه َج َهن ََّم‬ ِِ ِ‫ول ِمن ب ع ِد ما تَب ََّّي لَه ا مْل َدى وي تَّبِع غَْي سبِ ِيل المم مؤِمن‬
‫َّي نُ َولهه َما تَ َوََّّل َونُ م‬
َ ُ َ َ ‫الر ُس َ َ م َ َ َ ُ ُ َ َ م م‬ َّ ‫َوَمن يُ َشاقِ ِق‬
ِ ‫اءت م‬
ً‫صْيا‬ َ ‫َو َس م‬
Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengi-
kuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itudan Kami masukkan ia ke dalam
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS al-Nisa/4:
115).
Pada ayat ini Allah swt. melarang untuk menyakiti/menentang Rasulullah dan
melarang membelot/menentang jalan yang disepakati kaum mu’minin. Imam Syafi’i
ketika ada yang menanyakan kepadanya dasar bahwa kesepakatan para ulama bisa
dijadikan dasar hukum, ia menunda jawaban atas pertanyaan orang tersebut hingga
tiga hari. Beliau mengulang-ulang hafalan al-Qur’an hingga menemukan ayat ini.
Setiap ijmak yang ditetapkan menjadi hukum syarak, harus dilakukan dan
disesuaikan dengan asal-asas pokok ajaran Islam. Oleh karena itu, setiap mujtahid
dalam berijtihad hendaklah mengetahui dasal-dasar pokok ajaran Islam, batas-batas
yang telah ditetapkan dalam berijtihad, serta hukum-hukum yang telah ditetapkan. Bila
ia berijtihad menggunakan nash, maka ijtihadnya tidak boleh melampaui batas
maksimum dari yang mungkin dipahami dari nash itu. Sebaliknya, jika dalam berijti-
had, ia tidak menemukan satu nashpun yang dapat dijadikan dasar ijtihadnya, maka
dalam berijtihad, ia tidak boleh melampaui kaidah-kaidah umum agama Islam. Oleh
karena itu, ia boleh menggunakan dalil-dalil yang bukan nash, seperti kiyas, istihsan,
dan sebagainya.
Jika semua mujtahid telah melakukan seperti yang demikian itu, maka hasil
ijtihad yang telah dilakukannya tidak akan jauh menyimpang atau menyalahi al-
Qur’an dan hadis, karena semuanya dilakukan berdasar petunjuk kedua dalil ltu. Jika
seorang mujtahid boleh melakukan seperti ketentuan di atas, kemudian pendapatnya
boleh diamalkan, tentulah hasil pendapat mujtahid yang banyak yang sama tentang
hukum suatu peristiwa lebih utama diamalkan.

B. Rukun Ijmak
Adapun rukun ijmak dalam definisi di atas adalah adanya kesepakatan para
mujtahid dalam suatu masa atas hukum syarak. Rukun ijmak terdiri dari empat hal:

3
1. Ada beberapa orang mujtahid
Tidak cukup ijmak dikeluarkan oleh seorang mujtahid apabila keberadaanya
hanya seorang saja di suatu masa. Suatu 'kesepakatan’ harus dilakukan lebih dari satu
orang yang pendapatnya disepakati antara satu dengan yang lain.
2. Adanya kesepakatan sesama para mujtahid atas hukum syarak dalam suatu
masalah dengan melihat negeri, jenis, dan kelompok mereka.
Andai yang disepakati atas hukum syarak hanya para mujtahid haramain, para
mujtahid Irak saja, Hijaz saja, mujtahid ahlu al-sunnah, mujtahid Syiah, maka secara
syarak kesepakatan khusus ini tidak disebut ijmak. Ijmak tidak terbentuk, kecuali
dengan kesepakatan umum dari seluruh mujtahid di dunia Islam dalam suatu masa.
3. Kesepakatan itu harus dinyatakan secara tegas oleh setiap mujtahid bahwa ia
sependapat dengan mujtahid-mujtahid yang lain tentang hukum (syarak) dari
suatu peristiwa yang terjadi pada masa itu.
Jangan sekali-kali tersirat dalam kesepakatan itu unsur-unsur paksaan, atau para
mujtahid yang diharapkan kepada suatu keadaan, sehingga ia harus menerima suatu
keputusan. Kesepakatan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan
pernyataan lisan, dengan perbuatan atau dengan suatu sikap yang menyatakan bahwa
ia setuju atas suatu keputusan hukum yang telah disetujui oleh para mujtahid yang lain.
Tentu saja keputusan yang terbaik ialah keputusan sebagai hasil suatu musyawarah
yang dilakukan para mujtahid
4. Kesepakatan itu hendaklah merupakan kesepakatan yang bulat dari seluruh
mujtahid.
Seandainya terjadi suatu kesepakatan oleh sebahagian besar mujtahid yang ada,
maka keputusan yang demikian belum mencapai derajat ijmak. Ijmak yang demikian
belum dapat dijadikan sebagai hujah syari'ah
Apabila rukun ijmak yang empat hal di atas telah terpenuhi, maka hukum yang
diijmaki tersebut menjadi aturan syarak yang wajib diikuti dan tidak boleh menging-
karinya. Selanjutnya, para mujtahid sesudahnya tidak boleh lagi menjadikan hukum
yang sudah disepakati itu menjadi garapan ijtihad, karena hukumnya sudah ditetapkan
secara ijmak dengan hukum syar’i yang qat’i dan tidak dapat dihapus.

C. Macam-macam Ijmak
Ditinjau dari segi cara terjadinya, maka ijmak terdiri atas:
1. Ijmak Bayani
ljmak bayani, yaitu para mujtahid menyatakan pendapatnya dengan jelas dan
tegas, baik berupa ucapan maupun tulisan. Ijmak bayani disebut juga ijmak sarih,
ijmak qauli atau ijmak hakiki.
2. Ijmak Sukuti
Ijmak sukuti yaitu para mujtahid seluruh atau sebahagian mereka tidak menya-
takan pendapat dengan jelas dan tegas, tetapi mereka berdiam diri saja atau tidak

4
memberikan reaksi terhadap suatu ketentuan hukum yang telah dikemukakan mujtahid
lain yang hidup di masanya. Ijmak seperti ini disebut juga ijmak i'tibari.
Ditinjau dari segi yakin atau tidaknya terjadi suatu ijmak, dapat dibagi kepada:
1. ljmak Qath'i,
ljmak qath'i yaitu hukum yang dihasilkan ijmak itu adalah qath'i, diyakini benar
terjadinya, tidak ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang
telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijmak yang dilakukan pada waktu yang lain.
2. ljmak Zanni
ljmak zanni yaitu hukum yang dihasilkan ijmak itu zanni, masih ada kemung-
kinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda
dengan hasil ijtihad orang lain atau dengan hasil ijmak yang dilakukan pada waktu
yang lain.
Dalam kitab-kitab Fikih terdapat pula beberapa macam ijmak yang dihubungkan
dengan masa terjadi dan tempat terjadi atau orang yang melaksanakannya. Ijmak-
ijmak itu adalah:
1. Ijmak Sahabat, yaitu ijmak yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah saw.
2. Ijmak Khulafaurrasyidin, yaitu ijmak yang dilakukan oleh Khalifah Abu
Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib. Tentu hal ini hanya dapat dilaku-
kan pada masa keempat orang itu hidup, yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar.
Setelah Abu Bakar meninggal ijmak tersebut tidak dapat dilakukan lagi.
3. Ijmak Shaikhan, yaitu ijmak yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar bin
Khattab.
4. Ijmak Ahli Madinah, yaitu ijmak yang dilakukan oleh ulama-ulama Madinah.
Ijmak ahli Madinah merupakan salah satu sumber hukum Islam menurut mazhab
Maliki, tetapi mazhab Syafi'i tidak mengakuinya sebagai salah satu sumber
hukum Islam;
5. Ijmak Ulama Kufah, yaitu ijmak yang dilakukan oleh ulama-ulama Kufah.
Madzhab Hanafi menjadikan ijmak ulama Kufah sebagai salah satu sumber
hukum Islam.
Bentuk-bentuk ijmak ini meskipun disebut ijmak bila dikaitkan dengan rukun
ijmak, maka hakekatnya tidak dapat disebut ijmak, karena rukun-rukunnya tidak
terpenuhi. Ijmak seperti ini lebih tepat bila disebut sebagai ijtihad jama’i (kolektif),
yakni hasil ijtihad dari sekelompok orang seperti hasil ijtihad yang dikeluarkan oleh
Majlis Ulama Indonesia (MUI).

D. Kedudukan Ijmak sebagai Sumber Hukum Islam


KH MA. Sahal Mahfudh dalam kitab ‫ البيان امللمع عن الفاظ اللمع‬menjelaskan
bahwa ijmak menjadi hujah dalam semua hukum syarak, seperti ibadah, muamalah,
hukum pidana, pernikahan, dan lain-lain dalam masalah hukum halal dan haram,
fatwa, dan hukum-hukum.

5
Sedangkan hukum akal dibagi dua. Pertama, sesuatu yang wajib mendahulukan
pekerjaan daripada mengetahui sahnya secara syarak, seperti barunya alam, penetapan
Zat Yang Mencipta, penetapan sifat-sifat-Nya, penetapan kenabian, dan yang
menyerupainya. Dalam hal ini, ijmak tidak menjadi hujah karena ijmak adalah dalil
syarak yang ditetapkan dengan jalan sam’u (mendengar wahyu). Maka, tidak boleh
menetapkan hukum yang wajib diketahui sebelum sam’u.
Kedua, sesuatu yang tidak wajib mendahulukan pekerjaan di atas sam’u. Misal-
nya, bolehnya melihat Allah, ampunan Allah kepada orang-orang yang berdosa, dan
lainnya yang bisa diketahui setelah mendengarkan wahyu. Ijmak dalam hal ini menjadi
hujah karena hal itu boleh diketahui setelah adanya syarak dan ijmak termasuk dalil
syarak, maka boleh menetapkan hukum itu dengan ijmak.
Adapun persoalan-persoalan dunia, seperti mengatur tentara, perang, pemba-
ngunan, industri, pertanian, dan lainnya dari kemaslahatan dunia, maka ijmak tidak
menjadi hujah karena ijmak dalam masalah itu tidak lebih banyak dari sabda Nabi dan
sabda Nabi hanya menjadi hujah dalam ijmak syarak, bukan pada kemaslahatan dunia.

E. Obyek Ijmak

Obyek ijmak ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn al-
Qur'an dan hadis, peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu
mahdhah (ibadat yang tidak langsung ditujukan kepada Allah swt.) bidang muamalah,
bidang kemasyarakatan, atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi
tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur'an dan hadis.